Anda di halaman 1dari 88

Bab VII

Perencanaan Struktur Baja

Struktur Baja

Didasarkan atas sifat material baja yang dapat


menahan tegangan tarik maupun tekan
Kekuatan dan daktilitas material baja relatif tinggi
Struktur ringan sehingga menguntungkan untuk
struktur jembatan bentang panjang, bangunan
tinggi, ataupun struktur cangkang
Waktu pengerjaan relatif singkat (tidak
memerlukan set-up time)
Disain meliputi disain elemen dan sambungan
Kelangsingan elemen harus diperhitungkan untuk
menghindari hilangnya kekuatan akibat tekuk

Struktur Baja

Terbagi atas 3 kategori:

Struktur rangka, dengan elemenelemen tarik, tekan, dan lentur

Struktur cangkang (elemen tarik


dominan)

Struktur tipe suspensi (elemen tarik


dominan)

Perencanaan dengan LRFD (Load


and Resistance Factor Design)

Arch

Suspension

Cantilever

Tower

Skyscraper

Skyscraper

Pipeline

Dome

Dome

Sistem Struktur
Struktur Baja Bangunan Industri

Bentang < 20 m -> tanpa haunch

Bentang 40 - 70 m

Bentang > 20 m -> dengan haunch

Bentang > 70 m
Rangka Batang Ruang

Sistem Struktur
Sistem Bracing Bangunan Industri

Panjang sampai (60-80) m

Panjang melebihi (60-80)


m

Perencanaan Berdasarkan LRFD


(Load and Resistance Factor
Design)

Perencanaan berdasarkan kondisi-kondisi batas


Kekuatan (keselamatan): kekuatan, stabilitas,
fatique, fracture, overturning, sliding
Kenyamanan: lendutan, getaran, retak
Memperhitungkan dan memisahkan probabilitas
overload dan understrength secara explisit
Perhitungan:
Rn = Kekuatan nominal

R n i Q i

Q = Beban nominal
= Faktor reduksi kekuatan

= Faktor beban

Perencanaan Berdasarkan LRFD


(Baja)

Faktor Keamanan

Faktor Beban: tergantung jenis dan


kombinasi
Q
Q
Q
Q
Q
Q

=
=
=
=
=
=

1.4
1.2
1.2
1.2
0.9
0.9

D
D
D
D
D
D

+
+
+
+
+

1.6
1.3
1.0
1.3
1.0

L
W
E
W
E

Faktor Ketahanan: tergantung jenis


elemen dan kondisi batas

Gaya aksial tarik t = 0.9


Gaya aksial tekan c = 0.85
Lentur c = 0.9
Geser balok v = 0.9

Sifat Material Baja

Tipikal Kurva Tegangan vs Regangan Baja

Kurva Tegangan vs Regangan


Baja

Penampang Elemen Tarik


Struktur Baja

Penampang Elemen Tekan


Struktur Baja

Penampang Elemen Lentur


Struktur Baja

Perencanaan Batang
Tarik

Perencanaan Batang Tarik

Penggunaan baja struktur yang paling efisien adalah


sebagai batang tarik, dimana seluruh kekuatan batang
dapat dimobilisasikan secara optimal hingga mencapai
keruntuhan
Batang tarik adalah komponen struktur yang memikul/
mentransfer gaya tarik antara dua titik pada struktur
Suatu elemen direncanakan hanya memikul gaya tarik
jika:

Kekakuan lenturnya dapat diabaikan, seperti pada kabel atau


rod
Kondisi sambungan dan pembebanan hanya menimbulkan
gaya aksial pada elemen, seperti pada elemen rangka batang

Kuat Tarik Rencana


N u < Nn
Nu :
Nn :

Gaya aksial tarik terfaktor


Kuat tarik rencana

a. Kondisi Leleh sepanjang batang:

Nn = 0.90 Ag fy
b. Kondisi Fraktur pada daerah sambungan:

Nn = 0.75 Ae fu

dimana :
Ag =
Ae =
fy =
fu =

luas penampang kotor


luas efektif penampang
tegangan leleh
kekuatan (batas) tarik

Koefisien reduksi :
0.90 untuk kondisi batas leleh
0.75 untuk kondisi batas fraktur

fraktur lebih
getas/berbahaya d
Kondisi fraktur lebih getas/berbahayaKondisi
dan harus
lebih
dihindari

Luas Kotor dan Luas Efektif

Penggunaan luas Ag pada kondisi batas leleh dapat


digunakan mengingat kelelehan plat pada daerah berlubang
akan diikuti oleh redistribusi tegangan di sekitarnya selama
bahan masih cukup daktail (mampu berdeformasi plastis
cukup besar) sampai fraktur terjadi.

