Anda di halaman 1dari 2

1.

Pengertian Kompos
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan o
rganik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikr
oba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik ( J
. H. Crawford, 2003).
Pengomposan termasuk ke dalam pengolahan secara biologis, yaitu proses yang meng
ikutsertakan aktivitas dari enzim dan kemampuan mikroorganisme yang tujuannya un
tuk menghilangkan beberapa senyawa yang tidak diharapkan kehadirannya, baik seny
awa berbahaya untuk kehidupan maupun kehadirannya akan menimbulkan kerugian (Soe
wedo Hadiwiyoto, 1983).
2.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengomposan
Terciptanya lingkungan yang sesuai untuk mendukung kehidupan mikroba menjadi kun
ci keberhasilan pengomposan. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
:
a.
Ukuran bahan dasar
Semakin kecil ukuran bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan kompos, pengurai
annya akan berlangsung makin cepat. Karena semakin kecil ukuran partikel bahan o
rganik, semakin besar pula luas permukaan yang tersedia untuk dikerjakan oleh mi
kroorganisme. Jika ukuran partikel amat besar, luas permukaan operasi amat kuran
g. Reaksi kemudian akan berjalan lambat atau bahkan berhenti sama sekali.
b.
Kandungan nitrogen bahan asal
Bahan sisa tanaman dengan kandungan nitrogennya yang tinggi lebih cepat didekomp
osisi daripada yang lebih rendah kandungan nitrogennya.
c.
Heterogenitas bahan dasar kompos
Bahan yang lebih heterogen akan cepat terdekomposisi dari pada bahan yang terdir
i dari jenis yang sama.
d.
Mikroorganisme
Proses pengomposan tergantung pada kerja mikroorganisme yang memerlukan sumber d
aya karbon, untuk mendapatkan energi dan bahan bagi sel-sel baru, bersama dengan
pasokan nitrogen untuk protein sel. Mikroorganisme yang dibutuhkan adalah bakte
ri, fungi, dan Actynomycetes.
e.
Kelembaban / kadar air (%)
Kelembaban sangat menentukan proses kompos, dibawah 40 % maka relatif bahan-bah
an organik tidak cepat terurai dengan baik, apabila diatas 60 % maka relatif aka
n kekurangan udara atau oksigen. Kelembaban bagi berlangsungnya pengomposan lump
ur tinja adalah 40-60 % . Ini dapat dirasakan dengan rabaan yaitu terasa basah
seperti busa spon yang habis diperas tapi airnya tak menetes.
g.
pH
Pola perubahan yang biasa dari keasaman (pH) pada pengomposan yaitu pada awal pe
ngomposan, bahan menjadi agak asam karena dari awal penguraiannya adalah asam or
ganik sederhana. pH yang memenuhi syarat pengomposan lumpur tinja adalah 6,8-7,4
9 (SNI No.19-7030-2004)
h.
Kandungan rasio C/N
Aspek yang sangat menentukan adalah perbandingan kadar C/N (carbon/nitrogen) yan
g dikandung oleh bahan-bahan organik, kegunaan unsur karbon dan nitrogen sangat
diperlukan oleh mikroorganisme untuk hidup dan membentuk protein. Dalam praktek
pengomposan, karena lebih sering memperhitungkan volume, maka didapatkan campura
n unsur C dan unsur N dengan perbandingan 2:1 atau 3:1, agar perbandingan C/N-ny
a mendekati C/N tanah pertanian (10-20) (Sudarso, 1985;Depkes RI, 1987; H.W. Dal
zel, et al, 1991 ; Unus Suriawiria, 1993).
3.
Model Pengomposan
Menurut CPIS (Central for Policy and Implementation Studies, 1992) bahwa dalam
pengomposan dikenal tiga sistem diantaranya sistem pengomposan aktif , pasif dan
kombinasi aktif-pasif. Sistem pengomposan aktif memerlukan partisipasi aktif ma
nusia dengan cara menggunakan wadah yang terbuat dari plastik, drum, kayu, bambu
dan susunan batako. Dengan proses ini hasil pengomposan akan dapat segera dipa
nen, prosesnya lebih cepat karena pengondisian lingkungan terjadinya pembusukan
dan penguraian sampah dibantu peran aktif dari manusia.
Lain halnya dengan sistem pengomposan pasif dimana hanya membiarkan tumpukan sam
pah menjadi kompos secara alamiah ( tanpa perlakuan manusia). Sistem ini diperun

tukkan bagi yang memiliki halaman atau pekarangan luas. Hal ini bisa dilakukan d
engan menggali lubang sedalam 30-40 cm dan memasukkan sampah yang telah dicacah
dengan tanah berikutnya dan menimbun di atasnya. Proses ini memakan waktu yang l
ama (beberapa bulan sampai satu tahun). Pembusukan sampah dilakukan oleh mikroba
anaerob. Proses ini juga dibantu oleh cacing tanah.
Sedangkan sistem kombinasi yaitu pengomposan antara dua sistem, diatas tumpukan
diatur sedemikian rupa agar pembusukan dapat terjadi lebih cepat dari sistem pas
if tetapi dengan usaha yang lebih sedikit dari cara aktif.
Ketiga cara pengomposan tersebut dilakukan sesuai dengan tujuan dan kebiasaan ma
sing-masing pembuat. Tetapi pada prinsip terjadinya dekomposisi adalah sama yait
u dengan bantuan mikoorganisme dekomposer dan kematangan kompos adalah terjadiny
a kestabilan bahan organik.
4.
Metode pengomposan
a.
Proses pengomposan aerobik
Pada proses pengomposan aerobik yang sangat menentukan proses penguraian adalah
adanya oksigen dari udara bebas yang mengoksidasi senyawa-senyawa tersebut sehin
gga dapat menghasilkan energi. Dalam proses pengomposan aerobik, mikroorganisme
hidup dengan menggunakan oksigen dan zat organik untuk pembakaran dan makanannya
.