Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 SIRKULASI ALIRAN PENDAPATAN


Perekonomian terbuka adalah suatu sistem ekonomi yang melakukan kegiatan ekspor dan
impor dengan negara negara lain didunia ini. Kegiatan ekspor dan impor merupakan bagian
yang penting dalam kegiatan perekonomian. Namun secara relatif jika dilihat dari sudut
pandang kepentingannya, setiap negara memiliki kepentingan masing masing.
Sirkulasi Aliran Pendapatan

Sirkulasi aliran pendapatan merupakan perputaran kegiatan sistem perekonomian yang


mempengaruhi pada pendapatan. Dari gambar diatas akan dijelaskan sebagai berikut :

Aliran 1: perusahaan yang menggunakan faktor faktor produksi dari rumah tangga
tersebut akan mewujudka aliran pendapatan ke sector rumah tangga. Aliran

pendapatan tersebut berupa gaji, upah, sewa, bunga, keuntungan, dsb.


Aliran 2: Perusahaan membayar pajak kepada pemerintah, pembayaran pajak ini
mempengaruhi aliran pendapatan yang tadi sebab, aliran pendapatan yang mengalir

pada rumah tangga telah dikurang oleh pajak keuntungan perusahaan.


Aliran 3: Rumah tangga yang menerima pendapatan tersebut membayar pajak
individu kepada pemerintah dan pendapatan yang diterima setelah pajak disebut

pendapatan disposebel (Yd).


Aliran 4: Pendapatan disposebel rumah tangga akan digunakan untuk membeli barang
dan jasa yang diproduksikan didalam negeri. Pengeluaran ini digolongkan sebagai
pengeluaran konsumen keatas barang barang yang diproduksi didalam negeri,

secara ringkas disebut (Cdn).


Aliran 5: Rumah tangga mengimpor barang barang yang diproduksikan oleh luar
negeri. Jika pengeluaran dari aliran 4 digabungkan dengan aliran 5 atau meliputi

keseluruhan pembelanjaan rumah tangga disebut (C).


Aliran 6: Sisa pendapatan yang tidak digunakan oleh rumah tangga akan ditabung
kedalam institusi keuangan atau badan keuangan seperti bank perdagangan, bank
tabungan dan sebagainya.

Sebagaimana dari penjelasan sebelumnya, bahwa ekspor dan impor mempengaruhi


kegiatan dalam suatu perekonomian dan sirkulasi pendapatan yang berlaku. Penggunaan
faktor-faktor produksi oleh sector perusahaan akan mewujudkan aliran pendapatan ke sector
rumah tangga. Aliran pendapatan ini meliputi gaji dan upah, sewa, bunga dan keuntungan
lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa dalam perekonomian terbuka pengeluaran agregat meliputi
lima jenis pengeluaran, yaitu :

Pengeluaran konsumsi rumah tangga ke atas barang barang yang dihasilkan didalam

negeri. (Cdn)
Investasi perusahaan (I) untuk menambah kapasitas sector perusahaan menghasilkan

barang dan jasa.


Pengeluaran pemerintah ke atas barang dan jasa yang diperoleh didalam negeri. (G)

Ekspor, yaitu pembelian Negara lain ke atas barang buatan perusahaan-perusahaan

didalam negeri. (X)


Barang impor, yaitu barang yang dibeli dari luar negeri. (M)

Dengan demikian komponen pengeluaran agregat dalam perekonomian terbuka adalah


pengeluaran rumah tangga ke atas barang buatan dalam negeri, investasi, pengeluaran
pemerintah, pengeluaran ke atas barang buatan dalam negeri (ekspor).
Pengeluaran agregat ini tersebut (AE) dapat dinyatakan dengan menggunakan rumus :
AE = Cdn + I + G + X + M

