Anda di halaman 1dari 39

DASAR-DASAR PENDIDIKAN AGAMA

KRISTEN

BAB I
HAKEKAT PAK
A. Pengertian PAK
Pendidikan Kristen didasarkan pada kebenaran Firman Tuhan. Alkitab
mengungkapkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang harus memuliakan Allah,
sehingga pendidikan tidak hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tuntutan
moralitas Allah.
Menurut Hieronimus (345-420), PAK adalah pendidikan yang bertujuan mendidik
jiwa sehingga menjadi Bait Tuhan. Karena itu haruslah kamu sempurna sama seperti
Bapamu yang disorga adalah sempurna. (Mat. 5:48)[1]
Menurut Martin Luther (1483-1548), PAK adalah pendidikan yang melibatkan jemaat
untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka dan bersukacita dalam
firman Yesus Kristus yang memerdekakan. Disamping itu, PAK memperlengkapi mereka
dengan sumber iman, khususnya yang berkaitan dengan pengalaman berdoa, firman tertulis
(Alkitab), dan berbagai kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesame, termasuk
masyarakat dan Negara, serta mengambil bagian dengan bertanggung jawab dalam
persekutuan Kristen.[2]
Menurut Agustinus (345-420), PAK adalah pendidikan yang bertujuan mengajar
orang supaya melihat Allah dan hidup bahagia. Dalam pendidikan ini, para pelajar sudah
diajar secara lengkap dari ayat pertama kitab Kejadian Pada mulanya Allah menciptakan
langit dan bumi hingga arti penciptaan itu pada masa gereja sekarang. Pelajaran Alkitab
difokuskan pada perbuatan Allah.[3]
Campbell Wyckoff (1957) menyatakan bahwa PAK menyadarkan setiap orang akan
Allah dan kasihNya dalam Yesus Kristus, agar mereka mengetahui diri dan keadaan mereka
yang sebenarnya, serta bertumbuh sebagai anak Allah dalam persekutuan Kristen, memenuhi
panggilan bersama sebagai murid Yesus di dunia, dan tetap percaya pada pengharapan
Kristen.[4]
Werner C. Graendorf (1976) mengatakan bahwa PAK adalah proses pengajaran dan
pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung pada kuasa
Roh Kudus, yang membimbing pada setiap pribadi pada semua tingkat pertumbuhan melalui
pengajaran masa kini ke arah pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah
melalui Kristus dalam setiap aspek kehidupan, dan memperlengkapi dalam pelayanan yang
efektif, dan berpusat kepada Kristus sang guru agung dan perintah yang mendewasakan para
murid.[5]

KRISTUS PUSAT BERITA


Amanat agung
Mat 28:19-20
Murid

Proses PAK
2Tim 2:2
Memuridkan

Hasilnya
Ef 4:11-13
Murid Dewasa

Alkitab sebagai dasar


Kesimpulannya PAK yang alkitabiah harus mendasarkan diri pada alkitab sebagai
firman Allah dan menjadikan Kristus sebagai pusat beritanya dan harus bermuara pada
hasilnya, yaitu mendewasakan murid.[6]
Dewan Nasional Gereja-gereja Kristus di USA (1952) menyatakan bahwa PAK adalah
proses pengajaran agar pelajar semakin bertumbuh menafsirkan dan mempertimbangkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, pendidikan agama Kristen memanfaatkan
pengalaman beragama umat manusia sepanjang abad agar menghasilkan gaya hidup kristiani.
[7]
Sidang Raya Gereja Presbiterian USA (1947) menyatakan bahwa PAK adalah
pendidikan yang bertujuan mengajar jemaat untuk menjadi murid Yesus Kristus. diharapkan
mereka dapat menemukan kehendak Allah, kemudian melaksanakannya di lingkungan
setempat, nasional, dan internasional.[8]
PAK adalah pendidikan yang berisi ajaran-ajaran kekristenan dengan menekankan
ketiga aspek pendidikan yaitu pengetahuan (kognitif), sikap dan nilai-nilai (afektif), dan
keterampilan (psikomotor) yang berdasarkan iman Kristen. Pengertian ini lebih menekankan
pada pengajaran kepada anak didik atau umat.[9]
Menurut Robert R. Boehlke, PAK adalah usaha gereja dengan sengaja menolong
orang dari segala umur yang dipercayakan kepada pemeliharaanNya untuk menjawab
penyertaan Allah dalam Yesus Kristus, Alkitab dan kehidupan gereja supaya mereka itu
dibawah pimpinan Roh Kudus yang dapat diperlengkapi untuk melayani ditengah lembaga
gereja, masyarakat, dan dunia (alam). PAK adalah menolong orang lain agar anak didik hidup
di bawah pimpinan Roh Kudus.[10]
PAK pada hakekatnya adalah bagian utuh dan terpadu dari sistem pendidikan nasional
yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia, berdasarkan Pancasila, dan UUD 1945,
yang mengamanatkan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. PAK memusatkan
perhatiannya pada dimensi religius manusia yaitu bagaimana umat manusia memiliki
hubungan yang harmonis dengan Allah.
B. Tujuan PAK
Secara pengertian, tujuan PAK adalah membangun kerajaan Allah (PL), membangun
kerajaan Allah dalam pemberitaan Tuhan Yesus (PB). Secara iman Kristen, tujuan PAK
adalah
1. Iman sebagai kepercayaan (believing)
2. Iman sebagai keyakinan (trusting)
3. Iman sebagai tindakan (doing)
Menurut John Calvin (1509-1661) PAK adalah pendidikan yang bertujuan mendidik
putra putri gereja agar :
1. Terlibat dalam penelaahan alkitab secara cerdas sesuai dengan bimbingan Roh Kudus

2. Turut ambil bagian dalam kebaktian dan memahami keesaaan gereja


3. Diperlengkapi untuk memilih cara-cara menjelaskan pengabdian diri kepada Allah Bapa dan
Yesus Kristus dalam pekerjaan sehari-hari, serta hidup bertanggung jawab dibawah
kedaulatan Allah demi kemuliaanNya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih
dalam Yesus Kristus.[11]
C.L.J. Sherrill (1892-1957) menjelaskan bahwa PAK bertujuan memperkenalkan
alkitab kepada pelajaran sehingga mereka siap menjumpai dan menjawab Allah,
memperlancar komunikasi secara mendalam antar pribadi tentang keprihatinan insani, serta
mempertajam kemampuan menerima fakta bahwa mereka dikuasai kekuatan dan kasih Allah
yang memperbaiki, menebus, dan menciptakan kembali.[12]
Dalam konferensi kajian PAK di Sukabumi (1955, E.G.Homrighaussen)
mengemukakan bahwa tujuan PAK adalah pembelajaran bagi orang muda dan tua agar
memasuki persekutuan yang hidup dengan, oleh dan dalam Dia sehingga terisap dalam
persekutuan yang mengakui dan memuliakan namaNya disegala waktu dan tempat.[13]
James D. Smart dalam bukunya The Teaching Ministry of the Church merumuskan
tujuan akhir dari PAK dalam kata-kata sebagai berikut : kita mengajar agar melalui
pengajaran kita, Allah dapat bekerja di hati mereka yang diajar, untuk menjadikan mereka
murid-murid yang meyakinkan baik dengan kata-kata maupun perbuatan ditengah-tengah
dunia.[14]
Di Indonesia, Komisi PAK dari dewan gereja-gereja di Indonesia pernah merumuskan
tujuan akhir dari PAK dengan kata-kata sebagai berikut: mengajak, membantu, menghantar
seseorang untuk mengenal kasih Allah yang nyata di dalam Yesus Kristus, sehingga dengan
pimpinan Roh Kudus Ia datang ke dalam suatu persekutuan yang hidup dengan Tuhan. Hal
ini dinyatakan dalam kasihnya kepada Allah dan sesame manusia, yang dihayati dalam
hidupnya sehari-hari, baik dalam kata-kata maupun perbuatan selaku anggota tubuh Kristus
yang hidup.[15]
Ahli lain Werner C. Greandoff dalam bukunya Introduction to biblical Christian
education mengatakan bahwa tujuan PAK antara lain adalah untuk membimbing individuindividu pada semua tingkat perkembangannya, dengan cara pendidikan kontemporer,
menuju pengenalan serta pengalaman akan tujuan serta rencana Allah dalam Yesus Kristus
melalui setiap aspek kehidupan, dan untuk memperleengkapi mereka demi pelayanan yang
efektif.[16]
Seluruh calon orang Kristen diminta dengan cara yang khusus untuk menerima Yesus
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Melakukan ini berarti menerima tuntutantuntutan keanggotaan di Kerajaan Allah sebagaimana yang diberitakan oleh Yesus.
Sebagaimana Dia meminta keputusan pada zamanNya, demikian juga Dia meminta
keputusan pada zamanNya, demikian juga Dia meminta keputusan pada masa kita: mencari
kerajaan Allah terlebih dahulu seperti yang Dia teladankan dan khotbahkan (Mrk 1:15).[17]
PAK dilakukan untuk menciptakan persekutuan dengan Allah dan mewujudkan
pertumbuhan iman Kristen membawa jiwa untuk semakin mengenal Allah dan mengasihi
Allah yang telah terlebih dahulu mengasihinya.

BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN PAK
A. Dasar Pendidikan Agama Kristen Masa Kuno (pendidikan Yunani-Romawi)
1. Plato (kira-kira tahun 428-348 SM)
Plato berasal dari keluarga bangsawan dan dalam silsilah nenek moyangnya terdapat
nama raja-raja kota atena. Plato sangat terkenal karena belajar dari gurunya Socrates.
Menurut Plato, baik pria maupun wanita berhak menerima pendidikan dan orang-orang yang
terdidik akan menjadi pemimpin masyarakat, atau dalam kata-kata Plato, mereka akan
menjadi raja-raja yang mampu berpikir filosofis. Menurut Plato ada tiga pokok penting yang
harus menjadi sasaran untuk dicapai dalam pendidikan, yaitu:
Emosi.
Emosi para anak didik harus dikembangkan melalui music dan cerita yang memperlihatkan
manusia atau dewa dewi dalam kegiatan yang baik. Semua cerita yang mengisahkan tentang
kelakuan yang kasar dan kejam tidak boleh dibaca atau didengar. Ketiga unsure music yaitu:
kata-kata, lagu dan iramanya perlu disesuaikan satu sama lain sehingga anak didik terdorong
untuk mencapai kehidupan yang berbudi tinggi.
Tubuh.
Tubuh setiap pelajar harus dilatih. Dengan demikian, olahraga memainkan peranan penting
dalam pendidikan yang ditekankan Plato. Kaum terpelajar memerlukan tubuh yang kuat dan
yang berdisiplin. Tubuhnya perlu dilatih agar mampu menahan kesulitan, bahkan tantangan
yang dialami seorang prajurit.

Akal.
Perlu untuk mengembangkan seseorang yang berbudi tinggi, mencakup semua ilmu yang
menantang akal dan mendorong sikap untuk menyelidiki dan mengamati.[18]
2. Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles lahir di desa Stagira, negeri Thrakia yaitu bagian utara yunani modern
sekarang ini. Aristoteles dipanggil menjadi guru pribadi Iskandar, putra Pilipus, Raja
Makedonia. Ia menjelaskan bahwa sifat pendidikan adalah menanamkan pendidikan dalam
diri anak didiknya yang kehausan akan pengetahuan dan cara meneliti apa yang ditemuinya
dengan seksama. Bagi aristoteles, pendidikan termasuk kegiatan insani yang mempunyai
maksud utama yaitu menolong orang mencapai kebahagiaan (eudaimonia). Sebagai dasar
pendidikannya, ia menitikberatkan pentingnya panca indera manusia. Sama seperti halnya
dengan ribuan orang lainnya, maka ia juga mengamati kecondongan anak-anak kecil untuk
menyentuh benda-benda, mencium bunga, mengamati dunia sekitarnya, mendengar suara
anggota-anggota keluarga, meresapi maknanya dan seterusnya. Secara otomatis anak-anak
melibatkan dirinya dalam kegiatan demikian. Ia belajar dari pengalaman. Untuk itu aristoteles
menyimpulkan bahwa pendidikan melalui kebiasaan harus mendahului pendidikan melalui
akal. Dengan kata lain, baik buruknya seseorang dipelajari melalui apa yang dialaminya. Jadi,

aristoteles menggunakan metode dalam mendidik atau mengajar yaitu dengan menggunakan
media pembelajaran.[19]
3. Quintilianes (35-39 M)
Quintilianes berasal dari spanyol dan usaha memperbaiki pendidikan quintilianes
adalah guru romawi pertama yang diangkat sebagai guru rhetorika yang dibayar Negara. Ia
memilih suatu ruang lingkup yang jauh lebih terbatas, yaitu mengajar orang-orang
memperoleh salah satu keterampilan. Ia memiliki tujuan ingin mengubah masyarakat dengan
jalan meningkatkan pidato-pidato.
Pendidikan Agama Kristen khususnya sejak awal sama dengan pikiran dan prakteknya
selama abad pertengahan berakar baik dalam kebudayaan yunani romawi. Dari yang pertama
itu, yaitu melalui pendekatan Socrates, misalnya para pendidik Kristen belajar bagaimana
menjernihkan pikiran melalui seri pertanyaan yang semakin mendalam. Selanjutnya, pikiran
salah seorang muridnya yang bernama plato dimanfaatkan para pemimpin Kristen untuk
menyoroti intisari pendidikan sebagai proses mengantar orang untuk meninggalkan perasaan
aman mereka yang berporos dunia baying-bayang agar bertindak sesuai dengan dunia yang
nyata.
Quintilianes memilih suatu ruang lingkup yaitu mengajar orang-orang memperoleh
salah satu keterampilan. Metode yang dipakai oleh quintilianes adalah metode menghafal.
Meenurutnya bahwa semua bahan yang dipelajari tidak perlu dipahami keseluruhannya pada
saat itu juga. Nanti si pelajar dapat mengingat kembali pelbagai kalimat, gagasan dan
sebagainya, untuk memenuhi pemahaman itu. Kesan-kesan yang diterimanya selama bahan
itu dihafalkan akan mempengaruhi perilakunya secara positif.
Metode lain yang dipakainya adalah belajar sambil bermain. Ia sadar akan pentingnya waktu
senggang atau waktu ketika para pelajar boleh bersantai. Apabila asas ini tidak dihiraukan,
anak-anak akan cepat lelah dan bosan dalam tugas mereka. Bagi anak-anak kecil, permainan
mempunyai peranan yang serupa.[20]
B. Pendidikan Agama Kristen dalam Gereja Purba (abad 2-5)
1. Clementus (150-215 M)
Clementus lahir di kota atena dan meninggal di palestina. Pada umurnya yang ke-30
tahun, ia masuk di sekolah katekisasi Aleksandria dan belajar dibawah bimbingan Pantaeus,
yang juga menjadi kepala sekolah ditempat itu, dan ia juga diangkat menjadi kepala sekolah
di sebuah perguruan tinggi di sekolah tersebut.
Gagasan-gagasan pokok di bidang PAK yang dijelaskan oleh Clementus terdapat dalam
tiga karya yaitu protrepikos (nasehat yang disampaikan kepada kaum kafir), paidagogos (sang
pendidik yaitu Kristus) dan stomaties (bunga rampai).
Buah-buah pikirannya dibidang pendidikan agam Kristen yang paling mapan terdapat
dalam paidagogos. Menurut clementus, sang pengajar yang memainkan peranan utama dalam
PAK bukanlah seorang yang berdiri di depan kelas, siapapun dia. Pendidikan pokok adalah
tidak lain dari pada firman Allah yaitu Kristus. Pengalaman belajar mengajar dijadikan
pengalaman yang menyelamatkan para pelajar dari kesalahan dan serentak membimbing

