Anda di halaman 1dari 40

BAB II

Kontrol Kualitas (Quality Control) dalam Pekerjaan Jalan

II.1. Umum
Perkerasan merupakan struktur lapisan yang terletak di atas tanah dasar, yang
bersifat konstruktif sehingga memiliki nilai struktural dan fungsional. Nilai struktural
berkaitan dengan daya dukung perkerasan untuk mendukung repetisi beban lalu
lintas kendaraan dan kemampuannya untuk tetap stabil, mantap dan aman terhadap
pengaruh infiltrasi air permukaan dan perubahan cuaca. Nilai fungsional berkaitan
dengan performansi permukaan jalan dalam melayani lalu lintas kendaraan dengan
aman dan nyaman yang meliputi aspek aspek teknis, antara lain: kerataan,
kekesatan dan kemiringan permukaan.[12]
Menurut Yoder, E. J dan Witczak (1975), pada umumnya jenis konstruksi
perkerasan jalan ada 2 jenis :
Perkerasan

Lentur

(Flexible

Pavement),

yaitu

pekerasan

yang

menggunakan aspal sebagai bahan pengikat.


Perkerasan Kaku (Rigid Pavement), yaitu perkerasan yang menggunakan
semen (portland cement) sebagai bahan pengikat.[19]
Perkerasan jalan yang dibahas adalah perkerasan lentur.
II.2. Struktur Perkerasan Lentur
Perkerasan lentur merupakan perkerasan yang dibangun di atas tanah dasar
(subgrade). Susunan struktur lapisan perkerasan lentur jalan dari bagian atas ke
bawah seperti gambar 2.1 di bawah ini : [4]

24

Gambar 2.1.Struktur Perkerasan Lentur


1. Lapis permukaan/penutup (surface course)
2. Lapis pondasi (base course);
3. Lapis pondasi bawah (subbase course);
4. Lapisan tanah dasar (subgrade)
Perkerasan lentur di atas didukung dengan bahan bahan konstruksi sebagai
kekuatan struktur perkerasan. Bahan konstruksi dicampur di unit pencampuran aspal,
agar kualitas dapat diperoleh sesuai harapan dan disebut campuran beraspal.
II.2.1. Campuran beraspal
Campuran beraspal merupakan campuran yang terdiri dari kombinasi agregat
yang dicampur dengan aspal. Pencampuran dilakukan sedemikian rupa sehingga
permukaan agregat terselimuti aspal dengan seragam. Campuran beraspal terdiri dari
dua keadaan : panas (hotmix) dan dingin (coldmix). Namun, campuran beraspal yang
sering digunakan yaitu dalam keadaan panas (hotmix) atau disebut sebagai campuran
beraspal panas.[6]
Campuran beraspal yang umum digunakan di Indonesia, antara lain : [12]
-

AC (Asphalt Concrete) atau laston (lapis beton aspal)

HRS (Hot Rolled Sheet) atau lataston (lapis tipis beton aspal)

HRSS (Hot Rolled Sand Sheet) atau latasir (lapis tipis aspal
pasir).
25

Pada campuran beraspal diperoleh sifat-sifat mekanis yang disebut sifat friksi
dan kohesi dari bahan-bahan pembentuknya. Sifat friksi terdapat pada agregat yang
diperoleh dari ikatan antar butir agregat (interlocking), dan kekuatannya tergantung
pada gradasi, tekstur permukaan, bentuk butiran dan ukuran agregat maksimum yang
digunakan. Sedangkan sifat kohesinya diperoleh dari aspal yang digunakan.
II.2.1.1. Agregat
Agregat adalah sekumpulan batu batu pecah, kerikil, pasir atau mineral
lainnya baik berupa hasil alam maupun hasil buatan. Agregat merupakan komponen
utama dari lapisan perkerasan jalan yaitu mengandung 90 95 % agregat
berdasarkan persentase berat atau 75 85 % agregat berdasarkan persentase volume.
Dengan daya dukung, keawetan dan kualitas perkerasan jalan ditentukan juga dari
sifat agregat dan hasil campuran dengan material lain.
Secara umum agregat yang digunakan dalam campuran beraspal dibagi atas 2 (dua)
fraksi, yaitu :
a. Agregat Kasar
b. Agregat Halus
a. Agregat Kasar
Agregat Kasar adalah agregat yang tertahan saringan pada ayakan nomor 8
(diameter 2,36 mm). Agregat kasar terdiri dari batu pecah atau kerikil pecah yang
bersih, kering, kuat dan awet dan bebas dari bahan lain yang mengganggu. Bahan
yang pecah bila berulang-ulang dibasahi dan dikeringkan tidak boleh digunakan.
Agregat kasar cukup berperan penting dalam menentukan stabilitas campuran
perkerasan. Pada umumnya semakin bertambahnya kandungan agregat kasar maka

26

semakin tinggi pula stabilitas dari perkerasannya. Akan tetapi hal tersebut juga dapat
memperbesar void yang terjadi pada perkerasan beraspal.
b. Agregat halus
Agregat Halus adalah agregat yang lolos saringan ayakan nomor 8 (diameter
2,36 mm). Agregat halus terdiri dari pasir alam dan pasir buatan atau gabungan
antara dari bahan bahan tersebut. Agregat halus juga dapat berasal dari batu kapur
pecah yang hanya boleh digunakan apabila dicampur dengan pasir alam dalam
perbandingan yang sama. Agregat halus harus bersih, kering, kuat, dan bebas dari
gumpalan gumpalan lempung serta bahan bahan lain yang mengganggu serta
terdiri dari butiran butiran yang bersudut tajam dan mempunyai permukaan
kasar.[6]
II.2.1.2. Aspal
Aspal atau bitumen merupakan material yang berwarna hitam kecoklatan
yang bersifat viskoelastis sehingga akan melunak dan mencair bila mendapat cukup
pemanasan dan sebaliknya. Sifat viskoelastis inilah yang membuat aspal dapat
menyelimuti dan menahan agregat tetap pada tempatnya selama proses produksi dan
masa pelayanannya. Pada dasarnya aspal terbuat dari suatu rantai hidrokarbon yang
disebut bitumen. Oleh sebab itu, aspal sering disebut material berbituminous.
Umumnya aspal dihasilkan dari penyulingan minyak bumi, sehingga disebut
aspal keras. Tingkat pengontrolan yang dilakukan pada tahapan proses penyulingan
akan menghasilkan aspal dengan sifat-sifat yang khusus yang cocok untuk
pemakaian yang khusus pula, seperti untuk pembuatan campuran beraspal, pelindung
atap dan penggunaan khusus lainnya.

