Anda di halaman 1dari 25

Pengertian Flavonoid

Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di alam.
Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning
yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan
warna kuning, kuning jeruk, dan merah dapat ditemukan pada buah, sayuran, kacang, biji,
batang, bunga, herba, rempah-rempah, serta produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti
minyak zaitun, teh, cokelat, anggur merah, dan obat herbal. Flavonoid juga dikenal sebagai
vitamin P dan citrin, dan merupakan pigmen yang diproduksi oleh sejumlah tanaman sebagai
warna pada bunga yang dihasilkan. Bagian tanaman yang bertugas untuk memproduksi flavonoid
adalah bagian akar yang dibantu oleh rhizobia, bakteri tanah yang bertugas untuk menjaga dan
memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah.
Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta kualitas nutrisi
makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan
flavonoid pada tingkat spesies, genus atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi
sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri
terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji,
pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi, serta molekul
sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan.
Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula diperkenalkan oleh seorang Amerika bernama
Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy memberikan ekstrak vitamin C (asam askorbat)
kepada seorang dokter untuk mengobati penderita pendarahan kapiler subkutaneus dan ternyata
dapat disembuhkan. Mc.Clure (1986) menemukan pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang
diekstrak dari Capsicum anunuum serta Citrus limon juga dapat menyembuhkan pendarahan
kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi alat
komunikasi (molecular messenger) dalam proses interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat
berpengaruh terhadap proses metabolisme sel atau mahluk hidup yang bersangkutan, baik
bersifat negatif (menghambat) maupun bersifat positif (menstimulasi).
Flavonoid adalah sekelompok besar senyawa polifenol tanaman yangtersebar luas dalam
berbagai bahan makanan dan dalam berbagai konsentrasi. Komponen tersebut pada umumnya terdapat
dalam keadaan terikat atau terkonjugasi dengan senyawa gula. Lebih dari 4000 jenis flavonoid
telah diidentifikasi dan beberapa di antaranya berperan dalam pewarnaan bunga, buah,dan daun
(de Groot & Rauen, 1998). Dalam tumbuhan, aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula
terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur.

Ada juga senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kombinasi antara kedua jalur
biosintesa ini yaitu senyawa-senyawa flanonoida. Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti
flavonoida yang memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buahbuahan di alam. Flavin memberikan warna kuning atau jingga, antodianin memberikan warna
merah, ungu atau biru, yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau.
Secara biologis flavonoida memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh
serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis
ulat tertentu.
Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi
keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin memberikan warna
kuning atau jingga, antodianin memberikan warna merah, ungu atau biru, yaitu semua warna
yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara biologis flavonoida memainkan peranan
penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa
pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu.
Flavonoid merupakan kelompok senyawa fenolik terbesar yang ditemukan di alam dan
berasal dari tumbuhan tingkat tinggi. Flavonoid mempunyai kerangka dasar dengan 15 atom
karbon, dimana dua cincin benzen (C6) terikat pada satu rantai propan (C3) sehingga membentuk
suatu susunan (C6-C3-C6) dengan struktur 1,3-diarilpropan. Senyawa-senyawa flavonoid terdiri
dari beberapa jenis, bergantung pada tingkat oksidasi rantai propan dari sistem 1,3-diarilpropan
[Achmad, 1985]. Agar mudah, cincin diberi tanda A, B, dan C,atom karbon dinomori menurut
sistem penomoran yang menggunakan angka biasa untuk cincin A dan C, serta angka beraksen
untuk cincin B.
Flavonoid adalah senyawa yang tersusun dari 15 atom karbon dan terdiri dari 2 cincin benzen
yang dihubungkan oleh 3 atom karbon yang dapat membentuk cincin ketiga. Flavonoid dibagi
menjadi 3 macam, yaitu:
Flavonoid yang memiliki cincin ketiga berupa gugus piran. Flavonoid ini disebut flavan
atau fenilbenzopiran. Turunan flavan banyak digunakan sebagai astringen (turunan tanin).
1.

Flavonoid yang memiiliki cincin ketiga berupa gugus piron. Flavonoid ini disebut flavon
atau fenilbenzopiron. Turunan flavon adalah jenis flavonoid yang paling banyak memiliki
aktivitas farmakologi.
2.

Flavonoid yang memiiliki cincin ketiga berupa gugus pirilium. Flavonoid ini disebut
flavilium atau antosian. Turunan pirilium biasa digunakan sebagai pewarna alami.
3.

Kerangka dasar karbon pada flavonoid merupakan kombinasi antara jalur sikhimat dan
jalur asetat-malonat yang merupakan dua jalur utama biosintesis cincin aromatik. Cincin A dari

struktur flavonoid berasal dari jalur poliketida (jalur asetat-malonat), yaitu kondensasi tiga unit
asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propan berasal dari
jalur fenilpropanoid (jalur sikhimat) [Achmad, 1985].

Modifikasi flavonoid lebih lanjut, dapat mungkin terjadi pada berbagai tahap dan
menghasilkan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil, metilasi gugus hidroksil atau inti
flavonoid, isoprenilasi gugus hidroksil atau inti flavonoid, metilenasi gugus orto-dihidroksil,
dimerisasi (pembentukan biflavonoid), pembentukan bisulfat, dan yang terpenting adalah
glikosilasi gugus hidroksil(pembentukan flavonoid O-glikosida) atau inti flavonoid
(pembentukanflavonoid C-glikosida) (Markham, 1988).
Markham (1988) menyatakan bahwa flavonoid pertama yang dihasilkan pada alur
biosintesis flavonoid ialah khalkon, dan semua turunan flavon diturunkan darinya melalui
berbagai alur. Semua golonganflavonoid saling berkaitan, karena berasal dari alur biosintesis
yangsama. Cincin A terbentuk karena kondensasi ekor-kepala dari tiga unit asam asetat-malonat
atau berasal dari jalur poliketida. Cincin B serta satuan tiga atom karbon dari rantai propan yang
merupakan kerangka dasar C6 C3 berasal dari jalurasam sikimat (Manitto, 1981).
Polifenol dan turunannya telah lama dikenal memiliki aktivitas antibakteri,
antimelanogenesis, antioksidan dan antimutagen. Sebagai antioksidan polifenol berperan sebagai
penangkap radikal bebas penyebab peroksidasi lipid yang dapat menimbulkan kerusakan pada
bahan makanan, selain itu senyawa antioksidan berfungsi mencegah kerusakan sel dan DNA
akibat adanya senyawa radikal bebas. Senyawa flavonoid yang merupakan salah satu golongan
dari polifenol sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih digunakan secara
terbatas. Hal ini dikarenakan senyawa flavonoid tidak stabil terhadap perubahan pengaruh
oksidasi, cahaya, dan perubahan kimia, sehingga apabila teroksidasi strukturnya akan berubah
dan fungsinya sebagai bahan aktif akan menurun bahkan hilang dan kelarutannya rendah.
Kestabilan dan kelarutan dapat ditingkatkan dengan cara mengubah senyawa flavonoid menjadi
bentuk glikosida melalui reaksi kimia maupun enzimatik dengan bantuan enzim transferase.
Senyawa-senyawa flavanoid yang umumnya bersifat antioksidan dan banyak yang telah
digunakan sebagai salah satu komponen bahan baku obat-obatan. Bahkan, berdasarkan penelitian
di Jepang, ditemukan molekul isoflavon di dalam tempe. Oleh karena molekul isoflavon bersifat
antioksidan maka tempe merupakan sumber pangan yang baik untuk menjaga kesehatan, selain
kandungan gizinya tinggi.

B.

