Anda di halaman 1dari 18

SATUAN ACARA PENYULUHAN

MANAJEMEN DIARE PADA BAYI DAN BALITA DI BR. KARANG INDAH


TANGGAL 11 APRIL 2016

OLEH : KELOMPOK SGD VII


Komang Noviantari

(1302105006)

Putu Rian Pradnyani

(1302105031)

Komang Eva Trijayanti

(1302105047)

Ni Luh Eka Putri Ulandari

(1302105049)

Ni Putu Suarminingsih

(1302105058)

Harista Miranda Salam

(1302105059)

Ni Wayan Ari Satriyani

(1302105061)

Made Gede Brata Aditya

(1302105072)

Kadek Adriyanti Lesmana Dewi

(1302105077)

Ni Luh Putu Mira Santana Sari

(1302105087)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2016

SATUAN ACARA PENYULUHAN


PENDIDIKAN KESEHATAN MANAJEMEN DIARE PADA BAYI DAN BALITA
DI BR. KARANG INDAH

Topik

: Manajemen Diare pada Balita

Hari/tanggal

: Senin, 11 Maret 2016

Waktu

: 09.00 09.45 WITA

Penyaji

: Novi dan Rian

Tempat: Balai Desa Br. Karang Indah


A. Latar Belakang
Diare pada anak masih merupakan masalah kesehatan dengan angka kematian yang
masih tinggi terutama pada anak umur 1 sampai 4 tahun. Menurut WHO dan UNICEF,
ada sekitar dua miliar kasus diare di seluruh dunia setiap tahun dan 1,9 juta anak-anak di
bawah lima tahun meninggal setiap tahunnya yang sebagian besar terjadi di negara
berkembang. Jumlah ini merupakan 18% dari seluruh kematian anak dibawah usia lima
tahun yang berarti bahwa 5000 anak meninggal setiap hari akibat diare. Dari semua
kematian anak akibat diare, 78% diantaranya terjadi di wilayah Afrika dan Asia Tenggara
(WGO, 2012). Di Indonesia, prevalensi diare mencapai 7% sementara itu, di Bali
prevalensinya mencapai 5,5% (Riskesdas, 2013).
Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, angka insiden diare terbanyak berdasarkan
kelompok umur terjadi pada balita yakni sebesar 10,2%, CFR (case fatality rate)
Kejadian Luar Biasa (KLB) diare di Indonesia pada tahun 2011 adalah 0,29% meningkat
menjadi 2,06% di tahun 2012 lalu mengalami penurunan di tahun 2013 menjadi 1,08%.
Penyakit saluran pencernaan seperti diare masih cukup tinggi ditemukan di Provinsi Bali.
Pada tahun 2014 diperkirakan jumlah kasus diare sekitar 87.845 meningkat dibandingkan
dengan tahun 2013 diperkirakan jumlah kasus diare sekitar 86.493 kasus. Sementara
kasus diare yang tertangani sebanyak 69.817 kasus (79,5%), dan angka kesakitan diare
214 per 1000 penduduk.
Diare adalah gangguan buang air besar/BAB (defekasi) ditandai dengan BAB lebih
dari tiga kali sehari dengan konsistensi feses cair, dapat disertai dengan darah dan atau
lendir (Riskesdas, 2013). Diare dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu diare akut dan
diare kronis. Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung
kurang dari 14 hari, sedangkan diare kronis yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14

