Anda di halaman 1dari 13

REVISI II

PAPER
ASESMEN KASUS PERKEMBANGAN LANSIA
DENGAN METODE ASSESMEN ZINCS
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Intervensi Individu

Oleh :
Fajar Dwi Utoro

15010113130173
Kelas 4

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016
I. Kasus

Ibu T adalah seorang nenek berusia 71 tahun. Beliau memiliki enam orang anak dan empat
belas cucu. Suami beliau telah meninggal sejak tahun 1989. Sudah hampir empat tahun
belakangan ini beliau tinggal sendirian. Semua anak beliau telah berkeluarga dan memiliki
kehidupannya sendiri di luar kota. Sebelumnya, beliau tinggal di rumahnya ditemani oleh
salah seorang cucunya. Namun, karena cucunya melanjutkan kuliah di luar kota, kini beliau
hidup sendiri tanpa ada keluarga yang menemani. Hal tersebut membuat beliau sering merasa
kesepian.
Untuk biaya hidup sehari-hari, seminggu sekali beliau mendapatkan kiriman uang dari anakanaknya. Meski demikian, di usianya yang menginjak lansia beliau harus bersusah payah
untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari seperti memasak, mencuci pakaian atau
membersihkan rumah. Hal ini dikarenakan penyakit reumatik beliau yang semakin parah
selama dua tahun belakangan ini, beliau tidak lagi mampu menjalani aktifitas sehari-hari
yang biasanya dia mampu lakukan, seperti berbelanja di pasar atau mengikuti pengajian di
masjid sekitar rumahnya. Hal tersebut membuatnya jarang berkomunikasi dengan tetangga
dan lebih sering mengurung diri di rumah. Selain itu, beliau mengaku sering merasa sedih,
cemas, mudah lelah dan susah tidur.
Sebenarnya, anak-anak beliau telah berinisiatif mengajak beliau tinggal bersama, namun
ditolaknya dengan alasan bahwa beliau lebih nyaman tinggal sendiri di rumahnya
dibandingkan tinggal di luar kota. Selain itu, anak-anaknya juga berinisiatif mempekerjakan
perawat untuk membantu beliau melakukan tugas rumah namun selalu ditolaknya. Beliau
beralasan bahwa perawat adalah orang asing, sehingga beliau merasa tidak nyaman jika harus
tinggal bersama dengan perawat. Dikarenakan hal itu, beliau memiliki pikiran bahwa
keluarganya tidak lagi perhatian kepada dirinya dan menganggap bahwa dirinya adalah beban
yang dimiliki oleh keluarganya.

II. Analisis Metode Assesmen Zincs


A. Definisi dan Formulasi Problem
1. Permasalahan
a. Subjek sering mengurung diri di dalam rumahnya dikarenakan dirinya merasa
berat atas permasalahan yang dia alami.
b. Subjek merasa putus asa dengan kondisi yang ia derita.
c. Subjek merasa kesulitan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