Struktur Flavonoid:

Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon,
yaitu nama dari salah satu flavonoid yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawasenyawa flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan
atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1.3-diarilpropana dihubungkan oleh jembatan
oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C).
Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi
dari rantai propana dari sistem 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis
yang banyak ditemukan dialam sering sekali disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya
senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur
tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoid dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa
jenis tumbuhan, terutama suku Leguminosae.
Pola biosintesis pertama kali disarankan oleh Birch, yaitu : pada tahap tahap pertama
biosintesa flavonoida suatu unit C6-C3 berkombinasi dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6C3-(C2+C2+C2).kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi ini telah mengandung gugusgugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan. Cincin A dari struktur flavonoida
berasal dari jalur poliketida, yaitu kondensasi dari tiga unit asetat atau malonat, sedangkan cincin
B dan tiga atom karbon dari rantai propana berasal dari jalur fenilpropanoida (jalur shikimat).
Sehingga kerangka dasar karbon dari flavonoida dihasilkan dari kombinasi antara dua jenis
biosintes utamadari cincin aromatik yaitu jalur shikimat dan jalur asetat-malonat. Sebagai akibat
dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim, ketiga atom karbon dari rantai propana
dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi seperti pada ikatan rangkap, gugus hidroksi, gugus
karbonil, dan sebagainya. Sebagai besar senyawa flavonoida alam ditemukan dalam bentuk
glikosida, dimana unit flavonoid terikat pada sutatu gula. Glikosida adalah kombinasi antara
suatu gula dan suatu alkohol yang saling berikatanmelalui ikatan glikosida. Pada prinsipnya,
ikatan glikosida terbentuk apabila gugus hidroksil dari alkohol beradisi kepada gugus karbonil
dari gula sama seperti adisi alkohol kepada aldehida yang dikatalisa oleh asam menghasilkan
suatu asetal.
Pada hidrolisa oleh asam, suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya
menghasilkan gula dan alkohol yang sebanding dan alkohol yang dihasilkan ini disebut aglokin.
Residu gula dari glikosida flavonoida alam adalah glukosa, ramnosa, galaktosa dan gentiobiosa
sehingga glikosida tersebut masing-masing disebut glukosida, ramnosida, galaktosida dan
gentiobiosida. Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-, di- atau triglikosida dimana satu, dua
atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula. Poliglikosida larut dalam air
dan sedikit larut dalam pelarut organik seperti eter, benzen, kloroform dan aseton. Antioksidan
alami terdapat dalam bagian daun, buah, akar, batang dan biji dari tumbuh-tumbuhan obat.
Bagian tersebut umumnya mengandung senyawa fenol dan polifenol.
C.

Klasifikasi Senyawa Flavonoid

Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang paling beragam dan tersebar luas. Sekitar
5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah flavonoid, dengan struktur kimia dan peran biologi
yang sangat beragam Senyawa ini dibentuk dari jalur shikimate dan fenilpropanoid, dengan
beberapa alternatif biosintesis. Flavonoid banyak terdapat dalam tumbuhan hijau (kecuali alga),
khususnya tumbuhan berpembuluh. Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan
termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nectar, bunga, buah buni dan biji. Kira-kira 2% dari
seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuh-tumbuhan diubah menjadi flavonoid. Flavonoid
merupakan turunan fenol yang memiliki struktur dasar fenilbenzopiron (tokoferol), dicirikan
oleh kerangka 15 karbon (C6-C3-C6) yang terdiri dari satu cincin teroksigenasi dan dua cincin
aromatis. Substitusi gugus kimia pada flavonoid umumnya berupa hidroksilasi, metoksilasi,
metilasi dan glikosilasi.
Klasifikasi flavonoid sangat beragam, di antaranya ada yang mengklasifikasikan
flavonoid menjadi flavon, flavonon, isoflavon, flavanol, flavanon, antosianin, dan kalkon. Lebih
dari 6467 senyawa flavonoid telah diidentifikasi dan jumlahnya terus meningkat. Kebanyakan
flavonoid berbentuk monomer, tetapi terdapat pula bentuk dimer (biflavonoid), trimer, tetramer,
dan polimer. Istilah flavonoid diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata
flavon, yaitu nama dari salah satu flavonoida yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan.
Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu. Flavonoida
mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu posisi 2,4,6. cincin B flavonoid
mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan meta atau
tiga pada posisi satu di para dan dua di meta. Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang
letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin
heterosikllis dalam senyawa trisiklis. Beberapa senyawa flavonoida adalah sebagai berikut :
Cincin A COCH2CH2 Cincin B Hidrokalkon
Cincin A COCH2CHOH Cincin B Flavanon, kalkon
Cincin A COCH2CO Cincin B Flavon
Cincin A CH2COCO Cincin B Antosianin
Cincin A COCOCH2 Cincin B - Auron
Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi
dari rantai propane dari system 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis
yang banyak ditemukan di alam sehingga sering disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya
senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi atau glikosilasi
dari struktur tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoida dan neoflavonoida hanya ditemukan
dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku leguminosae. Masing-masing jenis senyawa
flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu.
Flavonoida mempunyai beberapa cirri struktur yaitu: cincin A dari struktur flavonoida
mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu pada posisi 2,4 dan 6. Cincin B

flavonoida mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan
meta aau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta. Cincin A selalu mempunyai gugus
hidroksil yang letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk
cincin heterosiklik dalam senyawa trisiklis. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang
terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantaipropana
(C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis
struktur senyawa flavonoida, yaitu:
1.
Flavonoida atau 1,3-diarilpropana
Beberapa senyawa flavonoida yang ditemukan di alam adalah sebagai berikut
a)
Antosianin
Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar luas dalam tumbuhan.
Secara kimia antosianin merupakan turunan suatu struktur aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan
semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus
hidroksil atau dengan metilasi. Antosianin tidak mantap dalam larutan netral atau basa. Karena
itu antosianin harus diekstraksi dari tumbuhan dengan pelarut yang mengandung asam asetat atau
asam hidroklorida (misalnya metanol yang mengandung HCl pekat 1%) dan larutannya harus
disimpan di tempat gelap serta sebaiknya didinginkan. Antosianidin ialah aglikon antosianin
yang terbentuk bila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin terdapat enam jenis secara
umum, yaitu : sianidin, pelargonidin, peonidin, petunidin, malvidin dan delfinidin.
Antosianidin adalah senyawa flavonoid secara struktur termasuk kelompok flavon. Glikosida
antosianidin dikenal sebagai antosianin. Nama ini berasal dari bahasa Yunani antho-, bunga dan
kyanos-, biru. Senyawa ini tergolong pigmen dan pembentuk warna pada tanaman yang
ditentukan oleh pH dari lingkungannya. Senyawa paling umum adalah antosianidin, sianidin
yang terjadi dalam sekitar 80 persen dari pigmen daun tumbuhan, 69 persen dari buah-buahan
dan 50 persen dari bunga. Kebanyakan warna bunga merah dan biru disebabkan antosianin.
Bagian bukan gula dari glukosida itu disebut suatu antosianidin dan merupakan suatu tipe garam
flavilium. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH
bunga. Warna biru bunga cornflower dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin
yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol.
Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya, dengan hilangnya sebuah proton
dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam-basa. Istilah
garam flavilium berasal dari nama untuk flavon, yang merupakan senyawa tidak berwarna. Adisi
gugus hidroksil menghasilkan flavonol, yang berwarna kuning.

Dalam pengidentifikasian antosianin atau flavonoid yang kepolarannya rendah, daun


segar atau daun bunga jangan dikeringkan tetapi harus digerus dengan MeOH. Ekstraksi hampir
segera terjadi seperti terbukti dari warna larutan. Flavonoid yang kepolarannya rendah dan yang

kadang-kadang terdapat pada bagian luar tumbuhan, paling baik diisolasi hanya dengan
merendam bahan tumbuhan segar dalam heksana atau eter selama beberapa menit.
Antosianin secara umum mempunyai stabilitas yang rendah. Pada pemanasan yang
tinggi, kestabilan dan ketahanan zat warna antosianin akan berubah dan mengakibatkan
kerusakan. Selain mempengaruhi warna antosianin, pH juga mempengaruhi stabilitasnya, dimana
dalam suasana asam akan berwarna merah dan suasana basa berwarna biru. Antosianin lebih
stabil dalam suasana asam daripada dalam suasana alkalis ataupun netral. Zat warna ini juga
tidak stabil dengan adanya oksigen dan asam askorbat. Asam askorbat kadang melindungi
antosianin tetapi ketika antosianin menyerap oksigen, asam askorbat akan menghalangi
terjadinya oksidasi. Pada kasus lain, jika enzim menyerang asam askorbat yang akan
menghasilkan hydrogen peroksida yang mengoksidasi sehingga antosianin mengalami perubahan
warna. Warna pigmen antosianin merah, biru, violet, dan biasanya dijumpai pada bunga, buahbuahan dan sayur-sayuran.
Dalam tanaman terdapat dalam bentuk glikosida yaitu membentuk ester dengan
monosakarida (glukosa, galaktosa, ramnosa dan kadang-kadang pentosa). Sewaktu pemanasan
dalam asam mineral pekat, antosianin pecah menjadi antosianidin dan gula. Pada pH rendah
(asam) pigmen ini berwarna merah dan pada pH tinggi berubah menjadi violet dan kemudian
menjadi biru. Pada umumnya, zat-zat warna distabilkan dengan penambahan larutan buffer yang
sesuai. Jika zat warna tersebut memiliki pH sekitar 4 maka perlu ditambahkan larutan buffer
asetat, demikian pula zat warna yang memiliki pH yang berbeda maka harus dilakukan
penyesuaian larutan buffer. Warna merah bunga mawar dan biru pada bunga jagung terdiri dari
pigmen yang sama yaitu sianin. Perbedaannya adalah bila pada bunga mawar pigmennya berupa
garam asam sedangkan pada bunga jagung berupa garam netral. Konsentrasi pigmen juga sangat
berperan dalam menentukan warna.
Pada konsentrasi yang encer antosianin berwarna biru, sebaliknya pada konsentrasi pekat
berwarna merah dan konsentrasi biasa berwarna ungu. Adanya tanin akan banyak mengubah
warna antosianin. Dalam pengolahan sayur-sayuran adanya antosianin dan keasaman larutan
banyak menentukan warna produk tersebut. Misalnya pada pemasakan bit atau kubis merah. Bila
air pemasaknya mempunyai pH 8 atau lebih (dengan penambahan soda) maka warna menjadi
kelabu violet tetapi bila ditambahkan cuka warna akan mejadi merah terang kembali. Tetapi
jarang makanan mempunyai pH yang sangat tinggi. Dengan ion logam, antosianin membentuk
senyawa kompleks yang berwarna abu-abu violet. Karena itu pada pengalengan bahan yang
mengandung antosianin, kalengnya perlu mendapat lapisan khusus (lacquer).

