Anda di halaman 1dari 43

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238

SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Menjelaskan Perdarahan Pervaginam
2. Memahami dan Menjelaskan Kanker Serviks
2.1.
Definisi
2.2.
Etiologi
2.3.
Epidemiologi
2.4.
Klasifikasi (Staging)
2.5.
Patofisiologi
2.6.
Manifestasi Klinis
2.7.
Diagnosis dan Diagnosis Banding
2.8.
Tatalaksana
2.9.
Komplikasi
2.10.
Pencegahan
2.11.
Prognosis
3. Memahami dan Menjelaskan Etika dalam Pemeriksaan Menurut Ajaran Islam

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

1. Memahami dan Menjelaskan Perdarahan Pervaginam


1.1.Definisi
Adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 haid.
Ada dua macam perdarahan di luar haid yaitu metroragia dan menometroragia
1. Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid.
Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat
lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh. Penyebabnya adalah kelainan
organik (polip endometrium, karsinoma endometrium, karsinoma serviks), kelainan
fungsional dan penggunaan estrogen eksogen
2. Menoragia adalah Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari dengan jumlah
darah kadang-kadang cukup banyak. Penyebab dan pengobatan kasus ini sama dengan
hipermenorea.
1.2.Etiologi
Sebab sebab organic
Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan olah kelainan pada:
serviks uteri; seperti polip servisis uteri, erosio porsionis uteri, ulkus pada portio uteri,
karsinoma servisis uteri.
Korpus uteri; polip endometrium, abortus imminens, abortus insipiens, abortus
incompletus, mola hidatidosa, koriokarsinoma, subinvolusio uteri, karsinoma korpus
uteri, sarkoma uteri, mioma uteri.
Tuba fallopii; kehamilan ekstopik terganggu, radang tuba, tumor tuba.
Ovarium; radang overium, tumor ovarium.
Sebab fungsional
Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik, dinamakan
perdarahan disfungsional. Perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap umur antara
menarche dan menopause. Tetapi kelainan inui lebih sering dijumpai sewaktu masa permulaan
dan masa akhir fung ovarium.
Dua pertiga wanita dari wanita-wanita yang dirawat di rumah sakit untuk perdarahan
disfungsional berumur diatas 40tahun, dan 3 % dibawah 20 tahun. Sebetulnya dalam praktek
dijumpai pula perdarahan disfungsional dalam masa pubertas, akan tetapi karena keadaan ini
biasanya dapat sembuh sendiri, jarana diperlukan perawatn di rumah sakit.
1.3.Patologi
Menurut schroder pada tahun 1915, setelahpenelitian histopatologik pada uterus dan
ovario pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan perdarahan yang
dinamakan metropatia hemorrgica terjadi karena persistensi folikel yang tidak pecah sehingga
tidak terjadi ovulasidan pembentukan corpus luteum.
Akibatnya terjadilah hiperplasia endometrium karena stimulasi estrogen yang berlebihan dan
terus menerus.
Penelitian menunjukan pula bahwa perdarahan disfungsional dapat ditemukan bersamaan
dengan berbagai jenis endometrium yaitu endometrium atropik, hiperplastik, ploriferatif, dan
sekretoris, dengan endometrium jenis non sekresi merupakan bagian terbesar. Endometrium jenis
nonsekresi dan jenis sekresi penting artinya karena dengan demikian dapat dibedakan perdarahan
anovulatori dari perdarahan ovuloatoir.
2

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini
mempunyai dasar etiologi yang berlainan dan memerlukan penanganan yang berbeda.
Pada perdarahan disfungsional yang ovulatoir gangguan dianggap berasal dari factor-faktor
neuromuskular, vasomotorik, atau hematologik, yang mekanismenya Belem seberapa
dimengerti, sedang perdarahan anovulatoir biasanya dianggap bersumber pada gangguan
endokrin.
1.4.Manifestasi klinik
a. Perdarahan ovulatory
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10 % dari perdarahan disfungsional dengan siklus
pendek (polimenore) atau panjang (oligomenore). Untuk menegakan diagnosis perdarahan
ovulatori perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. Jira karena perdarhan yang lama
dan tidak teratur siklus haid tidak dikenali lagi, maka Madang-kadang bentuk survei suhu badan
basal dapat menolong.
Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya
sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologinya:
1) korpus luteum persistens
Dalam hal ini dijumpai perdarahan Madang-kadang bersamaan dengan ovarium yang membesar.
Sindrom ini harus dibedakan dari kelainan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil
pemeriksaan panggul sering menunjukan banyak persamaan antara keduanya. Korpus luteum
persistens dapat menimbulkan pelepasan endometrium yagn tidak teratur (irregular shedding).
Diagnosis ini di buat dengan melakukan kerokan yang tepat pada waktunya, yaitu menurut Mc.
Lennon pada hari ke 4 mulainya perdarahan. Pada waktu ini dijumpai endometrium dalam tipe
sekresi disamping nonsekresi.
2) insufisiensi korpus luteum
Hal ini dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia atau polimenore. Dasarnya ahla
kurangntya produksi progesteron disebabkan oleh gangguan LH realizing factor. Diagnosis
dibuat, apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran
endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.
3) apopleksia uteri
Pada wanita dengan hipertensi dapat terjado pecahnya pembuluh darah dalam uterus.
4) kelainan darah
Seperti anemia, purpura trombositopenik, dan gangguan dalam mekasnisme pembekuan darah.
b. Perdarahan anovulatoir
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan menurunya Kadar
estrogen dibawah tingkat tertentutimbul perdarahan yang Madang-kadang bersifat siklik,
Kadang-kadang tidak teratur sama sekali.
Fluktuasi kadar estrogen ada sangkutpautnya dengan jumlah folikel yang pada statu waktu
fungsional aktif. Folikel folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum mengalami atresia, dan
kemudian diganti oleh folikel folikel baru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh
terus dan dari endometrium yang mula-mula ploriferasidapat terjadi endometrium bersifat
hiperplasia kistik.Jika gambaran ini diperoleh pada kerokan maka dapat disimpulkan adanya
perdarahan anovulatoir.
Perdarahan fungsional dapat terjadi pada setiap waktu akan tetapi paling sering pada masa
permulaan yaitu pubertas dan masa pramenopause.
3

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Pada masa pubertas perdarahan tidak normal disebabkan oleh karena gangguan atau
keterlambatan proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat bahwa pembuatan realizing
faktor tidak sempurna. Pada masa pramenopause proses terhentinya fungsi ovarium tidak selalu
berjalan lancar.
Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan ada harapan lambat laun
keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi ovulatoir, pada seorang dewasa dan terutama
dalam masa pramenopause dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan kerokan untuk
menentukan ada tidaknya tumor ganas.
Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan penyakit metabolik,
penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang menahun, tumor-tumor ovarium dan
sebagainya. Akan tetapi disamping itu terdapat banyak wanita dengan perdarahan disfungsional
tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut. Selain itu faktor psikologik juga berpengaruh antara
lain stress kecelakaan, kematian, pemberian obat penenang terlalu lama dan lain-lain dapat
menyebabkan perdarahan anovulatoir.
1.5. Diagnosis
Perlu ditanyakan bagaimana mulainya perdarahan, apakah didahului oleh siklus yang
pendek atau oleh oligomenore/amenorhe, sifat perdarahan ( banyak atau sedikit-sedikit,
sakit atau tidak), lama perdarahan, dan sebagainnya.
Pada pemeriksaan umum perlu diperhatikan tanda-tanda yang menunjuk ke arah
kemungkinaan penyakit metabolik, endokrin, penyakit menahun. Kecurigaan terhadap
salah satu penyait tersebut hendaknya menjadi dorongan untuk melakukan pemeriksaan
dengan teliti ke arah penyakit yang bersangkutan.
Pada pemeriksaan gynecologik perlu dilihat apakah tidak ada kelainan-kelainan organik
yang menyebabkan perdarahan abnormal (polip, ulkus, tumor, kehamilan terganggu).
Pada pubertas tidak perlu dilakukan kerokan untuk menegakan diagnosis. Pada wanita
umur 20-40 tahun kemungkinan besar adalah kehamilan terganggu, polip, mioma
submukosum,
Dilakukan kerokan apabila sudah dipastikan tidak mengganggu kehamlan yang masih
bisa diharapkan. Pada wanita pramenopause dorongan untuk melakukan kerokan adalah
untuk memastikan ada tidaknya tumor ganas.
1.6. Tatalaksana
1. Istirahat baring dan transfusi darah
2. Bila pemeriksaan gynecologik menunjukan perdarahan berasal dari uterus dan tidak ada
abortus inkompletus, perdarahan untuk sementara waktu dapat dipengaruhi dengan
hormon steroid. Dapat diberikan :
Estrogen dalam dosis tinggi
Supaya kadarnya dalam darah meningkat dan perdarahan berhenti. Dapat diberikan secar IM
dipropionasestradiol 2,5 mg, atau benzoas estradiol 1,5 mg, atau valeras estradiol 20 mg. Tetapi
apabila suntikan dihentikan perdarahan dapat terjadi lagi
progesteron
Pemberian progesteron mengimbangi pengaruh estrogen terhadap endometrium, dapat diberikan
kaproas hidroksi progesteron 125 mg, secara IM, atau dapat diberikan per os sehari nirethindrone
15 mg atau asetas medroksi progesteron (provera) 10 mg, yang dapat diulangi berguna dalam
masa pubertas.
4