2. Latar belakang
Diakibatkan cucu yang biasanya menemani subjek melanjutkan kuliah di
luar kota pada empat tahun yang lalu, saat ini subjek tinggal sendirian di
rumahnya. Hal ini menyebabkan dirinya sering merasa kesepian. Kondisi ini
bertambah buruk dikarenakan kesehatan fisiknya yang semakin menurun selama
dua tahun belakangan, hal itu membuat subjek merasa berat dalam melakukan
aktifitasnya sehari-hari. Pada akhirnya, subjek merasa berputus asa sehingga
sering murung dan mengurung dirinya di dalam rumah.
3. Asesmen perlu dilakukan untuk mengetahui motif subjek melakukan perilaku
tersebut. Selain itu diharapkan hasil asesmen ini dapat menjadi bahan untuk
pertimbangan pemberian intervensi yang tepat dan sesuai untuk memperbaiki
kualitas hidup yang dimiliki subjek.
B. Pengembangan Alternatif
1. Dasar Teoritis
Menurut Santrock (2006), ketika memasuki usia lanjut, kondisi fisik
individu akan mengalami penurunan, misalnya dalam hal fungsi penglihatan atau
pendengaran. Selain itu, ketahanan fisik mereka pun akan mengalami penurunan,
sehingga meningkatkan kemungkinan mengidap penyakit atau masalah kesehatan
tertentu. Masalah kesehatan yang biasanya muncul di usia lanjut adalah penyakit
kronis seperti kanker, serta osteoporosis. Pengelolaan diri dan kesehatan yang baik
pada dasarnya dapat membuat lansia terhindar dari masalah-masalah kesehatan
ini, atau setidaknya memperlambat penurunan kondisi fisik yang terjadi pada
dirinya (Black, 1994).
Tahap usia lanjut menurut Erik Erikson tahun 1963 merupakan tahap
integrity vs despair, yakni individu yang sukses dalam melampaui tahap ini akan
dapat beradaptasi dengan baik, menerima berbagai perubahan yang terjadi dengan
tulus, mampu beradaptasi dengan keterbatasan yang dimilikinya, bertambah bijak
menyikapi proses kehidupan yang dialaminya. Sebaliknya, mereka yang gagal
maka akan melewati tahap ini dengan penuh stress, rasa penolakan, marah dan
putus asa terhadap kenyataan yang dihadapinya. Lansia dengan berbagai
perubahan baik secara fisik maupun tersebut menjadikan mereka kelompok yang
rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan khususnya masalah kesehatan

mental dan depresi merupakan masalah kesehatan yang paling banyak ditemui
pada lansia (Kompas, 2008)
Lanjut usia merupakan proses menua pada manusia yang tidak dapat
dihindarkan. Salah satu tanda penurunan fungsi tubuh untuk beradaptasi dengan
stress lingkungan dan merupakan tahap akhir dari siklus kehidupan manusia,
sering ditandai dengan kondisi kehidupan yang tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Hal ini merupakan beban berat bagi lansia yang dapat menimbulkan
depresi (Depsos, 2006). Lansia yang mengalami depresi akibat perubahan fisik,
psikologis dan sosial yang terjadi mengakibatkan perasaannya menjadi tidak
berharga, tidak berdaya, malu dengan kondisi fisik saat ini dan perasaan bersalah,
maka diagnosa yang keperawatan yang paling sesuai dengan gejala tersebut
adalah harga diri rendah kronik (NANDA, 2005)
Hawari (2001, h. 19) mengungkapkan bahwa depresi adalah salah satu
bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (affective/ mood disorder), yang
ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak
berguna dan putus asa. Chaplin (2002, h.130) berpendapat bahwa depresi terjadi
pada orang normal dan depresi merupakan suatu kemurungan, kesedihan,
kepatahan semangat, yang ditandai dengan perasaan tidak sesuai, menurunnya
kegiatan dan pesimisme menghadapi masa yang akan datang.
Beck (dalam McDowell & Newell, 1996, h.89) mendefinisikan depresi
adalah keadaan abnormal organisme yang dimanifestasikan dengan tanda dan
simtom seperti menurunnya mood subjektif, rasa pesimis dan sikap tidak percaya,
kehilangan kespontanan dan gejala vegetatif (misalnya penurunan berat badan dan
gangguan tidur). Ditambah dengan persoalan-persoalan hidup yang mendera
lanjut usia seperti kematian pasangan hidup, persoalan keuangan yang berat,
pindah, dan dukungan sosial yang buruk dapat memicu terjadinya depresi pada
lansia. (Boedhi R. Darmodjo, 2000). Depresi terjadi lebih banyak pada umur yang
lebih tua dan dukungan keluarga yang rendah. Lansia yang berada dilingkungan
keluarga atau tinggal bersama keluarga serta mendapat dukungan dari keluarga
akan membuat lansia lebih sejahtera. (Marchira, dkk 2007).

