Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Thyphoid merupakan permasalahan kesehatan penting dibanyak negaraberkembang.
Secara global, diperkirakan 17 juta orang mengidap penyakit ini tiap tahunnya. Di
Indonesia diperkirakan insiden demam typhoid adalah 300 810 kasus per 100.000
penduduk pertahun, dengan angka kematian 2%. (Sudono, 2006).
Thypoid abdominalis banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat kita, baik di
perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kualitas
kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan seperti lingkungan kumuh, kebersihan tempattempat umum yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk hidup
sehat. Di Indonesia penyakit ini bersifat endemik. Telaah kasus di rumah sakit besar di
Indonesia kasus demam tifoid menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun
(Supari, 2006).
Demam tifoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada
umur 5- 9. Penularan dapat terjadi dimana saja, kapan saja, sejak usia seseorang mulai
dapat mengkonsumsi makanan dari luar, apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi
kurang bersih. Biasanya baru dipikirkan suatu demam tifoid bila terdapat demam terusmenerus lebihdari 1 minggu yang tidak dapat turun dengan obat demam dan diperkuat
dengan kesan anak baring pasif, nampak pucat, sakit perut, tidak buang air besar atau diare
beberapa hari (BahtiarLatif, 2008).
Dari uraian tersebut, jelas bahwa anak-anak sangat rentan untuk mengalami demam
tifoid. Thypoid sebenarnya dapat menyerang semua golongan umur, tetapi biasanya
menyerang anak usia lebih dari 5 tahun. Itulah sebabnya demam tifoid merupakan salah
satu penyakit yang memerlukan perhatian khusus. Penularan penyakit ini biasanya
dihubungkan dengan faktor kebiasaan makan, kebiasaan jajan, kebersihan lingkungan,
keadaan fisik anak, daya tahan tubuh dan derajat kekebalan anak.
Perlu penanganan yang tepat dan komprehensif agar dapat memberikan pelayanan
yang tepat terhadap pasien. Tidak hanya dengan pemberian antibiotika, namun perlu juga

asuhan keperawatan yang baik dan benar serta pengaturan diet yang tepat agar dapat
mempercepat proses penyembuhan pasien dengan thypoid.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah proses pembelajaran, diharapkan mahasiswa mampu melakukan asuhan
keperawatan sistem integumen pada klien dengan Thypoid.
1.2.2

Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu memahami:
a Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan
b Definisi Thypoid
c Etiologi Thypoid
d Patogenesis Thypoid
e Manifestasi Klinis Thypoid
f Pencegahan Thypoid
g WOC Thypoid
h Pemeriksaan Penunjang Thypoid
i Penatalaksanaan Thypoid
j Komplikasi Thypoid

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi

Jejunum

Gambar 1. Sistem Pencernaan Tubuh Manusia


Sistem pencernaan atau sistem gastrointestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah
sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi
zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian
makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.

Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan,


lambung, usus halus, usus besar, rectum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi
organ-organ yang terletak di luar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung
empedu.
1.

Usus Halus (usus kecil)


Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak
di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang
mengangkut zat-zat yang

diserap

ke

hati

melalui vena porta. Dinding usus

melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan
pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah
kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.

a. Usus Dua Belas Jari


Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal,

yang tidak terbungkus

seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada
derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari
pancreas dan kantung empedu. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum
digitorum, yang berarti dua belas jari.
b. Usus Kosong (Jejunum)
Usus kosong atau jejenum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian dari
usus halus, diantara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada
manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah
bagian usus kosong.
Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili),
yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis dapat dibedakan dengan usus
dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar Brunner. Secara hitologis pula dapat
dibedakan dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit
sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan secara makroskopis.
c. Usus Penyerapan (Ileum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem
pencernaan manusia, ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum
dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8
(netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.
2. Usus Besar (Kolon)
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan
rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus besar terdiri dari :
kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon desendens (kiri), kolon sigmoid
(berhubungan dengan rectum). Banyaknya bakteri yang terdapat didalam usus besar
berfungsi mencerna makanan beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.