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

2. Memahami dan Menjelaskan Kanker Serviks


2.1.
Definisi
Kanker serviks adalah keganasan primer dari serviks uteri (kanalis servikalis dan atau
porsio). Jenis yang paling umum adalah jenis epitelias squamous, adenoma, dan jenis campuran.
(Priyanto dan Nuranna, 2006)
2.2.
Etiologi
Infeksi HPV (Human Papilloma Virus) resiko tinggi merupakan faktor etiologi kanker
serviks. Pendapat ini juga ditunjang oleh berbagai macam penelitian. Berdasarkan penelitian
yang telah dilakukan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) terdapat 1.000
sampel dari 22 negara serta didapatkan adanya infeksi HPV pada sejumlah 99,7% kasus kanker
serviks. Penelitian meta-analisis yang meliputi 10.000 kasus didapatkan 8 tipe HPV yang banyak
ditemukan, yaitu tipe 16, 18, 45, 31, 33, 52, 58 dan 35. Penelitian kasus kontrol dengan 2.500
kasus karsinoma serviks dan 2.500 perempuan yang tidak menderita kanker serviks sebagai
kontrol, deteksi infeksi HPV pada penelitian tersebut dengan pemeriksaan PCR. Total prevalensi
infeksi HPV pada penderita kanker serviks jenis karsinoma sel skuamosa adalah 94,1%.
Prevalensi infeksi HPV pada penderita kanker serviks jenis adenokarsinoma dan adenoskuamosa
adalah 93%. Penelitian pada NIS II atau III mendapatkan infeksi HPV yang didominasi ole tipe
16 dan 18. Progresifitas menjadi NIS II atau III setelah menderita HPV berkisar 2 tahun.
(Andrijono, 2007)
HPV merupakan kelompok virus dari family
Papovaviridae. Berukuran kecil, tidak memiliki
envelope, dengan diameter sekitar 55 nm. Kapsid
berbentuk isohedral, yang tersusun atas 72 kapsomer.
Setiap
kapsomer mengandung minimal 2 protein kapsid, L1
(protein kapsid mayor) dan L2 (protein kapsid minor).
(Eileen M. Burd, 2003)
HPV dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok,
kelompok resiko rendah dengan kelompok resiko tinggi.
Kelompok resiko rendah terdiri atas HPV tipe 6, 11, 42, 43 dan 44. Sedangkan kelompok resiko
tinggi terdiri atas HPV tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56 dan 58. (Andrijono, 2007)

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Faktor Resiko
Faktor Risiko yang Telah Dibuktikan
Hubungan Seksual
Karsinoma serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara seksual.
Beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan antara riwayat hubungan seksual dan risiko
penyakit ini. (Iman Rasidji, 2009)
Sesuai dengan etiologi infeksinya, wanita dengan partner seksual yang banyak dan wanita
yang memulai hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker
serviks. Karena sel kolumnar serviks lebih peka terhadap metaplasia selama usia dewasa maka
wanita yang berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun akan berisiko terkena kanker serviks
lima kali lipat. Keduanya, baik usia saat pertama berhubungan maupun jumlah partner seksual,
adalah faktor risiko kuat untuk terjadinya kanker serviks. (Iman Rasidji, 2009)
Karakteristik Partner
Sirkumsisi pernah dipertimbangkan menjadi faktor pelindung, tetapi sekarang hanya
dihubungkan dengan penurunan faktor risiko. Studi kasus kontrol menunjukkan bahwa pasien
dengan kanker serviks lebih sering menjalani seks aktif dengan partner yang melakukan seks
berulang kali. Selain itu, partner dari pria dengan kanker penis atau partner dari pria yang
istrinya meninggal terkena kanker serviks juga akan meningkatkan risiko kanker serviks. tidak
tepat dapat pula meningkatkan risiko. (Iman Rasidji, 2009)
Riwayat Ginekologis
Walaupun usia menarke atau menopause tidak mempengaruhi risiko kanker serviks,
hamil di usia muda dan jumlah kehamilan atau manajemen persalinan yang tidak tepat dapat
meningkatkan resiko. (Iman Rasidji, 2009)
Dietilstilbesterol (DES)
Hubungan antara clear cell adenocarcinoma serviks dan paparan DES in-utero telah
dibuktikan. (Iman Rasidji, 2009)
Agen Infeksius
Mutagen pada umumnya berasal dari agen-agen yang ditularkan melalui hubungan
seksual seperti Human Papilloma Virus (HPV) dan Herpes Simpleks Virus Tipe 2 (HSV 2).
(Benedet 1998; Nuranna 2005)
Human Papilloma Virus (HPV)
Terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa Human Papilloma Virus (HPV)
sebagai penyebab neoplasia servikal. Karsinogenesis pada kanker serviks sudah dimulai sejak
seseorang terinfeksi HPV yang merupakan faktor inisiator dari kanker serviks yang
menyebabkan terjadinya gangguan sel serviks. (Iman Rasidji, 2009)
Ada bukti lain yaitu onkogenitas virus papiloma hewan; hubungan infeksi HPV serviks
dengan kondiloma dan atipik koilositotik yang menunjukkan displasia ringan atau sedang; serta
deteksi antigen HPV dan DNA dengan lesi servikal. (Iman Rasidji, 2009)
HPV tipe 6 dan 11 berhubungan erat dengan diplasia ringan yang sering regresi. HPV tipe 16 dan
18 dihubungkan dengan diplasia berat yang jarang regresi dan seringkali progresif menjadi
karsinoma insitu. Infeksi Human Papilloma Virus persisten dapat berkembang menjadi neoplasia
intraepitel serviks (NIS). (Iman Rasidji, 2009)
Seorang wanita dengan seksual aktif dapat terinfeksi oleh HPV risiko-tinggi dan 80%
akan menjadi transien dan tidak akan berkembang menjadi NIS. HPV akan hilang dalam waktu
6-8 bulan. Dalam hal ini, respons antibodi terhadap HPV risiko-tinggi yang berperan. Dua puluh
persen sisanya berkembang menjadi NID dan sebagian besar, yaitu 80%, virus menghilang,
6

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

kemudian lesi juga menghilang. Oleh karena itu, yang berperan adalah cytotoxic T-cell.
Sebanyak 20% dari yang terinfeksi virus tidak menghilang dan terjadi infeksi yang persisten.
NIS akan bertahan atau NIS 1 akan berkembang menjadi NIS 3, dan pada akhirnya sebagiannya
lagi menjadi kanker invasif. HPV risiko rendah tidak berkembang menjadi NIS 3 atau kanker
invasif, tetapi menjadi NIS 1 dan beberapa menjadi NIS 2. Infeksi HPV risiko-rendah sendirian
tidak pernah ditemukan pada NIS 3 atau karsinoma invasif. (Iman Rasidji, 2009)
Berdasarkan hasil program skrining berbasis populasi di Belanda, interval antara NIS 1 dan
kanker invasif diperkirakan 12,7 tahun dan kalau dihitung dari infeksi HPV risiko-tinggi sampai
terjadinya kanker adalah 15 tahun. Waktu yang panjang ini, di samping terkait dengan infeksi
HPV risiko-tinggi persisten dan faktor imunologi (respons HPV-specific T-cell, presentasi
antigen), juga diperlukan untuk terjadinya perubahan genom dari sel yang terinfeksi. Dalam hal,
ini faktor onkogen E6 dan E7 dari HPV berperan dalam ketidakstabilan genetik sehingga terjadi
perubahan fenotipe ganas. (Iman Rasidji, 2009)
Oncoprotein E6 dan E7 yang berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya
degenerasi keganasan. Oncoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG p53 akan kehilangan
fungsinya. Sementara itu, oncoprotein E7 akan mengikat TSG Rb. Ikatan ini menyebabkan
terlepasnya E2F yang merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel berjalan tanpa kontrol.
(Iman Rasidji, 2009)
Virus Herpes Simpleks
Walaupun semua virus herpes simpleks tipe 2 (HPV-2) belum didemonstrasikan pada sel
tumor, teknik hibridisasi insitu telah menunjukkan bahwa terdapat HSV RNA spesifik pada
sampel jaringan wanita dengan displasia serviks. DNA sekuens juga telah diidentifikasi pada sel
tumor dengan menggunakan DNA rekombinan. (Iman Rasidji, 2009)
Diperkirakan, 90% pasien dengan kanker serviks invasif dan lebih dari 60% pasien dengan
neoplasia intraepitelial serviks (CIN) mempunyai antibodi terhadap virus. (Iman Rasidji, 2009)
Lain-lain
Infeksi trikomonas, sifilis, dan gonokokus ditemukan berhubungan dengan kanker
serviks. Namun, infeksi ini dipercaya muncul akibat hubungan seksual dengan multipel partner
dan tidak dipertimbangkan sebagai faktor risiko kanker serviks secara langsung. (Iman Rasidji,
2009)
Merokok
Saat ini terdapat data yang mendukung bahwa rokok sebagai penyebab kanker serviks
dan hubungan antara merokok dengan kanker sel skuamosa pada serviks (bukan adenoskuamosa
atau adenokarsinoma). Mekanisme kerja bisa langsung (aktivitas mutasi mukus serviks telah
ditunjukkan pada perokok) atau melalui efek imunosupresif dari merokok. Bahan karsinogenik
spesifik dari tembakau dapat dijumpai dalam lendir dari mulut rahim pada wanita perokok.
Bahan karsinogenik ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan bersama infeksi HPV dapat
mencetuskan transformasi keganasan. (Iman Rasidji, 2009)
Faktor Risiko yang Diperkirakan
Kontrasepsi Oral
Risiko noninvasif dan invasif kanker serviks telah menunjukkan hubungan dengan
kontrasepsi oral. Bagaimanapun, penemuan ini hasilnya tidak selalu konsisten dan tidak semua
studi dapat membenarkan perkiraan risiko dengan mengontrol pengaruh kegiatan seksual.
Beberapa studi gagal dalam menunjukkan beberapa hubungan dari salah satu studi, bahkan
melaporkan proteksi terhadap penyakit yang invasif. Hubungan yang terakhir ini mungkin palsu
dan menunjukkan deteksi adanya bias karena peningkatan skrining terhadap pengguna
7

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

kontrasepsi. Beberapa studi lebih lanjut kemudian memerlukan konfirmasi atau menyangkal
observasi ini mengenai kontrasepsi oral. (Iman Rasidji, 2009)
Diet
Diet rendah karotenoid dan defisiensi asam folat juga dimasukkan dalam faktor risiko
kanker serviks. (Iman Rasidji, 2009)
Etnis dan Faktor Sosial
Wanita di kelas sosio-ekonomi yang paling rendah memiliki faktor risiko lima kali lebih
besar daripada wanita di kelas yang paling tinggi. Hubungan ini mungkin dikacaukan oleh
hubungan seksual dan akses ke sistem pelayanan kesehatan. (Iman Rasidji, 2009)
Di Amerika Serikat, ras negro, hispanik, dan wanita Asia memiliki insiden kanker serviks yang
lebih tinggi daripada wanita ras kulit putih. Perbedaan ini mungkin mencerminkan pengaruh
sosio-ekonomi. (Iman Rasidji, 2009)
Pekerjaan
Sekarang ini, ketertarikan difokuskan pada pria yang pasangannya menderita kanker
serviks. Diperkirakan bahwa paparan bahan tertentu dari suatu pekerjaan (debu, logam, bahan
kimia, tar, atau oli mesin) dapat menjadi faktor risiko kanker serviks. (Iman Rasidji, 2009)
2.3.

