Anda di halaman 1dari 215

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

lmu Kedokteran Forensik, juga dikenal dengan nama Legal Medicine, adalah salah satu
cabang spesialistik dari Ilmu Kedokteran, yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk
kepentingan penegakan hukum serta keadilan.
Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh dan
nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini di
tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan
berbagai ahli di bidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan antara
tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dalam hal terdapat
korban, baik yang masih hidup maupun yang meninggal akibat peristiwa tersebut, diperlukan
seorang ahli dalam bidang kedokteran untuk memberikan penjelasan bagi para pihak yang
menangani kasus tersebut. Dokter yang diharapkan membantu dalam proses peradilan ini akan
berbekal pengetahuan kedokteran yang dimilikinya yang terhimpun dalam kazanah Ilmu
Kedokteran Forensik.
Dalam bentuknya yang masih sederhana, ilmu kedokteran forensik telah dikenal sejak
zaman Babilonia, yang mencatat ketentuan bahwa 'dokter' saat itu mempunyai kewajiban untuk
memberi kesembuhan bagi para pasiennya dengan ketentuan ganti rugi bila hal tersebut tidak
tercapai. Sejarah mencatat Anthitius, seorang dokter di zaman Romawi kuno yang pada suatu
Forum, semacam institusi peradilan waktu itu, menyatakan bahwa dari 21 luka yang ditemukan
pada tubuh maharaja Julius Caesar, hanya satu luka saja, yang menembus sela iga ke-2 sisi kiri
depan yang merupakan luka yang mematikan. Nama kedokteran Forensik dikatakan berasal dari
kata forum ini.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, ternyata ilmu kedokteran forensik tidak sematamata bermanfaat dalam urusan penegakan hukum dan keadilan di lingkup pengadilan saja, tetapi
juga bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat lain, misalnya dalam membantu
penyelesaian klaim asuransi yang adil, baik bagi pihak yang diasuransi maupun pihak yang
mengasuransi, dalam membantu pemecahan masalah paternitas (penemuan ke-ayah-an),
membantu upaya keselamatan kerja dalam bidang industri dan otomotif dengan pengumpulan
data korban kecelakaan industri maupun kecelakaan lalu-lintas dan sebagainya.

Untuk dapat memberi bantuan yang maksimal bagi pelbagai keperluan tersebut di atas,
seorang dokter dituntut untuk dapat memanfaatkan ilmu kedokteran yang dimilikinya secara
optimal.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai dokter yang diminta untuk membantu dalam
pemeriksaan kedokteran forensik oleh penyidik, dokter tersebut dituntut oleh undang-undang
untuk melakukannya dengan sejujur-jujurnya serta menggunakan pengetahuan yang sebaikbaiknya. Bantuan yang wajib diberikan oleh dokter apabila diminta oleh penyidik antara lain
adalah melakukan pemeriksaan kedokteran forensik terhadap seseorang, baik terhadap korban
hidup, korban mati maupun terhadap bagian tubuh atau benda yang diduga berasal dari tubuh
manusia. Apabila dokter lalai memberikan bantuan tersebut, maka ia dapat diancam dengan
pidana penjara.
Dalam suatu perkara pidana yang menimbulkan korban, dokter diharapkan dapat menemukan
kelainan yang terjadi pada tubuh korban, bilamana kelainan tersebut timbul, apa penyebabnya
serta apa akibat yang timbul terhadap kesehatan korban. Dalam hal korban meninggal, dokter
diharapkan dapat menjelaskan penyebab kema-tian yang bersangkutan, bagaimana mekanisme
terjadinya kematian tersebut, serta membantu dalam perkiraan saat kematian dan perkiraan cara
kematian.
Untuk kesemuanya itu, dalam bidang ilmu kedokteran forensik dipelajari tata laksana
mediko-legal, tanatologi, traumatologi, toksikologi, teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang
terkait, agar semua dokter dalam memenuhi kewajibannya membantu penyidik, dapat benarbenar memanfaatkan segala pengetahuan kedokterannya untuk kepentingan peradilan serta
kepentingan lain yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.
KETERANGAN AHLI
Kewajiban dokter untuk membuat Keterangan Ahli telah diatur dalam pasal 133 KUHAP.
Keterangan Ahli ini akan dijadikan sebagai alat bukti yang sah di depan sidang pengadilan (pasal
184 KUHAP).
Pengertian Keterangan Ahli adalah sesuai dengan pasal 1 butir 28 KUHAP: "Keterangan ahli
adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang
diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan".

Keterangan ahli ini dapat diberikan secara lisan di depan sidang pengadilan (pasal 186 KUHAP),
dapat pula diberikan pada masa penyidikan dalam bentuk laporan penyidik (Penjelasan pasal 186
KUHAP), atau dapat diberikan dalam bentuk keterangan tertulis di dalam suatu surat (pasal 187
KUHAP).
Sehubungan dengan pengertian di atas dapatlah dikemukakan bebera pa hal penting:
A. PIHAK YANG BERWENANG MEMINTA KETERANGAN AHLI
Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) yang berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
adalah penyidik. Penyidik pembantu juga mempunyai wewenang tersebut sesuai dengan pasal 11
KUHAP.
Adapun yang termasuk dalam katagori penyidik menurut KUHAP pasal 6 ayat (1) jo PP 27 tahun
1983 pasal 2 ayat (1) adalah Pejabat Polisi Negara RI yang diberi wewenang khusus oleh
undang-undang dengan pangkat serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua. Sedangkan penyidik
pembantu berpangkat serendah-rendahnya Sersan Dua. Dalam PP yang sama disebutkan bahwa
bila penyidik tersebut adalah pegawai negeri sipil, maka kepangkatannya adalah serendahrendahnya golongan ll/b untuk penyidik dan I l/a untuk penyidik pembantu. Bila di suatu
Kepolisian Sektor tidak ada pejabat penyidik seperti di atas, maka Kepala Kepolisian Sektor
yang berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua dikatagorikan pula sebagai penyidik
karena jabatannya (PP 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (2)).
Dalam lingkup kewenangan / jurisdiksi peradilan militer, maka pengertian penyidik dapat
dikaitkan dengan Surat Keputusan Pang-ab No: Kep/04/P/ll/1983 tentang Penyelenggaraan
Fungsi Kepolisian Militer. Pasal 4 huruf c ketentuan tersebut mengatur fungsi Polisi Militer
sebagai penyidik, sedangkan pasal 6 ayat c ketentuan di atas mengatur fungsi Provoost dalam
membantu Komandan / Ankum (Atasan yang berhak menghukum) dalam penyidikan perkara
pidana (di lingkungan yang bersangkutan), tetapi penyelesaian selanjutnya diserahkan kepada
POM atau POLRI.
B. PIHAK YANG BERWENANG MEMBUAT KETERANGAN AHU
Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1), yang berwenang melakukan pemeriksaan forensik yang
menyangkut tubuh manusia dan membuat Keterangan Ahli adalah dokter ahli kedokteran
kehakiman (forensik), dokter dan ahli lainnya. Sedangkan dalam penjelasan KUHAP tentang
pasal tersebut dikatakan bahwa yang dibuat oleh dokter ahli kedokteran kehakiman disebut

keterangan ahli sedangkan yang dibuat oleh selain ahli kedokteran kehakiman disebut
keterangan.
Secara garis besar, semua dokter yang telah mempunyai surat penugasan atau surat izin dokter
dapat membuat keterangan ahli. Namun untuk tertib administrasinya, maka sebaiknya
permintaan keterangan ahli ini hanya diajukan kepada dokter yang bekerja pada suatu instansi
kesehatan (Puskesmas hingga rumah sakit) atau instansi khusus untuk itu, terutama yang milik
pemerintah.
C. PROSEDUR PERMINTAAN KETERANGAN AHLI.
Permintaan Keterangan Ahli oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis, dan hal ini secara
tegas telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2), terutama untuk korban mati.
Jenasah harus diperlakukan dengan baik, diberi label identitas dan penyidik wajib
memberitahukan dan menjelaskan kepada keluarga korban mengenai pemeriksaan yang akan
dilaksanakan. Mereka yang menghalangi pemeriksaan 'jenasah untuk kepentingan peradilan
diancam hukuman sesuai dengan pasal 222 KUHP.
Korban yang masih hidup sebaiknya diantar oleh petugas kepolisian guna pemastian
identitasnya. Korban adalah juga pasien, sehingga ia masih mempunyai hak sebagai pasien pada
umumnya.
Surat permintaan keterangan ahli ditujukan kepada instansi kesehatan atau instansi khusus untuk
itu, bukan kepada individu dokter yang bekerja di dalam instansi tersebut.
D. PENGGUNAAN KETERANGAN AHLI.
Penggunaan keterangan ahli, atau dalam hal ini visum et reper-tum, adalah hanya untuk
keperluan peradilan. Dengan demikian berkas Keterangan Ahli ini hanya boleh diserahkan
kepada penyidik (instansi) yang memintanya. Keluarga korban atau pengacaranya dan pembela
tersangka pelaku pidana tidak dapat meminta keterangan ahli langsung kepada dokter pemeriksa,
melainkan harus melalui aparat peradilan (penyidik, jaksa atau hakim).
Berkas Keterangan Ahli ini tidak dapat digunakan untuk penyelesaian klaim asuransi. Bila
diperlukan keterangan, pihak asuransi dapat meminta kepada dokter keterangan yang khusus
untuk hal tersebut, dengan memperhatikan ketentuan tentang wajib simpan rahasia jabatan.
VISUM ET REPERTUM

Dalam tugas sehari-hari, selain melakukan pemeriksaan diagnostik, memberikan pengobatan dan
perawatan kepada pasien, dokter juga mempunyai tugas melakukan pemeriksaan medik untuk
tujuan membantu penegakan hukum, baik untuk korban hidup maupun korban mati.
Pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakan hukum antara lain adalah pembuatan
visum et repertum terhadap seseorang yang dikirim oleh polisi (penyidik) karena diduga sebagai
korban suatu tindak pidana, baik dalam peristiwa kecelakkaan lalu-lintas, kecelakaan kerja,
penganiayaan, pembunuhan, perkosaan, maupun korban meninggal yang pada pemeriksaan
pertama polisi, terdapat kecurigaan akan kemungkinan adanya tindak pidana.
Di hadapan dokter, seorang korban hidup dapat berstatus sebagai korban untuk dibuatkan visum
et repertum, sekaligus berstatus sebagai pasien untuk diobati/dirawat.
Sebagai pasien orang tersebut mempunyai hak dan kewajiban yang timbul akibat hubungan
dokter-pasien (kontrak terapeutik). Berbagai hak yang dimiliki pasien, seperti hak atas informasi,
hak menolak/memilih al ternatif cara pemeriksaan/terapi, hak atas rahasia kedokteran dan lainlain harus dipatuhi oleh dokter. Namun sebagai korban, pada orang tersebut berlaku ketentuanketentuan seperti yang diatur dalam hukum acara pidana. Orang tersebut tidak dapat begitu saja
menolak pemeriksaan forensik yang akan dilakukan terhadap dirinya.
DASAR HUKUM
Pasal 133 KUHAP menyebutkan :
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan manangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis,
yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat
dan atau pemeriksaan bedah mayat.
Penjelasan terhadap pasal 133 KUHAP:
(2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli,
sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut
keterangan.
Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana
bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP.

Yang dimaksud dengan penyidik di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6 (1) butir a., yaitu
penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana umum,
termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia.
Oleh karena visum et repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan
kesehatan dan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta
visum et repertum, karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang
yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7 (2) KUHAP).
Mengenai kepangkatan pembuat surat permintaan visum et repertum telah diatur dalam
Peraturan Pemerintah no 27 tahun 1983 yang manyatakan penyidik Polri berpangkat serendahrendahnya Pembantu Letnan Dua, sedangkan pada wilayah kepolisian tertentu yang
komandannya adalah seorang bintara (Sersan), maka ia adalah penyidik karena jabatannya
tersebut. Kepangkatan bagi Penyidik pembantu adalah bintara serendah-rendahnya sersan dua.
Untuk mengetahui apakah suatu Surat Permintaan pemeriksaan telah ditan-da tangani oleh yang
berwenang, maka yang penting adalah bahwa si penandatang menandatangani surat tersebut
selaku penyidik.
Wewenang penyidik meminta keterangan ahli ini diperkuat dengan kewajiban dokter untuk
memberikannya bila diminta, seperti yang tertuang dalam pasal 179 KUHAP sebagai berikut:
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau
ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
Nama Visum et repertum tidak pernah disebut di dalam KUHAP maupun hukum acara pidana
sebelumnya (RIB=Peglemen Indonesia yang diBaharui). Nama visum et repertum sendiri hanya
disebut di dalam Statsblad 350 tahun 1937 pasal 1 dan 2 yang berbunyi:
1. Visa reperta dari dokter-dokter, yang dibuat atas sumpah jabatan yang diikrarkan pada waktu
menyelesaikan pelajaran kedokteran di negeri Belanda atau di Indonesia, atau atas sumpah
khusus sebagai dimaksud dalam pasal 2, mempunyai daya bukti dalam perkara-perkara pidana,
sejauh itu mengandung keterangan tentang yang dilihat oleh dokter pada benda yang diperiksa.
2. Dokter-dokter yang tidak mengikrarkan sumpah jabatan di Negeri Belanda maupun di
Indonesia, sebagai yang dimaksud dalam pasal 1, boleh mengikrarkan sumpah (atau janji)
sebagai berikut: " ..........."
Sedangkan bunyi sumpah dokter yang dimaksud dalam pasal 1 di atas, adalah lafal sumpah
seperti pada Statsblad 1882 No 97, pasal 38 (berlaku hingga 2 Juni 1960) yang berbunyi:

"Saya bersumpah (berjanji) bahwa saya akan melakukan pekerjaan ilmu kedokteran, bedah dan
kebidanan menururt ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang sebaik-baiknya
menurut kemampuan saya dan bahwa saya tidak akan mengumumkan kepada siapapun juga,
segala sesuatu yang dipercayakan kepada saya atau yang saya ketahui karena pekerjaaan saya,
kecuali kalau saya dituntut untuk memberi keterangan sebagai saksi atau ahli di muka pengadilan
atau selain itu saya berdasarkan undang-undang diwajibkan untuk memberi keterangan."
Dari bunyi Stb 350 tahun 1937 terlihat bahwa :
1. Nilai daya bukti visum et repertum dokter hanya sebatas mengenai hal yang dilihat atau
ditemukannya saja pada korban. Dalam hal demikian, dokter hanya dianggap memberikan
kesaksian (mata) saja.
2. Visum et repertum hanya sah bila dibuat oleh dokter yang sudah mengucapkan sumpah
sewaktu mulai menjabat sebagai dokter, dengan lafal sumpah dokter seperti yang tertera pada
Statsblad No 97 pasal 38, tahun 1882. Lafal sumpah dokter ini memang tepat bila digunakan
sebagai landasan pijak pembuatan visum et repertum.
Pasal-pasal KUHAP yang mengatur tentang produk dokter yang sepadan dengan visum et
repertum adalah pasal 186 dan 187, yang berbunyi:
Pasal 186: Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Penjelasan pasal 186 KUHAP: Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu
pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan
dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.
Pasal 187:(c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya.
Keduanya termasuk ke dalam alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan dalam KUHAP.
pasal 184 : (1) Alat bukti yang sah adalah : Keterangan saksi;
Keterangan ahli;
Surat;
Petunjuk;
Keterangan terdakwa.
Dari pasal-pasal di atas tampak bahwa yang dimaksud dengan keterangan ahli maupun surat
(butir c) dalam KUHAP adalah sepadan dengan yang dimaksud dengan visum et repertum dalam
Stb no. 350 tahun 1937.

Perbedaannya adalah bahwa keterangan ahli atau surat (KUHAP) adalah keterangan atau
pendapat yang dibuat oleh ahli (termasuk dokter) berdasarkan keilmuannya, tidak hanya terbatas
pada "apa yang dilihat dan ditemukan oleh si pembuat". Oleh karena berdasarkan keilmuannya,
maka keterangan ahli atau surat tersebut yang dibuat oleh dokter harus di buat atas dasar
pemeriksaan medik.
Pendapat yang tidak berdasarkan hasil pemeriksaan medik tentu saja tidak merupakan bagian
dari visum et repertum. Pemeriksaan medik tersebut tidak harus dilakukan oleh dokter pembuat
visum et repertum sendiri. Hal ini mengingat bahwa kemajuan ilmu kedokteran mengakibatkan
berbagai pemeriksaan yang khusus harus dilakukan oleh dokter dengan keahlian khusus pula,
sehingga pemeriksaan medik terhadap seseorang pasien (korban) mungkin saja dibuat oleh
beberapa dokter dari berbagai bidang spesialisasi.
Nama visum et repertum hingga saat ini masih dipertahankan, walaupun dengan konsep yang
berbeda dengan konsep yang lama. Nama visum et repertum ini digunakan untuk membedakan
surat/ keterangan ahli yang dibuat dokter dengan surat/keterangan ahli yang dibuat oleh ahli lain
yang bukan dokter.
DEFINISI
Visum et repertum adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang
berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun
bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah,
untuk kepentingan peradilan.
PERANAN DAN FUNGSI VISUM ET REPERTUM
Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184
KUHAP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil
pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian Pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap
sebagai pengganti benda bukti.
Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan
medik tersebut yang tertuang di dalam bagian Kesimpulan.
Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan
ilmu hukum, sehingga dengan membaca Visum et Repertum, dapat diketahui dengan jelas apa

yang telah terjadi pada seseorang dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma
hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh/jiwa manusia.
Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan duduknya persoalan di sidang Pengadilan,
maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum
dalam KUHAP, yang memberi kemungkinan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang
atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat
hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan(ps 180 KUHAP).
PERBEDAAN VISUM ET REPERTUM DENGAN CATATAN MEDIK DAN SURAT
KETERANGAN MEDIK LAINNYA.
Di dunia kedokteran, dikenal pelbagai surat keterangan, antara lain catatan medik dan surat
keterangan medik.
Catatan medik adalah catatan tentang seluruh hasil pemeriksaan medik beserta tindakan
pengobatan/perawatannya, yang merupakan milik pasien, meskipun dipegang oleh
dokter/institusi kesehatan. Catatan medik ini terikat pada rahasia pekerjaan dokter yang diatur
dalam Peraturan Pemerintah No 10 tahun 1966 dengan sanksi hukum seperti dalam pasal 322
KUHP.
Dokter boleh membuka isi catatan medik kepada pihak ketiga, misalnya dalam bentuk
keterangan medik, hanya setelah memperoleh izin dari pasien, baik berupa izin langsung maupun
berupa perjanjian yang dibuat sebelumnya antara pasien dengan pihak ketiga tertentu (misalnya
perusahaan asuransi).
Oleh karena Visum et repertum dibuat atas kehendak undang-undang, maka dokter tidak dapat
dituntut karena membuka rahasia pekerjaan sebagaimana diatur dalam pasal 322 KUHP,
meskipun dokter membuatnya tanpa seizin pasien. Pasal 50 KUHP mengatakan bahwa
barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undangundang, tidak dipidana,
sepanjang Visum et repertum tersebut hanya diberikan kepada instansi penyidik yang
memintanya, untuk selanjutnya dipergunakan dalam proses peradilan.
JENIS DAN BENTUK VISUM ET REPERTUM
Dengan konsep visum et repertum di atas, dikenal beberapa jenis visum et repertum, yaitu :
a. Visum et repertum perlukaan (termasuk keracunan)
b. Visum et repertum kejahatan susila
c. Visum et repertum jenasah

d. Visum et repertum psikiatrik


Jenis a, b dan c adalah visum et repertum mengenai tubuh/ raga manusia yang dalam hal ini
berstatus sebagai korban tindak pidana, sedangkan jenis d adalah mengenai jiwa/mental
tersangka atau terdakwa tindak pidana.
Meskipun jenisnya bermacam-macam, namun nama resminya tetap sama yaitu "Visum et
Repertum", tanpa embel-embel lain.
Visum et repertum dibuat secara tertulis, sebaiknya dengan mesin ketik, di atas sebuah kertas
putih dengan kepala surat institusi kesehatan yang melakukan pemeriksaan, dalam bahasa
Indonesia, tanpa memuat singkatan, dan sedapat mungkin tanpa istilah asing, bila terpaksa
digunakan agar diberi penjelasan bahasa Indonesia.
Apabila penulisan sesuatu kalimat dalam visum et repertum berakhir tidak pada tepi kanan
format, maka sesudah tanda titik harus diberi garis hingga ke tepi kanan format.
Apabila diperlukan gambar atau foto untuk lebih memperjelas uraian tertulis dalam visum et
repertum, maka gambar atau foto tersebut diberi kan dalam bentuk lampiran.
Visum et repertum terdiri dari 5 bagian yang tetap, yaitu :
l'. Kata Pro justitia yang diletakkan di bagian atas. Kata ini menjelaskan bahwa visum et
repertum khusus dibuat untuk tujuan peradilan. Visum et repertum tidak membutuhkan meterai
untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan
hukum.
2. Bagian Pendahuluan. Kata "Pendahuluan" sendiri tidak ditulis di dalam visum et repertum,
melainkan langsung dituliskan berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini menerangkan
nama dokter pembuat visum et repertum dan institusi kesehatannya, instansi penyidik
pemintanya berikut nomor dan tanggal surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan,
serta identitas korban yang diperiksa.
Dokter tidak dibebani pemastian identitas korban, maka uraian identitas korban adalah sesuai
dengan uraian identitas yang ditulis dalam surat permintaan visum et repertum. Bila terdapat
ketidak-sesuaian identitas korban antara surat permintaan dengan catatan medik atau pasien yang
diperiksa, dokter dapat meminta kejelasannya dari penyidik.
3. Bagian Pemberitaan. Bagian ini berjudul "Hasil pemeriksaan" dan berisi hasil pemeriksaan
medik tentang keadaan kesehatan atau sakit atau luka korban yang berkaitan dengan perkaranya,
tindakan medik yang dilakukan serta keadaannya selesai pengobatan/perawatan.

Bila korban meninggal dan dilakukan autopsi, maka diuraikan keadaan seluruh alat-dalam yang
berkaitan dengan perkara dan matinya orang tersebut.
Yang diuraikan dalam bagian ini merupakan pengganti barang bukti, berupa perlukaan/keadaan
kesehatan/sebab kematian yang berkaitan dengan perkaranya. Temuan hasil pemeriksaan medik
yang bersifat rahasia dan tidak berhubungan dengan perkaranya tidak dituangkan ke dalam
bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai rahasia kedokteran.
4. Bagian Kesimpulan. Bagian ini berjudul "Kesimpulan" dan berisi pendapat dokter
berdasarkan keilmuannya, mengenai jenis perlukaan/cedera yang ditemukan dan jenis kekerasan
atau zat penyebabnya, serta derajat perlukaan atau sebab kematiannya.
Pada kejahatan susila, diterangkan juga apakah telah terjadi persetubuhan dan kapan perkiraan
kejadiannya, serta usia korban atau kepantasan korban untuk dikawin.
5. Bagian Penutup. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku "Demikianlah visum et
repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat
sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana."
VISUM ET REPERTUM PADA KASUS PERLUKAAN
Tujuan pemeriksaan kedokteran forensik pada korban hidup adalah untuk mengetahui penyebab
luka/sakit dan derajat parahnya luka atau sakitnya tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk
memenuhi rumusan delik dalam KUHP. Jelaslah di sini bahwa pemeriksaan kedokteran forensik
tidak ditujukan untuk pengobatan.
Terhadap setiap pasien, dokter harus membuat catatan medik atas semua hasil pemeriksaan
mediknya. Pada korban yang diduga korban tindak pidana, pencatatan harus lengkap dan jelas
sehingga dapat digunakan untuk pembuatan visum et repertum. Catatan medik yang tidak
lengkap dapat mengakibatkan hilangnya sebagian barang bukti di dalam bagian Pemberitaan
visum et repertum.
Umumnya, korban dengan luka ringan datang ke dokter setelah melapor ke penyidik/pejabat
kepolisian, sehingga mereka datang dengan membawa serta surat permintaan visum et repertum.
Sedangkan para korban dengan luka sedang dan berat akan datang ke dokter atau rumah sakit
sebelum melapor ke penyidik, sehingga surat permintaan visum et repertumnya akan datang
terlambat. Keterlambatan surat permintaan visum et repertum ini dapat diperkecil dengan
diadakannya kerjasama yang baik antara dokter/institusi kesehatan dengan penyidik/instansi
kepolisian.

Baik terhadap Surat Permintaan Visum et repertum yang datang bersamaan dengan korban,
maupun yang datang terlambat, harus dibuatkan visum et repertum. Visum et repertum ini dibuat
setelah perawatan/pengobatan selesai, kecuali pada visum et repertum sementara, dan perlu
pemeriksaan ulang pada korban bila surat permintaan pemeriksaan datang terlambat.
Korban dengan luka ringan dapat merupakan hasil dari tindak pidana penganiayaan ringan (Pasal
352 KUHP), sedangkan korban dengan luka 'sedang' dapat merupakan hasil dari tindak
penganiayaan (pasal 351 (1) atau 353 (1)).
Korban dengan luka berat (pasal 90 KUHP) dapat merupakan hasil dari tindak pidana
penganiayaan dengan akibat luka berat (pasal 351 (2) atau 353 (2)) atau akibat penganiayaan
berat (pasal 354 (1) atau 355 (1)).
Perlu diingat bahwa luka-luka tersebut dapat juga timbul akibat kecelakaan atau usaha bunuh
diri.
Derajat luka. Berdasarkan ketentuan dalam KUHP, penganiayaan ringan adalah penganiayaan
yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan,
sebagaimana bunyi pasal 352 KUHP. Umumnya, yang dianggap sebagai hasil dari penganiayaan
ringan adalah korban dengan "tanpa luka" atau dengan luka lecet atau memar kecil di lokasi yang
tidak berbahaya/yang tidak menurunkan fungsi alat tubuh tertentu. Luka-luka tersebut kita
masukkan ke dalam kategori luka ringan atau luka derajat satu.
KUHP tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan penganiayaan, tetapi jurisprudensi Hoge
Raad tanggal 25 Juni 1894 menjelaskan bahwa menganiaya adalah dengan sengaja menimbulkan
sakit atau luka. Yang penting bagi dokter adalah menentukan keadaan yang bagaimanakah yang
dimaksud dengan sakit atau luka. Oleh karena batasan luka ringan sudah disebutkan di atas,
maka semua keadaan yang "lebih berat" dari luka ringan dimasukkan ke dalam batasan sakit atau
luka. Selanjutnya dokter tinggal membaginya ke dalam kategori luka sedang (luka derajat dua)
dan luka berat (luka derajat tiga).
KUHP pasal 90 telah memberikan batasan tentang iuka berat, yaitu: jatuh sakit atau mendapat
luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya
maut ; yang menyebabkan seseorang terus menerus tidak mampu untuk menjalankan tugas
jabatan atau pekerjaan pencaharian; yang menyebabkan kehilangan salah satu panca indera; yang
menimbulkan cacat berat (verminking); yang mengakibatkan terjadinya keadaan lumpuh;

terganggunya daya pikir selama empat minggu atau lebih serta terjadinya gugur atau matinya
kandungan seorang perempuan.
Dengan demikian keadaan yang terletak di antara luka ringan dan luka berat adalah keadaan
yang dimaksud dengan luka sedang.
Namun demikian, perlu diingat bahwa pada saat pemeriksaan pertama kali, dokter sering tidak
dapat menentukan apakah sesuatu perlukaan yang sedang diperiksanya adalah luka sedang atau
luka berat. Hal ini diakibatkan masih belum berhentinya perkembangan derajat sesuatu perlukaan
sebelum selesainya pengobatan/perawatan. Kadang-kadang ketidakpastian derajat luka tersebut
terjadi berkepanjangan, sehingga pada saat penyidik membutuhkan visum et repertumnya, dokter
hanya bisa memberikan visum et repertum sementara. Visum et repertum sementara ini tidak
berisikan kesimpulan derajat luka, melainkan hanya keterangan bahwa hingga saat visum et
repertum dibuat korban masih dalam perawatan di institusi kesehatan tersebut.
Visum et repertum sementara juga diperlukan bila korban dipindah rawatkan ke institusi
kesehatan lainnya. Visum et repertum lengkap baru dibuat kelak setelah perawatan selesai dan
derajat lukanya dapat ditentukan.
Di dalam bagian Pemberitaan visum et repertum biasanya disebutkan keadaan umum korban
sewaktu datang, luka-luka atau cedera atau penyakit yang ditemukan pada pemeriksaan fisik
berikut uraian tentang letak, jenis dan sifat luka serta ukurannya, pemeriksaan khusus/penunjang,
tindakan medik yang dilakukan, riwayat perjalanan penyakit selama perawatan, dan keadaan
akhir saat pengobatan/perawatan selesai. Gejala/keluhan yang dapat dibuktikan secara obyektif
dapat dimasukkan ke dalam bagian Pemberitaan, misalnya sesak nafas, nyeri tekan, nyeri lepas,
nyeri sumbu, dan sebagainya. Sedangkan keluhan subyektif yang tidak dapat dibuktikan tidak
dimasukkan dalam visum et repertum, misalnya keluhan sakit kepala, pusing, mual dan
sebagainya.
Sebagai contoh penulisan bagian Pemberitaan adalah:
Korban datang dalam keadaan sadar, agak pucat dan tampak sesak nafas. Pada dada sisi kanan
setinggi sela iga ke tiga terdapat luka terbuka dengan tepi rata berbentuk garis mendatar
sepanjang tiga sentimeter, kedua sudut luka lancip, luka menembus dinding dada.......dst.
Kalimat tersebut di atas berasal dari catatan medik yang sederhana : "CM, anemis, dispnoe,
90/60, RR 32/menit. Pada i.c. III dext terdapat v. scissum penetrans 3 cm horizontal, ke-2 sudut
lancip.....dst".

Dalam bagian Kesimpulan, dokter harus menuliskan luka-luka atau cedera atau penyakit yang
ditemukan, jenis benda penyebabnya serta derajat perlukaan. Derajat luka dituliskan dalam
kalimat yang mengarah ke rumusan delik dalam KUHP.
Contoh kesimpulan pada kasus dengan luka ringan:
Pada korban laki-laki ini ditemukan memar pada pipi kiri akibat kekerasan tumpul yang tidak
mengakibatkan penyakit atau halangan dalam melakukan pekerjaan.
Pada 'luka sedang', misalnya:
Pada korban wanita ini ditemukan patah tulang tertutup pada tulang paha kanan akibat kekerasan
tumpul, yang mengakibatkan
penyakit dan halangan dalam melakukan pekerjaannya selama......
Atau pada kasus lain: Pada korban wanita ini ditemukan luka terbuka di tungkai bawah kiri
akibat kekerasan tumpul, sehingga mengakibatkan penyakit yang memerlukan pengobatan jalan
selama ....
Contoh kasus dengan luka berat:
Pada korban laki-laki ini ditemukan luka terbuka di dada sisi kanan yang mengenai baga tengah
paru kanan akibat kekerasan tajam, yang telah mendatangkan bahaya maut baginya", atau pada
kasus lain: Pada korban laki-laki ini ditemukan luka terbuka dan memar pada mata kanan akibat
kekerasan tumpul, yang mengakibatkan hilangnya indera penglihatan sebelah kanan untuk
selamanya".
VISUM ET REPERTUM KORBAN KEJAHATAN SUSILA
Pada umumnya, korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya kepada dokter
adalah kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP.
Persetubuhan yang diancam pidana oleh KUHP meliputi pemerkosaan, persetubuhan pada
wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur.
Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya persetubuhan,
adanya kekerasan (termasuk pemberian racun/obat/zat agar menjadi tidak berdaya) serta usia
korban. Selain itu dokter juga diharapkan memeriksa adanya penyakit hubungan seksual,
kehamilan dan kelainan psikiatrik/kejiwaan sebagai akibat dari tindak pidana tersebut. Dokter
tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan, karena istilah pemerkosaan adalah istilah
hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan.

Untuk dapat memeriksa korban wanita tersebut, selain adanya surat permintaan visum et
repertum, dokter sebaiknya juga mempersiapkan si korban atau orang tuanya bila ia masih belum
cukup umur, agar dapat dilakukan pemeriksaan serta saksi atau pendamping perawat wanita dan
pemeriksaan sebaiknya dilakukan dalam ruang tertutup yang tenang.
Pembuktian adanya persetubuhan dilakukan dengan pemeriksaan fisik terhadap kemungkinan
adanya deflorasi himen, laserasi vulva atau vagina, serta adanya cairan mani dan sel sperma
dalam vagina terutama dalam forniks posterior.
Pembuktian adanya sel sperma dapat dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopik sediaan usap
vagina, baik langsung maupun dengan pewarnaan khusus. Selain sel sperma, adanya ejakulat
juga dapat dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium khusus untuk cairan mani. Adanya
penyakit hubungan seksual atau kehamilan memperkuat adanya persetubuhan, meskipun tidak
diketahui saat terjadinya. Bukti adanya persetubuhan tersebut baru mempunyai nilai bila sesuai
waktu kejadiannya dengan persetubuhan yang diperkarakan. Misalnya, adanya deflorasi himen
lama (tepi robekan berupa jaringan parut) atau ditemukannya sel-sel sperma yang hampir lisis,
bukanlah merupakan bukti persetubuhan yang diperkarakan yang terjadi satu hari sebelum
pemeriksaan. Jejak kekerasan harus dicari tidak hanya di daerah perineum, melainkan juga
daerah-daerah lain yang lazim, seperti wajah, leher, payudara, perut dan paha. Pengambilan
sampel darah untuk pemeriksaan toksikologi dilakukan bila ada kecurigaan ke arah tersebut, baik
yang didapat dari anamnesa maupun dari pemeriksaan tisik.
Usia korban biasanya dapat diketahui bila identitasnya dan asal usulnya jelas. Bila usianya tidak
jelas, maka harus dicari tanda-tanda medik guna memperkirakannya. Telah adanya haid
menunjukkan usia 12 tahun atau lebih, sedangkan adanya tanda seks sekunder yang berkembang
menunjukkan usia 15 tahun atau lebih.
Dalam kesimpulan visum et repertum korban kejahatan susila diharapkan tercantum perkiraan
tentang usia korban, ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin, menyebutkan
kapan perkiraan terjadinya, dan ada atau tidaknya tanda kekerasan.
VISUM ET REPERTUM JENASAH
Jenasah yang akan dimintakan visum et repertumnya harus diberi label yang memuat identitas
mayat, di-lak dengan diberi cap jabatan, yang diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh
lainnya. Pada surat permintaan visum et repertumnya harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang

diminta, apakah hanya pemeriksaan luar jenasah, ataukah pemeriksaan autopsi (bedah mayat) (ps
133 KUHAP).
Bila pemeriksaan autopsi yang diinginkan, maka penyidik wajib memberitahu kepada keluarga
korban dan menerangkan maksud dan tujuannya pemeriksaan. Autopsi dilakukan setelah
keluarga korban tidak keberatan, atau bila dalam dua hari tidak ada tanggapan apapun dari
keluarga korban (ps 134 KUHAP). Jenasah yang diperiksa dapat juga berupa jenasah yang
didapat dari penggalian kuburan (ps135 KUHAP).
Jenasah hanya boleh dibawa keluar institusi kesehatan dan diberi surat keterangan kematian bila
seluruh pemeriksaan yang diminta oleh penyidik telah dilakukan. Apabila jenasah dibawa pulang
paksa, maka baginya tidak ada surat keterangan kematian.
Pemeriksaan forensik terhadap jenazah meliputi pemeriksaan luar jenasah, tanpa melakukan
tindakan yang merusak keutuhan jaringan jenasah. Pemeriksaan dilakukan dengan teliti dan sistematik, serta kemudian dicatat secara rinci, mulai dari bungkus atau tutup jenasah, pakaian,
benda-benda di sekitar jenasah, perhiasan, ciri-ciri umum identitas, tanda-tanda tanatologik, gigigeligi, dan luka atau cedera atau kelainan yang ditemukan di seluruh bagian luar.
Apabila penyidik hanya meminta pemeriksaan luar saja, maka kesimpulan visum et repertum
menyebutkan jenis luka atau kelainan yang ditemukan dan jenis kekerasan penyebabnya,
sedangkan sebab matinya tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan bedah
jenasah. Lamanya mati sebelum pemeriksaan (perkiraan saat kematian), apabila dapat
diperkirakan, dapat dicantumkan dalam kesimpulan.
Kemudian dilakukan pemeriksaan bedah jenasah menyeluruh dengan membuka rongga
tengkorak, leher, dada, perut dan panggul. Kadang kala dilakukan pemeriksaan penunjang yang
diperlukan seperti pemeriksaan histopatologik, toksikologik, serologik dsb.
Dari pemeriksaan dapat disimpulkan sebab kematian korban, selain jenis luka atau kelainan,
jenis kekerasan penyebabnya, dan saat kematian seperti tersebut di atas.
VISUM ET REPERTUM PSIKIATRIK
Visum et repertum psikiatrik perlu dibuat oleh karena adanya pasal 44(1) KUHP yang berbunyi:
Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya disebabkan
karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu karena
penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana.

Jadi yang dapat dikenakan pasal ini tidak hanya orang yang menderita penyakit jiwa (psikosis),
tetapi juga orang yang retardasi mental. Apabila penyakit jiwa (psikosis) yang ditemukan, maka
harus dibuktikan apakah penyakit itu telah ada sewaktu tindak pidana tersebut dilakukan. Tentu
saja semakin panjang jarak antara saat kejadian dengan saat pemeriksaan akan semakin sulit bagi
dokter untuk menentukannya. Demikian pula jenis penyakit jiwa yang bersifat hilang-timbul
akan mempersulit pembuatan kesimpulan dokter.
Visum et repertum psikiatrik diperuntukkan bagi tersangka atau terdakwa pelaku tindak pidana,
bukan bagi korban sebagaimana visum et repertum lainnya. Selain itu visum et repertum
psikiatrik menguraikan tentang segi kejiwaan manusia, bukan segi fisik atau raga manusia. Oleh
karena visum et repertum psikiatrik menyangkut masalah dapat dipidana atau tidaknya seseorang
atas tindak pidana yang dilakukannya, maka adalah lebih baik bila pembuat visum et repertum
psikiatrik ini hanya dokter spesialis psikiatri yang bekerja di rumah sakit jiwa atau rumah sakit
umum.
RAHASIA KEDOKTERAN
dan ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
I. TINJAUAN UMUM RAHASIA KEDOKTERAN A. Hakekat Rahasia Kedokteran
1. Rahasia Jabatan dan Rahasia Pekerjaan
Rahasia Jabatan bukan berdasarkan azas kepercayaan, diwajibkan bagi pejabat negara,
sedangkan Rahasia Pekerjaan berdasarkan azas kepercayaan, bersifat swasta
2. Azas kepercayaan.
Profesi kedokteran (bidang kesehatan) baru dapat berlangsung bila ada kerelaan pasien untuk
mengungkapkan keadaan dirinya, termasuk hal-hal yang amat pribadi. Bentuk pengungkapan diri
pasien dalam hubungannya dengan profesi kedokteran meliputi tindakan anamnesa (wawancara),
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorik. Hal ini berarti semua data pribadinya diserahkan
pada tangan dokter yang memeriksanya (beserta staf medis lainnya).
Dalam keadaan memerlukan bantuan medik, seorang pasien berada dalam situasi konflik. Di satu
pihak pasien menderita dan sangat memerlukan bantuan orang lain (dokter), tetapi di pihak lain
pasien juga menginginkan rahasianya tetap utuh, demi ketentraman batin dan integritas
pribadinya. Nampaknya pasien yang datang ke dokter terpaksa harus mengorbankan
kepentingannya yang kedua (rahasia pribasi).

Tradisi profesi kedokteran ternyata menghargai kerahasiaan pribadi tersebut sehingga perlu
mencantumkannya dalam etik kedokteran. Akibatnya dapat dikatakan bahwa konstruksi
hubungan dokter-pasien adalah berdasarkan azas kepercayaan. Artinya dokter percaya bahwa
pasien akan mengungkapkan keadaan diri yang seutuhnya, sedangkan pasien juga percaya bahwa
dokter akan menjaga rahasia yang diketahuinya, yaitu yang dinamakan rahasia kedokteran.
Beberapa profesi lain yang juga dibangun secara tradisi atas dasar azas kepercayaan antara lain
adalah profesi advokat/pengacara, notaris dan rohaniawan.
Pada perkembangan selanjutnya masyarakat menganggap masalah rahasia pribadi itu merupakan
kepentingan umum, karena menyangkut hak azasi seluruh masyarakat, sehingga perlu diatur oleh
hukum.
B. Ketentuan yang mengatur Rahasia Kedokteran.
Kewajiban seorang dokter untuk menyimpan rahasia kedokteran telah diatur dalam PP. No.10
tahun 1966.
Dalam peraturan tersebut tidak dibedakan antara rahasia jabatan kedokteran ataukah rahasia
pekerjaan kedokteran. Tetapi dalam penjelasannya ada kecenderungan bahwa yang diatur adalah
kedua-duanya, karena subyek delik yang diancam dalam pasal 322 KUHP adalah mereka yang
membuka rahasia pekerjaan maupun rahasia jabatan.
Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 10Th. 1966 memberi batasan tentang yang dimaksud dengan
rahasia kedokteran yaitu segala sesuatu yang diketahui pada waktu atau selama melakukan
pekerjaan di lapangan kedokteran.
Hal ini meliputi segala fakta yang didapatkan selama menangani pasien, mulai dari pemeriksaan
dan interpretasinya (diagnosa) sampai dengan penatalaksanaannya. Sehingga hal-hal yang
diketahui tapi tidak berhubungan dengan pekerjaan, bukanlah merupakan rahasia kedok-taran.
Pada prakteknya diakui bahwa hal ini bukan merupakan masalah sederhana. Dibutuhkan
penalaran, intuisi dan pengalaman serta kebijaksanaan dalam memilih hal-hal yang sepatutnya
dirahasiakan.
Pasal 2 Peraturan ini membatasi daya berlakunya wajib simpan rahasia kedokteran, karena bila
ada peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi dari PP 10 tahun 1966 ini maka wajib simpan
rahasia kedokteran tidak berlaku. Hal ini menunjukkan keluwesan atas prioritas kepentingan
yang akan dilindungi. Jadi bila ada kepentingan lain yang dianggap lebih tinggi (kepentingan
umum), maka rahasian kedokteran harus mengalah.

Pasal 3 Peraturan ini menentukan subyek hukum yang harus menyimpan rahasia kedokteran.
Selain mereka yang telah profesional di bidang kedokteran, maka mereka yang sedang dalam
pendidikan di bidang ini pun wajib menyimpan rahasia kedokteran walaupun belum disumpah.
Termasuk dalam golongan ini adalah para mahasiswa kedokteran, siswa perawat dan sebagainya.
Sangsi hukum yang telah diterapkan sehubungan dengan pembukaan rahasian kedokteran dapat
ditinjau baik dari segi hukum pidana maupun perdata. Dari segi hukum pidana pembukaan
rahasia jabatan diancam oleh pasal 112 dan 322 KUHP. Sedangkan dari segi hukum perdata
dapat diterapkan pasal 1365 KUHPerdata.
. Pengungkapan Rahasia Kedokteran.
Pada dasarnya rahasia kedokteran harus tetap disimpan walaupun pasien tersebut telah
meninggal. Jadi rahasia itu harus ikut dikubur bersama pasien. Rahasia kedokteran merupakan
hak pribadi pasien yang tidak diwariskan pada para ahli warisnya. Sehingga para ahli waris itu
juga tidak berhak mengetahui rahasia pribadi pasien.
Rahasian kedokteran ini begitu dijunjung tinggi dalam masyarakat, sehingga walaupun
pengadilan meminta seorang dokter untuk membuka rahasia kedokteran, seorang dokter
memiliki hak tolak {verschoningsrecht).
Hak ini telah diatur dalam pasal 170 KUHAP, yang menentukan bahwa mereka yang diwajibkan
menyimpan rahasia pekerjaan/jabatan dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi
keterangan sebagai saksi. Namun ayat kedua dari pasal 170 KUHAP tersebut membatasi hak
tolak sesuai dengan perrtimbangan hakim. Hal ini tentunya diterapkan bila kepentingan yang
dilindungi pengadilan lebih tinggi dari rahasia kedokteran.
Ada beberapa keadaan di mana pemegang rahasia kedokteran dapat membuka rahasia tersebut
tanpa terkena sanksi hukum. Keadaan tersebut dapat dibagi menjadi dua golongan besar. Yang
pertama, pembukaan rahasia kedokteran dengan kerelaan/ijin pasien. Yang kedua, pembukaan
rahasia kedokteran tanpa kerelaan/ijin pasien.
Dalam hal yang pertama, dapat dianggap bahwa pasien sendiri menyatakan secara tidak langsung
rahasia kedokteran itu bukan lagi merupakan rahasia, sehingga tidak wajib dirahasiakan oleh
dokter. Tetapi walaupun ada permintaan pasien agar dokter membuka rahasia kedokteran, dokter
tidak harus memenuhinya demi menjaga keluhuran profesi kedokteran. Sedangkan dalam hal
yang kedua, dokter terpaksa membuka rahasia kedokteran karena sesuatu hal yang walaupun

tidak dibenarkan oleh hukum, tetapi dokter tidak dipidana karena adanya dasar-dasar penghapus
pidana (straf uitsluiting-sgronden), yang dapat dijumpai dalam pasal 48, 50 dan 51 KUHP.
Hal ini, nampaknya sejalan seperti yang dikemukakan oleh Benhard Knight (1972) bahwa
pengungkapan rahasia Profesional dapat dilakukan dalam kondisi:
1. Adanya Persetujuan Pasien
2. Berdasarkan Perintah Hukum
3. Berdasarkan Perintah Pengadilan
4. Kepentingan umum menyangkut masalah kesehatan dan keselamatan umum.
Di luar kondisi yang diutarakan di atas, maka pengungkapan rahasia kedokteran dapat dianggap
perbuatan yang melawan hak dan karenanya pada beberapa keadaan dapat digugat.
II. HAKEKAT PROFESI DI BIDANG KEDOKTERAN FORENSIK
A. Konsep Peranan Ganda Seorang Dokter
Dalam menangani berbagai kasus yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia, seorang dokter
dapat mempunyai peranan ganda.
Peran Pertama adalah sebagai ahli klinik sehingga objek akan berstatus sebagai seorang pasien
dengan segala hak dan kewajibannya. Tujuan tindakan dokter di sini adalah pemulihan kesehatan
pasien dengan melakukan berbagai tindakan medik.
Peran kdua adalah sebagai ahli forensik yang bertugas membantu proses peradilan dalam
pembuatan Visum et Repertum untuk .penyidik. Maka korban akan berstatus sebagai benda
bukti, dan telah diatur dalam peraturan perundang-undangan secara imperatif. Tindakan yang
dilakukan dokter adalah pemeriksaan forensik yang bertujuan untuk menegakkan keadilan.
Kedua peran ini harus dibedakan dengan tegas, karena akan membawa konsekuensi hukum yang
berbeda sifatnya. Hak dan tanggung jawab/kewajiban dokter sebagai ahli klinik sangat berbeda
dengan perannya sebagai ahli forensik, walaupun terjadi pada satu kasus dan pada saat yang
bersamaan.
B. Peran Ahli Kedokteran Forensik Dalam Proses Peradilan
Fungsi utama ilmu kedokteran forensik adalah membantu proses peradilan dalam arti luas, yang
meliputi tahap penyidikan sampai sidang pengadilan. Klien yang dihadapinya bukanlah pasien,
tetapi benda bukti.

