Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Ekonomi makro merupakan bagian dari Ilmu Ekonomi yang mengkhususkan

mempelajari mekanisme bekerjanya perekonomian sebagai suatu keseluruhan.


Dengan demikian hubungan-hubungan kausal yang ingin dipelajari oleh ekonomi
makro pada pokoknya adalah hubungan-hubungan antar variable-variabel ekonomi
agregatif. Diantara variabel-variabel ekonomi agregatif yang banyak dipersoalkan
dalam Ekonomi Makro antara lain adalah tingkat pendapatan nasional, tingkat
kesempatan kerja, pengeluaran konsumsi rumah tangga, saving, investasi nasional,
jumlah uang yang beredar, tingkat harga, tingkat bunga, neraca pembayaran
internasional, stok kapital nasional serta utang pemerintah.
Dengan mengetahui hubungan-hubungan di antara variabel-variabel tersebut,
dapatlah diharapkan kita menjadi lebih mampu dalam memecahkan masalah-masalah
yang dihadapi oleh suatu perekonomian. Kalau misalnya kita menghadapi masalah
berupa meluasnya pengangguran dalam perekonomian kita, apabila kita tidak
mengetahui sama sekali mengenai faktor-faktor atau variabel-variabel yang dapat
mempengaruhi tingkat kesempatan kerja suatu perekonomian, maka kita tidak akan
tahu tindakan apa yang akan kita ambil untuk mengatasi masalah tersebut.
1.2

Rumusan Masalah
a. Apa sajakah yang termasuk dalam ruang lingkup ekonomi makro ?
b. Apa sajakah yang termasuk permasalah ekonomi makro dalam jangka pendek
c.
d.
e.
f.

1.3

dan jangka panjang ?


Apa sajakah peran pemerintah di bidang ekonomi ?
Apa sajakah tujuan dan instrumen ekonomi makro ?
Apa yang dimaksud dengan permintaan dan penawaran agregat ?
Apa yang dimaksud dengan siklus aliran pendapatan dan interaksi pasar ?

Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui ruang lingkup ekonomi makro.

b. Untuk mengetahui permasalah ekonomi makro dalam jangka pendek dan


c.
d.
e.
f.

jangka panjang.
Untuk mengetahui peran pemerintah di bidang ekonomi.
Untuk mengetahui tujuan dan instrumen ekonomi makro.
Untuk mengetahui permintaan dan penawaran agregat.
Untuk mengetahui siklus aliran pendapatan dan interaksi pasar.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ruang Lingkup Ekonomi Makro
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia di dalam
memenuhi kebutuhannya yang relatif tidak terbatas dengan menggunakan sumber
daya yang terbatas dan masing-masing sumber daya mempunyai alternatif
penggunaan (opportunity cost). Ilmu ekonomi muncul karena adanya tiga kenyataan
berikut :

Kebutuhan manusia relatif tidak terbatas.

Sumber daya tersedia secara terbatas.

Masing-masing sumber daya mempunyai beberapa alternatif penggunaan.


Secara garis besar ilmu ekonomi dapat dipisahkan menjadi dua yaitu ilmu

ekonomi mikro dan ilmu ekonomi makro.


Setelah mempelajari Ekonomi Mikro, maka Ekonomi Makro merupakan
kelanjutan dalam mempelajari ilmu ekonomi karena Ekonomi Makro atau yang
disering disebut dengan Makroekonomi memuat isu-isu yang tidak diliputi dalam
teori Ekonomi Mikro atau Mikroekonomi. Dalam setiap isu atau analisis teori
Mikroekonomi lebih berfokus kepada individu atau perseorangan, bagaimana sesuatu
perekonomian berfungsi dan menjalankan kegiatannya atau dengan kata lain pada
umumnya meliputi bagian-bagian kecil dari keseluruhan kegiatan perekonomian
seperti kegiatan seorang konsumen, suatu perusahaan atau suatu pasar.
Sedangkan ilmu Makroekonomi memiliki pembahasan yang lebih luas
cakupannya dan lebih menyeluruh (totalitas dan aktual) atau dengan kata lain
menjelaskan perekonomian secara agregat, misalnya adalah kemakmuran dan resesi,
output barang dan jasa total perekonomian dan laju pertumbuhan output, laju inflasi
dan pengangguran, neraca pembayaran dan nilai kurs.
Menurut Gardner Ackley dalam bukunya: Macroeconomic Theory (1971)
menyebutkan bahwa istilah Ekonomi Makro bisa diganti dengan istilah Analisis
Pendapatan dan Kesempatan Kerja yang pada hakikatnya membahas masalahmasalah seperti: pengangguran, ketidakstabilan ekonomi, inflasi dan perkembangan
atau pertumbuhan ekonomi.
Dari judul buku yang ditulis oleh Bapak Ekonomi Makro John Maynard
Keynes: The General Theory of Employment, Interest and Money (1937) menyiratkan
bahwa aspek-aspek yang perlu dipelajari dalam ekonomi makro adalah soal
kesempatan kerja, tingkat bunga dan uang. Pakar ekonomi lain, Warren L. Smith,

dalam bukunya: Macroeconomics (1970) secara lebih terarah menyebutkan bahwa


Ilmu ekonomi makro membahas hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi
secara keseluruhan, meliputi aspek-aspek: kesempatan kerja dan pengangguran,
perilaku tingkat harga, tingkat pertumbuhan pendapatan serta keadaan neraca
pembayaran.
Untuk itu, makroekonomi memusatkan perhatian pada perilaku dan kebijakan
ekonomi yang dapat mempengaruhi:
1. Perilaku konsumsi dan investasi
2. Kestabilan kegiatan ekonomi
3. Faktor penentu perubahan dan pertumbuhan ekonomi
4. Upah dan harga
5. Kebijakan fiskal dan moneter
6. Stok uang beredar
7. Anggaran belanja pemerintah
8. Suku bunga
9. Utang pemerintah
10. Inflasi
11. Resesi dan Depresi- periode-periode merosotnya pendapatan dan melonjaknya
tingkat pengangguran
2.2 Permasalahan Ekonomi Makro
a. Jangka Pendek
Masalah ekonomi makro jangka pendek, yaitu :
1. Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya hargaharga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme
pasar. Inflasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi
masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu
konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya
ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan
proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari
suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga
yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator
untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan
harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi.
Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang
4

yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Inflasi dapat


digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan
hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah
angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%30% setahun; berat antara
30%100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila
kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah atau
tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang
positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu
meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk
bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi
yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan
perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang
menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan
produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan
tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan
kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka
menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Selain itu, inflasi juga dapat menimbulkan dampak yaitu :

Menyebabkan

masyarakat
Menyebabkan penurunan efisiensi.
Menyebabkan perubahan output dan kesempatan kerja dalam

redistribusi

pendapatan

di

antara

anggota

masyarakat
2. Pengangguran
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak
bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama
seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang
layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau
para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang
mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam
5

perekonomian, karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan


pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan
timbulnya

kemiskinan

dan

masalah-masalah

sosial

lainnya.

Jumlah

pengangguran dalam ekonomi diukur dengan angka pengangguran, yaitu


persentase pekerja-pekerja tanpa pekerjaan yang ada di dalam angkatan kerja.
Berdasarkan tingkat pengangguran, dapat diketahui apakah perekonomian
berada pada tingkat kesempatan kerja penuh (full employment) atau tidak.
Dampak pengangguran :
a. Bagi perekonomian negara
1. Penurunan pendapatan perkapita.
2.

Penurunan pendapatan pemerintah yang berasal dari sektor pajak.

3.

Meningkatnya biaya sosial yang harus dikeluarkan oleh pemerintah.

4.

Dapat menambah hutang negara.


b. Bagi masyarakat
1. Pengangguran merupakan beban psikologis dan psikis.
2. Pengangguran dapat menghilangkan keterampilan, karena tidak

digunakan apabila tidak bekerja.


3. Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik.
3. Ketimpangan neraca pembayaran
Neraca pembayaran adalah neraca yang memuat ikhtisar dari segala
transaksi yang terjadi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain
selama jangka waktu

tertentu.

Transaksi dalam neraca

a. Ekspor impor barang dan jasa (termasuk


b.

pembayaran

perdangan internasional)

Transaksi finansial seperti


Pemberian atau penerimaan kredit
Penanaman modal di luar negeri

c. Transaksi yang bersifat uniteral seperti

Pembayaran transfer dari orang-orang yang tinggal di luar negeri


Bantuan dari luar negeri

Jika jumlah pembayaran tidak sama dengan penerimaan dari luar negeri
maka terjadi surplus atau defisit. Ketidakseimbangan ini menjadi masalah jika
ketidakseimbangannya cukup besar.

b. Jangka Panjang
Ekonomi makro juga memiliki permasalahan jangka panjang menyangkut
persoalan pertumbuhan di bidang ekonomi. Pada dasarnya menyangkut :

Keserasian antara pertumbuhan penduduk,


Pertambahan kapasitas produksi,
Tersedianya dana untuk investasi

Jika terjadi keserasian antar ketiga hal di atas maka pertumbuhan ekonomi
sebuah negara akan mengalami kondisi yang optimal. Semoga saja hal ini dapat
terwujud dalam perekonomian indonesia sehingga kekuatan ekonomi negara kita
dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.
2.3

Peran Pemerintah di Bidang Ekonomi


Peran pemerintah di bidang ekonomi yaitu untuk mengatasi masalah di bidang

ekonomi pemerintah menggunakan kebijakan-kebijakan tertentu. Terdapat tiga


kebijakan pemerintah dibidang ekonomi makro yaitu :
1. Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal adalah kebijakan ekonomi yang digunakan pemerintah untuk


mengendalikan atau mengarahkan perekonomian pada kondisi yang lebih
baik.Kebijakan fiscal berhubungan erat dengan kegiatan pemerintah sebagai pelaku
sector publik .Dalam hal penerimaan pemerintah dianggap sebagai suatu cara untuk
mengatur mobilitas dana domestic,dengan instrumen utamanya pajak dan
pengeluaran Negara. Kebijakan fiskal pemerintah yang bersifat ekspansif dilakukan
pada saat perekonomian sedang menghadapi masalah pengangguran yang tinggi.
Dilakukan dengan memperbesar pengeluaran pemerintah (misal menambah subsidi
kepada rakyat kecil) dan mengurangi tingkat pajak. Sedangkan yang bersifat
kontraktif dilakukan pada saat perekonomian mencapai kesempatan kerja atau
menghadapi inflasi.

2. Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah kebijakan ekonomi yang digunakan Bank Indonesia


sebagai otoritas moneter,untuk mengendalikan/mengarahkan perekonomian pada
kondisi yang lebih baik/diinginkan dengan mengatur jumlah uang beredar dan tingkat
suku bunga. Dalam kebijakan moneter Bank Sentral (Bank Indonesia) mengendalikan
jumlah

uang

yang

beredar.