1)
2)
3)
4)

mereka sehingga memeluk kehidupan yang sejati, yaitu yang berhubungan dengan Allah
sendiri.
Kurikulum yang dipakai para guru sekolah katekismus di Aleksandria tempat clementus
mengajar dan mempin adalah lebih luas dari sekolah teologi lainnya karena disamping ajaran
teologi, para pelajar jjuga mengikuti pelajaran umum. Jadi tamatan sekolah tinggi itu
diharapkan mampu berpikir mendalam tentang berbagai masalah sama seperti kaum belajar
bukan Kristen, bahkan lebih mendalam lagi.
Ada 4 unsur penting dalam pendidikan yaitu:
Pendidikan mencakup seorang yang rela belajar
Seorang lain yang mengajar
Suatu proses yang memperlancar pengalaman belajar mengajar
Berbagai hasil dari pengalaman tersebut.[21]

2. Origenes (185-224 M)
Ia mengharumkan nama kota Aleksandria baik sebagai pelajar maupun rector sekolah
katekismus disana. Menurutnya, pandangan mengenai filsafat yunani yang dikemukakan oleh
plato bahwa dunia yang berubah-ubah ini dan kenyataan rohani yang berubah-ubah juga,
origenes sependapat dengan pandangan ini. Pandangan mengenai kemampuan manusia untuk
berpikir bahwa akal manusia mempunyai kemungkinan yang teramat kaya yang dia lakukann
untuk mengerti isi dan nats alkitabiah. Dia terus berusaha meski terkadang dia menemukan
kesulitan dalam menafsirkan. Dan juga dia juga memberi pengertian dengan usaha yang dia
lakukan untuk mengetahui isi alkitab dengan bersandar pada Roh Allah yang akan member
pengertian. Dia menggunakan metode alegoris atau metode ibarat yang menafsirkan isi
alkitab. Dengan metode ini menurut dia untuk data membebaskan arti dan isi yang
dimaksudkan oleh penulis. Melalui inilah yang dia maksud salah satu tugas pokok menjadi
seorang guru PAK yang menafsirkan dari isi alkitab.[22]
3. Hieronimus (345-420 M)
Hieronimus adalah seorang biarawan yang mengabdikan diri kepada Tuhan melalui
kesarjanaannya dan tulisan-tulisan paedagogis yang mencatat bentuk pendidikan yang serasi
bagi seorang biarawan. Pandangannya tentang pendidikan bagi anak-anak, khusunya anak
perempuan, diuraikannya secara jelas dalam dua buah surat yang dikirimnya kepada seorang
ibu, Laeta namanya, dan seorang ayah yang bernama Gautentius.
Menurut hieronimus sasaran pendidikannya adalah untuk mendidik jiwa. Haruslah ia
sempurna sama seperti Bapanya yang disorga sempurna (Mat 5:48). Salah satu asas lain lagi
yang masih relevan adalah pengalaman belajar hendaknya merupakan sesuatu yang dinikmati
oleh anak didik. Ia sadar juga bahwa orang condong belajar lebih cepat sebagai anggota
kelompok dari pada sebagai seorang diri saja. Dengan mendengar atau melihat prestasi anakanak yang sebaya, maka ia akan didorong untuk belajar lebih rajin lagi.
Asas-asas pengajarannya adalah:
a. Sesuatu yang tetap disebut prinsip yang paedagogis, jangan sampai apa yang kita pelajari
terhapus dimasa yang akan datang (tidak dipakai lagi)

b. Pengalaman belajar hendaknya sesuatu yang dinikmati oleh anak didik (jika anak berprestasi
diberi pujian karena pujian menjadi hadiah yang disukai)
c. Bersama kelompok seseorang lebih mudah belajar dari pada individu (jika kita melihat
teman kita berhasil maka kita juga termotivasi.
d. Kesabaran dari pihak guru, jangan dihukum bila anak tidak mampu menangkap apa yang
telah diajarkan
e. Ruang lingkup pendidikannya masalah penggunaan bahasa, pengetahuan dan pengalaman
rohani dan keterampilan.
Pengertian Hieronimus tentang pengajaran agama, ia tidak mengajarkan secara
kronologis yaitu dari kejadian wahyu, tetapi ia memilih kurikulumnya berdasarkan alasan
yang dianggapnya meyakinkan, dengan memulai dari kitab-kitab yang memenuhi kebutuhan
beribadah dan hidup (mazmur dan amsal).[23]
4. Yohanes Chrysostomus (347-407 M)
Pendidik gereja in lahir pada tahun 347 di kota antiokhia, kemudian digelari
Chrysostomus, artinya mulut kencana dan mahaguru di dunia. Yohanes Chrysostomus
mempunyai nama kecil yohanes, ia dilahirkan dari seorang ibu Kristen, bernama Antusa,
seorang bangsawan yang kaya dan cantik.
Ayahnya seorang perwira tinggi dalam angkatan bersenjata romawi, namun meninggal tidak
lama sesudah kelahiran yohanes.
Gol atau tujuan pendidikan agama Kristen menurutnya adalah bagaimana tiap orang yang
dibimbing atau dibina supaya memiliki disiplin dan mengikuti aturan yang ada supaya
menjadi seperti seseorang olahragawan yang mempunyai disiplin dan melatih diri terus
menerus dan bukan pada waktu senggang saja, tetapi setiap saat, sesuai gagasan rasul paulus
dalam 1Kor 9:24-27.
Unsur yang terlibat dalam PAK adalah lingkungan luas, suasana keluarga (orangtua),
pengalaman anak pada masa kecil akan mempengaruhi masa perkembangan anak didik.
Metode PAK sendiri dapat diberikan dengan menjalankan peran orang ttua atau pendidik.
Metode yang ia kemukakan adalah:
a) Membimbing kepada anak sejak kecil, sejak dini sesuai alkitab.
b) Membicarakan kepada anak tentang pentingnya kesucian seorang gadis, bagaimana sikap
kita dalam memandang kekayaan dan ketenaran atau mana yang boleh kita lakukan dan
mana yang tidak boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam pergaulan
c) Dalam hal ini, pendidik harus peka dalam menceritakan cerita alkitab pada anak (hendaknya
cerita disesuaikan dengan umur anak).[24]
5. Aurelius Agustinus (354-430 M)
Seorang teolog yang dihormati, baik oleh gereja katolik roma maupun protestan.
Lahir di afrika utara, ibunya Monika, harus digolongkan dalam sejumlah ibu Kristen sejati
yang paling berpengaruh atas diri anaknya.
Hal yang paling mendalam kegiatan belajar mengajar adalah berkaitan dengan usaha
mannusia untuk mengenal Allah dan diri si pelajar itu sendiri. Tujuan belajar PAK yaitu
menghantar para pelajar untuk memupuk kehidupan rohani, membuka diri untuk firman
Tuhan sehingga memperoleh pengetahuan tentang perbuatan Allah yang ajaib sebagaimana

tertulis dalam alkitab maupun dalam buku-buku rohani. Sebagai tujuan akhir PAK, pelajar
mengalami hikmat, suatu pengalaman yang didalamnya terkandung kesalehan, persekutuan
dengan Allah, kebahagiaan pribadi, pengetahuan dan pengertian serta kemampuan untuk
hidup sebagai warga gereja dalam suatu masyarakat umum. Pengajar dapat merencanakan
pengalaman belajar dari:

Sumber mana yang dipakai, isi pelajaran, kurikulum.

Metode yang tepat dalam penyampaian (gaya berceramah atau dialogis)

Menjadi teladan guru mengusahakan gaya hidup sendiri dan apa yang diajarkan
PAK menurutnya adalah pendidik yang bertujuan untuk mengajar orang supaya
melihat Allah dan hidup bahagia. [25]

C. Pendidikan Agama dalam Abad Pertengahan (abad 6-14)


1. Karel Agung (742-814 M)
Tahun 771 Karel beserta adiknya, Karloman mengambil alih kekuasaan kerajaan Frank
pada kewafatan ayah mereka Pepin yang pendek. Raja karel tidak enggan menggunakan
kekuasaan militer tetapi yang membedakan dengan raja lainnya adalah ia ingin membangun
kerajaaannya diatas batu yang kuat yaitu batu pendidikan. Seperti perumpamaan Yesus
tentang membangun rumah yaitu di Mat 7:25b. Seperti yang diungkapkan oleh penasehatnya.
Enhard yaitu bahwa prakarsa tidaknya yang mempertinggi kepentingan pendidikan, khusunya
dia mengeluarkan proklamasi pedagogis yang amat bermakna dalam sejarah pendidikan,
termasuk PAK seperti surat yang dialamatkan pada uskup Baugulf untuk dikirim kepada
semua uskup lainnya dan kepala-kepala biara, yang dinamakan piagam umum pertama
bidang pendidikan, khususnya bagi abad pertengahan, yang mencakup tiga golongan pelajar
yaitu:
Para imam
Biarawan
Kaum muda (laki-laki)
Raja berkeyakinan bahwa para imam dalam biarawan wajib belajar maupun mendidik
sepanjang hidup mereka (long life education), dan mengambil tindakan-tindakan yang
hendak mempertinggi mutu semua pelayan gereja:
Pertama-tama semua calon imamat menempuh ujian ketat
Hak mentahbiskan calon imam dikembalikan pada uskup saja
Untuk mempertinggi mutu kehidupan warga jemaat, Raja Karel memerintahkan para imam
untuk membawa khotbah yang menjelaskan tentang:

Pengakuan keduabelas iman rasuli


Sepuluh firman
Doa Bapa kami[26]

2. Alfred Agung (849-901 M)


Alfred lahir tahun 849, anak bungsu dari raja Aethelwulf dari kerajaan Wesseks. Dari
sudut orang tuanya, Alfred muda itu adalah seorang anak emas. Ia naik takhta sebagai
seorang pemuda yang berumur 22 tahun yang baru saja mampu membaca dan menulis bahasa
latin.
Pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama Kristen pada khususnya, sulit
dilaksanakan kalau belum ada buku dan majalah bermutu dalam bahasa para pelajar.
Bersandar pada satu sumber saja akan menghasilkan pandangan yang sempit, tidak
berimbang dan kreatif. Karena itu, Raja Alfred adalah bintang bercahaya, sebab dia menjadi
guru agung bagi bangsanya. Dia tidak hanya sadar akan kepentingan menyusun sastra dalam
bahasa daerah yaitu Inggris, tetapi dia sendiri memprakarsai tindakan-tindakan guna
mengatasi kekurangan sastra dalam bahasa inggris.[27]

3. Rabanus Maurus (776-856 M)


Rabanus Maurus warga jerman, lahir di Mainz. Belajar teologi di Paris di sekolah yang
didirikan oleh kaum missionaries inggris. Menjadi dosen di almamaternya dan kemudian
kembali ke Jerman memenuhi panggilan untuk mengurus pembaharuan di bidang pendidikan.
Disebut guru pertama di jerman karena mutu tinggi prestasinya. Walaupun pendidikan teologi
dalam arti sempit bukanlah PAK, namun titik berat pikiran Maurus tersebut layak
dimasukkan dalam sejarah PAK karena pada pokoknya PAK di jemaat bergantung pada mutu
kepemimpinan. Para pemikir di bidang PAK dan prakteknya di jemaat amat prihatin terhadap
isi pendidikan teologi yang diterima oleh calon pendeta. Menurutnya, apakah gereja ingin
melatih tukang alkitab saja atau sebaliknya para pemikir yang mampu berpikir lebih kritis
dan kreatif mengenai masalah-masalah insane dalam terang abadi dari Alkitab.
Ia berpikir agar semua calon pelayan firman hendaknya memperoleh pengetahuan yang
selengkap-lengkapnya disamping mencari gaya hidup yang sesuai dengan panggilan
mereka. [28]
4. Petrus Abelardus (1079-1142 M)
Dia berasal dari daerah Brittany, Barat laut paris, tempat yang diduduki oleh orang kasar
yang lebih terkenal karena jumlah warganya yang masuk tentara ketimbang yang memilih
kehidupan sarjana.
Petrus Abelardus mendidik kita tentang pentingnya mengajukan pertanyaan sebagai dasar
memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru. Dalihnya yang ternama adalah dengan

meragukan, kita mulai ertanya, dan dengan bertanya kita menangkap kebenaran.
Kemampuan abelardus sangat tinggi, sehingga dalam waktu singkat dia sudah menguasai
bidang dialektika, suatu pokok pelajaran yang melatih seseorang menentang salah satu
ucapan atau gagasan dengan lainnya sehingga menghasilkan pikiran atau gagasan baru. Ia
tetaplah seorang pendidik besar karena dia mengajar tentang kesucian keragu-raguan bukan
sebagai tujuan terakhir, dan bukan pula karena menikmati ketidaktenangan seseorang yang
sudah lama merasa aman pada sion nya yang khas, melainkan sebagai tahap kreatif untuk
memperoleh pikiran lebih baik lagi. Tidak ada yang lebih kuat melumpuhkan pikiran
daripada menerima segala sesuatu begitu saja karena didukung oleh tokoh penguasa, oleh
sumber tertulis yang dianggap berkuasa, ataupun karena sudah lama diterima demikian saja.
Adalah lebih besar manfaatnya bagi para pendidik yang meletakkan pada dinding kamar
belajarnya dari kutipan ambelardur yang disebutkan diatas yaitu dengan meragukan, kita
melalui bertanya, dan dengan bertanya kita menangkap kebenaran.[29]
5. Santo Thomas Aquinas (1225-1275 M)
Santo Thomas Aquinas berasal dari keluarga bangsawan yang mempunyai hubungan
dengan keluarga bangsawan lainnya di eropa. Tempat lahirnya yaitu di Aquino dekat kota
naples di italia. Dalam pelayanan pendidikan, ia menguraikan arti pendidikan secara
menyeluruh dimana tersirat pokok-pokok pedagogic yang berharga dalam karyanya De
Magistra-Sang Guru, yaitu:
a. Baginya setiap pribadi mampu dan berhak mencari pengetahuan baik anak didik maupun
pendidik. Ada 2 pendekatan utama dalam memperoleh pengetahuan, yaitu setiap pelajar dapat
menggunakan pikirannya untuk menemukan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya.
Pelajar dapat membutikan kemampuannya, tetapi metode ini tidak efektif karena
menghabiskan waktu dan tenaga. Bergantung pada keahlian sang mentor yang memupuk
bakat si pelajar. Metode ini dianggap lebih baik karena sang mentor adalah orang yang lebih
berpengalaman dan pengetahuannya lebih luas.
b. Guru adalah penolong pelajar. Guru membantu pelajar untuk menghubungkan pengetahuan
yang sudah ada dengan masalah yang belum diketahui sebelumnya. Guru menolong pelajar
untuk membuktikan sejauh mana intinya memberlakukan asas-asas yang dipegang pada saat
itu ataupun asas asas itu untuk ditiadakannya. Kegiatan proses mengajar adalah dimana
seorang guru sedang mengajar kepada muridnya dengan akal yang alamiah dan si pelajar
sendiri mencapai pokok-pokok pengetahuan yang tidak diketahui sebelumnya.
Kata-kata bijak yang disampaikan oleh Thomas sebagai asas-asas mengajarnya, yaitu:
a) Kepada pelajar
Jangan meninggalkan pokok-pokkok masalah sebelum memecahkannya, harus ada
pemahaman tentang isi apa saja yang dibaca atau didengar.
b) Kepada pengajar
Jangan menggali di depan langkah si pelajar, parit yang belum ditutupi, artinya jangan
menimbulkan keragu-raguan dalam pikiran pelajar hanya dengan maksud mengejutkan saja,
seorang pengajar jangan hanya mengemukakan masalah terus-menerus tanpa berusaha
membimbing para pelajar memperoleh jawaban yang benar.[30]

