Anda di halaman 1dari 20

SISTEM METABOLISME DAN PENGATURAN

SUHU TUBUH
A. METABOLISME
Manusia memerlukan energi yang berasal dari lingkungannya untuk kehidupannya. Energy,
didefinisikan sebagai kapasitas untuk melakukan kerja. Sumber energi tubuh adalah
karbohidrat, lemak, protein (termasuk vitamin, mineral dan air). Agar dapat digunakan,
sumber energi harus dirubah menjadi ATP (adenosin triphosphat) melalui bantuan katalisator
berupa enzim. ATP merupakan komponen berenergi tinggi yang diperlukan untuk kontraksi
otot dan melaksanakan fungsi sel yang lain. Perubahan sumber energi dilaksanakan melalui
rantai metabolisme. Energi dalam tubuh dibutuhkan untuk :
(1) kinerja (bio)-kimiawi, untuk mensintesis komponen sel yang diperlukan,
menempertahankan dan mengubah sumber energi di dalam tubuh,
(2) Kinerja mekanis, untuk kerja otot;
(3) Transport work pumping of substances across membranes
(3) Kinerja elektrokimia, untuk kerja saraf, otot, transpor aktif, pertukaran ion, membentuk
perbedaan konsentrasi ion, dan transmisi impuls syaraf.
Energi dapat dijumpai dalam beberapa macam, antara lain :
(1) Energi potensial : adalah kapasitas melakukan kerja,
(2) Energi kinetik : adalah energi untuk bergerak,
(3) Energi termal : berupa panas (berasal dari transfer energi ke ATP),
(4) Energi kimia: adalah energi potential molekules yang dapat diukur dengan satuan Kalori
(=Kal).
Beberapa reaksi kimia yang memerlukan energi ATP hanya menggunakan beberapa ratus
kalori dari 8 kkal yang tersedia untuk kerja, sehingga sisa energi ini akan dirubah dalam
bentuk panas.
Mekanisme umum perubahan zat gizi (karbohidrat, lemak dan protein) menjadi energi di
semua sel pada dasarnya sama, yaitu menggunakan oksigen sebagai salah satu zat utama
untuk membentuk energi. Energi digunakan untuk membentuk sejumlah besar Adenosine
TriPosphate (ATP). Selanjutnya, ATP tersebut digunakan sebagai sumber energi bagi banyak
fungsi sel. ATP merupakan senyawa kimia labil yang terdapat di semua sel, dan semua
mekanisme fisiologis yang memerlukan energi untuk kerjanya mendapatkan energi langsung
dari ATP. ATP adalah suatu nukleotida yang terdiri dari basa nitrogen adenin, gula pentosa
ribosa dan tiga rantai fosfat. Dua rantai fosfat yang terakhir dihubungkan dengan bagian sisa
molekul oleh ikatan fosfat berenergi tinggi yang sangat labil sehingga dapat dipecah seketika
bila dibutuhkan energi untuk meningkatkan reaksi sel.

Enzim-enzim oksidatif yang mengkatalis perubahan Adenosine Diphospate (ADP) menjadi


ATP dengan serangkaian reaksi menyebabkan energi yang dikeluarkan dari pengikatan
hidrogen dengan oksigen digunakan untuk mengaktifkan ATPase dan mengendalikan reaksi
untuk membentuk ATP dalam jumlah besar dari ADP. Bila ATP di urai secara kimia sehingga
menjadi ADP akan menghasilkan energi sebesar 8 kkal/mol, dan cukup untuk berlangsungnya
hampir semua langkah reaksi kimia dalam tubuh.
ATP
Gambar 1. Struktur Pospat berenergi tinggi
ATP bukan zat yang terbanyak disimpan sebagai ikatan phospate berenergi tinggi dalam sel,
melainkan Creatine Phospate (CP) yang mengandung ikatan phospate berenergi tinggi lebih
banyak (9,5 kkal/mol pada suhu tubuh) terutama di otot. CP dapat memindahkan energi
dengan saling bertukar dengan ATP. Karena itu, CP merupakan senyawa bufer/penyangga
ATP. Efek ini berguna untuk mempertahankan konsentrasi ATP hampir pada tingkat puncak
selama CP tetap di dalam sel.
ATP ADP (adenosine diphosphate) + P + Energy
ADP AMP (adenosine monophosphate) + P + Energy
ADP + CP + ENERGY (Input) ATP + H2O
Gambar 2. Hidrolisis ATP
Dalam produksi energi, terdapat dua macam metabolisme, yaitu:
1. Anaerob (tanpa oksigen), hanya untuk karbohidrat, terjadi di sitosol.
2. Aerob (dengan oksigen), karbohidrat, lemak, dan protein, terjadi di mitokondria.
Setiap mol glukosa dalam proses anaerob yang terjadi di sitoplasma/sitosol menghasilkan 2
ATP, sedangkan pada proses aerob yang terjadi di mitokondria menghasilkan 36 ATP,
sehingga total produksinya sebanyak 38 ATP (304 kkal/mol). Tiap mol glukosa dapat
memberikan energi sebesar 686 kkal, sehingga energi yang tersisa dirubah dalam bentuk
panas, kecuali di otot yang digunakan untuk melakukan beberapa bentuk kerja di luar tubuh.
Hasil dari proses metabolisme yang terjadi di otot, berupa kumpulan proses kimia yang
mengubah bahan makanan menjadi dua bentuk, yaitu energi mekanik dan energi panas.
Proses dari pengubahan makanan dan air menjadi bentuk energi. Sedangkan untuk setiap mol
lemak menghasilkan 2340 kkal (3,5 kali dibanding glukosa) atau sebanyak 146 ATP.
C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H20 + ENERGY
Sebagian besar energi yang dirubah menjadi panas digunakan untuk :
membentuk panas inti di dalam tubuh.
menyiapkan suhu optimal untuk kerja enzim.

