Anda di halaman 1dari 24

FA KU LTA S K E D O KT E RA N

JURUSAN KEDOKTERAN UMUM


YUSDELA TRISA
04011181520176

1. Metode Pembelajaran KBK (PBL) dengan Prinsip Adult


Learning
1.1. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah model kurikulum yang
disarankan oleh the International Bureau of Education (the International Comission on
Education for the 21 st Century), UNESCO yang terkenal dengan empat pilar pendidikan
berdasarkan tujuan belajar yaitu: learning to know, learning to do, learning to live
together, dan learning to be.
Secara umum kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilainilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Pusat kurikulum,
Balitbang Depdiknas (2002) mendefinisikan bahwa kurikulum berbasis kompetensi
merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang
harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber
daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini berorientasi
pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui
serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat
diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya.
Maka dapat dikatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi adalah suatu konsep
kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan kompetensi tugas-tugas
dengan standar performasi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik
berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tersebut.
Untuk pendidikan tinggi di Indonesia penyusunannya diatur dalam Surat
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 yang menetapkan Pedoman
Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa.
Kurikulum berbasis kompetensi ditujukan untuk mengubah teacher-centered
learning menjadi student-centered learning, lalu menciptakan tamatan yang lebih
kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan dapat mencapai
keunggulan bangsa, sehingga mampu bersaing di dunia.
Depdiknas (2002) dalam Mulyasa mengemukakan bahwa kurikulum berbasis
kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut:

1|

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi peserta didik baik secara individual
maupun klasikal
b. Berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan keberagaman
c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang
bervariasi
d. Sumber belajar bukan guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur
edukatif
e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau
pencapaian suatu kompetensi
Prinsip dasar kegiatan belajar mengajar yang dikembangkan dalam KBK adalah
mengembangkan kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, bersikap dan bertanggung
jawab pada kebiasaan dan prilaku sehari-hari melalui pembelajaran secara aktif yaitu:
a. Berpusat pada siswa
b. Mengembangkan keingintahuan dan imajinasi
c. Memiliki semangat mandiri kerjasama dan berkompetensi perlu dilatih untuk terbiasa
bekerja mandiri, kerjasama dan berkompetensi
d. Menciptakan kondisi yang menyenangkan
e. Mengembangkan kemampuan dan pengalaman belajar
f. Karakteristik mata pelajaran (Depdiknas, 2003:10)
Untuk memotivasi peserta didik belajar disarankan strategi pembelajaran
menggunakan prinsip-prinsip kebermaknaan pengetahuan dan keterampilan prasyarat,
pemodelan, komunikasi terbuka, keaslian dan tugas yang menantang, latihan yang tepat
dan aktif, penilaian tugas, kondisi dan frekuensi yang menyenangkan, keragaman
pendekatan, mengembangkan beragam kemampuan, melibatkan sehanyak mungkin
indera, keseimbangan pengaturan pengalaman belajar (termasuk refleksi dan pemberian
waktu yang 3 cukup untuk berpikir, dan memberikan kesempatan untuk membangun
sendiri gagasannya).
Pendidikan tinggi yang mengembangkan pendidikan profesi menuntut para
lulusannya kompeten dalam bidangnya contohnya kedokteran. Pendidikan tinggi
semacam itu memerlukan pembekalan yang sangat relevan dengan situasi nyata di
lapangan dalam pekerjaannya nanti. Dengan sendirinya selain pembekalan pengetahuan
yang relevan, lulusannya perlu mempunyai pengalaman beiajar yang bermakna baik
berupa keterampilan, sikap, maupun nilai-nilai moral yang relevan dengan profesi yang
akan diembannya.
Kelebihan/Keunggulan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) :

2|

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
a. Mengembangkan kompetensi-kompetensi peserta didik pada setiap aspek mata
pelajaran dan bukan pada penekanan penguasaan konten mata pelajaran itu
sendiri.
b. KBK bersifat alamiah (konstekstual), karena berangkat berfokus dan bermuara
pada hakikat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai
dengan potensinya masing-masing. Dalam hal ini peserta didik merupakan subjek
belajar dan proses belajar berlangsung secara alamiah dalam bentuk bekerja dan
mengalami berdasarkan standar kompetensi tertentu, bukan transfer pengetahuan
(transfer of knowledge).
c. Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) boleh jadi mendasari pengembangan
kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan ilmu pengetahuan dan keahlian
tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan masalah dalam
kehidupan sehari-hari, serta aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara
optimal berdasarkan standar kompetensi tertentu.
d. Mengembangakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik /siswa
(student oriented). Peserta didik dapat bergerak aktif secara fisik ketika belajar
dengan memanfaatkan indra seoptimal mungkin dan membuat seluruh tubuh serta
pikiran terlibat dalam proses belajar. Dengan demikian, peserta dapat belajar
dengan bergerak dan berbuat, belajar dengan berbicara dan mendengar, belajar
dengan mengamati dan menggambarkan, serta belajar dengan memecahkan
masalah dan berpikir. Pengalaman-pengalaman itu dapat diperoleh melalui
kegiatan mengindra, mengingat, berpikir, merasa, berimajinasi, menyimpulkan,
dan menguraikan sesuatu. Kegiatan tersebut dijabarkan melalui kegiatan
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
e. Guru diberikan kewenangan untuk menyusun silabus yang disesuaikan dengan
situasi dan kondisi di sekolah/daerah masing-masing sesuai mata pelajaran yang
diajarkan.
f. Bentuk pelaporan hasil belajar yang memaparkan setiap aspek dari suatu mata
pelajaran memudahkan evaluasi dan perbaikan terhadap kekurangan peserta didik
dalam kegiatan pembelajaran.
g. Penilaian yang menekankan pada proses memungkinkan peserta didik untuk
mengeksplorasi kemampuannya secara optimal, dibandingkan dengan penilaian
yang terfokus pada konten.
h. Ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam
pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama
yang berkaitan dengan keterampilan.

Kekurangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) :

3|

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
a. Dalam kurikulum dan hasil belajar indikator sudah disusun, padahal indikator
sebaiknya disusun oleh guru, karena guru yang paling mengetahui tentang kondisi
peserta didik dan lingkungan.
b. Konsep KBK sering mengalami perubahan termasuk pada urutan standar
kompetensi dan kompetensi dasar sehingga menyulitkan guru untuk merancang
pembelajaran secara berkelanjutan.
c. Paradigma guru dalam pembelajaran KBK masih seperti kurikulum-kurikulum
sebelumnya yang lebih pada teacher oriented.
d. Memandang kompetensi sebagai sebuah entitas yang bersifat tunggal, padahal
kompetensi merupakan a complex combination of knowledge,attitudes,
skills and values displayed in the context of task performance .(Gonczi, 1997),
sistem pengukuran perilaku yang menggunakan paradigma behaviorisme
ditenggarai tidak mampu mengukur sesuatu perilaku yang dihasilkan dari
pembelajaran bermakna (significant learning) (Barrie dan Pace,1997), dan
kendala yang dihadapi dalam mengimplementasikan KBK adalah waktu,biaya
dan tenaga yang banyak
Terdapat beragam metode pembelajaran untuk Kurikulum Berbasis Kompetensi, di
antaranya adalah: (1) Small Group Discussion; (2) Role-Play & Simulation; (3) Case
Study; (4) Discovery Learning (DL); (5) Self-Directed Learning (SDL); (6) Cooperative
Learning (CL); (7) Collaborative Learning (CbL); (8)Contextual Instruction (CI); (9)
Project Based Learning (PjBL); dan (10) Problem Based Learning and Inquiry (PBL).

1.2. Problem Based Learning (PBL)


Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang
dapat menolong siswa untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan pada era
globalisasi saat ini . Menurut H.S. Barrows (1982), Problem Based Learning (PBL)
adalah sebuah metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah
(problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau mengintegrasikan
ilmu (knowledge) baru.
Problem Based Learning (PBL) didasarkan pada hasil penelitian Barrow and
Tamblyn (1980, Barret, 2005) dan pertama kali diimplementasikan pada sekolah
kedokteran di McMaster University Kanda pada tahun 60-an. Problem based learning
sebagai sebuah pendekatan pembelajaran diterapkan dengan alasan bahwa itu sangat
efektif untuk sekolah kedokteran dimana mahasiswa dihadapkan pada permasalahan
kemudian dituntut untuk memecahkannya. Problem based learning lebih tepat

4|

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
dilaksanakan dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran tradisional. Hal ini dapat
dimengerti bahwa para dokter yang nanti bertugas pada kenyataannya selalu dihadapkan
pada masalah pasiennya sehingga harus mampu menyelesaikannya. Walaupun pertama
dikembangkan dalam pembelajaran di sekolah kedokteran tetapi pada perkembangan
selanjutnya diterapkan dalan pembelajaran secara umum.
Pembelajaran berbasis masalah(PBL) bermaksud untuk memberikan ruang gerak
berpikir yang bebas kepada siswa untuk mencari konsep dan menyelesaikan masalah
yang terkait dengan materi yang disampaikan oleh pengajar. Memiliki ketrampilan
tentang alam sekitar untuk mengembangkan pengetahuan tentang proses alam
sekitar,mampu menerapkan berbagi konsep matematika untuk menjelaskan gejala alam
dan mampu menggunakan teknologi sederhana untuk memecahkan masalah yang
ditemukan pada kehidupan sehari-hari (Depdikbud:1994).
Pembelajaran Problem Based Learning mempunyai beberapa unsur-unsur yang
mendasar pada pendidikan sebagai berikut:

1. Integrated Learning
Pembelajaran mengintegrasikan seluruh bidang pelajaran
Pembelajaran bersifat menyeluruh melibatkan aspek-aspek perkembangan anak
Anak membangun pemikiran melalui pengalaman langsung
2. Contextual Learning
Anak belajar sesuatu yang nyata, terjadi, dan dialami dalam kehidupannya
Anak merasakan langsung manfaat belajar untuk kehidupannya
3. Constructivist Learning
Anak membangun pemikirannya melalui pengalaman langsung (hand on
experience)
Learning by doing
4. Active Learning
Anak sebagai subyek belajar yang aktif menentukan, melakukan dan
mengevaluasi (PLAN-DO-REVIEW)
5. Learning Interesting
Pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi anak karena anak terlibat
langsung dalam menentukan masalah.