Berdasarkan kriteria DSM IV-TR, terdapat dua jenis gangguan depresi


yang bersifat klinis, yaitu (American Psychiatric Association, 2000; Rosenvald,
Oei & Schmidt, 2007):
a. Gangguan Depresi Mayor
Gangguan depresi mayor merupakan gangguan depresi yang paling
umum terjadi. Individu dengan gangguan depresi mayor akan mengalami
episode-episode depresi dan normal/remisi yang terlihat cukup kontras.
Diagnosis untuk gangguan depresi mayor dapat diberikan jika individu
mengalami setidaknya lima dari delapan kriteria berikut selama setidaknya
dua minggu berturut-turut, dan hal ini menganggu keberfungsiannya seharihari:
1. Adanya suasana hati/ mood depresif hampir sepanjang hari
2. Kehilangan minat melakukan hal-hal yang disukai
3. Mengalami penurunan atau kenaikan berat badan yang disertai
perubahan selera makan
4. Mengalami masalah tidur yang muncul hampir setiap hari.
5. Mengalami agitasi/ kegelisahan psikomotor
6. Mengalami rasa lelah yang berlebihan
7. Merasa tidak berdaya, sulit berpikir dan konsentrasi
8. Adanya kemunculan pikiran-pikiran buruk mengenai kematian,
termasuk keinginan bunuh diri
b. Gangguan Distimik
Gangguan distimik merupakan jenis gangguan depresi yang ditandai
dengan perasaan murung dalam jangka waktu yang lama dan pengidapnya
seringkali menerima perasaan tersebut sebagai bagian dari kehidupannya
sehari-hari. Diagnosis ini diberikan jika individu mengalami simptomsimptom depresi hampir sepanjang hari dan hampir setiap hari, paling tidak
selama dua tahun untuk orang dewasa dan satu tahun untuk anak-anak dan

remaja. Simptom-simptom depresi yang muncul setidaknya dua dari tujuh


simptom berikut:
1. Tidak ada selera makan atau makan berlebihan
2. Insomnia atau hipersomnia
3. Tidak ada tenaga atau lelah
4. Merasa harga diri rendah
5. Konsentrasi buruk
6. Sulit membuat keputusan
7. Merasa tidak memiliki harapan
Ciri yang ditampilkan oleh individu dengan gangguan distimik pada
dasarnya mirip dengan ciri gangguan depresi mayor. Bedanya, pada gangguan
depresi mayor, individu mengalami perubahan episode yang sangat kontras
antara depresi dan penyembuhan, sementara pada gangguan distimik,
perubahan suasana hati tidak terjadi dengan ekstrim, tetapi justru cenderung
konstan. Di luar jenis gangguan depresi yang tercatat dalam DSM IV-TR, ada
pula masalah depresi yang terbilang ringan dan dikenal dengan istilah depresi
minor (Gellis & McCracken, 2008). Depresi ringan pada umumnya ditandai
dengan kemunculan kriteria depresi mayor, tetapi belum cukup untuk dapat
didiagnosis ke arah gangguan tersebut, misalnya tidak sampai memenuhi lima
kriteria, tetapi sudah terjadi selama dua minggu. Sama seperti depresi mayor,
depresi minor juga biasanya sudah mengganggu keberfungsian individu yang
mengalaminya, sehingga perlu ditangani secara komprehensif pula (Gellis &
McCracken, 2008).

Gejala depresi menurut Beck (1985) digolongkan dalam empat simtom:


a. Emosional

Simtom emosi yang berperan penting pada depresi ada enam, yaitu mood
bersedih, tidak suka dengan diri sendiri, kehilangan kegembiraan, kehilangan
kasih sayang, menangis dan kehilangan respon kegembiraan.
b. Kognitif
Terdapat beberapa simtom kognitif yang merupakan manifestasi pada
depresi. Diantaranya, rendahnya evaluasi diri, berprasangka buruk, menyalahkan
diri sendiri.
c. Motivasional
Kebimbangan, penyimpangan gambaran diri, kehilangan motivasi dan
keinginan untuk melakukan bunuh diri.
d. Fisik
Hilangnya selera makan, gangguan pola tidur, kehilangan nafsu seksual
dan kelelahan.
Terdapat empat faktor stressor yang dapat mencetuskan depresi (Sundeen
& Stuart, 1998):
1. Kehilangan keterikatan, yang nyata atau yang dibayangkan, termasuk
kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik, kedudukan, atau harga diri. Karena
elemen aktual atau simbolik melibatkan konsep kehilangan, maka persepsi
pasien merupakan hal yang sangat penting.
2. Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahuluan
episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah yang
dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
3. Peran dan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi perkembangan
depresi, terutama wanita.
4. Perubahan fisiologis diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit
fisik, seperti infeksi, neoplasma dan gangguan keseimbangan metabolik dapat
mencetuskan depresi.