merenggangkan sistem arteri sehingga menyebabkan reservoar energi potensial. Pada saat
darah mengalir melalui pembuluh darah kapiler, gesekan dari lapisan darah yang mengalir
satu sama lain terhadap dinding pembuluh mengubah energi ini menjadi panas.

Simpanan energi kinetik untuk pergerakan molekul-molekul.

Mitokondria dinamakan pusat energi bagi sel, karena menyaring energi dari zat gizi dan
oksigen dan selanjutnya menyediakan sebagian besar energi (95%) yang diperlukan agar sel
dapat melakukan fungsinya. Jumlahnya dalam setiap sel berbeda (dari puluhan sampai
ribuan), tergantung pada jumlah energi yang diperlukan oleh setiap sel, dan mitokondria
mengadakan replikasi sendiri sampai tercapai jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan energi
sel.
Di dalam sel, bahan makanan secara kimia bereaksi dengan oksigen dibawah pengaruh
berbagai enzim yang mengawasi kecepatan reaksi dan menyalurkan energi yang dikeluarkan
dalam arah yang tepat. Energi yang dihasilkan membentuk ATP, yang kemudian ditransfer
keluar mitokondria menuju semua bagian sitoplasma dan nukleoplasma. Adapun, energi
digunakan untuk memberi tenaga pada fungsi-fungsi sel. Oleh karena itu, ATP dinamakan
sebagai bentuk energi sel karena dapat disimpan dan dibentuk kembali.
Berdasarkan hukum termodinamik I Jumlah energi selalu tetap, tidak dapat dibuat atau
dihilangkan, tetapi dapat dirubah bentuk. Perubahan bentuk (konversi) energi umumnya
bersifat reversibel. Berdasarkan energi panas yang dihasilkan energi dapat dikelompokkan
dalam (1) Endergonic energi panas berada di dalam tubuh; dan (2) Exergonic energi
panas dikeluarkan dari dalam tubuh.
Jalur Reaksi Metabolisme
Sebagian besar jalur reaki metabolisme terjadi secara reversibel. Berdasarkan reaksi
metabolisme ini dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu :
(1) Biosynthetic atau ANABOLISME sintesis molekul menjadi molekul yang lebih besar;
mem-butuhkan energi; dan merupakan reaksi endergonik
(2) Degradative atau KATABOLISME memecah molekul besar menjadi mulekul yang
lebih kecil; menghasilkan energi; merupakan reaksi eksergonik; dan respirasi aerobik.
Enzim merupakan molekul katalitik (biological catalysts); yang berfungsi mempercepat
reaksi bikimiawi; tersusun dari protein dan beberapa dari RNA. Fungsi enzim semakin
meningkat ketika lingkungan sel berada dalam temperatur, pH dan salinitas yang sesuai
dengan kerja masing-masing enzim.
Gambar 3. Pemecahan makanan hingga siap di gunakan
Metabolisme Karbohidrat
Metabolisme karbohidrat meliputi : (1) Glikolisis (2) Glukoneogenesis, (3) glikogenolisis, (4)
Glicogen synthesis, (5) metabolism Galaktose, (6) metabolism fruktose and manose, (7)
Glyoxylate pathway, dan (8) siklus asam sitrat (Krebs) (lihat teksbook biokimia).