Metode pembelajaran PBL itu sendiri berlangsung dalam enam fase secara berurutan,
yaitu:

5|

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
Fase 1: Pengajuan permasalahan. Soal yang diajukan seperti dinyatakan sebelumnya
harus tidak terstruktur dengan baik, dalam arti untuk penyelesaiannya diperlukan
informasi atau data lebih lanjut, memungkinkan banyak cara atau jawaban, dan cukup
luas kandungan materinya.
Fase2: Apa yang diketahui diketahui dari permasalahan? Dalam fase ini setiap
anggota akan melihat permasalahan dari segi pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya. Kelompok akan mendiskusikan dan menyepakati batasan-batasan
mengenai permasalahan tersebut, serta memilah-memilah isu-isu dan aspek-aspek yang
cukup beralasan untuk diselidiki lebih lanjut. Analisis awal ini harus menghasilkan titik
awal untuk penyelidikan dan dapat direvisi apabila suatu asumsi dipertanyakan atau
informasi baru muncul kepermukaan.
Fase 3: Apa yang tidak diketahui dari permasalahan? Di sini anggota kelompok akan
membuat daftar pertanyaan-pertanyaan atau isu-isu pembelajaran yang harus dijawab
untuk menjelas permasalahan. Dalam fase ini, anggota kelompok akan mengurai
permasalahan menjadi komponen-komponen, mendiskusikan implikasinya, mengajukan
berbagai penjelasan atau solusi, dan mengembangkan hipotesis kerja. Kegiatan ini
seperti fase brainstorming dengan evaluasi; penjelasan atau solusi dicatat. Kelompok
perlu merumuskan tujuan pembelajaran, menentukan informasi yang dibutuhkan, dan
bagaimana informasi ini diperoleh.
Fase 4: Alternatif Pemecahan. Dalam fase ini anggota kelompok akan mendiskusikan,
mengevaluasi, dan mengorganisir hipotesis dan mengubah hipotesis. Kelompok akan
membuat daftar Apa yang harus dilakukan? yang mengarah kepada sumberdaya yang
dibutuhkan, orang yang akan dihubungi, artikel yang akan dibaca, dan tindakan yang
perlu dilakukan oleh para anggota. Dalam fase ini anggota kelompok akan menentukan
dan mengalokasikan tugas-tugas, mengembangkan rencana untuk mendapatkan informasi
yang dibutuhkan. Informasi tersebut dapat berasal dari dalam kelas, bahan bacaan, buku
pelajaran, perpustakaan, perusahaan, video, dan dari seorang pakar tertentu. Bila ada
informasi baru, kelompok perlu menganalisa dan mengevaluasi reliabilitas dan
kegunaannya untuk penyelesaian permasalahan yang sedang dihadapi.
Fase 5: Laporan dan Presentasi Hasil. Pada fase ini, setiap kelompok akan menulis
laporan hasil kerja kelompoknya. Laporan ini memuat hasil kerja kelompok dalam fasefase sebelumnya diikuti dengan alasan mengapa suatu alternatif dipilih dan uraian
tentang alternatif tersebut. Pada bagian akhir setiap kelompok menjelaskan konsep yang
terkandung dalam permasalahan yang diajukan dan penyelesaian yang mereka ajukan.

6|

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
Misalnya, rumus apa yang mereka gunakan. Laporan ini kemudian dipresentasikan dan
didiskusikan dihadapan semua siswa.
Fase 6: Pengembangan Materi. Dalam fase ini guru akan mengembangkan materi
yang akan dipelajari lebih lanjut dan mendalam dan memfasilitasi pembelajaran
berdasarkan konsep-konsep yang diajukan oleh setiap kelompok dalam laporannya.
Dengan memperhatikan kegiatan pada setiap fase, para peserta didik
menggunakan banyak waktunya untuk mendiskusikan masalah, merumuskan hipotesis,
menentukan fakta yang relevan, mencari informasi, dan mendefinisikan isi pembelajaran
itu sendiri. Tidak seperti pembelajaran tradisional, tujuan pembelajaran dalam PBL tidak
ditetapkan dimuka. Sebaliknya, setiap anggota kelompok akan bertanggungjawab untuk
membangun isi-isu atau tujuan berdasarkan analisa kelompok tentang permasalahan yang
diberikan
Kelebihan metode pendekatan problem-based learning:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata


Mengembangkan kemampuan berpikir kritis
Terbiasa bekerja sama dalam kelompok
Peserta didik memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya sendiri
Melatih berkomunikasi secara baik
Terbiasa belajar secara mandiri (adult learning)
Meningkatakan motivasi dan aktivitas pembelajaran siswa
Pengembangan integrasi pengetahuan dasar
Persiapan kemampuan lifelong learning
Paparan klinis yang lebih banyak
Mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun
belajar pada pendidikan formal telah berakhir
l. Memudahkan siswa dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari guna
memecahkan masalah dunia nyata
m. Kesulitan belajar peserta didik secara individual dapat diatasi melalu kerja
kelompok karena saling berdiskusi
n. Meningkatkan kemampuan untuk mencari informasi dari sumber yang terpercaya
Kelemahan metode pendekatan problem-based learning:
a. Tidak selalu cocok pada semua materi, ada bagian tertentu yang menuntut
pengajar untuk berperan secara aktif dalam menyajikan materi.
b. Biasanya membutuhkan waktu yang tidak sedikit

7|

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
c. Membutuhkan kemampuan pengajar yang mampu mendorong kerja siswa dalam
kelompok secara efektif, artinya pengajar memiliki kemampuan memotivasi
peserta didik yang baik.
d. Terkadang sumber yang dibutuhkan tidak tersedia dengan lengkap.