Epidemiologi

Untuk wilayah ASEAN, insidens kanker serviks di Singapore sebesar 25,0 pada ras Cina;
17,8 pada ras Melayu; dan Thailand sebesar 23,7 per 100.000 penduduk. Insidens dan angka
kematian kanker serviks menurun selama beberapa dekade terakhir di AS. Hal ini karena
skrining Pap menjadi lebih populer dan lesi serviks pre-invasif lebih sering dideteksi daripada
kanker invasif. Diperkirakan terdapat 3.700 kematian akibat kanker serviks pada 2006. (Imam
Rasjidi, 2009)
Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40 ribu kasus baru kanker mulut rahim setiap tahunnya.
Menurut data kanker berbasis patologi di 13 pusat laboratorium patologi, kanker serviks
merupakan penyakit kanker yang memiliki jumlah penderita terbanyak di Indonesia, yaitu lebih
8

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

kurang 36%. Dari data 17 rumah sakit di Jakarta 1977, kanker serviks menduduki urutan
pertama, yaitu 432 kasus di antara 918 kanker pada perempuan. (Imam Rasjidi, 2009)
Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, frekuensi kanker serviks sebesar 76,2% di antara
kanker ginekologi. Terbanyak pasien datang pada stadium lanjut, yaitu stadium IIB-IVB,
sebanyak 66,4%. Kasus dengan stadium IIIB, yaitu stadium dengan gangguan fungsi ginjal,
sebanyak 37,3% atau lebih dari sepertiga kasus. (Nuranna, 2005)
Umur seorang penderita berada pada kisaran 30-60 tahun, terbanyak adalah 45-50 tahun.
Periode laten dari fase pre-invasif untuk menjadi invasif memakan waktu sekitar 10 tahun.
Hanya dari 9% dari wanita berusia < 35 tahun menunjukkan kanker serviks yang invasif pada
saat terdiagnosis, sedangkan 53% dari KIS terdapat pada wanita dibawah usia 35 tahun.
Mempertimbangkan keterbatasan yang ada, telah disepakati secara nasional untuk melakukan
program deteksi dini (pelacakan) setiap wanita (satu kali) setelah melewati usia 30 tahun dan
menyediakan sarana penanganannya, untuk berhenti setelah usia 60 tahun. Yang penting dari
deteksi dini adalah cakupannya. Bahkan direncanakan akan ada pelatihan tenaga sukarelawati
untuk mengenali bentuk porsio yang mencurigakan untuk dapat di pap smear oleh dokter atau
bidan di puskesmas atau puskesmas keliling sebagaimana disarankan oleh WHO. Salah satu
etiologinya adalah HPV (Human Papilloma Virus), maka kanker serviks memiliki beberapa
faktor resiko yang umumnya terkait dengan suatu pola penyakita akibat hubungan seksual.
Dengan demikian dapat disimpulkan penyimpangan pola seksual merupakan faktor resiko yang
sangat berperan. Faktor lain yang dianggap merupakan faktor resiko anatara lain faktor
hubungan seksual pertama kali pada usia muda, faktor kebiasaan merokok, dan pemakaian
kontrasepsi secara hormonal (Priyanto & Nuranna, 2006).
Relative survival pada wanita dengan lesi pre-invasif hampir 100%. Relative 1 dan 5
years survival masingmasing sebesar 88% dan 73%. Apabila dideteksi pada stadium awal,
kanker serviks invasif merupakan kanker yang paling berhasil diterapi, dengan 5 YSR sebesar
92% untuk kanker lokal. (Imam Rasjidi, 2009)
Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang lemah, status sosial
ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis
histopatologi, dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis dari penderita.
(Imam Rasjidi, 2009)

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

2.4.

Klasifikasi (Staging)

10

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

11

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

12

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

13

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Tingkat Keganasan Klinis Menurut Sistem TNM


Tingkat
T
T1S
T1
T1a
T1b
T2
T2a
T2b
T3
T4
T4a
T4b
Nx

Kriteria
Tidak ditemukan tumor primer
Karsinoma pra invasif (KIS)
Karsinoma terbatas pada serviks
Pra klinik: karsinoma yang invasif terlibat dalam histologik
Secara klinik jelas karsinoma yang invasif
Karsinoma telah meluas sampai di luar serviks, tetapi belum
sampai dinding panggul, atau Ca telah menjalar ke vagina, tetapi
belum sampai 1/3 bagian distal
Ca belum menginfiltrasi parametrium
Ca telah menginfiltrasi parametrium
Ca telah melibatkan 1/3 distal vagina / telah mencapai dinding
panggul (tidak ada celah bebas)
Ca telah menginfiltrasi mukosa rektum, kandung kemih atau
meluas sampai diluar panggul
Ca melibatkan kandung kemih / rektum saja, dibuktikan secara
histologik
Ca telah meluas sampai di luar panggul
Bila memungkinkan untuk menilai kelenjar limfa regional.
14

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Tanda -/+ ditambahkan untuk tambahan ada/tidaknya informasi


mengenai pemeriksaan histologik, jadi Nx+ / Nx-.
N0
Tidak ada deformitas kelenjar limfa pada limfografi
N1
Kelenjar limfa regional berubah bentuk (dari CT Scan panggul,
limfografi)
N2
Teraba massa yang padat dan melekat pada dinding panggul
dengan celah bebas infiltrat diantara massa ini dengan tumor
M0
Tidak ada metastasis berjarak jauh
M1
Terdapat metastasis jarak jauh, termasuk kele. Limfa di atas
bifurkasio arrteri iliaka komunis.
(Sarwono Prawirohardjo, 2005)

Secara Makroskopis
1 Stadium Preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronis
2 Stadium Permulaan (Early Stage)
Sering tampak lesi di sekitar ostium eksternum
3 Stadium Setengah Lanjut (Mid Stage)
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir posio
15

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

4 Stadium Lanjut (Late Stage)


Terjadi pengerusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan
yang rapuh dan mudah berdarah (neovaskularisasi)

Dari gambaran makroskopis:


1. Tipe erosi: bentuk luar serviks terlihat, permukaan erosif/granuler, mudah berdarah, Ca
invasif stadium dini
2. Tipe nodular: berasal dari serviks uteri/ostium eksterna tumbuh ke dalam canalis
servikalis, berbentuk nodular/bongkahan menginvasi ke dalam, serviks menjadi kasar,
dan bisa terdapat invasi ke parametrium.
3. Tipe kembang kol: dari ostium eksterna serviks uteri ke dalam vagina dengan bentuk
kembang kol, cepat, kaya akan pembuluh darah, rapuh, mudah berdarah, nekrosis dan
sering infeksi.
Secara Mikroskopis
1 Displasia
Displasia ringan dapat terjadi pada sepertiga bagian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada
2/3 epidermis hampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.
2 Stadium Karsinoma Insitu
Pada karsinoma insitu terjadi perubahan sel epitel pada seluruh lapisan epidermis menjadi sel
skuamosa.
3 Stadium Karsinoma Mikroinvasif
Pada karsinoma mikroinvasif, selain terjadi perubahan derajat pertumbuhan yang semakin
meningkat sel tumor juga menembus membrana basalis dan terdapat invasi tumor < 5 mm dai
membran basalis, biasanya tumor ini masih asimptomatik, sering ditemukan tidak sengaja pada
skrining kanker.

16

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

4 Stadium Karsinoma Invasif


Derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel menjadi bervariasi. Pertumbuhanpertumbuhan invasive muncul di area bibir posterior, anterior serviks, dan meluas ketiga area
yaitu forniks posterior atau anterior, parametrium dan korpus uteri.

Jenis histopatologis pada kanker serviks


Jenis skuamosa merupakan jenis yang paling sering ditemukan, yaitu 90% merupakan
karsinoma sel skuamosa (KSS), adenokarsinoma 5% dan jenis lain sebanyak 5%. Karsinoma
skuamosa terlihat sebagai jalinan kelompok sel-sel yang berasal dari skuamosa dengan
pertandukan atau tidak, dan kadang-kadang tumor itu sendiri berdiferensiasi buruk atau dari selsel yang disebut small cell, berbentuk kumparan atau kecil serta bulat seta mempunyai batas
tumor stroma tidak jelas. Sel ini berasal dari sel basal atau reserved cell. Sedang adenokarsinoma
terlihat sebagai sel-sel yang berasal dari epitel torak endoserviks, atau dari kelenjar endoserviks
yang mengeluarkan mukus (Notodiharjo, 2002). Klasifikasi histologik kanker serviks ada
beberapa, di antaranya :
1. Skuamous carcinoma
17

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Keratinizing
Large cell non keratinizing
Small cell non keratinizing
Verrucous
2. Adeno carcinoma
Endocervical
Endometroid (adenocanthoma)
Clear cell - paramesonephric
Clear cell - mesonephric
Serous
Intestinal
3. Mixed carcinoma
Adenosquamous
Mucoepidermoid
Glossy cell
Adenoid cystic
4. Undifferentiated carcinoma
5. Carcinoma tumor
6. Malignant melanoma
7. Maliganant non-epithelial tumors
Sarcoma : mixed mullerian, leiomysarcoma, rhabdomyosarcoma
Lymphoma
2.5.

