Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada era modern seperti saat ini, kebutuhan dan tuntutan akan perawatan
ortodontik semakin banyak. Masyarakat semakin menyadari bahwa gigi yang tidak
teratur akan sangat mempengaruhi penampilan. Bentuk dari gigi yang tidak teratur
salah satunya adalah maloklusi. Menurut American Academy of Pediatric Dentistry
adalah ketidaksesuaian posisi gigi dan rahang. Maloklusi merupakan kondisi yang
menyimpang dari tumbuh kembang yang dapat mempengaruhi self cleansing,
kesehatan jaringan lunak, pertumbuhan rahang, bicara, dan penampilan serta
mempengaruhi pencernaan makanan.
Berdasarkan laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional tahun
2013, sebanyak 14 provinsi mengalammi masalah dengan gigi dan mulut yaitu 25,9%.
Prevalensi maloklusi di Indonesia masih sangat tinggi, sekitar 80% dari jumlah
penduduk, dan merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup
besar. Penelitian yang dilakukan Rosani pada pasien orthodentik RSGM FKG
Universitas Hasanudin menunjukan 40% yang mengalami maloklusi. Penelitian lain
yang dilakukan pada siswa Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Malayang oleh
Astuti tahun 2011 menunjukan jumlah yang mengalami maloklusi yaitu 60,2 % dan
yang mengalami oklusi normal yaitu 2,2%.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka sebagai mahasiswa keperawatan perlu
mempelajari asuhan keperawatan pada pasien dengan maloklusi secara komprehensif.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Setelah proses pembelajaran, diharapkan mahasiswa mampu melakukan asuhan
keperawatan sistem pencernaan pada klien dengan maloklusi secara komprehensif.
1.2.2

Tujuan khusus
Setelah proses pembelajaran, mahasiswa mampu memahami :
a. Anatomi gigi
b. Pengertian maloklusi
c. Klasifikasi maloklusi
d. Etiologi maloklusi

e.
f.
g.
h.
i.

Manifestasi maloklusi
Patofisiologi maloklusi
WOC maloklusi
Penatalaksanaan maloklusi
Asuhan keperawatan pada pasien dengan maloklusi

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Fisiologi Gigi

Gigi merupakan salah satu aksesoris dalam mulut dan memiliki struktur
bervariasi yang memungkinkan mereka untuk melakukan banyak fungsi. Fungsi
utama dari gigi adalah untuk merobek dan mengunyah makanan, sedangkan fungsi
lain dari gigi adalah fungsi fonasi estatika, dan identifikasi (forensik).
Adapun struktur gigi terdiri dari:
1. Insisivus
Gigi Insisivus terletak dibagian anterior rahang, berfungsi sebagai alat potong,
estetik.. Mahkota dari gigi insisivus berbentuk segitiga.
2. Caninus
Akar gigi caninus adalah akar yang terpanjang dibandingkan dengan akar gigi
yang lainnya. Fungsi dari gigi caninus adalah merobek makanan. mahkotanya
berbentuk segitiga.
3. Premolar
Gigi Premolar 1 dan Premolar 2 Rahang Atas memiliki 2 tonjolan. Tonjolan
tersebut terletak di bagian bukal dan palatinal.
Gigi Premolar 1 Rahang Bawah memiliki 1 tonjolan, sedangkan Premolar 2
Rahang bawah memiliki 3 tonjolan.
4. Molar
Gigi Molar merupakan gigi yang paling besar diantara gigi yang lainnya. gigi.
Gigi molar memiliki banyak tonjolan, dan terletak di dekat TMJ (Temporo
Mandibula Junction).
Fungsi dari gigi molar adalah untuk mengahancurkan makanan.

Gigi manusia memiliki tiga bagian, yaitu mahkota, leher, dan akar (Ten Cate, 1998)
a) Mahkota gigi atau corona (crown)
Mahkota merupakan bagian yang tampak di atas gusi dan secara struktur terdiri atas
bagian-bagian berikut:

Emai. Email merupakan jaringan keras yang mengalamu kalsifikasi yang menutupi
detin dari mahkota gigi. Email memiliki fungsi menahan daya kunyah/ abrasi.
Struktur email terdiri atas zat anorganik kurang lebih 99% sebagai prismata dan zat

organik 1% sebagai substantia pelekat.


Dentin. Merupakan jaringan ikat yang mengalami kalsikal dan jaringan yang terbesar
dari gigi. Struktur dentin terdiri atas zat anorganik kurang lebih 70% dan zat organic

kurang lebih 30% pada canaliculi dentin.


Pulp. Pulp mempunyai fungsi utama adalah sebagai formatif (memberi bentuk),
nutrisi, sensoris, dan defensive. Pada rongga pulpa terdapat jaringan saraf dan

pembuluh darah.
b) Leher gigi atau kolum, merupakan bagian yang berada di dalam gusi.
c) Akar gigi atau radiks (roots).
Akar gigi atau radiks (roots) merupakan bagian yang tertanam pada tulang rahang.
Akar gigi melekat pada tulang rahang dengan perantaraan semen gigi. Semen gigi
melapisi akar gigi dan membantu menahan gigi agar tetap melekat pada gusi. Akar
terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
Lapisan semen merupakan pelindung akar gigi dalam gusi.
Gusi merupakan tempat tumbuh gigi.