Metabolisme Lemak
Reaksi metabolisme lemak meliputi : (1) Lipolisis (hormone sensitive lipase), (2) Carnitine
shuttle (fatty acid uptake), (3) Mitochondrial -oxidation, (4) Peroxisomal -oxidation, (5)
Glycerol catabolism, (6) Fatty acid synthesis, (7) Fatty acid elongation and desaturation, (8)
Triacylglyceride synthesis, (9) Phospholipids biosynthesis, (10) Synthesis and utilization of
ketone bodies, (11) Sphingolipid and ceramide synthesis (lihat teksbook biokimia).
Metabolisme Energi
Reaksi metabolisme energi terjadi melalui : (1) Posporilasi Oksidative, dan (2) sintesis ATP
(lihat teksbook biokimia).
Gambar 4. Siklus ATP dan pembentukan ATP
Kecepatan Metabolisme
Kecepatan metabolisme adalah jumlah energi total yang dibutuhkan per unit waktu.
Pengukuran kecepatan metabolisme menggunakan Basal metabolic rate (BMR). BMR adalah
kecepatan metabolisme dalam keadaan standar (subjek dalam keadaan fisik dan dan mental
istirahat tetapi tidak tidur dalam temperatur nyaman dan tidak makan selama 12 jam). Pada
kondisi BMR, energi sebagian besar digunakan untuk mempertahankan kondisi vegetatif
tubuh atau untuk aktivitas kelenjar, jantung, liver, ginjal dan otak.
Proses metabolisme juga dikontrol oleh hormon-hormon. Hormon yang ikut meregulasi
metabolisme adalah hormon tiroid, glukagon, epinephrine, kortisol, dan hormon
pertumbuhan.
1. Hormon Tiroid, dapat meningkatkan konsumsi oksigen dan produksi panas
pada sebagian besar jaringan tubuh, yang disebut dengan efek kalorigenik,
melalui mengurangan produksi ATP
2. Epinephrine, meningkatkan BMR dengan efek kalorigenik. Epinephrine
menstimulasi katabolisme glikogen dan triasilgliserol.
3. 3. Glukagon, merangsang pembongkaran simpanan glukosa hingga gula darh
kembali normal (glikogenolisis), dan meningkatkan penggunaan lemak
(lipolisis).
4. 4. Kortisol, menghambat metabolisme lemak dan karbohidrat, dengan
menstimulasi proses glukoneogenesis dan lipolisis, meningkatkan protein
katabolisme, menurunkan penyerapan glukose pada sel otot dan sel lemak, dan
meningkatkan pemecahan triasilgliserol.
5. Growth hormone, menstimulasi pertumbuhan dan anabolisme protein.
B. REGULASI SUHU TUBUH
Manusia mempunyai komponen dalam menjaga keseimbangan energi dan keseimbangan
suhu tubuh pada kisaran 37,0 2C, diantaranya adalah hipotalamus, asupan makanan,

kelenjar keringat, pembuluh darah kulit dan otot rangka. Pemakaian energi oleh tubuh
menghasilkan panas yang penting dalam pengaturan suhu tubuh. Manusia dapat hidup di
beberapa wilayah dengan suhu yang berbeda, oleh karena itu mereka harus terus-menerus
mengatur panas internal untuk mempertahankan suhu tubuh, karena kecepatan reaksi kimia
sel bergantung pada suhu tubuh. Panas yang berlebihan dapat merusak protein sel (Sherwood,
1996).
(a)
(b)
Gambar 5. Reseptor suhu (a) dan Pengaturan panas di dalam tubuh (b)
Hipotalamus
Hipotalamus adalah bagian yang sangat peka, yang merupakan pusat integrasi utama untuk
memelihara keseimbangan energi dan suhu tubuh. Hipotalamus berfungsi sebagai termostat
tubuh, dengan menerima informasi dari berbagai bagian tubuh di kulit. Penyesuaian
dikoordinasi dengan sangat rumit dalam mekanisme penambahan dan pengurangan suhu
sesuai dengan keperluan untuk mengorekasi setiap penyimpangan suhu inti dari nilai patokan
normal. Hipotalamus mampu berespon terhadap perubahan suhu darah sekecil 0,01C
(Sherwood, 1996).
Hipotalamus terus-menerus mendapat informasi mengenai suhu kulit dan suhu inti melalui
reseptor khusus yang peka terhadap suhu yang disebut termoreseptor (reseptor hangat, dingin
dan nyeri di perifer). Reseptor suhu sangat aktif selama perubahan temperatur. Sensasi suhu
primer diadaptasi dengan sangat cepat. Suhu inti dipantau oleh termoreseptor sentral yang
terletak di hipotalamus serta di susunan syaraf pusat dan organ abdomen (Sherwood, 1996).
Di hipotalamus diketahui terdapat 2 pusat pengaturan suhu, yaitu di regio posterior dan
anteror. Regio posterior diaktifkan oleh suhu dingin dan kemudian memicu refleks yang
memperantarai produksi panas dan konservasi panas. Sedang, regio anterior yang diaktifkan
oleh rasa hangat, memicu refleks yang memperantarai pengurangan panas.
Mekanisme Kehilangan panas
Tubuh akan kehilangan panas melalui mekanisme (1) radiation (60%), (2) konduksi (1015%), (3) konveksi, dan (4) evaporasi/penguapan air (20-27%). Kehilangan panas melalui
keluarnya cairan tubuh terjadi melalui (1) Evaporasi air dari kulit, proporsi kehilangan panas
20-27% (7300-9700 kJ per jam), (3) Perspirasi, antara lain melalui kulit/Transepidermal
water loss (TEWL), ( 400-500 g/hr pada dewasa muda dalam temperatur kamar) 970
1210 kJ ketika terjadi evaporasi lengkap. Sedang, kehilangan panas melalui respirasi (1-2%
atau 200 g/hr dalam keadaan istirahat). Pada suhu dingin, kerja keras berguna untuk
meningkatkan suhu dan kelembaban tubuh. Kehilangan panas dapat mencapai > 20-25%.
Sedang melalui respirasi, tubuh akan kehilangan air mencapai 8-12 L/mnt sampai 5060
l/min. Pakaian dapat menghambat evaporasi melalui kulit.
Refleks pengaturan suhu
Perubahan suhu tubuh dideteksi oleh 2 jenis reseptor, yaitu oleh (1) termoreseptor di kulit
(peripheral thermoreceptors) dan (2) termoreseptor sentral di hipotalamus, korda spinalis, dll.
(central thermoreceptors). Termoreseptor sentral memiliki umpan balik negatif esensial untuk