Kondisi pasca leleh hanya diijinkan terjadi pada daerah


kecil/pendek disekitar sambungan, karena kelelehan pada
seluruh batang akan menimbulkan perpindahan relatif antara
kedua ujung batang secara berlebihan dan elemen tidak
mampu lagi berfungsi.

Batas Leleh: Pada sebagian besar batang, diperhitungkan


sebagai penampang utuh => Ag

Batas Fraktur: Pada daerah pendek disekitar perlemahan,


diperhitungkan penampang yang efektif => Ae

Penampang Efektif, Ae
Pada daerah sambungan terjadi perlemahan:
Shear lag => luas harus direduksi dengan koefisien U
Pelubangan => pengurangan luas sehingga yang
dipakai pada daerah ini adalah luas bersih An
Ae =

An U

Shear Lag
Tegangan tarik yang tidak merata pada daerah sambungan karena
adanya perubahan letak titik tangkap gaya P pada batang tarik :
Di tengah bentang:

pada berat penampang

Di daerah sambungan: pada sisi luar penampang yang bersentuhan


dengan elemen plat yang disambung.
x

Koefisien Reduksi
Penampang akibat Shear
Lag
Bagian plat siku vertikal memikul sebagian besar beban transfer dari baut.
Setelah melewati daerah transisi, pada jarak tertentu dari lokasi lubang baut, barulah
seluruh luas penampang dapat dianggap memikul tegangan tarik secara merata.
Daerah penampang siku vertikal mungkin dapat mencapai fraktur walaupun beban
tarik P belum mencapai harga Ag.fy.
Untuk mengantisipasi hal ini, maka dalam analisis kondisi batas fraktur digunakan
luas penampang efektif, Ae :

Ae =

A U

dimana :
U : koefisien reduksi

Koefisien Reduksi
Penampang
U: koefisien reduksi
U 1

0.9

x:

eksentrisitas sambungan

L:

panjang sambungan dalam arah gaya,


yaitu jarak terjauh antara dua baut pada sambungan.

Harga U dibatasi sebesar 0.9.


U dapat diambil lebih besar dari 0.9 apabila dapat dibuktikan dengan
kriteria yang dapat diterima.

Luas Penampang Efektif:


Ae = A x U
a) Apabila gaya tarik disalurkan hanya oleh baut :
A = An = luas penampang bersih terkecil antara potongan 1-3 dan potongan 1-2-3
U dihitung sesuai rumus diatas
1
Potongan 1-3
2
P
3

u
u

: An Ag - n d t

P
2t
s
Potongan 1-2-3 : A n A g - n d t +
4u

s
dimana :

Ag
= luas penampang kotor
t
= tebal penampang
d
= diameter lubang
n
= banyaknya lubang
s
= jarak antara sumbu lubang pada sejajar sumbu komponen struktur
u
= jarak antara sumbu lubang pada arah tegak lurus sumbu
Dalam suatu potongan jumlah luas lubang tidak boleh melebihi 15% luas penampang utuh .

Luas Penampang Efektif:


Ae = A x U
b) Apabila gaya tarik disalurkan hanya oleh las memanjang ke elemen
bukan plat, atau oleh kombinasi las memanjang dan melintang :
A = Ag
U dihitung sesuai rumus diatas
Potongan I - I
I
P

P
I

Luas Penampang Efektif:


Ae = A x U
A = luas penampang yang disambung las
U = 1, bila seluruh ujung penampang di las.