Gigi juga dibagi menjadi beberapa klasifikasi, yaitu sebagai berikut:


a) Klasifikasi gigi berdasarkan masa pertumbuhan.
Gigi susu yaitu gigi yang tumbuh mulai usia 6 bulan.
Sebagian anak dilahirkan tanpa gigi yang dapat terlihat (gigi berada dalam gusi).
Duapuluh gigi susu tumbuh (erupsi) secara bertahapdimulai saat bayi berusia 6

bulan sampai 1 tahun.


Gigi tetap/ permanen yaitu pengganti gigi susu yang berangsur-angsur tanggal.
Semua gigi susu akan lepas dan akan di gantikan oleh 32 gigi tetap/ permanen.
Proses ini terjadi secara bertahap pada anak berusia 6 tahun sampai 14 tahun. Gigi

terakhir (molar 3)akan bererupsi pada masa usia 17 sampai 21 tahun.


b) Klasifikasi gigi berdasarka bentuk.
Gigi seri (incivvus) berfungsi menggigit atau memotong makanan.
Gigi taring (caninus) berfungsi merobek atau mencabik makanan.

Geraham depan (premolar) dan geraham depan (molar) berfungsi mengunyah atau
melumatkan makanan.
Sedangkan 4 Pokok Fungsi gigi, yaitu:
Mastikasi
Fonetik
Estetik
Pelindung jaringan penyangga (Gibson,2003)

2.2 Definisi
a. Maloklusi

menurut

American

Academy

of

Pediatric

Dentistry

adalah

ketidaksesuaian posisi gigi dan rahang. Maloklusi merupakan kondisi yang


menyimpang dari tumbuh kembang yang dapat mempengaruhi self cleansing,
kesehatan jaringan lunak, pertumbuhan rahang, bicara, dan penampilan.
b. Maloklusi terjadi ketika gigi rahang atas dan rahang bawah tidak dapat berhubungan
atau bertemu dengan tepat, fungsi fisiologis mengunyah menjadi kurang efektif dan
efek kosmetik kurang menyenangkan. Gigi tidak rata, padat atau bertumpuk atau
bahkan tidak dapat benar-benar kontak dengan gigi pada rahang yang lainnya
kemungkinan menjadi predisposisi penyakit pada tahun-tahun berikutnya. (Wong,
2003)
c. Maloklusi yaitu penyimpangan dari oklusi normal yang mengganggu fungsi yang
sempurna dari gigi-gigi.(buku ajar otodensia FKG UGM)
2.3 Klasifikasi
Klasifikasi maloklusi menurut Edward Angle (1899) terdiri dari 3 kelas, yang berdasar
pada bidang sagital. Pada klasifikasi Angle, gigi molar pertama permanen rahang atas
dan bawah digunakan sebagai kunci klasifikasi maloklusi, karena gigi molar dianggap
gigi yang paling stabil dan kedudukannya jarang berubah (Rahardjo, 2009).
1) Kelas 1
Maloklusi kelas 1 atau biasa disebut neutroklusi terjadi dimana terdapat
hubungan normal anteroposterior antara maksila dan mandibula. Pada kelas ini, gigi M1
rahang atas tonjol cusp mesiobukal berada pada bukal groove M1 rahang bawah (Foster,
1997).
Dewey Anderson memodifikasi kelas 1 Angle, sehingga terbagi menjadi 5 tipe,
yaitu :
8
a) Tipe 1 : kelas 1 Angle dengan gigi bagian anterior maksila mengalami crowding dan gigi
caninus ektostem
b) Tipe 2 : kelas 1 Angle dengan gigi anterior maksila labioversi
c) Tipe 3 : kelas 1 Angle dengan gigi anterior palatoversi sehingga terjadi gigitan terbalik
(anterior crossbite)

d) Tipe 4 : kelas 1 dengan adanya crossbite pada gigi posterior


e) Tipe 5 : kelas 1 dimana terjadinya mesial drift atau pergeseran kearah mesial pada gigi
molar akibat premature ekstraksi (Widodo, 2007).

Maloklusi kelas 1
2) Kelas 2
Maloklusi kelas 2 atau biasa disebut distoklusi ialah adanya relasi posterior dari
mandibula terhadap maksila. Sehingga tonjol mesiobukal cusp M1 rahang atas berada
lebih mesial dari bukal groove M1 rahang bawah (Rahardjo,2009).

Maloklusi kelas 2
Maloklusi kelas 2 dikelompokan menjadi 3 kelompok, yaitu :
a) Divisi I : pada gigi insisivus sentral rahang atas terjadi proklinasi (kemiringan anterior
kearah labial) sehingga didapatkan gigitan besar atau overjet. Insisivus lateral rahang atas
juga mengalami proklinasi sehingga didapati overbite
b) Divisi II : Gigi insisivus sentral rahang atas mengalami retroklinasi atau retrusi dan pada
insisvus lateral rahang atas terjadi proklinasi sehingga terjadi gigitan dalam atau deepbite
c) Subdivisi : apabila distooklusi hanya terjadi pada salah satu sisi rahang
(Foster, 1997).
3) Kelas 3
Maloklusi kelas 3 atau biasa disebut mesioklusi adanya relasi anterior dari
mandibula terhdap maksila. Sehingga, tonjol mesiobukal cusp M1 permanen rahang atas
berada lebih ke distal dari bukal groove M1 rahang bawah sehingga terdapat anterior
crossbite (Rahardjo,2009).

