Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Darah merupakan gabungan dari cairan, sel -sel dan partikel yang menyer upai
sel, mengalir dalam arteri menuju kapiler dan dilanjutkan ke vena, mengirimkan
oksigen dan zat-zat gizi ke jaringan sebagai penghasil energi dan membawa
karbondioksida serta limbah lainnya masuk ke jaringan ekskresi untuk dibuang, seperti
keringat. ( Wikipedia, 2009 )
Tubuh manusia tersusun dari milyaran sel darah yang memiliki peranan
penting dalam proses metabolisme. Terdapat tiga tipe sel da rah pada manusia, sel
darah merah yang merupakan jumlah sel darah terbanyak, sel darah putih, dan
trombosit, masing-masing memiliki fungsi dan jumlah berbeda dalam tubuh.
Tes laboratorium yang paling umum adalah hitung darah lengkap (HDL) atau
complete blood count (CBC), yang merupakan penilaian dasar dari komponen sel
darah. Selain untuk menentukan jumlah sel darah dan trombosit, prosentase dari setiap
jenis sel darah putih dan kandungan hemoglobin, hitung jenis sel darah biasanya
menilai ukuran dan bentu k dari sel darah merah. Dengan mengetahui bentuk atau
ukuran yang abnormal dari sel darah merah, bisa membantu mendiagnosis suatu
penyakit. Selain itu pemeriksaan darah lengkap mampu mendeteksi berbagai macam
gangguan yang bermanifestasi di dalam darah, ol eh karena itu pemeriksaan ini
biasanya menjadi rangkaian pemeriksaan awal saat pasien berobat di rumah sakit.

Selain sebagai pemeriksaan awal, hitung darah lengkap juga kerap dilakukan pada
pemeriksaan rutin atau medical check-up. ( Wikipedia, 2009 )
Jika pemeriksaan membutuhkan darah atau plasma, spesimen harus
dikumpulkan dalam sebuah tabung yang berisi antikoagulan. Antikoagulan adalah zat
yang mencegah penggumpalan darah dengan cara mengikat kalsium atau dengan
menghambat pembentukan trombin yang diperl ukan untuk mengkonversi fibrinogen
menjadi fibrin dalam proses pembekuan. Spesimen -antikoagulan harus dicampur
segera setelah pengambilan spesimen untuk mencegah pembentukan microclot.
Pencampuran yang lembut sangat penting untuk mencegah hemolisis. ( Wikipedia,
2009 )
Untuk pemeriksaan sediaan hapus darah tepi, sebaiknya menggunakan darah
dengan antikoagulan EDTA. ( R.Gandasoebrata, 2007 ) Pemeriksaan yang mema kai
darah EDTA sebaiknya segera dilakukan karena eritros it akan membengkak dan
trombosit dapat mengalami disintegrasi bila pemeriksaan terlalu lama ditunda. Kalau
terpaksa ditunda sebaiknya diperhatikan batas waktu yang masih diperbolehkan, yaitu
sebelum 2 jam. ( Arjatmo Tjokronegoro dan Hendra Utama, 1996 )
Namun faktanya, sekarang tidak jarang di beberapa rumah sakit pengambilan
sampel dilakukan oleh perawat, baru kemudian dikirim ke laboratorium. Atau karena
banyaknya pasien, sehingga pemeriksaan tertunda dan b atas waktu pemeriksaan
sampel pun kurang diperhatikan, terkadang lebih dari 2 jam. Akiba tnya pemeriksaan
harus ditunda dan hal ini dapat mempengaruhi hasil akhir pada pembacaan preparat
hapus darah tepi.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka timbul permasalahan, Bagaimana morfologi
eritrosit pada apusan darah EDTA berdasarkan waktu penyimpanan sampel selama 0
jam, 1,5 jam, 3 jam, 4,5 jam?.

C. Tujuan
Untuk mengetahui perbandingan morfologi eritrosit pada apusan darah EDTA
berdasarkan waktu penyimpanan sampel selama 0 jam, 1,5 jam, 3 jam, 4,5 jam.

D. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada
para petugas kesehatan, khususnya kepada analis yang bekerja di laboratorium, untuk
lebih memperhatikan waktu penyimpanan sampel supaya dapat memberikan hasil
pemeriksaan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Anda mungkin juga menyukai