Luas Penampang Efektif:


Ae = A x U
d) Gaya tarik disalurkan ke elemen plat oleh las memanjang
sepanjang kedua sisi bagian ujung elemen :
A = A plat
l > 2w
2w > l > 1.5 w
1.5w > l > w

: U = 1.0
: U = 0.87
: U = 0.75

dimana :
w : lebar plat (jarak antar garis las)
l : panjang las memanjang

Luas Penampang Efektif:


Ae = A x U
Selain uraian tersebut di atas , ketentuan di bawah ini dapat digunakan :
a. Penampang-I (W, M, S pada AISC manual) dengan b/h > 2/3
atau penampang T yang dipotong dari penampang I ini dan
Sambungan pada plat sayap dengan n baut > 3 per baris (arah gaya)
U = 0.90
b. Seperti butir a., tetapi untuk b/h < 2/3, termasuk penampang tersusun:
U = 0.85
c. Semua penampang dengan banyak baut = 2 per-baris (arah gaya) :
U = 0.75

Luas Penampang Efektif


Penentuan L untuk perhitungan U pada lubang baut zigzag

Luas Penampang Efektif


Penentuan L untuk perhitungan U pada sambungan las

Luas Penampang Efektif


Penentuan x untuk perhitungan U
untuk beberapa kasus sambungan

Kelangsingan Batang Tarik


Batasan kelangsingan yang dianjurkar dalam peraturan ditentukan berdasarkan
pengalaman, engineering judgment dan kondisi-kondisi praktis untuk:
a. Menghindari kesulitan handling dan meminimalkan kerusakan dalam
fabrikasi, transportasi dan tahap konstruksi
b. Menghindari kendor (sag yang berlebih) akibat berat sendiri batang
c. Menghindari getaran
Batasan kelangsingan, ditentukan sebagai berikut:
< 240 , untuk komponen utama
< 300 , untuk komponen sekunder
dimana : = L/i
L = panjang batang tarik
I min
i =
A
Untuk batang bulat, diameter dibatasi sebesar l/d < 500

Contoh:
A. Kuat Tarik Rencana
Sebuah batang tarik berupa pelat (2 x 15) cm disambungkan ke pelat
berukuran (2x30) cm dengan las memanjang sepanjang 20 cm pada
kedua sisinya, seperti terlihat pada gambar. Kedua plat yang
disambung terbuat dari bahan yang sama :
fy = 2400 kg/cm2, fu = 4000 kg/cm2.
Berapa beban rencana, Nu, yang dapat dipikul batang tarik ?
P

30 cm

15 cm
2 cm
2 cm

20 cm

Contoh:
A. Kuat Tarik Rencana
Jawab:
Karena kedua plat yang disambung terbuat dari bahan yang sama, maka beban rencana
akan ditentukan oleh kuat tarik plat yang lebih kecil luas penampangnya, yaitu plat 2x15.
Kriteria disain :
Nu < Nn
Kekuatan pelat, Nn ditentukan dari kondisi batas leleh dan fraktur :
a. Plat leleh :
Nu = Nn = 0.9 fy Ag
= 0.9 (2400 kg/cm2) ( 2x15 cm2)

64.8 ton

b. Plat fraktur :
Nu = Nn = 0.75 fu Ae
dimana : A = Ag = 2 x 15 cm2 = 30 cm2
l/w = 20/15 = 1.33, jadi U diambil 0.75
Ae = A U = (30 cm2) (0.75) = 22.5 cm2
Nu

= 0.75 (4000 kg/cm2) (22.5 cm2)

67.5 ton

Dari kedua nilai kuat rencana, Nu, yang menentukan adalah nilai yang lebih kecil.
Nu < 64.8 ton.

Contoh:
B. Disain Penampang
Gaya yang harus dipikul batang tarik sepanjang 10 meter, adalah :
Beban mati: Pd = 50 ton
Beban hidup: Pl = 40 ton.
Rencanakan penampang batang tarik yang terbuat dari penampang I dengan
fy = 2400 kg/cm2
fu = 4000 kg/cm2
dengan kombinasi beban:
1.4 Pd
1.2 Pd + 1.6 Pl
Jawab :
Menghitung Beban
Beban rencana terfaktor, Nu:
Nu1 = 1.4 Pd
Nu2 = 1.2 Pd + 1.6 Pl
Nu2 menentukan.

