Anda di halaman 1dari 5

BERAPA BUKUKAH

YANG KITA BACA DALAM SATU BULAN?


Oleh : Muhamad Munir, ST.
Malang, 22 Mei 2008

Berapa bukukah yang kita baca dalam satu bulan?


Satu, Dua, tiga, sepuluh, dua puluh atau tiga puluh buku?, atau Nol buku?.
Sebuah pertanyaan kritis dan menggelitik, yang hanya Allah dan diri kita masing-masing
yang tau jawabannya.
Kenapa ngotot (memaksa) sih soal membaca buku saja?. Sebenarnya sih tidak ngotot-
ngoto amat. Hanya mungkin kita saja yang keterlaluan dan kebablasan, menanggapi seruan
Ilahi atau menjawab pertanyaan ini. Loh koq?. Iya emang lah.
Gini aja deh, coba jujur jawaban kita pada pilihan jumlah buku di atas cenderung ke
sebelah kiri atau kanan?, atau paling kanan?.
Kalaulah misal cenderung ke sebelah kiri, coba berapa cuma satu buku, atau dua buku atau
sampai sepuluh buku yang kita baca dalam satu bulan?. Kalau demikikian lumayan lah.
Kalaulah misal cenderung ke sebelah kanan, yakni jumlah buku yang kita baca dalam satu
bulan berkisar dua puluh atau tiga puluh buku (artinya sehari membaca hingga selesai satu
buah buku), maka itu sungguh luar biasa. Untuk itu pertahankanlah.
Kalaulah misal (semoga tidak demikian) kita berda pada level yang paling kanan, yaitu
‘Nol buku’, maka sungguh rugilah kita. Kecuali yang memang udzur, sudah tidak dapat
melihat dengan jelas, atau (maaf) yang buta maka dapat dimakulumi karena memang buku-
buku dalam huruf braile tidak begitu banyak.

“ Iqro’ ”…. Bacalah!


Demikian ~Kitab Suci al-Qur’an yang terjaga, yang penuh hikmah, yang dihafal oleh
jutaan umat Islam, yang komplit kandungannya, yang tidak ada keraguan di dalamnya,
yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad yang terbesar, yang hingga saat ini masih tetap
aktual menjadi kajian tidak hanya oleh umat Islam tapi juga umat-umat lain, yang Maria
seorang Kristen Koptik menghafal beberapa surah daripadanya seperti kita baca dalam
buku Ayat-ayat Cinta, yang surat-surat pendeknya kita hafal diluar kepala, yang paling
tidak 37 kali dalam sehari semalam kita membaca surat-suratnya dalam sholat kita~
dimulai.
Kemudian apakah kita telah menjalankan anjuran tersebut?. Membaca ini adalah kunci
terbukanya ilmu dan pengetahuan. Membaca di sini tidak hanya untuk membaca al-Qur’an
saja. Meskipun al-Qur’an adalah sumber ilmu dan sumber kajian yang paling utama,
sehingga tentunya tetap menjadi prioritas bagi seorang muslim. Namun anjuran membaca
sebagaimana yang terkandung dari ayat-ayat pertama al-Qur’an, yaitu:
Bacalah, dengan menyebut Nama Tuhanmu yang menciptkan -(1)- Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah -(2)- Bacalah, dan Tuhanmulah
Yang Paling Mulia -(3)- Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam 1

1
[1589] Maksudnya : Allah mengajar manusia dengan perntaraan tulis baca.

