Anda di halaman 1dari 3

Sifat fisikokimia yang dimaksud adalah yang terkait dengan klasifikasi obat tersebut

dalam BCS (Biopharmaceutical Classification System). Obat oobat yang termasuk


dalam BCS kelas I (high solubility dan high permeation) seperti metoprolol, antipirin,
dan L DOPA rate limiting step-nya ditentukan oleh kecepatan pengosongan
lambung. Sedangkan kecepatan pengosongan lambung sendiri dipengaruhi oleh
Janis makanan, ukuran molekul obat, posisi tubuh, dan lain sebagainya. Adapun obat
obat yang terkategori dalam BCS kelas II (high permeability tetapi low solubility)
seperti naproxen, carbamazepin, dan sebagian besar obat lainnya, rate limiting step
ditentukan oleh proses disolusi. Biasanya masalah yang timbul dalam obat obat
BCS Kelas II ini dapat diatasi dengan pemberian kosolven dalam formulasinya untuk
mempercepat proses disolusi. Obat obat yang terkategori dalam BCS kelas III (low
permeability tetapi high solubility) seperti atenolol, terbutaline, dan enalaprilat,
maka rate limitng stepnya merupakan fase permeasi. Masalah yang timbul pada
obat obat BCS Kelas III dapat diminimalisasi dengan penambahan enhancer dalam
formulasinya untuk membantu proses permeasi ke sirkulasi sistemik. Sedangkan
obat obat yang terkategori dalam BCS Kelas IV (low permeability dan low solubility)
seperti furosemide dan hydrochlortiazide rate limiting step-nya berbeda pada tiap
kasus sehingga solusinya pun berbeda kasus per kasus.
Suatu obat dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan konvensional (rapid release)
maupun dalam sediaan lepas terkontrol (sistem matriks, pelepasan tertunda,
maupun pelepasan tertarget). Faktor formulasi ini dapat mempengaruhi proses
disolusi maupun proses permeasi yang pada gilirannya akan mempengaruhi
keseluruhan proses absorbsi, bahkan mempengaruhi profil bioavailabilitasnya dalam
darah maupun tempat aksinya.
Metode Studi Absorbsi
Studi absorbsi dapat dilakukan baik dengan uji in vivo, in vitro, maupun in situ
tergantung pada kondisi mana yang mungkin dilakukan dan paling menggambarkan
proses absorbsi sebenarnya ketika obat dikonsumsi oleh pasien.
Uji In Vivo biasa dilakukan dengan uji farmakokinetika dan uji intubasi in vivo. Dalam
uji farmakokinetika dilakukan penentuan kadar obat dalam plasma / serum / whole
blood setelah pemberian sediaan obat pada dosis tertentu sesuai dengan rute
pemberian yang sama seperti rute pemberian pada pasien sebenarnya. Pengukuran
ini akan menghasilkan profil kadar obat dalam plasma / serum / whole blood yang
dapat digunakan untuk memprediksi kinetika / orde proses absorbsi, kecepatan
absorbsi, klirens, kecepatan eliminasi, serta volume distribusi. Salah satu yang perlu
diperhatikan adalah terkait jumlah dan waktu sampling. Sampling pertama harus
dilakukan sebum t obat terlewati serta dilakukan minimal 3 kali sampling pada
tiap fase (absorbsi, distribusi, dan eliminasi). Subjek uji untuk uji farmakokinetika ini

