Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara hukum sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 Ayat

(3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUDNRI

1945). Oleh karena itu sudah sepatutnya hukum menjadi yang pertama dalam

negeri ini, sehingga semua orang harus patuh dan tunduk pada hukum tanpa

terkecuali. Segala sektor dalam kehidupan bermasyarakat perlu terdapat perangkat

hukum yang mengatur. Salah satu sektor tersebut adalah pengaturan hukum di

bidang kesehatan. Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu

unsur

kesejahteraan

yang

harus

diwujudkan

sesuai

dengan

cita-cita

bangsa

Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan UUDNRI

1945.

Kesehatan bagi warga negara dapat terjamin jika pemerintah membuat

kebijakan dan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang

setinggi-tingginya,

serta

partisipatif,

perlindungan,

dilaksanakan

berdasarkan

prinsip

dan

berkelanjutan,

sebagaimana

nondiskriminatif,

tertuang

dalam

pertimbangan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU

Kesehatan). Prinsip perlindungan adalah hal terpenting dalam rangka pelayanan

kesehatan karena upaya penyembuhan penyakit atau pemulihan kesehatan yang

dilakukan

oleh

tenaga

kesehatan

merupakan

upaya

yang

berpotensi

dapat

menimbulkan bahaya bagi pasien, apalagi jika dilakukan oleh tenaga kesehatan

khususnya dokter yang tidak kompeten di bidangnya. Dokter merupakan salah

satu pemberi pelayan kesehatan kepada

1

masyarakat

yang

memiliki peranan

2

penting karena terkait langsung dengan pemberian pelayanan kesehatan dan mutu

pelayanan yang diberikan.

Perlindungan bagi masyarakat

terhadap

praktik

kedokteran

yang

tidak

bermutu, terkesan praktik coba-coba atau yang dapat membahayakan telah diatur

dalam Pasal 77 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokter-

an (UU Praktik Kedokteran) yang berbunyi :

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah- olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi dan/atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

Pada hakikatnya dokter memiliki kewajiban memberikan pelayan kesehatan

yang

terbaik

bagi pasien

yang

membutuhkan

pelayanan untuk

kesembuhan

penyakitnya. Dokter yang memiliki kemampuan atau keterampilan di bidang

pelayanan medik dan pasien yang kurang paham atas penyakit yang dideritanya

mempercayakan dirinya untuk diobati atau dilakukan tindakan medik oleh dokter.

Dewasa ini sering terjadi kealpaan atau kelalaian yang dilakukan oleh dokter

yang merupakan bentuk kesalahan dan bukan merupakan kesengajaan dan juga

bukan merupakan sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Dalam hal kealpaan tidak

ada niat jahat dari pelaku. Kealpaan atau kelalaian dan kesalahan dalam melak-

sanakan tindakan medik berakibat menimbulkan rasa ketidakpuasan bagi pasien

dan keluarga pasien terhadap dokter yang menangani upaya tindakan medik sesuai

profesinya.

Bagi pasien dan keluarga pasien

hal tersebut

merupakan suatu

kerugian.

3

Pengaturan mengenai sanksi pidana bagi dokter yang telah alpa atau lalai

dalam melakukan tindakan medik sesuai profesinya yaitu diatur dalam Undang-

Undang

Nomor

34

Tahun

2014

tentang

Tenaga

Kesehatan) Pasal 84 yang berbunyi

Kesehatan

(UU

Tenaga

(1) Setiap Tenaga Kesehatan yang melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan Penerima Pelayanan Kesehatan luka berat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun. (2) Jika kelalaian berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian, setiap Tenaga Kesehatan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun.

Yang dimaksud tenaga kesehatan dalam undang-undang tersebut adalah

setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki

pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan.