27

Aspal terdiri dari : Asphaltenes, Malthenes, dan Oils. Asphaltenes adalah


komponen utama dari aspal sekitar 80 %, Malthenes terdiri dari zat zat yang
memberikan stabilitas pada Asphaltenes yang mempengaruhi viskositas dan
kelelehan (berfungsi sebagai flux). Dan Oils memberi sifat adhesif dan pemuluran
(daktalitas).
Fungsi aspal pada perkerasan jalan adalah :

Sebagai bahan pengikat antara agregat maupun antara aspal itu sendiri.

Sebagai bahan pengisi, mengisi rongga antara butir butir agregat dan pori
pori yang ada dari agregat itu sendiri.
Jenis aspal terdiri dari aspal keras, aspal cair, aspal emulsi, dan aspal alam,

yaitu :
a. Aspal keras
Aspal keras merupakan aspal hasil destilasi yang bersifat viskoelastis
sehingga akan melunak dan mencair bila mendapat cukup pemanasan dan
sebaliknya.
b. Aspal cair
Aspal cair merupakan aspal hasil dari pelarutan aspal keras dengan bahan
pelarut berbasis minyak.
c. Aspal emulsi
Aspal emulsi dihasilkan melalui proses pengemulsian aspal keras. Pada
proses ini partikel-partikel aspal padat dipisahkan dan didispersikan
dalam air.
d. Aspal alam

28

Aspal yang secara alamiah terjadi di alam. Berdasarkan depositnya aspal


alam dikelompokkan ke dalam 2 kelompok, yaitu aspal danau dan aspal
batu.[6]
Campuran beraspal di atas harus memenuhi spesifikasi yang telah dibuat
sebagai standar pekerjaan jalan. Namun, tidak jarang perkerasan jalan di atas
mengalami tingkat penurunan pelayanan jalan yang disebabkan terjadinya kerusakan
dini perkerasan di awal umur pelayanan. Akibatnya tingkat keamanan dan
kenyamanan berkendaraan berkurang karena kondisi bentuk dari hasil pemeliharaan
rutin maupun peningkatan jalan tidak memenuhi spesifikasi yang disyaratkan. Oleh
sebab itu, dilakukan evaluasi dengan cara mengontrol kualitas perkerasan kontruksi
pada spesifikasi yang ditetapkan pada pekerjaan jalan.
Kontrol kualitas perkerjaan jalan telah dipelajari di beberapa negara seperti
Amerika Serikat, Belanda, Australia, Spanyol, Prancis, dan negara lainnya selama
beberapa tahun dengan menggunakan penerapan teknik statistik kontrol kualitas.
Meskipun terkadang ada kesulitan, namun manfaat dari pendekatan statistik
sepenuhnya dapat meningkatkan perekonomian.[15]
II.3. Kontrol kualitas (quality control)
Kontrol dapat didefenisikan sebagai usaha dalam melakukan uji evaluasi, dan
pengawasan untuk menjaga produk. Kualitas dapat didefenisikan sebagai
karakteristik yang dibutuhkan untuk tingkat keunggulan yang diinginkan dan
disesuaikan pada spesifikasi. Maka, kontrol kualitas (quality control) adalah usaha
usaha yang dilakukan dengan teknik dan kegiatan operasional untuk mendapatkan
produk yang sesuai dengan tingkat spesifikasi yang ditetapkan.

29

Teknik dan kegiatan operasional meliputi pemeriksaan hasil perencanaan,


pengujian yang dilakukan selama konstruksi, pengujian bahan, kalibrasi mesin dan
peralatan pengujian. Dalam hal ini, kontrol kualitas diperlukan untuk menghasilkan
indikator pada berbagai tahap proyek untuk memperlihatkan bahwa persyaratan dan
spesifikasi dipenuhi. Ini berguna sebagai pendeteksi dini dari kerusakan atau
ketidaksesuaian yang membutuhkan perhatian atau perbaikan akibat berkurangnya
kualitas produk.
Kualitas produk sering dianggap sebagai alat pemeriksaan akhir. Namun,
pendapat demikian dapat menimbulkan biaya pengerjaan kembali yang cukup tinggi.
Karena kontrol kualitas (quality control) seharusnya dilaksanakan mulai dari proses
pengolahan pada titik titik kritis kualitas, dimana sering terjadi penyimpangan
kualitas. Oleh karena itu, dibutuhkan data dalam proses kontrol kualitas tersebut.
Untuk memperoleh data tersebut, diperlukan metode yang cukup agar analisa yang
dilakukan mendekati yang sebenarnya. Metode yang digunakan adalah metode
statistik.[7]
Penerapan metode statistik pada kontrol kualitas (quality control) disebut
kontrol kualitas statistik (quality control statistic). Kontrol kualitas statistik berperan
penting dalam memenuhi spesifikasi, yaitu :
Sebagai konsep, merupakan batas statistik yang dapat
membuat peningkatan keseragaman kualitas,
Sebagai teknik untuk mencapai kualitas, dan
Sebagai pengambilan keputusan.[20]

30

II.3.1. Tujuan kontrol kualitas


Tujuan kontrol kualitas adalah memperoleh jaminan kualitas (quality
Assurance) sebagai parameter dan pengukuran pembayaran yang dapat dilakukan
dengan penerimaan kontrol kualitas (quality control acceptance) dan menjaga
konsistensi kualitas.
Adapun keuntungan menggunakan kontrol kualitas, antara lain:
Untuk mempertinggi kualitas atau mengurangi biaya.
Menjaga kualitas lebih seragam (uniform).
Penggunaan alat produksi lebih efisien.
Mengurangi pekerjaan kembali (rework) dan pembuangan.
Inspeksi yang lebih baik.
Memperbaiki hubungan produsen-konsumen.
Spesifikasi lebih baik.
Menerapkan kontrol kualitas juga dimaksudkan untuk menggunakan metode
pengawasan dalam dua tahapan kontrol kualitas (quality control) dalam pekerjaan
jalan, yaitu pada :
1. Proses kontrol kualitas (quality control processes), dan
2. Penerimaan kontrol kualitas (quality control acceptance).[18]
II.3.2. Proses Kontrol Kualitas (quaility control processes)
Proses kontrol kualitas (quality control processes) dalam pekerjaan jalan
didefenisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan mengontrol pekerjaan
jalan melalui semua tahapan proses perencanaan pekerjaan jalan dengan cara
memeriksa kualitasnya. Metode kontrol kualitas digunakan dalam mengontrol batas
batas yang harus sesuai dengan spesifikasi.[18]

31

Proses kontrol kualitas (quality control processes) dalam pekerjaan jalan


dilakukan dengan pemeriksaan sebagai berikut :
II.3.2.1. Kontrol agregat
Agregat berperan penting dalam stabilitas campuran bergradasi menerus.
Salah satu penyebab utama masalah teknis yang terjadi dengan aspal adalah
perbedaan antara perencanaan di lapangan dengan perencanaan di laboratorium.
Untuk itulah pentingnya kontrol kualitas terhadap agregat saat proses pemilihan
material itu sendiri, hingga proses pencampuran dengan aspal untuk memastikan
keseragaman dari campuran yang diproduksi. Adapun yang perlu diperhatikan pada
kontrol kualitas agregat, meliputi :
1. Pengujian agregat.
Pengujian diperlukan untuk mengetahui karakteristik fisik dan mekanik
agregat sebelum digunakan sebagai bahan campuran beraspal.
2. Metode pengambilan contoh (sampling)
Standar pengambilan contoh, yaitu berdasarkan standar pekerjaan jalan.
Segregasi agregat, yaitu fraksi agregat yang terpisah akibat dari selama
proses

pemecahan,

proses

penyimpanan

bahan

(stockpiles),

pengangkutan, penghamparan, atau hal lainnya.