Dalam proses peradilan terdapat dua pihak yang berhadapan dan satu pihak yang netral. Pada
peradilan perdata, pihak penggugat dan tergugat yang akan saling berhadapan, sedangkan pihak
hakim dan alat-alat bukti berada pada pihak yang netral."
Sedangkan pada peradilan pidana, pihak penyidik dan jaksa berada pada satu pihak yang akan
berhadapan dengan terdakwa di lain pihak, hakim dan saksi ahli serta alat bukti lainnya sebagai
pihak netral. Dari konstruksi di atas nampak bahwa posisi ahli kedokteran forensik berada pada
pihak yang netral, dan dimulai dari sejak awal proses peradilan (tahap penyidikan).
Di pihak lain, dokter ahli ilmu kedokteran forensik tidak boleh meninggalkan sekapnya sebagai
ilmuwan yang didasarkan pada obyektifitas. Hal inilah yang merupakan sebab utama dokter ahli
kedokteran forensik menempati posisi netral. Tanggungjawab dan kompetensi dokter ahli ilmu
kedokteran forensik sebagai ilmuwan antara lain juga termasuk mengembangkan ilmu itu sendiri.
Dalam hubungan dengan pihak penyidik, maka Hazewinkel
Suringa, D. mengemukakan: ....... karena bantuan medis
merupakan sumber informasi yang penting, maka polisi selalu berusaha untuk menggali
sedalam-dalamnya. Para doker harus menjaga jangan sampai dibuat sebagai pembantu polisi
yang tidak bersuara. Hanya dengan cara demikian dokter dapat terus bergerak dan
mempertahankan rahasia pekerjaannya, (terjemahan bebas).
Dokter ahli kedokteran forensik sebagai pribadi adalah anggota masyarakat yang tidak terlepas
dari pengaruh sosial dan budaya masyarakat di sekitarnya. Demi kepentingan masyarakat, maka
masyarakat tentunya tidak menghendaki terganggunya netralitas ahli kedokteran forensik dalam
proses pradilan. Karena bila hal ini terjadi, proses peradilan menjadi tidak obyektif lagi dan
masyarakat akan dirugikan, karena masalah peradilan merupakan kepentingan umum yang
utama.
III. RAHASIA KEDOKTERAN DI BIDANG KEDOKTERAN FORENSIK
A. Pentingnnya Tata Nilai dalam Ilmu Pengetahuan dan Profesi.
Salah satu syarat agar kita dapat mengembangkan ilmu pengetahuan adalah usaha agar kita dapat
membebaskan diri dari nilai-nilai lain, seperti ideologi, adat dan sebagainya. Misalnya
perkembangan ilmu bumi dan astronomi yang pada mulanya mendapat hambatan dari nilai-nilai
keagamaan. Barulah ilmu tersebut berkembang dengan baik setelah dilepaskan dari nilai-nilai
budaya lain. Sebagai alat, tehnologi bagaikan pisau bermata dua: dapat digunakan untuk

kebaikan atau sebaliknya membawa akibat buruk. Hal ini membawa sesuatu landasan baru bagi
para ilmuwan, yakni teori nilai atau axiologi.
Semula para ilmuwan bersikap netral terhadap masalah nilai tersebut, dalam arti terserah pada
masyarakat untuk apa ilmu itu dipergunakan. Tetapi pada hakeketnya ilmu pengetahuan akan
digunakan bila ia menjadi alat yang baik, dan bukannya menjadi tuan yang kejam.
Dalam kenyataannya, pada masyarakat terdapat sifat-sifat yang baik dan buruk. Sejarah
membuktikan bahhwa sekelompok masyarakat telah menyalahgunakan ilmu.
Ilmu Kedokteran forensik merupakan alat yang ampuh dalam membasmi kejahatan, tetapi dapat
menjadi alat berbahaya bila digunakan secara keliru. Karena itu para ilmuwan di bidang ilmu
kedokteran forensik bertanggung-jawab terhadap measyarakat atas penggunaannya. Untuk ittu
diperlukan mekanisme kontrol terhadap ilmu dan teknologi agar tidak disalahgunakan, yakni
dengan mengembangkan nilai-nilai yang luhur sifatnya, sehingga secara axiologi ilmu tidak
bebas nilai, tetapi diabdikan untuk kebaikan umat manusia. Pengembangan nilai-nilai tersebut
terutama menjadi tanggungjawab para ilmuwan karena merekalah yang paling menguasai setiap
detail informasi yang bersangkutan.
Dalam ilmu kedokteran forensik, para ahli kedokteranlah yang paling bertanggungjawab dalam
menjaga dan membentuk nilai-nilai luhur tersebut. Salah satu seginya adalah tindakan hati-hati
dalam hal mengungkapkannya pada masyarakat, walaupun hasrat keingintahuan masyarakat
cukup besar. Hal ini penting agar selera rendah masyarakat tidak senantiasa berkembang.
Hal ini memang menjadi beban tersendiri bagi para ahli ilmu kedokteran forensik, karena di satu
pihak ia harus meng-komunikasikan pengetahuannya pada pihak-pihak tertentu (aparat peradilan
dan ilmiawan lainnya), di pihak lain ia harus menyaringnya terhadap masyarakat luas.
Dari pemikiran di atas dapatlah dirasakan perlunya rahasia kedokteran forensik, yang bila dikaji
lebih lanjut juga sangat erat kaitannya dengan hak azasi korban yang diperiksa.
B. Perbandingan Tindakan Di Bidang Kedokteran Forensik dan Kedokteran Klinik
Lainnya
Seperti telah dijelaskan dalam konsep peran ganda bahwa seorang korban dapat berstatus sebagai
pasien maupun benda bukti. Dalam ilmu kedokteran forensik, korban hidup maupun mati akan
ditangani sebagai 'benda' bukti, Tetapi walaupun status mereka sebagai benda bukti, bukan
berarti seluruh hak azasinya hilang sama sekali.

Pemeriksaan forensik yang dilakukan atas diri korban memang bukan atas kehendak bebas dari
korban. Hal ini berbeda dengan pemeriksaan klinis yang pada dasarnya merupakan kehendak
bebas dari pasien.
Walaupun pemeriksaan klinis merupakan kehendak bebas dari pasien, tapi hak atas pr/Vacy-nya
tidak hilang. Maka wajarlah bila pada pemeriksaan forensik (di mana pemeriksaan dilakukan
tidak atas dasar kesukarelaan) nak atas privacy tersebut justru tetap dijaga, dan bukannya malah
diungkapkan pada pihak yang tak berkepentingan agar korban tidak dirugikan dua kali.
Tentang sifat kerahasiaan di bidang kedokteran forensik, dipermasalahkan apakah hal tersebut
termasuk rahasia kedokteran atau bukan. Sebenarnya bidang kedokteran lebih luas daripada
hanya sekedar bidang kesehatan saja.
Karena kedokteran forensik merupakan salah satu dari bidang kedokteran, maka Peraturan
Pemerintah No.10 tahun 1966 Tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran juga berlaku untuk
bidang kedokteran forensik. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Profesor Dr.
Sutomo Tjokronegoro yang mengatakan:
......Dalam melakukan pekerjaan ilmu Dokter-kehakiman
untuk keperluan polisi dan hakim, kedudukan rahasia jabatan tidaklah berlainan. Segala
sesuatu yang diperiksa oleh seorang dokter atas permintaan dan untuk keperluan polisi dan
hakim, sudah selayaknya diangap sebagai rahasia jabatan. . . .
. Pihak Yang Wajib Menyimpan Rahasia Kedokteran Forensik
Karena Peraturan Pemerintah No.10 tahun 1966 dapat diterapkan pada bidang kedokteran
forensik, maka untuk menentukan siapa saja yang wajib menyimpan rahasia kedokteran forensik
dapat dipakai penjabaran pasal 3 PP No.10 tahun 1966 tersebut.
Dengan demikian, yang diharuskan menyimpan rahasia adalah:
1. Dokter spesialisi kedokteran forensik.
2. Dokter (umum).
3. Dokter spesialis klinik.
4. Petugas kamar otopsi/kamar pemeriksaan forensik
5. Mahasiswa Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani kepaniteraan Kedokteran Forensik
maupun kepaniteraan klinik lainnya.
6. Petugas kamar jenazah
7. Petugas kamar bedah jenazah

8. Petugas Laboratorium Forensik


9. Petugas administrasi Visum et Repertum
10. Petugas lainnya yang secara langsung atau tidak langsung mengetahui kegiatan pemeriksaan
forensik.
TANATOLOGI
Tanatologi berasal dari kata thanatos ( yang berhubungan dengan kematian) dan logos (ilmu).
Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan
perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.
Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis (mati klinis), mati
suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang otak).
Mati somatis (mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan,
yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan, yang menetap (irreversible). Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut
jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara nafas tidak terdengar pada
auskultasi.
Mati suri (suspended animation .apparent death) adalah terhentinya ketiga sistim kehidupan di
atas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih
masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering
ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.
Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa
saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbedabeda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan.
Pengetahuan ini penting dalam transplantasi organ.
Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati seluler dalam
waktu 4 menit; otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira 2 jam pasca mati, dan
mengalami mati seluler setelah 4 jam; dilatasi pupil masih terjadi pada pemberian adrenalin
0,1% atau penyuntikan sulfas atropin 1% ke dalam kamera okuli anterior, pemberian pilokarpin
1% atau fisostig-min 0.5 % akan mengakibatkan miosis hingga 20 jam pascamati.
Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam pasca mati dengan cara menyuntikkan
subkutan pilokarpin 2% atau asetilkolin 20%; spermatozoa masih bertahan hidup beberapa hari

dalam epididimis; kornea masih dapat ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk
transfusi sampai 6 jam pasca mati.
Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel kecuali batang otak dan
serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskular masih
berfungsi dengan bantuan alat.
Mati otak (mati batang otak) adalah bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neronai intrakranial
yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak (mati
batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup
lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan .
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda
kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat timbul dini
pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung dan peredaran darah
berhenti, pernapasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea mata hilang, kulit pucat dan
relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas yang
memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal sebagai tanda pasti
kematian berupa lebam mayat (hipostasis atau lividitas pasca-mati), kaku mayat (rigor mortis),
penurunan suhu tubuh, pembusukan, mumifikasi dan adiposera.
A. Tanda kematian tidak pasti
1. Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi).
2. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
3. Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi
spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit
menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang menjadi tampak lebih muda. Kelemasan otot
sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer. Hal ini mengakibatkan pendataran daerahdaerah yang tertekan, misalnya daerah belikat dan bokong pada mayat yang terlentang.
5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian. Segmensegmen tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.
6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan meneteskan air.
B. Tanda pasti kematian.

a. Lebam mayat (livor mortis). Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat
terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak warna
merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas
keras.
Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh darah.
Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya
bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu ini, lebam mayat
masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi mayat diubah.
Memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau perubahan
posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi, walaupun
setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan
membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang-kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam mayat
disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit
berpindah lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit
perpindahan tersebut.
Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan sebab kematian,
misalnya lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna kecok-latan pada
keracunan anilin, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan
setelah terjadinya lebam mayat yang menetap; dan memperkirakan saat kematian.
Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan
perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat
baru di daerah dada dan perut.
Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat
kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan.

Lebam mayat terdapat pada bagian tubuh yang terletak rendah. Bila terdapat penekanan,
pembukuh darah di daerah tersebut tertutup dan karenanya tidak dapat terisi darah dan daerah
tersebut akan bebas dari lebam mayat.
Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh darah, maka keadaan ini
digunakan untuk membedakannya dengan resapan...darah akibat trauma (eks-travasasi). Bila
pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah
akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan darah tidak menghilang.
b. Kaku mayat {rigor mortis). Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena
metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang
menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih
terdapat ATP maka serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot
habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2
jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam
(sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati
klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan selama 12 jam dan kemudian
menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut
otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku
mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot.
Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas fisik sebelum mati, suhu
tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil dan suhu lingkungan tinggi.
Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti kematian dan memperkirakan
saat kematian.
Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat;
1. Cadaveric spasm (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat
kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul
dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat
habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena
kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Cadaveric spasm ini jarang
dijumpai, tetapi sering terjadi dalam masa perang.

Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya,


tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang
menggenggam senjata pada kasus bunuh diri.
2. Heaf stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-otot
berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada
korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga
menimbulkan fleksi leher, siku, paha dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude).
Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, intravitalitas,
penyebab atau cara kematian.
3. Co/d stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi pembekuan
cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga bila
sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi.
Penurunan suhu tubuh {algor mortis). Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan
panas dari suatu benda ke benda yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan
konveksi.
Grafik penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurva sigmoid atau seperti huruf S.
Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban udara, bentuk
tubuh, posisi tubuh, pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu diketahui untuk perhitungan
perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu keliling yang rendah,
lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus, posisi terlentang, tidak
berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta anak kecil.

Kurva berbentuk sigmoid pada grafik penurunan suhu.


Pada saat mendekati suhu keliling, kurva akan menjadi sangat datar.
Berbagai rumus kecepatan penurunan suhu tubuh pasca mati ditemukan sebagai hasil dari
penelitian di negara barat, namun ternyata sukar dipakai dalam praktek karena faktor-faktor yang
berpengaruh di atas berbeda pada setiap kasus, lokasi, cuaca dan iklim.

Meskipun demikian dapat dikemukakan di sini formula Marshall dan Hoare (1962) yang dibuat
dari hasil penelitian terhadap mayat telanjang dengan suhu lingkungan 15.5 derajat Celcius, yaitu
penurunan suhu dengan kecepatan 0.55 derajat Celcius tiap jam pada 3 jam pertama pasca mati,
1,1 derajat Celcius tiap jam pada 6 jam berikutnya, dan kira-kira 0.8 derajat Celcius tiap jam
pada periode selanjutnya. Kecepatan penurunan suhu ini menurun hingga 60% bila mayat
berpakaian. Peng-gunakan formula ini harus dilakukan dengan hati-hati mengingat suhu
lingkungan di Indonesia biasanya lebih tinggi (kurva penurunan suhu lebih landai).
Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk memperkirakan saat mati melalui pengukuran suhu
tubuh pada lingkungan yang menetap di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Caranya adalah
dengan melakukan 4-5 kali penentuan suhu rektal dengan interval waktu yang sama (minimal 15
menit). Suhu lingkungan diukur dan dianggap konstan karena faktor-faktor lingkungan dibuat
menetap, sedangkan suhu saat mati dianggap 37 derajat Celcius bila tidak ada penyakit demam.
Penelitian membuktikan bahwa perubahan suhu lingkungan kurang dari 2 derajat Celcius tidak
mengakibatkan perubahan yang bermakna. Dari angka-angka di atas, dengan menggunakan
rumus atau grafik dapat ditentukan waktu antara saat mati dengan saat pemeriksaan. Saat ini
telah tersedia program komputer guna penghitungan saat mati melalui cara ini.
d. Pembusukan (decomposition, putrefaction). Pembusukan adalah proses degradasi jaringan
yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakan dan pencairan jaringan
yang terjadi dalam keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang
dilepaskan sel pascamati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.
Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk ke jaringan.
Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh. Sebagian besar bakteri
berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii. Pada proses pembusukan ini
terbentuk gas-gas alkana, H2S dan HCN, serta asam amino dan asam lemak.
Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut kanan
bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dekat
dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-met-hemo-globin. Secara
bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau busukpun mulai
tercium. Pembuluh darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan berwarna hijau
kehitaman.

Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan kemerahan berbau
busuk.
Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus, akan mengakibatkan
tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut dan hidung. Gas yang terdapat di
dalam jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan terabanya derik (krepitasi). Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang menyeluruh, tetapi ketegangan terbesar terdapat di daerah
dengan jaringan longgar, seperti skrotum dan payudara. Tubuh berada dalam sikap seperti petinju
(pugilistic attitude), yaitu kedua lengan dan tungkai dalam sikap setengah fleksi akibat
terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi.
Selanjutnya, rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah menggembung dan
berwarna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembem, bibir tebal, lidah
membengkak dan sering terjulur diantara gigi. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan wajah
asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh keluarga.
Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati, terutama bila mayat
dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan binatang pengerat khas berupa
lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi.
Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 36-48 jam
pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca mati, di alis mata,
sudut mata, lubang hidung dan diantara bibir. Telur lalat tersebut kemudian akan menetas
menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies lalat dan mengukur panjang
larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut, yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan
saat mati, dengan asumsi bahwa lalat biasanya secepatnya meletakkan telur setelah seseorang
meninggal (dan tidak lagi dapat mengusir lalat yang hinggap).
Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda. Perubahan
warna terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus, menjadi ungu kecoklatan. Mukosa
saluran napas menjadi kemerahan, en-dokardium dan intima pembuluh darah juga kemerahan,
akibat hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung empedu mengakibatkan warna coklat
kehijauan di jaringan sekitarnya. Otak melunak, hati menjadi berongga seperti spons, limpa
melunak dan mudah robek. Kemudian alat-dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non gravid
merupakan organ padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan.

Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26.5 derajat Celcius hingga
sekitar suhu normal tubuh), kelembaban dan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh
gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat mayat terdapat juga berperan.
Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat membusuk dibandingkan dengan yang terdapat
dalam air atau dalam tanah. Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang berada dalam
tanah : air: udara adalah 1 : 2 : 8. Bayi baru lahir umumnya lebih lambat membusuk, karena
hanya memiliki sedikit bakteri dalam tubuhnya dan hilangnya panas tubuh yang cepat pada bayi
akan menghambat pertumbuhan bakteri.
Adiposera atau lilin mayat. Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan,
lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Dulu
disebut sebagai saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena menunjukkan sifat-sifat
dian-tara lemak dan lilin.
Adiposera terutama terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh hidrolisis lemak
dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak jenuh pasca mati yang tercampur
dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf yang termumifikasi (Mant dan Furbank, 1957)
dan kristal-kristal sferis dengan gambaran radial (Evans, 1962). Adiposera terapung di air, bila
dipa-naskan mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut di dalam alkohol panas dan eter.
Adiposera dapat terbentuk di sebarang lemak tubuh, bahkan di dalam hati, tetapi lemak
superfisial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk bercak, dapat terlihat di
pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah
menjadi adiposera.
Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga bertahuntahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih dimungkinkan.
Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembaban dan lemak tubuh
yang cukup, sedangkan yang menghambat adalah air yang mengalir yang membuang elektrolit.
Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan suhu yang hangat akan mempercepat.
Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan mempercepat pembentukannya.
Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman dan dehidrasi
jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung kira-kira 0.5% asam lemak bebas, tetapi
dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat naik menjadi 20% dan setelah 12 minggu menjadi 70%
atau lebih. Pada saat ini adiposera menjadi jelas secara makroskopik sebagai bahan berwarna

putih kelabu yang menggantikan atau menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium
awal pembentukannya sebelum makroskopik jelas, adiposera paling baik dideteksi dengan
analisis asam palmitat.
f. Mummifikasi. Mumifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup
cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan.
Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput dan tidak membusuk
karena kuman tidak dapat berkembang pada lingkungan yang kering. Mumifikasi terjadi bila
suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang
lama (12-14 minggu). Mumifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal.

Pengeringan jaringan tubuh melalui penguapan menyebabkan tubuh mayat wanita ini
mengalami perubahan yang dikenal sebagai mummifikasi.
Perkiraan saat kematian.
Selain perubahan pada mayat tersebut di atas, beberapa perubahan lain dapat digunakan untuk
memperkirakan saat mati.
1. Perubahan pada mata. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri-kanan
kornea akan berwarna kecolkatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi
kornea {taches noires sclerotiques). Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang
terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan air, tetapi kekeruhan yang telah
mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruhan yang
menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam pasca mati. Baik dalam keadaan mata tertutup maupun
terbuka, kornea menjadi keruh kira-kira 10-12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja
fundus tidak tampak jelas. Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi

pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan lamanya
mati.
Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati. Hingga 30
menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya diskus optikus. Kemudian
hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi.
Selama dua jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar diskus menjadi kuning.
Warna kuning juga tampak disekitar makula yang menjadi lebih gelap. Pada saat itu pola
vaskular koroid yang tampak sebagai bercak-bercak dengan latar belakang merah dengan pola
segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam
menjadi homogen dan lebih pucat.
Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluhpembuluh besar yang
mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning-kelabu.
Da-lam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur.
Pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi beberapa
segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran
pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja yang tampak berwarna coklat gelap.
2. Perubahan dalam lambung. Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga tidak
dapat digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat mati.
Namun keadaan lambung dan isinya mungkin membantu dalam membuat kepu-tusan.
Ditemukannya makanan tertentu (pisang, kulit tomat, biji-bijian) dalam isi lambung dapat
digunakan untuk menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal telah makan makanan
tersebut.
3. Perubahan rambut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0.4 mm/hari,
panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian.
Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau
jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia mencukur.
4. Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan hal rambut tersebut di atas, pertumbuhan kuku yang
diperkirakan sekitar 0,1 mm per hari dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila
dapat diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku.
5. Perubahan dalam cairan serebrospinal. Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg%
menunjukkan ke-matian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80mg%

menunjukkan kematian belum 24 jam, kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masingmasing menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam.
6. Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar Kalium yang cukup akurat untuk
memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pasca mati.
7. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisis darah pasca mati
tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya. Perubahan tersebut
diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan permeabilitas dari sel yang telah
mati.
Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses ke-matian dapat menimbulkan perubahan dalam
darah bahkan sebelum kematian itu terjadi. Hingga saat ini belum ditemukan perubahan dalam
darah yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati dengan lebih tepat.
8. Reaksi supravital, yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti
reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup.
Beberapa uji dapat dilakukan terhadap mayat yang masih segar, misalnya rangsang listrik
masih dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90-120 menit pasca mati dan
mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60-90 menit pasca mati, sedangkan
trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati.
TRAUMATOLOGI FORENSIK
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan
berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan yang dimaksudkan dengan luka adalah suatu
keadaan ke-tidak-sinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan.
Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang bersifat:
Mekanik:
Kekerasan oleh benda tajam Kekerasan oleh benda tumpul Tembakan senjata api Fisika: Suhu
Listrik dan petir Perubahan tekanan udara Akustik Radiasi Kimia:
Asam atau basa kuat
LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA TUMPUL
Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah benda yang
memiliki permukaan tumpul. Luka yang terjadi dapat berupa memar (kontusio, hematom), luka
lecet (ekskoriasi, abrasi) dan luka terbuka/robek (vulnus laseratum).

Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan
vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka memar kadangkala memberi petunjuk
tentang bentuk benda penyebabnya, misalnya jejas ban yang sebenarnya adalah suatu perdarahan
tepi (marginal haemorrhage).

Gambar menunjukkan luka memar jejas ban yang ditimbulkan oleh penekanan permukaan ban
pada kulit yang menyebabkan terjadi perdarahan bawah kulit yang kemudian berpindah ke
tempat yang kurang tertekan, yakni pada daerah cekungan pada muka ban, berupa perdarahan
di tepi.
Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti besarnya kekerasan,
jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat longgar,
jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah, penyakit
(hipertensi, penyakit kardio vaskular, diatesis hemoragik).
Pada bayi, hematom cenderung lebih mudah terjadi karena sifat kulit yang longgar dan masih
tipisnya jaringan lemak subkutan, demikian pula pada usia lanjut sehubungan dengan menipisnya
jaringan lemak subkutan dan pembuluh darah yang kurang terlindung.
Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin terletak jauh dari letak benturan, misalnya kekerasan
benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom palpebra atau kekerasan benda tumpul pada
paha dengan patah tulang paha menimbulkan hematom pada sisi luar tungkai bawah.
Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada saat
timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4 sampai 5
hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam 7 sampai 10 hari,
dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15 hari. Perubahan warna tersebut berlangsung mulai

dari tepi dan waktunya dapat bervariasi tergantung derajat dan berbagai faktor yang
mempengaruhinya.
Dari sudut pandang medikolegal, interpretasi luka memar dapat merupakan hal yang penting,
apalagi bila luka memar tersebut disertai luka lecet atau laserasi. Dengan perjalanan waktu, baik
pada orang hidup maupun mati, luka memar akan memberi gambaran yang makin jelas.
Hematom ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan
menunjukkan pembengkakan dan infiltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat dibedakan dari
lebam mayat dengan cara melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat (hipos-tasis pascamati)
darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat sehingga bila dialiri air,
penampang sayatan akan tampak bersih, sedangkan pada hematom penampang sayatan tetap
berwarna merah kehitaman. Tetapi harus diingat bahwa pada pembusukan juga terjadi
ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan ini.
Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki
permukaan kasar atau runcing, misalnya pada kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur
aspal jalan, atau sebaliknya benda tersebut yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit.
Manfaat interpretasi luka lecet ditinjau dari aspek medikolegal seringkah diremehkan, padahal
pemeriksaan luka lecet yang teliti disertai pemeriksaan di TKP dapat mengungkapkan peristiwa
yang sebenarnya terjadi. Misalnya suatu luka lecet yang semula diperai rakan sebagai akibat
jatuh dan terbentur aspal jalanan atau tanah, seharusnya dijumpai pula aspal atau debu yang
menempel di luka tersebut. Bila setelah dilakukan pemeriksaan yang teliti ternyata tidak a jumpai
benda asing tersebut, maka harus timbul pemikiran bahwa -ka tersebut bukan terjadi akibat jatuh
ke aspal/tanah, tapi mungkin akibat tindak kekerasan.
Sesuai dengan mekanisme terjadinya, luka lecet dapat diklasifi asikan sebagai luka lecet gores
(scratch), luka lecet serut (graze), oka lecet tekan (\mpression, impact abrasion) dan luka lecet
geser 'riction abrasion).
Luka lecet gores diakibatkan oleh benda runcing (misalnya kuku jari yang menggores kulit)
yang menggeser lapisan permukaan kulit (epidermis) di depannya dan menyebabkan lapisan
tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.
Luka lecet serut adalah variasi dari luka lecet gores yang caerah persentuhannya dengan
permukaan kulit lebih lebar. Arah Kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel.

Gambar menunjukkan luka lecet serut pada korban kecelakaan lalu lintas. "
Pada awal luka lecet, tampak batas yang lebih tegas sedangkan pada akhir luka lecet, batas
tidak tegas dan terdapat penumpukan kulit ari yang tergeser.
Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul cada kulit. Karena kulit adalah
jaringan yang lentur, maka bentuk -ka lecet tekan belum tentu sama dengan bentuk permukaan
benda :mpul tersebut, - tetapi masih memungkinkan identifikasi benda penyebab yang
mempunyai bentuk yang khas misalnya kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan dan sebagainya.
Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah caerah kulit yang kaku dengan
warna lebih gelap dari sekitarnya =<;bat menjadi lebih padatnya jaringan yang tertekan serta
terjadinya cengeringan yang berlangsung pasca mati.
Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser, misalnya
pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut. Luka lecet geser yang terjadi semasa
hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet geser yang terjadi segera pasca mati.
Luka robek merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul, yang menyebabkan kulit
teregang ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit terlampaui, maka akan terjadi robekan pada
kulit. Luka ini mempunyai ciri bentuk luka yang umumnya tidak beraturan, tepi atau dinding
tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka tidak beraturan,
sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka.
Kekerasan tumpul yang cukup kuat dapat menyebabkan patah tulang. Bila terdapat lebih dari
satu garis patah tulang yang saling bersinggungan maka garis patah yang terjadi belakangan akan
berhenti pada garis patah yang telah terjadi sebelumnya.
Patah tulang jenis impresi terjadi akibat kekerasan benda tumpul pada tulang dengan luas
persinggungan yang kecil dan dapat memberikan gambaran bentuk benda penyebabnya.
Pada cedera kepala, tulang tengkorak yang tidak terlindung oleh kulit hanya mampu menahan
benturan sampai 40 pound/inch , tetapi bila terlindung oleh kulit maka dapat menahan sampai

425 900 pound/inch2. Selain kelainan pada kulit kepala dan patah tulang tengkorak, cedera
kepala dapat pula mengakibatkan perdarahan dalam rongga tengkorak berupa perdarahan
epidural, subdural dan subarakhnoid, kerusakan selaput otak dan jaringan otak.
Perdarahan epidural sering terjadi pada usia dewasa sampai usia pertengahan, dan sering
dijumpai pada kekerasan benda tumpul di daerah pelipis (kurang lebih 50%) dan belakang kepala
(10-15%), akibat garis patah yang melewati sulcus arteria meningea, tetapi perdarahan epidural
tidak selalu disertai patah tulang.

Perdarahan epidural terjadi sebagai akibat cedera pada kepala yang menimbulkan patah tulang
tengkorak yang melewati sulcus a. meningea media.
Perdarahan subduraJ terjadi karena robeknya sinus, vena jembatan (bridging vein), arteri
basilaris atau berasal dari perdarahan s-carakhnoid.
Perdarahan subarakhnoid biasanya berasal dari fokus kon-TLS-O/ laserasi jaringan otak. Perlu
diingat bahwa perdarahan ini juga Dsa terjadi spontan pada sengatan matahari (heat stroke),
leukemia, fcjmor, keracunan CO dan penyakit infeksi tertentu.
Lesi otak tidak selalu terjadi hanya pada daerah benturan tetapi dapat terjadi di seberang titik
benturan (contre coup) aa-i di antara keduanya [intermediate lesion). Lesi contre coup ter-Karena
adanya liquor yang mengakibatkan terjadinya pergerakan oa* saat terjadinya benturan, sehingga
pada sisi kontra lateral ter-a>z gaya positif akibat akselerasi, dorongan liquor dan tekanan oleh
-_ang yang mengalami deformitas. Penelitian lain menyatakan contre coup terjadi karena adanya
deformitas tulang tengkorak yang sapat menimbulkan tekanan negatif pada sisi kontralateral.
Cedera ;-tra lateral terjadi bila tekanan negatif yang terjadi minimal 1 ata smosfir absolut).
Kontusio biasanya terjadi bila ada kekerasan z-a.ng tidak sebesar 250 g gaya gravitasi (1 g = 9,81
m/detik2), s^cangkan komosio kira-kira 60-100 g.
Cedera leher (whiplash /n/u/y)dapat terjadi pada penumpang e-daraan yang ditabrak dari
belakang. Penumpang akan meng-tami percepatan mendadak sehingga terjadi hiperekstensi

kepala .a-g disusul dengan hiperfleksi. Cedera terjadi terutama pada ruas * _ ang leher ke empat
dan lima yang membahayakan sumsum tulang i-eakang. Kerusakan pada medula oblongata dapat
berakibat fatal. ~~Dulnya cedera leher ini juga dipengaruhi oleh bentuk sandaran tempat duduk
dan kelengahan korban.
Kasus kematian akibat kekerasan tumpul terbanyak ditemukan ttada kecelakaan lalu lintas,
sedangkan pada pembunuhan hanya 15,6 % (1984), 17,5 % (1983) dan 17,2 % (1982).
Trauma pada kecelakaan lalu lintas. Pada kejadian kece-=-;aan lalu lintas, dapat tersangkut
beberapa pihak, misalnya pejalan .=<i, pengemudi kendaraan, penumpang dan sebagainya.
Luka pada pejalan kaki dapat timbul sebagai akibat benturan s-ertama, benturan kedua dan luka
sekunder (akibat benturan de--gan obyek lain, misalnya jalan, kaki-lima). Luka-luka pada
pengendara sepeda hampir sama dengan pejalan kaki, tetapi luka-luka sekundernya biasanya
lebih parah. Letak benturan pada tubuh c asanya rendah.
Bila hanya ditemukan luka-luka sekunder, maka harus dipikirkan kemungkinan adanya penyakit
yang mengakibatkan kehilangan kontrol (inkapasitas), terutama pada golongan usia tua.
Terhadap para penumpang kendaraan roda tiga atau lebih, yang penting adalah menentukan
posisi korban dalam kendaraan pada saat terjadinya kecelakaan dan kalau mungkin menentukan
siapa pengemudinya.
Pengemudi biasanya mengalami luka pada pergelangan tangan karena menahan kemudi,
sedangkan tulang femur dan pelvis mungkin patah akibat menginjak pedal dengan kuat.
Bergesernya tempat duduk kedepan dan kemudi ke belakang dapat menyebabkan patahnya
sternum dan iga-iga. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya hal tersebut, dianjurkan
pemakaian sabuk pengaman dan kemudi yang dapat patah sendiri (collapsible). Penumpang akan
mendapat luka-luka pada kepala karena terbentur jendela dan luka-luka pada tungkai seperti pada
pengemudi.
Pengendara sepeda motor bila ditabrak kendaraan lain, maka dijumpai luka benturan pertama,
benturan kedua dan luka-luka sekunder yang lebih parah dibandingkan dengan pengendara
sepeda. Pemakaian Helm dimaksudkan untuk meredam benturan pada kepala sehingga
memperkecil kemungkinan cedera.
LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA SETENGAH TAJAM
Yang dimaksud dengan kekerasan benda setengah tajam adalah cedera akibat kekerasan benda
tumpul yang mempunyai tepi rata, misalnya tepi meja, lempengan besi, gigi dan sebagainya.

Luka yang terjadi adalah luka dengan ciri-ciri luka akibat kekerasan tumpul namun bentuknya
beraturan.
Jejas-gigit (bite-mark) merupakan luka lecet tekan atau hematoma berbentuk garis lengkung
terputus-putus. Pada luka tersebut dilakukan pengukuran, pemotretan berskala dan swab air liur
(untuk penentuan golongan darah pelaku). Cetakan gigi tersangka perlu dibuat untuk digunakan
pada perbandingan. Pada korban hidup, luka gigitan umumnya masih 'baik' bentuk dan
ukurannya sampai 3 jam pasca trauma, setelah itu dapat berubah bentuk akibat elastisitas kulit.
LUKA AKIBAT KEKERASAN BENDA TAJAM
Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah benda yang
memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alat-alat seperti
pisau, golok, dan sebagainya hingga keping kaca, gelas, logam, sembilu, bahkan tepi kertas atau
rumput.
Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepi dan dinding luka yang rata, berbentuk
garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik.
Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau sayat, luka tusuk dan luka
bacok.
Selain gambaran umum luka tersebut di atas, luka iris atau sayat dan luka bacok mempunyai
kedua sudut luka lancip dan dalam - - a tidak melebihi panjang luka. Sudut luka yang lancip
dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran senjata sewaktu ditarik atau
akibat bergeraknya korban. Bila dibarengi gerak -emutar, dapat menghasilkan luka yang tidak
selalu berupa garis.

Gambar menunjukkan luka akibat kekerasan benda tajam berupa luka iris pada pipi serta leher
seorang korban pembunuhan menggunakan senjata tajam.

Pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukkan perkiraan renda penyebabnya, apakah berupa
pisau bermata satu atau berita dua. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul, berarti renda
penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. Bila kedua sjdut luka lancip, luka tersebut dapat
diakibatkan oleh benda tajam rermata dua. Benda tajam bermata satu dapat menimbulkan luka
:-suk dengan kedua sudut luka lancip apabila hanya bagian ujung renda saja yang menyentuh
kulit, sehingga sudut luka dibentuk oleh - jng dan sisi tajamnya.
Kulit di sekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya -.dak menunjukkan adanya luka lecet
atau luka memar, kecuali bila ragian gagang turut membentur kulit.
Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan ebar benda tajam penyebabnya,
demikian pula panjang saluran luka c asanya tidak menunjukkan panjang benda tajam tersebut.
Hal ini z sebabkan oleh faktor elastisitas jaringan dan gerakan korban.
Umumnya luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri atau
kecelakaan memiliki ciri-ciri berikut:
^okasi luka
Jumlah luka
3
akaian
_uka tangkis
_uka percobaan
Cedera

Pembunuhan
sembarang
banyak
terkena
ada
tidak ada
mungkin ada

Bunuh diri
terpilih
banyak
tidak terkena
tidak ada
ada
tidak ada

Kecelakaan
terpapar
tunggal/banyak
terkena
tidak ada
tidak ada
mungkin ada

sekun-:er
Ciri-ciri pembunuhan di atas dapat dijumpai pada kasus pembunuhan yang disertai perkelahian.
Tetapi bila tanpa perkelahian maka lokasi luka biasanya pada daerah fatal dan dapat tunggal.
Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan umumnya ditemukan
pada telapak dan punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan bawah dan tungkai.
Pemeriksaan pada kain (baju) yang terkena pisau bertujuan untuk melihat interaksi antara pisaukain-tubuh, yaitu melihat letak/lokasi kelainan, bentuk robekan, adanya partikel besi (reaksi biru
berlin dilanjutkan dengan pemeriksaan spektroskopi), serat kain dan pemeriksaan terhadap
bercak darahnya.
Bunuh diri yang menggunakan benda tajam biasanya diarahkan pada tempat yang cepat
mematikan misalnya leher, dada kiri, pergelangan tangan, perut (harakiri) dan lipat paha. Bunuh
diri dengan senjata tajam tentu saja akan menghasilkan luka-luka pada tempat yang terjangkau

oleh tangan korban serta biasanya tidak menembus pakaian karena umumnya korban
menyingkap pakaian terlebih dahulu.

Gambar menunjukkan luka tangkis pada telapak tangan seorang korban pembunuhan
menggunakan senjata tajam.
Luka terjadi sebagai akibat korban berusaha menangkap senjata penyerang.
Luka percobaan khas ditemukan pada kasus bunuh diri yang menggunakan senjata tajam,
sehubungan dengan kondisi kejiwaan korban. Luka percobaan tersebut dapat berupa luka sayat
atau luka tusuk yang dilakukan berulang dan biasanya sejajar.
Yang dimaksud dengan kecelakaan pada tabel di atas adalah kekerasan tajam yang terjadi tanpa
unsur kesengajaan misalnya kecelakaan industri, kecelakaan pada kegiatan sehari-hari; sedangkan cedera sekunder adalah cedera yang terjadi bukan akibat benda tajam penyebab, misalnya
luka yang terjadi akibat terjatuh.
LUKA AKIBAT TEMBAKAN SENJATA API
Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil perledakan mesiu, dapat
melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya.
Proyektil yang dilepaskan dari suatu tembakan dapat tunggal, dapat pula tunggal
berurutan secara otomatis maupun dalam jumlah tertentu bersama-sama.
Agar anak peluru dapat berjalan stabil dalam lintasannya, permukaan dalam laras dibuat
beralur spiral dengan diameter yang sedikit lebih kecil dari diameter anak peluru,
sehingga anak peluru yang didorong oleh ledakan mesiu, saat melalui laras, dipaksa untuk
bergerak maju sambil berputar sesuai porosnya, dan ini akan memperoleh gaya
centripetal, sehingga anak peluru tetap dalam posisi ujung depannya di depan dalam
lintasannya setelah lepas laras menuju sasaran. Alur dalam laras dibuat dalam jumlah 4

sampai 6 alur dengan arah perputaran ke kiri (pada Co/r) atau ke kanan (pada Smith and
Wesson).
Di samping senjata api dengan laras beralur (rifled bore), terdapat pula jenis dengan laras
licin (smooth bore) seperti pada senjata api jenis shot gun, yang pada satu kali tembakan
dapat melontarkan anak peluru dalam jumlah banyak sekaligus.
Peluru untuk jenis senjata api berlaras beralur berbeda dari peluru untuk senjata api
berlaras licin. Secara skematik dapat tampak pada gambar berikut:

Gambar kiri menunjukkan peluru untuk laras beralur sedangkan gambar kanan adalah peluru
untuk senjata api berlaras licin.
Anak peluru untuk senjata api berlaras pendek jenis revolver umumnya terbuat dari timah
hitam yang kadang kadang berselaput plastik, sedangkan anak peluru untuk senjata
berlaras pendek jenis pistol dan senjata api berlaras panjang umumnya terbuat dari timah
hitam sebagai inti yang dibalut dengan tembaga, kuningan atau nikel sebagai mantel.
Garis tengah anak peluru senapan biasanya berukuran 7-9 mm dengan panjang 25-39 mm
dan berat 9-14 gram. Anak peluru yang digunakan pada senapan mesin umumnya lebih
kecil dan lebih ringan, 5,56 mm dan 3,5 gram.
Akibat yang ditimbulkan oleh anak peluru pada sasaran tergantung pada pelbagai faktor:
45
a. Besar dan bentuk anak peluru
b. Balistik (kecepatan, energi kinetik, stabilitas anak peluru)
c. "Kerapuhan" anak peluru
d. kepadatan jaringan sasaran
e. vulnerabilitas jaringan sasaran
Tembakan yang mengenai tubuh akan menimbulkan luka tembak, yang gambarannya tidak
hanya terjadi sebagai akibat terjangan anak peluru pada sasaran, tetapi juga oleh pruduk ikutan

yang terjadi saat tembakan dilepaskan, yaitu partikel logam akibat geseran anak peluru dengan
laras, butir mesiu yang tidak sempurna terbakar, asap serta panas akibat ledakan mesiu dan pada
luka tembak yang terjadi akibat tembak tempel, kerusakan jaringan akibat moncong laras yang
juga menekan sasaran. Tergantung pada komponen produk ikutan mana yang masih dapat
mencapai sasaran, luka tembak masuk dibedakan menjadi luka tembak masuk jarak jauh, luka
tembak masuk jarak dekat, luka tembak masuk jarak sangat dekat dan luka tembak tempel.
Apabila setelah mengenai sasaran, anak peluru masih memiliki tenaga untuk meneruskan
lintasannya dan menembus ke luar tubuh, maka akan terjadi luka tembak keluar.
Anak peluru yang menembus kulit akan menyebabkan terjadinya lubang yang dikelilingi bagian
yang kehilangan kulit ari berupa kelim lecet. Selain itu zat yang melekat pada anak peluru seperti
minyak pelumas, jelaga dan elemen mesiu (Pb, Sb, Ba) akan terusap pada tepi lubang sehingga
terbentuk kelim kesat yang terdapat tepat di tepi lubang (pada luka tembak masuk jarak jauh).
Butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar akan tertanam pada kulit disekitar kelim lecet,
membentuk kelim tatoo (pada luka tembak masuk jarak dekat), dan jelaga/asap yang ke luar dari
ujung laras senjata akan membentuk kelim jelaga, sedangkan api yang ikut keluar akan
membentuk kelim api (berupa hiperemi atau jaringan yang terbakar, pada luka tembak masuk
jarak sangat dekat).
Ujung laras yang menempel pada kulit saat senjata api ditembakkan akan membentuk luka lecet
tekan yang mengelilingi kelim lecet dengan sekitar yang menonjol, dikenal sebagai jejak laras.
LTM (Luka Tembak Masuk) jarak jauh hanya dibentuk oleh komponen anak peluru, sedangkan
LTM jarak dekat dibentuk oleh komponen anak peluru dan butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar. LTM jarak sangat dekat dibentuk oleh komponen anak peluru, butir mesiu, jelaga dan
panas/api.
LTM tempel/kontak dibentuk oleh seluruh komponen tersebut di atas (yang akan masuk ke
dalam saluran luka) dan jejas laras. Saluran luka akan berwarna hitam dan jejas laras akan
tampak mengelilingi luka tembak masuk sebagai luka lecet jenis tekan, yang terjadi sebagai
akibat tekanan berbalik dari udara hasil ledakan mesiu.
Bila seluruh lingkaran laras senjata menempel tegak lurus cada kulit, maka butir mesiu, jelaga,
api, semuanya langsung masuk e dalam saluran luka. Tekanan balik gas panas yang ikut masuk
ke saiam saluran dapat mengakibatkan peregangan kulit yang sangat resar dan memberikan
gambaran luka seperti bintang. Bila tidak seiuruh lingkaran laras senjata menempel pada

permukaan kulit, -aka akan terbentuk gambaran LTM yang merupakan kombinasi dari LTM
tempel dan LTM jarak sangat dekat.