Patofisiologi

Penularan HPV terjadi terutama melalui kontak kulit-ke-kulit. Sel basal epitel skuamosa berlapis
mungkin terinfeksi oleh HPV. Jenis sel lain tampaknya relatif resisten. Hal ini diasumsikan
bahwa siklus replikasi HPV dimulai dengan masuknya virus ke dalam sel-sel dari lapisan basal
epitel. Infeksi HPV dari lapisan basal memerlukan abrasi ringan atau microtrauma epidermis.
1. Biologi molekuler
Kanker serviks adalah salah satu contoh terbaik yang dapat dipahami bagaimana infeksi
virus dapat menyebabkan keganasan. Mekanisme molekuler infeksi HPV onkogenik disajikan
pada Gambar 1. HPV tipe risiko tinggi dapat dibedakan dari tipe HPV risiko rendah dari struktur
dan fungsi dari produk E6 dan E7. Dalam lesi jinak yang disebabkan oleh HPV, DNA virus
terletak extrachromosomally dalam nukleus. Dalam neoplasia intraepithelial derajat tinggi dan
kanker invasif, DNA HPV umumnya terintegrasi ke dalam host genom. Integrasi DNA HPV
mengganggu atau menghapus daerah E2, yang mengakibatkan kehilangan ekspresinya. Ini
mengganggu fungsi E2 -yang biasanya mengatur penurunan transkripsi dari gen E6 dan E7- dan
mengarah ke peningkatan ekspresi gen E6 dan E7. Fungsi E6 dan E7 produk selama infeksi HPV
produktif untuk merusak pengaturan jalur pertumbuhan sel dan memodifikasi lingkungan seluler
dalam rangka memfasilitasi replikasi virus. Produk gen E6 dan E7 men-deregulasi siklus
pertumbuhan sel hospes dengan mengikat dan menonaktifkan dua protein penekan tumor: tumor
suppressor protein (p53) dan produk gen retinoblastoma (PRB). Produk HPV, gen E6 mengikat
p53 dan mentargetkannya untuk degradasi cepat. Akibatnya, kegiatan normal p53 yang mengatur
penangkapan G1, apoptosis, dan perbaikan DNA dibatalkan. Protein E6 HPV risiko rendah tidak
18

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

mengikat p53 pada tingkat yang terdeteksi dan tidak berpengaruh pada stabilitas p53 in vitro.
Produk HPV, gen E7 mengikat PRB dan pengikatan ini mengganggu kompleks antara PRB dan
faktor transkripsi selular E2F-1, mengakibatkan pembebasan E2F-1, yang memungkinkan
transkripsi gen yang produknya diperlukan bagi sel untuk memasuki fase S dari siklus sel.
Produk gen E7 juga dapat bergaul dengan protein mitotically interaktif seluler lainnya seperti
cyclin E. Hasilnya adalah stimulasi seluler sintesis DNA dan proliferasi sel. E7 protein dari jenis
HPV risiko rendah mengikat PRB dengan penurunan afinitas. Selanjutnya, produk gen E5
menginduksi peningkatan aktivitas protein kinase mitogen-aktif, sehingga meningkatkan respon
seluler terhadap pertumbuhan dan faktor diferensiasi. Hal ini menyebabkan terus menerus
proliferasi dan diferensiasi sel hospes yang melambat.
Inaktivasi p53 dan protein PRB dapat menimbulkan peningkatan tingkat proliferasi dan
ketidakstabilan genomik. Akibatnya, sel hospes mengakumulasi semakin banyak kerusakan DNA
yang tidak bisa diperbaiki, menyebabkan tranformasi sel-sel kanker. Selain efek onkogen
diaktifkan dan ketidakstabilan kromosom, mekanisme potensial yang berkontribusi terhadap
transformasi termasuk metilasi virus dan sel DNA, aktivasi telomerase, dan faktor hormonal dan
immunogenetic.

19

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

2. Sejarah alami kanker serviks


Patogenesis kanker serviks diawali dengan infeksi HPV dari epitel serviks selama hubungan
seksual. Meskipun persentase yang tinggi dari perempuan muda yang aktif secara seksual
terkena infeksi HPV, hanya persentase yang sangat kecil yang terus berkembang menjadi kanker
serviks. Beberapa penelitian berpikiran bahwa kebanyakan wanita berhasil menghapus infeksi
HPV, mungkin melalui aksi dari sistem kekebalan tubuh yang kompeten. Kira-kira, 90% dari lesi
regresi spontan dalam 12 sampai 36 bulan. Faktor-faktor lain seperti predisposisi genetik,
frekuensi reinfeksi, variasi intratypic genetik dalam jenis HPV, koinfeksi dengan lebih dari satu
jenis HPV dan kadar hormon juga dapat mempengaruhi kemampuan untuk membersihkan
infeksi HPV.

20

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Bukti pentingnya sistem kekebalan tubuh inang dalam mencegah perkembangan serviks penyakit
berasal dari analisis infeksi HPV pada wanita positif human immunodeficiency virus (HIV).
Infeksi HPV dengan jenis virus yang berisiko tinggi, infeksi HPV persisten dan kehadiran lesi
intraepitel skuamosa lebih umum dalam kelompok immunocompromised daripada pada wanita
imunokompeten. Respon imun seluler hospes dimediasi oleh sel T sitotoksik dan memerlukan
interaksi epitop virus dengan molekul histocompatibility kelas I. Sebuah respon imun humoral
juga memperkuat, tetapi tingkat lokal HPV-spesifik imunoglobulin G (IgG) dan IgA jaringan
tidak berkorelasi dengan pembersihan virus. Namun, tingkat sistemik HPV-spesifik IgA memiliki
telah berkorelasi dengan pembersihan virus. Sebaliknya, tingkat sistemik HPV-IgG spesifik telah
terdeteksi lebih sering pada pasien dengan infeksi HPV persisten.
Sejarah alami kanker serviks adalah proses penyakit yang berkesinambungan yang berlangsung
secara bertahap dari neoplasia serviks intraepithelial ringan (CIN) ke derajat neoplasia yang lebih
parah (CIN CIN 2 atau 3) dan akhirnya menjadi kanker invasif. Hal ini masuk akal bahwa infeksi
HPV risiko tinggi terjadi pada awal kehidupan, dapat bertahan, dan dalam hubungannya dengan
faktor-faktor lain yang mempromosikan transformasi sel, dapat menyebabkan bertahap
perkembangan penyakit lebih parah. Sebuah model untuk pengembangan kanker serviks
disajikan dalam gambar 2. Displasia ringan dan sedang berhubungan dengan replikasi virus terus
dan peluruhan virus, dan sebagian besar lesi ini secara spontan regresi. Perkembangan menjadi
lesi derajat tinggi (CIN 2/3) dan akhirnya kanker invasif biasanya terkait dengan konversi dari
genom virus dari bentuk episomal ke bentuk terintegrasi, bersama dengan inaktivasi atau
penghapusan daerah E2 dan ekspresi dari gen produk E6/E7. Beberapa peneliti telah
mengkorelasikan tipe HPV dengan derajat CIN yang berbeda dan telah menyimpulkan bahwa
CIN CIN 1 dan 2/3 adalah proses yang berbeda, dengan CIN 1 menunjukkan diri terbatas infeksi
menular seksual HPV dan CIN 2 atau CIN 3 menjadi satu-satunya prekursor kanker serviks.
Perkembangan kanker umumnya terjadi selama periode 10 sampai 20 tahun. Beberapa lesi
menjadi kanker lebih cepat, kadang-kadang dalam waktu dua tahun.

21

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Lesi Pra Kanker

Kanker

------------------- 3-17 tahun -----------------------

Displasia Ringan
Serviks

Displasia Sedang

Displasia Keras

Karsinoma Insitu

Ca

Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan
endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Pada wanita
SCJ ini berada di luar ostius uteri eksternum, sedangkan pada waniya umur > 35 tahun, SCJ
berada di dalam kanalis serviks. Tumor dapat tumbuh :
1. Eksofilik mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa yang mengalami infeksi
sekunder dan nekrosis.
2. Endofilik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stomaserviks dan cenderung untuk
mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
3. Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan
melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.

22

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Patofisiologi Sesuai Penyimpangan KDM Ca Serviks Pre Operatif

23

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

PATOFISIOLOGI LEUKOREA DAN POST-COITAL BLEEDING

Penyebaran Kanker Serviks


Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah :
Ke arah fornices dan dinding vagina
Ke arah korpus uterus
Ke arah parametrium dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi
septum rektovaginal dan kandung kemih.
Melalui pembuluh getah bening dalam parametrium kanan dan kiri sel tumor dapat
menyebar ke kelenjar iliak luar dan kelenjar iliak dalam (hipogastrika). Penyebaran melalui
pembuluh darah (bloodborne metastasis) tidak lazim. Karsinoma serviks umumnya terbatas pada
daerah panggul saja. Tergantung dari kondisi immunologik tubuh penderita KIS akan
berkembang menjadi mikro invasif dengan menembus membrana basalis dengan kedalaman
invasi <1mm dan sel tumor masih belum terlihat dalam pembuluh limfa atau darah. Jika sel
tumor sudah terdapat >1mm dari membrana basalis, atau <1mm tetapi sudah tampak dalam
pembuluh limfa atau darah, maka prosesnya sudah invasif. Tumor mungkin sudah menginfiltrasi
stroma serviks, akan tetapi secara klinis belum tampak sebagai karsinoma. Tumor yang demikian
disebut sebagai ganas praklinik (tingkat IB-occult). Sesudah tumor menjadi invasif, penyebaran
secara limfogen melalui kelenjar limfa regional dan secara perkontinuitatum (menjalar) menuju
fornices vagina, korpus uterus, rektum, dan kandung kemih, yang pada tingkat akhir (terminal
stage) dapat menimbulkan fistula rektum atau kandung kemih. Penyebaran limfogen ke
parametrium akan menuju kelenjar limfa regional melalui ligamentum latum, kelenjar-kelenjar
iliak, obturator, hipogastrika, prasakral, praaorta, dan seterusnya secara teoritis dapat lanjut
melalui trunkus limfatikus di kanan dan vena subklavia di kiri mencapai paru-paru, hati , ginjal,
tulang dan otak.
24