= 1.4 (50 ton)


= 1.2 (50 ton) + 1.6 (40 ton)

= 70 ton
= 124 ton

Contoh:
B. Disain Penampang
Menghitung Ag minimum :
1. Kondisi leleh:

Nu < fy Ag
Ag min =

2. Kondisi Fraktur :
An >

124 ton
0.9 24000 ton 2

Nu < fu Ae = fu An U
124 ton
0.75 400x100 ton 2 0.9

m
An > 45.93 cm2

57.41 cm2

Contoh:
B. Disain Penampang
Untuk batang - I disambung pada kedua sayapnya seperti pada gambar:

U = 0.90

untuk

b/h > 2/3

Berdasarkan Ag > 57.41 cm2, ambil IWF-200, tf = 12 mm


lubang baut: d = 2.5 cm
Jumlah luas lubang baut pada satu irisan tegak lurus penampang
= 4 (2.5) (1.2) = 12 cm2
Maka dari kondisi fraktur diperoleh :
Ag min = An min + jumlah luas lubang baut
= 45.93 + 12 cm2
= 57.93 cm2

Contoh:
B. Disain Penampang
Dari kedua kondisi batas di atas, diambil harga terbesar :
Ag min = 57.93 cm2
Menghitung i-min untuk syarat kelangsingan:
imin = L/240 = 1000/240 cm = 4.17 cm
Ambil : IWF 200.200.8.12
Cek :

b/h = 1
> 2/3
2
Ag = 63.53 cm > 57.93 cm2
iy = 5.02 cm
> 4.17

OK
OK
OK (sedikit lebih boros)

Keruntuhan Geser Blok


Block shear rupture: kegagalan akibat terobeknya suatu blok pelat baja
pada daerah sambungan

s
s
s2

s1

Mode kegagalan ditahan oleh penampang pada batas daerah yang diarsir:
tegangan tarik pada penampang tegak lurus sumbu batang
tegangan geser pada penampang sejajar sumbu batang

Tipe Keruntuhan Geser


Blok
1. Pelelehan geser Fraktur tarik
Bila : fu Ant > 0.6 fu Ans :

t.Nn = t ( fu Ant + 0.6 fy Ags )


2. Fraktur geser Pelelehan tarik
Bila : 0.6 fu Ans > fu Ant :

t.Nn = t ( fy Agt + 0.6 fu Ans )


dimana : Ags
Agt
Ans
Ant

= Luas bruto yang mengalami pelelehan geser


= Luas bruto yang mengalami pelelehan tarik
= Luas bersih yang mengalami fraktur geser
= Luas bersih yang mengalami fraktur tarik

Perencanaan Batang
Tekan

Perencanaan Batang Tekan

Kuat tekan komponen struktur yang


memikul gaya tekan ditentukan:

Bahan:

Tegangan leleh

Tegangan sisa

Modulus elastisitas
Geometri:

Penampang

Panjang komponen

Kondisi ujung dan penopang

Perencanaan Batang Tekan

Kondisi batas:
Tercapainya batas kekuatan
Tercapainya batas kestabilan (kondisi tekuk)

Kondisi tekuk/batas kestabilan yang perlu


diperhitungkan:
Tekuk lokal elemen plat
Tekuk lentur
Tekuk torsi atau kombinasi lentur dan torsi

Kurva Kekuatan Kolom

Hubungan antara Batas Kekuatan dan Batas Kestabilan

Batas Kekuatan (LRFD)


Kapasitas Aksial Batang
Tekan:
Nu Nn
R n i Q i
Rn = Kekuatan nominal
Q = Beban nominal
Faktor reduksi kekuatan

c 0.85

N n Ag f cr Ag

fy

Ag f y

Faktor beban

1 untuk c 0, 25
1 Lk
c
imin

fy
E

Batas Kestabilan Inelastis


Kapasitas Aksial Batang
Tekan:
Nu N n ;
c 0.85
fy

N n Ag f cr Ag

0,25 c 1,2

1,43

1,6 0,67c

Fcn 0.658 .Fy

Batas Kestabilan Elastis


Kapasitas Aksial Batang Tekan:

