Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
rahmat dan karunia-Nya yang memberikan kesehatan, keselamatan, dan
membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan referat ini dengan
baik dan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
dr. Ayesha Devina, SpKJ selaku pembimbing. Tujuan pembuatan referat ini
merupakan salah satu syarat dari kepaniteraan klinik di RSJ dr. Soeharto
Heerdjan.
Penulis menyadari bahwa pembuatan referat ini masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis akan
sangat terbuka dan dengan senang hati menerima segala bentuk kritik
dan saran yang bersifat membangun, sehingga referat ini bisa berguna
bagi semua pihak. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih.

Jakarta, 3 Agustus 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Psikiatri atau ilmu kesehatan jiwa merupakan spesialistik ilmu
kedokteran
diagnosis,

yang
terapi,

mengkhususkan
rehabilitasi,

pendalaman

pencegahan

aspek

gangguan

patogenesis,
jiwa,

dan

peningkatan kesehatan jiwa. Sebagai cabang spesialistik dari ilmu


kedokteran, psikiatri merupakan bagian integral dari ilmu kedokteran
dalam meningkatkan taraf kesehatan secara umum. Psikiatri berperan
dalam peningkatan taraf kesehatan jiwa baik dalam kondisi sakit (fisik
maupun psikis) maupun dalam kondisi sehat (mencakup aspek preventif,
kuratif, dan promotif).1
Psikiatri sebagai cabang ilmu kedokteran paling banyak memberi
sorotan pada pendekatan manusia secara komprehensif sehingga dapat
dikatakan bahwa psikiatri mempunyai dwifungsi, yaiu sebagai ilmu
kedokteran dasar yang memberikan fokus pada berbagai masalah perilaku
manusia dan pendekatan manusia dan/atau pasien sebagai manusia
seutuhnya secara komprehensif, bukan dari aspek biologis semata; dan
sebagai cabang spesialisme ilmu kedokteran yang mempelajari secara
khusus berbagai macam gangguan jiwa. Sebagaimana cabang ilmu
kedokteran yang lain, psikiatri memiliki dua aspek pendekatan manusia,
yaitu sebagai objek ilmiah dan juga sebagai subjek yaitu sebagai
manusia.2
Pemeriksaan psikiatrik lengkap berbeda dari pemeriksaan medik
umum, dalam hal perhatian khusus yang di arahkan pada manifestasi
fungsi mental, emosional, dan perilaku. Pemeriksaan dilakukan untuk
menyusun laporan tentang keadaan psikologik dan psikopatologik pasien
(status psikiatrikus). Laporan ini memungkinkan seorang dokter atau
psikiater memahami siapa diri pasien, dari mana dia berasal, dan ke arah
mana kecenderungan pasien di masa depan. Data komprehensif yang
diperoleh ini merupakan hal yang esensial untuk menegakkan diagnosis

secara tepat serta memformulasikan rencana terapi yang spesifik dan


efektif.3,4
Kerangka umum pemeriksaan psikiatrik lengkap terdiri atas:3
1. Pemeriksaan tidak langsung
a. Anamnesis keluhan tentang gangguan sekarang dan
laporan pasien mengenai perkembangan keluhan tersebut,
serta riwayat situasi hidu pasien.
b. Keterangan mengenai pasien yang diperoleh dari pihak
keluarga atau orang lain yang mengenalnya.
2. Pemeriksaan langsung
a. Pemeriksaan fisik, terutama status internus dan neurologik.
b. Pemeriksaan psikik khusus
i. Penampilan umum
ii. Bidan emosi dan afek
iii. Bidang pikiran dan ideasi
iv. Bidang motorik dan perilaku
3. Pemeriksaan tambahan, yang dilakukan
apabila ada alasan
khusus untuk melaksanakan pemeriksaan tersebut seperti uji
psikologik, EEG, foto rontgen, CT scan, pemeriksaan zat kimia
tubuh, dan lain-lain
Data khusus psikiatrik yang dihasilkan dari suatu pemeriksaan
psikiatrik ialah data perihal fungsi kejiwaan dan pemahaman humanistik
sang dokter mengenai pasiennya. Pemeriksaan ini diarahkan, dan data
diungkapkan dalam pembicaraan antara dokter dan pasien yang disebut
wawancara psikiatrik. Wawancara merupakan wadah utama pemeriksaan
psikiatrik dan selalu mengandung tanggung jawab baik diagnostik maupun
terapeutik.3
Agar wawancara dapat menghasilkan data yang dapat diandalkan,
hendaknya senantiasa diusahakan untuk menciptakan dan memelihara
hubungan

yang

optimal

antara

dokter

memelihara hubungan ini mendahului

dan

pasien.

Kepentingan

kepentingan memperoleh data,

karena bagaimanapun data mengenai kejiwaan yang diperoleh tanpa


hubungan yang optimal dapat mengelirukan kesan-kesan klinis pasien.
Berhadapan dengan pasien, dokter mempengaruhi pasiennya dengan
sikap dan perkataannya. Sebagian besar perilaku pasien dihadapan dokter
merupakan respon terhadap apa yang dikatakan dokter, bagaimana
dokter tersebut mengatakannya, sikap dokter, dan bagaimana pendapat
3

pasien mengenai perilaku serta kepribadian dokter tersebut. Sehingga


tidak hanya menghasilkan pengaruh dokter terhadap pasien, melainkan
sebaliknya.3,4