Melalui

kebijakan

moneter

dapat

mempertahankan,menambah atau mengurangi jumlah uang beredar untuk memacu


pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan kestabilan harga. Kebijakan ini
memiliki 3 instrumen penting yaitu operasi pasar terbuka (open market operation),
kebijakan tingkat suku bunga (discount rate policy), dan rasio cadangan wajib
(reserve requirementratio).
3. Kebijakan Perdagangan Luar Negeri

Kebijakan perdagangan luar negeri adalah peraturan yang dibuat oleh


pemerintah yang memengaruhi struktur/komposisi dan arah transaksi perdagangan
serta pembayaran internasional.Oleh karena itu kebikan ini tidak dapat berdiri sendiri
tetapi kebijakan ini saling memengaruhi terhadap komponen lain dan kebijakan
ekonomi makro, seperti kebijakan fiscal dan moneter.
Berikut ini tujuan kebijakan perdagangan luar negeri,yaitu:
1. Melindungi kepentingan nasional dari pengaruh negative yang berasal dari
2.
3.
4.
5.

luar negeri
Melindungi industri nasional dari persaingan barang-barang impor
Menjaga keseimbangan neraca pembayaran
Menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil
Meningkatkan kesempatan kerja.
Pemerintah sebagai salah satu pelaku ekonomi (rumah tangga pemerintah),

memiliki fungsi penting dalam perekonomian yaitu berfungsi sebagai stabilisasi,


alokasi, dan distribusi. Adapun penjelasannya sebagai berikut :
1. Fungsi Stabilisasi, yakni fungsi pemerintah dalam menciptakan kestabilan

ekonomi, sosial politik, hokum, pertahanan, dan keamanan.


8

2. Fungsi Alokasi, yakni fungsi pemerintah sebagai penyedia barang dan jasa publik

seperti pembangunan jalan raya, gedung sekolah, penyediaan fasilitas penerangan,


dan telepon.
3. Fungsi Distribusi, yakni fungsi pemerintah dalam pemerataan atau distribusi

pendapatan masyarakat.
2.4 Tujuan dan Instrumen Ekonomi Makro
Setiap kebijakan ekonomi bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah
ekonomi yang dihadapi. Tujuan ilmu ekonomi makro adalah untuk memahami
peristiwa ekonomi dan untuk memperbaiki kebijakan ekonomi.
Kebanyakan pemerintah dan masyarakat suatu Negara menginginkan suatu
keadaaan perekonomian yang ideal, sehingga tujuan dari kebijakan ekonomi makro
antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tingkat kesempatan kerja (tingkat Employment) yang tinggi


Peningkatan kapasitas produksi nasional yang tinggi
Tingkat pendapatan nasional yang tinggi
Keadaan perekonomian yang stabil
Neraca pembayaran luar negeri yang seimbang
Distribusi pendapatan yang lebih merata
Menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi
Tingkat inflasi yang rendah

Bentuk-bentuk kebijakan ekonomi makro :


a. Kebijakan Fiscal, meliputi langkah-langkah pemerintah untuk membuat
perubahan dalam pendapatan dan pengeluaran Negara dengan maksud untuk
mempengaruhi

pengeluaran

agregrat

dalam

perekonomian

atau

mempengaruhi jalannya perekonomian


b. Kebijakan Moneter, meliputi langkah-langkah pemerintah yang dijalankan
oleh Bank Sentral (Bank Indonesia) untuk mempengaruhi atau merubah
penawaran

uang

dalam

masyarakat

atau

merubah

tingkat

bunga

(mempengaruhi jumlah uang yang beredar), dengan maksud untuk


mempengaruhi pengeluaran agregat.
c. Kebijakan Segi Penawaran, bertujuan untuk mempertinggi efisiensi kegiatan
perusahaan sehingga dapat menawarkan barangnya dengan harga yang lebih
murah atau dengan mutu yang lebih baik

2.5 Permintaan dan Penawaran Agregat


2.5.1 Permintaan Agregat
Permintaan agregat (aggregate demand,AD) adalah hubungan antara jumlah
output yang diinginkan dan tingkat harga agregat. Dengan kata lain, kurva permintaan
agregat menyatakan jumlah barang dan jasa yang ingin dibeli orang pada tingkat
harga tertentu.
PERSAMAAN KUANTITAS SEBAGAI PERMINTAAN AGREGAT
Teori kuantitas menyatakan bahwa
MV = PY
Dimana M adalah penawaran uang, v adalah perputaran uang, P adalah tingkat
harga, dan Y adalah jumlah output. Jika perputaran uang adalah konstan, maka
persamaan ini menyatakan bahwa penawaran uang menentukan nilai nominal output,
yang sebaliknya adalah produk dari tingkat harga dan jumlah output.
Persaman kuantitas bisa ditulis kembali dalam bentuk penawaran dan
permintaan untuk keseimbangan uang riil :
M/P = (M/P)d = kY
Dimana k=1/V adalah parameter yang menentukan berapa banyak uang yang orang
ingin pegang untuk setiap dolar pendapatan. Dalam bentuk ini, persamaan kuantitas
menyatakan bahwa suplai dari keseimbangan uang riil M/P sama dengan permintaan
(M/P)d dan bahwa permintaan adalah proporsional terhadap output Y. Perputaran
uang adalah sisi lain dari parameter permintaan uang k.
Untuk penawaran uang dan perputaran tetap, persamaan kuantitas
menghasilkan hubungan negatif di antara tingkat harga P dan output Y. Kurva
permintaan agregat berbentuk miring ke bawah. Persamaan kuantitas menjelaskan
kemiringan dari kurva permintaan agregat sangat sederhana. Suplai uang M dan
perputaran uang V menentukan nilai nominal output PY. Sekali PY ditetapkan, jika P
naik, Y harus turun. Jika tingkat harga meningkat karena beberapa sebab, sehingga
setiap transaksi membutuhkan lebih banyak dolar, jumlah transaksi dan jumlah
barang dan jasa yang dibeli harus turun.