Batas Kekuatan dan Kestabilan


Lentur
250

Tegangan Kritis MPa

200

150

100

50

0
0

20

40

60

80

100

120

140

160

180

Kelangsingan, KL/r
1.67 f-ijin/w

fy/w

1.67 fa(ASD-AISC)

fy/w(LRFD-AISC)

200

Panjang Tekuk
dan Batas Kelangsingan

Komponen struktur dengan gaya aksial murni umumnya


merupakan komponen pada struktur segitiga (rangka-batang)
atau merupakan komponen struktur dengan kedua ujung sendi.
Untuk kasus-kasus ini, faktor panjang tekuk ditentukan tidak
kurang dari panjang teoritisnya dari as-ke-as sambungan dengan
komponen struktur lainnya.

Lk kcl l

Untuk batang-batang yang direncanakan terhadap


tekan, angka perbandingan kelangsingan dibatasi:

Lk
200
rmin

Faktor Panjang Tekuk

Berbagai nilai K

Tekuk Lokal

Tekuk lokal terjadi bila tegangan pada elemen-elemen


penampang mencapai tegangan kritis pelat.
Tegangan kritis plat tergantung dari perbandingan tebal
dengan lebar, perbandingan panjang dan tebal, kondisi
tumpuan dan sifat material.
Perencanaan dapat disederhanakan dengan memilih
perbandingan tebal dan lebar elemen penampang yang
menjamin tekuk lokal tidak akan terjadi sebelum tekuk
lentur. Hal ini diatur dalam peraturan dengan membatasi
kelangsingan elemen penampang komponen struktur tekan:

b / t r

Besarnyar ditentukan dalam Tabel 7.5-1 (Tata Cara


Perencanaan Struktur Baja)

Tekuk Lentur-Torsi

Pada umumnya kekuatan komponen struktur dengan beban


aksial tekan murni ditentukan oleh tekuk lentur. Efisiensi
sedikit berkurang apabila tekuk lokal terjadi sebelum tekuk
lentur.
Beberapa jenis penampang berdinding tipis seperti L, T, Z dan
C yang umumnya mempunyai kekakuan torsi kecil, mungkin
mengalami tekuk torsi atau kombinasi tekuk lentur-torsi
Untuk kepraktisan perencanaan, peraturan tidak menyatakan
perlu memeriksa kondisi tekuk torsi/lentur-torsi apabila tekuk
lokal tidak terjadi kecuali untuk penampang L-ganda atau T
Untuk komponen struktur dengan penampang L-ganda atau
T harus dibandingkan kemungkinan terjadinya tekuk lentur
pada kedua sumbu utama dengan tekuk torsi/lentur-torsi

Penampang Majemuk
Komponen struktur yang terdiri dari beberapa elemen yang
dihubungkan pada tempat-tempat tertentu, kekuatannya harus
dihitung terhadap sumbu bahan dan sumbu bebas bahan.

Kelangsingan arah sumbu bahan

Kelangsingan arah sumbu bebas bahan

Kelangsingan ideal

iy y2

kLx
ix
k .Lky
iy

m 2
l
2

Elemen batang harus lebih stabil dari batang majemuk


iy
1, 2
l

x
1, 2
l

l 50

Komponen Tekan: Contoh Soal 1.


Tentukan gaya aksial terpaktor (Nu = u Nu) dari kolom yang dibebani secara
aksial pada gambar dibawah ini (fy = 250 MPa)
Profil yang digunakan IWF 450.300.10.15

Nu

dengan besaran penampang sebagai berikut:


A

= 135 cm2

ix

= 18,6 cm

iy

= 7,04 cm

4m

Nu

Komponen Tekan: Contoh Soal 1


a)

Menentukan rasio kelangsingan


Untuk kondisi yang ujung-ujungnya jepit dan sendi: k = 0,8
Panjang tekuk: Lk = k.l = (0,8) (4 m) = 3,2 m
L k 320

45,45
i y 7,04
L k 320

17,2
i x 18,6
Dari rasio kelangsingan didapat tekuk terjadi pada arah sumbu y

b)

Menentukan c

1 Lk
iy

fy
E

1
(45,45)

0,511

250
200000

Komponen Tekan: Contoh Soal 1


c)

Menentukan daya dukung nominal tekan


f

Cek kelangsingan pelat

b
299

9,97
t
2 15

r
f r

250
15.81
fy
OK .

