Anda di halaman 1dari 45

1

TUGAS AKHIR II

ISOLASI JAMUR PENGHASIL ENZIM AMILASE DARI SUBSTRAT UBI

JALAR (Ipomoea batatas)

Diajukan Kepada
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Sains

Oleh :

MUHAMAD SAIDIN

03017033

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2008
KATA PENGANTAR
2

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT. yang maha pemurah lagi maha

penyayang. Dengan pertolongan dan taufiq-Nyalah akhirnya saya bias

menyelesaikan Makalah Penunjang Tugas Akhir I ini yang berjudul ISOLASI

JAMUR PENGHASIL ENZIM AMILASE DARI SUBSTRAT UBI JALAR

(Ipomoea batatas).

Sholawat serta salam tidak lupa saya haturkan untuk junjungan kita Nabi

Muhammad SAW, sang madinatul ilm. Karena beliaulah kita bisa menikmati

indahnya mempelajari ilmu.

Makalah Penunjang Tugas Akhir I ini adalah salah satu syarat untuk

menyelesaikan jenjang kuliah dan memperoleh gelar Sarjana Sains dari Program

Studi Biologi F MIPA Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Tidak lupa, saya juga menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak

yang telah membantu dalam menyelesaikan tulisan ini.

Tak ada gading yang tak retak. Begitu juga dengan karya ini, masih banyak

kekurangan-kekurangan di dalamnya. Sehingga dengan penuh rendah hati, saya

mohon saran dan kritik yang membangun untuk melengkapi kekurangan-

kekurangan tersebut.

Yogyakarta, Mei 2008

Penulis
3

HALAMAN JUDUL
... i
KATA PENGANTAR
. . ii
DAFTAR ISI
. iii
BAB I PENDAHULUAN
... 1
A. Latar Belakang

1
B. Manfaat Penulisan

3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
... 4
A. Isolasi Jamur

4
B. Karakteristik dan Morfologi Jamur

6
C. Enzim Amilase

10
D. Ubi Jalar

13
BAB III PEMBAHASAN
. 19
BAB IV PENUTUP
. 36
DAFTAR PUSTAKA
4

....
..37

BAB I

PENDAHULUAN

C. Latar Belakang

Enzim dapat dihasilkan oleh semua organisme hidup, baik tanaman,

hewan ataupun mikroorganisme. Tetapi untuk keperluan penelitian

maupun untuk dikembangkan pada skala industri. Enzim dari

mikroorganisme lebih menguntungkan karena lebih mudah

dikembangbiakkan, tidak memerlukan tempat yang luas, waktu

pertumbuhan yang relatif singkat dan masih banyak kelebihan lainnya


5

dibandingkan dengan menggunakan tumbuhan atau hewan untuk

memproduksi enzim.
1
Salah satu mikroorganisme yang dapat menghasilkan enzim adalah

jamur. Kemampuan jamur dalam menguraikan berbagai macam substrat

organik di alam telah mendorong para peneliti untuk mengetahui jenis-

jenis enzim yang dihasilkan untuk dikembangkan dalam skala industri.

Menurut pusat penelitian Bioteknologi LIPI enzim menjadi primadona

industri saat ini dan di masa yang akan datang karena melalui

penggunaannya, energi dapat dihemat dan ramah lingkungan. Saat ini

penggunaan enzim dalam industri makanan dan minuman, industri tekstil,

industri kulit dan kertas di Indonesia semakin meningkat.

Enzim amilase adalah salah satu enzim yang mampu dihasilkan oleh

jamur dan jamur yang menghasilkan enzim tersebut biasanya disebut

jamur amilolitik. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, jamur

yang mampu menghasilkan enzim amilase berasal dari genus Penicillium,

Cephalosporium, Mucor, Neurospora, Aspergillus dan Rhizopus (Crueger

& Crueger,1982; Moor-Landecker,19996; Carlile & Watkinson,1994

dalam Gandjar & Syamsurizal,2006). Hasil penelitian yang lain

menyebutkan pula bahwa glukoamilase (amiloglukosida) telah diisolasi

dari Aspergillus oryzae dan Saccharomyces fibuligera (Futatsugi et.al,

1993 dalam Gandjar & Syamsurizal,2006). Darwis dan Sukara (1990)

yang dikutip oleh Kombong (2004) menyatakan bahwa enzim

glukoamilase ini merupakan enzim yang dapat memecah polisakarida (pati

dan glikogen) pada ikatan α -1,4 dan β -1,6 dan menghasilkan glukosa.
6

Glukosa yang dihasilkan dapat diukur dengan cara penentuan glukosa

pereduksi dengan metode Smogy-Nelson. Glukoamilase adalah salah satu

derivat dari enzim amilase. Enzim amilase banyak digunakan dalam

industri gula cair, makanan, industri tekstil, dan industri farmasi.

Menurut Melliawati, dkk. (2006) enzim amilase dan derivatnya yang

mampu menghidrolisis pati mentah (segar) dengan baik masih belum

banyak diketahui. Pencarian mikroorganisme baru penghasil enzim

amilase layak dilakukan di Indonesia, mengingat besarnya potensi

keragaman sumber daya hayatinya. Penulisan makalah Penujang Tugas

Khir ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang jamur-jamur

yang secara umum telah digunakan untuk memproduksi enzim amilase.

Adapun jamur penghasil enzim amilase yang akan saya bahas dalam

makalah ini antara lain jamur dari genus Aspergillus, Rhizopus dan

Humicola.

D. Manfaat Penulisan

Dari penulisan makalah Penunjang Tugas Akhir ini diharapkan akan

memberikan manfaat dan kontribusi bagi ilmu pengetahuan. Adapun

manfaat yang secara langsung diperoleh dari penulis ini antara lain :

1. Mengetahui krakteristik dan ciri-ciri jamur

penghasil enzim amilase dari genus Aspergillus,

Rhizopus dan Humicola.

2. Terpenuhinya kewajiban untuk menyelesaikan

salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas akhir.


7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Isolasi Jamur

Wilayah Indonesia merupakan daerah tropis yang mempunyai

keanekaragaman genetik yang sangat kaya, dengan suhu yang optimum

dan kelembaban yang tinggi, dimana kondisi seperti ini memungkinkan

mikroorganisme tumbuh dengan baik, diantaranya kelompok kapang

(Rifai, 1995). Keanekaragaman mikroorganisme merupakan suatu potensi


8

alam yang dapat dikaji keberadaannya. Selain untuk digunakan, juga harus

dilestarikan keberadaannya dan disisi lain dapat juga dilakukan studi lebih

lanjut mengenai sifat-sifat biologis yang erat kaitannya dengan manusia

(Rifai, 1995).
4
Untuk mempelajari morfologi, fisiologi, biokimia, genetika atau

kegiatan apapun dari mikroorganisme – termasuk jamur – hanya dapat

dilakukan apabila kita telah mempunyai isolat murni. Untuk keperluan

tersebut, jamur yang akan kita pelajari harus dipisahkan terlebih dahulu

dari substrat pertumbuhannya atau dari lingkungannya (Gandjar &

Syamsurizal,2006).

