Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Belerang atau sulfur sudah dikenal manusia sejak zaman purba dan hampir
semua bahasa memiliki nama sendiri-sendiri untuk unsur ini. Sulfur berasal dari
bahasa sanksekerta yaitu sulvere, dalam latin yaitu sulfur dan dalam bahasa arab yaitu
sufra yang artinya warna kuning terang. Pada tahun 1770-an, Antoine Lavoisier
menemukan bahwa sulfur merupakan jenis unsur dan bukan suatu senyawa. Tahun
1867, sulfur ditemukan dalam bentuk endapan dibawah tanah di Louisiana dan Texas.
Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang S dan nomor atom 16. Termasuk kedalam periode ke-3 yang ditemukan di
alam dalam bentuk unsur bebas. Belerang adalah unsur yang ditemukan dalam
keadaan bebas dan sebagian dalam senyawa logam sulfida. Pada mulanya unsur ini
disebut brimstone yang berarti batu yang mudah terbakar. Belerang juga terdapat
dalam gas alam, minyak bumi, dan batu bara. (Syukri, 1999)
Belerang ditemukan sebagai unsur bebas, maupun sebagai bijih sulfida, FeS2,
PbS, ZnS, dan sebagai sulfat CaSO4.2H2O dan MgSO4.7H2O. Belerang sebagai
unsur biasanya terdapat dalam lapisan kurang lebih 150 m di bawah batu karang, pasir
atau tanah liat. Oleh karena itu belerang tidak dapat ditambang seperti pada
pertambangan lainnya.
Pada tahun 1904 Frasch berhasil mengembangkan cara untuk mengekstrak
belerang yang dikenal dengan cara Frasch. Pada proses ini pipa logam berdiameter 15
cm yang terdapat 2 pipa konsentrik yang lebih kecil ditanam sampai menyentuh
lapisan belerang. Uap air yang sangat panas dipompa dan dimasukkan melalui pipa
luar, sehingga belerang meleleh. Kemudian dimasukkan udara bertekanan tinggi
melalui pipa terkecil sehingga terbentuk busa belerang dan terpompa ke atas melalui
pipa ketiga. Kemurnian belerang yang keluar mencapai 99,5%. Pada dewasa ini lima
puluh persen belerang yang digunakan dalam industri diperoleh dengan proses Frasch.
Selebihnya diperoleh dari gas alam dan minyak bumi. (Hiskia achmad, 2001)
1
1

1.2

Rumusan Masalah
Apa pengertian dan karakteristik Belerang?
Bagaimana pemanfaatan Belerang?
Bagaimana pengolahan Belerang?
Bagaimana penyebaran Belerang?

1.3

Tujuan
Mengetahui pengertian dan karakteristik Belerang.
Mengetahui pemanfaatan Belerang.
Mengetahui pengolahan Belerang.
Mengetahui penyebaran Belerang.

1.4

Manfaat
Menambah wawasan mengenai Belerang dan bagaimana karakteristik dari
Belerang, pengolahan dan pemanfaatannya serta mengetahui letak penyebarannya.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Dan Karakteristik Belerang

Belerang adalah unsur keempat belas terbanyak dalam kerak bumi. Dalam
bentuk unsur keempat belas, belerang terdapat dalam kawah gunung berapi dan
endapan bawah tanah di daerah vulkanik. Sebagai senyawanya, belerang terdapat
dalam berbagai mineral sulfat SO42- seperti gips (CaSO4.2H2O), garam epsom
(MgSO4.7H2O), barit (BaSO4), celestit (SrSO4), dan sulfida2-, seperti Galena (PbS),
pirit (FeS), seng blende (ZnS), tembaga pirite ((Cu, Fe)S2), cinnabar (HgS), stibnit
(Sb2S3), serta dalam bentuk molekul-molekul pada beberapa bahan organik, mustard,
telur, rambut, protein, dan bawang putih.
Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineralmineral sulfida dan sulfat. Belerang merupakan unsur penting bagi kehidupan
manusia yang ditemukan dalam dua asam amino. Penggunaan komersilnya terutama
dalam fertilizer dan juga bubuk mesiu, korek api, insektisida dan fungisida. Belerang
banyak terdapat di Pegunungan.
Belerang juga dapat diperoleh dari minyak bumi dan batu bara. Belerang yang
terkandung dalam minyak bumi dan batu bara menimbulkan masalah lingkungan,
karena pembakaran bahan-bahan tersebut menghasilkan oksida-oksida belerang yang
mencemari udara. Oleh karena itu, belerang tersebut dipisahkan terlebih dahulu dan
proses ini menjadi salah satu sumber produksi belerang. (Ida farida, 2008)