b)
Flavonol
Flavonol lazim sebagai konstituen tanaman yang tinggi, dan terdapat dalam berbagai
bentuk terhidroksilasi. Flavonol alami yang paling sederhana adalah galangin, 3,5,7 tri-

hidroksiflavon; sedangkan yang paling rumit, hibissetin adalah 3,5,7,8,3,4,5


heptahidroksiflavon. Bentuk khusus hidroksilasi (C6(A)-C3-C6(B), dalam mana C6 (A) adalah
turunan phloroglusional, dan cincin B adalah 4-atau 3,4-dihidroksi, diperoleh dalam 2 flavonol
yang paling lazim yaitu kaempferol dan quirsetin. Hidroksiflavonol, seperti halnya hidroksi
flavon, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai glikosida. Flavonol kebanyakan terdapat
sebagai 3-glikosida. Meskipun flavon, flavonol, dan flavanon pada umumnya terdistribusi
melalui tanaman tinggi tetapi tidak terdapat hubungan khemotakson yang jelas. Genus Melicope
mengandung melisimpleksin dan ternatin, dan genus citrus mengandung nobiletin, tangeretin dan
3,4,5,6,7-pentametoksiflavon.
c)
Khalkon
Polihidroksi khalkon terdapat dalam sejumlah tanaman, namun terdistribusinya di alam
tidak lazim. Alasan pokok bahwa khalkon cepat mengalami isomerasi menjadi flavanon dalam
satuan keseimbangan. Bila khalkon 2,6-dihidroksilasi, isomer flavanon mngikat 5 gugus
hidroksil, dan stabilisasi mempengaruhi ikatan hydrogen 4-karbonil-5-hidroksil maka
menyebabkan keseimbangan khalkon-flavon condong ke arah flavanon. Hingga khalkon yang
terdapat di alam memiliki gugus 2,4-hidroksil atau gugus 2-hidroksil-6-glikosilasi.
Beberapa khalkon misalnya merein, koreopsin, stillopsin, lanseolin yang terdapat dalam
tanaman, terutama sebagai pigmen daun bunga berwarna kuning, kebanyakan terdapat dalam
tanaman Heliantheaetribe, Coreopsidinae subtribe, dan family Compositea.
d)

Auron (Cincin A COCO CH2 Cincin B)


Auron atau system cincin benzalkumaranon dinomori sebagai berikut :

1) Dihidrokhalkon.
Meskipun dihidrokhalkon jarang terdapat di alam, namun satu senyawa yang penting
yaitu phlorizin merupakan konstituen umum family Rosaceae juga terdapat dalam jenis buahbuahan seperti apel dan pear. Phlorizin telah lama dikenal dalam bidang farmasi, ia memiliki
kesanggupan menghasilkan kondisi seperti diabetes. Phlorizin merupakan -D-glukosida
phloretin. Phloretin mudah terurai oleh alkali kuat menjadi phloroglusional dan asam phidroksihidrosinamat. Jika glukosida phlorizin dipecah dengan alkali dengan cara yang sama,
maka ternyata sisa glukosa tidak dapat terlepas dan dihasilkan phloroglusinol -O-glukosida.

e)
Flavon
Flavon mudah dipecah oleh alkali menghasilkan diasil metan atau tergantung pada
kondisi reaksi, asam benzoate yang diturunkan dari cincin A. flavon stabil terhadap asam kuat

dan eternya mudah didealkilasi dengan penambahan HI atau HBr, atau dengan aluminium
klorida dalam pelarut inert. Namun demikian, selama demetilasi tata ulang sering teramati; oleh
pengaruh asam kuat dapat menyebabkan pembukaan cincin pada cara yang lain. Sebagai contoh
demetilasi 5,8-dimetoksiflavon dengan HBr dalam asam asetat menghasilkan 5,6
dihidroksiflavon . Dalam keadaan khusus pembukaan lanjut dapat terjadi.
Demetilasi gugus 5-metoksi dalam polimetoksiflavon segera terjadi pada kondisi yang
cocok, sehingga 5-hidroksi-polimetoksiflavon mudah dibuat.
f)
Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana.
Isoflavon terdiri atas struktur dasar C6-C3-C6, secara alami disintesa oleh tumbuhtumbuhan dan senyawa asam amino aromatik fenilalanin atau tirosin. Biosintesa tersebut
berlangsung secara bertahap dan melalui sederetan senyawa antara yaitu asam sinnamat, asam
kumarat, calkon, flavon dan isoflavon. Berdasarkan biosintesa tersebut maka isoflvon
digolongkan sebagai senyawa metabolit sekunder. Isoflavon termasuk dalam kelompok flavonoid
(1,2-diarilpropan) dan merupakan kelompok yang terbesar dalam kelompok tersebut. Meskipun
isoflavon merupakan salah satu metabolit sekunder, tetapi ternyata pada mikroba seperti bakteri,
algae, jamur dan lumut tidak mengandung isoflavon, karena mikroba tersebut tidak mempunyai
kemampuan untuk mensintesanya. Jenis senyawa isoflavon di alam sangat bevariasi. Diantaranya
telah berhasil diidentifikasi struktur kimianya dan diketahui fungsi fisiologisnya, misalnya
isoflavon, rotenoid dan kumestan, serta telah dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan.
g)
Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana
Neoflavonoid meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergoin. Penggolongan
Flavonoid Berdasarkan Jenis Ikatan :
a. Flavonoid O-Glikosida
Pada senyawa ini gugus hidroksil flavonoid terikat pada satu gula atau lebih dengan ikatan
hemiasetal yang tidak tahan asam, pengaruh glikosida ini nenyebabkan flavonoid kurang reaktif
dan lebih mudah larut dalam air. Gula yang paling umum terlibat adalah glukosa disamping
galaktosa, ramilosa, silosa, arabinosa, fruktosa dan kadang-kadang glukoronat dan galakturonat.
Disakarida juga dapat terikat pada flavonoid misalnya soforosa, gentibiosa, rutinosa dan lainlain.

b. Flavonoid C-Glikosida
Gugus gula terikat langsung pada inti benzen dengan suatu ikatan karbon-karbon yang tahan
asam. Lazim di temukan gula terikat pada atom C nomor 6 dan 8 dalam inti flavonoid. Jenis gula