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Biasanya penderita sudah meninggal lebih dahulu disebabkan karena perdarahan-perdarahan


yang eksesif dan gagal ginjal menahun akibat uremia oleh karena obstruksi ureter di tempat
ureter masuk ke dalam kandung kencing.
Penyebaran karsinoma serviks terjadi melalui 3 jalan yaitu perkontinuitatum ke dalam vagina,
septum rektovaginal dan dasar kandung kemih. Penyebaran secara limfogen terjadi terutama
paraservikal dalam parametrium dan stasiun-stasiun kelenjar di pelvis minor, baru kemudian
mengenai kelenjar para aortae terkena dan baru terjadi penyebaran hematogen (hepar, tulang).
Secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah:
Fornices dan dinding vagina
Korpus uteri
Parametrium dan dalam tingkatan lebih lanjut menginfiltrasi septum rektovagina dan
kandung kemih.
Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar kelenjar limfe regional melalui
ligamentum latum, kelenjar iliaka, obturator, hipogastrika, parasakral, paraaorta, dan seterusnya
ke trunkus limfatik di kanan dan vena subklvia di kiri mencapai paru, hati, ginjal, tulang serta
otak.
2.6.
Manifestasi Klinis
Mengenali tanda-tanda pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas.
Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari vagina ini makin
lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan
Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang kemudian berlanjut menjadi
perdarahan yang abnormal.
Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.
Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat
bercampur dengan darah.
Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila
nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain
itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul
iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rektum), terbentuknya fistel
vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.
2.7.
Diagnosis dan Diagnosis Banding
a. Anamnesis
Pada anamnesis perlu diidentifikasi data mengenai riwayat perkawinan dan pesalinan, perilaku
seks yang sering berganti ganti pasangan (promiskusitas), waktu coitus pertama kali, penyakit
yang pernah dialami misalnya herpes genitalis, infeksi HPV, servisis kronis, gaya hidup seperti
meroko, hygienis, jenis makanan san social ekonomi rendah, juga keluhan perdarahan spontan
ataupun pasca senggama. Gejala Klinis kurang menunjang sebagai penunjuk diagnostic karena
lesi prakanker umumnya asimptomatik kecuali pada keganasan yang susdah lanjut..
25

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

b.Pemeriksaan Fisik
Diagnosis kanker serviks tidaklah sulit apalagi tingkatannya sudah lanjut.Yang menjadi masalah
adalah bagaimana melakukan skrining untuk mencegah kanker serviks, dilakukan dengan
deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadaplesi prakanker serviks. Kemampuan untuk
mendeteksi dini kanker serviks disertaidengan kemampuan dalam penatalaksanaan yang tepat
akan dapat menurunkanangka kematian akibat kanker serviks.
1. Keputihan. Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan, berbaubusuk akibat
infeksi dan nekrosis jaringan.
2. Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks. Perdarahantimbul akibat
terbukanya pembuluh darah, yang makin lama makin seringterjadi diluar senggama.
3. Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.
4. Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh.
Pemeriksaan tanda vital seperti tensi, nadi, respirasi, suhu badan.
Status pasien :
i. Ada atau tidaknya anemia.
ii.Tanda-tanda metastase di paru seperti: sesak napas, batuk darah.
iii.Status lokalis abdomen: umumnya tak khas, jarang menimbulkan kelainan berupa benjolan,
kecuali bila sudah ada penyebaran ke rektum menimbulkan obstipasi, ileusobstruktif.
iv.Palpasi hepar, supraklavikula, dan diantara kedua paha untuk melihat ada tidaknya benjolan
untuk meyakinkan ada tidaknya metastase.
c.Pemeriksaan Ginekologi
Pada pemeriksaan makroskopis/inspekulo mungkin tidak ditemukankelainan porsio pada lesi tin
gkat prakanker dan kadang hanya
menunjukkan gambaran khas seperti leukoplakia, erosi, ektropion atau servisitis. Tetapitidak
demikian halnya pada tingkat lanjut dimana porsio terlihat benjol-benjol menyerupai bunga kol
(pertumbuhan eksofitik) atau mungkin juga ditemukan fistula rektovaginal ataupun
vesikovagina. Pada keadaan ini porsio mudah sekali berdarah karena kerapuhan selsehingga pada
pemeriksaan ginekologi dianjurkan mulai dengan pemeriksaan inspekulo yang dilanjutkan
dengan pemeriksaan vagina bimanual untuk eksplorasi vagina.
d. Pemeriksaan Penunjang
1. Pap smear

26

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Metode tes Pap smear yang umum yaitu dokter menggunakan pengerik atau sikat untuk
mengambil sedikit sampel sel-sel serviks atau leher rahim. Kemudian sel-sel tersebut akan
dianalisa di laboratorium. Tes itu dapat menyingkapkan apakah ada infeksi, radang, atau sel-sel
abnormal. Menurut laporan sedunia, dengan secara teratur melakukan tes Pap smear telah
mengurangi jumlah kematian akibat kanker serviks.
Pap smear test adalah suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil
dari leher rahim dan kemudian dilihat dibawah mikroskop. Ketelitiannya melebihi 90% bila
dilakukan
dengan
baik.
Untuk
deteksi
tumor
ganas
bahan
diambil dengan spatel Ayre atau dengan kapas lidi dari dinding samping vagina dan dari serviks.
Bahan dari kanalis servikalis agak kedalam diambil dengan kapas lidi atau dengan Cytobrush.
Kemudian dibuat sediaan hapus dikaca benda yang bersih dan segera dimasukkan kedalam botol
khusus (cuvette) berisi etil alkohol 95%. Setelah sekitar satu jam, kaca benda dikeluarkan dan
dalam keadaan kering dikirim ke laboratorium. Dilaboratorium sediaan dipulas menurut
Papanicolau.
Klasifikasi menurut Papanicolau:
Kelas I : Berarti negatif (tidak ditemukan sel-sel ganas)
27

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Kelas II : Negatif, tidak ditemukan tanda-tanda ganas, ditemukan beberapa sel atipik
Kelas III : Ada sel-sel atipik yang sugestif tetapi tidak diagnostik untuk keganasan displasia
(ringan,sedang,berat)
Kelas IV : Positif, ditemukan beberapa sel atipik KIS
Kelas V : Positif, ditemukan banyak sel atipik Kanker
Pemeriksaan ini sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini, yaitu sejak
dalam tingkat displasia atau KIS. Perubahan sel-sel serviks yang terdeteksi dini
akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil sebelum sel-sel tersebut dapat
berkembang menjadi sel kanker. Tujuan utama dari pemeriksaan Pap Smear adalah mendeteksi
kelainan sebelum terjadinya suatu kanker, yaitu yang disebut dengan lesi prakanker dan dikenal
dengan displasia (merupakan kelainan dari leher rahim yang dapat berkembang menjadi kanker
leher rahim).
Penanganan displasia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1.Usia
2.Jumlah anak
3.Tahap/tingkat displasia
Macam-macam penanganannya antara lain:
1.Elektro-koagulasi
2.Krioterapi (bedah beku)
3.Vaporisasi laser
4.Konisasi (memotong bagian yang sakit dalam bentuk kerucut) dengan pisau atau laser.
*1& 4 biasanya tidak memerlukan rawat inap
5.Histerektomi: operasi pengangkatan seluruh rahim
Kelemahan Pap smear
Saat proses meletakkan dan meratakan pada preparat kaca menyebabkan adanya lapisanlapisan tidak merata dan penumpukan sel-sel sehingga menyulitkan pengamatan terhadap
keseluruhan sel-sel tersebut. Beberapa penelitian juga menemukan, sebagian besar sel
tidakterbawa dalam preparat kaca dan ikut terbuang.
Hasil

pemeriksaan sitologi Pap smear normal dan Hasil


pemeriksaan sitologi Pap smear abnormal :

28

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Pap Smear dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada masa haid. Waktu yang baik untuk
pemeriksaan adalah beberapa hari setelah selesai menstruasi. Persiapan pasien untuk melakukan
Pap Smear adalah tidak sedang haid, tidak coitus 1 3 hari sebelum pemeriksaan dilakukan dan
tidak sedang menggunakan obat obatan vaginal.

Petunjuk untuk penapisan :


Pemeriksaan tes Pap dilakukan setelah 2 tahun aktif dalam aktifitas seksual.
Interval penapisan. Wanita dengan tes Pap negatif berulang kali diambil setiap 2 tahun,
sedang wanita dengan kelainan atau hasil abnormal perlu evaluasi lebih sering.
Pada usia 70 tahun atau lebih tidak diambil lagi dengan syarat hasil 2 kali negatif dalam 5
tahun terakhir.
2. Thin Prep
Metode Thin prep lebih akurat dibanding Pap smear. Jika Pap smear hanya mengambil sebagian
dari sel-sel di serviks atau leher rahim, maka Thin prep akan memeriksa seluruh bagian serviks
atau leher rahim. Tentu hasilnya akan jauh lebih akurat dan tepat.
Kelebihan Thin Prep
ThinPrep Test, sel-sel yang telah diambil tidak diletakkan dan diratakan di preparat kaca, tetapi
dimasukkan ke dalam tabung yang berisi cairan yang berfungsi menstabilkan dan menjaga
kondisi sel-sel tersebut agar pada saat diperiksa akan tetap sama dengan kondisi saat diambil.
Prosedur ini memastikan agar sebanyak mungkin sel dapat disimpan untuk dibawa laboratorium
pemeriksaan dan dalam kondisi sangat baik.

29

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

3. Uji Colposcopy
Jika pada saat pap smear ditemukan ketidaknormalan pada serviks, maka langkah
selanjutnya adalah dilakukan colposcopy. Colposcopy adalah suatu pengujian yang
memungkinkan dokter untuk melihat serviks (leher rahim) lebih dekat dengan menggunakan
sebuah alat bernama colposcope.
Cara ini merupakan cara penilaian sel invito dengan pembesaran 200 kali karena abnormalitas
pada neoplasma yang terlihat dengan pembesaranumumnya terlihat pada inti sel. Maka inti sel
harus diwarnai terlebihdahulu dengan biru tolvidin 1%. Dalam 20-30 detik inti sel
akanmengambil zat warna. Zat warna yang tersisa dibersihkan dengan larutan garam
fisiologik dan pemeriksaan dapat segera dimulai dengan menyentuhujung alat ke serviks.
Colposcope akan dimasukkan ke dalam vagina dan kemudian gambar yang ditangkap oleh alat
tersebut akan ditampilkan pada layar computer atau televisi. Dengan cara seperti ini, kondisi
yang terjadi dalam leher rahim akan sangat jelas terlihat.
1 IVA
IVA yaitu singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam asetat. Metode pemeriksaan dengan
mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan
seperti area berwarna putih. Jika tidak ada perubahan warna,
maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. Anda dapat
melakukan di Puskesmas dengan harga relatif murah. Ini dapat
dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda yang
mencurigakan, maka metode deteksi lainnya yang lebih lanjut
harus dilakukan.