BAB II
PEMBAHASAN
A. ANAMNESIS PSIKIATRI
DATA IDENTITAS
Data

identitas

memberikan

rangkuman

demografik

yang

memadai mengenai pasien berdasarkan nama, usia, status perkawinan,


jenis kelamin, pekerjaan, bahasa, latar belakang etnik dan agama, serta
situasi kehidupan terkini. Informasi ini juga dapat mencakup tempat
atau

situasi

informasi,

seperti

tingkat

apa

saat

kepercayaan

wawancara
sumber

berlangsung,

informasi,

dan

sumber
apakah

gangguan yang dialami saat ini merupakan episode pertama bagi


pasien. Psikiater harus mengetahui apakah pasien datang atas
kemauannya sendiri, dirujuk oleh teman sejawat, atau diantar orang
lain. Data identitas dimaksudkan untuk memberikan gambaran kasar
mengenai karakteristik pasien yang secara potensial penting yang
dapat

mempengaruhi

diagnosis,

prognosis,

tatalaksana,

dan

kepatuhan.3,4
KELUHAN UTAMA
Keluhan utama

menyatakan mengapa pasien datang atau

dibawa untuk memperoleh bantuan dalam bahasa, gaya, dan cara


pasien sendiri. Keluhan ini harus dicatat bahkan bila pasien tidak dapat
berbicara,

dan

deskripsi

keadaan dan

orang

yang memberikan

informasi harus disertakan. Tidak peduli betapa aneh atau tidak


relevan, penjelasan pasien harus dicatat menggunakan kata-kata
4

pasien. Individu yang hadir sebagai sumber informasi nantinya dapat


menceritakan versi mereka tentang kejadian saat itu pada bagian
riwayat penyakit sekarang.3,4
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Riwayat penyakit sekarang memberikan gambaran komprehensif
dan kronologis mengenai kejadian yang mengarahkan ke peristiwa
terkini dalam kehidupan pasien. Apabila pasien kooperatif hendaknya
diceritakan oleh pasien menurut caranya sendiri dan baru kemudian
dilengkapi dan diatur kronologisnya dengan pertanyaan khusus. Namun
pasien yang kacau dan sulit untuk diwawancarai karena kronologi
peristiwa

membingungkan,

dalam

hal

ini

menghubungi

sumber

informasi lain seperti anggota keluarga, teman, dan pasangan dapat


berguna untuk memperjelas cerita pasien. Evolusi gejala pasien harus
ditentukan dan dirangkum dalam susunan yang teratur dan sistematik.
Semakin

mendetail

riwayat

penyakit

sekarang,

semakin

besar

kemungkinan dokter untuk menegakkan diagnosis yang akurat.3-5


Kapan awitan episode sekarang, dan apa kejadian pemicu atau
pencetus terdekat yang menimbulkannya? Seperti apa situasi dalam
kehidupan pasien saat terjadi awitan gejala atau perubahan perilaku,
dan bagaimana situasi tersebut mempengaruhi pasien sehingga timbul
manifestasi gangguan yang terjadi saat ini? Mengetahui kepribadian
pasien yang sebelumnya sehat juga membantu memberikan perspektif
mengenai pasien yang kini sakit. Gejala yang tidak muncul juga harus
disebutkan. Pemicu apa di masa lalu yang menjadi bagian rantai
peristiwa yang mengarahkan ke kejadian yang baru terjadi? Bagaimana
penyakit pasien mempengaruhi aktivitas kehidupannya? Bagaimana
sifat disfungsi? Adakah gejala psikofisiologis (lokasi, intensitas, dan
fluktuasinya)? Adanya hubungan antara gejala fisik dengan psikologis
harus dicatat. Seringkali pertanyaan yang relatif terbuka akan cukup
menyingkap riwayat penyakit sekarang.3,4
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
5

Bagian ini merupakan peralihan antara riwayat penyakit sekarang


dengan riwayat pribadi atau riwayat hidup pasien. Episode penyakit
terdahulu baik psikiatri maupun medis yang mendasari dan yang telah
ada sebelumnya, dari lingkungan luar maupun dari dalam diri pasien,
dan reaksi-reaksi terhadap pasien dijelaskan pada bagian ini, sehingga
muncul suatu gambaran keseluruhan mengenai karakteristik kehidupan
pasien, kepribadiannya, dan pola reaksi pasien terhadap peristiwaperistiwa yang dihadapinya.3,4
Gejala pasien, derajat ketidakmampuan, jenis tatalaksana yang
diterima, nama rumah sakit tempat dirawat, durasi setiap kali sakit,
efek pengobatan sebelumnya, dan derajat kepatuhan semuanya harus
digali dan dicatat secara kronologis. Perhatian khusus harus ditujukan
pada episode pertama yang mengisyaratkan awitan penyakit, karena
episode pertama sering memberikan data yang sangat penting
mengenai

pencetus,

kemungkinan

diagnosis,

serta

kamampuan

menghadapi maslah. Benih-benih psikopatologi seringkali dapat dilacak


dan ditemukan pada fase-fase dini kehidupan pasien.3,4
Dalam mencatat riwayat medis, sebaiknya dokter mencari ulasan
medis mengenai gejala dan mencatat semua penyakit medis, bedah,
trauma kepala, penyakit neurologis, tumor, kejang (epilepsi), gangguan
kesadaran,

HIV/AIDS, sifilis, hingga gangguan psikosomatik. Semua

pasien juga harus ditanyakan mengenai penggunaan alkohol dan zat


psikoaktif lain, mencakup detail tentang kuantitas dan frekuensi
penggunaan.3,4
RIWAYAT KELUARGA
Pasien perlu ditanyakan perincian mengenai orang tua dan
saudaranya, termasuk umur saat ini atau umur saat meninggal,
pekerjaan,

kondisi

kesehatan,

dan

jika

terjadi

perpisahan

atau

perceraian orang tua. Pernyataan singkat tentang adanya penyakit,


rawat inap, dan tatalaksana psikiatri pada anggota keluarga dekat
pasien

harus

dituliskan

pada

bagian

ini.

