Anda di halaman 1dari 14

By

WAHYU TANTYOKO
121120105
Ir Danang Jaya, MT

PREPARASI
DAN ANALISA
BATUBARA

Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya
adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan
organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui
proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon,
hidrogen dan oksigen.
Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika
dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.
Analisis unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS
untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
PREPARASI BATUBARA

Preparasi? pengurangan massa dan ukuran dari gross sample sampai


pada massa dan ukuran yang cocok untuk analisa di Laboratorium
Preparasi batubara adalah suatu pengkondisian sebelum analisa dalam
laboratorium
Ada beberapa cara preparasi batubara hingga batubara siap menjadi
sample di Laboratorium

drying
drying

pengecilan
pengecilan
ukuran
ukuran

mixing
mixing

dividing
dividing

DRYING

Pengeringan udara pada gross sample dilakukan jika sample tersebut


terlalu basah untuk diproses tanpa menghilangnya mouisture atau yang
menyebabkan kesulitan pada crusher atau mill. Pengeringan udara
dilakukan pada suhu ambient sampai suhu maksimum yang dapat
diterima yaitu 400oC. Waktu yang diperlukan untuk pengeringan ini
bervariasi tergantung dari typical batubara yang akan dipreparasi, hanya
prinsipnya batubara dijaga agar tidak mengalami oksidasi saat
pengeringan.

PENGECILAN UKURAN

Pengecilan ukurn butir adalah proses pengurangan ukuran atas sample


tanpa menyebabkan perubahan apapun pada massa sample.
Contoh alat mekanis untuk melakukan pengecilan ukuran butir adalah :
- Jaw Crusher
- Rolls Crusher
- Swing Hammer Mills
Jaw Crusher atau Roll Crusher biasa digunakan untuk mengurangi
ukuran butir dari 50 mm sampai 11,2 mm; 4,75 mm atau 2,36 mm.
Roll Crusher lebih direkomendasikan untuk jumlah/massa sample yang
besar.
Swing Hammer Mill digunakan untuk menggerus sample sampai ukuran
0,2 mm yang akan digunakan untuk sample yang akan dianalisa di
Laboratorium.

MIXING ATAU PENCAMPURAN

Mixing / pencampuran adalah proses pengadukan sample agar diperoleh


sample yang homogen
Pencampuran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
a.Metode manual : menggunakan riffle atau dengan membentuk dan
membentuk kembali timbunan berbentuk kerucut
b. Metode Mekanis : menggunakan Alat Rotary Sample Divider (RSD)

DIVIDING ATAU PEMBAGIAN

Proses untuk mendapatkan sample yang representatif dari gross sample


tanpa memperkecil ukuran butir. Sebagai aturan umum, pengurangan
sample ini harus dilakukan dengan melakukan pembagian sample.
Pembagian dilakukan dengan metode manual (riffling atau metode
increment manual) dan metode mekanis (Rotary Sample Divider)

DESULFURISASI

Desulfurisasi batubara adalah salah satu proses pengurangan unsur


sulfur (S) dalam batubara yang dikarenakan gas SO2 hasil pembakaran
batubara yang dapat menimbulkan pencemaran udara. Sulfur
batubara juga dapat menyebabkan kenaikan suhu global serta
gangguan pernafasan. Salah satu teknologi konversi energi
adalah pembangkit tenaga listrik. Penggunaan bahan bakar fosil
untuk pembangkit listrik akan dapat meningkatkan emisi dari
partikel SO2, NOX, dan CO2.
Dalam proses penangkapan unsur S atau desulfurisasi batubara
dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yang berbeda
yaitu secara :

DESULFURISASI BATUBARA DENGAN PROSES KIMIA


1. Tujuan

Desulfurisasi Batubara Dengan Proses Kimia bertujuan untuk :

A. Untuk menghasilkan batubara yang dapat dibakar secara langsung


tanpa megalami proses desulfurisasi pada gas buang.
B. Untuk mengurangi gas cleaning setelah proses gasifikasi batubara.
2. Tahapan proses desulfurisasi secara kimia yaitu:
a.