Jamur dapat ditemukan di berbagai macam tanaman dan hewan

(Gandjar & Syamsurizal,2006; Malloch,1999). Masing-masing jamur

mempunyai karakteristik yang berbeda-beda tergantung dari substratnya.

Isolasi jamur adalah usaha untuk memisahkan satu atau beberapa jenis

jamur dari habitatnya untuk memperoleh isolate murni (Gandjar &

Syamsurizal,2006; Malloch,1999).

Ada beberapa macam teknik dan metode yang digunakan untuk

mengisolasi jamur. Menurut Dharmaputra, dkk. (1984) dalam bukunya

disebutkan ada dua kelompok teknik isolasi jamur tanah, yaitu teknik

selektif dan teknik non selektif. Sedangkan menurut Malloch (1999) ada

dua metode yang bisa digunakan untuk mengisolasi jamur, yaitu :

1. Metode langsung (direct methods)

Yaitu metode yang dilakukan dengan cara mengisolasi jamur

langsung dari habitat alaminya dengan menggunakan medium


9

pengkayaan sehingga diperoleh kultur murni yang dilakukan di

laboratorium.

2. Metode Selektif (selective methods)

Yaitu metode yang dilakukan dengan cara mengisolasi jamur dari

habitatnya dengan manggunakan medium selektif.

Metode yang digunakan untuk mengisolasi jamur endofit berbeda

dengan metode yang digunakan untuk mengisolasi jamur dari tanah, air

maupun dari udara. Karena jamur endofit adalah jamur yang hidup di

bagian dalam tumbuhan. Menurut Gandjar & Syamsurizal (2006) metode

untuk mengisolasi jamur endofit yaitu : bagian tumbuhan yang akan

diambil jamurnya bisa berupa daun, batang, ranting, cabang kecil, akar

atau umbi. Bagian tumbuhan dipotong secara aseptik dengan pisau

menjadi potongan-potongan berukuran kurang lebih 1 cm, kemudian

dicuci selama 10 menit dengan air kran yang mengalir. Permukaan

potongan disterilkan dengan cara merendamnya dalam alkohol 75 %

selama 2 menit. Selanjutnya dikeringkan dengan kertas tisu yang steril.

Sampel berupa cabang atau ranting dibelah menjadi dua dan setiap

potongan diletakkan di atas permukaan agar dengan bagian dalam dari

potongan tersebut menghadap langsung ke permukaan agar. Sampel

ditekan sedikit. Sesudah inkubasi jamur-jamur yang ada dalam sampel

akan tumbuh, meskipun masih bercampur satu dengan yang lain.

Setelah jamur tumbuh, bagian tumbuhan yang berjamur tersebut

dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer dengan aquades steril, dikocok

agar terbentuk suspensi spora atau hifa. Dengan menggunakan jarum ose
10

suspensi tersebut digoreskan di atas permukaan medium agar dalam cawan

petri.

Sesudah diinkubasi selama 2-7 hari pada suhu yang sesuai, jamur

akan tumbuh. Koloni-koloni yang tumbuh tunggal dipilih yang

representatif dan dipindahkan ke dalam medium cawan yang lain.

Disarankan untuk langsung menyentuhkan jarum ose tajam sebentar ke

agar kemudian ke koloni yang bersporulasi, selamjutnya jarum tersebut

disentuhkan ke medium agar yang baru.

Kemudian setelah koloni betul-betul murni, jamur dipindahkan ke

dalam tiga tabung reaksi berisi medium padat yang sesuai, yaitu satu

tabung disimpan sebagai stock culture pada suhu 4° C, dan dua tabung

lainnya untuk working culture.

B. Karakteristik dan Morfologi Jamur

Jamur merupakan kelompok organsime eukariotik yang membentuk

dunia jamur atau regnum fungi (Frazier & Weshoff,1998). Jamur pada

umumnya multiseuler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan

organisme lainnya dalam cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan

reproduksnya (Anonim,2007; Fardiaz,1993; Gandjar &

Syamsurizal,2006).

Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang yang berbentuk

filament panjang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut

miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadu tubuh buah.

Jamur tidak dimasukkan ke dalam kerajaan tumbuhan dikarenakan jamur

tidak mempunyai klorofil, sehingga jamur dimasukkan ke dalam kerajaan


11

fungi (Anonim,2007; Fardiaz,1993; Frazier & Weshoff,1998; Gandjar &

Syamsurizal,2006; Malloch,1999).

Untuk dapat mengetahui klasifikasi jamur, maka harus dilakukan

identifikasi terhadap jamur tersebut. Menurut Wuczkowski M. et al.

(2007) bahwa karakteristik dari morfologi dan fisiologi jamur –

makroskopik atau mikroskopik – sangat penting untuk mengidentifikasi

jamur. Karena masing-masing spesies jamur mempunyai karakteristik dan

morfologi yang berbeda-beda.

Morfologi makroskopik yang biasa digunakan dalam identifikasi

jamur adalah morfologi koloni. Sebagai contoh seperti pada gambar di

bawah ini.

Gambar 1. Morfologi koloni Aspergillus pada media CYE dan MEA pada
suhu 25˚C. (A-B) A. Aculeatinus, (C-D) A. Aculeatus.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengamati morfologi koloni suatu

jamur yaitu :

1. Warna permukaan koloni, yang mencakup

miselium vegetatif dan konidia.

2. Pigmentasi miselium. Pigmen-pigmen yang

dihasilkan oleh jamur adalah metabolit

sekunder. Sehingga pigmen-pigmen ini tidak

termasuk senyawa yang dimiliki oleh semua


12

spesies jamur.

3. Waktu pertumbuhan dan diameter koloni.

Pada setiap spesies untuk mencapai waktu

pertumbuhan dan dimeter maksimum koloni

berbeda-beda. Ada yang cepat, lambat dan

sangat lambat. Ukurannya ada yang kecil,

sedang dan besar. Waktu pertumbuhan dan

diameter koloni dipengaruhi oleh medium

(spesifik) yang digunakan.

4. Bentuk tepi koloni (gambar 2). Beberapa

koloni mungkin mempunyai bentuk tepi

yang rata, berlobus, berlekuk, dan

meruncing.

Gambar 2. Bentuk tepi koloni jamur atau bakteri (Hendrix, J.D, 2007).
5. Tekstur permukaan. Bentuk-bentuk tekstur

permukaan koloni antara seperti kapas, licin,

padat (compact), dan kasar.

6. Bentuk koloni (gambar 3). Bentuk koloni

ada yang bulat, oval, tak beraturan dan

berfilament.
13

Gambar 3. Bentuk koloni jamur atau bakteri (Hendrix, J.D, 2007).

