Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KASUS

i. Identitas Pasien
Nama

: An. AS

Jenis Kelamin

: Laki - laki

Usia

: 2 tahun

No.CM

: 7095xx

Alamat

: Kecamatan Muka, Kabupaten Cianjur

Masuk RS

: 16 September 2015

Nama Ayah

: Tn. Z

Pekerjaan

: Buruh Tani

Nama Ibu

: Ny. D

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

ii. Anamnesis
Dilakukan Alloanamnesis dengan Ibu Os pada tanggal 17 September 20.00.

Keluhan Utama
Demam sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang


Os datang ke IGD RSUD Cianjur dengan keluhan demam sejak satu
minggu sebelum masuk rumah sakit. Demam mulai dirasakan naik pada
sore - malam hari dan turun pada pagi dan siang hari. Selama demam os
tidak pernah mengigau, kejang dan sesak. Os sering mengeluhkan nyeri
diperutnya, sering mual namun tidak sampai muntah, dan os belum buang
air besar sejak 4 hari smrs. Buang air kecil tidak ada keluhan BAK 3 4
kali sehari, kuning, jernih dan os juga belum di sunat. Riwayat batuk lama >
2 minggu, pilek, dan riwayat bepergian ke luar kota disangkal. Selama ini
os belum pernah berobat KP, dan anggota keluarga dirumah tidak ada
yang sedang dalam pengobatan KP. Sebelum sakit os sulit makan, dan
ketika sakit os tidak mau makan sama sekali namun Os hanya minum air
putih dan susu kotak 200 ml (1-2 kotak perhari). Menurut ibu os, os tidak
pernah ditimbang BB sebelumnya, namun os semakin tampak kurus. Tidak
1

tampak bengkak-bengkak ditubuhnya. Dua hari sebelum masuk RS, wajah


pasien terlihat pucat.

Riwayat Penyakit Dahulu


OS belum pernah sakit seperti ini sebelumnya. Riwayat TB paru (-).
Riwayat morbili (-).

Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien tidak ada yang sedang sakit seperti ini. Dikeluarga tidak
ada yang batuk lama Riwayat TB paru dikeluarga (-). Riwayat penyakit
keganasan (-). Riwayat kontak dengan penderita morbili (-).

Riwayat Kehamilan
Ibu os periksa kandungan ke bidan 2 kali saat hamil 6 bulan dan 8 bulan.
Ibu os tidak pernah minum susu dan suplemen apapun selama kehamilan.
Selama hamil tidak pernah mengalami perdarahan.

Riwayat kelahiran
Os dilahirkan dirumah oleh paraji, dengan usia kehamilan kurang bulan (36
minggu). Saat lahir, os langsung menangis. BBL : tidak di timbang, PBL :
tidak diketahui. Dua jam setelah lahir os langsung dibawa ke bidan dan
mendapat suntikan 1x di pahanya.

Riwayat Tumbuh Kembang

Motorik Kasar
4 bulan

: Tengkurap bolak balik, menegakkan kepala

6 bulan

: Duduk tanpa pegangan

9 bulan

: Merangkak

12 bulan : Berdiri tanpa berpegangan


13 bulan : Berjalan tanpa bantuan
o

2 tahun

: Melompat

3 bulan

: Memegang mainan

Motorik Halus
15 bulan : Mencorat coret
o Bahasa
6 bulan

: Mengoceh

12 bulan

: Memanggil mama, papa

24 bulan

: Berbicara sebagian dimengerti


2

o Personal Sosial
8 bulan

: Memasukkan makanan ke mulut

12 bulan

: Minum langsung dari cangkir

24 bulan

: Memakai baju

Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan usia.

Riwayat Imunisasi
Ibu os lupa jenis imunisasi apa saja yang sudah diberikan. Imunisasi
dilakukan di posyandu sampai os berumur 6 bulan saja. Setelah itu os
sudah tidak ikut datang ke posyandu lagi.
Kesan : Imunisasi tidak lengkap.

Riwayat Pemberian Makanan


Pasien diberikan ASI eksklusif sejak lahir s.d. usia 6 bulan, tanpa makanan
atau minuman tambahan apapun. Selain ASI, os mulai diberikan makanan
tambahan pada usia >6 bulan yaitu bubur susu sampai 1 tahun. Usia 8
bulan os mulai diperkenalkan susu formula sampai usia 1,5 tahun. Sejak
usia 1 tahun sampai sekarang, os makan 3 kali sehari namun sulit karena
tidak nafsu makan. Setiap pagi os hanya makan bubur nasi polos porsi
dengan tambahan kecap manis dan air putih. Siang hari, os biasanya
makan nasi putih s.d. porsi dengan sayur sop yang berisi wortel,
kentang, dan kol/ sayur bayam dengan dipaksa. Terkadang ibu os
menambahkan dengan lauk dengan telur ceplok 2 3 kali dalam
seminggu. Os tidak suka makan ayam, daging, tahu tempe, dan buah.
Pada malam hari os hanya makan roti tawar 1 2 lembar ditambah dengan
sedikit gula diatasnya agar os mau makan.
Kesan : Kuantitas makanan baik, kualitas makanan buruk.

Riwayat Alergi
Os tidak mempunyai alergi terhadap makanan maupun obat-obatan.

Riwayat Pengobatan
Selama demam os sudah diberikan obat penurun panas, namun demam
kembali naik. Ibu os belum pernah memberikan suplemen penambah nafsu
makan.

Riwayat Psikososial

Os merupakan anak ke 2 dari 2 bersaudara. Os tinggal di rumah


permanen. Os tidur bersama kedua orang tua dan kakaknya dengan
ukuran kamar 8 meter persegi. Terdapat ventilasi udara dan satu buah
jendela.
iii. Pemeriksaan Fisik
Tanda Vital
TD

: tidak diukur

Nadi

: 108 x/menit

Pernapasan

: 22 x/menit

Suhu

: 38,30 C

Status Gizi
Berat Badan

: 9 Kg

Tinggi Badan

: 85 Cm

Umur

: 2 Tahun

Lingkar Kepala

: 48 Cm

BB/U : 9/12,7 x 100% = 71 % Gizi Kurang

TB/U : 85/87,5 x 100% = 97 % Normal


BB/TB : 9/12,3 x 100% = 73% Kurus
Kesan : Gizi Kurang KEP I
Kebutuhan Gizi
Status Generalisata

Keadaan Umum
Kesadaran
Kepala
o Bentuk
o Rambut
o Wajah
Mata
Hidung
Telinga

: Tampak sakit sedang


: Composmentis
:
: Rambut hitam kemerahan, tipis dan tidak mudah rontok
: Pucat
: Konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-,
: Sekret yang keluar (-), epistaksis (-)
: Serumen -/4

Mulut

Leher

: Mukosa bibir lembab


: Pembesaran KGB (-), Pembesaran tiroid

(-)

iv.

