Anda di halaman 1dari 62

kkKEGIATAN USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG DI PT LEMBU

JANTAN PERKASA DvydESA SINDANGSARI KECAMATAN


PABUARAN KABUPATEN SERANG BANTEN

LAPORAN PRAKTIK KERJA

Oleh :
TEDUH SUGARNADI
D1E011026

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2014

KEGIATAN USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG DI PT LEMBU


JANTAN PERKASA DESA SINDANGSARI KECAMATAN PABUARAN
KABUPATEN SERANG BANTEN

LAPORAN PRAKTIK KERJA

Oleh :
TEDUH SUGARNADI
D1E011026

Untuk memenuhi salah satu persyaratan kurikuler pada Program Studi


Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2014
i

KEGIATAN USAHA PENGGEMUKANSAPI POTONG DI PT LEMBU


JANTAN PERKASA DESA SINDANGSARI KECAMATAN PABUARAN
KABUPATEN SERANG BANTEN
LAPORAN PRAKTIK KERJA
Oleh :
TEDUH SUGARNADI
D1E011026

Diterima dan disetujui


Pada tanggal :

Pembimbing :
Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Ir. Moch. Socheh, M.Si


NIP. 19560507 198203 1 001

Ir. Muhammad Nuskhi, MSi


NIP. 19620924 198702 1 003

Mengetahui
Pembantu Dekan I

Ketua Program Studi

Ir. Endro Yuwono, MS


NIP. 19610310 198601 1 001

Ir. Pambudi Yuwono, MSc


NIP. 19630915 198803 1 002
ii

PRAKATA

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan


karunia-Nya sehingga diberikan kesempatan untuk menyelesaikan laporan praktik
kerja yang berjudul Kegiatan Usaha Pemeliharaan Sapi Potong di PT Lembu
Jantan Perkasa Desa Sindangsari Kecamatan Pabuaran Kabupaten Serang
Banten.jhuvjbrh
hyfdnvbLaporan praktik kerja ini disusun berdasarkan kegiatan kerja
praktik yang dilaksanakan pada tanggal 15 Januari sampai dengan 6 Februari 2014
di PT Lembu Jantan Perkasa, Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten
Serang, Banten.Penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan dari semua pihak.
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1.

Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, M. Sc. Agr selaku Dekan Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman.

2.

Ir. Endro Yuwono, MS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Peternakan


Universitas Jenderal Soedirman.

3.

Ir. Pambudi Yuwono, M. Sc selaku ketua Program Studi Ilmu Peternakan


Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.

4.

Dr. Ir. Moch. Socheh, M.S. dan Ir. Muhammad Nuskhi MSi, selaku
Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan
pengarahan dalam penulisan laporan praktik kerja.

5.

Pemerintah Desa Sindangsari yang telah memberikan izin untuk


melaksanakan praktik kerja di wilayah desa.

iii

6.

Bapak Sutrisna selaku manajer PT Lembu Jantan Perkasa yang


memberikan
izin, arahan dan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan praktik
kerja dengan baik.

7.

Bapak Aziz selaku supervisor PT Lembu Jantan Perkasa yang telah


memberikan bimbingan, semangat dan dukungan untuk bekerja lebih baik.

8.

Anak kandang yang bekerja di PT Lembu Jantan Perkasa atas bantuan dan
kerjasama yang dilakukan selama melaksanakan praktik kerja.

9.

Bapak, Ibu dan Keluarga penulis yang selalu memberikan doa dan
dukungan.

10.

Teman-teman praktik kerja.

11.

Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, atas
dukungan dan bantuannya.
Laporan praktik kerja ini masih terdapat kekurangan sehingga penulis

menerima saran dan kritik yang membangun guna kesempurnaan tulisan ini,
semoga laporan praktik kerja ini dapat bermanfaat untuk pembaca yang
memerlukan pengetahuan tentang usaha pemeliharaan sapi potong.

Purwokerto,

Juli 2014

Penulis

iv

DAFTAR ISI

PRAKATA

iii

DAFTAR ISI v
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR LAMPIRAN

ix

RINGKASAN x
I.

PENDAHULUAN

11

1.1

Latar Belakang

11

1.2

Sejarah Perusahaan

11

1.3

Bidang Usaha 12

1.4

Struktur Organisasi

II.

METODE

2.1

Materi 16

2.1.1

Ternak 16

2.1.2

Bahan Pakan 16

2.1.3

Kandang dan Perkandangan 16

2.1.4

Sarana dan Prasarana 16

2.2

Cara Kerja

2.2.1

Kegiatan Rutin

17

2.2.2

Kegiatan Insidental

17

2.2.3

Kegiatan Penunjang 17

2.3

Waktu dan Tempat

III.

KEGIATAN DAN PEMBAHASAN 19

3.1

Bakalan

3.1.1

Asal Sapi dan Bangsa Sapi

3.1.2

Kriteria Bakalan

19

3.2

Kegiatan Rutin

19

3.2.1

Pemberian Pakan

19

3.2.2

Pemberian Air Minum

24

3.2.3

Pembersihan Kandang

25

13

16

17

18

19
19

3.2.4

Proses Penjualan Sapi 26

3.3

Kegiatan Insidental

28

3.3.1

Penimbangan Sapi

28

3.3.2

Penanganan Kesehatan

3.3.3

Pemberian Identitas pada Ternak

3.4

Kegiatan Penunjang 33

3.4.1

Kunjungan ke Unit Pengolahan Limbah

3.4.2

Kunjungan ke Rumah Potong Hewan34

3.4.3

Kegiatan Penunjang Lainnya 36

3.5

Analisis Ekonomi

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan

4.2

Saran 42

29
32

36
41

41

DAFTAR PUSTAKA 43
LAMPIRAN 45

vi

33

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Pemberian Pakan...................................................................................21


Gambar 2 Tempat Penampungan Air Minum........................................................24
Gambar 3 Proses Penaburan Sawdust....................................................................26
Gambar 4 Penjualan Sapi.......................................................................................27
Gambar 5 Penimbangan Sapi.................................................................................29
Gambar 6 Proses Pengisolasasian Sapi Sakit.........................................................30
Gambar 7 Pemberian Eartag pada Sapi.................................................................33
Gambar 8 Holding pon...........................................................................................34
Gambar 9 Proses Pemotongan Sapi.......................................................................35

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Sarana dan Prasarana PT Lembu Jantan Perkasa......................................17


Tabel 2 Perbandingan Pemberian Pakan................................................................23
Tabel 3 Evaluasi Kecukupan Pakan.......................................................................23

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Denah Lokasi PT Lembu Jantan Perkasa...........................................45


Lampiran 2 Struktur Organisasi PT Lembu Jantan Perkasa 2014.........................47
Lampiran 3 Evaluasi Kecukupan Pakan ...............................................................48
Lampiran 4Ukuran dan Kapasitas Kandang..........................................................52
Lampiran 5 Jenis Obat dan Vitamin yang digunakan............................................53
Lampiran 6 Perhitungan Analisis Ekonomi...........................................................54
Lampiran 7 Jadwal Kegiatan Harian di PT Lembu Jantan Perkasa......................58
Lampiran 8 Pertambahan Bobot Sapi Umur Pemeliharaan 35 Hari ....................59

ix

RINGKASAN

Praktik kerja dilaksanakan di PT Lembu Jantan Perkasa di Desa


Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Jenis
usaha yang dijalankan adalah penggemukan sapi potong. Bangsa sapi yang
dipelihara adalah sapi Brahman Cross (BX). Praktik kerja dilaksanakan tanggal 14
Januari 6 Februari 2014 untuk mengetahui manajemen pemeliharaan sapi
potong di PT Lembu Jantan Perkasa. Kegiatan mengikuti program kerja di
perusahaan, meliputi penimbangan sapi, recording, pemberian pakan dan minum,
pembersihan kandang, kontrol dan menajemen kesehatan sapi serta kunjungan ke
Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Cilegon dan Trondol.
Sepuluh kandang penggemukan digunakan yang masing-masing berisi 6
sampai 12 pen. Setiap pen berisi 50 60 sapi, tergantung dari luas kandang serta
ukuran sapi. Selain kandang sapi, juga tersedia kandang isolasi untuk menampung
sapi yang mengalami gangguan kesehatan. Kandang dibersihkan setiap hari agar
selalu terjaga kebersihannya dengan menggunakan penyemprot air hingga
akhirnya feses dapat dialirkan langsung ke selokan menuju penampungan limbah.
Pemberian pakan 2 kali sehari, pada pukul 06.00 10.00 WIB dan pukul
13.00 16.00 WIB. Pakan yang diberikan berupa hijauan segar, jerami padi dan
konsentrat. Pemberian hijauan dan jerami rata-rata setiap ekor per hari sebanyak 5
kg, sedangkan konsentrat diberikan secara bertahap. Setelah ternak bisa
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pakan yang ada, jumlah konsentrat
yang diberikan akan terus dinaikan sampai 12 kg/ekor/hari. Penanganan kesehatan
dilaksanakan dengan memisahkan sapi-sapi yang sakit ke kandang karantina.
Pembersihan kandang dilakukan setiap hari. Limbah feses diolah menjadi pupuk
kompos.

xi

11

I. PENDAHULUAN

a.

Latar Belakang
PT Lembu Jantan Perkasa berlokasi di Jalan raya Serang-Pandeglang Km

9,6 Desa Sindangsari Kecamatan Pabuaran Kabupaten Serang Propinsi Banten.