Selain morfologi koloni, karakteristik yang sangat penting untuk

identifikasi jamur adalah morfologi sel (mikroskopis). Untuk dapat

mengamati bentuk dan morfologi sel jamur diperlukan preparat jamur

dalam larutan laktofenol. Preparat tesebut diamati di bawah mikroskop

untuk melihat bentuk dan warna bagian tubuh jamur seperti miselium,

rhizoid, sporangiofor, sporangium, kolumela, sporangiospora,

klamidospora, stolon, konidia, konidiospora, fesikel, dan lainnya

(Surbakti, S., 2005; Wuczkowski M. et al., 2007).

Jamur penghasil amilase adalah jenis jamur yang mampu

menghasilkan enzim yang mampu merombak pati menjadi glukosa.

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Indriani (2001) jamur

penghasil enzim amilase dapat diisolasi dari limbah tapioka, jamur-jamur

tersebut antara lain dari genus Aspergillus, Rhizopus, dan Humicola. Selain

itu disebutkan juga oleh Suherman & Deni (2004) bahwa Aspergillus

mampu memproduksi enzim glukoamilase. Campos & Felix (1995)

melaporkan juga bahwa Humicola grisea mampu menghasilkan

glukoamilase.
14

C. Enzim Amilase

Enzim adalah molekul biopolimer yang tersusun dari serangkaian

asam amino dalam komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap.

Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi di dalam sel.

Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk

mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme

pertahanan sel (Richana, 2000).

Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang dihasilkan

oleh sel.Enzim sangat penting dalam kehidupan, karena semua reaksi

metabolisme dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim, atau aktivitas

enzim terganggu maka reaksi metabolisme sel akan terhambat hingga

pertumbuhan sel juga terganggu (Irfani,2007).

Enzim adalah satu atau beberapa gugus polipeptida (protein) yang

berfungsi sebagai biokatalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi

tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Enzim bekerja dengan cara

menempel pada permukaan molekul zat-zat yang bereaksi dan dengan

demikian nmempercepat proses reaksi. Percepatan terjadi karena enzim

menurunkan energi pengaktifan yang dengan sendirinya akan

mempermudah terjadinya reaksi. Sebagian besar enzim bekerja secara

khas, yang artinya setiap jenis hanya dapat bekerja pada satu macam

senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia

tiap enzim yang bersifat tetap. Sebagai contoh, enzim α -amilase hanya

dapat digunakan pada proses perombakan pati menjadi glukosa (Anonim,

2006a).
maltosa
amilum glukosa
maltosa
amilase
maltase

15

Hidrolase merupakan enzim-enzim yang menguraikan suatu zat

dengan pertolongan air. Hidrolase dibagi atas kelompok kecil berdasarkan

substratnya yaitu :

1. Karbohidrase, yaitu enzim-enzim yang


menguraikan golongan karbohidrat.
Kelompok ini masih dipecah lagi menurut karbohidrat yang
diuraikannya, misal :
a. Amilase, yaitu enzim yang menguraikan amilum (suatu
polisakarida) menjadi maltosa 9 suatu disakarida).

2 (C6H10O5)n + n H2O n C12H22O11

b. Maltase, yaitu enzim yang menguraikan maltosa menjadi glukosa

C12H22O11 + H20 2 C6H12O6

c. Sukrase, yaitu enzim yang mengubah sukrosa (gula tebu) menjadi


glukosa dan fruktosa.
d. Laktase, yaitu enzim yang mengubah laktase menjadi glukosa dan
galaktosa.
e. Selulase, emzim yang menguraikan selulosa ( suatu polisakarida)
menjadi selobiosa ( suatu disakarida)
f. Pektinase, yaitu enzim yang menguraikan pektin menjadi asam-
pektin (Irfani,2007).

Salah satu enzim yang berperan dalam menghidrolisis pati menjadi

glukosa adalah enzim amilase, terutama α -amilase dan glukoamilase.

Enzim α -amilase bekerja menghidrolisis ikatan α -1,4 secara acak di


16

bagian dalam molekul baik pada amilosa maupun amilopektin. Hasil

hidrolisis α -amilase mula-mula akan menghasilkan dekstrin, dekstrin

tersebut kemudian dipotong-potong lagi menjadi campuran antara glukosa,

maltosa, maltotriosa, dan ikatan lain yang lebih panjang (Melliawati, R

dkk. ,2006).

Enzim glukoamilase atau sering disebut amiloglukosidase atau α -

1,4-glukano glukohidrolase merupakan enzim ekstraseluler yang mampu

menghidrolisis ikatan α -1,4 pada rantai amilosa, amilopektin, glikogen,

dan pullulan. Enzim glukoamilase juga dapat menyerang ikatan α -1,6

pada titik percabangan, walaupun dengan laju yang lebih rendah. Hal ini

berarti bahwa pati dapat diuraikan secara sempurna menjadi glukosa

(Josson et al., 1992; Soebiyanto, 1986; DeMan, 1997 dalam Melliawati, R

dkk. ,2006).

Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul

pati dan glikogen. Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-

glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1, 4 dan alfa-, 6

glikosida. Secara umum, amilase dibedakan menjadi tiga berdasarkan hasil

pemecahan dan letak ikatan yang dipecah, yaitu alfa-amilase, beta-amilase,

dan glukoamilase (Richana, 2000).

Secara umum, enzim amilase mempunyai struktur molekul sebagai

berikut :
17

Gambar 4. Struktur enzim amilase (Anonim,2008).

Enzim amilase digunakan untuk menghidrolisis pati menjadi suatu

produk yang larut dalam air serta mempunyai berat molekul rendah yaitu

glukosa. Enzim ini banyak digunakan pada industri minuman misalnya

pembuatan High Fructose Syrup (HFS) maupun pada industri tekstil

(Anonim,2006b).

D. Ubi Jalar

Ubi jalar atau ubi jalar atau "sweet potato" diduga berasal dari benua

amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal

tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian

tengah. Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani soviet, memastikan

daerah sentrum primer asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah. Ubi

jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim

tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke


18

kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia (Bali Post.com,

2003).

Plasma nutfah (sumber genetik) tanaman ubi jalar yang tumbuh di

dunia diperkirakan berjumlah lebih dari 1000 jenis, namun baru 142 jenis

yang diidentifikasi oleh para peneliti. Di beberapa daerah tertentu, ubi

jalar merupakan salah satu komoditi bahan makanan pokok. Ubi jalar

merupakan komoditi pangan penting di Indonesia dan diusahakan

penduduk mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi.

Tanaman ini mampu beradaptasi di daerah yang kurang subur dan kering.

Dengan demikian tanaman ini dapat diusahakan orang sepanjang tahun

(Bali Post.com, 2003).

