Anda di halaman 1dari 22

Praktik Kedokteran Pada Tindakan Militer

Theofilio Leunufna

102012065

E5

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Alamat Korespondensi: Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta – 11510

theofilio.leunufna@civitas.ukrida.ac.id

Praktik Kedokteran Pada Tindakan Militer Theofilio Leunufna 102012065 E5 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Alamat
Praktik Kedokteran Pada Tindakan Militer Theofilio Leunufna 102012065 E5 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Alamat

Pendahuluan

Sejak terwujudnya sejarah kedokteran, seluruh umat manusia mengakui serta mengetahui adanya beberapa sifat mendasar yang melekat secara mutlak pada diri seorang dokter yang baik dan bijaksana, yaitu ketuhanam kemurnian niat, keluhuran budi, kerendahan hati, kesungguhan kerja, integritas ilmiah dan sosial, serta kesejawatan yang tidak diragukan. Etik itu sendiri memuat prinsip – prinsip, yaitu: beneficence, non maleficence, autonomy, dan justice. Etik kedokteran sudah sewajarnya dilandaskan atas norma –norma etik yang mengatur hubungan manusia pada umumnya, dan dimiliki asas – asasnya dalam falsafah masyarakat yang diterima dan dikembangkan terus. Etika adalah cabang ilmu filsafat yang mempelajari moralitas. Etik harus dibedakan dengan sains yang mempelajari moralitas, yaitu etik deskriptif. Etik deskriptif mempelajari pengaturan empiritis tentang moralitas atau menjelaskan pandangan orang yang saat itu berlaku tentang issue – issue tertentu. Etik terbagi ke dalam etik normatif dan metaetik (etik analitik). Pada etik normatif, para filosof mencoba menegakan apa yang benar dan apa yang salah secara moral dalam kaitannya dengan tindakan manusia, pada metaetik. Para filosof memperhatikan analisis kedua konsep moral diatas. Bioetika adalah salah satu cabang dari etik normatif, bioetik atau biomedical ethics adalah etik yang berhubungan dengan praktek kedokteran dan atau penelitian di bidang biomedis. Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Dalam arti ini, maka meskipun setiap orang terlahir dengan warna kulit, jenis kelamin, bahasa, budaya dan kewarganegaraan yang berbeda-beda, ia tetap mempunyai hak-hak tersebut. Inilah

sifat universal dari hak-hak tersebut. Selain bersifat universal, hak-hak itu juga tidak dapat dicabut (inalienable). Artinya seburuk apapun perlakuan yang telah dialami oleh seseorang atau betapapun bengisnya perlakuan seseorang, ia tidak akan berhenti menjadi manusia dan karena itu ia tetap memiliki hak-hak tersebut. Dengan kata lain, hak-hak itu melekat pada dirinya sebagai makhluk insani.

Rumusan Masalah

Seorang dokter yang bekerja di kesatuan khusus militer diminta untuk menilai kesehatan tersangka dan memantau jalannya pemeriksaan yang keras.

Pembahasan

Pada dasarnya manusia memiliki 4 kebutuhan dasar, yaitu: kebutuhan fisiologi, psikologi,

sosial, dan kreatif serta spiritual. Kebutuhan–kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara berimbang, apabila seorang memilih untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara tidak

berimbang, maka ia telah menentukan secara subjektif apa yang baik bagi dirinya, yang belum tentu baik secara objektif. Manusia sebagai mahkluk individu dan mahkluk sosial yang senantiasa selalu berinteraksi dengan sesamanya tidak dapat terlepas dari 4 nilai yang ada dalam kehidupannya, yang berupa:

  • a. Nilai kesosialan

  • b. Nilai kebudayaan

  • c. Nilai moral dan kesusilaan

  • d. Nilai keagamaan

Dari keempat nilai yang ada dalam kehidupan manusia, yang paling terkait dengan perlindungan dan penghargaan terhadap HAM ialah nilai ketiga, yaitu nilai moral dan kesusilaan. Dalam nilai-nilai ini terkandung nilai yang dilaksanakan dengan menjalankan kewajiban baik terhadap sesama maupun diri sendiri. Sehingga menjadi jelas bahwa untuk dapat mengerti dan memahami perlindung HAM diperlukan adanya kewajiban untuk menghargai HAM orang lain.

Hukum dan HAM Di Indonesia sistem hukumnya banyak dipengaruhi oleh sistem hukum Belanda, sistem Belanda sendiri adalah sistem hukum Eropa atau sering disebut hukum romawi Jerman yang pada awalnya bersumber dari sistem hukum romawi kuno. Berkembangnya sistem hukum Romawi Jerman adalah berkat dari usaha Napoleon Bonaparte yang berusaha menyusun code

civil atau code Napoleon yang bersumber dari hukum romawi. Sistem hukum ini pertama kali berkembang dalam hukum perdatanya (private law) atau civil law, yaitu hukum yang mengatur hubungan sesama anggota masyarakat, oleh karena itu sistem hukum Romawi Jerman ini lebih dikenal dengan sebutan sistem hukum civil law. Rene Devid dan John E.C. Brierly, mengatakan selain sistem hukum civil law juga dikenal sistem hukum common law. Dan menurutnya di dunia ini terdapat 3 sistem hukum yang dominan yiatu: civil law, common law, dan socialist law system. Lain pendapat dikemukan oleh John Henry Merryman dan Ginting, menyatakan bahwa dalam dunia kontemporer ada tiga tradisi hukum sosial (socialist law). Dalam perkembangan sistem socialist law ini dipengaruhi sistem civil law, oleh karena itu dapat dikatakan sistem hukum dominan hanya ada dua yaitu civil law (eropa continental) dan common law (aglon saxon). 1 HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki setiap orang semata-mata karena dia adalah manusia. HAM didasarkan pada prinsip bahwa setiap orang dilahirkan setara dalam harkat dan hak-haknya. Semua HAM sama pentingnya dan mereka tidak dapat dicabut dalam keadaan apapun. HAM penting karena mereka melindungi hak kita untuk hidup dengan harga diri, yang meliputi hak untuk hidup, hak atas kebebasan dan keamanan. Hidup dengan harga diri berarti bahwa kita harus memiliki sesuatu seperti tempat yang layak untuk tinggal dan makanan yang cukup. Ini berarti bahwa kita harus dapat berpartisipasi dalam masyarakat, untuk menerima pendidikan, bekerja, dan mempraktekkan agama kita, berbicara dalam bahasa kita sendiri, dan hidup dengan damai. HAM adalah alat untuk melindungi orang dari kekerasan dan kesewenang- wenangan. HAM mengembangkan saling menghargai antara manusia. HAM mendorong tindakan yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab untuk menjamin bahwa hak-hak orang lain tidak dilanggar. Misalnya, kita memiliki hak untuk hidup bebas dari segala bentuk diskriminasi, tapi di saat yang sama, kita memiliki tanggung jawab untuk tidak mendiskriminasi orang lain. Kesetaraan adalah prinsip dasar lainnya dari HAM. Kesetaraan memastikan bahwa semua orang dilahirkan bebas dan setara. Kesetaraan memastikan bahwa semua individu memiliki hak yang sama dan layak menerima tingkat penghormatan yang sama. Non-diskriminasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari kesetaraan. Non-diskriminasi memastikan bahwa tak