Tenaga kesehatan salah satunya terdiri dari tenaga medik yang meliputi dokter

dan dokter gigi. Dokter adalah orang yang mengabdikan diri dalam bidang

kesehatan dan memiliki pengetahuan/ keterampilan tertentu. Sehingga dokter atas

profesinya

memiliki

tanggung

jawab

dalam

menyembuhkan

pasien

secara

professional. Di samping itu juga diatur mengenai pelaporan dokter ke organisasi

profesinya apabila terdapat indikasi tindakan dokter yang membawa kerugian dan

bukan sebagai dasar untuk menuntut ganti rugi atas tindakan dokter yaitu Pasal 66

ayat (1) UU Praktik Kedokteran yang berisi norma dari sudut hukum administrasi

praktik kedokteran, selengkapnya berbunyi :

setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia

Hukum kedokteran di Indonesia sampai saat ini belum dapat dirumuskan

secara

mandiri

sehingga

batasan-batasan

mengenai

malpraktik

belum

bisa

4

dirumuskan, sehingga isi pengertian dan batasan-batasan malpraktik kedokteran

belum seragam bergantung pada sisi mana orang memandangnya. 1 Dewasa ini

terdapat beberapa peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan yaitu UU

Kesehatan,

UU

Praktik

Kedokteran,

Peraturan Pemerintah.

UU

Tenaga

Kesehatan

dan

beberapa

Berdasarkan beberapa peraturan perundang-undangan tersebut akan dikaji

lebih mendalam dengan dikaitkan dengan kasus yang terjadi di wilayah hukum

Pengadilan Negeri Manado yang telah memperoleh Putusan Pengadilan Nomor:

90/Pid.B/2011/PN.Mdo. Kasus berupa kelalaian yang telah dilakukan oleh dokter

terhadap pasiennya dengan kronologi kasus sebagai berikut :

dr. DA (Terdakwa I), dr. HS (Terdakwa II) dan dr. HSN (Terdakwa III)

sebagai dokter pada Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Manado melakukan

operasi Cito Secsio Sesaria terhadap korban SM. Saat operasi dilakukan, dr. HS

(Terdakwa II) sebagai asisten operator I (satu) dan dr. HSN (Terdakwa III)

sebagai asisten operator II (dua) membantu untuk memperjelas lapangan operasi

yang dilakukan oleh dr. DA (Terdakwa I) sebagai pelaksana operasi/ operator

yang memotong, menggunting dan menjahit agar lapangan operasi bisa terlihat

agar mempermudah operator yaitu dr. DA (Terdakwa I) dalam melakukan operasi.

Pada saat sebelum operasi Cito Secsio Sesaria terhadap korban dilakukan,

para terdakwa tidak pernah menyampaikan kepada pihak keluarga korban tentang

kemungkinan-kemungkinan

terburuk

termasuk

kematian

yang

dapat

terjadi

terhadap diri korban jika operasi Cito Secsio Sesaria tersebut dilakukan terhadap

1 Crisdiono M. Achadiat, Dinamika Etika dan Hukum Kedokteran dalam tantangan Zaman, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta ,2004. Hal 21.

5

diri korban. Para terdakwa sebagai dokter yang melaksanakan operasi Cito Secsio

Sesaria terhadap diri korban tidak melakukan pemeriksaan penunjang seperti

pemeriksaan jantung, foto rontgen dada dan pemeriksaan penunjang lainnya

sedangkan tekanan darah pada saat sebelum korban dianestesi, sedikit tinggi yaitu

menunjukkan angka 160/70 (seratus enam puluh per tujuh puluh).

Pada waktu kurang lebih pukul 20.10 WITA, hal tersebut telah disampaikan

oleh saksi dr. Hermanus J. Lalenoh, Sp. An. pada bagian Anestesi melalui

jawaban konsul kepada bagian kebidanan bahwa pada prinsipnya disetujui untuk

dilaksanakan pembedahan dengan anestesi resiko tinggi. Oleh karena itu mohon

dijelaskan

kepada

keluarga

segala

kemungkinan

yang

bisa

terjadi,

tetapi

pemeriksaan jantung terhadap korban dilaksanakan setelah pelaksanaan operasi

selesai

dilakukan

pemeriksaan

jantung

tersebut

dilakukan

setelah

dr.