6. Jean Charlier de Gerson (1363-1429 M)


Seperti yang ditunjukkan oleh namanya, pendidik besar ini berasal dari gerson di
Perancis. Dari tahun 1377-1384, dia mempelajari teologi pada kolegia Navarre, bagian dari
Universitas Paris, di bawah perlindungan adipati dari Bergundi. Karya Gerson berupa
pamphlet yang berjudul on leading children to Christ, isinya sekitar mengantar anak didik
kepada Kristus, yang di dalam pendahuluan karyanya berisi tentang bagaimana kurangnya
perhatian terhadap keterampilan dalam pelayanan untuk membina seorang apalagi untuk
membina anak-anak, bahkan kaum imam pun kurang memperhatikannya. Dalam bahasa
kiasnya ia mengatakan bahwa orang buta menuntun orang buta karena itu tidak perlu
menjadi seorang penglihat untuk meramalkan kemalangan yang dihasilkan atas diri para
warga jemaat khususnya yang muda atas sikap bodoh ini.
Nampaklah dalam diri Gerson bagaimana dalam jabatan guru, dalam arti PAK merupakan
pengalaman rohani dan intelektual. Dengan kesabaran, Gerson ingin membimbing anak-anak
meninggalkan kesalahannya sehingga dipersiapkan melakukan kelakuan baru.[31]
7. Disiderius Erasmus (PAK menjelang reformasi)
Erasmus lahir pada tanggal 27 Oktober 1466 di kota Rotterdam. Menurut Erasmus,
pengalaman pendidikan formal, entah yang berlangsung di sekolah Negara/swasta atau
pendidikan di kalangan jemaat, hendaknya mengembangkan karunia apa saja dalam diri
setiap pelajar dalam suasana yang menghargai kebebasan berpikir dan hak mempelopori jalan
dan gagasan berbeda dalam terang injil, dalam arti tidak bergantung secara buta pada
kebiasaan yang diterima secara umum. Yang tidak kalah pentingnya ialah tujuan
memperlengkapi anak didik untuk mengkomunikasikan pikirannya sejelas mungkin. Erasmus
bermaksud melatih anak didik menggunakan bahasa latin secara cerdas.[32]

D. Pendidikan Agama Kristen pada zaman Reformasi (abad 15)


1. Marthin Luther (1483-1546 M)
Marthin Luther adalah putra sulung Margaretha dan Hans Luther. Dia memulai
pengalaman pendidikannya ketika berumur 7 tahun di sebuah sekolah di kota Mansfield.
Dasar teologi marthin luther bagi PAK, dasar teologi luther yang menjadi landasannya
bagi teori dan praktek PAK, antara lain:
Keadaan berdosa dari setiap warga. Mesti ada PAK yang menanamkan dalam kaum muda
bibit kepercayaan. Dengan percaya pada perbuatan Allah, semua warga yang dikaruniakan
dengan kekuatan yang mengatasi akibat buruk yang berlangsung dalam diri setiap warga
karena tabiatnya yang berdosa dan daya tarik iblis yang bermaksud menyesatkan orang
Kristen.
Pembenaran oleh iman. Sesudah dimerdekakan oleh Kristus, setiap warga perlu belajar
bagaimana melayani sesamanya karena pengetahuan itu tidak disampaikan secara otomatis
bersama dengan pembenaran karena iman. Demikianlah ajaran dasariah itu menjadi motivasi
untuk melaksanakan pendidikan dikalangan jemaat dan sebagian isi kurikulumnya.

Imamat semua orang percaya. Setiap warga adalah iman bagi warga seimannya. Setiap warga
perlu dilengkapi agar mampu memenuhi kesempatan dan kewajiban yang termasuk dalam
panggilan mulia itu. Antara lain, mereka harus dididik dalam firman Allah.
Firman Allah. Semua dasar teologi Luther berakar dalam alkitab. Dari lingkungan luasnya,
Luther membedakan tiga akhir firman itu, yaitu Yesus Kristus sendiri, alkitab dan amanat
Allah yang diberikan kepada jemaat. [33]

2. Yohanes Calvin (1509-1664 M)


Yohanes Calvin adalah tokoh reformasi yang memilliki pemikiran teologis yang tajam
karena latihannya dibidang hukum. Ia memulai penggerakan pembaharuan gereja pada abad
ke 16.
Menurutnya, yang menjadi pengajar PAK adalah Allah sendiri, selanjutnya Allah
mempersiapkan orang yang mampu memenuhi panggilannya, yaitu melalui jabatan pendeta
atau gembala dan guru. Kurikulum atau katekismus menurut Yohanes Calvin tidak boleh
diserahkan kepada sembarang orang, sebab kurikulum merupakan bahan studi yang perlu
disesuaikan antara kemampuan anak didik dan mutu kurikulum juga merupakan pendorong
bagi pelajar dan pengajar untuk lebih teratur sehingga isinya lebih gampang dihafal.[34]
E. Ignatius Loyola Pendidik Jalan Kehidupan Suci (1491-1556 M)
Loyola lahir pada tahun1491 dalam keluarga bangsawan di daerah Basque di Spanyol
Utara. Dia dibaptis dengan nama Inigolopes, tetapi nama itu diganti dengan bahasa latin
menjadi Ignatius.
Menurut Loyola dalam PAK terdapat 6 asas yang harus diperhatikan, asas tersebut antara
lain:
1) Tujuannya.
Tujuan pokok PAK yaitu menaklukkan kehendak warga Kristen kepada kehendak Allah
sebagaimana dirumuskan oleh wakilnya, imamat gereja dan khususnya sang paus.
2) Wadah PAK
Wadah PAK yaitu sekolah tingkat pertama (SMP/SMA) dan Perguruan Tinggi.
3) Pengajar
Pada dasarnya para pengajar dalam wadah PAK tersebut untuk meneladani Yesus Kristus
sebagai guru besarnya karena Loyola mempunyai pandangan bahwa dengan RohNya hati
para pelajar dipersiapkan memahami makna hal-hal rohani dan duniawi.
4) Pelajar
Dalam pendidikan di kompi Yesus ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang
untuk dapat menjadi seorang pelajar disekolah tersebut, syarat itu antara lain:
Anak laki-laki berusia 14-23 tahun
Lulus ujian masuk yang ketat yang diselenggarakan oleh sekolah tersebut.
5) Kurikulum

Kurikulumnya adalah dimana semua pelajar wajib bagaimana caranya, menyampaikan


gagasan sejelas mungkin dalam bahasa latin, yaitu bahasa oikumenis zamannya, baik lisan
maupun tertulis.
6) Metodologi
Metodologinya antara lain:
Ciri rasa ruang kelas
Pelajar dituntut untuk hidup dengan damai tanpa kekerasan, maka sebelum memasuki ruang
kelas setiap pelajar tidak diperbolehkan untuk membawa senjata tajam, sehingga itu cara
belajar dibuat sedemikian rupa sehingga siswa memungkinkan untuk aktif
Latihan rohani
Selain pengetahuan umum, Loyola yang juga mengemukakan metode pembentukan rohani
(spiritual) yaitu yang paling kreatif yaitu men-citrakan.[35]

BAB III
DASAR-DASAR PAK
PAK dalam alkitab merupakan dasar alkitabiah yang perlu dijabarkan dan
dikembangkan menjadi pusat proses pendidikan. Alkitab menjadi visi, nilai, dan gerakan
dalam kerangka pendidikan. Dengan demikian alkitab mengalir dalam proses pembelajaran
dimana proses itu bisa berjalan dengan baik bila unsure unsur yang terkait saling
mendukung.
A. Unsur-unsur dalam Proses Pembelajaran
Unsur-unsur tersebut menyangkut pendidik, anak didik, kurikulum, tujuan dan
metode. Dalam proses pembelajaran, unsure pokoknya meliputi pendidik, anak didik, dan
kurikulum. Namun unsure lain seperti tujuan, metode, media, lingkungan, sarana dan
prasarana serta manajemen juga mempengaruhi proses pembelajaran. Tidak semua unsure
tersebut diuraikan, tetapi hanya lima pokok komponen yang bisa di analisis dan dievaluasi
sebagai sebagai langkah pengembangan dalam meningkatkan proses pembelajaran
pendidikan Kristen yang lebih baik.
Beberapa komponen akan dibahas lebih rinci yaitu:
1. Pendidik
Pendidik adalah orang yang mengajar. Menurut Witherington, mengajar bukan hanya
menuangkan materi pelajaran ke dalam pikiran atau menyampaikan kebudayaan bangsa
kepada anak-anak. Pendidikan adalah hal yang paling utama dan selalu menjadi pendorong
dalam pembelajaran. Jadi murid sudah mendapat dorongan dari guru tidak akan berhenti
belajar, tetapi harus menyelidiki dan memperdalam pengetahuannya. Selanjutnya menurut
H.G.Wells berpendapat bahwa mengajar menjadi tugas guru, adalah ujian manusia yang
terbesar. Memang mengajar yang efektif sangatlah kompleks dan tergantung pada integrasi

berbagai faktor. Untuk mengetahui syarat-syarat mengajar yang baik sejumlah sifat guru dan
teknik mengajar diadakan. [36]
Untuk mempertegas pembahasan, dalam bagian ini saya akan lebih menekankan
penjelasan mengenai pendidik (guru) Kristen. Hal ini karena proses pembelajaran antara
pendidik Kristen dan pendidik umum sangat berbeda. Istilah pendidik Kristen dapat kita
pahami dari 3 segi. Pertama, pendidik dalam perspektif Kristen. Kedua, pedidik yang
beragama Kristen. Ketiga, pendidik yang berkaitan dengan iman Kristen. Dengan demikian
pendidik (guru) Kristen hanya menunjuk kepada mereka yang mengajar agama Kristen dan
menggeluti bidang pekerjaannya dalam hal kekristenan.
Untuk menjadi pendidik Kristen, ada persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan
pendidik umum tentu tidak sama degnan pendidik Kristen. Persyaratan pendidik umum harus
dimiliki pendidik Kristen, tetapi persyaratan yang dimiliki pendidik Kristen tidak dimiliki
pendidik umum. Persyaratan yang dimiliki pendidik Kristen dan tidak dimiliki pendidik
umum adalah mengenai kerohanian serta persyaratan iman Kristen.
Supaya dapat mengajar dengan lebih efektif, seorang pendidik harus memiliki
persyaratan professional dan persyaratan rohani. Persyaratan professional meliputi
keteladanan (menguasai hal yang dikerjakan), layanan khas (manfaatnya lebih nyata), serta
diakui masyarakat serta pemerintah. Selain itu juga pada persyaratan administratif akademik
dan keterampilan teknik mengajar. Sedangkan persyaratan rohani seorang guru Kristen antara
lain: lahir baru, dewasa rohani, serta berpegang pada alkitab sebagai sumber utama
pengajarannya. Dengan demikian, seorang pendidik (guru) Kristen harus memiliki
keseimbangan antara persyaratan professional dan persyaratan rohani.[37]
2. Anak Didik
Dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran setiap guru perlu memiliki
pemahaman komprehensif tentang peserta didik. Hal ini sangat penting mengingat pelaku
proses belajar adalah peserta didik itu sendiri. Peseta didik memiliki tanggung jawab belajar
bagi diri sendiri. Materi pengajaran yang baik mendorong terjadinya proses pembelajaran.
Meskipun demikian, guru harus memahami bahwa kemauan setiap anak didik untuk
melakukan pembelajaran berbeda-beda.
Pemahaman terhada anak didik sangat penting bagi pendidik. Dengan demikian, peran
guru adalah membimbing, membantu atau mengarahkan peserta didik agar dapat bertanggung
jawab atas diri dan kemajuannya sendiri serta mengalami peristiwa belajar yang efektif. Demi
kelancaran proses pembelajaran, guru perlu mengenal latar belakang, tingkat perkembangan,
serta kebutuhan peserta didik. Jjika guru berusaha mengenal peserta didik, yang akan ia
layani, dia akan lebih tertolong dlaam merumuskan tujuan, sasaran dan materi pengajaran
yang relevan dengan kebutuhan mereka.
Menurut B.S. Sijabat , pemahaman utama mengenai peserta didik yang perlu dimiliki
dan terus ditingkatkan guru adalah tentang kedudukan anak sebagai makhluk religius.
Dengan demikian, guru dalam perspektif pendidikan, Kristen harus yakin bahwa peserta
didik bukan saja sebagai makhluk biologis, psikologis, sosiologis dan cultural, melainkan
juga terutama sebagai makhluk religius. Hal ini sesuai dengan penjelasan alkitab bahwa
manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupanya (Kej 1:26-27).[38]

Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi moral intelektual atau mental
keindahan. Allah tidak membiarkan manusia tanpa perlengkapan atau moral dasar, yaitu
potensi, kemampuan, kesanggupan, kekuatan, dan kuasa. Oleh karena itu, guru harus tetap
mengembangkan pandangan positif terhadap peserta didiknya, yaitu keyakinan potensi
manusia. Guru juga bertugas terlebih dahulu mengakui dan menghargai kekuatan yang
dimiliki peserta didik.
Sebagai manusia, guru dan peserta didik merupakan pribadi seutuhnya dengan kata
lain, guru dan peserta didik sekaligus memiliki dimensi lahiriah, atau fisik (fisiologis) dan
dimensi batiniah. Dimensi batiniah meliputi aspek jiwa, mental, dan roh. Semua unsure
tersebut saling berkaitan dalam aktivitas sehari-hari. Khususnya dalam proses belajar. Dengan
demikian, belajar bukan hanya merupakan tindakan fisik (olah raga), melainkan juga aktivitas
emosi (olah rasa), sikap dan pikiran. Kegiatan belajar akan dapat kita pahami sebagai
kegiatan rohani. Pelajaran agama (iman Kristen) juga tidak terlepas dari kegiatan rohani.
3. Kurikulum
Kurikulum menurut Thomas Bernard, kurikulum merupakan seperangkat program
untuk pengajaran yang menjadi pedoman pengembangan pendidikan, nasution mengutip
pernyataan Esner bahwa kurikulum dipandang sebagai pengembangan proses kognitif,
teknologi, humanistis, atau aktualisasi peserta anak, rekonstruksi sosial dan akademik.
Kurikulum sebagai alat transmisi kebudayaan, transmisi dengan masyarakat atau transformasi
peserta didik. Kurikulum dapat dipandang sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan
intelektual anak khususnya kemampuan berpikir agar ia dapat memecahkan segala hal yang
dipahami. Dalam hal ini, dapat dinyatakan bahwa kurikulum merupakan seperangkat program
pendidikan yang berisi alat, tujuan, materi, serta berbagai ketentuan lain untuk
mengembangkan pendidikan yang disampaikan pendidik kepada peserta didik dalam proses
pembelajaran sehingga anak didik memahami dan mengaktualisasikan pengetahuan tersebut.
Materi atau isi dalam pendidikan Kristen tentu saja menyangkut isi alkitab yaitu firman
Tuhan yang disampaikan pengajar kepada peserta didik.[39]
Perangkat lain menjadi saran dan penunjang, tetapi pengajaran adalah kebenaran
dalam alkitab yang harus dimiliki peserta didik.
4. Tujuan
Dalam tujuan pendidikan terkandung unsure individu dan masyarakat. Individu
hidup dalam masyarakat, sedangkan masyarakat terdiri dari individu-individu. Keduanya
tidak dapat dipisahkan. Dalam menentukan tujuan pembelajaran, kita harus melihat setiap
kebutuhan baik peserta didik yang belajar, maupun masyarakat yang menggunakan produk
peserta didik.
Menurut Thomson yang pendapatnya dikutip dari Witherington, tujuan pembelajaran
terdiri dari tujuan umum, tujuan khusus, tujuan guru, dan tujuan peserta didik. Tujuan umum
bersifat umum, seperti membentuk manusia yang bersusila, demokratis, dan menyampaikan
kebudayaan. Tujuan lainnnya adalah peserta didik menguasai materi pembelajaran sesuai
bidang yang dipelajari. Tujuan umum berbeda dengan tujuan khusus. Masyarakat mencoba
memecahkan tujuan umum dengan berbagai tujuan khusus yang lebih konkret sehingga