yang terlibat lebih sedikit dibandingkan dengan O-glikosida. Gula paling umum adalah
galaktosa, raminosa, silosa, arabinosa.
c. Flavonoid Sulfat
Senyawa flavonoid yang mengandung satu ion sulfat atau lebih yang terikat pada OH fenol atau
gula, Secara teknis termasuk bisulfate karena terdapat sebagai garam yaitu flavon O-SO3K.
Banyak berupa glikosida bisulfat yang terikat pada OH fenol yang mana saja yang masih bebas
atau pada guIa. Umumnya hanya terdapat pada Angiospermae yang mempunyai ekologi dengan
habitat air.
d.Biflavonoid
Senyawa ini mula-mula ditemukan oleh Furukawa dari ekstrak daun G. biloba berupa senyawa
berwarna kuning yang dinamai ginkgetin (I-4, I-7-dimetoksi, II-4, I-5, II-5, II-7-tetrahidroksi
[I-3, II-8] biflavon). Biflavonoid (atau biflavonil, flavandiol) merupakan dimer flavonoid yang
dibentuk dari dua unit flavon atau dimer campuran antara flavon dengan flavanon dan atau
auron. Struktur dasar biflavonoid adalah 2,3-dihidroapigeninil-(I- 3,II-3)-apigenin. Senyawa ini
memiliki ikatan interflavanil C-C antara karbon C-3 pada masing-masing flavon. Beberapa
biflavonoid dengan ikatan interflavanil C- O-C juga ada. Biflavonoid terdapat pada buah,
sayuran, dan bagian tumbuhan lainnya.. Hingga kini jumlah biflavonoid yang diisolasi dan
dikarakterisasi dari alam terus bertambah, namun yang diketahui bioaktivitasnya masih terbatas.
Biflavonoid yang paling banyak diteliti adalah ginkgetin, isoginkgetin, amentoflavon,
morelloflavon, robustaflavon, hinokiflavon, dan ochnaflavon. Senyawa- senyawa ini memiliki
struktur dasar yang serupa yaitu 5,7,4-trihidroksi flavanoid, tetapi berbeda pada sifat dan letak
ikatan antar flavanoid
Sistem cincin bisiklis dinamai cincin A dan C, sedangkan cincin unisiklis dinamai cincin B.
Kedua unit monomer biflavonoid ditandai dengan angka Romawi I dan II. Posisi angka pada
masing-masing monomer dimulai dari cincin yang mengandung atom oksigen, posisi ke-9 dan
ke-10 menunjukkan karbon pada titik penyatuan Senyawa biflavonid berperan sebagai
antioksidan, anti-inflamasi, anti kanker, anti alergi, antimikrobia, antifungi, antibakteri, antivirus,
pelindung terhadap iradiasi UV, vasorelaksan, penguat jantung, anti hipertensi, anti pembekuan
darah, dan mempengaruhi metabolisme enzim. Sebagian besar peran di atas dapat dipenuhi oleh
berbagai senyawa biflavonoid yang diekstraksi dari berbagai spesies Selaginella.

Seperti yang telah dikemukakan di atas biflavonoid merupakan flavonoid dimer yang biasanya
terlibat adalah flavon dan flavonon yang secara biosintesis mempunyai pola oksigenasi yang
sederhana, 5, 7, 4' dan ikatan antar flavonoid berupa C-C atau eter. Biflavonoid jarang ditemukan
sebagai glikosida dan penyebarannya terbatas umumnya pada paku-pakuan, Gimnospermae,

Angiospermae. Salah satu struktur flavonoid yang bernilai tinggi sebagai bahan obat adalah
biflavonoid. Di Asia Timur biflavonoid banyak dihasilkan dari daun Ginkgo biloba L. dengan
kandungan utama ginkgetin Di Afrika sub Sahara biflavonoid banyak dihasilkan dari biji
Garcinia cola Heckel dengan kandungan utama kolaviron. Di Eropa biflavonoid banyak
dihasilkan dari herba Hypericum perforatum L. dengan kandungan utama amentoflavon.
Selaginella Pal. Beauv. (Selaginellaceae Reichb.) sangat berpotensi sebagai sumber biflavonoid.
Tumbuhan ini dapat menghasilkan berbagai jenis biflavonoid, tergantung spesiesnya, serta
memiliki sebaran yang bersifat kosmopolitan sehingga dapat dibudidayakan hampir di seluruh
permukaan bumi.
D.
Sifat Flavonoid
1. Sifat Fisika dan Kimia Senyawa Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa polifenol sehingga bersifat kimia senyawa fenol yaitu
agak asam dan dapat larut dalam basa, dan karena merupakan senyawa polihidroksi (gugus
hidroksil) maka juga bersifat polar sehingga dapat larut dalan pelarut polar seperti metanol,
etanol, aseton, air, butanol, dimetil sulfoksida, dimetil formamida. Disamping itu dengan adanya
gugus glikosida yang terikat pada gugus flavonoid sehingga cenderung menyebabkan flavonoid
mudah larut dalam air. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan
sebagai zat berwarna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Perkembangan
pengetahuan menunjukkan bahwa flavonoid termasuk salah satu kelompok senyawa aromatik
yang termasuk polifenol dan mengandung antioksidan.
Aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimia senyawa fenol,
yaitu bersifat agak asam sehingga dapat larut dalam basa. Karena mempunyai sejumlah gugus
hidroksil yang tak tersulih, atau suatu gula, flavonoid merupakan senyawa polar dan seperti kata
pepatah lama suatu golongan akan melarutkan golongannya sendiri, maka umumnya flavonoid
larut cukupan dalam 11 pelarut polar seperti etanol (EtOH), metanol (MeOH), butanol (BuOH),
aseton, dimetilsulfoksida (DMSO), dimetilformamida (DMF), air, dan lain-lain. Sebaliknya,
aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon, dan flavon serta flavonol yang
termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform (Markham,
1988).
Flavonoid juga memiliki beberapa sifat seperti hepatoprotektif, antitrombotik,
antiinflamasi, dan antivirus (Stavric dan Matula, 1992). Sifat antiradikal flavonoid terutama
terhadap radikal hidroksil, anionsuperoksida, radikal peroksil, dan alkoksil (Huguet, et al., 1990;
Sichel,et al.,1991). Senyawa flavonoid ini memiliki afinitas yang sangat kuat terhadap ion Fe (Fe
diketahui dapat mengkatalisis beberapa proses yang menyebabkan terbentuknya radikal bebas).
Aktivitas antiperoksidatif flavonoid ditunjukkan melalui potensinya sebagai pengkelat Fe
(Afanasav,et al., 1989 ; Morel,et al.,1993).
Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Mereka dapat diekstraksi
dengan etanol 70 % dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak inidikocok dengan eter

minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena ituwarnanya berubah bila ditambah basa
atau amonia, jadi mereka mudah dideteksipada kromatogram atau dalam larutan (Harborne, 1987
: 70).
Sifat-sifat kimia dari senyawa fenol adalah sama, akan tetapi dari segi biogenetic
senyawa senyawa ini dapat dibedakan atas dua jenis utama, yaitu:
1.
Senyawa fenol yang berasal dari asam shikimat atau jalur shikimat.
2.
Senyawa fenol yang berasal dari jalur asetat-malonat.
Ada juga senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kombinasi antara kedua jalur
biosintesa ini yaitu senyawa-senyawa flanonoida. Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti
flavonoida yang memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buahbuahan di alam. Flavin memberikan warna kuning atau jingga, antodianin memberikan warna
merah, ungu atau biru, yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau.
Secara biologis flavonoida memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh
serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis
ulat tertentu.

1.
2.
3.

2. Sifat Kelarutan Flavonoid


Aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimiasenyawa fenol,
yaitu bersifat agak asam sehingga dapat larut dalam basa, tetapi bila dibiarkan dalam larutan basa dan di
samping itu terdapat oksigen, banyak yang akan terurai. Karena mempunyai sejumlah gugus
hidroksil yang tak tersulih,atau suatu gula, flavonoid merupakan senyawa polar, maka umumnya
flavonoidcukup larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida, dimetilformamida, air, dan lain-lain (Markham, 1988 : 15).Adanya gula yang terikat
pada flavonoid (bentuk umum yang ditemukan) cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah
larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut di atas dengan air merupakan pelarut
yang baik untuk glikosida. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon,
danflavon serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti
eter dan kloroform (Markham, 1988 : 15). Kelarutan flavonoid antara lain :
Flavonoid polimetil atau polimetoksi larut dalam heksan, petroleum eter (PE), kloroform, eter,
etil asetat, dan etanol. Contoh: sinersetin (nonpolar).
Aglikon flavonoid polihidroksi tidak larut dalam heksan, PE dan kloroform; larut dalam eter, etil
asetat dan etanol; dan sedikit larut dalam air. Contoh: kuersetin (semipolar).
Glikosida flavonoid tidak larut dalam heksan, PE, kloroform, eter; sedikit larut dalam etil asetat
dan etanol; serta sangat larut dalam air. Contoh: rutin.
3. Kestabilan Flavonoid
Secara fisis, flavonoid bersifat stabil. Namun, secara kimiawi ada 2 jenis flavonoid yang
kurang stabil, yaitu:

1. Flavonoid O-glikosida; dimana glikon dan aglikon dihubungkan oleh ikatan eter (R-O-R).
Flavonoid jenis ini mudah terhidrolisis.
2. Flavonoid C-glikosida; dimana glikon dan aglikon dihubungkan oleh ikatan C-C. Flavonoid
jenis ini sukar terhidrolisis, tapi mudah berubah menjadi isomernya. Misalnya viteksin, dimana
gulanya mudah berpindah ke posisi 8. Perlu diketahui, kebanyakan gula terikat pada posisi 5 dan
8, jarang terikat pada cincin B atau C karena kedua cincin tersebut berasal dari jalur sintesis
tersendiri, yaitu jalur sinamat.
E.