1.3. Adult Learning


Menurut Reg Revans (1998), adult learning adalah proses menanyakan sesuatu
bermula dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban
yang ditemukan saat itu tidak lagi valid untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi.
Seorang ahli pendidikan (Houle) mengatakan orientasi belajar bagi adult learners
dibagi atas 3 jenis yaitu:
a. Menggunakan institusi pendidikan dalam menggapai tujuan pembelajaranya,
b. Berpartisipasi secara mandiri dalam belajar dan lebih interaktif dengan
lingkungannya,
c. Mencari pengetahuan yang berbasis kepada kebutuhan dan kepentingannya.

a.
b.
c.
d.
e.

Dalam menerapkan strategi pengajaran, karakteristik dari adult learner harus


dipahami dan identifikasi lebih dulu.
Memiliki pengalaman yang panjang dan kekayaan pengetahuan.
Memiliki daya nilai atau daya pikir yang jelas, keyakinan dan opini
Hindari sedini mungkin untuk menimbulkan kesan minoritas antar sesama
dalam
sebuah kelas atau kelompok belajar.
Lebih berorientasi pada pembelajaran dengan problem-based.
Memiliki pola belajar yang bervariasi yang berbeda sesuai tingkat umur dan
maturitas pribadinya.

a.
b.
c.
d.

Tujuan Adult Learning


Membentuk konsep diri pada mahasiswa.
Menambah pengalaman mahasiswa dalam menghadapi masalah.
Mengembangkan kesiapan dalam belajar mandiri bagi mahasiswa.
Menambah orientasi diri atau kepercayaan diri mahasiswa.

a.
b.
c.
d.

Manfaat Konsep Adult Learning dalam kehidupan sehari-hari:


Dapat menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan.
Mudah berbaur dalam kegiatan organisasi.
Dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan.
Membuat kita lebih siap ketika terjun ke masyarakat.

8|

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
e. Membuat kita menjadi lebih mandiri.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Ciri-Ciri Orang Yang Bisa Menerima Konsep Adult Learning


Mempunyai pengalaman yang berbeda-beda.
Lebih suka menerima saran-saran daripada digurui.
Suka memberi perhatian terhadap hal-hal menarik.
Suka meningkatkan pemahamannya terhadap masalah yang dialaminya.
Menyenangi hal-hal yang praktis.
Memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
Selalu optimis.

Langkah-Langkah Menerapkan Adult Learning


a. Menciptakan iklim untuk belajar.
b. Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan belajar secara bersama dan
membantu.
c. Merumuskan tujuan belajar.
d. Merancang kegiatan belajar.
e. Melaksanakan kegiatan belajar.
f. Berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan bukan pasif.
g. Saling berbagi (sharing) pengalaman.
h. Mengevaluasi hasil belajar.

saling

Kesulitan Dalam Menerapkan Konsep Adult Learning


a. Adanya perubahan fisiologi (fisik), seperti menurunnya pendengaran,
penglihatan, tenaga sehingga mempengaruhi kecepatan belajar orang dewasa.
b. Perbedaan cara pembelajaran. Disini dosen perlu membantu mahasiswa dalam
proses belajar dengan mempertimbangkan keunikan dan perbedaan setiap
mahasiswa.
c. Adanya perbedaan karakter. Maksudnya ada orang dewasa yang mempunyai
sifat pendiam (menutup diri), hal ini dapat mengganggu proses belajar,
misalnya diskusi.

1.4. MCQ-CBT
MCQs
(MultipleChoiceQuestions) adalah metode uji yang paling banyak digunakan
dalam menguji pemahaman tentang suatu konsep ilmu (knowsatauknowshow). MCQs
yang dikembangkan disusun dengan menggunakan konsep keyfeatures, yaitu

9|

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
memfokuskan pertanyaan pada pemahaman konsepkonsep yang vital bagi keberhasilan
penanganan suatu masalah kesehatan. MCQs ini terdiri dari vignette atau skenario kasus
klinik yang diikuti dengan pertanyaan dengan 5 pilihan jawaban dengan hanya 1 pilihan
jawaban yang paling tepat/benar. Jawaban salah (disebut pengecoh/distractor) bisa salah
atau kurang tepat jika dibandingkan dengan kunci jawaban. Untuk menguji level knows
dan knowshow, MCQs memiliki validitas yang baik serta dengan jumlah sampling yang
cukup banyak juga memiliki reliabilitas yang baik.
CBT
Metode MCQs dengan komputer yang kemudian disebut computer-based testing
(CBT) memberikan tampilan yang lebih baik pada gambaran atau pencitraan pasien.
CBT juga memberikan kemudahan dalam hal scoring, analisa, maupun pelaporan
hasil.Hasil ujian dapat diproses lebih cepat dan efisien. Alternatif CBT, dalam kondisi
tertentu dimana CBT tidak dapat dilaksanakan, maka MCQ dilakukan menggunakan
Paper Based Testing (PBT). Kondisi tertentu yang dimaksud dibahas dalam petunjuk
pelaksanaan.