mudah dicapai. Dengan mengevaluasi tujuan umum pendidikan Kristen adalah mengarahkan
peserta didik agar bermoral dan berbudi pekerti kristiani sesuai dengan firman Tuhan.
Sedangkan tujuan pendidikan kristiani secara khusus menyangkut sisi alkitab yang datang ke
dunia untuk menyelamatkannya (Yoh 3:16). Dengan kata lain tujuan khusus pembelajaran
dalam pendidikan Kristen mengenali, mengerti dan menerima Yesus sebagai Juruselamat
pribadi.[40]
5. Metode
Metode dapat diartikan sebagai teknik, cara, atau prosedur. Dalam setiap kegiatan
pembelajaran diperlukan metode yang tepat dan relevan untuk mencapai tujuan. Oleh karena
itu, dalam persiapan mengajar dengan target menghasilkan rencana pengajaran, pendidik
harus memikirkan metode pengajaran secara seksama. Untuk menentukan metode pengajaran
yang tepat, pendidik harus memikirkan hal-hal yang mempengaruhi proses pembelajaran,
karakteistik peserta didik yang dihadapi, tujuan pembelajaran, seta cara mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Dengan demikian, hal prnsip yang harus menjadi bahan pertimbangan pengajar dalam
menentukan metode pengajaran adalah mengenai kondisi kelas. Hal ini dimaksudkan agar
antara pengajar dan peserta didik terjadi interaksi dialogis, mengembangkan kreativitas
peserta didik, dan menghubungkan metode satu dengan lainnya sehingga terbentuk metode
yang variatif. Tidak ada metode yang paling baik diantara sekian banyak metode, tetapi
dengan metode yang bervariasi akan menolong anak didik untuk lebih memahami materi
pengajaran yang disampaikan.
Metode merupakan cara untuk memperjelas materi yang disampaikan. Satu hal yang
tidak boleh diabaikan adalah bahwa metode tidak boleh menjadi hal utama dengan
mengabaikan materi pengajaran. Apalagi dalam pendidikan Kristen, materi yang disampaikan
adalah firman Allah. metode pengajaran yang digunakan seharusnya membuat firman Allah
dapat dipahami dan dimengerti, bahkan diterapkan oleh peserta didik. Bukan sebaliknya,
metodenya bagus, tetapi firman Tuhan yang utama malah belum dimengerti oleh peserta
didik. Ada berbagai metode yang dapat digunakan, antara lain: ceramah, Tanya jawab,
diskusi, dialog, demonstrasi, khotbah, eksperimen, peragaan, permainan, dramatisasi, dll.[41]
B. Dasar Pendidikan Agama Kristen
Dasar PAK menurut Louis Berkhof dan Cornelius Van Til adalah:
1) Penciptaan : Pendidikan Manusia Kebutuhan yang Diamanatkan Allah
Mungkin tidak ada konsep pendidikan lain yang dapat dengan tepat menggambarkan
keunikan karakter pendidikan Kristen selain konsep penciptaan. Ini tidak berarti bahwa
konsep penciptaan merupakan konsep dasar dari sistem pendidikan kita; konsep yang paling
dasar adalah konsep tentang Allah. Tetapi, gagasan tentang penciptaan lebih aplikatif untuk
digunakan sebagai parameter pengukur dibandingkan dengan konsep tentang Allah. Konsep
penciptaan langsung berhubungan dengan konsep diri kita. Konsep ini berhubungan dengan
alam semesta yang tampak. Serangan terhadap konsep penciptaan lebih bersifat langsung dan
terbuka dibandingkan dengan serangan terhadap konsep Allah.

Jika seseorang mempertahankan konsep penciptaan, orang tersebut langsung dianggap


sedang mempertahankan konsep yang kini tidak lagi dianut oleh orang banyak. Sebagai
pendidik Kristen, kita melihat segala sesuatu secara utuh dan jelas, kita tidak perlu membuat
pembelaaan ketika mendidik anak-anak dengan otoritas. Kita juga tidak perlu takut kepada
para pengkritik alkitab dan para evolusionis yang akan dapat meletakkan kita pada posisi
sulit. Kita tidak akan terlampau kepada perkembangan ilmu pedagogi dan psikologi. Apa
yang bisa kita ajarkan dan bagaimana kita bisa mengajar jika bukan dengan otoritas dari
Allah dan Kristus?[42]
2) Kovenan : Kovenan Anugerah
Untuk mendapat pemahaman yang tepat tentang kovenan anugerah, sangat penting bagi
kita untuk memiliki beberapa konsep mengenai ide kovenan secara umum. Sulit untuk lolos
dari perhatian mahasiswa teologi bahwa, sekalipun elemen-elemen penting dari kovenan
anugerah telah ada dalam protevangelium (protevangelium adalah pemberitaan pertama
dalam sejarah penebusan mengenai kabar baik keselamatan dalam Kristus, dimana Allah
mengatakan bahwa keturunan dari perempuan itu atau Hawa akan memerangi dan
mengalahkan tujuan-tujuan jahat iblis: maka berfirmanlah Allah kepada ular itu: .Aku
akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan
keturunannya, keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan
tumitnyaKej 3:14-15), namun secara formal, penegasannya baru diperkenalkan dalam
sejarah pewahyuan. Setelah hampir 20 abad berlalu setelah penciptaan dunia ini, baru Allah
secara resmi masuk dalam relasi kovenan dalam Abraham dan keturunannya.
Dan terdapat suatu alasan yang benar-benar baik untuk penundaan ini dalam metode
relasi ilahi secara umum, dimana yang alami mendahului spiritual, dan realitas spiritual
dilahirkan dengan bentuk yang diturunkan dari dunia alami. Dibawah pemeliharaan Allah
dari berbagai bentuk kehidupan, dari berbagai interaksi dalam kelompok sosial dan dari
perkumpulan diantara manusia, pertama kali telah dikembangkan di dalam kehidupan alami
manusia, dan kemudian digunakan oleh Allah sebagai sarana bagi wahyu khusus Allah. Jadi
manusia harus menyesuaikan diri dengan ide persetujuan kovenan dulu, sebelum Allah
memanfaatkan ide tersebut dalam penyingkapan kebenaran-kebenaran kekal dari kovenan
anugerah.
Oleh karena itu, di dalam kovenan anugerah, kita menemukan dua pihak yang tidak
setara: Tuhan yang tidak terbatas, Pencipta alam semesta mulia karena kekudusanMu
menakutkan karena perbuatanMu yang mashyur (Kel 15:11),dan manusia yang terbatas,
makhluk hidup dari debu, penuh dosa dan cemar. Tuhan adalah pemilik yang kaya atas semua
hal, termasuk manusia. Sedangkan manusia adalah seorang pelayan yang dipercaya mengurus
hartaNya. Tuhan memiliki hak untuk menuntut kehidupan, milik, waktu dan pelayan
ciptaanNya dan tidak berkewajiban apapun kepada mereka. Sementara manusia berkewajiban
untuk memberikan semuanya kepada Tuhan dan tidak berhak menerima upah apapun. Tuhan
dapat memberikan kekayaan dan kehormatan dan sukacita yang tidak tertandingi, sementara
manusia tidak dapat menawarkan apapun juga bahkan kehidupannya yang hancurdan sering
kali disebutnya sebagai miliknya.

Natur anugerah dari kovenan juga terlihat sangat jelas dari segi lain dalam setiap
perjanjian terdapat dua elemen, janji dan syarat; dan hal ini juga berlaku pada kovenan
anugerah. Elemen-elemen ini menemukan ekspresinya dalam ungkapan yang sering diulangulang yaitu: aku akan menjadi Tuhan mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Tetapi
meskipun ada tuntutan dalam kovenan anugerah, ada banyak janji yang melatarinya:
faktanya, semua tuntutannya juga diselubungi dengan janji-janji sorgawi. Dengan kesadaran
akan kenyataan yang menyenangkan ini, augustinus berdoa: Tuhan, berikanlah apa yang
Engkau perintahkan, dan perintahkanlah apa yang engkau kehendaki.
Janji yang mendasar dari kovenan adalah pengampunan dosa. Dosa menjadi penghalang
antara Tuhan dan manusia, yang harus dihilangkan terlebih dahulu. Selama penghalang itu
tidak dihalangkan, orang-orang berdosa berada dibawah kutukan, dia tidak mempunyai relasi
dengan Tuhan, tidak dapat mendaki bukit kudusNya, dan tidak dapat berdiri dihadapanNya.
Persekutuan dengan Tuhan sama sekali tidak mungkin. Tetapi ketika dosa diampuni, kutukan
diangkat, jalan ke pohon kehidupan dibuka, dan orang-orang berdosa mendapatkan lagi
ketenangan dalam pelukan Bapa di sorga.
Hal yang tidak dapat dipisahkan berkenaan dengan anugerah pengampunan Allah adalah
anugerah adopsi. Allah mengadopsi orang-orang berdosa ke dalam keluargaNya sendiri, tentu
saja hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa pada natur nya mereka ini bukanlah
anak-anak Allah. jika mereka adalah anak-anak Allah maka adopsi sama sekali tidak perlu.
Orangtua dapat mengadopsi seorang anak, tetapi mereka tidak mengadopsi anak mereka
sendiri. Ini adalah berkat yang dibicarakan Yohanes ketika ia berkata: tetapi semua orang
yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang
percaya dalam namaNya. (Yoh 1:12).
Ini adalah berkat yang membuat Paulus bersukacita, sebab kamum tidak menerima roh
perbudakan yang membuat mereka takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang
menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru : ya Abba, ya Bapa Rom 8:15.
Dengan berkat pengadopsian, berkat lain berjalan bersamaan. Orang-orang berdosa dijadikan
anak Allah, bukan hanya secara pengertian hukum dengan cara adopsi, tetapi juga dalam
pengertian rohani yaitu lahir baru dan penyucian. Allah melakukan jauh lebih banyak dari
pada yang dapat manusia ingin lakukan ketika mereka mengambil seorang anak kedalam
keluarganya. Orangtua dapat mengadopsi anak, tetapi mereka tidak dapat merubahnya.
Mereka tidak dapat merubah sifat dasar anak, tidak dapat menanamkan cirri bawaan mereka
dan tidak dapat membuatnya menyerupai mereka. Allah tidak hanya dapat melakukan ini
degnan mudah, tetapi benar-benar dapat menggenapkannya, Ia lebih dulu mengirim Roh
AnakNya ke dalam hati para pendosa, yang berseru, Abba, Bapa. Ia memulihkan gambar
Allah di dalam mereka, memperbaharui hidup mereka dan menciptakan roh ketaatan yang
baru di dalam mereka, sehingga sebagai anak-anak yang sesungguhnya mereka jadi ingin
bahkan sangat ingin untuk melakukan kehendak Bapa.[43]
3) Iman
Kita telah melihat masa lampau. Kita telah melihat bahwa Allah telah member manusia
program yang harus dikerjakan. Kita juga telah melihat masa sekarang. Kita telah melihat
bahwa program ini sedagn direalisasikan sekalipun dosa yang telah masuk ke dalam dunia.

Sekarang secara singkat kita harus melihat masa depan dalam rangka melihat bahwa program
yang terlihat sangat lambat di dalam realisasi sekarang, nantinya akan secara utuh
direalisasikan.
Kita telah melihat ketaatan dan ketekunan iman, sekarang kita harus melihat penglihatan
iman seperti Abraham dengan ketaatan iman meninggalkan Ur-Kasdim menuju ke tempat
tinggal yang tidak pernah diketahuinya secara pengalaman, dan dia tinggal di tanah perjanjian
sebagai pendatang di tanah asing, tidak memiliki sejengkal tanahpun. Seperti inilah kita
memandang program kita. Kita sudah menerima perintah Tuhan untuk maju. Terhadap
perintah tersebut kita sudah taat. Tetapi pengalaman menunjukkan tidak terlihatnya hasil yang
besar dalam waktu singkat. Buah yang diharapkan sejauh ini terlihat sangat kecil. Tetapi kita
harus terus maju. Kita semua seperti Abraham yang tidak hanya memanifestasikan ketaatan
iman dan ketekunan iman, tetapi juga pengharapan iman.[44]

4) Otoritas
Secara umum, dapat kita katakan bahwa otoritas adalah hak untuk memerintah dan
menuntut ketaatan, atau membuat suatu keputusan berkenaan dengan masalah-masalah yang
menjadi perdebatan. Seorang jendral dilapangan menyatakan otoritas, ketika ia memerintah
pasukan dan mengatur pergerakan tentaranya, jaksa dalam pengadilan, ketika ia menjatuhkan
hukuman pada narapidana yang dibawa kepadanya, dan seorang ahli di suatu bidang
pekerjaan, ketika pertanyaan yang sulit diajukan kepadanya berkenaan dengan bidang yang
digelutinya.
Dengarkanlah sedikit kata-kata bijaksana yang tertulis dalam kitab Amsal: orang baik
meninggalkan warisan bagi anak cucunya tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang
benar; tetapi siapa mengasihi anaknya menghajar dia pada waktunya (13:22,24) ; Hajarlah
anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau mengingini kematiannya (19:18)
Tetapi guru harus senantiasa sadar bahwa otoritas hukum yang dimilikinya tidak melekat
pada orangnya. Dia tidak pernah dapat bertindak seperti autokrat. Seluruh otoritas hukum
diturunkan dari Allah dan harus dilaksanakan secara harmonis sesuai dengan kehendak Allah
seperti yang diungkapkan dalam firmanNya. Sangat penting bagi guru untuk bukan sekedar
mengakui fakta ini dan membiarkan dirinya diatur menurut prinsip disiplin dalam firman
Allah, tetapi juga menyampaikan kebenaran yang penting ini kepada murid-muridnya
sebagaimana tugasnya untuk melaksanakan disiplin dalam ketaatan kepada Tuhannya. Dia
tidak boleh berpuas diri dengan mengatakan pada murid-muridnya bahwa dia mengatur atas
nama Tuhan, melalui sanksinya dan tuntutan-tuntutannya, tetapi dia juga harus membuat
murid-muridnya merasakannya ketika ia menghukum yang tidak benar. Hal ini mencegah
anak-anak menuduhnya bertindak sewenang-wenang dalam hati mereka.
Dalam menjalankan otoritasnya, guru harus bertindak sesuai dengan firman Allah. hak
orangtua dan guru atas anak-anak mereka itu tidak absolute, tetapi dibatasi oleh hak Allah
yang lebih tinggi. Hal ini dinyatakan dalam alkitab. Karena itu, alkitab merupakan standar
yang harus mereka pakai untuk memimpin anak-anak yang dipercayakan kepada mereka.