mempertahankan suhu inti sedang termoreseptor periper berfungsi menghantar sinyal ke


pusat integrasi dingin di hipotalamus. Hipotalamus melayani seluruh refleks integrasi suhu
dan mengirimkan sinyal kembali melalui saraf simpatis autonom ke kelenjar keringat,
pembuluh darah kulit, kelenjar adrenalis, dan melalui neuron motoris pada otot skeletal.
(a)
(b)
Gambar 6. Sistem regulasi suhu di seluruh tubuh (a) dan di kulit (b)
Kontrol produksi panas
Perubahan aktivitas otot merupakan kontrol produksi panas utama dan menurunkan suhu inti.
Pada suhu panas, tubuh akan mengurangi gerakan otot, sedang pada suhu dingin, akan terjadi
stimulasi pada gerakan otot yang disebut dengan menggigil (rhythmical muscle contractions/
shivering thermogenesis).
Produksi panas dapat meningkat dan menurun, bahkan dapat meningkat sampai 15-20 kali
BMR melalui aktivitas saraf autonomik atau muskular. Sedang, temperatur tubuh dapat
meningkatkan BMR 10-15% (Ganong, 1997; dll). Produksi panas pada basal metabolic rate
(rata-rata BMR pada dewasa muda adalah 75-110W) dan kerja fisik (otot). Liver dan organ
dalam abdominal menghasilkan 50% BMR, otak dan susunan saraf pusat 15-20%, Jantung
dan sistem sirkulasi 10% dan pada otot yang istirahat 20-25%.
Efek aktivitas otot pada BMR (Basal Metabolisme Rate) pria dewasa

Istirahat

: BMR 75110W

Peningkatan tonus otot

: BMR 150200W

Menggigil

: BMR 200500W

Bekerja agak keras

: BMR 400W

Bekerja keras

: BMR 600800W

Olahraga berat dalam waktu pendek atau mencapai: BMR > 2 000W

Produksi panas dapat dipengaruhi oleh :


1. 1. Suhu Lingkungan,
2. Produksi suhu karena makanan Makan dan makan makanan yang kaya protein
akan menghasilkan peningkatan produksi panas.
3. Aktivitas otot aktivitas otot akan meningkatkan kontraksi otot. Selama bergerak
atau berolahraga atau menggigil, akan menstimulasi peningkatan BMR.
1. Regulasi Penyimpanan Energi total tubuh

Simpanan energi = Energi dari sumber makanan (produksi panas internal+ kerja luar)
Berat badan diregulasi oleh kalori yang masuk dengan energi yang terpakai.
1. Kontrol asupan makanan pengaturan asupan makanan dapat dipengaruhi
oleh hormon leptin yang terdapat pada jaringan lemak. Hormon ini akan
merangsang hipotalamus untuk mengurangi asupan makanan dengan
menghambat pelepasan neuropeptida yang merangsang makan. Hormon leptin
penting untuk kontrol jangka panjang. Sedang kontrol jangka pendek diatur
oleh bermacam-macam sinyal seperti hormon insulin, suhu tubuh, jumlah
makanan yang berada di GIT.
2. Kelebihan berat badan dan Obesitas penurunan kalori dari asupan makanan akan
menurunkan kecepatan metabolisme sehingga dapat menurunkan kehilangan berat
badan, sebaliknya dengan berolahraga akan mengatur set poin penurunan
penyimpanan lemak.
3. Gangguan Konsumsi Makan Anorexia nervosa adalah keadaan patologis akibat
takut berat badan bertambah sehingga mengurangi jumlah makan. Keadaan ini akan
mengakibatkan penurunan tekanan darah, turunnya suhu tubuh, dan perubahan sekresi
hormon dan dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan kematian; dan Bulemia yaitu
keadaan patologis akibat takut berat badan bertambah dan berusaha mengurangi
asupan makanan. Namun, keadaan ini mengakibatkan orang yang bersangkutan akan
mengalami periode ingin makan banyak secara berulang-ulang sehingga
mengakibatkan banyak ingin muntah, sering BAK (buang air kecil) dan BAB (buang
air besar), dan olahraga.
1. Tinggi, berat dan luas permukaan tubuh,
2. Jenis kelamin dan umur,
10. Kondisi emosional.
Transfer Panas
Transfer panas terjadi melalui (1) radiasi, (2) konveksi, (3) konduksi, (4) evaporasi (Parsons
1993, Elias & Jackson 1996, Ganong 1997). BAK dan BAB dapat menurunkan suhu 1%.
Panas inti ditransfer dari jaringan tubuh ke permukaan kulit melalui sirkulasi darah dan
penghantaran panas jaringan (tissue conductance).
Kontrol Kehilangan panas melalui radiasi dan konduksi
Kulit merupakan bagian tubuh yang efektif sebagai insulator pada kontrol fisiologis, melalui
perubahan aliran darah di kulit. Semakin banyak aliran darah ke kulit maka akan semakin
kecil perbedaan dengan suhu lingkugan. Jika, kapasitas pembuluh darah ke kulit berkurang
penghantaran panas ke perifer semakin kecil, sehingga pengeluaran panas ke lingkungan
dapat semakin kecil juga. Vasokonstriktor karena rangsangan simpatis, akan terinervasi
karena suhu dingin dan akan meningkat ketika suhu meningkat.