2. Cara Memotivasi Diri dalam Belajar


2.1. Pengertian Motivasi Belajar
Kata Motif, diartikan sebagai upaya yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di
dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai tujuan.
Menurut Mc. Donals (2006), motivasi adalah perubahan energy dalam diri seseorang

10 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap
adanya tujuan.
Motivasi belajar pada mulanya adalah suatu kecenderungan alamiah dalam diri
manusia, tapi kemudian terbentuk sedemikian rupa dan secara berangsur-angsur, tidak
hanya sekedar menjadi penyebab dan mediator belajar tetapi juga sebagai hasil belajar itu
sendiri (Woldkowski & Jaynes 2004).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, motivasi belajar
adalah suatu proses alamiah dari dalam diri manusia yang ditandai dengan munculnya
suatu tingkah laku terhadap suatu tujuan yang ingin dicapai dalam belajar.
2.2. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut Woldkowski & Jaynes (2004) ada empat pengaruh utama dalam
motivasi belajar sesorang yaitu: budaya, keluarga, sekolah dan diri anak itu sendiri.
a. Budaya
b. Keluarga
c. Sekolah
d. Anak
Sedangkan menurut Sardiman (2006), ada beberapa cara untuk menumbuhkan
motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah:
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai symbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak
siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai nilai/angka yang baik.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidak selalau demikian
karena hadiah untuk setiap pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi
seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan
tersebut.
3. Saingan/kompetensi
Saingan/kompetensi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong
belajar siswa.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan
menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan
mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai motivasi yang cukup penting.
5. Memberikan ulangan juga merupakan sarana motivasi.
6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui grafik hasil belajar, maka ada motivasi pada diri siswa
untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7. Pujian

11 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan
mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.
9. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi
untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10. Minat
Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah
kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan
lancar kalau disertai dengan minat.
11. Tujuan yang diakui
Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dapat menimbulkan
gairah untuk terus belajar.
2.3. Jenis Jenis Motivasi Belajar
Terdapat dua factor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar yang
dikemukakan oleh Santrock (2008)yaitu:
a. Motivasi ekstrinsik, yaitu melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu
yang lain (cara untuk mencapai tujuan), seperti imbalan dan hukuman.
b. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi
sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Terdapat dua jenis motivasi intrinsik,
yaitu:
1) Motivasi intrinsik berdasarkan determinasi diri dan pilihan
personal
2) Motivasi intrinsik berdasarkan pengalaman optimal.

2.4. Fungsi Motivasi


Motivasi memiliki fungsi bagi seseorang, karena motivasi dapat menjadikan
seseorang mengalami perubahan kearah yang lebih baik. Motivasi juga dapat mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu.
Oemar Hamalik (2004: 175) menjelaskan fungsi motivasi antara lain : mendorong
timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Perbuatan belajar akan terjadi apabila
seseorang tersebut memiliki motivasi, sebagai pengarah, artinya dapat menjadi jalan agar
mampu menuju arah yang ingin dicapai, sebagai penggerak, berfungsi sebagai mesin
bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu
pekerjaan.

12 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176

3. Materi Ilmu Kedoteran Dasar


3.1. Ilmu Kedokteran dasar dalam Kurikulum Pendidikan Kedokteran
Ilmu Kedokteran Dasar ialah ilmu-ilmu premedik, ilmu-ilmu preklinik dan ilmuilmu paraklinik. Tetapi ada pula yang menyebut semua ilmu tadi, jadi ilmu yang
mendahului ilmu-ilmu klinik, sebagai ilmu-ilmu preklinik. Antara lain ilmu-ilmu
premedik maupun fisika, kimia, dan biologi; ilmu-ilmu premedik: anatomi, histology,
fisiologi, biokimia; dan ilmu-ilmu paraklinik: patologi anatomi, patologi klinik,
farmakologi, parasitologi, mikrobiologi, dll. Ilmu Kedokteran Dasar merupakan pondasi
pendidikan kedokteran, dan pondasi sudah seharusnya dibuat kuat dan tangguh sebelum
bagian-bagian lain bangunan tersebut didirikan.
Ilmu-ilmu dalam Ilmu Kedokteran Dasar, baik yang bersifat morfologik maupun
yang bersifat fungsional, masing-masing memberikan dasar dalam memberikan