A. Sifat-sifat Fisika
Belerang terdapat dalam dua bentuk alotrop (polimorf). Kedua alotrop ini
adalah belerang rombik, berwarna kuning yang disebut belerang- (titik leleh
112,80C). Pada suhu 95,60C, belerang rombik berubah menjadi belerang monoklin
yang disebut belerang- (119,250C). Unsur ini mendidih pada 444,60C. Satuan
struktur kedua bentuk alotrop dalam keadaan cair, mengerut menjadi lingkar S8. Jika
belerang cair dipanaskan, viskositasnya berubah karena perubahan struktur dalam
molekul belerang. Pada suhu di atas titik leleh, terbentuk cairan berwarna kuning
muda dan terdiri satuan S8. Jika suhu dinaikkan lagi, warna cairan menjadi gelap, dan
pada kira-kira 1600C, berupa lingkar S8 putus menjadi rantai spiral panjang (belerang) dengan beberapa satuan belerang S6 (belerang-). Antara 1600C dan
1800C,viskositas cairan mencapai maksimum dan dapat di tuang.
3

Pada suhu di atas 2000C, cincin S8 terbuka sehingga membentuk rantai terbuka
dan menjadi cair

Gambar Sifat Belerang Yang Berubah Ketika Diberi Panas


Terlihat bahwa atom S ujungnya mempunyai elektron tidak berpasangan dan
dapat berikatan dengan ujung molekul lain, sehingga membentuk molekul S12, S24,
dsb. Hal ini menyebabkan kekentalan cairan bertambah. Pada suhu yang tinggi,
gerakan atom makin besar mengakibatkan rantai putus menjadi lebih pendek,
sehingga kekentalan berkurang kembali.
Unsur belerang berupa satuan S8, S6 ,S4, dan S2, komposisinya bergantung
pada suhu. Jika cairan belerang (pada 250C 350C) dituang ke dalam air dingin,
diperoleh belerang plastik, berupa serat yang terutama berbentuk . Jika dibiarkan,
lama kelamaan akan berubah menjadi belerang rombik. (Achmad, 2001)
4

Sifat-Sifat Fisika Belerang


Sifat Fisika
Penampilan pada suhu kamar
Rumus molekul biasa
Titk leleh oC
Titik didih oC
Energi pengionan eV atom
Energi pengionan kJ/mol
Jari-jari kovalen
Jari-jari ion (E2-),
Struktur elektron
Keelektronegatifan
(keenan, 1984)

Spesifikasi dan nilai


Kuning, getas zat padat
S8
115,2
444,6
10,4
1,000
1,02
1,82
1s2 2s2 2p6 3s2 3p4
2,5

Atom belerang membutuhkan dua elektron agar stabil dan dalam keadaan
bebas adalah alotropi (mempunyai beberapa benruk kristal) dengan struktur dan sifat
yang kompleks, dan belum sepenuhnya dipahami. Ada dua bentuk kristal yang umum,
yaitu ortorombik dan monoklin bermolekul S8, yang berstruktur cincin. pada suhu
250C, belerang berbentuk ortorombik berwarna kuning, dan pada suhu 95,20C berubah
menjadi monoklin.

