Anda di halaman 1dari 58

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Illahi Robbi, karena berkat limpahan rahmat dan
hidayah-Nya lah penyusun bisa menyelesaikan tugas laporan tutorial ini dengan baik tanpa
aral yang memberatkan.
Laporan ini disusun sebagai bentuk dari pemenuhan tugas laporan tutorial skenario B
yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) di
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, khususnya pada Blok Tumbuh Kembang dan
Geriatri.
Terima kasih tak lupa pula kami sampaikan kepada dr.Ella Amalia,M.Kes yang telah
membimbing dalam proses tutorial ini, beserta pihak-pihak lain yang terlibat, baik dalam
memberikan saran, arahan, dan dukungan materil maupun inmateril dalam penyusunan tugas
laporan ini.
Penyusun menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik yang membangun sangat kami harapkan sebagai bahan pembelajaran yang baru bagi
penyusun dan perbaikan di masa yang akan datang.

Palembang,4 April 2016


Penyusun

Kelompok Tutorial X

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................1
I.1.

Latar Belakang...................................................................................................1

I.2.

Maksud dan Tujuan............................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................

....2

SKENARIO B....................................................................................

....2

II.1. Klarifikasi Istilah..................................................................................

....3

II.2. Identifikasi Masalah..............................................................................

....4

II.3. Analisis Masalah...................................................................................

....6

II.4. Hipotesis................................................................................................

..16

II.5. Learning Issue........................................................................................

..30

II.5.1. Gizi Buruk............................................................................................30


II.5.2. Defisiensi Vitamin A............................................................................33
II.5.3. Diare Kronik.........................................................................................37
II.5.4. Asuhan Nutrisi Pediatri........................................................................47
KERANGKA KONSEP.............................................................................................54
BAB III PENUTUP..................................................................................................................55
III.1. KESIMPULAN......................................................................................................55

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................

..56

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Blok Tumbuh Kembang dan Geriatri adalah blok ke-25 semester VI dari Kurikulum Berbasis
Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Pada
kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus sebagai bahan pembelajaran untuk
menghadapi kasus yang sebenarnya pada waktu yang akan datang.

I.2. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran
KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis
pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

BAB II
PEMBAHASAN
SKENARIO B
Ahmad bayi laki-laki usia 9 bulan dibawa ibunya ke Puskesmas karena BAB cair sejak
15 hari yang lalu dengan frekuensi 4-5x/hari @ 1-2 sendok makan, warna kuning tidak ada
lendir dan tidak ada darah. Ahmad tidak muntah. Riwayat kelahiran : lahir aterm, spontan,
cukup bulan ditolong bidan, skor AFGAR tidak diketahui, dengan berat badan lahir 2500
gram, panjang badan lahir 46 cm, lingkar kepala lahir tidak diukur. Walaupun sudah berusia 9
bulan, Ahmad belum bisa berdiri, hanya bisa duduk dan bebaring saja. Riwayat penyakit
sebelumnya: sejak usia 4 bulan Ahmad menderita diare hampir setiap bulan satu kali lamanya
3 sampai 4 hari.
Riwayat nutrisi sebelum sakit : usia 0-2 bulan : ASI, usia 2 bulan sampai sekarang: susu
formula standar (67 kkal/100ml) sekarang 6 kali sehari @ 3 sendok takar. Dalam membuat
susu, si ibu biasa mencampur susu 1 sendok takar dengan air panas sampai 20 ml dan air
dingin 20 ml. Sejak usia 4 bulan Ahmad sudah diberi bubur bayi beras merah 3 kali sehari @
2 sendok makan (80 kkal). Kadang-kadang ibu membuat bubur saring sendiri yang terdiri
dari tepung beras, kentang, kuah sayuran.
Riwayat imunisasi : sudah pernah mendapat imunisasi BCG, DPT 1x, hepatitis B 1x, dan
polio 1x. Riwayat keluarga : Ayah usia 35 tahun tidak tamat SD dan tukang becak, ibu usia 32
tahun tidak tamat SD ibu rumah tangga, jumlah saudara 3 orang ( usia 7 tahun, 5 tahun, dan 3
tahun)
Pemeriksaan fisik : tampak sangat kurus , kulit kusam dan kesadaran apatis , cengeng ,
denyut nadi 140x/menit , isi dan tegangan cukup , pernapasan 30x/menit , suhu 35,0C.Hasil
pengukuran antropomentri : berat badan 5,5 kg , panjang badan 65 cm , lingkar kepala 44cm ,
wajah seperti orang tua dengan tulang pipi menonjol, warna rambut seperti rambut jagung
jarang, tipis, dan mudah dicabut.Pada mata terdapat bercak seperti busa sabun , konjungtiva
pucat , tidak ada edema di seluruh tubuh, ada iga gambang , perut cekung , lengan dan
tungkai atrofi , dan terdapat baggy pants .

II.1 KLARIFIKASI ISTILAH


2

No.
1.

2.
3.

4.

Istilah
Diare

Definisi
Sebuah penyakit disaat tinja atau feses
berubah lembek atau cair yang biasanya

Iga gambang

terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam


Tulang rusuk yang menonjol seperti gambang

Susu formula

Susu yang dibuat dari susu sapi atau susu


buatan yang diubahh komposisinya hingga
dapat dipakai sebagai pengganti ASI
Suatu emulsi lemak dalam larutan protein,

ASI

laktosa dan garam-garam anorganik yang


disekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang

5.
6.

Imunisasi BCG (Bacillus calmette

berguna sebagai makanan bagi bayinya


Imunisasi yang digunakan untuk mencegah

Guerin )
Imunisasi DPT ( difteri, pertussis,

penyakit TBC yang berat


Imunisasi yang digunakan untuk mencegah

dan tetanus )

terjadinya penyakit difteri, pertusis, dan


tetanus mengandung racun kuman difteri
yang telah dihilangkan racunnya akan tetapi
dapat merangsang pembentukan zat anti

7.

8.
9.
10.

Imunisasi Hepatitis B

(toxoid)
Imunisasi yang digunakan untuk mencegah
penyakit Hepatitis yang kandungannya adalah

Apatis

HbsAg dalam bentuk cair


Acuh tidak acuh ; tidak peduli ; masa bodoh

Bercak bitot

Bercak putih seperti busa sabun atau keju

Baggy pants

terutama di daerah celah mata sisi luar


Suatu keadaan dimana daerah pantat atau
bokong tampak seperti memakai celana
longgar, disebabkan karena jaringan lemak
subkutis yang sedikit dan otot paha yang
mengendor

II.2 IDENTIFIKASI MASALAH


No.
1.

Identifikasi Masalah
Ahmad

bayi laki-laki usia 9 bulan dibawa ibunya ke

Concern
********
3

puskesmas karena BAB cair sejak 15 hari yang lalu dengan


frekuensi 4-5x/hari @ 1-2 sendok makan, warna kuning
tidak ada lendir dan tidak ada darah. Ahmad tidak muntah.
2.

Walaupun sudah berusia 9 bulan, Ahmad belum bisa

*******

berdiri, hanya bisa duduk dan bebaring saja.


3.

Riwayat kelahiran :lahir aterm, spontan, cukup bulan

******

ditolong bidan, skor AFGAR tidak diketahui, dengan berat


badan lahir 2500 gram, panjang badan lahir 46 cm, lingkar

4.

5.

kepala lahir tidak diukur.


Riwayat penyakit sebelumnya : sejak usia 4 bulan Ahmad
menderita diare hampir setiap bulan satu kali lamanya 3-4
hari.
Riwayat nutrisi sebelum sakit : usia 0-2 bulan : ASI, usia 2
bulan sampai sekarang: susu formula standar (67

*****

****

kkal/100ml) sekarang 6 kali sehari @ 3 sendok takar.


Dalam membuat susu, si ibu biasa mencampur susu 1
sendok takar dengan air panas sampai 20 ml dan air dingin
20 ml. Sejak usia 4 bulan Ahmad sudah diberi bubur bayi
beras merah 3 x sehari @ 2 sendok makan (80 kkal).
Kadang-kadang ibu membuat bubur saring sendiri yang

6.
7.

terdiri dari tepung beras, kentang, kuah sayuran.


Riwayat imunisasi : sudah pernah mendapat imunisasi
BCG, DPT 1x, hepatitis B 1x, dan polio 1x.
Riwayat keluarga : Ayah usia 35 tahun tidak tamat SD dan
tukang becak, ibu usia 32 tahun tidak tamat SD ibu rumah

***
**

tangga, jumlah saudara 3 orang ( usia 7 tahun, 5 tahun, dan


3 tahun).
8.

Pemeriksaan fisik : tampak sangat kurus , kulit kusam dan

kesadaran apatis , cengeng , denyut nadi 140x/menit , isi


dan tegangan cukup , pernapasan 30x/menit , suhu
35,0C.Hasil pengukuran antropomentri : berat badan 5,5
kg , panjang badan 65 cm , lingkar kepala 44cm , wajah
seperti orang tua dengan tulang pipi menonjol, warna
4

rambut seperti rambut jagung jarang, tipis, dan mudah


dicabut.Pada mata terdapat bercak seperti busa sabun ,
konjungtiva pucat , tidak ada edema di seluruh tubuh, ada
iga gambang , perut cekung , lengan dan tungkai atrofi ,
dan terdapat baggy pants .

II.3 ANALISIS MASALAH


1.Ahmad bayi laki-laki usia 9 bulan dibawa ibunya ke puskesmas karena BAB cair
sejak 15 hari yang lalu dengan frekuensi 4-5x/hari @ 1-2 sendok makan, warna kuning
tidak ada lendir dan tidak ada darah. Ahmad tidak muntah.
a. Apa hubungan usia , jenis kelamin terhadap diare pada kasus?
5

Anak balita (bawah lima tahun) atau berumur 0-59 bulan merupakan kelompok umur
yang paling rentan menderita KEP karena sedang dalam masa pertumbuhan sehingga
memerlukan asupan gizi yang memadai baik kualitas maupun kuantitasnya (Soeditama,
2004).
Menurut Almatsier (2005), tingkat kebutuhan pada anak laki-laki lebih banyak jika
dibandingkan dengan perempuan. Begitu juga dengan kebutuhan energi, sehingga lakilaki mempunyai peluang untuk menderita KEP ysng lebih tinggi daripada perempuan
apabila kebutuhan akan protein dan energinya tidak terpenuhi dengan baik.
Kebanyakan episode diare terjadi pada dua tahun pertama kehidupan. Insiden paling
tinggi pada golongan umur 6-11 bulan, pada masa diberikan makanan pendamping. Hal
ini karena belum terbentuknya kekebalan alami dari anak pada umur di bawah 24 bulan.
Risiko diare pada perempuan lebih rendah daripada laki-laki karena aktivitas anak lakilaki dengan lingkungan lebih tinggi.
b. Apa makna klinis dari tidak ditemukan lendir , darah dan tidak muntah?
Lendir dan darah umumnya ditemukan pada bayi diare yang terinfeksi shigela dan
salmonella. Pada kasus bisa disingkirkan penyebab diare yaitu bukan disebabkan shigella
dan salmonella. Pada diare yang disebabkan oleh rotavirus, penderita awalnya akan
mengalami demam dan muntah-muntah. Jadi, diagnosis diare akibat rotavirus bisa
disingkirkan.
c. Apa penyebab dan mekanisme BAB cair, warna kuning ,tidak ada lendir dan darah?
Ahmad mengalami diare kronik (berkepanjangan) dengan suspek disebabkan karena
bakteri. Diare jenis ini digolongkan dalam diare sekretorik. Terjadi peningkatan
kehilangan air dan elektrolit dari saluran pencernaan. Penurunan absorbsi Na+ akibat
hambatan dari vilus enterosit dan peningkatan sekresi Cl- oleh kripte menyebabkan diare.
Na+ akan masuk melalui mekanisme pompa dan pertukaran melalui Na+-glukosa, Na+asam amino, Na+-H dan proses elektrogenik oleh Na channel. Cl- akan masuk ke ileum
melalui pertukaran Cl-/HCO3. Peningkatan sekresi intestinal diperantai oleh vasoactive
IP dan akan meningkatkan adenilil siklase melalui rangsangan protein G enterosit.
Enterotoksin akan meningkatkan sekresi intestinal dengan meningkatkan CGMp atau
konsentrasi kalsium intraseluler. Peningkatan sekresi dari sel kripte akan berakibat diare.
Sekresi cairan yang melebihi kemampuan absorbsi akan meninbulkan diare sekretorik.
Diare ini mengeluarkan tinja yang cair, banyak, dan menetap. Diare sektetorik biasanya
disebabkan oleh toksin, kolera, E.Coli, dll.