Denah PT Lembu Jantan Perkasa terdapat dalam Lampiran 1. Luas area
peternakan PT Lembu Jantan Perkasa sekitar 25 hektar yang dipergunakan sebagai
kantor, kandang, kebun rumput, mess karyawan, penampungan limbah dan
gudang pakan.
Letak wilayah PT Lembu Jantan Perkasa berada pada ketinggian 200
meter diatas permukaan laut dengan kisaran suhu 24,5C - 31C. Lokasi
peternakan ini sangat strategis untuk memasarkan hasil produksinya karena
berdekatan dengan kota Serang, Rangkasbitung dan Bogor. Lokasi peternakan
tidak jauh dari perumahan dan pemukiman warga yaitu sekitar 200 meter. Batasbatas wilayah peternakannya adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

: berbatasan dengan Kampung Ranca Lutung,

Sebelah Timur

: berbatasan dengan Kampung Tonggoh,

Sebelah Selatan

: berbatasan dengan Kampung Tanjung, dan

Sebelah Barat

: berbatasan dengan Kampung Sindangsari

b. Sejarah Perusahaan
Lembu Jantan Perkasa (LJP) merupakan perusahaan swasta nasional yang
bergerak di bidang fattening, breeding, dan trading sapi potong didirikan pada
tahun 1990 oleh Djaya Gunawan. Tahun 2003, peternakan ini mencoba
mengembangkan pembibitan sapi potong, akan tetapi karena dinilai kurang
menguntungkan serta menemui banyak kendala, maka pengembangan pembibitan

12

sapi potong berangsur-angsur dikurangi kapasitasnya, sehingga sekarang lebih


banyak terfokus pada penggemukan sapi potong.
Saat ini PT Lembu Jantan Perkasa dimiliki oleh Jois Gunawan yang
merupakan anak dari Djaya Gunawan. PT Lembu Jantan Perkasa memiliki dua
lokasi peternakan yang terletak di daerah Serang dan Purwakarta. Peternakan
Serang memiliki kapasitas penggemukan sebanyak 8000 ekor dan pembibitan
1500 ekor, sedangkan peternakan Purwakarta memiliki kapasitas penggemukan
sekitar 1600 ekor. Sapi impor yang digunakan adalah sapi Brahman Cross yang
berasal dari Australia. Perkembangan Populasi sapi yang dipelihara di PT Lembu
Jantan Perkasa dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, tetapi pernah
menglami penurunan pada tahun 2013 karena pada saat itu kran impor sapi dari
luar negeri dibatasi oleh pemerintah, sehingga berdampak pada populasi sapi di
PT Lembu Jantan Perkasa.
c.

Bidang Usaha
PT Lembu Jantan Perkasa merupakan perusahaan swasta yang berbentuk

perseroan terbatas dengan spesifikasi usaha penggemukan dan perdagangan sapi


potong. Jenis sapi yang berada di PT Lembu Jantan Perkasa sebagian besar
merupakan sapi Brahman Cross dan ada beberapa diantaranya yang merupakan
sapi PO.
Penggemukan pada ternak sapi impor dilakukan selama 3 bulan, tetapi
terkadang ada yang kurang atau lebih dari 3 bulan tergantung dari permintaan dan
kebutuhan konsumen. Bobot awal ternak yang dipelihara berkisar antara 250-300
kg dengan umur 1,5-2 tahun dan penjualan ternak setelah 3 bulan masa
penggemukan dapat mencapai PBBH 2 kg dan nantinya bobot jual rata-rata antara
400-500 kg. PT Lembu Jantan Perkasa tidak memiliki usaha pemotongan sendiri,

13

jadi sapi-sapi tersebut dijual kepada para jagal di RPH yang telah ditunjuk oleh
pemerintah Australia untuk melakukan pemotongan sapi-sapi yang berasal dari PT
Lembu Jantan Perkasa. Rumah pemotongan Hewan tersebut antara lain: RPH
Cilegon dan Trondol didaerah Banten, RPH Pulogadung didaerah Jakarta serta
RPH Banjaran, Bogor dan Jonggol didaerah Jawa Barat.
d. Struktur Organisasi
Tenaga kerja di PT Lembu Jantan Perkasa berjumlah 99 orang karyawan
tetap dan 114 orang karyawan borongan. Karyawan tetap terdiri dari manager,
staff fattening, staff breeding, Drh dan paramedis, petugas pakan kosentrat dan
hijauan, administrasi dan keuangan, Unit Pengolahan Limbah, maintenance, serta
karyawan kandang. Deskripsi pekerjaan untuk setiap tingkatan pekerjaan secara
garis besar adalah sebagai berikut:
1.

Direktur utama adalah pemilik dan merupakan penanggung jawab utama serta
pengambil keputusan tertinggi perusahaan. Direktur utama PT Lembu Jantan

2.

Perkasa adalah Jois Gunawan.


Direktur pemasaran bertugas merencanakan dan merumuskan kebijakan
strategis yang menyangkut pemasaran, melakukan koordinasi dengan
lembaga-lembaga terkait untuk menjalankan strategi pemasaran serta
memberikan masukan kepada direktur utama dalam memutuskan hal-hal yang
berkaitan dengan pemasaran. Direktur pemasaran PT Lembu Jantan Perkasa

3.

adalah Ir. Mardianto Wibowo.


Direktur keuangan bertugas mengalokasikan dana agar dapat memperoleh
tingkat efisiensi atau profitabilitas yang optimal serta mengendalikan
keuangan perusahaan dengan mengadakan prosedur yang dapat mencegah

4.

penyimpangan dalam pelaksanaan usaha. Direktur keuangan yaitu Arie S.


Direktur operasional bertugas menjamin target dan kualitas produksi ternak

14

sapi potong, agar tetap sesuai dengan rencana. Secara garis besar kegiatannya
yaitu merencanakan dan merealisasikan program kerja (business plan),
pengawasan terhadap mutu pekerjaan operasional, dan evaluasi terhadap hasil
pekerjaan/pengelolaannya. Direktur operasional PT Lembu Jantan Perkasa
adalah Ir. H. Budi R.
5.

Manajer umum adalah penanggung jawab kepada direksi dan berwenang


dalam mengatur dan mengarahkan seluruh kegiatan operasional farm atau

6.

perusahaan. Manajer umum PT Lembu Jantan Perkasa adalah Sid Zulvalutfi.


Farm manager tugasnya adalah bertanggung jawab kepada general manager
dan berwenang sebagai pengawas dan penanggung jawab teknis seluruh
kegiatan di farm. Manager farm bertanggung jawab atas maju mundurnya
perusahaan dan merupakan kepala keluarga yang diharapkan mampu
menciptakan kebersamaan, persaudaraan, dan mampu menjaga rahasia

7.

perusahaan. Farm manager PT Lembu Jantan Perkasa adalah Sutrisna.


Supervisor bertugas mengatur kerja dan mengarahkan karyawan, membuat
laporan livestock ke kepala unit, melakukan eveluasi kerja bersama kepala
unit dan ketua kandang, serta menilai kinerja karyawan. Supervisior PT

8.

Lembu Jantan Perkasa adalah Aziz M.


Administrasi dan keuangan farm bertugas membuat faktur penjualan sapi
fattening dan breeding, membuat bukti penerimaan / keluar kas / bank,
membuat atau meng up date kartu piutang, menyetorkan uang ke bank,
membuat rencana anggaran operasional rutin, melaporkan penggunaan dana
ke chief acct / KP, membayar gaji atau honor karyawan kandang, melakukan
evaluasi bersama kepala unit / staf, menyiapkan laporan keuangan

9.

konsolidasi, dan membuat laporan keuangan farm. Administrasi dan


keuangan farm PT Lembu Jantan Perkasa adalah Baharudin dan Fian.
Unit kesehatan hewan bertugas menyeleksi dan mengobati sapi sakit.
Kebijakan selanjutnya, apakah ternak layak dipelihara atau tidak tergantung

15

dari dokter hewan yang menangani divisi ini. Dokter hewan


bertanggungjawab kepada manajer. Unit kesehatan hewan PT Lembu Jantan
Perkasa adalah Drh. Putut M.
10. Divisi umum dan Administrasi (Keuangan dan Personalia): Bagian yang
membantu dalam kelancaran operasional harian yaitu menyediakan dan
mencatat data kegiatan harian yang ada di perusahaan. Divisi umum dan
administrasi PT Lembu Jantan Perkasa adalah Yatin.
11. Karyawan adalah orang yang bekerja untuk melaksankan rancangan kerja
yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
(Bagan Struktur organisasi PT Lembu Jantan Perkasa terdapat pada Lampiran 2).

16

II. METODE

II.1 Materi
II.1.1 Ternak
Ternak yang dipelihara sebagian besar sapi potong impor dari Australia
yaitu Brahman Cross (BX) dan sebagian kecil sapi persilangan yaitu Peranakan
Ongole yang berasal dari berbagai peternakan rakyat di Jawa. Jumlah keseluruhan
ternak pada saat kerja praktik yaitu bulan Januari 2014 pada Unit Fattening
terdapat 4.400 ekor dan pada Unit Breeding terdapat 975 ekor.
II.1.2 Bahan Pakan
Pakan yang digunakan konsentrat, jerami kering atau rumput Taiwan dan
molasses dengan jumlah total kebutuhan pakan setiap harikonsentrat 52,5 ton,
untuk hijauan7,8 ton dan molasses 4,3 ton, lebih jelasnya pada Lampiran 3.
II.1.3 Kandang dan Perkandangan
Kandang yang digunakan model koloni tertutup dan terbuka (close house
dan open house) yang cenderung membujur dari arah barat ke timur. Kandang
berjumlah 14 unit (kandang A-L), hospital pen dan kandang weaner dengan
ukuran serta kapasitas yang berbeda-beda. Kandang A-L luasnya antara 18003000m2, sedangkan kandang weaner danhospital penlebih kecil dari kandang A-L
karena jumlah sapinya lebih sedikit dengan luas masing-masing 800m2dan 200m2.
Untuk lebihjelasnya terdapat pada Lampiran 4.
II.1.4 Sarana dan Prasarana

17

Sarana dan prasarana pendukung yang ada meliputi truck pengangkut


pakan, mobil colt pengangkut limbah, bobcat, mesin chopper, mixer pakan, sapu,
ember, cattle talker, alat flushing, sekop, trolley, bak pakan, bak air minum, dan
selokan yang dijelaskan pada Tabel 1.
Tabel 1 Sarana dan Prasarana PT Lembu Jantan Perkasa
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Nama Alat
Bobcat
Truck pengangkut pakan
Mobil colt pengangkut limbah
Mesin chopper
Mixer pakan
Sapu
Ember
Cattle talker
Alat flushing
Sekop
Trolley
Bak pakan
Bak minum
Selokan

II.2 Cara Kerja


II.2.1 Kegiatan Rutin
1.
2.
3.
4.