Gambar struktur S8(Syukri, 1999)

Gambar Molekul siklik dari belerang padat (S8)

B. Sifat-sifat Kimia
Suatu sifat khas yang jelas pada belerang adalah atom belerang hanya
memerlukan dua elektron lagi untuk mencapai konfigurasi s2p6 dari gas mulia. Oleh
karena itu, belerang sering bereaksi sebagai zat pengoksida dengan mencapai keadaan
oksida -2. Belerang dapat dioksidasikan oleh zat-zat pengoksida kuat, misalnya
oksigen atau beberapa halogen. Bila teroksidasi, belerang cenderung ada dalam
keadaan teroksidasi +2, +4, atau +6, contohnya adalah +2 (SCl2), +4 (SO2), dan +6
(SO3).
Terhadap logam, belerang bertindak sebagai penerima 2 elektron, terhadap
kebanyakan non logam, sebagai penyumbang (donor). Fakta bahwa belerang adalah
zat pengoksid maupun zat pereduksi, menjelaskan mengapa ia bergabung 6dengan
semua unsur kecuali emas, platina, dan gas mulia. Namun, belerang tidak sangat
reaktif, selain jika dipanaskan di atas titik lelehnya. (Keenan, 1984)
C. SIKLUS SULFUR

Siklus belerang relatif kompleks dimana melibatkan berbagai macam gas,


mineral-mineral yang sukar larut dan beberapa spesi lainnya dalam larutan, seperti:
(1) mineral tanah, (2) gas belerang dalam atmosfer, dan (3) bahan organik.
Pada dasarnya, siklus belerang terdiri dari 50% SO2 yang ada di atmosfer
diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun
kebakaran hutan secara alami, dan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia,
misalnya akibat pembakaran bahan bakar fosil (BBF), peleburan logam dan
pembangkit listrik. Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi
belerang dioksida (SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah
menjadi asam sulfat. (Otto Soemarwoto 1992)
Belerang yang dihasilkan dari pemakaian batu bara sebagai bahan bakar pada
beberapa kegiatan industri yang mengarahkan terbentuknya SO2. Polutan yang berasal
dari asap industri yang reaksinya antara gas SOx dengan uap air yang terdapat di
udara (atmosfer) akan membentuk asam sulfat maupun asam sulfit. Apabila asam
sulfat dan asam sulfit turun ke bumi (tanah) bersama-sama dengan jatuhnya hujan,
terjadilah apa yang dikenal dengan Acid Rain atau hujan asam. Hujan secara alami
bersifat asam karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan
memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat
karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh
tumbuhan/tanaman dan binatang. Secara biologi, belerang berperan penting bagi
pertumbuhan maupun metabolisme tanaman, asam amino sistin maupun sistein, dan
7

metionin mengandung belerang dan penting untuk pembentukan, struktur, dan


fungsi protein. (Anderson, 1975; Blair, et al., 1979)
Belerang juga berperan dalam enzim tanaman, dan reaksi oksidasi-reduksi.
Menurut Anderson (1975), protein sel memenuhi reaksi oksidasi-reduksi dan protein
sel memenuhi dua fungsi utama bagi kehidupan, yakni: (a) enzim mengkatalis reaksi
biosintetik dan katabolik yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pengembangan selsel organisme, serta (b) protein struktural merupakan penyusunan berbagai membran.
Setelah belerang merupakan unsur penyusun protein, tumbuhan mendapat sulfur dari
dalam tanah dalam bentuk sulfat (SO4) kemudian tumbuhan tersebut dimakan hewan
7

sehingga sulfur berpindah ke hewan, lalu hewan dan tumbuhan mati diuraikan dengan
beberapa jenis bakteri, antara lain Desulfomaculum dan Desulfibro yang akan
mereduksi sulfat menjadi sulfida dalam bentuk gas hidrogen sulfida (H 2S) atau
menjadi sulfat lagi, kemudian H2S digunakan bakteri fotoautotrof aerob seperti
Chromatium dan melepaskan sulfur dan oksigen. Sulfur dioksida menjadi sulfat oleh
bakteri kemolitotrof seperti Thiobacillus. Secara alami, belerang terkandung dalam
tanah dalam bentuk mineral tanah. Belerang dari daratan cenderung terbawa air ke
laut. Setelah itu hidrogen sulfida menuju ke atmosfer melalui penguapan laut.
Didalam laut, tumbuhan laut yang memiliki sel-sel sederhana yang berusaha hidup
dengan menahan masuknya garam (NaCl) ke dalam selnya. Ini dilakukan dengan
membentuk senyawa penahan yang berbahan baku belerang, karena pasokan belerang
di laut banyak sekali, datang dari daratan. Waktu sel mereka terurai, senyawa penahan
ini pecah dan menghasilkan gas dimetil sulfida (DMS) yang lepas ke atmosfer. Setiap
saat, sejumlah besar senyawa ini dilepas ke atmosfer, dan senyawa ini mampu
menjadi inti kondensasi uap air. Pada gilirannya, terbentuk awan, yang menjadi hujan.
Saat hujan jatuh di darat, senyawa belerang ini dikembalikan ke daratan untuk
dimanfaatkan makhluk daratan. Lalu ampasnya, dalam dibuang lagi ke laut, untuk
diolah oleh alga-alga. (Kuncoro. 2007)