Malokusi kelas 3
Oleh Dewey Anderson, maloklusi kelas 3 dibagi menjadi 3 tipe, yaitu ;
a) Tipe 1 : adanya lengkung gigi yang baik, akan tetapi relasi lengkungnya tidak baik
sehingga pada gigi anterior terjadi edge to edge
10
b) Tipe 2 : adanya lengkung gigi yang baik dari gigi anterior maksila tetapi terjadi
linguoversi dari giigi anterior mandibula sehingga terjadinya crowding
c) Tipe 3 : lengkung maksila kurang berkembang sehingga terjadi crossbite pada pada gigi
anterior maksila yang crowding. Akan tetapi lengkung mandibulanya bekembang dengan
baik dan lurus.
(Foster, 1997).
2.4 Etiologi
Kondisi maloklusi lebih banyak diakibatkan oleh faktor genetik yang mengakibatkan
ketidakseimbangan antara ukuran rahang dengan ukuran gigi secara keselurahan. Namun
dalam hal ini faktor lokal juga mempengaruhi etiologi dari maloklusi.
1. Faktor herediter (Foster, 1997)
Pada populasi primitif yang terisolasi jarang dijumpai maloklusi yang berupa disproporsi
ukuran rahang dan gigi sedangkan relasi rahangnya menunjukan relasi yang sama. Pada
populasi modern lebih sering ditemukan maloklusi daripada populasi primitif sehingga
diduga karena adanya kawin campur menyebabkan peningkatan prevalensi maloklusi.
Cara yang lebih baik untuk mempelajari pengaruh herediter adalah dengan mempelajari
anak kembar monozigot yang hidup pada lingkungan yang sama. Suatu penelitian
menyimpulkan bahwa 40 persen variasi dental dan fasial dipengaruhi faktor heriditer
sedangkan penelitian yang lain menyimpulkan bahwa karakter skeletal kraniofacial sangat
dipengaruhi oleh faktor heriditer sedangkan pengaruh heriditer terhadap gigi rendah.
Pengaruh heriditer dapat bermanifestasi dalam dua hal, yaitu
a.

Disproporsi ukuran gigi dan ukuran rahang yang menghasilkan maloklusi berupa gigi
berdesakan atau maloklusi berupa diastema multipel meskipun yang terakhir ini jarang

b.

dijumpai
Disproporsi ukuran, posisi dan bentuk rahang atas dan rahang bawah yang
menghasilkan relasi rahang yang tidak harmonis. Dimensi kraniofacial, ukuran dan
jumlah gigi sangat dipengaruhi faktor genetik sedangkan ukuran dan jumlah gigi sangat

dioengaruhi faktor genetik sedangkan dimensi lengkung geligi dipengaruhi oleh faktor
lokal. Urutan pengaruh genetik pada skelet yang paling tinggi adalah mandibula yang
prognatik, muka yang panjang serta adanya deformitas muka. Menurut Mossey (1999)
berbagai komponen ikut menentukan terjadinya oklusi normal ialah :
Ukuran maksila dan mandibula termasuk ramus dan korpus

Faktor yang ikut mempengaruhi relasi maksila dan mandibula seperti basis kranial

dan lingkungan
Jumlah, ukuran dan morfologi gigi
Morfologi dan sifat jaringan lunak (bibir,lidah,dan pipi). Kelainan pada komponen
tersebut serta interaksinya dapat menyebabkan maloklusi.

Etiologi maloklusi kelas 1 Angle :


Pola skelet maloklusi kelas 1 biasanya kelas 1 tetapi dapat juga kelas II atau kelas III
ringan. Pola jaringan lunak pada maloklusi kelas 1 umumnya menguntungkan kecuali
pada maloklusi yang disertai proklinasi bimaksiler (insisivi atas dan bawah proklinasi)
yang mungkin merupakan ciri khas ras tertentu. Kebanyakan maloklusi kelas 1 disebabkan
faktor lokal yang dapat berupa diskrepansi ukuran gigi dan lengkung geligi. Faktor lokal
yang dapat menyebabkan kelainan pada maloklusi kelas II dan kelas III.
Etiologi maloklusi kelas II :
1. Kelas II divisi 1 Angle
Pada maloklusi kelas II divisi I sering didapatkan letak mandibula yang lebih posterior
daripada maloklusi kelas 1 atau maksila yang lebih anterior sedangkan madibula
normal. Kadang-kadang didapatkan ramus mandibula yang lebih sempit dan panjang
total mandibula juga berkurang. Terdapat korelasi yang tinggi antara pasien dengan
keluarga langsungnya sehingga beberapa peneliti menyimpulkan bahwa pewarisan
maloklusi kelas II divisi I dari faktor poligenik. Selain faktor genetik maloklusi kelas II
divisi I juga disebabkan faktor lingkungan. Jaringan lunak, misalnya bibir yang tidak
kompeten dapat mempengaruhi posisi insisivus atas karena hilagnya keseimbangan
yang dihasilkan oleh bibir dan lidah sehingga insisivus atas protrusi. Kebiasaan
menghisap jari dapat menghasilkan maloklusi kelas II divisi I meskipun relasi rahang
atas dan bawah kelas I sehingga ada yag menyebut maloklusi ini sebagai maloklusi
kelas II divis I tipe dental. Pada maloklusi kelas II divisi I insisivus atas dalam keadaan
proklinasi sehingga jarak gigit menjadi besar. Adanya diskrepansi skeletal dalam
jurusan sagital juga dapat menyebabkan jarak gigit yang besar. Dengan adanya jarak
gigit yang besar biasanya tidak terdapat stop bagi insisivus bawah sehingga terjadi
supra erupsi insisivus bawah dengan akibat terjadi gigitan dalam dan kurva spee