2.1.1
a

Faktor-faktor Penentu Ekspor dan Impor


Faktor-faktor yang Menentukan Ekspor
Suatu Negara dapat mengekspor barang produksinya ke Negara lain
apabila barang tersebut diperlukan Negara lain dan mereka tidak dapat
memproduksi barang tersebut atau produksinya tidak dapat memenuhi keperluan
dalam negeri. Ada faktor terpenting yang menentukan ekspor suatu Negara yaitu
kemampuan dari Negara tersebut untuk mengeluarkan barang-barang yang dapat
bersaing dalam pasaran luar negeri, baik dalam mutu, harga barang yang diekspor
paling tidak sedikit sama baiknya dengan yang diperjual-belikan dalam pasaran
luar negeri, serta cita rasa masyarakat luar negeri terhadap barang yang diekspor.
Ada beberapa hal yang menyebabkan kemerosotan pada ekspor, yaitu bias
terjadinya perubahan cita rasa penduduk luar negeri, merosotnya keupayaan
bersaing di pasar luar negeri serta terjadi permasalahan ekonomi yang sedang
dialami diluar negeri.

Faktor-faktor yang Menentukan Impor


Impor suatu Negara dipengaruhi oleh tingkat pendapatan masyarakat.
Semakin tinggi pendapatan, semakin .banyak impor yang akan dilakukan.
Inflasi juga dapat menyebabkan secara keseluruhan barang buatan dalam negeri
menjadi lebih mahal. Serta kemampuan suatu Negara menghasilkan barang yang

lebih baik mutunya merupakan salah satu faktor yang menimbulkan perubahan
impor terhadap tingkat pendapatan nasional.
2.1.2

Syarat Keseimbangan Perekonomian Terbuka

Syarat keseimbangan dalam perekonomian terbuka :

Efek perubahan ekspor dan impor terhadap keseimbangan pendapatan.


Suatu contoh angka untuk menunjukan keseimbangan dalam perekonomian
terbuka dan perubahan keseimbangan tersebut.

Keseimbangan pendapatan nasional akan dicapai pada keadaan dimana :


a. Penawaran agregat sama dengan pengerluaran agregat.
Dalam perekonomian terbuka barang dan jasa yang diperjual-belikan di dalam negeri
terdiri dari dua golongan barang, yaitu :

Yang di produksi di dalam negeri dan meliputi pendapatan nasional (Y)


Yang di impor dari luar negeri.

Dengan demikian dalam perekonomian terbuka penawaran agregat (AS) terdiri dari
pendapatan nasional (Y) dam impor (M), dalam rumus :
AS = Y + M
Sirkulasi aliran pendapatan dalam perekonomian terbuka telah menunjukkan
bahwa pengeluaran agregat (AE( meliputi lima komponen berikut : pengeluaran rumah
tangga ke atas barang produksi dalam negeri (Cdn), investasi swasta (I), pengeluaran
pemerintah (G), ekspor (X), dan pengeluaran k eats impor (M), dalam rumus :
AE = Cdn + I + G + X + M
Pengeluaran rumah tangga terdiri dari pengeluaran ke atas barang dalam negeri
(C) dan pengeluaran ke atas barang impor. Maka dalam perekonomian terbuka berlaku
persamaan berikut :
C = Cdn + M atau AE = C + I + G + X

Dalam setiap perekonomian keseimbangan pendapatan nasional dicapai apabila


penawaran agregat (AE). Dengan demikian, dlam perekonomian terbuka keseimbangan
pendapatan nasional akan tercapai apabila :
Y + M = C + I + G + X atau Y = C + I + G + ( X M )

Suntikan dan bocoran dalam perekonomian terbuka


Dalam pendekatan suntikan bocoran, keseimbangan pendapatan nasional dalam

perekonomian terbuka dicapai dalam keadaan berikut :