Pemberian pakan dan air minum


Pembersihan kandang
Control kesehatan ternak
Penjualan sapi

II.2.2 Kegiatan Insidental


1. Penanganan kesehatan
2. Pemberian identitas pada ternak
3. Penimbangan sapi (timbang awal dan reweight)
II.2.3 Kegiatan Penunjang
1. Kunjungan ke unit pengolahan limbah
2. Kunjungan ke rumah potong hewan
II.3 Waktu dan Tempat

Unit
1
1
1
4
4
20
40
5
2
4
20
40
40
20

18

Kegiatan praktik kerja dilaksanakan mulai tanggal 15 Januari 2014 sampai


dengan 6 Februari 2014 berlokasi di PT Lembu Jantan Perkasa, Desa Sindangsari
Kecamatan Pabuaran Kabupaten Serang Banten.

19

III. KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

III.1

Bakalan

III.1.1 Asal Sapi dan Bangsa Sapi


Sapi yang digemukkan di PT Lembu JantanPerkasa yaitu berasal dari
Negara Australia. Bangsa sapi yang dipelihara yaitu sapi Brahman Cross (BX)
dengan umur 1,5 sampai 2 tahun dengan bobotrata-rata 250 kg. Sudarmono dan
Sugeng (2008) menyatakan bahwa sapi BX adalah hasil persilangan antaraSapi
Brahman (50%), Sapi Hereford (25%) dan Sapi Shorthorn (25%). Ciri-ciri sapi
Brahman Cross yaitu warna putih, abuabu sampai kehitaman dengan moncong
warna hitam dan berpunuk, tetapi hasil persilangan tidak selalu sesuai dengan
proporsi tersebut
III.1.2 Kriteria Bakalan
PT Lembu Jantan Perkasa dalam memilih sapi bakalan tidak sembarangan
tetapi memiliki kriteria yang ditentukan hal tersebut bertujuan agar nantinya
produk yang dihasilkan setelah penggemukan sesuai yang diharapkan.Pemilihan
ternak

sapi

untuk

di

pelihara

atau

sebagai

calon

pengganti

bibit,

memerlukanketerampilan khusus. Keberhasilan pemilihan ternak sapi yang akan


di pelihara menentukan keberhasilan usaha ternak meski semua bangsa dan tipe
sapi bisa di jadikan bibit, namun agar diperoleh sapi hasil yang baik diperlukan
bangsa sapi tertentu yang laju pertumbuhan dan mutunyapun bagus(Siregar,
2008).
III.2

Kegiatan Rutin

III.2.1 Pemberian Pakan

20

Pakan yang diberikan pada ternak yang digemukkan harus berkualitas tinggi
yaitu mengandung zat yang diperlukan tubuh yaitu air, karbohidrat, lemak, protein
dan mineral. Pakan yang diberikan di PT Lembu Jantan Perkasa berupa hijauan,
konsentrat serta tetes tebu. Hijauan yang diberikan adalah rumput Taiwan serta
jerami padi. Jerami padi dipilih sebagai cadangan pakan apabila stok rumput
mengalami keterlambatan. Rumput Taiwan dipilih karena memiiki kadar protein
kasar serta serat kasar yang hampir sama dengan rumput raja, akan tetapi memiliki
produktivitas yang lebih tinggi dibanding dengan rumput raja, hal ini sesuai
dengan pendapat Budiman, dkk (2012), yang menyatakan bahwa rumput Taiwan
memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumput Raja. Dinas
Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung (2010), menyatakan bahwa
kandungan protein kasar rumput Taiwan selalu diatas 7% (semakin tua kandungan
PK semakin turun) dan mampu menghasilkan produksi sebanyak 300 ton/ha/tahun
dengan kondisi dan pemupukan optimal. Sedangkan konsentrat yang diberikan
merupakan konsentrat yang dibuat sendiri oleh perusahaan tersebut dengan
formulasi tertentu sesuai umur ternak. Kosentrat merupakan salah satu pakan yang
sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program penggemukan sapi potong, hal
ini sesuai dengan pendapat Sodiq dan Machfudin (2012), yang menyatakan bahwa
pada usaha penggemukan, aspek yang sangat penting adalah pemberian pakan
kosentrat. Proses pemberian pakan disajikan dalam Gambar 1.
Pemberian hijauan dan konsentrat dan tetes dilakukan dua kali sehari
yaitu pagi hari pukul 06.00 WIB dan siang hari mulai pukul 13.00 WIB (lihat
Lampiran 7) dengan perbandingan pemberian pakan pagi dan siang sebesar 50 :
50. Proses pemberian pakan semuaya dilakukan dengan cara manual. Pakan yang
pertama kali adalah konsentrat, kemudian hijauan dan yang terakhir adalah tetes

21

tebu (molasses). Pemberian Konsentrat, hijauan dan tetes tebu di PT Lembu


Jantan Perkasa telah dihitung sesuai kebutuhan pakan dapat mencukupi nutrisi

Gambar 1 Pemberian Pakan


yang dibutuhkan oleh sapi dan menghasilkan daging yang optimal. Pada dasarnya
ternak membutuhkan nutrisi yang cukup. Sapi membutuhkan berbagai nutrisi
seperti protein, vitamin, mineral, energi, dan air untuk dapat tumbuh dengan baik
dan optimal (Siregar, 2008).
Pemberian pakan konsentrat dibutuhkan oleh ternak sapi untuk
pertumbuhannya dan menghasilkan produksi yang baik. Pakan konsentrat yang
diberikan di PT Lembu Jantan Perkasa sudah dikemas dalam karung masingmasing dengan berat 50 kg. Konsentrat atau pakan penguat adalah pakan yang
mengandung protein tinggi dengan kadar serat kasar yang relatif rendah dan
mudah dicerna. Pemberian konsentrat di PT Lembu Jantan Perkasa untuk ternak
yang baru datang diberikan secara bertahap untuk menghindari terjadinya
gangguan pada saluran pencernaan. Semakin lama umur pemeliharaan ternak
semakin banyak konsentrat yang di berikan, hal ini sesuai dengan Soeprapto dan
Abidin (2006) yang menyatakan bahwa dalam pemberian pakan sapi yang baru

22

beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar disesuaikan dengan pakan yang


secara alami dimakan oleh ternak tersebut.
Pemberian pakan hijauan dilakukan bersama dengan pemberian konsentrat
dengan hijauan berada diatas (top grass). Cara tersebut dianggap efektif karena
hijauan lebih dulu dimakan sehingga hijauan yang memiliki kadar air tinggi lebih
cepat habis daripada konsentrat apabila hijauan telah habis maka konsentrat tetap
kering dan dapat digunakan lagi tanpa pembusukan. Hijauan sudah dikemas
dalam sebuah karung dengan berat 15 kg per karung. Jenis hijauan yang diberikan
adalah rumput Taiwan dan jerami padi. Sebelum diberikan hijauan terlebih dahulu
dilayukan untuk mengurangi kadar air setelah dilayukan dipotong dengan mesin
chopper, lalu dimasukkan ke dalam karung dengan berat masing-masing 15 kg per
karung, hal ini dilakukan agar sapi tidak akan memilih antara makan daun dan
batangnya, sehingga konsumsi pakan akan efisien. Jerami padi langsung diberikan
tanpa amoniasi telebih dahulu, sesuai dengan pendapat Soeprapto dan Abidin
(2006) yang menyatakan bahwa pemberian pakan pada sapi terdapat berbagai cara
tetapi yang paling efektif adalah dengan cara rumput diatas konsentrat atau yang
biasa disebut top grass.
Pemberian tetes tebu dilakukan setelah pemberian hijauan dan konsentrat
selesai. Pemberian tetes tebu untuk tiap kandang berbeda-beda sesuai dengan
umur pemeliharaan ternak. Tetes tebu diberikan untuk meningkatkan palatabilitas
serta mencukupi kebutuhan energi dan mineral. Pengaruh pemberian tetes tebu
yang berlebihan dapat menyebabkan diare pada ternak, sehingga pemberian tetes
tebu dibatasi sesuai dengan umur pemeliharaan ternak. Perbandingan pemberian
antara konsentrat, hijauan dan molasses dilihat dalam Tabel 2.