Pengambilan contoh agregat dari sumbernya.
3. Pengujian analisa ukuran butir (gradasi)
Gradasi agregat adalah pembagian ukuran butiran yang dinyatakan dalam
persen dari berat total dan ditentukan dengan penyaringan bahan
menggunakan ayakan nomor terkecil hingga terbesar lalu ditimbang, agar
diperoleh konstruksi campuran yang bermutu tinggi.

32

Tabel 2.1. Ukuran saringan


No. Saringan
1 in.
1 in.
in.
in.
3/8 in.
No.4
No.8
No.16
No.30
No.50
No.100
No.200

Lubang saringan
inch
mm
1.50
38.1
1.00
25.4
0.75
19.0
0.50
12.7
0.375
9.51
0.187
4.76
0.0937
2.38
0.0469
1.19
0.0234
0.595
0.0117
0.297
0.0059
0.149
0.0029
0.074

Sumber : Manual Pekerjaan Campuran Beraspal Panas (2005). Hal.54.

[6]

Gradasi agregat juga harus dianalisa ukuran butirannya dengan analisa


saringan. Analisa saringan ada 2 jenis yaitu :
Analisa saringan kering digunakan pada agregat normal untuk pekerjaan
rutin.
Analisa saringan dicuci (analisa saringan basah) dilakukan bila agregat
tersebut mengandung abu yang sangat halus atau mengandung lempung.
4. Berat Jenis (specific gravity) dan penyerapan (absorpsi)
-

Berat Jenis (specific gravity) adalah perbandingan berat dari suatu satuan
volume bahan terhadap berat air dengan volume yang sama pada
temperatur 200 250C (680 - 770F). Dikenal beberapa macam Berat Jenis
agregat, yaitu :
a. Berat jenis semu (apparent specific gravity),
Gsa =

ws
(v s + v i ) w

33

b. Berat Jenis bulk (bulk specific gravity),

ws
ws
=
(v p + v i + v s ) v x w

Gbs =

c. Berat Jenis efektif (effective specific gravity),

Gse =

ws
(v s + v c ) w

Dengan pengertian :
Ws = Berat agregat kering
w = Berat Isi air= 1 g/cm3
Vp = volume pori yang meresap air
Vi = volume pori yang tidak meresap air
Vs = volume agregat padat
Vc = volume pori meresap air yang tidak meresap aspal (volume total)
-

Penyerapan (absorpsi) adalah agregat yang seharusnya sedikit berpori


agar dapat menyerap aspal. Karena jika agregat berpori banyak, maka
akan menyerap aspal besar sehingga tidak ekonomis dan tidak dapat
digunakan sebagai bahan campuran beraspal.

5. Pemeriksaan keausan dengan mesin abrasi.


Pada pekerjaan jalan, agregat akan mengalami proses tambahan seperti
pemecahan, pengikisan akibat cuaca, pengausan akibat lalu lintas. Agregat

34

dengan nilai keausan yang besar mudah pecah selama pemadatan atau akibat
pengaruh beban lalu-lintas atau hal lainnya tidak diijinkan karena beberapa
sebab :
a. Gradasi akan berubah karena agregat yang kasar akan menjadi butiran
yang halus dan tidak memadai.
b. Agregat yang lemah tidak akan menghasilkan lapisan yang kuat karena
bidang pengunci yang bersudut mudah pecah.
Pengujian keausan agregat dilakukan dengan mesin abrasi Los Angeles.
Seperti terlihat pada gambar 2.2 di bawah ini.

Gambar 2.2. Mesin abrasi Los Angeles


6. Pengujian setara pasir (sand equivalent)
Pengujian dilakukan untuk menentukan perbandingan relatif dari bagian yang
dapat merugikan (seperti butiran lunak dan lempung) terhadap bagian agregat
yang lolos saringan No.4.
7. Pemeriksaan gumpalan lempung dan butiran yang mudah pecah dalam
agregat
Agregat yang tertahan saringan 1,18 mm diperiksa dan dipisahkan dengan
diremas jari guna melihat agregat tersebut mudah pecah atau tidak. Sehingga
menjadi beberapa fraksi, lalu direndam sekitar 24 jam. Butiran halus yang
terjadi disaring dan ditimbang.

35

8. Pemeriksaan daya lekat agregat terhadap aspal (affinity)


Pemeriksaan yang dilakukan dengan cara menguji kelekatan agregat terhadap
aspal.
9. Angularitas
Merupakan suatu pengukuran penentuan jumlah agregat berbidang pecah.
Pengujian angularitas agregat terbagi 2, yaitu :
a. Angularitas agregat kasar adalah persentase dari berat partikel agregat
lebih besar dari 4,75 mm (No.4) dengan satu atau lebih bidang pecah.
b. Angularitas agregat halus adalah persentase rongga udara yang terdapat
pada agregat padat lepas dan lolos pada saringan 2,36 mm (No.8). Makin
besar nilai rongga udara berarti makin besar bidang pecah yang terdapat
pada agregat halus.
10. Pemeriksaan kepipihan agregat
Bentuk butir (particle shape) agregat salah satunya adalah berbentuk pipih
dan akan mudah patah apabila mendapat beban lalulintas. Untuk itu diuji
dengan alat uji kepipihan seperti terlihat pada gambar 2.3. Kepipihan
dinyatakan dalam persentase berat contoh agregat sebanyak minimum 200
butir agregat.

