Anda di halaman 1dari 252

HUKUM PERUSAHAAN

ASRIL SITOMPUL
Program Magister Kenotariatan
Universitas Jayabaya
2015

First Meeting

PENDAHULUAN
Hukum Perusahaan
Seluruh aturan hukum yang mengatur tentang
bentuk, kegiatan usaha, dan kegiatan dalam
usaha.

Perusahaan
Setiap bentuk usaha yang digunakan untuk
menjalankan usaha bersifat tetap, terus menerus,
didirikan dan berkedudukan di dalam wilayah
negara republik Indonesia.
3

PENDAHULUAN
Bentuk Usaha
Organisasi usaha atau badan usaha yang menjadi
wadah penggerak semua jenis kegiatan usaha.
Bentuk usaha disebut juga dengan Bentuk Hukum
Perusahaan.
Bentuk usaha dapat berupa usaha bukan badan
hukum yaitu: perorangan (sole enterprise),
persekutuan (firma ataupun CV) dan badan
hukum (PT ataupun Koperasi).
4

HUKUM PERUSAHAAN
Pelaku Usaha
UU No. 5/1999 Tentang Persaingan Usaha
Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau
badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum
atau bukan badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik
sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian,
menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam
bidang ekonomi.
5

HUKUM PERUSAHAAN
Pelaku Usaha
UU No.8/1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau
badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum
maupun bukan badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik
sendiri maupun bersamasama melalui perjanjian
menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai
bidang ekonomi.
6

HUKUM PERUSAHAAN
Pelaku Usaha
UU KUP/ UU PPN
Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam
bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau
pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor
barang, mengekspor barang, melakukan usaha
perdagangan, memanfaatkan barang tidak
berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan
usaha jasa termasuk mengekspor jasa, atau
memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean.
7

PENDAHULUAN
Pekerja
UU No. 13/2003 Tentang Ketenagakerjaan
Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja
dengan menerima upah atau imbalan dalam
bentuk lain.

(c) Asril Sitompul - 2015

PENDAHULUAN
Kegiatan Usaha
Semua jenis usaha di bidang ekonomi, yang
meliputi bidang industri, perdagangan, jasa, dan
keuangan/ pembiayaan.
Unsur-unsur usaha menurut hukum:
Adanya kegiatan di bidang perekonomian
Dilaksanakan oleh pengusaha
Bertujuan memperoleh laba.

PENDAHULUAN
Perdagangan
Perdagangan adalah kegiatan ekonomi yang
bergerak dalam penyediaan dan distribusi barang
yang dibutuhkan oleh masyarakat dan sektor
industri melalui mekanisme pasar atau operasi
khusus untuk barang-barang kebutuhan
masyarakat.
Perdagangan terdiri dari perdagangan domestik
dan perdagangan antar Negara (perdagangan
internasional).
(c) Asril Sitompul - 2015

10

PENDAHULUAN
Sumber Hukum
Undang-Undang: Kitab UU Hukum Perdata (BW),
Kitab UU Hukum Dagang (WvK), UUPT (UU Nomor
40 Tahun 2007).
Perjanjian (kontrak)
Putusan Hakim (yurisprudensi)
Kebiasaan

11

Organisasi Perusahaan
Tujuan Pendirian Badan Usaha
Penentuan Tanggungjawab
Tatacara Pengelolaan
Kewajiban Perpajakan
Kewajiban dalam Kepailitan

(c) Asril Sitompul - 2015

12

Bentuk Badan Usaha

Commanditaire Vennootschap (CV)


Firma
Koperasi
Yayasan
BUMN
Perseroan Terbatas

13

Commanditaire Vennootschap (CV)


Pendirian
Akta Notaris
Anggaran Dasar
Organ
Pengurus
Komanditer
Kewenangan
Pengurus: Pengelolaan
Komanditer: Terbatas (pasif)

14

Commanditaire Vennootschap (CV)


Tanggungjawab
Pesero pengurus bertanggungjawab penuh
sampai harta pribadi
Pesero commanditaire bertanggungjawab
sebatas kepemilikan
Pengelolaan
Pengelolaan dilaksanakan oleh pesero pengurus
Perpajakan
Perpajakan dikenakan atas laba CV, tetapi tidak
ada pajak untuk dividen.
15

FIRMA

16

FIRMA
Organ
Pesero (Partner)
Pengurus
Kewenangan
Partner
Pengurus
Tanggungjawab
Tanggungjawab Partner sampai harta pribadi
Pengelolaan
Partner
Pengurus
Perpajakan
Pajak dikenakan atas Laba Firma, tidak ada pajak
dividen
17

Koperasi
Organ (Perangkat)
Rapat Anggota
Pengurus
Pengawas
Jenis
Primer
Sekunder
Status
Badan Hukum

18

Koperasi
Pendirian
Koperasi Primer didirikan oleh sekurang-kurangnya 20 orang
Koperasi Sekunder didirikan oleh sekurang-kurangnya 3
Koperasi Primer
Akta pendirian disahkan oleh Pemerintah (Depertemen
Koperasi)
Diumumkan dalam Berita Negara
Kewenangan
Rapat Anggota - pemegang kekuasaan tertinggi
Pengurus - mewakili Koperasi di dalam dan di luar
pengadilan
Pengawas - meneliti catatan dan mendapatkan keterangan
tentang Koperasi

Koperasi
Tanggungjawab
Pengurus - segala kegiatan pengelolaan Koperasi
dan usahanya
Pengawas - pengawasan pelaksanaan kebijakan
dan pengelolaan
Pengelolaan
UU Koperasi, AD, dan ART
Perpajakan:
Sesuai Badan Hukum

20

YAYASAN
Pendirian
Didirikan oleh 1 (satu) orang atau lebih
Merupakan kekayaan yang dipisahkan
Dirikan dengan akta notaris
Dapat didirikan dengan surat wasiat
Didaftarkan dan disahkan oleh Menteri
Kehakiman

YAYASAN
Status
Badan Hukum
Organ
Pembina
Pengurus
Pengawas
Kewenangan
Pembina - semua yang tidak diserahkan kepada Pengurus atau
Pengawas
Pengurus - melaksanakan kepengurusan Yayasan
Pengawas - melakukan pengawasan dan memberi nasihat kepada
Pengurus
Tanggungjawab
Badan Hukum
Pengelolaan
Tunduk kepada UU Yayasan, dan AD Yayasan
22

Badan Usaha Milik Negara

Bentuk BUMN
Perseroan Terbatas (Persero)
Kepemilikan Negara Minimum 51%
Perseroan Terbatas (Persero) Tbk
Kepemilikan Publik lewat Pasar Modal
Perusahaan Umum
100% Milik Negara
Perusahaan Jawatan (masa lalu)

23

Badan Usaha Milik Negara


Tujuan Pendirian BUMN
Penerimaan negara, mengejar keuntungan
Memberi sumbangan bagi perkembangan
perekonomian nasional
Menyelenggarakan kemanfaatan umum: penyediaan
barang dan/atau jasa bermutu tinggi dan memadai bagi
pemenuhan hajat hidup orang banyak
Perintis kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan
oleh sektor swasta dan koperasi
Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada
pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan
masyarakat
24

Perseroan Terbatas
Pendirian
Didirikan oleh 2 (dua) pemegang saham atau
lebih (kecuali BUMN)
Didirikan dengan Akta Pendirian yang berbentuk
akta notaris
Disahkan oleh Menteri
Modal Dasar Minimum Rp 50.000.000,00
Minimum 25% dari modal dasar harus
ditempatkan dan disetor penuh dibuktikan
dengan bukti setor yang sah.

Perseroan Terbatas
Organ
RUPS
Komisaris
Direksi
Kewenangan
RUPS: Semua Kewenangan yg tidak diserahkan
kepada Direksi dan Komisaris
Komisaris: Pengawasan dan Nasehat
Direksi: Pengelolaan bisnis sehari-hari

26

Perseroan Terbatas
Tanggungjawab
Terbatas sebesar saham yang dimiliki
Kecuali terjadi piercing corporate veil
Pengelolaan
Sesuai tujuan perseroan
Anggaran dasar
Undang-undang
Regulasi
Perjanjian-perjanjian
27

Perseroan Terbatas
Modal Perseroan
Modal Dasar (Authorized Capital)
Modal Ditempatkan (Issued Capital)
Modal Disetor (Fully Paid Capital)
Saham
Treasury Stock
Agio
Dividen
Capital Gain

28

Perseroan Terbatas
Dasar hukum:
UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas
Berlaku sejak diundangkan, yaitu tanggal 16
Agustus 2007
Menggantikan UU No. 1 Tahun 1995
tentang Perseroan Terbatas

PERSEROAN TERBATAS
Definisi:
Badan hukum yang merupakan persekutuan modal,
didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan
kegiatan usaha dengan modal dasar yang
seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang
ini serta peraturan pelaksanaannya.

PERSEROAN TERBATAS
Sebagai Badan Hukum
P.T. mempunyai harta kekayaan sendiri.
P.T. mempunyai tanggung jawab sendiri.
P.T. tidak dapat bertindak sendiri:
P.T. terdiri dari organ-organ yang akan
bertindak mewakili P.T. tersebut
Organ-organ tersebut terdiri dari orang
perorangan yang cakap untuk bertindak dalam
hukum

PERSEROAN TERBATAS
Pendirian PT
P.T. mempunyai nama dan tempat
kedudukan dalam wilayah negara R.I. yang
ditentukan dalam Anggaran Dasar
P.T. mempunyai alamat lengkap sesuai
dengan tempat kedudukannya
P.T. didirikan oleh 2 orang atau lebih
dengan Akta Notaris yang dibuat dalam
Bahasa Indonesia

PERSEROAN TERBATAS
Pendirian PT
Setiap pendiri P.T. wajib mengambil bagian saham
pada saat P.T. didirikan
Akta Pendirian harus disahkan oleh Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia R.I
Akta Pendirian yang telah disahkan tersebut
didaftarkan dalam Daftar Perseroan yang
diselenggarakan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia R.I
Akta Pendirian yang telah disahkan dan
didaftarkan tersebut selanjutnya diumumkan dalam
Tambahan Berita Negara R.I

PERSEROAN TERBATAS
Perbuatan hukum yang berkaitan dengan
kepemilikan saham dan penyetorannya
yang dilakukan oleh calon pendiri sebelum
P.T. didirikan, harus dicantumkan dalam Akta
Pendirian P.T
Apabila perbuatan hukum tersebut dinyatakan
dalam bentuk akta yang bukan akta otentik,
maka akta tersebut dilekatkan pada Akta
Pendirian P.T

PERSEROAN TERBATAS
Apabila perbuatan hukum tersebut dinyatakan
dalam bentuk akta otentik maka nomor,
tanggal dan nama serta tempat kedudukan
notaris yang membuat akta otentik tersebut
disebutkan dalam Akta Pendirian P.T
Dalam hal ketentuan tersebut di atas
tidak dipenuhi maka perbuatan hukum
tersebut tidak menimbulkan hak dan
kewajiban serta tidak mengikat P.T

PERSEROAN TERBATAS
Perbuatan hukum yang dilakukan oleh calon
pendiri untuk kepentingan P.T. yang belum
didirikan, mengikat P.T. setelah P.T. menjadi
badan hukum, jika RUPS pertama P.T. secara
tegas menyatakan menerima atau mengambil
alih semua hak dan kewajiban yang timbul
dari perbuatan hukum tersebut
RUPS pertama harus diselenggarakan dalam jangka
waktu paling lambat 60 hari setelah P.T.
memperoleh status badan hukum
Keputusan RUPS hanya sah jika dihadiri oleh
semua pemegang saham dengan hak suara dan
keputusan disetujui dengan suara bulat

PERSEROAN TERBATAS
Apabila RUPS tidak diselenggarakan dalam jangka
waktu paling lambat 60 hari setelah P.T.
memperoleh status badan hukum atau RUPS tidak
berhasil mengambil keputusan, setiap calon
pendiri yang melakukan perbuatan hukum
tersebut bertanggung jawab secara pribadi atas
segala akibat yang timbul
Persetujuan RUPS tersebut tidak diperlukan
apabila perbuatan hukum tersebut dilakukan atau
disetujui secara tertulis oleh semua calon pendiri
sebelum pendirian P.T

PERSEROAN TERBATAS
Selama pengesahan belum diperoleh, P.T. dalam pendirian
masih belum merupakan suatu badan hukum, para pendiri
diwajibkan untuk mengajukan permohonan pengesahan
kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I
Perbuatan hukum atas nama P.T. yang belum memperoleh
status badan hukum, hanya boleh dilakukan oleh semua
anggota Direksi bersama-sama semua pendiri serta semua
anggota Dewan Komisaris P.T. dan mereka semua
bertanggung jawab secara tanggung renteng atas
perbuatan hukum tersebut. Perbuatan hukum tersebut
karena hukum menjadi tanggung jawab P.T. setelah P.T.
menjadi badan hukum

PERSEROAN TERBATAS
Perbuatan hukum yang dilakukan oleh pendiri atas
nama P.T. yang belum memperoleh status badan
hukum menjadi tanggung jawab pendiri yang
bersangkutan dan tidak mengikat P.T. Perbuatan
hukum tersebut hanya mengikat dan menjadi
tanggung jawab P.T. setelah perbuatan hukum
tersebut disetujui oleh semua pemegang saham
dalam RUPS (pertama) yang dihadiri oleh semua
pemegang saham P.T. yang diselenggarakan paling
lambat 60 hari setelah P.T. memperoleh status badan
hukum

PERSEROAN TERBATAS
Setelah pengesahan
P.T. telah berbadan hukum setelah memperoleh
pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia R.I
Status badan hukum P.T. diperoleh pada tanggal
diterbitkannya keputusan Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia R.I. mengenai pengesahan badan
hukum P.T.
Pendiri sebagai pemegang saham hanya
bertanggung jawab sebatas modal yang dimasukkan
ke dalam P.T.

PERSEROAN TERBATAS
Setelah pengesahan
RUPS pertama diselenggarakan untuk:
Menerima semua perjanjian yang dibuat oleh pendiri
atau orang lain yang ditugaskan pendiri dengan pihak
ketiga
Mengambil alih semua hak dan kewajiban
yang timbul dari perjanjian yang dibuat pendiri
atau orang lain yang ditugaskan pendiri meskipun
perjanjian tidak dilakukan atas nama P.T.
Mengukuhkan secara tertulis semua perbuatan
hukum yang dilakukan atas nama P.T.

PERSEROAN TERBATAS
- Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I.
mengumumkan Akta Pendirian P.T. beserta Keputusan
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I. mengenai
pengesahan badan hukum P.T. dalam Tambahan
Berita Negara R.I.
- Pengumuman tersebut dilakukan oleh Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia R.I. dalam waktu paling lambat 14 hari
terhitung sejak tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I. mengenai pengesahan
badan hukum P.T. atau sejak diterimanya pemberitahuan
oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I.