Sumber Flavonid
Flavonoid tersebar luas pada tumbuhan tapi jarang terdapat pada bakteri, jamur dan
lumut. Dalam dunia tumbuhan, flavonoid tersebar luas dalam suku Rutaceae, Papilionaceae
(kacang-kacangan), Labiatae (Ortosiphon), Compositae (contoh: Sonchus arvensis),
Anacardiaceae, Apiaceae/Umbeliferae (seledri, pegagan, wortel), dan Euphorbiaceae (contoh:
daun singkong). Pada tingkat organ, flavonoid tersebar pada seluruh bagian tanaman seperti biji,
bunga, daun, dan batang. Pada tingkat jaringan, flavonoid banyak terdapat pada jaringan
palisade. Pada tingkat seluler, flavonoid bisa terdapat pada dinding sel, kloroplas, atau terlarut
dalam sitoplasma. Pada paku-pakuan, flavonoidnya berupa flavonoid polimetoksi sehingga
hanya terdapat pada dinding sel dan tidak terdapat pada sitoplasma karena sitoplasma
mengandung banyak air sehingga bersifat polar dan tidak dapat melarutkan flavonoid
polimetoksi.
Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu,
kulit, tepungsari, nektar, bunga, buah dan biji. Hanya sedikit catatan yang melaporkan flavonoid
pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang-berang, propilis (sekresi lebah), sayap kupukupu, yang mana dianggap bukan hasil biosintesis melainkan dari tumbuhan yang menjadi
makanan hewan tersebut, Senyawa antosianin sering dihubungkan dengan warna bunga
tumbuhan. Sianidin umumnya terdapat pada suku Gramineae. Senyawa biflavonoid banyak
terdapat pada subdivisi Gymnospernae sedang isoflavonoid pada suku leguminosae. Pada
tumbuhan yang mempunyai morfologi sederhana seperti lumut, paku, dan paku ekor kuda
mengandung senyawa flavonoid O-GIikosida, flavonol, flavonon, Khalkon, dihidrokhalkon, CGl ikosida . Angiospermae mengandung senyawa flavonoid kompleks yang lebih banyak.
Flavonoid adalah pigmen tumbuhan yang paling penting untuk warna bunga yang
memproduksi pigmentasi kuning atau merah/biru di kelopak yang dirancang untuk menarik
pollinator hewan. Flavonoid dikeluarkan oleh akar tanaman bantuan host mereka Rhizobia
dalam tahap infeksi mereka hubungan simbiotik dengan kacang-kacangan seperti kacang polong,
kacang, Semanggi, dan kedelai.
Rhizobia yang tinggal di tanah dapat merasakan flavonoid dan ini memicu sekresi
mengangguk faktor, yang pada gilirannya diakui oleh tanaman dan dapat menyebabkan akar

rambut deformasi dan beberapa tanggapan selular seperti ion fluks dan pembentukan nodul akar.
Mereka juga melindungi tanaman dari serangan dengan mikroba, jamur dan serangga.
Flavonoid (khusus flavonoids seperti catechin) adalah kelompok yang paling umum
polyphenolic senyawa dalam makanan manusia dan ubiquitously ditemukan pada tanaman.
Flavonols, bioflavonoids asli seperti quercetin, yang juga ditemukan ubiquitously, tetapi dalam
jumlah yang lebih rendah. Kedua set senyawa memiliki bukti modulasi kesehatan efek pada
hewan yang makan mereka.
Flavonoid (flavonols danflav nols) umumnya dikenal dengan aktivitas antioksidan in
vitro. Konsumen dan produsen makanan menjadi tertarik pada flavonoid untuk sifat obat
mungkin, terutama peran mereka diduga dalam pencegahan kanker dan penyakit kardiovaskular.
Meskipun bukti fisiologis tidak belum didirikan, efek menguntungkan dari buah-buahan,
sayuran, dan teh atau bahkan merah anggur kadang-kadang telah dituduhkan flavonoid senyawa
daripada mikronutrien dikenal, seperti vitamin dan mineral.
G.

Manfaat dan Kegunaan Flavonoid


Flavonoid merupakan sejenis senyawa fenol terbesar yang ada, senyawa ini terdiri dari
lebih dari 15 atom karbon yang sebagian besar bisa ditemukan dalam kandungan
tumbuhan.Flavonoid juga dikenal sebagai vitamin P dan citrin, dan merupakan pigmen yang
diproduksi oleh sejumlah tanaman sebagai warna pada bunga yang dihasilkan.Bagian tanaman
yang bertugas untuk memproduksi flavonoid adalah bagian akar yang dibantu oleh rhizobia,
bakteri tanah yang bertugas untuk menjaga dan memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah.
Pada tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetatif maupun dalam
bunga. Sebagai pigmen bunga flavonoid berperan jelas dalam menarik burung
dan serangga penyerbuk bunga. Beberapa flavonoid tak berwarna, tetapi flavonoid
yang menyerap sinar UV barangkali penting juga dalam mengarahkan serangga.
Beberapa kemungkinan fungsi flavonoid untuk tumbuhan yang mengandungnya
adalah pengaturan tumbuh, pengaturan fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus,
dan kerja terhadap serangga (Robinson, 1995).
Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi
keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin memberikan warna
kuning atau jingga, antodianin memberikan warna merah, ungu atau biru, yaitu semua warna
yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara biologis flavonoida memainkan peranan
penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa
pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu.

Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di alam.
Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning

yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan


warna kuning, kuning jeruk, dan merah dapat ditemukan pada buah, sayuran, kacang, biji,
batang, bunga, herba, rempah-rempah, serta produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti
minyak zaitun, teh, cokelat, anggur merah, dan obat herbal.
Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta kualitas nutrisi
makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan
flavonoid pada tingkat spesies, genus atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi
sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri
terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji,
pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi, serta molekul
sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan. Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula
diperkenalkan oleh seorang Amerika bernama Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy
memberikan ekstrak vitamin C (asam askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati
penderita pendarahan kapiler subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan. Mc.Clure (1986)
menemukan pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak dari Capsicum anunuum serta
Citrus limon juga dapat menyembuhkan pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas
senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi alat komunikasi (molecular messenger}
dalam proses interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap proses
metabolisme sel atau mahluk hidup yang bersangkutan, baik bersifat negatif (menghambat)
maupun bersifat positif (menstimulasi).

A.

Cara Isolasi dan Identifikasi Flavonoid Secara Umum


1. Isolasi Dengan metanol
Terhadap bahan yang telah dihaluskan, ekstraksi dilakukan dalam dua tahap. Pertama dengan
metanol:air (9:1) dilanjutkan dengan metanol:air (1:1) lalu dibiarkan 6-12 jam. Penyaringan
dengan corong buchner, lalu kedua ekstrak disatukan dan diuapkan hingga 1/3 volume mulamuIa, atau sampai semua metanol menguap dengan ekstraksi menggunakan pelarut heksan atau
kloroform (daIam corong pisah) dapat dibebaskan dari senyawa yang kepolarannya rendah,
seperti lemak, terpen, klorofil, santifil dan lain-lain

2. Isolasi Dengan Charaux Paris

Serbuk tanaman diekstraksi dengan metanol,lalu diuapkan sampai kental dan ekstrak kental
ditambah air panas dalam volume yang sama, Ekstrak air encer lalu ditambah eter, lakukan
ekstraksi kocok, pisahkan fase eter lalu uapkan sampai kering yang kemungkinan didapat bentuk
bebas. Fase air dari hasil pemisahan ditambah lagi pelarut etil. asetat diuapkan sampai kering
yang kemungkinan didapat Flavonoid O Glikosida. Fase air ditambah lagi pelarut n - butanol,
setelah dilakukan ekstraksi, lakukan pemisahan dari kedua fase tersebut. Fase n-butanol
diuapkan maka akan didapatkan ekstrak n - butanol yang kering, mengandung flavonoid dalam
bentuk C-glikosida dan leukoantosianin. Dari ketiga fase yang didapat itu langsung dilakukan
pemisahan dari komponen yang ada dalam setiap fasenya dengan mempergunakan kromatografi
koLom. Metode ini sangat baik dipakai dalam mengisolasi flavonoid dalam tanaman karena
dapat dilakukan pemisahan flavonoid berdasarkan sifat kepolarannya.
3. Isolasi dengan beberapa pelarut.
Serbuk kering diekstraksi dengan kloroform dan etanol, kemudian ekstrak yang diperoleh
dipekatkan dibawah tekanan rendah. Ekstrak etanol pekat dilarutkan dalam air lalu diekstraksi
gojog dengan dietil eter dan n-butanol, sehingga dengan demikian didapat tiga fraksi yaitu fraksi
kloroform, butanol dan dietil eter.
4.

