Anda di halaman 1dari 2

KANDUNGAN NUTRISI IKAN GABUS

Ikan gabus sangat kaya albumin, jenis protein yang mempercepat


penyembuhan pascaoperasi dan melahirkan. Zat ini juga membantu
pertumbuhan anak dan menambah berat badan orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Kandungan protein ikan gabus juga lebih tinggi daripada bahan pangan
yang selama ini dikenal sebagai sumber protein seperti telur, daging ayam,
maupun daging sapi. Kadar protein per 100 gram telur 12,8 gram; daging ayam
18,2 gram; dan daging sapi 18,8 gram. Nilai cerna protein ikan juga sangat baik,
yaitu mencapai lebih dari 90 persen.
Selain itu, protein kolagen ikan gabus juga lebih rendah dibandingkan
dengan daging ternak, yaitu berkisar 3-5 persen dari total protein. Hal tersebut
yang menyebabkan tekstur daging ikan gabus lebih empuk daripada daging
ayam ataupun daging sapi.
Rendahnya kolagen menyebabkan daging ikan gabus menjadi lebih mudah
dicerna bayi, kelompok lanjutt usia, dan juga orang yang baru sembuh dari sakit.
Bayi memerlukan asupan protein tinggi, tetapi belum memiliki saluran
pencernaan yang sempurna.
Keunggulan protein ikan gabus lainnya adalah kaya akan albumin, jenis
protein terbanyak (60 persen) di dalam plasma darah manusia. Peran utama
albumin di dalam tubuh sangat penting, yaitu membantu pembentukan jaringan
sel baru. Tanpa albumin; sel-sel di dalam tubuh akan sulit melakukan regenerasi,
sehingga cepat mati dan tidak berkembang. Albumin inilah yang juga berperan
penting dalam proses penyembuhan luka.
Di dalam ilmu kedokteran, albumin biasa dimanfaatkan untuk mempercepat
pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau
pembedahan. Itulah sebabnya pasien pascaoperasi sangat dianjurkan
mengonsumsi ikan gabus, dengan harapan dapat membantu proses
penyembuhan di dalam tubuh
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Dr. Nurpudji A. Taslim dari
Universitas Hasanudin, Makassar, menunjukkan kadar albumin pasien di RS
Wahidin Sudiro Husodo Makassar, Sulawesi Selatan, meningkat tajam setelah
beberapa kali mengonsumsi ikan gabus. Hal tersebut mempercepat kesehatan
pasien.
Penelitian serupa juga pernah dilakukan pada bagian bedah RS Umum Dr. Saiful
Anwar Malang. Hasil uji coba tersebut menunjukkan pemberian 2 kg ikan gabus
masak setiap hari kepada pasien pascaoperasi dapat meningkatkan albumin dari
kadar yang rendah (1,8 g/dl) menjadi normal.
Penelitian yang dilakukan di Universitas Hasanudin juga menunjukkan pemberian
ekstrak ikan gabus selama 10-14 hari dapat meningkatkan kadar albumin darah
0,6-0,8 g/dl. Para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang diberi ekstrak ikan gabus

secara teratur, dapat meningkatkan kadar albumin di dalam darah, sehingga


berat badannya akan naik secara perlahan.
Selain membantu pembentukan jaringan baru, albumin yang berada di dalam
darah juga berfungsi untuk mengatur keseimbangan air di dalam sel,
memberikan gizi di dalam sel, dan membantu mengeluarkan produk buangan.
Albumin juga berfungsi mempertahankan pengaturan cairan di dalam tubuh.
Tingginya kandungan albumin dari ikan gabus membuat ekstrak ikan ini mulai
dilirik pihak rumah sakit untuk diberikan kepada pasien pascaoperasi, yaitu
sebagai pengganti serum albumin impor, yang sangat mahal harganya.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Eddy Suprayitno, MS, dari
Universitas Brawijaya, Malang, telah membuktikan kemampuan ekstrak albumin
dari ikan gabus untuk menggantikan serum albumin impor.
Harga serum albumin impor mencapai jutaan rupiah per 10 milimeter. Padahal,
dalam satu kali operasi paling tidak dibutuhkan 30 milimeter. Penggunaan
ekstrak ikan gabus ini diharapkan dapat mengurangi biaya operasi pembedahan
yang selama ini dikenal sangat mahal.
Membuat ekstrak ikan gabus dengan cara sederhana, dapat dilakukan sendiri di
rumah tangga. Bagi mereka yang belum bisa mengonsumsi makanan berat,
dapat merebus ikan gabus hingga seluruh sarinya keluar. Sari ikan tersebut
kemudian disaring dan dikonsumsi seperti minum air. Agar tidak berbau amis,
sari kaldu ikan gabus dapat juga dicampur jeruk nipis.
Ikan gabus dapat diolah dengan berbagai cara. Masyarakat Sulawesi Selatan dan
Papua biasa mengolah ikan gabus menjadi sup asam pedas, sedangkan
masyarakat jawa dan Sunda mengolahnya dengan cara digoreng. Masyarakat
Banjarmasin biasa menggunakan ikan gabus untuk membuat kerupuk. Variasi
lain yang dapat dilakukan adalah dalam bentuk abon atau disantan seperti ikan
kakap. Untuk bayi, ikan gabus dapat dipipil dan disajikan seperti nasi tim.
Ikan gabus sebaiknya disajikan dengan cara direbus, dikukus, ataupun dibuat
sup. Ikan gabus goreng atau bakar memang lebih nikmat, tetapi nilai gizinya
turun. Selain itu, menggoreng biasanya dilakukan dengan minyak berlebih,
sehingga dapat meningkatkan kadar lemak pada ikan.