Sedang mekanisme perubahan perilaku, seperti tubuh melingkar/mlungker ketika suhu


dingin, akan mengurangi luar permukaan yang terpapar suhu lingkungan yang dingin, dengan
demikian akan menurunkan pembebasan panas tubuh ke lingkungan (melalui reaksi radiasi
dan konduksi) dan menurunkan hantaran suhu lingkungan ke dalam tubuh. Demikian juga
sebaliknya.
Kontrol kehilangan panas melalui Evaporasi
Kehilangan air melalui kulit, kelenjar keringat, dan jalan pernafasan juga dapat bermanfaat
untuk meningkatkan pembebasan panas.
Integrasi mekanisme efektor
Suhu lingkungan yang dapat ditoleransi oleh tubuh melalui vasokonstriksi dan vasodilatasi di
kulit saja saja disebut dengan thermoneutral zone. Di bawah atau di atas zona ini tubuh
masing-masing harus meningkatkan produksi panas atau meningkatkan pengeluaran panas.
Aklimatisasi Suhu
Perubahan keringat, baik dalam volume dan komposisi ditentukan adaptasi terhadap kenaikan
temperatur. Sodium yang hilang keringat akan berkurang karena peningkatan reabsorbsi
akibat sekresi aldosteron.
Tabel 1. Mekanisme efektor terhadap regulasi suhu
STIMULASI DINGIN
Penurunan kehilangan panas
1. Vasokronstriksi pembuluh darah kulit,
terutama ekstri-mitas
2. Penurunan luas permukaan tubuh yang kontak
dengan suhu dingin (bersedekap,
mlungker(jw)/ a protective fetal position)
3. Pilo ereksi
1. Tindakan (Menghindari terpapar dingin, jaket,
berselimut, menaikkan suhu ruang, minuman
hangat, dll)
Peningkatan produksi panas
1. Peningkatan tonus otot,
2. Peningkatan tekanan darah
3. Menggigil dan meningkatkan aktivitas otot
volunter

4. Meningkatkan sekresi epinefrin,


5. Meningkatkan rasa lapar
Adaptasi Autonomik toleransi dingin
1. Adaptasi psikologis
2. Adaptasi SSP (susunan saraf pusat)
3. Aklimatisasi dingin
4. Membiasakan diri hidup di tempat dingin
STIMULASI PANAS
Peningkatan kehilangan panas
1. Vasokronstriksi pembuluh darah kulit
2. Berkeringat
3. Tindakan (menurunkan suhu ruang,
menggunakan pakaian yang minim/tipis, dll)
Penurunan produksi panas
1. Penurunan tonus otot dan aktivitas otot
volunter
2. Menurunkan sekresi epinefrin
3. Mengurangi nafsu makan.

(a)
(b)
Gambar 7. Transfer suhu dingin di seluruh tubuh (a) dan area sensitive dingin di wajah
Demam dan hipertermia
Demam adalah peningkatan suhu tubuh karena pengaturan ulang termostat di hipotalamus.
Suhu tubuh selalu diusahakan untuk dipertahankan. Pada umumnya, demam disebabkan oleh
infeksi dan stres. Pengaturan termostat tubuh akan menimbulkan sensasi dingin di seluruh
tubuh, yang kadang akan menunjukkan kedinginan dan menggigil. Jika rekaman dalam
termostat dihentikan, maka demam akan berhenti dan tubuh akan merasa hangat kembali.
Termostat dapat dihentikan oleh biochemical messengers, yang disebut endogenous pyrogen
(EP), yang terdiri dari interleukin (IL-1 dan IL-6) yang dikeluarkan dari makrofag, yang
diaktivasi oleh hipotalamus. Stimulasi peningkatan suhu tubuh ditimbulkan oleh infeksi dan
olahraga.