Thorax
Inspeksi
: Bentuk dan gerakan simetris, retraksi intercosta (-)
Palpasi
: Tidak dilakukan
Perkusi
: Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi
:
o Cor : BJ I,II murni, reguler, murmur (-), gallop (-)
o Pulmo : Vesikuler +/+, Ronkhi -/-, Wheezing -/Abdomen
Inpeksi
: Distensi abdomen (-)
Auskultasi
: Bising usus (+) menurun
Palpasi
: Nyeri tekan di regio epigastrium dan umbilikal (+), hepar
Perkusi
Ekstremitas

lien dan ginjal tidak teraba.


: Timpani di lapang abdomen.
: Akral hangat +/+, CRT < 2 detik, edema tungkai (-/-)

Pemeriksaan Penunjang
Jenis Pemeriksaan
Hematologi Lengkap
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Erirosit
Trombosit
Indeks Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Imunoserologi
Salmonella Typhi O
Salmonella Typhi H
Kimia Klinik
Glukosa Darah Sewaktu
Elektrolit
Natrium
Kalium
Kalsium ion

Urin Lengkap
Kimia Urin
Warna
Kejernihan

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

8,0
10,4
26,1
3,24
153

g/dL
ribu/L
%
Juta/L
ribu/L

11,5-13,5
4,5-10,5
32-42
4,0-5,2
150-450

82,9
26,2
31,6
Negatif
+ 1/160

fL
pg
%

80-94
27-31
33-37

87

Mg%

74-106

136,1
3,67
1,20

mEq/L
mEq/L
mEq/L

135-148
3,50-5,30
1,15-1,29

Kuning
Jernih
7,0

Negatif
Negatif

Kuning
Jernih
4,6-8,0
5

v.

1,010
Negatif
Negatif
Negatif
Normal
15/1+
Normal
Negatif
Negatif

pH
Berat Jenis
Leukosit
Nitrit
Protein
Glukosa
Keton
Urobilinogen
Bilirubin
Eritrosit
Mikroskopik Urin
Leukosit
Eritrosit
Epitel
Silinder
Kristal
Bakteri
Lain-lain

1-2
0-1
1-2
Negative
Negative
Negative
Negative

sel/L
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
sel/L
/LPB
/LPB
/LPK
/LPB
/LPB
/LPK

1,010-1,030
Negatif
Negatif
Negatif
Normal
Negatif
Normal
Negative
Negative
1-4
0-1
Negative
Negative
Negative
Negative

Resume
An. AS, laki laki, 2 th dengan gizi kurang? datang dengan demam sejak 1
minggu smrs. Demam naik- turun. Terdapat nyeri perut, mual mual, dan os
belum BAB 4 hari smrs. Os sulit makan, selama sakit hanya mau minum. Os
tampak kurus dan pucat. Kualitas makanan buruk, dan riwayat imunisasi tidak
lengkap. Pada PF, suhu 38,3C, rambut hitam kemerahan, wajah pucat dan
konjungtiva anemis, nyeri tekan epigastrium dan umbilikal (+). Hasil pemeriksaan
lab ditemukan Hb 8 g/dL, leukosit 10.400/L, trombosit 153.000/L, Salmonella
Typhi H +1/160, dan keton urin +1.

vi. Diagnosa kerja

: Demam Tifoid + Anemia + KEP ...

vii. Penatalaksanaan

IVFD D5% 8,4 x 90


96

Cefotaxime 2 x 400 mg

Gentamisin 2 x 30 mg

Furosemid 1x 9 mg

Vitamin A 100.000 IU
6

Transfusi PRC 100 cc

Paracetamol syrup 3 x 1 cth

Diet bubur TKTP 2 x


energi : 840 kkal/hari
protein : 12 kkal/hari

Susu F75 8 x 70 cc

viii. Follow up
SOAP
S
O

A
P

SOA
P

4 februari 2012

6 februari 2012

Demam
(-), bengkak di
tubuh (+), nafsu makan
sedikit
Conjungtiva anemis -/Edema anasarka (+)
BB : 8,5 kg
HR : 110 x/menit
RR : 30 x/menit
S : 37,3 0 C
Kwarshiorkor + sepsis
anemia
IVFD D5% 8,4 x 90
96
Cefotaxime 2 iv x 400 mg
Gentamisin 2 iv x 30 mg
Paracetamol 3 x 1 cth
Diet bubur TKTP 2 x
Susu F75 8 x 70 cc

Demam
(-), bengkak di
tubuh (+), nafsu makan
sedikit,
Conjungtiva anemis -/Edema anasarka (+)
BB : 8,5 kg
HR : 120 x/menit
RR : 30 x/menit
S : 360 C

+ Kwarshiorkor + sepsis
anemia
IVFD D5% 8,4 x 90
96
Cefotaxime 2 iv x 400 mg
Gentamisin 2 iv x 30 mg
Paracetamol 3 x 1 cth
Diet bubur TKTP 2 x
Susu F75 8 x 70 cc

7 februari 2012

8 februari 2012

9 februari 2012

Demam
(+),
bengkak di tubuh (+),
nafsu makan sedikit,
bengkak dan merah
di mukosa buccal (+)
Conjungtiva anemis
+/+
Edema anasarka (+)

Demam (+), bengkak


di tubuh (+), nafsu
makan
sedikit,
bengkak dan merah
di mukosa buccal (+)
Conjungtiva anemis
+/+
Edema anasarka (+)

Demam (+), bengkak


di tubuh (+), nafsu
makan
sedikit,
bengkak dan merah
di mukosa buccal (+)
Conjungtiva anemis
-/Edema anasarka (+)
7

HR : 110 x/menit
RR : 30 x/menit
S : 37,3 0 C
Kwarshiorkor
sepsis + anemia

HR : 120 x/menit
HR : 120 x/menit
RR : 30 x/menit
RR : 30 x/menit
0
S : 36 C
S : 360 C
+ Kwarshiorkor
+ Kwarshiorkor
+
A
sepsis + anemia
sepsis + anemia
IVFD D5% 8,4 x 90 IVFD D5% 8,4 x 90
IVFD D5% 8,4 x 90
9
9
96
6
6
Cefotaxime
2x400 Cefotaxime
2x400 Cefotaxime
2x400
mg
mg
mg
Gentamisin 2 x 30 Gentamisin 2 x 30 Gentamisin 2 x 30
mg
mg
mg
P
Paracetamol 3x1 cth Paracetamol 3 x 1 Paracetamol 3 x 1
cth
cth
Mycostatin drop 4 x 1
Mycostatin drop 4 x 1 Mycostatin drop 4 x 1
cc
cc
cc
Diet bubur TKTP 2 x
Susu F75 8 x 70 cc Diet bubur TKTP 2 x Diet bubur TKTP 2 x
Susu F75 8 x 70 cc Susu F75 8 x 70 cc
KURANG ENERGI PROTEIN

1.1.