seorangpun ditolak hak asasinya karena faktor seperti usia, etnis asal, jenis kelamin, dan sebagainya.

Konvensi Internasional Tentang Penghapusan Penganiayaan Konvensi Menentang Penyiksaan (CAT) dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusia dan Merendahkan Martabat Manusia (Kovensi Menentang Penyiksaan)

mulai berlaku sejak Januari 1987. Indonesia mengesahkan Konvensi ini melalui UU No. 5 tahun 1998. Kovensi ini mengatur lebih lanjut mengenai apa yang terdapat dalam Kovenan tentang Hak Sipil dan Politik. Konvensi ini mewajibkan negara untuk mengambil langkah-langkah legislatif, administratif, hukum, atau langkah-langkah efektif lainnya guna:

1) mencegah tindak penyiksaan, pengusiran, pengembalian (refouler), atau pengekstradisian seseorang ke negara lain apabila terdapat alasan yang cukup kuat untuk menduga bahwa orang tersebut akan berada dalam keadaan bahaya (karena menjadi sasaran penyiksaan),

2)

menjamin agar setiap orang yang menyatakan bahwa dirinya telah disiksa dalam suatu

3)

wilayah kewenangan hukum mempunyai hak untuk mengadu, memastikan agar kasusnya diperiksa dengan segera oleh pihak-pihak yang berwenang secara tidak memihak, menjamin bahwa orang yang mengadu dan saksi-saksinya dilindungi dari segala perlakuan

4)

buruk atau intimidasi sebagai akibat dari pengaduan atau kesaksian yang mereka berikan, menjamin korban memperoleh ganti rugi serta (hak untuk mendapatkan) kompensasi yang

adil dan layak.

Secara historis pembentukan suatu konvensi, ditujukan untuk melindungi para

tahanan(detainess) yang diartikan sebagai “orang yang menjalani hukuman penjara di institusi negara dalam kaitannya dengan penegasan hukum yang dilakukan secara legal atau tidak atau kepentingan keamanan atau tujuan–tujuan lainnya”. Tapi dalam prakteknya konvensi ini tidak memberlakukan batasan tersebut. Ini dibuktikan oleh pengertian yang diberikan oleh konvensi itu sendiri, yaitu: 2 “Penganiayaan berarti perbuatan apa pun yang dengannya sakit berat atau penderitaan, apakah fisik atau mental dengan sengaja dibebankan pada seseorang untuk tujuan seperti memperoleh darinya atau orang ketiga informasi atau suatu pengakuan, menghukum dia karena suatu perbuatan yang dia atau orang ketiga telah melakukannya atau disangka telah melakukannya, atau mengintimidasi atau memaksa”.

Dalam pembuatannya, CAT merujuk pada pasal 5 DUHAM dan 7 ICCPR, sebagai dasar pembentukannya disamping deklarasi mengenai perlindungan semua orang dari dijadikan sasaran penganiyayaan dan perlakuan kejam lainnya yang tidak manusiawi atau hukuman yang menghinakan. Untuk mencapai tujuan–tujuan konvensi negara–negara peserta diwajibkan untuk mengambil langkah–langkah dalam bidang legislatif, administratif, judikatif, atau lainnya yang ditujukan untuk pencegahan. Negara peserta diwajibkan untuk tidak mengekstradisasi seseorang yang diduga kuat akan dijadikan sebagai objek bagi tindakan penyiksaan.

Pasal 5 DUHAM berbunyi:

“Tidak seorang pun boleh dianiaya atau diperlakukan secara kejam, dengan tak mengingat

kemanusiaan ataupun cara perlakuan atau hukuman yang menghinakan”.

Pasal 7 ICCPR berbunyi:

“Tidak seorang pun boleh dikenakan penganiayaan atau perlakukan lain yang kejam, tidak manusiawi atau hukuman yang merendahkan harkatnya. Teristimewa, tidak seorang pun, tanpa persetujuanya sendiri yang diberikan secara bebas boleh dijadikan sasaran percobaan medis atau ilmiah”.

Pengambilan Jalan Keluar Dari Sudut Pandang Hukum

Diskriminasi

adalah tindakan yang memperlakukan satu orang atau satu kelompok secara

kurang adil atau kurang baik daripada orang atau kelompok yang lain.

Diskriminasi dapat

bersifat langsung atau tidak langsung dan didasarkan pada faktor-faktor yang sama seperti

premanisme dan pelecehan. Sedangkan yuridikasi sendiri dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris “Jurisdiction”. “Jurisdiction” sendiri berasal dari bahasa Latin “Yurisdictio”, yang terdiri atas

dua suku kata, yuris yang berarti kepunyaan menurut hukum, dan diction yang berarti ucapan, sabda, sebutan, firman. Jadi, dapat disimpulkan yurisdiksi berarti: 2

  • a. Kepunyaan seperti yang ditentukan oleh hukum.

  • b. Hak menurut hukum.

  • c. Kekuasaan menurut hukum.

  • d. Kewenanagan menurut hukum.