hari (Lung E, 2003). Masalah diare dapat ditangani secara preventif dan rehabilitatif.
Penanganan rehabilitatif salah satunya dengan rehidrasi oral, pemberian suplemen zink
dan antibiotik (WGO, 2012). Upaya preventif yang dilakukan menjaga kualitas makanan,
air dan sanitasi (WHO, 2013).
Hasil pengkajian keperawatan komunitas yang dilakukan di Br. Karang Indah,
didapatkan bahwa diare menempati urutan kedua kejadian penyakit paling banyak pada
bayi dan balita dengan angka kejadian sebesar 38% setelah ISPA. Perilaku Ibu dalam
melakukan perawatan dan pencegahan penyakit ISPA dan Diare pada bayi dan Balita
(Pengetahuan baik 68%; sikap positif 56%; kebiasaan melakukan perawatan dan
pencegahan ISPA dan diare dengan baik 35%). Perilaku keluarga melakukan PHBS
seperti memberikan ASI Eksklusif 20%; menimbang balita setiap sebulan sekali ke
posyandu secara rutin (6 bulan berturut-turut) 18%; mencuci tangan sebelum makan,
memasak, sesudah BAK/BAB dengan menggunakan air dan sabun 42%; konsumsi jajan
sembarangan 34%; mencuci botol susu dan menyiram dengan air panas 15%.
Berdasarkan data tersebut di atas, maka dirasa perlu dilakukan pendidikan
kesehatan berkaitan dengan pencegahan dan penanganan diare pada bayi dan balita di Br.
Karang Indah.
B. Tujuan
1. Tujuan umum :
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan orang tua balita di Br. Karang
Indah memahami tentang manajemen diare pada balita.
2. Tujuan khusus :
Setelah diberikan penyuluhan selama 145 menit diharapkan warga/orang tua anak
dapat menjelaskan tentang :
a. Pengertian diare
b. Penyebab dan cara penularan diare
c. Klasifikasi diare
d. Tanda dan gejala diare
e. Penanganan Diare
f. Pencegahan Diare
C. Sasaran
Seluruh orang tua bayi dan balita warga Br. Karang Indah.
D. Garis Besar Materi
a. Pengertian diare
b. Penyebab dan cara penularan diare
c. Jenis-jenis diare

d. Tanda dan gejala diare


e. Penanganan diare
f. Pencegahan diare
E. Pelaksanaan Kegiatan
No
1

Waktu
5 menit

Kegiatan Penyuluh
Pendahuluan
1. Memberi salam dan
perkenalan
2. Menjelaskan tujuan

Kegiatan Peserta
1. Menjawab salam
2. Mendengarkan dan
memperhatikan

penyuluhan
3. Menyebutkan materi
atau pokok bahasan
2

20 menit

yang disampaikan
Pelaksanan
1. Menjelaskan materi
penyuluhan secara

1. Meyimak
2. Memperhatikan
3. Mendemonstrasikan

berurutan dan teratur


tentang :
a. Pengertian diare
b. Penyebab dan cara
penularan diare
c. Jenis-jenis diare
d. Tanda dan gejala diare
e. Penanganan diare
f. Pencegahan diare
2. Demonstrasi pembuatan
cairan oralite dan cara
3

15 menit

cuci tangan.
Evaluasi
1. Menyimpulkan isi
penyuluhan
2. Memberikan
kesempatan kepada
peserta untuk bertanya
3. Memberikan
kesempatan kepada
peserta lain untuk
menjawab pertanyaan
peserta yang bertanya
4. Menjawab pertanyaan

1. Bertanya
2. Menjawab pertanyaan
dari peserta lain yang
bertanya
3. Menjawab pertanyaan
dari
penyuluh/pembicara

dari peserta
5. Memberikan pertanyaan
kepada peserta terkait
materi yang diberikan
untuk mengetahui
sejauh mana peserta
memahami materinya.
6. Meminta peserta
mendemonstrasikan
cara membuat oralite
dan cuci tangan dengan
4

5 menit

sabun dan air mengalir.


Terminasi
1. Mengucapkan
terimakasih
2. Mengucapkan salam

Setting Tempat :

Keterangan :
Penyaji

Fasilitator

Peserta

Observer

F. Metode Penyuluhan

1. Menjawab salam

1.
2.
3.
4.
G.
1.
2.
H.