Definisi

KEP merupakan keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi
energi dan protein dalam makanan sehari-hari atau disebabkan oleh gangguan
penyakit tertentu sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi ( Depkes RI,
1999 ).

1.2.

Etiologi
Faktor yang mempengaruhi terjadinya KEP yaitu ada penyebab langsung,

tidak

langsung

dan

penyebab

mendasar.

Penyebab

langsung

yaitu

ketidakmampuan konsumsi makanan dan penyakit infeksi. Penyebab tidak


langsung yaitu kurangnya pengetahuan tentang kesehatan, kondisi ekonomi
sosial yang rendah, ketersediaan pangan ditingkat keluarga tidak mencukupi,
besarnya anggota keluarga, pola konsumsi keluarga yang kurang baik, pola
distribusi pangan yang tidak merata serta fasilitas pelayanan kesehatan yang
sulit

dijangkau.

Sedangkan

penyebab

mendasarnya

yaitu

rendahnya

pengetahuan dan pendidikan ibu. ( Depkes RI, 1997 ).


8

Kegunaan utama protein bagi tubuh adalah sebagai zat pembangun


tubuh. Selain itu protein juga digunakan sebagai sumber energi bagi tubuh bila
energi yang berasal dari karbohidrat atau lemak tidak mencukupi. Pada anakanak yang sedang dalam masa pertumbuhan, pembentukan jaringan terjadi
secara besar-besaran sehingga kebutuhan tubuh akan protein akan lebih besar
daripada dengan orang dewasa. Seorang anak balita dikatakan kekurangan
apabila tingkat konsumsi energi dan protein 80 % AKG ( Depkes, 1999 ).
Kecukupan energi dan protein untuk anak balita perorang perhari menurut
kelompok umur yaitu :
Umur
Energi ( kkal )
0 - 6 bulan
550
7

12 650
bulan
1 3 tahun 1000
4 6 tahun 1550
Sumber : Depkes, 2005

Protein ( gr )
10
16
25
39

Keadaan perumahan dan lingkungan yang kurang sehat juga dapat


menyebabkan penyajian yang kurang sehat dan kurang bersih sehingga daat
terjadi infeksi berulang sehingga menyebabkan anak kehilangan cairan tubuh
dan zat-zat gizi sehingga anak menjadi kurus serta turun berat badannya.
Apabila anak menderita kurang gizi maka daya tahan tubuh akan melemah
sehingga penyakit akan mudah masuk kedalam tubuh. Selain itu, komplikasi
berantai infeksi saluran nafas sering dijumpai dan diderita anak kurang gizi.
Bronkitis yang terjadi pada mereka tiga kali lebih sering daripada anak yang
normal. Pada anak yang berusia lebih dari 1 tahun perlindungan antibodi
diperoleh dari ibunya melalui plasenta dan ASI sudah berakhir sehingga anak
sangat rentan sekali terkena sakit terutama penyakit infeksi. Disamping itu anak
yang sakit cenderung nafsu makannya menurun sehingga menyebabkan
masukan gizi kurang dan pada akhirnya akan berdampak pada status gizinya.
Tingkat pendidikan orang tua sangat mempengaruhi pertumbuhan anak
balita. Orang tua yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi akan cenderung
memilih makanan yang lebih baik dalam kualitas maupun kuantitas. Semakin
tinggi pendidikan orang tua maka semakin baik juga status gizi anaknya. Orang
yang mempunyai pendidikan yang tinggi akan memberikan respon yang lebih
9

rasional dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan rendah atau mereka


yang tidak berpendidikan.
Jumlah anggota yang besar akan sangat mempengaruhi distribusi
makanan terhadao anggota keluarga terutama keluarga yang miskin yang
terbatas kemampuannya dalam penyediaan pangan. Hal ini akan berisiko
terhadap kejadian KEP. Rumah tangga yang mempunyai anggota keluarga besar
berisiko mengalami kelaparan 4 kali lebih besar dibandingkan dengan rumah
tangga yang anggotanya kecil dan berisiko pula mengalami kurang gizi sebanyak
5 kali lebih besar dari keluarga yang mempunyai anggora keluarga yang kecil.
Komposisi dan jumlah anggota keluarga merupakan salah satu faktor risiko
terjadinya kurang gizi. Sebagian besar penduduk Indonesia berpenghasilan
menengah ke bawah sehingga kurang mampu memenuhi kebutuhan gizi
anggota keluarganya.
Hal lain yang dapat mengakibatkan terjadinya KEP yaitu karena
pemberian makanan tambahan pada anak-anak yang tidak terpelihara
kebersihannya serta susu buatan yang terlalu encer dan jumlahnya tidak
mencukupi karena keterbatasan biaya sehingga kandungan protein dan kalori
pada makanan anak menjadi rendah. Prematuritas dan penyakit pada masa
neonatus juga merupakan penyebab timbulnya KEP. Pada keadaan-keadaan
tersebut pemberian ASI kurang akibat refleks mengisap yang kurang kuat.

1.3.

Patofisiologi
Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat

banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu :
tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan).
Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut
menentukan.
Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai
cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai
dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta
protein dengan melalui proses katabolik. Dalam keadaan kekurangan makanan,
tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi

10

kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan


karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk
mempertahankan kehidupan. Karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh
jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk
menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat
terjadi kekurangan. Glikogen yang disimpan dalam hepar akan habis dalam
waktu beberapa jam dan protein otot akan digunakan melalui proses
glukoneogenesis untuk mempertahankan glukosa darah yang adekuat. Pada
saat yang bersamaan, trigliserida akan dipecah menjadi asam lemak bebas yang
akan mampu menyediakan energi untuk sebagian besar organ tapi tidak untuk
sistem saraf. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan
keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai
sumber energi oleh otak dan organ lain jika kekurangan makanan ini berlangsung
lama. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan
meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau
kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD maka terjadilah
kwashiorkor (malnutrisi akut/decompensated malnutrition). Pada kondisi ini
penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. Bila stres katabolik ini terjadi
pada saat status gizi dibawah -3 SD, maka akan terjadilah marasmikkwashiorkor. Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat teradaptasi

sampai

dibawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik (malnutrisikronik/compensated


malnutrition).