Suatu negara diberikan hak yuridiksi dalam hal: 2

  • a. Apabila kejahtan–kejahatan dilakukan di wilayah mana pun yang berada di bawah yuridiksinya atau di atas suatu kapal atau pesawat terbang yang terdaftar di negara itu.

  • b. Apabila yang diduga keras sebagai pelaku pelanggaran adalah seorang warga negara dari

negara itu.

  • c. si

Apabila

korban

adalah

seorang

warga negara dari negara itu, jika negara itu

menganggapnya tepat.

Disamping itu negara peserta lain pun berkewajiban untuk mengadilinya apabila si terduga ada di yuridiksinya. Melalui ketentuan tersebut tindak penyiksaan dipandang menyebabkan hadirnya yuridiksi universal. Dalam hal negara tersebut tidak mau mengekstradiksinya maka ia harus mengadilinya (prinsip aut prosequi aut dedere). Kejahatan ini secara otomatis masuk ke dalam setiap perjanjian mengenai ekstradiksi yang dilakukan oleh para negara peserta, segala pelatihan yang ditujukan kepada aparatur negara harus memasukan ini sebagai bagian dari materinya. 2

Perbedaan Sistem Civil Law (Eropa Kontinental) dan Common Law (Aglon Saxon)

Civil Law

Civil law adalah sistem hukum yang banyak dianut oleh negara–negara eropa continental yang didasarkan pada hukum romawi. Disebut demikian karena hukum romawi pada mulanya bersumber pada karya agung kaisar Iustianus Corpus Iuris Civilis. Karena banyak dianut negara

eropa continental, civil law sering dinamakan sistem continental. Sistem civil law memiliki 3 karakteristik, yaitu: 3

  • a. Adanya kodifikasi.

  • b. Hakim tidak terikat pada presiden sehingga undang–undang menjadi sumber hukum yang terutama.

  • c. Sistem peradilan bersifat inkuisitorial, maksudnya bahwa sistem itu, hakim mempunyai peranan yang besar dalam mengarahkan dan memutuskan perkara, hakim aktif dalam menemukan fakta dan cermat dalam menilai alat bukti, hakim dalam civil law berusaha mendapatkan gambaran lengkap dari peristiwa yang dihadapinya sejak awal.

Bentuk sumber–sumber hukum dalam arti formal dalam sistem hukum ini beruapa peraturan perundang–undangan, kebiasaan–kebiasaan, dan yurisprudensi. Yang dimaksud yurisprudensi adalah keputusan-keputusan dari hakim terdahulu untuk menghadapi suatu perkara

yang tidak diatur di dalam UU dan dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim yang lain untuk menyelesaian suatu perkara yang sama. Negara–negara penganut sistem hukum ini menempatkan konstitusi tertulis pada urutan tertinggi dalam hirarki peraturan perundang–undangan yang kemudian diakui dengan undang- undang dan beberapa peraturan dibawahnya. Di negara yang menganut sistem ini juga, kebiasaan–kebiasaan dijadikan sebagai sumber hukum yang kedua untuk memecahkan berbagai persoalan. Pada kenyataannya undang–undang tidak pernah lengkap. Kehidupan masyarakat begitu kompleks sehingga undang–undang tidak mungkin dapat menjangkau semua aspek kehidupan manusia. Dalam hal ini dibutuhkan hukum kebiasaan. Patut dicermati, yang menjadi sumber hukum bukanlah kebiasaan melainkan hukum kebiasaan, kebiasaan tidaklah mengikat. Agar kebiasaan dapat menjadi hukum kebiasaan diperlukan 2 hal, yaitu: 3

  • a. Tindakan itu dilakukan secara berulang ulang.

  • b. Adanya unsur psikologis mengenai pengakuan bahwa apa yang dilakukan secara terus– menerus dan berulang–ulang itu adalah aturan hukum. Unsur psikologis itu dalam bahasa latin disebut opinion necessitates, yang berarti pendapat mengenai keharusan bahwa orang bertindak sesuai dengan norma yang berlaku akibat adanya kewajiban hukum.

Dalam civil law, yurisprudensi bukanlah sumber utama, hal ini didasari pandangan bahwa yurisprudensi atau putusan–putusan hakim pengadilan sifatnya konkret dan hanya mengikat pihak–pihak yang bersengketa saja. Bukankah aturan hukum harus bersifat umum dan abstrak, dapatkah putusan hakim pengadilan yang bersifat konkret dan hanya mengikat pada pihak yang dijadikan sumber hukum. Selain itu, di negara-negara civil law, yurisprudensi rawan untuk dimodifikasi dan dianulir setiap saat, yurisprudensi juga bukanlah sebuah hal yang mengikat. Ketika ada putusan hakim sebelumnya yang dipakai utnuk memutuskan sebuah kasus di kemudian hari maka hal itu bukanlah karena putusan hakim yang sebelumnya mempunyai kekuatan mengikat melainkan karean hakim yang kemudian menganggap bahwa putusan sebelumnya itu dianggap tepat dan layak utnuk diteladani. Namun demikian, yurisprudensi mempunyai peranan penting dalam pengembangan hukum dan hal semacam itu tidak dapat dibantah oleh negara–negara penganut sistem ini. 3 Maka demikian, walaupun bukan menjadi sumber hukum yang utama, melalui yurisprudensi. Hakim juga mempunyai tugas untuk membuat hukum, hal itu dalam praktik penyelesaian sengketa tidak dapat dihindari manakala terminologi yang digunakan undang-

undang tidak mengatur masalah yang dihadapi atau undang–undang yang ada bertentangan dengan situasi yang dihadapi. Oleh karena itu, hakim dalam hal ini melakukan pembentukan hukum, analogi, penghalusan atau penafsiran., kegiatan–kegiatan semacam itu dalam sistem hukum continental disebut sebagai penemuan hukum.