Produktivitas ubi jalar selain ditentukan oleh faktor lingkungan

tumbuh juga dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi varietas terhadap

lingkungan. Penggunaan varietas yang berbeda pada satu lingkungan

tumbuh yang sama akan memberikan gambaran terhadap kemampuan

adaptasi suatu varietas, sehingga untuk mendapatkan varietas dengan

kemampuan berproduksi yang baik, sebaiknya dilakukan uji adaptasi

terhadap varietas yang akan dicoba. Di Indonesia, khususnya Bali,

sedikitnya terdapat 75 jenis tanaman umbi-umbian yang umumnya

mengandung protein tinggi, yang secara tidak langsung mampu

menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain kanker dan penyakit

diabetis.

"Dalam umbi-umbian itu mengandung `antiosiamnin` yang sangat

baik bagi kesehatan dan tidak terdapat dalam beras atau gandum". Ubi
19

jalar misalnya, mengandung protein melebihi kentang yakni kalorinya 123

setiap 100 gram, sementara kentang hanya 83 per 100 gram. Sedangkan

kandungan karbohidratnya 27,9 dan kentang hanya 19,1. Demikian pula

kandungan kalsium ubi jalar mencapai 30, sementara kentang hanya 11

setiap 100 gramnya. Protein ubi jalar hampir sama dengan suweg, yang

belakangan jarang ditanam petani, padahal dulunya merupakan makanan

ringan masyarakat Bali (Gatra.Com, 2004).

Ubi jalar (Ipomea batatas L) merupakan salah satu komoditas

tanaman pangan penghasil karbohidrat, protein, lemak, serat yang tinggi

diantara ubi-ubian (Tabel 1). Selain untuk pangan, ubi jalar juga

digunakan untuk pakan, bahan baku industri pembuatan tepung, gula cair,

makanan ternak, alkohol, dan makanan siap saji. Sedangkan umbi segar

juga telah di ekspor ke Singapura, Malaysia dan Jepang (Widodo et al.,

1996).

Tabel 1. Kandungan Utama Tiap 100 Gram Umbi-Umbian dan Padi

Tanama Bahan kering (t Energi


n ha-1 ) Berdasarkan berat kering (%) (kj)
Karbohid
Protein Lemak Serat
rat
Ubi 30 85,5 5,0 1,0 3,3 479
Jalar 40 92,5 1,8 0,5 2,5 643
Ubi 30 83,8 6,6 - 1,7 475
Kayu 88 88,6 8,0 0,9 0,2 1.478
Talas
Padi
Sumber: (Widodo et al., 1996).

Dalam dunia tumbuhan, ubi jalar mempunyai taksonomi sebagai


20

berikut :

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Solanales
Famili: Convolvulaceae
Genus: Ipomoea
Spesies: I. batatas
Nama binomial Ipomoea batatas L

Sumber Anonim,2008b
(http://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_jalar )

Ubi jalar merupakan tanaman ubi-ubian dan tergolong tanaman

semusim (berumur pendek). Tanaman ubi jalar tumbuh menjalar pada

permukaan tanah dengan panjang tanaman dapat mencapai 3 meter. Ubi

jalar berbatang lunak, tidak berkayu, berbentuk bulat, dan teras bagian

tengah bergabus. Batang ubi jalar beruas-ruas dengan panjang antar ruas 1

– 3 cm. Daun ubi jalar berbentuk bulat hati, bulat lonjong, dan bulat

runcing, tergantung pada varietasnya. Daun yang berbentuk bulat hati

memiliki tepi daun rata, berlekuk dangkal, atau menjari. Daun yang

berbentuk bulat lonjong (oval) memiliki tepi daun rata, berlekuk dangkal

atau berlekuk dalam (Widodo.J.,1986; Juanda & Cahyono,2000).


21

Gambar 5. Umbi ubi jalar (Ipomoea batatas) (Watari, Shunji,2008)

Ubi jalar mempuyai bunga (gambar 6) yang berbentuk terompet yang

panjangnya antara 3 – 5 cm dan lebar bagian ujung antara 3 – 4 cm.

Mahkota bunga berwarna ungu keputih-putihan dan bagian dalam mahkota

bunga (pangkal sampai ujung) berwarna ungu muda. Bunga ubi jalar

membentuk karangan tiga hingga tujuh bunga. Buah ubi jalar berkotak

tiga. Buah akan tumbuh setelah terjadi penyerbukan. Penyerbukan bisa

secara silang atau sendiri (Juanda & Cahyono,2000).

Gambar 6. Bunga ubi jalar (Ipomoea batatas) (Anonim,2008b).

Umbi tanaman ubi jalar merupakan bagian yang dimanfaatkan untuk

bahan makanan. Umbi tanaman ubi jalar memiliki tunas yang dapat
22

tumbuh menjadi tanaman baru (Widodo,1986 dalam Juanda &

Cahyono,2000). Umbi tanaman ubi jalar memiliki ukuran, bentuk, warna

kulit, dan warna daging yang bermacam-macam tergantung pada

varietasnya. Ukuran umbi ada yang besar ada juga yang kecil. Bentuk

umbi tanaman ubi jalar ada yang bulat, bulat lonjong (oval), dan bulat

panjang. Kulit umbi ada yang berwarna putih, kuning, ungu, jingga, dan

merah. Demikian juga daging umbinya, ada yang berwarna putih, kuning,

jingga, dan ungu muda (Juanda & Cahyono,2000)

Menurut Juanda & Cahyono (2000). Ubi jalar merupakan sumber

karbohidrat dan sumber kalori (energi) yang cukup tinggi. Kandungan

karbohidrat ubi jalar menduduki peringkat keempat setelah padi, jagung

dan ubi kayu.


23

BAB III

PEMBAHASAN

Ubi jalar adalah salah satu komoditi pertanian yang mampunyai

kandungan karbohidrat cukup tinggi. Sebagaimana dilaporkan oleh Juanda

& Cahyono (2000). Bahkan kandungan karbohidratnya menduduki

peringkat keempat setelah padi, jagung dan ubi kayu.


19
Enzim amilase adalah enzim yang mampu merombak pati (amilum)

menjadi glukosa. Enzim ini sebagaimana disebutkan oleh Melliawati, R

dkk. (2006) adalah salah satu enzim yang berperan dalam menghidrolisis

pati menjadi glukosa, terutama α -amilase dan glukoamilase. Enzim α -

amilase bekerja menghidrolisis ikatan α -1,4 secara acak di bagian dalam

molekul baik pada amilosa maupun amilopektin. Hasil hidrolisis α -

amilase mula-mula akan menghasilkan dekstrin, dekstrin tersebut

kemudian dipotong-potong lagi menjadi campuran antara glukosa,

maltosa, maltotriosa, dan ikatan lain yang lebih panjang.

Enzim glukoamilase atau sering disebut amiloglukosidase atau α -

1,4-glukano glukohidrolase merupakan enzim ekstraseluler yang mampu

menghidrolisis ikatan α -1,4 pada rantai amilosa, amilopektin, glikogen,

dan pullulan. Enzim glukoamilase juga dapat menyerang ikatan α -1,6

pada titik percabangan, walaupun dengan laju yang lebih rendah. Hal ini

berarti bahwa pati dapat diuraikan secara sempurna menjadi glukosa

(Josson et al., 1992; Soebiyanto, 1986; DeMan, 1997 dalam Melliawati, R

dkk. ,2006).