Gambar menunjukkan secara skematis gambaran pada sasaran yang diakibatkan oleh pelbagai
komponen suatu tembakan.
Gambaran LTM jarak jauh dapat juga ditemukan pada korban . ang tertembak pada jarak yang
dekat/sangat dekat, apabila di atas permukaan kulit terdapat penghalang misalnya pakaian yang
tebal, kat pinggang, helm dan sebagainya sehingga komponen-komponen butir mesiu yang tidak
habis terbakar, jelaga dan api tertahan oleh menghalang tersebut.
Jarak penembakan yang tepat hanya dapat diperkirakan de--gan membandingkan luka tembak
masuk yang ditemukan dengan -ka tembak masuk yang diperoleh dari uji coba tembakan yang
-enggunakan senjata dan peluru yang sejenis.
Pada umumnya, mesiu mengandung unsur Sb, Ba dan Nitrat. =enentuan kuantitatif terhadap Sb
pada luka tembak masuk mung-* n dapat memberikan perkiraan kasar terhadap jarak tembak.
Uji difenhidramin terhadap adanya nitrat dan pemeriksaan spektrofotometri terhadap Sb pada
tangan tersangka pelepas tembakan, terutama pada senjata jenis revolver merupakan salah satu
cara pembuktian terhadap pelaku penembakan.
Pada tempat anak peluru meninggalkan tubuh korban akan - temukan luka tembak keluar (LTK).
LTK umumnya lebih besar dari _~M akibat terjadinya deformitas anak peluru, bergoyangnya
anak peluru dan terikutnya jaringan tulang yang pecah keluar dari LTK. =ada anak peluru yang
menembus tulang pipih, seperti tulang atap tengkorak, akan terbentuk corong yang membuka
searah dengan gerak anak peluru.
LTK mungkin lebih kecil dari LTM bila terjadi pada luka tembak tempel/kontak, atau pada anak
peluru yang telah kehabisan tenaga pada saat akan keluar meninggalkan tubuh. Bentuk LTK
tidak khas dan sering tidak beraturan.

Gambar menunjukkan ujung anak peluru yang menembus keluar pada luka tembak keluar,
namun karena habis tenaganya lalu tersangkut pada kulit.
Di sekitar LTK mungkin pula dijumpai daerah lecet bila pada tempat keluar tersebut terdapat
benda yang keras, misalnya ikat pinggang, atau korban sedang bersandar pada dinding.
Senapan angin, yang mendorong anak peluru menggunakan udara atau gas CO2 bertekanan
tinggi, dapat memberikan kecepatan anak peluru saat tinggal laras sebesar 194 m per detik,
sehingga bila ini mengenai mata, dapat menembus atap orbita dan masuk ke dalam rongga
tengkorak. Pistol dengan peluru berkaliber 5,6-11 mm dapat memberikan kecepatan anak peluru
200-400 m/detik. Bila mengenai pembuluh darah besar atau organ vital, dapat berakibat fatal.
Pecahan granat merupakan proyektil tidak beraturan yang berkecepatan setara dengan anak
peluru pistol.
Senjata api dengan anak peluru berkecepatan tinggi (> 800 m/detik), misalnya pada senapan
berburu, senapan militer dan senapan mesin memberikan LTM dengan daya rusak hebat,
terutama pada jarak dekat.
Peluru dum-dum merupakan peluru yang ujung anak pelurunya dibuat sedemikian rupa sehingga
mudah mengalami deformitas saat mengenai sasaran sehingga dapat menimbulkan luka tembak
masuk dengan kerusakan jaringan yang hebat.
Pistol gas air mata menggunakan peluru khusus yang saat ditembakan, melepaskan gas khlorasetofenon yang dapat melukai mata. Kelainan yang terjadi pada mata dapat berupa keratitis,
irido-siklitis atau kadang-kadang dapat mencapai retrokorneal.
LUKA AKIBAT SUHU / TEMPERATUR
Suhu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya heat exhaustion primer.
Temperatur kulit yang tinggi dan rendahnya penglepasan panas dapat menimbulkan kolaps pada
seseorang karena ketidakseimbangan antara darah sirkulasi dengan lumen pembuluh darah, hal

ini sering terjadi pada pemaparan terhadap panas, kerja jasmani berlebihan dan pakaian yang
terlalu tebal. Dapat pula terjadi heat exh-austion sekunder akibat kehilangan cairan tubuh yang
berlebihan pehidrasi). Heat stroke adalah kegagalan kerja pusat pengatur suhu akibat terlalu
tingginya temperatur pusat tubuh. Suhu lethal eksogen adalah 43 derajat Celcius. Penglepasan
panas tubuh secara konduksi dan radiasi sudah mulai berlangsung saat suhu eksogen mencapai
30 derajat Celcius, sedangkan di atas 35 derajat Celcius panas tbuh harus dilepas melalui
penguapan keringat. Sun stroke dapat terjadi akibat panas sinar matahari yang menyebabkan
hipertermia sedangkan Heaf cramps terjadi akibat menghilangnya NaCI darah pengan cepat
akibat suhu tinggi.
Luka bakar terjadi akibat kontak kulit dengan benda bersuhu tinggi. Kerusakan kulit yang
terjadi bergantung pada tinggi suhu dan lama kontak. Kontak kulit dengan uap air panas selama 2
detik mengakibatkan suhu kulit pada kedalaman 1 mm dapat mencapai 66 perajat Celcius,
sedangkan pada ledakan bensin dalam waktu singkat mencapai suhu 47 derajat Celcius. Luka
bakar sudah dapat terjadi pada suhu 43-44 derajat Celcius bila kontak cukup lama.
Pelebaran kapiler bawah kulit mulai terjadi pada saat suhu mencapai 35 derajat Celcius
selama 120 detik, Vesikel terjadi pada suhu 53-57 derajat Celcius selama kontak 30-120 detik.
Luka bakar yang terjadi dapat dikategorikan ke dalam 4 derajat luka bakar:
I Eritema
II Vesikel dan bullae
III Nekrosis koagulatif
IV Karbonisasi

Gambar menunjukkan terbentuknya gelembung (bulla) akibat kulit yang terbakar.


Kematian pada luka bakar dapat terjadi melalui pelbagai mekanisme.
1. Syok neurogen; commotio neuro-vascularis

2. Gangguan permeabilitas akibat penglepasan histamin dan kehilangan NaCI kulit yang cepat
(dehidrasi).
Pemaparan terhadap Suhu rendah misalnya di puncak gunung yang tinggi, dapat menyebabkan
kematian mendadak. Mekanisme kematian dapat diakibatkan oleh kegagalan pusat pengatur suhu
maupun akibat rendahnya disosiasi Oxy-Hb. Bayi dan orang tua secara fisiologis kurang tanggap
terhadap dingin, demikian juga pada kelelahan, alkoholism, hipopituitarism, myoedema dan
steator-rhoea. Pada kulit dapat terjadi luka yang terbagi menjadi beberapa derajat kelainan:
I Hiperemia
II Edema dan vesikel
III Nekrosis
IV Pembekuan disertai kerusakan jaringan.
LUKA AKIBAT TRAUMA LISTRIK.
Faktor yang berperan pada cedera listrik ialah tegangan (Volt), kuat arus (ampere), tahanan kulit
(ohm) luas dan lama kontak.
Tegangan rendah (<65 V) biasanya tidak berbahaya bagi manusia, tetapi tegangan sedang (65
-1000 V) dapat mematikan.
Banyaknya arus listrik yang mengalir menuju tubuh manusia menentukan juga fatalitas
seseorang. Makin besar arus, makin berbahaya bagi kelangsungan hidup.
Selain faktor-faktor kuat arus, tahanan dan lama kontak, hal lain yang penting diperhatikan
adalah luas permukaan kontak. Suatu permukaan kontak seluas 50 cm persegi (kurang lebih
selebar telapak tangan) dapat mematikan tanpa menimbulkan jejas listrik, karena pada kuat arus
letal (100 mA), kepadatan arus pada daerah selebar telapak tangan tersebut hanya 2 mA/cm
persegi, yang tidak cukup besar untuk menimbulkan jejas listrik.
Kuat arus yang masih memungkinkan bagi tangan yang memegangnya untuk melepaskan diri
disebut let go current yang besarnya berbeda-beda untuk setiap individu.
Gambaran makroskopis jejas listrik pada daerah kontak berupa kerusakan lapisan tanduk kulit
sebagai luka bakar dengan tepi yang menonjol, di sekitarnya terdapat daerah yang pucat
dikelilingi oleh kulit yang hiperemi. Bentuknya sering sesuai dengan benda penyebabnya.
Metalisasi dapat juga ditemukan pada jejas listrik.

Gambar menunjukkan luka masuk listrik pada bahu akibat bersentuhan dengan kabel listrik
yang tidak berisolasi.
Sesuai dengan mekanisme terjadinya, gambaran serupa jejas istrik secara makroskopik juga bisa
timbul akibat persentuhan kulit aengan benda/logam panas (membara). Walaupun demikian
kedua-lya dapat dibedakan dengan pemeriksaan mikroskopis.
Jejas listrik bukanlah tanda intravital karena dapat juga ditim-culkan pada kulit mayat/pasca mati
(namun tanpa daerah hiperemi).
Kematian dapat terjadi karena fibrilasi ventrikel, kelumpuhan ctot pernapasan dan kelumpuhan
pusat pernapasan.
LUKA AKIBAT PETIR
Petir adalah loncatan arus listrik tegangan tinggi antar awan aengan tanah. Tegangan dapat
mencapai 10 mega Volt, dengan kuat arus menca pai 100.000 A. Kematian dapat terjadi karena
efek arus listrik (kelumpuhan susunan saraf pusat, fibrilasi ventrikel), panas dan ledakan gas
panas yang timbul.

aboresent mark berupa kemerahan kulit seperti percabangan pohon yang terdapat pada korban
sambaran petir.

Pakaian yang compang-camping pada korban mati akibat sambaran petir


Pada korban akan ditemukan aboresent mark (kemerahan kulit seperti percabangan pohon),
metalisasi (pemindahan partikel metal dari benda yang dipakai ke dalam kulit), magnetisasi
(benda metal yang dipakai berubah menjadi magnet). Pakaian sering terbakar dan robek-robek
akibat ledakan/panas.
LUKA AKIBAT PERUBAHAN TEKANAN UDARA
Peningkatan tekanan udara yang diikuti oleh perubahan volume gas di dalam tubuh dapat
mengakibatkan trauma fisik, berupa barotrauma aural, barotrauma pulmoner, penyakit
dekompresi (dis-barisme) dan emboli udara.
Barotrauma aural adalah rasa nyeri ringan dan berdengung pada telinga yang sering dijumpai
pada saat pesawat lepas landas atau pada saat akan mendarat, atau waktu menyelam. Gejala yang
lebih berat adalah retraksi gendang telinga, hiperemi, kongesti telinga tengah dan pecahnya
gendang telinga.
Barotrauma pulmoner dapat berkembang menjadi emfisema, pneumotoraks, kerusakan jaringan
paru dan emboli udara.
Kelainan lain yang dapat timbul adalah nyeri pada gigi ber-kavitas, vertigo, gangguan
penglihatan, gangguan pendengaran serta gangguan keseimbangan.
Perubahan volume gas dalam susunan saraf pusat dapat mengakibatkan tremor, konvulsi,
somnolen, pusing dan mual. Sedangkan perubahan volume gas pada persendian mengakibatkan
artralgia hiperbarik.
Penyakit dekompresi merupakan reaksi fisiologik terhadap tekanan tinggi. Pada saat tekanan
tinggi, kelarutan gas-gas tubuh terutama nitro gen akan meningkat. Apabila kemudian terjadi
penurunan tekanan secara tiba-tiba, maka kelarutan gas juga akan turun sehingga terjadi pembe
basan gas-gas tersebut dalam bentuk gelembung gelembung mikro dalam pembuluh darah

(emboli udara) dan jaringan. Gejala utama adalah nyeri, pusing, paralisis, napas pendek,
kelelahan ekstremitas dan kolaps.
LUKA AKIBAT TRAUMA BAHAN KIMIA
Trauma kimia sebenarnya hanya merupakan efek korosi dari asam kuat dan basa kuat. Asam kuat
sifatnya mengkoagulasikan protein sehingga menimbulkan luka korosi yang kering, keras seperti
kertas perkamen, sedangkan basa kuat bersifat membentuk reaksi penyabunan intra sel sehingga
menimbulkan luka yang basah, licin dan kerusakan akan terus berlanjut sampai dalam. Karena
biasanya bahan kimia asam atau basa terdapat dalam bentuk cair (larutan pekat), maka bentuk
luka biasanya sesuai dengan mengalirnya bahan cair tersebut.

Gambar menunjukkan luka bakar akibat bahan kimia korosifyang ditelan oleh korban.
Perhatikan ada bagian yang bebas luka bakar pada sebagian dagu yang menunjukkan bahwa
saat meminum, korban dalam posisi m.enunduk.
.UKA AKIBAT RADIASI DAN TRAUMA AKUSTIK
Luka akibat radiasi dan trauma akustik sangat jarang terjadi aan umumnya tidak berkaitan
dengan Ilmu Kedokteran Forensik.
j NTRAVITALITAS ATAU REAKSI VITAL TERHADAP LUKA
Pada tubuh manusia yang masih hidup, adanya trauma akan -enyeebabkan timbulnya reaksi
tubuh terhadap trauma tersebut, lengan menemukan reaksi tubuh terhadap trauma, maka dapat z
pastikan bahwa saat terjadi trauma, yang bersangkutan masih -dup, atau dengan perkataan lain,
luka terjadi intravital.
Reaksi vital yang umum adalah: Perdarahan berupa Ekimosis, petechiae dan terjadinya Emboli

Pada penilaian terhadap perdarahan, harus dilakukan dengan teliti terutama bila luka terletak
didaerah hipostasis. Luka-luka pada orban harus diperhatikan dengan seksama termasuk saluran
luka/ perusakan jaringan bawah kulit.
Emboli lemak dapat terjadi pada kasus patah tulang dan trauma tumpul jaringan lemak
sedangkan emboli udara terjadi bila ada vena superfisial yang terbuka dan emboli jaringan dapat
terjadi z a alat dalam, misalnya hati mengalami kerusakan.
Kadar laktat darah dapat digunakan sebagai cerminan reaksi adrenergik, adalah parameter
terjadinya suatu situasi stres premortal, -,salnya pada kecelakaan pesawat terbang.
Reaksi radang, sepsis dan terjadinya ulcus duodeni/ven-trikulus (curling's ulcer) dapat pula
sebagai indikator intravitalitas.
Luka bakar intravital dapat ditentukan dengan dengan melihat adanya erifema di sekeliling
vesikel/bullae dan pemeriksaan mik-'oskopik menunjukkan pelebaran kapiler, sebukan lekosit
PMN, perdarahan dan edema.
Adanya jelaga pada saluran napas dan lambung serta CO-Hb darah (10%), serta cyanida
(kadang-kadang) menunjukkan bahwa orang tersebut masih hidup sewaktu terbakar.
Reaksi intravital terhadap trauma dapat pula tampak sebagai peningkatan kadar histamin
bebas serta serotonin pada jaringan yang mengalami trauma.
Demikianpula perubahan aktivitas enzymatik LDH pada jaringan yang mengalami perlukaan,
reaksi penyembuhan dan terjadinya granulasi serta terjadinya sebukan sel radang baik yang akut
maupun yang kronik, semuanya menunjukkan bahwa luka yang terjadi adalah luka semasa
korban masih hidup.
KEMATIAN akibat ASFIKSIA MEKANIK
Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara
pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan
karbon di-: s da (hiperkapnea). Dengan demikian organ tubuh mengalami kekangan oksigen
(hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian.
Dari segi Etiologi, asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut:
1. Penyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernapasan seperti laringitis
difteri atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru.

2. Trauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang mengakibatkan
emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral; sumbatan atau halangan pada saluran
napas dan sebagainya.
3. Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan misalnya barbiturat, narkotika.
ASFIKSIA MEKANIK.
Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara per--apasan terhalang memasuki
saluran pernapasan oleh berbagai skerasan (yang bersifat mekanik), misalnya :
Penutupan lubang saluran pernapasan bagian atas : Pembekapan (smothering) Penyumbatan
(Gagging dan choking)
Penekanan dinding saluran pernapasan : Penjeratan (strangulation) Pencekikan (manual
strangulation, throttling) Gantung (hanging)
Penekanan dinding dada dari luar (asfiksia traumatik)
Saluran pernapasan terisi air (tenggelam, drowning)
Karena mekanisme kematian pada kasus tenggelam bukan murni disebabkan oleh asfiksia, maka
ada sementara ahli yang tidak agi memasukkan tenggelam ke dalam kelompok asfiksia mekanik,
tetapi dibicarakan tersendiri.
Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang capat dibedakan dalam 4 fase,
yaitu :
1. Fase dispnea. Penurunan kadar oksigen sel darah merah dan penimbunan C02 dalam plasma
akan merangsang pusat pernapasan di medula oblongata, sehingga amplitudo dan frekuensi
pernapasan akan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meninggi dan mulai tampak tanda-tanda
sianosis terutama pada muka dan tangan.
2. Fase konvulsi. Akibat kadar CO? yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan
saraf pusat sehingga terjadi konvulsi (kejang), yang mula-mula berupa kejang kionik tetapi
kemudian menjadi kejang tonik, dan akhirnya timbul spasme opistotonik.
Pupil mengalami dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah juga menurun. Efek ini
berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak akibat kekurangan O2.
3. Fase apnea. Depresi pusat pernapasan menjadi lebih hebat, pernapasan melemah dan dapat
berhenti. Kesadaran menurun dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran cairan
sperma, urin dan tinja.

4. Fase akhir. Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap. Pernafasan berhenti setelah
kontraksi otomatis otot pernapasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut beberapa saat
setelah pernapasan berhenti.
Masa dari saat asfiksia timbul sampai terjadinya kematian sangat bervariasi. Umumnya berkisar
antara 4-5 menit. Fase 1 dan 2 berlangsung lebih kurang 3-4 menit, tergantung dari tingkat penghalangan oksigen, bila tidak 100% maka waktu kematian akan lebih lama dan tanda-tanda
asfiksia akan lebih jelas dan lengkap.
PEMERIKSAAN JENAZAH
Pada pemeriksaan luar jenazah dapat ditemukan sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan
kuku.
Perbendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kanan merupakan tanda
klasik pada kematian akibat asfiksia.
Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan terbentuk lebih cepat. Distribusi lebam
lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi dan aktivitas fibrinolisin dalam darah sehingga darah
sukar membeku dan mudah mengalir. Tingginya fibrinolisin ini sangat berhubungan dengan
cepatnya proses kematian.
Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan aktivitas
pernapasan pada fase 1 yang disertai sekresi selaput lendir saluran napas bagian atas. Keluar
masuknya udara yang cepat dalam saluran sempit akan menimbulkan busa yang kadangkadang
bercampur darah akibat pecahnya kapiler.
Gambaran perbendungan pada mata berupa pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi
dan palbebra yang terjadi pada fase 2. Akibatnya tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah
meningkat terutama dalam vena, venula dan kapiler. Selain itu, hipoksia dapat merusak endotel
kapiler sehingga dinding kapiler yang terdiri dari selapis sel akan pecah dan timbul bintik-bintik
perdarahan yang dinamakan sebagai Tardieu's spot.
Kapiler yang lebih mudah pecah adalah kapiler pada jaringan ikat longgar, misalnya pada
konjungtiva bulbi, palpebra dan subserosa lain. Kadang-kadang dijumpai pula di kulit wajah.
Penulis lain mengatakan bahwa Tardieu's spot ini timbul karena permeabilitas kapiler
yang meningkat akibat hipoksia.
PEMERIKSAAN BEDAH JENAZAH.
Kelainan yang umum ditemukan pada pembedahan jenasah korban mati akibat asfiksia adalah:

1. Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer, karena fibri-nolisin darah yang meningkat
pasca mati.
2. Busa halus di dalam saluran pernafasan.
3. Perbendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat,
berwarna lebih gelap dan pada pengirisan banyak mengeluarkan darah.
4. Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikar-dium pada bagian belakang jantung
daerah aurikulo-ventrikular, subpleura viseralis paru terutama di lobus bawah pars diafragmatika
dan fisura interlobaris, kulit kepala sebelah dalam terutama daerah otot temporal, mukosa
epiglotis dan daerah sub-glotis.
5. Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhu- bun-gan dengan hipoksia.
6. Kelainan-kelainan yang berhubungan dengan kekerasan, seperti fraktur laring langsung atau
tidak langsung, perdarahan faring terutama bagian belakang rawan krikoid (pleksus vena
submukosa dengan dinding tipis).
PEMBEKAPAN
Smothering (pembekapan) adalah penutupan lubang hidung zan mulut yang menghambat
pemasukan udara ke paru-paru. Pem-r-eopan menimbulkan kematian akibat asfiksia.
Cara kematian yang berkaitan dengan pembekapan dapat
berupa :
1. Bunuh diri (suicide). Bunuh diri dengan cara pembekapan masih mungkin terjadi misalnya
pada penderita penyakit jiwa, orang tahanan dengan menggunakan gulungan kasur, bantal,
pakaian, yang diikatkan menutupi hidung dan mulut.
2. Kecelakaan (accidental smothering). Kecelakaan dapat terjadi misalnya pada bayi dalam
bulan-bulan pertama kehidupannya, terutama bayi prematur bila hidung dan mulut tertutup oleh
bantal atau selimut.
Anak-anak dan dewasa muda yang terkurung dalam suatu tempat yang sempit dengan sedikit
udara, misalnya terbekap dengan atau dalam kantung plastik.
Orang dewasa yang terjatuh waktu bekerja atau pada penderita epilepsi yang mendapat serangan
dan terjatuh, sehingga mulut dan hidung tertutup dengan pasir, gandum, tepung dan sebagainya..
3. Pembunuhan {homicidal smothering). Biasanya terjadi pada kasus pembunuhan anak sendiri.
Pada orang dewasa hanya terjadi pada orang yang tidak berdaya seperti orang tua, orang sakit
berat, orang dalam pengaruh obat atau minuman keras.

Bila pembekapan terjadi dengan benda yang lunak, maka pada pemeriksaan luar jenazah
mungkin tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Tanda kekerasan yang dapat ditemukan
tergantung dari jenis benda yang digunakan dan kekuatan menekan.
Kekerasan yang mungkin terdapat adalah luka lecet jenis tekan atau geser, goresan kuku dan luka
memar pada ujung hidung, bibir, pipi dan dagu yang mungkin terjadi akibat korban melawan.

Memar pada permukaan belakang bibir pada kasus pembekapan.


Luka memar atau lecet pada bagian/permukaan dalam bibir akibat bibir yang terdorong dan
menekan gigi, gusi dan lidah. Luka memar atau lecet pada bagian belakang tubuh korban.
Selanjutnya ditemukan tanda-tanda asfiksia baik pada pemeriksaan luar maupun pada
pembedahan jenazah. Perlu pula dilakukan pemeriksaan kerokan bawah kuku korban, adakah
darah atau epitel kulit si pelaku.
GAGGING DAN CHOCKING
Pada keadaan ini, terjadi sumbatan jalan napas oleh benda asing, yang mengakibatkan hambatan
udara untuk masuk ke paru-paru.
Pada gagging, sumbatan terdapat dalam orofaring, sedangkan aoa choking sumbatan terdapat
lebih dalam pada laringofaring.
Mekanisme kematian yang mungkin terjadi adalah asfiksia atau =*eks vagal akibat rangsangan
pada reseptor nervus vagus di arkus arng, yang menimbulkan inhibisi kerja jantung dengan
akibat car-zac arrest dan kematian.
Kematian dapat terjadi sebagai akibat:
1. Bunuh diri (suicide). Hal ini jarang terjadi karena sulit untuk memasukkan benda asing ke
dalam mulut sendiri disebabkan adanya refleks batuk atau muntah. Umumnya korban adalah
penderita sakit mental atau tahanan.

2. Pembunuhan (homicidal choking). Umumnya korban adalah bayi, orang dengan fisik lemah
atau tidak berdaya.
3. Kecelakaan {accidental choking). Pada bolus death yang terjadi bila tertawa atau menangis
saat makan, sehingga makanan tersedak ke dalam saluran pernapasan. Mungkin pula terjadi
akibat regurgitasi makanan yang kemudian masuk ke dalam saluran pernapasan.
Pada pemeriksaan jenazah dapat ditemukan tanda-tanda asfik-a baik pada pemeriksaan luar
maupun pembedahan jenazah. Dalam rongga mulut (orofaring atau laringofaring) ditemukan
sumbatan berupa sapu tangan, kertas koran, gigi palsu, bahkan pernah atemukan arang, batu dan
sebagainya. Bila benda asing tidak ^temukan, cari kemunginan adanya tanda kekerasan yang
diaki-atkan oleh benda asing.
NCEKIKAN {MANUAL STANGULATION)
Pencekikan adalah penekanan leher dengan tangan, yang me-ecabkan dinding saluran napas
bagian atas tertekan dan terjadi enyempitan saluran nafas sehingga udara pernafasan tidak dapat
e.'.at.
Mekanisme kematian pada pencekikan adalah :
1. Asfiksia.
2. Refleks vagal, terjadi sebagai akibat rangsangan pada reseptor nervus vagus pada corpus
caroticus (carotid body) di percabangan arteri karotis interna dan eksterna. Refleks vagal ini
jarang sekali terjadi.
Pada pemeriksaan jenazah ditemukan perbendungan pada -^ka dan kepala karena turut tertekan
pembuluh darah vena dan teri yang superfisial, sedangkan arteri vertebralis tidak terganggu.
Tanda-tanda kekerasan pada leher ditemukan dengan dis-ousi berbeda-beda, tergantung pada
cara mencekik: Luka-luka ecet pada kulit, berupa luka lecet kecil, dangkal, berbentuk bulan abit
akibat penekanan kuku jari.
Luka-luka memar pada kulit, bekas tekanan jari, merupakan petunjuk berharga untuk
menentukan bagaimana posisi tangan pada saat mencekik. Akan menyulitkan bila terdapat
memar subkutan luas, sedangkan pada permukaan kulit hanya tampak memar berbintik.
Memar atau perdarahan pada otot-otot bagian dalam leher, dapat terjadi akibat kekerasan
langsung. Perdarahan pada otot ster-nokleido-mastoideus dapat disebabkan oleh kontraksi yang
kuat pada otot tersebut saat korban melawan.

Fraktur pada tulang lidah (os hyoid) dan kornu superior rawan gondok yang unilateral lebih
sering terjadi pada pencekikan, namun semuanya tergantung pada besar tenaga yang
dipergunakan saat pencekikan. Patah tulang lidah kadang-kadang merupakan satu-satunya bukti
adanya kekerasan, bila mayat sudah lama dikubur sebelum diperiksa.
Pada pemeriksaan jenazah, bila mekanisme kematian adalah asfiksia, maka akan ditemukan
tanda-tanda asfiksia. Tetapi bila mekanisme kematian adalah refleks vagal, yang menyebabkan
jantung tiba-tiba berhenti berdenyut, sehingga tidak ada tekanan in-travaskular untuk dapat
menimbulkan perbendungan, tidak ada perdarahan petekial, tidak ada edema pulmoner dan pada
otot-otot leher bagian dalam hampir tidak ditemukan perdarahan. Diagnosis kematian akibat
refleks vagal hanya dapat dibuat pereksklusionam.
PENJERATAN (STRANGULATION)
Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen, kawat, kabel,
kaos kaki dan sebagainya, melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat, sehingga saluran pernapasan tertutup.
Berbeda dengan gantung diri yang biasanya merupakan suicide (bunuh diri) maka penjeratan
biasanya adalah pembunuhan.
Mekanisme kematian pada penjeratan adalah akibat asfiksia atau refleks vaso-vagal
(perangsangan reseptor pada carotid body).
Pada gantung diri, semua arteri di leher mungkin tertekan, sedangkan pada penjeratan, arteri
vertebralis biasanya tetap paten. Hal ini disebabkan oleh karena kekuatan atau beban yang
menekan pada penjeratan biasanya tidak besar.
Jerat. Bila jerat masih ditemukan melingkari leher, maka jerat tersebut harus disimpan dengan
baik sebab merupakan benda bukti dan dapat diserahkan kepada penyidik bersama-sama dengan
Visum et Repertum nya.
Terdapat dua jenis simpul jerat, yaitu simpul hidup (lingkar jerat dapat diperbesar atau
diperkecil) dan simpul mati (lingkar jerat tidak dapat diubah). Simpul harus diamankan dengan
melakukan pengikatan dengan benang agar tidak berubah pada waktu mengangkat jerat.
Untuk melepaskan jerat dari leher, jerat harus digunting serong .angan melintang) pada tempat
yang berlawanan dari letak simpul, sehingga dapat direkonstruksikan kembali di kemudian hari.
Kedua -, jng jerat harus diikat sehingga bentuknya tidak berubah.

Jejas jerat Jejas jerat pada leher biasanya mendatar, melingkari leher dan terdapat lebih rendah
daripada jejas jerat pada kasus gantung. Jejas biasanya terletak setinggi atau di bawah rawan
gondok.
Keadaan jejas jerat pada leher sangat bervariasi. Bila jerat -nak dan lebar seperti handuk atau
selendang sutera, maka jejas -iungkin tidak ditemukan dan pada otot-otot leher sebelah dalam
aapat atau tidak ditemukan sedikit resapan darah. Tali yang tipis seperti kaus kaki nylon akan
meninggalkan jejas dengan lebar tidak eoih dari 2-3 mm.
Pola jejas dapat dilihat dengan menempelkan transparant scotch tape pada daerah jejas di leher,
kemudian ditempelkan pada aca obyek dan dilihat dengan mikroskop atau dengan sinar ultra
. olet.
Bila jerat kasar seperti tali, maka bila tali bergesekan pada saat orban melawan akan
menyebabkan luka lecet di sekitar jejas jerat, .ang tampak jelas berupa kulit yang mencekung
berwarna coklat dengan perabaan kaku seperti kertas perkamen (luka lecet tekan). 3ada otot-otot
leher sebelah dalam tampak banyak resapan darah.
Cara kematian dapat berupa:
1. Bunuh diri (self strangulation). Hal ini jarang dan menyu- lit-kan diagnosis. Pengikatan
dilakukan sendiri oleh korban dengan simpul hidup atau bahan hanya dililitkan saja, dengan
jumlah lilitan lebih dari satu.
2. Pembunuhan. Pengikatan biasanya dengan simpul mati dan sering terlihat bekas luka pada
leher.
3. Kecelakaan. Dapat terjadi pada orang yang sedang bekerja
dengan selendang di leher dan tertarik masuk ke mesin.
GANTUNG (HANGING)
Kasus gantung hampir sama dengan penjeratan. Perbedaannya terdapat pada asal tenaga yang
dibutuhkan untuk memperkecil lingkaran jerat.
Pada penjeratan, tenaga tersebut datang dari luar, sedangkan pada kasus gantung, tenaga tersebut
berasal dari berat badan korban sendiri, meskipun tidak perlu seluruh berat badan digunakan.
Mekanisme kematian pada kasus gantung:
1. Kerusakan pada batang otak dan medulla spinalis. Hal
ini terjadi akibat dislokasi atau fraktur vertebra ruas leher, misalnya pada judicial hanging
(hukum gantung).

Terhukum dijatuhkan dari ketinggan 2 meter secara mendadak dengan "menghilangkan" tempat
berpijaknya sehingga mengakibatkan terpisahnya C2-C3 atau C3-C4, yang juga terjadi akibat
terdorong oleh simpul besar yang terletak pada sisi leher. Medula spinalis bagian atas akan tertarik/teregang atau terputar dan menekan medula oblong-ata. Kadang-kadang medula oblongata
pada batas pons terputar sehingga mennyebabkan hilang kesadaran, sedangkan denyut jantung
dan pernapasan masih berlangsung sampai 10-15 menit.
Pada autopsi sering ditemukan adanya faring yang terluka dan biasanya tidak ada perbendungan,
sedangkan arteri karotis terpu tar sebagian atau seluruhnya.
2. Asfiksia akibat terhambatnya aliran udara pernapasan.
3. Iskemia otak akibat terhambatnya aliran arteri-arteri leher.
4. Refleks vagal.
Kasus gantung biasanya merupakan kasus bunuh diri (gantung diri) meskipun kasus
pembunuhan kadang-kadang dilaporkan, yaitu untuk menunjukan kesan seolah-olah si korban
bunuh diri dengan maksud untuk menghilangkan jejak pembunuhan.
Posisi korban pada kasus gantung diri:
1. Kedua kaki tidak menyentuh lantai (complete hanging).
2. Duduk berlutut (biasanya menggantung pada daun pintu).
3. Berbaring (biasanya di bawah tempat tidur). Diketahui terdapat beberapa jenis gantung diri:
1. Typical hanging, terjadi bila titik gantung terletak di atas darah oksiput dan tekanan pada
arteri karotis paling besar.
2. Atypical hanging, bila titik penggantungan terdapat di samping, sehingga leher dalam posisi
sangat miring (fleksi lateral) yang akan mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri
vertebralis. Saat arteri terhambat, korban segera tidak sadar.
3. Kasus dengan letak titik gantung di depan atau dagu.
Pada pemeriksaan jenazah, kelainan pada autopsi tergantung pada apakah arteri pada leher
tertutup atau tidak. Bila jerat kecil dan keras maka terjadi hambatan total arteri sehingga muka
akan tampak pucat dan tidak terdapat petekie pada kulit maupun konjungtiva.
Bila jerat lebar dan lunak maka hambatan hanya terjadi pada saluran pernapasan dan pada aliran
vena dari kepala ke leher, sehingga akan tampak perbendungan pada daerah sebelah atas ikatan.
Kadangkadang perbendungan akan dialirkan melalui pleksus vena vertebralis yang tidak begitu
mudah tertekan seperti sistem vena jugularis, meskipun pengikatan tetap atau tidak berubah.

Pada keadaan di atas, darah tidak terkumpul di otak, se-pangkan pada kulit dan konjungtiva
masih terdapat petekie yang -erupakan akibat terkumpulnya darah ekstra-vaskular.
Jejas jerat relatif terletak lebih tinggi pada leher dan tidak menatar, melainkan lebih meninggi di
bagian simpul, kulit men- cekung i dalam sesuai dengan bahan penjeratnya, berwarna coklat,
perabaan kaku, dan akibat bergesekan dengan kulit leher, maka =ada tepi jejas dapat ditemukan
luka lecet.
Kadang-kadang pada tepi jejas jerat akan terdapat sedikit perdarahan, sedangkan pada jaringan
bawah kulit dan otot-otot sebelah padam terdapat memar jaringan. Namun ini tidak selalu terjadi,
untuk fcj perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopik untuk melihat reaksi .-.al pada jaringan di
bawah jejas untuk menentukan apakah jejas terjadi pada waktu orang masih hidup atau setelah
meninggal.
Patah tulang lidah atau rawan gondok atau keduanya tidak sering terjadi pada kasus gantung.
Rawan gondok biasanya patah pada persambungan kornu superior dengan lamina sedangkan
tulang lidah patah pada atau dekat persambungan taju dan korpus. Fraktur biasanya diliputi sedikit
perdarahan.
Distribusi lebam mayat pada kasus gantung, mengarah ke pawah yaitu pada kaki, tangan dan
genitalia eksterna, bila korban T gantung cukup lama. Pada korban wanita, labium membesar dan
terdapat lebam, sedangkan pada korban laki-laki hal ini terjadi pada skrotum. Penis dapat tampak
seolah mengalami ereksi akibat terkumpulnya darah, sedangkan semen keluar karena relaksasi
otot sf.ngter post mortal.
Asfiksia seksual terjadi pada kasus deviasi seksual yang -enggunakan cara gantung atau jerat
untuk mendapatkan kepuasan, yang karena terlambat mengendurkan tali atau sukar memaskan
diri sesudah tercapai keadaan penurunan kesadaran. Kor-pan biasanya lelaki, pasca adolesens
dan ditemukan tanda penyimpangan seksual lain.
Efek lanjut penekanan saluran pernapasan. Bila korban masih hidup setelah penjeratan, sebagai
akibat perbendungan, maka perdarahan petekie akan menetap selama beberapa hari. Se-pangkan
jejas jerat akan membengkak dan terbentuk kulit keras zada epidermis yang telah terkikis.
Keadaan ini akan menghilang setelah 1-2 minggu. Luka pada laring akan menimbulkan kesulitan
menelan karena nyeri, dan suara serak selama beberapa hari sampai peberapa minggu. Patah
tulang akan menyembuh. Hipoksia serebral ang menimbulkan koma, dapat bersifat menetap

(irreversible), yang bila sembuh akan meninggalkan gejala sisa seperti psikosis, ke-ainan
neurologik, dan lain-lain.
Pemeriksaan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memperkirakan cara kematian
memberikan gambaran:
Alat penjerat:
simpul
jumlah lilitan
arah
jarak ttk tumpu
-simpul
Korban:
jejas jerat
luka perlawanan
luka-luka lain

Pembunuhan

Bunuh Diri

biasa simpul mati


hanya satu
mendatar
dekat

simpul hidup
satu atau lebih
serong ke atas
jauh

berjalan mendatar
+
ada, sering di daerah leher

meninggi ke arah simpul


biasanya tidak ada,
mungkin terdapat luka
percobaan lain.
dekat, dapat tidak tergantung

jarak dari lantai

jauh

TKP:
Lokasi
Kondisi
Pakaian
Alat:

bervariasi
tidak teratur
tak teratur, robek.
dari si pembunuh

tersembunyi
teratur
Rapi dan baik
Berasal dari yang ada di
TKP
Surat peninggalan: +
Ruangan:
tak teratur, terkunci terkunci dari dalam
dari luar
ASFIKSIA TRAUMATIK
Kematian akibat asfiksia traumatik terjadi karena penekanan dari luar pada dinding dada yang
menyebabkan dada terfiksasi dan menimbulkan gangguan gerak pernapasan; misalnya tertimbun
pasir, tanah, runtuhan tembok atau tergencet saat saling berdesakan. Mekanisme kematian dapat
diakibatkan oleh kegagalan pernapasan dan sirkulasi. Pada mayat ditemukan sianosis dan
bendungan hebat.
Perbendungan pada muka menyebabkan muka membengkak dan penuh dengan petekie, edema
konjungtiva dan perdarahan sub-konjungtiva. Petekie terdapat pula pada leher, bokong dan kaki.
TENGGELAM (DROWNING)

Diagnosis kematian akibat tenggelam kadang-kadang sulit ditegakkan, bila tidak dijumpai tanda
yang khas baik pada pemeriksaan luar atau dalam. Pada mayat yang ditemukan terbenam dalam
air, perlu pula diingat bahwa mungkin korban sudah meninggal sebelum masuk ke dalam air.
Keadaan sekitar individu penting. Tenggelam tidak hanya terbatas di dalam air dalam seperti
laut, sungai, danau atau kolam renang, tetapi mungkin pula terbenam dalam kubangan atau
selokan dengan hanya muka yang berada di bawah permukaan air.
Tenggelam biasanya didefinisikan sebagai kematian akibat -a:, lemas (asfiksia) disebabkan
masuknya cairan ke dalam saluran ze-napasan. Sebenarnya istilah tenggelam harus pula
mencakup D-cses yang terjadi akibat terbenamnya korban dalam air yang me--\ebabkan
kehilangan kesadaran dan mengancam jiwa.
Beberapa istilah drowning
1. Wet drowning. Pada keadaan ini cairan masuk ke dalam saluran pernapasan setelah korban
tenggelam.
2. Dry drowning. Pada keadaan ini cairan tidak masuk ke dalam saluran pernapasan, akibat
spasme laring.
3. Secondary drowning. Terjadi gejala beberapa hari setelah korban tenggelam (dan diangkat dari
dalam air) dan korban meninggal akibat komplikasi.
4. Immersion syndrome. Korban tiba-tiba meninggal setelah tenggelam dalam air dingin akibat
refleks vagal. Alkohol dan makan terlalu banyak merupakan faktor pencetus.
Tenggelam dalam air tawar
Pada keadaan ini terjadi absorpsi cairan yang masif. Karena konsentrasi elektrolit dalam air
tawar lebih rendah daripada kon-se-:rasi dalam darah, maka akan terjadi hemodilusi darah, air
masuk ce dalam aliran darah sekitar alveoli dan mengakibatkan pecahnya se darah merah
(hemolisis).
Akibat pengenceran darah yang terjadi, tubuh mencoba mengaisi keadaan ini dengan melapaskan
Ion kalium dari serabut otot antung sehingga kadar ion Kalium dalam plasma meningkat, terjadi
pe-jbahan keseimbangan ion K+ dan Ca++ dalam serabut otot jan--_-g dapat mendorong
terjadinya fibrilasi ventrikel dan penurunan K*anan darah, yang kemudian menyebabkan
timbulnya kematian cbat anoksia otak. Kematian terjadi dalam waktu 5 menit.
Tenggelam dalam air asin (hipertonik)

Konsentrasi elektrolit cairan air asin lebih tinggi daripada dalam zarah, sehingga air akan ditarik
dari sirkulasi pulmonal ke dalam a'ngan interstisial paru yang akan menimbulkan edema
pulmoner, -e-.okon sentrasi, hipovolemi dan kenaikan kadar magnesium da-am darah.
Hemokonsentrasi akan mengakibatkan sirkulasi menjadi a~.bat dan menyebabkan terjadinya
payah jantung. Kematian terjadi .ra-kira dalam waktu 8-9 menit setelah tenggelam.
Mekanisme kematian pada korban tenggelam
1. Asfiksia akibat spasme laring.
2. Asfiksia karena gagging dan choking.
3. Refleks vagal.
4. Fibrilasi ventrikel (dalam air tawar).
5. Edema pulmoner (dalam air asin).
Pada pemeriksaan mayat akibat tenggelam, pemeriksaan harus seteliti mungkin agar mekanisme
kematian dapat ditentukan, karena seringkali mayat ditemukan sudah dalam keadaan membusuk.
Hal penting yang perlu ditentukan pada pemeriksaan adalah :
1. Menentukan identitas korban.
Identitas korban ditentukan dengan memeriksa antara lain:
a. Pakaian dan benda-benda milik korban.
b. Warna dan distribusi rambut dan identitas lain.
c. Kelainan atau deformitas dan jaringan parut.
d. Sidik jari.
e. Pemeriksaan gigi.
f. Teknik identifikasi lain.
2. Apakah korban masih hidup sebelum tenggelam.
Pada mayat yang masih segar, untuk menentukan apakah korban masih hidup atau sudah
meninggal pada saat tenggelam, dapat diketahui dari hasil pemeriksaan.
a. Metode yang memuaskan untuk menentukan apakah orang masih hidup waktu tenggelam ialah
pemeriksaan diatom.
b. Untuk membantu menentukan diagnosis, dapat dibandingkan kadar elektrolit Magnesium
darah dari bilik jantung kiri dan kanan.

c. Benda asing dalam paru dan saluran pernapasan mempunyai nilai yang menentukan pada
mayat yang terbenam selama beberapa waktu dan mulai membusuk. Demikian pula dengan isi
lambung dan usus.
d. Pada mayat yang segar, adanya air dalam lambung dan alveoli yang secara fisik dan kimia
sifatnya sama dengan air tempat korban tenggelam mempunyai nilai yang bermakna.
e. Pada beberapa kasus, ditemukannya kadar alkohol tinggi dapat menjelaskan bahwa korban
sedang dalam keracunan alkohol pada saat masuk ke dalam air.
3. Penyebab kematian yang sebenarnya dan jenis drowning.
Pada mayat yang segar, gambaran pasca-mati dapat menunjukkan tipe drowning dan juga
penyebab kematian lain seperti penyakit, keracunan atau kekerasan lain.
Pada kecelakaan di kolam renang benturan ante-mortem (ante mortem impact) pada tubuh bagian
atas, misalnya memar pada muka, perlukaan pada vertebra servikalis dan medula spinalis dapat
ditemukan.
4. Faktor-faktor yang berperan pada proses kematian.
Faktor-faktor yang berperan pada proses kematian, misalnya kekerasan, alkohol atau obat-obatan
dapat ditemukan pada pemeriksaan luar atau melalui bedah jenazah.
5. Tempat korban pertama kali tenggelam.
Bila kematian korban berhubungan dengan masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan, maka
pemeriksaan diatom dari air tempat korban ditemukan dapat membantu menentukan apakah
korban tenggelam di tempat itu atau di tempat lain.
6. Apakah ada penyulit alamiah lain yang mempercepat kematian.
a. Bila sudah ditentukan bahwa korban masih hidup pada waktu masuk ke dalam air, maka perlu
ditentukan apakah kematian disebabkan karena air masuk ke dalam saluran
pernapasan(teggeelam). Pada immer-sion, kematian terjadi dengan cepat, hal ini mungkin disebabkan oleh sudden cardiac arrest yang terjadi pada waktu cairan melalui saluran pernapasan
bagian atas. Beberapa korban yang terjun dengan kaki terlebih dahulu menyebabkan cairan
dengan mudah masuk ke hidung. Faktor lain adalah keadaan hipersensitivitas dan kadang kadang
keracunan alkohol.
b. Bila tidak ditemukan air dalam paru-paru dan lambung, berarti kematian terjadi seketika
akibat spasme glotis, yang menye babkan cairan tidak dapat masuk.