23

Kebutuhan pakan sapi fattening dengan rataan bobot badan 312 kg dan
rataan PBBH 1,9 kg umur pemeliharaan 35 hari di PT Lembu Jantan Perkasa telah
terpenuhi dengan baik, hal ini dapat dilihat dengan cara menghitung kecukupan
nutrisi ternak. Menghitung kecukupan nutrisi merupakan hal yang sangat penting,
Tabel 2 Perbandingan Pemberian Pakan
Umur Pemeliharaan
Tetes Tebu
Hijauan
(hari)
(%)
1
14,00
86,00
2
11,50
78,00
4
9,50
67,28
6
9,50
58,81
9
9,50
46,21
14
8,00
36,50
18
8,00
27,79
21
6,50
12,20
>21
6,50
12,20
Sumber : PT Lembu Jantan Perkasa (2014)

Konsentrat
10,50
23,22
31,69
44,29
55,50
64,21
81,30
81,30

karena nutrisi adalah penunjang dari kehidupan sapi potong, dengan diketahuinya
kandungan nutrisi pakan, dapat dilakukan perbaikan komposisi apabila memang
diperlukan. Kebutuhan nutrisi sapi potong dapat diketahui berdasarkan Tabel
National Research Council (NRC). Dari Tabel NRC diketahui data kebutuhan
nutrisi pakan sapi potong pada bobot badan 312 kg dengan Average Daily Gain
(ADG) 1,9 kg adalah BK 7,9 kg, PK 0,63 kg dan TDN 4,65 kg. Perhitungan
pemberian nutrisi pakan ditampilkan pada Lampiran 3. Penghitungan nilai
kecukupan nutrisi untuk sapi dengan rata-rata bobot badan 312 kg dan ADG 1,9
kg dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Evaluasi Kecukupan Pakan
BK (kg)

PK (kg)

TDN (kg)

Pemberian

9,50 kg

1,30 kg

6,30 kg

Kebutuhan

7,9 kg

0, 63 kg

4,65 kg

Kecukupan

+ 1.6 kg

+ 0,37

+ 1.65

Sumber : PT Lembu Jantan Perkasa (2014)

24

Pemberian pakan di PT Lembu Jantan Perkasa sudah mencukupi


kebutuhan ternak, bahkan berlebih, hal tersebut dapat dilihat dari segi jumlah
Bahan Kering (BK), Protein Kasar (PK), dan Total Digestible Nutrient (TDN)
yang diberikan sudah melebihi kebutuhan nutrisi sapi. Menurut Santosa (2000),
kebutuhan BK pakan untuk penggemukan sapi adalah 3% dari bobot badan
dengan perbandingan 80% konsentrat dan 20% hijauan. Syafrial, dkk (2007)
menjelaskan bahwa untuk menghasilkan sapi potong dengan produksi yang
optimal dengan cara memberikan konsentrat lebih banyak dibanding hijauan.
III.2.2 Pemberian Air Minum
Pemberian air minum yang dilakukan di PT Lembu Jantan Perkasa
dilakukan secara terus menerus (ad libitum) dalam bak minum yang tersedia pada
masing-masing pen yang mempunyai ukuran 500 cm x 40 cm x 60 cm dengan
daya tampung 1.000 liter. Air yang digunakan berasal dari sumur bor yang
terdapat di peternakan. Terdapat 12 sumur bor yang terdiri atas tiga sumur bor
invisible dengan kedalaman 100 m dan debit 3 m 3 dan 9 sumur bor biasa dengan
kedalaman 60 m dan debit air 1 m3. Air tersebut ditampung di dalam water torn
yang berjumlah 23 unit yang masing-masing berkapasitas 8.000 liter. Gambar
tempat penampungan air disajikan dalam Gambar 2.

25

Gambar 2 Tempat Penampungan Air Minum


Air yang ditampung di water torn dialirkan ke kandang, mess karyawan,
kantor dan mushala. Seekor sapi umur 1,5-2 tahun akan minum sebanyak 45 liter
setiap hari. Pembersihan bak minum dilakukan setiap 2 hari sekali atau ketika bak
air sudah mulai keruh dan mulai berlumut. Pembersihan dilakuan dengan
menggunakan sikat agar lumut dan kotoran yang menempel dapat terangkat.
Penggantian air minum sehari sekali kurang efisien waktu untuk menjaga
kebersihan tempat air minum. Pemberian minum yang optimal adalah diganti 2
kali sehari untuk menjaga kebersihan tempat minum dan kualitas air minum
(Siregar, 2008).
III.2.3 Pembersihan Kandang
Kandang merupakan salah satu bagian terpenting dalam pemeliharaan sapi
potong, sehingga pembuatan maupun konstruksinya harus diperhatikan dengan
baik (Rasyid, dkk, 2007). Pembuatan kandang sapi untuk penggemukan
memerlukan beberapa persyaratan antara lain memberi kenyamanan bagi sapi-sapi
yang digemukan dan bagi si pemelihara ataupun pekerja kandang (Sarwono dan
Arianto, 2008).

26

Kandang yang bersih memberikan kenyamanan bagi sapi sehingga


nantinya tidak terkena bibit-bibit penyakit. Sebagian besar kandang yang kotor
disebabkan oleh feses yang dihasilkan sapi yang tidak intensif dibersihkan. Proses
pembersihan feses dilakukan dengan cara yang berbeda-beda tergantung dari jenis
kandang. Proses pembersihan kandang sangat penting dilakukan untuk tetap
menjaga kondisi kandang tetap bersih serta menghindari kelembaban kandang
yang terlalu tinggi. Kandang yang terlalu lembab menyebabkan bibit penyakit
mudah tumbuh (Soeprapto dan Abidin 2006).
Pembersihan kandang terbuka dilakukan setiap hari dengan menggunakan
penyodok dari kayu dengan cara menyodok kotoran ke ujung kandang menuju ke
selokan dan dialirkan ke kolam penampungan limbah yang disebut holding pond.
Sedangkan pembersihan pada kandang yang tertutup dilakukan seminggu sekali,
dengan cara memindahkan sapi terlebih dahulu ke pen-pen yang kosong,
selanjutnya kotoran dibersihkan menggunakan skop ataupun mesin bobcat.
Kotoran yang telah bercampur dengan sawdust dimasukkan ke dalam karung kecil
kemudian dinaikkan ke dalam pick up untuk dibawa ke bedding atau
penampungan pupuk untuk difermentasi secara alami. Kandang yang telah bersih
lalu di beri serbuk sawdust kembali. Sawdust yang digunakan per pen tergantung
dari luas kandang. Setiap kandang yang ada terbagi menjadi 6-12 pen dengan
tergantung dari luas kandang. Ukuran setiap pen hampir sama yaitu 15 x 10 meter
dengan kapasitas ternak 50-60 ekor sehingga luas per ekor hanya 2,5 3 m 2.
Pemberian sawdust untuk kandang fattening dibutuhkan 70-80 karung/pen dengan
berat isi karung 25-30 kg dengan ketebalan 1015 cm. Sawdust yang baik untuk
kandang sapi yaitu yang teksturnya lembut karena untuk kenyamanan ternak yang

27

menempati (Sudarmono dan Sugeng, 2008). Proses penaburan sawdust dapat


dilihat pada Gambar 3 berikut.

Gambar 3 Proses Penaburan Sawdust


III.2.4 Proses Penjualan Sapi
Penjualan sapi yang dilakukan di PT Lembu Jantan Perkasa dilakukan
dengan target penjualan 100 ekor/hari yang dipenuhi dari cabang serang sebanyak
60 ekor dan cabang militer 40 ekor. Penjualan dilakukan setiap sore hari dan
pembeli datang langsung ke peternakan. Pembeli yang melakukan transaksi
dengan perusahaan ini hanya terdiri atas empat orang pembeli besar, hal ini
dilakukan untuk mempermudah pengawasan terhadap sapi-sapi yang akan
dipotong di RPH. Sapi yang akan dibeli digiring ke cattle yard, kemudian
diberikan inisial dari nama pembeli pada bagian punggung menggunakan cat,
kemudian sapi ditimbang untuk mengetahui bobot akhir. Penentuan harga oleh
perusahaan untuk sapi fattening berdasarkan pertimbangan biaya yang
dikeluarkan selama proses produksi, bobot badan sapi serta harga pasar. Harga
jual sapi berkisar antara Rp. 30.000,00 sampai Rp 40.000,00/kg bobot hidup.
Proses penjualan sapi dapat dilihat pada Gambar 4.

28

Gambar 4 Penjualan Sapi


Sapi-sapi yang dijual sebagian besar adalah sapi-sapi hasil penggemukan,
sedangkan sapi-sapi slaughter hanya digunakan sebagai selingan. Sapi-sapi
slaughter kurang diminati oleh para pembeli karena memiliki proporsi lemak dan
tulang yang lebih besar dibanding dengan sapi-sapi hasil penggemukan PT Lembu
Jantan Pekasa.

29

III.3

Kegiatan Insidental

III.3.1 Penimbangan Sapi


Maksud penimbangan adalah untuk mengetahui berat badan sapi setiap
ekornya. Dengan cara ini peternak dengan mudah menyajikan pakan dan obatobatan sesuai dosis, bisa mengetahui laju pertumbuhan sapi pada pertumbuhan
sapi pada periode pemeliharaan tertentu dan bisa dengan mudah menentukan
harga. Sapi harus dilakukan penimbangan secara rutin, hal ini sesuai dengan
pendapat Sudarmono dan Sugeng (2008) yang menyatakan bahwa penimbangan
sapi ditujukan supaya sapi tersebut diketahui seberapa besar mengalami
peningkatan bobot badannya
Penimbangan sapi dilaksanakan satu bulan sekali untuk mengetahui
pertambahan bobot badan tambahan (PBBH) dan juga dilakukan saat sapi akan
dijual untuk mengetahui bobot badannya. Ketika pembelian sapi-sapi yang akan
digemukan, pihak perusahaan lebih memilih sapi-sapi dengan bobot kecil tetapi
dengan kondisi yang baik dengan alasan bahwa sapi-sapi yang demikian akan
menghasilkan bobot akhir yang lebih besar. Bobot awal sapi yang baru datang
rata-rata 25015kg, hal ini sesuai dengan pendapat Firdausi, dkk (2012), yang
menyatakan bahwa bobot badan awal < 300 kg memiliki rata-rata pertambahan
bobot badan yang paling tinggi daripada bobot badan antara 300-350 kg maupun
bobot badan lebih dari 350 kg, hal ini dikarenakan laju pertumbuhan yang tinggi
selama periode penggemukan pada bobot awal yang kurang dari 300 kg. Apabila
bobot badan awal yang dipilih lebih tinggi maka akanmenurunkan PBBH sapi,
sehingga perlu pemilihan sapi dengan bobot badan awal yang lebih rendah. Laju
pertumbuhan yang tinggi dimungkinkan karena adanya compensatory growth,