Gambar 2.3. Alat uji kepipihan agregat

36

11. Pengujian partikel ringan dalam agregat


Partikel ringan pada agregat berjumlah besar yang digunakan sebagai
campuran aspal panas akan mengganggu stabilitas campuran. Partikel ringan
yang dimaksud adalah partikel yang mengapung di atas larutan yang berat
jenisnya 2.
Pengujian dilakukan untuk agregat halus yang lolos saringan No. 4 (4,75 mm)
dan tertahan di atas saringan No.50 (0,30 mm) serta agregat kasar yang lolos
saringan 3 (76,20 mm) dan tertahan di atas saringan No.4 (4,75 mm). Bahan
yang digunakan untuk memisahkan partikel ringan adalah larutan seng
khlorida (ZnCl2) berat jenis 2.[6]
II.3.2.2. Kontrol aspal
Pada umumnya aspal diperoleh dari sumber yang telah diuji dan diterima oleh
direksi pekerjaan jalan. Sangat sedikit uji pengawasan untuk aspal, namun telah
dilakukan oleh orang yang terlibat pada kontrol kualitas secara manual. Masalah
yang sering terjadi pada aspal adalah mencari masalah yang berkaitan dengan lapisan
aspal. Sehingga pentingnya dilakukan uji kontrol kualitas sebelum memasukkan ke
dalam campuran aspal, meliputi :
1. Pengambilan contoh bahan aspal
Pengambilan contoh aspal untuk pengujian harus diwakili dan dijaga agar
tidak terkontaminasi oleh bahan lain sebelum pengujian. Pemeriksaan
meliputi :
a. Ukuran contoh,
b. Pengambilan contoh dari mobil tangki, truk penyemprot aspal atau tangki
penyimpanan aspal yang dilengkapi alat sirkulasi,

37

c. Pengambilan contoh dari tangker atau tongkang,


d. Pengambilan contoh dari pipa selama pemuatan dan pembongkaran,
e. Pengambilan contoh dari drum terpilih secara random seperti Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Jumlah contoh yang dipilih secara acak
Dalam pengiriman
28
9 27
28 64
65 125
126 216
217 343
344 512
513 729
730 1000
1001 1331

Yang diambil
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Sumber : Manual Pekerjaan Campuran Beraspal Panas (2005). Hal.67.

[6]

f. Pengambilan contoh bahan semi padat atau bahan padat yang belum
dipecah diambil dengan akar tiga dari jumlah kemasan dilokasi,
g. Pengambilan contoh bahan hasil pemecahan atau berbentuk tepung,
h. Pengambilan contoh di tempat tujuan pengiriman.
2. Titik nyala dengan Cleveland Open Cup
Penentuan titik nyala dilakukan untuk memastikan bahwa aspal cukup aman
untuk pelaksanaan. Jika rendah, maka adanya minyak ringan dalam aspal
seperti terlihat pada gambar 2.4.

38

Gambar 2.4. Pengujian titik nyala dengan Cleveland Open Cup


3. Penetrasi bahan bitumen
Pengujian ini dimaksudkan untuk menetapkan nilai kekerasan aspal.
Kekerasan aspal diukur dengan jarum penetrasi standar yang masuk kedalam
permukaan bitumen pada temperatur 25 0C, beban 100 gram dan waktu 5
detik. Alat pengujian ditunjukkan pada gambar 2.5.

Gambar 2.5. Pengujian penetrasi


4. Titik lembek
Konsistensi bitumen ditunjukkan oleh temperatur dimana aspal berubah
bentuk karena perubahan tegangan. Hasilnya digunakan untuk menentukan
temperatur kelelehan dari aspal. Alat pengujian ditunjukkan pada gambar 2.6.

39

Gambar 2.6. Pengujian titik lembek aspal


5. Daktilitas bahan bitumen
Daktilitas ditunjukkan oleh panjangnya benang aspal yang ditarik hingga
putus. Pengujian dilakukan dengan alat yang terdiri atas cetakan, bak air dan
alat penarik contoh. Alat pengujian ditunjukkan pada gambar 2.7.

Gambar 2.7. Pengujian daktalitas


6. Pengujian temperatur pencampuran dan pemadatan dengan alat
viskometer
Cara ini dimaksudkan untuk menentukan temperatur campuran dan
pemadatan campuran beraspal panas, mencakup pengujian kekentalan aspal
secara empiris pada temperatur antara 1200 200 0C. Gambar peralatan
diperlihatkan pada Gambar 2.8.[6]

40

Gambar 2.8. Tabung viskometer untuk pengujian viskositas


II.3.2.3. Kontrol campuran beraspal
Dalam tahap pencampuran agregat dan aspal, harus diperiksa dan dikontrol
saat dilakukan proses pencampuran, meliputi :
1. Laboratorium
Semua peralatan yang akan digunakan untuk pengujian harus diperiksa
kesesuaiannya dengan persyaratan yang dipakai, dan prosedur prosedur pengujian
yang digunakan dalam spesifikasi harus tersedia di laboratorium dan diaplikasikan
secara benar, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kalibrasi peralatan secara
berkala. Dalam pengujian yang perlu diamati adalah metode pengujian contoh,
jumlah contoh, frekuensi dan harus sesuai dengan spesifikasi.
2. Stock Pile
Suatu penanganan agregat di tempat penyimpanan (stock pile) yang kurang baik akan
sangat mempengaruhi perbedaan volumetrik campuran antara JMF dengan
pelaksanaan.
Pada saat proses penumpukan dan pemindahan agregat di Stock Pile sering terjadi
segregasi dan terkontaminasinya agregat dengan tanah/lumpur. Sehingga akan

41

menyulitkan atau bahkan tidak mungkin operator AMP dapat mengadakan


penyesuaian gradasi dalam waktu yang sangat terbatas. Untuk itu di perlukan
pengetahuan dan keahlian yang cukup pada operator di saat pengujian dengan
memeriksa data yang diperlukan di Stock Pile, meliputi :
- Proses kebersihan agregat di Stock Pile, terutama kebersihan pasir.
- Agregat tidak mengalami segregasi
- Agregat tidak tercampur satu sama lainnya dan tidak terkontaminasi dengan
tanah/lempung atau bahan lainnya.
3. Unit pencampur aspal (AMP)
AMP merupakan satu unit alat yang memproduksi campuran beraspal panas.
AMP yang paling sering digunakan adalah jenis Batch (penakaran). Komponen
komponen yang terdapat dalam AMP adalah :
a. Cold Bin
Cold Bin adalah tempat penyimpanan agregat kasar, agregat halus dan
pasir. Material yang telah melalui Cold Bin sangat berpengaruh terhadap
produksi campuran beraspal. Untuk itu perlunya kontrol kualitas yang ketat pada
Cold Bin dengan melakukan pemeriksaan, meliputi :
Gradasi agregat
Perubahan gradasi terjadi jika Quari atau supplier berbeda. Untuk itu
setiap terjadi perubahan oleh quari atau supplier, dilakukan pembuatan
JMF kembali.
Kondisi dari tiap Cold Bin
Pencampuran agregat antara bin yang berdekatan dapat dicegah dengan
cara membuat pemisah yang cukup dan pengisian tidak berlebih.