3. Usus Buntu (Sekum)


Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin : caecus, buta) dalam istilah anatomi adalah
suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari
usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis

reptil.

Sebagian besar herbivore memiliki sekum yang besar, sedangkan karnivora ekslusif
memiliki yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.
4.Umbai Cacing (Appendix)
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada
organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis
menyebabkan

apendiks

pecah

yang

parah

dapat

dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen

atau peritonitis (infeksi rongga abdomen). Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau
dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah ujung buntu
tabung yang menyambung dengan caecum.

5. Rectum dan Anus


Rectum adalah sebuah ruangan yang berawal dari usus besar (setelah kolon sigmoid)
dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limba keluar dari
tubuh. Sebagian besar anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian
lainnya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot spinter.
2.2 Definisi Thypoid
Penyakit demam tifoid (typhoid fever) yang biasa disebut tifus merupakan penyakit
yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, khususnya turunannya yaitu Salmonella typhi
yang menyerang bagian saluran pencernaan. Selama terjadi infeksi, kuman tersebut
bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke
aliran darah (Algerina, 2008)

Demam

tifoid

termasuk

penyakit

menular

yang

tercantum

dalam

Undangundang nomor 6 Tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular


ini merupakan penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang
sehingga dapat menimbulkan wabah (Sudoyo A.W., 2010).
Penularan Salmonella typhi sebagian besar melalui minuman/makanan yang
tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa kuman dan
biasanya keluar bersama-sama dengan tinja. Transmisi juga dapat terjadi secara
transplasenta dari seorang ibu hamil yang berada dalam bakteremia kepada bayinya
(Soedarno et al, 2008).
2.3 Etiologi Thypoid
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi dari
Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatif, tidak membentuk spora,
motil, berkapsul dan mempunyai flagela (bergerak dengan rambut getar). Bakteri ini dapat
hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan debu.
Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 600C) selama 15 20 menit, pasteurisasi,
pendidihan dan khlorinisasi (Rahayu E., 2013).
Salmonella typhi adalah bakteri batang gram negatif yang menyebabkan demam
tifoid. Salmonella typhi merupakan salah satu penyebab infeksi tersering di daerah
tropis, khususnya di tempat-tempat dengan higiene yang buruk (Brook, 2001).
2.4 Patogenesis Thypoid
Salmonella typhi masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi
kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke
usus halus dan berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa IgA usus kurang
baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel dan selanjutnya ke lamina propia. Di
lamina propia kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh
makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya
dibawa ke plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika.
Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke
dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama yang asimptomatik) dan
menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di organorgan ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel

atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi yang
mengakibatkan bakteremia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala
penyakit infeksi sistemik, seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala dan sakit perut
(Sudoyo A.W., 2010).
2.5 Manifestasi Klinis Thypoid
Gejala Klinis yang biasa ditemukan pada penyakit Thypoid, yaitu :
1. Demam
Pada kasus kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris
remitten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh
berangsur angsur meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu
kedua,penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu
badan berangsur angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas bau tidak sedap, bibir kering dan pecah pecah. Lidah
ditutupi selaput putih kotor, ujung ditemukan kemerahan , jarang ditemui
tremor.Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan limfa
membesar disertai nyeri pada perabaan.Biasanya didapatkan konstipasi akan tetapi
mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.

3. Gangguan keasadaran

Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam yaitu apatis
sampai samnolen. Jarang stupor, koma atau gelisah.
Disamping gejala gejala yang biasanya ditemukan tersebut, mungkin pula ditemukan
gejala lain. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan bintik bintik kemerahan
karena emboli basil dalam kapiler kulit.Biasanya dtemukan alam minggu pertama demam
kadang kadang ditemukan bradikardia pada anak besar dan mungkin pula ditemukan
epistaksis (Ilmu Kesehatan Anak,jilid 2,2003).
2.6 Pencegahan Thypoid
Secara umum untuk memperkecil kemungkinan tercemar (Salmonella Typhi ) maka
setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka
konsumsi. Salmonella Typhi di dalam air akan mati apabila di panaskan setinggi 570C
untuk beberapa menit atau dengan proses iodinasi atau klorinasi. Untuk makanan
pemanasan sampai suhu 570 C beberapa menit dan secara merata juga dapat mematikan
kuman Salmonella typhi. Penurunan endemisitas suatu negara atau daerah tergantung baik
pada baik buruknya pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan sampah serta