DA

(Terdakwa I) melaporkan kepada saksi Najoan Nan Waraouw sebagai Konsultan

Jaga Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan bahwa nadi korban 180 (seratus

delapan puluh) x permenit dan saat itu saksi Najoan Nan Waraouw menanyakan

kepada dr. DA (Terdakwa I) apakah telah dilakukan pemeriksaan jantung/ EKG

(Elektri Kardio Graf atau Rekam Jantung) terhadap diri korban. Selanjutnya

jawaban dr. DA (Terdakwa I) tentang hasil pemeriksaan adalah Ventrikel Tachy

Kardi (denyut jantung sangat cepat), akan tetapi saksi Najoan Nan Waraouw

mengatakan bahwa denyut nadi 180 (seratus delapan puluh) x permenit bukan

Ventrikel Tachy Kardi (denyut jantung sangat cepat) tetapi Fibrilasi (kelainan

irama jantung).

6

Berdasarkan hasil rekam medis No. 041969 (nol empat satu sembilan enam

sembilan) yang telah dibaca oleh saksi ahli dr. Erwin Gidion Kristanto, SH. Sp. F.

bahwa pada saat korban masuk RSU Prof. R. D. Kandou Manado, keadaan umum

korban adalah lemah dan status penyakit korban adalah berat.

dr. DA (Terdakwa I), dr. HS (Terdakwa II) dan dr. HSN (Terdakwa III)

sebagai dokter telah lalai dalam melaksanakan operasi Cito Secsio Sesaria

terhadap korban SM, sehingga terhadap diri korban terjadi emboli udara yang

masuk ke dalam bilik kanan jantung yang menghambat darah masuk ke paru-paru

sehingga terjadi kegagalan fungsi paru dan selanjutnya mengakibatkan kegagalan

fungsi jantung. Korban SM meninggal dunia berdasarkan Surat Keterangan dari

Rumah Sakit Umum Prof. Dr. R. D. Kandou Manado No. 61 / VER / IKF / FK / K

/ VI / 2010.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menggunakan dakwaan kombinasi yang terdiri

dari beberapa pasal yaitu Kesatu, Primair Pasal 359 KUHP Jis. Pasal 361 KUHP,

Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP, Subsidair Pasal 359 KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1)

ke- 1 KUHP. Kedua, Primair Pasal 76 UU Praktik Kedokteran Jo. Pasal 55 ayat

(1) ke-1 KUHP dan Ketiga, Primair Pasal 263 ayat (1) KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1)

ke- 1 KUHP, Subsidair Pasal 263 ayat (2) KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke- 1

KUHP. JPU menuntut para terdakwa masing-masing dengan pidana penjara 10

(sepuluh) bulan.

Majelis Hakim memutus kasus tersebut dengan menyatakan bahwa Para

Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak

pidana dalam dakwaan Kesatu Primer dan subsidair, dakwaan kedua dan dakwaan

7

ketiga primer dan subsidair. Serta membebaskan Terdakwa I, Terdakwa II dan

Terdakwa III dari semua dakwaan (Vrijspraak). Tidak

terima atas putusan

Pengadilan Negeri Manado tersebut JPU mengajukan kasasi pada Mahkamah

Agung dengan Perkara Nomor: 365 K / Pid / 2012 yang kemudian oleh Majelis

Hakim memutus para Terdakwa bahwa terbukti secara sah dan meyakinkan

bersalah

melakukan

tindak

pidana

“perbuatan

yang

karena

kealpaannya

menyebabkan

matinya

orang

lain”

dan

menjatuhkan

pidana

terhadap

Para

Terdakwa dengan pidana penjara masing-masing selama 10 (sepuluh) bulan.

Kemudian Para Terdakwa mengajukan Peninjauan Kembali pada Mahkamah

Agung karena tidak terima atas Putusan Kasasi tersebut, akan tetapi Majelis

Hakim

Peninjauan

Pengadilan

Negeri

Kembali

Manado

lebih

yang

mendukung

dan

membebaskan

membenarkan

Putusan

Para

Terdakwa

dan

memerintahkan untuk mengeluarkannya dari Lembaga Pemasyarakatan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan yang diambil oleh penulis adalah

sebagai berikut :

1. Apakah tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana dalam kasus

kelalaian yang dilakukan oleh dokter ?