Diare disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya bakteri,virus, dll. Bakteri yang
menyebabkan anak diare dengan lendir dan darah yaitu, shigella Sp dan salmonella Spp.
Kedua bakteri ini melakukan invasi ke mukosa usu. Daerah yang sering diserang adalah
bagian terminal dari ileum dan kolon. Akibat invasi dari bakteri ini terjadi infiltrasi selsel PMN dan kerusakan sel epitel mukosa sehingga timbul ulkus kecil-kecil di daerah
invasi yang menyebabkan sel-sel darah merah, plasma protein, sel darah putih, masuk ke
dalam lumen usus dan akhirnya keluar bersama tinja.
Ditinjau dari sosioekonomi, Ahmad bisa digolongkan dalam keluarga kurang mampu dan
tinggal bersama 3 orang saudaranya. Dalam rumah tersebut dihuni oleh 6 orang. Hal ini
menyatakan Ahmad tinggal di daerah yang padat dengan faktor higiene yang kurang.
ASI sangat penting untuk balita karena ASI mengandung komposisi yang sangat
dibutuhkan oleh bayi. ASI diberikan eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan,
dilanjutkan hingga usia 24 bulan. ASI memiliki faktor pertumbuhan usus sehingga lebih
terlindung dari diare. ASI mengandung antibodi, terutama imunoglobulin yang dapat
melumpuhan patogen seperti E.Coli dan berbagai virus dari saluran pencernaan. ASI juga
mengandung kolustrum yang mengandung SigA (Imunoglobulin A) yang akan
melindungi bayi.
Selain itu pemberian nutrisi Ahmad juga kurang, dilihat dari pemberian susu formula
yang terlalu encer sehingga meningkatkan resiko terjadi malnutrisi. Malnutrisi yang
berkepanjangan akan menyebabkan perubahan pada mukosa usus. Kekurangan seng dan
vitamin A akan berdampak pada gangguan pencernaan. Seng berguna untuk
penyembuhan luka. Jika terjadi defisiensi seng, maka akan terjadi pemanjangan proses
penyembuhan luka, kerusakan morfologi usus, dan peningkatan permeabilitas usus
terhadap makanan dan antigen. Vitamin A berperan sebagai respon imun terhadap
antigen. Jika terjadi defisiensi vitamin A maka akan timbul atrofi vili, aktivitas enzim
disakarida terganggu, dll. Sehingga, faktor-faktor diatas dapat menyebabkan terjadinya
diare karena kerusakan dari mukosa usus.
d. Apa dampak diare selama 15 hari dengan frekuensi 4-5x/hari pada kasus?
Diare berulang pada Ahmad dapat menimbulkan beberapa dampak berupa:

Dehidrasi

Hipotermia
7

Kekurangan elektrolit

Intoleransi laktosa sekunder sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan
vili mukosa usus halus

Diare berulang lagi, yaitu terjadi intoleransi makanan akibat fungsi usus yang belum
kembali sempurna (karena pemulihan seluler epitel bayi lambat), proses
penyembuhan tidak baik, malnutrisi (mengganggu produksi dan maturasi enterosit
baru sehingga merubah morfologi intestinal, kerusakan barrier mukosa dan atrofi
dinding usus yang mengganggu sekresi berbagai enzim sehingga menjadi rentan
untuk infeksi kembali).

e. Bagaimana tatalaksana awal diare pada kasus?


Tatalaksana bayi diare menurut DEPKES adalah mengganti cairan dan elektrolit tanpa
melihat etiologi, tetap memberikan makanan, ASI, antibiotik dan antiparasit. Cairan yang
diberikan menurut WHO adalah cairan yang mengandung 75 mEq/L natrium, 75 mmol/l
glukosa, dan osmolalitas 245 mOsm/l. Pemberian dengan osmolalitas rendah terbukti
memperpendek durasi terjadinya diare. Pemberian rehidrasi ini diberikan dalam peroral
dan menghindari penggunaan rehidrasi intravena.
2. Walaupun sudah berusia 9 bulan, ahmad belum bisa berdiri, hanya bisa duduk dan
bebaring saja.
a. Apa tahap perkembangan yang seharusnya telah tercapai pada bayi usia 9 bulan?
Perkembangan anak dilihat dari motorik kasar, motorik halus dan adaptif, personalsosial, dan bahasa. Pada anak usia 9 bulan perkembangannya sebagai berikut :
a. motorik kasar : anak mulai belajar berdiri, anak dapat duduk sendiir tanpa
bantuan oranglain
b. motorik halus dan adaptif : mulai pincer grasp dan dapat mempertemukan 2 balok
c. personal-sosial : bisa melambai bye-bye dan memainkan pat a cake
d. bahasa : dapat mengatakan dada, mama tapi tidak spesifik dan dapat
mengucapkan dua suku kata
b. Bagaimana penyebab dan mekanisme dari belum bisa berdiri , hanya bisa duduk dan
berbaring?
Bayi sudah bisa duduk kira-kira pada usia 6-8 bulan. Mulai dari usia 8-10 bulan bayi
akan mulai belajar untuk berdiri sendiri dan biasanya pada usia 11 bulan bayi sudah
dapat berdiri sempurna. Pada kasus bila terjadi gangguan perkembangan pada Ahmad
kemungkinan disebabkan karena adanya kekurangan gizi pada Ahmad. Gizi buruk
8

merupakan salah satu faktor resiko terjadinya gangguan perkembangan pada anak salah
satunya yaitu perkembangan motorik kasar seperti berdiri, duduk, berjalan. Asupan
nutrisi sangat mempengaruhi proses perkembangan otak anak.
3. Riwayat kelahiran : lahir aterm, spontan, cukup bulan ditolong bidan, skor APGAR
tidak diketahui, dengan berat badan lahir 2500 gram, panjang badan lahir 46 cm,
lingkar kepala lahir tidak diukur.
a. Bagaimana interpretasi dan mekanisme dari riwayat kelahiran?
Riwayat Kelahiran
Aterm dan lahir spontan
Berat badan lahir
Panjang badan lahir
Lingkar kepala tidak diukur
APGAR skor tidak diketahui

Normal
Aterm dan lahir spontan
2.500 4.000 g
47 52 cm
33 cm-35,6 cm

Interpretasi
Normal
Normal
Normal

4.Riwayat penyakit sebelumnya : sejak usia 4 bula Ahmad menderita diare hamper
setiap bulan satu kali lamanya 3-4 hari.
a. Apa penyebab diare usia 4 bulan?
Diare pada bayi karena infeksi bakteri: bakteri seperti salmonella, shigella,

staphylococcus, campylobacter, atau E. Coli dapat menyebabkan diare pada bayi.


Diare pada bayi dari infeksi virus
Diare bayi karena antibiotik
Diare bayi karena bayi sebelum umur 4 bulan tidak diberikan ASI eksklusif atau
sudah diberi makanan selain ASI (makanan pendamping ASI). Risiko untuk menderita
diare lebih besar pada bayi yang tidak diberikan ASI daripada bayi yang disusui
secara penuh.

5.Riwayat nutrisi sebelum sakit : usia 0-2 bulan : ASI, usia 2 bulan sampai sekarang,
susu formula standar (67 kkal/100ml) sekarang 6 kali sehari @ 3 sendok takar. Dalam
membuat susu, si ibu biasa mencampur susu satu sendok takar dengan air panas
sampai 20 ml dan air dingin 20 ml. Sejak usia 4 bulan Ahmad sudah diberi bubur bayi
beras merah 3 x sehari @ 2 sendok makan (80 kkal). Kadang-kadang ibu membuat
bubur saring sendiri yang terdiri dari tepung beras, kentang, kuah sayuran.
a. Bagaimana pola pemberian nutrisi pada anak usia 9 bulan?
9

Waktu
05.00-06.00
08.00
11.00
13.00
15.00
16.00
18.00
21.00-22.00
Catatan :

Diet
ASI-Susu Formula
Nasi TIM
Jus atau Buah
Nasi TIM
ASI-Susu Formula
Biskuit, Agar-agar Susu, Hungkwe,

Jumlah
180 cc
9-12 sdm
125-180 cc, 9-12 sdm
9-12 sdm
150-180 cc
1-3 keping

Buah atau Snack lainnya


Nasi TIM
ASI-Susu Formula

9-12 sdm
180 cc

Bila berat badan normal dan jumlah minum susu siang hari banyak (150-180 cc setiap
minum), sebaiknya pada malam hari tidak diberikan susu lagi.
Bila berat badan kurang dari normal, minum susu siang sedikit (120 cc setiap minum),
dianjurkan minum susu malam hari 2-3 kali
Pada kasus , sorang bayi laki-laki, usia 9 bulan , BB : 5,5 kg, Panjang badan : 65 cm ,
Lingkaran kepala : 44 cm. kebutuhan kalori yang diperlukan pada kasus adalah 797,5
KKal.
Jumlah susu dalam sehari (ASI+PASI) : Berat badan normal : 650-750 ml
Berat badan kurang : 800-900 ml

b. Berapa kalori yang didapatkan pada usia 0-2 bulan?


Kebutuhan kalori bayi usia 0-2 bulan adalah sekitar 400 kkal. Untuk mengetahui berapa
kalori yang didapatkan Ahmad pada usia 0-2 bulan, harus diketahui jumlah ASI yang
diminum Ahmad per hari (100 cc ASI = 70-75 kkal).
c. Berapa kebutuhan kalori untuk anak usia 9 bulan pada kasus?
Kkal = RDA (kkal/kg) sesuai usia tinggi aktual x berat badan ideal(kg)
= 110 x 7,25
= 797,5 kkal
6.Riwayat imunisasi : sudah pernah mendapat imunisasi BCG, DPT 1x, hepatitis B 1x,
dan polio 1x.
a. Imunisasi apa saja yang di butuhkan anak pada usia 9 bulan(waktu pemberian)?

10

Vaksin

BCG

BCG, DPT-Hep B, Hep


B

Tempat suntikan

Lengan kanan atas luar

Paha tengah luar

Cara penyuntikan

Intracutan

Intramuscular/subcutan
dalam

Dosis

0,05 cc

0,5 ml

Ukuran jarum

10 mm, ukuran 26

25 mm, ukuran 23

Jenis

Bubuk+pelarut

Siap pakai

Vaksin

Campak

Polio

Tempat suntikan

Lengan kiri atas

Mulut

11

Cara penyuntikan

Subcutan

Diteteskan di mulut

Dosis

0,5 ml

2 tetes

Ukuran jarum

25 mm, ukuran 23

Jenis

Siap pakai

Botol dengan alat tetes


mulut

7.Riwayat keluarga : Ayah usia 35 tahun tidak tamat SD dan tukang becak, ibu usia 32
tahun tidak tamat SD ibu rumah tangga, jumlah saudara 3 orang ( usia 7 tahun, 5
tahun, dan 3 tahun).
a. Apa hubungan sosial ekonomi terhadap kasus?
Apabila melihat dari riwayat keluarga, maka Ahmad termasuk bayi yang lahir dalam
lingkungan dengan social ekonomi (pendidikan, pekerjaan, pendapatan) yang rendah
Keterbatasan sosial ekonomi ini juga berpengaruh langsung terhadap pendapatan
keluarga untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, berpengaruh pada praktek
pemberian makanan pada bayi dan

berpengaruh pula pada praktek pemeliharaan

kesehatan dan sanitasi lingkungan mempengaruhi daya beli dan asupan makanan
untuk memenuhi kebutuhan akan pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh serta pencegahan
terhadap penyakit infeksi yang kesemuanya gangguan pertumbuhan.
Pendidikan orang tua yang rendah orang tua tidak mengetahui pola pemberian
makanan yang baik pada bayi orang tua memberikan MPASI lebih awal dan susu
formula yang diberikan tidak sesuai takaran imunitas bayi masih rendah, terpapar
kuman lebih awal, dan gizi yang didapat bayi tidak cukup mempermudah terjadinya
diare gizi buruk gangguan pertumbuhan.
8.Pemeriksaan fisik : tampak sangat kurus , kulit kusam dan kesadaran apatis ,
cengeng , denyut nadi 140x/menit , isi dan tegangan cukup , pernapasan 30x/menit ,
suhu 35,0C.Hasil pengukuran antropomentri : berat badan 5,5 kg , panjang badan 65
cm , lingkar kepala 44cm , wajah seperti orang tua dengan tulang pipi menonjol, warna
rambut seperti rambut jagung jarang, tipis, dan mudah dicabut.Pada mata terdapat
bercak seperti busa sabun , konjungtiva pucat , tidak ada edema di seluruh tubuh, ada
iga gambang , perut cekung , lengan dan tungkai atrofi , dan terdapat baggy pants .
12