42

Kalibrasi bukaan Cold Bin


Bukaan Cold Bin
Bukaan Cold Bin kadang - kadang tersumbat jika agregat halus basah,
agregat terkontaminasi tanah lempung atau penghalang lain yang tidak
umum seperti batu dan kayu.
Kecepatan Conveyor dan pengontrolan aliran agregat dan membuang
material yang tidak perlu.
b. Dryer
Setelah dari Cold Bin agregat dibawa ke Dryer yang mempunyai fungsi :
1) Menghilangkan kandungan air pada agregat, dan
2) Memanaskan agregat sampai suhu yang disyaratkan. Pemeriksaan yang
diperlukan meliputi :
Alat pengukur suhu
Pemeriksaan suhu pemanasan
Pemeriksaan kadar air secara tepat, yaitu dengan menggunakan cermin
dan spatula, (ambil contoh secukupmya dan lewatkan cermin tersebut
lalu amati kadar air yang menggembur pada permukaan cermin atau
spatula).
c. Hot Screen
Setelah agregat kering dan dipanaskan, agregat diangkut dengan pengangkut
panas (hot elevator) untuk disaring dan dipisahkan dalam beberapa ukuran. Pada
umumnya proses penyaringan terjadi pelimpahan agregat, misalnya yang seharusnya
masuk ke Hot Bin I tetapi terbawa ke Hot bin II. Pelimpahan ini pada kondisi normal

43

terjadi kurang dari 5% dan cenderung konstan, sehingga tidak terlalu mempengaruhi
kualitas produksi. Hal ini terjadi bila :
- Lubang saringan tertutup agregat.
- Kecepatan produksi ditambah sehingga agregat yang disaring bertambah
sementara efisiensi operasi penyaringan tetap.
- Agregat halus basah, sehingga pada saat pengeringan dan pemanasan
agregat tersebut akan menggumpal dan masuk ke Hot Bin yang tidak
semestinya.
- Lubang saringan sudah ada yang rusak, pemeriksaan yang diperlukan adalah
pemeriksaan harian secara visual pada kebersihan dan kondisi saringan.
d. Hot Bin
Jika agregat halus masih menyisakan kadar air (karena dryer kurang baik)
setelah pemanasan, maka agregat yang sangat halus (debu) akan menempel dan
menggumpal pada dinding Hot Bin dan akan jatuh setelah cukup berat. Hal tersebut
dapat menyebabkan perubahan kecil pada gradasi agregat, yaitu penambahan
material yang lolos saringan No. 200.
e. Weight Hopper
Pada bagian ini operator AMP sangat berperan. Jika keseimbangan waktu
pencapaian berat Hot Bin sulit tercapai, maka operator harus membuang agregat
tersebut dan melakukan pemeriksaan aliran material dari Cold Bin. Akan tetapi jika
ketidakseimbangan waktu tersebut dipaksakan terus berjalan, maka dapat dipastikan
terjadi penyimpangan gradasi akibat proporsi masing masing Hot Bin karena tidak
sesuai pemeriksaan yang dilakukan pada bagian :
-

Kalibrasi timbangan termasuk timbangan aspal.

44

Kotak penimbang (Weight Box) tergantung bebas.

Kontrol harian terhadap kinerja operator AMP.

f. Pugmill
Pugmill merupakan alat yang mencampur agregat dengan aspal. Setelah
agregat ditimbang sesuai dengan proporsinya, maka agregat dan aspal dicampur di
pugmill. Dalam Pugmill terjadi dua jenis campuran yaitu :
1. Pencampuran kering
Lamanya pencampuran ini diusahakan

sesingkatnya mungkin untuk

meminimalkan degradasi agregat, umumnya 1 atau 2 detik.


2. Pencampuran basah
Pada pencampuran juga diusahakan seminimal mungkin untuk menghindari
degradasi dan oksidasi. Jika agregat kasar telah terselimuti aspal maka
pencampuran basah dihentikan, karena dapat dipastikan agregat halus juga
terselimuti aspal. Umumnya waktu pencampuran kurang dari 30 detik.
Pemeriksaan yang diperlukan meliputi :
- Temperatur aspal (pada tangki aspal).
- Lamanya pencampuran.
- Tampak Visual yang keluar dari Pugmill, apakah campuran merata,
terselimuti aspal, aspal menggumpal atau pugmill bocor.
4. Pemeriksaan hasil campuran beraspal
Untuk mengetahui secara dini penyimpangan penyimpangan yang terjadi,
sehingga dapat diperbaiki dengan segera, maka pemeriksaan terhadap hasil produksi
sangat diperlukan, pemeriksaan meliputi :

45

Secara visual temperatur campuran dapat diamati di atas dump truck.


Bila berasap biru, berarti terlalu panas (over heating), dan jika
menggumpal atau tidak seragam berarti kurang panas (under heating).

Pemeriksaan juga harus dengan alat terutama untuk pemeriksaan


temperatur campuran di atas dump truck.

Pengambilan sampel untuk pengujian sifat sifat (ekstraksi, analisa


saringan, marshall, kepadatan, dan lain-lain) dengan frekuensi yang
sesuai dengan spesifikasi.[3]

II.3.3. Penerimaan kontrol kualitas (quaility control acceptance)


Penerimaan kontrol kualitas (quality control acceptance) dinyatakan dengan
hasil proses kontrol kualitas (quality control processes).[17] Penerimaan tersebut
dilakukan dengan menguji kualitas campuran beraspal yang telah selesai pada tahap
pekerjaan jalan di lapangan, sehingga campuran beraspal harus sesuai dengan
spesifikasi, meliputi : [6]
1. Pengambilan contoh dan pengujian (sampling and testing)
Pengambilan contoh dan pengujian dicatat sebagai data yang bertujuan untuk
menilai kualitas produksi apakah memenuhi syarat atau tidak. Salah satu
kesalahan yang besar dalam menguji material adalah kegagalan untuk mengambil
contoh yang mewakili. Contoh pengujian pada kontrol kualitas di lapangan
adalah :
1. Pengujian kadar aspal
2. Pengujian kepadatan campuran aspal
3. Pengujian gradasi agregat

46

Namun, pengujian yang sering dilakukan adalah pengujian kepadatan campuran


aspal. Karena merupakan tolak ukur atau parameter dalam melakukan
pembayaran proyek pekerjaan jalan.
2. Pengujian kepadatan di lapangan
Untuk pengujian kepadatan lapangan dilakukan dengan pengambilan contoh
inti (core) padat dari core drill atau memotong permukaan perkerasan atau
pengujian dengan nuclear density tester. Selanjutnya contoh inti padat diuji di
laboratorium untuk mendapatkan kualitas kepadatan campuran beraspal.
Pengujian kepadatan dengan cara apapun, agar dilaksanakan berdasarkan
pengujian secara acak (random), dengan jumlah minimum tertentu, umumnya
setiap jarak 200 m. Nilai rata-rata kepadatan dan nilai tunggal yang didapat dari
pengujian kepadatan harus masuk dalam kriteria yang disyaratkan oleh suatu
proyek. Pengambilan contoh inti (core) dapat digunakan juga untuk mengukur
ketebalan padat suatu hamparan campuran aspal panas. Hal yang perlu
diperhatikan dalam pengujian kepadatan dengan core drill :
-

Contoh uji yang diambil dari lapangan pada umumnya basah karena pada saat
pengambilan contoh dibantu dengan semprotan air.