Ceramah
Diskusi
Demonstrasi
Tanya jawab
Media Penyuluhan
Lembar balik
Leaflet
Pengorganisasian Kelompok
Moderator
: Harista Miranda Salam
Penyaji
: Noviantari dan Rian Pradnyani
Fasilitator
: Brata, Dewi, Mira, Ari Satriani
Observer
: Suarminingsih
I. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. Laporan pendahuluan dan SAP sudah dibuat.
b. Media sudah disiapkan dan tersedia.
c. Kontrak dengan orang tua bayi dan balita warga Br. Karang Indah sudah
dilakukan.
2. Evaluasi proses
a. Selama kegiatan warga aktif bertanya tentang hal-hal yang belum jelas.
b. Selama kegiatan orang tua bayi dan balita warga Br. Karang Indah mengikuti
kegiatan dari awal sampai akhir.
c. Kontrak telah diingatkan oleh petugas dan warga/orang tua bayi dan balita.
3. Evaluasi hasil
Setelah pemberian materi penyuluhan diharapkan orang tua bayi dan balita warga Br.
Karang Indah dapat :
a. Menyebutkan secara singkat pengertian.
b. Menyebutkan jenis-jenis diare
c. Menyebutkan penyebab dan cara penularan diare.
d. Menyebutkan 4 tanda dan gejala diare.
e. Menyebutkan penanganan diare
f. Menyebutkan pencegahan diare
g. Mendemonstrasikan cara membuat larutan oralit dan mencuci tangan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahlquist, D.A., and Camilleri, M. 2005. Diarrhea and Constipation. In : Kasper, D.L.,
Fauci, A.S., Longo, D.L., Braunwald, E., Hauser, S.L., Jameson, J.L., eds.
Harrisons Principles of Internal Medicine. 16th ed.USA : McGraw-Hill.
Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013.
Jakarta :Kementrian RI
Departemen Kesehatan RI. (2000). Buku Pedoman Pelaksanaan Program
Pemberantasan Penyakit Diare. Ditjen PPM & PLP, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. (2007). Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta: Depkes RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Buku Bagan Manajemen Terpadu
Balita Sakit. Jakarta : Depkes RI
Departemen Kesehatan RI.(2010). Buku Pedoman pengendalian Penyakit Diare. Jakarta:
Ditjen PP&PL
Gleadle, Jhonathan. (2003). At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta:
Erlangga
Hasan R, Alatas H. 1985. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FK-UI.
Kemenkes RI. (2010). Pedoman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Panduan Sosialisasi Tatalaksana
Diare Balita. Jakarta
Kemenkes RI. (2014). Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Jakarta:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Lahiri, SC. (2003). Sanitation and hygiene : a situation analysis paper for Lao PDR.
International Journal of Enviromental Health Research;13(6):107

Nesa, Metriani., Sanjaya., Karnaya. (2014). Lecture Gangguan Sistem Pencernaan pada
Neonatus, Bayi dan Anak (Gastroenteritis) oleh dr. Metriani Nesa pada tanggal 11
Juni 2014
Ogunsola, FT. (2008). Comparison of four methods of hand washing in situations
inadequate water supply. West African Journal of Medicine;27(1):24
Simatupang M., 2004. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian
Diare pada Balita di Kota Sibolga Tahun 2003. Program Pascasarjana, Medan :
Universitas Sumatera Utara.
World Gastroenterology Organisation Global Guidelines. (2012). Acute Diarrhea in
Adults and Children: a Global Perspective. USA: World Gastroenterology
Organisation
World Health Organization. Diarrhoeal Disease. (2013).
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/

LAMPIRAN MATERI

A. Pengertian dan Jenis-Jenis Diare


Menurut World Health Organization (WHO), penyakit diare adalah suatu penyakit
yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai
mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasa, yaitu 3 kali
atau lebih dalam sehari yang mungkin dapat disertai dengan muntah atau tinja yang
berdarah. Penyakit ini paling sering dijumpai pada anak balita, terutama pada 3 tahun
pertama kehidupan, dimana seorang anak bisa mengalami 1-3 episode diare berat
(Simatupang, 2004). Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, diare diartikan sebagai
buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih
banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah
lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak,
frekuensinya lebih dari 3 kali (Simatupang, 2004).
B. Jenis-jenis Diare
Menurut WHO (2005) diare dapat diklasifikasikan kepada:
1. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.
2. Disentri, yaitu diare yang disertai dengan darah.
3. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
4. Diare yang disertai dengan malnutrisi berat (Simatupang, 2004).
Menurut Ahlquist dan Camilleri (2005), diare dibagi menjadi akut apabila kurang dari
2 minggu, persisten jika berlangsung selama 2-4 minggu, dan kronik jika berlangsung
lebih dari 4 minggu. Lebih dari 90% penyebab diare akut adalah agen penyebab infeksi
dan akan disertai dengan muntah, demam dan nyeri pada abdomen. 10% lagi disebabkan
oleh pengobatan, intoksikasi, iskemia dan kondisi lain. Berbeda dengan diare akut,
penyebab diare yang kronik lazim disebabkan oleh penyebab non infeksi seperti allergi
dan lain-lain. Sementara itu apabila ditemukan adanya lendir dan darah pada feses (tinja)
anak maka disebut disentri.
C. Penyebab dan Penularan Diare
Lebih dari 90% kasus diare akut adalah disebabkan oleh agen infeksius (Ahlquist
dan Camilleri, 2005). Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti Enterovirus
(Virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lainlain; infeksi bakteri seperti Vibrio, E.Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter,
Yersinia, Aeromonas dan sebagainya; infeksi parasit seperti cacing (Ascaris, Trichiuris,
Strongyloides), Protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas
hominis), jamur (Candida albicans) (Kliegman, 2006).