a. Apa interpretasi dan mekanisme dari pemeriksaan fisik


Tanda vital dan keadaan umum:
Tampak sangat kurus : gangguan pertumbuhan. Mekanisme abnormal : Sangat
Kurus: Asupan nutrisi yang tidak memadai -> gizi buruk (diperberat adanya diare) ->
peningkatan katabolisme dan kehilangan nutrient yang dibutuhkan untuk sintesis
jaringan dan pertumbuhan -> hilangnya sebagian besar lemak dan otot -> terlihat
sangat kurus, seperti hanya tulang terbungkus kulit
Apatis : abnormal, terjadi perubahan status mental.
Denyut nadi : 140 x/menit . normalnya pada anak usia 9 bulan , denyut nandinya
adalah 115 x/menit. Pada kasus terjadi takikardi. Mekanisme abnormal : Diare dan
gizi buruk -> dehidrasi -> volume darah menurun -> mekanisme kompensasi ->
aktivasi simpatis -> peningkatan kontraksi jantung -> takikardi
Frekuensi pernafasan : 30 x/menit. Normalnya pada anak usia 9 bulan, frekuensi
pernafasannya adalah 25-40 x/menit. Pada kasus, frekuensi napas normal.
Suhu : 35 derajat celcius. Normalnya, suhu tubuh anak usia 9 bulan yaitu 36,537,50C. pada kasus terjadi hipotermia. Mekanisme abnormal : cadangan energy anak
dengan gizi buruk sangat terbatas sehingga tubuh tidak dapat memproduksi panas
tubuh untuk mempertahankan panas tubuh.
Hasil antropometri :
Pada kasus BB ahmad 5,5 kg. Dari kurva WHO weight/age, Ahmad berada di kurva
<-3 SD yang menandakan Ahmad mengalami severly underweight. Panjang badan
ahmad adalah 65 cm. Dari kurva lenght/age, Ahmad berada di kurva <-3 SD yaitu
mengalami severly stunted. Pada kurva perbandingan weight/lenght <-3 SD. Untuk
pemberian nutrisi harus berdasarkan usia tinggi. Menurut PB dan usia, seharusnya
dengan tinggi 65 cm, anak berusia 4,5 bulan. Lingkar kepala anak 44 cm berada
pada daerah -2 SD.
4,5 bulan. BB ideal Ahmad seharusnya 7,25-7,5 kg.
7,5 kg x 110 kkal = 825 kkal.
BB dan PB yang terhambat terjadi karena malnutrisi dan diare yang dialami oleh
Ahmad. Sehingga, terjadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak.
Pemeriksaan spesifik:

Keterangan
Interpretasi
Wajah seperti orang tua, rambut Abnormal

Mekanisme abnormal
Merupakan
tanda-tanda

merah

mudah

dari kekurangan asupan

dicabut, perut cekung, lengan

nutrisi pada anak, pada

jagung

dan

13

dan tungkai atrofi

kasus

ini

manifestasi
Pada

mata

terdapat

bercak Abnormal

seperti busa sabun (bercak bitot)

merupakan
klinis

dari

marasmus
Hal ini menunjukkan pada
pasien terjadi defisiensi
mikronutrien vitamin A.

Konjungtiva pucat

Abnormal

Hal

ini

menunjukkan

kemungkinan

adanya

Tidak ada edema di seluruh Normal

anemia pada Ahmad


Ini menunjukkan bahwa

tubuh

Ahmad

Iga gambang

Abnormal

menderita

gizi

buruk tanpa edema


Tulang iga tampak jelas
karena terjadi penyusutan
jaringan lemak dan otot
pada

regio

toraks

dan

abdomen
Baggy pants

Abnormal

Menandakan
ketiadaan/sangat
sedikitnya jaringan lemak
subkutan. Manifestasinya,
pada daerah pantat tampak
seperti

memakai

longgar

celana
(pantat

berkeriput).

b. Bagaimana status gizi dan status pertumbuhan?


Status gizi : Gizi buruk tanpa edema
BB/U: -2 3 SD Severly Underweight
PB/U: -2 3 SD Severly Stunted
BB/PB: -2 3 SD Severly Wasted
Status pertumbuhan : Terlihat kurus karena tidak proposional, iga gambang, dan perut
cekung.

14

II.4 HIPOTESIS
Ahmad bayi laki-laki usia 9 bulan mengalami gizi buruk tipe marasmus disertai diare
kronis, dan defisiensi vitamin A.
a. Bagaimana cara menegakkan diagnosis pada kasus?
Menegakkan Diagnosis:
1. Anamnesis (penyakit & gizi)
anamnesis awal
untuk mengetahui adanya tanda bahaya dan tanda penting:
o syok/renjatan
o letargis
o muntah dan atau diare atau dehidrasi
anamnesis lanjutan
Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya gizi buruk:
o riwayat kehamilan & kelahiran
o riwayat pemberian makan
o riwayat imunisasi & pemberian vit A
o riwayat penyakit penyerta/penyulit
o riwayat tumbuh kembang
o penyebab kematian pada saudara kandung
o status sosial, ekonomi dan budaya keluarga, dll
2. Pemeriksaan fisik (klinis dan antropometri)
Pemeriksaan fisik awal :
untuk mengetahui adanya kedaruratan medis
o gangguan sirkulasi/syok
o gangguan kesadaran
o dehidrasi
o hipoglikemi
o hipotermi
Pemeriksaan fisik lanjutan :
o Tanda klinis gizi buruk
o Pengukuran dan penilaian antropometri
o Tanda defisiensi vitamin A pada mata dan mikronutrien lain
o Tanda dan gejala klinis penyakit penyerta/ penyulit
3. Pemeriksaan penunjang laboratorium, radiologi, dll
Pemeriksaan penunjang (Laboratorium/radiologi):
o Gula darah
o Hemoglobin dan hematokrit
o urine rutin
o Albumin, elektrolit
o foto thoraks
15

4. Analisis diet dan makanan


Analisis diet:
o kuantitas asupan makanan (Food recall)
o kualitas asupan makanan (Food frequency)

b. Apakah diagnosis banding pada kasus?


KEP berat/Gizi buruk secara klinis terdapat dalam 3 (tiga) tipe yaitu kwashiorkor,
marasmus, dan marasmik-kwashiorkor.

Kwashiorkor
Kebayakan
menyerang
anak dibawah lima tahun

(balita)
Edema, umumnya seluruh
tubuh, terutama pada
punggung kaki (dorsum

pedis), perut dan tangan


Muka bulat seperti bulan

(moonface)
Pandangan mata sayu
Rambut menjadi lurus,
kusam,

halus,

tipis,

Marasmus
Marasmik-Kwashiorkor
tandaUmumnya menyerang Gabungan
tanda marasmus
dan
bayi (dua belas bulan kwashiorkor
Sangat kurus
pertama)
Pertumbuhan terhambat Rambut
jagung
dan
mudah rontok
Lemak dibawah kulit
Perut buncit
berkurang
Punggung kaki bengkak
Otot-otot berkurang dan
Rewel
melemah
Tampak sangat kurus,
hingga

tulang

terbungkus kulit
Apatis
dan
wajah

kemerahan seperti warna

rambut jagung, mudah


dicabut tanpa rasa sakit

seperti orang tua


Cengeng, rewel
Kulit keriput
Anak
kelihatan

dan rontok
Perubahan

waspada dan lapar


Jaringan lemak subkutis

status

mental/gangguan

sangat sedikit sampai

psikomotor, apatis, tidak

tidak ada (pada daerah

gembira, tidak ada nafsu

pantat tampak seperti

makan dan rewel


Hati
membesar

memakai
dan

celana

berlemak
Otot mengecil (hipotrofi),
lebih nyata bila diperiksa

longgar/baggy pants)
Perut cekung
Iga gambang
Gastroenteritis
yang

pada posisi berdiri atau

diikuti

dehidrasi,

duduk

infeksi

saluran

16

Otot-otot berkurang dan

pernapasan,
tuberkulosis,

cacingan

melemah
Kulit

berat

penyakit

mengalami

depigmentasi,

kering,

bersisik, pecah-pecah dan

dermatosis
Luka sukar sembuh
Sering disertai : penyakit

infeksi (umumnya akut)


Anemia dan xeroftalmia
Diare

dan

kronis lain
Diare

c. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada kasus?

(Laboratorium & Radiologi)

Gula darah

Hemoglobin dan Hematokrit

Urine rutin

Albumin, elektrolit

Foto thoraks
Analisis diet:

Kuantitas asupan makanan (Food recall)

Kualitas asupan makanan (Food frequency)

d. Apakah diagnosis pada kasus?


Ahmad bayi laki-laki usia 9 bulan mengalami gizi buruk tipe marasmus disertai diare
kronis, dan defisiensi vitamin A.
e. Apakah definisi dari diagnosis pada kasus?
Gizi buruk tipe marasmus disertai diare kronis, dan defisiensi vitamin A adalah dimana
seorang anak mengalami gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat dan disertai BAB
yang lebih dari 3x/hari yang berlangsung lebih dari 3 hari, dan kekurangan vitamin A
dimana dalam kasus ditandai dengan mata anak terdapat bercak seperti busa sabun, dan
konjunctiva pucat.
f. Bagaimana epidemiologi dari diagnosis pada kasus?
17

Kurang energi dan Protein (KEP) pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan
masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, sebanyak
13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus gizi buruk. Data yang sama
menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya 6,0% anak sangat kurus dan 17,1% anak
memiliki kategori sangat pendek.
g. Apakah etiologi dari diagnosis pada kasus?
Kasus terjadinya marasmus/gizi buruk disebabkan oleh multifaktorial, diantaranya :
Pemasukan kalori yang tidak cukup
Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang
tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak;
misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.
Kebiasaan makan yang tidak tepat. Seperti mereka yang mempunyai hubungan
orang tua anak terganggu.
Kelainan metabolic
Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose
intolerance, malformasi congenital. Misalnya : penyakit jantung bawaan, penyakit
Hirschprung, deformitas palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosis pilorus,
hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pancreas.

h. Apakah faktor resiko dari diagnosis pada kasus?


Faktor diet : diet kurang protein akan mengakibatkan penderita marasmus
Faktor infeksi : terdapat interaksi sinergis antara infeksi dan malnutrisi. Infeksi berat
dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan dan meningginya
kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh
Faktor sosioekonomi rendah : dengan penghasilan yang rendah , ketidakmampuan
membeli bahan makanan ditambah timbulnya banyak penyakit infeksi karena kepadatan
tempat tinggal dapat mempercepat timbulnya KEP
Faktor pendidikan kurang : adanya pengetahuan tentang pentingnya gizi dikalangan
masyarakat yang pendidikannya relatif rendah
i. Bagaimana patofisiologi dan patogenesis dari diagnosis pada kasus?
Patofisiologi

18

Mekanisme yang menyebabkan timbulnya diare ialah gangguan osmotik, gangguan


sekresi, dan gangguan motilitas usus. Dasar semua diare adalah gangguan transportasi
larutan usus, perpindahan air melalui membran usus berlangsung secara pasif dan hal ini
ditentukan oleh aliran larutan secara aktif maupun pasif, terutama natrium, klorida dan
glukosa. Diare merupakan penyebab utama dari malnutrisi. Setiap episode diare dapat
menyebabkan kehilangan berat badan. Semakin buruk keadaan gizi anak, semakin sering
dan semakin berat diare yang dideritanya. Diare dapat menyebabkan malnutrisi dan
membuat lebih buruk lagi karena pada diare tubuh akan kehilangan nutrien, anak-anak
dengan diare mungkin merasa tidak lapar serta ibu tidak memberi makan pada anak
ketika mengalami diare. Penderita gizi buruk akan mengalami penurunan produksi
antibodi serta terjadinya atropi pada dinding usus yang menyebabkan berkurangnya
sekresi berbagai enzim sehingga memudahkan masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh
terutama penyakit diare.
Saluran cerna berkembang pesat selama masa pranatal. Tetapi perkembangan saluran
cerna belum lengkap pada saat lahir. Perkembangan fungsi saluran cerna akan berlanjut
setelah kelahiran, terutama pada masa laktasi. Oleh karena itu, masa pranatal dan masa
laktasi merupakan masa yang rentan dikarenakan perkembangan saluran cerna yang
belum sempurna. Dalam masa rentan ini, usus sangat mudah mengalami kerusakan.
Seperti pada balita yang mengalami malnutrisi, asupan gizi yang kurang akan
menyebabkan atrofi vilus usus halus. Selain itu, malnutrisi juga dapat menyebabkan
berkurangnya fungsi imunitas pada tubuh dan perubahan struktur mukosa usus. Tiga hal
itu merupakan faktor pencetus terjadinya diare pada balita yang menderita malnutrisi.
Vilus merupakan struktur fungsional usus halus. Tiap-tiap vilus terdiri atas saluran limfe
sentral yang dikelilingi oleh sel-sel epitel. Salah satu jenis epitel vilus berfungsi
mengabsorpsi bahan-bahan nutrisi dan air. Pada keadaan normal, setelah makan dicerna
di dalam lambung, makanan tersebut akan mengalami absorpsi di dalam usus halus.
Hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat, lemak, dan protein akan diabsorpsi oleh
dinding usus ke dalam sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh sel-sel tubuh.
Selain itu, juga diabsorpsi air, elektrolit, dan vitamin. Absorpsi berbagai zat berlangsung
dengan mekanisme transpor aktif dan pasif. Pada kasus diare, vilus usus halus
mengalami atrofi. Atrofi ini akan menyebabkan absorbsi air dan zat-zat lain akan
terganggu. Air dan zat-zat lain yang harusnya diabsorbsi dan diedarkan ke dalam
sirkulasi darah dan pembuluh limfe menjadi tidak terabsorbsi. Oleh karena itu, chyme
yang terbentuk masih mengandung banyak air dan zat-zat lain. Sebenarnya, di dalam
19