Dengan

pertumbuhan,

atrofi

demikian

otot,

pada

penurunan

KEP
kadar

dapat
albumin

terjadi
serum,

gangguan
penurunan

hemoglobin, penurunan sistem kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesa


enzim.
Tetapi dalam kekurangan energi yang berat seperti pada marasmus,
adaptasi ini diiringi dengan meningginya kortisol dan hormone pertumbuhan
(growth hormone) serta menurunnya sekresi insulin dan hormone tiroid. Karena
asam amino dimobilisasikan dari otot untuk penyediaan bahan sintesis protein di
hepar, kadar protein plasma akan lebih rendah pada marasmus dibandingkan
dengan kwarshiorkor.
Pada kwashiorkor yang klasik, terjadi edema dan perlemakan hati
disebabkan gangguan metabolik dan perubahan sel. Kelainan ini merupakan
gejala yang menyolok. Pada penderita defisiensi protein, tidak terjadi katabolisme
11

jaringan yang berlebihan, karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah
kalori yang cukup dalam dietnya. Namun, kekurangan protein dalam dietnya
akan menimbulkan kekurangan berbagai asam amino esensial yang dibutuhkan
untuk sintesis. Oleh karena dalam diet terdapat cukup karbohidrat, maka
produksi insulin akan meningkat dan sebagian asam amino dalam serum yang
jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan ke otot. Berkurangnya asam
amino dalam serum merupakan penyebabnya kurang pembentukan albumin oleh
hepar, sehingga kemudian timbul edema. Perlemakan hati disebabkan gangguan
pembentukan lipoproteinbeta sehingga transportasi lemak dari hati ke depot
lemak juga terganggu dan akibatnya terjadi akumulasi lemak dalam hepar.
1.4.

Dampak KEP
Pada anak-anak, KEP dapat menghambat pertumbuhan, merosotnya

mutu kehidupan, terganggunya pertumbuhan, gangguan perkembangan mental


anak serta merupakan salah satu penyebab dari angka kematian yang tinggi,
rentan terhadap penyakit infeksi serta mengakibatkan rendahnya tingkat
kecerdasan.
Pada masa pascanatal sampai usia dua tahun merupakan masa yang
amat sangat kritis karena terjadi pertumbuhan yang amat sangat pesat dan
terjadi diferensiasi fungsi pada semua organ tubuh. Gangguan yang terjadi pada
masa ini akan meyebabkan perubahan yang menetap pada struktur anatomi,
biokimia dan fungsi organ. Hubungan KEP dengan penyakit infeksi dapat
dijelaskan melalui mekanisme pertahanan tubuh yaitu pada balita yang KEP
terjadi kekurangan masukan energi dan protein kedalam tubuh sehingga
kemampuan tubuh untuk membentuk kekebalan tubuh seluler terganggu
sehingga tubuh menderita rawan serangan infeksi. KEP menimbulkan efek pada
perkembangan mental dan fungsi intelegensia. Hal ini didukung oleh suatu fakta
yang menunjukkan bahwa bayi KEP berat mempunyai ukuran besar otak 15-20
% lebih kecil dibandingkan dengan bayi normal. Apabila terjadi kurang gizi sejak
dalam kandungan, maka defisit volume otak bisa mencapai 50 %. Hasil
penelitian Azwar menemukan bahwa pada anak sekolah yang mempunyai
riwayat gizi buruk pada masa balita, IQ-nya lebih rendah sekitar 13-15 poin
dibandingkan dengan yang normal.

12

Pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik ringan maupun


berat.

Edemanya

bersifat

pitting.

Edema

terjadi

bisa

disebabkan

hipoalbuminemia, gangguan dinding kapiler, dan hormonal akibat dari gangguan


eliminasi ADH.
Perubahan rambut sering dijumpai, baik mengenai bangunnya (texture),
maupun warnanya. Sangat khas untuk penderita kwashiorkor ialah rambut
kepala yang mudah tercabut tanpa rasa sakit. Pada penderita kwashiorkor lanjut,
rambut akan tampak kusam, halus, kering, jarang dan berubah warna menjadi
putih.

Rambutnya

biasanya

jarang

dan

halus-halus

serta

kehilangan

elastisitasnya. Pada anak-anak yang berambut gelap dapat terlihat jalur-jalur


rambut berwarna merah atau abu-abu. Sering bulu mata menjadi panjang.
Otot-otonya tampak lemah dan atrofi,tetapi sesekali dapat ditemukan
lemak dibawah kulit yang berlebihan.
Kulit biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih
mendalam dan lebar. Sering ditemukan hiperpigmentasi dan persisikan kulit.
Pada sebagian besar penderita dtemukan perubahan kulit yang khas untuk
penyakit kwashiorkor, yaitu crazy pavement dermatosis yang merupakan bercakbercak putih atau merah muda dengan tepi hitam ditemukan pada bagian tubuh
yang sering mendapat tekanan. Terutama bila tekanan itu terus-menerus dan
disertai kelembapan oleh keringat atau ekskreta, seperti pada bokong, fosa
politea, lutut, buku kaki, paha, lipat paha, dan sebagainya. Perubahan kulit
demikian dimulai dengan bercak-bercak kecil merah yang dalam waktu singkat
bertambah dan berpadu untuk menjadi hitam. Pada suatu saat mengelupas dan
memperlihatkan bagian-bagian yang tidak mengandung pigmen, dibatasi oleh
tepi yang masih hitam oleh hiperpigmentasi.
Pada tulang penderita kwashiorkor didapatkan dekalsifikasi, osteoporosis,
dan hambatan pertumbuhan. Sering juga ditemukan caries pada gigi penderita.
Pada biopsi hati ditemukan perlemakan, bisa juga ditemukan biopsi hati
yang hampir semua sela hati mengandung vakuol lemak besar. Sering juga
ditemukan tanda fibrosis, nekrosis, da infiltrasi sel mononukleus. Perlemakan hati
terjadi akibat defisiensi faktor lipotropik.
Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor. Bila disertai
penyakit lain, terutama infestasi parasit ( ankilostomiasis, amoebiasis) maka
dapat dijumpai anemia berat. Anemia juga terjadi disebabkan kurangnya nutrien
13

yang penting untuk pembentukan darah seperti Ferum, vitamin B kompleks (B12,
folat, B6) (2,7). Kelainan dari pembentukan darah dari hipoplasia atau aplasia
sumsum tulang disebabkan defisiensi protein dan infeksi menahun. Defisiensi
protein juga menyebabkan gangguan pembentukan sistem kekebalan tubuh.
Akibatnya terjadi defek umunitas seluler, dan gangguan sistem komplimen.
Di pankreas dan kebanyakan kelenjar lain seperti parotis, lakrimal, saliva
dan usus halus terjadi perlemakan.
Bisa terjadi miodegenerasi jantung dan gangguan fungsi jantung
disebabkan hipokalemi dan hipmagnesemia.
Gejala gastrointestinal merupakan gejala yang penting. Anoreksia
kadang-kadang demikian hebatnya, sehingga segala pemberian makanan ditolak
dan makanan hanya dapat diberikan dengan sonde lambung. Diare terdapat
pada sebagian besar penderita. Hal ini terjadi karena 3 masalah utama yaitu
berupa infeksi usus, intoleransi laktosa, dan malabsorbsi lemak. Intoleransi
laktosa disebabkan defisiensi laktase. Malabsorbsi lemak terjadi akibat defisiensi
garam empedu, konyugasi hati, defisiensi lipase pankreas, dan atrofi villi mukosa
usus halus.
1.5.