2. Bagaimana pertimbangan Majelis Hakim dalam Putusan Pengadilan

Negeri

Manado

Mahkamah

Agung

Nomor

90/Pid.B/2011/PN.Mdo,

Putusan

Kasasi

Republik

Indonesia

Nomor 365/K/Pid/2012,

dan

Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung

Republik Indonesia

Nomor 79/PK/Pid/2013 ?

8

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengkaji tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana dalam

kasus kelalaian yang dilakukan oleh dokter.

2. Untuk mengkaji pertimbangan Majelis Hakim dalam Putusan Pengadilan

Negeri

Manado

Mahkamah

Agung

Nomor

90/Pid.B/2011/PN.Mdo,

Putusan

Kasasi

Republik

Indonesia

Nomor 365/K/Pid/2012,

dan

Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 79/PK/Pid/2013.

1.4. Penjelasan Judul

Berdasarkan

judul

ANALISIS

YURIDIS

TINDAK

PIDANA

DAN

PERTANGGUNGJAWABAN

PIDANA

TERHADAP

KELALAIAN

YANG

DILAKUKAN

DOKTER”

perlu

dijelaskan

beberapa

pengertian

agar

tidak

menimbulkan penafsiran yang berbeda dari penulisan tesis ini.

Tindak pidana (criminal act) adalah perbuatan atau tindakan yang oleh

suatu aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana bagi setiap orang atau

badan

hukum

yang

melanggar

larangan

tersebut.

Pengertian

tindak

pidana

menurut pakar hukum di Indonesia masih belum ada kesepahaman atau kesamaan

pendapat. Ada yang menggunakan istilah perbuatan pidana, delik, peristiwa

pidana, perbuatan yang boleh dihukum, pelanggaran pidana, tindak pidana atau

dengan istilah yang lainnya. Dalam peraturan perundang-undangan pidana di

Indonesia sering dikenal dengan istilah tindak pidana. Tindak pidana sendiri

merupakan terjemahan dari bahasa Belanda yaitu kata strafbaar feit. Secara

harfiah, strafbaar feit terdiri dari kata feit yang dalam bahasa Belanda berarti

9

sebagian daripada suatu kenyataan, sedangkan strafbaar berarti dapat dihukum. 2

Beberapa ahli hukum pidana mendefinisikan

pengertian, antara lain sebagai berikut :

strafbaar feit dalam beberapa

a. Menurut Moeljatno istilah strafbaar feit adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. 3

b. Menurut Pompe strafbaar feit secara teoritis dapat dirumuskan sebagai suatu pelanggaran Norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan sengaja maupun tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan hukum. 4

c. Menurut Simons, strafbaar feit sebagai suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh Undang- undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum. 5

Dalam tesis ini, penulis sependapat dengan Endro Didik Purwoleksono

menggunakan istilah tindak pidana dengan beberapa alasan sebagai berikut

yaitu: 6

1. Semua undang-undang sudah menggunakan istilah “Tindak Pidana”, misalnya Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Undang-Undang Kesehatan-pun dengan tegas dalam Pasal 85 menyebutkan tindak pidana.

2. RUU KUHP, manakala menjadi KUHP, ternyata menggunakan istilah “Tindak Pidana” dalam Buku II.

2 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997. Hal. 181.

3 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, PT Bina Aksara, Jakarta, 1985. Hal. 1

4 Erdianto Effendi, Hukum Pidana Indonesia (suatu pengantar), Refika Aditama, Bandung, 2011. Hal. 97.

5 Ibid. Hal. 98

6 Didik Endro Purwoleksono, Hukum Pidana, Airlangga University Press, Surabaya, 2014. Hal. 43

10

Dalam hal Pertanggungjawaban pidana yang akan dibahas yaitu mengenai

dapat atau tidak dapatnya seseorang dipidana sebagain pelaku tindak pidana yang

memiliki asas Tiada Pidana Tanpa Kesalahan (Geen Straf Zonder Schuld).