PERSEROAN TERBATAS
Akta pendirian P.T. harus memuat Anggaran Dasar dan
keterangan lain yang berkaitan dengan pendirian P.T.
Keterangan lain tersebut memuat sekurang-nya:
- Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan,
tempat tinggal dan kewarganegaraan pendiri
perseorangan; atau nama, tempat kedudukan
dan alamat lengkap serta nomor dan tanggal
Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan
hukum dari pendiri P.T.

PERSEROAN TERBATAS
-

Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal


dan kewarganegaraan anggota Direksi yang pertama kali diangkat.
Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal
dan kewarganegaraan anggota Dewan Komisaris yang pertama kali
diangkat.
Nama pemegang saham yang telah mengambil bagian saham, rincian
jumlah saham dan nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan
disetor.

Apabila dalam jangka waktu 120 hari sejak penandatanganan Akta Pendirian
tidak diajukan permohonan pengesahan, P.T. demi hukum bubar dan
pemberesan dilakukan oleh pendiri.

PERSEROAN TERBATAS
Anggaran Dasar memuat sekurangnya:
- Nama P.T.
- Tempat kedudukan P.T.
- Maksud dan tujuan P.T.
- Kegiatan usaha P.T.
- Jangka waktu berdirinya P.T.
- Modal dasar, modal ditempatkan dan modal
disetor P.T.
- Jumlah saham, klasifikasi saham, hak-hak yang
melekat pada tiap-tiap klasifikasi dan jumlah
nominal masing-masing.

PERSEROAN TERBATAS
Anggaran Dasar memuat sekurangnya:
- Nama jabatan dan jumlah anggota Direksi.
- Nama jabatan dan jumlah anggota Dewan Komisaris.
- Penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS.
- Tata cara pemilihan, pengangkatan, penggantian dan
pemberhentian anggota Direksi.
- Tata cara pemilihan, pengangkatan, penggantian dan
pemberhentian anggota Dewan Komisaris.
- Tata cara penggunaan laba dan pembagian dividen.

PERSEROAN TERBATAS
Anggaran Dasar P.T. tidak boleh memuat:
- Ketentuan mengenai penerimaan bunga
tetap atas saham.
- Ketentuan mengenai pemberian manfaat
pribadi kepada pendiri atau pihak lain.

Second Meeting

48

ANGGARAN DASAR
Perubahan Anggaran Dasar P.T. ditetapkan oleh RUPS dan harus
dinyatakan dalam Akta Notaris yang dibuat dalam Bahasa Indonesia.
Perubahan Anggaran Dasar tertentu yang harus mendapat persetujuan
dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I. meliputi:
- Nama P.T. dan/atau tempat kedudukan P.T.
- Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha P.T.
- Jangka waktu berdirinya P.T.
- Besarnya modal dasar.
- Pengurangan modal ditempatkan dan disetor.
- Status P.T. Tertutup menjadi P.T. Terbuka atau sebaliknya.
Perubahan Anggaran Dasar selain sebagaimana tersebut di atas,
cukup diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
R.I.

ANGGARAN DASAR
P.T. tidak boleh memakai nama yang:
- Telah dipakai secara sah oleh P.T. lain atau sama pada
pokoknya dengan nama P.T. lain.
- Bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan.
- Sama atau mirip dengan nama lembaga negara, lembaga
pemerintah atau lembaga internasional kecuali mendapat izin
dari yang bersangkutan.
- Tidak sesuai dengan maksud dan tujuan serta kegiatan
usaha atau menunjukkan maksud dan tujuan P.T. saja tanpa
nama diri.
- Terdiri atas angka atau rangkaian angka, huruf atau
rangkaian huruf yang tidak membentuk kata.
- Mempunyai arti sebagai Perseroan, badan hukum atau
persekutuan perdata.

ANGGARAN DASAR
Nama P.T. harus didahului dengan frase Perseroan
Terbatas atau disingkat P.T.; dan jika merupakan P.T.
Terbuka, pada akhir nama P.T. harus ditambah kata
singkatan Tbk.
P.T. Terbuka adalah P.T. Publik atau P.T. yang
melakukan penawaran umum saham sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
Pasar Modal.
P.T. Publik adalah P.T. yang memenuhi kriteria jumlah
pemegang saham dan modal disetor sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
pasar modal.

ANGGARAN DASAR
- Modal dasar P.T. terdiri atas seluruh nilai
nominal saham.
- Modal dasar P.T.paling sedikit Rp. 50.000.000
- Paling sedikit 25 % dari modal dasar harus
ditempatkan dan disetor penuh.
- Modal ditempatkan dan disetor penuh
dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah.
- Setiap saham wajib memiliki nilai nominal.

ANGGARAN DASAR
- Setiap saham mewakili 1 suara dalam RUPS.
- Setiap saham harus diterbitkan atas nama.
- Pengeluaran saham lebih lanjut yang
dilakukan setiap kali untuk menambah modal
yang ditempatkan harus disetor penuh.
- Penyetoran atas modal saham dapat dilakukan
dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuk
lainnya.

ANGGARAN DASAR
- Saham P.T. dikeluarkan atas nama pemiliknya.
- Nilai saham harus dicantumkan dalam mata uang
rupiah.
- Saham tanpa nilai nominal tidak dapat dikeluarkan.
- Direksi P.T. wajib mengadakan dan menyimpan daftar
pemegang saham.
- Pemegang saham diberi bukti pemilikan saham untuk
saham yang dimilikinya.
- Pemegang saham P.T. tidak bertanggung jawab secara
pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama P.T. dan
tidak bertanggung jawab atas kerugian P.T. melebihi
saham yang dimiliki.

ANGGARAN DASAR
- Saham memberikan hak kepada pemiliknya untuk:
* Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS.
* Menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil
likuidasi.
* Menjalankan hak lainnya berdasarkan UU No. 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
- Pengalihan hak atas saham:
* Memerlukan RUPS.
* Diperlukan akta yang bertujuan untuk mengalihkan hak
atas saham.
* Dilaporkan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia R.I.

ORGAN PERSEROAN
Organ PT
- RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).
- Direksi.
- Dewan Komisaris
RUPS adalah organ P.T. yang mempunyai wewenang
yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan
Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam UU No.
40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan/atau
Anggaran Dasar.

ORGAN PERSEROAN
RUPS terdiri atas:
- RUPS tahunan.
RUPS tahunan wajib diadakan dalam jangka waktu
paling lambat 6 bulan setelah tahun buku berakhir.
- RUPS lainnya.
- RUPS lainnya dapat diadakan setiap waktu
berdasarkan kebutuhan untuk kepentingan P.T.

ORGAN PERSEROAN
Direksi adalah organ P.T. yang berwenang dan
bertanggung jawab atas pengurusan P.T. untuk
kepentingan P.T. sesuai dengan maksud dan
tujuan P.T. serta mewakili P.T., baik di dalam maupun
di luar Pengadilan sesuai dengan ketentuan Anggaran
Dasar.
Untuk pertama kali pengangkatan anggota Direksi
dilakukan oleh pendiri dalam Akta Pendirian. Untuk
selanjutnya anggota Direksi diangkat oleh RUPS.
Direksi P.T. terdiri atas 1 orang anggota Direksi atau
lebih.

ORGAN PERSEROAN
- Direksi menjalankan pengurusan P.T. untuk
kepentingan P.T. dan sesuai dengan maksud dan
tujuan P.T.
- Direksi mewakili P.T., baik di dalam maupun di luar
pengadilan.
- Direksi menyusun rencana kerja tahunan
sebelum dimulainya tahun buku yang akan
datang.
- Direksi menyampaikan laporan tahunan kepada RUPS
setelah ditelaah oleh Dewan Komisaris dalam
jangka waktu paling lambat 6 bulan setelah
tahun buku P.T. berakhir.

ORGAN PERSEROAN
- Membuat daftar pemegang saham, daftar khusus,
risalah RUPS dan risalah rapat Direksi.
- Melaporkan kepada P.T. mengenai saham yang
dimiliki anggota Direksi yang bersangkutan dan/atau
keluarganya dalam P.T. dan P.T.lain untuk selanjutnya
dicatat dalam daftar khusus.
- Membuat laporan tahunan dan dokumen keuangan
P.T.
- Memelihara seluruh daftar, risalah dan dokumen
keuangan P.T.

ORGAN PERSEROAN
- Meminta persetujuan RUPS untuk:
* Mengalihkan kekayaan P.T.
* Menjadikan jaminan utang kekayaan P.T.:
yang merupakan lebih dari 50 % jumlah kekayaan
bersih P.T. dalam 1 transaksi atau lebih, baik
yang berkaitan satu sama lain maupun tidak.
Transaksi tersebut adalah transaksi pengalihan
kekayaan bersih P.T. yang terjadi dalam jangka
waktu 1 tahun buku atau jangka waktu yang
lebih lama sebagaimana diatur dalam Anggaran
Dasar P.T.

ORGAN PERSEROAN
- Direksi mewakili P.T., baik di dalam maupun di luar
pengadilan.
- Dalam hal anggota Direksi terdiri lebih dari 1 orang, yang
berwenang mewakili P.T. adalah setiap anggota Direksi,
kecuali ditentukan lain dalam Anggaran Dasar.
- Kewenangan Direksi untuk mewakili P.T. adalah tidak
terbatas dan tidak bersyarat, kecuali ditentukan lain
dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas, Anggaran Dasar atau keputusan RUPS.
- Direksi dapat memberi kuasa tertulis kepada1 orang
karyawan P.T. atau lebih atau kepada orang lain untuk
dan atas nama P.T. melakukan perbuatan hukum
tertentu.

ORGAN PERSEROAN
- Anggota Direksi tidak berwenang mewakili P.T. jika:
* Terjadi perkara di pengadilan antara P.T. dengan
anggota Direksi yang bersangkutan.
* Anggota Direksi yang bersangkutan mempunyai benturan
kepentingan dengan P.T.
Dalam hal tersebut di atas, yang berhak mewakili P.T. adalah:
* Anggota Direksi lainnya yang tidak mempunyai benturan
kepentingan dengan P.T.
* Dewan Komisaris dalam hal seluruh anggota Direksi
mempunyai benturan kepentingan dengan P.T.
* Pihak lain yang ditunjuk oleh RUPS dalam hal seluruh
anggota Direksi atau Dewan Komisaris mempunyai
benturan kepentingan dengan P.T.

ORGAN PERSEROAN
- Anggota Direksi dibebaskan dari tanggung
jawab sebagai akibat Laporan Keuangan yang
disediakan ternyata tidak benar dan/atau
menyesatkan apabila terbukti bahwa
keadaan tersebut bukan karena
kesalahannya.
- Anggota Direksi tidak dapat
dipertanggungjawabkan atas kerugian P.T. jika
dapat membuktikan:
* Kerugian tersebut bukan karena kesalahan
atau kelalaiannya.

ORGAN PERSEROAN
* Telah melakukan pengurusan dengan itikad
baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan
sesuai dengan maksud dan tujuan P.T.
* Tidak mempunyai benturan kepentingan,
baik langsung maupun tidak langsung atas
tindakan pengurusan yang mengakibatkan
kerugian.
* Telah mengambil tindakan untuk mencegah
timbul atau berlanjut-nya kerugian tersebut.

ORGAN PERSEROAN
- Anggota Direksi tidak bertanggung jawab atas
kepailitan P.T. apabila dapat membuktikan:
* Kepailitan tersebut terjadi bukan karena kesalahan
atau kelalaiannya.
* Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik,
kehati-hatian dan penuh tanggung jawab untuk
kepentingan P.T. dan sesuai dengan maksud dan
tujuan P.T.
* Tidak mempunyai benturan kepentingan, baik
langsung maupun tidak langsung atas tindakan
pengurusan yang dilakukan.
* Telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya
kepailitan.

ORGAN PERSEROAN
- Dalam hal Laporan Keuangan yang disediakan
ternyata tidak benar dan/atau menyesatkan,
anggota Direksi secara tanggung renteng
bertanggung jawab terhadap pihak yang
dirugikan.
- Setiap anggota Direksi bertanggung jawab
penuh secara pribadi atas kerugian P.T. apabila yang
bersangkutan bersalah atau lalai men- jalankan
tugasnya.
- Dalam hal Direksi terdiri atas 2 anggota Direksi atau
lebih, tanggung jawab tersebut berlaku secara
tanggung renteng.

ORGAN PERSEROAN
- Anggota Direksi yang tidak melaksanakan
kewajibannya melaporkan kepada P.T., saham yang
dimiliki anggota Direksi yang bersangkutan dan/atau
keluarganya dalam P.T. dan P.T. lain untuk selanjutnya
dicatat dalam daftar khusus dan akibatnya
menimbulkan kerugian bagi P.T., bertanggung jawab
secara pribadi atas kerugian P.T. tersebut.
- Anggota Direksi dapat diberhentikan untuk
sementara oleh Dewan Komisaris dengan
menyebutkan alasannya dan dapat diberhentikan
sewaktu-waktu berdasarkan keputusan RUPS
dengan menyebutkan alasannya.

ORGAN PERSEROAN
- Dalam hal kepailitan, baik karena permohonan P.T.
maupun permohonan pihak ketiga, terjadi karena
kesalahan atau kelalaian Direksi dan harta pailit tidak
cukup untuk membayar seluruh kewajiban P.T. dalam
kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi secara
tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh
kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut.
- Tanggung jawab tersebut berlaku juga bagi anggota
Direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat
sebagai anggota Direksi dalam jangka waktu 5 tahun
sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan.

ORGAN PERSEROAN
Dewan Komisaris adalah organ P.T. yang
bertugas melakukan pengawasan secara umum
dan/atau khusus sesuai dengan Anggaran Dasar
serta memberi nasihat kepada Direksi.
Untuk pertama kali pengangkatan anggota Dewan
Komisaris dilakukan oleh pendiri dalam Akta
Pendirian. Untuk selanjutnya anggota Dewan
Komisaris diangkat oleh RUPS.
Dewan Komisaris terdiri atas 1 orang anggota
atau lebih.

ORGAN PERSEROAN
- Anggaran Dasar P.T. dapat mengatur adanya 1 orang atau
lebih Komisaris Independen dan 1 orang Komisaris Utusan.
- Komisaris Independen diangkat berdasarkan keputusan RUPS
dari pihak yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham
utama, anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris
lainnya.
- Komisaris Utusan merupakan anggota Dewan Komisaris
yang ditunjuk berdasarkan keputusan rapat Dewan Komisaris.
- Tugas dan wewenang Komisaris Utusan ditetapkan
dalam Anggaran Dasar P.T. dengan ketentuan tidak
bertentangan dengan tugas dan wewenang Dewan
Komisaris dan tidak mengurangi tugas pengurusan yang
dilakukan Direksi.

