Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Secara teoritis manusia sama derajatnya, tetapi dalam kenyataan hidup di masyarakat
ada penghargaan yang berbeda terhadap sekelompok manusia berdasarkan kelebihan yang
dimiliki seperti: kekayaan, kekuasaan, pendidikan dan keturunan. Adanya penilaian yang
berbeda ini menimbulkan terjadinya pengelompokan masyarakat yang selanjutnya dikenal
dengan nama golongan sosial (istilah sosiologinya: stratifikasi sosial / pelapisan sosial ).
Sejak manusia hidup bersama dalam masyarakat dan selama dalam masyarakat ada
sesuatu yang dihargai, baik benda ekonomis (kekayaan), kekuasaan, keturunan, ilmu
pengetahuan dsb, maka sesuatu yang dihargai tersebut akan menjadi bibit timbulnya sistem
penggolongan sosial atau pelapisan sosial dalam masyarakat. Masyarakat telah mengenal
sistem pembagian atau penggolongan masyarakat sejak dahulu. Aristoteles telah menyatakan
bahwa dalam setiap negara selalu terdapat tiga unsur yaitu orang kaya sekali, orang melarat,
dan orang yang berada di tengahnya.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana proses timbulnya golongan sosial?
2. Apa yang dimaksud dengan golongan sosial?
3. Bagaimana dasar-dasar dan karakteristik pembentukan golongan sosial?
4. Bagaimana pembagian golongan dalam masyarakat?
5. Bagaimana sifat sistem dan fungsi penggolongan sosial dalam masyarakat?
6. Bagaimana kaitan penggolongan sosial dengan pendidikan?

1.3 TUJUAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Untuk mengetahui proses timbulnya golongan sosial


Untuk mengetahui pengertian golongan sosial
Untuk mengetahui dasar-dasar dan karakteristik pembentukan golongan sosial
Untuk mengetahui pembagian golongan sosial dalam masyarakat
Untuk mengetahui sifat sistem dan fungsi penggolongan sosial dalam masyarakat
Untuk mengetahui kaitan penggolongan sosial dengan pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Proses Timbulnya Penggolongan dalam Masyarakat

Sejak manusia hidup bersama dalam masyarakat dan selama dalam


masyarakat ada sesuatu yang dihargai, baik benda ekonomis (kekayaan),
kekuasaan, keturunan, ilmu pengetahuan dsb, maka sesuatu yang dihargai tersebut
akan menjadi bibit timbulnya sistem penggolongan sosial atau pelapisan sosial
dalam

masyarakat.

Masyarakat

pembagian atau penggolongan

telah

masyarakat

sejak

mengenal

sistem

dahulu. Aristoteles

telah

menyatakan bahwa dalam setiap negara selalu terdapat tiga unsur yaitu orang kaya
sekali, orang melarat, dan orang yang berada di tengahnya.
Golongan sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya sebagai
hasil proses

pertumbuhan

masyarakat.

Faktor penyebabnya

antara lain:

kemampuan/kepandaian, umur, jenis kelamin, sifat keaslian, keanggotaan


masyarakat dll. Faktor penentu dari setiap masyarakat berbeda-beda, misalnya pada
masyarakat berburu faktor penentunya adalah kepandaian berburu.
Dalam

perkembangannya,

ada

pula

golongan

sosial

yang

sengaja

berbentuk/disusun untuk mengejar tujuan/kepentingan tertentu, biasanya berkaitan


dengan

pembagian

kekuasaan

dalam

suatu

organisasi

formal

misalnya

pemerintahan, partai politik, sekolah, universitas, perusahaan, kemiliteran dsb.