2.2 Pemanfaatan Belerang

Kegunaan senyawa sulfur diantaranya:


1.

ZnSO4 suatu obat emesis ( pembuat muntah )

2.

Al2(SO4)3 zat penjernih air yang dikenal dengan tawas

3.

BaSO4 suatu pigmen putih untuk cat

4.

CaSO4 (gips),banyak digunakan untuk menyambung tulang yang patah

5.

CuSO4.5H2O (terusi), zat fungisida (pembasmi jamur) untuk tanaman dan kayu

6.

FeSO4.7H2O di pakai untuk membuat tinta

7.

H2SO4 di gunakan untuk :

pereaksi dalam pembuatan pupuk superfosfat, Ca(H 2PO4)2 dengan reaksi Ca3(PO4)2 +
2H2SO4 Ca(H2PO4)2 + 2CaSO4

30%

Cat dan pigmen terutama produksi titanium dioksida

16%

Zat kimia termasuk plastik

16%

Detergen dan sabun

12%

Serat alam dan buatan

10%

Lain-lain termasuk metalurgi dan zat warna

10%
(Achmad, 2001).

8.

Industri Amonium Sulfat (Nh4)2so4


Senyawa amonium sulfat sebagai jenis pupuk yang di kenal dengan pupuk Z.A
(zwavelvur amonium).Pupuk ini dibuat dengan mereaksikan asam sulfat dan Amonia
2NH3 + H2SO4

9.

(NH4)2SO4

Dalam Pembuatan Fotografi .


Na2S2O3.5H2O di gunakan dalam fotografi untuk melarutkan perak bromida yang
tidak reaktif dari emulsi dengan pembentukan komplek [Ag(S2O3)] dan [Ag(S2O3)2]3-

10.

Alkil Benzena Sulfonat Dalam Deterjen


Deterjen dengan bahan ini bersifat keras, cara pembuatannya yaitu dengan
mereaksikan Alkil Benzena dengan Belerang Trioksida, asam Sulfat pekat atau
Oleum. Reaksi ini menghasilkan Alkil Benzena Sulfonat. Jika dipakai Dodekil
Benzena maka persamaan reaksinya adalah
C6H5C12H25 + SO3

C6H4C12H25SO3H

(Dodekil Benzena Sulfonat)

Reaksi selanjutnya adalah netralisasi dengan NaOH sehingga dihasilkan


Natrium Dodekil Benzena Sulfonat. Kemudian bahan yang sering di gunakan dalam
deterjen yaitu lauril sulfat / lauril alkil sulfonat, deterjen dengan bahan ini sifatnya

lunak cara pembuatannya dikenal dengan LAS yaitu mereaksikan Lauril Alkohol
dengan asam Sulfat pekat menghasilkan asam Lauril Sulfat dengan reaksi:
C12H25OH + H2SO4

C12H25OSO3H + H2O

Asam Lauril Sulfat yang terjadi dinetralisasikan dengan larutan NaOH sehingga
dihasilkan Natrium Lauril Sulfat.
11.

Sulfur Dapat Menyembuhkan Jerawat.