Adakah

riwayat

penyalahgunaan alkohol atau zat lain atau perilaku antisosial dalam


keluarga? Selain itu riwayat keluarga harus mencakup deskripsi
6

kepribadian dan tingkat intelejensi berbagai orang yang tinggal


serumah dengan pasien, sejak masa kanak-kanak hingga saat ini, juga
deskripsi tentang keadaan tempat tinggalnya. Dokter juga harus
mendeskripsikan peran setiap orang dalam pembentukan karakter
pasien serta hubungannya dengan pasien saat ini. Berbagai anggota
keluarga dapat memberikan deskripsi yang berbeda-beda tentang sikap
dan pemahaman keluarga terhadap penyakit pasien.3-5
RIWAYAT PRIBADI
Selain mempelajari penyakit dan situasi kehidupan pasien saat
ini, dokter perlu memahami secara menyeluruh masa lalu pasien dan
hubungannya dengan masalah emosional yang ada sekarang. Riwayat
pribadi biasanya dibagi menjadi periode perkembangan utama, masa
kanak-kanak akhir dan masa dewasa. Emosi dominan yang berkaitan
dengan periode kehidupan harus dicatat.3,4
1. Riwayat prenatal dan perinatal
Data yang perlu dicatat adalah kehamilan direncanakan atau
tidak, proses kelahiran, cedera lahir, kesehatan ibu selama
kehamilan,

kondisi

emosi

ibu

sewaktu

melahirkan,

dan

pneggunaan obat oleh ibu sewaktu kehamilan.3,4


2. Masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Kualitas interaksi ibu dan anak, ada tidaknya problem anak,
deprivasi maternal, gangguan perkembangan, gangguan kejiwaan
orang tua, siapa tokoh orang tua, hubungan dengan saudara,
sifat masa kanak-kanak (pemalu, gelisah, hiperaktif, akrab,
atletis, aktif, pasif), pola permainan dengan anak lain, pola
pemberian makan, pola perkembangan awal, toilet trainning,
gejala

gangguan

tingkah

laku,

mimpi,

dan

fantasi

yang

berulang.3,4
3. Masa kanak-kanak menengah (3-7 tahun)
Identifikasi gender, hukuman, disiplin, masuk sekolah, perasaan
saat

berpisah

dengan

ibu,

perkawanan,

partisipasi

dalam

aktivitas sekolah, taat atau tidak dalam peraturan, impulsivitas


dan agresivitas, pasif-aktif, perilaku antisosial, perkembangan

membaca, intelektual dan motorik, gangguan belajar, mimpi


buruk, fobia, mengompol, dsb.3,4
4. Masa kanak-kanak akhir (pubertas hingga remaja)
Tokoh idola, nilai kelompok sosial pasien, citra diri idealnya,
riwayat sekolah, hubungan dengan guru, minat bidang pelajaran
sekolah atau di luar sekolah, olah raga, hobi, identitas dan citra
diri, penggunaan zat, aktivitas seksual dan hubungan seksual,
rasa rendah atau benci diri, pikiran bunuh diri, problem di
sekolah, penggunaan waktu senggang, hubungan dengan orang
tua, perasaan terhadap perkembangan alat kelamin sekunder,
menarche,

sikap

pacaran,

perkembangan

emosional dan fisik.3,4


5. Masa dewasa
a. Riwayat pekerjaan
Jenis pekerjaan, konflik,

ambisi,

kognitif,

perasaan

problem

terhadap

pekerjaan, sikap terhadap teman sejawat dan atasan,


riwayat pekerjaan.3-5
b. Riwayat pernikahan
Lamanya, sifat, konflik, perceraian, keharmonisan, cekcok,
harapan terhadap pasangan, aspek positif dan negatif dari
pernikahannya, kegagalan pernikahan masa lalu.3,4
c. Riwayat militer (jika ada)
Dokter harus menanyakan penyesuaian umum pasien
terhadap

militer

tersebut.

Apakah

pasien

pernah

menyaksikan pertempuran atau menderita cedera, dan


alasan pemberhentiannya. Apakah pasien pernah dirujuk
untuk konsultasi psikiatri dan apakah pernah menjalani
hukuman disipliner selama masa tugasnya.3,4
d. Riwayat pendidikan
Dokter perlu memiliki gambaran yang jelas mengenai latar
belakang pendidikan pasien. Informasi ini dapat memberi
petunjuk mengenai latar belakang sosial dan budaya
pasien, tingkat intelejensi, motivasi, dan adanya halangan
dalam pencapaian. Apa tingkat pendidikan terakhir pasien,
berapa nilai tertingginya dan nilai kelulusannya, mata
pelajaran

apa

yang

disukai

dan

bagaimana

tingkat

akademiknya. Apa tingkat pendidikan anggota keluarga


8

pasien yang lain dan bagaimana pencapaian mereka


dibanding pasien, dan bagaimana sikap pasien terhadap
pencapaian akademiknya.3,4
e. Agama
Latar belakang agama, pendidikan,
agamanya