13 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
kumpulan-kumpulan informatif pengetahuan faktual, yang tanpa ini semua ilmu-ilmu
klinik tidak dapat didirikan, dalam arti pengertian-pengertian dalam ilmu klinik sukar
dicapai tanpa bekal pengetahuan itu. Selain bekal dalam kuantitas ilmu informatif, ilmuilmu yang bersifat morfologik, misalnya anatomi, histology, patologi anatomi, dll.,
member bekal dalam kemampuan observasi dan deskripsi, sedang yang membentuk
kumpulan ilmu-ilmu yang bersifat fungsional, seperti fisiologi, biokimia, farmakologi,
dll. adalah ide-ide, teori-teori dan kesimpulan-kesimpulan, sehingga dari sinilah berasal
kemampuan berargumentasi serta menimbang-nimbang kanyataan-kenyataan, yang
merupaan inti dalam profesi kedokteran. Ilmu Kedokteran Dasar sewajarnya diberikan
dalam waktu yang tidak terlalu pendek untuk memberi kesempatan pengembangan yang
cukup.
3.2. Cara Pemberian Ilmu Kedokteran Dasar
Cara pemberian ilmu dalam Ilmu Kedokteran Dasar masih selalu merupakan
persoalan yang perlu dipecahkan. Dalam beberapa prguruan tinggi ilmu-ilmu tersebut
diberikan dalam apa yang disebut system blok, yaitu diberikan saling berurutan satu
sesuudah yang lain. Sistem ini mempunyai keuntungan bahkan dalam saat mahasiswa
mempelajari satu disiplin ilmu, perhatiannya tidak terbagi.
Tetapi umumnya sekarang ilmu-ilmu dasar, misalnya anatomi, histology,
fisiologi, dan biokimia, diajarkan bersama-sama dalam satu jangka waktu. ini
berdasarkan atas anggapan bahwa semua ilmu-ilmu preklinik saling ada hubungannya
sampai derajat tertentu, sehingga mempelajarinya masing-masing secara betul-betul
terpisah tidak ada artinya atau malah merugikan. dalam hubungan ini struktur hendaknya
dipelajari berdampingan dengan fungsi, dan sekarang semakin banyak usaha dilakukan
untuk mengkoordinasi kedua hal ini, sehingga mahsiswa mempunyai kesempatan untuk
memadukan struktur dan fungsi di dalam pikirannya sendiri dan menciptakan gambaran
yang tersusun dengan baik tntang biologi manusia.

14 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176

4. Gaya Belajar
Bagaimana cara kita belajar akan sangat mempengaruhi struktur otak kita. Hal
inilah yang kemudian kita kenal sebagai Learning Style (Gaya Belajar). Gaya belajar
dapat dibagi berdasarkan modalitas, spectrum, dan gaya terima.
Modalitas
Secara singkat, modalitas belajar adalah suatu cara bagaimana otak menyerap
informasi yang masuk melalui panca indera secara optimal. Menurut Howard Gardner
modalitas belajar tersebut dapat dikarakteristik menjadi gaya belajar Auditory, Visual,
Reading dan Kinesthetic
a. Auditory
Orang yang memiliki gaya belajar Auditory, belajar dengan mengandalkan
pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar
ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi
atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang
bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini

15 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain
memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Beberapa ciri seorang Auditory antara lain :

Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok

Mengenal banyak sekali lagu / iklan TV,

Suka berbicara.

Pada umumnya bukanlah pembaca yang baik.

Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.

Kurang baik dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.

Kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan sekitarnya.

b. Visual
Orang yang memiliki gaya belajar Visual, belajar dengan menitikberatkan
ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu
agar mereka paham. Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan
yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum mereka
memahaminya. Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat
materi bergambar. Selain itu, mereka memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna,
disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja
biasanya mereka memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif
terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah
menginterpretasikan kata atau ucapan.
Beberapa karakteristik Visual adalah :

Senantiasa melihat memperhatikan gerak bibir seseorang yang berbicara kepadanya

Cenderung menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu

16 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176

Kurang menyukai berbicara di depan kelompok, dan kurang menyukai untuk


mendengarkan orang lain.

Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan secara lisan

Lebih menyukai peragaan daripada penjelasan lisan

Biasanya orang yang Visual dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut/ramai
tanpa merasa terganggu.

c. Reading
Orang yang memiliki gaya belajar Reading adalah orang yang belajar dengan
menitikberatkan pada tulisan atau catatan. Karakteristik ini benar-benar menempatkan
bacaan atau tulisan sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan.
Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan
haruslah membaca atau menuliskannya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar
ini menyukai hal-hal yang berbau teoritis dan umumnya susah menyerap secara langsung
informasi dalam bentuk peragaan atau praktis. Orang yang memiliki gaya belajar
Reading biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut.

Suka membaca dan membuat catatan

Huruf-huruf indah dan tulisan rapi merupakan hal yang sangat berkesan bagi mereka

Mudah mengingat apa yang mereka baca atau tuliskan

d. Kinesthetic
Orang yang memiliki gaya belajar, Kinesthetic mengharuskan individu yang
bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa
mengingatnya.
Orang yang memiliki gaya belajar Kinesthetic biasanya memiliki karakteristik :

Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.

Sulit untuk berdiam diri.

17 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176

Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan tangan.

Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik.

Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu belajar.

Mempelajari hal-hal yang abstrak merupakan hal yang sangat sulit.


Spectrum
Dari segi memandang sesuatu dan bagaimana ia melakukan pengaturan informasi,
ada orang yang cenderung memandang sesuatu secara abstrak, dan ada pula yang
konkret. Sedangkan dari aspek pengaturan informasi, manusia mengolahnya secara
sekuensial (teratur/urut) dan acak (random). Seorang Profesor di bidang kurikulum dan
pengajaran di Universitas Connecticut, Anthony Gregorc, menggabungkan kedua faktor
di atas menjadi 4 karakter gaya berpikir seseorang. Tiap orang memiliki salah satu gaya
berpikir yang dominan diantara keempat tipe yang ada. Keempat tipe gaya berfikir
tersebut adalah : Concrete Sequential (CS), Abstract Random (AR), Abstract Sequential
(AS), Concrete Random (CR).

a.