30

karena ternak mendapatkan pakan yang bagus dibanding saat ternak dipelihara di
ranch yang diberi pakan rumput saat di Australia (Firdausi, dkk, 2012).
Saat akan dilakukan penimbangan, sapi terlebih dahulu digiring ketempat
penimbangan. Penggiringan sapi dapat dilakukan dengan mudah karena melalui
lorong kandang yang telah dibatasi dengan palang-palang besi. Setelah sapi
berada di Pen penimbangan, sapi dimasukan satu persatu kedalam timbangan.
Prose penimbangan sapi dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Penimbangan Sapi


Penimbangan sapi menggunakan timbangan khusus yang disebut scale.
Sapi-sapi yang telah ditimbang kemudian dikelompokan menjadi beberapa
kelompok sesuai dengan bobot badannya. Setelah seluruh sapi selesai ditimbang
dan dikelompokan, sapi kemudian digiring kembali menuju kandangnya. Salah
satu tujuan pengelompokan sapi yaitu untuk memudahkan dalam pembagian
banyaknya pemberian pakan (Siregar, 2008).
III.3.2 Penanganan Kesehatan
Sapi Brahman Cross merupakan salah satu jenis sapi yang banyak
dipelihara karena memiliki daya tahan tubuh yag baik, hal ini sesuai dengan
pendapat Syariffudin dan Anis (2011), yang menyatakan bahwa sapi Brahman

31

Cross banyak dipelihara karena memiliki perkembangan tubuh yang cepat,


mampu bertahan dalam kondisi suhu yang tinggi dan tahan terhadap ektoparasit.
Ibrahim, dkk (2008) yang menyatakan bahwa sapi Brahman Cross memiliki
toleransi yang cukup tinggi terhadap suhu lingkungan serta memiliki pertambahan
bobot badan harian yang cukup baik. Meski demikian, sapi-sapi tersebut tidak
berarti kebal terhadap penyakit, sehingga diperlukan adanya pemeriksaan
kesehatan sapi yang rutin dilakukan. Pemeriksaan kesehatan sapi dilakukan dua
kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Pengontrolan dilakukan dengan cara
mengelilingi kandang dan mengamati keadaan sapi secara umum, apabila terdapat
sapi yang sakit, maka sapi segera dipisahkan dan ditangani. Sapisapi sakit
dipisahkan dari kelompok sapi yang sehat untuk segera diobati dan dilakukan
pencatatan agar mempermudah dalam hal penanganan penyakit. Sapi-sapi yang
telah diobati kemudian dipindahkan ke kandang A atau hospital pen. Proses
pengisolasian sapi sakit dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Proses Pengisolasasian Sapi Sakit


Penyakit penyakit yang sering menyerang sapi sapi yang ada di PT
Lembu Jantan Perkasa antara lain :

32

1. Abses
Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi diakibatkan suatu
infeksi bakteri (Alsagaff, 2006). Abses atau luka dalam pada sapi dapat diobati
dengan menyemprotkan yodium 3% ke bagian yang luka setelah sebelumnya
luka tersebut dikeluarkan nanahnya. Setelah itu, luka tersebut disemprot dengan
gusanex untuk mencegah hinggapnya lalat yang dapat menimbulkan miasis atau
belatungan. Langkah terakhir, sapi disuntik dengan glucortin dengan tujuan
untuk mempercepat penyembuhan luka.
2. Ringworm
Ringworm adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit ini
bisa menular dari hewan ke manusia atau biasanya disebut penyakit zoonosis
(Soeharsono, 2005). Penyebabnya adalah cendawan Trichophyton verrucosum.
jamur/ cendawan tersebut menginfeksi kulit dan bulu sapi. Penyakit ringworm
sering terjadi pada weaner dan pedet. Penyakit ini bersifat zoonosis, pada
manusia ia juga menyerang kulit dan menimbulkan kegatalan. Pengobatan
dilakukan dengan mengerok bagian yang terserang ringworm, kemudian diolesi
salep sulfur dan disemprot limoxin. Pengobatan dilakukan tiga kali seminggu
dan sapi dipisahkan dengan sapi sehat agar tidak mewabah.
3. Bloat (Tympani)
Penyakit ini ditangani dengan mengisolasi ternak kemudian sapi diberi
obat tympanol dengan dosis 1 ml per 40 kg BB. Apabila tidak ada
perkembangan, maka yang dilakukan untuk menyembuhkannya dengan cara
menusuk perut sebelah kiri dengan cannula. Namun apabila dinilai kurang
ekonomis, maka sapi akan dijual untuk mengurangi dampak kerugian. Penyakit
ini menimbulkan beberapa gejala diantaranya gelisah, susah bernafas, timbul

33

pembengkakan di daerah perut sebelah kiri, susah berjalan, susah buang air besar
dan dapat menyebabkan kematian. Pada kasus kembung karena masalah rumen
fermentasi rumen, biasanya disebabkan oleh adanya penambahan konsentrat
dengan jumlah yang terlalu tinggi dalam pakan (Subronto, 2003).
4. Pincang
Pincang merupakan tanda-tanda adanya kesakitan didaerah ekstrimitas
(Sudarmono dan Sugeng, 2008). Sapi yang pincang mengalami perubahan fisik
yang dapat diamati, diantaranya sapi sering berbaring menyendiri dan tidak
nafsu makan. Pengobatan sapi dengan cara disuntik antibiotik limoxin serta pada
bagian yang luka disemprotkan gusanex dan yodium, jika dalam dua minggu
sapi tidak menunjukan tanda-tanda kesembuhan, maka sapi akan dijual atau
afkir. Jenis obat-obatan dan vitamin yang digunakan di PT Lembu Jantan
Perkasa dapat dilihat pada Lampiran 3.
III.3.3 Pemberian Identitas pada Ternak
PT Lembu Jantan Perkasa menggunakan identitas sapi dapat dikenali dari
eartag serta RF-ID yang dipasang di telinga sapi. Pemasangan ear tag digunakan
dengan mengguanakan suatu alat yaitu Aplikator yang berfungsi untuk menjepit
ear tag ke telinga sapi. Pada ear tag diberi nomor untuk tiap individu sapi dan
dengan adanya nomor tersebut kita dapat mengetahui karakteristik sapi seperti
berat awal, kapan sapi datang, bangsa dan umur sapi. Nomor telinga adalah salah
satu bentuk identifikasi diantara banyak cara dalam identifikasi ternak. Nomor
telinga ini bentuk yang popular,mudah dikenal dari jarak agak jauh (Purwanto dan
Zeni, 2003). Proses pemasangan ear tag dapat dilihat pada Gambar 7.
Keuntungan dari pengunaan ear tag antara lain mencegah terjadinya
tertukarnya nomor penandaan antara sapi yang satu dengan sapi yang lainnya.

34

Bersamaan dengan pemasangan ear tag, dilakukan juga penimbangan bobot


badan sapi jadi sapi dapat langsung dikelompokan menurut bobot badan.

Gambar 7 Pemberian Eartag pada Sapi


III.4

Kegiatan Penunjang
Kegiatan penunjang selama kerjaa praktik yang dilakukan di PT Lembu

Jantan Perkasa, antara lain :


III.4.1 Kunjungan ke Unit Pengolahan Limbah
Limbah terdiri atas dua jenis yaitu limbah cair dan padat. Limbah padat
dimasukkan ke dalam karung dan ditumpuk di saung pupuk untuk difermentasi
secara alami sehingga dapat langsung digunakan sebagai pupuk untuk kebun
rumput. Limbah yang sudah difermentasi selama 1-2 bulan dikemas dalam karung
berkapasitas 25-30 kg. Pupuk tersebut dijual dengan harga Rp 125,00/kg.
Limbah cair berasal dari feses, urin dan air bekas membersihkan kandang.
Limbah cair dialirkan ke tempat penampungan limbah atau holding pond,
kemudian dialirkan ke filtrasi pond untuk menyaring limbah padat dengan limbah
cair dan mengendapkan limbah padat. Limbah padat akan terbawa ke kolam
fakultatif dan mengendap atau yang disebut holding pond (gambar 8), sedangkan
limbah cair akan terus mengalir menuju kolam aerobic, lalu dialirkan ke sungai
dan sawah milik masyarakat di sekitar perusahaan, proses pembuatan limbah cair

35

dan padat bisa dilihat pada bagan dibawah. Limbah padat yang mengendap di
kolam filtrasi akan dimasukkan ke dalam karung untuk dikeringkan dan dijual
Rp125,00/kg. Menurut Kaharudin dan Farida (2010), kotoran ternak dapat
langsung digunakan untuk menghasilkan gas bio dan kemudian limbah padatnya
masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Biogas merupakan gas yang
dihasilkan dari proses fermentasi tertutup bahan-bahan organik termasuk kotoran
ternak, tetapi di PT Lembu jantan perkasa sendiri belum diterapkan pembuatan
biogas.

Gambar 8 Holding pon


Feses Sapi
Feses Sapi yang berasal
dari kandang terbuka

Feses Sapi yang


berasal dari kandang
tertutup

Ditampung pada tempat limbah yang berbeda

Limbah Cair

Limbah Padat

Bagan Proses Pengolahan Limbah

36

III.4.2 Kunjungan ke Rumah Potong Hewan


Rumah potong hewan yang dikunjugi adalah RPH Cilegon. RPH Cilegon
adalah salah satu RPH yang telah diaudit dan mendapatkan izin untuk melakukan
pemotongan sapi-sapi yang berasal dapi PT Lembu Jantan Perkasa. Proses
pemotongan sapi dapat dilihat dalam Gambar 9.