10

Kita juga bisa menjelaskan kemiringan dari kurva permintaan agregat dengan
memikirkan penawaran dan permintaan untuk keseimbangan uang riil. Jika output
lebih tinggi, orang-orang terlibat dalam lebih banyak transaksi dan membutuhkan
keseimbangan riil yang lebih tinggi menunjukkan tingkat harga yang lebih rendah.
Sebaliknya jika tingkat harga lebih rendah, keseimbangan uang riil lebih tinggi;
tingkat keseimbangan riil yang lebih tinggi membolehkan volume transaksi yang
lebih besar, yang berarti jumlah output yang diminta lebih besar.
Tingkat
Harga,
P

Permintaan
agregat, AD

Pendapatan ,
output, Y

Kurva Permintaan Agregat


Kurva permintaan agregat AD menunjukkan hubungan antara tingkat harga P
dan jumlah barang dan jasa yang diminta Y. Kurva itu digambar untuk nilai
penawaran uang M tertentu. Kurva permintaan agregat miring ke bawah: semakin
tinggi tingkat harga P , semakin rendah tingkat keseimbangan riil MIP , dan karena itu
semakin rendah jumlah barang dan jasa yang diminta Y.
Pergeseran dalam Kurva Permintaan Agregat
Kurva permintaan agregat digambar untuk nilai penawaran uang tetap. Dnegan
kata lain, kurva tersebut menyatakan kombinasi yang mungkin dari P dan Y untuk
nilai M tertentu. Jika Fed ( Federal Reserves) mengubah penawaran uang, maka

11

kombinasi yang mungkin dari P dan Y berubah , yang berarti kurva permintaan
agregat bergeser.
Sebagai contoh, perhatikanlah apa yang terjadi jika Fed mengurangi penawaran
uang. Persamaan kuantitas , MV = PY, menyatakan bahwa pengurangan dalam
penawaran uang menyebabkan pengurangan proporsional dalam nilai nominal output
PY. Untuk tingkat harga tertentu , jumlah output adalah lebih rendah, dan untuk
jumlah output tertentu, tingkat harga adalah lebih rendah.
Hal sebaliknya terjadi jika Fed meningkatkan penawaran uang. Persamaan
kuantitas menyatakan kenaikan dalam M menyebabkan kenaikan dalam PY. Untuk
tingkat harga tertentu, jumlah output adalah lebih tinggi, dan untuk jumlah output
tertentu, tingkat harga adalah lebih tinggi.
Fluktuasi dalam penawaran uang tidak hanya merupakan sumber fluktuasi
dalam permintaan agregat. Bahkan jika penawaran uang tetap konstan, kurva
permintaan bergeser jika beberapa

peristiwa menyebabkan perubahan dalam

perputaran uang.
Tingkat
Harga,P

AD1
AD2

Pendapatan , output, Y

Pergeseran ke Dalam dalam Kurva Permintaan Agregat


Perubahan dalam penawaran uang menggeser kurva permintaan agregat. Untuk
tingkat harga tertentu P, penurunan dalam penawaran uang M menunjukkan bahwa
keseimbangan uang riil M/P adalah lebih rendah dan dengan demikian output Y lebih

12

rendah. Karena itu, penurunan dalam penawaran uang menggeser kurva permintaan
agregat ke dalam dari AD1 ke AD2.

Tingkat
Harga,P

AD1
AD2

Pendapatan , output, Y

Kegiatan perekonomian berfluktuasi dari tahun ketahun. Pada tahun tertentu


perekonomian

suatu

negara

mengalami

peningkatan

yang

ditadai

dengan

pertambahan jumlah produksi barang dan jasa serta peningkatan pada faktor-faktor
produksi, sehingga suatu negara akan menikmati standar hidup yang lebih baik.
Namun sebaliknya pada tahun yang lain, perekonomian suatu negara dapat
mengalami suatu penurunan dimana produksi barang dan jasa akan menurun sehingga
pabrik banyak yang tidak beroperasi, akibatnya banyak terjadi PHK dan PDB riil dan
pendapatan lainnya akan menurun. Periode dimana terjadinya penurunan pendapatan
dan peningkatan pengangguran yang tidak terlalu parah disebut dengan resesi,
sedangkan jika sangat parah akan disebut dengan depresi.
Ada tiga fakta utama mengenai fluktuasi ekonomi :

Fluktuasi dalam perekonomian sifatnya tidak teratur dan tidak dapat


diprediksi
Fluktuasi ekonomi ini dapat disebut sebagai siklus bisnis, dimana ketika PDB
riil suatu negara naik maka usaha akan lancar, dalam artian bahwa daya beli

13

konsumen naik dan keuntunganpun akan naik. Namun ketika PDB riil suatu
negara mengalami penurunan, berarti perusahaan tidak beroperasi dengan
baik sehingga keuntunganpun akan menurun dan akan mengakibatkan

pengangguran meningkat.
Kebanyakan variabel ekonomi makro berfluktuasi bersama-sama
Mengapa dikatakan berfluktuasi bersama-sama karena ketika terjadi
penurunan pada variabel satu maka akan berpengaruh pada variabel lainnya,
seperti ketika PDB riil turun pada saat terjadi resesi, maka pendapatan
individu juga akan turun, kemudian keuntungan perusahaan juga akan turun,

konsumsi, investasi, penjualanpun akan turun.