Oksidative ( temperatur penguraian batubara dibawah 400oC )

1). Zat Pengoksidasi


Pada proses oksidasi untuk menghilangkan sulfur yang terkandung
dalam batubara menggunakan zat pengoksidasi sebagai berikut:
a) Metal ions (Fe+3, Hg+2, Ag+)
b) Strong acids (HNO3 + HClO4)
c) O2, Cl2, SO2, H2O2 dan udara.

2). Meyers Process:


Metode yang digunakan dalam proses oksidasi ini yaitu
Metode Meyer yang telah dikembangkan. Proses tersebut
berdasarkan oksidasi kandungan sulfur bentuk pirit dalam batubara
dengan menggunakan larutan Ferric sulfate panas, tanpa
menghilangkan asam organik.
a) Batubara

: berukuran 1.4 mm

b) Pereaksi

: Fe2(SO4)3

c) Temperature

: 100-130oC

d) Waktu

: 5-6 jam

e) Tekanan

: 3-6 atm

f) Pirit dioksidasikan menjadi ferrous sulfate, H2SO4 dan unsur S.


g) Penghilangan Pyritic-S : 83-99 %
h) As, Cd, Mn, Pb dan Zn juga dihilangkan.
3). Reaksi oksida desulfurisasi sebagai berikut:
5FeS2 + 23Fe2(SO4)3 + 24H2O51FeSO4+ 4S
O2 ditambahkan untuk mengoksidasi FeSO4 agar kembali menjadi
Fe2(SO4)3
4FeSO4 + 2H2SO4 + O2 2Fe2(SO4)3 + 2H2O
Netralsasi batu kapur untuk menghilangkan kelebihan sulfat
Fe2(SO4)3 + CaO3CaSO4 + Fe2O3
FeSO4 + CaO CaSO4 + FeO
4). Reaksi oksidade sulfurisasi secara umum :
2FeS2 + 7O2 + 2H2O 2FeSO4 + 2H2SO4
4FeSO4 + O2 + 2H2SO4 2Fe2(SO4)3 + 2H2O
Fe2(SO4)3 + 3H2O Fe2O3 + 3H2SO4
b. Caustic ( temperatur penguraian batubara dibawah 400oC )
1). Reaksi Desulfurisasi menggunakan caustic :
2FeS2 + 6NaOH2NaFeO2 + Na2S + 2H2O + O2
Coal-S + 2NaOH Coal-O + Na2S + H2O

2). Molten Caustic Leaching (MCL)


Proses MCL konvensional menggunakan campuran NaOH + KOH
(1:1), atau NaOH + KOH + Ca(OH)2 pada temperatur 370-390 oC
selama 2-3 jam.
c. Reduction (proses hidrosulfurisasi pada temperatur > 440oC).
Reaksi yang terjadi pada proses reduksi adalah sebagai berikut :
FeS2 + H2 FeS(s) + H2S (g)
FeS + H2 Fe + H2S (g)

3. Kekurangan proses desulfurisasi secara kimia:


a)

Biaya proses tinggi.

b)

Severe leaching conditions (100-400oC).

c)

Energy intensive.

d) Penambahan material ke dalam batubara selain dapat mengurangi


kandungan ash dan sulfur dapat juga berpotensi menjadi polutan.
e) Banyak di temukan permasalahan pengendalian polusi, korosi dan
pembuangannya.
DESULFURISASI BATUBARA DENGAN SECARA BIOLOGI
Kandungan sulfur dalam batubara dapat dihilangkan dengan metode
biologi yang dikenal dengan Mikrobial desulfurization. Proses
desulfurisasi secara mikrobiologi dapat dilakukan dengan cara
pengoksidasian pyrite, unsur S, dan S-organik oleh bakteri. Beberapa
mikroorganisme yang mampu mengoksidasi Sulfur, yaitu:
Acidithiobacillus ferrooxidans, (for FeS2).
Acidithiobacillus thiooxidans, (for FeS2) .
Leptospirillum ferrooxidans,
Sulfolobus acidocalderius

(for FeS2).
(for FeS2).