dan

agama

lain,

sikap

aktivitas

terhadap

keagamaan,

pandangan agamanya terhadap gangguan jiwa dan bunuh


diri. Moral keagamaan, apakah pasien seorang moralis
(orang

yang

menjalankan

nilai

agamanya

sesuai

keyakinannya) atau moralizer (orang yang menggunakan


nilai agamanya untuk menilai atau menghakimi nilai agama
atau perilaku orang lain).3,4
f. Aktivitas sosial
Hubungn sosial dan sifatnya, perkawanan dengan sejenis
dan lawan jenis, apa yang dicari dalam perkawanan, teman
akrab,

sifat

terasing,

antisosial,

rasa

takut,

cemas

bergaul.3,4
g. Situasi kehidupan sekarang
Minta pasien untuk mendeskripsikan tempat tinggalnya
mencakup lingkungan dan penghuninya, jumlah kamar dan
anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut, dan
pengaturan tidur, privacy. Tanyakan juga bagaimana isu-isu
pribadi di tangani, sumber pendapatan keluarga dan
adanya masalah finansial di keluarga, siapa yang merawat
anak di rumah, siapa yang mengunjungi pasien di rumah
sakit dan seberapa sering.3-5
h. Riwayat hukum
Apakah pasien pernah ditangkap pihak berwajib dan atas
tuduhan apa, apakah pasien pernah ditahan atau dipenjara,
apakah pasien dalam masa percobaan atau penundaan
hukuman, riwayat tindak kejahatan, sikap terhadap hukum,
riwayat tindak kekerasan (kepada siapa dan menggunakan
apa).3-5
i. Riwayat psikoseksual
Tanyakan bagaimana bagaimana pasien belajar tentang
seks

dan

seksualnya.

sikap

orang

Apakah

tua

mengenai

pasien

pernah

perkembangan
mengalami
9

penganiayaan

seksual

di

masa

kanak-kanak?

Awitan

pubertas dan perasaan pasien terhadap perkembangan


tersebut, riwayat masturbasi saat remaja termasuk sifat
fantasi dan perasaan pasien terhadap fantasi tersebut.
Sikap terhadap seks harus dideskripsikan secara detail.
Apakah orientasi seksual pasien? Riwayat seksual harus
mencakup

semua

gejala

seksual

seperti

anorgasmia,

vaginismus, gangguan ereksi, impotensi, ejakulasi dini atau


tertunda, kurangnya hasrat seksual, dan parafilia. Topik
penyesuaian seksual harus mencakup deskripsi mengenai
bagaimana aktivitas seksual biasanya dimulai, frekuensi
hubungan, dan preferensi, variasi, serta teknik hubungan.
Biasanya patut ditanyakan apakah pasien pernah terlibat
hubungan diluar pernikahannya, dalam situasi apa, dan
apakah

pasangannya

mengetahui.

Sikap

terhadap

kontrasepsi dan perencanaan keluarga juga penting. Perlu


ditanyakan pula mengenai area fungsi seks dan seksualitas
lain, masalah yang meliputi seks aman, dan mengenai
penyakit menular seksual.3-5
j. Mimpi, fantasi, dan khayalan
Mimpi merupakn jalan utama ke alam sadar. Mimpi yang
berulang terutama sangat bernilai. Bila pasien mengalami
mimpi buruk, apakah tema yang berulang? Dapatkah
pasien

mendeskripsikan

mimpinya

baru-baru

ini

dan

kemungkinan maknanya? Fantasi dan khayalan adalah


bentuk materi alam bawah sadar lain yang juga berharga.
Sama seperti pada mimpi, seorang dokter dapat menggali
dan mencatat semua detail yang tampak dan perasaan
yang ada. Apa fantasi pasien tentang masa depan? Bila
pasien dapat membuat perubahan dalam hidupnya, apa
yang ingin pasien ubah? Apakah fantasi tersering dan
terfavorit yang belakangan ini pasien pikirkan? Apakah
pasien suka berkhayal? Apakah fantasi pasien berpijak pada

10

kenyataan, atau apakah pasien tidak dapat membedakan


fantasi dengan kenyataan?3,4
k. Nilai
Tanyakan sistem nilai yang dianut pasien, baik sosial
maupun moral, termasuk nilai terhadap hal yang benar
atau salah, pekerjaan, uang, permainan, anak-anak, orang
tua, teman, seks, masalah masyarakat, dan isu budaya.3,4
B. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan status mental merupakan gambaran keseluruhan
tentang pasien yang didapat dari hasil observasi pemeriksa dan kesan
yang dimunculkan oleh pasien saat wawancara. Walaupun riwayat
pasien stabil, status mental pasien dapat berubah setiap hari atau
setiap jam.4
DESKRIPSI UMUM
1. Penampilan
Dalam kategori ini dideskripsikan penampilan pasien dan kesan
fisik keseluruhan yang tercermin dari postur, pembawaan,
pakaian, dan kerapiannya. Bila pasien secara khas tampak aneh,
dapat ditanyakan adakah orang yang mengomentari pasien
mengenai

penampilannya

dan

bagaimana

pasien

menggambarkan penampilannya.3-5
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Kategori ini merujuk kepada aspek kuantitatif dan kualitatif dari
perilaku motorik pasien, termasuk diantaranya manerisme, tik,
gerakan

tubuh,

kedutan,

perilaku

stereotipik,

ekopraksia,

hiperaktivitas, agitasi, sikap melawan, fleksibilitas, rigiditas, gaya


berjalan, dan kegesitan. Manifestasi fisik lain seperti gelisah,
meremas-remas tangan, berjalan mondar-mandir, dan semua
aktivitas