Pertang-gungjawaban pidana menurut konsep terdapat beberapa hal yang perlu

dicatat yaitu unsur kesalahan dan bentuk atau corak kesalahan. Unsur kesalahan

terdiri dari beberapa hal yaitu melakukan tindak pidana, kemampuan untuk

bertanggung jawab, dan tidak adanya alasan pemaaf, sedangkan bentuk atau

corak kesalahan meliputi kesengajaan atau kelalaian.

Salah

satu

bentuk

kesalahan

selain

kesengajaan

yaitu

kelalaian

(Culpa/schuld). Kelalaian dilihat dari akibatnya dapat dibedakan menjadi dua

yaitu Culpa Levis artinya adalah kealpaan yang ringan dan Culpa Lata artinya

adalah kealpaan yang berat. Culpa Levis karena sifatnya yang ringan oleh

undang-undang

tidak

diancam dengan

pidana

dan

dapat

dilihat

dalam

hal

pelanggaran pada Buku III KUHP. Culpa Lata dilarang oleh KUHP karena

berdasarkan M.v.T (Memori van Tolechting) menyatakan bahwa keadaan yang

sedemikian

rupa

membahayakan

keamanan

orang

atau

barang,

atau

mendatangkan kerugian terhadap seseorang yang sedemikian besar dan tidak

dapat diperbaiki lagi. Sehingga undang-undang juga betindak terhadap kekurang

hati-hatian, sikap sembrono (teledor) tersebut.

Pandangan beberapa ahli hukum pidana tentang kelalaian yaitu: 7

1. Hazawinkel Suringa:

a. kurang penduga-duga atau;

b. kurang penghati-hati

2. Van Hamel

7 Ibid. Hal. 74

11

Kelalaian mengandung dua syarat:

a. tidak melakukan penduga-duga sebagaimana dilakukan oleh hukum;

b. tidak

oleh

melakukan

penghati-hati sebagaimana

dilakukan

hukum 3. Simons:

Pada umumnya kealpaan mempunyai unsur:

a. tidak adanya penghati-hati, disamping

b. dapat diduganya akibat.

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli hukum pidana tersebut, maka dapat

disimpulkan bahwa kelalaian terdiri dari dua unsur yaitu: 8

1. Kurang hati-hati Makna kurang hati-hati yaitu pelaku tindak pidana tidak mengadakan penelitian, kemahiran, atau usaha pencegahan yang nyata dalam keadaan keadaan tertentu atau dalam caranya melakukan perbuatan. 2. Kurang penduga-duga, terdapat dua kemungkinan:

a. Bewuste Culpa (kealpaan yang disadari) maknanya pelaku sehaarusnya menyadari atas akibat dari tindakan yang dia lakukan. b. Onbewuste Culpa (kealpaan yang tidak disadari) artinya pada awalnya pelaku tidak menyadari bahwa akibat akan terjadi, namun ternyata dalam perkembangannya justru akibat telah terjadi.

Pengertian tentang kelalaian yang dilakukan oleh dokter dapat juga

dikatakan

sebagai

kesalahan

dokter

yang

karena

tidak

menggunakan

ilmu

pengetahuan dan tingkat ketrampilan sesuai dengan standar profesinya yang

akhirnya mengakibatkan pasien terluka atau cacat bahkan meninggal.

Setiap tindakan medis harus dapat dipertanggungjawabkan, baik secara etik

maupun secara hukum, Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) memberikan

pedoman

kepada

dokter

di

dalam

memutuskan

untuk

medisnya tidak boleh bertentangan dengan :

melakukan

tindakan

a. Kode Etik Kedokteran Indonesia ( KODEKI )

b. Asas asas Etika kedokteran Indonesia yaitu : 9

8 Ibid.

12

1. Tidak merugikan ( Non Maleficence );

2. Membawa kebaikan ( Benevicence );

3. Menjaga kerahasiaan (Confidencsialitas );

4. Otonomi pasien ( Informed Consent );

5. Berkata benar ( Veracity );

6. Berlaku adil ( Justice );

7. Menghormati ( privacy).

Agar

seorang

dokter

menurut Danny Wiradharma,

memenuhi tiga syarat :