Menurut penelitian medis Sulfur atau belerang memiliki sifat antiseptik yang mampu
membunuh berbagai mikroba kuman penyebab masalah kulit. Bukan hanya biang
keringat atau bau badan saja yang mampu dituntaskan oleh belerang, namun juga
masalah-masalah kulit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri, seperti panu, kudis,
kurap, kutu air dll. Sulfur atau belerang juga bersifat sebagai anti acne yang mencegah
dan mengatasi timbulnya jerawat. Hal ini dikarenakan Sulfur atau belerang mampu
mengontrol kerja kelenjar sebasea sehingga tidak menghasilkan lemak27
atau minyak
dibawah permukaan kulit secara berlebihan yang seringkali menyebabkan
tersumbatnya pori-pori sebagai awal mula terjadinya jerawat. Fungsi lain dari Sulfur
atau belerang adalah keratolytic, yaitu kemampuan untuk merangsang pertumbuhan
sel kulit baru dengan cara membantu proses pengelupasan sel kulit mati di permukaan
kulit.

12.

Belerang digunakan oleh tanaman untuk mengelola warna hijau tua pada tanaman
atau untuk membentuk protein utama (esensial). Secara ringkas, fungsi belerang pada
tanaman adalah sebagai berikut:

Bahan makanan utama untuk memproduksi protein

Membentuk enzim dan vitamin

Membantu pembentukan klorofil

Memperbaiki pertumbuhan akar dan produksi bibit

Membantu pertumbuhan cepat tanaman dan tahan terhadap dingin


(http://one.indoskripsi.com/node/7138)

10

2.3 Pengolahan Belerang


A. Proses Frasch
Proses Frasch merupakan suatu proses pengeboran yang ditunjukan untuk
mendapatkan kembali simpanan belerang yang terkandung di dalam tanah, pompa
frasch dirancang oleh Herman Frasch dari Amerika Serikat tahun 1904.
Deposit belerang ditambang menurut proses Frasch dilakukan dengan cara
membuat lubang ke bawah tanah yang mengandung belerang. Belerang dicairkan
dengan mengalirkan uap air panas (1600C) melalui sebuah pipa yang berdiameter 15
cm dengan tekanan sekitar 16 atm. Belerang yang sudah mencair itu, kemudian
dipaksa keluar dengan memompa udara panas (tekanan 20-25 atm) melalui pipa
kedua. Belerang cair mengalir melalui pipa letiga. Selanjutnya belerang dibiarkan
membeku. Belerang yang diperoleh dengan cara ini mempunyai kemurnian sekitar
99,6%.

.
Pada dewasa ini 50% belerang yang digunakan dalam industri diperoleh
dengan proses frasch.Belerang juga dapat diperoleh dari minyak bumi dan batu bara.
Belerang yang terkandung dalam minyak bumi dan batu bara menimbulkan masalah
lingkungan, karena pembakaran bahan-bahan tersebut menghasilkan oksida-oksida
11

belerang yang mencemari udara. Oleh karena itu, belerang tersebut dipisahkan
terlebih dahulu dan proses ini menjadi salah satu sumber produksi belerang. (Ida
Farida, 2008)
B. Proses Kontak
Hampir semua asam sulfat dibuat dengan proses kontak. Proses ini berlangsung
dalam tiga tahap yaitu produksi SO2, konversi SO2 menjadi SO3 dan konversi SO3
menjadi H2SO2.
1. Produksi SO2
Belerang dibakar dalam udara kering di ruang pembakar pada suhu 10000C.
S(s) + O2(g)

SO2(g)

H = -297 kJ mol-1

Gas yang dihasilkan mengandung kurang lebih 10% volume sulfur dioksida,
kemudian setelah didinginkan sampai 4000C, dimurnikan dengan cara pengendapan
elektrostatik.
2. Konversi SO2 Menjadi SO3
Dengan menggunakan katalis, (biasanya vanadium (V) oksida), sulfur
dioksida direaksikan dengan udara bersih yang berlebih. Oleh karena reaksi adalah
reaksi eksoterm, gas-gas ini direaksikan pada 4500C- 4740C.
2 SO2 (g) +O2 (g)

2 SO3 H = -98 kJ mol-1

Gas yang panas ini dialirkan melalui sebuah converter yang terdiri dari empat
lapisan yang dicampur dengan katalis vanadium (V) oksida. Pada lapisan pertama
70% SO2 dapat diubah menjadi SO3. Oleh karena reaksinya adalah reaksi endoterm,
gas harus didinginkan dahulu sebelum mengalami konversi pada lapisan kedua.
Pekerjaan ini diulangi sehingga sampai pada lapisan keempat, 98% sulfur dioksida
diubah menjadi belerang trioksida. Agar dapat mencapai 99,5% konversi, sulfur
trioksida yang dihasilkan didinginkan kemudian dilarutkan dalam asam sulfat 98%
sampai 99%.