Jadi tidak terjadi tekuk lokal, rumus N u = A g .f cr = A g .

0, 25 c 1, 2 maka

1, 43
1,6 - 0, 67 c
1,137

fy
dapat digunakan

Komponen Tekan: Contoh Soal 1


Daya dukung nominal:

N n Ag

fy

13500 250 x 10-3

1,137
2968,3 kN

e)

Menentukan gaya aksial terfaktor: Nu


Nu

n Nu

n = faktor reduksi kekuatan = 0,85


Nu

(0,85) (2968.3)

Nu = 2523.0 kN

Komponen Tekan: Contoh Soal 2.


Tentukan profil IWF untuk memikul beban-beban aksial tekan berikut :
beban mati (DL) = 400 kN, beban hidup (LL) = 700 kN;
Lk = 3m, fy = 250MPa.
Solusi.
a)

Hitung beban ultimate


Nu = (1,2) (400) + (1,6) (700) = 1600 kN

b)

Perkirakan luas penampang yang dibutuhkan


dengan mengasumsikan kelangsingan awal

Lk
L
300
50 atau imin k
6 cm
imin
50 50

Komponen Tekan: Contoh Soal 2


c

1 Lk
imin

1
(50)

0, 563

fy
E
250
200.000

1.43
1.43

1, 6 - 0, 67 c 1, 6 - 0, 67 x0, 563

1,168
N u n . N n
n Ag f cr
Ag

Nu
n f cr

1600 x103
Ag
250
0,85

1,168
8795 mm 2 87, 95 cm 2

Komponen Tekan: Contoh Soal 2


c)

Dari Tabel profil, pilih IWF 350.250.9.14 dengan besaran penampang:


Ag = 101,5 cm2
iy = 6 cm
ix = 14,6 cm

d)

Cek kelangsingan pelat penampang:

b
250
250

8, 93; r =
15,81
t
2(14)
fy

f r

OK .

Asumsi tidak terjadi tekuk lokal terpenuhi.


a)

Cek kelangsingan tehadap tekuk global:

Lk
300

50
imin
6
Disini kebetulan asumsi dan hasil perhitungan kelangsingan berdasarkan penampang yang
dipilih sudah sama, sehingga besaran-besaran

c dan

tidak perlu dihitung kembali

Komponen Tekan: Contoh Soal 2


f)

Cek kapasitas penampang:

N u Ag . f cr

101, 5x10 250 x10


2

Nu

Nu

1,168
2172, 5 kN
n . Nn
(0,85) (2172, 5)
1600 kN 1846, 6 kN

OK .

Penampang yang dipilih ternyata memenhi persyaratan dan cukup efisien.

Komponen Tekan: Contoh Soal 3.


Disain profil baja kanal untuk menahan beban seperti pada gambar dibawah ini.
Gaya uplift 60 kN, dimana 55 kN adalah beban hidup. Sisanya beban mati.
Diketahui fy=400MPa.

60 kN
1

30 kN
6m

30 kN

Komponen Tekan: Contoh Soal 3


Solusi.
a) Hitung beban terfaktor Nu.
Beban tekan pada struktur adalah: 120kN

60

N u 1, 2

(120) 1, 6

55

60

(120) 188 kN

b) Perkirakan ratio kelangsingan


Karena panjang bentang cukup besar, diperkirakan persyaratan kelangsingan
akan menentukan. Perkirakan ratio kelangsingan mendekati nilai maksimum
yang diijinkan untuk batang tekan utama :

Lk
200, asumsi k 1, 0
imin
c)

imin

Lk
600

3
200 200

Coba profil C 40 dengan besaran-besaran penampang sebagai berikut


h = 400 mm
Ag = 9150 mm
b = 100 mm
ix = 149 mm
t = 14 mm
iy = 30,4 mm

Komponen Tekan: Contoh Soal 3


d)

Cek kelangsingan pelat penampang:

b
110
250

6,11; r =
15,81
t
18
fy

f r
OK .
h 328
665
w
23.43; r =
42.06
t
14
fy
w r

OK .