Rhodopseudomonas spheriodes (for organic-S).


1. Reaksi
2. Proses konversi batubara menggunakan biotechnolgy

PHYSICAL DESULPHURIZATION (COAL PREPARATION)


Desulfurisasi secara fisika memiliki peran penting dalam pengurangan
kandungan sulfur dan abu dalam batubara, hanya dapat menghilangkan
pyritic sulfur dan mineral lainnya.
1. Advanced novel coal beneficiation techniques
2. Microcel (column flotation)
Dari proses desulfurisasi yang dapat dilakukan berdasarkan kandungan
Sulfur dan persenyawaannya dalam batubara harus dihilangkan agar
tidak memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan baik itu
hujan asam maupun proses korosi. Proses penghilangan kandungan
sulfur dalam batubara dapat dilakukan dengan metode kimia,
biologi, dan fisik. Teknologi Desulpurisasi pada Pembangkit Listrik
yaitu Flue Gas Desulfurization (FGD) yang menghasilkan produk
samping gypsum dari sulfur tersebut.
ANALISA BATUBARA

Analisa batubara dibagi menjadi dua, yaitu analisa proksimat dan


ultimat.

proksimat

ultimat

ANALISA PROKSIMAT

Analisa Proksimat Batubara digunakan untuk mengetahui karakteristik


dan kualitas batubara dalam kaitannya dengan penggunaan batubara
tersebut, yaitu untuk mengetahui jumlah relatif air lembab (moisture
content), zat terbang (VM), abu (ash), dan karbon tertambat (FC)

yang terkandung didalam batubara. Analisa proksimat ini merupakan


pengujian yang paling mendasar dalam penentuan kualitas batubara.
Kandungan Air (Moisture content)
Dalam batubara, moisture content paling sedikitnya terdiri
atas satu senyawa kimia tunggal. Wujudnya dapat berbentuk air yang
dapat mengalir dengan cepat dari dalam sampel batubara, senyawa
teradsorpsi, atau sebagai senyawa yang terikat secara kimia. Sebagian
moisture merupakan komponen zat mineral yang tidak terikat pada
batubara.
Dalam ilmu perbatuan, dikenal istilah moisture dan air. Moisture
didefinisikan sebagai air yang dapat dihilangkan bila batubara
dipanaskan sampai suhu 105C. Sementara itu, air dalam batubara ialah
air yang terikat secara kimia pada lempung.
Semua batubara mempunyai pori-pori berupa pipa-pipa kapiler,
dalam keadaan alami pori-pori ini dipenuhi oleh air. Didalam standar
ASTM, air ini disebut moisture bawaan (inherent moisture). Ketika
batubara ditambang dan diproses, air dapat teradsorpsi pada permukaan
kepingan batubara, menurut standar ASTM air ini disebut moisture
permukaan (surface moisture). Air yang terbentuk dari penguraian fraksi
organik batubara atau zat mineral secara termis bukan merupakan
bagian dari moisture dalam batubara.
Moisture yang datang dari luar saat batubara itu ditambang dan
diangkut atau terkena hujan selama penyimpanan disebut free moisture
(standar ISO) atau air-dry loss (standar ASTM). Moisture jenis ini dapat
dihilangkan dari batubara dengan cara dianginkan atau dikeringudarakan. Moisture in air-dried sample (ISO) atau residual moisture
(ASTM) ialah moisture yang hanya dapat dihilangkan bila sampel
batubara kering-udara yang berukuran lebih kecil dari 3 mm (-3 mm)
dipanaskan hingga 105C. Penjumlahan antara free moisture dan
residual moisture disebut total moisture. Data moisture dalam batubara
kering-udara ini digunakan untuk menghitung besaran lainnya dari basis
kering-udara (adb), bebas- ash (daf) dan basis kering, bebas-mineral
matter (dmmf).
Kandungan air total merupakan dasar penilaian yang sangat
penting. Secara umum, tinggi rendahnya kandungan air berpengaruh
pada beberapa aspek teknologi penggunaan batubara terutama dalam
penggunaan untuk tenaga uap. Dalam penggerusan, kelebihan
kandungan air akan berakibat pada komponen mesin penggerus karena
abrasi. Parameter lain yang terpengaruh oleh kandungan air adalah nilai

