Anda di halaman 1dari 4

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk menentukan kadar parasetamol

dalam plasma dengan metode Chafetz (secara kolorimetri). Prinsip dari


kolorimetri adalah pengukuran absorbansi dari zat yang semula tak berwarna
diubah menjadi berwarna (direaksikan dengan zat tertentu) yang kemudian
diukur serapannya pada daerah tampak/visible (diantara 400-800 nm).
Pengukuran ini sendiri didasarkan pada hukum Lambert-Beer.
metode spektrofotometri masih sering digunakan di dalam laboratorium. Hal ini dikarenakan
metode ini relatif mudah, ekonomis, dan cepat dalam pengerjaannya (dibandingkan dengan
metode kromatografi). Metode kolorimetri untuk parasetamol atau yang dikenal dengan metode
Chafetz merupakan salah satu metode penetapan kadar parasetamol secara spektrofotometrik.
Metode ini didasarkan pada reaksi nitrasi pada cincin benzen dari parasetamol.
Reaksi nitrasi merupakan reaksi pembentukan warna pada parasetamol yang
merupakan reaksi substitusi aromatik elektrofilik (SAE). Dalam reaksi nitrasi,
yang digunakan sebagai agen penitrasi merupakan HNO2/asam nitrit. HNO2
merupakan gas pada suhu kamar. Oleh karenanya, untuk mendapatkan
HNO2 dengan mudah, garam NaNO2 direaksikan dengan HCl yang kemudian
didiamkan beberapa saat agar reaksi berjalan dengan sempurna.

Cincin aromatis dari parasetamol akan dinitrasi oleh asam nitrit menjadi 2- nitro-4asetamidofenol. Produk ini kemudian dilarutkan dalam natrium hidroksida sehingga suasananya
menjadi basa. Dalam suasana inilah larutan akan memberikan kromofor yang kuat sehingga
absorbansi dapat terbaca pada 450 nm (Chafetz et al., 1971).

Pada gambar, terlihat bahwa gugus kromofor dari parasetamol mengalami


perpanjangan. Pemanjangan gugus kromofor ini akan memperpanjang
panjang gelombang yang dapat diserap oleh parasetamol. Pemanjangan ini
dinamakan dengan pergesaran batokromik. Pada reaksi, penambahan asam
sulfamat bertujuan untuk menghilangkan sisa HNO2 yang mungkin terbentuk
pada reaksi :

Oleh karena pada reaksi terbentuk gas N 2, maka sebelum dilakukan pengukuran, perlu dilakukan
degassing untuk menghilangkan gas yang terbentuk dengan memberikan getaran ultrasonik pada
larutan. Hal ini dilakukan agar N2 yang terbentuk tidak mengganggu saat pengukuran absorbansi
dari larutan yang diuji.
Pada percobaan digunakan serum. darah disentrifuge untuk memisahkan
serum (cairan yang berwarna jernih/supernatan) dari sel-sel darah. Tujuan
sentrifugasi yaitu untuk mempercepat pengendapan protein sehingga plasma
lebih mudah diperoleh, prinsip sentrifugasi ini yaitu pemisahan zat
berdasarkan bobot molekulnya. Plasma yang didapat ditambahkan TCA 20%
untuk merusak struktur sekunder dan tersier protein yaitu dengan merusak
sulfida yang merupakan pembentuk kedua struktur tersebut, akibatnya
protein akan mengendap sementara obat tetap berada di dalam plasma. Jika
tidak diendapkan maka protein plasma yang dapat berikatan dengan
parasetamol akan membentuk molekul yang lebih besar, sehingga dapat
mengganggu analisis. Reaksi TCA dengan protein plasma adalah sebagai
berikut :

TCA merupakan asam kuat yang memiliki keelektronegatifan yang besar sehingga mampu
menarik protein membentuk suatu ikatan. Ikatan ini bersifat reversible karena ikatan yang terjadi
antara obat dengan protein plasma adalah ikatan lemah (Van der Walls). Selain itu, karena ikatan
obat dengan protein bersifat non-spesifik artinya satu tempat bisa ditempati oleh banyak senyawa

dengan cara mendesak senyawa lain. Oleh karena itu setelah penambahan TCA, larutan kemudian
divortex untuk menghomogenkan campuran ini.
Supernatan yang diperoleh kemudian diukur kadar parasetamolnya dengan menggunakan metode
Chafetz (metode kolorimetri). serum darah ini direaksikan dengan HCl 6N, HCl 6N berfungsi
menghidrolisis parasetamol dan memberikan suasana asam. Hasil hidrolisis parasetamol akan
bereaksi dengan Na nitrit (NaNO2) 10% dan membentuk garam diazonium, larutan campuran
parasetamol HCl 6N dan Na nitrit (NaNO2 ) 10% didiamkan selama 15 menit agar pembentukan
garam diazonium berlangsung sempurna.
Kemudian setelah pendiaman selama Operating Time (15 menit)
ditambahkan Asam sulfamat 15 % untuk menghentikan reaksi antara NaNO 2
(Natrium nitrit) dengan parasetamol dalam pembentukan garam diazonium
yaitu dengan cara menghilangkan NaNO2 yang berlebihan. Lalu dilakukan
penambahan NaOH tujuannya untuk memperpanjang gugus kromofor
sehingga warna yang terbentuk akan semakin jelas.