Anda di halaman 1dari 4

PROGRAM KENDALI MUTU PERALATAN IMEJING RADIOLOGI COMPUTED

EVALUASI PARAMETER PENGUKURAN/PENGUJIAN QUALITY CONTROL MRI

Tugas Mata Kuliah

: Jaminan Mutu Radiologi Lanjut

Dosen Pengampu

: Gatot Murti Wibowo, S.Pd., M.Sc

Oleh :
AZLAN YAZID

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK RADIOLOGI


JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PROGRAM ALIH JENJANG TA. 2015/2016

PROSEDUR QC MRI
Prosedur QC Hitachi MRI Airis II 0,3 T Open Gantry, Akuisisi citra dengan parameter akuisisi
sagittal T2, TR 200 ms dan TE 20 ms, NEX 1. Irisan sebanyak 11 slice dengan FOV 25 cm,
slice thickness 5 mm, slice gap 5 mm,TR 500 ms dan TE 20 ms, NEX 1.
Hasil pengujian/pengukuran terhadap Hitachi MRI Airis II 0,3 T
1. Signal to Noise Ratio
Signal to Noise Ratio (SNR) merupakan hal yang paling penting sebagai perbandingan
amplitudo dari signal yang diterima oleh coil dengan amplitudo dari noise. Jika signal yang
sebenarnya relatif lebih kuat dari pada noise maka SNR akan meningkat, dan kualitas
gambar akan lebih baik.
Parameter yang dapat mempengaruhi SNR yang mempengaruhi operator untuk
mengatur atau memilihnya adalah volume voxel, jenis pulsa sekuens, NEX/NSA, jumlah
phase-encoding (PE), jumlah sampel data, bandwidth. Optimisasi dari parameter tersebut
dapat dilakukan untuk mendapatkan citra MRI yang lebih bagus.
Metode pengukuran SNR menggunakan phantom, membuat ROI pada citra phanatom 75
% luas phantom, dan empat ROI diluar citra yang ditempatkan pada posisi jam 12,3,6,9.
Dari hasil evaluasi pesawat MRI Hitachi Airis II 0,3 T tidak memenuhi standar SNR yang
ditetetapkan oleh standar internasional maupun standar pabrikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi SNR tidak memenuhi standar hal ini disebabkan karena
komponen hardware dalam MRI.
Hardware dari komponen MRI semisal adalah magnet utama, shim coil, gradient coil,
RF coil ataupun dari komputer. Apabila hardware tidak terawat dan terkalibrasi dengan
baik, maka kemungkinan kekuatan medan magnet yang dihasilkan dan tingkat
homogenitas magnet akan menurun. Sehingga sinyal akan menurun. Sinyal berhubungan
dengan kekuatan medan operasional system dan meningkat sejalan dengan aktivitas
perubahan energy pada atom / inti hidrogen. Sinyal berasal dari spin yang tereksitasi
sebagai bagian dari proses pemilihan irisan dan dari komponen pada sumbu x dan y.
Apabila penurunan sinyal tidak dibarengi dengan penurunan noise, maka SNR juga akan
menurun.
Kuat medan magnet juga mempengaruhi SNR, Kekuatan medan magnet luar (magnet
pesawat MRI) mempengaruhi jumlah proton-proton bebas yang membentuk jaringan
magnetisasi (proton-proton parallel yang tidak memiliki pasangan anti parallel). Semakin
besar kekuatan medan magnet utama maka semakin besar pula jumlah proton-proton
bebas yang membentuk jaringan magnetisasi sehingga secara keseluruhan akan
memberikan akumulasi signal yang semakin besar pula. Pada pengukuran/pengujian SNR

menggunakan MRI 0,3 tesla, termasuk tesla rendah (low field tesla), sehingga signal yang
dihasilkan relative kecil akibatnya SNR nya berkurang.
2. Artefact Analysis
Artefak adalah kesalahan yang terjadi pada gambar
Dengan mengamati ada/tidaknya distorsi, ghosting, streak, back/bright spot, bluring. Hasil
evaluasi pesawat MRI Hitachi Airis II 0,3 T memenuhi standart pengujian artefact analysis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya artefak pada citra MRI:

yang menurut jenisnya dapat terdiri dari : kesalahan geometric, kesalahan algoritma,

kesalahan pengukuran attenuasi.