Common Law Common law adalah sistem hukum yang dianut oleh suku–suku anglika dan saksa yang mendiami sebagian besar Inggris sehingga disebut juga sistem anglo saxon. Negara–negara bekas jajahan Inggris menganut sistem common law. Sistem ini sangat berkembang di Inggris terutama melalui pengadilan kerajaan yang dibentuk semasa Raja William dan penggantinya yang berkuasa. Di wilayah jajahan Inggris, pengadilan kerajaan sangat kuat yang membawahi pengadilan–pengadilan lokal dan hanya sedikit yang menangani masalah–masalah kaum ningrat sedangkan di lain pihak pengadilan rakyat yang lama tidak lagi digunakan. Hukum yang dikembangkan oleh pengadilan kerajaan secara cepat menjadi suatu hukum yang umum (common) bagi semua orang. Itulah sebabnya sistem hukum di Inggris disebut sistem common law.

Pada sistem ini biasanya tidak mengenal suatu konstitusi tertulis, praktik ketatanegaraan yang dijalankan berdasarkan kebiasaan–kebiasaan (convetion). Sistem ini mempuyai 3 karakteristik, yaitu: 3

  • a. Yuriprudensi dipandang sebagai sumber hukum yang terutama.

  • b. Dianutnya dokrin stare decisis (asas preseden) bahwa hakim terikat untuk menerapkan putusan pengadilan terdahulu baik yang ia buat sendiri atau oleh pendahulunya untuk kasus serupa.

  • c. Adanya adversary system dalam proses peradilan. Adversary system adalah

pandangan

bahwa didalam pemeriksaan peradilan selalu ada dua pihak yang saling bertentangan baik

perkara perdata atau pidana.

Yurisprudensi sebagai hukum yang terutama karena 2 hal, yaitu alasan psikologis dan alasan praktis. Alasan psikologis maksudnya setiap orang yang ditugasi utnuk menyelesaikan perkara, ia cenderung sedapat–dapatnya mencari alasan pembenar atau putusan–putusannya merujuk kepada putusan yang telah ada sebelumnya daripada memiliki tanggung jawab atas putusan yang dibuatnya sendiri, sedangkan alasan praktisnya adalah diharapkan adanya putusan

yang seragam karena sering dikemukakan bahwa hukum harus mempunyai kebiasaan dari pada menonjolkan keadilan pada setiap kasus. 3 Dengan menerapkan dokrin stare decisis maka otoritas pengadilan bersifat hierarkis, yaitu pengadilan yang lebih rendah harus mengikuti pengadilan yang lebih tinggi untuk kasus serupa. Preseden yang dimaksud disini bukanlah putusannya semata, tidak semua apa yang dikatakan oleh hakim dalam menjatuhkan keputusan dapat menciptakan preseden, yang berlaku sebagai preseden adalah pertimbangan–pertimbangan hukum yang relevan dengan fakta yang dihadapkan kepadanya. Pertimbangan–pertimbangan hukum dijadikan dasar putusan tersebut dalam ilmu hukum disebut ratio decidendi. Ratio decidendi inilah yang harus diikuti oleh pengadilan berikutnya untuk perkara serupa, akan tetapi perlu juga dikemukakan bahwa dalam menjatuhkan suatu putusan hakim tidak hanya mengemukan pertimbangan–pertimbagan hukum melainkan juga pertimbangan–pertimbangan lain yang tidak mempunyai relevansi dan fakta yang dihadapi (obiter dicta). Akan tetapi dalam hal perkembangan saat ini, dimungkinkan terjadinya distinguish (tidak menggunakan sebagai pedoman untuk memutuskan kasus–kasus serupa), hal ini terjadi karena adanya perubahan filosofi atas alasan yang melandasi putusan tersebut. 3 Berbeda dengan sistem civil law, dalam sistem ini pengadilan menganut sistem adversary. Sistem inkuisitorial seperti civil law sebenarnya juga ada, akan tetapi sistem adversary lebih diutamakan. Dalam sistem ini kedua belah pihak yang bersengketa masing– masing menggunakan lawyer-nya berhadapan di depan seorang hakim. Masing–masing pihak menyusun strategi sedemikian rupa dan mengemukakan sebanyak–banyaknya alat bukti di depan pengadilan. Hakim hanya duduk di kursi hakim layaknya seorang wasit sepakbola yang hanya aturan main yang sekali–kali juga memberikan kartu kuning atau kartu merah bagi pihak yang tidak menjunjung tinggi aturan main. Apabila diperlukan juri, hakim tidak memberikan putusan mana yang menang dan mana yang kalah atau tertuduh bersalah atau tidak bersalah, hakim memberi perintah kepada juri utnuk mengambil keputusan dan jurilah yang mengambil keputusan. Putusan itu harus diterima oleh hakim terlepas ia setuju atau tidak setuju terhadap putusan itu. Adversary sytem ini lebih banyak dijumpai di Amerika Serikat. 3

Aspek Hukum Aspek Hukum Kepolisian

Dalam kasus ini, petugas meminta dampingan untuk menjaga kesehatan seorang tersangka teroris yang akan diinterogasi secara keras. Sebagai dokter kepolisian berada disituasi yang menarik kedudukan dari kedua sisi, yaitu sebagai dokter yang memiliki kode etik dan sebagai anggota kepolisian yang memiliki peraturan dan hukum kepolisian. Dari sisi kepolisian, tentu diutamakan untuk melaksanakan tugas dan diberikan wewenang untuk melakukan kewajiban sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Setiap tersangka yang dicurigai melakukan tindak pidana, tidak serta merta ditahan dan diinterogasi oleh pihak polisi namun memiliki langkah-langkah yang harus diikuti dan sesuai hukum.

Penangkapan Pasal 1 KUHAP

(20) Penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan atau peradilan dalam hal serta cara yang diatur dalam undang- undang ini. 3 Maka perlu diperhatikan bahwa seorang dapat ditangkap apabila melanggar suatu peraturan pidana dengan ada dugaan kuat yang didasarkan atas bukti permulaan yang cukup.

Pasal 19 KUHAP

(1) Batas waktu penangkapan adalah satu hari.

Pasal 28 KUHAP

Penyidik dapat menangkap seorang yang diduga telah melakukan kejahatan terorisme berdasar bukti awal yang cukup sebagaimana dimaksud pasal 26 ayat 2 UU no. 15 tahun 2003 paling lama untuk 7x24 jam.

