I.
Judul Percobaan
IDENTIFIKASI
JENIS
BAHAN PEWARNA
II.
III.
Selesai Percobaan
IV.
Tujuan Percobaan
Mengidentifikasi jenis bahan pewarna yang dipakai pada tahu kuning dan
Tinjauan Pustaka
Pewarna makanan merupakan benda berwarna yang memiliki afinitas kimia
terhadap makanan yang diwarnainya. Pemberian warna pada makanan umumnya
bertujuan agar makanan terlihat lebih menarik sehingga menimbulkan selera orang
untuk memakannya. Zat pewarna yang biasa digunakan sebagai zat aditif makanan
dibagi menjadi dua, yaitu : pewarna buatan/sintesis dan pewarna alami. Pewarna
sintesis merupakan pewarna yang dibuat dari bahan-bahan kimia, contohnya :
Tartazine (kuning), Carmoisine (merah), Brilliant Blue FCF (biru), dan sebagainya.
Sedangkan pewarna alami dibuat dari ekstrak bagian-bagian tumbuhan tertentu,
misalnya warna hijau dari daun pandan suji atau warna kuning dari kunyit, dan masih
banyak lainnya.
Kunyit merupakan salah satu indikator alami yang dapat menunjukkan sifat
asam dan basa suatu larutan. Indikator asam basa dari kunyit, akan memberikan warna
kuning ketika dilarutkan dalam larutan yang bersifat asam dan akan memberikan
warna merah ketika dilarutkan dalam larutan yang bersifat basa. Sedangkan daun
pandan suji tidak bisa digunakan sebagai indikator alami sama sekali karena pandan
suji tidak mengalami perubahan waran yang mencolok ketika diberi larutan asam/basa,
sehingga sulit bila digunakan sebagai indikator alami. Untuk menguji apakah warna
dari tahu kuning berasal dari kunyit atau bukan dapat digunakan air kapur, karena air
kapur bersifat basa.
VI.
-
1 buah
1 buah
2 buah
Gelas ukur 10 mL
Kertas saring
Plat tetes
Pipet tetes
Pisau
Pengaduk
Bahan :
Kunyit
Pandan suji
Sampel makanan
o Nasi kuning
o Tahu kuning
o Koci-koci
o Dadar gulung
Larutan etanol
Larutan HCl 1M
Larutan NaOH 1M
Air kapur
1 buah
2 buah
1 buah
5 buah
1 buah
1 buah
30 gram
30 gram
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya
10 mL
secukupnya
secukupnya
secukupnya
VII.
Cara Kerja
Alur percobaan
30
gram
kunyit Indikator Alami Kunyit sebagai Larutan Pembanding
a. Pembuatan
ditumbuk
Kunyit halus
Dipindahkan ke
dalam gelas kimia
+ 5 mL etanol
Diaduk hingga
homogen
Larutan disaring
dengan kertas saring
Pada tempat
yang berbeda
Plat tetes A
+ 2 tetes
HCl 1 M
Kuning (-)
Residu
Filtrat
Disimpan sebagai
pembanding
Plat tetes B
+ 2 tetes
NaOH 1 M
Merah
Merah
Larutan
Pembanding plat B
Merah
Tahu Kuning
30
gram pandan
suji
Sampel
tahu kuning
Larutan Kunyit
Dimasukkan dalam
ditumbuk
tabung reaksi
3 mL larutan air
Pandan suji+ halus
kapur
Dipindahkan ke
dalam gelas kimia
Kuning
+ 5 mL etanol
Diaduk hingga
homogen
Larutan disaring
dengan kertas saring
Dibandingkan
+ 10 tetes
air kapur
Merah
3 tetes larutan pandan suji (ekstraksi)
Diteteskan pada
plat tetes
Pada tempat
yang berbeda
c. Pembuatan Indikator Alami Pandan Suji sebagai Larutan Pembanding
Plat tetes B
Plat tetes A
Residu
Filtrat
+ 2 tetes
+ 2 tetes
NaOH 1 M
HCl 1 M
Disimpan sebagai
Hijau kekuningan
Kuning
pembanding
Dibandingkan
Larutan Pembanding
Plat A
IX.
ANALISIS DATA
Kami telah melakukan percobaan tentang identifikasi jenis bahan pewarna
yang bertujuan untuk mengidentifikasi bahan pewarna yang dipakai pada tahu
kuning dan beberapa jenis makanan lain.
Percobaan yang pertama , bertujuan untuk membuat indikator alami yang
digunakan sebagai larutan pembanding. Pertama, sebanyak sebanyak 30 gram kunyit
ditumbuk hingga halus, kemudian kunyit yang sudah dihaluskan dipindahkan ke
dalam gelas kimia, lalu ditambahkan 5 mL larutan Ethanol dan diaduk hingga
homogen. Larutan homogen tersebut kemudian disaring dengan kertas saring yang
menghasilkan residu dan filtrat. Filtrat disimpan sebagai pembanding. Selanjutnya,
diteteskan 3 tetes ekstraksi larutan kunyit pada plat tetes A dan B. Pada plat tetes A
ditambahkan 2 tetes HCl 1 M, sedangkan pada plat tetes B ditambahkan 2 tetes
NaOH 1 M. Hasilnya pada plat tetes A larutan kunyit yang awalnya berwarna kuning
setelah ditetesi HCl tidak berubah warna sedangkan pada plat tetes B setelah ditetesi
larutan NaOH berubah menjadi merah.