usus besar chyme mengalami reabsorbsi air. Tetapi, usus besar hanya dapat mereabsorbsi
air maksimal 6-8 liter per hari. Jika kandungan air dalam chyme melebihi daya
reabsorbsi usus besar, maka feses yang dikeluarkan menjadi encer. Selain menyebabkan
atrofi vilus usus halus, malnutrisi juga menyebabkan berkurangnya fungsi imunitas
tubuh. Jika sistem imun pada tubuh terganggu, maka tubuh akan mudah sekali terkena
infeksi. Salah satu penyebab diare adalah infeksi bakter E. coli. Jika keadaan imun balita
itu normal, maka sistem imun tubuh dapat menangkal bakteri patogen tersebut sehingga
tidak akan terjadi diare. Pada balita yang mengalami malnutrisi, sistem imun tubuh tidak
kuat melawan bakteri tersebut. Oleh karena itu, bakteri itu berkembang dalam usus halus
dan dapat menyebabkan infeksi usus halus. Infeksi ini dapat mengganggu fungsi absorpsi
usus halus sehingga air yang diserap sedikit dan feses menjadi encer.
Faktor penyebab diare yang terakhir yaitu perubahan struktur mukosa usus. Di dalam
mukosa usus halus, terdapat sel goblet yang berfungsi menghasilkan mukus. Mukus ini
untuk melindungi dinding duodenum dari asam lambung. Malnutrisi menyebabkan
kerusakan struktur mukosa usus sehingga produksi mukosa terhambat. Terhambatnya
produksi mukosa usus ini akan meningkatkan kerentanan usus terhadap infeksi. Selain
itu, apabila asam lambung ikut keluar bersama chyme ke duodenum, maka asam
lambung akan mengiritasi usus halus. Usus halus yang teriritasi ini akan mengalami
gangguan absorpsi air dan mengakibatkan feses yang terbentuk menjadi encer.

Infeksi
(virus, bakteri, dll.)

DIARE

Kerusakan mukosa pencernaan/atrofi vili

Enzim laktase (Intoleransi Laktosa Sekunder)

Cairan & elektrolit

Sistem imun

MALNUTRISI

Nutrient (makronutrien & mikronutrien)

20

Patogenesis
Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor.
Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host),
agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan)
memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan. Gopalan menyebutkan
marasmus adalah compensated malnutrition. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh
selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau
energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak
merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan; karbohidrat
(glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya
kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam
sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa
jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan
di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton
bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi
21

kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri
jangan sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.
Pada keadaan ini yang menyolok ialah pertumbuhan yang kurang atau terhenti disertai
atrofi otot dan menghilangnya lemak di bawah kulit. Pada mulanya kelainan demikian
merupakan proses fisiologis. Untuk kelangsungan hidup jaringan, tubuh memerlukan
energi yang dapat dipenuhi oleh makanan yang diberikan, sehingga harus didapat dari
tubuh sendiri, sehingga cadangan protein digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan
energi tersebut.Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak saja membantu
memenuhi kebutuhan energi, akan tetapi juga untuk memungkinkan sintesis glukosa dan
metabolit esensial lainnya seperti asam amino untuk komponen homeostatik. Oleh
karena itu pada marasmus berat, kadang-kadang masih ditemukan asam amino yang
normal, sehingga hati masih dapat membentuk cukup albumin.Proses metabolic anak
pada dasarnya sama, akan tetapi relative lebih aktif dibandingkan dengan orang dewasa.
Anak membutuhkan lebih banyak makanan untuk tiap kilogram berat badannya, karena
sebagian dari makanan tersebut harus disediakan untuk pertumbuhan dan pertukaran
energi yang lebih aktif. Tubuh yang hidup seperti halnya dengan mesin memerlukan
bahan bakar dan bahan untuk pengganti maupun perbaikan. Anak yang sedang tumbuh
memerlukan makanan tambahan untuk pertumbuhan. Keperluan ini dapat dipenuhi
dengan pemberian makanan yang mengandung cukup kalori. Dalam makanan tersebut
harus cukup tersedia protein, karbohidrat, mineral, air, vitamin dan beberapa macam
asam lemak dalam jumlah tertentu.Pada keadaan permulaan biasanya tidak ditemukan
kelainan biokimia, tetapi pada keadaan lanjut akan didapatkan kadar albumin yang
rendah, sedangkan globulin akan meninggi.Bila kebutuhan akan kalori telah dipenuhi
akan tetapi makanan yang diberikan tidak mengandung semua nutrient yang esensial
untuk manusia, maka lambat laun kesehatan orang tersebut akan terganggu. Gejala yang
timbul tergantung kepada kekurangan jenis nutrient dalam dietnya. Defisiensi protein
akan mengakibatkan timbulnya gejala defisiensi protein atau lebih dikenal dengan nama
Kwashiorkor. Defisiensi vitamin A yang berlangsung lama menimbulkan penyakit
defisiensi vitamin A atau Xeropthalmia. Defisiensi vitamin D mengakibatkan penyakit
yang disebut Rikets dan sebagainya.
Seorang anak bisa menjadi gizi buruk bisa berada dalam 3 tahap :
1. Status Gizi Normal
Ibu tidak mengetahui makanan yang tepat untuk diberikan pada balita
Anak balita terpajan dengan iklan panganan ringan yang tidak bergizi.
22

Asupan buat anak tidak diistimewakan sebagaimana yang dipersiapkan untuk ayah
atau ibunya.
Tidak rutin datang ke Posyandu.
Pada saat seperti ini anak masih berada dalam keadaan status gizi normal, namun
berpotensi mendapatkan gangguan gizi. Pada usia < 6 bulan sebagian besar bayi (>
80%) masih disusui ibu. Dengan menetek, anak mendapatkan gizi yg seimbang &
zat kebal dari asi anak jarang sakit pertumbuhan anak masih baik.
2. Status Gizi Kurang / Menurun (Fase Gangguan Gizi)
Pada saat ini balita mengalami gangguan gizi, ini terjadi karena tidak terpantaunya
berat badan anak. Pada usia 6 bln 12 bln sebagian bayi sudah mulai disapih
perlindungan zat kebal dari asi mulai berkurang & pemberian mp-asi kurang
memenuhi syarat : jenis, jumlah, jadwal, higienis (3j-1h). Anak mudah jatuh sakit
dan pertumbuhan mulai terganggu.
3.Status Gizi Buruk
Pada saat ini status anak makin memburuk dan sudah menampakkan gejala-gejala
penyakit. Anak sudah terlihat kurus sampai dengan sangat kurus. Pada saat ini anak
rentan terhadap hawa dingin, khususnya pada bayi bisa berakibat kematian. Anak
juga mengalami kekurangan energi (glukosa darah menurun) dan kekurangan
protein. Pada beberapa kasus yang severe tidak hanya pembentukan otot yang
gagal bahkan sampai dengan pembentukan otak bisa tidak terjadi (microcephali).
Kematian bisa terjadi di tahap ini, bisa karena berbagai sebab
j. Apakah gejala klinis dari diagnosis pada kasus?

Tampak sangat kurus, hingga seperti tulang terbungkus kulit


Wajah seperti orang tua
Cengeng, rewel
Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pants)
Perut umumnya cekung
Tulang rusak menonjol (iga gambang, piano sign)
Sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang)
Diare persisten

k. Bagaimana penatalaksanaan dari diagnosis pada kasus?


1. Pengobatan atau pencegahan hipoglikemia

23

Pada hipoglikemia, anak terlihat lemah, suhu tubuh rendah. Jika anak sadar dan dapat
menerima makanan usahakan memberikan makanan sering/cair 23 jam sekali. Jika
anak tidak dapat makan (tetapi masih dapat minum) berikan air gula dengan sendok.
2. Pengobatan dan pencegahan hipotermia
Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah < 36o Celcius. Pada keadaan ini
anak harus dihangatkan dgn cara ibu atau orang dewasa lain mendekap anak di
dadanya lalu ditutupi selimut atau dengan membungkus anak dengan selimut tebal
dan meletakkan lampu di dekatnya. Selama masa penghangatan dilakukan
pengukuran suhu anak pada dubur setiap 30 menit sekali. Jika suhu anak sudah
normal dan stabil tetap dibungkus dengan selimut/pakaian rangkap agar tidak jatuh
kembali pada keadaan hipotermia.
3. Pengobatan dan pencegahan kekurangan cairan
Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak KEP berat dengan dehidrasi adalah ada
riwayat diare sebelumnya, anak sangat kehausan, mata cekung, nadi lemah, tangan
dan kaki teraba dingin, anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama.
Tindakan yang dapat dilakukan:
a. Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap 1/2jam sekali tanpa
berhenti. Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan rehidrasi oral dengan
memberi minum anak 50 ml (3 sendok makan) setiap 30 menit dengan sendok.
Cairan rehidrasi oral khusus KEP disebut ReSoMal.
b. Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP berat dapat menggunakan oralit
yang diencerkan 2x. Jika anak tidak dapat minum, lakukan rehidrasi intravena
(infus) RL/Glukosa 5% dan NaCl dgn perbandingan 1:1.
4. Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit
Pada semua KEP Berat/gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan elektrolit
diantaranya:

a. Kelebihan natrium (Na) tubuh, walaupun kadar Na plasma rendah.


c. Defisiensi Kalium (K) dan Magnesium (Mg).
Ketidakmampuan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan untuk pemulihan
keseimbangan elektrolit diperlukan waktu minimal 2 minggu. Berikan makanan
tanpa diberi garam/rendah garam, untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter
yang diencerkan 2x (dengan pe+an 1 liter air) ditambah 4 gr kecil dan 50 gr gula
atau bila balita KEP bisa makan berikan bahan makanan yang banyak
mengandung mineral bentuk makanan lumat

24

5. Lakukan pengobatan dan pencegahan infeksi


Pada KEP berat tanda yang umumnya menunjukkan adanya infeksi seperti demam
seringkali tidak tampak. Pada semua KEP berat secara rutin diberikan antibiotik
spektrum luar.
6. Pemberian makanan, balita KEP berat
Pemberian diet KEP berat dibagi 3 fase:
a. Fase Stabilisasi (12 hari)
Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati, karena keadaan
faali anak yang sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang, Pemberian
makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang sedemikian
rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisme basal saja,
Formula khusus seperti formula WHO 75/modifikasi/modisko yang dilanjutkan
dan jadual pemberian makanan harus disusun agar dapat mencapai prinsip tersebut
dengan persyaratan diet sbb: porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa,
energi 100 kkal/kg/hari, protein 11,5 gr/kgbb/hari, cairan 130 ml/kg BB/hari
(jika ada edema berat 100 ml/kg bb/hari),bila anak mendapat ASI teruskan,
dianjurkan memberi formula WHO 75/pengganti/modisco dengan gelas, bila
anak terlalu lemah berikan dengan sendok/pipet, Pemberian formula WHO
75/pengganti/modisco atau pengganti dan jadual pemberian makanan harus
sesuai dengan kebutuhan anak.
7. Perhatikan masa tumbuh kejar balita
Fase ini meliputi 2 fase: transisi dan rehabilitasi :
a. Fase Transisi (minggu II)
1) Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara perlahan untuk
menghindari resiko gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi
makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.
2) Ganti formula khusus awal (energi 75 kal dan protein 0.9 1.0 gr/100 ml)
dengan formula khusus lanjutan (energi 100 kkal dan protein 2.9 gr/100 ml)
dalam jangka waktu 48 jam . Modifikasi bubur/mknn keluarga dapat
digunakan asal kandungan energi dan protein sama

25

3) Naikkan dengan 10 ml setiap kali sampai hanya sedikit formula tersisa,


biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kg bb/kali pemberian (200 ml/kg
bb/hari).
b. Fase Rehabilitasi (Minggu IIIVII)
1) Formula WHO-F 135/pengganti/modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan
sering.
2) Energi : 150220 kkal/kg bb/hari.
3) Protein : 46 gr/kgbb/hari.
4) Bila anak masih mendapat ASI, teruskan ASI, ditambah dengan makanan
formula karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh kejar.
5) Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga.
8. Lakukan penanggulangan kekurangan zat gizi mikro
Semua pasien KEP berat mengalami kurang vitamin dan mineral, walaupun anemia
biasa terjadi, jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi (Fe). Tunggu sampai anak
mau makan dan BB nya mulai naik (pada minggu II). Pemberian Fe pada masa
stabilisasi dapat memperburuk keadaan infeksinya .
Berikan setiap hari :
- Tambahan multivitamin lain
- Bila BB mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi folat/sirup besi
- Bila anak diduga menderita cacingan berikan pirantel pamoat dosis tunggal.
- Vitamin A oral 1 kali.
- Dosis tambahan disesuaikan dgn baku pedoman pemberian kapsul vitamin A
9. Berikan stimulasi dan dukungan emosional
Pada KEP berat terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku, karenanya
diberikan : kasih sayang, ciptakan lingkungan menyenangkan,.lakukan terapi bermain
terstruktur 15-330 menit/har, rencanakan aktifitas fisik setelah sembuh, tingkatkan
keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain)
10. Persiapan untuk tindak lanjut di rumah
Bila BB anak sudah berada di garis warna kuning anak dapat dirawat di rumah dan
dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas/bidan di desa
Fase tindak lanjut:
26

Setelah anak pulang dari rawat inap:


Teruskan pemberian makanan tumbuh kejar
Kontrol teratur:
o Setiap minggu pada bulan pertama
o Setiap 2 minggu pada bulan kedua
o Selanjutnya setiap bulan
Lanjutkan/lengkapi imunisasi dan vitamin A
Lanjutkan pengobatan penyakit penyerta
Ibu diberi konseling gizi
Berlangsung sampai 4 - 5 bulan
l. Bagaimana cara pencegahan dari diagnosis pada kasus?
a. Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu,
anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang
sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
b. Anak diberi makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak,
vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya untuk lemak minimal 10% dari
total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
c. Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program posyandu.
Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai,
segera konsultasikan hal itu ke dokter.
d. Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada
petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.
e. Jika anak menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi
dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa
diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan
energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan
dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi
bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun,
biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan
muncul masalah intelegensia di kemudian hari.
m. Apakah komplikasi dari diagnosis pada kasus?
Komplikasi apabila kasus ini tidak ditangani dengan baik di antaranya adalah:

Dehidrasi: ringan, sedang, dan berat.