12

3. Konversi SO3 Menjadi H2SO4


Sulfur trioksida yang dihasilkan didinginkan kemudian dilarutkan dalam H2SO4 98%
sehingga menghasilkan asam 98,5% yang kemudian diencerkan dengan air.
SO3 (g) + H2SO4 (l)
H2S2O7 (l) + H2O (l)

H2S2O7 (l)
H2SO4 (l)

Reaksi keseluruhannya adalah


H2O + SO3 (g) H2SO4 (l)

H = -130 kJ mol-1

(Hiskia achmad,2001)

Bagan proses kontak

13

Pertama-tama belerang padat dimasukan kedalam drum berputar lalu dibakar


dengan oksigen dari udara dan hasilnya gas SO2 dimurnikan dengan pengendap
elektrostatika ( kawat-kawat bertegangan tinggi ) partikel-partikel debu dan kotoran
lain menjadi bermuatan dan tertarik oleh kawat yang muatannya berlawanan,
sehingga debu-debu itu jatuh kelantai ruangan.
Campuran gas SO2 dan udara kemudian dialirkan kedalam ruangan yang
dilengkapi katalis serbuk V2O5. Disini berlangsung proses kontak yaitu kontak antara
campuran gas-gas dengan katalis. Gas SO2 bereaksi dengan oksigen dengan udara
untuk membentuk gas SO3.
2SO2 (g)+ O2(g)

2SO3(g)

H = -90 kJ

Agar reaksi ini bergeser kekanan gas SO3 yang terbentuk segera direaksikan dengan
air untuk menghasilkan H2SO4
SO3(g)+ H2O(l)

H2SO4(aq)

Gas SO3 direaksikan dengan H2SO4 untuk membentuk asam pirosulfat, H2S2O7
kemudian barulah asam pirosulfat direaksikan dengan air untuk membentuk asam
12

sulfat
SO3(g)+ H2SO4(aq)
H2S2O7(aq)+H2O

H2S2O7(aq)
2H2SO4(aq)

14

2.4 Penyebaran Belerang

Belerang terdapat di alam dalam keadaan bebas sebagai kristal S8 atau amorf.
Sumber belerang terdapat pada kawah gunung berapi. Selain itu, belerang bebas juga
terdapat sebagai deposit belerang di dalam perut bumi. Senyawa belerang tersebar di
alam sebagai gas H2S; batuan-batuan sulfat, misalnya batuan gipsum (CaSO4); dan
mineral sulfida, misalnya pirit (FeS2), kalkopirit (CuFeS2), dan galena (PbS).
Belerang dapat diperoleh secara langsung di kawah gunung atau dari deposit
belerang di bawah tanah dengan cara Frasch. Belerang juga dapat dipisahkan dari
hidrokarbon (gas alam) yang mengandung H2S dalam kadar tinggi. Sebagai contoh, di
Kanada terdapat sumber gas alam yang mengandung H2S 30%. Belerang dari gas
alam diperoleh dengan cara mereaksikan gas H2S tersebut dengan gas SO2 yang
diperoleh dari pembakaran belerang di udara.
S(g) + O2(g) SO2(g)
2H2S(g) + SO2(g) 3S(s) + 2H2O(l)
Pengambilan belerang dari deposit belerang dalam perut bumi dilakukan
dengan proses Frasch, yaitu dengan memompakan air super panas bertekanan tinggi
(pada kondisi tekanan tinggi ini, air dibuat bersuhu sekitar 147oC) sehingga belerang
meleleh (titik leleh belerang 120oC). Adanya tekanan tinggi mengakibatkan lelehan
belerang keluar melalui pori-pori tanah dan membeku di permukaan tanah.
15