Saat hasil produksi turun tingkat pengangguran naik
Ketika perusahaan mengurangi jumlah produksi akan berdampak pada tenaga
kerja, karena produksi yang sedikit hanya membutuhkan karyawan yang
sedikit pula sehingga banyak karyawan yang akan di PHK.
Fluktuasi jangka pendek berbeda dengan fluktuasi jangka panjang. Sebagian

dari ekonom berpendapat bahwa teori ekonomi makro klasik hanya menjelaskan
dalam jangka panjang dan tidak dalam jangka pendek, sehingga perlu model baru
untuk menjelaskan fluktuasi dalam Jangka pendek.
Kita menganalisis fluktuasi-fluktuasi dalam perekonomian secara keseluruhan
dengan model permintaan dan penawaran agregat dimana model ini banyak
digunakan oleh ekonom untuk menjelaskan fluktuasi jangka pendek dalam aktivitas
ekonomi selama kecendrungan jangka panjangnya. Dalam teori ini kita akan
menggunakan dua kurva yaitu kurva permintaan agregat dan kurva penawaran
agregat. Kurva permintaan agregat yaitu kurva yang menunjukkan jumlah barang dan
jasa yang diinginkan oleh rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah pada tingkat
harga tertentu, sedangkan kurva penawaran agregat yaitu kurva yang menunjukkan
jumlah barang dan jasa yang dipilih oleh perusahaan untuk diproduksi dan dijual pada
tingkat harga tertentu.
Adapun bentuk dari kurva permintaan agregat yaitu miring kebawah, dengan
alasan yaitu efek kekayaan dimana tingkat harga mempengaruhi jumlah permintaan
barang dan jasa. ketika harga barang turun maka uang yang kita pegang akan lebih

14

bernilai dan dapat digunakan untuk belanja dalam jumlah yang banyak, sehingga kita
akan merasa lebih kaya. Selanjutnya yaitu efek suku bunga, dimana ketika harga
barang turun maka masyarakat akan lebih sedikit memegang uang dan kelebihan
uangnya akan di tabung sehingga suku bunga turun dan mendorong masyarakat untuk
berinvestasi misalnya dalam bentuk tempat tinggal baru sehingga menngkatkan
jumlah permintaan barang dan jasa. terkahir yaitu efek nilai tukar. Ketika harga dalam
negeri turun maka akan berdampak pada penurunan suku bunga sehingga penduduk
lokal akan memilih untuk membeli obligasi luar negeri dibandingkan dengan obligasi
dalam negeri, akibatnya penawaran mata uang lokal untuk mata uang asing
meningkat. Peningkatan ini kemudian mengakibatkan penurunan nilai pada mata
uang lokal terhadap mata uang asing, sehingga harga barang diluar negeri akan lebih
mahal dari harga dalam negeri yang kemudian berdamapak pada peningkatan ekspor
dan penurunan impor dan ekspor nettopun naik sehingga meningkatkan jumlah
barang dan jasa. Kurva permintaan agregat dapat mengalami pergeseran yang timbul
dari konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor netto.
Selanjutnya akan dibahas mengenai kurva penawaran agregat yang menyatakan
bahwa jumlah keseluruhan barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan dan
dijual pada tingkat harga tertentu. Bentuk dari kurva penawaran agregat ini
bergantung pada periodenya. Ketika jangka panjang kurva ini berbentuk veertikal,
sedngkan dalam jangka pendek bentuknya miring ke atas (upward sloping). Dalam
jangka panjang, produksi barang dan jasa ekonomi (PDB Riilnya) bergantung pada
penawaran tenaga kerja, modal dan sumber daya alam, serta pada penguasaan
tenologi yang digunakan untuk mengubah faktor-faktor produksi tersebut menjadi
barang dan jasa, serta berpengaruh pada pergeseran kurva penawaran. Dalam jangka
pendek kurvanya akan bersifat positif dimana ketika harga naik maka penawaran
naik. Adapun penyebab dari hubungan positif tersebut yaitu teori kekakuan upah,
teori kekakuan harga, teori kesalahan persepsi. Ketiga teori ini memiliki kesamaan
yaitu jumlah penawaran output menyimpang dari sifat jangka panjang atau tingkat
alamiahnya ketika tingkat harga menyimpang dari tingkat harga yang diharapakan.
Ketika tingkat harga naik diatas tingkat yang diharapkan, output juga meningkat

15

diatas tingkat alamiahnya. Sementara itu, ketika harga jatuh dibawah tingkat harga
yang diharapkan, output turun dibawah tingkat alamiahnya. Teori pertama yaitu teori
kekakuan upah yang menjelaskan bahwa upah tidak menyesuaikan diri dengan cepat
terhadap tingkat harga, tingkat harga yang rendah membuat pegawai dan produksi
kurang menguntungkan sehingga perusahaan mengurangi jumlah barang dan jasa
yang mereka tawarkan. Teori kedua yaitu teori kekakuan harga yang menjelaskan
bahwa tidak semua harga menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan
kondisi, penurunan tingkat harga yang tidak diharapkan menjadikan beberapa
perusahaan menetapkan harga yang lebih tinggi dari yang diharapakan. Harga yang
lebih tinggi dari yang diinginkan ini menekan penjualan dan memaksa perusahaan
untuk mengurangi jumlah barang dan jasa yang mereka produksi. Terakhir yaitu teori
kesalahan persepsi yang menjelaskan bahwa tingkat harga yang lebih rendah
menyebabkan salah persepsi tentang harga relatif dan kesalahan persepsi ini memaksa
produsen untuk merespon rendahnya tingkat harga dengan mengurangi jumlah
penawaran barang dan jasa.
Dampak dari pergeseran permintaan agregat :
Dalam jangka pendek pergeseran-pergeseran pada permintaan agregat
menyebabkan fluktuasi pada output barang dan jasa dalam perekonomian.
Dalam jangka panjang pergeseran pada permintaan agregat mempengaruhi

keseluruhan tingkat harga, tetapi tidak mempengaruhi output.