Guru harus mengajar anak-anak untuk taat pada otoritas dan menanamkan di dalam diri
mereka kasih akan kesucian moral dan kebenaran umum. Dia mungkin telah lama menderita
dengan sangat sabar sehingga ia mungkin mengacukan tugas penting yang dipercayakan
kepadanya dan hasil kerjanya terbukti berbahaya bagi kehidupan sosial dan kehidupan
masyarakat. Mungkin ada beberapa hal yang patut dihargai dalam cita-cita modern untuk
mendidik anak-anak supaya mandiri, tetapi pelaksanaannya yang ekstrim mungkin menjadi
sumber bahaya yang tidak terhingga. Guru harus bersikap tegas dalam kepemimpinan dan
disiplinnya. Kita tidak berdalih untuk menggunakan cambuk tiada henti-hentinya, tetapi kita
berpendapat bahwa disiplin adalah sah di sekolah sama seperti di rumah. Ketika disiplin
ditemukan disiplin harus ditegakkan, namun tentunya dengan hati-hati dan bijaksana. Mari
kita menjadi lebih bijaksana dari apa yang tertulis dalam firman Allah yang dibuktikan
melalui pengalaman selama berabad-abad. Sekarang disiplin ini sangat diperlukan supaya
anak-anak taat pada otoritas yang dikehendaki Allah untuk mengatur mereka.[45]
6. Kehidupan kekal
Harga yang harus dibayar untuk ide pertumbuhan itu adalah keheningan dan perhentian
kekal. Anda tidak pernah atau tidak akan pernah memiliki sesuatu yang menyerupai
kehidupan yang penuh. Kita sadar bahwa jika kita harus menjadi harmoni dengan Dia
menurut caraNya. Karena itu kita yakin bahwa kita mempunyai dan akan mempunyai
kehidupan yang penuh.[46]
Dasar teologi PAK menurut Yohanes Calvin antara lain:
1) Dasar kedaulatan Allah, yaitu tentang kesadaran akan keagungan Allah serta pemeliharaan
Allah. Ajaran ini membahas tentang kedaulatan Allah yang mendidik manusia untuk
bertanggung jawab dalam dunia ini.
2) Alkitab sebagai firman Allah adalah sumber pengetahuan manusia tentang kedaulatan Allah
Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
3) Ajaran tentang manusia. Manusia adalah ciptaan Allah yang serupa dan segambar dengan
Allah. Dan manusia mendapatkan berkat ilahi yaitu karya keselamatan sehingga manusia
wajib memenuhi kehendak Allah untuk melayani sesamanya.
4) Ajaran tentang gereja. Ajaran tentang gereja mengutamakan tentang gereja yang kudus yaitu
mengutamakan tentang persatuan gereja agar tidak terpecah belah
5) Ajaran tentang hubungan antara gereja dengan negara. Ada 4 pokok pengajaran yang dianut
oleh yohanes calvin mengenai hubungan gereja dengan Negara, yaitu: Negara yang aman
adalah yang semua warganya mengakui iman yang sama (bila ada yang tidak memiliki iman
yang sama, diberi 3 pilihan yaitu: mengubah pendapat, mengungsi atau ditangkap). Setiap
pemerintahan yang dikenalnya dari dekat adalah warga yang menganggap dirinya Kristus.
pemerintahan juga manusia yang tak lepas dari dosa, oleh karena itu warga Kristen harus
menentang kebijakan haluan, ketika kebijakan itu tidak sesuai dengan firman Allah sambil
menunggu dengan sabar menantikan Allah turun tangan. Meskipun demikian, kedudukan
Negara dengan gereja snagat dekat. Para pelayan tetap wajib menentukan isi firman Allah
yang diproklamirkan dan siapa saja yang boleh menerima sakramen.
Dari penjelasan tersebut diatas, maka dapat disimpulkan sehubungan dengan teologi dan
pendidikan agama Kristen dari Yohanes Calvin, antara lain:

1. Keteladanan hidup dalam mengasihi Tuhan dengna segenap pemikiran


2. Mendidik pikiran insane karena ketidak percayaan terhadap perasaan yang tidak mantap.
3. Menjelaskan iman Kristen secara teratur yang bersumber dalam alkitab
4. Mengetahui pengetahuan minimal mengenai iman kristen
5. Penaklukan diri oleh semua warga gereja dalam kehidupan sehari-hari kepada Tuhan Yesus
6. Mendidik agar dengan iman, warga bisa mengubah masyarakat sesuai dengan injil
7. PAK adalah bagian dari pelayanan gereja
8. Menjunjung jemaat khotbah sebagai sarana mendidik warga
9. Mempersiapkan katekismus untuk pelajar dan mengajar
10. Mendidik jemaat memuji tuhan melalui penggunaan mazmur-mazmur
11. Menetapkan sakramen baptisan sebagai tanda pemilihan tuhan dalam yesus kristus dan
perjamuan kristus sebagai karunia mutlak
12. Gereja beridentitas sebagai peguyuban orang terdidik
13. Mendidik warga untuk menyadari bahwa mereka bukanlah milik diri sendiri melainkan milik
tuhan
C. PAK dalam Perjanjian Lama
Setiap manusia pada dasarnya mempunyai kesadaran religius bahwa ada sesuatu
kodrat ilahi di atas realitas dunia, dan dalam berbagai agama. Pendidikan dimulai ketika
agama mulai muncul dalam kehidupan manusia. PAK berpangkal pada persekutuan umat
tuhan dalam perjanjian lama.
Bangsa yahudi adalah bangsa yang kecil, tetapi kuat, sedikit, tetapi menyebar ke
seluruh dunia, tetapi kemurnian mereka terjaga. Mereka kadang tidak memilki tanah air dan
raja, tetapi selalu menonjol dan member pengaruh kuat kepada dunia. Mereka adalah bangsa
yang memiliki identitas yang kuat. Mereka merupakan penganut agama yudaisme yang
mementingkan ketaatan kepada hukum agama. Mereka menjaga kemurnian pengajaran dari
generasi ke genarasi untuk memberi dasar yang teguh setiap tingkah laku dan tindakan.
Hal yang paling mengesankan dalam budaya yahudi adalah perhatian mereka terhadap
pendidikan. Pendidikan menjadi bagian utama dan terpenting dalam budaya yahudi. Semua
budaya diarahkan untuk menjadi tempat mendidik para generasi muda yang kelak akan
member pengaruh besar. Objek utama dalam pendidikan adalah mempelajari taurat. Allah
menggunakan taurat sebagai media pengajaranNya; pertama-tama Allah memperkenalkan
diriNya, menyatakan pekerjaan yang telah Dia lakukan keudian mengarahkan pengajaranNya
kepada hubungan Allah (pribadiNya) dengan manusia sebagai umatNya,serta manusia denagn
manusia selaku umat yang telah dibebaskan dan diselamatkan.[47]
Sebagai penyelidikan terhadap alkitab, kitab perjanjian lama menjelaskan secara
khusus perihal komponen pembelajaran. Hal yang terkait dengan komponen pembelajaran
adalah pendiaik, yaitu para pemimpin Israel yang turut berperan dalam pendidikan, pesera
didik,yaitu umat Israel yang menerima pendidikan, kurikulum yaitu materi atau isi
pendidikan yang mencakup ketetapan dan peraturan (Ul. 6:1) atau taurat tuhan. Sedangkan
komponen pembelajaran yang lain adalah tujuan dan metode.
Sebagaimana diuraikan sebelumnya mengenai berbagai komponen proses
pembelajaran secara umum, berikut akan dijelaskan pandangan alkitab terhadap berbgai

komponen proses pembelajaran, yaitu pendidik, peserta didik ,materi atau isi, serta tujuan dan
metode
Tujuan semua komponen tersebut berdasarka visi Allah, yaitu menyelamatkan bangsa
bangsa di dunia melalui keteladanan hidup orang ibrani. Semua ini diekspresikan dalam misi
allah, pendidik harus dapat mejadi saluran bagi bangsa- bangsa lain selama mengajarkan
hukum hukumNya. Dengan demikian, pendidikan bertujuan agar umat Israel takut akan
tuhan, tetap memegang ketetapan dan peraturan Allah.
Allah sebagai Pengajar
Alkitab memberikan kesaksian tentang hal itu dari awal sampai akhir. Para bapa
leluhur bangsa Israel, seperti abraham, ishak,dan yakub menjadi pemimpin dan pegajar umat
tuhan. Musa pemimpin pengajar umat. Musa menjadi pemimpin yang masyur, dan ia juga
mengangkat para penatua bagi umat Israel selanjutnya yosua dan para hakim, beberapa putra
harun dan suku lewi,yang dalam pangkat dan fungsinya masing-masing telah ditentukan
tuhan menjadi pemimpin umat Israel. Para pemimpin semakin banyak dibutuhkan ketika ada
kebaktian dalam bait Allah untuk menyelenggarakan kurban persembahan, untuk musuk dan
nyanyian jemaat serta mengajarkan undang undang agama kepada umat Israel. Selanjutnya
ada sejumlah rumah sembahyang atau sinagoge juga membutuhkan pemimpin dan pengajar.
Pengajar dalam perjanjian lama sangatlah kompleks, artinya orang yang berperan
langsung sangatlah berbeda. Dalam perjanjian lama, pribadi yang termasuk pengajar adalah
Allah sendiri para nabi, hakim, dan pemimpin lainnya. Sebagai sumber dasar dan perinsip
kehidupan kristiani, akitab menjelaskan bahwa dalam membimbing manusia untuk lebih
mengenal Dia, Allah telah berperan sebagai pendidik. Sebagai pendidik, Dia aktif
memberitahukan kebenaran. Kebenaran itu adalah pribadiNya, firmanNya, bahkan
perbuatanNya. Dia telah dan sedang berkomunikasi kepada manusia dengan berbagai cara
dalam sepanjang sejarah (Ibr 1:1-2).
Kitab ayub mengemukakan bahwa Dia adalah pendidik yang tiada taranya (Ayub
36:22), dan tidak ada yang dapat mengajariNya (Ayb 21:22; Yes 40:1-4). Sebaliknya, Dia
mengajari manusia supaya berpengetahuan (Mzm 94:10), termasuk cara bertani (Yes 28:2426). Pengajaran Allah dalam sepanjang sejarah manusia dapat kita telusiri sebagai berikut:
1. Allah mengajar Adam dan Hawa di taman eden (Kej 1-2)
2. Allah mengajar generasi berikutnya, Kain dan Habel, serta keturunan Adam lainnya (Kej
5:22-24)
3. Allah mengajar Nuh beserta keluarganya sekalipun ada tantangan dan kejahatan manusia
yang parah. Sebagai akibatnya, akhirnya manusia dimusnahkan dengan air bah (Kej 6-8).
Lalu Allah memberikan pendidikan dan perjanjian baru bagi Nuh dan keturunannya (Kej 9:117). Allah mengajar generasi berikutnya sesudah Nuh sekalipun akhirnya ereka
memberontak, dengan klimaksnya mendirikan menara babel (Kej. 11:4)
4. Allah mengajar Abraham (Kej 12-22)
5. Allah mengajar umat Israel sejak di Mesir dan dalam perjalanan menuju kanaan, dengan
memilih dan mempersiapkan pemimpin dan pendidik, yaitu musa, harun, miriam, yosua, dan
kaleb
6. Allah mengangkat para hakim dan imam sebagai pendidik umat
7. Allah mengajar umatNya melalui para nabi untuk menyampaikan kehendakNya.

Pengajaran Allah disampaikan dalam berbagai bentuk, baik melalui perkataan,


penglihatan, mimpi atau penampilan nyata yang dapat disaksikan. Allah menyatakan
kehadiranNya dengan berbagai cara. Dia berbicara dan manusia menanggapinya, manusia
mengeluarkan isi hatinya dan Dia menjawab. Sebagai pengajar atau pendidik, Allah juga
memberikan batasan gerak dengan memperingatkan manusia, hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan manusia, tetapi Allah juga memberikan wewenang dan kebebasan kepada manusia
sebagai umatNya.
Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, manusia adalah makhluk
bertanggung jawab yang diciptakan pada hari terakhir dan dalam kapasitas imago dei
(gambar Allah). Jadi, manusia sebagai peserta didik atau murid bertanggung jawab atas hal
yang ia lakukan. Dalam perjanjian lama, Allah bukan hanya sebagai guru yang mendidik dan
melindungi, melainkan juga menyelamatkan. Kitab keluaran 15 merupakan pasal pertama
yang mengungkapkan tindakan penyelamatan Allah dalam sejarah Israel.
Seluruh taurat ditulis sebagai pendidikan dasar yang diperlukan umat Allah. dalam
kitab ulangan, seluruh pendidikan yang disampaikan Allah kepada Musa diulangi secara
singkat, dan menyampaikan kembali kepada umat Israel sebelum mereka masuk tanah
kanaan.
Para Nabi sebagai Pengajar
Menurut Yudas 1:14, daftar para nabi dimulai dari Henokh, keturunan ketujuh dari
Adam, yang mengumumkan peringatan mengenai hukuman yang akan datang, mungkin
peristiwa air bah. Nubuat ini mungkin digenapi hingga pada hari penghukuman terakhir bila
Tuhan kita Yesus Kristus kembali untuk menghukum segala bangsa. Selain itu, dengan jelas
Musa ditunjuk sebagai nabi (Ul 18:17-18). Atas perintah Allah, ia telah menulis taurat bagi
orang israel. Dalam tulisannya terdapat sejumlah nubuat yang hidup mengenai masa depan.
Begitu juga dengan Samuel, hamba Allah yang kuat pada masa hakim-hakim. Ia
menjadi pelihat (1 Sam 9:9) sekitar tahun 1000 SM. Samuel memiliki hubungan yang sangat
dekat dengan Allah sehingga ia dapat menangkap maksud ilahi bagi bangsa Israel. Samuel
juga dianggap sebagai nabi. Pada zaman Samuel sejumlah nabi menjadi besar dan Samuel
diakui sebagai pemimpinnya (1 Sam 10:5-11; 19:2-14). Sebelum zaman kerajaan, seorang
nabi biasanya mempunyai jabatan sebagai pemimpin (Musa) atau hakim (Samuel). Kegiatan
utama mereka berhubungan dengan kepemimpinan, tetapi pada awal masa kerajaan, nabi
tidak langsung menjadi pemimpin kerajaaan, tetapi sebagai suara Allah.
Pada awal abad 9 SM, Elia dan Elisa menjadi nabi dan pemimpin besar di Kerajaan
Israel (utara), yang pada masa pergolakan penyembahan abad ke-9 hingga penghabisan abad
itu. Ia melihat bangsa itu berada di bawah penghukuman Allah. Dengan bersemangat ia
mengumumkan pemerintahan dan berkata tentang hari Tuhan, baik yang akan terjadi segera
maupun yang masih jauh.
Kemudian datanglah nabi yoel, mungkin pada pertengahan abad ke-9 hingga
penghabisan abad itu. Ia melihat bangsa itu berada dibawah penghukuman Allah. dengan
bersemangat ia mengumumkan pemerintahan dan berkata tentang hari Tuhan, baik yang akan
terjadi segera maupun yang masih jauh.
Kemudian nabi yunus datang dengan berita yang menunjuk kepada sifat keistimewaan
pemerintahan ilahi bagi niniwe dan umat Israel. Ia menegur sikap fanatik bangsa ibrani yang