Peningkatan produksi panas tubuh akan mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen,


produksi karbon dioksida dan peningkatan curah jantung. Jika terjadi peningkatan suhu tubuh
maka konsumsi oksigen ke otak akan menurun, akibat terjadinya peningkatan konsumsi
oksigen pada organ lain tentunya akan menyebabkan iskemik yang meluas.
Menurut Molton (2005), respon tubuh terhadap hipertermi seperti demam dan terjadinya
peningkatan aliran darah ke otak dapat mengakibatkan peningkatan tekanan intra-kranial
(TIK). Peningkatan tekanan intra-kranial sering menyebabkan kematian. Untuk itu, perlu
sekali dilakukan kontrol terhadap peningkatan suhu untuk menghindari peningkatan tekanan
intra kranial dan perluasan area iskemik.
Manfaat menurunkan suhu inti untuk menghindari kerusakan yang luas dan komplikasi pada
otak. Menurut Dr. Ginsberg, variasi temperature sangat erat kaitannya dengan injuri neuronal
meliputi penurunan pengeluaran glutamate, mekanisme radikal bebas, depolarisasi iskemik,
dan aktifitas kinase, terjaganya aliran darah ke otak dan sitoskeleton, serta penekanan
mekanisme inflamasi. Berdasarkan hasil penelitian, penurunan suhu dapat meningkatkan
kadar glutamate dan menghindari perluasan iskemik dengan adanya hidroksil radikal.
Menurut Steiner, penurunan temperature otak dapat dilakukan dengan menurunkan suhu kulit
atau suhu sentral/inti. Meskipun target dan lamanya pendinginan masih diperdebatkan tetapi
terapi hipotermi sangat mudah dilakukan dan aman. Penurunan suhu permukaan atau suhu
kulit dapat dilakukan dengan memberikan alkohol (+air), selimut pendingin dan matras
pendingin. Metode ini dapat dilakukan selama 3,5-6,5 jam untuk menurunkan suhu inti
sampai 32C.
Heat Exhaustion dan Heat Stroke
Panas yang hebat (Heat Exhaustion) dapat menyebabkan kolaps karena hipotensi, akibat (1)
penurunan volume plasma darah akibat semakin besarnya volume pengeluaran keringat,
sehingga akan menurunkan CO jantung; dan (2) dilatasi berlebih pada pembuluh darah kulit
sehingga menurunkan resistensi perifer. Sedang, serangan panas (heat stroke) akan
menyebabkan rusaknya sistem regulasi panas di otak, sehingga suhu tubuh menjadi semakin
panas. Hal ini akan mengakibatkan umpan balik positif, yang mengakibatkan semakin
meningkatnya suhu tubuh, meningkatnya metabolisme tubuh dan produksi panas yang terus
berlangsung. Keadaan ini akan menunjukkan gejala kolaps, tidak sadar, delirium, seizures.
Serangan ini diakibatkan oleh overesktensi panas lingkungan.

META BOLISME DAN PENGATURAN SUHU TUBUH


Metabolisme adalah suatu proses komplek perubahan makanan menjadi energi dan panas
melalui proses fisika dan kimia, berupa proses pembentukan dan penguraian zat didalam
tubuh organisme untuk kelangsungan hidupnya. Macam Metabolisme Metabolisme
dibedakan 2 macam :

Katabolisme : proses penguraian makanan menjadi energi, yang terjadi pada proses respirasi
sel.

Anabolisme : proses pembentukan (sintesa) zat organik komplek yang berasal dari zat yang
lebih sederhana Contoh Metabolisme Contoh Katabolisme :

Glikogenolisis : proses pemecahan glikogen menjadi glukosa

Glikolisis : proses pemecahan glukosa menjadi asam piruvat Contoh Anabolisme :

Glikogenesis : proses pembentukan glikogen dari glukose

Glikoneogenesis : proses pembentukan glukose dari prtein atau lemak Alur Metabolisme
Hasil Metabolisme

Hasil metabolisme berupa energi dan panas energi tersebut belum dapat digunakan
langsung oleh sel berikatan adenin, fosfat dan ribose ATP (Adenosin Tri Fosfat).

ATP
tersebut merupakan simpanan energi siap digunakan oleh sel untuk : transport

membran, sintesis senyawa kimia, kerja mekanik.

Jika sel memerlukan energi, maka energi diambil dari ATP dengan cara melepas satu gugus
fosfat menjadi ADP (Adenosin Di Phosfat) dengan melepas 8.000 kalori. Penggunaan ATP

ATP ADP + PO4 + 8.000 kalori

ADP AMP + PO4 + 8.000 kalori

AMP sudah tidak dapat mengeluarkan energi lagi harus diisi lagi dengan energi baru yang
berasal dari metabolisme makanan menjadi ATP.