2.2 Pengertian Golongan Sosial


Secara teoritis manusia sama derajatnya, tetapi dalam kenyataan hidup di
masyarakat ada penghargaan yang berbeda terhadap sekelompok manusia
berdasarkan kelebihan yang dimiliki seperti: kekayaan, kekuasaan, pendidikan
dan keturunan. Adanya penilaian yang berbeda ini menimbulkan terjadinya
pengelompokan masyarakat yang selanjutnya dikenal dengan nama golongan
sosial (istilah sosiologinya: stratifikasi sosial / pelapisan sosial ).
Koentjaraningrat mengartikan golongan sosial adalah kesatuan manusia yang
ditandai oleh ciri-ciri tertentu dan memiliki identitas sosial serta idealisme. Ikatan
identitas sosial muncul karena adanya kesadaran identitas sebagai reaksi atas
3

pandangan pihak luar terhadap golongan sosial tersebut atau dapat pula terjadi
karena golongan sosial tersebut terikat oleh suatu sistem nilai, norma dan adat
istiadat tertentu.
Pitirim A. Sorokin menggunakan istilah pelapisan sosial yaitu pembedaan
penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat/hierarkhis.
Perwujudannya dikenal dengan adanya kelas sosial tinggi (upper class)
contohnya: pejabat, penguasa, dan pengusaha; kelas sosial menengah (midle
class) contohnya: dosen, pegawai negeri, pengusaha kecil dan menengah; kelas
sosial rendah (lower class) contohnya: buruh, petani, dan pedagang kecil.
2.3 Dasar-dasar dan Karakteristik Pembentukan Golongan Sosial
a. Dasar-dasar pembentukan Golongan Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, kriteria yang dipergunakan sebagai ukuran dalam
menggolongkan masyarakat ke dalam golongan sosial/pelapisan sosial adalah:
1. Ukuran Kekayaan
2. Unsur kekuasaan atau wewenang
3. Ukuran Ilmu Pengetahuan
4. Unsur kehormatan (keturunan)
b. Karakteristik Golongan Sosial
Beberapa karakteristik golongan sosial/pelapisan sosial yang terjadi di dalam suatu
masyarakat adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Adanya perbedaan status dan peranan


Adanya pola interaksi yang berbeda
Adanya distribusi hak dan kewajiban
Adanya penggolongan yang melibatkan kelompok
Adanya prestise dan penghargaan
Adanya penggolongan yang bersifat universal

2.4 Pembagian Golongan Sosial Dalam Masyarakat


Pembagian Golongan dalam Masyarakat
Berdasarkan karakteristik golongan sosial di atas, maka terdapat beberapa pembagian
golongan sosial sebagai berikut :

1. Sistem Golongan Sosial dalam Masyarakat Pertanian (Agraris), di dasarkan padahak dan
pola kepemilikan tanah, terbagi menjadi:
a. Golongan Atas : para pemilik tanah pertanian dan pekarang untuk rumah

tinggal

(penduduk inti).
b. Golongan Menengah: para pemilik tanah pekarangan dan rumah tapi tidak memiliki
tanah pertanian (kuli gendul).
c. Golongan Bawah : orang yang tidak memiliki rumah atau pekarangan (inding ngisor).

2. Sistem Golongan Sosial pada Masyarakat Feodal, di dasarkan pada hubungan


kekerabatan dengan raja/kepala pemerintahan, terbagi menjadi:
a. Golongan Atas : kaum kerabat raja atau bangsawan.
b. Golongan Menegah : rakyat biasa (kawula).
3. Sistem Golongan Sosial pada Masa Pemerintahan Kolonial, meliputi
a. Golongan Eropa, merupakan lapisan atas, terdiri orang Belanda, Eropa,
b.