Richana (2000) juga menyebutkan bahwa enzim amilase mempunyai


24

kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen. Molekul

pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh

enzim pada ikatan alfa-1, 4 dan alfa-, 6 glikosida. Secara umum, amilase

dibedakan menjadi tiga berdasarkan hasil pemecahan dan letak ikatan yang

dipecah, yaitu alfa-amilase, beta-amilase, dan glukoamilase.

Adapun struktur enzim amilase secara umum adalah sebagai berikut :

Gambar 7. Struktur enzim amilase (Anonim,2008a).

Enzim amilase sebagaimana halnya dengan enzim-enzim yang lain

dapat dihasilkan oleh hewan, tumbuhan dan mikroorganisme. Dengan

berkembangnya ilmu pengetahuan. Maka produksi enzim sekarang lebih

diutamakan dari mikroorganisme. Karena produksi enzim dari

mikroorganisme mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan


25

produksi enzim dari hewan atau tumbuhan.

Beberapa keuntungan produksi enzim dari mikroorganisme antara

lain :

1. Perkembangbiakan

mikroorganisme tidak

memerlukan waktu

yang lama.

2. Tidak memerlukan

tempat yang luas

(cukp dalam petridisk

atau tabung reaksi).

3. Lebih mudah dalam

pemeliharaan dan

menghemat biaya.

Dari sekian banyak mikroorganisme yang mampu menghasilkan

enzim amilase, salah satunya adalah jamur. Jamur penghasil amilase

adalah jenis jamur yang mampu menghasilkan enzim yang mampu

merombak pati menjadi glukosa. Menurut hasil penelitian yang telah

dilakukan oleh Indriani (2001) jamur penghasil enzim amilase dapat

diisolasi dari limbah tapioka, jamur-jamur tersebut antara lain dari genus

Aspergillus, Rhizopus, dan Humicola. Selain itu disebutkan juga oleh

Suherman & Deni (2004) bahwa Aspergillus mampu memproduksi enzim

glukoamilase. Campos & Felix (1995) melaporkan juga bahwa Humicola

grisea mampu menghasilkan glukoamilase.


26

Untuk membuktikan bahwa suatu spesies jamur mampu

menghasilkan enzim amilase maka perlu dilakukan uji aktivitas amilolitik

dari spesies tersebut. Seleksi isolat amilolitik dilakukan dengan

menyeleksi pertumbuhan dan luas zona jernih yang

dihasilkan oleh isolat-isolat yang ditumbuhkan dalam

media PSA (Potato Starch Agar). Koloni dari kapang endofit

pada media agar cawan PDA yang berumur 3 hari dicetak

menggunakan lubang ampul steril dengan diameter ampul

± 0,8 cm. Cetakan tersebut kemudian diambil dan

dipindahkan ke media PSA dalam cawan Petri

menggunakan jarum ose secara aseptis dan selanjutnya

diinkubasi pada suhu kamar selama 72 jam. Larutan iodine

diteteskan ke dalam media PSA dalam cawan petri untuk

melihat adanya zona jernih.


27

Gambar 8. Contoh koloni jamur yang menunjukkan adanya


aktivitas amilolitik, yaitu dengan adanya zona bening.

Zona bening seperti yang ditunjukkan pada gambar 5 diakibatkan

adanya aktivitas amilolitik yang dilakukan oleh enzim yang dihasilkan

jamur tersebut. Zona jernih terjadi karena terhidrolisisnya pati menjadi

senyawa yang lebih sederhana (glukosa). Tiga puluh tiga isolate (89,2%)

mampu tumbuh pada media PSA, 18 isolat (48,6%) di antaranya selain

mampu tumbuh pada media PSA juga mampu menghasilkan enzim

amilolitik yang ditandai dengan terbentuknya zona jenih, dan 4 isolat

(10,8%) tidak mampu tumbuh pada media PSA. Isolat-isolat kapang yang

mampu tumbuh dan membentuk zona jernih pada media PSA, merupakan

kapang endofit yang memiliki enzim amilase yang disekresikan ke dalam


28

medium secara berlebihan (Melliawati dan Sukara, 1989).

2. Produksi Enzim amilase dari Aspergilus

Aspergillus niger adalah kapang anggota genus Aspergillus, famili

Eurotiaceae, ordo Eurotiales, sub-klas Plectomycetidae, klas Ascomycetes,

sub-divisi Ascomycotina dan divisi Amastigmycota (Hardjo et al., 1989).

Borris, (1987) melaporkan bahwa Aspergillus niger potensial dalam

memproduksi α-amylase dan amiloglukosidase dalam suatu medium yang

mengandung pati sebagai sumber karbonnya.

Glukoamilase (amiloglukosidase) telah diisolasi dari Aspergillus

oryzae dan Sacharomycopsis fibuligera (Futatsugi et al., 1993). Enzim ini

merupakan enzim yang dapat memecah polisakarida (pati, glikogen, dan

lain-lain) pada ikatan α-1,4 dan β-1,6 dan menghasilkan glukosa. Glukosa

yang dihasilkan dapat diukur dengan cara penentuan gula pereduksi

dengan metode Smogy–Nelson, Luff rhroll. (Darwis dan Sukara, 1990).

Penggunaan enzim glukoamilase sebagai katalisator reaksi-reaksi biologi

dalam bidang pangan dan nonpangan telah memberikan manfaat dan

keuntungan bagi manusia. Glukoamilase banyak digunakan dalam industri

gula cair dan beer (Frazier dan Westhoff, 1988).

Kemajuan teknologi fermentasi telah meningkatkan hasil produksi

glukoamilase dari kapang, khamir, maupun bakteri. Hasil penelitian

Fukuda et al. (1992) menunjukkan bahwa enzim glukoamilase dari suatu

protease dan glikosidase-negatif mutan F-2035 dari Aspergillus awamori

var, kawachi dapat mencerna pati jagung mentah dua kali lebih cepat dari

glukoamilase lainnya.
29

Untuk lebih mengenal tentang jamur Aspergillus, maka perlu untuk

mengetahui taksonomi dari jamur Aspergillus. Taksonomi dari jamur

Aspergillus adalah sebagai berikut.

Kingdom: Fungi
Phylum: Ascomycota
Class: Eurotiomycetes
Order: Eurotiales
Family: Trichocomaceae
Genus: Aspergillus
Species Aspergillus caesiellus
Aspergillus candidus
Aspergillus carneus
Aspergillus clavatus
Aspergillus deflectus
Aspergillus flavus
Aspergillus fumigatus
Aspergillus glaucus
Aspergillus nidulans
Aspergillus niger
Aspergillus ochraceus
Aspergillus oryzae
Aspergillus parasiticus
Aspergillus penicilloides
Aspergillus restrictus
Aspergillus sojae
Aspergillus sydowi
Aspergillus tamari
Aspergillus terreus
Aspergillus ustus
Aspergillus versicolor (wikipedia.com, 2008)

Pada taksonomi di atas, tidak semua spesies Aspergillus diikutsertakan.