menjadi positif. Posisi bibir iku berperan pada maloklusi kelas II divisi I. Pada bibir
yang tidak kompeten pasien berusaha mendapatkan anterior oral seal dengan cara
muskulus sirkum oral berkontraksi dengan mengajukan mandibula sehingga bibir atas
dan bawah dapat berkontak pada saat isitrahat, lidah berkontak dengan bibir bawah atau
kombinasi keadaan-keadaan ini. Bila mandibula diajukan kelainan relasi skeletal
nampak tidak terlalu parah tetapi bila bibir bawah terletak dipalatal inisisivus atas dapat
berakibat retroklinasi insisivus bawah dan proklinasi insisivus atas sehingga jarak gigit
menjadi lebih besar.
2. Kelas II divisi 2 Angle
Maloklusi ini merupakan hasil interaksi faktor-fakto yang mempengaruhi skelet dan
jaringan lunak. Penelitian pada anak kembar monozigot menunjukan bahwa maloklusi
kelas II divisi 2 dipengaruhi oleh faktor herediter autosomal yang dominan tetapi yang
bersifat poligenik. Pola skelet pada maloklusi kelas II divisi 2 biasanya kelas II ringan
atau kelas 1 dan meskipun sangat jarang bisa juga pola skelet kelas III ringan. Tinggi
muka yang berkurang disertai relasi skelet kelas II sering menyebabkan tidak adanya
stop antara insisivus bawah dengan insisivus atas sehingga insisivus bawah bererupsi
melebihi normal sehingga terjadi gigitan dalam. Pengaruh bibir bawah sagat besar
terutama bila didapatkan high lower lip line (bibir bawah menutupi lebih dari sepertiga
panjang mahkota insisivus) yang menyebabkan posisi insisivus atas retroklinasi, bila
panjang mahkota insisivus laterla pendek maka gigi ini dapat terletak normal sedangkan
insisivus sentral retroklinasi dan bila panjang inisisivus lateral normal gigi ini bisa juga
terletak retroklinasi. Bisa juga didapatkan retroklinasi insisivus atas maupun bawah bila
bibir sangat aktif. Kadang kadang didapatkan letak gigi berdesakan dan insisivus
lateral yang rotasi mesiolabial disebabkan tekanan bibir pada insisivus sentral.
Etiologi maloklus Kelas III Angle :
Contoh paling jelas dan terkenal adanya pengaruh faktor genetik adalah prognati
mandibula yang didapatkan pada dinasti Hasburg dikerajaan Austria yang diturunkan dari
generasi ke generasi dengan cara autosomal dominan. Maloklusi kelas III dapat terjadi
karena faktor skelet, yaitu maksila yang kurang tumbuh sedangkan mandibula normal atau
maksila normal dan mandibula yang tumbuh berlebihan atau kombinasi kedua keadaan
tersebut. Selain itu juga dipengaruhi oleh panjang basis kranial serta sudut yang terbentuk
antara basis kranial posterior dan anterior. Kadang-kadang fossa glenoidal yang terletak
anterior menyebabkan mandibula terletak lebih anterior. Jaringan lunak tidak begitu
memainkan peranan dalam terjadinya maloklusi kelas III kecuali adanya tendens tekanan

dari bibir dan lidah yang mengompensasi relasi skelet kelas III sehingga terjadi
retroklinasi insisivus bawah dan proklinasi insisivus atas. Faktor genetik lebih
mempengaruhi skelet ( misalnya, pada sindrom muka panjang yang menyebabkan adanya
gigitan terbuka ) sedangkan faktor lingkungan lebih mempengaruhi letak gigi dalam
lengkung geligi. Lengkung geligi atas yang sempit menyebabkan terjadinya gigi
berdesakan dan lengkung geligi bawah yang lebar menyebabkan letak gigi yang normal
atau bahkan kadang-kadang terdapat diastema.
2. Faktor lokal (Foster, 1997)
a. Gigi sulung tanggal prematur
Gigi sulung yang tanggal prematur dapat berdampak pada susunan gigi permanen.
Semakin muda umur pasien pada saat terjadi tanggal prematur gigi sulung semakin
besar akibatnya pada gigi permanen. Insisivus sentral dan lateral sulung yang taggal
prematur tidak begitu berdampak tetapi kaninus sulung akan menyebabkan adanya
pergeseran garis median. Perlu diusahakan agar kaninus sulung tidak tidak tanggal
prematur. Sebagian peneliti mengatakan bahwa bila terjadi tanggal prematur kaninus
sulung karena resobsi insisivus lateral atau karena karies disarankan dilakukan
balancing ekstraction, yaitu pencabutan kaninus sulung kontralateral agar tidak terjadi
pergeseran garis median dan kemudian dipasang space mentainer. Molar pertama
sulung yang tanggal prematur juga dapat menyebabkan pergeseran garis median. Perlu
tidaknya dilakukan balancing ekstraction harus dilakukan terlebih dahulu. Molar kedua
sulung terutama rahang bawah merupakan gigi sulung yang paling sering tanggal
prematur karena karies, kemudian gigi molar permanen bergeser kearah diastema
sehingga tempat untuk premolar kedua berkurang dan premolar kedua tumbuh sesuai
letak benihnya. Gigi molar kedua sulung yang tanggal prematur juga dapat
menyebabkan asimetri lengkung geligi, gigi berdesakan serta kemungkinan terjadi
supra erupsi gigi antagonis. Bila kolar kedua sulung tanggal prematur banyaknya
pergeseran molar pertama permanen ke mesial dipengaruhi oleh tinggi tonjil gigi (bila
tonjol gigi tinggi pergeseran makin sedikit) dan waktu tanggal gigi tersebut (pergeseran
paling banyak bila molar kedua sulung tanggal sebelum molar permanen erupsi).
b. Persistensi gigi
Persistensi gigi sulung atau disebut juga over retained decidous teeth berarti gigi sulung
yang sudah melewati waktunya tanggal tetapi tidak tanggal. Perlu diingat bahwa waktu
tanggal gigi sulung sangat bervariasi. Keadaan yang jelas menunjukan persistensi gigi
sulung adalah apabila gigi permanen pengganti telah erupsi tetapi gigi sulungnya tidak
tanggal. Bila diduga terjadi persistensi gigi sulung tetapi gigi sulungnya tidak ada

