Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Dalam era reformasi yang terus berjalan di Indonesia hingga saat ini, paradigma
yang terus berkembang adalah tuntutan kualitas pelayanan publik oleh lembaga
pemerintah yang lebih baik dari sebelumnya. Tuntutan akan pelayanan yang baik
dan memuaskan kepada masyarakat tersebut menjadi suatu kebutuhan yang harus
dipenuhi oleh instansi yang terkait dengan penyelenggara pelayanan publik.
Walaupun dalam pelaksanaan pelayanannya tidak ada persaingan dengan pihak
kompetitor lain, tetapi peningkatan kualitas pelayanan ini penting guna
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) serta
meningkatkan kepatuhan dan partisipasi masyarakat dalam melakukan apa yang
mestinya menjadi hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara RI sebagai instansi yang bertugas
memotori reformasi birokrasi di Indonesia menetapkan enam strategi peningkatan
kualitas pelayanan publik, yaitu deregulasi dan debirokratisasi di bidang
pelayanan publik, peningkatan profesionalisme pejabat di bidang pelayanan
publik, pengembangan dan pemanfaatan goverment bagi instansi pelayanan
publik, peningkatan partisipasi masyarakat di bidang pelayanan publik dan
pemberian penghargaan dan sanksi kepada unit pelayanan masyarakat.
Sejalan dengan hal diatas, pemberlakuan otonomi daerah pada tahun 2001 juga
diharapkan bisa lebih mendekatkan pemerintah sebagai penyedia layanan kepada
masyarakat. Hal ini karena pada dasarnya, misi dari otonomi daerah adalah: 1)
Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan
masyarakat; 2) Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya
daerah dan; 3) Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (publik)
untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Salah satu hal mendasar dalam pelayanan publik sejak berlakunya kebijakan
otonomi daerah adalah pemberian wewenang yang lebih luas untuk beberapa

bidang dan sektor pemerintahan kepada daerah. Dengan bertambahnya


kewenangan

ini,

pemerintahan

daerah

diharapkan

dapat

mengelola,

menyelenggarakan, serta melakukan fungsi-fungsi pelayanan publik dengan jauh


lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan serta keinginan masyarakat.
Namun pada kenyataannya berbagai kebijakan nasional yang dikeluarkan untuk
memperbaiki pelayanan publik tersebut ternyata belum dapat menjamin
penyelenggaraan pelayanan publik yang lebih berkualitas. Masih banyak
ditemukan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah seperti
pelayanan kesehatan masyarakat, penyelenggaraan pendidikan, pelayanan
administrasi kebersihan, ketenagakerjaan, dan lain-lain. Hal ini ditunjukkan
dengan masih munculnya berbagai keluhan masyarakat melalui media massa. Jika
kondisi ini tidak direspon oleh pemerintah maka akan dapat menimbulkan citra
yang kurang baik terhadap pemerintah sendiri. Mengingat fungsi utama
pemerintah adalah melayani masyarakat maka pemerintah perlu terus berupaya
meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Peningkatan kualitas pelayanan publik sulit diwujudkan bila partisipasi
masyarakat pengguna pelayanan masih rendah. Aspek partisipasi masyarakat
pengguna pelayanan yang terpenting adalah aspirasi mereka atas kualitas dan
kuantitas penyelenggaraan pelayanan. Jika tidak demikian, sangat mungkin
penyelenggara

dan

pelaksana

pelayanan

akan

menyelenggarakan

dan

melaksanakan pelayanan yang menghasilkan sesuatu yang justru tidak dibutuhkan


atau tidak diinginkan oleh para pengguna pelayanan.
Peningkatan partisipasi masyarakat bisa menjadi koreksi sekaligus indikator bagi
baik buruknya pelayanan yang dilakukan oleh pihak penyelenggara pelayanan.
Bentuk partisipasi masyarakat sebagai pengguna pelayanan bisa beragam. Tetapi
yang tepenting adalah ada tidaknya partisipasi tersebut. Jika masyarakat sudah
apatis atau tidak peduli dengan segala hal yang dilakukan oleh pemerintah sebagai
penyelenggara pelayanan, maka sebaik apapun kebijakan pemerintah untuk
memperbaiki kualitas pelayanannya tidak akan ada gunanya. Namun jika
masyarakat aktif, tidak hanya dalam menggunakan pelayanan yang disediakan

tetapi juga ikut berperan memberikan kritik dan saran maka peningkatan kualitas
pelayanan bisa diwujudkan.
Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan Pertamanan (DTKP) Kabupaten Pandeglang
sebagai salah satu instansi yang berada di lingkungan Pemerintah Derah
Kabupaten Pandeglang berwenang menyelenggarakan fungsi pelayanan kepada
masyarakat, khususnya pelayanan di bidang administrasi kebersihan. Pelayanan di
bidang kebersihan yang dimaksud salah satunya adalah pemungutan retribusi
sampah.
Retribusi sampah adalah kewajiban masyarakat mmembayar pajak untuk
pengangkutan sampah.
Rendahnya kesadaran maasyarakat Pandeglang membayar retribusi sampah yang
telah di tentukan menjadi indikator masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam
menggunakan pelayanan yang disediakan oleh Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan
Pertamanan (DTKP) Kabupaten Pandeglang. Dan hal ini bisa terjadi karena
berbagai hal. Dari pihak pemerintah, khususnya Dinas Tata Ruang, Kebersihan
dan Pertamanan (DTKP) Kabupaten Pandeglang belum maksimal dalam
memberikan