Karena tidak semua spesies jamur Aspergillus mampu menghasilkan

enzim amilase.

Aspergillus sangat mudah dikenali, baik dari morfologi selnya

maupun dari morfologi koloninya. Genus Aspergillus mempunyai

morfologi sel seperti pada gambar di bawah ini.


30

Gambar 10. Morfologi sel Aspergillus. a. Vesikel, b. Metulae, c. Spora


(Malloch,1999).

Aspergillus niger mempunyai kepala pembawa konidia yang besar,

dipak secara padat, bulat dan berwarna hitam coklat atau ungu coklat.

Kapang ini mempunyai bagian yang khas yaitu hifanya bersepta, spora

yang bersifat seksual dan tumbuh memanjang di alas stigma, mempunyai

sifat aerobik, sehingga dalam pertumbuhannya memerlukan oksigen yang

cukup. Aspergillus niger termasuk mikroba mesofilik dengan pertumbuhan

maksimum pada suhu 35 °C - 37 °C. Derajat keasaman untuk

pertumbuhannya adalah 2 - 8,5 tetapi pertumbuhan akan lebih baik pada

kondisi keasaman atau pH yang rendah (Fardiaz, 1989).

Sedangkan untuk morfologi koloni dari jamur Aspergillus. Di bawah

ini adalah beberapa gambar morfologi koloni dari beberapa spesies

anggota genus Aspergillus (Samson et. al,2007).


31

Gambar 11. Morfologi koloni dari (A–B) A. Aculeatinus, (C–D) A.


Aculeatus, (E–F) A. brasiliensis, (G–H) A. carbonarius.

Gambar 12. Morfologi koloni dari (I–J) A. costaricaensis, (K–L) A.


ellipticus, (M–N) A. foetidus, (O–P) A. japonicus.
32

Gambar 13. Morfologi koloni dari (Q–R) A. heteromorphus, (S–T) A.


homomorphus, (U–V) A. ibericus, (W–X) A. lacticoffeatus.

Gambar 14. Morfologi koloni dari (A–B) A. niger, (C–D) A. piperis, (E–
F) A. sclerotiicarbonarius, (G–H) A. Sclerotioniger.

Gambar 15. Morfologi koloni dari (I–J) A. tubingensis, (K–L) A. uvarum,


(M–N) A. vadensis.
33

3. Produksi enzim amilase dari Rhizopus.

Kapang dari genus rhizopus adalah salah satu kapang yang mampu

menghasilkan enzim amilase. Sebagaimana dilaporkan oleh Peixoto et.al

(2003), bahwa Rhizopus microsporus var. rhizopodiformis mampu

menghasilkan enzim amylase yang stabil terhadap panas (enzim amylase

termostabil). Aktivitas dari enzim amylase yang termostabil dari Rhizopus

microsporus var. rhizopodiformis ditunjukkan pada grafik (gambar 16).

Enzim amylase yang termostabil sangat penting dalam bioteknologi

dan industri. Karena pada industri yang berbasis enzim biasanya akan

beroperasi pada suhu yang agak tinggi. Sehingga enzim yang dihasilka

oleh Rhizopus microsporus var. rhizopodiformis aka sangat bermanfaat

dalam industri maupun bioteknologi.

Gambar 16. Grafik aktivitas amilolitik rhizopus sp. terhadap suhu

Peixoto et.al (2003).


34

Untuk memperoleh kapang dari genus rhizopus sp. yang mampu

menghasilkan enzim amylase maka perlu dilakukan skrining atau

penelusuran, identifikasi dan uji coba terhadap isolate rhisopus.

Untuk mengidentifikasi kapang dari genus rhizopus, maka perlu

diketahui cirri-ciri morfologi dan fisiologi dari jamur yang akan

diidentifikasi. Sebagaimana disbutkan oleh Wuczkowski M. et al. (2007)

bahwa karakteristik dari morfologi dan fisiologi jamur – makroskopik atau

mikroskopik – sangat penting untuk mengidentifikasi jamur. Karena

masing-masing spesies jamur mempunyai karakteristik dan morfologi

yang berbeda-beda.

Merupakan kapang dan genus Rhizopus, famili Mucoraceae, ordo

Mucorales, sub-divisi Zygomycotina, divisi Eumycota (Fardiaz, 1989).

Kapang ini banyak digunakan dalam pembuatan tempe, dan banyak dapat

ditemukan di alam, karena hidupnya bersifat saprofit (Shurtleff dan Ayogi,

1979).

Adapun secara taksonomi, maka rhizopus sp. mempunyai klasifikasi

sebagai berikut :

Kingdom: Fungi
Division: Zygomycota
Class: Zygomycetes
Order: Mucorales
Family: Mucoraceae
Genus: Rhizopus
Species Rhizopus arrhizus
Rhizopus azygosporus
Rhizopus microsporus
Rhizopus nigricans
Rhizopus oligosporus
Rhizopus oryzae
Rhizopus schipperae
35

Rhizopus sexualis
Rhizopus stolonifer (wikipedia.com, 2008)

Rhizopus mempunyai koloni abu-abu kecoklatan dengan tinggi 1

mm atau lebih (gambar 17). Sporangiofor tunggal atau dalam kelompok

dengan dinding halus atau agak sedikit kasar, dengan panjang lebih dari

1000 µm dan diameter 10-18 µm. Sporangia globosa yang pada saat

masak berwarna hitam kecoklatan, dengan diameter 100-180 µm.

Gambar 17. Koloni hizopus spp.


36

Gambar 18. Morfologi sel rhizopus.

Rhizopus adalah kapang yang termasuk dalam ordo Mucorales dan

familia Mucoraceae (Alexopoulus et al,1996). Kapang termasuk ke dalam

zygomicetes mempunyai hifa tidak bersekat, berinti banyak (coenocitic),

dan melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reprofuksi secara

aseksual dilakukan dengan membentuk sporangiospora atau klamidospora,

yaitu spora yang memiliki dinding tebal yang terbentuk dari modifikasi

segmen hifa.
37

Gambar 19. Bagian-bagian sel Rhizopus (wikipedia.com, 2008).


Repoduksi seksual, yaitu dengan membentuk zygospora yang

terbentuk dari peleburan dua hifa yang kompatibel dan diselubungi oleh

dinding yang tebal. Kapang dari kelass zigomycetes tersebut dapat bersifat

heterotallic atau homotallic. Kapang disebut heterotallic apabila ada dua

strain yang kompatibel dapat melakukan perkawinan dan membentuk

zigospora. Kapang disebut homotallic apabilsa pembentukan zigospora

terjadi pada perkawinan satu koloni yang berasal dari satu spora.