Jadi, pada kasus ini yang merupakan kasus dugaan terorisme, dapat digunakan pasal 28 KUHAP mengenai penangkapan tersangka ini. 3 Yang dimaksudkan pada pasal 28 KUHAP tersebut mengenai bukti awal yang cukup tertera dalam pasal 26 UU No. 15 tahun 2003 yaitu bukti awal yang cukup dapat berupa laporan intelijen, dan pada ayat 2 disebutkan bahwa penentuan apakah bukti awal sudah cukup harus diproses oleh ketua atau wakil ketua pengadilan negeri dan proses pemeriksaan dilakukan tertutup dalam waktu paling lama 3 hari. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan dan diputuskan

bahwa bukti telah cukup maka dapat dilakukan penyidikan. Pada kasus ini, sesuai dengan undang-undang, kepolisian telah mendapat laporan dari badan intelijen mengenai kecurigaan pelaku pengeboman. Maka setelah didapat bukti laporan, pemeriksaan bukti awal kemudian dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri setempat dan setelah itu polisi melakukan

penangkapan. 4 Selain pasal 26 UU No. 15 tahun 2003, terdapat pula penjelasan mengenai alat bukti pada kasus terorisme yang diatur dalam pasal 27 UU No. 15 tahun 2003, yaitu 4 :

  • 1. Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam hukum acara pidana.

  • 2. Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu, dan

  • 3. Data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada: tulisan, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.

Penahanan Setelah ditangkap, pelaku kemudian ditahan dan diinterogasi. Penahanan, menurut pasal 1 butir 21 KUHAP, adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Penahanan dapat dilakukan setelah memenuhi kedua syarat yaitu syarat subjektif dan objektif. Syarat subjektif adalah alasan terkait dengan pribadi tersangka misalnya tersangka yang ditahan dengan adanya bukti yang cukup namun dikhawatirkan tersangka akan melakukan hal melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti, dan atau mengulangi tindak pidana. Syarat objektif berlaku pada pemenuhan ketentuan pasal 21 KUHAP yaitu melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman 5 tahun atau lebih atau tindak pidana lain yang diatur oleh undang-undang. Pada penahanan, polisi juga terikat pada ketentuan peraturan kepala kepolisian negara republik Indonesia no 8 tahun 2009 dalam pasal 15 sampai 21 bahwa seorang polisi wajib menghormati hak-hak asasi manusia termasuk milik tersangka atau terdakwa. 3

Interogasi

Setelah tersangka teroris ini ditahan dengan bukti-bukti awal yang dinilai cukup, maka dilakukan upaya interogasi oleh pihak kepolisian. Interogasi adalah sebuah fungsi penyidikan. Tujuan dari dilakukannya interogasi adalah untuk mendapatkan dan mengumpulkan semua informasi tentang kejadian yang diselidiki serta tentang pelaku kejadian yang diselidiki serta tentang pelaku kejahatannya dan membuat si terdakwa mengakui kejahatannya. Di dalam kasus disebutkan bahwa pihak polisi berencana melakukan upaya kekerasan untuk mendapatkan informasi. Hal ini tidak dapat serta merta dilakukan. Untuk melakukan kekerasan ini akan disebut penyiksaan. Penyiksaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani maupun rohani, pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga, dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga, atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada setiap bentuk diskriminasi, apabila rasa sakit atau penderitaan tersebut ditimbulkan oleh, atas hasutan dari dengan persetujuan, atau sepengetahuan pejabat publik. Berbeda dengan penganiayaan yang dapat dilakukan siapa saja, penyiksaan biasanya dilakukan oleh pejabat pemerintah termasuk kepolisian. 5 Melakukan kekerasan dalam interogasi diperbolehkan, dengan syarat tertentu yaitu apabila:

Upaya persuasif tidak berhasil

Hanya untuk tujuan perlindungan dan penegakan HAM secara proporsional dengan tujuan

yang sah Diarahkan untuk memperkecil terjadinya kerusakan dan luka baik bagi petugas maupun bagi

masyarakat Digunakan apabila diperlukan dan untuk penegakan hukum

Penggunaan kekerasan harus sebanding dengan pelanggaran dan tujuan yang hendak dicapai

Harus meminimalisasi kerusakan dan cedera serta memelihara kehidupan manusia

Harus memastikan bahwa bantuan medis dan penunjangnya diberikan kepada orang-orang

yang terluka atau terkena dampak pada waktu sesegera mungkin Harus memastikan bahwa sanak keluarga atau teman dekat yang terluka atau terkena dampak

diberitahu sesegera mungkin.

Namun sebaiknya kekerasan ditempuh sebagai jalan terakhir ketika sudah tidak dapat

dihindari lagi dan dengan masih berpegang pada prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.

Kekerasan tidak ditempuh sebagai jalan pertama dan sebisa mungkin dihindari. Ada banyak cara

untuk mendapatkan informasi misalnya dengan menginterogasi secara verbal dengan menilik sisi

psikologis dan lingkungan tersangka. Maka sebagai seorang dokter polisi yang terikat kewajiban

dan hukum polisi dan memiliki keterikatan dengan hukum dan etika kedokteran, merupakan

suatu kewajiban untuk menasehati mendahulukan prosedur interogasi secara persuasif terlebih

dahulu.

UU no 29 tahun 2004 tentang Praktik kedokteran 4

o

Pasal 3

Pengaturan praktik kedokteran bertujuan untuk:

  • 1. Memberikan perlindungan kepada pasien.

  • 2. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang diberikan oleh dokter

dan dokter gigi; dan

  • 3. Memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi.

o

Pasal 35

  • 1. Dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai wewenang

melakukan praktik kedokteran sesuai dengan pendidikan dan kompetensi yang dimiliki,

yang terdiri atas

  • a. Mewancarai pasien;

  • b. Memeriksa fisik dan mental pasien;

  • c. Menentukan pemeriksaan penunjang;

  • d. Menegakkan diagonosis;

  • e. Menentukan penatalaksanaan dan pengobatan pasien;

  • f. Melakukan tindakan kedokteran dan kedokteran gigi;

  • g. Menulis resep obat dan alat kesehatan;

  • h. Menerbitkan surat keterangan dokter dan dokter gigi;

  • i. Menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan; dan

  • j. Meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik di daerah terpencil

yang tidak ada apotek

  • 2. Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kewenangan lainya diatur

dengan peraturan Konsil Kedokteran Indonesia

o

Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. 4 Tahun 2011 tentang disiplin professional

dokter dan dokter gigi di Indonesia 4

1.