Manifestasi klinis

Secara klinis KEP terdapat dalam 3 tipe yaitu :


a. Kwashiorkor, ditandai dengan : edema yang dapat terjadi di seluruh tubuh
tetapi terutama di kaki bagian bawah, wajah sembab

dan membulat ( moon

face ), mata sayu, rambut tipis berwarna coklat kemerahan seperti rambut
jagung, mudah dicabut

dan rontok, cengeng, rewel dan apatis, pembesaran

hati, otot mengecil (hipotrofi), bercak

merah ke coklatan di kulit dan mudah

terkelupas (crazy pavement dermatosis), sering disertai penyakit infeksi


terutama akut, diare dan anemia.
Tanda klinisnya yang ditemukan yaitu kulit kering, hiperpigmentasi dan
bersisik, serta ada tanda crazy pavement dermatosis (bercak-bercak
putih/merah muda dengan tepi hitam dan ditemukan pada bagian tubuh yang
sering mendapat tekanan) dan juga ditemukan hepatomegali.
b. Marasmus sering dijumpai pada usia 0 - 2 tahun dan ditandai dengan : sangat
kurus, tampak tulang terbungkus kulit, wajah seperti orang tua ( old man
face ), cengeng dan rewel, kulit keriput, jaringan lemak sumkutan
14

minimal/tidak ada, otot menyusut ( wasted ), lembek, tulang rusuk tampak


terlihat jelas, terlihat tulang belakang lebih menonjol dan kulit di pantat
berkeriput ( baggy pant ), ubun-ubun besar cekung, tulang pipi dan dagu
menonjol, mata besar dan dalam, perut cekung, Dinding perut hipotonus dan
kulitnya longgar, iga gambang, sering disertai penyakit infeksi dan diare,
Berat badan turun menjadi kurang dari 60% berat badan menurut usianya.
Suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang. serta tekanan
darah, detak jantung dan pernafasan berkurang.
c. Marasmus kwashiorkor, campuran gejala klinis kwashiorkor dan marasmus
yaitu gangguan pertumbuhan, crazy pavement dermatosis, rambut tipis,
pirang dan mudah dicabut, muka seperti orang tua, oedema hanya pada
anggota gerak bagian bawah.

1.6.

Diagnosa

Klasifikasi gizi buruk ada beberapa macam yaitu :


15

1. GOMEZ : BB/U
2. MacLarren : Klinis + laboratorium
3. The Wellcome : Klinis + antropometris
4. WHO (1999) : Klinis + antropometris.

Klasifikasi menurut Gomez


BB%

Derajat KEP

terhadap

BB/U

Normal

90%

Ringan

89 75%

Sedang

74 - 60%

Berat

< 60%

Klasifikasi gizi buruk ( WHO 1999 ) :


Edema

Gizi kurang
-

Gizi buruk
+ ( edema malnutrisi

simetris
BB/TB

)
70 % 79 < 70 %

TB/U

%
85 % - 89 %

< 85 %

Klasifikasi KEP Menurut Depkes (2000) berdasarkan BB/U :

> +2 SD

Status gizi
BB/U
Gizi lebih

- 2 SD s/d + 2 SD

Gizi baik

- 3 SD s/d < - 2 SD

Gizi kurang

< - 3 SD

Gizi buruk

Indeks

16

Klasifikasi KEP Menurut Depkes (2000) berdasarkan TB/U :

- 2 SD s/d + 2 SD

Status gizi
TB/U
Normal

< - 2 SD

Pendek

Indeks

Klasifikasi KEP Menurut Depkes (2000) berdasarkan BB/TB :

> +2 SD

Status gizi
BB/TB
Gemuk

- 2 SD s/d + 2 SD

Normal

- 3 SD s/d < - 2 SD

Kurus

< - 3 SD

Sangat kurus

Indeks

KEP ringan bila tidak ditangani maka data jatuh ke status gizi yang lebih buruk
(marasmus, kwashiorkor, marasmic-kwashiorkor)
KEP Berat / gizi buruk yaitu :
1. Marasmus kekurangan energi
2. Kwashiorkor kekurangan protein
3. Marasmic-kwashiorkor Kekurangan energi dan protein
1.7.

Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet

tinggi kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan. Penderita


marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan
mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami
komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat
perawatan di rumah sakit.
Pengobatan rutin yang dilakukan di RS berupa 10 langkah penting

:
17

a.

atasi/cegah hipoglikemia

b.

atasi/cegah hipotermia

c.

atasi/cegah dehidrasi

d.

koreksi gangguan keseimbangan elektrolit

e.

obati/cegah infeksi

f.

mulai pemberian makanan

g.

fasilitasi tumbuh kejar (catch-up growth)

h.

koreksi defisiensi nutrient mikro

i.

lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental

j.

siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh

a. Atasi/cegah hipoglikemi
Hipoglikemia dan hipotermia biasanya terjadi bersama-sama, seringkali
sebagai tanda adanya infeksi. Periksa kadar guladarah bila ada hipotermia
(suhu ketiak/dubur <36C). Pemberian makanan yang sering penting untuk
mencegah kedua kondisi tersebut.
Bila kadar gula darah <50 mg/dl, berikan:
-

50 ml bolus D10 atau larutan sukrosa 10% (1sdt gula dalam 5sdm air)
secara oral atau per-NGT.

selanjutnya berikan larutan tersebut setiap 30 menit selama 2 jam


(setiap kali berikan bagian dari jatah untuk 2 jam)

berikan antibiotika (lhat langkah ke-5)

secepatnya berikan makan tiap 2 jam, siang dan malam (lihat langkah
ke-6)

Pemantauan :
bila kadar glukosa darah rendah, ulangi pemeriksaan gula darah
dengan darah dari ujung jari atau tumit setelah 2 jam
-

sekali diobati, kebanyakan anak akan stabil dalam 30 menit

bila gula darah turun lagi sampai <50 mg/dl, ulangi pemberian 50 ml
bolus D10 atau larutan sukrosa 10%, dan teruskan pemberian setiap 30
menit sampai stabil
18

ulangi pemeriksaan gula darah bila suhu ketiak <36C dan/atau


kesadaran menurun

Pencegahan :
-

mulai segera pemberian makanan setiap 2 jam (langkah ke-6),


sesudah dehidrasi yang dikoreksi

b.