Zigospora pada umumnya berwarna kuning, coklat atau kehitaman yang

diselubungi struktur seperti duri (spine) atau benjolan (warts) (Samson et

al,1995).
38

Gambar 20. Konidia Rhizopus sp

Kolumela globosa sampai sub globosa dengan apofisa apofisa

berbentuk corong. Ukuran sporangiospora tidak teratur dapat globosa atau

elip dengan panjang 7-10 µm. Klamidospora banyak, tunggal atau rantaian

pendek, tidak berwarna, dengan berisi granula, terbentuk pada hifa,

sporangiofor dan sporangia. Bentuk klamidospora globosa, elip atau

silindris dengan ukuran 7-30 µm atau 12-45 µm x 7-35 µm.

Suhu optimum, minimum, maksimum berturut-turut adalah 30-35o C,

12 oC dan 42 oC. Ditemukan di Jepang, China dan Indonesia yang diisolasi

dari tempe (Samson, et al., 1995). Pitt dan Hocking (1985) R.oligosporus

memiliki panjang sporangiosfor pada media Malt Extract Agar (MEA)

150-400 µm lebih pendek dari R.oryzae yaitu lebih dari 1500 µm.

R.oligosporus biasanya memiliki rhizoid yang pendek, sporangium dengan

diameter 80 –120 µm dan pada saat 7 hari akan pecah yang menyebabkan

spora keluar kolumela dengan diameter 25-75 µm. Sedangkan R.oryzae


39

memiliki diameter sporangium lebih dari 150 µm, kolumela dengan

diameter lebih dari 100 µm. Beberapa sifat penting dari R. oligosporus

antara lain meliputi aktivitas enzimatiknya, kemampuan menghasilkan

antibiotika, biosintesa vitamin-vitamin B, kebutuhannya akan senyawa

sumber karbon dan nitrogen, perkecambahan spora, dan penetrisi miselia

jamur tempe ke dalam jaringan biji kedelai (Kasmidjo, 1990).

4. Produksi Enzim amilase dari Humicola

Produksi enzim dari humicola sp. banyak dilaporkan oleh para

peneliti dari Brazil. Sebagaimana dilaporkan oleh Campos & Felix (1995)

dengan penelitian untuk memurnikan dan mengkarakterisasi glukoamilase

yang dihasilkan oleh Humicola grisea.

Mereka melakukan penelitian tersebut karena H. grisea termasuk

jamur yang bersifat termofilik. Sehingga diharapkan enzim yang

dihasilkan juga bersifat termostabil. Artinya enzim tersebut mampu

bekerja dengan stabil pada suhu tinggi. Disebutkan oleh Campos & Felix

(1995) bahwa amilase yang dihasilkan oleh H.grisea mampu bekerja pada

suhu di atas 42º C.

Darwis dan Sukara (1990) yang dikutip oleh Kombong (2004)

menyatakan bahwa enzim glukoamilase ini merupakan enzim yang dapat

memecah polisakarida (pati dan glikogen) pada ikatan α -1,4 dan β -1,6

dan menghasilkan glukosa. Glukosa yang dihasilkan dapat diukur dengan

cara penentuan glukosa pereduksi dengan metode Smogy-Nelson.

Glukoamilase adalah salah satu derivat dari enzim amilase. Enzim


40

amilase banyak digunakan dalam industri gula cair, makanan, industri

tekstil, dan industri farmasi. Sehingga penelitian-penelitian untuk

menemukan spesies-spesies jamur yang mampu menghasilkan enzim

amilase ataupun derivatnya menjadi sangat penting. Apalagi jika enzim

tersebut mampu menghidrolisis pati metah secara cepat dan dapat bekerja

stabil pada suhu yang tinggi atau termostabil.


36 41

BAB III

PENUTUP

Dari uraian di atas, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa isolasi

dan identifikasi jamur penghasil enzim amilase sangat penting. Karena

dengan diketahuinya jamur penghasil amilase, maka produksi enzim ini

dapat ditingkatkan dan dimaksimalkan.

Sebagaimana dijelaskan bahwa enzim amilase sangat penting dalam

bidang industri, bioteknologi, maupun dalam dunia kesehatan. Dari uraian

di atas, jamur yang mampu menghasilkan enzim amilase antara lain dari

genus Aspergillus, Rhizopus dan dari genus Humicola.


42

DAFTAR PUSTAKA

Alexopoulus C.J. & Mims C.W. 1979.”Introductory Micology”. New York: John
Wiley & Son’s.

Anonim, 2006a. Enzim. Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa


Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Enzim

Anonim, 2006b. Enzim.


http://www.biotek.lipi.go.id/index.php?option=content&task=view&id=
36

Anonim,2007. Ciri-ciri Umum dan Klasifikasi Jamur.


http://www.praweda.co.id/ciri-ciri_umum_jamur.html

Anonim,2008a. Amylase. http://en.wikipedia.org/wiki/Amylase#.CE.B2-Amylase

Anonim,2008b. Ubi jalar. http://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_jalar

Borris, Rainer, 1987. Biological Role of Enzymes. In: Rehm HJ and Reed G, eds.
Biotechnology. Vol. VIIa. UCH, Germany.

Campos & Felix. 1995. Purification and Characterization of a Glucoamylase from


Humicola grisea. Applied and Environmental Microbiology, June 1995,
p.2436-2438.

Carlile, M.J & S.C. Watkinson. 1994. The Fungi. Academic Press. London.

Crueger, W. & A. Crueger. 1982. Biotechonolgy : A Text Book of Industrial


Microbiology. Sineur Association, Inc. Sunderland, PP 308.

Darwis, A.A,. & Sukara, E. 1990. Isolasi, Purifikasi dan Karakterisasi Enzim.
Penuntun Praktikum. Depdikbud. Dikti. PAU-Biotek IPB. Bogor.

DeMan JM, 1997. Kimia makanan. Penerjemah: Prof. Dr. Kosasih Padmawinata.
ITB. Bandung.

Dharmaputra, S. Oldy, Gunawan, Numpiati. 1984. Mikrobiologi Dasar. Penuntun


Praktikum. Penelaah H.S. Sutarni Tjitrosoma. Depdikbud. Dikti. PAU-
Ilmu Hayat IPB. Bogor.

Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi


Pusat Antar Universitas Institut Pertanian Bogor.

Fardiaz, 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Penerbit Gramedia Pustaka Utama.


Jakarta.
43

37
Fardiaz, 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. Penerbit Raja Grafindo
Persada.Jakarta.

Frazier, W.C. dan Weshoff, D.C. 1998. Food Mycrobiology. Mc Graw Hill
Publishing Co. Ltd. New York.

Fukuda, Y.K., Teramoto, dan S. Hayashida. 1992. The Hyperdigestion of Raw


Srachby a Caborhydraterich Glucomalase from a Protease and
Glycosidase-negative Mutant of Aspergillus awomori var. kawachi F-
2035. J. Biosci. Biotecch. Biochem. 56 (1) : 8-12.