Dalam penatalaksanaan pasien, melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan tanggung jawab profesionalnya,

tanpa alasan pemebenar atau pemaaf yang sah, sehingga dapat membahayakan pasien.

  • 2. Menjalankan praktik kedokteran dengan menerapkan pengetahuan atau keterampilan atau teknologi yang belum diterima atau di luar tata cara praktik kedokteran yang layak.

  • 3. Turut serta dalam perbuatan yang termasuk tindakan penyiksaan (torture) atau eksekusi hukuman mati.

  • 4. Ketidakjujuran dalam menentukan jasa medik.

o

Deklarasi Universal HAM resolusi 217 A(III) Oleh Majelis Umum PBB 5

  • a. Pasal 2 Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam

deklarasi ini dengan tidak ada pengecualian apa pun, seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pandangan lain, asal-usul kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain. Selanjutnya, tidak akan diadakan pembedaan atas dasar kedudukan politik, hukum atau kedudukan internasional dari negara atau daerah dari mana seseorang berasal, baik dari negara yang merdeka, yang berbentuk wilayah-wilayah perwalian, jajahan atau yang berada di bawah batasan kedaulatan yang lain.

  • b. Pasal 3 Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keselamatan sebagai individu.

  • c. Pasal 6 Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi di mana saja ia berada.

  • d. Pasal 7 Semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi. Semua berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap bentuk diskriminasi yang bertentangan dengan deklarasi ini, dan terhadap segala hasutan yang mengarah pada diskriminasi semacam ini.

  • e. Pasal 8 Setiap orang berhak atas pemulihan yang efektif dari pengadilan nasional yang kompeten untuk tindakan-tindakan yang melanggar hak-hak dasar yang diberikan kepadanya oleh undang-undang dasar atau hukum.

  • f. Pasal 10

Setiap orang, dalam persamaan yang penuh, berhak atas peradilan yang adil dan terbuka oleh pengadilan yang bebas dan tidak memihak, dalam menetapkan hak dan kewajiban- kewajibannya serta dalam setiap tuntutan pidana yang dijatuhkan kepadanya.

  • g. Pasal 11

    • 1. Setiap orang yang dituntut karena disangka melakukan suatu tindak pidana dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum dalam suatu pengadilan yang terbuka, di mana dia memperoleh semua jaminan yang perlukan untuk pembelaannya. Tidak seorang pun boleh dipersalahkan melakukan tindak pidana karena perbuatan atau kelalaian yang tidak merupakan suatu tindak pidana menurut undang-undang nasional atau internasional, ketika perbuatan tersebut dilakukan. Juga tidak diperkenankan menjatuhkan hukuman yang lebih berat.

2.

Pengambilan Keputusan Kedokteran Dalam pengambilan suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral, yaitu:

A. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan kepada kebaikan pasien. Dokter harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya. Pengertian berbuat baik di sini adalah bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajibannya.Tindakan konkrit dari beneficence meliputi:

 Mengutamakan altruisme (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan orang lain) Menjamin nilai pokok harkat
 Mengutamakan altruisme (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan
orang lain)
Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
 Memandang pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan dokter
 Mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan
keburukannya
Paternalisme bertanggung jawab/berkasih sayang
Menjamin kehidupan baik
Pembatasan “goal based”
Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien
Minimalisasi akibat buruk
Kewajiban menolong pasien gawat darurat
Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
Tidak menarik honorarium di luar kepantasan
Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
Mengembangkan profesi secara terus-menerus
Memberikan obat berkhasiat namun murah

Menerapkan Golden Rule Principle, dimana kita harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain.

  • B. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai ‘primum non nocere’ atau ‘do not harm’.Tindakan konkrit dari non-maleficence meliputi:

Menolong pasien emergensi

Mengobati pasien yang luka

Kondisi untuk menggambarkan kriteria ini adalah:

Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia)

Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien

Tidak memandang pasien hanya sebagai objek

Mengobati secara tidak proporsional

Mencegah pasien dari bahaya

Menghindari misinterpretasi dari pasien

Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian

Memberikan semangat hidup

Melindungi pasien dari serangan

Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan/kerumah-sakitan yang

merugikan pihak pasien/keluarganya.

  • C. Prinsip autonomy, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien (the rights to self determinations). Maksudnya tiap individu harus diperlakukan sebagai makhluk hidup yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasibnya sendiri). Tindakan konkrit dari autonomi meliputi: 2

Menghargai hak menentukan nasibnya sendiri

Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif)

Berterus terang

Menghargai privasi

Menjaga rahasia pasien

Menghargai rasionalitas pasien

Melaksanakan informed consent

Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri

Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien

Mencegah pihak lain, mengintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk

keluarga pasien sendiri Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi

Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien

Menjaga hubungan.

D. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan

fairness dan keadilan dalam

mendistribusikan sumber daya (distributive justice). Maksudnya adalah memperlakukan

semua pasien sama dalam kondisi yang sama. Tindakan konkrit yang termasuk justice meliputi:

Memberlakukan segala sesuatu secara universal

Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan

Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama

Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accessibility, availability, quality)

Menghargai hak hukum pasien

Menghargai hak orang lain

Menjaga kelompok yang rentan (yang paling merugikan)

Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status sosial, dan lain-lain