27

Hipokalemia yaitu kadar kalium dalam darah rendah dengan gejala meteorismus
(kembung perut karena pengumpulan gas secara berlebihan dalam lambung dan
usus), hipotonik otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektrokardiogram.

Kejang terutama pada hidrasi hipotonik.

Hemarolopia atau kotok ayam (rabun senja).

Frinoderma, pembentukan epitelium kulit tangan dan kaki terganggu, sehingga kulit
tangan dan kaki bersisik.

Gizi buruk yang tidak ditatalaksa dengan baik juga akan berdampak buruk terhadap
pertumbuhan dan perkembangan bahkan sampai dapat menyababkan kesadaran anak
menjadi menurun.

n. Bagaimana prognosis dari diagnosis pada kasus?


Qua ad Vitam

: dubia ad bonam

Qua ad Functionam

: dubia ad bonam

o. Bagaimana SKDI dari diagnosis pada kasus beserta aplikasinya?


3B. Dokter umum harus mampu membuat dignosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik
dan pemeriksn tambahan,memberikan terapi pendahuluan serta merujuk ke spesialis
yang relevan (bukan gawat darurat).

II.5 LEARNING ISSUE


II.5.1 Gizi buruk
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau nutrisinya di
bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena
kekurangan protein (disebut

kwashiorkor), karena kekurangan karbohidrat atau kalori

(disebut marasmus), dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak
balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar). Gizi
buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan zat gizi, atau dengan
ungkapan lain status gizinya berada di bawah standar rata-rata. Zat gizi yang dimaksud bisa
berupa protein, karbohidrat dan kalori. Gizi buruk severe malnutrition) adalah suatu istilah
teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk

28

adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun (Nency, 2005). Anak
balita (bawah lima tahun) sehat atau kurang gizi dapat diketahui dari pertambahan berat
badannya tiap bulan sampai usia minimal 2 tahun (baduta). Apabila pertambahan berat badan
sesuai dengan pertambahan umur menurut suatu standar organisasi kesehatan dunia, dia
bergizi baik. Kalau sedikit dibawah standar disebut bergizi kurang yang bersifat kronis.
Apabila jauh dibawah standar dikatakan bergizi buruk. Jadi istilah gizi buruk adalah salah
satu bentuk kekurangan gizi tingkat berat atau akut (Pardede, J, 2006).
Klasifikasi Gizi Buruk
Terdapat 3 tipe gizi buruk adalah marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor.
Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciri-ciri atau tanda klinis dari masing-masing tipe
yang berbeda-beda.
Marasmus
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul
diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit
(kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit,
gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering
rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Berikut
adalah gejala pada marasmus adalah (Depkes RI, 2000) :
a. Anak tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak dan ototototnya, tinggal tulang terbungkus kulit
b. Wajah seperti orang tua
c. Iga gambang dan perut cekung
d. Otot paha mengendor (baggy pant)
e. Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa lapar
Patofisiologi gizi buruk
Patofisiologi gizi buruk pada balita adalah anak sulit makan atau anorexiabisa terjadi karena
penyakit akibat defisiensi gizi, psikologik seperti suasana makan, pengaturan makanan dan
lingkungan. Rambut mudah rontok dikarenakan kekurangan protein, vitamin A, vitamin C
dan vitamin E. Karena keempat elemen ini merupakan nutrisi yang penting bagi rambut.
Pasien juga mengalami rabun senja. Rabun senja terjadi karena defisiensi vitamin A dan
protein. Pada retina ada sel batang dan sel kerucut. Sel batang lebih hanya bisa membedakan
cahaya terang dan gelap. Sel Secara garis besar, dalam kondisi akut, gizi buruk bisa
mengancam jiwa karena berberbagai disfungsi yang di alami, ancaman yang timbul antara
lain hipotermi (mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya tipis, hipoglikemia (kadar gula
dalam darah yang dibawah kadar normal) dan kekurangan elektrolit dan cairan
29

tubuh. Jika fase akut tertangani dan namun tidak di follow up dengan baik akibatnya anak
tidak dapat catch up dan mengejar ketinggalannya maka dalam jangka panjang kondisi ini
berdampak buruk terhadap pertumbuhan maupun perkembangannya.
Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan sangat merugikan performance anak, akibat kondisi
stunting (postur tubuh kecil pendek) yang diakibatkannya dan perkembangan anak pun
terganggu. Efek malnutrisi terhadap perkembangan mental dan otak tergantung dangan
derajat beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Dampak terhadap
pertumbuhan otak ini menjadi patal karena otak adalah salah satu aset yang vital bagi anak.
Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan
anak adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan
yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ, penurunan
perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian,
gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi anak (Nency, 2005).
Faktor Penyebab Gizi Buruk
Ada 2 faktor penyebab dari gizi buruk adalah
sebagai berikut :
1. Penyebab Langsung. Kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi,
menderita penyakit infeksi, cacat bawaan dan menderita penyakit kanker. Anak yang
mendapat makanan cukup baik tetapi sering diserang atau demam akhirnya menderita
kurang gizi.
2. Penyebab tidak langsung, ketersediaan Pangan rumah tangga, perilaku, pelayanan
kesehatan. Sedangkan faktor-faktor lain selain faktor kesehatan, tetapi juga
merupakan masalah utama gizi buruk adalah kemiskinan, pendidikan rendah,
ketersediaan pangan dan kesempatan kerja. Oleh karena itu untuk mengatasi gizi
buruk dibutuhkan kerjasama lintas sektor Ketahanan pangan adalah kemampuan
keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam
jumlah yang cukup baik maupun gizinya (Dinkes SU, 2006). Secara garis besar gizi
buruk disebabkan oleh karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit,
atau terkena infeksi. Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain tidak tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup salah
mendapat makanan bergizi seimbang, dan pola makan yang salah. Kaitan infeksi dan
kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya
saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan
kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada
sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi (Nency, 2005).
30

Kekurangan gizi merupakan suatu keadaan dimana terjadi kekurangan zat-zat gizi
ensensial, yang bisa disebabkan oleh: asupan yang kurang karena makanan yang jelek
atau penyerapan yang buruk dari usus (malabsorbsi), penggunaan berlebihan dari zatzat gizi oleh tubuh, dan kehilangan zat-zat gizi yang abnormal melalui diare,
pendarahan, gagal ginjal atau keringat yang berlebihan. (Nurcahyo, 2008).
Tata Laksana Utama Balita
Dalam proses pengobatan KEP berat terdapat 3 fase, adalah fase stabilisasi, fase transisi dan
fase rehabilitasi. Petugas kesehatan harus trampil memilih langkah mana yang cocok untuk
setiap fase. Tatalaksana ini digunakan baik pada penderita kwashiorkor, marasmus maupun
marasmik-kwarshiorkor.
Fase Stabilisasi:
Fase awal tindakan segera untk menstabilkan kondisi klinis anak.
- atasi kedaruratan medis
- pemberian formula khusus (F75): energi : 80-100 kkal/kgBB/hari protein: 1-1,5
g/kgBB/hari
cairan : 130 ml/kgBB/hari (tanpa edema) 100 ml/kgBB/hari (dgn edema)
Hati-hati kelebihan cairan/overload gagal jantung.
Umumnya berlangsung 1 2 hari
Fase Transisi:
- Masa peralihan dari stabilisasi ke rehabilitasi.
- Memberi kesempatan tubuh beradaptasi terhadap pemberian energi dan protein yang
lebih tinggi bertahap :
energi : 100-150 kkal/kgBB/hari protein: 2-3 g/kgBB/hari
cairan sesuai kebutuhan F 75 F100
Hati-hati kelebihan cairan/overloal gagal jantung.
Umumnya berlangsung 5 -7 hari
Fase Rehabilitasi:
Fase tumbuh kejar: mengembalikan jaringan tubuh yang hilang
Energi dan protein ditingkatkan sesuai kemampuan
energi : 150-220 kkal/kgBB/hari protein: 4-6 g/kgBB/hari
cairan sesuai kebutuhan F100, bertahap ditambah makanan
Evaluasi kenaikan berat badan: minimal 5 g/kgBB/hari atau 50 g/kgBB/minggu
Berlangsung 2-4 minggu
II.5.2.Defisiensi Vitamin A
Vitamin A berfungsi dalam menyintesis pigmen sel-sel retina yang fotosensitif, dan
diferensiasi normal struktur epitel penghasil lendir. Selain itu, vitamin A sangat penting dalam
fungsi penglihatan, integritas sel, kompetensi sitem kekebalan, serta pertumbuhan.

31

Kekurangan vitamin A dapat mempengaruhi dan mengganggu sel dan jaringan di seluruh
tubuh. Pengaruh terbesar dan paling khas terjadi pada mata. Kekurangan yang parah
menyebabkan rabun senja, serosis dan keratinisasi konjungtiva dan kornea yang pada
akhirnya menimbulkan ulkus serta nekrosis kornea. Kebutaan yang disebabkan malnutrisi
merupakan akibat defisiensi vitamin A yang berkepanjangan. Dari hasil penelitian,
didapatkan bahwa anak yang kekurangan vitamin A lebih sering terkena infeksi.
Kekurangan vitamin A kerap berlangsung di daerah yang serba kekurangan, baik yang
bersifat sosial, ekonomi, maupun ekologis. Kasus defisiensi ini cenderung terjadi secara
berkelompok, bersifat musiman dan mencapai puncaknya pada masa kesulitan pangan,
sesudah epidemi penyakit campak dan diare, atau setelah terjadi penyakit infeksi. Diare,
infeksi cacing dan gangguan lain pada saluran pencernaan mengganggu penyerapan vitamin
A, sementara campak dan iinfeksi saluran nafas, dan demam meningkatkan metabolisme
tubuh, serta tidak jarnag merusak nafsu makan.
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi status vitamin A seseorang adalah kecukupan
asupan vitamin A dan pro vitamin A. Asupan yang dianjurkan minimal 180-450 g retinol
dan kesetaraan retinol (RE) dalam sehari bergantung pada usia, jenis kelamin serta keadaan
fisiologis. Sumber vitamin A bagi masyarakat berasal dari buah dan sayuran berwarna kuning
dan hijau yang mengandung karotenoid. Karena bahan pangan tersebut bersifat musiman,
maka seseornag harus mengkonsumsi buah dan sayuran sebanyak beberapa kali dari jumlah
yang dianjurkan.
Diagnosis
Defisiensi vitamin A merusak sel dan organ tubuh dan menyebabkan mtaplasi keratinisasi
pada epitel saluran pernapasan, saluran kemih dan saluran pencernaan. Perubahan pada ketiga
salurna ini relatif lebih awal terjadi dibandingkan

yang terdeteksi pada mata. Namun,

diagnosis klinis yang spesfik didasarkan pada pemeriksaan mata.


Klasifikasi Xerolftalmia
Rabun senja merupakan perwujudan dini dari defisiensi vitamin A. Dalam keseharian jika
seseorang agak lama berada di bawah terik matahari, kemudian secepatnya masuk ke ruangan
yang agak temaram, ia akan seolah-olah melihat layang-layang beterbangan di siang hari,
layangan berwarna gelap berlatar belakang langit tengah hari.