yang

tidak

bertujuan

harus

dideskripsikan

dan

dijelaskan.3,4
3. Sikap terhadap pemeriksa
Sikap pasien terhadap pemeriksa dapat dideskripsikan sebagai
kooperatif, bersahabat, penuh perhatian, tertarik, blak-blakan,
seduktif,

defensif,

merendahkan,

kebingungan,

apatis,

11

bermusuhan, suka melucu, menyenangkan, suka mengelak, atau


berhati-hati. Tingkat raport yang terbina juga harus dicatat.3,4
MOOD DAN AFEK
1. Mood
Mood didefinisikan sebagai emosi yang menetap dan telah
merasap yang mewarnai persepsi orang tersebut terhadap dunia.
Mood dapat dialami dan dilaporkan secara subjektif oleh pasien
dan teramati oleh orang lain. Pernyataan mengenai mood pasien
seyogyanya

mencakup

kedalaman,

intensitas,

durasi,

dan

fluktuasi.3-6
2. Afek
Afek didefinisikan sebagai responsivitas emosi pasien saat ini,
yang tersirat dari ekspresi wajah pasien, termasuk jumlah dan
kisaran perilaku ekspresif. Afek dapat kungruen atau tidak dengan
mood. Afek dapat dideskripsikan sebagai dalam kisaran normal,
menyempit, tumpul, atau datar. Dalam kisaran afek yang normal,
terdapat variasi ekspresi wajah, nada suara, pergerakan tangn,
dan tubuh. Apabila afek menyempit, kisaran dan intensitas
ekspresi berkurang. Demikian pula pada afek tumpul, ekspresi
emosi semakin jauh berkurang. Untuk mendiagnosis afek datar,
tidak boleh ditemukan tanda ekspresi afektif.3-6
3. Keserasian afek
Konteks kesesuaian respon emosi pasien mengenai subjek yang
sedang

dibicarakan

dapat

dipertimbangkan.

Istilah

ketidak

sesuaian afek yaitu ketika afek pasien tidak kongruen dengan apa
yang dia katakan, contohnya afek datar saat membicarakan
impuls untuk membunuh.3,4
PEMBICARAAN
Bagian laporan ini mendeskripsikan karakteristik fisik gaya bicara.
Gaya bicara dapat dideskripsikan berdasarkan kuantitas, laju produksi,
dan kualitasnya. Pasien dapat digambarkan sebagai banyak bicara,
cerewet, fasih, pendiam, tidak sopan, atau terespon normal terhadap
petunjuk dari pewawancara. Gaya bicara dapat cepat atau lambat,
tertekan, tertahan, emosional, dramatis, monoton, keras, berbisik,
cadel, terputus-putus, atau bergumam. Gangguan bicara seperti gagap
12

juga dimasukkan dalam bagian ini. Irama yang tidak biasa dan aksen
apapun yang terdengar juga harus dicatat.3-5
PERSEPSI
Gangguan persepsi seperti halusinasi dan ilusi mengenai dirinya
atau lingkungannya, dapat dialami oleh seseorang. Sistem sensorik
yang terlibat dan isi ilusi atau halusinasi tersebut harus dijelaskan.
Situasi pada saat terjadinya pengalaman halusinasi juga penting
diketahui.

Contoh

gangguan

persepsi

lain

yaitu

perasaan

depersonalisasi dan derealisasi (perasaan terlepas yang ekstrim dari


diri atau lingkungannya). Halusinasi merupakan persepsi sensorik palsu
yang tidak dikaitkan dengan stimulus eksternal yang nyata, mungkin
terdapat interpretasi waham atas pengalaman halusinasi tersebut
namun mungkin juga tidak. Ilusi merupakan persepsi atau interpretasi
yang salah akan stimulus eksternal yang nyata.3-5
Jenis-jenis halusinasi antara lain:5,6

Halusinasi auditorik
Persepsi palsu akan bunyi, biasanya berupa suara-suara, namun
dapat pula berupa bunyi-bunyian lain.
Halusinasi visual
Persepsi palsu yang melibatkan penglihatan baik suatu citra
yang berbentuk dan citra yang tidak berbentuk, paling sering

ditemukan pada gangguan berupa gangguan medis.


Halusinasi olfatorik
Persepsi palsu akan baru, paling sering terdapat pada gangguan

medis.
Halusinasi gustatorik
Persepsi palsu akan rasa, misalnya rasa yang tidak enak,
disebabkan oleh kejang unsinatus dan paling sering terjadi pada

gangguan medis.
Halusinasi taktil (haptik)
Persepsi palsu akan sentuhan atau sensasi permukaan.
Halusinasi somatik
Sensasi palsu akan adanya sesuatu yang terjadi pada atau
ditujukan ke tubuhnyam paling sering berasal dari visera.
Halusinasi liliput
Persepsi palsu bahwa ukuran objek terlihat mengecil.
Sinestesia
Sensasi atau halusinasi yang ditumbulkan oleh sensasi lain.
13

Halusinasi perintah
Persepsi palsu akan perintah yang membuat seseorang wajib
mematuhi atau tak kuasa menolak.