Sedangkan menurut penyebabnya terdiri dari:
(a) Artefak yang disebabkan pergerakan physiologi, karena gerakan jantung, gerakan
pernapasan, gerakan darah dan cairan cerebrospinal, gerakan yang terjadi secara
(b)
(c)
(d)
(e)

tidak periodic seperti gerakan menelan, berkedip-kedip dan lain-lain.


Aretefak yang terjadi karena perubahan kimia dan pengaruh magnet.
Artefak yang terjadi karena letak gambaran tidak pada tempat yang seharusnya
Artefak yang terjadi akibat datagambaran yang tidak lengkap
Artefak system penampilan yang terjadi misalnya kerena perubahan bentuk

gambaran akibat factor kesalahan geometri, kebocoran dari tabir radiofrekuensi.


3. Geometric Accuracy
Tujuan pengukuran/pengujian geometric accuracy adalah untuk membandingkan hasil
ukuran jarak pada phantom dengan ukuran sebenarnya.
Dari hasil analisis pengukuran/pengujian geometric accuracy MRI Hitachi airis II 0,3 T tidak
memenuhi standar pengujian geometric accuracy.
Faktor
yang
menyebabkan
geometric
accuracy

tidak

memenuhi

standar

pengukuran/pengujian adalah gradient magnet yang tidak dikalibrasi secara optimal


sehingga mengakibatkan distorsi gambar. Hal ini disebabkan oleh bidang (x, y, dan z)
dalam gambar mengalami perubahan panjang dibandingkan dengan bidang yang
sebenarnya. Bandwidth yang sangat rendah selama akuisisi gambar yang digunakan untuk
meningkatkan SNR. Namun, dengan dengan menggunakan teknik ini menyebabkan
distorsi gambar dengan heterogenitas normal dari magnet utama.
4. Resolution
Faktor yang mempenagruhi resolusi dari image MRI yaitu kuat medan magnet utama
dan gradient serta komputer untuk menerima data dan menampilkannya pada monitor
dalam suatu matriks tertentu (misalnya monitor dengan matriks 512x512) akan
menentukan berapa ukuran terkecil suatu pixel, serta FOV (Field Of View) atau besar
ukuran yang hendak dilihat dalam satu scan.

Dari hasil analisis pengukuran/pengujian geometric accuracy MRI Hitachi airis II 0,3 T
tidak memenuhi standar pengujian resolution baik high contrast resolution maupun low
contrast resolution, hal ini disebabkan oleh kuat medan magnet MRI yang rendah (low
field tesla) serta gradient magnet yang tidak dikalibarasi dengan baik, atau juga pada
saat

pengukuran menggunakan FOV yang kecil serta computer yang digunakan

memiliki pixel
yang rendah.
5. Slice Thickness Accuracy
Ketebalan irisan (slice thickness) ditentukan oleh RF bandwidth yang diterapkan dan
gradient magnet slice-selektif.
Untuk dapat memberikan slice thickness, sebuah band dari inti atom hydrogen harus
sama dengan pulsa eksitasi. Lereng dari slice gradient yang dipilih menunjukkan
perbedaan dalam frekuensi presesi antara dua titik dalam gradient. Lereng gradient
yang curam menghasilkan perbedaan besar pada frekuensi presesi, sedangkan lereng
gradient yang landai menghasilkan perbedaan kecildalam frekuensi presesi antar dua
titik yang sama. Setelah gradient dengan kemiringan tertentu diterapkan, pulsa RF
ditransmisikan untuk merangsang slice sehingga slice akan berisi rentang frekuensi
yang digunakan untuk mencocokkan perbedaan dalam frekuensi presesi diantara
kedua titik. Rentang frekuensi ini disebut dengan bandwidth. Dan sebagai RF yang

ditransmisikan pada titik ini secara spesifik disebut dengan Transmit Bandwitdh.
Untuk menghasilkan slice thickness tipis, Bandwidth transmisi yang sempit
Untuk menghasilkan slice thickness yang tebal, gunakan Bandwidth transmisi yang
lebar
Dalam prakteknya, system secara otomatis MRI akan mengaplikasikan lereng gradient
dan mengirimkan bandwidth sesuai dengan ketebalan irisan yang diperlukan. Pada
pengujian MRI Hitachi Airis II ini, Slice Thickness accuracy masih dalam batas yang
boleh ditentukan menurut ACR, maka tidak ada masalah dalam penggunaan aplikasi
Gradient dan Sistem Pengiriman Bandwitdh pada pesawat MRI ini.