Asumsi tidak terjadi tekuk lokal terpenuhi.


e)

Cek kelangsingan tehadap tekuk global:

Lk
600

197.4
imin
3.04

Komponen Tekan: Contoh Soal 3


f)

Cek kapasitas penampang:

1 Lk
imin

1
(197.4)

2,89

fy
E
400
200.000

1,25c2 1, 25 x 2,892 10, 44


400
N n Ag f cr 0.85 x 9150 x
289000 N 289, 0 kN
10, 44
Nu
188, 0

0, 63 1
OK.
n N n 298, 0
Profil C40 memenuhi persyaratan dan ekonomis

Perencanaan Balok
(Elemen Lentur)

Penampang Baja untuk


Balok

Perilaku Balok Lentur

Batas kekuatan
lentur

Kapasitas momen
elastis
Kapasitas momen
plastis

Batas kekuatan
geser

Perilaku Balok Lentur Momen

Balok mengalami momen lentur M, yang bekerja pada


sumbu z, dimana z adalah sumbu utama ( y juga sumbu
utama).
Tidak ada gaya aksial, P = 0.
Efek geser pada deformasi balok dan kriteria leleh
diabaikan.
Penampang balok awalnya tidak mempunyai tegangan
(stress-free) atau tidak ada tegangan residual.
Penampang balok adalah homogen (E, Fy sama), yaitu
seluruh penampang terbuat dari material yang sama.
Tidak terjadi ketidakstabilan/tekuk pada balok.

Perilaku Elastik - Momen

yNA
y

= Jarak terhadap sumbu netral (NA)


= Jarak terhadap titik berat (centroidal axis)

y NA
E

Ey NA

untuk perilaku elastis

Untuk perilaku elastis, sumbu netral (neutral axis,


yNA) terletak pada titik berat penampang (centroid, y)

Perilaku Elastik - Momen


M yda y ( Ey )dA
A

M E y dA

Maka,

dA I

terhadap titik berat.

I
E I

y
E y y
My

I

M EI EI

Tentukan,

c ymax

max
Tentukan,

Mc
I

max

Elastic Section Modulus (mm3, atau in3)

M
s

Perilaku Elastik - Momen


Leleh pertama (first yield) terjadi jika max Fy
Ambil

My

= yield momen

My SFy
Kondisi pada saat M = My :

My ydA
A

Perilaku Plastis - Momen


Plastic Neutral Axis
Sumbu netral dari penampang yang dalam kondisi plastik sempurna disebut dengan
plastic neutral axis (PNA). Sebelum menghitung Mp, PNA perlu dicari terlebih
dahulu dengan menggunakan persyaratan, P = 0.

P dA
A

comp

Acomp

dA

tension

dA 0

Atension

Untuk penampang yang plastis sempurna :

comp Fy

tension Fy

Jika Fy adalah sama untuk seluruh serat pada penampang, maka :

P Fy

dA Fy dA 0

Acomp

Atension

Acomp Atension
Berarti, jika Fy nilainya sama untuk seluruh serat pada penampang, PNA dapat dicari
dengan mensyaratkan bahwa luas daerah di atas PNA harus sama dengan luas daerah
dibawah PNA (A1 = A2).

Perilaku Plastis - Momen


Sifat sifat PNA :
1. Jika lentur terjadi pada sumbu simetri penampang, maka PNA berada pada centroid.
Contoh : W-Shape, strong-axis bending

PNA

c.g

2. Jika lentur terjadi pada sumbu yang bukan sumbu simetri, maka PNA tidak berada
pada centroid.
Contoh : WT shape, strong axis bending
PNA (equal area axis)
c.g
Centroidal axis = NA untuk lentur
elastis
3. Jika baja dengan mutu yang berbeda digunakan untuk bagian-bagian penampang
maka PNA harus dicari dengan persyaratan keseimbangan.