dirongga mulut, perlu diketahui anamnesis pasien, dengan melakukan wawancara


medis kepada orang tua pasien apakah dahulu pernah terdapat gigi yang bertumpuk
diregio tersebut.
c. Trauma
Trauma yang mengenai gigi sulung dapat menggeser benih gigi permanen. Bila terjadi
trauma pada saat mahkota gigi permanen sedang terbentuk dapat terjadi gangguan
pembentukan enamel, sedangkan bila mahkota gigi gigi permanen telah terbentuk dapat
terjadi dilaserasi, yaitu akar gigi yang mengalami distorsi bentuk (biasanya bengkok).
Gigi yang mengalami dilaserasi biasanya tidak dapat mencapai oklusi yang normal
bahkan kalau parah tidak dapat dirawat ortodontik dan tidak ada pilihan lain kecuali
dicabut. Kalau ada dugaan terjadi trauma pada saat pembentukan gigi permanen perlu
diketahui anamnesis apakah pernah terjadi trauma disekitar mulut untuk lebih
memperkuat dugaan adanya trauma. Trauma pada salah satu sisi muka pada masa
kanak-kanak dapat menyebabkan asimetri muka.
d. Pengaruh jaringan lunak
Tekanan dari otot bibir, pipi dan lidah memberi pengaruh yang besar terhadap letak
gigi. Meskipun tekanan dari otot-otot ini jauh lebih kecil daripada tekanan otot
pengunyah tetapi berlangsung lebih lama. Menurut penelitian tekanan yang
berlangsung selama 6 jam dapat mengubah letak gigi. Dengan demikian dapat dipahami
bahwa bibir, pipi dan lidah yang menempel terus pada gigi hampir selama 24 jam dapat
sangat mempengaruhi letak gigi. Tekanan dari lidah, misalnya karena letak lidah pada
posisi istrahat tidak benar atau karena adanya makroglosi dapat mengubah
keseimbangan tekanan lidah dengan bibir dan pipi sehingga insisivus bergerak ke
labial.

Dengan

demikian

patut

dipertanyakan

apakah

tekanan

lidah

dapat

mempengaruhi letak insisivus karena meskipun tekanannya cukup besar yang dapat
menggerakkan gigi tetapi berlagsung dalam waktu yang singkat. Bibir yang telah
dioperasi pada pasien celah bibir dan langit-langit kadang-kadang mengandung jaringan
parut yang selain tekanannya yang besar oleh karena bibir pada keadaan tertentu
menjadi pendek sehingga memberi tekanan yang lebih besar dengan akibat insisivus
tertekan ke palatal.
e. Kebiasaan buruk
Suatu kebasaan yang berdurasi sedikitnya 6 jam sehari, berfrekuensi cukup tinggi
dengan intensitas yang cukup dapat menyebabkan maloklusi. Kebiasaan mengisap jari
atau benda-benda lain dalam waktu yang berkepanjangan dapat menyebabkan
maloklusi. Dari ketiga faktor ini yang paling berpengaruh adalah durasi atau lama
kebiasaan berlangsung. Kebiasaan mengisap jari pada fase geligi sulung tidak