selalu memberikan makanan sepanjang malam

Atasi/cegah hipotermia
Bila suhu ketiak <36C, periksa suhu dubur dengan termometer suhu rendah.
Bila suhu dubur <36C
-

segera berikan makan cair/formula khusus (mulai dengan rehidrasi bila


perlu)

hangatkan anak dengan pakaian atau selimut sampai menutup kepala,


letakkan dekat lampu atau pemanas (jangan gunakan botol air panas)
atau peluk anak di dada ibu

beri antibiotika (lihat langkah ke-5)

Pemantauan :
-

periksa

suhu

rectal

setiap

jam

sampai

suhu

mancapai

>36,5Cpastikan anak selalu terbungkus selimut sepanjang waktu,


terutama malam hari
-

raba suhu anak

bila ada hipotermia, periksa kemungkinan hipoglikemia

Pencegahan :
-

segera beri makanan/formula khusus setiap 2 jam (lihat langkah ke-6)

selalu selimuti dan hindari keadaan basah

hindari paparan langsung dengan udara

19

c. Atasi/cegah dehidrasi
Jangan menggunakan jalur i.v. untuk rehidrasi kecuali pada keadaan
syok/renjatan. Lakukan pemberian cairan infus dengan hati-hati, tetesan
perlahan-lahan untuk menghindari beban sirkulasi jantung.
Cairan rehidrasi oral standar WHO mengandung terlalu banyak natrium dan
kurang kalium untuk digunakan pada penderita KEP berat/gizi buruk. Sebagai
penganti, berikan larutan garam/elektrolit khusus yaitu Resomal atau
penggantinya.
d. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
berikan

tambahkan Kalium 2-4 mEq/kgBB/hari (=150-200 mg KCl/kgBB/hari)

tambahkan Mg 0,3-0,6 mEq/kgBB/hari (=7,5-15 mg MgCl 2/kgBB/hari)

untuk rehidrasi, berikan cairan rendah Na (Resomal/pengganti)

siapkan makanan tanpa diberi garam/rendah garam

e. Pengobatan dan pencegahan infeksi


Pada semua KEP berat/gizi buruk beri secara rutin

antibiotika spectrum luas

vaksinasi campak bila umur anak >6 bulan dan belum pernah
diimunisasi (tunda bila ada syok). Ulangi pemberian vaksin setelah
keadaan gizi anak menjadi baik

f. Mulai pemberian makanan


Pada fase awal stabilisasi, perlu pendekatan yang sangat berhati-hati karena
keadaan faali anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang.
Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan
dirancang sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk
memenuhi metabolisme basal.
Prinsip pemberian nutrisi pada fase ini adalah :

Porsi kecil tapi sering dengan formula laktosa rendah dan hipo/iso
osmolar

20

Berikan secara oral atau nasogastrik


Energi = 80-100 kal/kgBB/hari
Protein

= 1-1,5 g/kgBB/hari

Cairan= 130 ml/kgBB/hari


Bila masih mendapat ASI, tetap diberikan tetapi setelah pemberian
formula.
Formula khusus seperti F-WHO 75 yang dianjurkan dan jadwal
pemberian makanan harus disusun sedemikian rupa agar dapat
mencapai

prinsip

tersebut

diatas.

Berikan

formula

dengan

cangkir/gelas. Bila anak terlalu lemah, berikan dengan sendok/pipet.


Pada anak dengan selera makan baik dan tanpa edema. Jadwal
pemberian makanan pada fase stabilisasi ini dapat diselesaikan dalam
2-3 hari saja (1 hari untuk setiap tahap). Bila asupan makanan tidak
mencapai 80 Kkal/kgBB/hari, berikan sisa formula melalui pipa
nasogastrik. Jangan beri makanan lebih 100 Kkal/kgBB/hari pada fase
stabilisasi ini.
Pantau dan catat

jumlah yang diberikan dan sisanya

muntah

frekuensi BAB dan konsistensi tinja

berat badan (harian)

Selama fase stabilisasi, diare secara perlahan berkurang dan BB mulai naik.
Bila diare melanjut atau memburuk walaupun pemberian nutrisi sudah
berhati-hati.
g. Fasilitasi tumbuh kejar
Pada masa rehabilitasi, dibutuhkan berbagai pendekatan secara gencar agar
tercapai masukan makanan yang tinggi dan pertambahan berat badan
50g/minggu. Awal fase rehabilitasi ditandai dengan timbulnya selera makan,
biasanya 1-2 minggu setelah dirawat.
21

Pada periode transisi, dianjurkan untuk merubah secara perlahan-lahan dari


formula khusus awal ke formula khusus lanjutan
-

ganti formula khusus awal (F75) menjadi formula khusu lanjutan (F100
dan protein 2,9 g per 100 ml) dalam jangka waktu 48 jam

kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit


formula tersisa, biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgBB/kali
(=200 ml/kgBB/hari)

Setelah periode transisi dilampaui, anak diberi


-

makanan/formula dengan jumlah tidak terbatas dan sering

energi = 150-220 Kkal/kgBB/hari

protein 4-6 g/kgBB/hari

bila anak mendapat ASI, teruskan, tapi juga beri formula, karena energi
dan protein ASI tidak akan mencukupi tumbuh kejar

h. Koreksi defisiensi mikronutrien


berikan setiap hari:
-

suplemnetasi multivitamin

Asam Folat 1mg/hari (5 mg pada hari pertama)

Seng 2 mg/kgBB/hari

tembaga 0,2 mg/kgBB/hari

bila BB mulai naik

: Fe 3 mg/kgBB/hari atau sulfas ferrosus 10

mg/kgBb/hari
-

Vitamin A pada hari I

umur

>1

tahun=200.000

iu,

6-12

bulan=100.000 iu, <6 bulan=50000 iu


i. Stimulasi sensorik dan dukungan emosional
Pada KEP berat terjad keterlambatan perkembangan mental/perilaku,
karenanya berikan :
-

kasih sayang
22

lingkungan yang ceria

terapi bermain struktur 15-30 menit

aktivitas fisik segera setelah sembuh

keterlibatan ibu

j. Tindak lanjut di rumah


Bila gejala klinis sudah tidak ada, BB anak sudah mencapai 80% BB/U, dapat
dikatakan sembuh.
Pemberian diet pada KEP berat/gizi buruk harus memenuhi syarat sebagai
berikut:
1. Melalui 3 periode yaitu periode stabilisasi, periode transisi, dan periode
rehabilitasi.
2. Kebutuhan energi mulai dari 80 sampai 200 kalori per kg BB/hari.
3. Kebutuhan protein mulai dari 1 sampai 6 gram per kg BB/hari.
4. Pemberian suplementasi vitamin dan mineral bila ada defisiensi atau
pemberian bahan makanan sumber mineral tertentu, sebagai berikut:
Bahan makanan sumber mineral khusus

Sumber Zn : daging sapi, hati, makanan laut, kacang tanah, telur


ayam.