Waktu yang diperlukan untuk terbenam dapat bervariasi ter-tung dari keadaan sekeliling korban,
keadaan masing-masing Dan, reaksi perorangan yang brsangkutan, keadaan kesehatan, jumlah
serta sifat cairan yang dihisap masuk ke dalam saluran "iapasan.
Korban tenggelam akan menelan air dalam jumlah yang makin a makin banyak, kemudian
menjadi tidak sadar dalam waktu 2-12 vt (fatal period). Dalam periode ini bila korban
dikeluarkan dari ada kemungkinan masih dapat hidup bila upaya resusitasi beril.
Pemeriksaan luar jenazah
1. Mayat dalam keadaan basah, mungkin berlumuran pasir, lumpur dan benda-benda asing lain
yang terdapat dalam air, kalau seluruh tubuh terbenam dalam air.
2. Busa halus pada hidung dan mulut, kadang-kadang berdarah.
3*. Mata setengah terbuka atau tertutup, jarang terdapat perdarahan atau perbendungan.
4. Kutis anserina pada kulit permukaan anterior tubuh terutama pada ekstremitas akibat kontraksi
otot erektor pili yang dapat terjadi karena rangsang dinginnya air.
Gambaran seperti cutis anserina kadangkala dapat juga akibat rigor mortis pada otot tersebut.
5. Washer woman's hand, telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan berkeriput yang
disebabkan karena imbibisi cairan ke dalam kutis dan biasanya membutuhkan waktu lama.
6. Cadaveric spasme, merupakan tanda intravital yang terjadi pada waktu korban berusaha
menyelamatkan diri dengan memegang apa saja seperti rumput atau benda-benda lain dalam air.
7. Luka-luka lecet pada siku, jari tangan, lutut dan kaki akibat gesekan pada benda-benda dalam
air. Puncak kepala mungkin terbentur pada dasar waktu terbenam, tetapi dapat pula terjadi luka
post-mortal akibat benda-benda atau binatang dalam air.
Pemeriksaan bedah jenazah
1. Busa halus dan benda asing (pasir, tumbuh-tumbuhan air) dalam saluran pernapasan (trakhea
dan percabangannya)
2. Paru-paru membesar seperti balon, lebih berat, sampai menutupi kandung jantung. Pada
pengirisan banyak keluar cairan. Kea daan ini terutama terjadi pada kasus tenggelam di laut.
3. Petekie sedikit sekali karena kapiler terjepit di antara septum inter alveolar. Mungkin terdapat
bercak-bercak perdarahan yang disebut bercak Paltauf akibat robeknya penyekat alveoli (Polsin).
Petekie subpleural dan bula emfisema jarang terdapat dan ini bukan merupakan tanda khas
tenggelam tetapi mungkin disebabkan oleh usaha respirasi.

4. Dapat juga ditemukan paru-paru yang "biasa" karena cairan tidak masuk ke dalam alveoli atau
cairan sudah masuk ke dalam aliran darah (melalui proses imbibisi), Ini dapat terjadi pada kasus
tenggelam di air tawar.
5. Otak, ginjal, hati dan limpa mengalami perbendungan.
6. Lambung dapat sangat membesar, berisi air, lumpur dan sebagainya yang mungkin pula
terdapat dalam usus halus.
Pemeriksaan laboratorium
1. Pemeriksaan diatom. Alga (ganggang) bersel satu dengan dinding terdiri dari silikat (Si02)
yang tahan panas dan asam kuat. Diatom ini dapat dijumpai dalam air tawar, air laut, air sungai,
air sumur dan udara.
Bila seseorang mati karena tenggelam maka cairan bersama diatom akan masuk ke dalam saluran
pernapasan atau percernaan, kemudian diatom akan masuk ke dalam aliran darah melalui
kerusakan dinding kapiler pada waktu korban masih hidup dan tersebar ke seluruh jaringan.
Pemeriksaan diatom dilakukan pada jaringan paru mayat segar. Bila mayat telah membusuk,
pemeriksaan diatom dilakukan dari jaringan ginjal, otot skelet atau sumsum tulang paha.
Pemeriksaan diatom pada hati dan limpa kurang bermakna sebab dapat berasal dari penyerapan
abnormal dari saluran pencernaan terhadap air minum atau makanan.
Pemeriksaan destruksi (digesti asam) pada paru. Ambil jaringan perifer paru sebanyak 100 gram,
masukkan ke dalam labu Kjeidahl dan tambahkan asam sulfat pekat sampai jaringan paru
terendam, diamkan lebih kurang setengah hari agar jaringan hancur. Kemudian dipanaskan
dalam lemari asam sambil diteteskan asam nitrat pekat sampai terbentuk cairan yang jernih,
dinginkan dan cairan dipusing dalam centrifuge.
Sedimen yang terjadi ditambah dengan akuades, pusing kembali dan akhirnya dilihat dengan
mikroskop. Pemeriksaan diatom positif bila pada jaringan paru ditemukan diatom cukup banyak,
4-5/LPB atau 10-20 per satu sediaan; atau pada sumsum tulang cukup ditemukan hanya satu.
Pemeriksaan getah paru. Permukaan paru disiram dengan air bersih, iris bagian perifer, ambil
sedikit cairan perasan dari jaringan perifer paru, taruh pada gelas obyek, tutup dengan kaca
penutup dan lihat dengan mikroskop.
Selain diatom dapat pula terlihat ganggang atau tumbuhan jenis lainnya.

Gambar menunjukkan salah satu jenis diatom yang terdapat dalam air tempat korban
tenggelam, yang juga ditemukan dalam paru-paru korban.
2. Pemeriksaan darah jantung. Pemeriksaan berat jenis dan kadar elektrolit pada darah yang
berasal dari bilik jantung kiri dan bilik jantung kanan.
Bila tenggelam di air tawar, berat jenis dan kadar elektrolit dalam darah jantung kiri lebih rendah
dari jantung kanan. Sedangkan pada tenggelam di air asin terjadi sebaliknya.
Perbedaan kadar elektrolit lebih dari 10% dapat menyokong diagnosis, walaupun secara
tersendiri kurang bermakna.
Diagnosis tenggelam
Bila mayat masih segar (belum terdapat pembusukan), maka diagnosis kematian akibat
tenggelam dapat dengan mudah ditegakkan melalui pemeriksaan yang teliti dari:
pemeriksaan luar.
pemeriksaan dalam.
pemeriksaan laboratorium berupa histologi jaringan, destruksi jaringan dan berat jenis serta
kadar elektrolit darah.
Bila mayat sudah membusuk, maka diagnosis kematian akibat tenggelam dibuat berdasarkan
adanya diatom yang cukup banyak pada paru-paru yang bila disokong oleh penemuan diatom
pada ginjal, otot skelet atau diatom pada sumsum tulang, maka diagnosis akan menjadi makin
pasti.
TOKSIKOLOGI
Toksikologi ialah ilmu yang mempelajari sumber, sifat serta cnasiat racun, gejala-gejala dan
pengobatan pada keracunan, serta = ainan yang didapatkan pada korban yang meninggal.
RACUN
Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan 1s ologik yang dalam dosis toksik
akan menyebabkan gangguan esehatan atau mengakibatkan kematian.

PENGGOLONGAN
Berdasarkan sumber, dapat dibagi menjadi racun yang berasal pari tumbuh-tumbuhan: opium
(dari papaver somniferum), kokain, c-rare, aflatoksin (dari aspergilus niger), berasal dari hewan :
bisa/ xxsin ular/laba-laba/hewan laut, mineral: arsen, timah hitam atau sintetik: heroin.
Berdasarkan tempat di mana racun berada, dapat dibagi -enjadi racun yang terdapat di alam
bebas, misalnya gas racun di aam, racun yang terdapat di rumah tangga; misalnya deterjen,
desinfektan, insektisida, pembersih (cleaners). racun yang digunakan pa am pertanian, misalnya
insektisida, herbisida, pestisida. Racun jang digunakan dalam indusutri dan laboratorium,
misalnya asam pan basa kuat, logam berat. Racun yang terdapat dalam makanan, - salnya CN
dalam singkong, toksin botulinus, bahan pengawet, zat p tif serta 'racun' dalam bentuk obat,
misalnya hipnotik, sedatif, dll.
Dapat pula pembagian racun berdasarkan organ tubuh yang p pengaruhi, misalnya racun yang
bersifat hepatotoksik, nefrotoksik.
Berdasarkan mekanisme kerja, dikenal racun yang mengikat p-gus sulfhidril (-SH) misalnya Pb,
yang berpengaruh pada ATP-ase, ang membentuk methemoglobin misalnya nitrat dan nitrit.
(Nitrat paJam usus oleh flora usus diubah menjadi nitrit).
Pembagian lain didasarkan atas cara kerja/efek yang ditimbulkan. Ada racun yang bekerja lokal
dan menimbulkan beberapa -eaksi misalnya perangsangan, peradangan atau korosif. Kea daan r
dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan dapat menye bab-an kematian akibat syok
neurogenik. Contoh racun korosif adalah asam dan basa kuat: H2SO4, HNO3, NaOH, KOH;
golongan halogen seperti fenol, lisol dan senyawa logam. Racun yang bekerja sistemik pan
mempunyai afinitas terhadap salah satu sistem misalnya bar-biturat, alkohol, morfin terhadap
susunan saraf pusat, digitalis, ok-saat terhadap jantung, CO terhadap hemoglobin darah. Terdapat
P'_,a racun yang mempunyai efek lokal dan sistemik sekaligus misal-~,a asam karbol
menyebabkan erosi lambung dan sebagian yang pabsorpsi akan menimbulkan depresi susunan
saraf pusat.
Tetra-etil lead yang masih terdapat dalam campuran bensin selain mempunyai efek iritasi, jika
diserap dapat menimbulkan hemolisis akut.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERACUNAN
Pelbagai faktor mempengaruhi terjadinya keracunan.

Cara masuk. Keracunan paling cepat terjadi jika masuknya racun secara inhalasi. Cara masuk
lain, berturut-turut ialah intravena, intramus kular, intraperitoneal, subkutan, peroral dan paling
lambat ialah bila melalui kulit yang sehat.
Umur. Kecuali untuk beberapa jenis racun tertentu, orang tua dan anak-anak lebih sensitif
misalnya pada barbiturat. Bayi prematur lebih rentan terhadap obat karena eksresi melalui ginjal
belum sempurna dan aktifitas mikrosom dalam hati belum cukup.
Kondisi tubuh. Penderita penyakit ginjal umumnya lebih mudah mengalami keracunan. Pada
penderita demam dan penyakit lambung, absorpsi dapat terjadi dengan lambat. Bentuk fisik dan
kondisi fisik, misalnya lambung berisi atau kosong.
Kebiasaan sangat berpengaruh pada racun golongan alkohol dan morfin, sebab dapat terjadi
toleransi, tetapi toleransi tidak dapat menetap, jika pada suatu ketika dihentikan, maka toleransi
akan menurun lagi.
Idiosinkrasi dan alergi pada vitamin E, penisilin, streptomisin dan prokain.
Pengaruh langsung racun tergantung pada takaran. Makin tinggi takaran akan makin cepat (kuat)
keracunan. Konsentrasi berpengaruh pada racun yang bekerja secara lokal, misalnya asam sulfat.
Struktur kimia, misalnya calomel (Hg2Cl2) jarang menimbulkan keracunan sedangkan Hg
sendiri dapat menyebabkan kematian. Morfin dan nalorfin yang mempunyai struktur kimia
hampir sama merupakan antagonis. Terjadi addisi antara alkohol dan barbiturat atau alkohol dan
morfin. Dapat pula terjadi sinergisme yang seperti addisi, tetapi lebih kuat. Addisi dan
sinergisme sangat penting dalam masalah mediko-legal.
Waktu pemberian. Untuk racun yang ditelan, jika ditelan sebelum makan, absorpsi terjadi lebih
baik sehingga efek akan timbul lebih cepat. Jangka pemberian untuk waktu lama (kronik) atau
waktu singkat/sesaat.
PRINSIP PENGOBATAN
Pengobatan terhadap kasus keracunan terutama berdasarkan cara masuk racun ke dalam tubuh.
Bila racun ditelan, keluarkan racun tersebut sebanyak mungkin, dengan jalan memuntahkan
(dengan merangsang dinding faring atau pemberian emetik, misalnya sirup ipecacuanha).
Tetapi jika kesadaran sangat menurun, atau racun bersifat cxosif atau racun terlarut dalam
minyak, maka usaha untuk memun-arkan merupakan indikasi kontra.

Aspirasi dan bilas lambung, merupakan indikasi untuk me--geiuarkan racun nonkorosif dan
racun yang menekan susunan saraf pusat. Untuk ini diberikan air hangat atau garam lemah.
Dapat uga diberikan norit. (Indikasi kontra seperti pada cara memuntahkan).
Pemberian pencahar, misalnya natrium sulfat 30 g dalam 200 : air. Mempercepat ekskresi dengan
dialisis (pemberian diuretik -erupakan indikasi kontra). Dapat pula dengan pemberian an-tdotum
spesifik, pada keracunan morfin, diberikan nalorfin atau -aoxon, (keduanya bersifat antagonis
terhadap morfin, tetapi nalor-ir Kadang-kadang dapat juga bersifat agonis, sedangkan naloxon
^u-ni antagonis).
Demulcen dalam bentuk pemberian putih telur sebanyak 3 Butir yang dilarutkan dalam 500 cc
air/susu dengan maksud untuk -e.nghambat absorbsi.
Pengobatan simptomatik dan suportif perlu dipertimbangkan, Tergantung dari gejala yang
timbul. Jika terdapat gejala berupa e-ang jangan diberikan barbiturat tetapi sebaiknya
benzodiazepam.
Bila racun masuk secara inhalasi, keluarkan korban dari ruang- agar terhindar dari inhalasi
lebih lanjut. Bila secara parenteral. perin pang kan untuk pemasangan tourniquet. Bila masuk
melalui kulit acaj mengenai mata, bersihkan dengan air leding mengalir, jangan pe~gan bahan
kimia.
KRITERIA DIAGNOSTIK
Diagnosa keracunan didasarkan atas adanya tanda dan gejala ar.g sesuai dengan racun
penyebab. Dengan analisis kimiawi dapat pip-ktikan adanya racun pada sisa barang bukti. Yang
terpenting pada penegakan diagnosis keracunan adalah dapat ditemukan racun/sisa racun dalam
tubuh/cairan tubuh korban, jika racun sienjaiar secara sistemik serta terdapatnya kelainan pada
tubuh cocban, baik makroskopik maupun mikroskopik yang sesuai dengan -ac^n penyebab.
Disamping itu perlu pula dipastikan bahwa korban "E-sebut benar-benar kontak dengan racun.
Yang perlu diperhatikan untuk pemeriksaan korban keracunan aah: keterangan tentang racun apa
kira-kira yang merupakan penyebabnya, dengan demikian pemeriksaan dapat dilakukan dengan
lebih terarah dan dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya.
= EMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK
Korban mati akibat keracunan umumnya dapat dibagi menjadi 2 golongan, yang sejak semula
sudah dicurigai kematian diakibatkan peh keracunan dan kasus yang sampai saat sebelum
autopsi p akukan, belum ada kecurigaan terhadap kemungkinan keracunan.

Harus dipikirkan kemungkinan kematian akibat keracunan bila pada pemeriksaan setempat
(scene investigation) terdapat kecurigaan akan keracunan, bila pada autopsi ditemukan kelainan
yang lazim ditemukan pada keracunan dengan zat tertentu, misalnya lebam mayat yang tidak
biasa (cherry pink colour pada keracunan CO; merah terang pada keracunan CN; kecoklatan
pada keracunan nitrit, nitrat, anilin, fenasetin dan kina); luka bekas suntikan sepanjang vena dan
keluarnya buih dari mulut dan hidung (keracunan morfin); bau amandel (keracunan CN)atau bau
kutu busuk (keracunan malation) serta bila pada autopsi tak ditemukan penyebab kematian
(negative autopsy).
Dalam menangani kasus kematian akibat keracunan perlu dilakukan beberapa pemeriksaan
penting yaitu: Pemeriksaan di tempat kejadian, autopsi dan analisis toksikologik.
PEMERIKSAAN DI TEMPAT KEJADIAN
Pemeriksaan di tempat kejadian penting untuk membantu penentuan penyebab kematian dan
menentukan cara kematian. Pemeriksaan harus ditujukan untuk menjelaskan apakah mungkin
orang itu mati akibat keracunan, misalnya dengan memeriksa tempat obat, apakah ada sisa obat
atau pembungkusnya. Jika diduga korban adalah seorang morfinis, cari bubuk heroin,
pembungkusnya atau alat penyuntik.
Bila terdapat muntahan, apakah berbau fosfor (bau bawang putih); bagaimana sifat muntahan
misalnya seperti bubuk kopi (zat kaustik), berwarna hitam (H2SO4 pekat), kuning (HNO3), biru
kehijauan (CUSO4).
Apakah terdapat gelas atau alat minum lain, atau ada surat perpisahan/peninggalan jika
merupakan kasus bunuh diri.
Mengumpulkan keterangan sebanyak mungkin tentang saat kematian, kapan terakhir kali
ditemukan dalam keadaan sehat, sebelum kejadian ini apakah ia sehat-sehat saja. Berapa lama
gejala timbul setelah makan/minum terakhir, dan apa gejala-gejalanya. Bila sebelumnya sudah
sakit, apa penyakitnya dan obat-obat apa yang diberikan serta siapa yang memberi. Harus
ditanyakan pada dokter yang memberi obat, apa penyakitnya, obat-obat apa yang diberikan dan
berapa banyak, juga ditanyakan apakah apotik memberikan obat yang sesuai. Obat yang tersisa
dihitung jumlahnya.
Pada kasus kecelakaan, misalnya pada anak-anak, tanyakan di mana zat beracun disimpan,
apakah dekat makanan-minuman. Apakah anak biasa makan sesuatu yang bukan makanan.

Bagaimana keadaan emosi korban tersebut sebelumnya dan apakah pekerjaan korban, sebab
mungkin saja racun diambil dari tempat ia bekerja atau mengalami industrial poisoning.
Mengumpulkan barang bukti. Kumpulkan obat-obatan dan ze-oungkusnya; muntahan harus
diambil dengan kertas saring dan is-mpan dalam toples; periksa adanya etiket dari apotik dan
jangan uca untuk memeriksa tempat sampah.
PEMERIKSAAN LUAR
Bau. Dari bau yang tercium dapat diperoleh petunjuk racun wca kiranya yang ditelan oleh
korban. Pemeriksa dapat mencium bau s-andel pada penelanan sianida, bau minyak tanah pada
penelanan rutan insektisida, bau kutu busuk pada malation, bau ammonia, TSTCI (asam
karbolat), lisol, alkohol, eter, kloroform dan lain-lain. Va*a pada tiap kasus keracunan pemeriksa
selalu harus memper-tat<an bau yang tercium dari pakaian, lubang hidung dan mulut serta
rongga badan.
Segera setelah pemeriksa berada di samping mayat ia harus -menekan dada mayat dan
menentukan apakah ada suatu bau yang ioa< biasa keluar dari lubang-lubang hidung dan mulut.
Bila peme-iksa sebelumnya telah melakukan autopsi atas mayat lain atau serada dalam kamar
autopsi untuk sekian waktu, maka hendaknya ia a-ar dari kamar autopsi, menghirup udara segar
untuk beberapa imenrt supaya daya tangkap bau menjadi tajam kembali. Beberapa ani
menganjurkan pada setiap autopsi kasus keracunan untuk mem-ou<a pertama-tama rongga
tengkorak dan menentukan bau yang leak biasa yang keluar dari jaringan otak, sebelum bau itu
tersamarkan oleh bau visera yang lazim tercium pada pembukaan o-gga-rongga perut dan dada.
Perlu diketahui bahwa tidak semua orang mampu menangkap :a_ sianida, agaknya kemampuan
untuk menangkap bau sianida atsntukan secara genetik. Selain itu, pada penelanan KCN atau
fcaCN mungkin tidak tercium bau amandel tetapi bau ammonia, tsrena dalam lambung sebagian
KCN atau NaCN telah berubah re-,adi ammonia dan karbonat.
Pakaian. Pada pakaian dapat ditemukan bercak-bercak yang aseoabkan oleh tercecernya racun
yang ditelan atau oleh muntahan. Usainya bercak berwarna coklat karena asam sulfat atau kuning
arena asam nitrat. Penyebaran (distribusi) bercak perlu diper--aton, karena dari penyebaran itu
kadang-kadang dapat diperoleh petunjuk tentang intensi/ kemauan korban, yaitu apakah racun itu
ats an atas kemauannya sendiri (bunuh diri) atau dipaksa (pem-r.--han). Dalam hal korban
dipegangi dan dicocoki secara paksa, ^-a<a bercak-bercak akan tersebar pada daerah yang luas.
Selain itu Bada pakaian mungkin melekat bau racun.

Lebam mayat. Warna lebam mayat yang tidak biasa juga mempunyai makna, karena warna
lebam mayat pada dasarnya adalah ranifestasi warna darah yang tampak pada kulit.
Perhatikan adanya kelainan di tempat masuknya racun. Zat-zat bersifat kaustik atau korosif
menyebabkan luka bakar atau korosi pada bibir, mulut dan kulit di sekitarnya. Pada bunuh diri
dengan menelan asam sulfat atau lisol ditemukan luka bakar yang kering, berwarna coklat,
berbentuk tidak teratur dengan garis-garis yang berjalan dari bibir atau sudut-sudut mulut ke arah
leher. Sebaliknya pada orang dipaksa menelan zat itu akan ditemukan bercak-bercak luka bakar
berbagai bentuk dan ukuran dan tersebar di mana-mana. Penyebaran yang luas demikian juga
dapat ditemukan pada vitrio-lisme (disiram asam sulfat; vitriol=sulfat berbentuk kristal). Pada
asam nitrat, korosi berwarna kuning atau Jingga kuning karena reaksi xanthoproteik. Pada asam
klorida, korosi pada kulit tidak sehebat seperti pada asam sulfat, bahkan kadang-kadang tidak
ditemukan. Pada asam format dapat ditemukan luka-luka bakar berwarna merah coklat, berbatas
tegas dan kelopak mata mungkin membengkak karena ekstravasasi hemoragik.
Pada penelanan alkali kuat ditemukan luka-luka bakar berupa daerah-daerah di mana epidermis
membengkak, berwarna kelabu, dan diantaranya terdapat bercak-bercak dengan epidermis mengelupas, berwarna merah dan basah.
Kulit diperiksa untuk mencari luka bekas suntikan yang baru. Pada pecandu narkotika yang
mempergunakan cara suntikan in-travena (mainliner) dapat ditemukan parut-parut bekas suntikan
yang membentuk sebuah garis sepanjang vena yang terletak superfisial, misalnya pada lengan
bawah. Pada "garis" itu dicari apakah terdapat luka suntik yang segar. Juga pada tatu (rajah)
dapat ditemukan bekas-bekas suntikan yang lama dan mungkin juga segar. Mainliner biasanya
menyuntikkan narkotika pada vena-vena di lipat siku, lengan bawah, punggung tangan, mungkin
pula punggung kaki. Pada penyuntikan subkutan dapat ditemukan pada daerah bagian depan dan
samping. Pada wanita pecandu mungkin ditemukan bekas luka suntikan subkutan pada payudara
atau di bawahnya.
Perubahan kulit, misalnya hiperpigmentasi atau melanosis dan keratosis telapak tangan dan kaki
pada keracunan arsen kronik. Kulit berwarna kelabu kebiru-biruan pada keracunan perak (Ag)
kronik (deposisi perak dalam jaringan ikat dan korium kulit). Kulit akan berwarna kuning pada
keracunan tembaga (Cu) dan fosfor akibat hemolisis; juga pada keracunan insektisida
hidrokarbon dan Arsen karena terjadi gangguan fungsi hati. Dermatitis pada keracunan kronik
salisilat, bromida dan beberapa logam berat seperti arsen dan talium. Vesikel atau bula pada

tumit, bokong dan punggung pada keracunan karbon monoksida dan barbiturat akut, jika korban
sempat hidup beberapa hari. Hal ini mungkin juga ditemukan pada daerah yang tidak mengalami
tekanan, dan disebabkan oleh gangguan trofik.
Kuku. Pada keracunan arsen kronik dapat ditemukan kuku ar.g menebal secara tidak teratur.
Juga pada keracunan talium renik ditemukan kelainan trofik pada kuku.
Rambut. Kebotakan (alopesia) dapat ditemukan pada keracunan talium, arsen, air raksa dan
boraks.
Sklera tampak ikterik pada keracunan dengan zat hepatotoksik seperti fosfor, karbon tetra
klorida. Perdarahan pada pemakaian pccumarol atau akibat bisa ular.
PEMBEDAHAN JENAZAH
Segera setelah rongga perut dan dada dibuka, tentukan apa-an terdapat bau yang tidak biasa
(bau racun). Bila pada pemeriksaan luar tidak tercium 'bau racun' maka sebaiknya rongga tengcecak dibuka terlebih dahulu agar bau visera perut tidak menye-ucjngi bau tersebut, terutama bila
yang dicurigai adalah sianida. Ha- sianida, alkohol, kloroform dan eter akan tercium paling kuat
paam rongga tengkorak.
Inspeksi in situ. Perhatikan warna otot-otot dan alat-alat; pada e^acunan karbon monoksida
tampak berwarna merah muda cerah pan pada sianida merah cerah. Warna coklat pada racun
dengan ekskresi melalui mukosa usus. Peradangan dalam usus karakteristik yntuk keracunan air
raksa; biasanya pada kolon asenden dan ra~sversum ditemukan kolitis. Lambung mungkin
tampak hiperemik 3J kehitam-hitaman dan terdapat perforasi sebagai akibat zat iorosif. Hati
mungkin berwarna kuning karena degenerasi lemak =3J nekrosis pada keracunan zat-zat
hepatotoksik seperti fosfor, anoon tetraklorida, kloroform, alkohol, arsen dan lain lain.
Sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Darah diambil dengan semprit dan jarum yang
bersih. Diambil 2 contoh darah -asJng-masing sebanyak 50 ml dari jantung sebelah kanan dan
secelah kiri. 2 contoh darah tepi diambil masing-masing sebanyak 30 - dari tempat yang
berlainan. Umumnya dari vena leher atau subak-sia dan arteri femoralis.
Perhatikan warna darah. Pada intoksikasi dengan racun yang -enimbulkan hemolisis (bisa ular,
pirogalol, hidroquinon, dinitrofenol pan arsen), darah dan organ-organ dalam berwarna coklat
emerahan gelap. Pada racun yang menimbulkan gangguan trombosit, akan terdapat banyak
bercak perdarahan pada organorgan. 5 a terjadi keracunan yang cepat menimbulkan kematian,

misalmya sianida, alkohol, kloroform, maka darah dalam jantung dan pem-:. -h darah besar tetap
cair tidak terdapat bekuan darah.
Lidah. Perhatikan apakah ternoda oleh warna tablet atau kap-s_ obat atau menunjukkan kelainan
disebabkan oleh zat korosif.
Esofagus bagian atas dibuka sampai pada ikatan di atas diafragma. Adakah terdapat regurgitasi
dan selaput lendir diperhatikan akan adanya hiperemi dan korosi.
Epiglotis dan glotis. Perhatikan apakah terdapat hiperemi atau edema, disebabkan oleh inhalasi
atau aspirasi gas atau uap yang merangsang atau akibat regurgitasi dan aspirasi zat yang merangsang. Edema glotis juga dapat ditemukan pada kematian akibat syok anafilaktik, misalnya
akibat penisilin.
Paru-paru. Pada paru-paru biasanya ditemukan kelainan yang tidak spesifik, berupa
perbendungan akut. Pada inhalasi gas yang merangsang seperti klorin dan nitrogen oksida
ditemukan perbendungan dan edema hebat, serta emfisema akut karena terjadi batuk-batuk,
dispne dan spasme bronki. Pada keracunan akut morfin, barbiturat, kloroform terdapat
perbendungan dan edema; bila korban tidak segera meninggal (delayed death) akan dapat
ditemukan tanda-tanda pneumoni.
Lambung dan usus duabelas jari dipisahkan dari alat-alat lainnya dan diletakkan dalam wadah
yang bersih. Lambung dibuka sepanjang kurvatura mayor dan diperhatikan apakah
mengeluarkan bau yang tidak biasa. Perhatikan isi lambung, warnanya dan terdiri atas bahanbahan apa. Bila terdapat tablet atau kapsul, diambil dengan sendok dan disimpan secara terpisah
untuk mencegah disintegrasi tablet/kapsul.
Pada keracunan timah hitam akut, isi lambung berwarna putih karena terbentuk PbCI2; pada
penelanan 5-10 tablet ferro-sulfat sekaligus akan berwarna kebiru-biruan karena terbentuk
Fesulfat. Pada penelanan asam nitrat, berwarna kuning karena reaksi xan-thoproteik. Volume isi
lambung diukur dan dimasukkan dalam botol bersih. Selaput lendir lambung diperhatikan
warnanya, apakah terdapat hiperemi dan nekrosis; diambil potongan untuk pemeriksaan
histopatologik kemudian dimasukkan ke dalam botol yang sudah berisi isi lambung. Bila
dicurigai korban telah menelan fosfor maka isi lambung harus dibuka di kamar nitrogen sesaat
sebelum dilakukan analisa toksikologik untuk mencegah terjadi oksidasi fosfor.
Bila bahan-bahan perlu dikirim ke kota lain maka lambung dan usus dua belas jari tidak perlu
dibuka.

Catatan. Pada kasus-kasus "non-toksikologik" hendaknya pembukaan lambung ditunda sampai


saat akhir autopsi atau sampai pemeriksa telah menemukan penyebab kematian. Hal ini penting
karena umumnya pemeriksa baru teringat pada keracunan setelah pada akhir autopsi ia tidak
dapat menemukan penyebab kematian.
Usus-usus. Secara rutin usus-usus sebaiknya dikirim seluruhnya dengan ujung-ujung terikat.
Pemeriksaan isi usus diperlukan pada kematian yang terjadi beberapa jam setelah korban
menelan zat beracun dan ingin diketahui berapa lama waktu tersebut.
Isi usus dikeluarkan dengan membuka salah satu ikatan dan engurut usus. Isi usus ditampung
dalam gelas yang telah ditera an ditentukan beratnya. Cara lain adalah dengan membuka usus-s-s
dan dengan sendok, isi usus dimasukkan dalam gelas. Selaput ndir diperiksa dan kemudian
dicuci baik-baik dengan akuades dan r cucian ditimbang serta dimasukkan dalam gelas yang
sudah r si usus-usus. Dalam isi usus kadang-kadang dapat ditemukan -teric coated tablets atau
tablet lain yang belum tercerna.
Perlu diambil potongan-potongan untuk pemeriksaan his-*ogik. Bila usus dikirim tanpa dibuka,
ahli toksikologi yang akan e akukan hal tersebut.
Fosfor kuning (yellow phpsphorus) tanpa mengalami peru-anan dikeluarkan dalam feses. Hal ini
dapat diperiksa dengan uji '.-.scherlich. (Feses dibuat asam dengan menambahkan asam sulfat,
akukan destilasi dalam kamar yang digelapkan. Pada kondensor -pat uap berkondensasi akan
terlihat fosforesensi). Fosfor dalam cun tikus dicampur dengan dedak. Pada orang yang menelan
cun tikus tersebut butir-butir dedak dapat dipisahkan dari feses an ditentukan ukurannya
sehingga dapat diketahui macam racun JS yang ditelan. Bila sudah terjadi gangguan fungsi hati;
hati ber-arna kelabu atau kuning jeruk lemon.
Pada penelanan pil kina dapat dilakukan uji yang sederhana as feses. Feses dilarutkan dengan
sedikit akuades dan ditambah-ii asam sulfat encer. Bila diperiksa dengan sinar ultra violet akan
snunjukkan fluoresensi kebiru-biruan.
Pada keracunan Pb akut, feses berwarna hitam karena terben-< Pb-Sulfida. Dengan foto X
ditemukan bercak-bercak radio-opak. ada keracunan zat besi, pada anak kecil yang menelan 5-10
tablet no-sulfat, feses berwarna kebiru-biruan karena terbentuk besi-fosfat.
Pada orang yang menderita keracunan jamur (mushroom), fun-_s atau tumbuh-tumbuhan,
pemeriksaan feses dapat membantu, ada keracunan jamur Amanita phalloides dapat ditemukan
spora arbentuk subgloboid, berwarna putih dan berukuran 8-11 u X 7-9 u. ari isi usus dapat

diekstraksi toksin Amanita (phalloidin) yang arupakan suatu peptida, dan dapat dilakukan
pemeriksaan kimiawi an biologik dengan hewan percobaan.
Hati. Apakah terdapat degenerasi lemak atau nekrosis, agenerasi lemak sering ditemukan pada
peminum alkohol. Nek-sis dapat ditemukan pada keracunan fosfor, karbon tetraklorida, oroform
dan trinitro toluena. Setelah diambil potongan untuk ;meriksaan histologik, seluruh hati atau
paling sedikit 500 gram ;rikut kandung empedu diambil. Hati diambil cukup banyak karena
karan toksik kebanyakan racun sering kurang dari beberapa miligram per kilogram berat badan,
lagi pula pada mayat konsentrasi yang tertinggal dalam tubuh mungkin jauh di bawah jumlah
tersebut.
Hati merupakan alat detoksifikasi utama dan memiliki kemampuan untuk mengkonsentrasikan
zat-zat beracun. Jadi kadar racun dalam hati dapat 100 kali lebih tinggi daripada dalam darah.
Dengan demikian hati merupakan bahan yang penting untuk analisis tok-sikoiogik, misalnya
arsen, barbiturat dan imipramine.
Ginjal. Perubahan degeneratif pada korteks ginjal dapat disebabkan oleh racun yang merangsang.
Ginjal agak membesar, korteks membengkak, gambaran tidak jelas dan berwarna suram kelabu
kuning. Perubahan ini dapat dijumpai pada keracunan dengan persenyawaan bismuth, air raksa
(HgCI2), sulfonamid, fenol, lisol, karbon tetraklorida. Setelah diambil potongan untuk
pemeriksaan histologik, kedua ginjal diambil dan disimpan masing-masing dalam botol
tersendiri. Umumnya analisis toksikologik ginjal terbatas pada kasus-kasus keracunan logam
berat atau pada pencarian racun secara umum (general unknown) atau bila pada pemeriksaan histologik ditemukan kristal-kristal Ca-oksalat atau sulfonamid.
Urin. Dengan semprit dan jarum yang bersih, seluruh urin diambil dari kandung kemih. Bila
bahan akan dikirim ke kota lain maka urin dibiarkan berada dalam kandung kencing dan dikirim
in toto; prostat dan kedua ureter diikat dengan tali. Walaupun kandung kemih tampak kosong,
kandung kemih harus diambil untuk pemeriksaan toksikologik. Banyak racun dan/atau
metabolitnya dikeluarkan dalam urin. Pada kebanyakan kasus malah dalam konsentrasi yang
tinggi. Selain itu urin merupakan cairan yang baik sekali untuk spot tests yang mudah dikerjakan
sehingga dapat diperoleh petunjuk pertama dalam suatu analisis toksikologik secara sistematis.
Satu atau dua ml urin yang oleh dokter sering dianggap tidak ada gunanya, sangat berharga di
tangan seorang ahli toksikologi.

Otak. Pada keracunan akut dengan kematian yang cepat biasanya tidak ditemukan edema otak,
misalnya pada kematian cepat akibat berbiturat atau eter dan juga pada keracunan kronik arsen
atau timah hitam. Perdarahan kecil-kecil dalam otak dapat ditemukan pada keracunan karbon
monoksida, barbiturat, nitrogen oksida dan logam berat seperti air raksa, arsen dan timah hitam.
En-sefalomalasi globus palidus kadang-kadang ditemukan pada keracunan akut karbon
monoksida atau barbiturat dengan korban yang sempat hidup selama beberapa hari.
Setelah pengambilan potongan-potongan jaringan untuk pemeriksaan histologik, otak diambil
sebanyak 500 gram (kedua bagian frontal) atau seluruhnya. Jaringan lipoid otak dapat mengandung banyak racun. Kloroform terdapat dalam jaringan otak meskipun sudah terjadi pembusukan
yang lanjut. Selain itu, senyawa volatil dapat dicari dalam jaringan otak, seperti anestetika eter
dar fluothane, karbon tetraklorida dan perkloretilena, serta bahan pelari/, lain seperti benzena.
Pada keracunan insektisida golongan organofosfat dapat lakukan penentuan aktivitas enzim
asetilkolinesterase dalam jaringan otak.
Perlu diketahui bahwa obat-obat yang bekerja pada otak tidak sealu terdapat dalam konsentrasi
tinggi dalam jaringan otak, malah irungkin konsentrasi dalam hati lebih tinggi. Walaupun
demikian zzaA selalu harus dikirimkan dalam kasus general unknown, bahkan >e -ruhnya, karena
jaringan otak dapat mengandung banyak macam acun dan karena jaringan otak berikut
ekstraknya secara teknis ^i-dah ditangani oleh ahli toksikologi.
Jantung. Racun-racun yang menyebabkan degenerasi rarenkim, lemak atau hidropik pada
epitelium ginjal dapat menye-cabkan degenerasi sel-sel otot jantung sehingga jantung menjadi uak, berwarna merah pucat atau coklat kekuning-kuningan dan ertrikel mungkin melebar.
Pada keracunan karbon monoksida, bila korban hidup selama *c am atau lebih, dapat ditemukan
perdarahan berbercak dalam otot septum interventrikel bagian ventrikel kiri atau perdarahan
bargaris rada muskulus papillaris ventrikel kiri dengan garis-garis menyebar sc er dari ujung otot
tersebut sehingga tampak gambaran seperti cas. Pada keracunan arsen hampir selalu ditemukan
perdarahan ecl-kecil seperti nyala api (flame Ike) di bawah endokardium septum r:en/entrikel
ventrikel kiri. Juga pada keracunan fosfor dapat di-le-jkan perubahan-perubahan seperti itu.
Limpa. Selain perbendungan akut, limpa tidak menunjukkan eiainan patologik. Limpa jarang
dipergunakan dalam analisis tok-skologik, sehingga umumnya limpa tidak diambil, kecuali bila
tidak rapat diperoleh darah lagi dari jantung dan pembuluh-pembuluh parah besar. Juga pada
persangkaan keracunan sianida, limpa nambil karena ternyata kadar sianida dalam limpa adalah

beberapa a lebih besar daripada kadar dalam darah. Selain itu diketahui panwa sianida
postmortal dapat menghilang dari darah dan jaringan, serta ternyata bahwa jaringan otak bagian
sentral dan limpa dapat ec n bertahan terhadap proses menghilangnya sianida postmortem. =t
dalam limpa juga terdapat dalam kadar yang tinggi.
Empedu. Empedu merupakan bahan yang baik untuk penentuan glutetimida (doriden), quabaina
(Strophantin, Strophantus rratus), morfin dan heroin.
Darah, lambung, usus-usus, hati berikut kandung empedu, gin-a dan urin, serta otak harus
diambil secara rutin. Selain itu mungkin -asih perlu dikirimkan bahan-bahan lain, tergantung dari
racun apa jang harus dicari.
Paru-paru. Pada keracunan karena inhalasi gas atau uap Beracun, paru-paru diambil, dikirim
dalam botol kedap udara (airft)
Jaringan lemak. Lemak diambil sebanyak 200 gram dari jaringan lemak bawah kulit daerah
perut. Beberapa racun cepat diabsorpsi dalam jaringan lemak dan kemudian dengan lambat
dilepaskan ke dalam darah.
Sebagai contoh, pada anestesi dengan pentotal intravena, setelah sadar kembali, pentotal masih
dapat ditemukan dalam jaringan lemak sedangkan dalam darah kadarnya praktis nol. Selain itu
racun-racun yang larut dalam lemak seperti hidrokarbon berhalogen (kloroform, karbon
tetraklorida, dsb), DDT (chlorophenothane) dan anestetika ditemukan dalam jaringan lemak.
Pada DDT malah konsentrasi tertinggi terdapat dalam jaringan lemak.
Jaringan sekitar tempat suntikan. Kulit, jaringan lemak dan otot pada tempat suntik dalam
radius 5-10 cm diambil bila terdapat persangkaan bahwa korban meninggal akibat penyuntikan.
Rambut dan kuku. Pada persangkaan keracunan arsen, rambut kepala dan kuku harus diambil.
Rambut-rambut diikat terlebih dahulu sebelum dicabut, harus berikut akar-akarnya, dan
kemudian diberi label agar ahli toksikologi dapat mengenali mana yang bagian proksimal dan
mana yang bagian distal. Rambul diambil kira-kira sebanyak 10 gram tanpa menggunakan bahan
pengawet. Sebelum melakukan pemeriksaan, ahli toksikologi akan menyusun rambut-rambut itu
dengan teliti, akar setiap rambut harus sesuai dengan akar rambut lainnya.
Kemudian ikatan rambut digunting menjadi beberapa bagian, mulai dari bagian proksimal dan
setiap bagian panjangnya 1/2 inci atau 1 cm. Terhadap setiap bagian itu ditentukan kadar arsen.

Penentuan harus dilakukan dengan cara demikian karena beberapa menit setelah arsen
diabsorpsi, mulai terjadi deposisi arsen dalam sel-sel germinativum dalam matriks rambut, oleh
karena itu dalam bagian proksi mal yang mengandung akar rambut akan menunjukkan kadar
arsen yang tinggi. Dengan tumbuhnya rambut penumpukan arsen itu akan turut ber pindah ke
arah distal. Biia beberapa minggu atau bulan kemudian korban menelan lagi sejumlah arsen
(dosis ke-2) maka terjadi lagi penimbunan arsen dalam akar rambut. Dengan demikian akan
ditemukan penumpukan arsen di dua tempat, yang terpisah oleh bagian yang relatif mengandung
sedikit arsen. Dengan menentukan kadar arsen pada setiap bagian mulai dari proksimal ke distal,
dapat diketahui bahwa dalam contoh di atas telah terjadi 2 kali penelanan arsen.
Selanjutnya diketahui bahwa rambut tumbuh dengan kecepatan 13 mm (1/2 inci) per bulan yaitu
0,4-0,5 mm per hari. (Kecepatan tumbuh ini bervariasi. Angka-angka yang dikemukakan oleh
beberapa ahli adalah 1 cm tiap 20 hari, 0,31-0,36 mm per hari, 9,3 10,2 mm per bulan).
Dengan diketahuinya kecepatan pertumbuhan rambut, dapat :

:jngkan waktu atau saat

terjadinya penelanan arsen.


Bila penentuan tidak dilakukan berdasarkan fraksi (bagian per ogtan) tetapi sekaligus atas
seluruh rambut maka kadar yang ren-a<an diperoleh yang mungkin akan menunjukkan kadar
normal P.1 ug/100 mg dengan batas tetinggi 0,3 ug/100 mg). Sedangkan saca keracunan arsen
dapat ditemukan kadar yang tinggi dalam 3- rambut, misalnya 25 ug/100 mg, kadang-kadang
malah sampai nsc-a-apa mg per 100 mg. Kadar di atas 0,5 ug/100 mg dianggap r : agai
abnormal.
Kuku diambil sebanyak 10 gram, di dalamnya selalu harus ter-aapat kuku-kuku ke dua ibu jari
tangan dan kedua ibu jari kaki. Kuku dan dikirim tanpa diawetkan. Ahli toksikologi akan
membagi : : - g -asing kuku dalam 3 bagian mulai dari bagian proksimal. *eoentuan juga
dilakukan atas masing-masing bagian. Kadar ter-tnggi ditemukan dalam 1/3 bagian proksimal,
kareena beberapa nrner: setelah penelanan, sudah terjadi deposisi arsen pada akar JCJ. Kukukuku tumbuh dengan kecepatan kira-kira 3,2 mm per nua.- atau 0,12 mm per hari. Bila ditemukan
kadar yang tinggi dalam r-cung maka akan ditemukan kadar yang tinggi pada bagian akar : -:
dan bagian akar kuku.
PENGAMBILAN BAHAN PEMERIKSAAN TOKSIKOLOGIK
Para dokter hendaknya mengetahui dengan baik bahan apa jarg harus diambil, cara mengawetkan
dan cara pengiriman.