mempunyai dampak pada gigi permanen bila kebiasaa tersebut telah berhenti sebelum
gigi permanen erupsi. Bila kebiasaan ini terus berlanjut sampai gigi permanenn erupsi
akan terdapat maloklusi dengan tanda-tanda berupa insisivus atas proklinasi dan
terdapat diastema, gigitan terbuka, lengkung atas sempit serta retroklinasi inisisvus
bawah. Maloklusi yang terjadi ditentukan oleh jari mana yang diisap dan bagaimana
pasien meletakkan jarinya pada waktu mengisap. Kebiasaan mengisap bibir bawah
dapat menyebabkan proklinasi insisivus atas disertai jarak gigit yang bertambah da
retroklinasi insisivus bawah. Kebiasaan mendorong lidah sebetulnya bukan merupakan
kebiasaan tetapi lebih berupa adaptasi terhadap adanya gigitan terbuka misalnya karena
mengisap jari. Dorongan lidah pada saat menelan tidak lebih beda daripada yang tidak
mendorongkan lidahnya sehingga kurang tepat untuk mengatakan bahwa gigitan
terbuka anterior terjadi karena adanya dorongan lidah pada saat menelan. Kebiasaan
menggigit kuku juga dapat menyebabkan maloklusi tetapi biasanya dampaknya hanya
pada satu gigi.
f. Faktor iatrogenik
Pengertian kata iatrogenik adalah berasal dari suatu tindakan profesional. Perawatan
ortodontik mempunyai kemungkinan terjadinya kelainan iatrogenik. Misalnya, pada
saat menggerakkan kaninus ke distal dengan peranti lepasan tetapi karena kesalahan
desain atau dapat juga saat menempatkan pegas tidak benar sehingga yag terjadi
gerakan gigi kedistal dan palatal. Contoh lain adalah pemakaian kekuatan yang besar
untuk menggerakkan gigi dapat menyebabkan resobsi akar gigi yang digerakkan,
resobsi yang berlebihan pada tulang alveolar selain kematian pulpa gigi. Kelainan
jaringan periodontal dapat juga disebabkan adanya perawatan ortodontik, misalnya
gerakkan bibir kearah labial/bukal yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya
dehiscence dan fenestrasi.
2.5 Patofisiologi
Etiologi maloklusi secara umum banyak sekali ada yang mengkategorikan menjadi
faktor luar dan lokal, seperti pertumbuhan dan organ kepala sekitar mulut yang tidak
harmonis, adanya penyakit sistemik, faktor genetik, kebiasaan buruk yang sering
dilakukan sehingga menyebabkan maloklusi, muskulus sekitar mulut yang abnormal atau
tidak seimbang dalam memberikan tekanan, malfungsi dari lidah, gigi, dan tulang
rahang, metabolisme tidak normal, kelainan hormonal dan lain-lain.

Maloklusi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada pengunyahan, bicara serta


estetik. Gangguan pengunyahan yang terjadi yaitu dapat berupa rasa tidak nyaman saat
mengunyah, terjadinya rasa nyeri pada TMJ dan juga mengakibatkan nyeri kepala dan
leher. Pada gigi yang berjejal dapat mengakibatkan kesulitan dalam pembersihan.
Tanggalnya gigi-gigi akan mempengaruhi pola pengunyahan misalnya pengunyahan
pada satu sisi, dan pengunyahan pada satu sisi ini juga dapat mengakibatkan rasa sakit
pada TMJ.
Maloklusi dapat mempengaruhi kejelasan bicara seseorang. Apabila ciri maloklusinya
berupa disto oklusi akan terjadi hambatan mengucapkan huruf p dan b. Apabila ciri
maloklusinya berupa mesio oklusi akan terjadi hambatan mengucapkan huruf s, z, t, dan
n.
Gangguan pada proses oklusi umumnya dapat diakibatkan faktor herediter yang
mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan dari komponen-komponen penyusun
oklusi seperti dental, skletal dan neuromuskular terganggu Namun, gangguan oklusi atau
maloklusi juga bisa ditimbulkan oleh kebiasaan buruk atau faktor lain, seperti kebiasaan
menghisap jari tangan sejak kecil, kebiasaan menjulurkan lidah, atau kondisi pasca
kecelakaan yang melibatkan bagian muka, kehilangan gigi terlalu dini, dan banyak faktor
lainnya.
2.6 WOC (terlampir)
2.7 Manifestasi Klinis
a. Kelainan pada baris gigi
b. Kesulitan menggigit makanan
c. Kesulitan mengunyah
d. Kesulitan berbicara
e. Nyeri temporomanibular
f. Gangguan dalam mastikasi sehingga makanan tidak menjadi bolus yang baik sehingga
menyebabkan gagguan pencernaan terutama maldigesti dan dispepsia
g. Bentuk wajah abnormal
2.8 Pemeriksaan Diagnostik
a. Rongent gigi
b. Plaster atau mencetak bentuk gigi
2.9 Penatalaksanaan
Maloklusi ini bisa diperbaiki dengna beberapa cara. Gigi bisa disusun ulang dengan
kekuatan ringan sevara terus menerus melalui penggunaan alat gigi, seperti bingkai
penyangga gigi (kawat dan pegas dibawa oleh pengurung yang disesuaikan dengan gigi,