pelayanan

kepada

masyarakat

terkait

masalah

kebersihan

lingkungan. Sosialisasi yang belum berjalan dengan baik menjadi salah satu hal
menyebabkan masyarakat kurang sadar tentang arti pentingnya membayar
retribusi sampah. Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan Pertamanan (DTKP)
Kabupaten Pandeglang seharusnya bisa turun ke bawah sampai ke tingkat RT
untuk melakukan sosialisasi.
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di atas, penulis tertarik untuk
melakukan penelitian lebih lanjut dengan menuangkannya dalam bentuk skripsi
yang berjudul: PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP
PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR
RETRIBUSI SAMPAH PADA DINAS TATA RUANG, KERBERSIHAN
DAN PERTAMANAN (DTKP) KABUPATEN PANDEGLANG.

1.2

Identifikasi dan Pembatasan Masalah

1.2.1

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka penulis mengidentifikasi


masalah sebagai berikut :
Berdasarkan latar belakang masalah dalam skripsi ini, dapat diidentifikasi masalah
sebagai berikut :
1. Kualitas pelayanan masih jauh dari harapan terlihat masih adanya tumpukan
sampah yang belum diangkut sampai siang hari.
2. Masih adanya kendaraan angkut sampah yang tidak layak.
3. Jumlah armada pengangkut masih terbatas.
4. Sumber daya manusia (petugas pengangkut dan petugas retribusi) belum
memaksimalkan waktu.
5. Masih adanya keluhan dari konsumen
6. Target PAD (Penghasilan Asli Daerah) yang berasal dari retribusi persampahan
yang harus dicapai.

1.2.2

Pembatasan Masalah

Dari uraian latar belakang dan identifikasi masalah yang dipaparkan diatas,
terdapat berbagai faktor yang berpengaruh antara kualitas pelayanan dan tingkat
partisipasi masyarakat. Namun karena dalam penelitian ini penulis memiliki
sejumlah keterbatasan, terutama waktu, biaya, tenaga dan kemampuan akademik
maka permasalahan penelitian ini dibatasi hanya pada masalah pengaruh antara
kualitas pelayanan terhadap peningkatan partisipasi masyarakat dalam membayar
retribusi sampah di Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan Pertamanan (DTKP)
Kabupaten Pandeglang.
1.3

Perumusan Masalah

Dari berbagai permasalahan yang diuraikan di latar belakang masalah diatas,


penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kualitas pelayanan membayar retribusi sampahdi Dinas Tata
Ruang, Kebersihan dan Pertamanan (DTKP) Kabupaten Pandeglang ?

2. Bagaimana tingkat partisipasi masyarakat dalam membayar retribusi sampah


di Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan Pertamanan (DTKP) Kabupaten
Pandeglang ?
3. Sejauh mana pengaruh kualitas pelayanan terhadap tingkat partisipasi
masyarakat dalam membayar retribusi sampah di Dinas Tata Ruang,
Kebersihan dan Pertamanan (DTKP) Kabupaten Pandeglang ?
1.4

Maksud dan Tujuan Penelitian

1.4.1

Maksud Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian dan identifikasi masalah yang telah


dikemukakan maka maksud dari penelitian ini ialah untuk menjelaskan mengenai
pengaruh antara kualitas pelayanan terhadap partisipasi masyarakat dalam
pembuatan membayar retribusi sampah di Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan
Pertamanan (DTKP) Kabupaten Pandeglang.
1.4.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui kualitas pelayanan pemungutan retribusi sampah di Dinas
Tata Ruang, Kebersihan dan Pertamanan (DTKP) Kabupaten Pandeglang.
2. Untuk mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat Kabupaten Pandeglang
dalam membayar retribusi sampah di Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan
Pertamanan (DTKP)Kabupaten Pandeglang.
3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh kualitas pelayanan terhadap
peningkatan partisipasi masyarakat dalam membayar retribusi sampah di
Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan Pertamanan (DTKP) Kabupaten
Pandeglang.

1.5

Kegunaan Penelitian

1.5.1

Kegunaan Akademis

Secara akademis penelitian ini memiliki beberapa kegunaan, antara lain:

1.

Untuk memenuhi salah satu syarat menempuh ujian sidang sarjana pada
Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Banten

2.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbang pikiran


mengenai pengaruh antara kualitas pelayanan terhadap partisipasi masyarakat
dalam membayar retribusi sampah di Dinas Tata Ruang, Kebersihan dan
Pertamanan (DTKP) Kabupaten Pandeglang.

1.5.2

Kegunaan Praktis

Secara praktis penelitian ini memiliki beberapa kegunaan, antara lain :


1.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi ilmu


manajemen dan pemecahan masalah manajemen khususnya mengenai
kualitas pelayanan.

2.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan dan


peningkatan kinerja pelayanan sektor publik di Indonesia di masa datang.