Gambar 9 Proses Pemotongan Sapi


Proses pemotongan sapi diawali dengan cara pemingsanan (stunning),
kemudian disembelih dan memisahkan bagian karkas dan non karkas, hingga
akhirnya diperoleh daging sapi yang siap dipasarkan. Peralatan yang digunakan
dalam proses pemotongan meliputi kandang jepit, pisau dan pengasah,
pneumatic/hand stuner dan peluru, serta trolley. Daging-daging yang dihasilkan
akan dipasarkan pada hari itu juga sehingga kesegaran daging-daging tersebut
tetap terjaga.
RPH ini melakukan pemotongan sapi-sapi hasil penggemukan maupun
sapi Slaughter, akan tetapi, kebanyakan pembeli dan penjagal kurang menyukai
sapi-sapi slaughter karena dianggap memiliki proporsi daging yang lebih sedikit
dan lebih benyak menghasilkan lemak dan tulang terutama pada bagian kepala

37

dan kaki, hal ini dapat disebabkan karena umur yang sudah terlalu tua serta waktu
yang lama dipeternakan sehingga pertumbuhannya lebih banyak menghasilkan
lemak. Hafid dan Priyanto (2006) menyatakan bahwa bagian tubuh yang paling
lambat bertumbuh adalah bagian pinggang (loin) sedang yang paling awal
bertumbuh adalah bagian tungkai kaki dan kepala (cranium). Sapi yang akan
dipotong, terlebih dahulu dicatat nomor telinganya dalam catatan harian.
III.4.3 Kegiatan Penunjang Lainnya
Kegiatan penunjang lainnya yang dilakukan pada saat praktik kerja yaitu
melakukan diskusi dengan manager, asisten manager dan karyawan. Materi yang
didiskusikan adalah kegiatan rutin dan insidental serta faktor-faktor yang terkait
dalam pemeliharaan sapi di PT Lembu Jantan Perkasa serta melengkapi data-data
yang belum dapat ditemukan dilapangan. Data-data yang di diskusikan yaitu
berupa sejarah PT Lembu Jantan Perkasa, stuktur organisasinya dan deskripsi
pekerjaan yang di setiap tingkatannya.
III.5

Analisis Ekonomi
Perhitungan analisis kelayakan usaha pada laporan praktik kerja yang

dihitung hanya usaha penggemukan sapi saja. Perhitungan dikerucutkan pada sapi
impor yang dikelompokan pada satu kanndang dan sudah datang pada bulan
Desember 2013 yang merupakan sapi tertua dan siap jual pada saat praktik kerja.
Perhitungan analisis kelayakan yang lebih rinci disediakan pada Lampiran 5
dengan berbagai asumsi sebagai berikut:
1.

Lahan yang digunakan merupakan tanah milik perusahaan sehingga tidak

2.

membutuhkan biaya sewa.


Sapi bakalan yang dipelihara yaitu sapi impor (BX) berjumlah 493 ekor, rata-

38

rata beratnya 295 kg dengan harga Rp 36.000,00 (tiga puluh enam ribu

3.

rupiah) per kg bobot badan hidup.


Sapi dijual secara bertahap, mulai dijual pada umur pemeliharaan 35 hari
sampai 85 hari sehingga dirata-rata umur pemeliharaan 60 hari dengan rataan
pertambahan bobot badan (average daily gain) sebesar 1,9 kg sehingga
selama pemeliharaan mendapatkan pertambahan bobot badan 144 kg/ekor
dan sapi dijual dengan bobot badan rata-rata 439 kg. Harga pada saat
penjualan sebesar Rp 38.000,00 (tiga puluh delapan ribu rupiah) per

4.

kilogram.
Kandang yang dibutuhkan 2,5 m2/ekor x 493 ekor ditambah dengan jalan
selebar 3 meter untuk akses kendaraan pengangkut pakan dan kotoran

5.

6.

sehingga luasnya 2400 m2 dengan biaya pembuatan kandang 250.000,00/m2.


Penyusutan kandang dihitung 20% per tahun dengan demikian selama
pemeliharaan menanggung beban penyusutan sebesar 3,33%.
Pakan diperlukan untuk 493 ekor selama 60 hari pemeliharaan adalah
Konsentrat 10 kg per ekor dengan harga Rp 2.800,00 (dua ribu delapan ratus
rupiah) per kilogram,
Rumput 3 kg per ekor dengan harga Rp 150,00 (seratus lima puluh rupiah)
per kilogram,
Molasses 0,75 kg per ekor dengan harga Rp 2.000,00 (dua ribu rupiah) per

7.

kilogram.
Sapi juga membutuhkan obat-obatan dan penanganan lain seharga Rp

8.

10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) per ekor.


Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 7 orang dan 1 orang staff dengan gaji

9.

per bulan masing-masing Rp 2.300.000,00 (dua juta tiga ratus ribu rupiah)
dan Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah).
Dibutuhkan peralatan seperti sapu, sikat, selang, sekop, arit, gancu, dan lain-

10.

lain seharga Rp 1.920.000,00 (satu juta sembilan ratus ribu rupiah) dengan
umur pemakaian 6 bulan.
Selama pemeliharaan sapi menghasilkan kotoran sebanyak 9860 kg yang
dapat dijual dengan harga Rp 250,00 (dua ratus rupiah) per kilogram.

39

Biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan untuk sarana produksi


dapatberkali-kali dapat dipergunakan. Biaya tetap antara lain berupa lahan usaha,
kandang, peralatan yang digunakan dan sarana transportasi (Siregar, 2008).
Bahkan bila untuk sementara waktu produksi dihentikan biaya tetap ini tetap
harus dikeluarkan dalam jumlah yang sama. Biaya tetap yang dikeluarkan PT
Lembu Jantan Perkasa antara lain penyusutan kandang, sewa kendaraan, sewa
kandang dan peralatan. Total biaya tetap yang dikeluarkan oleh PT Lembu Jantan
Perkasa adalah sebesar Rp 60.756.000,00 (enam puluh juta tujuh ratus lima puluh
enam ribu rupiah).
Biaya variabel adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan
faktor-faktor produksi variabel suatu proses produksi, besarnya biaya ini
tergantung dari jumlah produksi yang akan dihasilkan. Biaya variabel jumlahnya
dapat berubah-ubah sesuai hasil produksi dan harga dipasaran pada waktu itu.
Biaya yang dapat berubah-ubah antara lain berupa biaya pakan, upah tenaga kerja,
penyusutan peralatan dan biaya lain yang berupa penerangan/listrik, sumbangan,
pajak usaha dan iuran (Sudarmono dan Sugeng, 2008). Biaya variabel yang
dikeluarkan PT Lembu Jantan Perkasa dipengaruhi oleh biaya pembelian ternak,
biaya pembelian bahan pakan, dan biaya operasional lainnya. Total biaya variabel
yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 6.871.927.000,00 (enam milyar delapan ratus
tujuh puluh satu juta sembilan ratus dua puluh tujuh rupiah) per 60 hari masa
penggemukan.
Analisis break even point (BEP) adalah suatu teknik analisa diguanakan
untukmempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan, dan
volumekegiatan (Riyanto, 2001). Analisis break even point digunakan dengan
tujuan untuk mengetahui berapa minimal perusahaan harus menghasilkan dan

40

menjual produk agar minimal tidak menderita kerugian atau titik impas yaitu
untuk mengetahui keadaan suatu perusahaan tidak memperoleh laba dan juga
tidak memperoleh kerugian.
Perhitungan break even point PT Lembu Jantan Perkasa didasarkan atas
penjualan dalam rupiah dan dalam produk. Dilihat dari jumlah seluruh
penerimaan break even point dicapai pada tingkat hasil penjualan produksi sebesar
Rp.550.825.023,00 (lima ratus lima puluh juta delapan ratus dua puluh lima ribu
dua puluh tiga rupiah)dan BEP dalam produk sebesar 14.496,779 kg produk atau
jika diubah kedalam ekor maka dibutuhkan 43 ekor sapi dengan bobot rata-rata
350 kg per ekornya.
Salah satu cara untuk mengetahui keberhasilan suatu kegiatan usaha
adalah dengan cara melakukan perhitungan efisiensi. Efisiensi ekonomi dapat
dilihat dari sudut biaya yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan usaha dan
dari jumlah modal yang dibutuhkan untuk membelanjakan kegiatan usaha. Jumlah
penerimaan dapat digunakan untuk menentukan keuntungan. Keuntungan adalah
selisih antara penerimaan total dengan biaya-biaya yang dikeluarkan. PT Lembu
Jantan Perkasa mendapat keuntungan sebesar Rp 1.294.008.000,00 (satu milyar
dua ratus sembilan puluh empat juta delapan ribu rupiah) per 2 bulan.
Besarnya perhitungan Return Cost Ratio yaitu 1,18 yang berarti dari biaya
biaya yang digunakan sebesar Rp 100,00 memperoleh penerimaan sebesar Rp
118,00. Return Cost Ratio merupakan perbandingan antara penerimaan dengan
pengeluaran yang menunjukan penerimaan untuk setiap satu rupiah. Sesuai
dengan pendapat Riyanto (2001) bahwa tingkat keuntungan relatif dapat diukur
dengan analisis imbangan penerimaan dengan biaya atau anlisis R/C ratio.

41

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh angka efisiensi 1,18. Angka tersebut


berarti perusahaan tersebut sudah efisien dalam penggunaan biaya.
Rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan
laba selama periode tertentu. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh angka
rentabilitas sebesar 17,2 % per dua bulan dan 8,6 % perbulannya, berarti modal
yang digunakan untuk menjalankan usaha efisien dibandingkan jika modal
disimpan di Bank yang saat ini bunga modalnya hanya 6 % pertahun.