ORGAN PERSEROAN
Dalam menjalankan tugas pengawasan, Dewan Komisaris dapat
membentuk komite, yang anggotanya seorang atau lebih adalah
anggota Dewan Komisaris yang bertanggung jawab kepada Dewan
Komisaris.
Dewan Komisaris yang terdiri atas lebih dari 1 orang anggota
merupakan majelis dan setiap anggota Dewan Komisaris tidak
dapat bertindak sendiri-sendiri melainkan berdasarkan keputusan
Dewan Komisaris.
P.T. yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah,
selain mempunyai Dewan Komisaris wajib mempunyai Dewan
Pengawas Syariah.
Dewan Pengawas Syariah tersebut terdiri atas seorang ahli syariah atau
lebih yang diangkat oleh RUPS atas rekomendasi Majelis Ulama
Indonesia.
Dewan Pengawas Syariah tersebut bertugas memberikan nasihat dan
saran kepada Direksi serta mengawasi kegiatan P.T. agar sesuai
dengan prinsip syariah.

ORGAN PERSEROAN
- Dewan Komisaris melakukan pengawasan atas
kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada
umumnya, baik mengenai P.T. maupun usaha P.T.
dan memberi nasihat kepada Direksi.
- Setiap anggota Dewan Komisaris wajib dengan itikad
baik, kehati-hatian dan bertanggung jawab dalam
menjalankan tugas pengawasan dan pemberian
nasihat kepada Direksi untuk kepentingan P.T.
dan sesuai dengan maksud dan tujuan P.T.

ORGAN PERSEROAN
- Dewan Komisaris wajib:
* Membuat risalah rapat Dewan Komisaris dan
menyimpan salinannya.
* Melaporkan kepada P.T. mengenai kepemilikan sahamnya
dan/atau keluarganya kepada P.T. tersebut dan P.T. lain.
* Memberikan laporan tentang tugas pengawasan yang
telah dilakukan selama tahun buku yang baru lampau kepada
RUPS.
- Apabila dalam Anggaran Dasar ditetapkan pemberian
wewenang kepada Dewan Komisaris untuk memberikan
persetujuan atau bantuan kepada Direksi dalam melakukan
perbuatan hukum tertentu maka Dewan Komisaris
berkewajiban untuk memberikan persetujuan atau
bantuan kepada Direksi dalam melakukan perbuatan
hukum tertentu tersebut.

ORGAN PERSEROAN
- Dalam hal Laporan Keuangan yang disediakan
ternyata tidak benar dan/atau menyesatkan,
anggota Dewan Komisaris secara tanggung renteng
bertanggung jawab terhadap pihak yang dirugikan.
- Dewan Komisaris bertanggung jawab atas
pengawasan P.T.
- Setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung
jawab secara pribadi atas kerugian P.T. apabila yang
bersangkutan bersalah atau lalai dalam menjalankan
tugasnya.

ORGAN PERSEROAN
- Dalam hal Dewan Komisaris terdiri atas 2 anggota
Dewan Komisaris atau lebih, tanggung jawab
tersebut di atas berlaku secara tanggung renteng
bagi setiap anggota Dewan Komisaris.
- Atas nama P.T., pemegang saham yang mewakili
paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh
saham dengan hak suara dapat menggugat
anggota Dewan Komisaris yang karena kesalahan
atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada
P.T. ke Pengadilan Negeri.

ORGAN PERSEROAN
- Dalam hal terjadi kepailitan karena kesalahan atau
kelalaian Dewan Komisaris dalam melakukan
pengawasan terhadap pengurusan yang dilaksanakan oleh
Direksi dan kekayaan P.T. tidak cukup untuk membayar
seluruh kewajiban P.T. akibat kepailitan tersebut maka
setiap anggota Dewan Komisaris secara tanggung renteng
ikut bertanggung jawab dengan anggota Direksi atas
kewajiban yang belum dilunasi.
- Tanggung jawab tersebut berlaku juga bagi anggota Dewan
Komisaris yang sudah tidak menjabat 5 tahun sebelum
putusan pernyataan pailit diucapkan.

ORGAN PERSEROAN
- Anggota Dewan Komisaris dibebaskan dari
tanggung jawab sebagai akibat Laporan
Keuangan yang disediakan ternyata tidak
benar dan/atau menyesatkan apabila
terbukti bahwa keadaan tersebut bukan
karena kesalahannya.
- Anggota Dewan Komisaris tidak dapat
dipertanggungjawabkan atas kerugian P.T.
apabila dapat membuktikan:

ORGAN PERSEROAN
* Telah melakukan pengawasan dengan itikad
baik dan kehati-hatian untuk kepentingan P.T.
dan sesuai dengan maksud dan tujuan P.T.
* Tidak mempunyai kepentingan pribadi, baik
langsung maupun tidak langsung atas
tindakan pengurusan Direksi yang
mengakibatkan kerugian.
* Telah memberikan nasihat kepada Direksi
untuk mencegah timbul atau berlanjutnya
kerugian tersebut.

ORGAN PERSEROAN
- Anggota Dewan Komisaris tidak dapat dimintai
pertanggung jawaban atas kepailitan P.T. apabila dapat
membuktikan:
* Kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau
kelalaiannya.
* Telah melakukan tugas pengawasan dengan itikad
baik dan kehati-hatian untuk kepentingan P.T. dan
sesuai dengan maksud dan tujuan P.T.
* Tidak mempunyai kepentingan pribadi, baik langsung
maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan oleh
Direksi yang mengakibatkan kepailitan.
* Telah memberikan nasihat kepada Direksi untuk
mencegah terjadinya kepailitan.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.

Pembubaran P.T. terjadi:


- Berdasarkan keputusan RUPS.
- Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan
dalam Anggaran Dasar telah berakhir.
- Berdasarkan penetapan pengadilan.
- Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan
putusan pengadilan niaga yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit
P.T. tidak cukup untuk membayar biaya
kepailitan.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
- Karena harta pailit P.T. yang telah dinyatakan pailit berada
dalam keadaan insolvensi sebagaimana diatur dalam
Undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang.
- Karena dicabutnya izin usaha P.T. sehingga mewajibkan P.T.
melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
- Dalam hal terjadi pembubaran P.T:
* Wajib diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh
likuidator.
* P.T. tidak dapat melakukan perbuatan hukum, kecuali
diperlukan untuk membereskan semua urusan P.T. dalam
rangka likuidasi.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
- Pembubaran P.T. terjadi karena hukum apabila
jangka waktu berdirinya P.T. yang ditetapkan
dalam Anggaran Dasar berakhir.
- Dalam jangka waktu paling lambat 30 hari
setelah jangka waktu berdirinya P.T. berakhir, RUPS
menetapkan penunjukan likuidator.
- Direksi tidak boleh melakukan perbuatan hukum baru
atas nama P.T. setelah jangka waktu berdirinya
P.T. yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
- Pengadilan Negeri dapat membubarkan P.T. atas:
* Permohonan kejaksaan berdasarkan alasan P.T.
melanggar kepentingan umum atau P.T. melakukan
perbuatan yang melanggar peraturan perundangundangan.
* Permohonan pihak yang berkepentingan berdasarkan
alasan adanya cacat hukum dalam Akta Pendirian.
* Permohonan pemegang saham, Direksi atau Dewan
Komisaris berdasarkan alasan P.T. tidak mungkin
untuk dilanjutkan.
- Dalam penetapan pengadilan ditetapkan juga penunjukan likuidator.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.

- Pembubaran P.T. tidak mengakibatkan P.T.


kehilangan status badan hukum sampai
dengan selesainya likuidasi dan
pertanggungjawaban likuidator diterima
oleh RUPS atau pengadilan.
- Sejak saat pembubaran, pada setiap surat
keluar P.T. dicantumkan kata dalam
likuidasi di belakang nama P.T.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.

- Dalam jangka waktu paling lambat 30 hari


terhitung sejak tanggal pembubaran P.T.,
likuidator wajib memberitahukan:
* Kepada semua kreditor mengenai
pembubaran P.T. dengan cara
mengumumkan pembubaran P.T. dalam
surat kabar dan Berita Negara R.I.
* Pembubaran P.T. kepada Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia R.I. untuk dicatat dalam
Daftar Perseroan bahwa P.T. dalam
likuidasi.

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)


TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN
- Dasar hukum: pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas.
- Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen
P.T. untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi
berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan
lingkungan yang bermanfaat, baik bagi P.T. sendiri, komunitas
setempat maupun masyarakat pada umumnya.
- P.T. yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang
dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib
melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
Ketentuan ini bertujuan untuk tetap menciptakan
hubungan P.T. yang serasi, seimbang dan sesuai dengan
lingkungan, nilai, norma dan budaya masyarakat setempat.

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)


TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN

- Yang dimaksud dengan P.T. yang menjalankan


kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam
adalah P.T. yang kegiatan usahanya mengelola dan
memanfaatkan sumber daya alam.
- Yang dimaksud dengan P.T. yang menjalankan
kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber
daya alam adalah P.T. yang tidak mengelola dan
tidak memanfaatkan sumber daya alam tetapi
kegiatan usahanya berdampak pada fungsi
kemampuan sumber daya alam.

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)


TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN

- Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan


merupakan kewajiban P.T. yang dianggarkan dan
diperhitungkan sebagai biaya P.T. yang
pelaksanaannya dilakukan dengan memperhati- kan
kepatutan dan kewajaran.
- P.T. yang tidak melaksanakan kewajiban
sebagaimana tersebut di atas, dikenai sanksi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Third Meeting

90

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
* Pemberitahuan dalam surat kabar dan Berita
Negara R.I. memuat:
- Pembubaran P.T. dan dasar hukumnya.
- Nama dan alamat likuidator.
- Tata cara pengajuan tagihan.
- Jangka waktu pengajuan tagihan.
- Jangka waktu pengajuan tagihan adalah 60 hari
terhitung sejak tanggal pengumuman

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
- Dalam hal pemberitahuan kepada Kreditor dan
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I.
belum dilakukan, pembubaran P.T. tidak berlaku bagi
pihak ketiga.
- Dalam hal likuidator lalai melakukan pemberitahuan kepada Kreditor dan Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia R.I., likuidator secara tanggung
renteng dengan P.T. bertanggung jawab atas
kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
Kewajiban likuidator dalam melakukan pemberesan harta
kekayaan P.T. dalam proses likuidasi meliputi pelaksanaan:
- Pencatatan dan pengumpulan kekayaan dan utang P.T.
- Pengumuman dalam surat kabar dan Berita Negara R.I.
mengenai rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi.
- Pembayaran kepada para kreditor.
- Pembayaran sisa kekayaan hasil likuidasi kepada
pemegang saham.
- Tindakan lain yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan
pemberesan kekayaan.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
- Likuidator bertanggung jawab kepada RUPS atau
pengadilan yang mengangkatnya atas likuidasi P.T.
yang dilakukan.
- Likuidator wajib memberitahukan kepada Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I. dan
mengumumkan hasil akhir proses likuidasi
dalam surat kabar setelah RUPS memberikan
pelunasan dan pembebasan kepada likuidator
atau setelah pengadilan menerima
pertanggungjawaban likuidator yang ditunjuknya.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I.
mencatat berakhirnya status badan hukum P.T. dan
menghapus nama P.T. dari Daftar Perseroan,
termasuk karena penggabungan, peleburan atau
pemisahan.
Penggabungan adalah perbuatan hukum yang
dilakukan oleh satu Perseroan atau lebih untuk
menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang
telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari
Perseroan yang menggabungkan diri beralih karena
hukum kepada Perseroan yang menerima
penggabungan dan selanjutnya status badan hukum
Perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena
hukum.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
Peleburan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh
2 Perseroan atau lebih untuk meleburkan diri dengan
cara mendirikan satu Perseroan baru yang karena
hukum memperoleh aktiva dan pasiva dari Perseroan
yang meleburkan diri dan status badan hukum
Perseroan yang meleburkan diri berakhir karena hukum.
Pemisahan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh
Perseroan untuk memisahkan usaha yang
mengakibatkan seluruh aktiva dan pasiva Perseroan
beralih karena hukum kepada 2 Perseroan atau lebih
atau sebagian aktiva dan pasiva Perseroan beralih
karena hukum kepada 1 Perseroan atau lebih.

PEMBUBARAN, LIKUIDASI DAN BERAKHIRNYA STATUS


BADAN HUKUM P.T.
- Pemberitahuan dan pengumuman pengakhiran
status badan hukum P.T. tersebut dilakukan
dalam jangka waktu paling lambat 30 hari
terhitung sejak tanggal pertanggungjawaban
likuidator diterima oleh RUPS atau pengadilan.
- Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I.
mengumumkan berakhirnya status badan
hukum P.T. dalam Berita Negara R.I.

JENIS P.T.
P.T. di Indonesia dapat dibedakan ke dalam 2 bentuk, yaitu:
- P.T. Tertutup.
P.T. yang saham-sahamnya masih dipegang oleh
beberapa orang/ perusahaan saja, sehingga jual beli
sahamnya dilakukan dengan cara-cara yang ditentukan oleh
Anggaran Dasar P.T., yang pada umumnya diserahkan
kepada kebijaksanaan pemegang saham yang bersangkutan.
- P.T. Terbuka.
P.T. yang modal dan sahamnya telah memenuhi syaratsyarat tertentu, dimana saham-sahamnya dipegang oleh
banyak orang/ banyak perusahaan, yang penawaran
sahamnya dilakukan kepada publik/ masyarakat sehingga jual
beli sahamnya dilakukan melalui pasar modal.

KELEBIHAN P.T.
- Pemilik P.T. memiliki tanggung jawab terbatas.
- Ada pemisahan antara pemilik P.T. dengan pengurus P.T.
sehingga RUPS dapat memilih pengurus yang mampu
menjalankan P.T. sehingga dapat dicapai efisiensi.
- Dengan dilakukannya pemilihan pengurus P.T. atas dasar
kemampuan, maka kontinuitas P.T. lebih terjamin.
- Modal dapat diperoleh dengan menjual saham, menerbitkan obligasi atau memperoleh pinjaman dari
lembaga keuangan.
- Pemilik P.T. dapat diganti tanpa membubarkan P.T.

KELEMAHAN P.T.
- Biaya organisasi besar dan pengorganisasiannya rumit.
- Pajak Penghasilan dikenakan terhadap P.T. dan dividen para
pemegang saham.
- Pendirian P.T. relatif lebih rumit dibandingkan dengan
bentuk usaha lainnya.
- Bidang usaha P.T. sulit diubah karena selain sulit untuk
mengubah Akta Pendirian, juga sulit untuk mengubah
investasi yang telah ditanamkan.
- Semakin besar suatu P.T., ada kecenderungan
hubungan antar personal menjadi terlalu formal, selain itu
ada perbedaan motif antara pemilik P.T. dengan pengurus
P.T.