-= 1/5 =-
-(4)- Dia mengajar kepada manusia apa-apa yang belum diketahuinya -(5)-
(QS. Al-Alaq 1-5)

Tafsir Surat Ayat-Ayat Bacalah


Menurut Tafsir Al-Azhar, diuraikan sebagai berikut:
'Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta." (ayat 1). Dalam suku
pertatna saja, yaitu "bacalah", telah terbuka kepentingan pertama di dalam
perkembangan agama ini selanjutnya. Nabi s.a.w. disuruh membaca wahyu
akan diturunkan kepada beliau itu di atas nama Allah, Tuhan yang telah
mencipta. Yaitu "Menciptakan manusia dari segumpal darah." (ayat 2).
Yaitu peringkat yang kedua sesudah nuthfah, yaitu segumpal air yang telah
berpadu dari mani si laki-laki dengan mani si perempuan, yang setelah 40 hari
lamanya, air itu telah menjelma jadi segumpal darah, dan dari segumpal
darah itu kelak akan menjelma pula setelah melalui 40 hari, menjadi
segumpal daging (Mudhghah).
Nabi bukanlah seorang yang pandai membaca. Beliau adalah ummi, yang
boleh diartikan buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pula pandai
membaca yang tertulis. Tetapi Jibril mendesaknya juga sampai tiga kali
supaya dia membaca. Meskipun dia tidak pandai menulis, namun ayat-ayat itu
akan dibawa langsung oleh Jibril kepadanya, diajarkan, sehingga dia dapat
menghapalnya di luar kepala, dengan sebab itu akan dapatlah dia
membacanya. Tuhan Allah yang menciptakan semuanya. Rasul yang tak
pandai menulis dan membaca itu akan pandai kelak membaca ayat ayat yang
diturunkan kepadanya. Sehingga bilamana wahyu-wahyu itu telah turun kelak,
dia akan diberi nama al-Quran. Dan al-Quran itu pun artinya ialah bacaan.
Seakan-akan Tuhan berfirman: "Bacalah, atas qudratKu dan iradatKu."
Syaikh Muhammad Abduh di dalam Tafsir Juzu" Ammanya menerangkan;
`Yaitu Allah yang Maha Kuasa menjadikan manusia daripada air mani,
menjelma jadi darah segumpal, kemudian jadi manusia penuh, niscaya kuasa
pula menimbulkan kesanggupan membaca pada seorang yang selama ini
dikenal ummi, tak pandai membaca dan menulis. Maka jika kita selidiki isi
Hadis yang menerangkan bahwa tiga kali Nabi disuruh membaca, tiga kali
pula beliau menjawab secara jujur bahwa beliau tidak pandai membaca, tiga
kali pula Jibril memeluknya keras-keras, buat meyakinkan baginya bahwa
sejak saat itu kesanggupan membaca itu sudah ada padanya, apatah lagi dia
adalah aI-Insan al-Kamil, manusia sempurna. Banyak lagi yang akan
dibacanya di belakang hari. Yang penting harus diketahuinya ialah bahwa
dasar segala yang akan dibacanya itu kelak tidak lain ialah dengan nama Allah
jua.
"Bacalah! Dan Tuhan engkau itu adalah Maha Mulia." (ayat 3). Setelah di ayat
yang pertama beliau disuruh membaca di atas nama Allah yang menciptakan
insan dari segumpal darah, diteruskan lagi menyuruhnya membaca di atas
nama Tuhan. Sedang nama Tuhan yang selalu akan diambil jadi sandaran
hidup itu ialah Allah Yang Maha Mulia, Maha Dermawan, Maha Kasih dan
Sayang kepada makhlukNya;
"Dia yang mengajarkan dengan qalam." (ayat 4). Itulah keistimewaan Tuhan
itu lagi. Itulah kemuliaanNya yang tertinggi. Yaitu diajarkanNya kepada
manusia berbagai ilmu, dibukaNya berbagai rahasia, diserahkanNya berbagai
kunci untuk pembuka perbendaharaan Allah, yaitu dengan qalam. Dengan
pena! Di samping lidah untuk membaca, Tuhan pun mentakdirkan pula bahwa
dengan pena ilmu pengetahuan dapat dicatat. Pena adalah beku dan kaku,
tidak hidup, namun yang dituliskan oleh pena itu adalah berbagai hal yang
dapat difahamkan oleh manusia "Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak
tahu." (ayat 5).