Tidak jarang seorang dokter mengirimkan bahan yang salah za_ dalam jumlah terlampau sedikit.
Dengan demikian jelas bahwa a*u toksikologi tidak dapat memenuhi permintaan dokter tersebut.
Pada semua kasus, bahan tersebut di bawah ini perlu diambil. 5e*aiipun dokter yang melakukan
autopsi sudah memperoleh petun-UK , ang cukup kuat bahwa ia sedang menhadapi suatu jenis
racun, r - ; = <nya ia tetap mengambil bahan-bahan secara lengkap.
Misalnya, sudah jelas bahwa karbon monoksida adalah racun ;e-.ebab kematian sehingga pada
hakekatnya pengiriman darah ja.a sudah cukup untuk pemeriksaan toksikologi. Tetapi selalu terracat kemungkinan bahwa setelah beberapa hari timbul kecurigaan *ai adanya racun lain terlibat
dalam peristiwa kematian tersebut. Wsa'nya, korban diberi obat tidur terlebih dahulu sebelum ia
diracuni aa-gan gas yang mengandung karbon monoksida. Untuk penentuan
iain itu dibutuhkan bahan-bahan lain, selain darah.
Adalah lebih baik mengambil bahan dalam keadaan segar dan erg<ap pada waktu autopsi
daripada kemudian harus mengadakan ;e-ggalian kubur untuk mengambil bahan-bahan yang
diperlukan aan melakukan analisis toksikologik atas jaringan yang sudah busuk sa- yang sudah
diawetkan (dengan formalin).
Darah jantung diambil secara terpisah dari sebelah kanan dan sebelah kiri masing-masing
sebanyak 50 ml. Darah tepi sebanyak 30-50 ml, diambil dari vena iliaka komunis, bukan darah
dari vena porta.
Diketahui setelah orang menelan glukosa, dapat terjadi difusi ke bilik jantung sebelah kanan,
sehingga kadar glukosa dalam darah sebelah kanan lebih tinggi daripada dalam darah sebelah
kiri. Dikuatirkan bahwa difusi seperti itu dapat juga terjadi pada obat; racun, sehingga penentuan
konsentrasi atas darah jantung sebelah kanan saja akan memberikan kesan yang salah tentang
konsentrasi obat/racun dalam darah.
Akhir-akhir ini diketahui bahwa setelah seseorang meninggal, tubuhnya tetap merupakan 'pabrik
kimia' yang efisien. Sianida, aceton dan alkohol ternyata dapat terbentuk dalam jaringan yang
membusuk. Dengan demikian pengambilan dari beberapa tempat yang berlainan, meskipun
dalam jumlah lebih kecil, dianggap lebih baik daripada pengambilan darah dalam jumlah besar
dari satu tempat. Bila misalnya dalam beberapa contoh darah yang diambil dari berbagai tempat
diketemukan konsentrasi yang sama, maka dengan aman dapat dinyatakan bahwa racun
bersangkutan berasal dari luar tubuh (terpapar dari luar), sebab proses bakteriologik kimiawi

yang terjadi dalam tubuh yang telah membusuk tidak berlangsung serentak dengan kecepatan
yang tepat sama di seluruh tubuh.
Pada korban yang masih hidup, darah adalah bahan yang terpenting. Ambil 2 contoh darah
masing-masing minimal 5 ml; yang pertama diberi pengawet NaF 1% dan yang lain tanpa
pengawet.
Urin, diambil semua yang ada dalam kandung kemih.
Bilasan lambung juga diambil semuanya.
Pada mayat diambil lambung beserta isinya. Lambung diikat pada perbatasan dengan usus dua
belas jari agar pil/tablet tidak hancur. Atau dengan cara lain, dokter membuka sendiri lambung
tersebut, kemudian mencatat kelainan-kelainan yang didapat, baru dikirim ke laboratorium
sehingga dapat diperkirakan jenis racunnya.
Usus beserta isinya. Bahan ini sangat berguna terutama bila kematian terjadi dalam waktu
beberapa jam setelah menelan racun sehingga dapat diperkirakan saat kematian dan dapat pula
ditemukan pil yang tak dapat hancur oleh lambung (enteric-coated).
Usus diikat tiap 60 cm atau diikat pada batas usus halus dan usus besar dan antara usus besar dan
poros usus. Ikatan tersebut berguna untuk mencegah isi usus oral tidak tercampur dengan isi usus
anal.
Hati. Semua hati harus diambil setelah disisihkan untuk pemeriksaan patologi anatomi dengan
alasan: (1) Takaran toksik kebanyakan racun sangat kecil, hanya beberapa mg/kg sehingga kadar
racun dalam tubuh sangat rendah dan untuk menemukan
-scun, bahari pemeriksaan harus banyak, dan (2) Hati merupakan T=-~pat detoksikasi tubuh
terpenting. Organ ini mempunyai kemampuan untuk mengkonsentrasikan racunracun sehingga
kadar racun ra-am hati sangat tinggi.
Ginjal, keduanya harus diambil. Ginjal penting pada keadaan rtcKsikasi logam, pemeriksaan
racun secara umum dan pada kasus 3" mana secara histologik ditemukan Ca-oksalat dan sulfonamide.
Otak. Jaringan lipoid dalam otak mempunyai kemampuan -rtjk menahan racun, misalnya CHCI3
tetap ada walaupun jaringan PCSK telah membusuk. Otak bagian tengah penting pada intoksikasi
Z\ Karena tahan terhadap pembusukan (CN dapat terbentuk pada
zebusukan).

Urin. Penting karena merupakan tempat ekskresi sebagian Besar racun sehingga dapat untuk tes
pendahuluan (spot test). Juga penting untuk pemeriksaan penyaring racun dari golongan
narkotika
S2j

stimulan.

Empedu. Sebaiknya kandung empedu jangan dibuka agar ra-an empedu tidak mengalir ke hati
dan mengacaukan pemerikBahan tersebut di atas umumnya sudah cukup untuk mem- - an informasi pada keracunan akut
yang masuk melalui mulut, "r'aci pada beberapa keadaan dapat diambil limpa, jantung, iikuor :
aringan lemak (insektisida, obat anestesi), otot (CO, Pb), rambu: Arsen).
Cara lain adalah dengan mengambil dari tiga tempat; (a) tempat masuk racun (lambung, tempat
suntikan); (b) darah, yang menandakan racun beredar secara sistemik; dan (c) tempat keluar urn.
empedu).
Menurut Curry, contoh bahan pemeriksaan yang rutin harus : a~cil adalah lambung beserta
isinya, darah, seluruh hati dan
seuruh urin.
* ADAH BAHAN PEMERIKSAAN TOKSIKOLOGIK
Untuk wadah bahan pemeriksaan toksikologik, ideealnya diper-. an minimal 9 wadah karena
masing-masing bahan pemeriksaan : T-catkan secara tersendiri, tidak boleh dicampur, yaitu : 2
buah aees a 2 liter untuk hati dan usus; 3 peles a 1 liter untuk lambung peserta isinya, otak dan
ginjal; 4 botol a 25 ml untuk darah (2 buah), m-r dan empedu. Wadah harus dibersihkan terlebih
dahulu dengan cacinya dengan asam kromat hangat lalu dibilas akuades dan akeringkan.
EAHAN PENGAWET
Sebenarnya yang paling baik adalah tanpa pengawet, tetapi :a_an pemeriksaan harus disimpan
dalam lemari es.
Bila terpaksa misalnya karena pemeriksaan toksikologik tidak dapat dilakukan dengan segera
tetapi beberapa hari kemudian, maka dapat digunakan bahan pengawet yaitu: (a) Alkohol
absolut: (b) Larutan garam dapur jenuh; (c) Larutan NaF 1%; (d) NaF + Na sitrat (5 ml NaF + 50
ml Na sitrat untuk tiap 10 ml bahan); dan (e) Na benzoat + fenil merkuri nitrat (hanya untuk
urin).

Volume pengawet sebaiknya minimal dua kali volume bahan pemeriksaan. Penggunaan
pengawet alkohol tidak dapat dibenarkan pada keracunan alkohol dan sebaiknya juga tidak
digunakan untuk racun yang mudah menguap.
CARA PEMGIRIMAN
Apabila pemeriksaan toksikologi dilakukan di institusi lain, maka pengiriman bahan
pemeriksaan toksikologik harus memenuh kriteria: Satu tempat hanya berisi satu contoh bahan
pemeriksaan contoh bahan pengawet harus disertakan untuk kontrol, tiap tempat yang telah terisi
disegel dan diberi label yang memuat keterangan mengenai tempat pengambilan bahan, nama
korban, bahan pengawet dan isinya.
Hasil autopsi harus disertakan secara singkat, jika mungkir sertakan pula anamnesis dan gejalagejala klinik. Surat permintaan pemeriksaan dari penyidik harus disertakan dan memuat identitas
korban dengan lengkap dan dugaan racun apa yang menyebabkar intoksikasi.
Semua yang tersebut diatas dikemas dalam suatu kotak dar harus dijaga agar botol tertutup rapat
sehingga tidak ada kemungkinan tumpah atau pecah dalam pengiriman. Kotak harus diikat
dengan tali yang setiap persilangannya diikat mati serta diber lak pengaman.
Penyegelan dilakukan oleh polisi yang juga harus membuat berita acara penyegelan dan berita
acara ini harus disertakan dala~ pengiriman bahan pemeriksaan, demikian pula berita acara
penyegelan barang bukti lain seperti sisa racun/obat. Dalam berita acara tersebut harus terdapat
contoh kertas peembungkus segel/meterai yang digunakan.
Jika jenazah akan diawetkan, maka pengambilan contc-bahan harus dilakukan sebelum
pengawetan jenazah. Tida-dibenarkan mengambil setelah pengawetan karena formalin yang
biasanya digunakan untuk pengawetan jenazah dapat menyulitka-pemeriksaan dan kadang kala
malah merusak racun.
Pada pengambilan contoh bahan dari korban hidup, alkohc tidak dapat dipakai sebagai
desinfektan lokal saat pengambilan darah, hal ini untuk menghilangkan kesulitan dalam
penarikan kesimpulan bila kasus menyangkut alkohol. Sebagai gantinya dapa: digunakan
sublimat 1 %o atau merkuri klorida 1 %.
KERACUNAN KARBON MONOKSIDA
Karbon monoksida (CO) adalah racun yang tertua dalam sejarah menusia. Sejak dikenal cara
membuat api, manusia senan-:asa terancam oleh asap yang mengandung CO.

Gas CO adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan -cak merangsang selaput lendir,
sedikit lebih ringan dari udara se- -gga mudah menyebar.
Campuran 1 volume CO dengan 0.5 volume O2 atau campuran I volume CO dengan 2.5 volume
udara, bila bertemu dengan api =-an meledak.
CO dapat bersenyawa dengan logam ataupun nonlogam. V salnya dengan klorin akan terbentuk
karbonil klorida (COCI) yaitu 'csgen, gas beracun yang pernah dipakai dalam peperangan.
SUMBER
Gas CO dapat ditemukan pada hasil pembakaran yang tidak sampurna dari karbon dan bahanbahan organik yang mengandung
karbon.
Sumber terpenting adalah motor yang menggunakan bensin sebagai bahan bakar (spark
ignition), karena campuran bahan yang terbakar mengandung bahan bakar lebih banyak dari
pada udara sehingga gas yang dikeluarkan mengandung 3-7% CO. Sebaliknya motor diesel
dengan compression ignition mengeluarkan sangat sedikit CO, kecuali bila motor berfungsi tidak
sempurna sehingga canyak mengeluarkan asap hitam yang mengandung CO.
Sumber lain CO adalah gas arang batu yang mengandung kira-.ra 5% CO, alat pemanas
berbahan bakar gas, lemari es gas dan cerobong asap yang bekerja tidak baik. Gas alam jarang
sekali me- gandung CO, tetapi pembakaran gas alam yang tidak sempurna :etap akan menghasilkan CO.
Pada kebakaran juga akan terbentuk 30. Asap tembakau dalam orofaring menyebabkan
konsentrasi yang z nhalasi menjadi kira-kira 500 ppm.
Pada alat pemanas air berbahan bakar gas, jelaga yang tidak z oersihkan pada pipa air yang
dibakar akan memudahkan terjadinya gas CO yang berlebihan.
FARMAKOKINETIK
CO hanya diserap melalui paru dan sebagian besar diikat oleh -emoglobin secara reversibel,
membentuk karboksi-hemoglobin. Selebihnya mengikat diri dengan mioglobin dan beberapa
protein -eme ekstravaskular lain. Afinitas CO terhadap hemoglobin adalah 208-245 kali afinitas
02.
CO bukan merupakan racun yang kumulatif. Ikatan CO dengan Hb tidak tetap (reversible) dan
setelah CO dilepaskan oleh Hb, sel darah merah tidak mengalami kerusakan.

Absorpsi atau ekskresi CO ditentukan oleh kadar CO dalam udara lingkungan (ambient air),
kadar COHb sebelum pemaparan (kadar COHb inisial), lamanya pemaparan, dan ventilasi paru.
Bila orang yang telah mengabsorpsi CO dipindahkan ke udara bersih dan berada dalam keadaan
istirahat, maka kadar COHb semula akan berkurang 50% dalam waktu 4,5 jam. Dalam waktu 6-8
jam darahnya tidak mengandung COHb lagi. Inhalasi O2 mempercepat ekskresi CO sehingga
dalam waktu 30 menit kadar COHb telah berkurang setengahnya dari kadar semula. Umumnya
kadar COHb akan berkurang 50% bila penderita CO akut dipindahkan ke udara bersih dan
selanjutnya sisa COHb akan berkurang 8-10% setiap jamnya. Hal ini penting untuk dapat
mengerti mengapa kadar COHb dalam darah korban rendah atau negatif pada saat diperiksa
sedangkan korban menunjukkan gejala dan/atau kelainan his-topatologis yang lazim ditemukan
pada keracunan CO akut.
FARMAKODINAMIK
CO bereaksi dengan Fe dari porfirin dan karena itu CO bersaing dengan O2 dalam mengikat
protein heme yaitu hemoglobin, mioglobin, sitokrom oksidase (Sitokrom a, a3) dan Sitokrom P45C peroksidase dan katalase. Yang terpenting adalah reaksi CO dengar Hb dan sitokrom a3.
Dengan diikatnya Hb menjadi COHb mengkibat-kan Hb menjadi inaktif sehingga darah
berkurang kemampuannya untuk mengangkut O2. Selain itu adanya COHb dalam darah akar
menghambat disosiasi Oxi-Hb. Dengan demikian jaringan akan mengalami hipoksia. Reaksi CO
dengan sitokrom a3 yang merupakan HnM yang penting dalam sistim enzim pernafasan sel yang
terdapat dalar mitokondria, akan menghambat pernafasan sel dan mengakibatka-hipoksia
jaringan.
Konsentrasi CO dalam udara lingkungan dan lamanya inhalas menentukan kecepatan timbulnya
gejala-gejala atau kematian.
50 ppm (0,005%) adalah TLV (Threshold Limit Value, Nilai Ambang Batas) gas CO, yaitu
konsentrasi CO dalam udara lingkunga-yang dianggap aman pada inhalasi selama 8 jam setiap
hari dan | hari setiap minggu untuk jumlah tahun yang tidak terbatas.
Pada 200 ppm (0,02%), inhalasi 1-3 jam akan mengakibatka-kadar COHb mencapai 15-20%
saturasi dan gejala keracunan CC mulai timbul.
Pada 1000 ppm (0,1%), inhalasi 3 jam dapat menyebabka-kematian. sedangkan pada 3000 ppm
(0,3%), inhalasi 2 jam suda-dapat menyebabkan kematian.

Pada H 0.000 ppm (1%), inhalasi 15 menit dapat menyebabkan er.iiangan kesadaran dengan
COHb 50% saturasi, sedangkan in-"raasi 20 menit menyebabkan kematian dengan COHb 80%
saturasi.
Rumus Henderson dan Haggard berlaku bagi orang dalam adaan istirahat. Konsentrasi CO
dalam udara dinyatakan dalam zen dan lamanya inhalasi dalam jam.
Bila hasil perkalian (Waktu) dan (Konsentrasi)=300 tidak ada gejala. Bila hasil perkalian adalah
900, telah timbul gejala sakit acala, rasa lelah, mual, sedangkan hasil 1500 menandakan bahaya
sen dapat fatal.
Selain konsentrasi CO dalam udara, lamanya inhalasi, ventilasi ra-j dan kadar COHb sebelum
terkena CO, terdapat faktor-faktor a- yang turut mempengaruhi toksisitas CO yaitu aktifitas fisik,
zeryakit yang menyebabkan gangguan oksigenisasi jaringan seperti arteriosklerosis pembuluh
darah otak dan jantung, emfisema paru, is.,a bronkial, tbc paru dan penyakit hipermetabolik.
Juga adanya afcohol, barbiturat, morfin dan obat-obat lain yang menyebabkan Depresi susunan
saraf pusat.
'ANDA DAN GEJALA KERACUNAN
Gejala keracunan CO berkaitan dengan kadar COHb dalam
arah.
\ Saturasi COHb
10
10-20

Gejala-gejala
tidak ada
rasa berat pada kening, mungkin sakit kepala
ringan, pelebaran pembuluh darah subkutan,

20-30
30-40

dispnu, gangguan koordinasi.


sakit kepala, berdenyut pada pelipis, emosional
sakit kepala keras, lemah, pusing, penglihatan

40-50

buram, mual dan muntah, kollaps.


sama dengan yang tersebut di atas tetapi dengan
kemungkinan besar untuk kollaps atau sinkop.

50-60

Pernafasan dan nadi bertambah cepat, ataksia.


Sinkop, pernafasan dan nadi bertambah cepat,
koma dengan kejang intermiten. Pernafasan

60-70

Cheyne Stokes.
koma dengan kejang, depresi jantung dan pernafasan, mungkin mati.

70-80

nadi lemah, pernafasan lambat, gagal pernafasan

dan mati.
Pada korban
koma dapat ditemukan sianosis dan pucat, per-a*'asan cepat, mungkin pernafasan Cheyne-stokes, menjelang ke--atian pernafasan menjadi
lambat. Nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah, pupil melebar dan reaksi cahaya
menghilang, suhu Badan di bawah normal, tetapi pada keadaan terminal mungkin -a ah terjadi
hipertermia.
Pada elektrokardiogram mungkin ditemukan gelombang T mendatar atau negatif, tanda
insufisiensi koroner, ekstrasistol, dan fibrilasi atrium. Pada pemeriksaan laboratorium mungkin
dijumpai lekositosis, hiperglikemia dengan glukosuria, albuminuria, dan peninggian SGOT,
MDH dan SDH serum. Perubahan kadar gama-globulin juga pernah dilaporkan.
Keracunan kronik dalam arti penimbunan CO dalam tubuh tidak terjadi. Akan tetapi pemaparan
CO berulang-ulang yang menyebabkan hipoksia berulang-ulang pada susunan saraf pusat akan
menyebabkan kerusakan yang berangsur-angsur bertambah berat. Gejala yang mungkin
ditemukan adalah anestesia pada jari-jari tangan, daya ingat berkurang, Romberg dan gangguan
mental.
PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK
Diagnosis keracunan CO pada korban hidup biasanya berdasarkan anamnesis adanya kontak dan
ditemukannya gejala keracunan CO.
Pada korban yang mati tidak lama setelah keracunan CO, ditemukan lebam mayat berwarna
merah muda terang (cherry pink colour), yang tampak jelas bila kadar COHb mencapai 30% atau
lebih. Warna lebam mayat seperti itu juga dapat ditemukan pada mayat yang didinginkan, pada
korban keracunan sianida dan pada orang yang mati akibat infeksi oleh jasad renik yang mampu
membentuk nitrit, sehingga dalam darahnya terbentuk nitroksi-hemoglobir (nitric-oxide Hb).
Meskipun demikian masih dapat dibedakan dengar pemeriksaan sederhana. Pada mayat yang
didinginkan dan pada keracunan CN, penampang ototnya berwarna biasa, tidak mera" terang.
Juga pada mayat yang didinginkan warna merah terang lebam mayatnya tidak merata, selalu
masih ditemukan daerah yang keunguan (livid). Sedangkan pada keracunan CO, jaringan otot
visera dan darah juga berwarna merah terang. Selanjutnya tidak ditemukan tanda khas lain.
Kadang-kadang dapat ditemukan tanca asfiksia dan hiperemia visera. Pada otak besar dapat
ditemuka-petekiae di substansia alba bila korban dapat bertahan hidup lebir dari 1/2 jam.

Pada analisa toksikologik darah akan ditemukan adanya COHb. Pada korban keracunan CO yang
tertunda kematiannya sampai 72 jam maka seluruh CO telah diekskresi dan darah tidak mengandung COHb lagi, sehingga ditemukan lebam mayat berwarna livid seperti biasa, demikian
juga jaringan otot, visera dan darah.
Kelainan yang dapat ditemukan adalah kelainan akibat hipck-semia dan komplikasi yang timbul
selama penderita dirawat.
Otak, pada substansia alba dan korteks kedua belah otak globus palidus dapat ditemukan
petekiae. Kelainan ini tidak pato-gnomonik untuk keracunan CO, karena setiap keadaan hipoksa
otak yang cukup lama dapat menimbulkan petekiae.
Ensefalomalasia simetris dapat ditmukan pada globus palidus srg juga tidak pato-gnomonik,
karena dapat juga ditemukan pada e-acunan barbiturat akut dan arteriosklerotik pembuluh darah
korD_3 striatum.
Pemeriksaan mikroskopik pada otak memberi gambaran:
Pembuluh-pembuluh halus yang mengandung trombi hialin.
Nekrosis halus dengan ditengahnya terdapat pembuluh darah yang mengandung trombi hialin
dengan perdarahan-di sekitarnya, lazimnya disebut ring hemorrhage.
Nekrosis halus yang dikelilingi oleh pembuluh-pembuluh darah yang mengandung trombi.
Bali hemorrhage yang terjadi karena dinding arteriol menjadi nekrotik akibat hipoksia dan
memecah.
Pada Miokardium ditemukan perdarahan dan nekrosis, paling senng di muskulus papilaris
ventrikel kiri. Pada penampang memanjangnya, tampak bagian ujung m. papilaris berbercakbercak per-ra.-3han atau bergarisgaris seperti kipas berjalan dari tempat insersio T-rrJinosa ke
dalam otot.
Kadang-kadang ditemukan perdarahan pada otot ventrikel ET-iama di subperikardial dan di
subendokardial. Pemeriksaan mik--csKopik menunjukkan perangai sesuai dengan infark
miokardium
Ditemukan eritema dan vesikel/bula pada kulit dada, perut, roKa, atau anggota gerak badan, baik
di tempat yang tertekan ra-pun yang tidak tertekan. Kelainan tersebut disebabkan oleh ipoksia
pada kapiler kapiler bawah kulit.

Pneumonia hipostatik paru mudah terjadi karena gangguan oe-edaran darah. Dapat terjadi
trombosis a. pulmonalis.
Terjadi nekrosis tubuli ginjal yang secara mikroskopik tampak se perti payah ginjal.
Gangguan peredaran darah akibat perubahan degereratif - cardium memudahkan terbentuknya
trombus. Trombus dalam entrikel kiri {mural trombus) mungkin mengakibatkan infark otak sesaigkan trombus dalam a. femoralis mungkin mengakibatkan timbul--ya gangren.
Pada kasus yang kematiannya tidak segera terjadi (delayed oeath) diagnosis kematian harus
didasarkan atas bukti-bukti di seatar kejadian (circumstantial evidences), ditemukannya
perubahan s- cat hipoksia dan disingkirkannya kemungkinan lain yang dapat --enyebabkan
perubahan hipoksik tersebut.
Pemeriksaan histologik perlu dilakukan pada substansia alba, C 'ieks serebri, serebelum,
ammon's horn dan globus palidus.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Untuk penentuan COHb secara kualitatif dapat dikerjakan uji dilusi alkali.
Ambil 2 tabung reaksi. Masukkan ke dalam tabung pertama 1 -2 tetes darah korban dan tabung
kedua 1-2 tetes darah norma! sebagai kontrol. Encerkan masing-masing darah dengan
menambahkan 10 ml air sehingga warna merah pada kedua tabung kurang lebih sama.
Tambahkan pada masing-masing tabung 5 tetes larutan NaOH 10-20%, lalu dikocok. Darah
normal segera berubah warna menjad merah hijau kecoklatan karena segera terbentuk hematin
alkali sedangkan darah yang mengandung COHb tidak berubah warnanya untuk beberapa waktu,
tergantung pada konsentrasi COHb, karena COHb bersifat lebih resisten terhadap pengaruh
alkali. COHb dengan kadar saturasi 20% memberi warna merah muda (pink) yang bertahan
selama beberapa detik, dan setelah 1 menit baru berubah warna menjadi coklat kehijauan.
Perlu diperhatikan bahwa darah yang dapat digunakan sebaga kontrol dalam uji dilusi alkali ini
haruslah darah dengan Hb yang normal. Jangan gunakan darah foetus karena dikatakan bahwa
darah foetus juga bersifat resisten terhadap alkali.
Dapat pula dilakukan uji formalin (Eachlolz-Liebmann). Dara-yang akan diperiksa
ditambahkan larutan formalin 40% sama banyaknya. Bila darah mengandung COHb 25%
saturasi maka akar terbentuk koagulat berwarna merah yang mengendap pada dasa' tabung
reaksi. Semakin tinggi kadar COHb, semakin merah warna koagulatnya. Sedangkan pada darah
normal akan terbentuk koagulat yang berwarna coklat.

Pemeriksaan adanya COHb dalam darah juga dapat melaL penentuan secara spektroskopis.
Pemeriksaan kuantitatif CO dapat dilakukan dengan cara Ger-tler -Freimuth, spektrofotometrik
maupun kromatografi gas.
Cara Getiler-Freimuth (semi-kwantitatif), menggunakan prins z sebagai berikut:
Darah + Kalium ferisianida > CO dibebaskan dari COHb CO + PdCI2 + H20 -> Pd + C02 +
HCI
Paladium (Pd) ion akan diendapkan pada kertas saring berupa endapan berwarna hitam.
Dengan membandingkan intensitas warna hitam tersebut de-ngan warna hitam yang diperoleh
dari pemeriksaan terhadap dani dengan kadar COHb yang diketahui, maka dapat ditentukan konsentrasi COHb secara semi kuantitatif.
Cara spektrofotometrik adalah cara yang terbaik untuk melalaikan analisis CO atas darah segar
korban keracunan CO yang T-asih hidup, karena hanya dengan cara ini dapat ditentukan rasio
COHb : OxiHb. Darah mayat adalah darah yang tidak segar, sehing-: memberikan hasil yang
tidak dapat dipercaya.
Cara kromatografi gas banyak dipakai untuk mengukur kadar CO dari sample darah mayat
(darah tidak segar) dan cukup dapat
raercaya.
PENGOBATAN
Pengobatan terhadap korban keracunan gas karbonmonok-sca dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
Pindahkan korban ke udara segar.
Beri oksigen 100% sampai COHb dalam darah menurun di bawah kadar berbahaya.
Bila terjadi depresi pernafasan, berikan pernafasan buatan dengan oksigen 100% sampai
pernafasan menjadi normal kembali.
Memasukkan korban ke dalam ruang oksigen hiperbarik (Hyperbaric chamber) dengan tekanan
oksigen sebesar 2-2.5 atmosfir selama 1 sampai 2 jam akan mempercepat eliminasi CO, tetapi
harus hati-hati terhadap kemungkinan terjadinya edema dan perdarahan paru.
Pertahankan kehangatan tubuh dengan memberikan selimut, tetapi jangan memberikan panas
dari luar (external heat), karena mungkin dapat memperburuk keadaan syok yang sedang
dialaminya.

Pertahankan tekanan darah, bila perlu meninggikan bagian kaki tempat tidur jika diterjadi
hipotensi, sehingga aliran darah ke daerah otak tetap akan terjamin.
Berikan 50 ml glukosa 50% IV atau manitol, untuk mengurangi edema otak yang mungkin
timbul.
Bila terdapat hipertermia berikan kompres dingin.
Jika perlu dapat diberikan stimulan seperti kafein atau na-trium benzoat.
Bila ada payah jantung, berikan strophatin 0.5 mg atau lanatoside 0.4-0.6 mg intravena.
GEJALA SISA
Keracunan ringan karbonmonoksida dapat meninggalkan sisa -.ari kepala pada korban yang telah
disembuhkan, untuk sementara *axtu yang kemudian dapat hilang dengan sendirinya dan tidak
-eiu mendapatkan pengobatan khusus.
Penderita keracunan karbonmonoksida yang sempat mengalami koma, bila kemudian sembuh,
mungkin akan menderita gejala sisa akibat kerusakan yang terjadi pada sel-sel susunan saraf
pusat, yang dapat berupa gejala disorientasi, amnesia retrogad, parkin-sonisme atau sindroma
post-ensefalitis.
KERACUNAN SIANIDA
Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik, karena jEfa-ri sianida dalam takaran kecil
sudah cukup untuk menimbulkan jer-atian pada seseorang dengan cepat seperti bunuh diri yang
aiaAukan oleh beberapa tokoh Nazi.
Kematian akibat keracunan CN umumnya terjadi pada kasus aur j h diri dan pembunuhan. Tetapi
mungkin pula terjadi akibat aceakaan di laboratorium, pada penyemprotan (fumigasi) dalam i: = -iian dan penyemprotan di gudang-gudang kapal.
SUMBER
Hidrogen sianida (asam sianida, HCN) merupakan cairan jerit* /g bersifat asam, larut dalam air,
alkohol dan eter; mempunyai mi didih 26.5 derajat C sehingga mudah menguap dalam suhu
ruang-&- can titik beku 14 derajat C. HCN mempunyai aroma khas aman-ae {bitter almonds,
peach pit). HCN dipakai dalam sintesis kimia dan iur-i.gasi gudang-gudang kapal untuk
membunuh tikus. HCN dapat aouat dengan jalan mereaksikan garam sianida dengan asam se-irgga akan terbentuk HCN.
Garam sianida, NaCN dan KCN dipakai dalam proses le-gerasan besi dan baja, dalam proses
penyepuhan emas dan perak serta dalam fotografi. AgCN digunakan dalam pembuatan se~;r

sepatu putih. K-Ferosianida digunakan dalam bidang fotografi, ^cr-jionitrile digunakan untuk
sintesis karet. Ca-Cyanimide untuk puri-*; penyubur.
Cyanogen (C2N2) dipakai dalam sintesis kimiawi. Sianida juga didapat dari biji tumbuhtumbuhan terutama biji-bijian dari genus prunus yang mengandung glikosida sianogenetik atau
amigdalin; seperti singkong liar, umbi-umbian liar, temu lawak, cherry liar, plum, rikot,
amigdalin liar, jetberry bush dll.
:

- RMAKOKINETIK

Garam sianida cepat diabsorpsi melalui saluran pencernaan. Z.anogen dan uap HCN diabsorpsi
melalui pernafasan. HCN cair *can cepat diabsorpsi melalui kulit tetapi gas HCN lambat,
sacangkan nitril organik (iminodipropilnitril, glikonitril, asetonitril) -aoat diserap melalui kulit.
Sianida dapat masuk ke dalam tubuh melalui mulut, inhalasi zan kulit. Setelah diabsorbsi, masuk
ke dalam sirkulasi darah seoagai CN bebas dan tidak dapat berikatan dengan hemoglobin,
acuali dalam bentuk methemoglobin akan terbentuk sian--ethemoglobin. Sianida dalam tubuh
akan menginaktifkan beberapa r - z m oksidatif seluruh jaringan secara radikal, terutama
sitokrom ok-s-case dengan mengikat bagian ferric heme group dari oksigen yang ; cawa oleh
darah.
Selain itu sianida juga secara refleks merangsang pernafasan dengan bekerja pada ujung saraf
sensorik sinus (kemoreseptor) sehingga pernafasan bertambah cepat dan menyebabkan gas racun
yang diinhalasi makin banyak.
Proses oksidasi dan reduksi terjadi sebagai berikut:

Dengan demikian proses oksidasi-reduksi dalam sel tida^ dapat berlangsung dan oksi-Hb tidak
dapat berdisosiasi melepaskar O2 ke sel jaringan sehingga timbul anoksia jaringan (anoksia histotoksik). Hal ini merupakan keadaan paradoksal karena korbar meninggal akibat hipoksia tetapi
dalam darahnya kaya akan oksigen
Sianida dioksidasi dalam tubuh menjadi sianat dan sulfosiana: dan dikeluarkan dari tubuh
melalui urin.

Takaran toksik peroral untuk HCN adalah 60-90 mg sedangkan takaran toksik untuk KCN atau
NaCN adalah 200 mg.
Kadar gas sianida dalam udara lingkungan dan lama inhalas akan menentukan kecepatan timbul
gejala keracunan dan kematian
20 ppm
Gejala ringan timbul setelah beberapa jam.
100 ppm
Sangat berbahaya dalam 1 jam
200-400 ppm
Meninggal dalam 30 menit
2000 ppm
Meninggal seketika.
Nilai TLV (Threshold Limit Value) adalah 11 mg per M3 unti> gas HCN sedangkan TLV untuk
debu sianida adalah 5 gr per M3.
Kadang-kadang korban keracunan CN melebihi takara-mematikan (letal) tetapi tidak meninggal.
Hal ini mungkin disebabka-oleh toleransi individual dengan daya detoksifikasi tubuh berlebihadengan mengubah CN menjadi sianat dan sulfosianat. Dapat p.- z disebabkan oleh keadaan anasiditas asam lambung, sehingga menyebabkan garam CN yang ditelan tidak terurai menjadi
HCN Keadaan ini dikenal sebagai imunitas Rasputin. Tetapi sekarang ha ini telah dibantah,
karena cukup dengan air saja dalam lambung garam CN sudah dapat terurai menjadi HCN.
Kemungkinan lar adalah karena dalam penyimpanan sianida sudah berubah menjaa garam
karbonat. Misalnya NaCN + udara > Na2C03 + NH3.
'ANDA DAN GEJALA KERACUNAN
Pada keracunan akut racun yang ditelan cepat menyebabkan a-gagalan pernafasan dan kematian
dapat timbul dalam beberapa irenit. Dalam interval waktu yang pendek antara menelan racun
sam-ra kematian, dapat ditemukan gejala-gejala dramatis, korban me--geiuh terasa terbakar pada
kerongkongan dan lidah, sesak nafas, ncersalivasi, mual, muntah, sakit kepala, vertigo, fotofobi,
tinitus, -j-sing dan kelelahan.
Dapat pula ditemukan sianosis pada muka, busa keluar dari Jut, nadi cepat dan lemah,
pernafasan cepat dan kadang-kadang ica* teratur, pupil dilatasi dan refleks melambat, udara
pernafasan rapat berbau amandel, juga dari muntahan tercium bau amandel. Menjelang kematian,
sianosis lebih nyata dan timbul kedut otot-otot a-nudian kejang-kejang dengan inkontinensi urin
dan alvi.
Racun yang diinhalasi menimbulkan palpitasi, kesukaran bernafas, mual, muntah, sakit kepala,
salivasi, lakrimasi, iritasi mulut dan e-ong kongan, pusing dan kelemahan ekstremitas cepat
timbul dan emudian kolaps, kejang-kejang, koma dan meninggal.

Pada keracunan kronik korban tampak pucat, berkeringat di'e n. pusing, rasa tidak enak dalam
perut, mual dan kolik, rasa teraan pada dada dan sesak nafas. Keracunan kronik CN dapat
-enyebabkan goiter dan hipotiroid, akibat terbentuk sulfosianat.
Calcium eyanimide menghambat aldehida-oksidase sehingga leteransi terhadap alkohol
menurun. Gejala keracunan berupa sakit kepala, vertigo, sesak nafas dan meninggal akibat
kegagalan pernafasan.
PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK
Pada pemeriksaan terhadap korban mati, pada pemeriksaan pagian luar jenazah, dapat tercium
bau amandel yang patog--emonik untuk keracunan CN, dapat tercium dengan cara menekan rada
mayat sehingga akan ke luar gas dari mulut dan hidung. Bau larsebut harus cepat dapat
ditentukan karena indra pencium kita rapat teradaptasi sehingga tidak dapat membaui bau khas
tersebut, -arus diingat bahwa tidak semua orang dapat mencium bau sianida arena kemampuan
untuk mencium bau khas tersebut bersifat genetik sex-linked trait.
Sianosis pada wajah dan bibir, busa keluar dari mulut, dan eram mayat berwarna merah terang,
karena darah vena kaya akan CKsi-Hb. Tetapi ada pula yang mengatakan karena terdapat CyanWet-Hb (Abdullah Fatteh).
Warna lebam yang merah terang tidak selalu ditemukan pada asus keracunan sianida,
ditemukan pula kasus kematian akibat sanida dengan warna lebam mayat yang berwarna birukemerahan, r.id. Hal ini tergantung pada keadaan dan derajat keracunan.
Pada pemeriksaan bedah jenazah, dapat tercium bau amandel yang khas pada waktu membuka
rongga dada, perut dan otak serta lambung (bila racun melalui mulut). Darah, otot dan
penampang organ tubuh dapat berwarna merah terang. Selanjutnya hanya ditemukan tanda-tanda
asfiksia pada organ-organ tubuh.
Pada korban yang menelan garam alkali sianida, dapat ditemukan kelainan pada mukosa
lambung berupa korosi dan berwarna merah kecoklatan karena terbentuk hematin alkali dan pada
perabaan mukosa licin seperti sabun. Korosi dapat mengakibatkan perforasi lambung yang dapat
terjadi antemortal atau postmortal.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Uji kertas saring. Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan asam pikrat jenuh, biarkan hingga
menjadi lembab. Teteskan satu tetes isi lambung atau darah korban, diamkan sampai agak
mengering, kemudian teteskan Na2C03 10% 1 tetes. Uji positif bila terbentuk warna ungu.

Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan HJO3 1%, kemudian ke dalam larutan kanji 1% dan
keringkan. Setelah itu kertas saring dipotong potong seperti kertas lakmus. Kertas ini dipakai
untu* pemeriksaan masai pada para pekerja yang diduga kontak denga-CN. Caranya dengan
membasahkan kertas dengan ludah di bawa-lidah. Uji positif bila warna berubah menjadi biru.
Hasil uji berwarna biru muda meragukan sedangkan bila warna tidak berubah (mera-muda)
berarti tidak terdapat keracunan.
Kertas saring dicelup dalam larutan KCI, dikeringkan dan dipotong potong kecil. Kertas tersebut
dicelupkan ke dalam dara~ korban, bila positif maka warna akan berubah menjadi merah terang
karena terbentuk sianmethemoglobin.
Reaksi Schonbein-Pagenstecher (Reaksi Guajacol). Mas. kan 50 mg isi lambung/jaringan ke
dalam botol Erlenmeyer. Kertas saring (panjang 3-4 cm, lebar 1-2 cm.) dicelupkan ke dalam
laruta-guajacol 10% dalam alkohol, keringkan. Lalu celupkan ke daia~ larutan 0,1% CUSO4
dalam air dan kertas saring digantungkan di atas jaringan dalam botol. Bila isi lambung alkalis,
tambahkan asa~ tartrat untuk mengasamkan, agar KCN mudah terurai. Botol terseb-:
dihangatkan. Bila hasil reaksi positif, akan terbentuk warna biru-hija-pada kertas saring. Reaksi
ini tidak spesifik, hasil positip s e - . didapatkan bila isi lambung mengandung klorin, nitrogen
oksida ata-ozon; sehingga reaksi ini hanya untuk skrining.
Reaksi Prussian Blue (Biru Berlin). Isi lambung/jaringan dides-tilasi dengan destilator. 5 ml
destilat + 1 ml NaOH 50% + 3 tetes FeS04 10% rp + 3 tetes FeCl3 5%, panaskan sampai hampir
mendidih, lalu dinginkan dan tambahkan HCI pekat tetes demi tetes sampai terbentuk endapan
Fe(OH)3, teruskan sampai endapan larut kembali dan terbentuk biru berlin.
Cara Gettler Goldbaum. Dengan menggunakan 2 buah flange r.ringan'), dan di antara kedua
flange dijepitkan kertas saring What-Bian No. 50 yang digunting sebesar flange. Kertas saring
dicelupkan *e dalam larutan FeSC>4 10% rp selama 5 menit, keringkan lalu celup-can ke dalam
larutan NaOH 20% selama beberapa detik. Letakkan san jepitkan kertas saring di antara kedua
flange. Panaskan bahan san salurkan uap yang terbentuk hingga melewati kertas saring beraagensia antara ke dua flange. Hasil positif bila terjadi perubahan warna pada kertas saring
menjadi biru.
PENGOBATAN

Pada keracunan CN yang masuk secara inhalasi, Pindahkan crban ke udara bersih. Berikan
amil-nitrit dengan inhalasi, 1 ampul Z 2 ml) tiap 5 menit. Hentikan pemberian bila tekanan
darah sistolik _-ang dari 80 mmHg.
Berikan pernafasan buatan dengan 100% oksigen untuk menjaga =02 dalam darah agar tetap
tinggi. Dapat juga dipakai oksigen hiper-ca-ik. Resusitasi mulut-ke-mulut merupakan kontraindikasi.
Antidotum berupa Natrium nitrit 3% IV diberikan sesegera -ngkin dengan kecepatan 2.5 sampai
5 ml per menit. Pemberian z -entikan bila tekanan darah sistolik di bawah 80 mm Hg. Pemberian
nitrit akan mengubah Hb menjadi met-Hb dan akan mengikat CN menjadi sian-met Hb. Jumlah
nitrit yang diberikan harus dida-sarkan pada kadar Hb dan berat badan korban.
Jumlah Natrium nitrit pada tabel telah cukup untuk mengubah 25 % Hb menjadi Met-Hb. Kadar
met-Hb tidak boleh melebihi 40%, a-ena met-Hb tidak dapat mengangkut 02. Bila kadar metHb -elebihi 40 % berikan reduktor, misalnya Vitamin C intravena.
Variasi takaran natrium nitrit dan natrium tiosulfat dgn kadar HB
Hemoglobin
(g/100ml)

Takaran awal
Takaran awal
Takaran awal
NaN02 (mg/Kg) NaN02 3 %
Na-tiosulfat
(ml/Ka)
25% (ml/Kg)
7
5,8
0,19
0,95
8
6,6
0,22
1,10
9
7,5
0,25
1,25
10
8,3
0,27
1,35
11
9,1
0,30
1,50
12
10,0
0,33
1,65
13
10,8
0,36
1,80
14
11,6
0,38
1,95
Bila tekanan darah turun karena pemberian nitrit, berikan 0.1 -g levarterenol atau epinefrin I.V.
Natrium tiosulfat 25 % I.V. diberikan menyusul setelah pemberian Na nitrit dengan kecepatan
2.5-5 ml per-menit. Tiosulfat menggali CN menjadi tiosianat.
Hidroksokobaiamin juga dianjurkan sebagai antidotum terutama untuk keracunan kronik.
Dikatakan bahwa Kobalt EDTA adalah obat pilihan dengan takaran 300 mg I.V. yang akan
mengubah CN menjadi kobaltsianida Co(CN)6 yang larut dalam air.
Pada keracunan CN yang ditelan, lakukan tindakan darurat dengan pemberian inhalasi amilnitrit, satu ampul (0.2 ml, dalam waktu 3 menit) setiap 5 menit. Bilas lambung harus ditunda
sampai setelah diberikan antidotum nitrit dan tiosulfat. Bilas lambung dengan Na-tiosulfat 5%

dan sisakan 200 ml (10 g) dalam lambung. Dapat juga dengan K permanganat 0.1% atau H2O2
3% yang diencerkan 1 sampai 5 kali. Atau dengan 2 sendok teh karbon aktif atau Universai
Antidote dalam 1 gelas air dan kemudian kosongkan lambung dengan jalan dimuntahkan atau
bilas lambung.
Berikan pernafasan buatan dengan oksigen 100%. Penggunaan antidotum sama seperti pada
pengobatan keracunan CN yang diinhalasi.
Selain nitrit, dapat juga diberikan biru metilen 1% 50 ml I.V. sebagai antidotum. Biru metilen
akan mengubah Hb menjadi Met-Hb dan Met-Hb yang terbentuk pada pemberian biru metilen
ini ternyata tidak dapat bereaksi dengan CN oleh sebab yang masih belum diketahui.
Bila korban keracunan akut dapat bertahan hidup selama 4 jam maka biasanya akan sembuh.
Kadang-kadang terdapat gejala sisa berupa kelainan neurologik.
Pada keracunan Ca-Sianamida, belum diketahui antidotum yang dapat digunakan. Setelah bilas
lambung diberikan terapi secara simtomatik.
KERACUNAN ARSEN (As)
Senyawa arsen dahulu sering digunakan sebagai racun untuk -embunuh orang lain, dan tidaklah
mustahil dapat ditemukan kasus peracunan dengan Arsen di masa sekarang ini. Disamping itu,
eracunan Arsen kadang-kadang dapat terjadi karena kecelakaan paiam industri dan pertanian
akibat memakan/meminum makanan/ -.numan yang terkontaminasi dengan Arsen. Kematian
akibat eracunan Arsen sering tidak menimbulkan kecurigaan karena gejala keracunan akutnya
menyerupai gejala gangguan gastrointes-Inal yang hebat sehingga dapat didiagnosa salah sebagai
suatu -enyakit.
SJMBER
Industri dan pertanian. Arsen dalam bentuk Na/K-arsenit terdapat dalam bahan yang digunakan
untuk penyemprotan buah-rc-ahan, insektisida, fungisida, rodentisida, pembasmi tanaman liar
dan pembunuh lalat (fly paper). Juga kadang kadang didapatkan :=am cat dan kosmetika.
Tembaga-aseto-arsenit (Scheele's green/paris green) juga z gunakan pada beberapa pembasmi
tanaman liar. Pada abad yang a J zat ini secara luas digunakan sebagai pigmen dalam pembuatan
mailpaper berwarna, bunga-bungaan artifisial, lilin dan gula-gula.
Orpiment (yellow arsenic-sulphide), digunakan sebagai pigmen -an juga merupakan konstituen
(bahan utama) dari fly paper dan raran untuk merontokkan rambut.