Identifikasi Dengan Reaksi warna


a.
Uji WILSTATER
Uji ini untuk mengetahui senyawa yang mempunyai inti benzopiron. Warna-warna yang
dihasilkan dengan reaksi Wilstater adalah sebagai berikut:
- Jingga Daerah untuk golongan flavon.
- Merah krimson untuk golongan fLavonol.
- Merah tua untuk golongan flavonon.
b.
Uji BATE SMITH MATECALVE
Reaksi warna ini digunakan untuk menuniukkan adanya senyawa leukoantosianin, reaksi positif
jika terjadi warna merah yang intensif atau warna ungu.
5. Identifikasi flavonoid
Sebagian besar senyawa flavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosidanya, dimana
unit flavonoid terikat pada suatu gula. Glikosida adalah kombinasi antara gula dan suatu alcohol
yang saling berikatan melalui ikatan glikosida. Pada prinsipnya, ikatan glikosida terbentuk
apabila gugus hidroksil dari alcohol beradisi kepada gugus karbonil dari gula, sama seperti adisi
alcohol kepada aldehid yang dikatalis oleh asam menghasilkan suatu asetal.
Pada hidrolisis oleh asam, suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya
menghasilkan gula dan alcohol yang sebanding dan alcohol yang dihasilkan ini disebut aglokin.
Residu gula dari glikosida flavonoid alam adalah glukosa tersebut masinbg-masing disebut
glukosida, ramnosida, galaktosida dan gentiobiosida.

Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-, di- atau triglikosida dimana satu, dua atau
tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula. Poliglikosida larut dalam air dan
sedikit larut dalam pelarut organic seperti eter, benzene, kloroform dan aseton.
Flavonoid merupakan metabolit sekunder dalam tumbuhan yang mempunyai variasi
struktur yang beraneka ragam, namun saling berkaitan karena alur biosintesis yang sama. Jalur
biosintesis flavonoid dimulai dari pertemuan alur asetat malonat dan alur sikimat membentuk
khalkon, dari bentuk khalkon ini diturunkan menjadi bentuk lanjut menjadi berbagai bentuk
lewat alur antar ubah posisi, dehidrogenasi, denetilasi dan lain-lain. Kenudian daripada itu
menghasilkan bentuk sekunder dihidrokalkon, flavon, auron, isoflavon (penurunan selanjutnya
membentuk peterokarpon dan rotenoid) dan dehidroflavonol (penurunan selanjutnya
antosianidin, flavonol, epikatekin ) .
Dari bentuk-bentuk sekunder tersebut akan terjadi modifikasi lebih lanjut pada berbagai
tahap dan menghasilkan penambahan / pengurangan hidroksilasi, metilenasi, ortodihidroksil,
metilasi gugus hidroksil atau inti flavonoid, dimerisasi, pembentukan bisulfat, dan yang
terpenting glikolisasi gugus hidroksil
B.

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder


Prinsip dari pemisahan (isolasi) adalah adanya perbedaan sifat fisik dan kimia dari
senyawa yaitu kecendrungan dari molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan),
kecenderungan molekul untuk menguap (keatsirian), kecenderungan molekul untuk melekat pada
permukaan serbuk labus (adsorpsi, penserapan) (Harborne, 1987).
Salah satu cara pemisahan adalah kromatografi cair vakum, kromatografi cair vakum
adalah kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja pada kondisi vakum. Alat yang
digunakan terdiri dari corong G-3, sumbat karet, pengisap yang dihubungkan dengan pompa
vakum serta wadah penampung fraksi. Corong G-3 diisi adsorben sampai setinggi 2,5 cm,
kemudian diketuk-ketuk dengan batang pengaduk bersalut dilarutkan dalam pelarut organik yang
cocok, kemudian ke dalam larutan ekstrak tersebut ditambahkan adsorben dengan bobot sama
dengan bobot ekstrak. Campuran ini digenis sampai homogen, dikeringkan dan dimasukkan ke
dalam corong G-3 kemudian diratakan. Permukaan lapisan adsorben ditutup dengan kertas
saring. Elusi diawali dengan pelarut non polar dilarutkan dengan kombinasi pelarut dengan
polaritas meningkat. Jumlah pelarut yang digunakan setiap kali elusi untuk bobot ekstrak sampai
lima gram diperlukan 25 ml pelarut, untuk 10-30 gram ekstrak diperlukan 50 ml pelarut. Dalam
hal ini, diameter corong dipilih sedemikian rupa sehingga lapisan ekstrak dipermukaan kolom
setipis mungkin dan rata. Masing-masing pelarut dituangkan ke permukaan kolom kemudian
dihisapkan pompa vakum. Masing-masing ekstrak ditampung dalam wadah terpisah sehingga
menghasilkan sejumlah fraksi (Soediro, dkk.,1986).

Isolasi dan Identifikasi Flavonoid


1. Isolasi Flavonoid
Isolasi flavonoid umumnya dilakukan dengan metode ekstraksi, yakni dengan cara
maserasi atau sokletasi menggunakan pelarut yang dapatmelarutkan flavonoid. Flavonoid pada
umumnya larut dalam pelarutpolar, kecuali flavonoid bebas seperti isoflavon, flavon,
flavanon,dan flavonol termetoksilasi lebih mudah larut dalam pelarut semipolar. Oleh karena itu
pada proses ekstraksinya, untuk tujuan skrining maupun isolasi, umumnya menggunakan pelarut
methanol atau etanol. Hal ini disebabkan karena pelarut ini bersifat melarutkan senyawa
senyawa mulai dari yang kurang polar sampai dengan polar. Ekstrak methanol atau etanol yang
kental, selanjutnya dipisahkankandungan senyawanya dengan tekhnik fraksinasi, yang
biasanyaberdasarkan kenaikan polaritas pelarut (Monache, 1996).
Senyawa flavonoid diisolasi dengan tekhnik maserasi,mempergunakan pelarut methanol
teknis. Ekstraksi methanol kental kemudian dilarutkan dalam air. Ekstrak methanolair kemudian
difraksinasi dengan n-heksan dan etil asetat. Masingmasing fraksiyang diperoleh diuapkan,
kemudian diuji flavonoid. Untuk mendeteksiadanya flavonoid dalam tiap fraksi, dilakukan
dengan melarutkansejumlah kecil ekstrak kental setiap fraksi kedalam etanol.Selanjutnya
ditambahkan pereaksi flavonoid seperti : natriumhidroksida, asam sulfat pekat, bubuk
magnesiumasam klorida pekat,atau natrium amalgamasam klorida pekat. Uji positif flavonoid
ditandai dengan berbagai perubahan warna yang khas setiap jenis flavonoid (Geissman, 1962).
Cara lain yang dapat dipakai untuk pemisahan adalah ekstraksi cair-cair, kromatografi
kolom, kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas. Isolasi dan pemurnian dapat dilakukan
dengan kromatografi lapis tipis atau kromatografi kertas preparatif dengan pengembangan yang
dapat memisahkan komponen paling baik (Harborne, 1987). Flavonoid (terutama glikosida)
mudah mengalami degradasi enzimatik ketika dikoleksi dalam bentuk segar. Oleh karena itu
disarankan koleksi yang dikeringkan atau dibekukan. Ekstraksi menggunakan solven yang sesuai
dengan tipe flavonoid yg dikehendaki. Polaritas menjadi pertimbangan utama. Flavonoid kurang
polar (seperti isoflavones, flavanones, flavones termetilasi, dan flavonol) terekstraksi dengan
chloroform, dichloromethane, diethyl ether, atau ethyl acetate, sedangkan flavonoid glycosides
dan aglikon yang lebih polar terekstraksi dengan alcohols atau campuran alcohol air. Glikosida
meningkatkan kelarutan ke air dan alkohol-air. Flavonoid dapat dideteksi dengan berbagai
pereaksi, antara lain:
a.
Sitroborat
b. AlCl3
c.
NH3
Sebelum melakukan suatu isolasi senyawa, maka yang dilakukan adalah ekstraksi terlebih
dahulu.

a. Ekstraksi
Ekstraksi artinya mengambil atau menarik suatu senyawa yang terdapat dalam suatu
bahan dengan pelarut yang sesuai. Proses yang terjadi dalam ekstraksi adalah terlarutnya
senyawa yang dapat larut dari sel melalui difusi, tergantung dari letak senyawa dalam sel dan
juga permeabilitas dinding sel dari bahan yang akan di ekstraksi.
Ekstraksi adalah suatu proses atau metode pemisahan dua atau lebih komponendengan
menambahkan suatu pelarut yang hanya dapat melarutkan salahsatu komponennya saja. Dalam
prosedur ekstraksi, larutan berair biasanya dikocok dengan pelarutorganik yang tak dapat larut
dalam sebuah corong pemisah. Zat zatyang dapt larut akan terdistribusi diantara lapisan air dan
lapisanorganik sesuai dengan (perbedaan) kelarutannya. Padaekstraksi senyawa senyawa
organik dari larutan berair, selain airatau eter, biasanya digunakan pula etil asetat, benzena,
kloroform dan sebagainya. Ekstraksi lebih efisien bila dilakukan berulang kali dengan jumlah
pelarut yanglebih kecil dari pada bila jumlah pelarutnya banyak tapi ekstraknyahanya sekali
(Markham, 1988).
Metode ekstraksi terdiri atas dua jenis yakni ekstraksi panas dan ekstraksi dingin.
Ekstraksi panas menggunakan cara refluks dan destilasi uap sedangkan ekstraksi secara dingin
menggunakan cara maserasi,perkolasi dan soxhletasi.