I+G+X=S+T+M
Untuk menentukan keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian
terbuka diperlukan pencapaian dalam kesamaan, yaitu pendapata nasional (Y) yang telah
dikurangi oleh pajak pendapatan perusahaan serta pendapatan nasional yang mengalir ke
sector rumah tangga dikurangi pula oleh pajak pendapatan individu. Sisa yang diperoleh
merupakan pendapatan disposebel (Yd). maka dengan rumus :
Yd = Y Pajak perusahaan Pajak Individu Atau Yd = Y T
Pendapatan disposebel tersebut digunakan untuk tujuan-tujuan :

Untuk membeli barang buatan dalam negeri dan barang impor, dengan rumus :
C = Cdn + M
Untuk di tabung (S)
Maka dari pernyataan tersebut, yaitu Yd = C + S. Oleh karena Yd = Y T, maka
dalam ekonomi terbuka berlaku persamaan :
Y Y = C + S atau Y = C + S + T

Dimana C adalah pengeluaran rumah tangga untuk membeli barang dalam negeri
dan barang impor.
Mengenai keseimbangan mengikut pendekatan penawaran agregat-pengeluaran
agregat menunjukan bahwa keseimbangan di capai apabila :
Y=C+I+G+(XM)

Dengan demikian dalam perekonomian terbuka yang mencapai keseimbangan


pendapatan nasional berlaku kesamaan :
C+I+G+(XM)=C+S+T
Atau
I+G+X=S+T+M

2.1.3

Keseimbangan Dalam Perekonomian Terbuka

Ada pernyataan mengenai keseimbangan pendapat nasional dalam perekonomian


terbuka, yaitu apabila dimisalkan perekonomian tersebut terdiri dari tiga sector,
keseimbangan pendapat nasional akan dicapai pada keadaan Y = C + I + G. Dan apabila
perekonomian ini berubah menjadi ekonomi terbuka, akan timbul dua aliran pengeluaran
baru, yaitu ekspor dan impor. Ekspor akan menambah pengeluaran agregat manakala impor
akan mengurangi pengeluaran agregat.
Dengan demikian, apabila perekonomian berubah dari ekonomi tertutup ke ekonomi
terbuka, pengeluaran agregat akan bertambah semakin banyak Ekspor Neto, yaitu sebanyak
( X M ). Nilai Ekspor Neto ini perlu ditambahkan kepada fungsi pengeluaran agregat untuk
perekonomian tertutup ( AE = C + I + G ). Dan akan diperoleh fungsi pengeluaran agregat
untuk ekomoni empat sector, yaitu AE = C + I + G + ( X M ).
Akibat dari perubahan keseimbangan pendapatan nasional ini menyebabkan pendapatan
nasional meningkat (pendapatan nasional dalam perekonomian tertutup) menjadi pendapatan
nasional untuk perekonomian terbuka. Dan bahwa fungsi AE = C + I + G + ( X M ) tidak
sejajar dengan AE = C + I + G dan dengan konsumsi (C). Keadaan demikian berlaku karena
impor (M) nilainya sebanding dengan pendapatan nasional, maka fungsi dari AE = C + I + G
+ ( X M ) lebih landai.
Misalkan keseimbangan pendapatan nasional menurut pendekatan bocoran yaitu, jika
apabila ekonomi terdiri dari tiga sector maka perubahan dari perekonomian tertutup menjadi
perekonomian terbuka, menyebabkan :

Suntikan bertambah sebanyak X, dari I + G menjadi I + G + X. perubahan sejajar

karena ekspor adalah pengeluaran otonomi.


Bocoran bertambah sebanyak M, dari S + T dan semakin menjauhi S + T karena
M adalah pengeluaran terpengaruh (sebanding dengan pendapatan nasional).