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Belerang adalah unsur keempat belas terbanyak dalam kerak bumi. Dalam
bentuk unsur keempat belas, belerang terdapat dalam kawah gunung berapi dan
endapan bawah tanah di daerah vulkanik. Selain itu, belerang juga dapat diperoleh
dari minyak bumi dan batu bara. Belerang tersebar di alam sebagai pirit, galena,
sinabar, stibnite, gipsum, garam epsom, selestit, barit dan lain-lain.
Sifat-Sifat fisika belerang
Sifat Fisika

Spesifikasi dan nilai

Penampilan pada suhu

Kuning, getas zat padat

kamar
Rumus molekul biasa

S8

Titk leleh oC

115,2

Titik didih oC

444,6

Energi pengionan eV atom

10,4

Energi pengionan kJ/mol

1,000

Jari-jari kovalen

1,02

Jari-jari ion (E2-),

1,82

Struktur elektron

1s2 2s2 2p6 3s2 3p4

Keelektronegatifan

2,5

16

Suatu sifat khas yang jelas pada belerang adalah atom belerang hanya
memerlukan dua elektron lagi untuk mencapai konfigurasi s2p6 dari gas mulia. Oleh
karena itu, belerang sering bereaksi sebagai zat pengoksida dengan mencapai
keadaan oksida -2. Belerang dapat dioksidasikan oleh zat-zat pengoksida kuat,
misalnya oksigen atau beberapa halogen. Bila teroksidasi, belerang cenderung ada
dalam keadaan teroksidasi +2, +4, atau +6, contohnya adalah +2 (SCl2), +4 (SO2),
dan +6 (SO3).
Pada dasarnya, siklus belerang terdiri dari 50% SO2 yang ada di atmosfer
diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi
30maupun
kebakaran hutan secara alami, dan 50% lainnya berasal dari kegiatan manusia,
misalnya akibat pembakaran bahan bakar fosil (BBF), peleburan logam dan
pembangkit listrik. Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi
belerang dioksida (SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah
menjadi asam sulfat. (Otto Soemarwoto 1992)
Proses Frasch merupakan suatu proses pengeboran yang ditunjukan untuk
mendapatkan kembali simpanan belerang yang terkandung di dalam tanah
Hampir semua asam sulfat dibuat dengan proses kontak. Proses ini
berlangsung dalam tiga tahap yaitu produksi SO2, konversi SO2 menjadi SO3 dan
konversi SO3 menjadi H2SO2.
Senyawa belerang diantaranya: hidrogen sulfida, sulfida, polisulfida, oksida
dan asam oksida, serta senyawa tio. Sulfida, contohnya: FeS(s), polisulfida,
contohnya:BaS3, Oksida yaitu SO2 dan SO3, asam okso yaitu H2SO4 serta senyawa tio
contohnya: tioasetamida.
Sulfur mempunyai banyak kegunaan diantaranya sebagai bahan baku
pembuatan asam sulfat, pembuatan karbon di sulfida, CS2 (bahan baku serat rayon)
serta pada proses vulkanisasi karet (ikatan silang belerang akan memperkuat polimer
karet).

3.2

Saran
17

Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang S dan nomor atom 16. Bentuknya adalah non-metal yang tak berasa, tak
berbau dan multivalent. Belerang, dalam bentuk aslinya, adalah sebuah zat padat
kristalin kuning. Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau
sebagai mineral- mineral sulfida dan sulfat. Ia adalah unsur penting untuk kehidupan
dan ditemukan dalam dua asam amino. Penggunaan komersilnya terutama dalam
fertilizer namun juga dalam bubuk mesin, korek api, insektisida dan fungisida.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia. 2001. Kimia Unsur dan Radiokimia. Bandung: Citra Aditya Bakti
18

Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Universitas Indonesia
Farida, Ida,Ch, Dra, MPd. 2008. Kimia Anorganik II. UIN Sunan Gunung Djati
Bandung.
Keenan,dkk. 1984. Kimia Untuk Universitas jilid 2. Jakarta: Erlangga
Saito, Taro. 2004. Kimia Anorganik. Buku On-line
Sumarwoto, Otto. 2004. Ekologi, Lingkungan hidup dan Pembangunan. Jakarta:
Djambatan
Syukri, S.1999. Kimia Dasar.Bandung: ITB
http://one.indoskripsi.com/node/7138
http://climacusd.blogspot.com/2009/02/sumber-sumber-di-alam.html

19