Diare dapat juga disebabkan oleh intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi namun
tetap sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi. Di Indonesia, penyebab utama diare
adalah Shigella, Salmonella, Campylobacter, E. Coli, dan Entamoeba histolytica (Depkes
RI, 2000). Pada balita terutama disebabkan karena infeksi virus yaitu rotavirus yang
biasanya disertai dengan muntah dan demam (Karyana, Sanjaya,Nesa, 2014).
Melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi dimana makanan dan minuman
tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri atau kuman misalnya E.coli (Schwartz,1996).
Kuman penyebab diare ditularkan melalui fecal-oral antara lain melaui makanan dan
minuman yang tercemar tinja dan kontak langsung dengan tinja penderita (Depkes,
2000).
Penularan diare juga dapat melalui 5 F yaitu :
1) Finger (jari): tangan yang terkontaminasi kuman
2) Food ( makanan): makanan yang mengandung kuman
3) Fly (lalat): lalat yang terkontaminasi kuman dan hinggap pada makanan
4) Feces (tinja): penularannya melalui lalat
5) Fomites (alat makan): peralatan makan yang kurang bersih
D. Tanda Dan Gejala Diare
Tanda-tanda awal dari penyakit diare adalah bayi dan anak menjadi gelisah dan cengeng,
suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul
diare. Tinja akan menjadi cair dan mungkin disertai dengan lendir ataupun darah. Warna tinja
bisa lama-kelamaan berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu.
Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam
sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal darl laktosa yang tidak dapat diabsorbsi
oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat
disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asambasa dan elektrolit (Kliegman, 2006). Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan
elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Berat badan turun, turgor kulit berkurang,
mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak
kering (Hasan dan Alatas, 1985). Menurut Kliegman, Marcdante dan Jenson (2006),
dinyatakan bahwa berdasarkan banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit dari tubuh, diare
dapat dibagi menjadi :
1) Diare tanpa dehidrasi
Pada tingkat diare ini penderita tidak mengalami dehidrasi karena frekuensi diare masih
dalam batas toleransi dan belum ada tanda-tanda dehidrasi.
2) Diare dengan dehidrasi ringan (3%-5%)

Pada tingkat diare ini penderita mengalami diare 3 kali atau lebih, kadang-kadang
muntah, terasa haus, kencing sudah mulai berkurang, nafsu makan menurun, aktifitas
sudah mulai menurun, tekanan nadi masih normal atau takikardia yang minimum dan
pemeriksaan fisik dalam batas normal.
3) Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%)
Pada keadaan ini, penderita akan mengalami takikardi, kencing yang kurang atau
langsung tidak ada, irritabilitas atau lesu, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung,
turgor kulit berkurang, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering, air mata
berkurang dan masa pengisian kapiler memanjang ( 2 detik) dengan kulit yang dingin
yang dingin dan pucat.
4) Diare dengan dehidrasi berat (10%-15%)
Pada keadaan ini, penderita sudah banyak kehilangan cairan dari tubuh dan biasanya pada
keadaan ini penderita mengalami takikardi dengan pulsasi yang melemah, hipotensi dan
tekanan nadi yang menyebar, tidak ada penghasilan urin, mata dan ubun-ubun besar
menjadi sangat cekung, tidak ada produksi air mata, tidak mampu minum dan keadaannya
mulai apatis, kesadarannya menurun dan juga masa pengisian kapiler sangat memanjang
( 3 detik) dengan kulit yang dingin dan pucat.
E. Pencegahan Diare
Pencegahan diare dapat dilakukan dengan memberikan ASI, memperbaiki makanan
pendamping ASI, menggunakan air bersih yang cukup, mencuci tangan, menggunakan
jamban, membuang tinja anak pada tempat yang tepat (Depkes, 2000). Salah satu pencegahan
yang direkomendasikan adalah cuci tangan. Kebersihan diri pada ibu dan balita terutama
dalam hal perilaku mencuci tangan setiap makan, merupakan sesuatu yang baik. Dimana
sebagian besar kuman infeksi diare ditularkan melalui jalur fecal oral. Kebiasaan yang
berhubungan dengan kebersihan adalah bagia penting dalam penularan kuman diare, dengan
mengubah kebiasaan tidak mencuci tangan menjadi mencuci tangan dapat memutuskan
penularan. Mencuci tangan dengan sabun terutama sesudah buang air besar dan sebelum
menyiapkan makanan telah dibuktikan memiliki dampak dalam kejadian diare dan menjadi
sasaran utama pendidikan tentang kebersihan.
F. Penatalaksanaan Anak Diare
1) Beri cairan tambahan sebanyak yang anak perlukan.
a) Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.
b) Jika anak memperoleh ASI eksklusif, berikan oralit atau air matang sebagai tambahan.

c) Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, berikan satu atau lebih cairan berikut ini :
oralit, cairan makanan (kuah sayur, air tajin) atau air matang. Banyaknya oralit/cairan
lain yang harus diberikan setiap kali anak BAB yaitu :
- Sampai umur 1 tahun
: 50 sampai 100 ml setiap kali BAB
- Umur 1 sampai 5 tahun : 100 sampai 200 ml setiap kali BAB
Cara pemberian oralit/cairan lain yaitu dengan meminumkan sedikit sedikit tapi sering.
Jika anak muntah, tunggu sampai 10 menit. Kemudian lanjutkan lagi dengan lebih
lambat. Pemberian cairan tambahan diberikan sampai diare berhenti.
2) Berikan tablet Zinc selama 10 hari.
Tablet Zinc diberikan kepada semua anak yang menderita diare kecuali bayi muda. Dosis
(1 tablet = 20 mg) tunggal yang harus diberikan selama 10 hari yaitu:
a) Umur 2 sampai 6 bulan
: tablet
b) Umur 6 bulan
: 1 tablet
Cara pemberian tablet Zinc yaitu dengan melarutkan tablet dengan sedikit air atau
ASI dalam sendok teh (tablet akan larut 30 detik), kemudian berikan segera kepada
anak. Apabila anak muntah setelah setengah jam pemberian, ulangi pemberian dengan
memberikan potongan yang lebih kecil yang dilarutkan dalam beberapa kali hingga satu
dosis penuh. Ibu harus memberikan tablet Zinc setiap hari selama 10 hari penuh meskipun
diare sudah berhenti.
3) Lanjutkan pemberian makanan.
a) Sampai umur 6 bulan
Berikan ASI sesuai keinginan anak minimal 8 kali sehari, jangan memberikan
makanan atau minuman selain ASI.
b) Umur 6 sampai 9 bulan
Teruskan pemberian ASI dan mulai memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI)
seperti bubur susu, pisang, pepaya lumat halus, air jeruk dan air tomat saring. Secara
bertahap dsesuai pertambahan umur berikan bubur tim lumat.
c) Umur 9 sampai 12 bulan
Teruskan pemberian ASI dan MP-ASI yang lebih padat dan kasar dengan tambahan
pemberian makanan yang mengandung protein. Berikan makanan selingan 2 kali
sehari seperti buah, biskuit, kue.
d) Umur 12 sampai 24 bulan
Teruskan pemberian ASI, berikan makanan keluarga secara bertahap sesuai dengan
kemampuan anak 3 x 1/3 porsi makanan orang dewasa dalam sehari. Beri makanan
selingan kaya gizi dua kali sehari (biskuit, kue).
e) Umur 24 bulan atau lebih
Berikan makanan keluarga 3 kali sehari sebanyak 1/3 sampai porsi makanan orang
dewasa dan berikan makanan selingan kaya gizi dua kali sehari. (Depkes RI,2008)