AS2O3 (arsenious acid), adalah racun umum yang sekarang :e ah jarang digunakan lagi, terdapat
dalam warangan (racun tikus). _a-utan Fowler (liquor arsenicalis), yaitu larutan AS2O3, dahulu
z gunakan untuk mengobati demam, kemudian sebagai tonikum, e:api sekarang tidak populer
lagi.
Arsin (ASH3) merupaakan gas tidak berwarna dengan bau s e-erti bawang, terdapat dalam
industri, merupakan yang paling ber-ranaya dari golongan arsen serta merupakan salah satu
racun in-- stri yang mematikan. Ada pendapat, bahwa keracunan Paris 3-een yang terdapat pada
wallpaper diakibatkan oleh terbentuknya arsin akibat kerja jamur pada pigmen tersebut. Arsin
dapat pula terbentuk bila senyawaan arsen bereaksi dengan Hidrogen nascent a:au asam.
Tanah. Arsen juga terdapat dalam tanah sehingga kita harus perhati-hati dalam penyimpulan
kasus dugaan keracunan Arsen ,ang telah dikuburkan. Contoh tanah harus diambil dari tempat di
r.as dan di bawah peti mati/jenasah dan juga pada tempat yang jauh cari peti/jenasah tetapi masih
di taman pemakaman tersebut, guna penarikan kesimpulan dari hasil pemeriksaan toksikologik.
Air. Air minum dapat terkontaminasi dengan Arsen dari industr atau sumber arsen alami
sehingga dapat menyebabkan keracunan kronik.
Bir.Arsen mungkin terdapat dalam bir, yaitu berasal dari iron pyrites yang digunakan pada
pembuatan glukosa untuk bir.
Kerang. Arsen terdapat dalam keong, kepiting, kerang da-ikan. Kerang (Oyster) dapat
mengandung 3.7 ppm arsen.
Tembakau. Asap tembakau mengandung 8.3-50 ppm Arser asap sigaret 3.3-10.5 ug/L dan asap
cerutu 0.2 - 3.0 ug/L.
Obat-obatan. Arsen dalam obat-obatan umumnya merupaka^ Arsen organik turunan benzena,
misalnya carbarsone (4-ureido ben-zene arsonic acid), tryparsamide (sodium N-carbamyl
methyl-p-amino benzene arsenate), glycobiarsol. Senyawa organik asam arsenat digunakan
sebagai anti tripanosomiasis, amebisida, an: cacing pada binatang (filariasis pada kucing),
trichomoniasis da~ moniliasis. Obat-obat ini larut dalam lemak sehingga dapat masuk ke dalam
tubuh melalui kulit. Salvarsan (arsphenamine=606), dahu u digunakan untuk mengobati sifilis.
Asam Cacodylate, digunaks dalam tonikum.
Lain-lain. Lewisite (klorvinil dikloro-arsin), merupakan gas racun yang diguna kan dalam
peperangan.

Umumnya yang digunakan sebagai racun untuk membunur adalah AS2O3 (Warangan, racun
tikus).
AS2O3 terdapat dalam bentuk bubuk berwarna putih atau kristal, jernih, tidak mempunyai rasa
dan tidak berbau. Dalam laruta-juga tidak berwarna sehingga dapat diberikan tanpa
menimbulkan kecurigaan korban. Bentuk bubuk dikenal sebagai arsen putih.
Bentuk kristal lebih mudah larut (daya larut dalam air panas 1:10, dalam air dingin 3:100).
Bentuk bubuk lebih sukar larut (dalar air dingin 3:1000). Daya larut dapat diperbesar dengan
adanya asar atau basa.
Dalam bentuk larutan, bentuk kristal akan berubah menjac bubuk putih, sehingga pada larutan
jenuh kristal tersebut bila didiar-kan akan terjadi endapan putih yang cenderung menempel pac;
dinding.
FARMAKOKINETIK.
Arsen dapat masuk kedalam tubuh melalui mulut, inhalas (pada debu Arsen dan Arsin) dan
melalui kulit.
Setelah diabsorpsi melalui mukosa usus, Arsen kemudiar ditimbun dalam hati, ginjal, kulit dan
tulang.
Pada keracunan kronik, Arsen juga ditimbun dalam jaringan-jaringan lain, misalnya kuku dan
rambut yang banyak mengandung keratin yang mengandung disulfida.
Ekskresi terjadi dengan lambat melalui feses dan urin sehingga rapat terjadi akumulasi dalam
tubuh.
FARMAKODINAMIK
Arsen menghambat sistim enzim sulfhidril dalam sel sehingga -etabolisme sel dihambat.

(Pada keracunan Arsin, terjadi hemolisis sel darah merah, serta raK depresi pada SSP.)
Nilai ambang batas dalam air minum adalah 0.2 ppm.
Pada orang dewasa, kadar normal dalam urin 100 ug/L, ram-but 0.5 mg/kg, dan kuku 0.5 mg/kg.
Kadar dalam rambut pada e-acunan 0.75 mg/kg dan pada kuku 1 mg/kg atau lebih.
Kadar dalam darah normal anak-anak 30 ug/L, urine 100 ug/24
a~.

Takaran fatal AS2O3 adalah 200-300 mg sedangkan untuk Arsin adalah 1:20.000 dalam udara.
TANDA DAN GEJALA KERACUNAN
Keracunan akut. Timbul gejala gastro-intestinal hebat. Mula--Ja rasa terbakar di daerah
tenggorok dengan rasa logam pada mulut, diikuti mual dan mun tah-muntah hebat. Isi lambung
dan bahkan isi duodenum dapat ke luar, muntahan dapat mengandung ruouk berwarna putih
(AS2O3), kadang-kadang sedikit berdarah.
Kemudian terjadi nyeri epigastrium yang cepat menjalar ke seluruh perut hingga nyeri pada
perabaan, diare hebat. Kadang-adang terlihat bubuk putih pada kotoran yang dapat tampak
seperti a - cucian beras dengan jalur darah. Muntah dan berak hebat dapat berhenti spontan untuk
kemudian timbul lagi. Akhirnya terjadi rehidrasi dan syok. As juga memperlemah kerja otot
jantung dan -empengaruhi endotel kapiler yang mengakibatkan dilatasi kapiler seningga
menyebabkan syok bertambah berat.
Kematian dapat terjadi sebagai akibat dehidrasi jaringan dan a, ok hipovolemik yang terjadi..
Keracunan Arsin. Arsin yang berbentuk gas ini masuk ke ca'am tubuh melalui inhalasi, yang
selanjutnya akan mencapai darah dan menimbulkan hemolisis hebat serta penekanan terhadap
SSP. Korban menunjukkan gejala menggigil, demam, muntah, nyeri r-nggung, ikteris, anemia
dan hipoksia, kadang-kadang disertai .ajang. Urin dapat mengandung hemoglobin, eritrosit dan
silinder. Kematian terjadi karena kegagalan kardio-respirasi.
102
Bila tidak segera meninggal, pada ginjal dapat terjadi nekrosis tubuler dan obstruksi tubuli oleh
silinder eritrosit dengan akibat anur dan uremia.
Keracunan Kronik. Pada keracunan kronik, korban tampak lemah, melanosis arsenik berupa
pigmentasi kulit yang berwarna kuning coklat, lebih jelas pada daerah fleksor, puting susu dan
peru: sebelah bawah serta aksila. Rambut tumbuh jarang.
Pigmentasi berbintik-bintik halus berwarna coklat, umumnya terlihat pada pelipis, kelopak mata
dan leher yang menyerupai pigmentasi pada penyakit Addison tetapi mukosa mulut tidak terkena
Dapat pula menyerupai pitiriasis rosea dalam gambaran dan distribusi, tetapi menetap. Keratosis
dapat ditemukan pada telapak tangan dan kaki (keratosis arsenik).
Gejala-gejala lain yang tidak khas seperti malaise, berat badar me- nurun, mata berair, fotofobi,
pilek kronis, mulut kering, lidar menunjukkan bulu-bulu halus berwarna putih perak di atas
jaringar berwarna merah.

Gejala neurologik berupa neuritis perifer, mula-mula rasa teba dan kesemutan pada tangan dan
kaki, kemudian terjadi kelemahar otot, tidak stabil, kejang otot (kram) terutama pada malam hari.
PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK.
Korban mati keracunan akut
Pada pemeriksaan luar ditemukan tanda-tanda dehidrasi.
Pada pembedahan jenazah ditemukan tanda-tanda iritasi lambung, mukosa berwarna merah,
kadang-kadang dengan perdarahan (flea bitten appearance). Iritasi lambung dapat menyebabkan
produksi musin yang menutupi mukosa dengan akibat partikel-partike Arsen dapat tertahan.
Orpimen terlihat sebagai partikel-partikel As berwarna kuning sedangkan AS2O3 tampak
sebagai partikel berwarna putih.
Pada jantung ditemukan perdarahan sub-endokard pada septum. Histopatologik jantung
menunjukkan infiltrasi sel-sel radang bulat pada miokard. Sedangkan organ lain parenkimnya
daapat mengalami dege- nerasi bengkak keruh.
Pada korban meninggal perlu diambil semua organ, darah urin, isi usus, isi lambung, rambut,
kuku, kulit dan tulang.
Bahan-bahan yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologik pada korban hidup adalah
muntahan, urin, tinja, bilas lambung, darah, rambut dan kuku.
Korban mati akibat keracunan Arsin
Bila korban cepat meninggal setelah menghirup arsin, akan terlihat tanda-tanda kegagalan
kardio-respirasi akut.
Bila meninggalnya lambat, dapat ditemukan ikterus dengan anemi hemolitik, tanda-tanda
kerusakan ginjal berupa degenerasi er-.ak dengan nekrosis fokal serta nekrosis tubuli.
Korban mati akibat keracunan Kronik
Pada pemeriksaan luar tampak keadaan gizi buruk. Pada kulit E-aapat pigmentasi coklat
(melanosis arsenik), keratosis telapak tan-:a- dan kaki (keratosis arsenik). Kuku memperlihatkan
garis-garis :. - (Mee's lines) pada bagian kuku yang tumbuh dan dasar kuku. " T~uan pada
pemeriksaan dalam tidak khas.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM.
Pada kasus keracunan As, kadar dalam darah, urin, rambut aan kuku meningkat. Nilai batas
normal kadar As adalah sebagai
berikut:

Rambut kepala normal : 0.5 mg/kg


Curiga keracunan : 0.75 mg/kg
Keracunan akut : 30 mg / kg
Kuku normmal : sampai 1 mg/Kg
Curiga keracunan : 1 mg/kg
Keracunan akut : 80 ug/kg
Dalam urin, Arsen dapat ditemukan dalam waktu 5 jam setelah -inum, dan dapat terus ditemukan
hingga 10-12 hari.
Pada keracunan kronik, Arsen diekskresikan tidak terus - T -erus (intermiten) tergantung pada
intake. Titik-titik basofil pada osit dan lekosit muda mungkin ditemukan pada darah tepi, funjukkan beban sumsum tulang yang meningkat. Uji Kopro-por-nn urin akan memberikan hasil
positip.
Kematian dapat terjadi sebagai akibat malnutrisi dan infeksi.
Pemeriksaan toksikologik
Uji Reinsch:
Berdasarkan Hukum Deret Volta (sebagian deret Volta adalah : a Ca Mg Al Zn Fe Pb H Cu As Ag
Hg Au), unsur yang letaknya di :elah kanan akan mengendap bila ada unsur yang letaknya lebih
dalam larutan tersebut. Letak As dalam deret adalah lebih kanan
oari pada Cu.
10 cc darah + 10 cc HCI pekat dipanaskan hingga terbentuk
ia: 3
Celupkan batang tembaga ke dalam larutan, akan terbentuk :apan kelabu sampai hitam dari As
pada permukaan batang tem:a:a tersebut.
Untuk membedakan dari Ba, digunakan sifat sublimasi As.
Uji Gutzeit: Noda coklat sampai hitam pada kertas saring Uji Marsh : Zat + HCI + Zn (logam)
cermin As. Fisika : As menunjukkan nyala api yang khas. Kromatografi Gas.
PENGOBATAN
Keracunan akut

Atasi syok dan dehidrasi, lakukan bilas lambung, walaupun sudah muntah-muntah, karena sifat
Arsen yang melekat pada dinding lambung. Bilaslah lambung dengan FeS04 sehingga terbentuk
Feri-arsenat yang larut dalam air, bilas berulang-ulang.
Morfin dapat dipertimbangkan untuk mengurangi nyeri.
Walaupun haus jangan diberi minum karena akan merangsang terjadinya muntah-muntah lebih
lanjut.
Antidotum arsen yaitu B.A.L. (dimerkaprol) akan mengikat Arsen menjadi tio-arsenat dan
diekskresikan melalui ginjal. Dosis 5 mg/kg BB IM, tiap 8 jam untuk hari I dan II, dan tiap 12
jam untuk 12 hari berikutnya.
Keracunan Arsin
Transfusi darah bila korban tampak anemi berat. Beri Oksigen untuk mengatasi hipoksia.
Monotiol/ditiol dapat mencegah hemolisis sel darah merah bila segera diberikan setelah terkena
racun. Antidotum B.A.L. tidak efektif, tetapi Dimerkapto-propil-eter dapat digunakan secara
efektif.
Berikan pula terapi simtomatik.
KERACUNAN TIMBEL
SUMBER
Plumbum atau timbel (timah hitam) terdapat dimana-mana, saiam jumlah besar dalam badan
accu/batterai. Pada masa lampau ssr ng terjadi keracunan Pb karena accu di bakar untuk
menghangat-an ruangan.
Pb terdapat pula pada pipa air zaman dahulu (sekarang de--can plastik, pralon dsb), timah solder,
bahan dasar cat (sekarang -.-a- um di-oksida), dempul meni, dan glasier dari benda-benda
aramik dan gelas (crystal lead). Air yang lunak dengan pH asam rapat melarutkan Pb organik,
sehingga di Meksiko yang mempunyai aciasaan minum dari gelas keramik sering terjadi
keracunan Pb. Pb uga terdapat pada bahan kosmetik mata orang Indian yang disebut jrma,
demikian juga dapat ditemukan pada eye-shadow, lipstick ra- blush-on.
Ke dalam bensin sengaja ditambahkan tetra ethyl lead (TEL) zagai anti knock agent
(menghilangkan ngelitik mesin), sehingga raam asap mobil terdapat oksida dan garam Pb dalam
bentuk
aerosol.

Menurut WHO air minum maksimum boleh mengandung Pb 40 jg, liter. Sedangkan dalam
udara normal kadarnya 2-3 ug/m3 dan T*_V nya adalah 0-2 ug/m3 udara, 40 jam per-minggu.
Ketetapan 3uoernur DKI Jakarta No 007 tanggal 7 Juni 1980 menyebutkan acar Pb maksimum
dalam udara adalah 20 ug/m3 dan kadar Pb . a-g masih diperkenankan adalah 60 ug/m udara.
-ARMAKOKINETIK.
Timah hitam dapat diabsorpsi melalui berbagai cara. Saluran eema terutama usus halus
mengabsorbsi Pb sebanyak 5-10% dari :t yang ditelan, sedangkan lambung tidak mengabsorbsi.
Saluran -a-'as mengabsorpsi 30-50% Pb yang diinhalasi, mekanisme tidak
rfretahui.
Pb organik dapat melewati kulit yang utuh sedangkan Pb anor-zar K tidak. Selain itu Pb juga
dapat diserap melalui jaringan ikat dan act. sehingga bila anak peluru tertinggal dalam tubuh
maka akan sarat menimbulkan keracunan kronik.
Setelah diabsorpsi, Pb diikat oleh sel darah merah sebanyak 55-c. selebihnya diikat oleh protein
serum, sehingga pemeriksaan re-entuan adanya Pb harus dilakukan terhadap darah penuh. Bila
-e-zapat anemia, harus dikoreksi packed ce//-nya dan dikembalikan i _arga normal. Misalnya
bila Ht 20 (normal 40-45), maka koreksi: 23 x . . . . ug. Kadar normal: 60 ug/100 ml, dan
disepakati bila rcapatkan kadar 70 ug atau lebih dianggap terdapat pemaparan.
Pb didistribusi ke jaringan lunak seperti ginjal, hati, otak, dar otot. Kemudian terjadi redistribusi
ke jaringan keras yaitu tulang panjang dan gepeng, rambut dan gigi, sedangkan di dalam darah
hanya tersisa kira-kira 1 %.
Pb disimpan dalam bentuk tri-lead-phosphate yang inaktif sehingga merupakan detoksikasi
temporer, meskipun masih sela-ada pertukaran kecil antara tulang dan jaringan lunak. 90% Pb
terdapat pada tulang, tetapi pada keadaan tertentu, seperti infeks saluran nafas bagian atas, stress
fisik dan psikis, minum alkohol, da-asidosis, akan terjadi mobilisasi yang lebih besar, Pb dilepas
ke dalam darah sehingga timbul gejala-gejala. Hal inilah yang menjelaskan mengapa pada
keracunan kronik gejalanya hilang timbul.
Fosfor, Kalsium, dan vitamin D memudahkan deposisi Pc dalam tulang sehingga penting dalam
terapi.
Ekskresi terutama melalui ginjal tetapi lambat. Sembilan perse-dari Pb yang diserap diekskresi.
makin tinggi kadarnya, makin ceps: ekskresinya hingga mencapai keadaan tertentu. Waktu yang
dipalukan untuk mengeluarkan Pb dua kali lebih lama dari waktu unt_* menyerap.

Ekskresi dapat pula melalui empedu dan keluar bersama feses tetapi sebagian besar Pb dalam
feses berupa Pb yang tak diabsorpsi. Kira-kira 90% Pb yang ditelan akan dikeluarkan bersama
feses. Pb diekskresikan juga melalui keringat dan asi.
FARMAKODINAMIK.
Penelanan Pb karbonat 20 g atau Pb asetat 20-30 g akan mengakibatkan keracunan akut.
Sedangkan jika menelan 2 mg sehar selama beberapa minggu akan terjadi keracunan kronik
(rata-rata hanya diserap 350 ug). Dalam air minum, maksimum hanya bole-~ terdapat 0,1 ppm,
dalam makanan maksimum 7 ppm, dalam udara maksimum 0,2 ppm.
Keracunan akan menyebabkan spasme arteriol, spasme otot polos usus, ureter, uterus, hambatan
pembentukan heme, ganggua-fungsi tubuli ginjal dan gangguan fungsi susunan saraf pusat.
Akibat spasme arteriol, muka akan pucat tetapi tidak sesua dengan derajat aneminya. Gangguan
berupa spasme otot polos usus akan menim bulkan kolik, demikian pula dengan ureter. Anen
akan timbul karena gangguan pembentukan heme. Hal ini karena Ps mempunyai afinitas yang
kuat untuk mengikat S, sehingga aka-mengikatkan diri pada gugus -SH yaitu ezim-enzim yang
berpera-pada pembentukan heme seperti d-amino asam levulinat dehidratase, dan heme sintetase.
Pembentukan heme tergangg. menyebabkan timbulnya anemia hipokrom mikrositik. Selain itu :
ALA dalam darah dan urin meningkat. Koproporfirin III dan por-fobilinogen dapat meningkat
juga.
Protoporfirin bebas (free erythrocyte protoporphyrin = FEP) jam eritrosit meningkat dan ini
akan memberikan fluoresensi weran (fluo rositosis).
Normal 0-50% eritrosit menunjukkan fluoresensi, pada eracjnan Pb 80-100%. Dalam eritrosit
akan terbentuk basophylic Wfppling (titik basofil) yang merupakan kompleks dari Fe dengan asaliponukleat. Pada orang normal titik basofil ini terdapat dalam
- =- 300-700/1 juta eritrosit.
Cara menghitung titik basofil: dengan minyak imersi, dalam 1 aca-gan dianggap ada 200
eritrosit, dilihat dalam 50 lapangan, bila isaam 50 lapangan ini ditemukan 3 eritrosit dengan titik
basofil maka oftatikan 100 berarti 300 dalam 1 juta eritrosit. Bila didapatkan 1000-JDDC 1 juta,
berarti ada pemaparan. Bila 35.000-40.000/1 juta, ada ; -: -nan kronik yang gejala klinisnya telah
jelas.

Titik basofil tidak patognomonik untuk keracunan Pb, dapat tca pada anemi berat, leukemia,
kanker, anemi primer, anemi .- _-der, dan keracunan benzene. Tetapi pada keracunan Pb, titik
- . z - terjadi lebih dahulu sebelum ada anemi yang jelas dan berat.
Pb juga mengurangi umur eritrosit, dengan menghambat ATP-ase , ang berperan dalam
pengaturan keseimbangan kation intra dan isra seluler. Syarat agar eritrosit dapat bertahan lama
ialah banyak er <+ dan sedikit Na+ di dalam eritrosit. Untuk menahan K+ diper-_-a_ oksidasi
fosforilasi yang memerlukan ATP-ase. Pada erarunan hebat dapat terjadi hemolisis.
Dalam ginjal terjadi gangguan fungsi reabsorpsi pada tubuli s?- -g ga timbul glukosuri, asamamino-uri, fosfaturi. Gangguan ini
- : - melalui hambatan ATP-ase.
Pada SSP terjadi gangguan terhadap MAO sehingga timbul cerna serebri difus, edema
perivaskular, perdarahan, nekrosis kecil-*a; dege nerasi sel saraf, dan pembengkakan sel endotel.
Dapat rua timbul ensefalopati Pb yang ireversibel.
- "iDA DAN GEJALA KERACUNAN.
Pada keracunan akut, korban akan merasa sepat (rasa jam), muntah-muntah berwarna putih
karena adanya Pb klorida, jo-e dengan feses yang hitam akibat adanya PbS. Kedua hal ini sacat
menyebabkan dehidrasi. Terjadi pula nyeri perut karena iritasi, sar mi dapat ditolong dengan
morfin. Syok, hemolisis akut, hemo-jgtabinuri, oliguri, parestesi. Biasanya kematian terjadi
akibat syok : i - rehidrasi.
Pada keracunan kronik korban tampak pucat yang tak sesuai aergan derajat anemi, karena pucat
timbul sebagai akibat spasme arca' ol di bawah kulit. Rasa logam pada mulut, anoreksia,
obstipasi, i:ang kadang diare.
Konstipasi yang hebat d&oai menyebabkan muntah. Lear colic (kolik Pb), yang bersifat
spasmodik, otot-dinding perut menjata tegang seperti pada abdomen akut. Gejala neuromuskuler
yang tar-pak adalah otot-otot lemah, paralisis (lead palsy) pada ekstensi lengan dan tungkai
sehingga timbul wrist drop dan foot drop, dahu _ sering terjadi pada tukang cat (painter's hand).
Paralisis diikuti de-ngan atrofi otot. Lead encephalopathy terjadi terutama pada ana--anak, jarang
pada orang dewasa. Kelakuan berubah (kelaina-motorik), muntah yang proyektil, diare, sakit
kepala, lalu kejar: koma dam meninggal. Tekanan intrakranial meningkat. Dapat timb J palsi
serebral atau epilepsi. Kalau sembuh dapat mengakibatka-kemunduran mental. Gejala di luar
SSP bersifat reversibel.

Pada keracunan akut terdapat deposit Pb di tulang. Pada gus yang berdekatan dengan gigi
terdapat garis Pb atau Burtonian line. berwarna kelabu atau kebiru-biruan akibat deposisi Pb
dalam sel-se perifer periodontal. Garis Pb ini tidak selalu ditemukan, biasanya ditemukan pada
orang dengan higina mulut yang buruk.
Pada rontgen foto tulang humerus, femur, tibia, iga-iga bagia-depan, dan bagian bawah krista
iliaka terdapat garis Pb berupa gar s transversal pada metafisis tetapi subepifiseal (radioopak).
Tebal da-jumlah garis ini tergantung pada lama pemaparan.
Jika pemaparan per-inhalasi periodik maka akan didapatka-keracunan Pb, dan pada foto toraks
akan terlihat bercak-berca* pada saluran nafas. Penimbunan pada tulang baru terlihat setelah 3
bulan inhalasi atau 6 bulan setelah melalui oral.
Kematian pada keracunan Pb terjadi akibat malnutrisi dan -feksi.
PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK
Diagnosis keracunan Pb pada orang hidup ditegakkan denga-melihat adanya gejala keracunan
dan pemeriksaan kadar Pb dara-dan urin. Pemeriksaan radiologi juga dapat menolong.
Pada orang yang mati karena keracunan akut ditemuka-tanda-tanda dehidrasi, lambung mengerut
(spastis), hiperemi, isi la~-bung berwarna putih. Usus spastis dan feses berwarna hitam.
Jika orang meninggal karena keracunan kronik, maka didapatkan tubuh sangat kurus, pucat,
terdapat garis Pb, ikterik, gastrits kronik, dan pada usus didapatkan bercak-bercak hitam. Atrofi
otot lengan dan tungkai sering dijumpai. Bila terdapat ensefalopati, dijur-pai edema otak dan
titik-titik perdarahan.
Ginjal menunjukkan tanda-tanda tubular nekrosis, korte-s menebal, dan hiperemi. Mikroskopik
terlihat sel tubuli menunjukka-degenerasi sitoplasma, jisim inklusi (\nclusion bodies) dalam inf
yang dapat juga timbul akibat keracunan Bi. Jisim ini juga ditemuka-pada sel-sel hati.
Lambung menunjukkan gastritis kronik akibat iritasi (bila Pb Deroral) dan pigmentasi pada usus.
Bila tulang panjang dipotong, a-pak garis Pb yang lebih pucat dari sekitarnya.
Kadar tertinggi Pb terdapat dalam tulang, ginjal, hati dan otak : i - -gga bahan pemeriksaan
diambil dari organ-organ tersebut.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM.
Normal kadar Pb dalam darah kurang dari 60 ug/100ml. Bila ecn dari 70 ug/100ml berarti ada
pemaparan abnormal. Bila lebih oari 100 ug/100ml berarti telah terjadi keracunan.

Pemeriksan laboratorium untuk menentukan Pb dalam urin rarat dengan cara sebagai berikut.
Ke dalam urin ditambahkan H2SO4 encer sehingga terbentuk e-cap an PbS04 berwarna putih,
lalu disaring. Endapan ini tak larut saam HNO3 tapi larut dalam HCI atau NhU-asetat. Untuk
pemeriksaan Pb dalam urin sebaiknya digunakan urin 24 jam.
Dalam urin kadar Pb normal 0.5-ug/100 ml. Pemaparan abnor--a bila sama atau lebih besar dari 8
ug/100 ml, sedangkan e-acunan bila sama atau lebih besar dari 20 ug/100 ml. Pada a-acunan
didapatkan pula kadar koproporfirin 80 ug/100 mg *reatinin, dan d-ALA 2 mg/100 mg kreatinin.
Untuk mengetahui adanya koproporfirin dalam urin, dilakukan _ji sebagai berikut; 5 cc urin
diasamkan dengan asam asetat glasial sen ngga pH menjadi kurang dari 4, kemudian
ditambahkan 5 tetes -2C2 3% dan 5 cc eter, lalu dikocok. Lapisan air dibuang dan lapisan car di
ambil, ditambahkan ke dalam 1 cc HCI 1.5 N, kocok, lapisan asam diambil, lihat dengan sinar
UV. Bila berwarna merah maka oerarti terdapat koproporfirin, jika biru atau biru muda berarti
negatif.
Fluoresensi dan uji koproporfirin III dalam urin paling baik 3iiakukan untuk skrining masai.
PENGOBATAN.
Pada keracunan akut kurang dari 4 jam, biasanya belum terjadi acsorpsi, sehingga dapat
dilakukan bilas lambung. Kemudian acerikan MgS04 untuk mengikat Pb menjadi PbS04. MgS04
juga re-fungsi sebagai katartik terhadap Pb yang belum diserap dan 3*-eluarkan dengan diare.
Jika perut terasa sakit, dapat diberikan Tcrfin. Dehidrasi dan syok bila terjadi harus diatasi
terlebih dahulu.
Pada keracunan kronik diberi pengobatan antidotum berupa ETTA (etilen diamin tetra asetat),
nama lainnya adalah edathanil, ver-sr N32EDTA. Oleh karena mempunyai efek lain yaitu tetani
hipokal-semik (EDTA juga mengikat Ca) maka kini diberikan preparat dalam oentuk CaNa2EDTA sebanyak 1 gram. 5 cc EDTA dimasukkan ke raam 250-500 cc glukosa, diberikan
dalam waktu 1-2 jam, sehari 3_a kali.
Pemberian diteruskan untuk 3-5 hari. EDTA akan mengika: logam polivalen dan berat
membentuk senyawa siklik yang stabii larut dan tidak toksik. Senyawa ini akan diekskresikan
melalui urin Pada pemberian EDTA dapat terjadi degenerasi tubuli berupa perr-bentukan
vakuola-vakuola dalam sel tubuli yang bersifat reversibe Untuk mengetahui degenerasi tubuli
perlu dilakukan pengontrolan urin.

Kombinasi Ca-Na2 EDTA dengan BAL. BAL atau dimerkapro hanya mengikat Pb dalam darah
dan kemudian diekskresi. BAL diberikan dalam takaran 4 mg per kilogram berat badan tiap kali.
Ha*-pertama diberikan tiap 4 jam, hari kedua tiap 6 jam dan hari ketiga tiga kali sehari
diteruskan sampai 4-5 hari.
EDTA tidak boleh diberikan melalui infus jika tekanan intra kranial meninggi (ensefalopati).
Untuk keadaan ini diberikan EDT-i.m. ditambah procain 1-1.5 %
D-Penisilinamin = luperin = kuprimin. Diberikan per oral tiga kali sehari dengan takaran 1-1.5
gram sehari dalam keadaan per_: kosong. Pemberian dengan perut kosong dimaksudkan agar
logarr-logam yang penting tidak ikut terikat. Preparat ini kurang efek*/ dibandingkan dengan
EDTA, tetapi lebih aman. Karena itu baik unti> pengobatan jangka lama, sesudah pengobatan
dengan EDTA selesai. Orang-orang yang alergi terhadap penisilin biasanya juga alergi terhadap
penisilinamin. Desensitisasi dapat dilakukan denga-kortikosteroid.
Kalsium glukonat. Diberikan 1 ampul tiap 4 jam, sampai tanda-tanda keracunan berat hilang.
Jika terdapat gejala sistim pence--naan, diberikan sulfas atropin. Diberikan juga kalsium fosfat
da-vitamin, dan jika tekanan intrakranial meninggi diberikan manitol.
ALKOHOL
Alkohol banyak terdapat dalam berbagai minuman dan sering re- mbulkan keracunan. Keracunan
alkohol menyebabkan penurun-ar daya reaksi atau kecepatan, kemampuan untuk menduga jarak
=an ketrampilan mengemudi sehingga cenderung menimbulkan aceiakaan lalu-lintas di jalan,
pabrik dan sebagainya. Penurunan s-ampuan untuk mengontrol diri dan hilangnya kapasitas
untuk re-f.Kir kritis mungkin menimbulkan tindakan yang melanggar hukum sec-erti perkosaan,
penganiayaan, dan kejahatan lain ataupun tindakan bunuh diri.
E.MBER
Alkohol terdapat dalam berbagai minuman seperti whisky, rrandy, rum, vodka, gin (mengandung
45% alkohol); wines (10-2?=*= : beer dan ale (48%). Alkohol (etanol) sintetik seperti air tape,
T _a.K dan brem, dihasilkan dari peragian secara kimia dan fisiologik. 5a- alkohol murni dapat
tercium di udara bila mencapai 4,5-10 ppm.
" - R M A KO Kl N ETIK
Alkohol diabsorpsi dalam jumlah sedikit melalui mukosa mulut ssn lambung. Sebagian besar
(80%) diabsorpsi di usus halus dan ssanya diabsorpsi di kolon. Kecepatan absorpsi bergantung
kepada Tataran dan konsentrasi alokohol dalam minuman yang diminum, sara vaskularisasi,

motilitas dan pengisian lambung dan usus halus. 3ia Konsentrasi optimal alkohol diminum dan
masuk ke dalam lam-oung kosong, kadar puncak dalam darah tercapai 30-90 menit sas-dahnya.
Alkohol mudah berdifusi dan distribusinya dalam jaring-ar sesuai dengan kadar air jaringan
tersebut, semakin hidrofil jaringan semakin tinggi kadarnya. Biasanya dalam 12 jam sudah
tercapai laaembangan kadar alkohol dalam darah, usus dan jaringan lunak. <~nsentrasi dalam
otak sedikit lebih besar dari pada dalam darah.
90% alkohol yang dikonsumsi akan dimetabolisme oleh tubuh B"j tama dalam hati oleh enzim
alkohol dehidrogenase (ADH) dan : T-zim nikotinamidadenindinukleotida (NAD) menjadi
asetaldehida ssr kemu dian oleh enzim aldehida dehidrogenase (ALDH) diubah menjadi asam
asetat. Asam asetat dioksidasi menjadi CO2 dan H2O.
Piruvat, levulosa (fruktosa), gliseraldehida (metabolit dari levu-csa) dan alanina akan
mempercepat metabolisme alkohol.
Sebenarnya di dalam tubuh ditemukan juga mekanisme pemera-an alkohol yang lain, yaitu
hidrogen peroksida katalase dan sisir- oksidasi etanol mikrosomal, namun kurang berperanan.
Kadar alkohol darah kemudian akan menurun dengan kecepatan yang sangat bervariasi (12-20
mg% perjam), biasanya penu--_ran kadar tersebut dianggap ratarata sebesar 15 mg%
Xnight,1987) atau 14 mg% (Freudenberg,1966) setiap jam.
Pada alkoholik kronik, yang telah dipercepat metabolismenya eliminasi alkohol dapat mencapai
40 mg% perjam.
10% alkohol yang dikonsumsi akan dikeluarkan dalam bent~ utuh melalui urin, keringat dan
udara napas. Dari jumlah ini, sebagla-besar dikeluarkan melalui urin (90%).
Konsentrasi dalam urin 1.2-1.3 kali lebih besar dari darah. Konsentrasi ini harus diperoleh dari
urin yang keluar dari ginjal se- telar minum alkohol, sehingga pemeriksaan kadar alkohol urin
har-s didahului pengosongan kandung kemih. Dua liter udara alveola-mengandung alkohol yang
sesuai dengan dalam 1 ml darah. Peneliti lain mengatakan bahwa konsentrasi alkohol 1 mg%
dalam dara-sebanding dengan kadar 0.43 mg% dalam udara napas (suhu 37 derajat Celcius).
Pada proses oksidasi alkohol, banyak dilepas hidrogen, yang menyebabkan deposit lemak dalam
hati meningkat, sebaliknya ha: akan berusaha mengeluarkan kelebihan lemak dengan meningkatkan sekresi lipoprotein ke dalam darah. Sehingga pada para peca--du alkohol akan didapatkan
hiperlipemi lebih hebat. Ziese me a-porkan sindrom yang terdiri dari ikterus, hiperlipemi dan
aner. hemolitik bersama dengan perlemakan hati alkoholik dan sirosis.

Para peneliti menemukan adanya polimorfisme baik paca enzim ADH maupun ALDH. Pada 3550% populasi orang oriental (te--masuk Indonesia) terdapat defisiensi isozim ALDH1, sehingga
paca individu tersebut metabolisme asetaldehida berjalan lambat da-mengakibatkan terjadinya
penumpukan asetaldehida. Hal ini aka-menimbulkan gejala mabok seperti muka kemerahan,
takikard a hipotensi, sakit kepala, muntah, mual, kelemahan otot dan menga--tuk, meskipun
kadar alkohol dalam darahnya masih relatif renda-(biasanya hanya 30 mg%). Keadaan inilah
yang mengakibatka-kepekaan orang Oriental terhadap minuman beralkohol sanga: heterogen.
FARMAKODINAMIK
Alkohol menyebabkan presipitasi dan dehidrasi sitoplasma se sehingga bersifat sebagai
astringent. Makin tinggi kadar alkoh:> makin besar efek tersebut. Pada kulit, alkohol
menyebabkan penurunan temperatur akibat penguapan, sedangkan pada mukosa alkohol akan
menimbulkan iritasi dan lebih hebat lagi dapat mengakibatkan inflamasi.
Alkohol sangat berpengaruh pada SSP dibandingkan pada sistem sistem lain. Efek stimulasi
alkohol pada SSP masih diperdebatkan, agaknya stimulasi tersebut timbul akibat aktivitas
berbaga bagian otak yang tidak terkendalikan karena bebas dari hambata-sebagai akibat
penekanan mekanisme kontrol penghambat.
Alkohol bersifat anestetik (menekan SSP), sehingga kemam-ra-an berkonsentrasi, daya ingat dan
kemampuan mendiskriminasi e-ganggu dan akhirnya hilang.
Alkohol hanya sedikit berpengaruh pada sistem kardiovaskular. Vaci mungkin lebih cepat tetapi
hal ini biasanya disebabkan oleh ak-iv-.as muskular atau stimulasi refleks.
Depresi kardiovaskular terjadi pada keracunan akut alkohol arg berat, terutama akibat faktor
vasomotor sentral dan depresi pernafasan; Alkohol dalam takaran sedang menyebabkan vasoiiatasi terutama pada pembuluh darah kulit sehingga menimbulkan -asa hangat pada kulit.
Terhadap ginjal, alkohol menambah efek diuresis.
Sebagai larutan 10% alkohol dapat diberikan sebagai obat sc~nifacient atau anestetik dengan
suntikan intravena.
Takaran alkohol untuk menimbulkan gejala keracunan berva--as. tergantung dari kebiasaan
minum dan sensitivitas genetik per-ra-gan. Umumnya 35 gram alkohol (2 sloki whisky)
menyebabkan ;e-^runan kemampuan untuk menduga jarak dan kecepatan serta -a-imbulkan
euforia. Alkohol sebanyak 75-80 gram (setara 150-200 n vhisky) akan menimbulkan gejala

keracunan akut dan 250-500 Tam alkohol (setara 500-1000 ml whisky) dapat merupakan takaran
aa
Sebagai gambaran dapat dikemukakan di sini kadar alkohol -a-a h dari konsumsi 35 gram
alkohol dengan menggunakan rumus
a = cx px r
a = jumlah alkohol yang diminum,
c = kadar alkohol darah (mg%),
p = berat badan (kg)
r = konstanta (0.007).
Bila berat badan 60 kg, maka 35 = c x 60 x 0.007, atau berarti acar alkohol darahnya = 83.3 mg
%.
Selanjutnya dapat disebutkan bahwa 75 gram alkohol setara re-gan kadar alkohol darah 178.5
mg%, dan 250 gram setara 595
aag%.
Obat-obat golongan meprobamat, klorpromazine, penenang trsnquilizer), barbiturat dan morfin
mempunyai efek sinergistik dengar alkohol.
ANDA DAN GEJALA KERACUNAN
Tanda dan gejala yang akan diuraikan di bawah ini adalah arca dan gejala yang timbul pada
individu dengan isozim ALDH1, serangkan untuk individu dengan defisiensi ALDH1, gejala
akan tam-zsn lebih dini pada kadar alkohol darah yang jauh lebih rendah.
Pada kadar yang rendah, 10-20 mg%, sudah menimbulka-gangguan berupa penurunan keapikan
ketrampilan tangan dar perubahan tulisan tangan. Pada kadar 30-40 mg% telah timbul per-ciutan
lapangpandangan, penurunan ketajaman penglihatan, dan pemanjangan waktu reaksi. Sedangkan
pada kadar kurang lebih &Z mg% telah terjadi gangguan penglihatan 3 dimensi, kedalaman pandangan dan gangguan pendengaran. Selain itu tampak pula gangguan pada kehidupan psikisnya,
yaitu penurunan kemampua*-memusatkan perhatian, konsentrasi, asosiasi dan analisa.
Keterampilan mengemudi mulai menurun pada kadar alkoho darah 30 50 mg% dan lebih jelas
lagi pada kadar 150 mg%.
Alkohol dengan kadar dalam darah 200 mg% menimbulka-gejala banyak bicara, ramai
(boisterous behaviour), refleks menurun inkoordinasi otot-otot kecil, kadang-kadang nistagmus
dan sering terdapat pelebaran pembuluh darah kulit.

Dalam kadar 250-300 mg% menimbulkan gejala penglihata-kabur, tak dapat mengenali warna,
konjungtiva merah, dilatasi pupi (jarang konstriksi), diplopi, sukar memusatkan pandangan/penglihatan dan nistagmus. Bila kadar dalam darah dan otak mak-meningkat akan timbul
pembicaraan kacau, tremor tangan dan bib -keterampilan menurun, inkoordinasi otot dan tonus
otot muka menghilang.
Dalam kadar 400-500 mg%, aktivitas motorik hilang sama sekali, timbul stupor atau koma,
pernafasan perlahan dan dangka suhu tubuh menurun.
Kelainan pada keracunan kronik alkohol
Saluran pencernaan. Alkohol takaran tinggi dalam waktu lama akan menimbulkan kelainan
pada selaput lendir mulut, kerong- kon-gan dan lambung berupa gastritis kronik dengan
aklorhidria da-gastritis erosif hemoragik akut serta pankreatitis hemorhagik dan dapat pula
terjadi malaborpsi. Timbulnya tumor ganas di mulut da-kerongkongan dihubungkan dengan
iritasi kronik pada pecanc_ alkohol.
Hati. Terjadi penimbunan lemak dalam sel hati. kadar SGC~ trigliserida dan asam urat
meningkat. Hepatitis pada alkoholisme dapat menyebabkan hepatitis alkoholik yang kemudian
daapa-berkembang menjadi sirosis dan hepatoma.
Jantung. Dapat terjadi kardiomiopati alkoholik dengan paya-jantung kiri atau kanan dengan
distensi pembuluh balik leher, nac lemah dan edema perifer. Bila korban meninggal, pada janturg
mungkin dijumpai hipertrofi kedua ventrikel, fibrosis endokard dengan tanda trombi mural pada
otot jantung. Histologik akan dijumpa Fibrosis interstisial, hipertrofi, vakuolisasi dan edema
serat-serat otc: jantung.
Sistem muskuloskelet. Dapat ditemukan miopati alkoholik.
- r.ologik dijumpai atrofi serat dan perlemakan jaringan otot.
Sistem saraf. Dapat terjadi polineuritis atau neropati perifer akibat degenerasi serabut saraf dan
mielin. Selain itu mungkin pula : ad sindroma Marchiafava-Bignami dengan kerusakan terutama
i z a korpus kalosum, komisura anterior, traktus optikus, massa : . - subkortikal dan pedunkulus
serebeli.
Pada alkoholisme kronik sering terjadi gangguan nutrisi akibat - z asaan makan yang kurang
baik sehingga timbul kelainan den-gejalagejala seperti defisiensi vitamin 81 (beriberi), asam
' Z ' , nat, riboflavin dan vitamin B6.
SEBAB DAN MEKANISME KEMATIAN

Mekanisme kematian pada alkoholisme kronik terutama akibat : = :a hati dan ruptur varises
esofagus akibat hipertensi portal. Selain r_ oapat disebabkan secara sekunder oleh pnemonia dan
tbc.
Peminum alkohol sering terjatuh dalam keadaan mabuk dan z ' nggal. Pada autopsi dapat
ditemukan memar pada korteks :e-ecri, hematoma subdral akut atau kronik.
Depresi pusat pernafasan terjadi pada kadar alkohol otak > 460 mg%. Pada kadar 500-600 mg%
dalam darah, penderita biasanya meninggal dalamm 1-4 jam setelah koma selama 10-16 jam.
-EVERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK
Pada orang hidup, bau alkohol yang keluar dari udara per- z z asan merupakan petunjuk awal. Petunjuk ini harus dibuktikan :e-gan pemeriksaan kadar
alkohol darah, baik melalui pemeriksaan . :ara pernapasan atau urin, maupun langsung dari darah
vena.
Kelainan yang ditemukan pada korban mati tidak khas. . - gkin ditemukan gejalagejala yang
sesuai dengan asfiksia. Selu-organ menunjukkan tanda perbendungan, darah lebih encer, :=-.'.
arna merah gelap. Mukosa lambung menunjukkan tanda per-: t - dungan, kemerahan dan tanda
inflamasi tapi kadangkadang : = < ada kelainan.
Organ-organ termasuk otak dan darah berbau alkohol. Pada . t -eriksaan histopatologik dapat
dijumpai edema dan pelebaran : 7~ou!uh darah ctak dan selaput otak, degenerasi bengkak keruh
zada bagian paffnkim organ dan inflamasi mukosa saluran cerna.
Pada kasus keracunan kronik yang meninggal, jantung dapat
- e perlihatkan fibrosis interstisial, hipertrofi serabut otot jantung, se^-sel radang kronik pada
beberapa tempat, gambaran seran lintang : :: jatunng menghilang, hialinisasi, edema dan
vakuolisasi serabut otot jantung. Schneider melaporkan miopati alhokolik akut dengan
- :-emoglobinun yang disebabkan oleh nekrosis tubuli ginjal dan esakan miokardium.
LABORATORIUM
Bau alkohol bukan merupakan diagnosis pasti keracunan Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan
dengan pemeriksaan kuantitatif kadar alkohol darah. Kadar alkohol dari udara ekspirasi dan urin
dapat dipakai sebagai pilihan kedua. Untuk korban meningga sebagai pilihan kedua dapat
diperiksa kadar alkohol dalam otak hati, atau organ lain atau cairan tubuh lain seperti cairan serebrospinalis.