Sumber Cuprum : tiram, daging, hati

Sumber Mangan : beras, kacang tanah, kedelai

Sumber Magnesium : daun seldri, bubuk coklat, kacang-kacangan,


bayam,

Sumber Kalium : jus tomat, pisang, kacang-kacangan, kentang,


apel, alpukat, bayam, daging tanpa lemak.

5. Jumlah cairan 130-200 ml per kg BB/hari, bila terdapat edema dikurangi


6. Cara pemberian : per oral atau lewat pipa nasogastrik
7. Porsi makanan kecil dan frekwensi makan sering
8. Makanan fase stabilisasi hipoosmolar/isoosmolar dan rendah laktosa dan
rendah serat, (lihat tabel 1 formula WHO dan modifikasi).
23

9. Terus memberikan ASI


10. Membedakan jenis makanan berdasarkan berat badan, yaitu:

BB <7 kg diberikan kembali makanan bayi dan BB >7 kg dapat


langsung diberikan makanan anak secara bertahap, (lihat tabel 2).

No

FASE

STABILISASI
TRANSISI REHABILITASI
Hari ke 1-2 Hari ke 2-7 Minggu ke-2 Minggu ke 3-7

1
2
3
4
5
6

Hipoglikemia
Hipotermia
Dehidrasi
Elektrolit
Infeksi
MulaiPemberian

makanan
Tumbuh
kejar/peningkatan

8
9
10

pemberian makanan
Mikronutrien
Stimulasi
Tindak lanjut

Tanpa Fe

dengan Fe

Tabel 1 :
KEBUTUHAN GIZI MENURUT FASE PEMBERIAN MAKAN
FASE
ZAT GIZI

STABILISASI

TRANSISI

Energi

100
Kkal/KgBB/hr

150
Kkal/KgBB/hr

REHABILITASI
150-200
Kkal/KgBB/hr

Protein

1-1,5 g/KgBB/hr

2-3 g/KgBB/hr

4-6 g/KgBB/hr

Vitamin A

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Asam
Folat

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Zinc

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Cuprum

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Fe

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

24

Cairan

130 ml/KgBB/hr 150 ml/KgBB/hr


atau
100
ml/KgBB/hr bila
ada edema

150-200
ml/KgBB/hr

Tabel 2
JADWAL, JENIS, DAN JUMLAH MAKANAN YANG DIBERIKAN

FASE

Stabilisasi

WAKTU
PEMBER
IAN

JENIS
MAKANAN

Hari 1-2

F75/modifikasi

12 x (dg ASI)

F75/Modisco

12 x
ASI)

Hari 3-4

Hari 3-7

Transisi

Rehabilita
si

F75/modifikasi

FREKWENSI

JUMLAH
CAIRAN
(ml) SETIAP MINUM
MENURUT BB ANAK
4
Kg

6
Kg

8
Kg

10
Kg

45

65

(tanpa 45

65

90

110

8 x (dg ASI)

F75/Modisco

8 x
ASI)

(tanpa

F75/modifikasi

6 x (dg ASI)

F75/Modisco

6 x
ASI)

65

100 -

65

100 130 160

90

130 -

(tanpa 90

130 175 220

Minggu 2- F100/modifikasi
3
F100/Modisco
I /modisco II

4 x (dg ASI )

(tanpa 90

130 175 220

Minggu 3- F135/modifikasi
6
F135/Modisco

3 x (dg/tanpa 90

100 150 175

6 x
ASI)

130 195 -

ASI )

III, ditambah
BB < 7 Kg

Makanan lumat 3 x 1 porsi


makan lembik
Sari buah

1x

100

100 100 100

25

BB >7 Kg

Makanan lunak 3 x 1 porsi


makan biasa
Buah

1 2 x 1 buah

*) 200 ml = 1 gelas
Contoh :
Kebutuhan anak dengan berat badan 6 Kg pada fase rehabilitasi :Energi : 1200 Kkal
400 kalori dipenuhi dari 3 kali 100 cc F 135 ditambah 800 kalori dari 3 kali makanan
lumat/makanan lembik dan 1 kali 100 cc sari buah.
Tabel 3
FORMULA WHO
Bahan

Per 100 ml

F75

F 100

F 135

FORMULA WHO
Susu skim bubuk

25

85

90

Gula pasir

100

50

65

Minyak sayur

30

60

75

Larutan elektrolit

Ml

20

20

27

Tambahan air s/d

Ml

1000

1000

1000

Energi

Kalori

750

1000

1350

Protein

29

33

Lactosa

13

42

48

Potasium

Mmol

36

59

63

Sodium

Mmol

19

22

Magnesium

Mmol

4.3

7.3

Seng

Mg

20

23

30

Copper

Mg

2.5

2.5

3.4

% energi protein

12

10

NILAI GIZI

26

% energi lemak

36

53

57

Osmolality

Mosm/l

413

419

508

Keterangan :
F75

: Setiap 100 ml mengandung 75 kalori

F100 : Setiap 100 ml mengandung 100 kalori


F135 : Setiap 100 ml mengandung 135 kalori

27

Tabel 4
MODIFIKASI FORMULA WHO
FASE

STABILISASI

Bahan Makanan

REHABILITASI

TRANSISI

F75

F75

F75

II

III

25

M F100

M1

100 -

100 100 -

35

110

25

120

300

Gula pasir (g)

70

70

70

50

50

50

50

75

75

Tepung beras (g)

35

35

35

50

Tempe (g)

150

Minyak sayur (g)

27

17

17

25

30

50

60

Margarine (g)

50

50

Lar. Elektrolit (ml)

20

20

20

20

27

Tambahan air (L)

Susu skim bubuk


(g)
Susu full cream (g)
Susu

sapi

segar

(ml)

MII

F135

MIII

Penatalaksanaan Penyakit Penyerta


Pengobatan ditujukan pada penyakit yang sering menyertai KEP berat, yaitu
:
a. Defisiensi Vitamin A
Bila terdapat tanda defisiensi vitamin A pada mata, beri anak vitamin A
secara oral pada hari ke-1, 2 dan 14 atau sebelum pulang, dengan dosis :
o umur > 1 tahun