G. Penanggulangan Diare Berdasarkan Tingkat Dehidrasi (WHO, 2005)


1) Tanpa Dehidrasi
Pada anak-anak yang berumur bawah dari 2 tahun boleh diberikan larutan oralit 50100ml/kali dan untuk usia lebih dari 2 tahun diberikan larutan yang sama dengan
dosis 100-200ml/kali diare. Bagi mengelakkan dehidrasi ibu-ibu harus meningkatkan
pemberian minuman dan makanan dari biasa pada anak mereka. Selain itu dapat juga
diberikan zink (10-20mg/hari) sebagai makanan tambahan.
2) Dehidrasi Ringan
Pada keadaan ini diperlukan oralit secara oral bersama larutan kristaloid Ringer
Laktat ataupun Ringer Asetat dengan formula lengkap yang mengandung glukosa dan
elektrolit dan diberikan sebanyak mungkin sesuai dengan kemampuan anak serta
dianjurkan ibu untuk meneruskan pemberian ASI dan masih dapat ditangani sendiri
oleh keluarga di rumah. Berdasarkan WHO, larutan oralit seharusnya mengandung
90mEq/L natrium, 20mEq/L kalium klorida dan 111mEq/L glukosa.
3) Dehidrasi Sedang
Pada keadaan ini memerlukan perhatian yang lebih khusus dan pemberian oralit
hendaknya dilakukan oleh petugas di sarana kesehatan dan penderita perlu diawasi
selama 3-4 jam. Bila penderita sudah lebih baik keadaannya, penderita dapat dibawa
pulang untuk dirawat di rumah dengan pemberian oralit. Dosis pemberian oralit untuk
umur kurang dari 1 tahun, setiap buang air besar diberikan 50-100ml, untuk 3 jam
pertama 300ml. Untuk anak umur 1-4 tahun setiap buang air besar diberikan 100200ml, untuk 3 jam pertama 600ml.
4) Dehidrasi berat
Pada keadaan ini pasien akan diberikan larutan hidrasi secara intravena (intravenous
hydration) dengan kadar 100ml/kgBB/3-6 jam. Dosis pemberian cairan untuk umur
kurang dari 1 tahun adalah 30ml/kgBB untuk 1 jam yang pertama dan seterusnya
diberikan 75ml/kgBB setiap 5 jam. Dosis pemberian cairan untuk anak 1-4 tahun
adalah 30ml/kgBB untuk jam yang pertama dan seterusnya diberikan 70ml/kgBB
setiap 2 jam.
5) Kondisi Diare yang Memerlukan Petugas Kesehatan
a) Diare dengan dehidrasi berat dan diare dengan dehidrasi ringan/sedang.
b) Diare lebih dari 14 hari (diare persisten) dengan atau tanpa dehidrasi.
c) Diare dengan darah dalam tinja (disentri).
6) Upaya Menciptakan Lingkungan Rumah dan Perilaku yang Bersih dan Sehat untuk
Mencegah penularan diare
a) Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, setelah BAB , setelah mengambil
benda kotor dan saat akan mengolah makanan.

b) Menutup/menyimpan makanan dalam kulkas atau dalam keadaan terbungkus


sehingga tidak dihinggapi lalat atau serangga lain.
c) Menimbun/menutup tempat sampah sehingga tidak dihinggapi lalat.
d) Menjaga kebersihan rumah.
H. Cuci Tangan
Menurut Depkes (2007) mencuci tangan adalah proses yang secara mekanis
melepaskan kotoran dan debris dari kulit tangan dengan menggunakan sabun biasa dan
air. Dalam aturan WHO terdapat dua jenis mencuci tangan yaitu dengan handwash dan
dengan handrub. Perilaku cuci tangan adalah salah satu bentuk kebersihan diri yang
penting. Mencuci tangan juga dapat diartikan menggosok dengan sabun secara
bersama seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas yang kemudian
dibilas di bawah air yang mengalir (Lahiri, 2003).
Cuci tangan menggunakan air saja tidaklah cukup untuk melindungi seseorang
dari kuman penyebab penyakit yang merugikan kesehatan. Dari berbagai riset, risiko
penularan penyakit dapat berkurang dengan adanya peningkatan perilaku hidup bersih
dan sehat, perilaku kebersihan, seperti cuci tangan pakai sabun. Perilaku cuci tangan
pakai sabun merupakan intervensi kesehatan yang paling murah dan efektif
dibandingkan dengan intervensi kesehatan dengan cara lain (Ogunsola, 2008).
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan
membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk
menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan dengan sabun
dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena
tangan seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen
berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung ataupun kontak
tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas)
(Kemenkes RI, 2014).
I. Teknik Cuci Tangan Dengan Sabun
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka mencuci tangan haruslah dengan
air bersih yang mengalir, baik itu melalui kran air atau disiram dengan gayung,
menggunakan sabun yang standar, setelah itu keringkan dengan handuk bersih atau
menggunakan tisu. Untuk penggunaan jenis sabun dapat menggunakan semua jenis
sabun karena semua sabun sebenarnya cukup efektif dalam membunuh kuman
penyebab penyakit. Teknik mencuci tangan yang benar harus menggunakan sabun dan