ISI PIKIR DAN KEENDERUNGAN MENTAL


Pikiran dapat dibagi menjadi proses atau bentuk dan isi. Proses
merujuk pada cara seseorang menyatukan ide dan asosiasi, yaitu
bentuk kerangka berpikir seseorang. Proses atau bentuk pikir dapat
bersifat logis dan koheren atau sangat tidak logis dan bahkan tidak
dapat dipahami. Isi merujuk pada apa yang sebenarnya dipikirkan
seseorang, meliputi ide, kepercayaan, preokupasi, dan obsesi. 3,4
1. Proses pikir (bentuk pemikiran)
Pasien dapat memiliki ide yang sangat banyak atau justru miskin
ide. Dapat terjadi proses pikir yang cepat, yang bila berlangsung
sangat ekstrim disebut flight of ideas. Seorang pasien juga dapat
menunjukkan cara berpikir yang lambat atau tertahan, samarsamar atau kosong, relevan atau irelevan. Apakah jawaban
pasien

benar-benar

dapat

memberikan

jawaban

terhadap

pertanyaan yang diajukan, dan apakah pasien mampu berpikir


yang mengarah ke tujuan? Bloking adalah suatu interupsi pada
jalan pemikiran sebelum suatu ide selesai diungkapkan, sehingga
pasien dapat mengindikasikan ketidakmampuan untuk mengingat
apa

yang

telah

atau

ingin

dikatakan.

Sirkumstansial

mengisyaratkan hilangnya kemampuan berpikir yang mengarah


ke tujuan, dimana dalam mengemukakan suatu ide, pasien
menyertakan banyak detail yang tidak relevan dan komentar
tambahan namun pada akhirnya mampu kembali ke ide semula.
Tangensialitas merupakan suatu gangguan berupa hilangnya
benang merah pembicaraan pada seorang pasien dan kemudian
ia mengikuti pikiran tangensial yang dirangsang oleh berbagai
stimulus eksterna atau internal yang tidak relevan dan tidak
pernah kembali ke ide semula. Gangguan proses piker dapat
tercermin dari word salad (hubungan antar pemeikiran yang tidak
dapat dipahami atau inkoheren), clang association (asosiasi
berdasarkan rima), punning (asosiasi berdasarkan makna ganda),
14

dan neologisme (kata-kata baru yang diciptakan oleh pasien


melalui kombinasi atau pemadatan kata-kata lain).3,4
2. Isi pikir
Gangguan isi pikir meliputi waham, preokupasi, obsesi, kompulsi,
fobia, rencana, niat, ide berulang mengenai bunuh diri atau
pembunuhan,

gejala

hipokondriakal,

dan

kecenderungan

antisosial tertentu. Kategori mayor gangguan pikir meliputi


waham. Waham adalah kepercayaan yang salah, didasarkan pada
kesimpulan yang salah tentang realita eksterna, tidak konsisten
dengan latar belakang intelejensi dan budaya pasien, dan tidak
dapat dikoreksi dengan penalaran. Isi sistem waham yang ada
harus dijelaskan. Cara waham tersebut mempengaruhi kehidupan
pasien juga harus dijelaskan secara memadai dalam riwayat
penyakit sekarang. Waham dapat memiliki tema seperti kejar,
kebesaran, cemburu, somatik, nihilistik, atau erotik. Adanya ide
rujukan atau ide pengaruh sebaiknya juga dijelaskan.3-5
Jenis-jenis waham antara lain:5,6
Waham bizar
Kepercayaan yang salah dan aneh, sangat tidak masuk

akal.
Waham sistematik
Kepercayaan yang salah atau yang disatukan oleh peristiwa

atau tema tunggal.


Waham nihilistik
Perasaan yang salah bahwa dirinya, orang lain, dan dunia

tidak ada atau akan mengalami kiamat.


Waham kemiskinan
Kepercayaan yang salah pada seseorang bahwa ia bangkrut

atau akan kehilangan semua harta bendanya.


Waham somatik
Kepercayaan salah yang melibatkan fungsi tubuh.
Waham paranoid
o Waham kejar
Kepercayaan yang slaah pada seseorang

yang

merasa dirinya dilecehkan, dicurangi, atau dikejar.


o Waham kebesaran
Konsep seseorang akan arti penting diri, kekuatan,
atau identitasnya yang terlalu dilebih-lebihkan.
o Waham rujukan
15

Kepercayaan yang salah dalam diri seseorang bahwa


perilaku orng lain ditujukan pada dirinya; bahwa
peristiwa, objek, atau orang lain memiliki kepentingan
tertentu dan luar biasa (dalam konotasi negatif);
berasal dari ide rujukan, yaitu ketika seseorang
secara salah merasa bahwa orang lain membicarakan

dirinya.
Waham kendali
Perasaan yang

salah

bahwa

keinginan,

pikiran,

atau

perasaan seseorang dikendalikan kekuatan dari luar.


o Penarikan pikiran
Waham bahwa pikiran seseorang dihilangkan dari
dirinya oleh orang atau kekuatan lain.
o Insersi pikiran
Waham bahwa suatu pemikiran ditanamkan ke otak
seseorang oleh orang atau kekuatan lain.
o Siar pikiran
Waham bahwa pikiran seseorang dapat didengar oleh
orang lain, seolah-olah pikiran tersebut disiarkan di
udara.
o Kendali pikiran
Waham bahwa pikiran seseorang dikendalikan oleh

orang atau kekuatan lain.


Erotomania
Kepercayaan delusional, lebih

sering

ditemukan

pada

wanita daripada pria, bahwa seseorang sedang jatuh cinta


pada dirinya.