Pada percobaan kedua, bertujuan untuk menguji pewarna kunyit pada bahan
makanan (nasi kuning dan tahu kuning). Pertama, sampel nasi kuning sebanyak 5
butir dimasukkan ke dalam plat tetes kemudian ditambahkan 2 tetes NaOH 1 M
sehingga warna nasi kuning berubah menjadi merah (-). Hasil tersebut dibandingkan
dengan larutan pembanding plat tetes B yang berwarna merah. Kedua, sampel tahu
kuning dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan 3 mL air kapur, warna
tahu kuning tidak berubah (tetap kuning). Kemudian larutan kunyit dimasukkan ke
dalam tabung reaksi dan ditambahkan 10 tetes air kapur yang menyebabkan warna
kunyit berubah menjadi merah. Hasil dari kedua prosedur tersebut dibandingkan.
Percobaan ketiga, bertujuan untuk membuat indikator alami pandan suji
sebagai larutan pembanding. Pertama, sebanyak 30 gram pandan suji ditumbuk
hingga halus, kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia dan ditambahkan 5 mL
Ethanol, lalu diaduk hingga homogen. Larutan homogen tersebut kemudian disaring
dengan kertas saring yang menghasilkan residu dan filtrat. Filtrat disimpan sebagai
pembanding. Selanjutnya, diteteskan 3 tetes ekstraksi larutan pandan suji pada plat
tetes A dan B. Pada plat tetes A ditambahkan 2 tetes HCl 1 M, sedangkan pada plat
tetes B ditambahkan 2 tetes NaOH 1 M. Hasilnya pada plat tetes A larutan pandan
suji yang awalnya berwarna hijau, setelah ditetesi HCl warnanya berubah menjadi
kuning. Sedangkan pada plat tetes B, setelah ditetesi larutan NaOH warnanya
menjadi hijau kekuningan.
Percobaan keempat, bertujuan untuk menguji pewarna pandan suji pada
bahan makanan, yaitu koci-koci dan dadar gulung. Pertama, sampel koci-koci dan
dadar gulung dimasukkan dalam tabung reaksi yang berbeda, kemudian masingmasing ditambahkan 3 mL larutan HCl 1 M. Kemudian diamati perubahannya, dan
ternyata kedua sampel tersebut tidak berubah warna (warnanya tetap hijau).
Kemudian, kedua hasil percobaan tersebut dibandingkan dengan larutan pembanding
plat A pada percobaan ketiga, dan ternyata hasilnya berbeda.
X.
PEMBAHASAN
Pada percobaan pertama, sebanyak sebanyak 30 gram kunyit ditumbuk
hingga halus, kemudian kunyit yang sudah dihaluskan dipindahkan ke dalam gelas
kimia, lalu ditambahkan 5 mL larutan Ethanol, kemudian diaduk hingga homogen.
Ethanol merupakan pelarut organik. Fungsi dari ekstraksi adalah untuk memisahkan
campuran senyawa dengan berbagai sifat kimia yang berbeda sehingga diperoleh
senyawa organik yang murni yaitu dalam kunyit terdapat senyawa kurkumin. Larutan
homogen tersebut kemudian disaring dengan kertas saring yang menghasilkan residu
dan filtrat. Filtrat disimpan sebagai pembanding. Kemudian, 3 tetes larutan ekstraksi
kunyit diteteskan pada plat A dan ditambahkan dengan 2 tetes larutan HCl 1M.
Larutan kunyit warnanya tetap kuning. Sedangkan pada plat B, ditetesi 3 tetes larutan
ekstraksi kunyit dan ditambahkan 2 tetes larutan NaOH 1M. Larutan kunyit yang
awalnya berwarna kuning berubah menjadi merah. Hal ini disebabkan karena HCl
bersifat asam, sehingga ketika bereaksi dengan kunyit warnanya menjadi
kuning(tetap), sedangkan larutan NaOH bersifat basa, sehingga ketika diteteskan
pada larutan kunyit warnanya berubah menjadi merah.
Pada percobaan kedua, kami menggunakan dua sampel makanan yang akan
diuji bahan pewarnanya yaitu nasi kuning dan tahu kuning. Pertama, nasi kuning
diletakkan pada plat tetes kemudian ditetesi dengan 2 tetes larutan NaOH 1M, setelah
ditetesi larutan NaOH 1M, warna nasi kuning yang sebelumnya kuning berubah
menjadi merah. Kemudian dibandingkan dengan larutan pembanding plat B pada
percobaan pertama. Dan ternyata warna yang dihasilkan sama. Hal ini menunjukkan
bahwa nasi kuning yang kami uji menggunakan bahan pewarna kunyit (alami).