Piercing Corporate Veil


Di berbagai negara secara hukum diakui bahwa
suatu perseroan adalah badan hukum yang
terpisah dari para pemegang sahamnya.
Apabila suatu perseroan melakukan tindakan,
maka hal itu adalah dengan kewenangannya
sendiri, bukan sebagai wakil dari pemiliknya.
Demikian pula, pemegang saham tidak
bertanggungjawab atas hutang perseroan lebih
dari nilai sahamnya dan tidak mempunyai hak
istimewa atas harta perseroan.
101

Piercing Corporate Veil


Secara hukum diakui pula bahwa corporate veil dari
suatu perseroan dapat ditembus untuk menolak
perlindungan terhadap pemegang saham bahwa ia
mempunyai tanggungjawab yang terbatas.
Piercing the corporate veil adalah tindakan hukum
yang mengecualikan prinsip keterpisahan badan
hukum, dimana pengadilan menolak keterpisahan dari
perseroan dan menyatakan bahwa pemegang saham
bertanggungjawab atas tindakan perseroan seakanakan tindakan tersebut adalah tindakan pemegang
saham.
102

Piercing Corporate Veil


Apabila pengadilan memutuskan adanya piercing the
corporate veil, maka berarti perlindungan tentang
keterbatasan tanggungjawab yang seharusnya
diberikan kepada para pemegang saham perseroan
akan dihapuskan.
Terdapat lima alasan, yang didasari oleh prinsip
efisiensi ekonomi, tentang adanya tanggungjawab
terbatas.
Pertama, terbatasnya tanggungjawab tersebut dapat
mengurangi perlunya pemegang saham untuk terus
menerus memantau manajemen perseroan.
103

Piercing Corporate Veil


Kedua, pembatasan tanggungjawab memberi
insentif bagi para manajer untuk bertindak secara
efisien dan untuk kepentingan pemegang saham
karena hal tersebut mendukung kebebasan untuk
mengalihkan saham.
Ketiga, keterbatasan tanggungjawab membantu
efisiensi operasional pasar modal karena hargaharga saham tidak tergantung kepada penilaian
harta pemegang saham secara individu.
104

Piercing Corporate Veil


Keempat, keterbatasan tanggungjawab
memberi kemungkinan diversifikasi pemegang
saham yang efisien, yang selanjutnya akan
mengurangi risiko individu.
Kelima, keterbatasan tanggungjawab
mendorong keputusan investasi yang optimal
oleh para manajer, karena hal itu memberi
insentif bagi para pemegang saham untuk
memegang portofolio investasi.
105

Piercing Corporate Veil


Keempat, keterbatasan tanggungjawab
memberi kemungkinan diversifikasi pemegang
saham yang efisien, yang selanjutnya akan
mengurangi risiko individu.
Kelima, keterbatasan tanggungjawab
mendorong keputusan investasi yang optimal
oleh para manajer, karena hal itu memberi
insentif bagi para pemegang saham untuk
memegang portofolio investasi.
106

Piercing Corporate Veil


Pengadilan dapat melakukan pierce the corporate veil
jika diminta oleh perseroan atau pemegang saham
perseroan dengan tujuan untuk meminta ganti rugi
yang ditolak jika hal itu tidak dilakukan, untuk
mendapatkan hak, atau untuk mengurangi hukuman.
Sejak kasus Salomon, pengadilan di US, Inggris dan
Australia, telah menetapkan pengecualian atas prinsip
umum yang ada dalam kasus Salomon dan melakukan
piercing corporate veil untuk menetapkan siapa yang
mengendalikan perseroan. (Salomon v Salomon & Co
[1897] AC 22)
107

Kepemilikan Silang
Kepemilikan silang (Cross-ownership) merupakan
pelanggaran terhadap prinsip tradisional
mengenai pengendalian satu pihak atas
perusahaan.
Pasal 36 UU No.40/2007
(1) Perseroan dilarang mengeluarkan saham baik
untuk dimiliki sendiri maupun dimiliki oleh
Perseroan lain, yang sahamnya secara
langsung atau tidak langsung telah dimiliki
oleh Perseroan.
108

Pre-emptive right
Pasal 43 UU No. 40/2007
1) Seluruh saham yang dikeluarkan untuk penambahan modal
harus terlebih dahulu ditawarkan kepada setiap pemegang
saham seimbang dengan pemilikan saham untuk klasifikasi
saham yang sama.
2) Dalam hal saham yang akan dikeluarkan untuk penambahan
modal merupakan saham yang klasifikasinya belum pernah
dikeluarkan, yang berhak membeli terlebih dahulu adalah
seluruh pemegang saham sesuai dengan perimbangan
jumlah saham yang dimilikinya.

109

Pre-emptive right
3) Penawaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal
pengeluaran saham:
a) ditujukan kepada karyawan Perseroan;
b) ditujukan kepada pemegang obligasi atau efek lain yang dapat
dikonversikan menjadi
c) saham, yang telah dikeluarkan dengan persetujuan RUPS; atau
d) dilakukan dalam rangka reorganisasi dan/atau restrukturisasi yang
telah disetujui oleh RUPS.
4) Dalam hal pemegang saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
menggunakan hak untuk membeli dan membayar lunas saham yang
dibeli dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal
penawaran, Perseroan dapat menawarkan sisa saham yang tidak diambil
bagian tersebut kepada pihak ketiga.
110

Pre-emptive right/ right issue


Rights issue
Penawaran kepada pemegang saham perseroan yang
memberi mereka kesempatan untuk membeli saham
baru perseroan dengan harga yang lebih murah dari
harga pasar saham tersebut.
Pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya
akan terdilusi persentase sahamnya dengan penawaran
tersebut.
Hak tersebut biasanya dapat dialihkan, hal mana
memberi kesempatan bagi pemegang saham untuk
menjualnya di pasar.
111

Derivative Action
Derivative Action
Gugatan hukum yang diajukan oleh pemegang
saham suatu perusahaan untuk mewakili
perusahaan dalam rangka memaksa atau menolak
suatu hak atau tuntutan, atas suatu tindakan yang
gagal dilakukan oleh perusahaan tersebut.
Hak ini didapat dari hak utama perusahaan untuk
mendapatkan ganti rugi atas akibat hukum yang
menimpa perusahaan melalui pengadilan.
112

Derivative Action
Pasal 61 UU No. 40/2007
1) Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan terhadap
Perseroan ke pengadilan negeri apabila dirugikan karena tindakan
Perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan wajar sebagai
akibat keputusan RUPS, Direksi, dan/atau Dewan Komisaris.
2) Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan ke
pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat
kedudukan Perseroan.
Gugatan yang diajukan pada dasarnya memuat permohonan agar
Perseroan menghentikan tindakan yang merugikan tersebut dan
mengambil langkah tertentu baik untuk mengatasi akibat yang sudah
timbul maupun untuk mencegah tindakan serupa di kemudian hari.
113

Jabatan Rangkap
UU No.5 Tahun 1999, mengatur Jabatan Rangkap
dalam Pasal 26:
Melarang individu perorangan menduduki jabatan
sebagai anggota Direksi dan/atau Komisaris pada dua
perusahaan atau lebih, jika perusahaanperusahaan
tersebut mempunyai pangsa pasar yang sama,
memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang atau
jenis usaha, atau secara bersama dapat menguasai
pangsa pasar barang danatau jasa tertentu, yang
dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli
dan persaingan usaha tidak sehat.
114

Jabatan Rangkap
Salah satu bentuk perilaku yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan
persaingan usaha tidak sehat adalah Jabatan
Rangkap Direksi dan/atau Komisaris.
Suatu Jabatan Rangkap terjadi apabila seseorang
yang sama duduk dalam dua atau beberapa dewan
direksi perusahaan atau menjadi wakil dua atau lebih
perusahaan yang bertemu dalam dewan direksi satu
perusahaan.
115

Jabatan Rangkap
Hal tersebut meliputi jabatan rangkap direksi
di antara perusahaan induk, satu anggota
perusahaan induk dengan anak perusahaan
anggota lain atau anak perusahaan berbagai
perusahaan induk.
Situasi tersebut biasanya timbul akibat
keterkaitan keuangan dan kepemilikan
bersama atas saham.
116

Jabatan Rangkap
Jabatan Rangkap direksi dapat menghambat
persaingan usaha dengan beberapa cara.
Apabila orang tersebut duduk dalam dua
perusahaan yang bersaing (direct interlock)
maka hubungan horizontal ini dapat
melahirkan pembentukan strategi bersama di
antara perusahaan yang berkaitan dengan
harga, alokasi pasar, dan penetapan jumlah
produksi.
117

Jabatan Rangkap
Jabatan Rangkap Direksi pada tingkat vertikal
mengakibatkan integrasi vertikal kegiatan, misalnya
kegiatan di antara pemasok dan pelanggan, sehingga
menghambat persaingan di antara para pemasok
dengan membuat persetujuan timbal balik di antara
mereka.
Keterkaitan antara jabatan direksi lembaga keuangan
dengan jabatan direksi perusahaan non sektor
keuangan dapat mengakibatkan diskriminasi syarat
pembiayaan bagi pesaing dan berperan sebagai
katalisator dalam upaya memperoleh penguasaan
vertikal, horisontal, atau kongklomerasi.
118

Jabatan Rangkap
Pengaturan Jabatan Rangkap lainnya diantaranya
adalah:
Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang
Badan Usaha Milik Negara:
Anggota Komisaris dilarang memangku jabatan
rangkap sebagai:
a) anggota Direksi pada BUMN, badan usaha milik
daerah, badan usaha milik swasta, dan jabatan
lain yang dapat menimbulkan benturan
kepentingan; dan/atau
b) jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
119

Jabatan Rangkap
Peraturan Bank Indonesia Pasal 7 PBI No.
8/14/PBI/2006 tentang Perubahan atas Peraturan
Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 tentang
Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi
Bank Umum (PBI GCG):
Anggota dewan komisaris hanya dapat merangkap
jabatan sebagai:
Anggota dewan Komisaris, Direksi atau Pejabat Eksekutif
pada 1 (satu) lembaga perusahaan bukan lembaga
keuangan, atau
Anggota dewan Komisaris, Direksi atau Pejabat Eksekutif
yang melaksanakan fungsi pengawasan pada 1 (satu)
perusahaan anak bukan Bank yang dikendalikan oleh Bank.
120

Jabatan Rangkap
Pasal 22 PBI No. 8/14/PBI/2006 tentang
Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia No.
8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good
Corporate Governance bagi Bank Umum (PBI
GCG): Anggota Direksi dilarang merangkap
jabatan sebagai anggota dewan Komisaris,
Direksi atau Pejabat Eksekutif pada Bank,
perusahaan dan/atau lembaga lain.
121

Jabatan Rangkap
Pasal 25 ayat (2) PBI No. 8/26/PBI/2006 tentang
Bank Perkreditan Rakyat: Anggota Direksi pada
BPR dilarang merangkap jabatan sebagai anggota
direksi atau pejabat eksekutif pada lembaga
perbankan, perusahaan atau lembaga lain.
Pasal 26 ayat (4) PBI No. 8/26/PBI/2006 tentang
Bank Perkreditan Rakyat: Anggota Dewan
Komisaris dilarang merangkap jabatan sebagai
direksi pada BPR, BPRS dan/atau Bank Umum.
122

Jabatan Rangkap
Peraturan Badan Pengawasan Pasar Modal No.
V.A.1 tentang Perizinan Perusahaan Efek jo.
Lampiran Keputusan Ketua Bapepam No Kep24/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996, diubah
dengan Nomor: Kep- 45/PM/1997 tanggal 26
Desember 1997, dimana diatur mengenai
ketentuan lain yang wajib dipenuhi oleh direksi
dan komisaris adalah sebagai berikut: a) direktur
Perusahaan Efek dilarang mempunyai jabatan
rangkap pada perusahaan lain, dan komisaris
dilarang merangkap sebagai komisaris pada
Perusahaan Efek lain.
123

Fiduciary Duty
Fiduciary duty terbagi atas dua kategori, yaitu
duty of loyalty dan duty of care.
Kewajiban ini beragam sesuai dengan jenis
hubungan antara fiduciary dan pihak lainnya
('entrustors').
Di beberapa negara akhir-akhir ini, pengadilan
menerapkan fiduciary duty terhadap pimpinan
Serikat Buruh, dokter dan bahkan pemimpin
agama.
124

Fiduciary Duty
Tujuan dan dampak fiduciary duty
Fiduciary duty diterapkan apabila kebijakan umum
mendorong spesialisasi dalam suatu jasa tertentu,
misalnya pengelolaan keuangan ataupun
kepengacaraan , dan apabila biaya yang dikeluarkan
entrustors untuk memantau fungsi fiduciary akan lebih
rendah dari manfaatnya.
Dampak utama dari aturan ini adalah untuk memberi
insentif kepada entrustor untuk mengadakan
hubungan fiduciary , dan mengurangi risiko dan biaya
entrustor untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan
entrusted, dan menjamin adanya hubungan fiduciary.
125

Fiduciary Duty
Penerapan hukum pada fiduciary duty akan
mengalihkan biaya perusahaan ke masyarakat.
Hukum yang diterapkan pada fiduciary duty
yang membatasi kebebasan, akan
meningkatkan citra perusahaan karena akan
menaikkan reputasi dan kejujuran yang
didukung oleh reputasi tersebut.

126

Self Dealing
Self-Dealing
Tindakan seorang direksi/ komisaris/ pegawai
atau pihak lainnya yang mempunyai fiduciary
duty terhadap perusahaan yang mengambil
keuntungan dari posisinya di perusahaan
tersebut dalam suatu transaksi yang
dilakukannya untuk perusahaan.

127

Self Dealing
Salah satu kewajiban seorang fiduciary adalah untuk
bertindak demi kepentingan pihak yang diwakilinya.
Apabila seorang fiduciarymelakukan self dealing,
maka berarti ia melanggaran kewajiban fiduciary
dutynya, yaitu bertindak untuk kepentingan pribadinya
bukan untuk kepentingan pihak yang diwakilinya .
Self-dealing terjadi apabila seorang trustee
menggunakan uang dari suatu trust account untuk
memberi pinjaman kepada perusahaan dimana ia
menjadi pemegang saham yang cukup besar.

128

Merger (penggabungan)
Penggabungan adalah perbuatan hukum yang
dilakukan oleh satu perseroan atau lebih
untuk menggabungkan diri dengan perseroan
lain yang telah ada dan selanjutnya perseroan
yang menggabungkan diri menjadi bubar.

129

Akuisisi (Pengambilalihan)
Pengambilalihan adalah perbuatan hukum
yang dilakukan oleh badan hukum atau orang
perseorangan untuk mengambilalih baik
seluruh ataupun sebagian besar saham
perseroan yang dapat mengakibatkan
beralihnya pengendalian terhadap perseroan
tersebut.

130

Konsolidasi (Peleburan)
Peleburan adalah perbuatan hukum yang
dilakukan oleh dua perseroan atau lebih untuk
meleburkan diri dengan cara membentuk satu
perseroan baru dan masing-masing perseroan
yang meleburkan diri menjadi bubar.