tingkat kesadaran individu terhadap higiene pribadi. Imunisasi aktif dapat membantu
menekan angka kejadian demam typhoid. ( Sumarmo S.dkk 2008 ).
2.7 Pemeriksaan Diagnostik Thypoid
Penegakan diagnosis demam tifoid didasarkan pada manifestasi klinis yang diperkuat
oleh pemeriksaan laboratorium penunjang. Penelitian yang menggunakan berbagai metode
diagnostik untuk mendapatkan metode terbaik dalam usaha penatalaksanaan penderita
demam

tifoid

secara

menyeluruh

masih

terus

dilakukan

hingga

saat

ini

(Sudoyo A.W., 2010).


Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium,
yang terdiri dari :
1. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali

2.

normal setelah sembuhnya typhoid.


Biakan Darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan
darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini
dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :

Teknik pemeriksaan Laboratorium


Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal
ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu
pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat
bakteremia berlangsung.
Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi
dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah
negatif.
Pengobatan dengan obat anti mikroba.
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba
pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin
negatif.
3. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).
Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien
dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Tujuan dari
uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang

disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat
antibodi atau aglutinin yaitu :
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O, berasal dari tubuh
kuman
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H, berasal dari flagel
kuman
3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi, berasal dari simpai
kuman
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
2.8 Penatalaksanaan Thypoid
Penalaksanaan thypoid terdiri dari 3 bagian yaitu :
1. Perawatan
Penderita thypoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi dan
pengobatan. Penderita harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari. Besar
demam / kurang lebih selama 14 hari. Maksud tirah baring adalah untuk
mencegah komplikasi perdarahan / perforasi usus. Penderita dengan kesadaran
menurun, posisi tubuhnya

harus

diubah-ubah

pada

waktu tertentu untuk

menghindari komplikasi pneumonia hipostaltik dan dekubitus.


2. Diet
Dimasa lalu penderita tifoid diberi bubur saring, kemudian bubur kasar dan
akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan penderita. Pemberian bubur saring ini
dimaksudkan untuk menghindari

komplikasi perdarahan usus, karena ada

pendapat bahwa ulkus-ulkus perlu diistirahatkan. Banyak penderita tidak


menyukai bubur saring karena tidak sesuai dengan selera mereka. Karena
mereka hanya makan sedikit dan ini berakibat keadaan umum dan gizi
penderita semakin mundur dan masa penyembuhan menjadi lama. Makanan
padat dini, yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan
serat kasar) dapat diberikan dengan aman pada penderita tifoid.
3. Obat
Obat obat anti mikroba yang sering dipergunakan ialah :
a. Kloramfenikol, Tiamfenikol, Kotrimoksazol
Belum ada obat anti mikroba yang dapat menurunkan demam lebih cepat
dibandingkan dengan kloramfenikol. Dengan penggunan kloramfenikol, demam
pada demam tifoid turun rata-rata setelah 5 hari.
b. Ampicillin dan Amoksilin

Indikasi mutlak pengunaannya adalah pasien demam thypid dengan leokopenia.


Obat ini digunakan sampai 7 hari bebas demam. Dengan ampicillin dan
amoksisilin demam pada demam tifoid turun rata-rata setelah 7-9 hari.
c.

Sefalosforin generasi ketiga


Beberapa uji klinis menunjukan sefalosporin

generasi

ketiga

amtara lain

sefiperazon, seftriakson dan cefotaksim efektif untuk demam thypoid, tatapi


d.

dan lama pemberian yang oktimal belum diketahui dengan pasti.