1. Analisis kasus
Berdasarkan kronologi yang dijelaskan diatas, permasalahan subjek yang
seorang lansia diawali dengan kepergian cucunya untuk melanjutkan kuliah di luar
kota pada empat tahun yang lalu, kejadian tersebut mengakibatkan subjek sering
merasa kesepian. Hal ini bertambah buruk ketika penyakit reumatik yang diderita
subjek semakin parah pada dua tahun lalu sehingga subjek menjadi kesulitan untuk
melakukan aktifitasnya sehari-hari. Kehilangan keterikatan dengan seseorang dan

perubahan fisiologis yang diakibatkan penyakit fisik tersebut yang kemudian menjadi
faktor penyebab depresi dalam diri subjek.
Lanjut usia merupakan proses menua pada manusia yang tidak dapat
dihindarkan. Salah satu tanda penurunan fungsi tubuh untuk beradaptasi dengan stress
lingkungan dan merupakan tahap akhir dari siklus kehidupan manusia, sering ditandai
dengan kondisi kehidupan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini
merupakan beban berat bagi lansia yang dapat menimbulkan depresi (Depsos, 2006).
Stress sangat rentan terjadi pada lanjut usia karena faktor kehilangan, penurunan
kesehatan fisik, dan kurangnya dukungan dari keluarga. Kurangnya dukungan
keluarga kepada lanjut usia, akan mempengaruhi koping pada lansia. Koping yang
tidak kuat dalam mengahadapi masalah, akan menyebabkan krisis yang bertumpuk
dan berkepanjangan yang akhirnya dapat menimbulkan depresi.
Selain itu, saat ini subjek berusia 71 tahun. Pada usia tersebut tahap
perkembangannya yang dilalui menurut teori Erikson adalah fase ke delapan yaitu
fase integritas vs keputusasaan (Santrock, 2012). Pada usia ini ketika tugas
perkembangan seseorang tidak berjalan dengan baik, ia tidak dapat menerima
hidupnya yang telah masuk di usia yang senja akan merasa dirinya terasingkan dari
lingkungan kehidupannya dan putus asa.
Pada kasus ini subjek mengalami beberapa peristiwa yang kemudian menjadi
faktor stressor penyebab depresi. Selama dua tahun terakhir, subjek mengaku sering
merasa kesepian, cemas, mudah lelah dan mengalami gangguan tidur. Dysthmia
bersifat ringan tetapi kronis (berlangsung lama). Gejala-gejala dysthmia berlangsung
lama dari gangguan depresi mayor yaitu selama 2 tahun atau lebih. Dysthmia bersifat
lebih berat dibandingkan dengan gangguan depresi mayor, tetapi individu dengan
gangguan ini masih dapat berinteraksi dengan aktivitas sehari-harinya (National
Institute of Mental Health, 2010).
e. Pembuatan Keputusan
1. Hipotesis: Berdasarkan beberapa kronologi yang dialami oleh subjek, penyusun
membuat hipotesis bahwa subjek mengalami dhystimia.
2. Data tambahan
a. Wawancara
Wawancara bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang tidak dapat
diperoleh dengan mudah melalui cara-cara lain, membangun hubungan yang
kondusif untuk mendapatkan informasi itu, mengembangkan pemahaman yang
lebih besar di pihak pewawancara maupun orang yang diwawancarai tentang

perilaku yang bermasalah, dan memberikan arah dan dukungan dalam membantu
interview mengatasi perilaku bermasalahnya (Groth, G., & Marnat, 2010).
Wawancara yang dilakukan menggunakan wawancara in-depth interview.
Wawancara-mendalam (in-depth interview) adalah proses memperoleh keterangan
untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa
menggunakan pedoman (guide) wawancara dimana pewawancara dan informan
terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Sutopo, 2006).
Wawancara yang dilakukan bertujuan untuk menggali menemukan
informasi mendalam mengenai latar belakang subjek. Selain itu wawancara
dilakukan untuk menguji hipotesis yang telah dibuat.
Tabel 1. Interview Guide
Struktur

Pertanyaan
Perkenalan interviewer
Pernyataan jaminan kerahasiaan informasi dan identitas

subjek
Bagaimana kabar Anda?