tidak

dipandang

melakukan

praktik

yang

buruk

maka setiap tindakan medis yang dilakukan harus

1. Memiliki indikasi medis ke arah suatu tujuan perawatan yang kongkrit;

2. Dilakukan menurut ketentuan yang berlaku di dalam ilmu kedokteran;

3. Telah mendapat persetujuan tindakan pasien. 10

1.5. Alasan Pemilihan Judul

Penulis memilih judul “ANALISIS YURIDIS TINDAK PIDANA DAN

PERTANGGUNGJAWABAN

PIDANA

TERHADAP

KELALAIAN

YANG

DILAKUKAN DOKTER” karena dewasa ini marak terjadi kasus kelalaian atau

malpraktik oleh dokter yang tak jarang selalu kandas dalam proses persidangan.

Hal tersebut dikarenakan sulitnya pembuktian dan dokter lain yang dijadikan

sebagai saksi cenderung melindungi teman seprofesinya, padahal hanya teman

seprofesinyalah yang dapat menilai tindakan medik yang dilakukan oleh seorang

9 Ngesti Lestari, ”Masalah Malpraktek Etik Dalam Praktek Dokter ”, Kumpulan Makalah Seminar tentang Etika dan Hukum Kedokteran diselenggarakan oleh RSUD Dr. Saiful Anwar , Malang, 2001. Hal. 3 10 Danny Wiradharmairadharma, Penuntun Kuliah Kedokteran dan Hukum Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1999. Hal.87-88.

13

dokter benar atau salah. Sedangkan JPU dan Hakim hanya dapat menilai dari

adanya

keterangan

saksi-saksi,

keterangan

ahli,

bukti

surat,

petunjuk,

dan

keterangan terdakwa. Selain itu juga penulis ingin mengetahui dan mengkaji

peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan yang dapat

memberikan

perlindungan terhadap konsumen/pasien dari pelayanan kesehatan yang tidak

bermutu, terkesan praktik coba-coba, dan membahayakan.

Demikian juga dalam penerapannya, penulis ingin mengkaji lebih men-

dalam tentang bagaimana peraturan-peraturan yang ada di bidang kesehatan

diterapkan dalam kasus kelalaian yang dilakukan oleh dokter yang terjadi di

wilayah hukum Pengadilan Negeri Manado yang telah Inkracht Van Gewijsde

hingga

memperoleh

Putusan

Peninjauan

Kembali

oleh

Mahkamah

Agung

Republik

Indonesia.

Serta

bagaimana

pertimbangan

Majelis

Hakim

dalam

mengkualifikasikan

unsur

perbuatan

malpraktik

kedokteran

sehingga

terjadi

perbedaan pendapat dalam tingkat Pengadilan Negeri Manado hingga Mahkamah

Agung. Penulis

ingin

menganalisis kembali putusan-putusan Majelis Hakim

tersebut dengan menggunakan prinsip-prinsip hukum pidana.

1.6. Metode Penulisan

Metode

penulisan

merupakan

faktor

penting

dalam

penulisan

atau

penyusunan karya tulis yang bersifat ilmiah agar pengkajian dan penganalisisan

terhadap objek studi dapat dilakukan dengan benar dan optimal. Penelitian

dibutuhkan suatu metode yang tepat, sehingga dapat memberikan hasil ilmiah.

Menentukan metode penulisan yang tepat, sangat dibutuhkan pemahaman oleh

penulisnya. Metode yang diterapkan bertujuan untuk memberikan hasil penelitian

14

yang

bersifat

ilmiah

agar

analisis

yang

dilakukan

terhadap

studi

dapat

dipertanggungjawabkan. Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menentukan

aturan

hukum,

menjawab

isu

prinsip-prinsip

hukum

yang

hukum

maupun

doktrin-doktrin

dihadapi. 11

Penelitian

untuk

hukum guna

penulisan

ini

menggunakan tipe penelitian yuridis normatif (legal research). Tipe penelitian

Yuridis Normatif dilakukan dengan cara mengkaji berbagai aturan hukum yang

bersifat formil seperti undang-undang, peraturan-peraturan yang terkait dengan

permasalahan yang dibahas.