Penentuan kadar alkohol dalam lambung saja tanpa menentukan kadar alkohol dalam darah
hanya menunjukkan bahwa orang tersebut telah minum alkohol. Pada mayat, alkohol dapat
berdifus dari lambung ke jaringan sekitarnya termasuk ke dalam jantung sehingga untuk
pemeriksaan toksikologik, diambil darah dari pembuluh darah vena perifer (kubiti atau
femoralis).
Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam darah atau urin yang cukup
sederhana adalah teknik modifikasi mik-rodifusi (Conway), sebagai berikut:
Letakkan 2 ml reagen Antie ke dalam ruang tengah. Reage-Antie dibuat dengan melarutkan 3.70
gm Kalium dikromat ke dalam 150 ml air. Kemudian tambahkan 280 ml asam Sulfat dan terus
diaduk. Encerkan dengan 500 ml akuades.
Sebarkan 1 ml darah atau urin yang akan diperiksa dalam ruang sebelah luar dan masukkan 1 ml
kalium karbonat jenuh dalam ruang sebelah luar pada sisi berlawanan.
Tutup sel mikrodifusi, goyangkan dengan hati hati supaya darah/urin bercampur dengan larutan
kalium karbonat.
Biarkan terjadi difusi selama 1 jam pada temperatur ruang. Kemudian angkat tutup dan amati
perubahan warna pada reage-Antie.
Warna kuning kenari menunjukkan hasil negatip. Perubaha-warna kuning kehijauan
menunjukkan kadar etanol sekitar 80 mg=-sedangkan warna hijau kekuningan sekitar 300 mg%.
Kadar alkohol darah yang diperoleh pada pemeriksaan belu~ menunjukkan kadar alkohol darah
pada saat kejadian. Hal ini aki b a* dari pengambilan darah dilakukan beberapa saat setelah
kejadia-sehingga perhitungan kadar alkohol darah saat kejadian harus dilakukan. Meskipun
kecepatan eliminasi kira-kira 14-15 mg%, namun dalam perhitungan harus juga dipertimbangkan
kemungkina-kesalahan pengukuran dan kesalahan perkiraan kecepatan eliminas Gruner (1975)
menganjurkan angka 10 mg% per jam digunaka-dalam perhitungan. Sebagai contoh, bila
ditemukan kadar alkohc darah 50 mg% yang diperiksa 3 jam setelah kejadian, akan memberikan
angka 80 mg% pada saat kejadian.
METIL ALKOHOL
Metil alkohol atau alkohol kayu banyak digunakan dalam in-austri dan rumah tangga. Metil
alkohol mudah didapat dan murah arena tidak dapat digunakan sebagai minuman karena sangat
tok-sk (sehingga tidak dikenai cukai alkohol). Metil alkohol berupa raran jernih tak berwarna
dengan bau khas, mempunyai titik didih 5C derajat Celcius.

Kadar ambang batas metanol di udara adalah 200 ppm. Bau etanol akan tercium bila kadar di
udara mencapai 100 ppm serangkan takaran toksik diperkirakan adalah 6 ml, dan takaran letal->a sekitar 30-100 ml.
SUMBER
Metil alkohol dibuat dari destilasi kayu atau melalui sintesis r- a. Banyak digunakan dalam
bidang industri dan kesenian (sebaja, selarut cat). Dikenal beberapa bentuk murni metil-alkohol
seperti lojmbian spiritus, Eagle spiritus bahan aditif untuk meninggikan nia, oktan bensin dan
sebagai cairan anti beku air radiator mobil.
Kadangka-dang etil alkohol dicampur dengan metil alkohol dan sia kadar metil-alkohol cukup
tinggi maka larutan harus diberi warna : _ -ntuk mencegah timbulnya kekeliruan.
=ARMAKOKINETIK
Metil alkohol masuk ke dalam tubuh melalui mulut, kulit dan in-tatasi. Absorpsi melalui inhalasi
misalnya terjadi bila menghirup uap as (pelitur) dalam ruang tertutup, pada pembuatan esens dan
secagainya.
Metil alkohol di dalam tubuh diubah menjadi formaldehida dan asam formiat.
Sebagian kecil metil alkohol diekskresikan dalam bentuk tidak seabah melalui paru. Ekskresi
melalui urin sangat sedikit. Dalam j-r asam formiat dapat ditemukan hingga 12 hari kemudian.
=ARMAKODINAMIK
Metil alkohol bekerja menekan SSP tanpa didahului eksitasi. Bs* depresi metil alkohol lebih
kecil dibandingkan dengan etil alko-io tetapi sebaliknya efek iritasi metil alkohol lebih besar
diban-argkan dengan etil alkohol.
Metil alkohol lebih toksik daripada etil alkohol karena hasil de posisinya yang sangat toksik dan
karena efeknya yang lebih akibat ekskresi yang lebih lambat.
DA DAN GEJALA KERACUNAN
Oleh karena yang bersifat toksik adalah hasil metabolitnya, ma-a umumnya gejala timbul tibatiba setelah masa laten yang lamanya sangat bervariasi. Keracunan metil alkohol menunjukkan
gejala rasa lemah, mual, muntah, sakit kepala, sesak nafas dan sianosis. Mungkin pula diikuti
dengan delirium, kejang, kulit teraba dingin (temperatur tubuh turun), stupor dan koma. Gejalagejala ini timbul akibat depresi SSP, edema otak dan juga akibat oksidasi metil alkohol yang
menyebabkan asidosis.

Kebutaan dapat terjadi pada keracunan akut dan kronik sebagai akibat kerja racun pada sel
ganglion retina yang menimbulkan atrofi nervus optikus. Bila kebutaan tidak menyeluruh, maka
dapat mengakibatkan lapang pandangan yang menyempit dar gangguan dalam melihat warna
(buta warna). Kebutaan sudah dapat terjadi bila terminum sebayak 15 ml metil alkohol.
SEBAB DAN MEKANISME KEMATIAN
Keracunan metil alkohol umumnya terjadi akibat kecelakaan Takar an mematikannya adalah 30100 ml. Kematian biasanya terjac dalam 24-36 jam, nammun pernah tercatat ada yang dapat
bertaha-hidup 24 hari, dengan mekanisme yang telah diuraikan di atas.
PENGOBATAN
Prinsip pengobatan adalah sebagai berikut:
Bilas lambung dengan larutan natrium karbonat 4% unti> mengatasi asidosis dan iritasi lambung.
Infus natrium laktat untuk mengatasi asidosis, kemudia'-disusul dengan larutan Ringer.
Untuk stimulasi kadang-kadang perlu diberikan camphor ata coffein.
Bila terdapat edema otak diberikan larutan glukosa hiperton> intravena.
Bila perlu dapat diberikan katartik magnesium sulfat.
PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK
Tanda-tanda yang ditemukan pada jenasah tidak khas. Paca pemeriksaan luar mungkin hanya
tercium bau khas dan tanda-tanca asfiksia. Pada pembedahan jenazah dapat ditemukan
perbendunga-alat-alat dalam, perdarahan pada permukaan paru dan mukosa ala: dalam dan
bintik-bintik perdarahan pada selaput otak (meningen).
Pada pemeriksaan histopatologik dapat dijumpai degeneras bengkak keruh pada hati dan ginjal
serta edema otak.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Bahan-bahan yang perlu diambil untuk pemeriksaan ton sikologik adalah darah, otak, hati, ginjal
dan urin. Dalam urin da- pat ditemukan metil alkohol dan asam formiat sampai 12 hari setelakeracunan.
KERACUNAN INSEKTISIDA
Insektisida adalah racun serangga yang banyak dipakai dalam pertanian, perkebunan dan dalam
rumah tangga. Keracunan insek-Irida biasanya terjadi karena kecelakaan dan percobaan bunuh
diri, arang sekali karena pembunuhan.
PENGGOLONGAN

Insektisida dapat digolongkan dalam :


Hidrokarbon terkhlorinasi (Chlorinated Hydrocarbon).
Inhibitor Kolinesterase, yang terbagi ke dalam :
Organofosfat.
Karbamat. Lain-lain.
INSEKTISIDA GOLONGAN HIDROKARBON TERKHLORINASI
Hidrokarbon terkhlorinasi adalah zat kimia sintetik yang stabil ceberapa minggu sampai
beberapa bulan setelah penggunaannya, ^mumnya larut dalam lemak tetapi tidak dalam air.
Termasuk golongan ini adalah DDT, Aldrin, Dieldrin, Endrin, Chlordane, Lindane,
Methoxychlor, Toxaphane dan BHC (Benzene nexa chlorida) yang hampir sama dengan DDT.
Farmakokinetik
DDT (Dikloro difenil trikloro etana=klorofenotan) lambat diabsorpsi melalui saluran cerna.
Insektisida dalam bentuk bubuk tidak z absorpsi melalui kulit, tetapi bila dilarutkan dalam
solven organik -ungkin dapat diabsorpsi melalui kulit. Absorpsi dapat pula melalui pernafasan
bila seseorang terpapar pada aerosol. Setelah absorpsi, Z D J dalam jumlah besar ditimbun dalam
lemak. DDT mengalami pegradasi dengan lambat dalam jaringan menjadi DDA ( Asam di-I oro
difenil asetat), dan mungkin pula produk degradasi lain. Setelah pemberian, DDT sedikit sekali
atau tidak ada DDT dalam oentuk tidak berubah dijumpai dalam urin. Tetapi ekskresi klorin organik melalui saluran kemih meningkat, dan mencapai puncaknya -alam 24 jam, kemudian
perlahan-lahan turun sampai 10 hari. Sebagian besar klorin ini terdapat dalam bentuk DDA.
Hanya 20 % pari DDT yang ditelan dijumpai sebagai DDA dalam urin.
Farmakodinamik
DDT merupakan stimulator SSP yang kuat dengan efek eksitasi angsung pada neuron, yang
mengakibatkan kejang-kejang dengan mekanisme yang belum jelas. Derajat kejang sebanding
dengan <adar DDT dalam otak. Kejang bersifat epileptiform dengan interval ejang yang makin
lama semakin singkat. DDT juga mengakibatkan sensitivitas miokardium meningkat. Kematian
terjadi akibat depresi pernafasan atau akibat fibrilasi ventrikel.
Takaran toksik DDT pada manusia adalah 1 gram dan takarar fatalnya 30 gram. Takaran fatal
pada binatang untuk Aldrin 2-5 gram Dieldrin 2-5 gram, Endrin 10 mg/kg BB, Chlordane 6
gram, Lindane 15-30 gram, Methoxychlor 350-500 gram, Toxaphene 2-7 gram.
Tanda dan Gejala Keracunan

Manifestasi utama keracunan adalah muntah-muntah, tremc-dan kejang-kejang.


Gejala pada keracunan ringan adalah merasa lelah, berat ca sakit pada tungkai, sakit kepala,
parestesia pada lidah, bibir dar muka, gelisah, dan lesu mental.
Gejala pada keracunan berat adalah pusing, gangguan keseimbangan, bingung, rasa tebal pada
jari-jari, tremor, mual, muntah fasikulasi, midriasis, kejang tonik dan klonik, kemudian koma.
Pemeriksaan Kedokteran Forensik
Diagnosis keracunan ditegakkan berdasarkan anamnesa adanya kontak dengan insektisida,
misalnya bekerja sebagai penyemprot hama, adanya gejala keracunan dan pemeriksaan laboratorium terhadap darah dan urin.
Pada keracunan kronik, dilakukan biopsi lemak tubuh yang diambil pada perut setinggi garis
pinggang minimal 50 gram dar dimasukkan ke dalam botol bermulut lebar dengan penutup dar
gelas dan ditimbang dengan ketelitian sampai 0,1 mg. Pada keadaa-normal, insektisida golongan
ini dalam lemak tubuh terdapat kurang dari 15 ppm.
Pengobatan
Prinsip pengobatan pada keracunan akut:
Tindakan darurat medik:
Bilas lambung dengan air hangat 2 4 liter.
Emetika, sirup ipekak 15 ml, kemudian diberi minum air susu, atau sari buah. Bila dalam 15
menit tidak timbul mi--tah segera ulang kembali dengan takaran yang sama.
Kulit yang terkontaminasi dicuci dengan air dan sabur Pakaian yang terkena racun harus
dilepaskan.
Berikan pernafasan buatan dengan oksigen bila terdapa-gangguan pernafasan.
Tindakan umum :
Antikonvulsan, luminal 100 mg subkutan tiap jam sampa kejang teratasi atau pemberian luminal
telah mencapai 5CC mg. Bila kejang hebat, beri sodium pentobarbital 100-5CC mg i.v.,
kemudian disusul dengan pemberian 100 mg luminal subkutan secukupnya.
Stimulan tidak boleh diberikan, terutama epinefrin, karena akan menimbulkan fibrilasi ventrikel,
mengingat bahwa pada keracunan insektisida golongan ini menyebabkan miokardium menjadi
sensitif (seperti halnya pada pemberian kloroform).
Prinsip pengobatan pada keracunan kronik :
Pindahkan korban dari lingkungan pekerjaan agar tidak kontak lagi dengan racun.

Diet tinggi karbohidrat, vitamin dan kalsium untuk mencegah nekrosis hati.
Bila ditemukan tremor beri luminal per oral.
Untuk mencegah infeksi dapat diberikan antibiotika.
Keracunan ringan akan sembuh dengan sempurna. Sedangkan pada keracunan berat dengan
kejang-kejang hebat dan lama, penyembuhannya sukar diramalkan. Penyembuhan mungkin
memerlukan waktu 2 sampai 4 minggu.
CSEKTISIDA GOLONGAN INHIBITOR KOLINESTERASE
Insektisida yang termasuk dalam golongan ini terbagi antara sar dalam golongan fosfat organik
dan karbamat. Keduanya mem-SJLrtyai cara kerja yang sama, yaitu dengan mengikat enzim
asetil- : -esterase.
5

armakokinetik

Inhibitor Kolinesterase diabsorpsi secara cepat dan efektif -a a ji oral, inhalasi, mukosa, dan
kulit.
Setelah diabsorpsi sebagian besar diekskresikan dalam urin, -ampir seluruhnya dalam bentuk
metabolit. Metabolit dan senyawa asanya di dalam darah dan jaringan tubuh terikat pada protein.
E-im-enzim hidrolitik dan oksidatif terlibat dalam metabolisme sa-yawa organofosfat. Selang
waktu antara absorpsi dengan ecskresi bervariasi.
:

a'makodinamik

Setelah masuk dalam tubuh akan mengikat enzim asetil-o nesterase (AChE), sehingga AChE
menjadi inaktif dan terjadi a*-mulasi asetilkolin. Asetilkolin bekerja pada ganglion simpatik dan
parasimpatik, reseptor parasimpatik, neuro-muscular junction, neuro-T3.-smitter sel-sel saraf dan
medula kelenjar suprarenal. Keadaan ini a*an menimbulkan efek yang luas.
Potensiasi aktivitas parasimpatik postganglionik, mengakibat-STI kontraksi pupil, stimulasi otot
saluran cerna, stimulasi saliva dan oenjar keringat, kontraksi otot bronkial, kontraksi kandung
kemih, modus sinus jantung dan nodus atrio-ventrikular dihambat.
Depolarisasi yang menetap pada otot-otot rangka, sehingga mulamula terjadi fasikulasi yang
disusul dengan blok neuromuskuia-dan paralisis.
Mula-mula stimulasi disusul dengan depresi pada sel SS? sehingga menghambat pusat
pernafasan dan pusat kejang.
Stimulasi dan blok yang bervariasi pada ganglion, sehingga tekanan darah dapat naik atau turun
serta dilatasi atau miosis pupil.

Kematian disebabkan kegagalan pernafasan dan blok jantung


Takaran fatal untuk golongan Organofosfat, Malathion 1-5 g: Parathion 10 mg/kg BB; Systox
100 mg; dan Tetraetilpirofosfat 0.* mg/kg BB. Takaran fatal untuk golongan Karbamat, Aldicarb
0.9-" mg/kg BB dan Propoxur 95 mg/kg BB.
Tanda Dan Gejala Keracunan
Manifestasi utama keracunan adalah gangguan penglihatan kesukaran bernafas dan hiperaktif
gastrointestinal.
Pada keracunan akut gejala-gejala timbul dalam 30-60 men: dan mencapai puncaknya dalam 2-8
jam.
Pada keracunan ringan tampak anoreksia, sakit kepala, pusing lemah, gelisah, tremor lidah &
kelopak mata, miosis dan penglihata-kabur.
Gejala keracunan sedang adalah mual, salivasi, lakrimas kejang perut, muntah, banyak
berkeringat, nadi lambat dan fasikulas otot-otot.
Gejala keracunan berat adalah diare, pupil pinpoint dan tidafl bereaksi, pernafasan sukar, edema
paru, sianosis, kendali sfingte-hilang, kejang, koma dan blok jantung.
Gejala keracunan kronik organofosfat timbul akibat penghambatan kolinesterase dan akan
menetap selama 2-6 minggu, menyerupai keracunan akut yang ringan. Tetapi bila terpapar lagi
dala~ jumlah kecil dapat timbul gejala yang berat. Untuk golongan karbamat, ikatan dengan
AChE bersifat sementara dan akan terlepas kembali dalam beberapa jam (reversibel), sehingga
tidak akan timb_ keracunan kronik.
Pemeriksaan Kedokteran Forensik
Keracunan insektisida golongan ini dapat diduga bila :
Gejala-gejala cepat timbul, bila gejala baru timbul lebih dari 5 jam, pasti bukan keracunan
insektisida golongan ini.
Gejala-gejala bersifat progresif, makin lama makin hebat.
Gejala-gejala tidak dapat dimasukkan ke dalam suatu sindroma penyakit apapun, dapat
menyerupai penyakit gastroenteritis, en-sefalitis, pnemoni dan lain lain dan pengobatan biasa
tidak menolong.
Anamnesa terdapat kontak dengan racun golongan ini.
Diagnosis keracunan ditegakkan berdasarkan anamnesis, geja-I -eracunan yang kompleks dan
pemeriksaan laboratorium (TLC, so=<r.rofotometri, dan kromatografi gas).

Pada korban yang meninggal tidak ditemukan tanda-tanda ras. Pada kasus keracunan akut
hanya ditemukan tanda-tanda as-teia, edema paru-paru dan perbendungan organ-organ tubuh.
Mungkin tercium bau zat pelarut misalnya bau minyak tanah.
Minyak tanah sendiri dapat menimbulkan keracunan berupa aacresi SSP dan bila teraspirasi
dapat menimbulkan pnemonitis.
Pada percobaan binatang dengan keracunan kronik dapat atemukan nekrosis sentral dan
degenerasi bengkak keruh pada -ai: vakuolisasi, girolisis dan retikulasi basofilik yang jelas pada
otak aan medula spinalis; perlemakan pada miokardium; degenerasi sel fejbuli ginjal.
Laboratorium
Untuk pemeriksaan toksikologik perlu diambil darah, jaringan hati, limpa, paru-paru dan lemak
badan.
Penentuan kadar AChE dalam darah dan plasma dapat a" akukan dengan cara tintometer (Edson)
dan cara paper-strip
Acnolest).
Cara Edson : berdasarkan perubahan pH darah. AChE
ACh------------> kolin + asam asetat
Ambil darah korban dan tambahkan indikator brom-timol-biru, aamkan beberapa saat maka akan
terjadi perubahan warna.
Bandingkan warna yang timbul dengan warna standar pada zcnparator disc (cakram
pembanding), maka dapat ditentukan cadar AChE dalam darah.
% aktifitas AChE darah
75% 100% dari normal
50% 75% dari normal
25% 50% dari normal
0% 25% dari normal
Cara Acholest:

Interpretasi
tidak ada keracunan
keracunan ringan
keracunan
keracunan berat

Ambil serum darah korban dan teteskan pada kertas Acholest re'samaan dengan kontrol serum
darah normal. Pada kertas Acnolest sudah terdapat ACh dan indikator.
Waktu perubahan warna pada kertas kertas tersebut dicatat. =a'ubahan warna harus sama dengan
perubahan warna pemban-z -g (serum normal) yaitu warna kuning telur.
Interpertasi: kurang dari 18 menit, tidak ada keracunan 20 35 menit, keracunan ringan 35 -150
menit, keracunan berat.
Pemeriksaan toksikologik dapat dilakukan dengan cara :

Kristalografi:
Bahan yang dicurigai berupa sisa makanan/minuman, muntahan, isi lambung dimasukkan ke
dalam gelas beker, dipanaskan dalam pemanas air sampai kering, kemudian dilarutkan dalam
aceton dan disaring dengan kertas saring Filtrat yang didapat, diteteskan dalam gelas arloji dan
dipanaskan sampai kering, kemudian dilihat di bawah mikroskop. Bila terbentuk kristal-kristal
seperti sapu, ini adalah golongan hidrokarbon terklorinasi.
Kromatografi lapisan tipis (TLC)
Kaca berukuran 20 cm x 20 cm, dilapisi dengan absorben gel silikat atau dengan aluminium
oksida, lalu dipanaskan dalam oven 110 derajat Celcius selama 1 jam.
Filtrat yang akan diperiksa (hasil ekstraksi dari darah atau jaringan korban) diteteskan dengan
mikropipet pada kaca disertai dengan tetesan lain yang telah diketahui golongan dan jenis serta
konsentrasinya sebagai pembanding. Ujung kaca TLC dicelupkan ke dalam pelarut, biasanya nHexan. Celupan tidak boleh mengenai tetesan tersebut di atas Dengan daya kapilaritas maka
pelarut akan ditarik ke atas sambil melarutkan filtrat-filtrat tadi. Setelah itu kaca TLC
dikeringkan lalu semprot dengan reagensia Paladiur klorida 0,5% dalam HCI pekat, kemudian
denga-Difenilamin 0,5% dalam alkohol.
Hasilnya : Warna hitam (gelap) berarti golongan hidroka--bon terklorinasi. Warna hijau dengan
dasar dadu heran golongan organofosfat.
Untuk menentukan jenis dalam golongannya dapat dilakikan dengan menentukan Rf masingmasing bercak.
Jarak yang ditempuh bercak
Jarak yang ditempuh pelarut
Angka yang didapat dicocokkan dengan standar, maka jenisnya dapat ditentukan.
Dengan membandingkan besar bercak dan intensitas warnanya dengan pembanding, dapat
diketahui konsentras secara semikuantitatif.
Pemeriksaan dapat pula dilakukan dengan cara Spektrc-fotometri atau Kromatografi gas
Pengobatan
Pada keracunan akut:
Tindakan darurat:
Berikan sulfas atropin dalam dosis tinggi.
Pernafasan buatan dan oksigen. Pernafasan buatan mulut-kemulut tidak boleh dilakukan.

Kulit yang terkontaminasi dicuci dengan air dan sabun, dan dilakukan sebelum timbul
gejala atau setelah gejala terkontrol dengan atropin.
Bilas lambung atau emetika. Bila gejala-gejala belum timbul lakukan bilas lambung
dengan air hangat atau induksi muntah dengan sirup ipekak.
Laksativa, Mg-sulfat 25 gr dalam 1 gelas air. Castrol oil merupakan indikasi kontra karena
dapat mempermudah larutnya racun.
Pemberian Antidotum: Sulfas atropin, 2 mg I.M. dan diulang tiap 3-6 menit sampai timbul
tanda atropinisasi (wajah merah, mulut kering, dilatasi pupil dan nadi cepat). Pertahankan
atropinisasi dengan mengulang pemberian atropin 2 mg. Pemberian atropin sebanyak 12
mg dalam 2 jam pertama cukup aman. Terapi atropin yang terputus akan segera disusul
dengan kegagalan pernafasan.
Takaran sulfas atropin untuk anak-anak adalah 0,04 mg/kg BB. Bila timbul takikardi
hebat dapat diberi propranolol.
Kolinesterase reaktivator, hanya digunakan pada keracunan organofosfat tetapi berbahaya
untuk keracunan golongan karbamat. Hanya diberikan setelah atropinisasi penuh.
Contoh : Pralidoksim ( Protopam, piridin-2-aldoksim metok-lorida, 2-PAM)sebanyak 1 gr
dalam larutan akuades I.V. perlahan-lahan, dapat diulang setelah 30 menit bila pernafasan
tidak membaik. Takaran dapat diberikan 2 kali /24 jam.
2-PAM harus diberikan secepatnya karena dapat timbul aging phenomen, yaitu keadaan
dengan ikatan insektisida-AChE telah mengalami dealkilasi sehingga 2-PAM tidak lagi
dapat melepaskan ikatan tersebut. Hal ini berbahaya karena atropin tidak memperbaiki
paralisis otot-otot pernafasan.
Tindakan umum:
Sekresi jalan nafas dikeluarkan dengan postural drainage atau dengan penyedot kateter.
Hindari pemakaian morfin, aminofilin, barbiturat, fenotiazin dan obat yang menimbulkan
depresi pernafasan lain.
Kejang-kejang diatasi dengan obat anti-kejang.
Pada keracunan kronik
Dapat diketahui dengan penentuan kadar AChE dalam darah. Bila ada indikasi (keracunan
ringan) maka korban dapat diberikan istirahat, dan tidak boleh kontak lagi dengan insektisida.
Prognosis :

Pada keracunan akut saat kritis adalah 4-6 jam pertama Pengobatan yang tepat sangat
menentukan.
INSEKTISIDA GOLONGAN LAIN :
Yang termasuk insektisida golongan ini adalah Barium, di-nitrofenol, kresol, nikotin, tiosianat
dan lain lain. Sekarang sudah jarang sekali digunakan dan tidak dibicarakan dalam buku ini.
NARKOTIKA dan BARBITURAT
Beberapa pengertian dasar yang harus diketahui adalah:
Narkotika (berasal dari bahasa Yunani: Narkosis) ialah setiap *xat yang dapat menghilangkan
rasa nyeri dan dapat menyebab-an suatu keadaan stupor. Tetapi sekarang, pengertian secara far-aKologis terse but di atas telah diperluas dengan memasukkan Duia obat-obat yang sebenarnya
tidak dapat menimbulkan narkosis nsalnya: cocaine (sesungguhnya termasuk dalam golongan
sti-Toian) dan marijuana (sebenarnya suatu halusinogen ringan) dan jenis lain seperti yang
tertera dalam Undang-Undang No. 9 tahun "976 tentang Narkotika, pasal 1 butir 1 sampai
dengan 13.
Hipnotika adalah golongan obat tidur, sedangkan sedativa -enimbulkan depresi ringan SSP dan
tidak sampai menyebabkan icur, hanya menjadi lebih tenang karena kepekaan korteks serebri reKurang.
Adiksi (addiction; ketagihan, kecanduan) dalam pengertian sexa- rang tidak hanya berarti
ketergantungan seseorang secara -ental atau fisik (mental or physical dependence) terhadap
sesuatu : : r. atau bahan kimia, yang penggunaannya berulang dengan ecenderungan
meningkatkan takaran, tetapi meliputi pula corak hdup (life-style) orang tersebut. Penggunaan
heroin (suntikan) secara terus menerus dapat menimbulkan abses, infeksi atau bah- kematian
pada orang tersebut. Perbuatan yang dapat mem-r-anayakan jiwa itu tetap dilakukan oleh
sebagian pecandu meskipun sahaya tersebut disadari, karena mereka memiliki corak hidup reupa keinginan untuk merusak diri sendiri (self-destructive).
Habituasi adalah penggunaan obat atau bahan kimia secara zer ulangkali namun tidak memiliki
ciri-ciri seperti adiksi.
Drug abuse (penyalah-gunaan obat) ialah pemakaian obat szau ba- han kimia baik yang dilarang
berdasarkan peraturan perun-cang-undang- an maupun tidak, dengan tujuan pemakaian di luar
i.,jan kedokteran (medis). Biasanya pemakaian di atas bertujuan -enimbulkan rasa tente- ram

(well-being) atau perasaan senang e-oria) bagi para pemakainya. Istilah ini muncul pada
pertengahan *a~jn 60-an untuk menye- ragamkan pengertian-pengertian tersebut di atas.
NARKOTIKA
PENGGOLONGAN
Menurut struktur kimianya narkotika dapat digolongkan dalam :
Morfin dan turunannya, contoh: morfin, dilaudid, heroin, nalorfin, kodein dan naloxone.
Turunan Benzomorfan, contoh: pentazocine dan levo--phanol.
Golongan 4-fenilpiperidin, contoh: pethidine (meperidire dan trime peridine.
Golongan difenilpropilamin dan analgesik-asiklik, contc-me- thadone dan ticarda.
Lain-lain, contoh: turunan fenotiazin dan benzimidazole.
Tetapi berdasarkan Undang-undang No 9 tahun 1976, pengg:-longan narkotika adalah seperti
pada pasal 1 butir 1 hingga 13.
Dari kelima golongan tersebut di atas, golongan pertama yarc paling banyak disalahgunakan
(morfin dan heroin), sehingga pe~-bicaraan dibatasi pada morfin dan heroin saja.
Heroin dalam tubuh akan cepat di ubah menjadi morfin da-memiliki khasiat farmakologik yang
sama dengan morfin.
SUMBER
Street narcotic ialah narkotika yang banyak diperdagangka-dalam pasar gelap, dan biasanya
mengandung heroin dalam kaca* 0-77%; se- dangkan selebihnya (filler) dapat berupa prokain,
quinira megnesium- silikat, laktosa, sukrosa atau manitol. Pulvus opii mengandung 10% morfin,
sedangkan pulvus doveri mengandung 10% pulvus opii. Preparat murni yang lazim digunakan
dalam bidang medis merupakan bentuk garam klorida, sulfat atau fosfat denga-kadar morfin
sebesar 10 mg/ml untuk penggunaan parenteral.
FARMAKOKINETIK
Absorbsi dapat berlangsung di saluran cerna, selaput lencir hidung dan paru, suntikan IV, IM, SC
dan kulit yang luka. Khas ar. yang lebih nyata didapat melalui suntikan, terutama IV yang men ~bulkan khasiat segera dengan intensitas maksimal dan hanya mela J cara inilah diperoleh sensasi
abdominal yang mencolok serupa degan orgasme seksual. Heroin hampir tidak pernah digunakan
secat oral karena khasiatnya sangat tidak sepadan dibandingkan dengar cara penggunaan lain.
Morfin sangat cepat hilang dari darah (25 menit pada binatang percobaan) dan terkonsentrasi
dalam jaringa-parenkim seperti ginjal, paru, hati dan limpa.

Metabolisme terutama berlangsung dalam hati, selain itu juga dalam otak, paru-paru, darah,
ginjal dan plasenta. Hampir 90% mc-fin dalam tubuh terdapat sebagai bentuk terikat (konjugasi)
der: 3 asam glukoronat. Heroin, dalam tubuh dengan cepat akar dihidrolisis oleh esterase
dalam darah menjadi 6-mono-asetil-mc""-yang kemudian akan diubah (konversi) menjadi
morfin.
Ekskresi terutama melalui ginjal dan saluran empedu, tetap dapat pula dijumpai dalam tinja atau
keringat.
Dalam urin, heroin terutama terdapat dalam bentuk morfin yang kat (50%), dalam bentuk
morfin bebas sebanyak 7%. Heroin secas dalam urin terdapat dalam jumlah sangat kecil. Morfin
dalam -rn terdapat dalam bentuk bebas kira-kira 1 -14% dan dalam bentuk terxat sebanyak 1160%. Kodein dalam urin akan dijumpai dalam aentuk terikat (44%), bebas (11%), nocodein
(13%) dan dalam bentur morfin (10%). Walaupun morfin dalam jumlah kecil masih dapat
atemukan dalam urin setelah 48 jam, 90% dari ekskresi total ber-argsung dalam 24 jam pertama.
=ARMAKODINAMIK
Cara kerja morfin dan heroin hingga saat ini belum dapat a]elaskan secara pasti, demikian pula
mekanisme terjadinya toleran-Toleransi hanya timbul terhadap efek-efek depresi yaitu bila
agjnakan dalam takaran yang besar secara teratur. Kemampuan wtfuk menimbulkan adiksi yang
terbesar terdapat pada heroin, sedangkan codein mempunyai ke- mampuan yang terkecil. Hal tersecut oleh karena pada pemberian heroin timbul eforia kuat tanpa asertai mual dan konstipasi,
sedangkan pada codein sering terjadi fcforia.
Semua narkotika pada umumnya mempunyai khasiat yang sama, yang terpenting adalah depresi
Susunan Saraf Pusat. Efek terhadap susunan saraf pusat ini berujud analgesia dan narkose,
aerasaan mengantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berpikir, pati, penglihatan kurang tajam,
letargi, badan terasa panas dan -r^ka terasa gatal, mulut terasa kering, depresi pernapasan dan
pupil miosis. Narkotika sering menimbulkan mual dan muntah.
Efek narkotika pada sistem kardio vaskular adalah menurunkan tekanan darah akibat hipoksia
dan depresi vasomotor secara sentral. Efek narkotika lain seperti pada sistem saluran cerna,
kulit :an meta- bolisme, tidak dibahas disini.
TANDA DAN GEJALA KERACUNAN

Keracunan dapat terjadi secara akut maupun kronik. Kera-z^nan akut biasanya terjadi akibat
percobaan bunuh diri atau pada takar lajak, tetapi dapat pula terjadi pada kecelakaan dan pemenuhan.
Gejala keracunan lebih cepat pada morfin dibandingkan dengan opium. Mula-mula terjadi
eksitasi susunan saraf yang kemudian isusul oleh narkosis. Korban biasanya datang ke rumah
sakit sudah calam fase narkosis. Penderita merasa ngantuk, yang makin* lama -akin dalam dan
berakhir dengan keadaan coma, terdapat relaksasi "ot-otot sehingga lidah dapat menutupi saluran
napas, nadi kecil dan lemah; pernafasan sukar, irreguler, pernafasan dangkal-lambat can dapat
terjadi pernapasan Cheyne Stokes, suhu badan turun, -uka pucat, pupil miosis (pin-head size)
yang akan melebar kembali setelah terjadi anoksia, tekanan darah menurun hingga syok.
PENGOBATAN
Untuk penderita keracunan akut narkotika dapat digunakar anta- gonis narkotik seperti Nalorfin
HCI (Nalline; 0,1 mg/kg.lV) atau Naloxone HCI (Narcan) 0,005 mg/kg.IV. Di antara keduanya,
yang paling baik untuk diberikan pada keracunan akut ialah Naloxone karena obat ini benarbenar bersifat antagonis sedangkan Nalorfin mempunyai sifat antagonis dan agonis (depresi
pusat pernafasan).
Nalorfin bukan merupakan antagonis barbiturat, alkohol tia-peng hambat SSP lainnya, bahkan
dapat memperberat depresi pernapasan yang diakibatkan oleh barbiturat atau alkohol.
Selain itu pernafasan dipelihara dengan memberikan oksige-serta pembilasan lambung,
pemberian norit dan pemberian katart> seperti Larutan Natrium Sulfat (30 mg NaS04 dalam 200
ml air).
SEBAB KEMATIAN DAN MEKANISME KEMATIAN
Cara kematian hanya dapat ditentukan jika kita melakuka-penye- lidikan ke tempat kejadian.
Kecelakaan adalah cara terbanya* dan biasa- nya akibat ketidaktahuan besarnya takaran, baik
yang seharusnya dipakai maupun kadar obat yang dipakai saat itu, ata-akibat kehilangan
toleransi. Cara kematian yang lain adalah pembunuhan.
Pembunuhan dengan suntikan (hot-shot) biasanya menggunakan morfin/heroin takar lajak atau
dicampur racun lain, seper: sianida atau strichnin.
Cara kematian dapat pula bersifat bunuh diri yang biasanya akibat sindrom abstinensi. Kematian
biasanya terjadi pada mereka yang menggunakan morfin/heroin secara intra-vena.
Mekanisme kematian melalui:

Depresi pusat pernafasan: Dalam hal ini pusat pernafasan menjadi kurang sensitif terhadap
stimulus CO2 atau H+
Edema paru: Terjadinya edema paru diakibatkan oleh peningkatan tekanan cairan serebro-spinal
dan tekanan intra kranial sera berkurangnya sensitifitas pusat pernafasan terha dap CO2. Ked-a
keadaan ini menyebabkan menurunnya ventilasi paru dan ganggua-permeabilitas.
Syok anafilaktik terjadi akibat hipersensitifitas terhadap mo--fin/heroin atau terhadap bahan
pencampurnya.
Kematian pada pemakai narkotika dapat pula diakibatkan o!e~ berbagai hal lain seperti:
Pemakaian alat suntik dan bahan yang tidak steril sehingga menimbulkan infeksi, misalnya:
Pneumonia, E-dokarditis, Hepatitis, Tetanus, AIDS, Malaria, sepsis dan sebagainya Bila cara
penyuntikan tidak benar, atau jarum terlepas dari semp-r saat yang bersangkutan telah dalam
keadaan fly, dapat terjadi masuknya udara sehingga menimbulkan emboli udara.
Takaran mematikan:
Sebenarnya tidak dapat ditentukan dengan pasti karena tergantung dari kepekaan korban.
Takaran mematikan terkecil yang ze'nah dilaporkan adalah sebesar 60 mg morfin, tetapi biasanya
aambil patokan sekitar 200 mg bagi orang yang tidak menunjukkan r eransi. Selain itu kadar
dalam urin dan dalam darah dapat pula agjnakan sebagai pegangan.
Jika kadar morfin dalam urin sebesar 55 mg% berarti orang tersebut sudah menggunakan
morfin/heroin dalam jumlah yang ber-ecihan. Bila kadar dalam urin sebesar 5-20 mg% atau
dalam darah ~ 1-0,5 mg% berarti sudah berada dalam tingkat toksik.
PEMERIKSAAN FORENSIK
Pada korban hidup yang menunjukkan gejala keracunan -a-Kotika, perlu dilakukan pengambilan
darah dan urin untuk peme--Ksaan laboratorium. Apabila hasil pemeriksaan laboratorium me-astikan adanya narkotika, maka kita wajib melaporkannya kepada ptfiak yang berwenang (pasal
48 UU Narkotika, 1976)
Pemeriksaan jenasah:
Bekas-bekas suntikan. Kelainan ini, menurut frekuensi yang *rse- ring terdapat pada lipat siku,
lengan atas, punggung tangan dan tungkai. Tempat-tempat yang jarang digunakan tetapi tetap
-arus kita teliti adalah pada leher, di bawah lidah atau pada daerah cerineum. Bekas suntikan
tersebut terdapat pada kira-kira 52,9% asus. Bekas suntikan yang masih baru biasanya disertai
perdarahan subkutan atau perdarahan perivena; selain itu untuk menen-^.Kan baru-lamanya suatu

bekas suntikan di lakukan penekanan di sekitar bekas suntikan tersebut, jika masih baru dari
lubang suntikan eluar darah atau serum. Pada keadaan-keadaan yang meragukan, rta dapat
melakukan insisi kulit sepanjang vena tersebut dan membebaskannya secara tumpul untuk
memeriksa keadaan dinding vena Can jari ngan disekitarnya apakah ditemukan perdarahan atau
jaringan parut. Pada adiksi kronik akan ditemukan bekas-bekas suntikan .ang lama, berupa
jaringan parut berbentuk titik-titik sepanjang pem-Culuh balik, keadaan ini disebut sebagai
intravenous (mainline) yacks.
Selain bekas-bekas suntikan tersebut di atas, pada pemeriksaan luar sering dijumpai adanya rajah
yang bertujuan menutupi cekas-bekas suntikan, atau mungkin ditemukan adanya abses, granjloma atau ulkus. Ketiga ha! terakhir ini banyak dijumpai pada cenyuntikan narkotika secara
sub-kutan, dan pada mereka ini sering pula dijumpai jaringan-jaringan parut.
Penyuntikan secara sub-kutan (skin-popper) tidak menghasilkan kenikmatan yang tinggi tetapi
berlangsung dalam waktu yang ebih lama, dan pada cara inilah tetanus lebih sering terjadi.
Bila bekas suntikan tidak ditemukan, maka mungkin korba-menggunakan cara lain misalnya cara
sniffing (menghirup), ack-ac* (mengisap rokok yang di campur heroin) atau dengan cara
chasing the dragon (mengisap uap yang dihasilkan dari pema nasan heroin Pada kasus seperti
ini perlu diambil hapus selaput lendir hidung (nasal-swab) untuk pemeriksaan toksikologik.
Pembesaran kelenjar getah bening setempat terutama d daerah ketiak disertai dengan adanya
bekas suntikan, menandaka-bahwa korban tersebut seorang pecandu yang kronis. Kelainan in
merupakan fenomena drainase, sekunder akibat penyuntikan yang berulang pada vena atau
jaringan disekitarnya, dengan mema-; alat-alat suntikan yang tidak steril. Pada pemeriksaan
mikroskop 0 kelainan ini menunjukkan hipertrofi dan hiperplasi limfositik.
Lepuh kulit (skin-blister). Kelainan ini biasanya terdapat paca kulit di daerah telapak tangan
dan kaki, dan biasanya terdapat padi kematian karena penyuntik an morfin/heroin dalam jumlah
besa-Perlu diingat bahwa lepuh kulit ini mungkin didapatkan pada beberapa keadaan misalnya
pada keracunan CO atau barbiturat.
Kelainan-kelainan Lain: Biasanya merupakan tanda-tanda asfiksia seperti keluarnya busa halus
dari lubang hidung dan mu,.: yang mula- mula berwarna putih, dan lama kelamaan karena
adanya autolisis, akan berwarna kemerahan. Kelainan ini terdapat pada lebr dari sepertiga kasus,
dan kelainan tersebut dianggap sebagai tanca edema paru. Sianosis pada ujung-ujung jari dan

bibir, perdarahar petekial pada konjungtiva dan pada pemakaian narkotika den:3-cara sniffing
kadang-kadang dijumpai perforasi septum nasi.
Kelainan paru akut.Kelainan digolongkan berdasarkan jara* waktu antara suntikan terakhir dan
saat kematian. Pada perubahan awal (sampai 3 jam)didapatkan edema dan kongesti saja, a:=.
hanya terdapat sel mononuklear serta makrofag di dalam atau paca dinding alveoli. Makroskopik
terlihat paru membesar, lebih bera*, bagian posterior lebih padat hingga tidak teraba krepitasi,
bag a-anterior sering memperlihatkan emfisema akut. Kadang-kadang hanya berupa emfisema
akut yang difus dengan aspirasi benca asing dalam bronki.
Mikroskopik terlihat kongesti dan edema disertai sebukan sa mononuklear di dalam dan pada
dinding alveoli. Kadang-kadarg didapatkan pusat-pusat atelektasis, emfisema dan benda-benoa
yang ter- aspirasi dalam bronki. Edema paru didapatkan pada leor dari 80% kasus.
Pada jangka waktu 3 sampai 12 jam: akan dijumpai narcotc lungs. Menurut Siegel, kelainan ini
khas, bermakna dan dapat dipakai untuk menegakkan diagnosis, serta terdapat pada kira-k -a
25% kasus.
Makroskopik paru sangat mengembang, lebih berat, trakea serisi busa halus sampai ke cabangcabangnya, penampang dan e-nukaan paru memperlihatkan berbagai gambaran dengan gamsaran lobuler yang paling menonjol. Gambaran lobuler ini disebab-iar oleh adanya berbagai
tingkat aerasi (atelektasis, aerasi normal, sargat mengembang sampai emfisema), kongesti,
edema dan per-arahan di berbagai tempat, yang mempunyai kecenderungan terbatas pada bagian
inferior dan posterior paru. Mikroskopik terlihat sce- ma, kongesti dan sebukan makrofag yang
tetap menonjol, perdarahan alveolar, intrabronkial dan subpleural serta sebukan sel Poli kh-.-fo
Nuklear. Dalam bronkiolus tampak benda-benda asing, des-E-amasi sel-sel epithel serta mukus.
Selain narcotic lungs, pada saat n mungkin juga ditemukan benda-benda teraspirasi dalam
saluran -emapasan misalnya susu yang oleh para pecandu dipercaya dapat aerfungsi sebagai
antidotum. Pada 12 sampai 24 jam: akan terlihat reses pneumonia luas dengan gambaran
sebukan sel-sel Poli Holo Nuklear yang lebih menonjol.
Perubahan lanjut: Terjadi bila jangka waktu lebih dari 24 jam. -arj telah menunjukkan gambaran
pnemonia lobularis difus, penampangnya tampak berwarna coklat-kemerahan, padat seperti
daging sari menun- jukkan gambaran granuler.
Kelainan paru kronik berupa granulomatosis vaskular paru secagai manifestasi reaksi jaringan
terhadap talk (magnesium-silikat) var.g digunakan sebagai bahan pencampur. Mungkin pula

peru-sahan tersebut terjadi sebagai akibat bahan yang tidak larut pada penggunaan parenteral,
sama seperti mekanisme terjadinya gra-i_oma subkutan. Letak granuloma tersebut dapat intravaskular, -ervaskular atau pada dinding alveoli, tetapi biasanya pada arteriol. j-: j k melihat
kristal magnesium-silikat tersebut sebaiknya diguna-ian mikroskop-polarisasi sehingga kristal
tampak berwarna putih. Eeoangkan dengan mikroskop cahaya, kristal tampak berbentuk :a:ang
tidak berwarna atau kekuning-kuningan dan berrefraksi janda, dikelilingi sel-sel datia benda
asing, sedikit limfosit, makrofag, is mononuklear dan jaringan kolagen.
Selain terdapat pada paru, granuloma, kristal dan benda asing an juga ditemukan pada organ lain,
seperti hati, ginjal, limpa dan tak. Kadang-kadang ditemukan abses paru.
Kelainan hati dapat berupa akumulasi sel radang terutama lim-csft, sedikit sel PMN dan
beberapa narcotic cells. Kelainan hati ini -enurut Siegel terdapat pada 80% kasus, dan derajat
kelainannya r gantung dari lamanya penggunaan narkotika (derajat adiksi) -seorang. Makin berat
adiksinya makin jelas kelainannya, sebalik-a pada korban mati yang baru menyuntik beberapa
kali tidak a:emukan. Selain sel limfosit, PMN dan narcotic cells, mikroskopik Lga ditemukan
fibrosis ringan dan proliferasi sel-sel duktus biliaris.
Kelainan pada hati tersebut dibagi menjadi (a) Hepatitis kron* agresif dengan ciri khas berupa
pembentukan septa; (b) Hepatfcs kronik persisten (Triaditis) dengan infiltrasi sel radang terutama
di daerah portal (lebih dari 40 % kasus); (c) Hepatitis kronik reaktif; (d Perlemakan hati dan (e)
Hepatitis virus akut 5,9 %).
Kelainan kelenjar getah bening terutama terdapat pada kelenjar getah bening di daerah porta
hepatis, sekitar duktus koledo.; dan di sekitar kaput pankreas. Kelainan ini juga berbanding lini
dengan derajat adiksi seseorang. Makroskopik tampak kelenjar membesar dan mikros- kopik
terlihat hiperplasi dan hipertrofi limfos*
Kelainan lain: Limpa membesar dan mikroskopik terlihat hiperplasi noduli dan sentrum
germinativum yang menonjol. Jantung mungkin menunjukkan peradangan (endokarditis atau
miokardits Pada otak mungkin ditemukan perubahan kistik pada basal gang = Dapat juga
ditemukan kelainan yang biasa merupakan akibat pemakaian alat yang tidak steril.
PEMERIKSAAN LABORATORJUM
Bahan terpenting yang harus diambil adalah urin (jika tidak aca dapat diambil ginjal), cairan
empedu dan jaringan sekitar suntikan.