Concret Sequensial [CS]


Orang dengan tipe ini adalah orang yang cenderung, teratur, dan rapi. Mereka
selalu mengerjakan tugas tepat waktu, terencana, dan tidak suka hal-hal yang bersifat
mendadak. Selain itu mereka dengan ciri CS tidak senang mengerjakan tugas yang
bertumpuk-tumpuk.Biasanya agak perfeksionis sehingga ingin segala sesuatu dikerjakan
dengan sempurna dan terencana. Tipe ini cocok untuk jenis pekerjaan yang
membutuhkan ketelitian dan kerapian, seperti sekretaris dan bendahara.
Apa yang terbaik bagi mereka?

Memiliki cara yang mudah dalam menerapkan ide-ide.


Mengorganisir.
Ide cemerlang dapat membuat mereka lebih efisien.
Menghasilkan hasil yang konkret dari ide-ide yang abstrak.
Mampu bekerja tepat waktu dengan baik.

18 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Concret Sequensial [CS]?

Bekerja secara sistematis, langkah demi langkah.

Peduli pada detail.

Memiliki sebuah jadwal untuk dijalani.

Memiliki penafsiran secara logika.

Mengetahui apa yang berguna bagi mereka.

Rutinitas, memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu.


Apa yang sulit bagi mereka?

Bekerja secara kelompok.

Bekerja di dalam lingkungan yang tak teratur.

Mengikuti secara tidak lengkap atau petuntuk yang tidak jelas.

Bekerja dengan orang yang tidak memiliki pendirian.

Berhadapan dengan ide-ide yang abstrak.

Menuntut untuk "menggunakan imajinasinya".

Pertanyaan yang tidak benar atau jawaban yang salah.

b.

Abstract Sequensial [AS]


Abstract Sequensial merupakan pemikir yang cerdas dan punya ide-ide yang
brilian. Orang ini senang mengetahui dan berpikir tentang apa yang tidak dipikirkan
orang lain, senang membaca membuatnya senang untuk berdiskusi, bahkan berdebat
dengan orang lain. Lebih menyukai belajar secara individu daripada berkelompok.
Apa yang terbaik bagi mereka?

Mengumpulkan banyak informasi sebelum membuat sebuah keputusan.

Menganalisis ide-ide.

Melakukan penelitian.

19 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176

Menyediakan ide-ide logis yang berurutan.

Menggunakan bukti-bukti untuk membuktikan atau menyangkal teori-teori.

Memberikan bukti-bukti yang diperlukan untuk diselesaikan.


Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Concret Sequensial [CS]?

Menggunakan contoh yang tepat, sebagai hasil dari penelitian yang akurat.

Belajar lebih dengan mengamati daripada melakukannya.

Alasan yang dapat diterima secara logika.

Bekerja dengan tenang untuk membahas suatu persoalan secara menyeluruh.


Apa yang sulit bagi mereka?

Dituntut untuk bekerja dalam hal sudut pandang yang berbeda.

Memiliki waktu yang terlalu sedikit dalam menyelesaikan suatu persoalan.

Mengulangi tugas yang sama berulang-ulang kali.

Banyak aturan-aturan yang spesifik dan peraturan-peraturan yang lainnya.

Pemikiran yang "sentimentil".

Mengekspresikan emosi mereka.

Menjadi diplomatik ketika meyakinkan orang lain.

Tidak menguasai suatu percakapan.

c.

Abstract Random [AR]


Abstract random selalu dihubungkan dengan perasaan dan emosi, sehingga
mereka terkenal sangat sensitif. Semua bisa menjadi menyenangkan jika mood-nya
sesuai, tapi menjadi buruk jika mereka sudah tidak lagi memiliki emosi positif terhadap
sesuatu. Mudah kehilangan konsentrasi, banyak pertimbangan, dan suka mencoret-coret
tanpa arti di buku adalah ciri tipe ini.

20 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Abstract Random [AR]?

Belajar sendirian.

Petunjuk yang luas dan umum.

Menjaga hubungan dengan baik.

Semangat dalam berpartisipasi dalam pekerjaan yang mereka yakini.

Memiliki moralitas yang tinggi.

Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan perasaannya.


Apa yang sulit bagi mereka?

Memberikan penjelasan.

Berkompetisi.

Bekerja dengan orang yang memiliki kepribadian otoritas/dictator.

Bekerja dalam lingkungan yang membatasinya.

Bekerja dengan orang-orang yang kurang ramah.

Berkonsentrasi pada suatu hal secara serentak.

Memberikan perincian-perincian yang tepat.

Menerima kritikan positif.

d.

Concret Random [CR]


Concert random sering dianggap sebagai orang yang kreatif karena senang
mencoba menyelesaikan sesuatu dengan cara mereka sendiri. Saking asyiknya, mereka
cenderung tidak peduli dengan waktu. Tipe ini bisa mengerjakan beberapa pekerjaan di
satu waktu. Spontanitas dan impulsif menjadi ciri khas tipe ini, karena begitu banyak ideide muncul di kepala mereka. Mereka juga senang mencoba-coba sesuatu,
bereksperimen, walaupun mungkin banyak orang lain tidak menyenanginya.
Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Concret Sequensial [CS]?

21 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176

Mengguakan wawasan dan naluri untuk memecahkan permasalahan.

Bekerja dengan memiliki banyak waktu.


Apa yang sulit bagi mereka?