dapat berupa hewan uji (mencit, tikus, kelinci, marmut dll tergantung pada kimripan
fungsi fisiologisnya dengan manusia) atau manusia sehat maupun pasien. Namun
penggunaan hewan uji lebih sering digunakan daripada manusia. Kalau pun terpaksa
menggunakan manusia, biasanya lebih dipilih manusia sehat daripada pasien
dengan pertimbangan kemanusiaan, etik, dsb. Uji farmakokinetika ini umumnya
dilakukan pada kondisi puasa dengan tujuan untuk meminimalisasi adanya pengaruh
makanan terhadap proses absorbsi dan proses farmakokinetika. Data dari uji
farmakokinetika ini dapat dianalisis dengan metode residual, metode Wagner
Nelson (berdasarkan persen obat tak terabsorbsi versus waktu), Metode Loo
Riegelman (untuk absorbsi obat dengan 2 kompartemen), Modelling and Curve
Fitting, serta Metode data urine.
Metode Uji In Vitro merupakan metode uji absorbsi obat yang dilakukan di luar tubuh
makhlik hidup, dapat menggunakan organ terisolasi maupun lainnya. Uji in vitro ini
terdiri atas beberapa jenis: uji permeasi (uji difusi, metode usus terbalik, maupun
caco -2 cell monolayer), uji disolusi, maupun uji disintegrasi.
Metode Uji Ins Situ merupakan suatu metode uji yang dilakukan dalam organ target
tertentu yang masih berada dalam sistem organisme hidup. Bedanya dengan uji in
vivo adalah karena pada uji in situ organ target tersebut diusahakan tidak
dipengaruhi oleh organ lain sehingga profil obat yang diamati hanya berdasarkan
pada proses yang terjadi pada organ tersebut tanpa dipengaruhi oleh proses yang
terjadi pada organ lainnya. Sedangkan bedanya dengan uji in vitro adalah organ
pada uji in situ masih menyatu dengan sistem organisme hidup, masih mendapat
supply darah, dan supply oksigen.
Keuntungan dan Kerugian Beberapa Metode Uji Absorbsi
Uji Permeasi dengan Usus Terisolasi
Syaratnya membrane tetap terjaga viabilitasnya selama proses uji sehingga dapat
diperoleh

reprodusibilitas

dan

validitas

eksperimen

yang

baik.

in

vivo

Keuntungan:

Dapat

Mengurangi

digunakan
kebutuhan

sebagai
studi

in

prediksi
vivo

dengan

transport
hewan

dan

manusia

Bekerja langsung pada organ utuh tempat fungsi sel sel fisiologis berada
Kerugian:
Harus dilakukan dengan cepat karena viabulitas organ hanya bertahan beberapa
jam

saja

Jumlah obat terabsorbsi yang terkur jauh lebih kecil dari pada jumlah obat
terabsorbsi yang sesungguhnya jika dikonsumsi pasien karena ketebalan usus jauh
lebih besar daripada ketebalan membrane in vivo

Uji Permeasi Usus Terbalik


Biasanya menggunakan usus halus tikus untuk emnentukan parameter kinetic
transport secara reliable dan reprodusibel. Metode ini mutlak memerlukan oksigenasi
jaringan usus untuk menjaga viabilitas jaringan yang hanya bertahan maksimal
selama 2 jam. Awalnya, studi ini hanya digunakan untuk mempelajari transport
makro molekul dan liposom namun sekarang telah dikembangkan unyim studi
transport paraseluler obat obat yang bersifat hidrifil serta mempelajari pengaruh
enhancer dalam absorbsi obat.
Keuntungan metode ini adalah karena dapat digunakan untuk menentukan transport
pada berbagai segmen usus halus, sebagai studi pendahuluan obat untuk transport
pada kolon, dan untuk mengestimasi level first pass metabolism obat pada sel
epithelial usus. Sedangkan kerugiannya adalah karena keberadaan muscularis
mucosa menyebabkan obat bergerak dari lumen ke lamina propria dan menembus
muscularis mucosa sehingga menyebabkan obat obat tertentu dapat terikat
dengannya dan menyebabkan transport yang terukur lebih rendah dari yang
seharusnya.
Uji dengan Caco-2 Monolayer
Caco-2 monolayer merupakan selapis sel yang diperoleh dari kultur sel human colon
carcinoma yang mempunyai karakteristik sangat mirip dengan sel absorbtif pada
epitel usus sehingga merupakan metode uji permeasi in vitro yang paling ideal.
Belakangan ini, uji caco-2 monolayer menjadi sangat penting dalam proses skrining
terhadap potensi obat untuk penghantaran per oral.
Kerugian: mahal