kalor. Semakin besar kadar air yang terkandung oleh batubara maka
akan semakin besar pula nilai kalor dalam pembakaran.
Penentuan kandungan air didalam batubara bisa dilakukan melalui
proses satu tahap atau proses dua tahap. Proses dilakukan dengan cara
pemanasan sampel sampai terjadi kesetimbangan kandungan air didalam
batubara dan udara. Penentuan kandungan air dengan cara tersebut
dilakukan pada temperatur diatas titik didih air (ASTM 104-110o C).
Kandungan Abu (Ash content)
Coal ash didefinisikan sebagai zat organik yang tertinggal setelah
sampel batubara dibakar (incineration) dalam kondisi standar sampai
diperoleh berat yang tetap. Selama pembakaran batubara, zat mineral
mengalami perubahan, karena itu banyak ash umumnya lebih kecil
dibandingkan dengan banyaknya zat mineral yang semula ada didalam
batubara. Hal ini disebabkan antara lain karena menguapnya air
konstitusi (hidratasi) dan lempung, karbon dioksida serta karbonat,
teroksidasinya pirit menjadi besi oksida, dan juga terjadinya fiksasi
belerang oksida.
Ash batubara, disamping ditentukan kandungannya (ash content),
ditentukan pula susunan (komposisi) kimianya dalam analisa ash dan
suhu leleh dalam penentuan suhu leleh ash.
Abu merupakan komponen non-combustible organic yang tersisa
pada saat batubara dibakar. Abu mengandung oksida-oksida logam
seperti SiO2, Al2O3, Fe2O3, dan CaO, yang terdapat didalam batubara.
Kandungan abu diukur dengan cara membakar dalam tungku
pembakaran (furnace) pada suhu 815C. Residu yang terbentuk
merupakan abu dari batubara.
Dalam pembakaran, semakin tinggi kandungan ash batubara,
semakin rendah panas yang diperoleh dari batubara tersebut. Sebagai
tambahan, masalah bertambah pula misalnya untuk penanganan dan
pembuangan ash hasil pembakaran.
Kandungan Fixed carbon
Fixed Carbon (FC) menyatakan banyaknya karbon yang terdapat
dalam material sisa setelah volatile matter dihilangkan. FC ini mewakili
sisa penguraian dari komponen organik batubara ditambah sedikit
senyawa nitrogen, belerang, hidrogen dan mungkin oksigen yang
terserap atau bersatu secara kimiawi. Kandungn FC digunakan sebagai
indeks hasil kokas dari batubara pada waktu dikarbonisasikan, atau
sebagai suatu ukuran material padat yang dapat dibakar di dalam