Jepang .
Golongan Timur Asing, merupakan lapisan menengah, tediri keturunan

China dan Arab.


c. Golongan Bumi Putera, merupakan lapisan bawah, tediri dari pribumi atau
4.

bangsa Indonesia
Sistem Golongan Sosial dalam Masyarakat Industri, meliputi:
a. Golongan teratas terdiri para pengusaha besar atau pemilik modal
b. Golongan menengah atau madya terdiri dari tenaga ahli dan karyawan.
c. Golongan bawah seperti buruh kasar, pekerja setengah terampil, pekerja
sektor informal (pembantu).
Disamping berdasarkan karakteristik spt di atas, golongan sosial dapat pula dibagi
berdasarkan sudut pandang ekonomi, sosial, politik sebagaimana terurai di
bawah ini.
Berdasarkan bidang ekonomi, penggolongan masyarakat dibedakan menjadi:

1. Penggolongan masyarakat berdasarkan atas kepemilikan harta, yang terdiri tiga golongan,
yaitu:
a. Golongan atas yang terdiri orang-orang kaya.
b. Golongan menengah terdiri orang-orang yang sudah dapat mencukupi kebutuhan
pokoknya.
c. Golongan bawah yang terdiri orang-orang miskin.
2. Penggolongan masyarakat berdasarkan profesi
terdirienam golongan, yaitu:
5

mata

pencaharian,

yang

a. Golongan elite, yaitu orang-orang kaya, yang punya kedudukan/pekerjaan


terpandang.
b. Golongan profesional, yaitu mereka yang bergelar sarjana dan yang berhasil
c.
d.
e.
f.

dalam dunia profesinya.


Golongan semi professional, yang terdiri pedagang, teknisi, pegawai kantor.
Golongan tenaga trampil, seperti tukang cukur, pekerja pabrik, juru tulis.
Tenaga semi terlatih, seperti sopir, pelayan restoran.
Tenaga tidak terlatih, seperti pembantu rumah tangga, tukang kebun.
Berdasarkan bidang sosial, penggolongan masyarakat dibedakan berdasarkan

status sosial. Contohnya pembagian kasta di Bali, yang terdiri Brahmana,


Ksatria,Waisya yang ketiganya disebut golongan Triwangsa dan kasta Sudra (kasta
ini disebut Jaba dan sebagai golongan terbesar di Bali).
Golongan Triwangsa dan Jaba berhak memakai tanda gelar yang terlihat pada
nama depannya, yaitu:
1)
2)
3)
4)

Kasta Brahmana = Ida Bagus, I Gusti, Ida Ayu.


Kasta Ksatria
= Cokorda, Dewa, Ngakan.
Kasta Waisya
= Bagus, Gusti
Kasta Sudra
= Pande, Lebon, Sawan, Pulosari

Berdasarkan bidang politik, penggolongan masyarakat berdasarkan kekuasaan atau


wewenang seseorang. Semakin tinggi kekuasaan akan menempatkan seseorang
pada golongan atas. Contohnya dalam kemiliteran:
1)
2)
3)

Golongan atas terdiri Jenderal, Perwira Tinggi


Golongan menengah terdiri para Bintara, dan Serda hingga Mayor
Golongan bawah terdiri para Prajurit sampai Kopral Kepala

2.5 Sifat Sistem dan Fungsi Penggolongan Sosial dalam Masyarakat


a. Sifat Sistem Penggolongan Sosial
Klasifikasi dari sifat sistem penggolongan sosial, meliputi tersebut di bawah ini.
1) Sistem lapisan tertutup: sistem yang tidak memungkinkan seseorang pindah ke
golongan/lapisan sosial lain. Contohnya kasta di Bali dan India.
2) Sistem lapisan terbuka: sistem yang memungkinkan seseorang pindah / naik ke golongan
sosial atasnya. Contohnya pedangan kecil yang giat berusaha dengan keras dapat mjd
pengusaha atau konglomerat.
6

3) Sistem campuran: sistem kombinasi antara terbuka dan tertutup. Misalnya seorang
bangsawan Solo yang dihormati masyarakat Solo, ketika pindah Jakarta harus
menyesuaikan dengan aturan kelompok masyarakat yang baru dan dia akan diperlakukan
sesuai kedudukannya di tempat yang baru.
b. Fungsi Golongan sosial
Golongan sosial memiliki fungsi-fungsi berikut ini:
1) Distribusi hak istimewa yang obyektif seperti penghasilan, kekayaan.
2) Sistem pertanggaan pada strata/tingkat yang diciptakan masyarakat menyangkut prestise
dan penghargaan.
3) Penentu simbol status/kedudukan seperti cara berpakaian, tingkah laku.
4) Alat solidaritas di antara individu/kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama
dalam masyarakat.