: 200,000 iu/kali

o umur 6-12 bulan

: 100,000 iu/kali

o umur 0-5 bulan

: 50,000 iu/kali

Bila ada ulserasi pada mata, beri tambahan perawatan lokal untuk
mencegah prolaps lensa :
28

beri tetes mata kloramfenikol atau salep mata tetrasiklin, setiap 2-3 jam selama 7-10
hari

teteskan tetes mata atropin, 1 tetes, 3 kali sehari selama 3-5 hari

tutup mata dengan kasa yang dibasahi larutan garam faali.


b. Dermatosis
Dermatosis ditandai dengan adanya :
o hipo/hiperpigmentasi
o deskuamasi
o lesi ulseratif eksudatif, menyerupai luka baker, sering disertai
infeksi sekunder, antara lain oleh Candida
Tatalaksana

kompres bagian kulit yang terkena dengan larutan KmnO 4 (Kpermanganat) 1% selama 10 menit

beri salep/krim

usahakan agar daerah perineum kering

umumnya terdapat defisiensi Zn: beri preparat Zn peroral

c. Parasit/Cacing
Beri Mebendazole 100 mg oral, 2 kali sehari selama 3 hari, atau preparat
anti helmintik lain.
d. Diare Melanjut
Diare biasa menyertai KEP berat, tetapi akan berkurang dengan
sendirinya pada pemberian makanan secara berhati-hati. Diobati hanya
bila diare berlanjut dan tidak ada perbaikan keadaan umum. Berikan
formula bebas / rendah laktosa. Sering terjadi kerusakan mukosa usus
dan Giardiasis merupakan penyebab lain dari melanjutnya diare. Bila
mungkin, lakukan pemeriksaan tinja mikroskopik.
Beri: Metronidasol 7.5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari.
e. Tuberkulosis

29

Pada setiap kasus gizi buruk, lakukan tes tuberculin/Mantoux dan rontgen
foto thoraks. Bila positif atau sangat mungkin TB, obati sesuai pedoman
TB.
TINDAKAN PADA KEGAWATAN
1. Syok (renjatan):
Syok karena dehidrasi atau sepsis sering menyertai KEP berat dan sulit
membedakan keduanya secara klinis saja.
Syok karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada pemberian cairan
intravena, sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak. Hati-hati terhadap
terjadinya overhidrasi.
Pedoman pemberian cairan:
Berikan larutan Dekstrosa 5% : NaC1 0.9% (1:1) atau larutan Ringer dengan
kadar dekstrosa 5% sebanyak 15 ml/KgBB dalam 1 jam pertama.
Evaluasi setelah 1 jam :
-

Bila ada perbaikan klinis (kesadaran, frekwensi nadi dan pernafasan) dan
status hidrasi syok disebabkan dehidrasi. Ulangi pemberian cairan
seperti diatas untuk 1 jam berikutnya, kemudian lanjutkan dengan
pemberian Resomal/pengganti, per oral/nasogastrik, 10 ml/kgBB/jam
selama

10

jam,

selanjutnya

mulai

berikan

formula

khusus

(F-

75/pengganti).
-

Bila tidak ada perbaikan klinis anak menderita syok septik. Dalam hal
ini, berikan cairan rumat sebanyak 4 ml/kgBB/jam dan berikan transfusi
darah sebanyak 10 ml/kgBB secara perlahan-lahan (dalam 3 jam).
Kemudian mulailah pemberian formula (F-75/pengganti).

2. Anemia berat
Transfusi darah diperlukan bila:

Hb <4 g/dl

Hb 4-6 g/dl disertai distres pernafasan atau tanda gagal jantung.


Transfusi darah:
30

- berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3 jam.


Bila ada tanda gagal jantung, gunakan packed red cells untuk transfusi
dengan jumlah yang sama.
- beri furosemid 1 mg/kgBB secara i.v. pada saat transfusi dimulai.
Perhatikan adanya reaksi transfusi (demam, gatal, Hb-uria, syok).
Bila pada anak dengan distres nafas setelah transfusi Hb tetap <4 g/dl atau
antara 4-6 g/dl, jangan diulangi pemberian darah.
1.8.

Pencegahan

Pencegahannya dapat berupa diet adekuat dengan jumlah-jumlah yang tepat


dari karbohidrat, lemak (minimal 10% dari total kalori), dan protein (12 % dari
total kalori). Sentiasa konsumsi diet yang seimbang dengan cukup karbohidrat,
cukup lemak dan protein bisa mencegah terjadinya kwashiorkor. Protein
terutamanya harus disediakan dalam makanan. Untuk mendapatkan sumber
protein yang bernilai tinggi bisa didapatkan dari protein hewan seperti susu, keju,
daging, telur dan ikan. Bisa juga mendapatkan protein dari protein nabati seperti
kacang ijo dan kacang kedelai.
1.9.

Prognosis

Malnutrisi yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi, kematian sering
disebabkan oleh karena infeksi; sering tidak dapat dibedakan antara kematian
karena infeksi atau karena malnutrisi sendiri. Prognosis tergantung dari stadium
saat

pengobatan

mulai

dilaksanakan.

Dalam

beberapa

hal

walaupun

kelihatannya pengobatan adekuat, bila penyakitnya progesif kematian tidak dapat


dihindari, mungkin disebabkan perubahan yang irreversibel dari set-sel tubuh
akibat under nutrition.

31

DAFTAR PUSTAKA
1. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Buku
1. Info Medika. Jakarta. 2000
2. Corry S Matondang, Prof, dr, dkk. Diagnosis Fisis Pada Anak. Edisi ke-2. CV
Sagung Seto. Jakarta. 2003
3. Departemen Kesehatan RI, WHO, Unicef. Buku Bagan Manajemen Terpadu
Balita Sakit (MTBS) Indonesia, Jakarta 1997
4. Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Binkesmas Depkes.
Penanggulangan

Kekurangan

Energi

Protein

(KEP)

dan

Pedoman
Petunjuk

Pelaksanaan PMT pada Balita, Jakarta 1997.


5. Donna G Grigsby, MD. Malnutrition. Associate Professor, Department of
Pediatrics, University of Kentucky College of Medicine. Available from:
http://www.emedicine.com. November 2005
6. FKUI-RSCM. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Jakarta: FKUI, 2005.
7. Soetjiningsih, dr, Sp.AK. Tumbuh Kembang Anak. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta. 1995
8. WHO.

Guideline for the Inpatient Treatment of Severely Malnourished

Children, WHO Searo, 1998.


9. Waterlow JC. Protein Energy Malnutrition, Edward Arnold, London, 1992
10. www.republika.co.id

32

Anda mungkin juga menyukai