42

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1Kesimpulan
1. PT Lembu Jantan Perkasa merupakan salah satu perusahaan peternakan sapi
potong yang bergerak dibidang fattening, breeding, dan trading.
2. Sapi bakalan yang digemukkan di PT Lembu Jantan Perkasa yaitu Brahman
Cross (BX) yang berasal dari Australia, dengan bobot awal rata-rata 250kg dan
umur 1,5-2 tahun.
3. Kegiatan yang diperlakukan pada sapi yang digemukkan sampai siap jual yaitu
meliputi timbang bobot badan, pemberian eartag dan pemeliharaan.
4. Kegiatan yang dilakukan di unit fattening sudah baik dilihat dari penanganan
sapi dari datang sampai siap jual sudah sesuai dengan average daily gain yang
tinggi mencapai 1,9 kg.
5. Pemberian air minum dan pakan di PT Lembu Jantan Perkasa sudah
mencukupi kebutuhan ternak bahkan terjadi kelebihan PK 0,37 kg BK 1,6 kg
dan TDN 1,65 kg.
6. Penanganan kesehatan sapi di PT Lembu Jantan Perkasa yaitu dengan
memeriksa setiap sapi pada pagi dan siang hari, jika terdapat sapi sakit maka
akan diisolasi ke hospital pen dan memberikan obat yang sesuai dengan
penyakitnya. Pencegahan penyakit di PT Lembu Jantan Perkasa yaitu dengan
cara membersihkan kandang, membersihkan bak pakan dan membersihkan bak
minum setiap hari.
7. PT Lembu Jantan Perkasa memiliki keuntungan sebesar Rp 1.294.008.000,00
(satu milyar dua ratus sembilan puluh empat juta delapan ribu rupiah) per 2
bulan. R/C ratio 1,18 yang berarti sudah efisien dalam penggunaan dana. Serta

43

nilai rentabilitas sebesar 17,2 % per dua bulan, dan perbulannya 8,6 % yang
berarti modal yang digunakan usaha lebih efisien dibanding jika modal
disimpan di bank dengan bunga modal 6 % pertahun, dengan BEP produk
14.496,779 kg dan BEP rupiah Rp 550.825.023,00 (lima ratus lima puluh juta
delapan ratus dua puluh lima ribu dua puluh tiga rupiah).
IV.2Saran
1. Biosecurity harus lebih diperhatikan dengan mencegah sembarangan orang
masuk ke dalam peternakan dan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya
penyakit yang menular dan berbahaya yang berasal dari manusia.
2. Perlengkapan untuk cleaning pen sebaiknya ditambah dan bila perlu diberi
selang air untuk memudahkan pengerjaan pembersihan kandang.
3. Limbah kotoran ternak perlu diolah lebih lanjut, tidak hanya untuk pupuk
kandang tetapi dapat untukmembuat biogas sehingga dapat menjadi
penghasilan tambahan serta bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

44

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, Hood. 2006. Dasar-dasar Ilmu Penyakit. Airlangga University Press.


Surabaya.
Budiman, Soetrisno, R. D., Budhi, S. P. S., dan Indrianto, A. 2012.
Morphological Characteristics, Productivity And Quality Of Three Napier
Grass (Pennisetum Purpureum Schum) Cultivars Harvested At Different
Age. Jurnal Indonesian Trop. Anim. Agric. 37(4)
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung.2010. Budidaya Rumput
Taiwan (Pennisetum purpureum schumach). Bandar Lampung, Dinas
peternakan dan kesehatan hewan bidang produksi peternakan
Firdausi, Ardhina, T. Susilawati, M. Nasich dan Kuswati. 2012. Pertambahan
Bobot Badan Harian Sapi Brahman Cross pada Bobot Badan dan Frame
Size yang Berbeda. Jurnal Ternak Tropika Vol. 13, No.1:48-62, 2012
Hafid, H. dan H. Priyanto. 2006. Pertumbuhan dan Distribusi Potongan
Komersial Karkas Sapi Australian Commercial Cross dan Brahman Cross
Hasil Penggemukan. Jurnal Media Peternakan Vol 29 No. 2
Ibrahim, R.M, D. E. Goll dan J. A. Marchello. 2008. Effect of two dietary
concentrate levels on tenderness, calpain and calpastatin activities, and
carcass merit in Waguli and Brahman steers. Tucson. Jurnal Animal
Science 86 : 1426-1433
Kaharudin dan Farida, S. M. 2010. Petunjuk Manajemen Umum Limbah Ternak
untuk Kompos dan Biogas. Balai Pengkajian Teknologi Peternakan Nusa
Tenggara Barat. Mataram.
PT Lembu Jantan Perkasa. 2014. Manajemen Pemeliharaan Sapi Potong. PT LJP.
Serang Banten
Purwanto, J. D. dan Zeni.2003. Pemasangan Penandaan pada Ternak yang Benar.
Erlangga. Jakarta.
Rasyid, Ainur dan Hartati. 2007. Petunjuk Teknis Perkandangan Sapi Potong.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Riyanto, B. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Cetakan kedua.
BPFE. Yogyakarta
Santosa, U. 2000. Tatalaksana Pemeliharaan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sarwono, B dan H. B. Arianto. 2008. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat.
Penebar Swadaya. Jakarta.

45

Siregar, S. B. 2008. Penggemukan Sapi. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.


Sodiq, M. dan Machfudin, B. 2012. Produktivitas Sapi Potong pada Kelompok
Tani Ternak di Pedesaan. Purwokerto, Jurnal Agripet : Vol (12) No. 1:
28-33.
Soeharsono. 2005. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Kanisius.
Yogyakarta.
Soeprapto, H dan Z. Abidin. 2006. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong.
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia I). Edisi Kedua. UGM Pers.
Yogyakarta
Sudarmono, A. S. dan Sugeng, B.Y. 2008. Sapi Potong. Cetakan II. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Syafrial, E. Susilawati dan Bustami. 2007. Manajemen Pengelolaan
Penggemukan Sapi Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi.
Samarinda.
Syariffudin, N. A, dan Anis, W. 2011. Peningkatan Reproduksi Sapi Induk
Brahman Cross Post Partum dengan Pemberian Pakan Suplemen
Multinutrient Block Plus Medicated. Banjarbaru, Jurnal Ilmiah Aplikasi
Isotop dan Radiasi ISSN 1907-0322.

46

LAMPIRAN
Lampiran 1. Denah Lokasi PT Lembu Jantan Perkasa
26
25

24

23

22

21

30

30

30

31

32
20

31

31

20

34

19

20

33

18

20

13

16

4
15
5

14

12
10

6
3
2

28

17

47

Keterangan
1. Kantor Utama PT Lembu
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

JAntan Perkasa
Pos Satpam
Kantin
Gudang pakan A
Kantor bagian feedmeal
Toilet
Tempat chopper hijauan
Mushola
Mess Tamu dan mahasiswa

PKL
10. Timbangan
11. Bengkel
12. Gudang pakan B
13. Cattle yard fattening
14. Kandang A
15. Kandang B
16. Kandang C
17. Kandang D
18. Kandang E
19. Kandang F
20. Kandang G
21. Cattle yard breeding
22. Kandang I
23. Kandang J
24. Kandang K
25. Kandang L
26. Mess Karyawan
27. Mess Supervisor serta kepala
unit fattening dan breeding
28. Mess General Manager
29. Lorong Kandang H
30. Kandang H
31. Hospital Pen
32. Tempat Untuk IB
33. Laboratorium
34. Cattle yard Hospital Pen

Lampiran 2. Struktur Organisasi PT Lembu Jantan Perkasa


Direktur Utama
Jois Gunawan
Direktur Pemasaran
Ir.Mardiato Wibowo

Direktur Operasional
Ir.H.Budi R

Direktur Keuangan
Arie S.

General Manager
Sid Zulvalutfi

Farm Manager
Sutrisna

Supervisor Livestock
Aziz M
Slamet Riyadi
Lukmanul Hakim

Karyawan

Keuangan dan Administrasi


Fian S
Baharudin
Umumrumah tangga
Yatin
Kesehatan Hewan
Drh. Putut M

Lampiran 3. Evaluasi Kecukupan Pakan


TABEL NRC (lbs)

Analisi Proksimat Konsentrat di PT Lembu Jantan Perkasa

Lama pemaliharaan
1
2
4
6
9
14
18
>21

Target
intake
(kg)
15
14
14
14
14
14
13
12

BK (%)
67,77
69,36
71,84
73,80
76,82
79,11
81,24
84,90

PK (%)

ME Mcal/kg

LK (%)

6,68
1,49
1,46
7,18
1,53
1,66
8,85
1,68
1,88
9,60
1,83
2,12
10,82
2,05
2,53
11,82
2,21
2,76
12,84
2,36
3,10
13,72
2,62
3,78
Sumber PT Lembu Jantan Perkasa (2014)

SK (%)

TDN (%)

Lignin (%)

32,62
31,21
29,20
27,57
25,03
23,28
21,44
18,56

41,90
43,43
46,72
49,82
54,48
57,82
61,03
66,55

5,68
5,43
5,05
5,05
4,73
4,50
4,24
4,22

Umur Pemeliharan 35 hari


Rataan bobot badan kandang F 312 kg = 693 lbs = 700 lbs
PBBH 1,9 kg = 2 kg = 1 lbs
KEBUTUHAN
BK

=15.8 lbs

TDN = 9 %
PK

= 26 %

PEMBERIAN
Total konsumsi pakan 12 kg
Pemberian hijaun

= 12.20%
= 12,2/100x12 kg
= 1, 5 kg

Pemberian konsentrat = 81.30%


= 81,30%x12 kg
= 10 kg
Pemberian molasses = 6.50 %
= 6,50/100x12 kg
= 0.5 kg
Jumlah pemberian hijauan
BK