30

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

5. Tes Schiller
Tes Schiller atau tes pengecatan dengan yodium ialah tes yang digunakanuntuk
mengenal kanker serviks lebih dini. Tes ini didasarkan pada sifatepitel serviks yang
berubah menjadi berwarna coklat gelap atau tua jika terkena larutan yodium.

6.

Biopsi Serviks dan


Kuretase
Selama melakukan colposcopy, dokter mungkin saja melakukan biopsy dan tentunya
biopsy ini dilakukan berdasarkan apa yang dia temukan selama pemeriksaan itu. Biopsi serviks
dilakukan dengan cara mengambil sejumlah contoh jaringan serviks untuk kemudian diperiksa di
31

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

bawah mikroskop. Dibutuhkan hanya beberapa detik untuk melakukan biopsi contoh jaringan
dan hanya menimbulkan ketidaknyamanan dalam waktu yang tidak lama. Jika diperlukan maka
akan dilakukan biospi disekitar area serviks, tergantung pada temuan saat melakukan colposcopy.
Bersamaan dengan biopsi serviks, kuretase endoserviks juga bisa dilakukan. Selama
kuretase, dokter akan menggunakan sikat kecil untuk menghilangkan jaringan pada saluran
endoserviks, area antara uterus dan serviks. Kuretase akan menimbulkan sedikit nyeri, tapi nyeri
akan hilang setelah kuretase dilakukan. Hasil biopsi dan kuretase biasanya baru bisa dilihat
paling tidak 2 minggu.
7.Biopsi Kerucut dan LEEP
Adakalanya biopsi yang lebih besar dibutuhkan untuk mendiagnosis kanker serviks. Pada
kasus ini, maka dapat dipilih biopsi kerucut. Selama biopsi kerucut, sebuah kerucut yang tajam
akan digunakan untuk mengambil jaringan dan pada prosedur ini dibutuhkan anestesi umum.
Biopsi kerucut juga digunakan untuk membuang jaringan pra-kanker dari serviks. Loop Electro
Surgical Excision Procedure (LEEP) atau Prosedur Pembedahan Eksisi dengan Loop Elektro
adalah prosedur yang dilakukan dengan anestesi local untuk mengangkat jaringan dari serviks.
LEEP menggunakan listrik untuk membuang contoh jaringan. Metode ini umumnya digunakan
untuk mengobati kanker stadium tinggi dari pada hanya untuk mendiagnosis kanker serviks.

8.Konisasi
Konisasi serviks ialah pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga
yang keluarkan berbentuk kerucut (konus), dengan kanalis servikalis sebagai sumbu kerucut.
Untuk tujuan diagnostik, tindakan konisasi harus selalu dilanjutkan dengan kuretase. Batas
jaringan yang dikeluarkan ditentukan dengan pemeriksaan kolposkopi. Jika karena suatu hal
pemeriksaan kolposkopi tidak dapat dilakukan, dapat dilakukan tes Schiller. Pada tes ini
digunakan pewarnaan dengan larutan lugol (yodium 5g, kalium yodida 10g, air 100 ml) dan
eksisi dilakukan di luar daerah dengan tes positif (daerah yang tidak berwarna oleh larutan
lugol).
Konisasi diagnostik dilakukan pada keadaan-keadaan sebagai berikut :
1. Proses dicurigai berada di endoserviks
2.Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi
3.Diagnostik mikroinvasi ditegakkan atas dasar spesimen biopsi
PADA WANITA HAMIL
Tumor yang sudah lanjut mudah dikenal. Lain halnya dengan tumor stadium dini, lebihlebih tumor yang belum memasuki jaringan dibawah epitel (preinvasive carcinoma, karsinoma in
situ). Oleh karena itu, di beberapa negara pemeriksaan sitologi vaginal merupakan pemeriksaan
32

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

rutin pada setiap perempuan hamil, yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi
apabila diperoleh hasil yang mencurigakan.
Diagnosis karsinoma in situ dalam kehamilan sangat sulit karena dalam kehamilan dapat
terjadi perubahan-perubahan pada epitel serviks, yang secara mikroskopis hampir tidak dapat
dibedakan dari tumor tersebut. Untuk membuat diagnosis yang pasti perlu dilakukan
pemeriksaan yang teliti berulang kali, bahkan kadang-kadang kepastian baru diperoleh setelah
bayi lahir. Perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pengaruh esterogen dalam kehamilan
sifatnya reversibel, sedang karsinoma in situ ada setelah bayi lahir. Apabila terrdeteksi pada
pemeriksaan prenatal, maka diagnosisnya lebih dini:
Diagnosis definitif ditegakkan berdasarkan:
Biopsi punch dari lesi serviks yang luas. Namun, masih kontroversi, apakah masih
dilakukan bila telah ada bukti kanker serviks invasif dari pemeriksaan kolposkopi, dan apakah
dilakukan pada semua lesi servikal yang dapat dideteksi dengan kolposkopi.
Evaluasi yang tepat dari apusan abnormal.
Evaluasi kolposkopi.
Biopsi kerucut (cone biopsy), dilakukan pada keadaan khusus (trimester kedua dan diagnosis
tidak dapat ditegakkan berdasarkan pemerksaan lain).
DIAGNOSIS BANDING
Servisitis
Karsinoma endometrium
Penyakit radang panggul
Vaginitis
Karsinoma uterine
Karsinoma vagina
2.8.
Tatalaksana
Tiga jenis utama dari pengobatan untuk kanker serviks adalah operasi, radioterapi, dan
kemoterapi.
1. Stadium pra kanker hingga 1A biasanya diobati dengan histerektomi. Bila pasien
masih ingin memiliki anak, metode LEEP atau cone biopsy dapat menjadi pilihan.
Biopsi Cone. Selama operasi ini, dokter menggunakan scalpel untuk mengambil selembar
jaringan serviks berbentuk cone dimana abnormalitas ditemukan.
Loop electrosurgical excision procedure (LEEP). Teknik ini menggunakan lintasan kabel
untuk memberikan arus listrik, yang memotong seperti pisau bedah , dan mengambil sel dari
mulut serviks
2. Untuk stadium IB dan IIA kanker serviks:
Bila ukuran tumor < 4cm: radikal histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa kemoterapi
Bila ukuran tumor >4cm: radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin, histerektomi, ataupun
kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan histerektomi
3. Kanker serviks stadium lanjut (IIB-IVA) dapat diobati dengan radioterapi dan kemo
berbasis cisplatin.
4. Pada stadium sangat lanjut (IVB), dokter dapat mempertimbangkan kemo dengan
kombinasi obat, misalnya hycamtin dan cisplatin.
33

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Jika kesembuhan tidak dimungkinkan, tujuannya pengobatan adalah untuk mengangkat atau
menghancurkan sebanyak mungkin sel-sel kanker. Kadang-kadang pengobatan ditujukan untuk
mengurangi gejala-gejala. Hal ini disebut perawatan paliatif.
Faktor-faktor lain yang mungkin berdampak pada keputusan pengobatan Anda termasuk usia
Anda, kesehatan Anda secara keseluruhan, dan preferensi Anda sendiri. Seringkali cukup bijak
untuk mendapatkan pendapat kedua (second opinion) yang memberikan Anda perspektif lain dari
penyakit Anda.
Pembedahan untuk Kanker Serviks
Ada beberapa jenis operasi untuk kanker serviks. Beberapa melibatkan pengangkatan rahim
(histerektomi), yang lainnya tidak. Daftar ini mencakup jenis operasi yang paling umum untuk
kanker serviks.
Cryosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair dimasukkan ke dalam vagina dan
pada leher rahim. Ini membunuh sel-sel abnormal dengan cara membekukan mereka.
Cryosurgery digunakan untuk mengobati kanker serviks yang hanya ad adi dalam leher rahim
(stadium 0), tapi bukan kanker invasif yang telah menyebar ke luar leher rahim.
Bedah Laser
Sebuah sinar laser digunakan untuk membakar sel-sel atau menghapus sebagian kecil dari
jaringan sel rahim untuk dipelajari. Pembedahan laser hanya digunakan sebagai pengobatan
untuk kanker serviks pra-invasif (stadium 0).
Konisasi
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari leher rahim. Hal ini dilakukan
dengan menggunakan pisau bedah atau laser tau menggunakan kawat tipis yang dipanaskan oleh
listrik (prosedur ini disebut LEEP atau LEETZ). Pendekatan ini dapat digunakan untuk
menemukan atau mengobati kanker serviks tahap awal (0 atau I). Hal ini jarang digunakan
sebagai satu-satunya pengobatan kecuali untuk wanita dengan kanker serviks stadium dini yang
mungkin ingin memiliki anak. Setelah biopsi, jaringan (berbentuk kerucut) diangkat untuk
diperiksa di bawah mikroskop. Jika batas tepi dari kerucut itu mengandung kanker atau pra-sel
kanker, pengobatan lebih lanjut akan diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh sel-sel
kankernya telah diangkat.
Histerektomi
Histerektomi sederhana: Rahim diangkat, tetapi tidak mencakup jaringan yang berada
di dekatnya. Baik vagina maupun kelenjar getah bening panggul tidak diangkat. Rahim dapat
diangkat dengan cara operasi di bagian depan perut (perut) atau melalui vagina. Setelah operasi
ini, seorang wanita tidak bisa menjadi hamil. Histerektomi digunakan untuk mengobati beberapa
kanker serviks stadium awal (I). Hal ini juga digunakan untuk stadium pra-kanker serviks (o),
jika sel-sel kanker ditemukan pada batas tepi konisasi.
Histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul: pada operasi ini,
dokter bedah akan mengangkat seluruh rahim, jaringan di dekatnya, bagian atas vagina yang
berbatasan dengan leher rahim, dan beberapa kelenjar getah bening yang berada di daerah
panggul. Operasi ini paling sering dilakukan melalui pemotongan melalui bagian depan perut
dan kurang sering melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak bisa menjadi hamil.
Sebuah histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul adalah pengobatan yang
umum digunakan untuk kanker serviks stadium I, dan lebih jarang juga digunakan pada beberapa
kasus stadium II, terutama pada wanita muda.
Trachelektomi
34