Penimbangan contoh uji untuk mencari berat kering tidak boleh dilakukan
dengan tergesa-gesa.

Penimbangan contoh uji harus dilakukan setelah beratnya konstan. Artinya


penimbangan harus dilakukan setelah contoh uji benar-benar kering.

47

Tabel 2.3. Perbandingan penerimaan rata rata kepadatan secara


statistik antara beberapa spesifikasi
Jenis ukuran

Penerimaan rata rata

sampel per lot

kepadatan (JSD %)

3-

95

FHWA

5-

95

NAASRA

6-

93

FAA

38

90

AASHTO

3 50

90

Spesifikasi

Sampel

WSDOT

Sumber : Mahoney, J.P.01.Hal.18.[10], Pavement Material 89, hal.22.[13]

Dalam menentukan penerimaan proses kontrol kualitas (quality control


processes) dan penerimaan kontrol kualitas (quality control acceptance), digunakan
metode statistik dalam mengambil keputusan penyesuaian spesifikasi.[6]
II.4. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kontrol Kualitas
Kontrol kualitas (quality control) dalam pekerjaan jalan sering mengalami
ketidaksesuaian dengan spesifikasi. Namun, dengan menggunakan metode statistik,
kesalahan kesalahan pekerjaan jalan dapat dibuktikan melalui pengontrolan
terhadap spesifikasi. Faktor faktor yang mempengaruhi kontrol kualitas (quality
control) pekerjaaan jalan dengan metode statistik agar sesuai dengan spesifikasi
adalah :
II.4.1. Pemilihan sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi. Dimana populasi
merupakan keseluruhan pengamatan yang menjadi perhatian kita, baik terhingga
maupun tidak terhingga, dan disebut sebagai N. Sampel merupakan jumlah data

48

atribut dan data variabel yang memiliki karakteristik kualitas yang diklasifikasikan
ke dalam suatu kriteria, dan disebut sebagai n.
-

Data atribut adalah semua kerakteristik kualitas yang diklasifikasikan


dalam kriteria baik atau jelek, bagus atau cacat, dan lain lain. Data
atribut biasanya dapat menyimpulkan informasi jumlah cacat atau persen
cacat.

Data variabel adalah semua karakteristik yang dapat diukur, seperti berat
yang diukur dalam gram. Ukuran ukuran data variabel ini memberikan
informasi yang lebih berguna untuk proses kontrol kualitas. Data ini
dipakai untuk menentukan rata rata dan standar deviasi yang sering
disebut dengan x .[7]

Sampel dipilih secara acak (random), berguna untuk mengetahui kualitas


pekerjaan jalan yang telah memenuhi spesifikasi. Sampel diperoleh dengan
menggunakan penomoran acak dan dipilih berdasarkan lot.
II.4.1.1. Pemilihan lot
Lot adalah sekelompok bahan atau item pekerjaan yang akan diuji dan
merupakan tempat di mana sampel akan diambil sesuai dengan spesifikasi. Lot
disebut sebagai titik uji atau populasi, yaitu merupakan tempat sekelompok sampel
yang akan diuji.

Gambar 2.9. Tempat pengujian atau tempat sekelompok sampel yang


akan diuji disebut lot

49

Dapat ditentukan dengan menganggap lot sebagai nilai populasi N. Untuk


menentukan jumlah lot dan sampel (jumlah titik uji), dapat ditetapkan dengan rumus
sebagai berikut :[5]

N = 3 X ..(2.1).
II.4.1.2. Teknik Sampling
Dalam pengumpulan data, diperlukan sampel yang baik untuk diperkirakan.
Penggunaan metode dalam pengumpulan data yang benar disebut teknik sampling.
Dua hal yang dapat diterima dalam teknik sampling, yaitu : pertama, tidak dapat
menjamin bahwa selalu mendapatkan sampel yang baik. Hal kedua adalah bahwa
data harus diperoleh dalam kondisi yang terkendali. Ini termasuk persyaratan bahwa
data harus homogen. Dalam sampling ada dua metode sampling :
1. Random Sampling merupakan teknik pengambilan sampel secara acak (variabel
acak) yang hanya dapat dilaksanakan apabila elemen populasi bersifat homogen,
maksudnya semua elemen tersebut memiliki kesempatan terpilih sama dalam
populasi. Misalnya besar populasi adalah N, sedang unsur dalam sampel (sample
size) adalah n, maka besarnya kesempatan bagi tiap satuan untuk terpilih dalam
sampel adalah n/N.
Pengambilan sampel secara acak ditentukan dengan menggunakan tabel bilangan
acak. Prosedur penggunaan tabel dilakukan dengan mengikuti langkah langkah
berikut : [5]
a. Disediakan dua tabung gelas, plastik, karet gelang dan kertas.
b. Disiapkan kertas sebanyak 110 lembar. Kelompok I, kertas diberi tulisan dari
angka 0 sampai 9. Kelompok II, kertas diberi tulisan dari 1 sampai 100.
c. Kertas digulung dan tulisan tidak boleh terlihat.

50

d. Masukkan kertas ke dalam masing masing tabung gelas. Kemudian ditutup


dengan plastik dan karet gelang lalu diberi lubang.
e. Gelas dikocok selama kira kira 10 detik dan keluarkan masing masing 1
buah kertas kemudian dibaca dan dicatat seperti berikut :
i) Angka yang keluar dari kelompok I sebagai Nomor Kolom (misal : x)
ii) Angka yang keluar dari kelompok II sebagai Nomor Baris (misal : y)
Koordinat (x; y) ditentukan pada tabel bilangan acak sebagai bilangan tiga digit
yang dicari.
2. Non-random sampling berbeda dengan random sampling dalam hal sampel
dipilih bukan berdasarkan sistem acak. [20]
II.4.2. Metode Statistik
Metode statistik dapat mempengaruhi kontrol kualitas (quality control) dalam
membuat keputusan. Karena dari metode ini dapat diambil kesimpulan bahwa sampel
yang diuji sesuai dengan spesifikasi.
II.4.2.1. Distribusi Normal
Distribusi normal merupakan asumsi normal dari data variabel yang berkelanjutan.
Distribusi normal :

Berhubungan dengan nilai mean, median dan modus.

Kurva normal yang simetris dan disebut kurva lonceng.

Persamaan linier yang berkelanjutan yang memiliki deviasi standar


yang disebut sebagai . Semakin besar nilai , maka kurva akan
semakin landai, dan semakin kecil nilai maka kurva akan semakin
melancip menuju + ke - .