Metabolism
e proses merubah makanan ATP

A.

Hipotalamus
Hipotalamus adalah bagian yang sangat peka, yang merupakan pusat integrasi utama
untuk memelihara keseimbangan energy dan suhu tubuh. Hipotalamus berfungsi sebagai
thermostat tubuh, dengan menerima informasi dari berbagai bagian tubuh dikulit.
Penyesuaian dikoordinasi dengan sangat rumit dalam mekanisme penambahan dan
pengurangan suhu sesuai dengan keperluan u tuk mengoreksi setiap penyimpangan suhu inti
dari nilai patokan normal. Hipotalamus mampu berespon terhadap perubahan suhu darah
sekecil 0.01C.
Hipotalamus terus menerus mendapat informasi mengenai suhu kulit dan suhu inti
mengelalui reseptor khusus yang peka terhadap suhu yang disebut termoreseptor (reseptor
hangat, dingin dan nyeri diperifer). Reseptor suhu sangat aktif selama perubahan temperature.
Sensasi suhu primer diadaptasi dengan sangat cepat. Suhu ini dipantau oleh termoreseptor
sentral yang terletak di hipotalamus serta disusunan syaraf pusat dan organ abdomen.
Di hipotalamus diketahui terdapat 2 ousat pengaturan suhu, yaitu diregio posterior
diaktifkan oleh suhu dingin, dan kemudian memicu reflek yang memperantarai produksi
panas dan konservasi panas. Sedang regio anterior yang diaktifkan oleh rasa hangat, memicu
reflex yang memperentarai pengurangan panas.

B.

Sistem Pengaturan Suhu Tubuh


Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan
thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain : normal,

hipertermi, hipotermi, dan febris. Suhu dapat di bagi, antara lain:


1. Suhu inti (core temperature) Suhu inti menggambarkan suhu organ-organ dalam (kepala,
dada, abdomen) dan dipertahankan mendekati 37C.
2. Suhu kulit (shell temperature) Suhu kulit menggambarkan suhu kulit tubuh, jaringan
subkutan, batang tubuh. Suhu ini berfluktuasi dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
3. Suhu tubuh rata-rata (mean body temperature) merupakan suhu rata-rata gabungan suhu inti
dan suhu kulit.
Ada beberapa macam thermometer untuk mengukur suhu tubuh:
1. The mercury-in-glass thermometer
2. The electrical digital reading thermometer
3. A radiometer attached to an auriscope-like head (untuk pengukuran suhu timfani)
C.

Fungsi dari Reseptor Suhu


Etimulus dapat datang dari lingkungan luar salinitas, suhu udara, kelembapan,cahaya.
Alat penerima rangsang disebut reseptor,sedangkan alat penghasil tanggapan disebut efektor.
Reseptor saraf yang paling sederhana hanya berupa ujung denrit dari suatu sel syaraf (neuron)
, tidak meliputi selubung / selaput myelin dan dapat di temukan pada reseptor rasa nyeri (free

nerve ending) atau nociresetor. Berdasarkan Lokasi Sumber Rangsang :


1. INTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi untuk menerima rangsang dari dalam
tubuh.
2. KHEMORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi memantau pH,kadar gula dalam darah
dan kadar kalsium dalam cairan tubuh atau darah.
3. EKSTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi menerima rangsang dari lingkungan
di luar tubuh Reseptor penerima gelombang suara (pada alat pendengaran) dan cahaya (dalam
4.

alat pengelihatan).
HUBUNGAN ANTARA RESEPTOR DENGAN EFEKTOR Dalam system syaraf,reseptor
biasanya berhubungan dengan syaraf sensorik (AFFERENT) sedang efektor erat dengan
syaraf motorik(EFERENT). Reseptor berfungsi sebagaipengubah energy, mengubah bentuk
suatu energy menjadi bentuk tertentu. dan di dalam reseptor semua energy di ubah menjadi
energy listrik dan selanjutnya akan membawa ke perubahan elektrolit sehingga timbul
potensial aksi. Apabila suatu resektor menerima rangsangan yang sesuai maka membrane
reseptor akan mengalami peritiwa potensial aksi. Jika rangsangan yang diterima reseptor
cukup kuat potensial reseptor yang timbul akan lebih kuat. Makin besar rangsangan yang di

terima, makin besar pula potensial local yang di hasilkan sehingga dapat melampoi batas
ambang perangsangan pada membrane potensial generator.
D.
1.
2.
3.
4.

Macam-macam suhu tubuh


Macam-macam suhu tubuh menurut (Tamsuri Anas 2007) :
Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36C
Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36-37.5C
Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37.5-40C
Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40C
Berdasarkan distribusi suhu didalam tubuh, dikenal suhu inti (core temperature), yaitu
suhu yang terdapat pada jaringan dala, seperti kranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga
pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relative konstan (sekitar 37C). selain itu, ada suhu
permukaan (surface temperature), yaitu suhu yang tedapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan
lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 20C sampai 40C.