Dampak dari pergeseran penawaran agregat :
Pergeseran-pergeseran pada penawaran agregat dapat menyebabkan stagflasi
yakni periode merosotnya output (stagnasi) dan naiknya harga-harga (inflasi)
Para pembuat kebijakan yang dapat mempengaruhi permintaan agregat tidak

2.5.2

dapat menyeimbangkan kedua dampak yang berlawanan ini secara bersamaan.


Penawaran Agregat

Penawaran agregat pada dasarnya merupakan nilai total dari seluruh barang akhir dan
jasa yang dihasilkan di dalam perekonomian. Penawaran agregat di dalam suatu
perekonomian dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :

Besarnya angkatan kerja ( size of the labor force ).


Besarnya stok kapital ( size of capital stock ).
Keadaan atau tingkat teknologi ( state of technology ).

16

Tingkat pengangguran alamiah ( natural rate of unemployment ).


Harga faktor-faktor produksi.

Berkaitan dengan penawaran agregat ini barangkali penting untuk di bedakan antara
penawaran agregat jangka pendek ( short-run aggregate supply, SRAS ) dan penawaran
agregat jangka panjang ( Long-run aggregate suppy, LRAS ). Pengertian penawaran agregat
yang telah dikemukakan di atas adalah dalam artian penawaran agregat jangka pendek (
short-run aggregate supply, SRAS ). Sedangkan penawaran agregat jangka panjang ( long-run
aggregate supply) lebih menunjuk kepada jumlah output riil yang ditawarkan ketika upah dan
harga-harga telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga masing-masing perusahaan
memproduksi output yang memaksimumkan keuntunggannya dan perekonomian berada pada
tingkat kesempatan kerja penuh ( full employment level ). Penawaran agregat jangka panjang
tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi SRAS, kecuali harga faktor
produksi. Dengan asumsi hal-hal lainnya tetap, apabila semakin besar jumlah angkatan kerja,
semakin rendah tingkat pengangguran alamiah ( natural rate of unemployment ), semakin
besar jumla stok kapital, dan semakin produktif teknologi yang tersedia, maka akan semakin
besar pula penawaran agregat jangka panjang.
Secara grafik, kurva penawaran agregat jangka pendek dan kurva penawaran agregat
jangka panjang dapat digambarkan sebagai berikut :

Tingkat Harga (P) LRAS

SRAS1
SRAS0

P1

P2

Yn

Output Riil (Y)

Gambar 7.1 : Peningkatan di dalam harga faktor produksi

17

Dari gambar 7.1 : di atas tampak bahwa kurva penawaran agregat jangka pendek
(SRAS) memiliki slop yang positip, yang menggambarkan bahwa antara SRAS dengan
tingkat harga (P) berkorelasi positip. Sedangkan kurva LRAS berbentuk tegak lurus
( vertical ) yang menunjukkan bahwa output jangka panjang tersebut adalah inelastis terhadap
perubahan dalam tingkat harga ( P ).
Perubahan di dalam tingkat upah atau harga dari faktor-faktor produksi lainnya akan
menggeser kurva penawaran agregat jangka pendek, tetapi tidak mempengaruhi kurva
penawaran jangkan panjang. Sebagai contoh, apabila tingkat upah mengalami kenaikan,
maka dalam gambar 7.1. di atas, kurva SRAS akan bergeser ke kiri atas yaitu dari SRAS 0 ke
SRAS1, sementara kurva LRAS tetap pada posisinya atau tidak mengalami pergeseran.
Kenaikan di dalam stok kapital, jumlah angkatan kerja, atau perbaikan di dalam
teknologi yang akan meningkatkan kemampuan perekonomian untuk menghasilkan barangbarang dan jasa-jasa, akan menggeser ke kanan, baik kurva penawaran agregat jangkat
panjang maupun kurva penawaran agregat jangka panjang bersama-sama. Kurva penawaran
agregat jangka pendek yang baru akan berpotongan dengan kurva penawaran agregat jangka
panjang yang baru pada tingkat harga yang sama seperti pada titik perpotongan kurva SRAS
dan LRAS yang lama. Hal tersebut secara jelas ditunjukkan oleh gambar 7.2 berikut.
Tingkat Harga (P)

LRAS0 LRAS1
SRAS0
SRAS1

P0

Yn

Output Riil (Y)

Gambar 7.2 : Peningkatan dalam penawaran agregat jangka panjang

18

Dalam kaitan dengan, kurva penawaran agregat jangka panjang ( short run aggregate
supply curve), Mankiw (2003) mengemukakan tiga model atau teori penawaran agregat yang
mencoba memberikan penjelasan tentang mengapa kurva penawaran agregat jangka pendek
itu cenderung memiliki kemiringan (slop) yang positif. Ketiga model tersebut adalah model
upah-kaku ( sticky wage model), model informasi tak sempurna (imperfect-information
model), dan model harga kaku (sticky price model), dan pandangan dari ketiga nya
dirangkum dalam persamaan penawaran agregat jangka pendek, berikut :
Y = + ( P Pe), > 0 ..
Dimana Y adalah output, Y adalah tingkat output alamiah, P adalah tingkat harga, P e
adalah tingkat harga yang diharapkan. Parameter _ menunjukkan berapa banyak output
merespons perubahan yang tidak diharapkan dalam tingkat harga, dan 1/_ adalah kemiringan
(slop) dari kurva penawaran agregat.
Ketiga model tersebut memberikan penjelasan yang berbeda tentang apa ang
melatarbelakangi persamaan penawaan agregat jangka pendek itu. Dengan kata lain, masing
masing model mempunyai alasan tertentu mengapa gerakan-gerakan yang tidak diharapkan
pada tingkat harga dikaitkan dengan fluktuasi output agregat. Model upah kaku, model
informasi tak sempurna, dan kesempatan kerja dari tingkat alamiah untuk berbagai ketidaksempurnaan pasar , seperti adanya upah kaku, informasi tak sempurna, dan harga yang
kaku. Menurut tiga model tersebut, sebagaimana ditunjukkan persamaan 7.1. diatas, output
akan menyimpang dari tingkat alamiah, bila tingkat harga menyimpang dari tingkat
harga yang diharapkan. Artinya, output akan berada di atas tingkat output alamiah,
bila tingkat harga melebihi tingkat harga yang diharapkann ( P Pe). Sebaliknya, output
akan turun dan berada di bawah tingkat output alamiah, tingkat harga lebih kecil
darpada tingkat harga yang diharapkan ( P Pe).