131

Pemisahan (Spin-off)
Pemisahan adalah perbuatan hukum yang
dilakukan oleh Perseroan untuk memisahkan
usaha yang mengakibatkan seluruh aktiva dan
pasiva Perseroan beralih karena hukum
kepada dua Perseroan atau lebih atau
sebagian aktiva dan pasiva Perseroan beralih
karena hukum kepada satu Perseroan atau
lebih.
132

Penggabungan dan peleburan


Penggabungan dan peleburan sebagaimana
diatur dalam dilakukan tanpa mengadakan
likuidasi terlebih dahulu.
Penggabungan dan peleburan mengakibatkan:
pemegang saham perseroan yang menggabungan diri
atau yang meleburkan diri menjadi pemegang saham
perseroan yang menerima penggabungan atau
perseroan hasil peleburan.
aktiva dan pasiva perseroan yang menggabungan diri
atau yang meleburkan diri beralih karena hukum
kepada perseroan yang menerima penggabungan atau
perseroan hasil peleburan.
133

Penggabungan, peleburan, dan


pengambilalihan
Penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan
hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan :
kepentingan perseroan, pemegang saham
minoritas, dan karyawan perseroan yang
bersangkutan.
kepentingan masyarakat dan persaingan sehat
dalam melakukan usaha.
Penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan
juga harus memperhatikan kepentingan kreditor.
134

Penggabungan, peleburan, dan


pengambilalihan
Pemegang saham yang tidak setuju terhadap
keputusan Rapat Umum Pemegang Saham
mengenai penggabungan, peleburan, dan
pengambilalihan hanya dapat menggunakan
haknya agar saham yang dimilikinya dibeli dengan
harga yang wajar.
Pelaksanaan hak sebagaimana dimaksud di atas
tidak menghentikan proses pelaksanaan
penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan.
135

Penggabungan, peleburan, dan


pengambilalihan
Setiap pemegang saham berhak meminta kepada
Perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga yang
wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui
tindakan Perseroan yang merugikan pemegang saham
atau Perseroan, berupa:

perubahan anggaran dasar;


pengalihan atau penjaminan kekayaan Perseroan
yang mempunyai nilai lebih dari 50 % (lima
puluh persen) kekayaan bersih Perseroan; atau
Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan,
atau Pemisahan.
136

Penggabungan, peleburan, dan


pengambilalihan
Direksi perusahaan wajib menyampaikan Rancangan
Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan kepada seluruh
kreditor sebelum pemanggilan Rapat Umum Pemegang Saham.
Kreditor dapat mengajukan keberatan kepada perseroan sebelum
pemanggilan Rapat Umum Pemegang Saham mengenai rencana
penggabungan, peleburan dan pengambilalihan tersebut.
Jika dalam jangka waktu yang ditentukan kreditor tidak mengajukan
keberatan, maka kreditor dianggap menyetujui penggabungan,
peleburan, dan pengambilalihan.
Keberatan kreditor disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang
Saham untuk mendapatkan penyelesaian.
Selama penyelesaian belum tercapai, maka penggabungan,
peleburan, dan pengambilalihan tidak dapat dilaksanakan.

137

Penggabungan
Perseroan yang akan menggabungkan diri dan menerima
penggabungan masing-masing menyusun usulan rencana
penggabungan.
Usulan rencana penggabungan sebagaimana dimaksud di atas
wajib mendapat persetujuan komisaris perseroan.
Usulan rencana penggabungan merupakan bahan bagi Direksi
perseroan yang akan melakukan penggabungan untuk
bersama menyusun Rancangan Penggabungan.
Rancangan Penggabungan harus memuat penegasan dari
perseroan yang akan menerima penggabungan mengenai
penerimaan peralihan segala hak dan kewajiban dari
perseroan yang akan menggabungkan diri.
138

Penggabungan
Rancangan Penggabungan berikut konsep Akta
Penggabungan wajib dimintakan persetujuan,
kepada Rapat Umum Pemegang Saham
masing-masing perseroan.
Konsep Akta Penggabungan yang telah
mendapat persetujuan Rapat Umum
Pemegang Saham dituangkan dalam Akta
Penggabungan yang dibuat dalam Bahasa
Indonesia di hadapan Notaris.
139

Pengambilalihan
Pengambilalihan dilakukan dengan cara
pengambilalihan saham yang telah dikeluarkan
dan/atau akan dikeluarkan oleh Perseroan
melalui Direksi Perseroan atau langsung dari
pemegang saham.
Pengambilalihan dapat dilakukan oleh badan
hukum atau orang perseorangan.
Pengambilalihan sebagaimana dimaksud di atas
adalah pengambilalihan saham yang
mengakibatkan beralihnya pengendalian
terhadap Perseroan tersebut.
140

Pemisahan
Pemisahan dapat dilakukan dengan cara:
Pemisahan murni yang mengakibatkan seluruh aktiva
dan pasiva Perseroan beralih karena hukum kepada 2
(dua) Perseroan lain atau lebih yang menerima
peralihan dan Perseroan yang melakukan Pemisahan
tersebut berakhir karena hukum.
Pemisahan tidak murni yang mengakibatkan sebagian
aktiva dan pasiva Perseroan beralih karena hukum
kepada 1 (satu) Perseroan lain atau lebih yang
menerima peralihan, dan Perseroan yang melakukan
Pemisahan tersebut tetap ada.
141

Tender Offer (Penawaran Tender)


Penawaran untuk membeli sebagian atau
seluruh saham di suatu perusahaan. Harga
yang ditawarkan biasanya lebih tinggi dari
harga pasar saham tersebut. (at a premium to
the market price).
Tender offer terdiri dari: friendly tender offer
ataupun unfriendly tender offer.

142

Tender Offer (Penawaran Tender)


Otoritas Pasar Modal di hampir seluruh negara
didunia melakukan pengawasan atas Tender
offer.
Di USA Securities and Exchange Commission
(SEC) menetapkan bahwa setiap perusahaan
atau individu yang mengambilalih saham
suatu perusahaan sebanyak 5% atau lebih
harus memberi informasi ke SEC, perusahaan
target dan ke bursa efek.
143

Tender Offer (Penawaran Tender)


Hostile Take Over: Pengambilalihan suatu
perusahaan oleh pihak lain yang dilaksanakan bukan
dengan cara negosiasi untuk mencapai kesepakatan
dengan manajemen perusahaan target, tetapi
dengan membeli langsung dari pemegang saham
atau berupaya mengganti manajemen agar upaya
pengambilalihan disetujui.
Hostile takeover yang dilakukan melalui tender offer
termasuk dalam unfriendly tender offer.

144

Fourth Meeting

145

Tender Offer (Penawaran Tender)


Adakalanya manajemen perusahaan akan
menolak terhadap adanya hostile take over
yang tidak diinginkan yang dilakukan dengan
menjalankan strategi yang kontroversial
strategi termasuk dengan menjalankan
rancangan poison pill, crown-jewel defense,
golden parachute, pac-man defense, dan
lainnya.
146

Poison pill
Suatu rancangan yang memberi hak kepada
pemegang saham untuk membeli tambahan saham
dengan harga lebih rendah jika salah satu pemegang
saham membeli saham perusahaan dengan
persentase yang telah ditetapkan.
Sebagai contoh rancangan ini dilaksanakan jika satu
pemegang saham membeli 20% saham perusahaan,
maka setiap pemegang saham (kecuali yang memiliki
20%) mempunyai hak untuk membeli saham baru
dengan harga yang lebih rendah (at a discount).
147

Poison pill
Jika setiap pemegang saham dapat membeli lebih
banyak saham denan harga yang lebih murah, maka
pembelian itu akan membuat terdilusinya jumlah
saham dari pembeli (20%) dan akan menaikkan biaya
take over.
Dengan mengetahui adanya rancangan tersebut
kemungkinan pihak yang akan melakukan take over
berubah niatnya dan akan menegosiasikannya
dengan direksi perusahaan untuk menolak rancangan
tersebut.
148

Crown-jewel defense
Rancangan untuk melawan takeover dengan menjual
aset perusahaan yang paling berharga ("crown
jewels) dengan demikian mengurangi minat calon
pelaku hostile take over.
Rancangan ini dapat menjadi rancangan bunuh
diri, yang selain menghilangkan minat pihak lain
untuk melakukan take over, bisa merusak
perusahaan secara keseluruhan.

149

Golden parachute
Rancangan ini adalah dengan memberi benefit yang
besar kepada para executive (atau top executive)
perusahaan ketika perusahaan akan diambilalih oleh
perusahaan lain dan para executive tersebut
diberhantikan sebagai akibat merger atau takeover.
Golden parachutes merupakan kontrak yang diberikan
kepada key executives dan dapat digunakan sebagai salah
satu tindakan anti-takeover untuk mengurangi minat
perusahaan lain melakukan take over.
Benefit yang diberikan antara lain: stock option, bonus
uang tunai, dan lain-lain.
150

Pac-man defense
Dengan rancangan Pac-Man defense, melakukan
tindakan sebaliknya dengan berupaya untuk
mengambilalih perusahaan lain yang berniat untuk
melakukan hostile takeover.
Jika suatu perusahaan melakukan upaya untuk
mengambilalih dengan hostile take over yang tidak
dihendaki, maka perusahaan target sebaliknya
melakukan penawaran atas perusahaan yang akan
mengambil alih tersebut, maka hal itu akan
mengurangi niat calon pengambilalih.
151

Lembaga Perbankan
Pengertian Bank
Menurut Bahasa:
Bank adalah usaha di bidang keuangan yang menarik dan
mengeluarkan uang di masyarakat, terutama memberikan
kredit dan jasa di lalulintas pembayaran dan peredaran
uang.
Menurut UU N0. 10 Tahun 1998 Tentang perubahan atas
UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan Pasal 1 (2) :
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentukbentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup
rakyat banyak.
152

Lembaga Perbankan
Pengertian Perbankan:
Pasal 1 (1) UU No. 10/1998 :
perbankan adalah segala sesuatu yang
menyangkut tentang bank mencakup
kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan
proses dalam melaksanakan kegiatan
Lembaga Keuangan
Lembaga keuangan terdiri dari dua jenis yaitu :
Lembaga keuangan bank
Lembaga keuangan bukan bank
153

Lembaga Perbankan

Lembaga keuangan bukan bank

Adalah suatu badan yang melakukan kegiatan dibidang keuangan


berupa usaha menghimpun dana, memberikan kredit, sebagai
perantara dalam usaha mendapatkan sumber pembiayaan, dan
usaha penyertaan modal, semuanya dilakukan secara langsung atau
tidak langsung melalui penghimpunan dana terutama dengan jalan
mengeluarkan kertas berharga.
Lembaga bukan bank beroperasi dibidang pasar uang dan modal
Segi usaha pokok yang dilakukan yaitu :

sektor pembiayaan pembangunan berupa pemberian kredit jangka


menengah/panjang serta melakukan penyertaan modal.
Usaha ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang-bidang
tertentu seperti memberikan pinjaman kepada masyarakat berupa pegadaian.

154

Lembaga Perbankan
Perbedaannya dengan bank: Lembaga keuangan
bukan bank tidak diperkenankan menerima
simpanan baik dalam bentuk giro, deposito maupun
tabungan. Penghimpunan dana hanya dapat
dilakukan dengan pengeluaran kertas berharga.
Jenis Lembaga Keuangan Bukan Bank yaitu :
1. Asuransi
2. Lembaga pembiayaan
3. Pegadaian
4. Penyelenggara dana pensiun
155

Lembaga Perbankan
Jenis Jenis Bank
Dalam ketentuan Pasal 5 ayat (1) UU Perbankan membagi
bank dalam dua jenis, yaitu :
Bank Umum
Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan prinsip Syariah yang
dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran
Bank Perkreditan Rakyat.
Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang
dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
156

Lembaga Perbankan
Bank umum kepemilikannya mungkin saja dimiliki
oleh negara (pemerintah daerah), swasta asing,
dan koperasi sedangkan BPR hanya dimungkinkan
dimiliki oleh negara (pemerintah daerah), swasta
dan koperasi saja.
Jenis bank dari segi kepemilikannya
1. Bank milik negara
2. Bank milik pemerintah daerah
3. Bank milik swasta baik dalam negeri maupun
luar negeri
4. Bank koperasi
157

Rahasia Bank
Pengertian
Rahasia sesuatu yang dipercayakan seseorang
untuk tidak diceritakan kepada orang yang
tidak berwenang mengetahuinya
Rahasia bank sesuatu yang dipercayakan
nasabah kepada bank agar tidak diceritakan
kepada orang lain yang tidak berwenang
mengetahuinya.
158

Rahasia Bank
Teori rahasia bank bersifat mutlak, bank
berkewajiban untuk menyimpan rahasia
nasabah yang diketahui bank karena kegiatan
usahanya dalam keadaan apapun, biasa atau
dalam keadaan luar biasa.
Teori rahasia bank bersifat nisbi, bank
diperbolehkan membuka rahasia nasabahnya,
apabila untuk kepentingan yang mendesak,
misalnya untuk kepentingan negara.
159

Rahasia Bank
UU 23 PRP Tahun 1960 Tentang Rahasia Bank
Pasal 2:
Bank tidak boleh memberikan keteranganketerangan tentang keadaan keuangan
langganannya yang tercatat padanya dan hal-hal
lain yang harus dirahasiakan oleh bank menurut
kelaziman, kecuali perpajakan dan kepentingan
peradilan.
Nasabah bank adalah orang-orang yang
mempercayakan uangnya pada bank, menerima
cek, bunga dari bank dan lain sebagainya.
160

Rahasia Bank
UU 14 Tahun 1967 Tentang Pokok-pokok
Perbankan
Pasal 36:
Bank tidak boleh memberikan keterangan
tentang keadaan keuangan nasabahnya yang
tercatat padanya dan hal-hal lain yang harus
dirahasiakan oleh bank menurut kelaziman
dalam dunia perbankan, kecuali dalam hal-hal
yang ditentukan dalam UU ini.
161

Rahasia Bank
SE B.I No. 2/337/UPPB/PbB Perihal Penafsiran
Tentang Pengertian Rahasia Bank, Tanggal 11
September 1969:
Keadaan keuangan yang tercatat padanya adalah
keadaan mengenai keuangan yang terdapat pada
bank yang meliputi segala simpanannya yang
tercantum dalam semua pos pasiva, dan segala
pos aktiva yang merupakan pemberian kredit
dalam berbagai macam bentuk kepada yang
bersangkutan.
162

Rahasia Bank
Surat Edaran Bank Indonesia No. 2/337/UPPB/PbB
Perihal Penafsiran Tentang Pengertian Rahasia Bank
Tanggal 11 September 1969
Hal-hal lain yang harus dirahasiakan oleh bank
menurut kelaziman dalam dunia perbankan, ialah
segala keterangan orang atau badan yang
diketahui oleh bank karena kegiatan dan
usahanya, yaitu: pemberian pelayanan, dan jasa
dalam lalu lintas uang, baik dalam maupun luar
negeri pendiskontoan, dan jual-beli surat
berharga, dll.
163

Rahasia Bank
Rahasia Bank Dalam UU 7 Tahun 1992 Tentang
Perbankan.
Pasal 1 Angka 16: Rahasia bank adalah segala sesuatu
yang berhubungan dengan keuangan dan hal-hal lain dari
nasabah bank yang menurut kelaziman dunia perbankan
wajib dirahasiakan
Pasal 40 Ayat 1:
Bank dilarang memberikan keterangan yang dicatat pada
bank tentang keadaan keuangan dan hal-hal lain dari
nasabahnya, yang wajib dirahasiakan oleh bank menurut
kelaziman dalam dunia perbankan.