SENSORIUM DAN KOGNISI


Bagian sensorium dan kognisi pada pemeriksaan status mental
berusaha

mengkaji

fungsi

organik

otak

dan

intelejensi

pasien,

kemampuan berpikir abstrak, serta derajat tilikan dan daya nilai.3,4


1. Kesadaran
Gangguan
kesadaran
biasanya
mengindikasikan
adanya
kerusakan organik pada otak. Pasien mungkin tidak dapat
memusatkan

perhatian

kepada

stimulus

lingkungan

atau

mempertahankan pemikiran atau perilaku yang mengarah ke


16

tujuan. Pasien normal biasanya menunjukkan fluktuasi tingkat


kesiagaan terhadap lingkungan sekitar, tetapi pada pasien yang
terganggu tingkat kesadarannya sering menunjukkan gangguan
orientasi meski yang sebaliknya tidak selalu benar. Beberapa
istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan tingkat kesadaran
pasien adalah:3-5
Compos mentis
Suatu derajat optimal dari kesigapan mental individu
dalam menanggapi rangsang dari luar maupun dari

dalam dirinya.
Kesadaran berkabut
Perubahan kualitas

kesadaran

yakni

individu

tidak

mampu berpikir jernih dan berespons secara memadai


terhadap situasi di sekitarnya. Seringkali individu tampak
bingung, sulit memusatkan perhatian dan mengalami

disorientasi.
Apatis
Penurunan kesadaran, yakni individu berespons lambat

terhadap stimulus dari luar.


Somnolen
Kesadaran menurun yang cenderung tidur, tampak selalu

mengantuk dan bereaksi lambat terhadap stimus di luar.


Sopor
Penurunan kesadaran yang nyaris tidak berespons
terhadap stimulus dari luar, atau hanya memberikan

respons minimal terhadap perangsangan yang kuat.


Delirium
Suatu perubahan kualitas kesadaran yang disertai
gangguan fungsi kognitif yang luas. Perilaku orang yang
dalam keadaan delirium dapat sangat berfluktuasi, yaitu
suatu saat terlihat gaduh gelisah, dan tampak apatis.
Keadaan

delirium

sering

disertai

persepsi

berupa

halusinasi atau ilusi, sulit memusatkan, mempertahankan

dan mengalihkan perhatian.


Koma
Tidak
adanya
respon
yang

ditujukan

terhadap

rangsangan yang kuat.


2. Orientasi dan memori
17

Gangguan orientasi biasanya dibagi berdasarkan waktu, tempat,


dan orang. Adanya kelainan biasanya tampak sesuai urutan
tersebut, yaitu sensasi waktu biasanya lebih dahulu terganggu
sebelum sensasi tempat dan juga orang. Demikian pula pada saat
pasien membaik, gangguan menghilang dalam urutan terbalik.
Fungsi ingatan biasanya dibagi menjadi empat area; ingatan
jangka panjang, menengah, pendek, serta retensi ingatan dan
pengingatan segera (recall). Seringkali pada gangguan kognitif ,
ingatan jangka pendek terganggu lebih dahulu dan ingatan
jangka

panjang

teganggu

belakangan.

Reaksi

terhadap

kehilangan ingatan dapat memberi petunjuk penting tentang


kelainan yang mendasari.3,4
3. Konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien dapat terganggu karena berbagai alasan.
Gangguan fungsi kognitif, ansietas, depresi, dan stimulus internal
seperti halusinasi auditorik dapat juga menyebabkan gangguan
konsentrasi. Pemeriksa juga harus selalu memperhatikan apakah
terdapat gangguan mood dan kesadaran atau kesulitan belajar.
Perhatian (atensi) diperiksa dengan cara berhitung atau mengeja
kata secara terbalik, atau pasien juga dapat diminta untuk
menyebutkan nama benda yang dimulai dengan huruf tertentu.3,4
4. Kemampuan membaca dan menulis
Pasien diminta untuk membaca suatu kalimat, kemudia
mengerjakan hal yang diperintahkan oleh kalimat tersebut.
Pasien juga diminta untuk menulis kalimat sederhana dan
lengkap (terdapat subjek dan predikat).3,4
5. Kemampuan visuospasial
Pasien diminta untuk meniru suatu gambar, misalnya gambar jam
atau pentagonal yang berhimpitan pada satu sudut.3,4
6. Pikiran abstrak
Pikiran abstrak adalah kemampuan untuk memahami konsepkonsep.

Pasien

mengkonseptualkan

mungkin
ide.

memiliki
Dapatkah

gangguan
pasien

dalam

menjelaskan

persamaan atau peribahasa sederhana? Jawaban dapat konkret


atau sangat abstrak. Ketepatan jawaban dan cara memberikan
jawaban juga harus dicatat pada bagian ini.3,4
18

7. Kemampuan informasi dan intelejensi


Intelejensi pasien berhubungan dengan

kosa

kata

dan

penegtahuan umum yang dimilikinya. Pendidikan, baik formal


maupun non-formal, dan status sosioekonomi pasien juga perlu
dicatat untuk penilaian ini. Kemampuan untuk memahami konsep
juga merefleksikan kemampuan intelejensi.