-= 2/5 =-
Lebih dahulu Allah Ta'ala mengajar manusia mempergunakan qalam. Sesudah
dia pandai mempergunakan qalam itu banyaklah ilmu pengetahuan diberikan
oleh Allah kepadanya, sehingga dapat pula dicatatnya ilmu yang baru
didapatnya itu dengan qalam yang telah ada dalam tangannya;

"llmu pengetahuan adalah laksana binatang buruan dan penulisan adalah tali
pengikat buruan itu. Oleh sebab itu ikatlah buruanmu dengan tali yang
teguh."
Maka di dalan susunan kelima ayat ini, sebagai ayat mula-mula turun kita
menampak dengan kata-kata singkat Tuhan telah menerangkan asal-usul
kejadian seluruh manusia yang semuanya sama, yaitu daripada segumpal
darah, yang berasal dan segumpal mani.
Dan segumpal mani itu berasal dari saringan halus makanan manusia yang
diambil dari bumi. Yaitu dari hormon, kalori, vitamin dan berbagai zat yang
lain, yang semua diambil dari bumi yang semuanya ada dalam sayuran, buah-
buahan makanan pokok dan daging. Kemudian itu manusia bertambah besar
dan dewasa. Yang terpenting alat untuk menghubungkan dirinya dengan
manusia yang sekitamya ialah kesanggupan berkata-kata dengan lidah,
sebagai sambungan dari apa yang terasa dalam hatinya. Kemudian
bertambah juga kecerdasannya, maka diberikan pulalah kepandaian menulis.
Di dalam ayat yang mula turun ini telah jelas penilaian yang tertinggi kepada
kepandaian membaca dan menulis. Berkata Syaikh Muhammad Abduh dalam
tafsirnya: "Tidak didapat kata-kata yang lebih mendalam dan alasan yang
lebih sempurna daripada ayat ini di dalam menyatakan kepentingan membaca
dan menulis ilmu pengetahuan dalam segala cabang dan bahagiannya.
Dengan itu mula dibuka segala wahyu yang akan turun di belakang.
Maka kalau kaum Muslimin tidak mendapat petunjuk dengan ayat ini dan tidak
mereka perhatikan jalan-jalan buat maju, merobek segala selubung
pembungkus yang menutup penglihatan mereka selama ini terhadap ilmu
pengetahuan, atau merampalkan pintu yang selama ini terkunci sehingga
mereka terkurung dalam bilik gelap, sebab dikunci erat-erat oleh pemuka-
pemuka mereka sampai mereka merabaraba dalam kegelapan bodoh, dan
kalau ayat pembukaan wahyu ini tidak menggetarkan hati mereka, maka
tidaklah mereka akan bangun lagi selamalamanya."
Ar-Razi menguraikan dalam tafsirnya, bahwa pada dua ayat pertama disuruh
membaca di atas nama Tuhan yang telah mencipta, adalah mengandung
qudrat, dan hikmat dan ilmu dan rahmat. Semuanya adalah sifat Tuhan. Dan
pada ayat yang seterusnya seketika Tuhan menyatakan mencapai ilmu
dengan qalam atau pena, adalah suatu isyarat bahwa ada juga di antara
hukum itu yang tertulis, yang tidak dapat difahamkan kalau tidak didengarkan
dengan seksama. Maka pada dua ayat pertama memperlihatkan rahasia
Rububiyah, rahasia Ketuhanan. Dan di tiga ayat sesudahnya mengandung
rahasia Nubuwwat, Kenabian. Dan siapa Tuhan itu tidaklah akan dikenal kalau
bukan dengan perantaraan Nubuwwat, dan nubuwwat itu sendiri pun tidaklah
akan ada, kalau tidak dengan kehendak Tuhan.2

Sidang pembaca yang terhormat, kalau boleh saya merangkum dalam sebuah atau dua
buah paragraf, kandungan Surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5 tersebut adalah: Kita
diperintahkan oleh Allah swt untuk membaca, membaca dengan terlebih dahulu menyebut
nama Allah. Membaca atau mengkaji ilmu dengan terlebih dahulu didasari iman dan