2.1.4

Perubahan-perubahan Keseimbangan

Perubahan yang terjadi pada pengeluaran rumah tangga,perubahan komponen-komponen


suntikan (I, G, dan X) dan perubahan komponen-komponen bocoran (S,T, atau M) akan
menimbulkan perubahan ke atas keseimbangan pendapatan nasional. Kenaikan dalam
pengeluaran rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah atau ekspor akan menaikkan
pendapatan nasional. Kenaikan pengeluaran agregat juga akan menimbulkan proses
multiplier sehingga pada akhirnya menyebabkan pertambahan pendapatan nasional adalah
lebih besar dari pertambahan pengeluaran agregat yang berlaku. Dalam ekonomi empat
sector nilai multiplier adalah lebih kecil dari dalam ekonomi tiga sector.sebabnya adalaha
karena dalam perekonomian terbuka misalkan impor adalah sebanding dengan pendapatan
nasional, yaitu persamaan impor adalah M = m Y. Nilai m menyebabkan tingkat kebocoran
(presentasi dari pertambahan pendapatan nasional yang tidak dibelanjakan kembali untuk
menimbulkan proses multiplier selanjutnya) menjdi bertambah.
Perubahan komponen yang meliputi bocoran (S, T, atau M) akan menimbulkan akibat
yang sebaliknya dari yang ditimbulkan oleh komponen pengeluaran agregat. Kenaikan
tabungan, atau pajak atau impor akan mengurangi pendapatan nasional. Proses multiplier
akan menyebabkan pendapatan nasional berkurang lebih besar dari kenaikan kebocoran.

2.2 KONSUMSI TABUNGAN DAN PENDAPATAN DALAM PEREKONOMIAN


TERTUTUP SEDERHANA

Perekonomian tertutup yaitu arus perekonomian yang tidak melibatkan luar negeri sehingga
tidak mengenal ekspor dan impor. Sedangkan perekonomian sederhana yaitu tidak mengenal
keterlibatan pemerintah dalam kegiatan perekonomian. Kesimpulannya, perekonomian tertutup
sederhana yaitu sistem perekonomian yang hanya melibatkan dua pelaku, yaitu rumah tangga
dan perusahaan.
2.2.1

Pengertian Konsumsi Tabungan dan Pendapatan

a. Konsumsi
Konsumsi (Consumption) adalah Kegiatan mengurangi nilai guna barang dan jasa, dengan tujuan
untuk memenuhi kebutuhan. Alat untuk melakukan konsumsi adalah dengan menggunakan
pendapatan, maka kosumsi juga sering dartikan bagian pendapatan masyarakat yang digunakan
untuk membeli barang atau jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan. Konsumsi merupakan
tindakan pelaku ekonomi, baik individu maupun kelompok, dalam menggunakan komoditas
berupa barang maupun jasa untuk memenuhi kebutuhannya.Secara agregat, konsumsi merupakan
penjumlahan dari pengel;uaran seluruh rumah tangga yang ada dalam suatu perekonomian.
Dengan mengetahui total pengeluaran suatu perekonomian, maka akan dapat diketahui beberapa
masalah penting yang muncul dalam perekonomian, seperti pemerataan pendapatan, efisiensi
penggunaan sumber daya dalam suatu perekonomian , masalah-masalah lainnya. Dengan
demikian, kita dapat menganalisis dan menentukan kebijakan ekonomi guna memperbaiki atau
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Secara umum, pengeluaran konsumsi terbagi menjadi konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah
tangga. Konsumsi rumah tangga memiliki porsi yang lebih besar dalam pengeluaran agregat jika
dibandingkan dengan konsumsi pemerintah
Konsumsi rumah tangga bersifat endogen, dalam arti besarnya konsumsi rumah tangga berkaitan
erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Keterkaitan ini akan menghasilkan teori
dan model ekonomi sendiri untuk konsumsi.
Perkembangan masyarakat begitu cepat menyebabkan perilaku konsumsi juga berubah cepat
sehingga pembahasan tentang konsumsi rumah tangga akan tetap relevan

Jika dirumuskan : Y = C

Y = Yield (pendapatan)
C = Consumption( konsumsi)
Faktor yang mempengaruhi konsumsi ; pendapatan, komposisi keluarga, lingkungan,
kepribadian, motivasi, sikap,budaya dan perkiraan masa depan.