32

Klasifikasi Xerolftalmia
Klasifikasi
XN

Keterangan
Rabun senja

Prognosis
Kondisi
ini
reversibel
merespon

dan

bersifat
biasanya
berbagai

pengobatan dengan vitamin


A
X1A
X1B

Serosis konjungtiva
Bintik bitot: konjungtiva
kering

&

tampak

kasar,

sering pula didapati butiran


seperti busa pada sudut luar
X2

dekat iris mata.


Serosis
kornea,

dengan

gambaran khas seperti kornea


kering seperti kabut (atau
X3A, X3B

susu)
Keratomalasea/ulserasi
kornea:

perlunakan

Stadium ini tidak reversibel


dan hingga

menimbulkan

ulserasi kornea merupakan gejala sisa.


stadium xerolftalmia terparah
yang tidak jarang berlanjut
sebagai

perforasi

Akibatnya

isi

tumpah,

dan

kebutaan.

Ulserasi

perforasi

kornea.

bola

bahkan

mata

lahirlah
dan
dapat

timbul dengan cepat (dalam


hitungan jam), terutama anak
kecil yang tengah menderita
campak, serta penyakit akut
XS
XF

lain.
Parut kornea
Xerolftalmia fundus

33

Kelompok umur yang terutama mudah mengalami kekurangan vitamin A adalah kelompok
bayi usia 6-11 bulan dan kelompok anak balita usia 12-59 bulan (1-5 tahun). Sedangkan yang
lebih beresiko menderita kekurangan vitamin A adalah bayi berat lahir rendah kurang dari 2,5
kg, anak yang tidak mendapat ASI eksklusif dan tidak diberi ASI sampai usia 2 tahun, anak
yang tidak mendapat makanan pendamping ASI yang cukup, baik mutu maupun jumlahnya,
anak kurang gizi atau di bawah garis merah pada KMS, anak yang menderita penyakit infeksi
(campak, diare, TBC, pneumonia) dan kecacingan, anak dari keluarga miskin, anak yang
tinggal di daerah dengan sumber vitamin A yang kurang, anak yang tidak pernah mendapat
kapsul vitamin A dan imunisasi di Posyandu maupun Puskesmas, serta anak yang kurang
makan makanan sumber vitamin A.
Pengobatan
Untuk mengobati anak dengan gejala buta senja (XN) hingga xerosis kornea (X2), dimana
penglihatan masih dapat disembuhkan, diberikan kapsul vitamin A

pada hari pertama

pengobatan sebanyak (50.000 SI) kapsul biru untuk bayi berusia kurang atau sama dengan
5 bulan, 1 kapsul biru (100.000 SI) untuk bayi berusia 6 sampai 11 bulan atau 1 kapsul
merah (200.000 SI) untuk anak 12-59 bulan. Pada hari kedua diberikan 1 kapsul vitamin A
sesuai umur dan dua minggu kemudian diberi lagi 1 kapsul vitamin A juga sesuai umur.
Pada kasus kerusakan kornea akibat xerolftalmia, vitamin A harus segera diberikan sesuai
dosis. Untuk mengobati atau mengurangi risiko infeksi mata sekunder (akibat bakteri atau
virus) yang dapat memperburuk kerusakan kornea, sebaiknya diberikan antibiotik salep mata
yang mengandung tetrasiklin atau kloramfenikol (jangan menggunakan mata yang
menggunakan steroid). Untuk mencegah trauma (kornea rusak akibat xerosis dan ulserasi),
mata sebaiknya ditutup dengan bahan yang tidak bersifat iritatif, dan pergerakan lengan anak
dibatasi, misalnya dengan mengikat tangan anak ke tempat tidur.
Tabel Jadwal Pengobatan Xerolftalmia
Waktu Pemberian
Segera setelah diagnosis

Dosis Oral

< 6 bulan

50.000 IU peroral (27,5 mg retinil palmitat)

6-12 bulan

100.000 IU peroral (55 mg retinil palmitat)

200.000 IU peroral (110 mg retinil palmitat)


> 6 bulan
Hari berikutnya
Dosis menurut usia
Dalam 1-4 minggu (setiap 2-4 Dosis menurut usia
minggu)
34

Jadwal pada tabel di atas tidak ditujukan untuk wanita usia reproduksi. Jika muntah dan diare
berta terus berlangsung, obat diganti dengan suntikan vitamin A yang larut dalam air 100.000
IU. Jika digunakan preparat oral, sebaiknya digunakan preparat yang dicampur minyak (oil
based preparation). Jadwal pada tabel ini berlaku untuk segala usia, kecuali ibu hamil. Anak
yang berusia kurang dari 1 tahun dan berat badanya kurang dari 8 kg diobati dengan setengah
dosis. Wanita usia reproduksi yang menderita rabun senja atau bintik bitot harus diberi dosis
harian 10.000 IU atau sekitar 25.000 IU perminggu.
Cara lain, suntikan intramuskular, dapat dilakukan jika anak tidak dapat menelan, misalnya
akibat mederita stomatitis, muntah berkepanjangan, ataupun gangguan penyerapan. Pada
keadaan ini disuntikkan 55 mg (100.000 IU) retinil palmitat yang terlarut dalam air (jangan
menggunakan yang larut dalam lemak karena sulit diserap dari lokasi yang disuntik) sebagai
pengganti dosis oral pertama. Untuk bayi yang berumur 6-12 bulan, dosis dikurangi separuh.
Sementara bayi yang berusia kurang dari 6 bulan disuntikkan seperempat dosis.
Wanita usia subur, baik hamil amupun ridak jika menderit arabun senja atau bintik bitot,
dapat mengkonsumsi tablet vitamin A sebanyak 5.000-10.000 IU (satu tablet bersalut gula)
sehari selama paling sedikit 4 minggu. Dosis maksimal tidak boleh melebihi 10.000 IU.
Namun, jika jumlah yang dimakan dalam 1 minggu kurang dari 25.000 IU, perlu dilakukan
koreksi.
Jika terjadi lesi kornea akut (tanda xerolftalmia akut yang parah) pada wanita baik hamil
maupun tidak, harus dipikirkan kemungkinan efek teratogenik dan risiko lain pengobatan
pada janin. Pada kasus ini, diberikan pengobatan sesuai dengan tabel jadwal pengobatan
xeroltalmia bukan untuk wanita usia reproduksi.
Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya kekurangan vitamin A di Posyandu atau Puskesmas pada setiap
bulan Februari dan Agustus seluruh bayi usia 6-11 bulan, harus mendapat 1 kapsul vitamin A
biru dan seluruh anak balita usia 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A warna merah.
Sedangkan untuk ibu nifas sampai 30 hari setelah melahirkan mendapat 1 kapsul vitamin A
warna merah.
II.5.3.Diare Kronik
Definisi diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan kosistensi lebih lunak atau lebih
cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Dalam referensi lain
disebutkan bahwa definisi diare untuk bayi dan anak-anak adalah pengeluaran tinja lebih dari
35

10 g/kgBB/24 jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal pada bayi sebesar 5-10
g/kgB/24 jam. Diare umumnya dibagi menjadi diare akut dan diare yang berkepanjangan
(kronis dan/atau persisten). Diare kronis dan diare persisten sering kali dianggap suatu
kondisi yang sama. Ghishan menyebutkan diare kronis sebagai suatu episode diare lebih dari
2 minggu, sedangkan kondisi serupa yang disertai berat badan menurun atau sukar naik oleh
Walker-Smith et al, didefinisikan sebagai diare persisten. Di lain pihak, dasar etiologi diare
kronis yang berbeda diungkapkan oleh Bhutta dan oleh The American Gastroenterological
Association. Definisi diare kronis menurut Bhutta adalah episode diare lebih dari dua minggu,
sebagian besar disebabkan diare akut bekepanjangan akibat infeksi, sedangkan definisi
menurut The American Gastroenterological Association adalah episode diare yang
berlangsung lebih dari 4 minggu, oleh etiologi non-infeksi serta memerlukan pemeriksaan
labih lanjut. Bervariasinya definisi ini pada dasarnya disebabkan perbedaan kejadian diare
kronis dan persisten di negara berkembang dan negara maju, dimana infeksi merupakan latar
belakang tertinggi di negara berkembang, sedangkan penyebab non-infeksi lebih banyak
didapatkan di negara maju.
Menurut WHO, diare yang berlangsung >14 hari dibagi menjadi diare kronik dan diare
persisten. Disebut diare kronik bila diare berlangsung >14 hari namun tidak disebabkan oleh
infeksi; sedangkan diare persisten adalah bila diare berlangsung >14hari dan disebabkan oleh
infeksi. Dalam beberapa literatur juga disebutkan istilah-istilah lain yang termasuk diare
kronik antara lain protracted diarrhea, diare intraktabel, prolonged diarrhea, dan chronic non
spesific diarrhea. Protracted diarrhea adalah diare yang berlangsung >14 hari dengan tinja
cair dan frekuensi 4 kali per hari. Diare intraktabel adalah diare yang timbul berulang kali
dalam waktu singkat misalnya 1-3bulan. Prolonged diarrhea adalah diare yang berlangsung
>7 hari. Chronic nonspesific diarrhea adalah diare yang berlangsung >3 minggu tetapi tidak
disertai gangguan pertumbuhan dan tidak disertai tanda-tanda infeksi maupun malabsorpsi.
EPIDEMIOLOGI
Diare persisten/kronis mencangkup 3-20% dari seluruh episode diare pada balita. Insiden
diare persisten di beberapa negara berkembang berkisar antara 7-15% setiap tahun dan
menyebabkan kematian sebesar 36-54% dari keseluruhan kematian akibat diare. Hal ini
menunjukan bahwa diare persisten dan kronis menjadi suatu masalah kesehatan yang
mempengaruhi tingkat kematian anak di dunia. Meskipun penelitian epidemiologis mengenai
diare persisten masih terbatas, sebuah studi komunitas di Bangladesh menunjukan bahwa
secara keseluruhan angka kejadian diare persisten masih belum menurun secara bermakna

36

dalam rentang tahun 1980-1992. Di Indonesia, prevalensi diare persisten/kronis sebesar 0,1%
dengan angka kejadian tertinggi pada anak-anak berusia 6-11 bulan.
ETIOLOGI
Sesuai dengan definisi yang digunakan, terdapat perbedaan etiologi antara diare persisten dan
diare kronis. Diare berkepanjangan dapat disebabkan berbagai macam kondisi. Di negara
maju sebagian besar membahas penyebab non infeksi, umumya meliputi intoleransi protein
susu sapi atau kedelai (pada anak usia < 6 bulan, tinja sering disertai darah); celiac disease
(gluten-sensitive enteropathy), dan cystic fribrosis. Namun, perhatian global seringkali tertuju
pada diare berkepanjangan yang bermula dari diare akut akibat infeksi saluran cerna. Diare
jenis ini banyak terjadi di negara-negara berkembang. Table di bawah menunjukan
enteropatogen penyebab diare di Surabaya dari tahun 1984 hingga 1993, berdasarkan durasi
diare.
Etiologi

Diare Akut

Diare bekepanjangan

Diare kronis

Rotavirus
V. Cholera
Salmonella sp.
E. Coli
Campylobacter j.
Entamoeba histolytica
Staphylococcus aureus
Shigella
Pseudomonas
Salmonella typhi
Morganella morgagni
Klebsiella
Enterobacter
Aeromonas
Klebsiella oxytocia
Infeksi campuran

(< 7 hari)
166
78
86
102
16
7
4
5
54

(7-15 hari)
n.d
2
81
14
2
16
11
1
1
1
n.d
13

(> 15 hari)
n.d
21 (11,9%)
16 (9%)
12 (6,8%)
7 (4%)
3 (1,7%)
3 (1,7%)
1 (0,5%)
1 (0,5%)
n.d
12 (6,8%)
76 (100%)

Diare kronik dapat disebabkan oleh berbagai faktor, namun sering tidak ditemukan penyebab
spesifiknya. Diare kronik pada masa bayi dapat disebabkan oleh sindrom malabsorpsi pasca
gastroenteritis, intoleransi susu sapi/protein kedelai, defisiensi disakaridase sekunder, atau
fibrosis kistik. Pada masa kanak-kanak, etiologi diare kronik antara lain diare kronik non
spesifik, defisiensi disakaridase sekunder, giardiasis, sindrom malabsorpsi gastroenteritis,
penyakit celiac (gluten-sensitive enteropathy), atau fibrosis kistik. Pada masa adolesen,