dengan lem gigi) atau sebuah penyangga (bingkai penahan gigi yang bisa dipindahkan
dengna kawat dan piringan plastik yang diselipkan kedalam atap mulut)
Untuk beberapa maloklusi minor, terapi gigi bisa dilakukan dengan alat yang hampir
tidak bisa dilihat. Kadangkala, ketika alat gigi tunggal tidak cukup, operasi rahang
kemungkinan bisa dilakukan. Metode lain pengobatan maloklusi termasuk pilihan
menggerinda pada beberapa gigi atau pembuatan gigi dengan mahkota gigi. (persatuan
senat mahasiswa kedokteran gigi Indonesia,2015)
Penatalaksanaan open bite tergantung pada etiologinya masing-masing kasus, dan umur.
Mizrahi 1978 menjelaskan empat cara penatalaksanaan dari open bite: modulasi
pertumbuhan, orthodonthic mechanotherapy, bedah orthognatic, dan kombinasi dari dua
atau lebih. Ekstrasi dan restraksi sangat direkomendasikan untuk mengurangi overjet dan
open bite pada pasien dengan open bite anterior dental.
2.10 Komplikasi
a. Masalah pada temporomandibular (TMJ)
Sendi temporomandibular (TMJ) adalah sendi engsel yang menghubungkan rahang
bawah (mandibula) dengan tulang temporal dari tengkorak di depan telinga pada
setiap sisi kepala. Sendi yang fleksibel, yang memungkinkan rahang untuk bergerak
dengan lancar atas dan ke bawah dan sisi ke sisi dan memungkinkan Anda untuk
berbicara, mengunyah, dan menguap. Otot melekat pada dan sekitar sendi rahang
kontrol posisi dan pergerakan rahang.
b. Bruxism
Bruxism adalah kegiatan yang umum yang dapat terjadi baik siang hari dan pada
malam hari. Mengepalkan atau grinding saat terjaga sangat umum selama periode
konsentrasi, marah, atau stres, dan sering terjadi tanpa orang menyadarinya. Beberapa
pendapat menyatakan bahwa anomalisasi struktur gigi akan menjadi salah satu
pendorong untuk melakukan aktivitas ini, tetapi penjelasan mengenai hal tersebut
masih diteliti lebih lanjut.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
a. Identitas Klien

Kaji identitas klien, nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, tanggal masuk rumah
sakit, diagnosa medis tentang penyakit yang diderita serta alamat klien.
b. Keluhan utama
Penderita maloklusi umumnya mengalami nyeri pada TMJ. Terkadang menjalar ke kepala
dan leher.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Ada tidaknya kondisi penyakit penyerta pada pasien. Kebiasaan hidup sehari-hari
mencakup aktivitas, pola makan, penggunaan obat-obat tertentu, istirahan dan tidur.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Memberikan pertanyaan kepada pasien seperti: Apakah pernah mengalami karies gigi atau
trauma pada gigi?
e. Riwayat penyakit keluarga
Salah satu penyebab maloklusi adalah faktor genetik. Pasien diberi pertanyaan tentang
penyakit keluarga selama tiga generasi ke atas, apakah ada anggota keluarga lain yang
pernah memiliki penyakit yang sama seperti yang diderita pasien.
f. Pengkajian Psikososial
Respon emosi pasien pada maloklusi pada umumnya labil.
Pemeriksaan fisik
1) B1 (breathing)
a) frekuensi pernafasan meningkat
2) B2 (blood)
a) takikardi
3) B3 (brain)
a) bicaranya tidak jelas
b) ganguan status mental, tidak percaya diri
4) B4 (bladder)
Tidak ada gangguan
5) B5 (bowel)
a) nafsu makan menurun
b) berat badan menurun
c) susah menggigit makanan
d) susah mengunyah makanan
6) B6 (bone)

a) nyeri
3.2 Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut TMJ berhubungan dengan kelainan anatomi gigi
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kesulitan mencerna makanan
c. Hambatan komunikais verbal berhubungan dengan kelainan anatomis gigi
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan gangguan fungsi tubuh (gigi)

3.3 Intervensi Keperawatan


No
1

Diagnosa
Nyeri akut TMJ

Tujuan dan kriteria hasil


Selama dilakukan tindakan

berhubungan dengan

keperawatan, nyeri pasien

pengkajian

kelainan anatomi gigi

hilang dengan kriteria hasil :


- Pasien rileks
- Mampu mengontrol

nyeri

nyeri
Skala nyeri 0-1

Intervensi
a. Lakukan
yang

komprehensif,
meliputi lokasi,
karakteristik,
durasi,
frekuensi

dan

kulitas nyeri
b. Berikan
informasi
penyebab nyeri
pasien
c. Berikan
lingkungan
yang nyaman
dan tenang
d. Kolaborasi
dengan dokter
dalam
pemberian
analgetik
e. Kolaborasi
dengan
orthodentis

untuk
menangani
masalah
2

maloklusi klien
a. Kaji derajat

Ketidakseimbangan

Selama dilakukan tindakan

nutrisi kurang dari

keperawatan,kebutuhan

kesulitan

kebutuhan tubuh

nutrisi klien adekuat dengan

mengunyah

berhubugan dengan

kriteria hasil :

ketidakmampuan untuk

Food and fluid intake

adekuat
Nutrient intake adekuat

mencerna makanan

pasien
b. Berikan
makanan dalam
tekstur lunak
atau cair
c. Anjurkan pada
pasien untuk
makan pelan,
sedikit-sedikit
tapi sering
d. Kolaborasi
dengan ahi gizi
dalam
penyusunan

Hambatan komunikasi

Selama dilakukan tindakan

verbal berhubungan

keperawatan, pasien tidak

dengan kelainan

mengalami hambatan

anatomis gigi

komunikasi dengan kriteria

a.

hasil :
b.
- Mampu
mengkomunikasikan
kebutuhan
dengan c.
lingkungan
- Komunikasi ekspresi :
ekspresi pesan verbal
atau pun non verbal
bermakna
d.
4

Gangguan citra tubuh

Setelah dilakukan tindakan a.