b. Tabungan
Tabungan (saving) adalah bagian pendapatan masyarakat yang tidak digunakan untuk konsumsi.
Masyarakat yang mempunyai penghasilan lebih besar dari kebutuhan konsumsi akan mempunyai
kesempatan untuk menabung Fungsi tabungan adalah suatu fungsi yang menggambarkan
hubungan antara tingkat tabungan rumah tangga dengan pendapatan nasional dalam
perekonomian
S = -a + (1 b) Y
Keterangan

S = besarnya tabungan (save)


A = konnsumsi yang harus dipenuhi pada saat pendapatan nol
1-b = marginal prospensity to save
Y = pendapatan nasional

c. Pendapatan
Merupakan penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal
dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penjualan jasa (fees), bunga, dividen, royalti,
dan sewa. Pendapatan dapat diartikan sebagai penghasilan yang diperoleh dari suatu pekerjaan,
atau menurut FASB, pengertian pendapatan (Stice, Skousen, 2004, 230), didefinisikan sebagai
berikut :Pendapatan adalah sebagai arus masuk atau kenaikan-kenaikan lainnya dari nilai harta
suatu satuan usaha atau penghentian hutang- hutangnya atau kombinasi dari keduanya dalam
suatu periode akibat dari penyerahan atau produksi barang-barang, penyerahan jasa-jasa, atau
pelaksanaan aktivitas-aktivitas lainnya yang membentuk operasi-operasi utama atau sentral yang
berlanjut terus dari satuan usaha tersebut.

Pendapatan umum dirumuskan sebagai berikut :


Y= S+ C/Y=I+ C
Keterangan : Y=pendapatan
S=tabungan
C=konsumsi
I= investasi

2.2.2

Hubungan Konsumsi, Tabungan dan Pendapatan

Seorang ahli ilmu ekonomi JM. Keynes, mengatakan bahwa pengeluaran seseorang untuk
konsumsi dan tabungan dipengaruhi oleh pendapatannya. Semakin besar pendapatan seseorang
maka akan semakin banyak tingkat konsumsinya pula, dan tingkat tabungannya pun akan
semakin bertambah, dan sebaliknya apabila tingkat pendapatan seseorang semakin kecil, maka
seluruh pendapatannya digunakan untuk konsumsi sehingga tingkat tabungannya nol.
Menurut JM. Keynes, pendapatan suatu negara terdiri atas dua hal, yaitu :

Pendapatan Perseorangan dan


Pendapatan Perusahaan.

Hubungan antara konsumsi dan pendapatan dalam pendapatan perseorangan

Terdapat beberapa factor yang menentukan tingkat pengeluaran rumah tangga. Yang
paling penting adalah pendapatan rumah tangga. Table yang menggambarkan hubungan antara
konsumsi rumah tangga dan pendapatannya dinamakan daftar konsumsi. Daftar konsumsi pada
dasarnya menggambarkan besarnya konsumsi rumah tangga pada tingkat pendapatan yang
berubah ubah. Misalnya seperti terlihat pada table berikut. Pada waktu pendapatan seseorang
adalah Rp 500 ribu, konsumsinya sebesar Rp 500 ribu. Pada waktu pendapatan Rp 900 ribu,
konsumsinya sebesar Rp 800 ribu. Table berikut secara terperinci menunjukkan hubungan di
antara tingkat pendapatan disposebel dengan pengeluaran konsumsi dan tabungan rumah tangga.
Pendapatan disposibel
1
0
100
200

Pengeluaran konsumsi
2
125
200
275

Tabungan
3
-125
-100
-75

300
400
500
600
700
800
900
1000

350
425
500
575
650
725
800
875

-50
-25
0
25
50
75
100
125

Di dalam kolom 1, ditunjukkan berbagai tingkat pendapatan disposibel yang mungkin


diterima oleh suatu rumah tangga, sedangkan di kolom ke 2 ditunjukkan berbagai jumlah
pengeluaran konsumsi yang akan dilakukan oleh rumah tangga tersebut. Jumlah tabungan
(kelebihan pendapatan sesudah melakukan pengeluaran) di tunjukkan oleh kolom 3. Contoh di
dalam table ini adalah contoh yang memberikan gambaran mengenai ciri ciri khas dari
hubungan di antara pengeluaran konsumsi dan pendapatan disposibel. Ciri ciri tersebut antara
lain :