menyendiri sebagaimana ditunjukkan dalam dirinya. Pelayanannya berlangsung pada


permulaan abad ke-8 SM.
Amos, sekitar tahun 780 SM, sangat menyadari keadaan rakyat saat itu sebagai suatu
bangsa. Ia menyampaikan berita yang menegur penyembahan berhala di Betel, kerajaan
Israel utara, dan mencela dosa-dosa yang telah menjadi dosa nasional karena pengaruhnya
yang tersebar luas. Selain itu, pertanggung jawaban yehuda dan bangsa di sekitarnya terhadap
pemerintahan ilahi juga ditekan.
Hosea, yang memulai pelayanannya sekitar tahun 745 SM, menyatakan hubungan
Yehowa kepada bangsa Israel dengan pengalaman pribadinya yang sangat menyedihkan. Ia
menekankan ketidaktaatan dan perzinahan rohani umat Israel dengan gamblang.
Yesaya, nabi injil yang besar dan terutama, menjadi pemberita theokrasi yang
melayani yehuda, mungkin sejak 740 hingga 698 SM. Ia menubuatkan kejatuhan bangsa itu
yang tidak sampai menepati perjanjiannya. Namun, ia juga melihat lebih dahulu pekerjaan
penebusan yang mulia dari hamba Allah dan segala kemuliaan kerajaanNya yang akan
datang.
Mikha, yang hidup sezaman dengan Yesaya, menyalahkan para penguasa Yehuda
yang curang dan berkhianat. Ia juga mengumumkan pelantikan orang benar. Zefanya,
mungkin merupakan keturunan keempat raja hizkia. Sementara pemerintahan yosia
menyatakan kekerasan dan kebaikan Tuhan, ia melayani dengan baik sambil menunjukkan
bahwa sifat-sifat ini tidak saling bertentangan, tetapi malah saling melengkapi.
Yeremia (626-585 SM) adalah jurubicara di yehuda pada masa kesengsaraan dan
malapetaka meliputi seluruh bangsa. Sekalipun mengalami pengasingan, salah paham,
aniaya, dan penderitaan jasmani, ia tetap mengumumkan celaan dan peringatan kepada
Yehuda. Dengan gagah berani ia menjalankan pelayanannya sehingga ia melihat
penggenapan berbagai nubuat penghukuman itu.
Seratus tahun kemudian, nahum (625-612 SM) melengkapi berita yang dibawa yunus
dan menubuatkan keruntuhan mutlak niniwe, yang telah dilepaskan dari kebinasaan karena
pemberitaan yunus, nabi yang sempat tidak taat untuk sesaat.
Habakuk (610-605 SM) adalah wakil pada masa penjajahan kasdim yang hidup
sezaman dengan yeremia. Ia sangat dibingungkan oleh berbagai keadaan pada zamannya.
Namun oleh karena Tuhan memperlakukan ia dengan penuh kesabaran, ia keluar sebagai
seorang beriman dan mengumumkan solusi masalah ini kepada bangsa itu.
Obaja, sedikit sukar untuk menentukan tempat obaja menurut perhitungan waktu.
Namun dalam hal ini, kita menggolongkan ia hidup sezaman dengan Yehezkiel (586). Berita
yang ia sampaikan berkaitan dengan sikap bangsa edom yang suka membalas dendam
terhadap Israel. Ia mencela sikap itu dan menubuatkan penghukuman terhadap bangsa yang
tamak.
Yehezkiel bernubuat di Babel (593 SM). Ia mengakui kemuliaan Allah, baik
penghukumanNya atas bangsa yang tidak setia maupun dalam janji pemulihan akhir bangsa
Yehuda dan perwujudan seluruh berkat atas kerajaan theokratis itu.
Daniel (605-536 SM) bernubuat di babel. Daniel adalah nabi pengharapan dalam
masa yang gelap karena orang yehuda telah ditawan di negri yag jauh dari yerusalem. Namun
demikian, nabi Daniel menyatakan kemenangan dan kemuliaan bangsa Israel dalam masa

1.

2.
3.
4.
5.

yang akan datang. Kedua hal ini menggairahkan pembangunan kembali bait Allah. Namun
pewahyuan Allah kepada Zakaria meluas ke berbagai peristiwa tentang hari-hari terakhir
masa kesengsaraan Israel dan pemulihannya yang terakhir.
Maleakhi, suara nabi yang terakhir dalam perjanjian lama, mencela keburukan dan
kemunafikan agama yang penuh dengan mencela keburukan dan kemunafikan agama yang
penuh dengan upacara, tetapi tidak mempunyai kuasa. Beritanya berakhir dengan nubuat
tentang kedatangan surya kebenaran yaitu Mesias.
Seseorang dapat menjadi nabi melalui panggilan Allah, tanpa membedakan suku. Ada
orang yang mempunyai panggilan jelas untuk melaksanakan tugas sepanjang hidupnya,
seperti Elisa, Yesaya, Yehezkiel, dan Yeremia. Namun adapula nabi yang mungkin hanya
sesekali bertugas. Seorang imam juga dapat menjadi nabi, misalnya Yesaya dan Yehezkiel.
Ada juga nabi yang menjadi seorang raja, seperti Daud yang dipakai Tuhan untuk
menyampaikan firmanNya, hal ini terutama tampak dari kitab Mazmur. Kuasa nabi
bergantung langsung pada hubungannya dengan Allah. Nabi adalah suara Allah. Orang yang
menghargai Tuhan akan menghargai nabi tersebut. Namun ketika seorang nabi harus
menghadapi seorang raja yang jahat, hanya Tuhanlah yang akan melindungi mereka. Oleh
karena nabi ada di luar sistem pemerintahan, ia sering dipakai Allah untuk mengkritik
kelakuan raja dan para imam.
Lima pengajar yang menjadi bagian penting dalam staf sinagoge dan yang
mengklasifikasikan kewajiban guru adalah :
Ahli taurat, yaitu orang yang mempelajari taurat musa dari hari ke hari dan mengajarkan
kepada rakyat umum. Mereka sangat disegani rakyat. Mereka dianggap sebagai utusan Allah,
orang-orang alim yang dipuji para malaikat di sorga
Rabi, yaitu para mahaguru termasyhur, dipuji sebagai orang-orang alim yang sempurna.
Orang bijaksana, contoh nya Salomo.
Para imam
Kaum pria dewasa
Pandangan alkitab terhadap peserta didik
Abraham, ishak, yakub dan musa adalah peserta didik Allah. Peserta didik yang lebih
umum disini adalah umat Israel. Mereka adalah umat pilihan Tuhan, umat kesayangan Tuhan.
Allah memiliki rencana bagi umatNya, sejak Abraham sampai nenek moyang mereka
dipanggil untuk menjadi bangsa yang besar, masyhur, keturunannya akan sangat banyak,
serta menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:1-3). Dengan demikian umat harus taat dan
setia kepada Allah. Umat Israel yang taat akan diberkati, sedangkan ketidaktaatan umat Israel
akan membawa mereka kepada kutuk atau penghukuman.
Dalam aktivitas belajar, peserta didik hendaknya mendapat kesempatan untuk memahami
diri, mengemukakan isi hati dan pikirannya, serta mendengarkan pengalaman orang lain.
Selain itu, peserta didik juga harus memohon agar Roh Tuhan memenuhi serta memimpin
hati dan pikirannya. Ada dua faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran. Pertama,
faktor internal, yaitu fakta yang timbul pada atau dari dalam diri peserta didik. Kedua, faktor
eksternal, yaitu fakta yang timbul dari luar individu atau peserta didik. Sikap belajar
merupakan kemampuan untuk memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri
kepada penilaian tersebut.

Pandangan terhadap materi atau isi


Inti pendidikan bangsa Israel adalah taurat sebagai dasar pertumbuhan iman umat.
Taurat diajarkan kepada seluruh anggota keluarga, termasuk istri, anak, cucu, dan orang yang
ada dalam keluarga tersebut. Materi inti pengajaran bukan bersumber dari manusia,
melainkan dari Allah, yang memberikan 10 hukum Allah (Kel 20:1-17). Inti isi hukum Tuhan
mengatur kehidupan umat Israel, baik tentang hubungan umat Israel dengan Allah maupun
hubungan antar sesame umat Israel.
Pandangan alkitab terhadap tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan yang penting menjadi tanggung jawab pendidikan orang ibrani di
dalam rumah. Allah memanggil umatNya. Ada panggilan dari Allah kepada umatNya untuk
menjalankan visi Allah (Kej 12:1-2). Visi Allah merupakan dasar pendidikan yang perlu
dijalankan dari rumah orang ibrani dalam rangka menyelamatkan bangsa-bangsa di dunia
melalui keteladanan hidup orang ibrani (Kej 12). Dalam menjalankan visi Allah, ada
penyertaan Allah atas para pendidik dan peserta didik (Kej 12:1-2). Pendidik harus dapat
menjadi saluran bagi bangsa-bangsa lain selama mengajarkan hukum-hukum (Kej 13:3).
Ulangan 6:4-7 memberikan penjelasan bahwa tujuan pendidikan bagi umat Israel adalah agar
mereka memiliki rasa takut akan Tuhan, tetap memegang ketetapan dan peraturan supaya
keadaan mereka tetap baik, dan keturunan mereka menjadi sangat banyak.
Dalam kehidupan Musa, Abraham, dan yakub, kedisiplinan merupakan keberhasilan
dalam proses pendidikan, baik yang dilakukan pendidik maupun peserta didik (Kel 35).
Proses pendidikan mengutamakan kekudusan Tuhan dimana pendidik dan peserta didik harus
kudus (Kej 1:4, 2:1-2, Kel 35:1-3). Proses pendidikan tidak dibatasi ruang dan waktu tertentu,
tetapi dilakukan sepanjang hidup pendidik dan peserta didik.

1.
2.
3.
4.

5.
6.

1.
2.

Pandangan alkitab terhadap metode dan pendekatan pengajaran


Teknik-teknik pendidikan dalam kitab pentateukh adalah sebagai berikut:
Teknik panggilan, dimana Tuhan melalui proses pendidikan dengan panggilanNya dan
manusia merespon panggilan tersebut.
Teknik pembentukan karakter (efektif), yang dimulai dengan sikap percaya dan taat pada
panggilan Tuhan
Teknik komunikasi, dimana pendidik (nabi) sebagai penyambung lidah Allah dalam
menyampaikan pesan-pesan Allah kepada anak didik.
Teknik perubahan sikap hidup, dimana Allah memisahkan (memurnikan) umat pilihanNya
yang percaya dan taat kepadaNya dalam proses pendidikan sehingga mereka dapat menjadi
teladan hidup bagi bangsa-bangsa lain.
Teknik proses belajar mengajar, yaitu dilakukan dari generasi ke generasi sepanjang hidup
manusia.
Teknik ruang, dimana tempat dan sarana pendidikan tidak hanya dilakukan di dalam rumah,
tetapi juga dimana saja orang berada.
Proses perkembangan pendidikan dalam pentateukh mempunyai cirri-ciri yang sama
dan berkesinambungan, yaitu:
Visi yang dikerjakan umatNya berasal dari Allah
Tujuan pendidikan disesuaikan dengan visi Allah

3. Allah merencanakan proses pendidikan yang memanggil dan memilih seseorang untuk
menjadi pendidik
4. Taurat sebagai materi pelajaran
5. Proses belajar-mengajar dilakukan seumur hidup, baik orang dewasa, pemuda, maupun anakanak
6. Prosess pendidikan akan berhasil bila pendidik atau peserta didik taat kepada taurat Tuhan
dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan di Bait Allah dihubungkan dengan objek dan dilakukan dengan
mempersembahkan kurban. Persembahan diberikan dengan tujuan memperoleh kemurahan
hati Allah dengan membakar persembahan itu di atas mezbah sebagai lambang penyerahan
yang sungguh kepada Allah. hal itu menuntut kesungguhan orang untuk mengaku dosa,
memohon pengampunan, dan menyampaikan pemujaan ketika berkurban.
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan dengan menggunakan
objek memiliki nilai penting, yaitu:
Pertama, manusia tidak dapat mempersembahkan kurbannya secara langsung. Harus ada
perantaraan yang mewakilinya, entah itu lembu, domba, burung tekukur atau burung dara,
yang harus dikurbankan dengan perantaraan imam.
Kedua, kurban merupakan beban yang tidak ringan. Orang yang mempersembahkan kurban
harus menyediakan binatang kurban sesuai dengan aturan. Bahkan orang miskin pun tidak
luput dari hal ini.[48]
Mengenai tanggal pendirian rumah ibadah yahudi (sinagoge) para ahli alkitab baik yahudi
maupun nonyahudi, belum sependapat. Namun, mereka setuju bahwa lembaga itu berasal dan
berakar dalam pengalaman para buangan di Babel dan dikembangkan kembali secara lebih
luas ke tanah air mereka. Kita tahu bahwa pada waktu Yesus melayani, ada suatu rumah
ibadah dalam komplek Bait Allah. rupanya disitulah Yesus ditemukan yusuf dan Maria (Luk
46, Yoh 9:22).[49]

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pola Pendidikan Kristen dalam Perjanjian Lama


Pola pendidikan Kristen dalam perjanjian lama meliputi:
Pelajaran yang disampaikan adalah firman Tuhan.
Sumber pelajarannya adalah Allah
Pengajar yang ditentukan Allah adalah orang-orang yang dipanggil dan disediakan Allah
untuk tugas-tugas itu. Pengajar anak-anak adalah orang tua mereka
Pelajar adalah semua umat Allah dari orang paling tua sampai anak kecil
Tempat yang digunakan adalah rumah umat atau masing-masing kelompok dimana mereka
dapat berkumpul. Sedangkan untuk anak-anak, bisa dimana saja mereka berada.
Waktu mengajar adalah saat mereka dikumpulkan. Sedangkan untuk anak-anak, para
pengajar harus menggunakan setiap kesempatan.
Cara mengajar dilakukan dengan mengumpulkan para peserta didik dan saat mereka
melakukan segala perintah itu secara tidak sengaja.
Pelajaran yang disampaikan melalui kata-kata dan teladan hidup setiap waktu
Pelajaran disampaikan kepada umat dan mereka harus melakukan serta mengajarkannya
kepada anak-anak mereka (pengalaman dijelaskan dengan kata-kata)

D. PAK dalam Perjanjian Baru


Pendidikan agama dalam PB tidak terlepas dari pendidikan agama dalam PL. Tema
pokok pengajaran agama dalam PL dan PB adalah karya penyelamatan Allah bagi manusia.
Dalam PB, hal ini dinyatakan dalam pribadi Kristus dan Juruselamat. Dalam PB, materi
utama pendidikan melanjutkan PL. namun pada masa PB, Yesuslah yang menjadi materi
utama pendidikan, termasuk dalam hal belajar-mengajar.
1. Pengajaran Yesus
Murid-murid mengakui Yesus sebagai guru dan pengajar (Yoh 13:13). Sebutan ini
dinyatakan murid-muridNya karena Yesus sangat menekankan pengajaran dalam
pelayananNya. Kata kerja didache (mengajar) dalam berbagai bentuknya dipakai 9 kali
dalam injil matius, 15 kali dalam injil markus dan Lukas serta 8 kali dalam injil yohanes. Hal
itu memperlihatkan bahwa mengajar amat penting dalam pengajaran Yesus. Ia mengajar di
Bait Allah, di rumah-rumah ibadat, di tepi pantai, di bukit dan di tempat datar, di kampung
maupun di kota.
Yesus disebut sebagai Guru agung bukan karena pengajaranNya, melainkan karena
hakekat pribadiNya sendiri. Yesus mengajarkan pribadiNya sendiri. Ia menyatakan diriNya
dan makna kedatanganNya. Dia sendirilah pernyataan dan pengajaran itu yang tercakup
dalam taurat dan PB.
Pengajaran Yesus membawa tiap-tiap orang kepada pertobatan serta kasih yang
sungguh-sungguh kepada Allah. inti pengajaranNya ialah berita pertobatan. Yesus selalu
membawa pendengarNya untuk senantiasa mengarahkan perhatian dan pikiran mereka tertuju
kepada Allah. Yesus mengajar dengan penuh kuasa Allah yang Nampak dalam seluruh
pengajaranNya. Yesus mengajar berdasarkan otoritas, wibawa, dan kuasa. Orang yang
mendengar pengajaranNya menjadi takjub, terpukau, dan kemudian memberi respon positif
(Mat 7:28-29). Oleh karena itu, baik murid-murid maupun orang banyak sering
memanggilnya sebagai rabi yang artinya guru agung (Mat 26:25,29).
2. Pengajaran Rasul Paulus
Di berbagai tempat Paulus senantiasa melakukan pengajaran dan menjadi prioritas
dalam pelayanannya. Lewat pengajarannya warga jemaat dikuatkan, dihibur, dan menjadi
percaya kepada Yesus Kristus. Contohnya, setelah melihat apa yang terjadi, seorang gubernur
percaya karena takjub oleh pengajaran paulus akan firman Allah (Kis 13:12).
Pengajaran paulus sangat jelas yaitu untuk memimpin tiap-tiap orang kepada
kesempurnaan hidup dalam kristus (Kol 1:28). Rasul paulus menyadari betul bahwa tugas
pengajaran bukanlah perkara yang mudah, melainkan memerlukan ketekunan, kesabaran,
pergumulan, dan kesederhanaan. Tugas pengajaran hanya dapat dilaksanakan dengan kuasa
pertolongan Allah. Paulus meyakini bahwa mengajar adalah upaya menyampaikan firman
Allah yang membebaskan dan memberi hidup.
Inti pengajaran
Tuhan Yesus Kristus layak disebut Guru Agung karena pengajaranNya disertai kuasa
mukjizat. Meskipun diakui bahwa ajaran moral (Mat 22:37-40) merupakan ajaran yang luar
biasa dan tiada bandingnya, inti pengajaranNya berpusat pada diriNya berpusat pada diriNya
sendiri, Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku (Yoh 14:6). Tidak ada seorang gurupun yang berani mengajar

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

1.