menu makanan
Dorong
pasien
untuk
berkomunkasi
secara perlahan dan
untuk mengulangi
permintaan
Dengarkan penuh
perhatian
Anjurkan ekspresi
diri dengan cara
lain
dalam
menyampaikan
informasi (bahasa
isyarat)
Kolaborasi dengan
orthodentist
Dorong
klien

berhubungan dengan
gangguan fungsi tubuh

keperawatan pasien tidak


mengungkapkan
mengalami gangguan citra
perasaannya
tentang
tubuh, dengan kriteria hasil : b. Jelaskan
pengobatan,
- body image positif
Mempertahankan interaksi
perawatan
c. Fasilitasi
kontak
sosial
individu
dengan
kelompok kecil
d. Beri reinforcement
yang positif

BAB 4
STUDI KASUS
Pasien laki-laki 12 tahun datang ke klinik Ortodonsia RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan
gigi berjejal, susah makan susah menngunyah. Pemeriksaan intra oral menunjukan maloklusi
Angle kelas 1, gigi kaninus kanan kiri rahang atas dan gigi kaninus kanan rahang bawah tidak
erupsi dan gigi kaninus desidul masih melekat kuat pada posisinya, gigi anterior rahang atas
dan rahang bawah sangat berjejal, kurve spee rahang bawah tajam, deep overbite, iverjet 3
mm dan overbite 8,80 mm.
4.1 Pengkajian
a. Identitas Klien
Nama : sdr X
Usia : 12 th
Tempat tgl lahir : Surabaya, 28 Februari 2008

Alamat : Surabaya
Agama : Islam
Dx. Medis : Maloklusi
b. Keluhan utama
keluhan gigi berjejal,nyeri, susah makan susah menngunyah.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu pasien mengatakan dulu saat masih gigi susu, giginya masih rapi. Tapi begitu tumbuh
gigi baru menjadi tidak beraturan. Pernah dibawa ke dokter gigi, disarankan perbaikan gigi
saat semua gigi susu sudah lepas.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Tidak ada
e. Riwayat penyakit keluarga
Ibu pasien mengatakan kakaknya dulu memiliki masalah yang sama dengan pasien.
Pemeriksaan fisik
a. B1 (breathing) : RR : 20x/menit
b. B2 (blood) : TD : 110/70 mmhg, N : 79x/menit
c. B3 (brain) : klien berbicara kurang jelas
d. B4 (bladder) :Tidak ada gangguan
e. B5 (bowel) : nafsu makan menurun, susah menggigit makanan, susah mengunyah
makanan
f. B6 (bone) : Nyeri di area gigi rahang kadang sampai leher, nyeri sedang skala 5
4.2 Diagnosa
1. Nyeri akut TMJ berhubungan dengan kelainan anatomi gigi
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubugan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna makanan
4.3 Intervensi
No
1

Diagnosa
Nyeri akut TMJ

Tujuan kriteria hasil


Selama dilakukan tindakan

berhubungan dengan

keperawatan, nyeri pasien

pengkajian

kelainan anatomi

hilang dengan kriteria hasil :


- Pasien rileks
- Mampu mengontrol nyeri
- Skala nyeri 0-1

nyeri

gigi

Intervensi
a. Lakukan
yang

komprehensif,
meliputi
lokasi,
karakteristik,

durasi,
frekuensi dan
kulitas nyeri
b. Berikan
informasi
penyebab
nyeri pasien
c. Berikan
lingkungan
yang nyaman
dan tenang
d. Kolaborasi
dengan dokter
dalam
pemberian
analgetik
e. Kolaborasi
dengan
orthodentis
untuk
menangani
masalah
maloklusi
2

klien
a. Kaji derajat

Ketidakseimbangan

Selama dilakukan tindakan

nutrisi kurang dari

keperawatan,kebutuhan nutrisi

kesulitan

kebutuhan tubuh

klien adekuat dengan kriteria

mengunyah

berhubugan dengan

hasil :

ketidakmampuan

Food and fluid intake

adekuat
Nutrient intake adekuat

untuk mencerna
makanan

pasien
b. Berikan
makanan
dalam tekstur
lunak atau
cair
c. Anjurkan
pada pasien
untuk makan

pelan, sedikitsedikit tapi


sering
d. Kolaborasi
dengan ahi
gizi dalam
penyusunan
menu
makanan

DAFTAR PUSTAKA
Buku Ajar Ortodensia 1. FKG Universitas Gajah Mada Yogyakarta
Foster, T. D., 1997, Buku Ajar Ortodonsi, Edisi III, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Gibson,John. 2003. Fisiologi dan Anatomi Modern Untuk Perawat.EGC : Jakarta
Mizrahi EA. 1978. Review of Anterior Open Bite.Br J Orthod.1978:5:21-7
Rahardjo, 2011, Anak Suka Menghisap Ibu Jari,
http://psikologi.umk.ac.id/2011/02/anak-menghisapibu-jari.html,
Rahardjo, P., 2009, Ortodonti Dasar, Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair, Surabaya
Widodo, A., Kisnawati, 2007, Penggunaan Inclined Bite Plane sebagai Piranti Awal untuk
Koreksi Anterior Crossbite. M.I Kedokteran Gigi Scientific Journal in Dentistry; FKG
Trisakti; 2007; 20 (60)
Wong,Dona L.2003. Pedoman Klinis Perawatan Pediatrik. Jakarta:EGC

Anda mungkin juga menyukai