Adanya larangan dan batasan.

Laporan-laporan yang formal.

Rutinitas.

Mengulangi pekerjaan yang telah selesai dikerjakan.

Menyimpan dokumen-dokumen yang terperinci.

Menunjukan bagaimana mereka mendapatkan suatu jawaban.

Memilih hanya satu jawaban.

Tidak adanya pilihan.


Gaya Terima
Berdasarkan gaya terima pemahaman, Herman Witkin, melalui studi risetnya
mengemukakan 2 macam karakteristik gaya belajar yang dimiliki seseorang, yaitu gaya
belajar Anaitik dan gaya belajar Global.

a. Analitik
Orang yang berpikir secara Analitik dalam memandang segala sesuatu cenderung
lebih terperinci, spesifik, terorganisasi, dan teratur. Namun kurang bisa memahami
masalah secara menyeluruh. Dalam mengerjakan tugas, seorang Analitik akan
mengerjakan tugasnya secara teratur, dari satu tahap ke tahap berikutnya. Mereka
memiliki kecenderungan untuk mengerjakan satu tugas dalam satu waktu. Orang yang
memiliki cara berpikir secara Analitik seringkali memikirkan sesuatu berdasarkan logika.
Mereka sangat sulit belajar bila ada gangguan, karena biasanya pikirannya hanya
terfokus pada satu masalah saja. Untuk mengatasi keadaan ini, sebaiknya orang yang

22 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
memiliki cara berpikir secara Analitik belajar sendirian, baru bergabung dengan
temannya untuk bersosialisasi setelah selesai belajar.
b. Global
Orang yang berpikir secara Global cenderung melihat segala sesuatu secara
menyeluruh, dengan gambaran yang besar, namun demikian mereka dapat melihat
hubungan antar satu bagian dengan bagian yang lain. Orang yang Global juga dapat
melihat hal-hal yang tersirat, serta menjelaskan permasalahan dengan kata-katanya
sendiri. Mereka dapat melihat adanya banyak pilihan dalam mengerjakan tugas dan dapat
mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Orang yang berpikir secara Global dapat
bekerjasama dengan orang lain. Senang memberi dan menerima pujian, bahkan mereka
cenderung memerlukan lebih banyak dorongan semangat dalam memulai mengerjakan
sesuatu. Mereka dapat menerima kritikan secara pribadi. Mereka akan mengalami
kesulitan bila harus menjelaskan sesuatu setahap demi setahap. Orang yang memiliki
cara berpikir secara Global dominan biasanya kurang memiliki kerapian, walau
sebenarnya mereka memiliki keinginan besar untuk merapikannya, namun seringkali
keinginannya kurang terlaksana. Untuk mengatasi hal ini sebaiknya mereka belajar untuk
menyederhanakan sistemnya.

DAFTAR PUSTAKA

Tantra Dewa, Komang. 2009. Kurikulum Berbasis Kompetensi.


Hasugian.2008. Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi. Urgensi Literasi Informasi
dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi di Perguruan Tinggi [Online]. Available at :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16100/1/pus-des2008-%20(4).pdf
Lidinillah.Pembelajaran Berdasarkan Masalah [Online]. Available at:
http://file.upi.edu/Direktori/KD-

23 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University

FA KU LTA S K E D O KT E RA N
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
YUSDELA TRISA
04011181520176
TASIKMALAYA/DINDIN_ABDUL_MUIZ_LIDINILLAH_%28KD-TASIKMALAYA
%29-197901132005011003/132313548%20-%20dindin%20abdul%20muiz
%20lidinillah/Problem%20Based%20Learning.pdf
Characteristics of Adult Learners. 2012.
http://online.rit.edu/faculty/teaching_strategies/adult_learners.cfm
Panduan Pelaksanaan Uji Kompetensi Bagi Mahasiswa Program Profesi Dokter.2014.
https://xa.yimg.com/kq/groups/72329636/1149212802/name/Panduan
%2BUK.docx&ved=0CC0QFjAHahUKEwi547bg9ufHAhUFA44KHVzRAJ8&usg=AF
QjCNFmGsO4eLtI0OnTvuCz00rKcms6vw&sig2=zhtPLShPIl3n_JzsysdyPw

BAB II Kajian Pustaka. Motivasi Belajar. Available at:


http://digilib.uinsby.ac.id/337/5/Bab
%25202.pdf&ved=0CCkQFjAFahUKEwiV_9WM8eXHAhXRGo4KHXWwDZg&usg=
AFQjCNFEf16yNam2_W9DThMlSw6T13qjAg&sig2=h9VglHIoyC1SySikIgK9Sw
BAB II Kajian Teori. Hakekat Motivasi. Available at:
http://eprints.uny.ac.id/8654/3/BAB%25202%2520-%252008416241010.pdf&q=cara
%20memotivasi%20diri%20sendiri%20dalam%20belajar
%20pdf&ved=0CCUQFjAEahUKEwiV_9WM8eXHAhXRGo4KHXWwDZg&usg=AF
QjCNG0p_llbxYlq1_zICHYcvyDJz6kWg&sig2=3P8vgejywHsecffj0kiUBA
Macam-macam Gaya Belajar. 2012. http://belajarpsikologi.com/macam-macam-gayabelajar/

24 |

Medical

Faculty

of

Sriwijaya

University