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Sebuah prosedur yang disebut trachelectomy radikal memungkinkan wanita muda


tertentu dengan kanker stadium awal untuk dapat diobati dan masih dapat mempunyai anak.
Metode ini melibatkan pengangkatan serviks dan bagian atas vagina dan meletakkannya pada
jahitan berbentuk seperti kantong yang bertindak sebagai pembukaan leher rahim di dalam
rahim. Kelenjar getah bening di dekatnya juga diangkat. Operasi ini dilakukan baik melalui
vagina ataupun perut.
Ekstenterasi Panggul
Selain mengambil semua organ dan jaringan yang disebutkan di atas, pada jenis operasi
ini: kandung kemih, vagina, dubur, dan sebagian usus besar juga diangkat. Operasi ini digunakan
ketika kanker serviks kambuh kembali setelah pengobatan sebelumnya. Jika kandung kemih
telah diangkat, sebuah cara baru untuk menyimpan dan membuang air kecil diperlukan.
Sepotong usus pendek dapat digunakan untuk membuat kandung kemih baru. Urine dapat
dikosongkan dengan menempatkan sebuah tabung kecil (disebut kateter) ke dalam lubang kecil
di perut tersebut (disebut: urostomi). Atau urin bisa mengalir ke kantong plastik kecil yang
ditempatkan di bagian depan perut.
Radioterapi untuk Kanker Serviks
Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-X) untuk
membunuh sel-sel kanker ataupun menyusutkan tumornya. Sebelum radioterapi dilakukan,
biasanya Anda akan menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah Anda menderita
Anemia. Penderita kanker serviks yang mengalami perdarahan pada umumnya menderita
Anemia. Untuk itu, transfusi darah mungkin diperlukan sebelum radioterapi dijalankan.
Pada kanker serviks stadium awal, biasanya dokter akan memberikan radioterapi (external
maupun internal). Kadang radioterapi juga diberikan sesudah pembedahan. Akhir-akhir ini,
dokter seringkali melakukan kombinasi terapi (radioterapi dan kemoterapi) untuk mengobati
kanker serviks yang berada antara stadium IB hingga IVA. Yaitu, antara lain bila ukuran
tumornya lebih besar dari 4 cm atau bila kanker ditemukan telah menyebar ke jaringan lainnya
(di luar serviks), misalnya ke kandung kemih atau usus besar.
Radioterapi ada 2 jenis, yaitu radioterapi eksternal dan radioterapi internal.
1. Radioterapi eksternal : berarti sinar X diarahkan ke tubuh Anda (area panggul) melalui
sebuah mesin besar.
2. Radioterapi internal : berarti suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam rahim/leher
rahim Anda selama beberapa waktu untuk membunuh sel-sel kankernya. Salah satu
metode radioterapi internal yang sering digunakan adalah brachytherapy.
Efek Samping Radioterapi . Ada beberapa efek samping dari radioterapi, yaitu:
- Kelelahan
- Sakit maag
- Sering ke belakang (diare)
- Mual
- Muntah
- Perubahan warna kulit (seperti terbakar)
- Kekeringan atau bekas luka pada vagina yang menyebabkan senggama menyakitkan
- Menopause dini
- Masalah dengan buang air kecil
- Tulang rapuh sehingga mudah patah tulang
- Rendahnya jumlah sel darah merah (anemia)
- Rendahnya jumlah sel darah putih
35

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

- Pembengkakan di kaki (disebut lymphedema)


Brachytherapy untuk Kanker Serviks
Brachytherapy telah digunakan untuk mengobati kanker serviks sejak awal abad ini.
Pengobatan yang ini cukup sukses untuk mengatasi keganasan di organ kewanitaan. Baik radium
dan cesium telah digunakan sebagai sumber radioaktif untuk memberikan radiasi internal
Kemoterapi untuk Kanker Serviks
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Biasanya
obat-obatan diberikan melalui infuse ke pembuluh darah atau melalui mulut. Setelah obat masuk
ke aliran darah, mereka menyebar ke seluruh tubuh. Kadang-kadang beberapa obat diberikan
dalam satu waktu.
Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini akan tergantung pada jenis obat
yang diberikan, jumlah/dosis yang diberikan, dan berapa lama pengobatan berlangsung. Efek
samping bisa termasuk:
- Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)
- Kehilangan nafsu makan
- Kerontokan rambut jangka pendek
- Sariawan
- Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah putih)
- Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah)
- Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah)
- Kelelahan
- Menopause dini
- Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas)

36

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

2.9.
1

Komplikasi

Pasca operatif
- Gangguan berkemih
- Fistula ureter atau kandung kemih
- Emboli paru
- Obstruksi saluran cerna
- Trauma syaraf
Pasca kemoteraphy
- Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)
- Kehilangan nafsu makan
- Kerontokan rambut jangka pendek
- Sariawan
- Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah putih)
- Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah)
- Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah)
- Kelelahan
- Menopause dini
- Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas)
Pasca radiotheraphy
- Kelelahan
- Sakit maag
- Sering ke belakang (diare)
- Mual
- Muntah
- Perubahan warna kulit (seperti terbakar)
- Kekeringan atau bekas luka pada vagina yang menyebabkan senggama menyakitkan
- Menopause dini
- Masalah dengan buang air kecil
- Tulang rapuh sehingga mudah patah tulang
- Rendahnya jumlah sel darah merah (anemia)
- Rendahnya jumlah sel darah putih
- Pembengkakan di kaki (disebut lymphedema)

2.10. Pencegahan
Pencegahan memiliki arti yang sama dengan deteksi dini atau pencegahan sekunder, yaitu
pemeriksaan atau tes yang dilakukan pada orang yang belum menunjukkan adanya gejala
penyakit untuk menemukan penyakit yang belum terlihat atau masih berada pada stadium
praklinik. Program pemeriksaan atau skrining yang dianjurkan untuk kanker serviks (WHO) :
skrining pada setiap wanita minimal satu kali pada usia 35-40 tahun. Jika fasilitas tersedia,
lakukan tiap 10 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Jika fasilitas tersedia lebih, lakukan tiap 5
tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Ideal atau optimal, lakukan tiap 3 tahun pada wanita usia
25-60 tahun. (Imam Rasjidi, 2009)
37

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Test PAP (Paps Smear)


Secara umum, kasus kanker mulut rahim dan kematian akibat kanker mulut rahim bisa
dideteksi dengan mengetahui adanya perubahan pada daerah mulut rahim dengan cara
pemeriksaan sitologi menggunakan tes Pap. American College of Obstetrician and Gynecologists
(ACOG), American Cancer Society (ACS), dan US Preventive Task Force (USPSTF)
mengeluarkan panduan bahwa setiap wanita seharusnya melakukan tes Pap untuk skrining
kanker mulut rahim saat 3 tahun pertama dimulainya aktivitas seksual atau saat usia 21 tahun.
Karena tes ini mempunyai risiko false negatif sebesar 5-6%, Tes Pap yang kedua seharusnya
dilakukan satu tahun pemeriksaan yang pertama. Pada akhir tahun 1987, American Cancer
Society mengubah kebijakan mengenai interval pemeriksaaan Tes Pap tiap tiga tahun setelah dua
kali hasil negatif. (Imam Rasjidi, 2009)
Saat ini, sesuai dengan American College of Obstetry and Gynecology dan National Cancer
Institute, dianjurkan pemeriksaan Tes Pap dan panggul setiap tahun terhadap semua wanita yang
aktif secara seksual atau yang telah berusia 18 tahun. Setelah wanita tersebut mendapatkan tiga
atau lebih Tes Pap normal, tes dapat dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang sesuai dengan
yang dianjurkan dokter. Diperkirakan sebanyak 40% kanker serviks invasif dapat dicegah dengan
skrining pap interval 3 tahun. (Imam Rasjidi, 2009)
IVA
IVA merupakan tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 2%) dan
larutan iosium lugol pada serviks dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan
olesan. Tujuannya adalah untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu
metode skrining kanker mulut rahim. IVA tidak direkomendasikan pada wanita pascamenopause,
karena daerah zona transisional seringkali terletak kanalis servikalis dan tidak tampak dengan
pemeriksaan inspekulo. IVA positif bila ditemukan adanya area berwarna putih dan
permukaannya meninggi dengan batas yang jelas di sekitar zona transformasi. (Imam Rasjidi,
2009)
Pencegahan Primer
Menunda Onset Aktivitas Seksual
Menunda aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan secara monogami akan
mengurangi risiko kanker serviks secara signifikan. (Imam Rasjidi, 2009)
Penggunaan Kontrasepsi Barier
Dokter merekomendasikan kontrasepsi metode barier (kondom, diafragma, dan
spermisida) yang berperan untuk proteksi terhadap agen virus. Penggunaan lateks lebih
dianjurkan daripada kondom yang dibuat dari kulit kambing. (Imam Rasjidi, 2009)
Penggunaan Vaksinasi HPV
Vaksinasi HPV yang diberikan kepada pasien bisa mengurangi infeksi Human Papiloma
Virus, karena mempunyai kemampuan proteksi > 90%. Tujuan dari vaksin propilaktik dan vaksin
pencegah adalah untuk mencegah perkembangan infeksi HPV dan rangkaian dari event yang
mengarah ke kanker serviks. (Imam Rasjidi, 2009)
Kebanyakan vaksin adalah berdasarkan respons humoral dengan penghasilan antibodi yang
menghancurkan virus sebelum ia menjadi intraseluler. Masa depan dari vaksin propilatik HPV
sangat menjanjikan, namun penerimaan seluruh populasi heterogenous dengan tahap pendidikan
berbeda dan kepercayaan kultur berbeda tetap dipersoalkan. (Imam Rasjidi, 2009)