2.6 Penggolongan Sosial Menurut Tingkat Pendidikan


2.6.1 TINGKAT PENDIDIKAN DAN GOLONGAN SOSIAL
Dalam berbagai studi, disebutkan tingkat pendidikan tertinggi yang didapatkan
seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya.Menurut penelitian memang
terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial yang seseorang dengan tingkat
pendidikanyang telah ditempuhnya, meski demikian pendidikan yang tinggi tidak
dengan sendirinya menjamin kedudukan sosial yang tinggi. Korelasi antara pendidikan
dan golongan sosial antara lainterjadi karena anak dari golongan rendah kebanyakan
tidak melanjutkan pelajarannya sampai perguruan tinggi.Sementara orang yang
termasuk golongan atas beraspirasi agar anaknya menyelesaikan pendidikan sampai
perguruan tinggi. Orang yang berkedudukan tinggi, bergelar akademis, yang
mempunyai penapatan besar tinggal dirumah elite dan merasa termasuk golongan atas
akan

mengusahakan

anknya

masuk

universitas

dan

memperoleh

gelar

akademis.Sebaliknya anak yang orangtuanya buta huruf mencari nafkahnya dengan


7

mengumpulkan puntung rokok , tinggal digubuk kecil, tak dapat diharapkan akan
mengusahakan

anaknya

menikmati

perguruan

tinggi.

Ada

faktor

yang

mempengaruhitingkat pendidikan seorang anak, Yaitu:


1.Pendapaan orangtua.
2.Kurangnya perhatian akan pendidikan dikalangan orangtua.
3.Kurangnya minat si anak untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

2.6.2 GOLONGAN SOSIAL DAN JENIS PENDIDIKAN


Golongan sosial tidak hanya berpengaruh terhadap tingginya jenjang
pendidikan anak tetapi juga berpengaruh terhadap jenis pendidikan yang dipilih.
Tidak semua orangtua mampu membiayai studi anaknya diperguruan tinggi.Pada
umumnya anak-anak yang orangtuanya mampu, akan memilih sekolah menengah
umum sebagai persiapan untuk belajar di perguruan tinggi.Sementara orangtua
yang mengetahui batas kemampuan keuangannya akan cenderung memilih sekolah
kejuruan bagi anaknya, dengan pertimbangan setelah lulus dari kejuruan bisa
langsung

bekerja

sesuai

dengan

keahliannya.

Dapat diduga sekolah kejuruan akan lebih banyak mempunyai murid dari glongan
rendah daripada yang berasal dari golongan atas. Karena itu sekolah menengah
dipandang lebih tinggi statusnya daripada sekolah kejuruan.Demikian pula dengan
mata pelajaran atau bidang studi yang berkaitan dengan perguruan tinggi dipandang
mempunyai status yang lebih tinggi , misal matematika, fisika dipandang lebih
tinggi daripada Tata buku.Sikap demikian bukan hanya terdapat dikalangan siswa
tetapi juga dikalangan orangtua dan guru yang dengan sengaja atau tidak sengaja
menyampaikan sikap itu kepada anak-anaknya.

2.6.3 PENDIDIKAN MENURUT PERBEDAAN SOSIAL

Pada umumnya dinegara demokrasi, orang sukar menerima, adanya


golongan-golongan sosial dalam masyarakat. Menurut Undang-Undang semua
warga negara sama, dalam kenyataannya tak dapat disangkal adanya perbedaan
sosial itu, yang tampak dari sikap rakyat biasa terhadap pembesar, orang miskin
terhadap orang kaya, pembantu terhadap majikan, dan lain-lain. Perbedaan itu
nyata dalam symbol-simbol status seperti; mobil mewah, rumah mentereng, perabot
luks, dll. Suka atau tidak suka perbedaan sosial terdapat disepanjang masa,
walaupun

sering

perbedaan

tidak

selalu

mencolok.