Pada pendapatan yang rendah rumah tangga mengorek tabungan. Pada waktu rumah
tangga tidak memperoleh pendapatan, pengeluarannya sebesar Rp 125 ribu. Ini berarti
rumah tangga harus menggunakan harta atau tabungan masa lalu untuk membiayai
pengeluaran konsumsinya. Mengorek tabungan / tabungan menjadi negative apabila
pendapatan rumah tangga tersebut lebih kecil dari pengeluaran konsumsinya.
Kenaikan pendapatan menaikkan pengeluaran konsumsi. Biasanya pertambahan
pendapatan adalah lebih tinggi dari pada pertambahan konsumsi. Contoh dari table di atas
saat pertambahan pendapatan sebesar Rp 100 ribu, konsumsi bertambah sebesar Rp 75
ribu. Sisa dari pendapatan itu akan masuk ke dalam tabungan.
Pada pendapatan yang tinggi rumah tangga menabung. Disebabkan karena pertambahan
pendapatan selalu lebih besar dari pada pengeluaran konsumsi. Ia akan mampu menabung
sebagian dari pendapatannya.
Kecondongan mengkonsumsi dan menabung dalam pendapatan perseorangan

Untuk memahami dengan lebih baik sifat hubungan di antara pendapatan disposibel,
pengeluaran konsumsi dan tabungan perlulah diterangkan dua konsep penting berikut yaitu
kecondongan mengkonsumsi dan kecondongan menabung.
Definisi kecondongan mengkonsumsi
Konsep kecenderungan mnegkonsumsi perlu dibedakan menjadi dua pengertian,
yaitu kecondongan mengkonsumsi marjinal dan kecondongan mengkonsumsi rata rata.
Kecondongan mengkonsumsi marjinal, atau secara singkatnya MPC (marginal
propensity to consume) dapat didefinisikan sebagai perbandingan diantara

pertambahan konsumsi (C) yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan


disposibel (Y) yang diperoleh. Nilai MPC dapat dihitung dengan formula :
C
Y
Kecondongan mengkonsumsi rata rata, atau secara singkatnya APC (average
propensity to consume) dapat didefinisikan sebagai perbandingan diantara tingkat
konsumsi (C) dengan tingkat pendapatan disposibel ketika konsmsi tersebut
dilakukan (Y). Nilai APC dapat dihitung dengan formula :

MPC

APC

C
Y

Contoh menghitung MPC dan APC

Pendapatan disposibel
(Y)

Pengeluaran
konsumsi (C)

2
CONTOH 1
RP 300 ribu
450 ribu
600 ribu
750 ribu
CONTOH 2

Rp 200 ribu
400 ribu
600 ribu
800 ribu

Rp 200 ribu
400 ribu
600 ribu
800 ribu

Kecondongan
mengkonsumsi
marjinal (MPC)
3
MPC TETAP
150/200 = 0,75
150/200 = 0,75
150/200 = 0,75
MPC MAKIN
KECIL
160/200 = 0.80
150/200 = 0.75
140/200 = 0,70

Rp 300 ribu
460 ribu
610 ribu
750 ribu

Kecondongan
menkonsumsi rata
rata (APC)
4
300/200 = 1,50
450/400 = 1,125
600/600 = 1
750/800 = 0,94