di bawah air yang mengalir dengan langkah-langkah sebagai berikut (Kemenkes RI,
2010):
1. Basahi tangan dengan air di bawah kran atau air mengalir.
2. Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan, akan lebih baik jika sabun yang
mengandung antiseptik.
3. Gosokkan pada kedua telapak tangan.
4. Gosokkan sampai ke ujung jari.
5. Telapak tangan kanan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya) dengan jarijari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan tangan kiri, gosokkan
sela-sela jari tersebut. Hal ini dilakukan pada kedua tangan.
6. Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling mengunci.
7. Usapkan ibu jari tangan kanan dengan punggung jari lainnya dengan gerakan saling
berputar, lakukan hal yang sama dengan ibu jari tangan kiri.
8. Gosokkan telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya dengan gerakan
kedepan, kebelakang, berputar.
9. Hal ini dilakukan pada kedua tangan.
10. Pegang pergelangan kanan kanan dengan pergelangan kiri dan lakukan gerakan
memutar. Lakukan pula pada tangan kiri.
11. Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir.
12. Keringkan tangan dengan menggunakan tissue atau handuk, jika menggunakan kran,
tutup kran dengan tisu.

Gambar 1. Langkah-langkah Mencuci Tangan Dengan Sabun

J. Teknik Cuci Tangan Dengan Handrub Antiseptik Berbasis Alkohol Tanpa Air
Antiseptik handrub yang bereaksi cepat menghilangkan sementara atau
mengurangi mikroorganisme penghuni tetap tanpa melindungi kulit tanpa
menggunakan air. Sebagian besar antiseptik ini mengandung alkohol 60-90%, suatu
emolient dan seringkali antiseptik tambahan (misalnya khlorheksidin glukonat 2-4%)
yang memiliki aksi residual. Teknik mencuci tangan dengan Handrub Antiseptik dalam
20-30 detik dapat dilakukan seperti di bawah ini (Kemenkes RI, 2010):
1. Tuangkan handrub bahan antiseptik berbasis alkohol ke dalam tangan secukupnya.
2. Gosok kedua telapak tangan hingga merata.
3. Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya.
4. Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari.
5. Jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci dan saling digosokkan.
6. Gosok ibu jari kiri berputar kearah bawah dalam genggaman tangan kanan dan
sebaliknya.
7. Gosokkan dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan
sebaliknya.
8. Biarkan tangan mengering.

Gambar 2. Langkah Mencuci Tangan dengan Handrub

K. Langkah-Langkah Pembuatan Larutan Oralit


1) Cara Membuat/Mencampur Larutan Oralit

2)
a)
b)
c)

a) Cuci tangan dengan air dan sabun.


b) Sediakan 1 gelas air minum yang telah dimasak/air teh (200 cc).
c) Masukkan satu bungkus ORALIT 200 cc.
d) Aduk sampai larut benar.
e) Berikan larutan ORALIT kepada balita.
Cara Memberikan Larutan Oralit
Berikan dengan sendok atau gelas.
Berikan sedikit-sedikit sampai habis, atau hingga anak tidak kelihatan haus.
Bila muntah, dihentikan sekitar 10 menit, kemudian lanjutkan dengan sabar sesendok

setiap 2 atau 3 menit.


d) Walau diare berlanjut, ORALIT tetap diteruskan.
e) Bila larutan ORALIT pertama habis, buatkan satu gelas larutan ORALIT berikutnya.
(Kemenkes, 2011)

L. Langkah-Langkah Pembuatan Larutan Gula dan Garam


1) Bahan dan alat yang diperlukan :
a) 1 sendok teh gula pasir
b) sendok teh garam dapur (kalau bisa yang halus agar mudah larut)
c) 1 gelas air hangat atau sekitar 200 ml
d) Gelas kaca yang berukuran normal dan sendok teh.
2) Cara membuat larutan gula garam :
a) Pertama-tama sebelum kita membuat,cucilah tangan sampai bersih agar tidak ada
kuman penyakit yang menyebar.
b) Kedua tuangkan air masak atau air teh tersebut ke dalam gelas sebanyak satu gelas
penuh.
c) Ketiga masukkanlah gula pasir serta garam dapur itu sesuai dengan takaran yang
telah ditentukan kedalam gelas tersebut.
d) Keempat yaitu gelas tersebut kita aduk sampai gula dan garamnya benar-benar
larut dalam air.
e) Setelah selesai kita bisa langsung meminumnya.