Fluorokinolon
Fluorokinolon efektif untuk untuk demam thypoid, tetapi dosis dan lama
pemberian yang optimal belum diketahui dengan pasti.
Obat-obat Simtomatik:
a. Antipiretik
Antipiretika tidak perlu diberikan secara rutin pada setiap pasien demam
thypoid, karena tidak dapat berguna.
b. Kortikosteroid
Pasien yang toksik dapat diberikan kortikosteroid oral atau parenteral dalam
dosis yang menurun secara bertahap selama 5 hari. Hasilnya biasanya sangat
memuaskan, kesadaran pasien menjadi jernih dan suhu badan cepat turun
sampai normal. Akan tetapi kortikosteroid tidak boleh diberikan tanpa indikasi,
karena dapat menyebabkan perdarahan intestinal dan relaps.
2.9 Komplikasi Thypoid
Komplikasi thypoid dibagi menjadi 2 bagian :
a. Komplikasi Intestinal
Perdarahan Usus
Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang tidak
membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita
mengalami syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila

terdapat perdarahan sebanyak 5 ml/kgBB/jam.


Perforasi Usus
Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada minggu
ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita demam tifoid
dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah kuadran
kanan bawah yang kemudian meyebar ke seluruh perut. Tanda perforasi lainnya

adalah nadi cepat, tekanan darah turun dan bahkan sampai syok.
b. Komplikasi Extraintestinal
Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis), miokarditis,

Komplikasi darah :, koaguolasi intravaskuler diseminata, dan sindrom uremia

hemolitik.
Komplikasi paru : pneumoni, empiema, dan pleuritis
Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolelitiasis
Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis
Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis
Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis,

4. BAB 3
5. ASUHAN KEPERAWATAN
6.

A. Pengkajian
1. Identitas
7. Beberapa komponen yang ada pada identitas meliputi nama, jenis
kelamin, umur, alamat, suku bangsa, agama, No.registrasi, pendidikan,
pekerjaan, tinggi badan, berat badan, tanggal dan jam masuk Rumah
Sakit.
2. Keluhan Utama
8. Keluhan utama yang dirasakan oleh klien typhoid biasanya mengeluh
adanya demam.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
9. Umumnya yang dirasakan pada klien dengan typhoid adalah demam,
perut terasa mual, adanya anorexia, diare atau konstipasi,dan bahkan
menurunnya kesadaran.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
10. Perlu ditanyakan apakah klien sebelumnya pernah mengalami typhoid
atau penyakit menular yang lain.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
11. Ditanyakan apakah keluarga pernah menderita penyakit yang sama atau
penyakit yang lainnya.
6. Pola nutrisi dan metabolik
12. Adanya nausea dan vomitus serta anorexia akan mempengaruhi status
gizi. Pengukuran TB dan BB jika memungkinkan akan memperlihatkan
adanya penurunan atau peningkatan status gizi klien.
13.

B. Pemeriksaan Fisik

14.

B1 (Breathing)

Biasanya tidak ada masalah, tetapi pada kasus berat bisa

didapatkan komplikasi yaitu adanya pneumonia.


15.

B2 (Blood) :
TD menurun, diaforesis terjadi pada minggu pertama, kulit pucat,

akral dingin, penurunan curah jantung dengan adanya bradikardi, kadang


terjadi anemia, leukopeni pada minggu awal, nyeri dada, dan kelemahan
fisik.
16.

B3 (Brain)
Pada klien dengan typhoid biasanya terjadi delirium dan diikuti

penurunan kesadaran dari composmentis ke apatis,somnolen hingga koma


pada pemeriksaan GCS.