37

etiologi diare kronik antara lain irritable bowel syndrome, inflammatory bowel disease,
giardiasis, ataupun intoleransi laktosa.
Sindrom malabsorpsi pasca gastroenteritis adalah gangguan penyerapan makanan akibat
episode gastroenteritis yang panjang dan menurunnya asupan energi. Inflammatory bowel
disease seperti kolitis ulseratif, penyakit Chron, dan colitis mikroskopik dapat menyebabkan
perubahan integritas mukosa usus sehingga terjadi penurunan absorpsi air dan elektrolit
melalui saluran cerna. Diare pada irritable bowel syndrome ditandai dengan adanya
konstipasi, nyeri abdomen, passase mucus dan rasa tidak sempurna dalam defeksi. Pada
beberapa pasien dijumpai konstipasi dengan kejang perut yang berkurang dengan diare,
kemungkinan disebabkan kelainan motilitas intestinal. Diare terjadi akibat pengaruh fekal
atau obstruksi tumor dengan melimpahnya cairan kolon diantara feses atau obstruksi.
Diare kronik non spesifik merupakan penyebab paling sering pada anak yang sedang tumbuh.
Usia rata-rata penderita 6-20 bulan. Diare terjadi 3-6 kali per hari (tidak pada saat tidur)
berupa diare berlendir. Diare makin parah bila diet rendah karbohidrat/lemak dan selama stres
dan infeksi. Diare tersebut biasanya sembuh sendiri pada saat anak mencapai usia 3,5 tahun
(biasanya bersamaan dengan toilet training). Tidak ada penyebab organik ditemukan.
Kemungkinan penyebabnya adalah kelainan absorpsi asam empedu di ileum terminal,
absopsi karbohidrat inkomplit, dan kelainan fungsi motorik. Sering ditemukan adanya
riwayat keluarga atau penyakit usus fungsional. Pada pemeriksaan feses tidak ditemukan
darah, leukosit, lemak, parasit,dan bakteri patogen.
Penyakit celiac (gluten-sensitive enteropathy) adalah penyakit malabsorpsi herediter yang
disebabkan oleh ketidakmampuan mentoleransi gluten secara permanen. Gliadin (suatu
protein tertentu) menyebabkan atrofi berat mukosa usus halus. Insidensi penyakit ini tinggi di
negara Irlandia.
PATOGENESIS
Pathogenesis diare kronis melibatkan berbagai faktor yang sangat kompleks. Pertemuan
Commonwealth Association of Pediatric Gastrointestinal and Nutrition (CAPGAN)
menghasilkan suatu konsep patogenesis diare kronis yang menjelaskan bahwa paparan
berbagai faktor predisposisi, baik infeksi maupun non-infeksi akan menyebabkan rangkaian
proses yang pada akhirnya memicu kerusakan mukosa usus dan mengakibatkan diare kronis.
Seringkali diare kronis dan diare persisten tidak dapat dipisahkan, sehingga beberapa
referensi hanya mengunakan salah satu istilah untuk menerangkan kedua jenis diare tersebut.
Meskipun sebenarnya definisi diare persisten dan diare kronis berbeda, namun kedua jenis
diare tersebut lebih sering dianggap sebagai diare oleh karena infeksi.
38

Interkuren infeksi

Alergi makanan

Penurunan
status imun

Faktor predisposisi
utama:
Kemiskinan
Penyapihan dini
Terapi puasa

Kerusakan
mukosa

Malnutrisi

Insufisiensi
pankreas

Malabsorbsi asam
empedu

Diare kronis

Kolonisasi kuman
di usus halus

Gambar 1. Konsep Patogenesis Diare Persisten dan Kronis. Sumber : Sulivan


Diare Infeksius
Malnutrisi sejak awal

Pengobatan diare yang tidak optimal


dan terlambat

Defisiensi imun
Infeksi diare yang berulang
Malnutrisi mikronutrien
(mis. Zinc dan vit A)
Diare berkepanjangan

Diare persisten dan enteropati

Gambar 2. Alur perjalanan diare akut menjadi diare persisten. Sumber: Bhutta

DIAGNOSIS
Evaluasi pada pasien dengan diare kronis/persisten meliputi:
A. Anamnesa
Anamnesis harus dapat menggali secara jelas perjalanan penyakit diare, antra lain berapa
lama diare sudah berlangsung dan frekuensi berak. Selain itu anamnesis juga bertujuan
untuk mengetahui faktor-faktor risiko penyebab diare, antara lain riwayat pemberian

39

makanan atau susu, ada tidaknya darah dalam tinja anak, riwayat pemberian obat dan
adanya penyakit sistemik.
Anamnesis pada diare kronik sangat penting bukan saja untuk mengetahui lamanya diare
tetapi juga untuk mengungkap etiologi diare kronik, derajat beratnya malabsorpsi,
menemukan penyakit yang mendasari terjadinya diare kronik, menentukan derajat
malnutrisi, dan failure to thrive. Status nutrisi penderita harusdiidentifikasi melalui
anamnesis makanan dalam tiga hari terakhir. Hal-hal yang perlu ditanyakan antara lain
onset

dan

durasi

diare;

gambaran

feses

dan

faktor-faktor

yang

memperberat/memperingan; kualitas feses (warna, bau, konsistensi,volume, adanya


darah/lendir/makanan yang tidak dicerna); adanya demam atau gejala-gejala lain yang
berhubungan; riwayat gastroenteritis, konstipasi, riwayat pneumonia sebelum onset diare
kronik; riwayat perjalanan atau paparan infeksi; riwayat pengobatan; atau riwayat
keluarga. Penderita juga dianamnesis tentang jumlah dan jenis cairan yang diminum
setiap hari. Diare non spesifik kronik perlu dicurigai pada penderita yang banyak minum
cairan berkarbonat atau jus buah-buahan >150 mL/kg/24 jam dan tidak disertai gangguan
pertumbuhan dan parameter tinggi badan.
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada diare kronis/persisten harus mencakup perhatian khusus pada
penilaian status dehidrasi, status gizi, dan status perkembangan anak. Pada pemeriksaan
fisik perlu dievaluasi status hidrasi penderita, berat badan, tinggi badan, indikator
pertumbuhan; kulit apakah disertai edema, ikterus, pucat, rash kemerahan, jari tabuh;
paru-paru apakah disertai mengi atau crackles; abdomen apakah nyeri, adanya massa
(feses, abses, tumor, organomegali); dan rektum apakah disertai tanda-tanda penyakit
perianal, prolaps rekti, hirschprung, atau konstipasi.
C. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah standar meliputi pemeriksaan hitung darah lengkap, elektrolit,
ureum darah, tes fungsi hati, vitamin B12, folat, kalsium, ferritin, laju endap darah, dan
protein C-reaktif.
b. Pemeriksaan Tinja
Pemeriksaan tinja spesifik antara lain meliputi tes enzim pankreas, seperti tes fecal
elatase, untuk kasus yang diduga sebagai insufisiensi pankreas. pH tinja <5 atau
adanya substansi yang mereduksi pemeriksaan tinja, membantu mengarahkan
kemungkinan intoleransi laktosa dengan mekanisme yang telah dijelaskan
40

sebelumnya. Kultur tinja diperlukan unutk menyingkirkan kemungkinan infeksi


protozoa, seperti giardiasis, dan amebiasis yang banyak dikaitkan dengan kejadian
diare persisten. Pemeriksaan feses merupakan langkah penting dalam investigasi diare
kronik. Bagian feses yang paling penting untuk diperiksa adalah cairan yang
terkandung dalam feses. Spesimen feses harus disimpan dalam kulkas sebelum
dilakukan pemeriksaan. Untuk pemeriksaan kultur feses dianjurkan menggunakan
specimen feses segar. Adanya darah dalam pemeriksaan makroskopis feses
menandakan inflamasi kolon. Warna feses sangat penting dianalisis kecuali disertai
darah. Occult testing bermanfaat untuk mengetahui adanya perdarahan mikroskopik.
Pada pemeriksaan mikroskopik juga perlu diperiksa adanya leukosit, telur/parasite
seperti Giardia, amuba, atau kriptosporidia.
c. Sweat chloride test, deteksi malabsorpsi lemak, elektrolit feses, osmolalitas feses;
pemeriksaan phenophthalein, magnesium sulfat, fosfat feses; breath hydrogen test.
Sweat chloride test bermanfaat untuk menyingkirkan fibrosis kistik. Pengumpulan
feses selama 72 jam merupakan syarat untuk mengetahui adanyamalabsorpsi lemak
bila sweat chloride test negatif. Pemeriksaan phenolphthalein, magnesium sulfat, dan
fosfat berguna untuk mengetahui apakah diare akibatpenggunaan yang salah laksatif
(diare factitia). Breath hydrogen test berguna untuk menentukan malabsorpsi
karbohidrat. Breath hydrogen test untuk glukosa atau laktulosa bermanfaat untuk
diagnosis pertumbuhan bakteri. Hidrogen dihasilkan dari fermentasi bakteri dari
karbohidrat; hidrogen akan meningkat pada pertumbuhan bakteri dan intolerans
laktosa. Breath hydrogen test akan mencapai puncaknya dua jam setelah pertumbuhan
bakteridan 3-6 jam pada pasien dengan defisiensi laktasa atau insufisiensi pancreas.
Membedakan defisiensi laktosa dan insufisiensi pancreas adalah dengan pemberian
enzim pancreas; metode ini akan menurunkanbreath hydrogen.
TERAPI
Manajemen diare persisten harus dilakukan secara bertahap dengan meliputi:
Diare persisten
(diare > 14 hari disertai malnutrisi)

Diagnosis, resusitasi, dan stabilisasi awal

41

Intravena stsu rehidrasi oral


Atasi gangguan elektrolit
Pelacakan dan pengobatan infeksi sistemik

ASI diteruskan
Mengurangi asupan laktosa dengan:
Diet susu\ serial (umumnya berbahan dasar beras)
Atau suplemen pengganti susu diare yogurt
Suplemen mikronutrien (zinc, vitamin A, folat)

Sembuh

Pemantauan pertumbuhan

diare berlanjut atau berulang


Berat badan tidak naik

Pelacakan ulang untuk


penyebab infeksi
Terapi dan obat sekunder
ayam dan diet elementasi
diare lanjut dan dehidrasi

Pelacakan ulang untuk mengingkirkan


Diare intractable pada bayi
Hiperalimentasi intravena
diagram manajemen diare persisten. Sumber: Bhutta
Penatalaksanaan diare kronik terutama difokuskan pada penyakit yang mendasarinya.
Menurut Suraatmaja, penatalaksanaan diare kronik meliputi tiga langkah sebagai berikut:
1. Rehidrasi enteral/parenterala.
a. Tanpa malnutrisi
Penderita diare kronik yang mengalami dehidrasi ringan/sedang tetap
diupayakan memberikan terapi rehidrasi oral, bila perlu cairan diberikan
melalui pipa nasogastrik sampai anak bisa minum per oral secara adekuat.
Oralit efektif untuk sebagian besar penderita diare kronik. Pada sebagian kecil
penderita mungkin terjadi gangguan absorpsi monosakarida (glukosa)
sehingga diare menjadi berat. Pada kasus demikian perlu dilakukan rehidrasi

42

intravena. Cara pemberian rehidrasi intravena sama dengan pemberian pada


diare akut.
b. Dengan malnutrisi
Cairan yang diberikan adalah resomal, bila perlu dengan sonde. Infus hanya
diberikan dalam keadaan dehidrasi berat/syok dan muntah yang tidak
terkendali. Cairan infus yang digunakan untuk penderita diare kronik dengan
malnutrisi adalah DG 10% (banyak mengandung kalium). Pantau ketat untuk
mencegah kelebihan cairan dengan perhatian khusus pada tanda-tanda edema
dan produksi urin.
2. Terapi nutrisi
Tujuan terapi nutrisi pada penderita diare kronik adalah agar pertumbuhan dan
perkembangan tetap berlangsung optimal. Nutrisi sedapat mungkin diberikan per oral
karena lebih murah, efek samping minimal, dan rehabilitasi mukosa jauh lebih cepat
dan sempurna bila diberikan nutrisi intraluminal. Nutrisi yang diberikan harus
lengkap,

berkualitas

tinggi,

dan

mudah

dicerna

mengingat

adanya

maldigesti/malabsorpsi yang kemungkinan dialami penderita. Makanan yang


diberikan sedikit-sedikit tapi sering. Nutrisi yang diberikan adalah:
a. Nutrisi enteral
Pada bayi yang mendapat ASI harus dilanjutkan. Bila tidak ada ASI, beri susu
formula rendah/bebas laktosa. Bila dengan susu formula rendah/bebas laktosa
tidak ada perbaikan, berikan susu formula khusus seperti Pepti Junior,
Nutramigen, Pregestemil, dan lain-lain. Pada anak-anak, makanan diberikan
bertahan dimulai dari makanan cair, lunak, lalu makanan biasa sesuai dengan
umur.
b. Nutrisi parenteral total (total parenteral nutrition= TPN)
TPN adalah suatu teknik memberikan nutrisi yang diperlukan tubuh melalui
intravena. Nutrisi yang diberikan terdiri dari air, elektrolit, asam amino, emulsi
lemak, mineral, vitamin, dantrace elements. TPN diberikan pada penderita
yang tidak dapat mentoleran atau menyerap zat makanan yang diberikan per
oral. Bila diberikan dengan benar TPN sangat bermanfaat bahkan dapat
menyelamatkan jiwa penderita.
3. Medikamentosa
a. Antibiotika