164

Rahasia Bank
Pengecualian Rahasia Bank Dalam UU 7 Tahun 1992.
Pasal 41: Kepentingan perpajakan
Untuk kepentingan perpajakan pimpinan bank indonesia atas
permintaan mentri keuangan berwenang mengeluarkan perintah
tertulis kepada bank agar memberikan keterangan dan
memperlihatkan bukti-bukti tertulis serta surat-surat mengenai
keadaan keuangan nasabah penyimpan tertentu kepada pejabat pajak
Pasal 42: Kepentingan peradilan dalam perkara pidana
Untuk kepentingan peradilan dalam perkara pidana, pimpinan bank
indonesia dapat memberikan izin kepada polisi, jaksa atau hakim untuk
memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan tersangka atau
terdakwa pada bank

165

Rahasia Bank
Pasal 43: Dalam perkara perdata antara bank dengan
nasabah
Dalam perkara perdata antara bank dengan nasabahnya,
direksi bank yang bersangkutan dapat menginformasikan
kepada pengadilan tentang keadaan keuangan nasabah
yang bersangkutan dan memberikan keterangan lain yang
relevan dengan perkara tersebut
Pasal 44: Tukar-menukar informasi antar bank.
Dalam rangka tukar menukar informasi antar bank,
direksi bank dapat memberitahukan keadaan keuangan
nasabahnya kepada bank lain
166

Rahasia Bank
Pasal 44 a (2):
Dalam hal nasabah penyimpan telah meninggal
dunia, ahli waris yang sah dari penyimpan yang
bersangkutan berhak memperoleh keterangan
mengenai simpanan nasabah penyimpan tersebut
Pengecualian Rahasia Bank Dalam UU 10/1998:
1. Ijin dari pemerintah/BI (pajak, piutang bank
yang diserahkan BUPLN/PUPN, peradilan dalam
perkara pidana)
2. Tanpa ijin (perkara perdata, tukar informasi
antar bank, kuasa nasabah, ahli waris)
167

Prinsip KYC
Peraturan Bank Indonesia No. 3/10/PBI-2001
Tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah:
Prinsip Mengenal Nasabah atau KYC (Know
Your Customer) adalah prinsip yang
diterapkan oleh bank untuk mengenal dan
mengetahui identitas nasabah, memantau
kegiatan transaksi nasabah termasuk
melaporkan setiap transaksi yang
mencurigakan.
168

Prinsip KYC
Prinsip KYC merupakan sarana yang paling efektif bagi
perbankan untuk menanggulangi kegiatan pencucian
uang yang banyak dilakukan melalui perbankan.
Prinsip KYC yang kurang sempurna dapat
mengakibatkan bank-bank harus berhadapan dengan
risiko perbankan yang terkait dengan penilaian
masyarakat, nasabah atau mitra transaksi bank
terhadap bank yang bersangkutan, yaitu risiko reputasi,
risiko operasional, risiko hukum, dan risiko konsentrasi.

169

Prinsip KYC
Prinsip KYC dapat melindungi bank agar tidak
dimanfaatkan oleh nasabah untuk melakukan kegiatankegiatan yang illegal atau bank tidak dijadikan sasaran
dari kejahatan. Dalam hal ini, dengan diterapkannya
Prinsip KYC, diharapkan bank dapat melakukan
identifikasi secara dini terhadap nasabah dan setiap
aktifitas/transaksi yang dijalankan oleh nasabah.
Dengan demikian, sejak awal terjadinya hubungan
antara bank dan nasabahnya, bank tidak hanya
mengetahui hal-hal apa saja yang akan dilakukan oleh
nasabahnya tetapi juga dapat mencegah terjadinya
transaksi-transaksi melalui perbankan yang bersifat
ilegal.
170

Prinsip KYC
Rekomendasi Internasional
The Basel Committee on Banking Supervision
Otoritas pengawas perbankan di seluruh dunia
semakin menyadari pentingnya upaya-upaya untuk
menetapkan landasan / pedoman bagi bank-bank
yang ada dibawah pengawas mereka agar memiliki
sistem dan prosedur pengawasan yang memadai
untuk mencegah agar bank tidak digunakan sebagai
sarana kejahatan.
Due diligence terhadap calon nasabah maupun
nasabah yang telah ada merupakan kunci dari sistem
dan prosedur pengawasan .
171

Prinsip KYC
Rekomendasi FATF (Financial Action Task Force on Money Laundering )
Dibentuk pada tahun 1989 oleh negara yang tergabung dalam the Group
of Seven ( G7 ) sebagai upaya perlawanan terhadap kegiatan pencucian
uang. FATF beranggotakan 29 negara dan terus berupaya agar negaranegara lainnya yang belum bergabung sebagai anggota turut berpartisipasi
menjadikan Rekomendasi FATF sebagai pedoman untuk memerangi
kejahatan pencucian uang.
Rekomendasi FATF terdiri atas 40 (empat puluh) prinsip yang meliputi
penegakan hukum, pengaturan sistem keuangan/perbankan, dan
kerjasama internasional.
Keempat puluh prinsip tersebut selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan
the Forty Recommendations .
Dari keempat puluh rekomendasi tersebut, separuhnya berlaku untuk
industri keuangan baik lembaga keuangan bank maupun non bank, yaitu
rekomendasi 10 sampai dengan rekomendasi 29.

172

Prinsip KYC
Elemen-elemen dalam Prinsip KYC
Sesuai rekomendasi FATF dan the Basel
Committee, elemen-elemen pokok yang dimuat
dalam Prinsip KYC antara lain adalah sebagai
berikut :
Prosedur penerimaan nasabah
Bank harus memiliki kebijakan dan prosedur yang
jelas mengenai penerimaan nasabah, termasuk
diskripsi yang jelas mengenai jenis nasabah tidak
dapat atau dilarang membuka rekening pada bank.
173

Prinsip KYC
Identifikasi Nasabah
Nasabah didefinisikan sebagai pihak yang
menggunakan jasa bank. Bank dituntut memiliki
sistem prosedur untuk verifikasi identitas nasabah
baru dan dianjurkan untuk tidak menjalin
hubungan bisnis dengan nasabah yang tidak
memiliki identitas yang jelas. Bank dilarang untuk
menerima pembukaan rekening atas nama fiktif
atau rekening tanpa nama (anonymous accounts
or accounts in obviously fictitious names).
174

Prinsip KYC
Monitoring Nasabah
Monitoring nasabah meliputi pemantauan secara
terus menerus terhadap setiap rekening dan
transaksi yang dijalankan oleh nasabah terutama
rekening dan transaksi yang dinilai berisiko tinggi.
Pengawasan oleh bank akan berjalan efektif
apabila benar-benar memahami setiap aktivitas
normal dari rekening nasabahnya.

175

Prinsip KYC
Pelaporan
Dalam hal pihak bank menduga bahwa dana yang ada
dalam rekening nasabah bersumber dari suatu aktivitas
kejahatan, maka bank wajib segera melaporkannya kepada
pihak yang berwajib. Untuk keperluan pelaporan ini, dalam
salah satu rekomendasi FATF disebutkan adanya
perlindungan hukum bagi pihak bank dalam hal bank
melaporkan adanya transaksi yang mencurigakan.
Perlindungan hukum tersebut adalah berupa perlindungan
dari pertanggungjawaban pidana, perdata ataupun
pelanggaran ketentuan rahasia bank, meskipun pihak bank
tidak mengetahui secara pasti apakah dugaan kecurigaan
tersebut memang benar-benar terjadi atau tidak.
176

Prinsip KYC
Manajemen Risiko
Pihak bank wajib memiliki komitmen untuk melaksanakan prinsip KYC
secara efektif. Untuk ini bank perlu melakukan hal-hal sebagai berikut :
Menunjuk seorang pejabat senior yang bertanggung jawab atas
kebijakan dan prosedur KYC yang berlaku di bank sesuai dengan
ketentuan perbankan yang berlaku. Bank perlu memiliki prosedur KYC
secara tertulis dan jelas, mengkomunikasikannya kepada segenap
karyawan bank, dan kepada para staf diwajibkan untuk melaporkan
setiap transaksi yang mencurigakan kepada pejabat diatasnya.
Mengadakan program pelatihan mengenai prinsip KYC bagi karyawan
dan pejabat bank.
Membentuk fungsi internal, audit, dan compliance function yang
bertugas melakukan evaluasi terhadap efektivitas kebijakan dan
prosedur KYC yang dilaksanakan oleh bank.

177

Risiko
Jenis-Jenis Risiko Bank :
Risiko Kredit : Risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan counterparty
memenuhi kewajibannya.
Risiko Pasar : Risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar
(adverse movement) dari portofolio yang dimiliki oleh bank,yang dapat
merugikan bank. Variabel pasar antara lain adalah suku bunga dan nilai
tukar.
Risiko Likuiditas : Risiko yang antara lain disebabkan Bank tidak mampu
memenuhi kewajiban yang telah jatuh waktu.
Risiko Operasional : Risiko yang antara lain disebabkan adanya
ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal,kesalahan
manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang
mempengaruhi operasional Bank.
178

Risiko
Risiko Hukum : Risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek
yuridis. Kelemahan aspek yuridis antara lain disebabkan adanya tuntutan
hukum, ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau
kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontra.
Risiko Reputasi : Risiko yang antara lain disebabkan adanya publikasi
negatif yang terkait dengan kegiatan usaha Bank atau persepsi negatif
terhadap Bank.
Risiko Strategik : Risiko yang antara lain disebabkan adanya penetapan dan
pelaksanaan strategi Bank yang tidak tepat pengambilan keputusan bisnis
yang tidak tepat atau kurang responsifnya Bank terhadap perubahan
eksternal.
Risiko Kepatuhan : Risiko yang disebabkan Bank tidak mematuhi atau tidak
melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang
berlaku.
179

Risiko
Risiko konsentrasi terkait dengan sisi aktiva dan pasiva bank. Sebagaimana
diketahui, dalam praktik pengawasan, pengawas bank tidak hanya
berkepentingan dengan sistem informasi untuk mengidentifikasi
konsentrasi kredit yang dijalankan oleh bank, tetapi juga penerapan
prinsip kehati-hatian oleh bank dalam menyalurkan kredit terhadap
seorang atau group kreditur.
Tanpa mengenal identitas nasabah secara pasti dan memahami hubungan
antara nasabah yang satu dan nasabah-nasabah lainnya, sulit bagi bank
untuk mengatasi risiko konsentrasi dimaksud. Sementara itu disisi pasiva,
risiko konsentrasi berhubungan dengan risiko dana khususnya dalam hal
terjadi penarikan secara tiba-tiba dalam jumlah besar oleh nasabah yang
berakibat pada likuiditas bank yang bersangkutan.

180

Fifth Meeting

181

Pengawasan dan pembinaan


UU Nomor 21/2011 Tentang OJK
Pasal 6
OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan
terhadap:
a. kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan;
b. kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan
c. kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian,
Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan
Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.

182

Pengawasan dan pembinaan


Pasal 7
Untuk melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sektor
Perbankan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a, OJK
mempunyai wewenang:
a. pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan bank
yang meliputi:
1. perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank,
anggaran dasar, rencana kerja, kepemilikan, kepengurusan
dan sumber daya manusia, merger, konsolidasi dan akuisisi
bank, serta pencabutan izin usaha bank; dan
2. kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan
dana, produk hibridasi, dan aktivitas di bidang jasa;

183

Pengawasan dan pembinaan


b. pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan
bank yang meliputi:
1. likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset,
rasio kecukupan modal minimum, batas
maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman
terhadap simpanan, dan pencadangan bank;
2. laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan
kinerja bank;
3. sistem informasi debitur;
4. pengujian kredit (credit testing); dan
5. standar akuntansi bank;
184

Pengawasan dan pembinaan


c. pengaturan dan pengawasan mengenai aspek
kehati-hatian bank, meliputi:
1. manajemen risiko;
2. tata kelola bank;
3. prinsip mengenal nasabah dan anti
pencucian uang; dan
4. pencegahan pembiayaan terorisme dan
kejahatan perbankan; dan
d. pemeriksaan bank.
185

Pengawasan dan pembinaan


Untuk melaksanakan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6, OJK mempunyai wewenang:
a. menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan
jasa keuangan;
b. mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan
oleh Kepala Eksekutif;
c. melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan
Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan,
pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana
dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa
keuangan;
d. memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan
dan/atau pihak tertentu;
e. melakukan penunjukan pengelola statuter;
f. menetapkan penggunaan pengelola statuter;
186

Pengawasan dan pembinaan


g.

menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan


pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor
jasa keuangan; dan
h. memberikan dan/atau mencabut:
1. izin usaha;
2. izin orang perseorangan;
3. efektifnya pernyataan pendaftaran;
4. surat tanda terdaftar;
5. persetujuan melakukan kegiatan usaha;
6. pengesahan;
7. persetujuan atau penetapan pembubaran; dan
8. penetapan lain,
sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di
sektor jasa keuangan.
187

Kredit Bank
Pengertian Kredit
Secara etimologis istilah kredit kredit berasal dari
bahasa latin, credere, yang berarti kepercayaan.
Sedangkan menurut UU No. 10 Tahun 1998 Tentang
Perbankan.
Pasal 1 butir 11 dirumuskan :
kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang
dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam
antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak
peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka
waktu tertentu dengan pemberian bunga.
188

Kredit Bank
Teori Kredit
Uang yang diterima dari masyarakat, apakah
itu berbentuk simpanan berupa tabungan,
giro, atau deposito, pada akhirnya diedarkan
kembali oleh bank. Misalnya lewat pasar uang
(money market), pendepositoan, Investasi
dalam bentuk lain, dan terutama dalam
bentuk pemberian kredit.
189

Kredit Bank
Unsur-unsur kredit:
a. Kepercayaan, berarti bahwa setiap pelepasan kredit dilandasi dengan
adanya keyakinan oleh bank bahwa kredit tersebut dapat dibayar
kembali oleh debiturnya sesuai dengan jangka waktu diperjanjikan.
b. Waktu berarti bahwa antara pelepasan kredit oleh bank dengan
pembayaran kembali oleh debitur tidak dilakukan pada waktu
bersamaan, melainkan dipisahkan oleh tenggang waktu.
c. Degree of risk, berarti bahwa setiap pelepasan kredit jenis apapun akan
terkandung risiko didalamnya yaitu risiko yang terkandung dalam jangka
waktu antara pelepasan kredit dengan pembayaran kembali. Hal ini
berarti semakin panjang waktu kredit semakin tinggi resiko kredit.
d. Prestasi disini berarti bahwa setiap kesepakatan antara bank dengan
debiturnya mengenai suatu pemberian kredit, maka pada saat itu pula
akan terjadi suatu prestasi dan kontra prestasi.