Futatsugi, M.T., Ogaw, & H. Fukada. 1993. Purification and Properties of Two
Forme Glucoamylase from Saccharomycopsis. J. Ferment. Boen. 76(6) :
521-523.

Gandjar, I., & W. Syamsurizal. 2006. Mikologi Dasar dan Terapan. Yayasan Obor
Indonesia. Jakarta.

Hardjo, S., N.S. Indrasti, B. Tajuddin. 1989. Biokonveksi : Pemanfaatan Limbah


Industri Pertanian. Pusat Antar Universitas Pangan clan Gizi. IPB.

Hendrix, J.D. 2007. Eubacteria.


http://science.kennesaw.edu/biophys/biodiversity/eubacteria/eubacter.ht
m

Indriani, Dewi I. 2001. Isolasi dan Penapisan Jamur Penghasil Glukoamilase I dari
Limbah Tapika untuk Produksi Glukosa Cair dari Substrat Pati Mentah
Ubi Jalar (Ipomoea batatas Lenk.) dan Ganyong (Canna edulis Kerr.)
http://digilib.bi.itb.ac.id/go.php?id=jbptitbbi-gdl-s1-2001-
dewiineindriani-985v

Irfani, 2007. ENZIM. http://achmadirfani.files.wordpress.com/2007/11/enzim.doc

Josson L.M, Coronel LM, Mercado BB, De Leon ED, Mesina OG,Lozano AM,
dan Bigol MB, 1992. Strain Improvement of Aspergillus oryzae for
Glucoamylase Production. Asean Journal on Science and Technology for
Development. 9(1): 101–116.

Juanda & Cahyono. 2000. Ubi Jalar, Budi Daya dan Analisis Usaha Tani.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Kasmidjo, R.B. 1990. Tempe : Mikrobiologi dan Biokimia Pengolahan serta


Pemanfaatannya. PAU Pangan dan Gizi. UGM, Yogyakarta.

Kombong, Hermin. 2004. Evaluasi Daya Hidrolitik Enzim Glukoamilase dari


Filtrat Kultur Aspergillus niger. Jurnal ILMU DASAR. Vol. 5 No. I 2004
: 16-20

Maheswari, Rames. 2005. Fungi : Experimental Model in Biology. CRC Press.


Taylor & Francis Group. New York.
44

Malloch, David, 1997. Moulds, Isolation, Cultivation and Identivication Methods.


Departement of Biology University of Toronto. Toronto.
http://http://www.botany.utoronto.ca/ResearchLabs/MallochLab/Malloch
/Moulds/Moulds.html

Melliawati, R., R.S. Suherman, B. Subardjo. 2006. Pengkajian Kapang Endofit


dari Taman Nasional Gunung Halimun sebagai Penghasil Glukoamilase.
Berkala Penelitian Hayati: 12 (19–25), 2006

Moore-Landecker, E, 1996. Fundamentals of the Fungi. 4th Edition. Prentice Hall


International, Inc., New Jersey, PP. 574.

Peixoto. S.C, J.A. Jorge, H.F. Terenzi Maria de Lourdes T.M. Polizeli. 2003.
Rhizopus microsporus var. rhizopodiformis : a thermotolerant fungus
with potential for production of thermostable amylases. Research Aticle.
Int Microbiol. Brazil

Pitt, J.I. and A.D Hocking,. 1985. Fungi and Food Spoilage. Academic Press,
Australia.

Raper, K.B, and D.I. Fanell. 1965. The Genus Aspergillus. The William & Wilkins
Company. Baltimore.

Richana, Nur. 2000. Prospek dan Produksi Enzim Alfa-amilase dari


Mikroorganisme. Buletin AgroBio Jurnal Tinjauan Ilmiah Riset Biologi
dan Bioteknologi Pertanian Volume 3 Nomor 2 Tahun 2000
http://www.indobiogen.or.id/terbitan/agrobio/abstrak/agrobio_vol3_no2_
2000_Nurrichana.phpv

Rifai, M.A. 1995. The Biodiversity of Indonesian Microorganisms, UNESCO


Regional Network for Microbiology in Southeast Asia. Yogyakarta.

Samson, R.A., E.S. Hoekstra, J.C. Frisvad and O. Filtenborg. 1995. Introduction
to Food-Borne Fungi. Baarn and Lyngby, Netherlands.

Saryono, A. Marina, Chainulah A.M. 2002. Isolasi dan Karakteristik Jamur


Penghasil Inulase yang Tumbuh pada Umbi Dahlia (Dahlia variabilis).
Jurnal Natur Indonesia 4(2):171-177(2002).

Soebiyanto PT, 1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. PT. Gramedia.
Jakarta.

Sugijanto, N. Erma, G. Indrayanto, Noor Cholies Zaini. 2004. Isolasi dan


determinasi berbagai jamur endofit dari tanaman Aglaia elliptica,
Aglaiaeusideroxylon, Aglaia odorata dan Aglaia odoratissim. Jurnal
Penelitian Medika Eksakta Vol. 5 No. 2 Agustus 2004: 131−141

Suherman, Deni. 2004. Kajian Awal Pertumbuhan Dan Produksi Enzim


Glukoamilase Dari Aspergillus niger Pada Medium Ekstrak Tepung
Kulit Umbi Singkong. http://digilib.bi.itb.ac.id/go.php?id=jbptitbbi-gdl-
45

s1-1996-denisuherm-766v

Tan RX and Zou WX., 2001, Endophytes a rich source of fungsional metabolites.
J. Nat. Prod. Rep., 18, 448-459.

Watari, Shunji,2008. Sweet Potato. http://www.britannica.com/ebc/art-


7646/Sweet-potato

Widodo, Y. (1990) Keeratan hubungan antara sifat kuantitatif pada ubijalar.


Risalah Hasil Penelitian Tanaman Pangan Tahun 1990. Balai Penelitian
Tanaman Pangan Malang, hal. 215-220.

Widodo, J. 1986. “Penampilan Agronomi Ubi Jalar pada Cara Tanam yang
Berbeda.”dalam : Penelitian Palawija. Vol. 1 No.1 Bidang Ltbang, Balai
Penelitian Tanaman Pangan Malang, malang.

Widodo, Yudi dan SS. Antarlina, 1996. Teknologi Produksi dan Agro-industri
Ubi Jalar. Kinerja Penelitian Tanaman Pangan. Buku 4 Jagung, Sorgum,
Ubi Kayu dan Ubi Jalar. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Pangan.

Wuczkowski M, Y. Gerbawy, G.F. Kraus C.P. Kubicek, K. Sterflinger and H.


Prillinger. 2007. Identification of Filamentous Fungi and Yeast and
Their Diversity in Soil of The Alluvial Zone National Park Along The
River Danube Downstream of Vienna, Austria. ACBR. Austria

http://www.gatra.net.id.com. 2004. Umbi-Umbian Makanan Favorit Jepang.

http://www.balipost.net.id.com .2003. Umbi-Umbian Dijadikan Komoditi Ekspor.