43

Antibiotika pada umumnya tidak dianjurkan bahkan berbahaya karena dapat


mengubah atau menimbulkan overgrowth flora usus sehingga diare bertambah
berat. Jika diperlukan, berikan sesuai dengan hasil biakan dan tes resistensi.
Pengalaman selama 25 tahun di Brazil menunjukkan bahwa penggunaan
antibiotik

dan/atau

obat-obat

lain

secara

rutin

pada

diare

kronik

(diarepersisten) tidak bermanfaat untuk mengontrol diare.


b. Obat antidiare
Pemberian obat-obat anti diare seperti difenoksilat, loperamidedan obat
pengeras tinja seperti kaolin, pektin, arang aktif, attapulgit, smectite; tidak
dianjurkan. Obat-obatan tersebut berbahaya karena memberikan kesan
sembuh palsu dan dapat mempengaruhi motilitas usus yang justru
menghambat pengeluaran bakteri bersama tinja sehingga memberi kesempatan
pada bakteri untuk berada lebih lama dan berkembang biak dalam usus.
c. Kolestiramin dan bismut sub salisilat
Kolestiramin (anion exchange resin) dan bismut sub salisilat mengikat asam
empedu yang toksis terhadap usus menjadi kompleks yang tidak larut dan
dikeluarkan bersama tinja sehingga stimulasi pada usus hilang. Dosis 4-20
gram cukup efektif dalam mengurangi jumlah tinja.
d. Mikronutrien
Berbagai mikronutrien seperti vitamin A, B12, asam folat, dan seng sangat
berguna untuk regenerasi mukosa dan reaksi imunologis. Penelitian yang
memperlakukan pasien dengan pemberian makanan tertentu dan beberapa
mikronutrien lain seperti vitamin A, thiamin, riboflavin, vitamin B6, B12,
asamfolat, niasin, asam panthotenat, vitamin C, D, E, zat besi, seng, tembaga,
dan selenium menunjukkan bahwa penambahan berat badan lebih cepat dari
pada kelompok kontrol.
Seng memegang peran penting untuk melindungi integritas sel membrane dan
mungkin berguna untuk melindunginya dari perlukaan yang diakibatkan oleh
radikal bebas. Pada diare kronik kadar seng berkurang dengan bertambah
beratnya penyakit sehingga pemberian seng dapat memperbaiki status seng
penderita. Suplemen seng juga baik dalam rehabilitasi nutrisi untuk
meningkatkan berat badan anak dengan diare kronik.
Defisiensi vitamin A juga merupakan faktor risiko berkembangnya diare
kronik. Penelitian pada beberapa kasus mendapatkan bahwa pemberian
44

vitamin A dapat mengurangi risiko diare. Vitamin A dapat memperbaiki


pertumbuhan anak dengan HIV dan malaria serta menurunkan risiko stunting
dalam hubungannya dengan diare persisten.
II.5.4.Asuhan Nutrisi Pediatri
Penilaian Status Gizi Anak
Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat. Salah satunya
adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri. Dalam
pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang
dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :
a.

Umur
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan
menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun
tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur
yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih
angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur
anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan
adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur
dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004).

b.

Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan,
termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik
karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini
dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan
penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang
dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak
digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada
ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi
gizi dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990).

c.

Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran

fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan

kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi
masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang
45

gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan
menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang
dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan
setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan
lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes
RI, 2004).
Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan
status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan
Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya
gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (M.Khumaidi, 1994).
Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam
menunjukkan

keadaan gizi kurang bila

dibandingkan dengan penggunaan BB/U.

Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi kurus/wasting < -2SD
diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat
serius dan berhubungan langsung dengan angka kesakitan.
Tabel 1 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart
Baku Antropometeri WHO-NCHS
N
o
1

Indeks yang
dipakai
BB/U

TB/U

BB/TB

Batas
Pengelompokan

Sebutan Status Gizi

< -3 SD

Gizi buruk

- 3 s/d <-2 SD

Gizi kurang

- 2 s/d +2 SD

Gizi baik

> +2 SD

Gizi lebih

< -3 SD

Sangat Pendek

- 3 s/d <-2 SD

Pendek

- 2 s/d +2 SD

Normal

> +2 SD

Tinggi

< -3 SD

Sangat Kurus

- 3 s/d <-2 SD

Kurus

- 2 s/d +2 SD

Normal

> +2 SD

Gemuk
46

Sumber : Depkes RI 2004.


Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua versi yakni
persentil (persentile) dan skor simpang baku (standar deviation score = z). Menurut
Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara yang populasinya relative baik (wellnourished), sebaiknya digunakan presentil, sedangkan dinegara untuk anak-anak yang
populasinya relative kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku
(SSB) sebagai persen terhadap median baku rujukan ( Djumadias Abunaim,1990).
Tabel 2. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB
Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)
Indeks yang digunakan

No

BB/U

TB/U

Interpretasi

BB/TB

Rendah

Rendah

Normal

Normal, dulu kurang gizi

Rendah

Tinggi

Rendah

Sekarang kurang ++

Rendah

Normal

Rendah

Sekarang kurang +

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Tinggi

Rendah

Sekarang kurang

Normal

Rendah

Tinggi

Sekarang lebih, dulu kurang

Tinggi

Tinggi

Normal

Tinggi, normal

Tinggi

Rendah

Tinggi

Obese

Tinggi

Normal

Tinggi

Sekarang lebih, belum obese

Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :


Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Tinggi

: > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Sumber : Depkes RI 2004.


Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan

mengurangi Nilai

Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada umur yang
47

bersangkutan, hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR). Atau dengan
menggunakan rumus

Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR

Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS dan kesepakatan Cipanas 2000 oleh para pakar
Gizi dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di interpretasikan
berdasarkan gabungan tiga indeks antropometri seperti yang terlihat pada tabel 2.
Untuk memperjelas penggunaan rumur Zskor dapat dicontohkan sebagai berikut
Diketahui : BB= 60 kg

TB=145 cm

Umur : karena umur dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB berdasarkan WHO-NCHS
hanya dibatasi < 18 tahun maka disini dicontohkan anak laki-laki usia 15 tahun
Table weight (kg) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS
Age
Standard Deviations
Yr mth -3sd
-2sd
-1sd
Median +1sd
+2sd
15 0
31.6
39.9
48.3
56.7
69.2
81.6
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985
Table weight (kg) by stature of boys 145 cm in Height from WHO-NCHS
Stature
Standard Deviations
Cm
-3sd
-2sd
-1sd
Median +1sd
+2sd
145
0 24.8
28.8
32.8
36.9
43.0
49.2
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985
Table stature (cm) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS
Stature
Standard Deviations
Yr mth -3sd
-2sd
-1sd
Median +1sd
+2sd
15
0 144.8
152.9
160.9
169.0
177.1
185.1
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

+3sd
94.1

+3sd
55.4

+3sd
193.2

Jadi untuk indeks BB/U adalah


= Z Score = ( 60 kg 56,7 ) / 8.3 = + 0,4 SD
= status gizi baik
Untuk IndeksTB/U adalah
= Z Score = ( 145 kg 169 ) / 8.1 = - 3.0 SD
= status gizi pendek
48

Untuk Indeks BB/TB adalah


= Z Score = ( 60 36.9 ) / 4 = + 5.8 SD
= status gizi gemuk
Definisi Operasional Status Gizi
Sebenarnya untuk mendefinisikan operasional status gizi ini dapat dilakukan di klinik
kesehatan swasta maupun pemerintah yang menyediakan pengukuran status gizi, namun
demikian yang perlu diketahui masyarakat adalah pengertian dan pemahaman dari status gizi
anak, selanjutnya ketika mengunjungi klinik gizi hasilnya dapat segera diketahui termasuk
upaya-upaya mempertahankan status gizi yang baik.
Status Gizi Anak adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh derajat kebutuhan
fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak
fisiknya diukur secara antroppometri ( Suharjo, 1996), dan dikategorikan berdasarkan standar
baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB
Indikasi pengukuran dari variabel ini ditentukan oleh :
1.

Penimbangan Berat Badan (BB) dan pengukuran Tinggi Badan (TB)


Dilakukan oleh petugas klinik gizi sesuai dengan syarat-syarat penimbangan berat badan
dan pengukuran tinggi badan yang baik dan benar penggunaan timbangan berat badan dan
meteran tinggi badan (mikrotoise)

2.

Penentuan umur anak ditentukan sesuai tanggal penimbangan BB dan


Pengukuran TB, kemudian dikurangi dengan tanggal kelahiran yang diambil dari data
identitas anak pada sekolah masing-masing, dengan ketentuan 1 bulan adalah 30 hari dan
1 tahun adalah 12 bulan.
a.

Kriteria objektifnya dinyatakan dalam rata-rata dan jumlah Z score


simpang baku (SSB) induvidu dan kelompok sebagai presen terhadap median
baku rujukan (Waterlow.et al, dalam, Djuamadias, Abunain, 1990) Untuk
menghitung SSB dapat dipakai rumus :
Skor Baku Rujukan

Dimana : NIS
NMBR

NIS NMBR
NSBR

: Nilai Induvidual Subjek


: Nilai Median Baku Rujukan

49

NSBR

: Nilai Simpang Baku Rujukan

Hasil pengukuran dikategorikan sbb


1.
a.
b.
c.
2.

Untuk BB/U
Gizi Kurang
Gizi Baik
Gizi Lebih

Bila SSB < - 2 SD


Bila SSB -2 s/d +2 SD
Bila SSB > +2 SD

TB/U
a.
b.
c.

3.

Pendek
Normal
Tinggi

Bila SSB < -2 SD


Bila SSB -2 s/d +2 SD
Bila SBB > +2 SD

Kurus
Normal
Gemuk

Bila SSB < -2 SD


Bila SSB -2 s/d +2 SD
Bila SSB > +2 SD

BB/TB
a.
b.
c.

Dan juga status gizi diinterpretasikan berdasarkan tiga indeks antropomteri, (Depkes, 2004).
Dan dikategorikan seperti yang ditunjuukan pada tabel 3
Tabel 3 Kategori Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks (BB/U,TB/U, BB/TB
Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)
Interpretasi

Indeks yang digunakan


BB/U

TB/U

BB/TB

Normal, dulu kurang gizi

Rendah

Rendah

Normal

Sekarang kurang ++

Rendah

Tinggi

Rendah

Sekarang kurang +

Rendah

Normal

Rendah

Normal

Normal

Normal

Normal

Sekarang kurang

Normal

Tinggi

Rendah

Sekarang lebih, dulu kurang

Normal

Rendah

Tinggi

Tinggi, normal

Tinggi

Tinggi

Normal

Obese

Tinggi

Rendah

Tinggi

Sekarang lebih, belum obese

Tinggi

Normal

Tinggi

Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :


Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
50

Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS


Tinggi

: > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS


Sumber: Depkes RI, 2004

KERANGKA KONSEP

51

BAB III
PENUTUP
III.1.KESIMPULAN
Ahmad bayi laki-laki usia 9 bulan mengalami gizi buruk tipe marasmus disertai
diare kronis,defisiensi vitamin A, dan anemia.
52

DAFTAR PUSTAKA

Arsad.RA, (2006), Perbedaan Hemoglobin, Status Gizi dan Prestasi Belajar Anak SD
Wilayah Gunung dan Pantai di Kabupaten Polewali Mandar tahun 2006, FKMUNHAS, Makassar.

53

Abunain Djumadias, 1990, Aplikasi Antropometri sebgai Alat Ukur Status Gizi, Puslitbang
Gizi Bogor.
Depkes, RI, 2004, Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta
Fediani, T. 2012. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31092/4/Chapter%20II.pdf,
diakses pada 5 April 2016
Gibney, Michael J, dkk. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran (EGC).
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Asuhan Nutrisi Pediatrik. 2013
Marcdante, Karen J., Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Hal B. Jensen. 2011. Nelson
Ilmu Kesehatan Anak Esensial Edisi 6. Jakarta: EGC
Rusepno H dkk. 2005. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK
UI. Jakarta.
Sediaoetama, Achmad Djaeni. 2004. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jakarta: Dian
Rakyat.
Soetjiningsih & Ranuh Gde. 2013. Tumbuh Kembang Anak, Ed. 2. Jakarta: EGC
Sommer, Alfred. 2005. Defisiensi Vitamin A dan Akibatnya. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran (EGC).
Suharjo, 1996, Gizi dan Pangan, Kanisius, Yogyakarta
Supariasa, 1999, Epidemiologi Gizi, AKZI Malang
Utami, Rahayu Budi.Modul Praktikum Askeb Komunitas Semester
5.http://www.slideshare.net/pjj_kemenkes/praktikum-1-petunjuk-praktikum-deteksidini-tumbuh-kembang.Diakses pada tanggal 5 April 2016.
WHO, 1983. Measuring Change In Nutritional Status, Genewa
World Health Organization. Global strategy for infant and young child feeding. 2002

54

55