1.6.1. Pendekatan Masalah

Metode pendekatan masalah yang digunakan dalam penyusunan tesis ini

yaitu pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual

(conceptual approach), dan pendekatan kasus (case approach)

Pendekatan perundang-undangan (statute approach) merupakan pendekatan

yang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang

bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. 12 Pendekatan undang-

undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah

konsekuensi dan kesesuaian antara undang-undang yang satu dengan undang-

undang

yang

lainnya untuk

memperoleh argumen yang sesuai. Pendekatan

konseptual

(conceptual

approach)

adalah

pendekatan

yang

beranjak

dari

pandangan-pandangan

dan

doktrin-doktrin

yang

berkembang

dalam

ilmu

hukum, 13 sehingga menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian

11 Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta, 2011. Hal. 35.

12 Ibid. Hal. 93.

13 Ibid.

15

hukum, konsep, dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu hukum yang

dihadapi. Pendekatan kasus (case approach), beberapa kasus ditelaah untuk

referensi bagi suatu isu hukum. 14 Dalam tesis ini mengkaji suatu kasus yang

tertuang

dalam

Putusan

Pengadilan

Negeri

Manado

Nomor:

90/Pid.B/2011/PN.Mdo, Putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor: 365/K/Pid/2012, dan Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung

Republik Indonesia Nomor: 79/PK/Pid/2013.

1.6.2. Bahan Hukum

Bahan hukum merupakan alat dari suatu penelitian yang dipergunakan

untuk memecahkan suatu permasalahan yang ada. Sumber bahan hukum yang

diperguna-kan dalam penulisan ini, yaitu:

1.6.2.1 Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif,

artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang-

undangan dan putusan-putusan hakim. 15 Bahan Hukum Primer yang digunakan

dalam penelitian ini terdiri dari :

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan

Hukum Pidana;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum

Acara Pidana;

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;

14 Ibid.

15 Ibid. Hal. 141.

16

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;

5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan;

6. Putusan Mahkamah Konstitusi No 4/PUU/ - V/2007 tentang Judicial Review Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004;

7. Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor:

79/PK/Pid/2013;

8. Putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor:

365/K/Pid/2012;

9. Putusan Pengadilan Negeri Manado Nomor: 90/Pid.B/2011/PN.Mdo.

1.6.2.2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yang dipergunakan antara lain adalah buku, teks,

atau pendapat para ahli hukum yang dituangkan dalam laporan penilitian, jurnal,

majalah, artikel-artikel di media massa, kamus hukum, dan sumber-sumber lain

yang terkait.

1.6.3. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum

Pengumpulan dan pengolahan bahan hukum dilakukan dengan mendasar

pada bahan hukum yang diperoleh dari sumber hukum primer maupun sekunder.

Selanjutnya,

sumber

bahan

hukum

tersebut

diseleksi

dan

diklasifikasikan

berdasarkan permasalahan yang tercantum dalam penelitian ini.

Data

bahan

hukum

sekunder

digabungkan

satu

dengan

yang

lainnya,

sehingga diperoleh gambaran spesifik mengenai permasalahan dalam bahasan

penelitian ini. Setelah proses seleksi dan klasifikasi terselesaikan, kemudian

dilakukan penajaman analisis terhadap bahan-bahan hukum yang ada. Dengan

17

demikian, akan didapatkan sebuah penjelasan yang sistematis dan logis untuk

menyelesaikan permasalahan dalam penelitian ini.

1.6.4. Analisis Bahan Hukum

Proses analisis bahan hukum merupakan suatu proses menemukan jawaban

dari pokok permasalahan yang timbul dari fakta. Metode analisis bahan hukum

yang dipergunakan dalam penulisan ini adalah menggunakan metode deduktif

yaitu suatu metode berpangkal dari hal yang bersifat umum ke khusus yang

selanjutnya bahan hukum tersebut, yaitu bahan hukum primer dan bahan hukum

sekunder tersebut diolah secara kualitatif yaitu suatu pengolahan bahan-bahan

non

statik.