Sejak kapan ibu tinggal seorang diri?


Bisakah ibu ceritakan bagaimana awalnya ibu tinggal

seorang diri?
Bagaimana ibu memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Apa saja kendala yang ibu alami dalam memenuhi

kegiatan sehari-hari?
Seberapa sering anak ibu menjenguk?
Seberapa sering ibu berkomunikasi dengan keluarga

ibu?
Apa saja perubahan yang ibu rasakan ketika tinggal

seorang diri?
Bagaimana perasaan ibu ketika tinggal seorang diri?
Apa yang telah keluarga ibu upayakan terhadap kondisi

yang ibu alami?


Apa yang ibu rasakan terhadap upaya yang telah

The Opening

The Body

keluarga ibu lakukan?

Bagaimana ibu menanggapi hal tersebut?


Bagaimana riwayat kesehatan ibu?
Apakah keluhan yang ibu rasakan mengenai kesehatan

ibu selama ini?


Apakah keluhan tersebut masih ibu rasakan hingga

sekarang?
Apakah penyakit yang ibu derita mengganggu kegiatan

ibu sehari-hari?
Bagaimana penyakit tersebut mengganggu kegiatan ibu

sehari-hari?
Apa saja usaha yang ibu lakukan untuk menjaga

kesehatan?
Berapa kali ibu makan sehari?
Jam berapakah biasanya ibu beristirahat?
Apakah ibu pernah merasa kelelahan?
Seberapa sering ibu merasa kelelahan?
Apa kegiatan lain di luar pemenuhan kebutuhan sehari-

hari yang biasanya ibu lakukan?


Seberapa sering ibu melakukan kegiatan tersebut?
Kapan terakhir kali ibu melakukan kegiatan tersebut?
Apakah ibu pernah merasa menderita dengan kondisi

yang ibu alami?


Sejak kapan ibu merasa menderita dengan kondisi yang

ibu alami?
Apakah usaha yang ibu lakukan untuk mengurangi

kondisi tersebut?
Apa harapan ibu untuk kehidupan ibu di masa yang
akan datang?

Closing

Kesimpulan wawancara

Permohonan untuk melakukan wawancara kembali,


apabila data yang diperlukan belum mencukupi

Ucapan terima kasih

f. Implementasi dan Evaluasi Hasil

Langkah pertama yaitu melakukan wawancara kepada subjek di rumahnya.