= 21 % X 1.5 kg

= 0.35 kg

PK

= 8.3 % X 0.35 kg

= 0.02905 kg

TDN = 50 % X 0.35 kg

= 0.175 kg

Jumlah pemberian konsentrat


BK

= 84,9% X 10 kg

= 8,49 kg

PK

= 13,72% X 8,49 kg = 1,164 kg

TDN = 66,5% X 8,49 kg

= 5,65 kg

Jumlah pemberian tetes tebu


BK

= 82,4%X 0,78 kg

= 0,64 kg

PK

= 3,94%X 0.64 kg

= 0,025 kg

TDN = 70,7%X 0,64 kg

TOTAL PEMBERIAN
BK

= 9,5 kg

PK

= 1, 30 kg

TDN = 6,30 kg

= 0,45 kg

Lampiran 4. Ukuran dan Kapasitas Kandang


Kandang
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
Weaner
Hospital
pen

Keterangan
Kandang penggemukan
siap jual heifer lokal
Kandang penggemukan
siap jual steer dan heifer
Kandang penggemukan
siap jual steer dan heifer
Hospital penfattening
Kandang karantin dan
penggemuukan
Kandang karantina dan
penggemukan
Kandang karantina dan
penggemukan
Kandang weaner, calon
bibit dan dry cow
Kandang sapi bunting tua
dan melahirkan
Kandang sapi bunting dan
bull
Kandang penggemukan
heifer lokal
Kandang sapi bunting dan
penggemukan ex-breeding
Kandang weaner umur 2-3
bulan
Kandang pemeliharaan
sapi sakit dan melahirkan
abnormal

Ukuran kandang
(m2)
2.229,29
3.064,79
2.490,94
1.800,96
2.309,58
2.228,19
3.381,20
4.797,64
2.265,40
2.237,20
2.237,20
2.265.40
821,44
223,73

Daya tampung
sapi (ekor)
500 (10 pen x 50
ekor/pen)
700 (14 pen x 50
ekor/pen)
600 (12 pen x 50
ekor/pen)
400 (8 pen x 50
ekor/pen)
500 (10 pen x 50
ekor/pen)
500 (10 pen x 50
ekor/pen)
500 (10 pen x 50
ekor/pen)
200 (8 pen x 25
ekor/pen)
360 (12 pen x 30
ekor/pen)
360 (12 pen x 30
ekor/pen)
600 (12 pen x 50
ekor/pen)
360 (12 pen x 30
ekor/pen)
360 (24 pen x 15
ekor/pen)
20 (2 pen x 10
ekor/pen)

Lampiran 5. Obat dan Vitamin yang digunakan di PT Lembu Jantan


Perkasa
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Obat
Antibiotic Limoxin La 500 ml
Glucortin
Biosan stamina
Ampoprim
Injectamin
Antibiotic spray
Limoxin spray
Kana Solution
Gusanex
Iodium
Aquades
Draxxin
Tympanol
Norbrook Opticlox Eye Ointment
Wonder vit B1

Kegunaan
Antibiotik
Anti radang
Obat penguat (penambah energi)
Mengobati diare dan retensio
Multivitamin
Antiseptix semprot
Obat luka
Antibiotik
Obat lalat
Obat antiseptic
Membersihkan luka
Obat pneumonia
Obat kembung
Obat mastitis
Vitamin

Lampiran 6. Perhitungan Analisis Ekonomi di PT Lembu Jantan Perkasa


tahun 2014
Tabel Penyusutan peralatan di PT Lembu Jantan Perkasa
No

Nama Alat

1
2
3
4.
5.
6
7
8
9
10
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Sekop
Lori
Ember
Cattle Talker
Sapu
Sikat
Selang
Gancu
Gerobak
Alat cleaning
Lampu
Gayung
Keran air
Kuas
Arit
notel reader
Suntikan
Timbangan
Papan

Unit
4
2
4
4
3
4
2
7
2
2
10
2
10
2
4
1
2
1
10

recording

Nilai Baru
(Rp)
200.000
250.000
30.000
40.000
30.000
20.000
20.000
70.000
300.000
80.000
20.000
10.000
125.000
12.000
32.000
450.000
40.000
150.000
41.000
1.920.000

Nilai Sisa
(Rp)
16.000
10.000
4.000
6.000
6.000
4.000
6.000
14.000
15.000
4.000
5.000
1.000
20.000
1.000
8.000
30.000
1.000
23.000
20.000

Umur
(bulan)
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6

Penyusutan
(Rp)
30.667
40.000
4.333
5.667
4.000
2.667
2.333
9.333
47.500
12.667
2.500
1.500
17.500
1.833
4.000
70.000
6.500
21.167
3.500
287.667

Biaya Investasi
kandang kapasitas 500 ekor

= Rp

600.000.000,00

pembelian peralatan (sekop, ember, lori, dll)

= Rp

1.920.000,00

Total Biaya Investasi

= Rp 601.920.000,00
(enam ratus satu juta
sembilan ratus dua puluh
ribu rupiah)

Penyusutan Pertahun
Kandang

20% x Rp 600.000.000,00 : 12

= Rp

9.990.000,00

Peralatan

2 x Rp 287.667,00

= Rp

576.000,00

Penyusutan Perperiode
Kandang

3,33 % x Rp 600.000.000,00

= Rp

19.980.000,00

Peralatan

2 x Rp 287.667

= Rp

576.000,00

Tenaga kerja 7 orang x 2 bulan x Rp 2.300.000,00 = Rp

32.200.000,00

Upah Tenaga Kerja Tetap

Supervisor 1 orang x 2 bulan x Rp 3.000.000,00

= Rp

6.000.000,00

Total upah tenaga kerja

= Rp 38.200.000,00
(tiga puluh delapan juta
dua ratus ribu rupiah)

Biaya Tetap
Penyusutan kandang

= Rp 19.980.000,00

Penyusutan peralatan

= Rp

576.000,00

Upah tenaga kerja

= Rp

38.200.000,00

Retribusi pajak air 2 bulan dll

= Rp

2.000.000,00

Total biaya tetap

= Rp 60.756.000,00
(enam puluh juta tujuh
ratus lima puluh enam ribu
rupiah)

Biaya Variabel
sapi bakalan BX 493 ekor x 337 kg x Rp 36.000

= Rp 5.981.076.000,00

pakan hijauan 3 kg x 493 ekor x 60 hari x Rp 150

= Rp

13.311.000,00

konsentrat 10 kg x 493 ekor x 60 hari x Rp 2800

= Rp

828.240.000,00

molasses 0,75 kg x 493 ekor x 60 hari x Rp 2000

= Rp

44.370.000,00

obat-obatan dll 493 ekor x Rp 10000

= Rp

4.930.000,00

Total Biaya Variabel

= Rp 6.871.927.000,00
(enam milyar delapan ratus

tujuh puluh satu juta


sembilan ratus dua puluh
tujuh rupiah)
Total Biaya Produksi

= Biaya Variabel + Biaya Tetap


= Rp 6.871.927.000,00 + Rp 60.756.000,00
= Rp 6.932.683.000
(enam milyar sembilan ratus tiga puluh dua juta
enam ratus delapan puluh tiga ribu rupiah)

Penerimaan
penambahan bobot badan harian 1,9 kg x 60 hari

= 144 kg

rata-rata bobot jual 295 kg + 144 kg

= 439 kg

hasil penjualan sapi 493 ekor x 439 kg x Rp 38.000 = Rp 8.224.226.000,00


penjualan kotoran 9.860 kg x Rp 250,00

Total Penerimaan

= Rp

2.465.000,00

= penjualan sapi + penjualan feses


= Rp 8.224.226.000,00 + Rp 2.465.000,00
= Rp 8.226.691.000,00
(delapan milyar dua ratus dua puluh enam juta
enam ratus sembilan puluh satu ribu rupiah)

Pendapatan = Penerimaan Total biaya


= Rp 8.226.691.000,00 - Rp 6.932.683.000,00
= Rp 1.294.008.000,00
(satu milyar dua ratus sembilan puluh empat juta delapan ribu
rupiah)

= 1,18

= 17,2 %
Break Even Point (BEP)

=Rp 33.809,00

= 14.496,779 kg

= Rp 550.825.029,00

Lampiran 7 Jadwal Kegiatan Harian di PT Lembu Jantan Perkasa

No.
Waktu (WIB)
1.
06.00-07.00
2.
07.00-08.00
3.

08.00-10.00

5.
6.
7.
8.

10.00-11.00
11.00-12.00
12.00-13.00
13.00-16.00

Kegiatan
Pemberian pakan dan air minum
Pemberian pakan dan air minum, Pengecekan
kesehatan sapi
Pemberian pakan dan air minum, Pengecekan
kesehatan sapi, Pembersihan kandang
Pengecekan kesehatan sapi, Pembersihan kandang
Pembersihan kandang
Istirahat
Pemberian pakan dan air minum, Pengecekan
kesehatan sapi, Pembersihan kandang

Lampiran 8 Pertambahan Bobot Sapi Umur Pemeliharaan 35 Hari

No

Kandang
Pen

Populasi
(ekor)

Rataan
bobot awal
(kg)
271
270
235
254
238
234
239
230
233
243

Rataan bobot akhir (35hari)


(kg)

PBBH
(kg/hari)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

FI
F2
F3
F4
F5
F6
F7
F8
F9
F10

41
56
60
41
57
58
56
60
53
43

343
353
309,5
326
321
346
290,5
301
298
345

1,7
1.5
1.2
1.75
1,5
2,1
0,9
1,18
1,2
2,3

Jumlah

2242,7

2871

18.5

rata-rata

242.7

288,1

1.85

Simpang baku

15,1

22,7