2
Sumber : Tafsir Al-Azhar, File PDF (ebook) dari http://groups.yahoo.com/group/rezaervani

-= 3/5 =-
tawadlu’ kepada Allah swt, sehingga membaca kita menjadi ibadah yang inya-Allah
mendapatkan keridhaan dan pahala dari-Nya.
Membaca dengan menyebut nama Robb yang telah menciptakan. Maksudnya, agar kita
menyadari bahwa kita harus menyebut nama Robb kita yang telah menciptakan kita dan
makhluq Allah yang lainnya. Artinya kita ini tidak wujud dengan sendirinya, tetapi kita ini
adalah ciptaan Allah, Robb kita. Bacalah, kajilah ada apa dengan penciptaan. Penciptaan
dari tidak ada menjadi ada, apa saja porosesnya, bagaimana kita diciptakan. Di sana
disebutkan kita manusia diciptakan dari segumpal darah, dari setetes air mani yang
dipancarkan dan disimpan dalam rahim ibu kita sekitar 9 bulan sepuluh hari. Bagaimana
kondisi kita waktu masih dalam ujud janin, bagaimana kondisi kita ketika roh kita baru
ditiupkan, bagaimana perkembangan janin tersebut sehubungan dengan aktifitas sang ibu
atau ayah kita. Mengapa seorang ayah ketika istrinya mengandung harus banyak berdo’a
dan berperilaku dengan akhlaq yang terpuji. Kenapa ada anak yang lahir cacat?. Dan lain
sebagainya.
Bacalah, dan Robb-mulah yang Maha Mulia. Sekali lagi, dalam membaca, dalam
mengkaji, dalam menganalisa, dalam berfikir, dalam mengarang, dalam merenung
ditekankan untuk bertawadlu’ kepada Allah Tuhan Yang Maha Mulia. Kita manusia gak
ada apa-apanya, sehingga sangat tidak patut merasa paling hebat, paling mulia, paling
pandai, paling pintar. (Maaf) edan lah seonggok manusia yang Adigang-Adigung Adiguno.
Allah swt yang Maha Mulia, Mulia karena Dia yang Maha Menciptakan, Mulia karena Dia
yang Maha Memelihara, Mengatur, Mengasuh semua makhluq-Nya. Dia Maha Mulia
karena telah mengajarkan kepada manusia dengan perantaan qalam (baca tulis). Artinya
semula manusia itu tidak tau apa-apa kecuali setelah diajarkan oleh Allah swt. Kita ingat
cerita nabi Adam as, yang diajarkan oleh Alah mengenal nama-nama benda di alam raya
ini melalui perantaraan malaikat Jibril. Umat-umat setelah Adam alaihis salam diajarkan
dengan perantaraan baca tulis, di mana Allah menurunkan Kitab suci-Nya Zabur kepada
Nabi Daud as, kitab suci-Nya Taurat kepada Nabi Musa as, kitab suci-Nya Injil kepada
nabi Isa as dan kitab suci-Nya Al-Qur’an kepada nabi Muhammad saw, serta selebaran-
selebaran kepada para nabi yang lainnya, sebagai media baca tulis sebagai perantara
pemahaman manusia akan ilmunya Allah swt.

Saudaraku, bacalah-bacalah-bacalah.
Dalam Kegiatan Tadarrus dan Kajian Tafsir yang penulis ikuti, pada hari Minggu tanggal
18 Mei 2008 di Musholla Al-Huda Landungsari yang lalu, Nara sumber (Ustadz Drs.H.
Fuad Efendi) menyampaikan sebuah penelitian tentang pelajar Amerika, Malaysia dan
Indonesia dalam hal membaca ini. Sungguh menyedihkan hasilnya bagi kita bangsa
Indonesia ini.
Dari suatu penelitia tentang banyaknya buku yang dibaca oleh pelajar SLTA di tiga negara
tersebut (selain buku teks) diperoleh hasil rata-rata jumlah buku yang dibaca oleh pelajar
SLTA dalam satu bulan adalah sebagai berikut:
>> Pelajar Amerika : 300 buku / bulan
>> Pelajar Malaysia : 60 buku / bulan, dan
>> Pelajar Indonesia : 0 (Nol) buku / bulan.
Sungguh ironis. Tapi itulah faktanya.
Lebih lanjut, Bapak Fuad menceritakan, ketika suatu ketika beliau berkunjung ke Negara
Mesir, dan mengunjungi temannya di suatu apartemen, apa yang ia saksikan dengan