Kemudian, untuk menguji bahan pewarna pada tahu kuning, kami memasukkan
sampel tahu kuning pada tabung reaksi, lalu ditambahkan dengan 3 mL air kapur.
Hasilnya yaitu, warna tahu tetap kuning. Kemudian hasil tersebut dibandingkan
dengan larutan pembanding yang dibuat dari larutan ekstraksi kunyit yang
dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan 10 tetes air kapur, dan
ternyata hasilnya berbeda, setelah ditetesi air kapur, warna kunyit berubah menjadi
merah. Hal ini menunjukkan bahwa bahan pewarna yang digunakan pada tahu
kuning merupakan bahan pewarna sintesis. NaOH dan air kapur digunakan untuk
menguji bahan pewarna kunyit pada makanan karena NaOH dan air kapur bersifat
basa, kunyit bereaksi dengan basa menghasilkan warna merah.
Pada percobaan ketiga, kami membuat indikator alami pandan suji sebagai
larutan pembanding dengan cara : Pertama, sebanyak 30 gram pandan suji ditumbuk
hingga halus, kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia dan ditambahkan 5 mL
Ethanol yang berfungsi sebagai pelarut organic untuk mendapatkan zat klorofil murni
dari daun pandan suji, lalu diaduk hingga homogen. Larutan homogen tersebut
kemudian disaring dengan kertas saring yang menghasilkan residu dan filtrat. Filtrat
disimpan sebagai pembanding. Selanjutnya, diteteskan 3 tetes ekstraksi larutan
pandan suji pada plat tetes A dan B. Pada plat tetes A ditambahkan 2 tetes HCl 1 M,
sedangkan pada plat tetes B ditambahkan 2 tetes NaOH 1 M. Hasilnya pada plat tetes
A larutan pandan suji yang awalnya berwarna hijau, setelah ditetesi HCl warnanya
berubah menjadi kuning. Sedangkan pada plat tetes B, setelah ditetesi larutan NaOH
warnanya menjadi hijau kekuningan. Dari dua hasil tersebut, pandan suji tidak
menghasilkan perbedaan warna yang mencolok ketika ditetesi dengan larutan yang
bersifat asam/basa. Oleh karena itu, pandan suji sulit untuk dijadikan indikator alami
asam-basa.
Pada percobaan keempat, kami menguji pewarna pandan suji pada dua
sampel makanan, yaitu koci-koci dan dadar gulung. Pertama, sampel koci-koci dan
dadar gulung dimasukkan dalam tabung reaksi yang berbeda, kemudian masingmasing ditambahkan 3 mL larutan HCl 1 M. Kemudian diamati perubahannya, dan
ternyata kedua sampel tersebut tidak berubah warna (warnanya tetap hijau).
Kemudian, kedua hasil percobaan tersebut dibandingkan dengan larutan pembanding
plat A pada percobaan ketiga, dan ternyata hasilnya berbeda, kedua sampel makanan
setelah ditambahkan dengan 3 mL larutan HCl menunjukkan hasil yang sama yaitu
warnanya tetap hijau, sedangkan pada larutan pembanding plat A warnanya kuning.
Hal ini menunjukkan bahwa koci-koci dan dadar gulung menggunakan bahan
pewarna sintesis.
XI.
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa nasi kuning menggunakan bahan pewarna alami (kunyit)..
Sedangkan tahu kuning menggunakan bahan pewarna sintesis. Pada makanan kocikoci dan dadar gulung, keduanya menggunakan bahan pewarna sintesis
bahan
larutan makanan dengan benang wool putih yang tidak berlemak. Setelah diketahui
bahwa dalam makana/minuman terdapat bahan pewarna tambahan, dilanjutkan
pengujian dengan larutan asam dan larutan basa. Sehingga dengan demikian dapat
diketahui apakah zat warna tambahan dalam suatu makanan/minuman itu termasuk zat
warna tambahan yang memenuhi persyaratan dalam makanan/minuman.
3. Contoh bahan makanan yang menggunakan pewarna alami : nasi kuning yang
menggunakan pewarna dari kunyit, kue putu yang menggunakan pewarna dari pandan
suji, dan rawon yang menggunakan pewarna dari kluwek. Contoh bahan makanan
yang menggunakan pewarna sintesis : permen, es krim, minuman suplemen yang
warnanya bisa dari Tartrazine ( E102 atau Yellow 5 ), Sunset Yellow ( E110 , Orange
Yellow S atau Yellow 6 ), Ponceau 4R ( E124 atau SX Purple ), Allura Red ( E129 ),
Quinoline Yellow ( E104 ).
yang
Terkandung
dalam
Bahan
Makanan.
http://futurefoodscientist.blogspot.com/2010/06/at-aditif-yang-terkandung-dalam-
XIV. LAMPIRAN
Mengupas Kunyit
Menumbuk Kunyit
Hasil tumbukan
dipindahkan dalam gelas
kimia
Kunyit halus
ditambahkan dengan 5
mL Ethanol
Hasil Penyaringan
(Ekstraksi Kunyit)
berwarna kuning
Meneteskan ekstraksi
kunyit pada plat tetes A dan
B