P dA 0
A

Perilaku Plastis - Momen


Menghitung Mp
Untuk suatu penampang yang fully plastic,

Fy (+ atau - )

Mp y Fy dA 0
A

Jika Fy adalah sama di sepanjang penampang :

Mp Fy y dA
A

Ambil Z y dA , dimana y dihitung dari PNA, Z Plastic Section Modulus


A

Maka,

Mp Z Fy

Untuk sebagian besar penampang balok, umumnya Z tidak perlu dihitung dengan
integrasi di atas. Penampang dapat dibagi menjadi bentuk-bentuk geometri sederhana,
dan integral dapat diganti dengan penjumlahan :

Z A1 yi
A1 Luas bagian ke-I penampang
y 1 Jarak dari PNA ke centroid Ai (selalu bernilai positif)

Penampang Balok
Persegi Empat Homogen
b

Fy

d/2

c.g

d/2


Centroidal axis = neutral axis untuk elastic dan inelastic
behavior (krn material dan penampnag simetri)

Penampang Persegi Empat


Homogen
1.
Perilaku Elastis
1.
Perilaku
Elastis - Momen
Dari persamaan sebelumnya,

1 3
bd
12

Momen leleh
Curvature leleh

M EI
d
I bd 2
c
S
2
c
6
2
bd
: My S Fy
( Fy )
6
My 2 Fy
: y

EI
Ed

Penampang Persegi Empat


Homogen
1. Perilaku Elastis - Momen

Ed 3b Ed 3b
P dA Pi

0
(asumsi NA benar)
8
8
A
Ed 2b d
Ed 2b d
M ydA yi Pi
( )
( )
8
3
8
3
A
bd 3
E
EI
12
M EI
Untuk daerah elastis
d
Pada saat leleh pertama :
max E Fy
2
2 Fy
y
Ed
1 d
d
My (b)( Fy )[ ] 2
2 2 3
gaya

bd 2
My
Fy
6

jarak

Penampang Persegi Empat


Homogen
2.
Perilaku Plastis
2. Perilaku
Plastis - Momen
b

d/2

Fy

PNA
(asumsi)

d/2

d/4

NA

d/4

b(d/2)Fy

b(d/2)Fy

Fy

bd
d
Fy b Fy 0
2
2

d bd 2
bd
Mp yi Pi 2
Fy
Fy
2
4
4


gaya jatrak

P Pi

Penampang Persegi Empat


Homogen
2. Perilaku Plastis - Momen
Hitung Mp dari Mp = Z Fy

Z y NA dA yi Ai

d/2

y1=d/4

y1=d/4

d/2

A1 y1 A2 y 2

PNA

d d
d d
(b )( ) (b )( )
2 4
2 4
bd 2
Z
4
bd 2
Mp ZFy
Fy

Perhatikan bahwa menghitung Z adalah sama dengan menjumlahkan momen


terhadap PNA.

Kapasitas Balok Lentur


dan Shape Factor

Shape factor atau faktor bentuk merupakan fungsi dari


bentuk penampang. Shape factor dapat dihitung
sebagai berikut:

Mp
My

Secara fisik, shape factor menunjukkan tingkat


efisiensi penampang ditinjau dari perbandingan
kapasitas maksimum atau plastis terhadap kapasitas
lelehnya.
Beberapa nilai Shape Factor:
Penampang Persegi Empat
K = 1.5
Penampang I
K = 1.14

Balok Lentur Perencanaan Geser


V u < v V n

v = 0.90

Vu adalah gaya geser perlu (dari beban yang bekerja)

Vn adalah kuat geser nominal, dihitung sebagai

Vn = 0.6 fyw Aw

Aw adalah luas penampang yang memikul geser

fyw adalah tegangan leleh dari penampang yang memikul geser

Untuk penampang persegi empat, A w adalah luas total penampang,


Aw = b x h

Untuk penampang I, Aw dianggap disumbangkan hanya oleh plat badan


(web),
Aw = h x tw ; h = d 2 tf (h adalah tinggi bersih plat badan)

Batas kekuatan geser umumnya tidak menentukan, tetapi tetap harus dicek,
terutama jika terdapat lubang atau gaya terpusat pada plat badan