300/200 = 1,5
460/400 = 1,15
610/600 = 1,017
750/800 = 0,93

Dalam contoh 1 digambarkan pendapatan disposebel dalam kolom (1) selalu bertambah
sebanyak Rp 200 ribu dan ini mengakibatkan konsumsi, yang ditunjukkan dalam kolom (2) juga
bertambah sebanyak Rp 150 ribu. Maka MPC yang di tunjukkan oleh kolom (3) adalah 0,75
melalui rumus yaitu :
MPC =

C
Y

150 ribu
200 ribu

= 0,75

Dalam contoh 2 digambarkan pendapatan disposebel juga selalu bertambah sebanyak Rp


200 ribu, tetapi kenaikan konsumsi rumah tangga makin kecil pertambahannya. Sifat hubungan
di antara pertambahan pendapatan disposebel dan konsumsi adalah :

Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 200 ribu menjadi Rp 400 ribu,
konsumsi naik dari Rp 300 ribu menjadi Rp 460 ribu. MPCnya adalah sebagai
berikut (460 300) / (400 200) = 0,80
Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 400 ribu menjadi Rp 600 ribu,
konsumsi naik dari Rp 460 ribu menjadi Rp 610 ribu. MPCnya adalah sebagai
berikut (610 460) / (600 400) = 0,75
Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 600 ribu menjadi Rp 800 ribu,
konsumsi naik dari Rp 610 ribu menjadi Rp 750 ribu. MPCnya adalah sebagai
berikut (750 610) / (800 600) = 0,70

Hasil perhitungan kecondongan konsumsi rata rata di tunjukkan oleh kolom (4). Dari
contoh 1 dan 2 dapat dilihat bahwa APC berubah ubah nilainya, dan nilainya makin
lama makin rendah. Apabila Y lebih kecil dari C, maka APC lebih besar dari 1 dan
apabila Y lebih besar dari C maka APC lebih kecil dari 1.
Definisi kecondongan menabung
Konsep kecenderungan menabung perlu dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu
kecondongan mengkonsumsi marjinal dan kecondongan mengkonsumsi rata rata.
Kecondongan menabung marjinal, atau secara singkatnya MPS (marginal
propensity to save) dapat didefinisikan sebagai perbandingan diantara
pertambahan tabungan (S) dengan pertambahan pendapatan disposibel (Y)
yang diperoleh. Nilai MPS dapat dihitung dengan formula :

MPS

S
Y
Kecondongan menabung rata rata, atau secara singkatnya APS (average
propensity to save) dapat didefinisikan sebagai perbandingan diantara tabungan
(S) dengan tingkat pendapatan disposibel (Y). Nilai APS dapat dihitung dengan
formula :
APS

S
Y

Contoh menghitung MPS dan APS


Pendapatan
disposebel
(Y)
(1)

Pengeluaran
konsumsi
(C)
(2)

Tabungan
(S)
(3)

Kecondongan
menabung
marjinal (MPS)
(4)

Kecondongan
menabung rata
rata (APS)
(5)

Rp 200 ribu
400 ribu
600 ribu
800 ribu

RP 300 ribu
450 ribu
600 ribu
750 ribu

Rp 200 ribu
400 ribu
600 ribu
800 ribu

RP 300 ribu
460 ribu
610 ribu
750 ribu

Contoh 1 : MPS
tetap
Rp -100 ribu
-50 ribu
0
50 ribu
Contoh 2 : MPS
makin besar
Rp -100 ribu
-60 ribu
-10 ribu
50 ribu

50/200 = 0,25
50/200 = 0,25
50/200 = 0,25

-100/200 = -0,50
-50/400 = -0,25
0/600 = 0
50/800 = 0.0625

40/200 = 0,20
50/200 = 0,25
60/200 = 0,30

-100/200 = -0,50
-60/400 = -0,15
-10/600 = -0,017
50/800 = 0.0625

Dalam contoh 1 pendapatan disposebel mengalami pertambahan yang tetap besarnya dan
nilai pertambahannya adalah Rp 200 ribu. Nilai disposebel adalah seperti yang digunakan di
dalam table sebelumnya. Seterusnya dimisalkan pula konsumsi adalah seperti di dalam table
sebelumnya maka tabungan adalah seperti yang di tunjukkan pada table yang di atas, yaitu
tabugan akan bertambah sebanyak Rp 50 ribu apabila pendapatan disposebel bertambah Rp 200
ribu. Maka dalam contoh 1 MPS adalah 50 / 200 = 0,25.
Dalam contoh 2, dimisalkan pendapatan disposebel dan konsumsi adalah seperti pada
contoh 2. Berdasarkan data MPS, akan ditunjukkan pada perhitungan berikut.

Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 200 ribu menjadi Rp 400 ribu,
tabungan berubah dari Rp -100 ribu menjadi Rp-60 ribu, maka MPS = (-60 (-)
-100) / (400 200) = 40 / 200 = 0,20.
Apabila pendapatan disposebel bertambah dari Rp 400 ribu menjadi Rp 600 ribu,
tabungan berubah dari Rp 60 ribu menjadi Rp -10 ribu. Maka MPS adalah (-10
(-) -60) / (600 400) = 50 / 200 = 0,25.

Hasil perhitungan yang diterangkan dalam kolom (5) ditunjukkan perhitungan unuk
memperoleh APS. Dari perhitungan yang dibuat, dapat dilihat bahwa nilai APS semakin besar
apabila pendapatan disposebel bertambah. Pada mulanya nilainya negative, karena rumah tangga
masih mengorek tabungan. Berikut akan di tunjukkan dua contoh perhitungan APS.

Dalam contoh 1, apabila pendapatan disposebelnya adalah Rp 200 ribu, tabungan


adalah Rp -100 ribu, maka APS adalah -100 / 200 = -0,5.

Dalam contoh 2, apabila pendapatan disposebelnya adalah Rp 400 ribu, tabungan adalah
Rp -60 ribu, maka APS adlah -60 / 400 = -0,15.

2.2.3

Fungsi Konsumsi, APC dan MPC

Fungsi konsumsi adalah suatu fungsi yang menggambarkan hubungan antara tingkat konsumsi
rumah tangga dengan pendapatan nasional dalam suatu perekonomian.
Persamaannya C = a + bY
Keterangan :
C = tingkat konsumsi
a = konsumsi rumah tangga secara nasional pada saat pendapatan nasional 0
b = kecondongan konsumsi marginal
Y = tingkat pendapatan nasional

b. Kecenderungan Mengkonsumsi (Propensity to Consume)


Kecenderungan mengonsumsi dibedakan menjadi dua yaitu :
Kecenderungan mengonsumsi marginal
Kecenderungan mengonsumsi rata-rata
Kecenderungan mengonsumsi marginal yaitu perbandingan antara pertambagan (AC) yang
dilakukan dengan pertambahan pendapatan disporsabel (AY).
MPC= C/Yd
Keterangan
MPC = Marginal Propensity to concume (kecondongan mengosumsi marginal)
C = pertambahan konsumsi
Yd = pertambahan pendapatan
Kecenderungan Mengonsumsi Rata-rata (Average Propensity to Consume)
Kecenderungan mengonsumsi rata-rata yaitu perbandingan antara tingkat konsumsi (C) dengan
tingkat pendapatan diposabel serta konsumsi itu dilakukan (Yd).
APC= C/Yd Keterangan

APC = konsumsi rata-rata


C = tingkat konsumsi
Yd = besarnya pendapatan disposabel
Untuk lebih jelasnya lihat tabel APC dan MPC di bawah ini :

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi


Kita telah mempelajari faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi individu, antara lain
pendapatan yang diterima, tingkat harga, selera. Kali ini, kita akan mencoba membahasnya dari
segi ekonomi makro. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseluruhan konsumsi rumah tangga
diklasigikasikan ke dalam tiga bagian, antara lain faktor ekonomi, demografi, dan faktor
nonekonomi, ada juaga yang membedakan faktor obyektif dan subyektif