38

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Sebagai tambahan, prevelansi tinggi infeksi HPV mengindikasikan bahwa akan butuh beberapa
dekade untuk program imunisasi yang sukses dalam usaha mengurangi insiden kanker serviks.
(Imam Rasjidi, 2009)
Pencegahan Sekunder
Pencegahan Sekunder (Pasien dengan Risiko Sedang)
Hasil tes Pap yang negatif sebanyak tiga kali berturut-turut dengan selisih waktu
antarpemeriksaan satu tahun dan atas petunjuk dokter sangat dianjurkan. Untuk pasien (atau
partner hubungan seksual yang level aktivitasnya tidak diketahui), dianjurkan untuk melakukan
tes Pap tiap tahun. (Imam Rasjidi, 2009)
Pencegahan Sekunder (Pasien dengan Risiko Tinggi)
Pasien yang memulai hubungan seksual saat usia < 18 tahun dan wanita yang mempunyai
banyak partner (multipel partner) seharusnya melakukan tes Pap tiap tahun, dimulai dari onset
seksual intercourse aktif. Interval sekarang ini dapat diturunkan menjadi setiap 6 bulan untuk
pasien dengan risiko khusus, seperti mereka yang mempunyai riwayat penyakit seksual berulang.
(Imam Rasjidi, 2009)
2.11. Prognosis
Prognosis kanker serviks sangat bergantung pada seberapa dini kasus ini terdiagnosis dan
dilakukan terapi yang adekuat. Terapi yang tidak adekuat baik berupa tindakan pembedahan
maupun radiasi yang oleh alasan tertentu tidak sesuai dengan jadual akan mengurangi tingkat
keberhasilan terapi.
Faktor-faktor yang menentukan prognosis, ialah :
1 umur penderita,
2 keadaan umum penderita
3 tingkat klinis keganasan
4 ciri-ciri histologik sel tumor
5 kemampuan ahli atau tim ahli yang menangani
6 sarana pengobatan yang ada.
Di antara faktor resiko ini yang paling penting ialah invasi KGB. Kelangsungan hidup
penderita dengan invasi KGB walau telah mendapat terapi ajuvan tetap lebih buruk daripada
penderita tanpa invasi KGB.
Angka Ketahanan Hidup (AKH) 5 tahun menurut data internasional adalah sebagai
berikut :
TINGKAT

AKH-5 tahun

39

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

T1S
T1
T2
T3
T4

Hampir 100 %
70 85 %
40 60 %
30 40 %
< 10 %

Sumber :UICC / clinical Oncology; Springer-Verlag, New York, Hiedelberg, Berlin;1973, p:218
3. Memahami dan Menjelaskan Etika Pemeriksaan Menurut Ajaran Islam
PANDANGAN ISLAM TERHADAP IKHTILAT
Pembahasan tentang ikhtilat sangat penting untuk menjawab persoalan di atas.Yakni
untuk menjaga kehormatan dan menghindarkan dari perbuatan yang mengarah dosa dan
kekejian.
Yang dimaksud ikhtilat, yaitu berduanya seorang lelaki dengan seorang perempuan di
tempat sepi.Dalam hal ini menyangkut pergaulan antara sesama manusia, yang rambu-rambunya
sangat mendapat perhatian dalam Islam.Yaitu berkait dengan ajaran Islam yang sangat
menjunjung tinggi keselamatan bagi manusia dari segala gangguan. Terlebih lagi dalam masalah
mu'amalah (pergaulan) dengan lain jenis. Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita telah
diatur dengan batasan-batasan, untuk membentengi gejolak fitnah yang membahayakan dan
mengacaukan kehidupan. Karenanya, Islam telah melarang pergaulan yang dipenuhi dengan
ikhtilat (campur baur antara pria dan wanita).
Dalam hadits di bawah ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
memperingatkan kaum lelaki untuk lebih berhati-hati dalam masalah wanita.
"Berhati-hatilah kalian dari menjumpai para wanita, maka seorang sahabat dari Anshar
bertanya,"Bagaimana pendapat engkau tentang saudara ipar, wahai Rasulullah? Rasulullah
menjawab,"Saudara ipar adalah maut (petaka).
[HR Bukhari dan Muslim].
PERINTAH MENJAGA AURAT DAN MENAHAN PANDANGAN
Di antara keindahan syariat Islam, yaitu ditetapkannya larangan mengumbar aurat dan
perintah untuk menjaga pandangan mata kepada obyek yang tidak diperbolehkan, lantaran
perbuatan itu hanya akan mencelakakan diri dan agamanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman (yang artinya):
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita
yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan
mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak
dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah
40

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah
suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan
laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum
mengerti tentang aurat wanita . . ." [an-Nr/24: 30-31].
Larangan melihat aurat, tidak hanya untuk yang berlawan jenis, akan tetapi Islam pun
menetapkan larangan melihat aurat sesama jenis, baik antara lelaki dengan lelaki lainnya,
maupun antara sesama wanita.
Disebutkan dalam sebuah hadits:
"Dari Abdir-Rahman bin Abi Sa`id al-Khudri, dari ayahnya, bahwasanya Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: Janganlah seorang lelaki melihat kepada aurat lelaki (yang lain), dan
janganlah seorang wanita melihat kepada aurat wanita (yang lain)". [HR Muslim]
IDEALNYA MUSLIMAH BEROBAT KE DOKTER WANITA
Hukum asalnya, apabila ada dokter umum dan dokter spesialis dari kaum Muslimah,
maka menjadi kewajiban kaum Muslimah untuk menjatuhkan pilihan kepadanya.Meski hanya
sekedar keluhan yang paling ringan, flu batuk pilek sampai pada keadaan genting, semisal
persalinan ataupun jika harus melakukan pembedahan.
Berkaitan dengan masalah itu, Syaikh Bin Bz rahimahullah mengatakan:
Seharusnya para dokter wanita menangani kaum wanita secara khusus, dan dokter lelaki
melayani kaum lelaki secara khusus kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa. Bagian
pelayanan lelaki dan bagian pelayanan wanita masing-masing disendirikan, agar masyarakat
terjauhkan dari fitnah dan ikhtilat yang bisa mencelakakan.Inilah kewajiban semua orang.
Lajnah D-imah juga menfatwakan, bila seorang wanita mudah menemukan dokter wanita yang
cakap menangani penyakitnya, ia tidak boleh membuka aurat atau berobat ke seorang dokter
lelaki. Kalau tidak memungkinkan maka ia boleh melakukannya.
Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan untuk
menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan.Selama mendatangkan maslahat, seperti
untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya. Seorang muslimah yang keadaannya
benar-benar dalam kondisi terhimpit dan tidak ada pilihan, (maka) ia boleh pergi ke dokter lelaki,
baik karena tidak ada ada seorang dokter muslimah yang mengetahui penyakitnya maupun
memang belum ada yang ahli.Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'm/6
ayat 119:
"(padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya)"
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus mengikuti ramburambu yang wajib untuk ditaati.Tidak berlaku secara mutlak.Keberadaan mahram adalah
keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang muslimah terpaksa harus bertemu
dan berobat kepada dokter lelaki, ia harus didampingi mahram atau suaminya saat pemeriksaan.
Tidak berduaan dengan sang dokter di kamar praktek atau ruang periksa.
Syarat ini disebutkan Syaikh Bin Bz rahimahullah untuk pengobatan pada bagian tubuh yang
nampak, seperti kepala, tangan, dan kaki. Jika obyek pemeriksaan menyangkut aurat wanita,
meskipun sudah ada perawat wanita umpamanya- maka keberadaan suami atau wanita lain
(selain perawat) tetap diperlukan, dan ini lebih baik untuk menjauhkan dari kecurigaan.

41

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

DAFTAR PUSTAKA
Andriyono. Kanker serviks. Sinopsis Kanker Ginekologi. Jakarta, 2003:14-28
Anonim.2012.Differential diagnosis of cervical cancer. Diakses pada 11 April 2012 melalui
http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/259/diagnosis/differential.html
Arumugam,
V.2011.Ca
serviks.
Diakses
pada
11
April
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21709/.../Chapter%20II.pdf

2012

melalui

Campion M. Preinvasive disease. In: Berek Js, Hacker NF. Practical gynecologic oncology. 3rd
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2000; 271-315
Cotran RS, Kumar V, Robbins SL. 1996. Pathologic Basis of Disease 5th Ed. WB Saunders Co.
Harahap RE. Neoplasia intraepithelial serviks (NIS). Jakarta: UI Press, 1984:1-77
Jong WD, Syamsuhidayat R. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. EGC. Jakarta
Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. 2003.Robbins Basic Pathology, 7 th ED. Saunders Wolfgang A
Schulz. 2005. Molecular Biology of Human Cancer. Springer.
Kusuma F, Moegni EM. Penatalaksanaan Tes Pap Abnormal. Cermin Dunia Kedokteran 2001;
133:19-22

42

RIZKY AGUSTIAN HADI 1102011238


SKENARIO 3 BLOK NEOPLASIA

Mardjikoen P. Tumor ganas alat genital. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T.
Editor. Ilmu Kandungan. Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
1999;380-9
Mary Calvagna, MS. Diagnosis of Cervical Cancer. American Cancer Society website. Available
at: http://www.cancer.org. Last reviewed April 2007.
Rawiroharjo, S. Hanifa, W. Abdul, B, S. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiro. Jakarta
Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kandungan. PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Jakarta
Sjamsuddin S. Pencegahan dan deteksi dini kanker serviks. Cermin Dunia Kedokteran
2001;133:9-14
Wright TC, Kurman RJ, Ferenzy A. Precancerous lesions of the cervix. In: Kurman RJ. Ed.
Blausteins pathology of the female genital tract. 4 th ed. New York: Springer-Verlag, 1994;229277
Zuhroni. 2010. Pandangan Islam terhadap Masalah Kedokteran dan Kesehatan. Universitas
YARSI. Jakarta
http://almanhaj.or.id/content/2883/slash/0
http://lhiezainternisti.blogspot.com/2009/12/pandangan-islam-dalam-pelayanan.html

43