B4 (Bladder) Tidak ditemukan masalah

B5 (Bowel)
17.
Lidah kotor, terdapat selaput putih, lidah hiperemis, stomatitis,
muntah,kembung, adanya distensi abdomen dan nyeri abdomen, diare atau
konstipasi, penurunan bising usus kurang dari 5x/menit pada minggu
pertama dan selanjutnya meningkat akibat adanya diare. adanya hepatomegali,
splenomegali, mengidentifikasi adanya infeksi pada minggu kedua. Adanya
nyeri tekan pada abdomen.
B6 (Bone)
Adanya respon sistemik yang menyebabkan malaise. Kelemahan

18.

umum. Integumen : timbulnya roseola (emboli dari kuman dimana


didalamnya mengandung kuman Salmonella Ttyphosa , yang timbul
diperut, dada, dan bagian bokong), turgor kulit menurun, kulit kering
(Muttaqin, 2011).
19.

C. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella typhosa
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat akibat mual,muntah dan anorexia.
3. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada hati dan limpa.
4. Gangguan pola eliminasi : konstipasi berhubungan dengan gangguan
absorbsi pada usus halus
5. Cemas berhubungan dengan proses hospitalisasi
20.

D. Intervensi Keperawatan
1. Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thyposa
21.
NOC :
termoregulasi; keseimbangan antara produksi panas, peningkatan panas

dan kehilangan panas


termoregulasi: neonates; keseimbangan antara produksi panas, peningkatan

panas dan kehilangan panas selama 28 hari pertama kehidupan


tanda-tanda vital; nilai suhu, nadi, pernapasan dan TD dalam rentang

normal
22. NIC
Pantau hidrasi (turgor kulit, kelembapan mukosa)
pantau TD, Nadi dan pernapasan
kaji ketepatan jenis pakaian yang digunakan sesuai dengan suhu lingkungan
pantau suhu minimal setiap dua jam sesuai dengan kebutuhan
Berikan obat antipiretik jika perlu

Gunakan waslap dingin di aksila, kenin, tengkuk, dan lipatan paha


Maksimalkan asupan cairan oral
23.

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake


yang tidak adekuat akibat mual,muntah dan anorexia.
24. NOC

Selera makan; keinginan untuk makan ketika dalam keadaan sakit atau

sedang menjalani pengubatan


Pembentukan pola menyusu: bayi; bayi melekat ked an menghisap dari
payudara ibu untuk memperoleh nutrisi selama tiga minggu pertama

menyusui
Status gizi; tingkat ketersediaan zat gizi untuk memenuhi kegiatan metabolic
Status gizi: pengukuran biokimia; komponen dan kimia cairan yang

mengindikasikan status nutrisi


Status gizi: asupan makanan dan cairan; jumlah makanan dan cairan yang

dikonsumsi tubuh dalam waktu 24 jam


Status gizi: asupan gizi; keadekuatan pola asupan zat gizi yang biasanya

25. NIC

Kaji Selera makan; keinginan untuk makan ketika dalam keadaan sakit atau

sedang menjalani pengubatan


Kaji Berat badan dan tingkat kesesuaian berat badan
Manajemen nutrisi; tentukan dengan melakukan kolaborasi dengan ahli gizi
jika diperlukan jumlah kalori, dan jenis zat gizi yang dibutuhkan untuk

memenuhi kebutuhan nutrisi.


Buat perencanaan makan sesuai dengan selera pasien
Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien
Suapi pasien jika perlu
Manajemen nutrisi: berikan pasien minuman dan kudapan bergizi tinggi
protein, tinggi kaori yang siap dikonsumsi dan ajarkan pasien tentang cara
membuat jadwal makan jika perlu

Berikan obat antiemetic sesuai indikasi


Jagalah hygiene mulut pasien
26.

3. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada hati dan limpa

27.

NOC

Tingkat kenyamanan: tingkat persepsi positif terhadap kemudahan fisik psikologis


Pengendalian nyeri: tindakan individu untuk mengendaikan nyeri
Tingkat nyeri: keparahan nyeri yang dapat diamati atau dilaporkan
28.

29.

NIC

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik,


awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri dan factor
presipitasinya
Instruksikan pasien untuk menginformasikan pada perawat jika peredaan nyeri
tidak dapat dicapai
Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan
tawarkan strategi koping yang ditawarkan
Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan

berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur


Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi, distraksi, terapi)
Berikan analgesic sesuai indikasi
30.
31.