2.

3.
4.
5.

seperti itu. Tuhan Yesus Kristus tidak hanya mengajar agar manusia dibenarkan dihadapan
Allah. oleh karena itu, manusia harus menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Sehubungan hal tersebut, ada tujuh hal utama yangn menjelaskan arti penting
mengajar, yaitu:
Menjelaskan firman yang sudah diwahyukan (2 Tim 2:14, 3:16-17)
Menguatkan iman (1Tim 4:6, 11, 16, 6:3-5)
Membentuk keharmonisan rumah tangga (1 Tim 6:1-2)
Merupakan syarat mutlak bagi pendeta dan pemimpin rohani (1 Tim 3:2, 2 Tim 2:24)
Mendorong seseorang untuk membaca, menghayati, dan memberitakan firman Tuhan (1 Tim
4:13, 2 Tim 6:1-2)
Menjelaskan pertumbuhan iman (2 Tim 2:2)
Memuridkan (Mat 28:19-20, 2 Tim 2:2)
Metode Pengajaran
Selama pelayananNya di dunia, Tuhan Yesus memberikan teladan dalam metode
pengajaranNya untuk membangun kontak dengan pendengar, terutama muridNya. Metodemetode tersebut adalah:
Menarik perhatian dengan pandangan mata Dia melihat dua saudara, Simon dan Andreas
(Mat 4:18, Yoh 1:38), memanggil nama mereka, Yesus melihatnya dan berkata, engkau
simon, anak Yohanes,. (Yoh 1:42), menggunakan kata-kata untuk menarik perhatian,
dengarkan, seseungguhnya, lihatlah (Mrk 4:3, Luk 18:17,31)
Menggunakan berbagai pertanyaan dengan menegur dari manakah (Mat 21:2527), meyakinkan apakah engkau tidak pernah membaca (Mrk 2:25), menguji simon, anak
yohanes, apakah engkau mengasihi Aku (Yoh 21:15-17)
Menggunakan ilustrasi dan cerita untuk memunculkan perhatian (Luk 8:4-9), menjelaskan
suatu prinsip atau ajaran (Luk 10:30-35)
Menggunakan ceramah dan khotbah misalnya khotbah di bukit (Mat 5-7), pengajaran dibukit
zaitun (Mat 24-25)
Menggunakan benda atau objek, misalnya anak kecil untuk mengajar kerendahhatian (Mat
18:1-6), pohon yang kering untuk mengajar perlunya iman (Mat 13,17), uang koin untuk
mengajar ketaatan kepada pemerintah (Mrk 12:13-17)
Tuhan Yesus sebagai pengajar PAK
Para pengajar masa Perjanjian Baru diawali oleh Yesus, dan dilanjutkan para rasul
serta jemaat mula-mula. Bisa dikatakan bahwa pendidikan dalam PB terkait erat dengan
pribadi Yesus. Dalam PB, Yesus adalah guru yang biasa disebut rabi. Yesus adalah seoran
guru yang sempurna dan tidak ada bandinganya di dunia. Dalam mengajar, Yesus
menggunakan metode pengajaran yang variatif dan penuh wibawa.
Tuhan Yesus membenarkan panggilan para muridNya bahwa Dia adalah guru, kamu
menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan
Tuhan (Yoh 13:13). Yesus adalah guru agung yang pengajaranNya begitu luar biasa. Tanpa
diminta pun, banyak orang selalu berbondong-bondong mengikuti kemana Dia pergi. Hal ini
membuktikan bahwa Yesus menggunakan metode yang menarik sehingga banyak orang
selalu mengikuti Dia dan takjub akan pengajaranNya (Mrk 1:22, 12:37). keahlianNya sebagai

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Guru umumnya diperhatikan dan dipuji rakyat Yahudi sehingga mereka dengan sendirinya
menyebut Dia Rabi. Tentu ini adalah gelar kehormatan yang menyatakan betapa Dia
disegani dan dikagumi orang sebangsaNya sebagai pengajar yang mahir dalam segala ilmu
ketuhanan. Dia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli taurat
mereka (Mat 7:29).
Dalam usaha menyampaikan berita dan pesan mengenai kasih Allah, Yesus
menggunakan cara yang berbeda, antara lain:
Metode bercerita, Tuhan Yesus sangat pandai menggunakan perumpamaan dan kata-kata
kiasan untuk menjelaskan pengajaranNya mengenai kerajaan surga dan banyak hal lain.
Misalnya perumpamaan tentang pengampunan, perumpamaan tentang seorang penabur, dll
(Mat13, Mrk 12:1-12, Luk 8: 16-18, 13:6-9, 18-21, 14:15-24, 15-24)
Metode percakapan, pengajaran Yesus tidak hanya ditujukan bagi orang-orang yang
mengikuti Dia, tetapi juga untuk orang-orang farisi yang tidak percaya kepadaNya, dan orang
saduki. Bahkan dia rela mendekati orang-orang berdosa yang dipandang hina oleh
masyarakat sekitar. Yesus mau bercakap-cakap dengan mereka. (Mat 9:9-13, 12:1-8, 22:1533)
Metode pengalaman langsung, yaitu mengajarkan dengan langsung melakukannya. Tuhan
Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi juga dengan seluruh hidupNya, bahkan
dengan sengsara dan kematianNya. Ini menunjukkan bahwa Yesus merupakan contoh dan
teladan bagi para muridNya dalam ketaatanNya menjalankan perintah Allah. (Mat 14:22-33,
Mrk 6:45-52)
Metode penelaahan alkitab, pengajaran Yesus bukan meniadakan hukum taurat atau kitab
para nabi, melainkan menggenapinya. Hal ini dibuktikan dengan perkataanNya dalam
beberapa pengajaranNya, sebab ada tertulis, dan kamu telah mendengar firman (Mat 4:111, 5:17-48, 22:41-46)
Metode demonstrasi, Yesus melakukan banyak kesembuhan di berbagai tempat supaya
orang-orang yang melihat menjadi percaya akan kuasa Allah dan akhirnya mau bertobat dari
segala dosa mereka. (Mat 15:29-31, 32-39, 20:29-34)
Metode ceramah, metode ini bersifat satu arah seperti ketika Yesus berkhotbah di bukit
tentang ucapan bahagia, dan ketika Yesus mengajar firman Tuhan di Bait Allah (Mat 5:1-12,
10:16-33)
Metode pemuridan, dengan metode ini, penyebaran ajaran yang disampaikan Yesus akan
lebih cepat. Yesus memilih murid-murid untuk membantu Dia dalam pelayananNya sehingga
berita tentang Kerajaan Allah cepat tersebar. Para murid Tuhan Yesus pun akhirnya memiliki
murid. Mereka mempunyai tugas yang sama, yaitu memuridkan orang lain. Tujuan Yesus
ketika memilih kedua belas rasul adalah supaya mereka juga memuridkan orang lain dan
berita injil semakin tersebar dimana-mana (Mat 4:18-22, 10:1-4, 28:18-20)
Metode kunjungan lapangan, Yesus menggunakan metode ini untuk melatih para muridNya
melakukan hal yang telah Dia ajarkan. Selain itu, Dia juga ingin supaya para muridNya
percaya akan kuasa Allah yang menyertai mereka ketika mereka mengajar tentang Kerajaan
Allah. Ketika Yesus mengutus keduabelas murid dan tujuh puluh murid, Tuhan Yesus
memperlengkapi mereka dengan kuasa. Ketika para murid kembali, mereka bersukacita

1.
2.
3.
4.

karena telah melakukan tugas dengan baik dan benar-benar merasakan kehidupan lapangan
pelayanan (Luk 10:1-12, 17-20)[50]
Dalam surat tesalonika ada empat macam bahan pengajaran, yaitu:
Ajaran teologis, Yesus sebagai Anak Allah (1:10), Yesus disebut Tuhan (1:1,3), kematianNya
menyelamatkan (1:10, 5:9), tentang kebangkitan (4:13-18)
Pengajaran etis, yaitu tata cara hidup Kristen (4:3,9), dan tata cara hidup yang tertib (5:14-15,
2 Tes 3:10b)
Tata gereja, yaitu pengelolaan jemaat (5:12-13)
Kata-kata yang menyerupai ucapan Yesus (5:2)
Jemaat Mula-mula
Sejak mulai berdiri, jemaat Kristen telah menjunjunng pengajaran agama. Dalam
persekutuan jemaat mula-mula, mereka berdoa, memperbincangkan tentang berbagai
pengajaran dan perbuatan Tuhan Yesus, makan bersama dan merayakan perjamuan suci/
mereka yakin bahwa sejak Roh Kudus turun, mereka adalah Israel baru. Yesus kristus telah
menciptakan Israel baru dengan RohNya. Sekarang mereka berdiri dalam dunia dengan
keadaan dan tugas baru.
Mereka juga meneruskan ketekunan dan kesetiaan bangsa Israel dalam menjalankan
pendidikan agama. Hanya saja, jemaat mula-mula tidak lagi menjadikan taurat sebagai dasar
dan pusat pendidikan, tetapi Yesus Kristuslah yang menjadi pusatnya. Dengan demikian,
jemaat mula-mula mengajarkan agama Kristen kepada para tetangga dalam rumah-rumah
mereka, kebaktian dan persekutuan, bahkan kepada siapa saja yang suka mendengarkan
berita kesukaan yang mereka sampaikan.
Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa agama Kristen sangat
mementingkan pendidikan agama. Agama Kristen meyakini dan segenap penganutnya sekalikali tidak boleh melupakan berbagai perbuatan mahabesar yang telah dilakukan Tuhan Allah
bagi mereka dalam Yesus Kristus. Setiap anggota gereja, baik orang dewasa maupun anakanak, wajib mempelajari pekerjaan Tuhan yang telah mendatangkan keselamatan. Sejumlah
peristiwa agung harus diajarkan, dijelaskan, dan dipercayai sehingga setiap orang mengakui
Yesus Kristus sebagai Juruselamat meninggalkan manusia lamanya dan menjadi ciptaan baru
dalam Dia.

1.
2.
3.
4.
1.
2.

Dasar Teologis PAK


Dasar-dasar teologis dalam PAK adalah
Tugas PAK, yaitu mengajar
Proses PAK, yaitu memuridkan
Tujuan PAK, mendewasakan murid
Subjek PAK, gereja, keluarga, dan sekolah.[51]
Landasan Alkitabiah
Ulangan 6:4-9, .haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anakanakmu.dimana saja ketika engkau duduk, berbaring..
Efesus 6:4, didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

3. Amsal 22: 6, didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa
tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu
4. 2Tim 3:16, segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar,
untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran.
5. Amsal 1:7, takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh
menghina hikmat dan didikan.
6. Amsal 10:17, siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa
mengabaikan teguran, tersesat
7. Amsal 1:23, berpalinglah kamu kepada teguranku!....
8. Amsal 4:13, berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya,
9. Mazmur 8:5, apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia,
sehingga Engkau mengindahkannya? [52]

BAB IV
Relevansi PAK pada Masa Kini
A. Relevansi komponen pembelajaran dalam perjanjian lama terhadap
pelaksanaan pendidikan Kristen pada masa kini
Berikut akan diuraikan mengenai relevansi dasar teologis komponen proses
pembelajaran Perjanjian Lama terhadap proses pembelajaran pendidikan kristen pada masa
kini:
1. Pendidik
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya dalam Perjanjian Lama, peranan pendidik
bukan sekedar mengajar, melainkan juga berperan dalam memimpin suatu umat, bahkan
sebagai pemimpin ibadah (iman), raja, hakim, dan nabi. Tinjauan pendidikan dalam
Perjanjian Lama memang tidak lagi ditemui pendidik masa kini. Misalnya Allah sebagai
pengajar, dalam PL, Allah berbicara langsung kepada pemimpin (pengajar) dengan
menyampaikan hal yang Dia kehendaki atau member nasehat dan teguran kepada umat yang
tidak taat. Jabatan nabi, hakim, dan raja sebagai pengajar tidak lagi kita temui dalam
pendidikan Kristen masa kini. Dalam pengajaran masa kini, gembala, perintis jemaat atau
hamba Tuhan juga berkompetensi sebagai pengajar di sekolah, gereja, bahkan dalam rumah
tangga.
2. Anak didik
Anak didik yang dimaksudkan disini adalah umat Israel, umat pilihan Tuhan, umat
kesayanganNya. Allah memiliki rencana bagi umatNya. Mereka harus taat dan setia kepada
Allah karena mereka akan dipakai Allah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain.
Ketaatan mereka akan membuat mereka diberkati, sedangkan ketidaktaatan membuat mereka
berada dibawah kutuk atau hukuman.
Hal ini berbeda dengan anak didik pada masa kini. Mereka yang taat kepada firman
Tuhan akan diberkati, tetapi mereka yang tidak taat akan kurang bertumbuh secara rohani.