Langkah

selanjutnya

yang

penelitian hukum adalah : 16

digunakan

dalam

melakukan

suatu

1. Mengidentifikasi fakta hukum dan mengeliminir hal-hal yang tidak relevan untuk menetapkan isu hukum yang hendak dipecahkan;

2. Pengumpulan bahan-bahan hukum dan kiranya dipandang mempunyai relevansi juga bahan-bahan non hukum;

3. Melakukan telaah atas isi hukum yang diajukan berdasarkan bahan-bahan yang telah dikumpulkan;

4. Menarik kesimpulan dalam bentuk argumentasi yang menjawab isu hukum;

5. Memberikan preskripsi berdasarkan argument yang telah dibangun di dalam kesimpulan.

Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melalui pengolahan

bahan-bahan hukum yang telah dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian disusun

secara sistematis dan terarah dengan menggunakan metode preskriptif, yaitu

setiap analisis tersebut akan dikembalikan pada norma hukum karena alat ujinya

adalah

norma

hukum

yang

bersarankan

logika

deduksi

yaitu

logika

yang

18

berpangkal dari prinsip-prinsip dasar yang kemudian dikaitkan dengan fakta yang

dijumpai. 17

1.7. Sistematika Penulisan

Pertanggungjawaban

sistematika

bertujuan

agar

penelitian

dapat

tersistematisasi dengan baik. Oleh karena itu, penulis membagi penelitian ini ke

dalam 4 (empat) bab yaitu sebagai berikut :

BAB I merupakan pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang

masalah,

serta

rumusan

masalah

yang

ingin

dibahas

dalam

penelitian

ini.

Rumusan masalah dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :

1. Apakah tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana dalam kasus

kelalaian yang dilakukan oleh dokter ?

2. Bagaimana pertimbangan Majelis Hakim dalam Putusan Pengadilan

Negeri

Manado

Mahkamah

Agung

Nomor

90/Pid.B/2011/PN.Mdo,

Putusan

Kasasi

Republik

Indonesia

Nomor 365/K/Pid/2012,

dan

Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia

Nomor 79/PK/Pid/2013 ?

Selain itu, BAB I berisi tujuan penelitian serta penjelasan dan alasan

pemilihan judul. Dilanjutkan dengan metode penulisan, dan diakhiri dengan

sistematika penulisan.

BAB II adalah bagian yang menjelaskan konsep-konsep dasar tindak pidana

kelalaian yang dilakukan oleh dokter, baik yang tercantum dalam peraturan

perundang-undangan, maupun pengertiannya menurut pendapat para ahli ilmu

17 Ibid. Hal. 42.

19

hukum.

Selain

itu,

bagian

ini

juga

menjelaskan

bentuk

dan

mekanisme

pertanggungjawab terhadap dokter

pasiennya.

yang telah melakukan kelalaian terhadap

BAB III berisi tentang penjelasan dan analisis pertimbangan Majelis Hakim

dalam

Putusan

Pengadilan

Negeri

Manado

Nomor

90/Pid.B/2011/PN.Mdo,

Putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 365/K/Pid/2012,

dan Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor

79/PK/Pid/2013.

Penulis

juga

akan

melakukan

tinjauan

yuridis

terhadap

pertimbangan Majelis Hakim dalam mengkualifikasikan tindak pidana kelalaian

yang dilakukan oleh dokter.

BAB IV merupakan bab terkahir yang berisikan kesimpulan dan saran dari

peneliti. Kesimpulan menguraikan tentang intisari dari permasalahan yang telah

diuraikan atau dijabarkan pada BAB II dan BAB III. Saran berisi masukan atau

solusi yang dapat diberikan yang nantinya dapat menjadi pandangan yang baik

bagi para pembaca maupun penulis-penulis lain yang ingin mengembangkan

penulisan dalam topik yang berbeda namun masih dengan tema yang sama.