4. Gangguan pola eliminasi : konstipasi berhubungan dengan gangguan absorbsi


pada usus halus
32.
NOC
Bowel elimination
Hidrasi
33. NIC

Identifikasi faktor-faktor yang menyebabkan konstipasi

Monitor tanda-tanda ruptur bowel

Konsultasikan dengan dokter tentang peningkatan/penurunan bising usus

Kolaborasi dengan ahli gizi diet tinggi serat dan cairan

Sediakan privacy dan keamanan selama BAB

Berikan obat laxative jika perlu


34.

5. Cemas berhubungan dengan proses hospitalisasi


35.
NOC
Anxiety Control
Coping
36.
NIC

Gunakan pendekatan yang menenangkan


Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
Dorong keluarga untuk menemani anak
Dengarkan dengan penuh perhatian
Identifikasi tingkat kecemasan

Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi


Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi

37.
38.
39.
40.
41.
42.

43.STUDI KASUS
44.THYPOID
Klien kiriman UGD bernama An. D masuk ke ruang rawat inap anak pada

45.

hari sabtu 11 Juni 2011 jam 08.30 wib diantar oleh keluarga dengan keluhan demam naik
turun sejak hari selasa 7 Juni 2011, nafsu makan tidak ada, lemah, muntah 2x sejak hari
senin. Keluarga mengatakan pada hari selasa tersebut telah berobat ke puskesmas tetapi
panasnya tidak turun, kemudian pada hari kamis klien berobat ke poly anak RSI Ibnu
Sina dengan Dr.Hj. Rahmi Yetti K, SpA dan beliau menganjurkan agar klien periksa darah
ke lab dan dirawat di rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan darah, ternyata pasien
didiagnosa positif menderita thypoid, selama dirawat anak terlihat gelisah dan sering
menangis sehingga keluarganya cemas dan menginginkan anak agar segera pulang.
46.
ANALISA DATA :
47.

48. Data-Data

49. Masalah
Keperawatan

50. 51. DS :
52. Keluarga mengatakan demam naik turun,
1
klien mengatakan nyeri dan sakit pada kepala
53. DO :
54. Klien tampak gelisah, kulit kemerahan, suhu
tubuh meningkat sore-malam hari
56. 57. DS :
58. Keluarga mengatakan klien tidak mau
2
makan dan muntah sudah 2x, klien mengatakan
perutnya mual
59. DO :
60. Makan hanya habis porsi, mata cowong,
konjugtiva anemis

55. Hipertermi

62. Pemenuhan nutrisi


kurang dari
kebutuhan tubuh

61.

63. 64. DS :
65. Keluarga mengatakan anaknya sangat rewel,
3
keluarga selalu menanyakan kapan anaknya boleh

68. Cemas

pulang
66. DO :
67. Klien gelisah dan sering menangis, keluarga
ikut gelisah melihat anaknya menangis terus
69. DIAGNOSA KEPERAWATAN :

1.
2.
3.

Hipertermi b.d proses infeksi oleh salmonella thyposa


Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat
70.
akibat mual,muntah dan anorexia.
Cemas b.d proses hospitalisasi
71. INTERVENSI KEPERAWATAN :
1. Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thyposa
72.NOC :
termoregulasi; keseimbangan antara produksi panas, peningkatan panas dan

kehilangan panas
termoregulasi: neonates; keseimbangan antara produksi panas, peningkatan panas

dan kehilangan panas selama 28 hari pertama kehidupan


tanda-tanda vital; nilai suhu, nadi, pernapasan dan TD dalam rentang normal
73.NIC
Pantau hidrasi (turgor kulit, kelembapan mukosa)
pantau TD, Nadi dan pernapasan
kaji ketepatan jenis pakaian yang digunakan sesuai dengan suhu lingkungan
pantau suhu minimal setiap dua jam sesuai dengan kebutuhan
Berikan obat antipiretik jika perlu
Gunakan waslap dingin di aksila, kenin, tengkuk, dan lipatan paha
Maksimalkan asupan cairan oral
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat akibat mual,muntah dan anorexia.
74.NOC