Berbeda dengan PL, akibat ketidaktaatan bukanlah kutukan, melainkan tidak adanya damai
sejahtera dalam kehidupan mereka.
3. Materi atau isi
Materi dalam PL adalah taurat Tuhan, yaitu sepuluh hukum Allah (Kel 20:1-9) yang
isinya mengatur hubungan setiap pribadi dengan Allah (Kel 20:3-11, Hak.1-4) dan hubungan
antar sesame umat (Kel 20:12-17, Hak 5-10). Umat Israel diajar untuk taat dan beriman pada
pemeliharaan Allah. Mereka juga diajarkan bahwa konsekuensi ketidaktaatan adalah kutuk,
tetapi ketaatan akan mendatangkan berkat (Kej 12:3). Umat Israel adalah umat pilihan Tuhan
yang selalu Dia pelihara. Di tengah-tengah ketidaktaatan, Allah menghukum mereka. Namun,
hukuman Allah bukanlah bukti kebencianNya, melainkan bukti kasih Allah kepada umatNya.
4. Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan bagi umat Israel adalah mewujudkan visi Allah bagi bangsabangsa. Visi Allah merupakan dasar pendidikan yang perlu dijalankan dari rumah orang
ibrani dalam rangka menyelamatkan bangsa-bangsa di dunia melalui keteladanan hidup orang
ibrani (Kej 12). Dalam menjalankan visi Allah, ada penyertaan Allah atas para pendidik harus
dapat menjadi saluran bagi bangsa-bangsa lain selama mengajarkan hukum-hukum (Kej
13:3).
Tujuan utama pengajaran masa kini adalah menyelamatkan anak didik terlebih dulu
(percaya kepada Yesus). Dengan pengajaran melalui firman Allah, kerohanian peserta didik
akan bertumbuh menjadi orang yang memiliki hidup baru, dan meninggalkan kebiasaan lama
(duniawi). Hidup mereka akan mencerminkan nilai-nilai kristiani berdasarkan firman Tuhan.
Selain itu, tujuan pembelajaran adalah agar para peserta didik menjadi saluran berkat bagi
orang lain baik melalui kehidupan, atau tindakan mereka untuk memberitakan kabar baik
kepada orang lain agar orang lain juga diselamatkan.
5. Metode pengajaran
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, metode dan pendekatan pengajar terhadap
anak didik (umat Israel) bisa melalui penglihatan (penampakan Allah), pengajaran para imam
dalam rumah-rumah ibadah (bait Allah), atau pengajaran para raja di istana dan sejumlah
rumah ibadat (sinagoge). Metode pendekatan dalam PL sangat berbeda dengan metode dan
pendekatan masa kini. Metode dan pendekatan pendidikan masa kini lebih bersifat formal
dan sistematis.[53]

B. RELEVANSI PAK PADA MASA KINI


Pendidikan Kristen di abad ke-20, yang dicatat khusus adalah pertumbuhan
perguruan-perguruan tinggi alkitab, seminari-seminari, perguruan-perguruan tinggi dan
universitas-universitas Kristen, serta sekolah-sekolah Kristen harian dalam abad ini.
Perguruan-perguruan tinggi alkitab yang tadinya kecil tumbuh menjadi perguruan-perguruan
tinggi dan universitas-universitas Kristen yang mengikursertakan ribuan murid. Seminariseminari mengembangkan tawaran kurikulum dan program-program gelaruntuk mencakup
banyak bentuk pendidikan sarjana dan pelatihan kerja. Organisasi-organisasi para gereja dan
penerbit-penerbit mempunyai program-program pelatihan Pendidikan Kristen yang mapan
yang memberikan kesempatan pengembangan keterampilan dengan luas.[54]

Tantangan abad kedua puluh satu adalah agar pendidikan Kristen injili yang matang
tetap setia kepada kewenangan kitab suci. Godaan untuk menjadi benar secara psikologis dan
maju secara metodologis harus diimbangi dengan sebuah komitmen terhadap nilai firman
Tuhan. Tetapi sikap hati-hati perlu dilakukan untuk mempertahankan kepatuhan kepada
kehendak satu-satunya sumber kebijaksanaan. Pendidikan Kristen injili akan tetap menjadi
injili hanya jika pendidikan Kristen itu mempertahankan tempatnya di pusat amanat agung
Yesus Kristus (Mat 28:18-20). Pendidikan Kristen injili akan tetap efektif hanya jika
dipertahankan oleh sumber kehidupan dalam pelayanan pendidikan Roh Kudus yang
dijanjikan (Kis 1:8).
Sekolah minggu didirikan pada akhir tahun 1700-an sebagai upaya untuk memenuhi
kebutuhan pendidikan dasar dari anak-anak kota yang miskin dan buta huruf. Selama tahun
1800-an, sekolah minggu tumbuh menjadi lebih evangelistic dalam penekanannya dan
meluas melampaui orang-orang miskin sehingga mencakup anak-anak dari para anggota
gereja. [55]
Di akhir tahun 1950-an barulah gereja-gereja mulai menginvestasikan dana gaji yang
signifikan bagi posisi staf yang berhubungan dengan pelayanan kaum muda. Sebelumnya,
sebagian besar pelayanan pemuda dilakukan oleh pekerja dengan sukarela.
Sekolah-sekolah Kristen telah ada di Amerika serikat sejak para pendatang mulamula. Dalam pengertian yang paling nyata, sekolah-sekolah Amerika Serikat ssejak para
pendatang mula-mula. Dalam pengertian yang paling nyata, sekolah-sekolah Amerika
pertama didirikan dan dijalankan oleh gereja. Hingga akhir perang saudara di Amerika,
agama protestan memandang sekolah negeri sebagai ciptaan mereka sendiri. Sekolah-sekolah
mula-mula ini mencerminkan kepercayaan dan nilai-nilai religius masyarakat Amerika secara
keseluruhan.

PAK di sekolah
Pendidikan agama berfungsi untuk menumbuhkan sikap dan perilaku manusia
berdasarkan
iman
keagamaan
melalui
kehidupan
sehari-hari,
dengan
menghormati/menghargai agama lain dalam hubungan kerukunan antara umat beragama di
masyarakat untuk mewujudkan persekutuan nasional dan berlandaskan Pancasila serta UUD
1945.[56]
Sekolah Kristen diselenggarakan atas dasar iman Kristen. Iman Kristen berarti
keyakinan atas dasar anugerah Tuhan dalam karya pelepasan dari Yesus Kristus dan
pengharapan akan pertolonganNya dalam segala keadaan. Oleh karena itu, sekolah Kristen
menyampaikan berita kegembiraan yang dibawa Kristus yang disaksikan oleh alkitab dan
mengajar kepada murid-murid melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkanNya.[57]
Mutu dan kualitas PAK di sekolah ditentukan oleh berbagai faktor seperti mutu dan
kualitas guru, mutu kurikulum, kemampuan peserta didik, sarana dan prasarana, serta
peraturan dan perundangan yang berlaku dan tidak kalah penting dukungan yang diberikan
oleh sekolah dimana PAK tersebut diselenggarakan.[58]
Sejajar dengan sekolah-sekolah Belanda adalah lembaga-lembaga pendidikan Kristen
dan katolik. Badan zending dan misi memiliki jumlah sekolah-sekolah yang cukup besar,

mutunya umumnya baik dan diakui pengaruhnya dalam masyarakat Indonesia sampai dewasa
ini. Keduanya mengambil sistem pendidikan nasional, dengan didasari oleh pengakuan iman
dari gereja masing-masing. Sekolah-sekolah ini ada yang menerima subsidi dari pemerintah
dalam jumlah yang cukup besar, adapula yang menerima sedikit sekali, demikian juga
bantuan dari badan-badan Kristen di negeri belanda bervariasi besar-kecilnya.[59]

PAK di dalam Gereja


Sebagaimana lazimnya gereja-gereja di Indonesia membagi habis pelayanannya
sesuai dengan golongan-golongan warga jemaat. Dalam tradisi gereja-gereja yang ada, pada
umumnya pelayanan di dalam gereja dibagi ke dalam komisi-komisi seperti: komisi sekolah
minggu, komisi remaja, komisi pemuda, komisi wanita dan komisi pria.[60]
Masa itu (tahun 1960-an), PAK seperti yang sekarang ini belum dikenal, yang dikenal
disekolah-sekolah teologi adalah vak klasik praktika, dimana di dalamnya diajarkan :
kateketika, poimenika, liturgika, homelitika, dsb. Dalam hal ini, kateketika masih diartikan
secara tradisional, yakni sekitar pelajaran katekisasi orang dewasa yang ingin menerima
baptisan dan melakukan pengakuan percaya. Jadi belum mencakup PAK semua golongan
umur. Timbul kesan bahwa vak kateketika hanya semata-mata penerapan praktis ilmu teologi
untuk dipakai pendeta mengajar katekisasi dalam jemaat. Saat itu belum ada usaha
memikirkan teori PAK yang lebih mendasar, dan dimana tempat PAK yang sah dalam ilmu
teologi. Sedangkan di luar sekolah teologi, pada tahun 1950-an muncul usaha individual
dikalangan gereja untuk mengembangkan kegiatan pembinaan warga gereja.[61]
Di Indonesia masih banyak terdapat sekolah-sekolah Kristen, yang dibayar dan
diawasi oleh Negara, tetapi gereja-gerejalah yang menyelenggarakan dan menjalankannya.
Sekolah-sekolah Kristen di Indonesia tentu merupakan suatu tugas dan tanggungan yang
indah tetapi berat bagi gereja. Salah satu kesulitannya yang besar ialah kekurangan guru-guru
yang sungguh-sungguh mengaku Yesus Kristus selaku Tuhan dan Juruselamatnya dan ingin
mewujudkan kepercayaan itu di dalam segala gerak-gerik hidup mereka.[62]
Salah satu saran dari Konferensi PAK di Sukabumi pada tahun 1955, dan kebutuhan
yang sangat mendesak bagi kurikulum sekolah minggu yang bertitik tolak dari keadaan
Indonesia bertemu tatkala KOMPAK DGI mengadakan konferensi kurikulum di Wisma
Oikumene di Sukabumi pada tanggal 12 juni 4 juli 1963. Kemudian mereka meyusun
kurikulum berdasarkan tema Yesus Kristus, gereja, alkitab, dan Allah.[63]
Selama ini, gereja-gereja di Indonesia melaksanakan PAK di gereja dalam bentuk
pelayanan: sekolah minggu, katekisasi (untuk calon baptisan/sidi), sekolah Kristen, dan
pembinaan warga gereja.
PAK di Keluarga
Era modern mengubah cara pandang para pendidik Kristen dalam mendidik anak.
toleransi tinggi dan keleluasaan tidak terbatas cenderung merupakan gaya pendidikan saat ini.
Seharusnya justru dalam era modern sekarang, pendidik Kristen harus menerapkan beberapa
prinsip dalam PL yang lebih disiplin dalam hal pendidikan anak. Tanggung jawab PAK
pertama-tama dan terutama terletak pada orang tua, yaitu ayah dan ibu (Ams 1:8, Ul 6:4-9).

Orang tua yang baik mendidik anaknya dengan teguran dan hajaran dalam kasih (Ams 6:23).
[64] #nys

DAFTAR PUSTAKA
Daniel Nuhamara, Pembimbing PAK. Bandung: Jurnal Info Media. 2009.
Harianto GP, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab & Dunia Pendidikan Masa
Kini. Yogyakarta: Andi. 2012
Hardi Budiyana, Dasar-dasar Pendidikan Agama Kristen. Solo: Berita Hidup Seminary.
2011.
I. H. Enklaar dan E.G. Homrighausen. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung
mulia. 2009.
John M. Nainggolan. Pendidikan dalam Masyarakat majemuk.Bandung:Bina Media
Informasi.2009.
Louis Berkhof dan Cornelius Van Tii. Dasar Pendidikan Kristen. Surabaya: Momentum.
2004.
Michael J.Anthony. Foundations of Ministry an introduction to Christian education for a new
generation.Malang: Gandum Mas. 2012.
N.K Atmadja Hadinoto. Dialog dan Edukasi. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2011.
Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan Praktik PAK. Yogyakarta: Andi. 2008
Robert R. Boehlke. Sejarah Perkembangan pikiran dan praktek PAK dari Yohanes sampai
perkembangan PAK di indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2011.
Robert Boehlke, Sejarah Perkembangan pikiran dan praktik PAK: dari plato sampai I.G.
Loyola. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2005
Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek PAK dari Yohanes Amos
Comenius sampai Perkembangan PAK di Indonesia. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 1997.
Thomas H. Groome. Christian Religious Education. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2011.
Weinata Sairin. Identitas dan ciri khas pendidikan Kristen di Indonesia antara konseptual
dan operasional.Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2010.

[1] Harianto GP, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab & Dunia Pendidikan Masa Kini.

Yogyakarta: Andi. 2012. Hlm 52


[2] Ibid. hlm 52
[3] Ibid. hlm 52
[4] Ibid. hlm 53

[5] Ibid. hlm 54


[6] Paulus Lilik Kristianto. Prinsip dan praktik PAK. Yogyakarta: Andi. 2008.Hlm 4-5
[7] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek PAK dari Yohanes Amos

Comenius sampai Perkembangan PAK di Indonesia. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 1997. Hlm 530
[8] Ibid. hlm 546
[9] Hardi Budiyana, Dasar-dasar Pendidikan Agama Kristen. Solo: Berita Hidup Seminary. 2011.

Hlm 4
[10] Ibid. hlm 7
[11] Harianto GP, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab & Dunia Pendidikan Masa Kini.

Yogyakarta: Andi. 2012. Hlm 52-53


[12] Ibid. hlm 53
[13] Ibid. hlm 54
[14] Daniel Nuhamara, Pembimbing PAK. Bandung: Jurnal Info Media. 2009. hlm 30
[15] Ibid. hlm31
[16] Ibid. hlm 30-31
[17] Thomas H. Groome. Christian Religious Education. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2011. hlm

65
[18] Hardi Budiyana, Dasar-dasar Pendidikan Agama Kristen. Solo: Berita Hidup Seminary. 2011.

Hlm 43-45
[19] Ibid. hlm 46-47
[20] Ibid. hlm 48-49
[21] Ibid. hlm 50-52
[22] Ibid. hlm 53
[23] Ibid. hlm 54
[24] Ibid. hlm 57
[25] Ibid. hlm 60
[26] Ibid. hlm 64-66
[27] Ibid. hlm 67-70
[28] Ibid. hlm 71-72
[29] Ibid. hlm 73-76
[30] Ibid. hlm 77-80
[31] Ibid. hlm 81-83

[32] Ibid. hlm 84-85


[33] Ibid. hlm 86-90
[34] Ibid. hlm 91-94
[35] Ibid. hlm 95-102
[36] Harianto GP, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab & Dunia Pendidikan Masa Kini.

Yogyakarta: Andi. 2012. Hlm 14


[37] Ibid. hlm 14
[38] Ibid. hlm 15
[39] Ibid. hlm 16
[40] Ibid. hlm 17
[41] Ibid. hlm18
[42] Louis Berkhof dan Cornelius Van Tii. Dasar Pendidikan Kristen. Surabaya: Momentum.

2004. Hlm 63-98


[43] Ibid. hlm 99-126
[44] Ibid. hlm 127-158
[45] Ibid. hlm 159-180
[46] Ibid. hlm 181-202
[47] Harianto GP, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab & Dunia Pendidikan Masa Kini.

Yogyakarta: Andi. 2012. Hlm 19


[48] Ibid. hlm 30
[49] Robert Boehlke, Sejarah Perkembangan pikiran dan praktik PAK: dari plato sampai I.G.

Loyola. Hlm 40-41


[50] Ibid. hlm 39-40
[51] Ibid. hlm 56
[52] Ibid. hlm 62-63
[53] Ibid. hlm 33-35
[54] Michael J.Anthony. Foundations of Ministry an introduction to Christian education for a

new generation. Malang: Gandum Mas. 2012. Hlm 52-53


[55] Ibid. hlm 147
[56] Weinata Sairin. Identitas dan ciri khas pendidikan Kristen di Indonesia antara konseptual

dan operasional. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2010. Hlm 153


[57] Ibid. hlm 185

[58] Hlm 17-18


[59] N.K Atmadja Hadinoto. Dialog dan Edukasi. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2011. Hlm 137
[60] John M. Nainggolan. Pendidikan dalam Masyarakat majemuk.Bandung:Bina Media

Informasi.2009.hlm16
[61] N.K Atmadja Hadinoto. Dialog dan Edukasi. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2011. Hlm 170-171
[62] I. H. Enklaar dan E.G. Homrighausen. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung

mulia. 2009. Hlm 158-159


[63] Robert R. Boehlke. Sejarah Perkembangan pikiran dan praktek PAK. Jakarta: BPK Gunung

Mulia. 2011. Hlm 796-798


[64] Ibid. hlm 25-29