Pendidikan bertujuan untuk membekali setiap anak agar masing-masing dapat maju
dalam hidupnya mencapai tingkat setinggi-tingginya. Akan tetapi sekolah sendiri
tidak mampu meniadakan, batas-batas tingkat sosial itu. Pendidikan selalu
merupakan bagian dari sistem sosial. Namun, segera timbul keberatan terhadap
pendirian yang demikian. Karena dianggap bertentangan dengan prinsip demokrasi
dengan mengadakan driskriminasi dalam pendidikan. Cara demikian akan
memperkuat penggolongn sosial dan menghambat mobilitas sosial yang diharapkan
dari pendidikan. Harapan ini tidak mudah diwujudkan karena banyak daya-daya
lain duluar sekolah yang menibulkan, stratifikasi sosial yang jauh lebih kuat
daripada pendidikan formal. Pada saat ini sekolah-sekolah meneruskan cita-cita
untuk menebarluaskan ideal dan norma-norma kesamaan dan mobilitas secara
verbal. Disamping adanya daya-daya stratifikasi yang berlangsung terus dalam
masyarakat. Ini berarti bahwa usaha untuk mengajarkan kesamaan dan mobilitas
akan

menghadapi

kesulitan

dalam

dunia

nyata.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Secara teoritis manusia sama derajatnya, tetapi dalam kenyataan hidup di masyarakat ada
penghargaan yang berbeda terhadap sekelompok manusia berdasarkan kelebihan yang
dimiliki seperti: kekayaan, kekuasaan, pendidikan dan keturunan. Adanya penilaian yang
berbeda ini menimbulkan terjadinya pengelompokan masyarakat yang selanjutnya dikenal
dengan nama golongan sosial (istilah sosiologinya: stratifikasi sosial / pelapisan sosial ).
Pendidikan dimulai dengan interaksi pertama individu itu dengan anggota masyarakat
lainnya,misalnya pada saat pertama kali bayi dibiasakan minum menurut waktu
tertentu.Dalam masyarakat primitif tidak ada pendidikan formal yang tersendiri .Setiap anak
harus belajar dari lingkungan sosialnya dan harus menguasai sejumlah kekuatan yang
diharapkan pada saatnya tanpa ada nya guru tertentu yang bertanggung jawab atas
kelakuannya.
Ada faktor penghambat mobilitas seperti agama,kesukuan, jenis kelamin dan sebagainya.
Kenaikan golongan sosial dapat diselidiki dengan (a) meneliti riwayat pekerjaan seseorang,
(b) membandingkan kedudukan sosial indidu dengan kedudukan orang tuanya,. Jadi tidak
ada negara yang sepenuhnya terbuka atau tertutup bagi mobilitas sosial, kerena dalam

10

masyarakat terbuka orang lebih mudah naik kegolongan sosial yang lebih tinggi.
3.2 Saran
Yang dapat disampaikan oleh penulis kepada pembaca agar pembaca memahami isi
dari makalah yang telah kami selesaikan serta diharapkan pembaca dapat memberikan kritik
dan saran demi penyempurnaan ini.

DAFTAR PUSTAKA
Idi , Abdullah, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2013.
Damanik. S. Fritz Hotman, Sosiologi, Klaten : PT Intan Pariwara, 2009.
Syarbaini. Syahrial, Sosiologi dan Politik, Jakarta : Ghaila Indonesia, 2002.
Nasution, S. Sosiologi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara , 2011.
Batubara, Abd. Muhyi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : PT Ciputat Press, 2004.
H Gunawan, Ary, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 2000.
Unimed, Tim Dosen, Dasar-Dasar Antropologi/Sosiologi, Medan , 2011.
Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2012.
http://bayuekayulian.blogspot.com/2007/06/stratifikasi sosial dalam masyarakat-27.html. diakses
pada tanggal 22/02/2016

11