-= 4/5 =-
satpam yang ada di sana?. Ternyata satpam itu sedang membaca buku. Dan tampak ada
beberapa buku (yang bukan komik atau TTS) yang berada di mejanya. Bandingkan
denmgan satpam di negeri kita, yang rata-rata berada di atas mejanya bukan buku, tetapi
(maaf) kartu remi, domino, atau sekak, karambol dll. Salahkah?. Persoalannya bukan salah
atau benar, ini relaita yang menyedihkan. Terus muncul kelakar, jangankan satpamnya --
yang agak jauh hubungannya dengan pendidikan-- mahasiswa atau bahkan dosennya saja
banyak yang gak pernah baca buku, apalagi satpam. Betapa amat memilukan kesadaran
membaca di antara kita, kawan. Maka marilah kita bangkit dengan membaca.

Ayo Membaca
Kawan, ayo membaca. Anak-anak baca bukumu ya, jangan nonton televisi terus. Bapak-
bapak, ibu-ibu, monggo baca ya, baca Al-Quran besar pahalanya, baca sholawat besar
fadhilahnya, baca koran banyak informasinya, baca buku dan majalah untuk memperluas
cakrawala. Ayo semuanya membaca. Baca buku apa saja, jangan hanya buku teks pelajaran
sekolah/ kampus saja. Belasan atau puluhan buku terbit setiap tahunnya, baca buku yang
bermanfaat, hindari buku yang bisa merusak mental dan jiwamu.
Buku diterbitkan dalam ukuran dan model yang beragam, baca yang terjangkau olehmu.
Kalau tidak bisa yang edisi lux, miliki yang edisi ekonomis, kalau tidak bisa buku baru,
buku second juga no problem, kalau gak bisa buku terbitan baru, buku-buku lama juga
sangat bermanfaat, kalau tidak bisa membeli atau memiliki, pinjam buku di perpustakaan
juga lebih asyik, kalau tidak bisa membeli sendiri, pinjam punya teman it’s OK.
Pokoknya baca, insya-Allah hidupmu mulia dan bahagia. Bacalah Al-Qur’an, maka setiap
hurufnya diganjar oleh Allah 10 pahala, hanya Al-Qur’an yang membacanya saja mendapat
pahala meskipun tidak memahami maksudnya, apalagi bisa mengerti kandungannya dan
mampu mengamalkannya dalam kehidupan. Bacalah buku-buku yang bagus, nikmati
sebagai konsumsi hati dan fikiranmu, maka engkau akan menjadi semakin bijaksana.
Ayo Membaca, jangan ditunda-tunda. Jangan buang waktu percuma, kurangi nonton
televisi. Liburan jangan dihabiskan di tempat wisata apalagi terbuang percuma, tetapi
cobalah ajak keluarga ke toko buku, ke perpustakaan, ke taman-taman bacaan untuk
menghabiskan waktu liburan. Hari libur, datanglah ke rumah teman yang mempunyai
banyak buku, pinjamlah beberapa buah dan baca segera, tapi kalau meminjam jangan lupa
memelihara dan mengembalikannya ya, hehehe. Mari kita jadikan kebiasaan ini mulai
sekarang. Jangan menunda-nunda lagi, karena hanya berbuah penyesalan.
Sekian, semoga bermanfaat.

Klandungan-Landungsari;
23 Mei 2008; 01.34 Wib,
Muhamad Munir.

-= 5/5 =-