Mean sampel dapat dihitung pada persamaan berikut :[13]

51

1 n
x = x i (2.2)
n i=1

x + x 2 + x 3 ........ + x n
x= 1
atau
n

Deviasi standar sampel ditunjuk dan dihitung sebagai:


n

s=

(x
i =1

x) 2

(2.3)

n 1

Pangkat dua dari deviasi standar disebut variasi.


n x i ( x i ) 2
2

s =
2

n(n 1)

. (2.4)

Deviasi standar populasi juga dapat ditentukan dengan adanya nilai populasi N.
n

(x
i =1

) 2

(2.5)

Faktor koefisien juga digunakan dalam nilai statistik.


s
CV = x100 ..(2.6)
x
Perhitungan Distribusi Normal
Distribusi normal dikatakan sebagai distribusi normal standar adalah dengan rata
rata = 0 dan deviasi standar = 1 yang memiliki fungsi densitas berbentuk :

f(x) =

2
1
e (x )
2

2 2

.. (2.7)

Nilai x mempunyai batas - < x < , sehingga dapat dikatakan berdistribusi


normal.
Probabilitas dari pengukuran jika lebih besar atau sama dengan nilai tertentu dapat
ditentukan dengan mengintegrasikan persamaan :[19]

52

PR (x a) = f(x)dx = (2.8)
a

Karena frekuensi luas di bawah kurva normal adalah sama dengan satu, probabilitas
pengukuran yang kurang dari satu adalah
PR (x < a) = 1 Pn (x a) (2.9)
Standar data variabel ini disebut deviasi normal z, dan digunakan untuk mengubah
setiap data variabel menjadi distribusi normal. Transformasi nilai x menjadi nilai z :
z=

x
.. (2.10)

Penggunaan Tabel Distribusi Normal


Tabel distribusi normal untuk variabel acak sehingga mendapatkan nilai normal.
Nilai tabel tersebut merupakan solusi untuk mengetahui nilai yang diinginkan dengan
batas tertentu :[19]
+

PR (x Ka) = =

Ka

K =

Jika a < , maka K =

z n
1
.e 2 dz . (2.11)
2

a
(2.12)

a
atau disebut nilai K mutlak positif.

PR (x a) = PR [{x )/] [{a )/}] =


PR (x a) = PR (z K ) = .. (2.13)
Sifat sifat penting distribusi normal :
1. Grafiknya selalu ada di atas sumbu datar x
2. Bentuknya simetris terhadap x =

53

3. Grafiknya mendekati sumbu datar x dimulai dari x = + 3 ke kanan dan


x = 3 ke kiri.

Gambar 2.10. kurva distribusi normal


Distribusi normal juga berfungsi sebagai pengujian hipotesis. Pengujian
hipotesis adalah cara pengambilan keputusan atau kesimpulan, dimana perumusan
sementara mengenai sesuatu yang dibuat untuk menjelaskannya dan untuk menuntun
atau mengarahkan penelitian selanjutnya. Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar
dan karenanya perlu diadakan penyelidikan. Kurva terdistribusi normal jika sampel
30.[16]

II.4.2.2. Distribusi t
Walaupun distribusi normal sangat penting dan banyak digunakan dalam
menentukan keputusan, namun, tidak satu satunya jenis distribusi yang digunakan
atau berlaku untuk analisis hanya distribusi normal. Melainkan distribusi tersebut
adalah distribusi t.
Distribusi t merupakan variabel acak tertentu yang terdistribusi secara
normal. Namun, jika standar deviasi tidak diketahui, maka jika disubstitusi,
standar deviasi sampel s digunakan ke variabel tersebut, tidak mengakibatkan

54

variabel acak sehingga tidak dapat terdistribusi normal, walaupun s merupakan .


Biasanya sampel distribusi t 30. Distribusi t adalah :[19]
t=

( x ) n
.. (2.14)
s

Distribusi ini banyak digunakan dalam solusi masalah ketika deviasi standar
populasi tidak diketahui. Nilai rata rata yang diharapkan dari distribusi ini adalah
nol dan seperti distribusi normal, juga memiliki jangkauan - ke + . Namun, tidak
seperti distribusi normal, nilai persen dari distribusi t merupakan fungsi dari derajat
kebebasan dk atau v .
PR (t t a;V ) = .. (2.15)

Nilai v tergantung pada data variabel, yaitu ditunjukkan dalam persamaan dk


atau v = n 1.
Penggunaan Tabel Distribusi
Nilai persentase distribusi dilihat pada nilai yang memiliki konsep umum
dalam pemecahan nilai probabilitas. Terdapat nilai nilai variabel v dan persen
risiko yang memungkinkan terjadinya signifikansi dalam penerimaan sampel.[18]

55

-t tabel

+ t tabel

Gambar 2.11. kurva distribusi t


II.4.3. Risiko
Pada spesifikasi, untuk pemilihan sampel yang berkualitas bisa mengalami
kesalahan. Jika hasil kinerja pekerjaan tidak memuaskan, maka pekerjaan tersebut
dapat ditolak dan menimbulkan kerugian, disebut risiko produsen. Sebaliknya,
kesalahan yang menghasilkan penerimaan produk yang tidak memuaskan yang
merugikan konsumen, disebut risiko konsumen. Agar kesalahan tidak terjadi, maka
dalam perencanaan harus memiliki tingkat keyakinan (confidence level) penerimaan
dalam bentuk persentase (1 hingga 100%). Sehingga dalam melaksanakan pekerjaan
tersebut dapat dipercaya dan spesifikasi juga menjadi standarisasi yang akurat.[13]
Ada dua tipe risiko :
1. Risiko produsen adalah kesalahan yang terjadi pada saat nilai sampel
berada di luar batas kontrol namun proses sebenarnya dalam kontrol
(random effect) dengan nilai yang telah ditetapkan sebesar 5% atau
10%. Maksudnya adalah tingkat kepercayaan yang diterima, dimana
rendahnya kemungkinan penolakan atau penerimaan sampel harus
pada batas kontrol yang diterima (tingkat keyakinan kualitas
minimum yang diterima biasanya 95% atau 90%). Risiko produsen
disebut sebagai .
Tabel 2.4. Nilai rekomendasi untuk risiko produsen ( )
Jenis Perencanaan Kontrol Kualitas

Risiko Produsen ( )

56

Diterima / Ditolak

10 %

Ketetapan untuk Penerimaan

20 %

Sumber : Main Road Weastern Australia. (2008). Hal.4. [11]

2. Risiko konsumen adalah kesalahan yang terjadi pada saat nilai sampel
berada di dalam batas kontrol namun proses sebenarnya tidak dalam
kontrol (terjadi proses pergeseran) dan ditetapkan sebesar 10% atau
20%. Maksudnya adalah rendahnya kemungkinan penerimaan atau
persentase ditolaknya sampel dengan tingkat kepercayaan yang telah
ditetapkan. Risiko ditunjuk sebagai . [13]