Tidak melakukan penyalahgunaan

Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien

Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya

Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi) secara adil

Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten

Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah/tepat

Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan kesehatan

Bijak dalam makroalokasi 6

Seperti juga kajian moralitas etika mengakui keumumam pendekatan-pendekatan non- rasional tersebut dalam pengambilan keputusan dan perilaku. Meskipun demikian etika lebih terfokus kepada pendekatan-pendekatan rasional. Keempat pendekatan tersebut adalah deontologi, konsekuensialisme, prinsiplisme, dan etika budi pekerti: 7 Deontologi, melibatkan pencarian aturan-aturan yang terbentuk dengan baik yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam pembuatan keputusan moral seperti ”perlakukan manusia secara sama”. Dasarnya dapat saja agama (seperti kepercayaan bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan adalah sama) atau juga non-religius (seperti manusia memiliki gen-gen yang hampir sama). Sekali aturan ini terbangun maka hal tersebut harus diterapkan dalam situasi ilmiah, dan akan sangat mungkin terjadi perbedaan aturan mana yang diperlukan (seperti apakah aturan bahwa tidak boleh membunuh orang lain atau hukuman yang menjadi dasar larangan aborsi). 7 Konsekuensialisme, mendasari keputusan etis yang diambil karena merupakan cara analisis bagaimana konsekuensi atau hasil yang akan didapatkan dari berbagai pilihan dan tindakan. Tindakan yang benar adalah tindakan yang memberikan hasil yang terbaik. Tentunya ada

berbagai perbedaan mengenai batasan hasil yang terbaik. Salah satu bentuk konsekuensialisme yang sangat dikenal adalah utilitarianisme, menggunakan ’utility’ untuk mengukur dan menentukan mana yang memberikan hasil yang paling baik diantara semua pilihan yang ada. Ukuran-ukuran outcome yang digunakan dalam pembuatan keputusan medis antara lain cost- effectiveness dan kualitas hidup diukur sebagai QALYs (quality-adjusted life-years) atau DALYs (disablility-adjusted life-years). Pendukung teori ini umumnya tidak banyak menggunakan prinsip-prinsip karena sangat sulit mengidentifikasi, menentukan prioritas dan menerapkannya dan dalam suatu kasus mereka tidak mempertimbangkan apakah yang sebenarnya penting dalam pengambilan keputusan moral seperti hasil yang ingin dicapai. Karena mengesampingkan prinsipprinsip maka konsekuensialisme sangat memungkinkan timbulnya pernyataan bahwa ”hasil yang didapat akan membenarkan cara yang ditempuh” seperti hak manusia dapat dikorbankan untuk mencapai tujuan sosial. 7 Prinsiplisme, seperti yang tersirat dari namanya, mempergunakan prinsip-prinsip etik sebagai dasar dalam membuat keputusan moral. Prinsip-prinsip tersebut digunakan dalam kasus-kasus atau keadaan tertentu untuk menentukan hal yang benar yang harus dilakukan, dengan tetap mempertimbangkan aturan dan konsekuensi yang mungkin timbul. Prinsiplisme sangat berpengaruh dalam debat-debat etika baru-baru ini terutama di Amerika. Keempat prinsip dasar, penghargaan otonomi, berbuat baik berdasarkan kepentingan terbaik dari pasien, tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti pasien serta keadilan merupakan prinsip dasar yang digunakan dalam pengambilan keputusan etik di dalam praktek medis. Prinsip-prinsip tersebut jelas memiliki peran yang penting dalam pengambilaan keputusan rasional walaupun pilihan terhadap keempat prinsip tersebut dan terutama prioritas untuk menghargai otonomi di atas yang lain merupakan refleksi budaya liberal dari Barat dan tidak selalu universal. Terlebih lagi keempat prinsip tersebut sering kali saling bergesekan di dalam situasi tertentu sehingga diperlukan beberapa kriteria dan proses untuk memecahkan konflik tersebut. 7 Etika budi, pekerti kurang berfokus kepada pembuatan keputusan tetapi lebih kepada karakter dari si pengambil keputusan yang tercermin dari perilakunya. Nilai merupakan bentuk moral unggul. Seperti disebutkan di atas, satu nilai yang sangat penting untuk dokter adalah belas kasih. Yang lain termasuk kejujuran, bijak, dan dedikasi. Dokter dengan nilai-nilai tersebut akan lebih dapat membuat keputusan yang baik dan mengimplementasikannya dengan cara yang baik juga. Namun demikian, ada juga bahkan orang yang berbudi tersebut sering merasa tidak yakin

bagaimana bertindak dalam keadaan tertentu dan tidak terbebas dari kemungkinan mengambil keputusan yang salah. 7

Tidak satupun dari empat pendekatan ini, ataupun pendekatan yang lain dapat mencapai persetujuan yang universal. Setiap orang berbeda dalam memilih pendekatan rasional yang akan

dipilih dalam mengambil keputusan etik seperti juga orang yang lebih memilih pendekatan yang non-rasional. Hal ini dikarenakan setiap pendekatan mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri. Mungkin dengan mengkombinasikan keempat pendekatan tersebut maka akan didapatkan keputusan etis yang rasional. Namun harus diperhatikan aturan dan prinsip-prinsip dengan cara mengidentifikasi pendekatan mana yang paling sesuai untuk situasi yang baru dihadapi dan juga dalam mengimplementasikan sebaik mungkin. Harus juga dipikirkan mengenai konsekuensi dari keputusan altenatif dan konsekuensi mana yang akan diambil. Yang terakhir adalah mencoba memastikan bahwa perilaku si pembuat keputusan tersebut dalam membuat dan mengimplementasikan keputusan yang sudah diambil juga baik. Proses yang dapat ditempuh adalah:

  • 1. Tentukan apakah masalah yang sedang dihadapai adalah masalah etis.

  • 2. Konsultasi kepada sumber-sumber kewenangan seperti kode etik dan kebijakan ikatan dokter

serta kolega lain untuk mengetahui bagaimana dokter biasanya berhadapan dengan masalah tersebut.

  • 3. solusi alternatif berdasarkan prinsip dan nilai yang dipegang serta

Pertimbangkan

konsekuensinya.

  • 4. Diskusikan usulan solusi anda dengan siapa solusi itu akan berpengaruh.

  • 5. Buatlah keputusan dan lakukan segera, dengan tetap memperhatikan orang lain yang terpengaruh.

  • 6. Evaluasi keputusan yang telah diambil dan bersiap untuk bertindak berbeda pada kesempatan yang lain.