1. Ekstraksi Secara Panas


a. Ekstraksi Secara Refluks.
Ekstraksi secara refluks adalah cara berkesinambungan dimana cairan penyari secara kontinyu
menyari zat aktif dalam sampel.
b. Ekstraksi Secara Destilasi Uap
Ekstraksi secara destilasi uap adalah cara yang digunakan untuk menyaring saampel yang
mangandung minyak yang mudah menguap ataumengandung komponen kimia yang mempunyai
titik didih tinggi padatekanan udara normal.Destilasi merupakan metode ekstraksi yang
memanfaatkan perbedaan titik didih dari senyawa. Biasa digunakan untuk mengisolasi minyak
atsiri.
2. Ekstraksi Secara Dingin
a. Ekstraksi Secara Maserasi
Secara harfiah berarti merendam. Ekstraksi secara maserasi merupakan cara penyarian yang
paling sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk sampel dalamcairan penyari.
Metode ini merupakan metode yang paling sederhana. Tidak ada batas pelarut dalam metode ini.
Jika menggunakan metode ini, simplisia dibasahkan terlebih dahulu, jika tidak di khawatirkan
akan ada simplisia yang tidak teraliri pelarut. Proses maserasi sendiri dilakukan secara berulang
dengan memisahkan cairan perendam dengan cara penyaringan, dekantir atau di peras,

selanjutnya ditambahkan lagi penyari segar kedalam ampas hingga warna rendaman sama
dengan warna pelarut.
b. Ekstraksi Secara Perkolasi
Perkolasi adalah suatu cara penarikan dengan memakai alat yang yang disebut perkolator,
dimana simplisia terendam dalam cairan penyari sehingga zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut
akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan.
Ekstraksi secara perkolasi merupakan cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan
penyari melalui serbuk sampel yang telah dibasahi.
c. Ekstraksi Secara Soxhletasi
Merupakan metode ekstraksi yang memanfaatkan pemanasan untuk destilasi pelurut sehingga
terjadi sirkulasi pelarut melalui serbuk simplisia. Metode ini efisiensi dalam pemanfaatan pelarut
tetapi berisiko pembentukan artefak akibat penggunaaan panas. Ekstraksi secara soxhletasi
merupakan cara penyarian sampel secara berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan sehingga
menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul cairan oleh pendingin
balik dan turun menyari sampel di dalam klonson dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu
alas bulat setelah melewati pipa siphon.
b. Kromatografi
Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan tertentu. Pada
dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase yaitu fasa tetap (stationary) dan fasa
gerak (mobile), pemisahan tergantung pada gerakan relatif dari dua fasa tersebut. Kromatografi
secara garis besar dapat dibedakan menjadi kromatografi kolom dankromatografi planar.
Kromatografi kolom terdiri atas kromatografi gas dan kromatografi cair, sedangkan kromatografi
planar terdiri ataskromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas (Anwar, 1994).
Cara-cara kromatografi dapat digolongkan sesuai dengan sifat-sifat dari fasa tetap, yang
dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fasa tetap berupa zat padat maka cara tersebut dikenal
sebagai kromatografi serapan, jika zat cair dikenal sebagai kromatografi partisi. Karena fasa
bergerak dapat berupa zat cair atau gas maka semua ada empat macam sistem kromatografi yaitu
kromatografi serapan yang terdiri dari kromatografi lapis tipis dan kromatografi penukar ion,
kromatografi padat, kromatografi partisi dan kromatografi gas-cair serta kromatografi kolom
kapiler .

Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponenkomponennya. Seluruh bentuk kromatografi berkerja berdasarkan prinsip ini. Semua
kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase

gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponenkomponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada
laju yang berbeda (Harborne, 1987).
Ketika pelarut mulai membasahi lempengan, pelarut pertama akan melarutkan senyawasenyawa dalam bercak yang telah ditempatkan pada garis dasar. Senyawa-senyawa akan
cenderung bergerak pada lempengan kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut.
Kecepatan senyawa-senyawa dibawa bergerak ke atas pada lempengan, tergantung pada
kelarutan senyawa dalam pelarut. Hal ini bergantung pada besar atraksi antara molekul-molekul
senyawa dengan pelarut (Harborne, 1987).
Kemampuan senyawa melekat pada fase diam, misalnya gel silika tergantung pada besar
atraksi antara senyawa dengan gel silika. Senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan
melekat pada gel silika lebih kuat dibanding senyawa lainnya karena senyawa ini terjerap lebih
kuat dari senyawa yang lainnya. Penjerapan merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu
substansi pada permukaan (Harborne, 1987). Penyerapan bersifat tidak permanen, terdapat
pergerakan yang tetap dari molekul antara yang terjerap pada permukaan gel silika dan yang
kembali pada larutan dalam pelarut. Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada
lempengan selama waktu terlarut dalam pelarut. Ketika senyawa dijerap pada gel silika -untuk
sementara waktu proses penjerapan berhenti- dimana pelarut bergerak tanpa senyawa. Itu berarti
bahwa semakin kuat senyawa dijerap, semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan
(Harborne, 1987). Dalam hal ini, senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan
menjerap lebih kuat daripada yang tergantung hanya pada interaksi van der Waals, dan karenanya
bergerak lebih jauh pada lempengan.
Jika komponen-komponen dalam campuran dapat membentuk ikatan-ikatan hydrogen,
terdapat perbedaan bahwa ikatan hidrogen pada tingkatan yang sama dan dapat larut dalam
pelarut pada tingkatan yang sama pula. Ini tidak hanya merupakan atraksi antara senyawa dengan
gel silika. Atraksi antara senyawa dan pelarut juga merupakan hal yang penting dimana hal ini
akan mempengaruhi mudahnya proses senyawa ditarik pada larutan keluar dari permukaan silika.
Ini memungkinkan senyawa-senyawa tidak terpisahkan dengan baik ketika membuat
kromatogram. Dalam kasus itu, perubahan pelarut dapat membantu dengan baik, termasuk
memungkinkan perubahan pH pelarut. Ini merupakan tingkatan uji coba, jika satu pelarut atau
campuran pelarut tidak berkerja dengan baik, maka dapat mencoba dengan pelarut lainnya
(Harborne, 1987).

Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Mereka dapat diekstraksi
dengan etanol 70 % dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini dikocok dengan eter
minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah bila ditambah basa

atau amonia, jadi mereka mudah dideteksipada kromatogram atau dalam larutan (Harborne, 1987
: 70).
1. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis adalah suatu metode pemisahan yang menggunakan plat atau
lempeng kaca yang sudah dilapiskan adsorben yang bertindak sebagaifasa diam. Fase bergerak
ke atas sepanjang fase diam danterbentuklah kromatogram. Metode ini sederhana, cepat dalam
pemisahandan sensitif (Khopkar, 1990). Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan
fitokimia. Lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam), ditempatkan
pada penyangga berupa pelat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan
dipisah, berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita (awal), kemudian pelat dimasukkan di
dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak). Pemisahan
terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan) dan selanjutnya senyawa yang tidak
berwarna harus ditampakkan (Stahl, 1985).
Pada prinsipnya KLT dilakukan berdasarkan pada penggunaan fasa diam untuk
menghasilkan pemisahan yang lebih baik. Fasa diam yang biasadigunakan dalam KLT adalah
serbuk silika gel, alumina, tanah diatomedan selulosa (Harborne, 1987). Adapun carakerja dari
KLT yakni larutan cuplikan sekitar 1% diteteskan denganpipet mikro pada jarak 1-2 cm dari
batas plat. Setelah eluen ataupelarut dari noda cuplikan menguap, plat siap untuk
dikembangkandengan fasa gerak (eluen) yang sesuai hingga jarak eluen dari batasplat mencapai
10-15 cm. Mengeringkan sisa eluen dalam plat dengandidiamkan pada suhu kamar. Noda pada
plat dapat diamati langsung dengan menggunakan lampu UV atau dengan menggunakan pereaksi
semprot penampak warna. Setelah noda dikembangkan dan divisualisasikan,identitas noda
dinyatakan dengan harga Rf (retardation factor)(Anwar, 1994).
Tujuan mendapatkan identitas noda dengan harga Rf untuk mencari pelarut untuk
kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh darikromatografi kolom, menyigi arah atau
perkembangan reaksi seperti hidrolisis atau metilasi, identifikasi flavonoid secarakokromatografi dan isolasi flavonoid murni skala kecil (Markham,1988).

KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya sebagai metode untuk
mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif. Kedua, dipakai untuk menjajaki sistem
pelarut dan sistem penyangga yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi
cair kinerja tinggi (Roy, et. all, 1991). Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini menurut
Ibnu Gholib Gandjar dan Abdul Rohman (2007) adalah :
Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.
Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluorisensi atau
dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.

Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun (descending), atau dengan cara elusi
2 dimensi.
Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan
bercak yang tidak bergerak.
Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina
yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Gel silika (atau
alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga
mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet. Fase gerak
merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai (Harborne, 1987).
Keuntungan kromatografi lapis tipis adalah dapat memisahkan senyawa yang sangat berbeda
seperti senyawa organik alam dan senyawa organik sintesis, kompleks organik dan anorganik
serta ion anorganik dalam waktu singkat menggunakan alat yang tidak terlalu mahal. Metode ini
kepekaannya cukup tinggi dengan jumlah cuplikan beberapa mikrogram. Kelebihan metode ini
jika dibandingkan dengan kromatografi kertas adalah dapat digunakan pereaksi asam sulfat pekat
yang bersifat korosif, kelemahannya adalah harga RF yang tidak tetap (Gritten, et. al., 1991).
a) KLT Preparatif
Kromatografi Lapis Tipis Preparatif merupakan proses isolasi yang terjadi berdasarkan
perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang akan
bergerak mengikuti kepolaran eluen oleh karena daya serap adsorben terhadap komponen kimia
tidak sama, maka komponen bergerak dengan kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah yang
menyebabkan pemisahan.
b) KLT 2 Dimensi
KLT 2 arah atau 2 dimensi bertujuan untuk meningkatkan resolusi sampel ketika
komponen-komponen solute mempunyai karakteristik kimia yang hampir sama, karenanya nilai
Rf juga hampir sama sebagaimana dalam asam-asam amino. Selain itu, 2 sistem fase gerak yang
sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan sehingga memungkinkan untuk melakukan
pemisahan analit yang mempunyai tingkat polaritas yang berbeda .
Sampel ditotolkan pada lempeng lalu dikembangkan dengan satu sistem fase gerak
sehingga campuran terpisah menurut jalur yang sejajar dengan salah satu sisi. Lempeng diangkat,
dikeringkan dan diputar 90 dan diletakkan dalam bejana kromatografi yang berisi fase gerak
kedua sehingga bercak yang terpisah pada pengembangan pertama terletak dibagian bawah
sepanjang lempeng, lalu dikromatografi lagi .
Deteksi dengan KLT dapat dilakukan dengan cara:
1.
Sinar tampak
2.
Sinar UV

3.

Pereaksi warna

2. Kromatografi Kolom
Kromatografi kolom adalah suatu metode pemisahan dan pemurnian senyawa dalam
skala preparative. Kromatografi kolom dapat dilakukan pada tekanan atmosfer atau dengan
tekanan lebih besar dengan menggunakan bantuan tekanan luar (Khopkar, 1990). Kromatografi
kolom prinsipnya mudah memilih ukuran, kemasan (packing), dan isi kolom sesuai jenis serta
jumlah cuplikan yang akan dipisahkan. Kolom yang digunakan dan kromatografi ini dapat
berupa gelas, plastik atau nilom. Ukuran kolom yang lazim digunakan mempunyai diameter 2
cm dan panjang 45 cm. Untuk memilih kemasan (Packing) yang akan digunakan dalam kolom
biasanya menggunakan selulosa, silika gel, alumina, arang(charcoal) (Anwar, 1994).
Adapun cara kerja dari kromatografi kolom yakni langkah pertama mengemas kolom (packing)
dilakukan dengan hati-hati agar dihasilkan kolom kemas yang serba sama. Selanjutnya kemasan
kolom dijadikan bubur dalam gelas piala memakai pelarut yang sama, lalu dituangkan hati-hati
ke dalam kolom. Kemasan dibiarkan turun dan pelarut yang berlebihan dikeluarkan melalui
keran. Selanjutnya langkah kedua menempatkan larutan cuplikan pada (bagian atas) kolom
sehingga terbentuk pita yang siap untuk dielusi lebih lanjut. Cuplikan harus dilarutkan dalam
pelarut yang volumenya sedikit. Pelarut yang dipakai harus sama dengan pelarut untuk
mengelusi (Markham, 1988).
3. High Pressure Liquid Chromatography (HPLC)
High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
(KCKT) merupakan salah satu metode kimia dan fisikokimia. KCKT termasuk metode analisis
terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak cairan dan fasa diam cairan atau padat.
Banyak kelebihan metode ini jika dibandingkan dengan metode lainnya (Done dkk, 1974;
Snyder dan Kirkland, 1979; Hamilton dan Sewell, 1982; Johnson dan Stevenson, 1978).
Informasi seperti kelarutan, gugus fungsi yang ada, besarnya berat molekul (BM) dapat
diperoleh dari pembuat informasi, pemberi sampel, atau data spektroskopik seperti Nucleic
Magnetic Resonance Spectrosphotometer (NMR), Infrared spectrophotometer, ultra violet
spectrumeter, dan mass Spectrophotometer. Semua data-data ini dapat digunakan sebagai
petunjuk bagi analis memilih tipe HPLC yang tepat untuk digunakan (Johnson dan Stevenson,
1978)
Berdasarkan Hukum Dasar "like dissolves like" maka sangat mudah untuk memutuskan
tipe KCKT yang akan dipilih. Seleksi tipe KCKT, dengan cepat kita dapat melihat bahwa Berat
Molekul (BM) lebih besar dari 2000, maka kita dapat menggunakan kromatografi eksklusi. Fasa
geraknya adalah air jika sampelnya larut dalam air; bila dapat larut dalam pelarut organik maka
digunakan pelarut- pelarut organik sebagai rasa gerak. Fasa diamnya adalah Sephadex atau
Bondagel Seri E untuk rasa gerak air dan Styragel atau MicroPak TSK gel untuk rasa gerak

organik. Bila BM lebih rendah dari 2000, pertama yang harus ditentukan adalah apakah sampel
dapat larut dalam air. Bila sampel dapat larut dalam air, maka kromatografi partisi rasa terbalik
atau kromatografi penukar ion dapat digunakan. Bila kelarutan dipengaruhi oleh penambahan
asam atau basa atau bila pH larutan bervariasi lebih dari 2 (dua) satuan pH dari pH 7, maka
kromatografi penukar ion adalah pilihan utama. Bila kelambatan tidak dipengaruhi oleh asam
dan basa dan larutan sampel adalah netral, maka kromatografi partisi rasa terbalik adalah pilihan
terbaik. Tipe Eksklusi menggunakan ukuran poros yang kecil dan rasa air dapat juga dicoba.

Spektrum Flavonoid Umum


Spektroskopi serapan lembayung dan serapan sinar tampak digunakan untuk membantu
mengidentifikasi jenis flavonoid dan menentukan pola oksigenasi. Disamping itu, kedudukan
gugus hidroksil fenol bebas pada inti flavonoid dapat ditentukan dengan menambahkan pereaksi
(pereaksi geser) ke dalam larutancuplikan dan mengamati pergeseran puncak serapan yang
terjadi. Cara ini berguna untuk menentukan kedudukan gula atau metil yang terikat pada salah
satu gugushidroksil fenol (Markham, 1988 : 38).Spektrum flavonoid (gambar 2) biasanya
ditentukan dalam larutan dengan pelarut metanol atau etanol. Spektrum khas terdiri atas dua
maksimal pada rentang240-285 nm (pita II) dan 300-550 nm (pita I). Kedudukan yang tepat dan
kekuatan nisbi maksimal tersebut memberikan informasi yang berharga mengenai sifat flavonoid
dan pola oksigenasinya.
Spektrum khas jenis flavonoid utama dengan pola oksigenasi yang setara (5,7,4) adalah
kekuatan nisbi yang rendah pada pita Idalam dihidroflavon, dihidroflavonol, dan isoflavon. Ciri
nisbi ini tidak berubah,bahkan bila pola oksigenasi berubah, sekalipun rentang maksimal serapan
pada jenis flavonoid (tabel 2) yang berlainan tumpang tindih sebagai keseragaman
polaoksigenasi. Keseragaman dalam rentang maksimal ini akan bergantung pada polahidroksilasi
dan pada derajat substitusi gugus hidroksil (Markham, 1988 : 39).