190

Kredit Bank
Kegiatan perkreditan secara sehat , dikenal dengan prinsip (The five Cs
of Credit Analysis):
a. Character (watak)
Sasaran penilian terhadap nasabah (debitur) adalah kemapuan
mengendalikan usaha, prospek masa depan usaha, produksi dan
pemasaran.
b. Capacity (kemampuan)
Sasaran penilaian terhadap nasabah (debitur) adalah kemapuan
mengendalikan usaha, prospek masa depan usaha, produksi dan
pemasaran.
c. Capital (modal)
Kredit bank pada dasarnya hanya merupakan modal tambahan.
Nasabah (debitur) harus sudah mempunyai modal awal
tergantung dari jenis kegiatan usaha. Namun biasanya besar
modal awal minimum 20 persen dari total dana yang dibutuhkan.
191

Kredit Bank
a.

b.

Collateral (agunan/jaminan)
Jaminan merupakan salah satu unsur perjanjian kredit, jaminan
diperlukan untuk memberikan keyakinan pada bank bahwa
nasabah (debitur) sanggup mengembalikan pinjaman sesuai
dengan perjanjian. oleh karena itu besarnya jaminan dalam
perjanjian kredit minimal 100 persen dari nilai kredit.
Conditio of economy (kondisi perekonomian/prospek usaha
debitur)
Penilaian diutamakan pada situasi dan kondisi politik, sosial,
ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi keadaan ekonomi
dalam kurun waktu tertentu. Keadaan perekonomian disini adlah
perekonomian negara, nasabah (debitur), maupun keadaan
perekonomian bank pemberi kredit.

192

Kredit Bank
Penggolongan Kredit Bank (SK Direktur Bank Indonesia no.
30/267/KEP/DIR):
Kredit Lancar:
Pembayaran angsuran pokok atau bunga tepat;
Memiliki mutasi rekening yang aktif; atau
Bagian dari kredit yang dijamin dengan agunan tunai

Kredit dalam perhatian khusus:


Terdapat tunggakan pokok dan atau bunga yang belum melampaui 90
hari;
Kadang-kadang terjadi cerukan;
Mutasi rekening relatif rendah;
Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang di perjanjikan; atau
Didukung oleh pinjaman baru.

193

Kredit Bank
Kredit kurang lancar:
Terdapat tunggakan angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 90
hari;
Sering terjadi cerukan;
Frekuensi mutasi rekening relatif rendah;
terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur;

Kredit diragukan:
Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui
180 hari;
Sering terjadi cerukan yang bersifat permanen;
Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari;
Terjadi kapitalisasi bunga,
Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun
peningkatan jaminan.
194

Kredit Bank

Kredit Macet:
Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang telah
melampaui 270 hari
Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru
Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan
pada nilai wajar.

195

ASURANSI
Definisi: Nicholas Magen: An Essay on Insurance (1753)
Insurance is the contract between Contracting Parties:
the insured, who pays a consideration, which is called
a premium; and the insurer, who receives it. For the
premium the insurer engaged to satisfy, and make
good to the insured, unless a fraud appears, any loss,
damage, or accident that may happen; according to
terms of the contract policy.
Ray Hodgin. Insurance Law. Second Edition. (London:
Cavendish Publishing Limited, 2002)

196

ASURANSI
Definisi: UU No.2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian
Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjiann antara dua pihak
atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri
kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk
memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,
kerusakan, atau kehilangan keuntungan, atau tanggungjawab
hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita
tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau
untuk pembayaran yang didasarkan atas meinggal atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan.

197

ASURANSI
Doktrin dan Prinsip
Insurable Interest
Uncertainty
Doctrine of Privity of Contract
Duty of Disclosure/ Uberimae Fidei/ Utmost good faith
Moral Hazard
Proximate Causa
Subrogation and Abandonment
Principle of Indemnity

198

ASURANSI
Insurable Interest
Prinsip ini mewajibkan setiap tertanggung harus mempunyai
kepentingan (interest) atas objek pertanggungan. Hal ini
membedakan asuransi dengan perjudian . Sebagai contoh, suatu
rumah mungkin saja mengalami kebakaran, dan seekor kuda
mungkin kalah dalam pacuan. Pemilik rumah akan mengalami
kerugian jika rumahnya terbakar dan penjudi akan mengalami
kerugian jika kuda yang dipertaruhkannya kalah.
Perbedaannya adalah pada asuransi rumah, risiko kebakaran telah
ada pada pemilik rumah sebelum adanya asuransi, sedangkan pada
taruhan pacuan kuda risiko kerugian baru ada sejak adanya
taruhan. John Edward and Co. v. Motor Union Insurance Co Ltd
[1922] 2 KB 249
199

ASURANSI
Uncertainty (Ketidakpastian)
Pada asuransi unsur ketidakpastian ini harus ada.
Ketidakpastian ini haruslah benar-benar bertentangan
dengan keinginan tertanggung.
Unsur ketidakpastian juga terdapat pada setiap kontrak,
misalnya risiko adanya kerugian apabila salah satu pihak
wanprestasi, namun pada asuransi, kejadian yang
mengakibatkan timbulnya risiko yang menimbulkan
kerugian haruslah diluar kendali pihak tertanggung.
Department of Trade and Industry v. St Christopher
Motorists Association [1974] 1 WLR 99.
200

ASURANSI
Doctrine of Privity of Contract
Doktrin ini menghalangi seseorang untuk menjalankan suatu
perjanjian dimana dia bukan menjadi salah satu pihak. Hal ini
terjadi dalam kasus Prudential Staff Union v. Hall, dimana timbul
masalah apakah seorang anggota Union dapat meminta agar polis
asuransi diberlakukan ketika penanggung menolak klaim.
Pada kasus Vandepitte v Preferred Accident Insurance Corp. of
New York. Tertanggung menutup asuransi dengan Penanggung
suatu asuransi pertanggungan pihak ketiga (indemnity). Didalam
polis ditentukan bahwa indemnity itu dapat dialihkan kepada
setiap orang yang mengendarai mobil dengan seizin Tertanggung.
Namun, pengadilan menyatakan bahwa polis tidak dapat dialihkan
ke pihak ketiga , karena bukan pihak dalam kontrak polis tersebut.
201

ASURANSI
Duty of Disclosure/ Uberimae Fidei (Utmost good faith)
Tertanggung dan Penanggung wajib untuk mengungkapkan
seluruh fakta material yang dapat tanggungmenjadi risiko
kepada pihak lain sebelum kontrak asuransi ditandatangani.
Ini terjadi dalam Kasus Carter v. Boehm (1766) 3 Burr 1950.
antara Governor of Sumatra (Carter) dan perusahaan asuransi
Boehm, ketika Fort Marlborough diserang oleh Prancis.
Penanggung menolak asuransi karena menuduh Tertanggung
tidak mengungkapkan kelemahan Fort Marlborough dan
kemungkinan akan diserang oleh Prancis. Meskipun
Penanggung dalam kasus ini kalah, namun hakim Lord
Mansfield menetapkan adanya kewajiban untuk mendisclose
fakta material.
202

ASURANSI
Moral Hazard
Masalah Moral Hazard ini timbul dalam kasus Lambert v. Co-operative
Insurance Society. [1951] 1 Lloyds Rep 139.
Tertanggung menutup asuransi all risks untuk dirinya dan untuk perhiasan
permata milik suaminya. Penanggung tidak menanyakan tentang apakah
suaminya pernah terlibat dalam perkara pidana dan dia tidak mengungkapkan
bahwa suaminya pernah terlibat pidana beberapa tahun sebelumnya karena
membeli rokok curian. Polis diterbitkan dan diperpanjang setiap tahun. Pada
Desember 1971 suaminya dihukum pidana penjara selama 15 bulan, namun dia
tidak mengungkapkan masalah tersebut sewaktu perpanjangan polis tahun
1972.
April 1972 dia mengajukan klaim 311.00 untuk kehilangan salah satu permata
yang diasuransikan.
Penanggung menolak dan menang, karena tertanggung terbukti gagal untuk
mendisclose adanya moral hazard pada pengajuan dan perpanjangan polis.

203

ASURANSI
Proximate Causa
Tertanggung harus dapat membuktikan bahwa klaim yang
diajukan adalah disebabkan oleh salah satu kejadian yang
ditanggung oleh Penanggung.
Jika barang-barang diasunransikan dengan asuransi kebakaran,
maka Tertanggung tidak dapat mengajukan klaim apabila
barang-barang tersebut dicuri.
Bagaimana jika terjadi kebakaran yang membuat rumahnya
mudah dimasuki pencuri yang kemudian mencuri barangbarang yang diasuransikan?
Bagaimana jika ketika kebakaran barang-barang tersebut
dikeluarkan ke pinggir jalan dan diambil oleh pencuri?

204

ASURANSI
Principle of Indemnity
Prinsip Indemnity berarti bahwa apabila terjadi risiko terhadap
objek yang diasuransikan, baik barang berupa rumah atau harta
milik lainnya, maka Tertanggung tidak boleh menerima
pertanggungan melebihi nilai barang atau harta miliknya
tersebut.
Dengan kata lain asuransi bertujuan mengembalikan
Tertanggung ke posisi semula seperti sebelum terjadinya risiko,
dikurangi biaya-biaya asuransi yang telah disepakati.
Hal ini berbeda dengan asuransu yang bersifat kontinjensi
seperti asuransi jiwa atau asuransi kecelakaan diri, dimana
jumlah pertanggungan telah ditentukan terlebih dahulu.

205

ASURANSI
Double insurance and contribution
Tertanggung bebas untuk mengasuransikan harta miliknya
kebeberapa Penanggung. (double insurance)
Namun, jika terjadi risiko, ia tidak dapat mengklaim lebih dari
nilai harta yang diasuransikannya. (indemnity)
Ia bebas pula untuk mengajukan klaim ke salah satu
Penanggung.
Jika salah satu Penanggung telah membayar kepada
Tertanggung, maka Penanggung dapat meminta kontribusi dari
Penanggung yang lain. (contribution)

206

ASURANSI
Subrogation
Setelah membayar ganti rugi kepada Tertanggung, maka
Penanggung dapat, atas nama Tertanggung, mengajukan klaim
untuk meminta penggantian kepada pihak yang menyebabkan
kerugian tersebut. (subrogation)
Penggantian tersebut hanya sebesar nilai uang yang dibayarkan
kepada Tertanggung. (idemnity)
Setelah melakukan pembayaran untuk suatu asuransi total
loss misalnya untuk sebuah mobil yang mengalami tabrakan,
maka Penanggung berhak untuk mengambilalih semua hak atas
mobil tersebut, ia boleh menjual mobil itu, dan mendapatkan
keuntungan dari penjualannya.

207

ASURANSI
Abandonment
Abandonment memberi hak kepada Penanggung semua
keuntungan yang menjadi milik Tertanggung sesuai dengan
Polis asuransi, namun tidak boleh melebihinya.
Asuransi atas sebuah kapal. Jika Tertanggung menyatakan
abandonment maka Tertanggung berhak atas semua uang yang
telah diterima sebelumnya, dan Penanggung berhak atas
pembayaran setelah abandonment, misalnya yang terkait
dengan barang yang diserahkan ketujuan setelahnya.
Abandonment menjadi masalah bagi Penanggung, jika kapal
tenggelam menghalangi jalur perkapalan, maka Penanggung
wajib membuang kapal tersebut, kecuali jika ia menolak
abandonment maka kapal tersebut dinyatakan sebagai res
nullius.
208

ASURANSI
Undang-undang dan Peraturan Asuransi Indonesia
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha
Perasuransian
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
426/KMK.06/2003 Tentang Perizinan dan Kelembagaan
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

209

Hak atas Kekayaan Intelektual


(HaKI)
HaKI pada mulanya hanya dikaitkan pada
perlindungan atas penemuan di bidang
teknologi, hasil karya tulis dan karya yang
berupa hasil kesenian.
Dalam perkembangan selanjutnya HaKI
semakin luas dan meliputi hak-hak di bidang
industri dan di bidang perdagangan yang
kemudian dikenal dengan nama hak-hak
industrial.
210

Hak atas Kekayaan Intelektual


(HaKI)
Lingkup hak-hak industrial dapat dilihat di
dalam Paris Industrial Right Convention 1883,
Article 1 (2) yaitu bahwa yang termasuk dalam
hak-hak industrial yang dilindungi berdasarkan
konvensi itu adalah paten, merek dagang,
nama dagang dan lain-lain, termasuk produk
pertanian dan seluruh produk alamiah dan
manufaktur.
211

Hak atas Kekayaan Intelektual


(HaKI)
Selanjutnya perkembangan teknologi ikut
mendorong perkembangan di dalam
ketentuan dan peraturan yang terkait dengan
perlindungan atas hak-hak kekayaan intektual
Hal ini tampak dari dikeluarkannya undangundang tentang perlindungan terhadap hak
atas desain industri, hak atas rahasia dagang,
desain tata letak sirkuit terpadu, dan juga hak
atas perlindungan varietas tanaman.
212

Hak atas Kekayaan Intelektual


(HaKI)
Konvensi internasional tentang pendirian organisasi
dunia yang menyangkut HaKI yaitu WIPO Convention
1979 pada Article 2.
Hak atas Kekayaan Intelektual yang harus dilindungi
adalah hak-hak yang terkait dengan karya tulis, karya
seni dan karya ilmiah; pertunjukan kesenian, rekaman
suara, dan siaran; penemuan dalam segala bidang;
penemuan ilmiah; desain industri; merek dagang;
merek jasa; nama-nama dan label dagang;
perlindungan terhadap persaingan tidak sehat; dan
semua hak yang berasal dari kegiatan intelektual di
bidang industri, ilmu pengetahuan, tulisan atau bidangbidang kesenian.
213

Hak atas Kekayaan Intelektual


(HaKI)
Konvensi International Terkait HaKI
Berbagai konvensi dan perjanjian multilateral
telah dikeluarkan terkait dengan pelindungan hak
atas kekayaan intelektual, diantaranya yang
terutama adalah:

Paris Industrial Right Convention 1883;


Berne Literary and Artistic Convention 1886;
Rome Performers Convention 1961;
WIPO Convention 1979;
TRIPs Agreement 1995.
214

Hak atas Kekayaan Intelektual


(HaKI)
Namun, meskipun banyak konvensi internasional
terkait perlindungan HaKI, penerapannya di
berbagai negara tetap tergantung kepada
undang-undang nasional masing-masing negara,
dan penerapan di negara-negara anggota
konvensi harus melalui berbagai tahapan, seperti
ratifikasi dan lain-lain.
Di dalam konvensi-konvensi tersebut juga tidak
dinyatakan dengan tegas mengenai
pemberlakuannya di masing-masing negara
anggota.
215

Hak atas Kekayaan Intelektual


(HaKI)
Sebagai contoh di dalam Paris Industrial Right
Convention 1883 di dalam Section 25, dinyatakan
bahwa:
Implementasi konvensi tersebut di negara anggota,
adalah harus sesuai dengan konstitusi negara yang
bersangkutan dan negara tersebut hanya
berkewajiban untuk memastikan akan melakukan
tindakan yang diperlukan untuk pelaksanaan
konvensi tersebut.