2.6

Siklus Aliran Pendapatan dan Interaksi Pasar


Siklus Aliran Pendapatan ( Circular Flow ) dan Interaksi Antar Pasar

a.

Siklus Aliran Pendapatan ( Circular Flow )

19

Siklus Aliran Pendapatan ( Circular Flow ) adalah sebuah mode antar para
pelaku ekonomi menghasilkan pendapatan yang digunakan sebagai pengeluaran
dalam upaya memaksimalkan nilai kegunaan ( utility )masing-masing pelaku
ekonomi. Ditunjukkan seperti diagram ini. Model circular flow membagi
perekonomian menjadi empat sektor :
1. Sektor Rumah Tangga ( Household Sector )yang terdiri atas sekumpulan
individu yang dianggap homogen dan identik.
2. Sektor Perusahaan ( Firms Sector ) yang terdiri atas sekumpulan perusahaan
yang memproduksi barang dan jasa .
3. Sektor Pemerintah ( Goverment Sector ) yang memiliki kewenangan politik
untuk mengaturkegiatan masyarakat dan perusahaan.
4. Sektor Luar Negeri ( Foreign Sector ) yaitu sektor perekonomian dunia
,dimana perekonomian melakukan transaksi ekspor-impor.

1. Sektor Rumah Tangga ( Household Sector )

20

Sektor Rumah Tangga ( Household Sector ) memiliki faktor-faktor produksi


yang dibutuhkan untuk proses produksi barang dan jasa privat ( sektor perusahaan )
maupun barang dan jasa publik ( sektor pemerintah ). Faktor-faktor produksi tersebut
adalah kesediaan untuk bekerja, barang modal misalnya tanah, uang dan kesediaan
menanggung resiko yang dihadapi oleh perusahaan dengan membeli saham. Untuk
faktor produksi yang diberikan tersebut, sektor perusahaan memberikan gaji untuk
kesediaan bekerja, pendapatan bunga untuk kesediaan meminjamkan uang,
pendapatan sewa untuk memberikan barang modal dan pembagian Keuntungan
( dividen ) untuk kesediaan menanggung risiko.
Terdapat hubungan-hubungan antara sektor rumah tangga konsumen dengan
sector rumah tangga produksi (perusahaan), pemerintah dan dunia internasional.
Hubungan itu sebagai berikut:
1. Hubungan dengan Rumah Tangga Produksi (Perusahaan)
Rumah tangga melakukan pembelian barang dan jasa yang dihasilkan

2.

oleh perusahaan untuk konsumsi.


Rumah tangga mendapatkan pendapatan berupa gaji, upah, sewa,

dividen, bunga, dari perusahaan.


Hubungan dengan Pemerintah
Rumah tangga menyetorkan sejumah uang sebagai pajak.
Rumah tangga menerima penerimaan berupa gaji, bunga, penghasilan

non balas jasa, dll.


3. Hubungan dengan Dunia Internasional
Rumah tangga mengimpor barang dan jasa dari luar negeri untuk
memenuhi kebutuhan hidup.
2. Sektor Perusahaan
Aliran pengeluaran sektor rumah tangga konsumen merupakan aliran
pendapatan sektor perusahaan. Selain dari sektir rumah tangga, perusahaan mendapat
pendapatan dari sektor pemerintah yang merupakan konsumsi pemerintah, dan dari
permintaan sektor luar negeri yang merupakan ekspor sektor perusahaan. selain

21

melakukan pembayaran untuk sektor rumah tangga, perusahaan juga membayar pajak
kepada pemerintah.
Terdapat

hubungan-hubungan

antara

sektor

rumah

tangga

produksi

(perusahaan) dengan setor rumah tangga konsumen, pemerintah dan dunia


internasional. Hubungan itu sebagai berikut:
1. Hubungan dengan Rumah Tangga Konsumen
Perusahaan menghasilkan produk-produk barupa barang dan jasa yang

dikonsumsi oleh masyarakat.


Perusahaan memberikan penghasilah dan keuntungan kepada rumah

tangga berupa gaji, deviden, sewa, upah, bunga, dsb.


2. Hubungan dengan Pemerintah
Perusahaan membayar pajak kepada pemerintah.
Perusahaan menjual produk dan jasa kepada pemerintah.
3. Hubungan dengan Dunia Internasional
Perusahaan melakukan impor atas produk barang maupun jasa dari
luar negeri.
3. Sektor Pemerintah
Bertindak sebagai pembuat dan pengatur kebijakan masyarakat dan bisnis. Fungsi
utama pemerintah adalah menyediakan barang publik ( publik goods provision ).
Untuk menjalankan fungsinya pemerintah melakukan pengeluaran berupa pembelian
barang dan jasa dari sektor perusahaan dan pengeluaran-pengeluaran dari sektor
rumah tangga. Karena barang publik tidak dapat disediakan sepenuhnya lewat
mekanisme pasar, pemerintah harus menarik pajak dari sektor rumah tangga dan
sektor perusahaan.
Terdapat hubungan-hubungan antara sektor pemerintah dengan setor rumah
tangga konsumen, rumah tangga produksi (perusahaan), dan dunia internasional.
Hubungan itu sebagai berikut:
1. Hubungan dengan Rumah Tangga Konsumen
Pemerintah menerima setoran pajak rumah tangga untuk kebutuhan
operasional, pembangunan, dan lain-lain.