E.

Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh


Setiap saat suhu tubuh manusia berubah secara fluktuatif. Hal tersebut dapat

dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu :


1. Exercise:
semakin beratnya exercise maka suhunya akan meningkat 15 x, sedangkan pada atlet dapat
meningkat menjadi 20 x dari basal ratenya.
2. Hormon:
Thyroid (Thyroxine dan Triiodothyronine) adalah pengatur pengatur utama basal
metabolisme rate. Hormon lain adalah testoteron, insulin, dan hormon pertumbuhan dapat
meningkatkan metabolisme rate 5-15%.
3. Sistem syaraf:
selama exercise atau situasi penuh stress, bagian simpatis dari system syaraf otonom
terstimulasi. Neuron-neuron postganglionik melepaskan norepinephrine (NE) dan juga
merangsang pelepasan hormon epinephrine dan norephinephrine (NE) oleh medulla adrenal
sehingga meningkatkan metabolisme rate dari sel tubuh.
4. Suhu tubuh:
meningkatnya suhu tubuh dapat meningkatkan metabolisme rate, setiap peningkatan 1 %
suhu tubuh inti akan meningkatkan kecepatan reaksi biokimia 10 %.
5. Asupan makanan:
makanan dapat meningkatkan 10 20 % metabolisme rate terutama intake tinggi protein.
6. Berbagai macam factor seperti: gender, iklim dan status malnutrisi.
7. Usia:
Pada saat lahir, mekanisme kontrol suhu masih imatur. Produksi panas meningkat seiring
dengan pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. regulasi suhu akan normal setelah anak
mencapai pubertas. Pada lansia sensitif terhadap suhu yang ekstrem akibat turunnya
mekanisme control suhu (terutama kontrol vasomotor), penurunan jumlah jaringan subkutan,
penurunan aktivitas kelenjar keringat, penurunan metabolism

8.

Olahraga:aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan metabolisme lemak

dankarbohidrat.
9. Kadar Hormon:suhu tubuh wanita lebih fluktuatif dibandingkan pria
10. Irama sirkardiansuhu tubuh berubah secara normal 0,5-1 derajat Celcius selama periode 24
jam.suhu tubuh rendah antara pukul 01:00 dan 04:00 dini hari.
11. Stres:
stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan persyarafan
12. Lingkungan:
mekanisme kontrol suhu tubuh akan dipengaruhi oleh suku disekitar. Walaupun terjadi
perubahan suhu tubuh, tetapi tubuh mempunyai mekanisme homeostasis yang dapat
dipertahankan dalam rentang normal. Suhu tubuh yang normal adalah mendekati suhu tubuh
inti yaitu sekitar 37 0 C. suhu tubuh manusia mengalami fluktuasi sebesar 0,5 0,7 0 C, suhu
terendah pada malam hari dan suhu tertinggi pada siang hari. Panas yang diproduksikan harus
sesuai dengan panas yang hilang.

F.

Hal-hal yang mengganggu suhu tubuh


Hal-hal yang sering mengganggu suhu tubuh diantaranya disebabkan oleh:
1. Demam: mekanisme pengeluran panas tidak mampu mengimbangi produksipanas. Demam
terjadi karena perubahan set point hipotalamus.
2. Kelelahan akibat panas: terjadi apabila diaforesis yang banyak mengakibatkan kehilangan
3.

cairan dan elektrolit secara berlebih.


Hipertermia: peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk

mengeluarkan panas.
4. Heat stroke: terpapar oleh panas dalam jangka yang cukup lama.
5. Hipotermia: pengeluaran panas akibat terpapar suhu dingin.
Kita dapat mengukur suhu tubuh pada tempat-tempat berikut:
a. ketiak/ axilae: termometer didiamkan selama 10-15 menit
b. anus/ dubur/ rectal: termometer didiamkan selama 3-5 menit
c. mulut/ oral: termometer didiamkan selama 2-3 menit

Tabel suhu tubuh normal menurut usia :

USIA

SUHU (DERAJAT CELCIUS)

3 BULAN

37,5

6 BULAN

37,5

1 TAHUN

37,7

3 TAHUN

37,2

5 TAHUN

37,0

7 TAHUN

36,8

9 TAHUN

36,7

11 TAHUN

36,7

13 TAHUN

36,6

DEWASA

36,4

>70 TAHUN

36,0

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan
thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain : normal,
hipertermi, hipotermi, dan febris. Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau
sebaliknya berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat Kehilangan panas melalui
pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi air. Alat penerima
rangsang disebut reseptor,sedangkan alat penghasil tanggapan disebut efektor. Suhu tubuh
dipengaruhi

oleh

exercize,hormone,system

iklim(lingkungan),usia,aktivitas otot,stress.

saraf,asupan

makanan,gender