Tingkat keyakinan terhadap rata rata : diketahui, dengan batas 1 arah.[19]


LCL= x K
............................................................(2.16)
n


UCL= x + K
............................................................(2.17)
n

Tingkat keyakinan terhadap sampel: tidak diketahui dengan batas 2 arah.

s
s
LCL= x t /2;n 1
x UCL= x + t /2;n 1
(2.18)
n
n

II.4.4. Kriteria Penerimaan


Merupakan batas di mana sampel yang telah di uji secara statistik
menghasilkan nilai penerimaan Rc L serta menggunakan pengujian hipotesis
dalam pengambilan keputusan.[11]
57

Rc = ( x - ks ) L(2.20)

Uji Hipotesis.[19]
K /2 z + K /2

H : = 0

t /2:n 1 t + t /2:n 1
z K

H : 0

t t :n 1
z K

H : 0

t t :n 1

, H diterima

, H diterima

, H diterima

Rata rata (satu populasi) :

(x )

z=

(x )

t=

..(2.21)

..(2.22)

Rata rata (dua populasi) :


z=

t=

(
(s

(x
2
x1

2
x1

x2

/ n x1 + x 2 / n x 2

(x

....(2.24)

) (

x2

) (

/ n x1 + s x 2 / n x 2
2

..(2.23)

Tabel 2.5. Pengambilan Keputusan dengan uji Hipotesis


Hipotesis (H) Benar

Hipotesis (H) Salah

Terima H

Keputusan Benar

Risiko konsumen ( )

Tolak H

Risiko produsen ( )

Keputusan Benar

Sumber : sudjana 84. Hal.

[16]

58

II.4.5. Persen kesalahan


Untuk mengontrol perkerasan jalan, tingkat kualitas yang terbaik didefinisikan
dalam persen kesalahan yang bertujuan :

Mengetahui sampel yang tidak dapat diterima,

Dapat menyesuaikan dengan spesifikasi, sehingga mengetahui kesuksesan


pekerjaan. Disebut dengan p (%).[11]
Tabel 2.6. Nilai persen kesalahan
Jenis fasilitas

Persentase Kesalahan (p)

Jalan Bebas

10 %

Jalan Raya dan Jalan Utama

15 %

Jalan Lainnya

20 %

Sumber : Main Road Weastern Australia. (2008). Hal.3. [11]

Dapat dihitung mengunakan persamaan di bawah ini :[10]

k =

kp k

2
1
2
+ k (2(n 1))

1
2
2
k p = k + k + k (2(n 1)) (2.25)

2

k =

k kp

1
2
2
+ k (2(n 1))
2

1
2
2
k p = k + k + k (2(n 1)) (2.26)

2

Sehingga dapat dihitung sampel sebenarnya saat diketahui L (Batas


Spesifikasi) dari kriteria penerimaan dan uji hipotesis.

59

n=

(K

K ) 2
2

( 0 1 )2

(2.27)

Tabel 2.7. Rekomendasi jumlah sampel per lot (n)


Komponen Pekerjaan

Jumlah sampel per Lot (n)

Pondasi Tanggul

Konstruksi

Tanah Dasar

Pondasi Bawah

Pondasi Atas (Agregat)

Lapisan Permukaan (Campuran aspal)

10

Sumber : Main Road Weastern Australia. (2008). Hal.4. [11]

II.4.6. Grafik kontrol dan Kurva OC


1. Grafik kontrol
Grafik kontrol merupakan kumpulan data yang ditulis dalam bentuk grafik
dan digunakan untuk membuat penilaian kontrol kualitas (quality control) pada
proses kontrol kualitas (quality control processes) terhadap spesifikasi.
Adapun jenis grafik kontrol, yaitu grafik X. Grafik X adalah jenis grafik
kontrol yang menggunakan angka rata rata dari contoh yang diambil dari pengujian
permukaan perkerasan. Hasil yang akan diukur adalah sampel variabel atau atribut
untuk mengetahui hasil atau tingkat kontrol kualitas yaitu rata rata sampel.
Grafik X mempunyai tiga parameter penting yang ditentukan dengan cara
perhitungan dari data-data historis, yaitu:
1. Nilai rata-rata
2. Batas kontrol atas atau upper control limit (UCL)

60

3. Batas kontrol bawah atau lower control limit (LCL)

Gambar 2.12. Grafik kontrol


Tahapan untuk membentuk grafik kontrol adalah sebagai berikut:
1. Grafik kontrol dibentuk dari data dimana kinerja masa depan dibandingkan
dengan kinerja masa lalu.
2. Lalu dihitung angka rata-rata, batas kontrol atas dan batas kontrol bawah. Batas
kontrol berdasarkan pada distribusi sampling.
3. Kemudian digambar grafik kontrol dimana sumbu Y menunjukkan perhitungan
variabel dan sumbu mendatar X menunjukkan jumlah sample.
4. Pada grafik ditulis angka hasil pengukuran sampel variabel atau atribut dari unit.
5. Lalu diterjemahkan arti grafik untuk melihat apakah:

Proses terkontrol dan tidak perlu ada tindakan

Proses tak terkontrol maka perlu dicari penyebabnya

Proses terkontrol tetapi ada kecenderungan dimana harus memperingatkan


kepada spesifikasi ada kemungkinan terjadi kondisi yang tidak acak atau
kondisi yang tak terkendali.[7]

2. Kurva OC

61

Kurva (OC) adalah kurva yang diplotkan untuk menyajikan penerimaan


kontrol kualitas. Kurva tersebut akan menunjukkan dan membedakan sampel yang
dapat diterima atau tidak diterima terhadap spesifikasi. Kurva OC juga menjelaskan
risiko yang terjadi pada pelaksanaan kontrol kualitas. Sehingga kurva merupakan
batas statistik dari penilaian sampel yang akan dipilih nantinya. Sebuah kurva OC
terhadap rata - rata ditunjukkan pada Gambar 2.15.
Kurva OC menegaskan penerimaan sampel yang telah dikontrol kualitasnya
dengan menggunakan resiko produsen ( ) dan konsumen ( ) sebagai signifikansi
penerimaan dan faktor yang mempengaruhi kontrol kualitas bahan dan pekerjaan.
Untuk penerimaan sampel ditentukan dengan (P/1 - ). Dimana P menggunakan
resiko konsumen ( ) sebagai parameter proporsi kerusakan sampel. Sehingga dapat
dilihat dengan tabel kurva OC kesesuaian spesifikasi yang telah menjadi standar
perencanaan campuran beraspal sebelumnya.[13]

Gambar 2.13. Distribusi Normal dan Miring dengan jumlah sampel


berbeda.[11]

62

Gambar 2.14. Batas Spesifikasi, Satu Batas maupun Dua Batas.[13]

Gambar 2.15. Distribusi rata rata, kemungkinan penerimaan dengan kontrol


rerata.[13]

63