3,4

PENGENDALIAN IMPULS
Dinilai apakah pasien mampu mengendalikan impuls seksual,
agresif, dan impuls lainnya. Penilaian terhadap pengendalian impuls
dilakukan pula untuk menilai apakah pasien berpotensi membahayakan
diri dan orang lain. Pasien mungkin tidak dapat mengontrol impuls
karena

gangguan

kognitif

dan

psikotik,

atau

karena

gangguan

kepribadian. Kontrol impuls dapat dinilai dari informasi terakhir perilaku


pasien atau riwayat pasien terkini, atau perilaku yang diobservasi
selama wawancara.3,4
DAYA NILAI DAN TILIKAN
1. Daya nilai
Selama wawancara psikiatri berlangsung, pemeriksa perlu
memperhatikan kemampuan daya nilai sosial pasien. Apakah
pasien memahami akibat dari perbuatan yang dilakukannya
dan apakah pemahaman ini mempengaruhi dirinya. Nilai pula
dapatkah pasien memperkirakan apa yang akan dilakukannya
bila berada pada situasi imajiner.3,4
2. Tilikan
Tilikan (insight) adalah tingkat kesadaran dan pemahaman
pasien mengenai penyakitnya. Derajat tilikan terdiri atas:3,4
Derajat I: Penyangkalan penuh terhadap penyakit.
Derajat II: Sedikit menyadari bahwa dirinya sakit dan
memerlukan bantuan namun pada saat yang sama

menyangkalnya.
Derajat III: Kesadaran

bahwa

dirinya

sakit

namun

menyalahkan orang lain, faktor eksternal, dan faktor

organik.
Derajat IV: Kesadaran bahwa penyakit disebabkan oleh
sesuatu yang tidak diketahui di dalam diri pasien.
19

Derajat V (tilikan intelektual): Pengakuan bahwa pasien


sakit dan bahwa gejala atau kegagalan penyesuaian
sosial disebabkan oleh perasaan atau gangguan dari
pasien sendiri yang tidak rasional tanpa menerapkan

pengetahuan ini pada pengalaman di masa depan.


Derajat VI (tilikan emosional sejati): Kesadaran emosional
akan motif dan perasaan dalam diri pasien dan orangorang penting dalam hidupnya yang dapat menyebabkan
perubahan perilaku mendasar.

RELIABILITAS
Bagian status mental ini menyimpulkan kesan tentang sejauh
mana pasien dapat dipercaya dan kemampuan untuk melaporkan
keadaan, peristiwa, dan situasi yang secara akurat. Pemeriksa dapat
menilai kejujuran dan keadaan yang sebenarnya dari yang dikatakan
pasien.3,4
C. LAPORAN PSIKIATRI
Setelah pemeriksa melakukan wawancara psikiatrik komprehensif
dan pemeriksaan status mental, informasi yang didapat dirangkum
dalam bentuk laporan psikiatrik. Pemeriksaan psikiatri dan status
mental sangat berperan penting dalam hal penegakan diagnosa oleh
karena itu kedua bagian ini haruslah dibuat dan dilaporkan dengan
sedetail dan seinformatif mungkin agar memudahkan untuk menarik
kesimpulan dari hasil pemeriksaan psikiatri serta menyingkirkan
diagnosa-diagnosa pembanding sehingga didapatkan suatu diagnosa
yang tepat dan dapat pula dilakukan pengobatan ataupun terapi yang
tepat agar pasien dapat menjalani lagi kehidupannya dengan lebih
baik. Didalam laporan psikiatrik ini, pemeriksa melaporkan hal-hal
sebagai berikut :4
1. Pengungkapan

pertanyaan

penting,

tentang

pemeriksaan

diagnosa lanjutan yang harus dilakukan.


2. Penambahan suatu ringkasan tentang temuan positif dan negatif.
3. Membuat suatu diagnosis multiaksial sementara.
20

4. Memberikan prognosis.
5. Memberikan formulasi psikodinamika.
6. Memberikan suatu kumpulan anjuran penatalaksanaan.

BAB III
KESIMPULAN
Wawancara merupakan wadah utama pemeriksaan psikiatrik yang
memungkinkan

seorang

dokter

atau

psikiater

untuk

menegakkan

diagnosis secara tepat serta memformulasikan rencana terapi yang


spesifik dan efektif. Hal ini perlu didukung oleh kemampuan dokter
21

sebagai

ahli

psikiatri.

memudahkan

dokter

keseluruhan,

sehingga

Menangani
untuk
dokter

pasien

mendapat
dapat

secara

gambaran

mengetahui

holistik

dapat

pasien

secara

berbagai

riwayat

kehidupan pasien, dapat menggali faktor pencetus untuk penyakitnya, dan


faktor-faktor lain yang berkaitan seperti lingkungan. Dengan adanya data
yang lengkap, akan sangat membantu dokter dalam menentukan langkah
diagnosis dan terapi yang tepat. Pengobatan yang lengkap meliputi
pengobatan fisik, psikologis dan sosiobudaya yang tidak hanya tertuju
pada obat-obatan saja, namun juga terapi yang memang dibutuhkan
pasien, yang sesuai dengan penyebab timbulnya penyakit pada pasien,
sehingga kemungkinan untuk berulangnya penyakit akan semakin kecil.

DAFTAR PUSTAKA
1. Wibisono S. Peran psikiatri dalam praktek kedokteran umum. Dalam:
Buku ajar psikiatri. Edisi 2. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2013. H. 1-13.
22

2. Mangindan L. Humaniora sebagai landasan ilmu kedokteran. Dalam:


Buku ajar psikiatri. Edisi 2. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2013. H. 19-24
3. Redayani P. Wawancara dan pemeriksaan psikiatri. Dalam: Buku ajar
psikiatri. Edisi 2. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2013. H. 47-61.
4. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock buku ajar psikiatri klinis.
Edisi 2. Jakarta: EGC, 2010. H. 1-11, 12-16, 27-37.
5. Puri BK, Laking Pj, Treasaden IH. Buku ajar psikiatri. Edisi 2. Jakarta:
EGC, 2011. H. 65-89.
6. Dharmono S. Tanda dan gejala klinis psikiatrik. Dalam: Buku ajar
psikiatri. Edisi 2. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2013. H. 62-72.

23