Anda di halaman 1dari 4

Penguasaan tanah dan pemanfaatan lahan pertanian

Penguasan tanah meliputi hubungan antara individu (perseorangan),


badan hukum ataupun masyarakat sebagai suatu kolektivitas atau
masyarakat hukum dengan tanah yang mengakibatkan hak-hak dan
kewajiban terhadap tanah. Hubungan tersebut diwarnai oleh nilai-nilai
atau norma-norma yang sudah melembaga dalam masyarakat (pranatapranata sosial). Bentuk penguasaan tanah dapat berlangsung secara terus
menerus dan dapat pula bersifat sementara.

Fragmentasi lahan atau penyusutan kepemilikan lahan pertanian yang


menjadi dampak dari sistem bagi waris dan alih fungsi lahan
menyebabkan skala usaha petani terus menurun. Penurunan skala usaha
akan mengakibatkan lahan semakin tidak produktif. Para petani
beranggapan bahwa lahan yang sudah tidak produktif lebih baik dijual.
Keputusan menjual lahan ini mengakibatkan petani memiliki luas lahan
yang semakin kecil. Lahan pertanian yang dimiliki petani semakin kecil
sehingga tidak akan dapat memberikan kesejahteraan terhadap petani.
Dengan demikian, persoalan kepemilikan lahan pertanian akan menjadi
masalah berat di masa datang karena usahatani yang dikembangkan
bersifat land base agricultural, artinya lahan pertanian sebagai basis
produksi pangan tidak tergantikan.

Semakin menyempitnya lahan pertanian subur karena banyak digunakan


sebagai pemukiman, perkantoran, maupun fasilitas umum lainnya,
menyebabkan perlunya upaya pemanfaatan lahan kering secara lebih
intensif untuk budi daya tanaman pangan, perkebunan dan tanaman
pakan serta peternakan.
Disamping itu perlunya peningkatan produktivitas lahan kering dipicu pula
oleh adanya kondisi gizi buruk di masyarakat, merebaknya penyakitpenyakit yang disebabkan oleh kondisi tubuh yang melemah akibat
kekurangan gizi.
Bahkan karena sudah tidak adanya lahan yang bisa digunakan, Indonesia
yang pada tahun 1984 pernah dinyatakan oleh Organisasi Pangan dan
Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization atau FAO) sebagai
negara yang mampun memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tidak
bertahan lama karena tahun-tahun setelah itu Indonesia harus
mengimport beras dan bahan pangan lainnya seperti jagung dan kedele
dalam jumlah yang semakin bertambah.
Terlebih jika memasuki musim kering, hampir sebagian daerah kesulitan
untuk bertani bahkan banyak kegiatan bertani yang terhenti total

akibat tidak adanya air yang mencukupi untuk mengairi lahan pertanian,
sehingga pada saat musim kering hanya beberapa petani yang bisa
bertani dengan membuat sumur bor untuk mengairi lahan pertanian
mereka.

Ada tiga solusi sederhana yang dapat dilakukan oleh petani saat
menghadapi lahan kritis yaitu:
1. Pembuatan sumur bor dekat lahan pertanian yang ditanggung bersama
oleh para petani.
2. Pemakaian pupuk organik hosc pada lahan pertanian yang dapat
mengikat air 50% dari volume humus yang diberikan atau dapat mengikat
volume air 10M3/ha pada lahan pertanian.
3. Menanam tanaman yang cocok pada lahan kering seperti jagung,
kacang tanah, kacang kedelai, tembakau dan buncis.
Dari ketiga solusi diatas, pemanfaatan lahan kering bisa menjadi salah
satu solusi efektif. Bahkan di sebagaian Jawa Tengah, sebagaian Jawa
Timur,NTB & NTT menggunakan sistem pertanian tadah hujan yaitu hanya
mengandalkan pengairan lahan pertanian ini.
Apa itu Sistem Pertanian Lahan Kering ?
Lahan kering adalah lahan tadah hujan (rainfed) yang dapat diusahakan
secara sawah (lowland, wetland) atau secara tegal atau ladang (upland).
Lahan kering pada umumnya berupa lahan atasan, kriteria yang
membedakan lahan kering adalah sumber air. Sumber air bagi lahan
kering adalah air hujan, sedangkan bagi lahan basah disamping air hujan
juga dari sumber air irigasi. (Notohadiprawiro, 1988 dalam Suyana,
2003).
Pemanfaatan lahan kering menjadi lahan pertanian produktif karena
mengefisiensikan lahan kosong atau lahan yang dianggap tidak produktif
sebagai salah satu pemenuh kebutuhan dasar hidup dan pensejahteraan
masyarakat.
Pada program pemanfaatan lahan kering sebagai lahan pertanian
produktif yang sekarang sedang dilakukan oleh Pupuk Humus Organic Soil
Conditioner (Pupuk HOSC).

Mengapa Pupuk Humus Organic Soil Condotioner ?


Pupuk Humus Organic Soil Conditioner (Pupuk HOSC) memiliki kelebihan
sebagai berikut :
1. Memperbaiki sifat fisik Tanah, yaitu:
a.warna tanah menjadi lebih kelam, Coklat-hitam yang dapat menaikkan
suhu.
b.Meningkatkan agregasi (granulasi tanah) dan urobilitas, agragat, aerasi
(penghawaan) lebih baik, draenasi perembihan (pelulusan) lebih baik,
lebih tahan terhadap erosi.
c.Mengurangi plastisitas pada tanah lempung (liat-clay), tanah lebih
mudah diolah (lebih gembur). d.Menaikkan kemampuan mengikat atau
menyimpan air.
2. Memperbaiki sifat Kimia tanah, yaitu:
a.Menaikkan KPK. (humus mempunyai KPK>200 me/100 gr).
b.Merupakan salah satu sumber unsur hara (penting dalam daur/siklus
unsur hara)
c.Merupakan cadangan unsur hara utama N,P,K dalam bentuk organik dan
unsur hara mikro (Fe, Cu, Mn, Zn, B, Mo, Ca) dalam bentuk khelat
(chelate) dan akan dilepaskan secara perlahan-lahan.
d.Meningkatkan aktivitas, jumlah dan populasi mikro dan makro
organisme tanah (merupakan sumber energi/makanan untuk bakteri,
actinomycetes, cacing, serangga dll)
3. Dibanding Pupuk Kimia, penggunaan pupuk organik akan lebih
menguntungkan jika ditinjau dari beberapa aspek, yaitu :
a.Lebih Ekonomis.
b.Untuk Penggunaan dalam jumlah banyak tidak menyebabkan terjadinya
Fithotoksis pada tanaman.
c.Untuk penggunaan yang terus menerus dan dalam waktu yang lama
tidak menimbulkan efek yang merugikan bagi lingkungan, dan tanaman.
Pertanian lahan kering mempunyai kondisi fisik dan potensi lahan sangat
beragam dengan kondisi sosial ekonomi petani umumnya kurang mampu
dengan sumberdaya lahan pertanian terbatas. Lahan kering merupakan

sumberdaya pertanian terbesar ditinjau dari segi luasnya, namun profil


usahatani pada agroekosistem ini sebahagian masih diwarnai oleh
rendahnya produksi yang berkaitan erat dengan rendahnya produktivitas
lahan.