Dampak Hukum Dari Keputusan Dokter Dalam pasal 51 KUHP berisikan “Tidak boleh dihukum barang siapa melakukan perbuatan atau menjalankan perintah jabatan yang diberikan oleh pembesar yang berhak untuk itu”. Pasal ini terutama penting bagi seorang dokter yang mempunyai jabatan rangkap seperti dokter TNI/Polri yang juga menjabat sebagai anggota majelis penguji kesehatan. 8

Sedangkan isi dari pasal 51 KUHP adalah 8

  • a. Siapapun tak terpidana jika melakukan peristiwa untuk menjalankan sesuatu perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang untuk itu.

  • b. Perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang tidak membebaskan dari keadaan terpidana, kecuali dengan itikat baik pegawai dibawahnya itu menyangka bahwa penguasa itu berwenang untuk memberi perintah itu dan perintah menjalankan terletak dalam lingkungan kewajiban pegawai yang diperintahkan.

Selaku seorang dokter angkatan bersenjata wajib menyimpan rahasia jabatan dokter, namun di lain pihak sebagai seorang anggota TNI/Polri ia harus tunduk pada disiplin TNI/Polri dan taat perintah atasanya. Apabila terjadi konflik tentang wajib simpan rahasia jabatan, maka seorang dokter harus memilih antara dua jalan berikut: 8

  • a. Menjunjung tinggi rahasia jabaatan sebagai dokter tetapi tidak taat pada peritah militer; atau

  • b. Taat kepada perintah militer tetapi melepaskan rahasia jabatan sebagai dokter.

Dalam hal yang demikian, yang dapat dijadikan pegangan ialah perhitungan dan pertimbangan yang matang untuk menentukan apa yang harus diutamakan. Berdasarkan pasal 19 ayat 1 UU Perlindungan Konsumen, kerugian yang diderita pasien akibat tindakan medis yang dilakukan oleh dokter dapat dituntut berupa sejumlah ganti rugi. Jika dihubungkan dengan proses produksi di dunia usaha maka hubungan antara dokter dengan pasien merupakan hubungan antara produsen dengan konsumen. Mengingat sifat khas dalam perjanjian terapeutik yaitu bergerak dalam bidang pemberian jasa pelayanan kesehatan yang tidak pasti hasilnya maka sebagai konsumen penerima jasa pelayanan kesehatan, pasien berhak untuk menuntut dokter aras kerugian yang ditimbulkan akibat kesalahan yang dilakukan oleh dokter berdasarkan UU Perlindungan Konsumen. Ganti kerugian yang dapat diminta oleh pasien menurut Pasal 19 ayat (2) UU Perlindungan Konsumen dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dari aspek hukum ketentuan pasal 19 ayat 2 UU Perlindungan Konsumen, sanksi berupa ganti kerugian merupakan sanksi di bidang hukum perdata. Dengan demikian, jika diselesaikan menurut jalur hukum, maka mekanisme penyelesaiannya juga menurut hukum perdata.

Pemberian sejumlah ganti rugi akibat kesalahan dalam pelayanan kesehatan seperti ditentukan dalam pasal 19 ayat 4 UU Perlindungan Konsumen, tidak secara langsung dapat menghilangkan sifat dapat dituntutnya menurut hukum pidana terhadap dokter sebagai pelaku usaha jasa. Dengan demikian, meskipun sejumlah ganti rugi yang dituntut oleh pasien telah dipenuhi oleh dokter, tetapi dokter tetap dapat dituntut secara pidana.

Selengkapnya pasal 19 ayat 4 UU Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan 2 tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan. Pasal 88 UU Praktik Kedokteran yang disahkan pada tanggal 6 Oktober 2004 menyatakan mulai berlaku satu tahun setelah diundangkan. Sementara itu meskipun demikian, dokter tidak dapat dituntut untuk memberikan ganti rugi apabila dokter dapat membuktikan bahwa kerugian yang diderta pasien bukan karena kesalahannya, melainkan karena kesalahan pasien. Hal ini diatur dalam pasal 19 ayat 5 UU Perlindungan Konsumen yang menyatakan bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan 2 tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.

Pada undang – undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran tentang pelanggaran disiplin kedokteran, berisikan;

  • 1. Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa:

    • a. Pemberian peringatan tertulis.

    • b. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat ijin praktik; dan atau

    • c. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi.

Kesimpulan

Pada dasarnya dalam menangani seorang tersangka, terdapat alur yang berlaku untuk itu. Dalam sistem militer, sebagai seorang dokter apabila mengambil bagian dalam hal tersebut maka akan membuat dokter itu sendiri akan terikat dengan aturan yang berlaku di sistem itu. Sedangkan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan tindakan militer, diharuskan dokter untuk berpikir secara spesifik dan kritis karena disini dia akan dituntut untuk mementingkan tugasnya sebagai seorang dokter yang menanamkan kode profesinya dibawah status militernya ataupun sebaliknya.

Daftar Pustaka

  • 1. Ginting B. Perbandingan sistem hukum sebagai alternatif metode pembahuruan hukum di Indonesia.

Edisi

Februari

2005.

Diunduh

dari

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15226/1/equ-feb2005-6.pdf. 11 Januari 2016.

  • 2. Iskandar A. Hukum ham internasional: sebuah pengantar konktekstual. Cianjur: IMR Press;

2012.

p. 510-12.

  • 3. Editorial. Bahan kuliah sistem hukum Indonesia dan sistem hukum di dunia. Edisi Februari

2009.

  • 4. Safitry O. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait praktik kedokteran. Jakarta: FK

UI; 2014. p. 66-7, 99-101.

  • 5. Editorial. Deklarasi universal hak – hak asasi manusia. Edisi Desember 1948. Majelis umum

2016.

  • 6. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi mahasiswa kedokteran dan hukum. Jakarta: Pustaka Dwipar; 2007. p. 8-12, 30-2, 53-5, 62-7,

77-9.

  • 7. Williams JR. Medical ethics manual. Yogyakarta: FK Muhammadiyah; 2006. Di unduh dari

 

11 Januari 2016.

  • 8. Editorial. Kode etik kedokteran Indonesia dan pedoman pelaksanaan kode etik kedokteran

Indonesia. Diunduh dari luk.staff.ugm.ac.id/atur/sehat/Kode-Etik-Kedokteran.pdf. 12 Januari

2016.