Selera makan; keinginan untuk makan ketika dalam keadaan sakit atau sedang

menjalani pengubatan
Pembentukan pola menyusu: bayi; bayi melekat ked an menghisap dari payudara

ibu untuk memperoleh nutrisi selama tiga minggu pertama menyusui


Status gizi; tingkat ketersediaan zat gizi untuk memenuhi kegiatan metabolic
Status gizi: pengukuran biokimia; komponen dan kimia cairan yang

mengindikasikan status nutrisi


Status gizi: asupan makanan dan cairan; jumlah makanan dan cairan yang

dikonsumsi tubuh dalam waktu 24 jam


Status gizi: asupan gizi; keadekuatan pola asupan zat gizi yang biasanya
75.
76.
77.

78.

79.NIC

Kaji Selera makan; keinginan untuk makan ketika dalam keadaan sakit atau

sedang menjalani pengubatan


Kaji Berat badan dan tingkat kesesuaian berat badan
Manajemen nutrisi; tentukan dengan melakukan kolaborasi dengan ahli gizi jika
diperlukan jumlah kalori, dan jenis zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi

kebutuhan nutrisi.
Buat perencanaan makan sesuai dengan selera pasien
Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien
Suapi pasien jika perlu
Manajemen nutrisi: berikan pasien minuman dan kudapan bergizi tinggi protein,
tinggi kaori yang siap dikonsumsi dan ajarkan pasien tentang cara membuat

jadwal makan jika perlu


Berikan obat antiemetic sesuai indikasi
Jagalah hygiene mulut pasien
80.

3. Cemas berhubungan dengan proses hospitalisasi


81.
NOC
Anxiety Control
Coping
82.
NIC

Gunakan pendekatan yang menenangkan


Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
Dorong keluarga untuk menemani anak
Dengarkan dengan penuh perhatian
Identifikasi tingkat kecemasan
Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
83.

84.
85.

BAB 4
PENUTUP

a. Kesimpulan

86. Penyakit demam tifoid (typhoid fever) yang biasa disebut tifus merupakan
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, khususnya turunannya yaitu
Salmonella typhi yang menyerang bagian saluran pencernaan. Penyebab dari penyakit ini
adalah melalui minuman/makanan yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita
atau pembawa kuman dan biasanya keluar bersama-sama dengan tinja. Penyakit thypoid
ditandai dengan demam yang intermitten, mual dan muntah, serta bisa juga gangguan
kesadaran. Thypoid dapat dicegah dengan memperhatikan kualitas makanan dan
minuman yang mereka konsumsi. Salmonella Typhi di dalam air akan mati apabila di
panaskan setinggi 57 derajat celcius untuk beberapa menit atau dengan proses iodinasi
atau klorinasi. Diagnosa keperawatan pada klien dengan thypoid adalah hipertermi,
kurangnya intake nutrisi dari kebutuhan tubuh, gangguan pola eliminasi konstipasi, dan
cemas, dan nyeri akut.
b. Saran

87.

Sebagai mahasiswa keperawatan diharapkan

terus mempelajari asuhan keperawatan pada pasien dengan thypoid secara komprehensif.
88.
89.
90.
91.
92.
93.

7. DAFTAR PUSAKA
8.
9. Departemen Kesehatan RI. (2009). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008. Depkes RI,
Jakarta
10. Hidayat AA, (2006), Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, (Edisi 2), Jakarta, Salemba
Medika.
11. Mansjoer, Arif. (2009). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius.
12. Ngastiyah. ( 2005). Perawatan Anak Sakit . ed 2. Jakarta : EGC
13. Nursalam dkk, (2005), Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak, Jakarta, Salemba Medika.
14. Saifuddin, (2006), Anatomi Fisilogi Untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi 3, Jakarta :
EGC.
15. Soegeng Soegijanto. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan. Salemba
Medika. Jakarta. 2002.
16.

1.
2.
3.
4.

5.
6.

7.
8.

9.

10.

11.

12.

13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.