Subjek diberikan pertanyaan sesuai dengan interview guide yang telah dibuat. Ketika
data yang diperoleh telah cukup, langkah selanjutnya yaitu menelaah data hasil
wawancara yang telah diperoleh dengan teori-teori yang berkaitan. Hal ini dilakukan
untuk mengkonfirmasi informasi yang diberikan oleh pemberi rujukan.
g. Diseminasi
Pada tahap ini konselor mengkomunikasikan hasil temuan yang didapatkan
selama proses asesmen kepada pihak terkait seperti keluarganya. Kemudian terapis
memberikan alternatif-alternatif pemecahan masalah dari kasus tersebut. Setelah
memperoleh kesepakatan terapis melakukan terapi atau intervensi.
Rancangan intervensi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan
terapi kognitif. Intervensi yang dapat digunakan untuk melakukan perawatan lansia
dengan diagnosa harga diri rendah adalah terapi kognitif (Kaplan dan Saddock, 2004).
Tugas konselor disini adalah membantu klien untuk menyadari dan memperbaiki
pikiran-pikiran negatif yang otomatis ini dan seiring waktu, klien akan bisa
menemukan dan memperbaiki keyakinan-keyakinan salah yang memicu depresi
mereka. Terapi yang berikutnya adalah terapi religiusitas, dimana klien diberikan
materi keagamaan sesuai dengan agama yang dianutnya. Klien juga diberikan
pencerahan dan disadarkan mengenai tugas perkembangannya seperti mempersiapkan
kematian dengan mendekatkan diri kepada Tuhan (Wicaksana, 2008). Selain itu,
peneliti akan melanjutkan intervensi dengan melakukan terapi keluarga. Katch dan
Kahn (2000, dalam Mazbow, 2009) menyatakan bahwa dukungan sosial adalah
perasaan positif, menyukai, kepercayaan, perhatian dari orang lain yaitu orang yang
berarti dalam kehidupan individu yang bersangkutan, pengakuan, kepercayaan
seseorang, dan bantuan langsung dalam bentuk tertentu. Pelaksanaan terapi keluarga
dapat dilakukan dengan mengadakan musyawarah keluarga sehingga keluarga dapat
menentukan solusi terbaik untuk memberikan perawatan terhadap klien. Deskripsi
terapi dapat dipaparkan sebagai berikut:
a. Terapi akan dilakukan selama tiga sesi selama tiga minggu di rumah klien.
Pada sesi pertama dilakukan kontrak terapi, menggali permasalahan dan
memperbaiki keyakinan-keyakinan salah yang memicu depresi.
b. Pada sesi terapi kedua dilakukan terapi religius dengan cara memberikan
materi keagamaan dan meminta klien untuk meningkatkan kegiatan
beribadahnya. Seperti memberikan jadwal kegiatan beribadah di setiap
harinya.

c. Pada sesi terapi ketiga terapis memberikan konseling kepada keluarga subjek
agar dapat mendukung keberhasilan terapi. Keluarga berperan untuk
memberikan perhatian dan mendukung perilaku subjek, sehingga diharapkan
subjek dapat menjalani kehidupannya lebih baik dari sebelumnya.
h. Metaevaluasi
Setelah terapi atau intervensi dilakukan, konselor mengevaluasi kembali hasil
terapi apakah sudah sesuai atau belum dan apakah ada temuan-temuan baru dari kasus
tersebut atau tidak. Bila terdapat temuan baru, maka konselor mengkomunikasikan
kembali kepada pihak terkait dan memberikan alternatif-alternatif pemecahan masalah
yang sesuai.

DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association (2000) Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders (Fourth Edition-Text Revision):DSM-IV-TR. Washington DC: American
Psychiatric Association.
Beck, A. T., Steer, R.A., & Carbin, M.G. (1988). Psychometric properties of the Beck
Depression Inventory: Twenty-five years of evaluation. Clinical Psychology Review,
8 (1), 77-100.
Chaplin, J.P. 2002. Kamus Psikologi. Jakarta : Rajawali Pers.
Depsos.2006.http://rehsos.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&s id=238
diakses 01 April 2016.
Gellis, Z.D. & McCracken, S.G. (2008). Introduction to mental health disorders in older
adults. Dalam S. Diwan (Ed.), Mental Health and Older Adults Resource Reviews.
CWSE Gero-Ed Center, Masters Advance Curriculum Project. Publikasi online,
diakses 01 April 2016 dari http://depts.washington.edu/geroctr/mas/1_5mental.html.
Hawari, H. (2001). Manajemen Stress, Cemas dan Depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Kaplan, H. I., Saddock, B. J., & Grebb, J. A. (2004). Sinopsis psikiatri (Edisi ketujuh).

Jakarta: Binarupa Aksara


Kompas (2008). Waspadai depresi pada lansia. Diperoleh pada http://tekno.kompas.com
Lubis, Namora Lumongga. 2009. Depresi : Tinjauan Psikologis. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group.
McDowell, I. & Newell, C. (1996). Measuring Health: A Guide To Rating Scales and
Questionnaires. 2nd Edition. New York: Oxford University Press.
NANDA. (2005). Nursing Diagnosis: Definitions & classification. Philadelphia: AR
Santrock, J.W. (2002). Life Span Development. Eight edition. New York : Mc Graw-Hill
Companies.
Santrock, J.W. (2006). Life-span development (10th ed.). Boston: McGraw Hill.

Anda mungkin juga menyukai