peralatan pembakaran batubara setelah fraksi zat mudah menguap


dihilangkan. Apabila ash atau zat mineral telah dikoreksi, maka
kandungan FC dapat dipakai sebagai indeks rank batubara dan
parameter untuk mengklasifikasikan batubara.
Fixed Carbon ditentukan dengan perhitungan : 100% dikurangi
persentase moisture, VM, dan ash (dalam basis kering udara (adb)).
Data Fixed Carbon digunakan dalam mengklasifikasikan batubara,
pembakaran, dan karbonisasi batubara. Fixed Carbon kemungkinan
membawa pula sedikit presentase nitrogen, belerang, hidrogen, dan
mungkin pula oksigen sebagai zat terabsorbsi atau bergabung secara
kimia.
Fixed Carbon merupakan ukuran dan padatan yang dapat terbakar
yang masih berada dalam peralatan pembakaran setelah zat-zat mudah
menguap yang ada dalam batubara keluar. Ini adalah salah satu nilai
yang digunakan didalam perhitungan efesiensi peralatan pembakaran.
Volatile Matter
Definisi volatile matter (VM) ialah banyaknya zat yang hilang bila
sampel batubara dipanaskan pada suhu dan waktu yang telah ditentukan
(setelah dikoreksi oleh kadar moisture). Suhunya adalah 900oC, dengan
waktu pemanasan tujuh menit tepat.
Volatile yang menguap terdiri atas sebagian besar gas-gas yang
mudah terbakar, seperti hidrogen, karbon monoksida, dan metan, serta
sebagian kecil uap yang dapat mengembun seperti tar, hasil pemecahan
termis seperti karbon dioksida dari karbonat, sulfur dari pirit, dan air
dari lempung.

Moisture berpengaruh pada hasil penentuan VM sehingga sampel


yang dikeringkan dengan oven akan memberikan hasil yang berbeda
dengan sampel yang dikering-udarakan. Faktor-faktor lain yang
mempengaruhi hasil penentuan VM ini adalah suhu, waktu, kecepatan
pemanasan, penyebaran butir, dan ukuran partikel.
VM yang ditentukan dapat digunakan untuk menentukan rank
suatu batubara, klasifikasi, dan proporsinya dalam blending. Volatile
matter juga penting dalam pemilihan peralatan pembakaran dan kondisi
efisiensi pembakaran.

ANALISA ULTIMAT

Analisa Ultimat (analisa elementer) adalah analisa dalam penentuan


jumlah unsur Karbon (Carbon atau C), Hidrogen (Hydrogen atau H),
Oksigen (Oxygen atau O), Nitrogen (Nytrogen atau N) dan Sulfur
(Sulphur atau S).
Komponen organik batubara terdiri atas senyawa kimia yang terbentuk
dari hasil ikatan antara karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen dan sulfur.
Analisa ultimat merupakan analisa kimia untuk mengetahui presentase
dari masing-masing senyawa. Dari hasil analisa tersebut, penggunaan
batubara khususnya PLTU dapat memperkirakan secara stoikiometri
udara yang akan dibutuhkan dalam pembakaran batubara nanti.
Persamaan yang digunakan untuk menentukan jumlah udara yang
dibutuhkan dalam pembakaran secara teoritis adalah sebagai berikut :

.(2.1)

Dimana :
A/F adalah perbandingan udara-bahan bakar teoritis, satuan kg udara/kg
bahan bakar.
C, H, S dan O adalah kandungan C, H, S dan O dalam batubara basis
begitu terbakar atau diterima (as fired atau as received)
Nilai 0,232 adalah jumlah oksigen dalam udara.

Karbon dan Hidrogen

10

Karbon dan hidrogen dalam batubara merupakan senyawa


kompleks hidrokarbon yang dalam proses pembakaran akan membentuk
CO2 dan H2O. Selain dari karbon, mineral karbonat juga akan
membebaskan CO2 selama proses pembakaran batubara berlangsung,
sedangkan H2O diperoleh dari air yang terikat pada tanah liat. Analisa
ini sangat penting untuk menentukan proses pembakaran, terutama
untuk penyediaan jumlah udara yang dibutuhkan.
Untuk penentuan karbon dan hidrogen dalam batubara yang
mempunyai rank rendah digunakan cara Liebig, karena batubara yang
banyak mengandung volatile matter tinggi dapat meledak bila
dipanaskan sampai suhu tinggi. Namun, penetapan kadar karbon dan
hidrogen sesuai metode ASTM D 5373-02 adalah dengan menggunakan
Teknik Infra Red (IR).
Pada metode ASTM D 5373-02, contoh batubara dibakar pada
temperatur tinggi dalam aliran oksigen sehingga seluruh hidrogen
diubah menjadi uap air dan karbon menjadi karbondioksida. Uap air dan
karbondioksida ditangkap oleh detektor infra red. Melalui detektor
inilah kandungan karbon dan hidrogen dapat dibaca.