22

2.

Hubungan dengan Rumah Tangga Produksi (Perusahaan)


Pemerintah mendapatkan penerimaan pajak dari pengusaha.
Pemerintah membeli produk dari perusahaan berdasarkan dana

anggaran belanja yang ada.


3. Hubungan dengan Dunia Internasional
Pemerintah mendapatkan penerimaan pajak dari dunia internasional.
Dari ekspor pemerintah mendapatkan devisa. Selain itu, pemerintah
menetapkan kebijakan ekspor maupun impor.
4. Sektor Luar Negeri
Sektor rumah tangga konsumen, perusahaan (rumah tangga produksi) dan
pemerintah merupakan perekonomian domestik. Perekonomian dikatakan tertutup
( closed economy ) jika tidak melakukan interaksi dengan sektor luar negeri. Interaksi
dengan sektor luar negeri dalam perekonomian terbuka ( open economy )
disederhanakan dengan mekanisme ekspor dan impor.
Terdapat hubungan-hubungan antara sektor pemerintah dengan setor rumah
tangga konsumen, rumah tangga produksi (perusahaan), dan pemerintah. Hubungan
itu sebagai berikut:
1. Hubungan dengan RumahTangga
Dunia internasional menyediakan barang dan jasa untuk kepentingan
rumah tangga.
2. Hubungan dengan Perusahaan
Dunia internasional mengekspor produknya kepada bisnis-bisnis
perusahaan.
b.

Tiga Pasar Utama ( Three Basic Market )

1. Pasar Barang dan Jasa


Pasar Barang dan Jasa adalah pertemuan antara permintaan penawaran barang
dan jasa. Dalam perekonomian tertutup permintaan utamanya berasal dari sektor
rumah tangga dan pemerintah. Permintaan tersebut umumnya merupakan permintaan
barang dan jasa akhir. Penawaran barang dan jasa berasal dari sektor perusahaan,
namun dalam perekonomian modern terutama makin tingginya tingkat spelialisasi,

23

tidak semua perusahaan memproduksi sendiri bahan baku yang dipakai untuk
produksi barang dan jasa.
2. Pasar Tenaga Kerja
Pasar tenaga kerja adalah interaksi antara permintaan dan penawaran tenaga
kerja. Dalam perekonomian tertutup, penawaran tenaga kerja berasal dari sektor
rumah tangga, sedangkan permintaan berasal dari sektor perusahaan dan sektor
pemerintah. Dalam perekonomian terbuka, penawaran tenaga kerja dapat juga berasal
dari luar negeri.
3. Pasar Uang dan Modal
Pasar uang adalah interaksi antar permintaan uang dengan penawaran uang.
Yang diperjual belikan dalam pasar uang bukanlah fisik uang, melainkan hak
penggunaan uang, jika hak penggunaan uang yang diperjualbelikan adalah setahun
atau kurang, maka pasar tersebut masuk kategor pasari uang ( money market ). Jika
hak penggunaan uang yang diperjual belikan lebih setahun ,passar tersebut adalah
pasar modal ( capital market ).

BAB III
KESIMPULAN

Usaha kecil memiliki pengertian yaitu kegiatan usaha yang mempunyai modal
awal yang kecil atau nilai kekayaan (asset) yang kecil dan jumlah pekerja yang juga
kecil. Kewirausaan memiliki pengertian yaitu suatu kemampuan yang dimiliki oleh
seseorang dalam menciptakan suatu peluang yang baru untuk mencapai kesuksesan
dengan segala keahlian yang dimilikinya.

24

Ciri-ciri dari wirausaha yang berhasil, diantaranya adalah percaya diri,


berorientasikan kemanusiaan, berorientasikan tugas dan keputusan, keaslian ide dan
kreatif, berorientasikan masa depan, selalu siap mengambil resiko, mempunyai
kemampuan

membuat

keputusan,

berorientasikan

perencanaan,

kemampuan

mengendalikan perusahaan, dan kemampuan manajemen.


Faktor-faktor kegagalan seorang wirausaha antara lain adalah memulai
perusahaan tanpa studi yang mendalam, kesalahan memilih tempat perusahaan, tidak
cukup modal dan kesalahan penggunaannya, kesalahan menilai perusahaan dalam hal
pengambilalihan, manajemen uang tunai (kas) yang tidak efisien, manajemen kredit
yang lemah, kesalahan miminjam tanpa pertimbangan, serta kelemahan perputaran
stok.

DAFTAR PUSTAKA

Kasmir. 2006. Kewirausahaan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.


Sukirno, Sadono. 2004. Pengantar Bisnis Edisi 1. Jakarta : Prenanda Media Grup.
Suryana. 2006. Kewirausahaan Edisi 3. Jakarta : Salemba Empat.
25

Suryana. 2013. Kewirausahaan Edisi 4. Jakarta : Salemba Empat.


Makroekonomi Rudiger Dornbusch, Stanley Fisher, J. Mulyadi
N. Gregory Mankiw Edisi kelima Makroekonomi
Sadono Sukirno Makroekonomi Teori Pengantar Edisi ketiga
http://anisah.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/30802/EKONOMI+MAKRO.doc
x (Diakses pada tanggal 10 Februari 2016)
https://www.scribd.com/doc/87598821/3/II-2-1-Silklus-AliranPendapatan-Circular-Flow-dan-Interaksi-antar-Pasar (Diakses pada
tanggal 12 Februari 2016)
https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?
ver=22&idmateri=196&mnu=Uraian3 (Diakses pada tanggal 12 Februari
2016)

26