216

Hak atas Kekayaan Intelektual


(HaKI)
Dalam berbagai konvensi tampak bahwa penerapan
Konvensi internasional sangat tergantung kepada
negara-negara anggota, meskipun negara-negara
anggota telah meratifikasi konvensi-konvensi tersebut.
Konvensi-konvensi internasional hanya dapat meminta
agar negara-negara anggota dapat menjamin bahwa
ketentuan tentang perlindungan HaKI tersebut
dimasukkan ke dalam undang-undang nasional negaranegara anggota, dan pelaksanaannya memenuhi
ketentuan konstitusi masing-masing negara.

217

Hak atas Kekayaan Intelektual


(HaKI)
Dalam rangka perlindungan terhadap HaKI di
Indonesia, dan untuk menyelaraskan
ketentuan perundang-undangan nasional
dengan konvensi-konvensi internasional yang
terkait dengan perlindungan HaKI, telah
diundangkan sebanyak 7 (tujuh) perundangundangan terkait perlindungan HaKI, yaitu:

218

Hak Cipta
UU Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
merupakan perubahan dari Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta yang
kemudian diubah dengan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6
tahun 1982 tentang Hak Cipta. Selanjutnya undangundang tersebut diubah dengan Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1997 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta.
219

Hak Cipta
Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan
karya cipta adalah hasil setiap karya pencipta
yang dapat ditunjukkan sebagai karya cipta yang
asli di dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan,
seni, atau sastra.
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau
penerima hak untuk mengumumkan atau
memperbanyak karya ciptanya atau memberikan
izin untuk itu dengan tidak mengurangi
pembatasan-pembatasan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
220

Hak Paten
Pengaturan tentang Hak Paten di Indonesia
terdapat di dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 Tentang
Paten. Undang-undang tersebut berasal dari
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1989 Tentang
Paten yang telah diubah dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun
1997 Tentang Perubahan Atas UndangUndang Republik Indonesia Nomor 6 tahun
1989 Tentang Paten.
221

Hak Paten
Hak Paten merupakan hak khusus yang
diberikan kepada penemu atas hasil
penemuannya di bidang teknologi.
Hak paten diberikan untuk jangka waktu
tertentu, yang di dalamnya terdapat hak untuk
menerapkan sendiri penemuannya tersebut
atau memberikan izin kepada orang lain untuk
menerapkan penemuannya itu.

222

Merek
Ketentuan tentang Merek diatur dalam
Undang-Undang Republik Indonesia No. 15
tahun 2001 tentang Merek, yang berasal dari
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 1992 tentang Merek yang telah diubah
dengan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 14 Tahun 1997 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 19 tahun 1992 tentang Merek.
223

Merek
Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama,
kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna
atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang
memiliki daya pembeda dan digunakan dalam
kegiatan perdagangan barang atau jasa.
Merek dagang adalah merek yang digunakan
pada barang yang diperdagangkan oleh
seseorang atau beberapa orang secara bersamasama atau badan hukum untuk membedakan
dengan barang-barang sejenis lainnya.
224

Merek
Merek jasa adalah merek yang digunakan pada
jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau
beberapa orang secara bersama-sama atau badan
hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa
sejenis lainnya.
Merek kolektif adalah merek yang digunakan
pada barang atau jasa dengan karakteristik yang
sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang
atau badan hukum secara bersama-sama untuk
membedakan dengan barang atau jasa sejenis
lainnya.
225

Sixth Meeting

226

Rahasia Dagang
UU No. 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
Undang-undang tentang rahasia dagang ini telah
disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan di
dalam Persetujuan Pembentukan Organisasi
Perdagangan Dunia yaitu WTO Agreement
(Marrakesh Agreement Establishing the World
Trade Organization) yang ditandatangani pada
bulan Januari 1995), yang juga mencakup
persetujuan TRIPs Agreement 1995 (Agreement
on Trade Related Aspects of Intellectual Property
Rights).
227

Rahasia Dagang
Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak
diketahui oleh umum di bidang teknologi
dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi
karena berguna dalam kegiatan usaha, dan
dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia
Dagang.

228

Desain Industri
Undang-undang tentang desain industri diatur
dalam UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain
Industri.
UU ini merupakan harmonisasi penerapan
ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam
Persetujuan Pembentukan Organisasi
Perdagangan Dunia WTO Agreement dan yang
terdapat pada persetujuan TRIPs Agreement
1995.
229

Desain Industri
Desain Industri adalah suatu kreasi tentang
bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau
warna, atau garis dan warna, atau gabungannya
yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi
yang memberikan kesan estetis dan dapat
diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua
dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan
suatu produk, barang, komoditas industri, atau
kerajinan tangan, yang dihasilkan oleh seorang
atau beberapa orang yang dinamakan pendesain.
230

Desain Industri
Hak Desain Industri adalah hak eksklusif yang
diberikan oleh negara Republik Indonesia
kepada Pendesain atas hasil kreasinya untuk
selama waktu tertentu melaksanakan sendiri,
atau memberikan persetujuannya kepada
pihak lain untuk melaksanakan hak tersebut.

231

Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu


UU No. 32 tahun 2000 tentang Desain Tata
Letak Sirkuit Terpadu
Undang-undang ini dikeluarkan dengan
pertimbangan bahwa Indonesia telah
meratifikasi WTO Agreement yang di
dalamnya mencakup TRIPs Agreement 1995,
yang diratifikasi dengan Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1994.
232

Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu


Sirkuit Terpadu adalah suatu produk dalam
bentuk jadi atau setengah jadi, yang di
dalamnya terdapat berbagai elemen dan
sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut
adalah elemen aktif, yang sebagian atau
seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk
secara terpadu di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk
menghasilkan fungsi elektronik.
233

Perlindungan Varietas Tanaman


UU No. 29 tahun 2000 tentang Perlindungan
Varietas Tanaman
Undang-undang ini didasari oleh beberapa
ketentuan perundang-undangan nasional yang
terkait dan juga ketentuan konvensi
internasional.

234

Perlindungan Varietas Tanaman


Perlindungan Varietas Tanaman adalah perlindungan
khusus yang diberikan oleh Pemerintah melalui Kantor
Perlindungan Varietas Tanaman, terhadap varietas
tanaman yang dihasilkan melalui kegiatan pemuliaan
tanaman oleh pemulia tanaman yaitu orang yang
melaksanakan pemuliaan tanaman, yaitu rangkaian
kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan
penemuan dan pengembangan suatu varietas, dengan
mengikuti metode baku yang ditujukan untuk
menghasilkan varietas baru dan untuk
mempertahankan kemurnian benih varietas yang
dihasilkan.
235

Perlindungan Varietas Tanaman


Hak Perlindungan Varietas Tanaman adalah
hak eksklusif yang diberikan kepada pemulia
dan/ atau pemegang hak Perlindungan
Varietas Tanaman untuk menggunakan sendiri
varietas hasil pemuliaannya atau memberi
persetujuan kepada orang atau badan hukum
lain untuk menggunakannya selama waktu
tertentu.
236

Perlindungan Varietas Tanaman


Varietas tanaman yang dilindungi berdasarkan
undang-undang ini adalah sekelompok tanaman
dari suatu jenis atau spesies yang ditandai oleh
bentuk tanaman, pertumbuhan tanaman, daun,
bunga, buah, biji, dan ekspresi karakteristik
genotipe atau kombinasi genotipe yang dapat
membedakan tanaman tersebut dari jenis atau
spesies tanaman yang sama oleh sekurangkurangnya satu sifat yang menentukan dan
apabila diperbanyak tidak mengalami perubahan.
237

Monopoli
Posisi dominan adalah keadaan di mana pelaku usaha
tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar
bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa pasar yang
dikuasai, atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi
di antara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam
kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan
akses pada pasokan atau penjualan, serta kemampuan
untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barang
atau jasa tertentu.
Pangsa pasar adalah persentase nilai jual atau beli
barang atau jasa tertentu yang dikuasai oleh pelaku
usaha pada pasar bersangkutan dalam tahun kalender
tertentu.
238

Monopoli
Pemusatan kekuatan ekonomi adalah penguasaan yang
nyata atas suatu pasar bersangkutan oleh satu atau lebih
pelaku usaha sehingga dapat menentukan harga barang
dan atau jasa.
Monopoli adalah penguasaan atas produksi dan atau
pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu
oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha.
Praktek monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi
oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan
dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan
atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha
tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum.

239

Monopoli
Pelaku usaha dilarang melakukan penggabungan
atau peleburan badan usaha yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan
atau persaingan usaha tidak sehat.
Pelaku usaha dilarang melakukan
pengambilalihan saham perusahaan lain apabila
tindakan tersebut dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat.
240

Monopoli
Penggabungan atau peleburan badan usaha,
atau pengambilalihan saham sebagaimana
yang berakibat nilai aset dan atau nilai
penjualan perusahaan melebihi jumlah
tertentu, wajib diberitahukan kepada KPPU.
Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan
atau nilai penjualan serta tata cara
pemberitahuan diatur dalam peraturan
pemerintah.
241

Kepailitan
UU No 37/ 2004 Tentang Kepailitan dan PKPU
Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor
Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh
Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas.
Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat
dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang
Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung
maupun yang akan timbul di kemudian hari atau kontinjen,
yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan
yang wajib dipenuhi oleh Debitor dan bila tidak dipenuhi
memberi hak kepada Kreditor untuk mendapat
pemenuhannya dari harta kekayaan Debitor.

242

Kepailitan
Pasal 2
1) Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak
membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh
waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan
Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas
permohonan satu atau lebih kreditornya.
2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
juga diajukan oleh kejaksaan untuk kepentingan umum.
3) Dalam hal Debitor adalah bank, permohonan pernyataan
pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia.

243

Kepailitan
Pasal 2
3) Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Efek, Bursa Efek,
Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan
Penyelesaian, permohonan pernyataan pailit hanya dapat
diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal.
4) Dalam hal Debitor adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan
Reasuransi, Dana Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara
yang bergerak di bidang kepentingan publik, permohonan
pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri
Keuangan.

244

Kepailitan
Pasal 8
(4) Permohonan pernyataan pailit harus
dikabulkan apabila terdapat fakta atau
keadaan yang terbukti secara sederhana
bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1) telah dipenuhi.

245

Kepailitan
Pasal 11
(1) Upaya hukum yang dapat diajukan terhadap
putusan atas permohonan pernyataan pailit
adalah kasasi ke Mahkamah Agung.
(2) Permohonan kasasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diajukan paling lambat 8 (delapan)
hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan
kasasi diucapkan, dengan mendaftarkan kepada
Panitera Pengadilan yang telah memutus
permohonan pernyataan pailit.
246

PKPU

Pasal 222
(1) Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diajukan oleh Debitor yang mempunyai lebih dari 1
(satu)
Kreditor atau oleh Kreditor.
(2) Debitor yang tidak dapat atau memperkirakan tidak akan dapat melanjutkan membayar utangutangnya
yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon penundaan kewajiban pembayaran
utang,
dengan maksud untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran
sebagian
atau seluruh utang kepada Kreditor.
(3) Kreditor yang memperkirakan bahwa Debitor tidak dapat melanjutkan membayar utangnya yang
sudah
jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon agar kepada Debitor diberi penundaan kewajiban
pembayaran utang, untuk memungkinkan Debitor mengajukan rencana perdamaian yang meliputi
tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada Kreditornya.

247

PKPU
Pasal 222
(1) Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diajukan
oleh Debitor yang mempunyai lebih dari 1 (satu)
Kreditor atau oleh Kreditor.
(2) Debitor yang tidak dapat atau memperkirakan tidak
akan dapat melanjutkan membayar utang-utangnya
yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat
memohon penundaan kewajiban pembayaran utang,
dengan maksud untuk mengajukan rencana
perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran
sebagian atau seluruh utang kepada Kreditor.
248

PKPU
(3) Kreditor yang memperkirakan bahwa
Debitor tidak dapat melanjutkan membayar
utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat
ditagih, dapat memohon agar kepada
Debitor diberi penundaan kewajiban
pembayaran utang, untuk memungkinkan
Debitor mengajukan rencana perdamaian
yang meliputi tawaran pembayaran sebagian
atau seluruh utang kepada Kreditornya.
249

PKPU
Pasal 227
Penundaan kewajiban pembayaran utang sementara berlaku sejak
tanggal putusan penundaan kewajiban pembayaran utang tersebut
diucapkan dan berlangsung sampai dengan tanggal sidang
diselenggarakan.
Pasal 229
(1) Pemberian penundaan kewajiban pembayaran utang tetap
berikut perpanjangannya ditetapkan oleh Pengadilan berdasarkan:
a. persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah kreditor
konkuren yang haknya diakui atau sementara diakui yang hadir
dan mewakili paling sedikit 2/3 (dua pertiga) bagian dari
seluruh tagihan yang diakui atau yang sementara diakui dari
kreditor konkuren atau kuasanya yang hadir dalam sidang
tersebut; dan
250

PKPU
b.

persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah Kreditor yang


piutangnya dijamin dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan,
hipotik, atau hak agunan atas kebendaan lainnya yang hadir dan
mewakili paling sedikit 2/3 (dua pertiga) bagian dari seluruh tagihan
Kreditor atau kuasanya yang hadir dalam sidang tersebut.

Pasal 230
(1) Apabila jangka waktu penundaan kewajiban pembayaran utang
sementara berakhir, karena Kreditor tidak menyetujui pemberian
penundaan kewajiban pembayaran utang tetap atau perpanjangannya
sudah diberikan, tetapi sampai dengan batas waktu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 228 ayat (6) belum tercapai persetujuan terhadap
rencana perdamaian, pengurus pada hari berakhirnya waktu tersebut
wajib memberitahukan hal itu melalui Hakim Pengawas kepada
Pengadilan yang harus menyatakan Debitor Pailit paling lambat pada hari
berikutnya.

251

TERIMAKASIH

252