Nitrogen
Nitrogen dalam batubara hanya terdapat sebagai senyawa organik.
Tidak dikenal adanya mineral pembawa nitrogen dalam batubara, hanya
ada beberapa senyawa nitrogen dalam air kapiler, terutama dalam
batubara muda. Pada pembakaran batubara, nitrogen akan berubah
menjadi nitrogen oksida yang bersama gas buangan akan bercampur

11

dengan udara. Senyawa ini merupakan pencemar udara sehingga


batubara dengan kadar nitrogen rendah lebih disukai.
Prinsip penentuan nitrogen dalam batubara semuanya dengan cara
mengubah nitrogen menjadi amonium sulfat melalui destruksi terhadap
zat organik pembawa nitrogen dalam batubara. Dalam metode ini,
digunakan asam sulfat dan katalisator. Banyaknya amonium sulfat yang
terbentuk ditentukan dengan cara titrimetri.
Selain itu, seperti juga pada penentuan kadar karbon dan hidrogen,
dalam metode ASTM D 5373-02 kadar nitrogen dapat diketahui dengan
menggunakan Thermal Conductivity (TC) pada alat yang sama dengan
penentuan kadar karbon dan hidrogen di atas. TC inilah yang akan
menangkap kadar nitrogen dalam nitrogen oksida.
Data nitrogen digunakan untuk membandingkan batubara dalam
penelitian. Jika oksigen diperoleh dari perhitungan, maka nitrogen
diperoleh dari sampel yang ditentukan. Dalam pembakaran pada suhu
tinggi, nitrogen akan diubah menjadi NOx yang merupakan salah satu
senyawa pencemar udara.

Sulfur
Dalam proses pembakaran, sulfur dalam batubara akan membentuk
oksida yang kemudian terlepas ke atmosfir sebagai emisi. Ada tiga jenis
sulfur yang terikat dalam batubara, yaitu :
1. Sulfur organik, dimana satu sama lain terikat ke dalam senyawa
hidrogen sebagai substansi dari batubara.
2. Mineral sulfida, seperti pirit dalam fraksi organic (pyritic sulfur).
3. Mineral sulfat, seperti kalsium sulfat atau hidrous iron.
Sulfur kemungkinan merupakan pengotor utama nomor dua (setelah
ash) dalam batubara, karena :

12

1.

Dalam batubara bahan bakar, hasil pembakarannya mempunyai


daya korosif dan sumber polusi udara.

2.

Moisture dan sulfur (terutama sebagai pirit) dapat menunjang


terjadinya pembakaran spontan.

3.Semua bentuk sulfur tidak dapat dihilangkan dalam proses pencucian.


Batubara dengan kadar sulfur yang tinggi menimbulkan banyak
masalah dalam pemanfaatannya. Bila batubara itu dibakar, sulfur akan
menyebabkan korosi dalam ketel dan membentuk endapan isolasi pada
tabung ketel uap (yang disebut slagging). Disamping itu juga
menimbulkan pencemaran udara. Sebagian sulfur akan terbawa dalam
hasil pencairan batubara, gasifikasi, dan pembuatan kokas. Jadi harus
dihilangkan dulu sebelum dilakukan proses-proses tersebut.

Oksigen
Oksigen merupakan komponen pada beberapa senyawa organik
dalam batubara. Oksigen ini didapatkan pula dalam moisture, lempung,
karbonat, dan sebagainya. Oksigen juga memiliki peranan penting
sebagai penunjuk sifat-sifat kimia dengan derajat pembentukan
batubara.
Unsur oksigen dapat ditemukan hampir pada semua senyawa
organik dalam batubara. Dalam batubara kering unsur oksigen akan
ditemukan pada besi oksida, hidroksida dan beberapa mineral sulfat.
Oksigen juga sebagai indikator dalam menentukan peringkat batubara.

13