Isi lambung diambil jika ia menggunakan narkotika per-cra demikian pula hapusan mukosa
hidung pada cara sniffing. Semp-t bekas pakai dan sisa obat yang ditemukan harus pula dikirim
ke laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya narko: *a mini- mal adalah Kromatografi
lapis tipis (TLC). Cara pemeriksaa-lain adalah menggunakan teknik GLC (Kromatografi gas)
dan Pw* (Radio immuno-assay).
Pada pemakaian cara oral, morfin akan cepat dikonjugasi oler asam glukoronat dalam sel mukosa
usus dan hati sehingga barar sebaiknya dihidrolisis terlebih dahulu.
Untuk mendeteksi seseorang apakah ia pecandu atau buka-dapat diketahui melalui:
Uji Nalorfin: Pemberian nalorfin pada pecandu morfin akar mem- perlihatkan midriasis dan
gejala putus obat lainnya. Tetapi bia midriasis tidak terjadi, maka belum tentu ia bukan pecandu.
Caranya Ukur diameter pupil dengan pupilometer dan lakukan pemeriksaa-ini di dalam ruang
khusus yang tidak dipengaruhi cahaya. Pemaksaan dilakukan lagi 30 menit setelah diberikan 3
mg Nalorfin s_c-kutan.
Analisa urin dapat dikerjakan tersendiri atau bersama-sara dengan uji nalorfin bila masih
meragukan hasil uji nalorfin. Analsi urin ini sekurang-kurangnya dikerjakan dengan
Kromatografi Laps Tipis (TLC).
Gejala putus obat (withdrawal symptom/sindrom abstinensi) ter-aci bila pemakaian narkotika
dihentikan secara mendadak. Gejala isfsebut dapat berupa menggigil, mual, kehilangan nafsu
makan, a elahan, insom- nia, hiper hidrosis, lakrimasi, kedutan otot, muntah, rare dan dilatasi
pupil. Pada bayi dapat juga terjadi kejang-kejang.
Dari ketiga cara tersebut di atas, yang paling baik dan yang saiing sering dipakai adalah analisa
urin.
Terhadap barang-barang bukti seperti bubuk yang diduga -engandung morfin, heroin atau
narkotika lainnya, dapat dilakukan re-bagai pengujian. Pengujian tersebut hanya dapat dilakukan
ter--adap benda bukti yang masih berupa preparat murni atau pada -ampat suntikan bila ternyata
di tempat tersebut masih terkumpul -a-kotika yang belum diserap dan tidak dapat dilakukan
terhadap rahan biologis seperti urin, darah, cairan empedu dan lain-lain.
Uji Marquis: Kepekaan uji ini adalah sebesar 1-0,025 mik--cgram. Reagen dapat di buat dari 3
ml asam sulfat pekat ditambah 2 atas formaldehida 40%. Pada umumnya semua narkotika akan

-emberikan reaksi warna ungu. (Morfin, heroin dan codein + Mar--jois menjadi ungu. Pethidine
+ Marquis menjadi Jingga.)
Untuk heroin, dapat dilakukan pengujian yang lebih khas: 10 setes campuran asam nitrit pekat
dan 85% asam fosfor yang memiliki perbandingan 12:38 diletakkan dalam tabung centrifuge
ukuran 5 ml, emudian ditambahkan 3,25 ml kloroform dan diputar selama 30
detik.
Perhatikan lapisan warna di dasar tabung yang timbul setelah 10 menit: hijau muda: negatif,
kuning muda : 10 ug. kuning coklat: 1 -g. merah coklat gelap: 10 mg.
Uji mikrokristal: Uji ini lebih sensitif dan lebih khas jika dibandingkan dengan reaksi warna
Marquis. Caranya: 1 tetes larutan -arkotika ditambah kan reagen dan dengan mikroskop dilihat
kristal aca yang terbentuk.
Hanging microdrop technique merupakkan modifikasi untuk -arkotika dengan pembentukan
kristal agak lama.
Contoh: Morfin + reagen kalium kadmium yodida (1g kad-mum yodida+2g kalium yodida):
kristal berbentuk jarum. Kepekaan uji: 0,01 ug.
Morfin + kalium triyodida: kristal berbentuk piring. Kepekaan uji: 0,1 mikrogram.
Heroin + merkuri klorida : kristal berbentuk dendrit. Kepekaan uji: 0,1 mikrogram.
Heroin + platinum klorida : kristal berbentuk roset. Kepekaan -j: 0,25 mikrogram.
Pethidine + asam pikrat pekat: kristal berbentuk roset berbulu. Kepekaan uji: 0,1 mikrogram.
BARBITURAT
Barbiturat sering digunakan sebagai sedatif, hipnotik, antikon-vulsan, anestetik atau dikombinasi
dengan derivat pirazolon, salisilat dan para- aminofenol untuk memperoleh potensiasi efek
analgetik Pemakaian yang luas, popularitas obat ini di mata masyarakat dar kemudahan
mendapat- kannya dengan resep maupun tidak menyebabkan jumlah keracunan barbiturat tiap
tahun meningkat.
Di Jakarta keracunan barbiturat sejak tahun 1973 menduduki tempat teratas dari seluruh kasus
keracunan yang diperiksa oleh bagian Farmakologi FKUI, dengan frekuensi terbanyak adalah keracunan luminal. Walaupun jumlah kasusnya banyak, tetapi yang diperiksa di Bagian Kedokteran
Forensik hanya sedikit, disebabkar oleh karena sebagian besar tidak meninggal.
Di Inggris, Mattow dan Lawson selama 2 tahun mengobati 776 penderita keracunan barbiturat
dengan terapi suportif menghasilkar 94,9% sembuh dengan baik dan angka kematian 0,8%.

Biasanya keracunan terjadi karena bunuh diri, dapat pula terjadi karena pembunuhan dan
kadang-kadang juga terjadi karena automatisme. Automatisme adalah meminum obat barbiturat
dalarr takaran hipnotik sehingga menjadi lupa bahwa ia telah minum obat Bila terjadi berulangulang maka takaran toksik akan tercapai.
Kadang-kadang terjadi akibat kecelakaan terutama pada anak-anak atau suntikan intravena pada
anestesi. Bila barbiturat diminum bersama dengan alkohol maka efek toksik barbiturat diperberat
akibat sinergisme efek depresi pada SSP.
PENGGOLONGAN.
Berdasarkan masa kerjanya barbiturat digolongkan ke dalam:
Barbiturat kerja lama, dengan masa kerja 6 jam atau let -misalnya sodium barbital (veronal),
fenobarbital (luminal), asam-diai: -barbiturat (dial), dll.
Barbiturat kerja sedang, masa kerja 3-6 jam, misalnya sodium-pentobarbital (nembutal), Butobarbital (soneryl), amilo-barb -tal (amytal), dan lain lain.
Barbiturat kerja singkat, masa kerja 3 jam, misalnya sikloba-bital (phanodorm), heksabarbital,
sekobarbital (seconal).
Barbiturat kerja sangat singkat, dipakai pada anestesi secara intra- vena, misalnya tiopental,
metoheksital, tiamilal dan lain lain.
FARMAKOKINETIK
Absorpsi barbiturat terjadi dengan mudah dari tempat pemberian, tersebar hampir keseluruh
jaringan dan cairan badan, dapa-melewati sawar uri dan keluar melalui air susu ibu. Agak sukamelewati sawar da- rah-otak sehingga mula kerja barbiturat lamba-walaupun diberikan secara
intravena, kecuali tiobarbiturat.
Garam Na dari golongan barbiturat kerja sedang dan kerja sngkat mempunyai sifat alkali kuat
sehingga cepat diabsorpsi tetapi -enimbulkan iritasi lambung.
Pada penyelidikan bayi-bayi yang baru dilahirkan oleh wanita penderita epilepsi yang diobati
dengan barbiturat, maka dalam serum tali pusat terdapat kadar barbiturat 95% dari kadar dalam
serum ibu, sehingga pertumbuhan kepala dan otak terhambat.
Fenobarbital meninggikan aktifitas ensim-ensim mikrosom da-am hati, sehingga bayi yang lahir
dari ibu yang diberi fenobarbital peda waktu hamil jarang menderita ikterus neonatorum.
Barbiturat kerja singkat diabsorpsi dengan cepat dalam waktu p- 20 menit karena mudah larut,
cepat didistribusi dan diekskresi -elalui urin secara bertingkat. Barbiturat kerja lama diabsorpsi

lebih anbat (45-60 menit) dan sebagian diekskresi melalui urin dalam pentuk tak berubah. Takar
lajak (over dosage) menimbulkan koma .ang berlang-sung beberapa hari sampai meninggal atau
sembuh embali setelah pengobatan.
Proses inaktivasi barbiturat dalam badan terjadi melalui pen-pran curan dalam jaringan terutama
dalam hati, ekskresi melalui gin-a dan kombinasi keduanya. Barbiturat kerja lama sebagian besar
:oak dimetabolisme sehingga akan dikeluarkan melalui urin dalam pentuk tak berubah (65-80%).
Barbiturat kerja singkat hampir sa uruhnya dimetabolisme, sehingga dalam urin terdapat dalam
jum-an sangat sedikit dan dapat diabaikan.
Ekskresi terjadi sangat lambat. 75% barbiturat dan metabo-ronya (golongan kerja lama)
diekskresi melalui urin dalam waktu 48 am dan dapat ditentukan adanya dalam urin segera
setelah 1 jam pemberian. Dalam tubuh barbiturat akan diubah menjadi alkohol poler, keton,
fenol, karboksilat.
Golongan barbiturat kerja sangat singkat cepat menghilang dari darah, bukan karena cepat
dimetabolisme, melainkan cepat -asuk ke dalam jaringan lemak. Sehingga pada kematian akibat
bar-: :jrat golongan ini perlu diambil jaringan lemak guna pemeriksaan :<sikologik.
-ARMAKODINAMIK
Barbiturat mempunyai khasiat utama depresi pada susunan saraf pusat. Efek depresi terkuat
terjadi terhadap korteks serebri, .aerah hipotalamus dan diensefalon. Semua tingkat depresi dapat
: capai, dari sedasi hingga koma dan dapat berakhir dengan
*ematian.
Kecepatan kerja barbiturat tergantung dari cara pemakaian oral, i.m, i.v, atau supositoria), lama
kerja aktif barbiturat, dan faktor a n seperti lama absorpsi, destruksi dalam jaringan, jumlah yang
-asuk dan jumlah yang diekskresi.
TANDA DAN GEJALA KERACUNAN
Goodman & Gillman menyatakan bahwa keracunan barbiturat terjadi bila jumlah yang masuk
lebih dari 10 kali takaran hipnotik, tapi ada juga yang mengatakan 15-20 kali takaran hipnotik.
Gejala berbahaya timbul bila diminum peroral 5 gram barbital, atau 1 gram luminal atau amytal,
atau 0,5 gram nembutal atau seconal. Takaran mematikan barbiturat bervariasi, tergantung dari
bermacam faktor dan tak dapat ditentukan dengan pasti. Takaran terkecil yang dapat
menimbulkan kematian adalah 15 grain (1 gram=4,8 grain).

Biasanya takaran mematikan untuk orang dewasa 50-70 grain. tetapi dapat pula dengan takaran
125, 200 atau 300 grain.
Gejala-gejala keracunan akut adalah: Ataksia, vertigo, pembicaraan kacau, nyeri kepala,
parestesi, halusinasi, disdiadoko-kinesis, gelisah dan delirium, stupor yang progresif dan
kemudian terjadi koma yang dalam, disertai dengan hilangnya refleks dangka dan dalam, serta
dapat timbul refleks patologik (Babinsky).
Kemerahan pada kulit, bila koma berlangsung lama (lebih dar satu hari) dapat terjadi
vesikel/bula dengan dasar eritem pada bahu bokong, punggung tangan dan pada daerah yang
tidak tertekan Bula terjadi karena nekrosis kelenjar keringat akibat hamba tan alira-darah di
daerah tersebut. Bula ini khas pada keracunan barbiturat.
Pernafasan menjadi lambat dan dangkal, kadang-kadang pe--nafasan Cheyne Stokes, karena
depresi pada pusat pernafasan da-dapat terjadi asidosis respirasi dan hipoksia.
Tekanan darah turun disebabkan depresi pusat vasomotc sebagian karena hipoksia, sebagian lagi
karena reaksi obat langsung pada miokardium dan ganglion simpatis pada otot-otot polos
pembuluh darah. Penderita dapat mengalami syok (typical shom syndrome), dengan gejalagejala nadi cepat dan lemah, kulit ding -berkeringat dan hematokrit meningkat.
Jumlah urin sangat sedikit karena efek depresi obat pada dier-sefalon dan tekanan darah yang
turun, menimbulkan gagal ginjal.
Pupil mengecil dan tidak bereaksi terhadap cahaya, tetaz> pada keracunan yang telah lama dapat
melebar, karena adan.a kelumpuhan otot mata oleh hipoksia. Bila depresi tidak berat, ptai normal
atau agak melebar dan masih bereaksi terhadap cahaya.
Suhu badan seringkali turun. Bila terjadi demam mungkin dapat komplikasi bronkopnemoni.
Kadang-kadang keracunan barbiturat atau komplikasi timeu karena idiosinkrasi yang mungkin
bersifat alamiah atau didapat.
Reaksi alergi terjadi akibat hipersensitivitas yang didapat j-,mnya berupa asma, urtikaria, edema
angionerotik, dermatitis, *e-r,am, delirium, nekrosis hepar.
Sedangkan idiosinkrasi alamiah umumnya tampak sebagai s_atu reaksi eksitasi, hangover dan
sebagai gejala rasa nyeri neural-p mialgi atau artralgi.
Gejala-gejala keracunan kronik (adiksi) adalah: Kelainan <iatrik berupa depresi melankolik,
regresi psikik, wajah kusut, er-osi tidak stabil.

Kelainan neurologik berupa ataksi, pembicaraan kacau, eemahan intelektual, diplopia,


kelemahan otot-otot rangka.
Kelainan dermatologik berupa urtikaria, makulopapula, eritem, can lain lain.
Adiksi barbiturat menduduki urutan ketiga yang dirawat di -jnah sakit Pusat Ketergantungan
Obat, setelah adiksi morfin dan akohol. Adiksi barbiturat kronik sering berkaitan dengan
alkoholisme
kronik.
Bila penderita pecandu barbiturat meminum barbiturat 0,5 gram atau lebih perhari dan
pemberian dihentikan tiba-tiba, maka akan tim-dl gejala-gejala abstinensi (putus obat) dalam
waktu 12-16 jam. 24-3t ,am kemudian timbul rasa takut dan rasa lemah, dansegera diikuti jangan
gejala-gejala kedutan, tremor, refleks hiperaktif, insomnia, real, kejang perut dan muntahmuntah, kenaikan tekanan darah dan Te<uensi nafas.
Hemokonsentrasi, dehidrasi, berat badan turun, hipoglikemi r-an kenaikan NPN darah. Pada hari
kedua atau antara 16 jam sam-za hari ke 4, dapat timbul kejang tipe grandmal dan kehilangan
esadaran selama beberapa menit atau delirium dan halusinasi. Se,ala-gejala ini dapat hilang
dengan sendirinya tanpa diobati, ecuali pada penderita berusia lanjut dan sedang sakit mungkin
ter-a- kematian.
=ENGOBATAN
Pada keracunan akut pengobatan standar adalah suportif/ enser- vatif. Yang penting adalah
memberikan pernafasan adekuat, sxkulasi darah yang normal, mempertahankan suhu tubuh dan
menegah pnemoni.
Bila keracunan tidak berat, pernafasan dan tekanan darah baik, -ef.eks telan dan batuk masih
baik, reaksi terhadap rasa baik, maka renderita dibiarkan tertidur setelah bilas lambung.
Bilas lambung, dilakukan bila obat diminum dalam waktu -rang dari 5 jam, yaitu dengan air
yang dicampur dengan karbon aktif atau asam tanat, kemudian diberi katartik Na2S04.
Jalan nafas harus bebas, karena terjadi depresi pada refleks batuk, maka lendir harus dihisap
secara berkala. Beri oksigen, b a perlu berikan pernafasan buatan.
Atasi syok dengan norepinefrin (noradrenalin 2 mg dalam 2 c: dilarutkan dalam 50 cc glukosa
5% dalam salin dengan infus. E a perlu berikan kortison atau plasma.
Perbaiki diuresis dengan diuretik paksa. Pemberian caira-diuretik dan alkalinisasi urin akan
mempercepat ekskresi, terutaw barbiturat golongan kerja lama.

Analeptik sebaiknya diberikan bila terjadi depresi pernafas; dan kardiovaskular yang hebat.
Pemberian dihentikan bila telah timbul kembali refleks-refleks normal.
Bila terjadi takar lajak akan timbul konvulsi, aritmia jantung, dar fibrilasi ventrikel. Dapat
diberikan 10-20 mg amfetamin sulfat atau 51 mg bemigrid pada tingkat depresi yang lebih
ringan.
Antibiotika diberikan bila dalam 48 jam kesadaran belum pulih
Hemodialisis, dialisis peritoneal dapat mengeluarkan barbrL-at dengan cepat terutama pada
gagal ginjal dan gagal jantung, paca barbiturat golongan kerja lama ekskresinya menjadi 10-45
kali lebc cepat.
Pada keracunan kronik, Dengan menghentikan/mengura-p obat sedikit demi sedikit, sebaiknya
dirawat di rumah sakit/pusac ketergan- tungan obat. Setelah puasa dua hari, penderita diberi 3C
gram fenobarbital sebagai pengganti setiap 100 mg sekobaro-tal/pentobarbital yang dipakai oleh
pecandu. Fenobarbital terseb_r dibagi dalam 4 kali pemberian sehari dan dikurangi secara
bertingkat tergantung dari gejala putus obatnya.
SEBAB DAN MEKANISME KEMATIAN
Kematian dapat terjadi melalui mekanisme Depresi pusat pernafasan yang menimbulkan henti
nafas, Komplikasi berupa ate tasis, pnemoni hipostatik, pneumoni aspirasi dan edema paru yang
berat, terjadi terutama pada permulaan keracunan golongan kerja sangat singkat.
Pernafasan dapat tersumbat oleh muntahan, sekresi lend. spasme laring dan relaksasi lidah.
Dapat pula terjadi syok pada suntikan intravena atau akibat :ep jadinya gagal ginjal.
PEMERIKSAAN FORENSIK
Diagnosis keracunan barbiturat dapat sukar ditegakkan, orang de- ngan mental tidak stabil dan
bersifat destruktif mudah seKal menggunakan obat-obat depresi SSP.
Bunuh diri sering diikuti dengan meminum alkohol jumlah banyak, sehingga bau alkohol pada
pernafasan akan mengacaukan
tfagnosis.
Pada penderita yang segera meninggal atau yang ditemukan setelah meninggal, pemeriksaan
pada tempat kejadian perlu i - ~Kan. Ditemukannya botol obat yang kosong, sisa-sisa tablet/
aosul pada tempat kejadian, sisa-sisa tablet/kapsul dengan warna ras dalam mulut atau dalam
lambung akan sangat membantu diag-

Diagnosis banding tergantung dari hasil pemeriksaan taksi--ologik jenis zat yang terdapat dalam
tubuh korban. Untuk ini diperlukan tersedianya pemeriksaan kromatografi yang dengan eepat
dapat menentukan jenis dan jumlah obat depresi SSP dalam
tubuh.
Pada barbiturat tak terjadi deposit masif dalam organ tertentu, -eskipun dalam hati kadarnya
lebih banyak dari darah.
Interpretasi kadar barbiturat. Kadar dalam serum kurang lebih sa~ ma dengan kadar dalam darah.
Kadar dalam hati 4 kali lebih irggi diban- dingkan dengan kadar dalam darah. Bila kadar lebih
zari 4 kali berarti penelanan dalam waktu kurang dari 5 jam sebelum i'-ang tersebut mati.
Kadar barbiturat dalam darah pada saat mulai koma: golongan kerja singkat 0.8mg/100 ml darah,
golongan kerja sedang 2-3 mg/100 ml darah, golongan kerja lama 5-8 mg/100 ml darah.
Kesadaran setelah takar lajak dapat diperkiralan dengan cara :
Lama koma = 1/2 x (kadar ditemukan ~ kadar koma) x 24 jam
Sebab pada takaran toksik, kadar barbiturat dalam darah turun 2 mg/100 ml darah dalam waktu
24 jam. Keadaan ini bila tidak ter-papat komplikasi pernafasan maupun infeksi.
Pada autopsi, diagnosis kematian akibat keracunan barbiturat akut kadang-kadang tidak dapat
ditentukan, oleh karena tertutupi p<eh sebab kematian yang lain seperti perdarahan subaraknoid
soontan, ruptur aneurisma aorta. Bila ditemukan kadar barbiturat dalam darah dengan jumlah
banyak, maka diagnosis kematian eracunan barbiturat baru dapat ditegakkan.
Bila sebab kematian lain selain bronkopnemoni tidak ditemu-an, dan pada pemeriksaan
toksikologik tidak ditemukan barbiturat, -aka diagnosis kematian akibat keracunan barbiturat
masih dapat z tegakkan bila didukung oleh observasi selama penderita dirawat.
Gambaran pasca-mati pada keracunan barbiturat biasanya :dak khas.
Pada pemeriksaan luar hanya tampak gambaran asfiksia berupa sianosis, keluarnya busa halus
dari mulut, tardieau spc: dapat ditemukan vesikel atau bula pada kulit daerah yang tidak Mi
tekan.
Pada pembedahan jenazah, mukosa saluran cerna dan seluru'-organ dalam menunjukkan tandatanda perbendungan. Esofagus menebal, berwarna merah coklat gelap dan kongestif.
Penemuan lain yang dapat membantu ialah adanya perubaha-warna dari mukosa esofagus dan
lambung dengan lendir yang be--warna merah muda pada keracunan seconal, kuning pada

nembuta hijau kebiruan pada amytal. Dapat juga ditemukan sisa-sisa tab a-dan kapsul dalam
lambung.
Karena barbiturat ada yang bersifat iritatif (garam Na dar golongan kerja singkat dan sangat
singkat), mukosa lambung dapa: menunjukkan tanda-tanda korosif dengan atau tanpa
perdarahan.
Paru-paru dapat menunjukkan tanda-tanda edema paru da-kongesti hebat, daerah basal paru
dapat mengalami deaeras. progresif yang menimbulkan atelektasis. Pada pleura dapat ditemukan
bercak perdarahan. Dalam saluran nafas terdapat caira-yang berbusa bercampur sedikit darah.
Bila penderita tidak sege-= meninggal dapat/sering ditemukan tanda-tanda bronkopnemoni.
Otak menunjukkan tanda-tanda perbendungan, selain itu terdapat lesi di korteks dan basal
ganglia otak berupa infiltrasi sel-se bulat perivaskular, degenerasi neuron terutama di talamus
dan putamen, small ring hemorrhages, nekrosis globus palidus ya-; simetris dan bilateral.
Pemeriksaan mikroskopik hepar dan ginjal dapat memperlihatka-tanda degenerasi.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Untuk pemeriksaan toksikologik, bahan yang harus dikira ialah isi lambung, darah hati atau
perifer, urin, ginjal, hati, sebag.a-otak dan lemak pada kasus keracunan barbiturat golongan kena
sangat singkat.
Untuk menentukan barbiturat dalam organ tubuh per^ dilakukan ekstraksi lebih dahulu. Ada 5
macam metode ekstrars (Moghrabi & Curry), dan yang memberikan hasil terbaik iaJar ekstraksi
langsung dengan kloroform. Bila kadar dalam darah sangar rendah maka metode yang dipakai
adalah metode asam tungstat.
Pemeriksaan kualitatif dapat menggunakan penentuan titik cair, misal veronal murni mencair
pada suhu 191 derajat C. Uji kristal, dilakukan terhadap sisa obat yang ditemukan dalam isi
lambu-g Masing-masing barbiturat mempunyai kristal yang khas bila dilihat dengan mikroskop.
Metoda Kopanyi (reaksi warna kobalt) denga-modifikasinya.
Metoda Kopanyi dilakukan dengan memasukkan 50 ml urin atau isi lambung dalam sebuah
corong. Periksa dengan kertas lakmus, jika bersifat alkali tambahkan HCI sampai bersifat asam.
Tampahkan 100 ml eter, kocok selama beberapa menit.
Diamkan sebentar, tampak air terpisah dari eter, lapisan air -buang, barbiturat terdapat dalam
lapisan eter. Saring eter ke dalam zeaker glass dan uapkan sampai kering di atas penangas air.
Tambahkan 10 tetes kloroform untuk melarutkan sisa barbiturat

.ang mengering.
Ambil beberapa tetes larutan dan letakkan pada white pocelain scot plate. Tambahkan 1 tetes
kobalt asetat (1% dalam metil-alkohol psolut) dan 2 tetes isopropilamin (5% dalam metil-alkohol
absolut). Barbiturat akan memberi warna merah muda sampai ungu.
Pemeriksaan semikuantitatif dan kuantitatif dapat dilakukan -angan kromatografi lapis tipis
(Thin Layer Chromatography), tmatografi gas cair (Gas Liquid Chromatography),
spektrofotometri _tra-violet dan spektrofotofluorimetri
Pemeriksaan kromatografi lapis tipis untuk penentuan bar-cvturat memerlukan reagen sebagai
berikut:
Larutan difenilkarbazon: 0,2 g% dalam etanol 96%
Larutan Hg (N03)2: 0,02 g% dalam 0,04 N HNO3.
Larutan KMNO4: 0,05 g% dalam akuades.
Solven untuk kromatografi terdiri dari kloroform, butanol dan amonia 25% dengan perbandingan
1 4 : 8 : 1. Diperlukan pula larutan pembanding barbiturat.
Identifikasi barbiturat dengan TLC: Lapisan silika gel dike-lingkan dan ditambahkan larutan
difenilkarbazon, dengan larutan -^N03)2- Barbiturat akan terlihat sebagai bercak kuning
kemerahan p atas latar belakang ungu. Semua jenis barbiturat memperlihatkan
-aaksi ini.
Khusus untuk barbiturat tidak jenuh seperti seconal, aprobarbi-2. silikagel disemprot dengan
larutan KMNO4. Hasil positif bila ter-irat bercak kuning muda berlatarbelakang ungu.
Dengan membandingkan jarak migrasi berbiturat dalam ekstrak se-um dengan jarak migrasi
barbiturat dalam larutan pembanding papatlah diketahui jenis barbiturat dalam serum.
Konsentrasi barbiturat dalam otak, hati dan ginjal menunjukkan umlah yang besar sedangkan
dalam otot dan tulang-tulang sedikit. <pn- sentrasi barbiturat yang terbesar terdapat dalam otak
dan hati .ari g bervariasi antara 2,5-8 mg/100 g jaringan.
Dalam keadaan mayat yang membusuk lanjut, barbiturat masir tetap dapat ditentukan (lebih
kurang 25% dari konsentrasi semula sehingga dalam melakukan penarikan kesimpulan, hal ini
perlu diperhitungkan.
PEMERIKSAAN MEDIK PADA KASUS KEJAHATAN SEKSUAL
Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan yang merupakan tin-sa< pidana, hendaknya dilakukan
dengan teliti dan waspada. Peme-irksa harus yakin akan semua bukti-bukti yang ditemukannya

karena raerceda dengan di klinik ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk ireakukan
pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti. Tetapi dalam melaksanakan kewajiban
itu dokter jangan sampai ireetakkan kepentingan sikorban di bawah kepentingan pemeriksaan.
Terutama bila korban masih anak-anak hendaknya pemerik-saan itu tidak sampai menambah
trauma psikis yang sudah beritanya.
Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar < membebaskan terdakwa dari
penuntutan atau sebaliknya menjatuhkan hukuman. Di Indonesia pemeriksaan korban per-setbuhan yang diduga merupakan tindak kejahatan seksual umum-dilakukan oleh dokter ahli Ilmu
Kebidanan dan Penyakit Kan-jan, kecuali di tempat yang tak ada dokter ahli demikian, dokter
ilah yang harus melakukan pemeriksaan itu.
Sebagai ahli klinis yang perhatian utamanya tertuju pada ;ntingan pengobatan penderita, memang
agak sukar untuk ukan pemeriksaan yang berhubungan dengan kejahatan, knya korban kejahatan
seksual dianggap sebagai orang yang mengalami cedera fisik dan/atau mental, sehingga
sebaiknya semeriksaan ditangani oleh dokter di klinik. Penundaan pemeriksaan at memberikan
hasil yang kurang memuaskan.
ANG-UNDANG
Agar kesaksian seorang dokter pada perkara pidana mencapai annya yaitu membantu pengadilan
dengan sebaik-baiknya, dia s menganal Undang-undang yang bersangkutan dengan tindak a itu,
seharusnya ia mengetahui unsur-unsur mana yang dibuk-secara medik atau yang memerlukan
pendapat medik.
KUHP pasal 284
(1) Dihukum dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan: 1a. seorang pria yang telah
kawin, yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 BW {Burgerlyk
Wetboek) berlaku baginya.
1 b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa pasal 27
BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya.
2a. seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu padahal diketahuinya bahwa yang turut
bersalah tela1* kawin;
2b. seorang wanita yang belum kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal
diketahui olehnya bah/.a yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaK_ baginya.

(2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengadua-suami/istri yang tercemar, dan
bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diiloi dengan
permintaan untuk bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaa-dalam sidang pengadilan belum dimulai.
(5) Jika bagi suami-istri itu berlaku pasal 27 BW, pengadua-tidak diindahkan selama perkawinan
belum diputuska-karena perce raian atau sebelum putusan yang menyataka-pisah meja dan
tempat tidur menjadi tetap.
BW pasal 27
Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehka-mempunyai satu orang perempuan
sebagai isterinya, seorang perempuan hanya satu orang laki sebagai suaminya
KUHP 285
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasar memaksa seorang wanita bersetubuh
dengan dia di La-perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan denga-pidana penjara paling
lama dua belas tahun.
Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah terjadi paksaan
dengan kekerasan atau denga-ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terdapat tanda-tancs kekerasan. Tetapi ia tidak dapat
menentukan apakah terdapat unsj-paksaan pada tindak pidana ini.
Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak sela. merupakan akibat paksaan,
mungkin juga disebabkan oleh hal-ha lain yang tak ada hubungannya dengan paksaan. Demikian
pula , a dokter tidak menemukan tanda kekerasan, maka hal itu beL-merupakan bukti bahwa
paksaan tidak terjadi. Pada hakekatnya dc*-ter tak dapat menentukan unsur paksaan yang
terdapat pada tinca* pidana perkosaan; sehingga ia juga tidak mungkin menentukan apakah
perkosaan telah terjadi.
Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim, arena perkosaan adalah
pengertian hukum bukan istilah Medis, sehingga dokter jangan menggunakan istilah perkosaan
dalam visum et Repertum.
Dalam bagian kesimpulan Visum et Repertum hanya dituliskan (1) ada tidaknya tanda
persetubuhan dan (2) ada tidaknya tanda rekerasan, serta jenis kekerasan yang
menyebabkannya.

KUHP pasal 286


Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui bahwa
wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.
Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa perempuan cerada dalam keadaan pingsan atau
tidak berdaya ketika terjadi persetubuhan. Dokter harus mencatat dalam anamnesa apakah
korban sadar ketika terjadi persetubuhan, adakah penyakit yang diderita kor-can yang sewaktuwaktu dapat mengakibatkan korban pingsan atau tdak berdaya, misalnya epilepsi, katalepsi,
syncope dsb. Jika korban -engatakan ia menjadi pingsan, maka perlu diketahui bagaimana
terjadinya keadaan pingsan itu, apakah terjadi setelah korban diberi - numan atau makanan.
Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah korban menun--kkan tanda-tanda bekas hilang
kesadaran, atau tanda-tanda telah perada di bawah pengaruh alkohol, hipnotik atau narkotik.
Apabila ada petunjuk bahwa alkohol, hipnotik atau narkotik telah dipergunakan, maka dokter
perlu mengambil urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologik.
Jika terbukti bahwa si terdakwa telah sengaja membuat wanita itu pingsan atau tak berdaya, ia
dapat dituntut telah melakukan tin-pak pidana perkosaan, karena dengan membuat wanita itu
pingsan atau tidak ber daya ia telah melakukan kekerasan.
KUHP pasal 89
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan.
KUHP pasal 287
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya
atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya
tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita itu belum sampai dua
belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.
Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut Undang-Undang belum
cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah di atas 12 tahun, penuntutan
baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu
persetubuhan tersebut merupakan delik aduan, bila tidak ada pe-ngaduan, tidak ada penuntutan.
Tetapi keadaan akan berbeda jika:

a. Umur korban belum cukup 12 tahun; atau


b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat perbuatan itu
(KUHP ps. 291); atau
c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya anak tirinya, muridnya, anak yang
berada dibawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya (ps 294).
Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan, walaupun tidak ada pengaduan karena
bukan lagi merupakan delik aduan.
Pada pemeriksaan akan diketahui umur korban. Jika tidak ada akte kelahiran maka umur korban
yang pasti tak diketahui. Dokter perlu menyimpulkan apakah wajah dan bentuk badan korban
sesua dengan umur yang dikatakannya.
Keadaan perkembangan payudara dan pertumbuhan rambu: kemaluan perlu dikemukakan.
Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 (molar ke-2) sudah tumbuh (terjadi pada umur
kira-kira 12 tahun, sedangkan molar ke-3 akan muncul pada usia 17-21 tahun atau lebih). Juga
harus ditanyakan apakah korban sudah pernah mendapat haid bila umur korban tidak diketahui.
Kalau korban menyatakan belum pernah haid, maka penentuar ada/tidaknya ovulasi masih
diperlukan. Muller menganjurkan aga-dilakukan observasi selama 8 minggu di rumah sakit untuk
menentukan adakah selama itu ia mendapat haid. Kini untuk menentukan apakah seorang wanita
sudah pernah mengalami ovulasi atau belum, dapat dilakukan pemeriksaan 'vaginal smear'.
Hal di atas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat: padahal diketahuinya atau sepatutnya
harus diduganya bahwa wanita itu umurnya belum lima belas tahun dan kalau umurnya tidak
jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin. Perempuan yang belum pernah haid dianggap
sebagai belum patut dikawin.
KUHP pasal 291
(1) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasa 286, 287, 288 dan 290 itu berakibat
luka berat, dijatuhka-hukuman penjara se-lama-lamanya 12 tahun.
(2) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam ps 285, 286, 287, 289 dan 290 itu
berakibat matinya orang dijajtuh-kan hukuman penjara se-lama-lamanya 15 tahun.
KUHP ps. 294
Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya atau anak piaraannya,
anak yang dibawah pengawasannya, orang dibawah umur yang diserahkan kepadanya untuk

dipelihara, dididiknya atau dijaganya, atau bujangnya atau orang yang dibawah umur, dihukum
dengan hukuman penjara se-lama-lamanya 7 tahun.
Dengan itu dihukum juga :
1. Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dibawahnya/orang yang
dipercayakan/diserahkan kepadanya untuk dijaga.
2. Pengurus, dokter, guru, pejabat, pengurus atau bujang di penjara, ditempat bekerja kepunyaan
negeri, tempat pendidikan, rumah piatu, R.S. gila atau lembaga semua yang melakukan
perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan disitu.
YANG PERLU DIPERHATIKAN SEBELUM PEMERIKSAAN
Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang
berwenang.
Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Kalau korban
datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, jangan diperiksa, suruh korban
kembali kepada polisi.
Setiap Visum et Retertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada tubuh
korban pada waktu permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter.
Bila dokter telah memeriksa seorang korban yang datang di rumah sakit, atau di tempat praktek
atas inisiatif sendiri, bukan atas permintaan polisi, dan beberapa waktu kemudian polisi
mengajukan permintaan dibuatkan Visum et Repertum, maka ia harus menolak, karena segala
sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban sebelum ada permintaan untuk dibuatkan
Visum et Repertum merupakan rahasia kedokteran yang wajib disimpannya (KUHP ps. 322).
Dalam keadaan seperti itu dokter dapat meminta kepada polisi supaya korban dibawa kembali
kepadanya dan Visum et Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu
permintaan diajukan. Hasil pemeriksaan yang lalu tidak diberikan dalam bentuk Visum et
Repertum, tetapi dalam bentuk surat keterangan.
Hasil pemeriksaan sebelum diterimanya surat permintaan pemeriksaan dilakukan terhadap pasien
dan bukan sebagai corpus dilicti (benda bukti).
Ijin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau jika korban adalah
seorang anak, dari orang tua atau walinya. Jelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan apa yang
akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan. Hal ini
perlu diketahui walaupun pemeriksaan dilakukan atas permintaan polisi, belum tentu korban

akan menyetujui pemeriksaan itu dan tidak menolaknya. Selain itu bagian yang akan diperiksa
merupakan the most private part dari tubuh seorang wanita.
Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada waktu memeriksa korban.
Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin jangan ditunda terlampau lama.
Hindarkan korban dari menunggu dengan perasaan waswas dan cemas di kamar periksa. Apalagi
bila korban adalah seorang anak. Semua yang ditemukan harus dicatat, jangan tergantung pada
ingatan semata.
Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin. Dengan adanya Visum et Repertum perkara
cepat dapat diselesaikan. Seorang terdakwa dapat cepat dibebaskan dari tahanan, bila ternyata ia
tidak bersalah.
Kadang-kadang dokter yang sedang berpraktek pribad diminta oleh seorang ibu/ayah untuk
memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi apakah anaknya masih perawan, atau
karena ia merasa curiga kalau-kala-atas diri anaknya baru terjadi persetubuhan.
Dalam hal ini sebaiknya ditanyakan dahulu maksuo pemeriksaan, apakah sekedar ingin
mengetahui saja, atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan
melakukan penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Katakan bahwa
pemeriksaar harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan biasanya dilakukan di rumah
sakit. Mungkin ada baiknya dokter memberikan penerangan pada ibu/ayah itu, bahv.a jika umur
anaknya sudah 15 tahun, dan jika pesetubuha^ terjadi tidak dengan paksaan maka menurut
undang-undang, laki-laki yang bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan mungkin hanya
akan merugikan anaknya saja Lebih baik lagi jika orang tua itu dianjurkan untuk minta nasehat
dari seorang pengacara.
Jika orang tua hanya sekedar ingin mengetahui saja maka dokter dapat melakukan pemeriksaan.
Tetapi jelaskan lebih dahulu bahwa hasil pemeriksaan tidak akan dibuat dalam bentuk surat
keterangan, karena kita tidak mengetahui untuk apa surat keterangan itu. Mungkin untuk
melakukan penuntutan atau untuk menuduh seseorang yang tidak bersalah. Dalam keadaan
demikian umumnya anak tidak mau diperiksa, sebaliknya orang tua malah mendesaknya.
Sebaiknya dokter meminta izin tertulis untuk memeriksa dan memberitahukan hasil pemeriksaan
kepada orang tuanya.
= EMERIKSAAN

Data yang perlu dicantumkan dalam bagian pendahuluan i 'sum et Repertum delik kesusilaan
adalah:
Instansi Polisi yang meminta peemeriksaan, nama dan pangkat pc si yang mengantar korban,
nama, umur, alamat dan pekerjaan korban seperti tertulis dalam surat permintaan, nama dokter
yang -emeriksa, tempat, tanggal dan jam pemeriksaan dilakukan seerta -ana perawat yang
menyaksikan pemeriksaan.
Pada umumnya anamnesis yang diberikan oleh orang sakit rapat dipercaya, sebaliknya
anamnesis yang diperoleh dari korban :<dak selalu benar.
Terdorong oleh berbagai maksud atau perasaan, misalnya -aksud untuk memeras, rasa dendam,
menyesal atau karena takut pada ayah/ibu, korban mungkin mengemukakan hal-hal yang tidak
p<enar.
Anamnesis merupakan suatu yang tidak dapat dilihat atau p temukan oleh dokter sehingga bukan
merupakan pemeriksaan .ang obyektif, sehingga seharusnya tidak dimasukkan dalam Visum et
Repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada Visum et Repertum dengan judul
"keterangan yang diperoleh dari korban". Dalam mengambil anamnesis, dokter meminta pada
korban untuk -enceritakan segala sesuatu tentang kejadian yang dialaminya dan seoaiknya
terarah. Anamnesis terdiri dari bagian yang bersifat umum pan khusus.
Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tanggal dan tempat lahir, status
perkawinan, siklus haid, untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit kelamin dan
penyakit sandungan serta adanya penyakit lain: epilepsi, katalepsi, syncope. Cari tahu pula
apakah pernah bersetubuh? Persetubuhan yang terakhir? Apakah menggunakan kondom?
Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian; -anggai dan jam. Bila waktu antara
kejadian dan pelaporan kepada ..ang berwajib berselang beberapa hari/minggu, dapat
diperkirakan oahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, tetapi persetubuhan ang pada
dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan.
Karena berbagai alasan, misalnya perempuan itu merasa tertipu, cemas akan menjadi hamil atau
selang beberapa hari baru diketahui oleh ayah/ibu dan karena ketakutan mengaku bahwa ia telah
disetubuhi dengan paksa. Jika korban benar telah diperkosa biasanya akan segera melapor. Tetapi
saat pelaporan yang terlamba: mungkin juga disebabkan karena korban diancam untuk tidak
melapor kepada polisi. Dari data ini dokter dapat mengerti mengapa ia tidak dapat menemukan
lagi spermatozoa, atau tanda-tanda lair dari persetubuhan.

Tanyakan pula di mana tempat terjadinya. Sebagai petunjuk dalam pencarian trace evidence
yang berasal dari tempat kejadian misalnya rumput, tanah dan sebagainya yang mungkin melekat
pada pakaian atau tubuh korban. Sebaliknya petugas pun dapat mengetahui di mana harus
mencari trace evidence' yang ditinggalkan oleh korban/pelaku.
Perlu diketahui apakah korban melawan. Jika korban melawa-maka pada pakaian mungkin
ditemukan robekan, pada tubuh korban mungkin ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan dan
pada ala: kelamin mungkin terdapat bekas perlawanan. Kerokan kuku mungkin menunjukkan
adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang berasal dar pemerkosa/penyerang.
Cari tahu apakah korban pingsan. Ada kemungkinan korba-menjadi pingsan karena ketakutan
tetapi mungkin juga korba-dibuat pingsan oleh laki-laki pelaku dengan pemberian obat tidur atau
obat bius. Dalam hal ini jangan lupa untuk mengambil urin d a' darah untuk pemeriksaan
toksikologik.
Tanyakan apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi, apakah se telah kejadian, korban mencuci,
mandi dan mengganti pakaian.
Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti. Pakaia-diteliti helai demi helai, apakah
terdapat: Robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian, Kancing
terputus akibat tarikan, Bercak darah, air mani, lumpur dsb. yang berasal d a-tempat kejadian.
Catat apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak, benda-benda yang melekat dan pakaian
yang mengandung trace evidence dikirim ke laboratorium kriminologi untuk pemeriksaan lebih
lanjut.
Pemeriksaan tubuh korban meliputi pemeriksaan umur Lukiskan penampilannya (rambut dan
wajah), rapi atau kus_-. keadaan emosional, tenang atau sedih/gelisah dsb. Adakah tanca-tanda
bekas kehilangan kesadaran atau diberikan obat tidur/bius apakah ada needle marks. Bila ada
indikasi jangan lupa untuk amoi urin dan darah.
Adakah tanda-tanda bekas kekerasan, memar atau luka lecet -.ada daerah mulut, leher,
pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan pinggang.
Dicatat pula tanda perkembangan alat kelamin sekunder, pupil, 'efleks cahaya, pupil pinpoint,
tinggi dan berat badan, tekanan -arah. keadaan jantung, paru, dan abdomen.
Adakah trace evidence yang melekat pada tubuh korban.
Pemeriksaan bagian khusus (daerah genitalia) meliputi ada idaknya rambut kemaluan yang
saling melekat menjadi satu karena a.r mani yang mengering, gunting untuk pemeriksaan

laboratorium. Cari pula bercak air mani di sekitar alat kelamin, kerok dengan sisi tumpul skalpel
atau 'swab' dengan kapas lidi yang dibasahi dengan arutan garam fisiologis.
Pada vulva, teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti -iperemi, edema, memar dan luka
lecet (goresan kuku). Introitus agina apakah hiperemi/edema? Dengan kapas lidi diambil bahan
-ntuk pemeriksaan sperma dari vestibulum.
Periksa jenis selaput dara, adakah ruptur atau tidak. Bila ada, tentukan ruptur baru atau lama dan
catat lokasi ruptur tersebut, teliti apakah sampai ke insertio atau tidak. Tentukan besar orifisium,
sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk atau 2 jari. Sebagai gangnya boleh juga ditentukan
ukuran lingkaran orifisium, dengan cara -,ung kelingking atau telunjuk dimasukkan dengan hatihati ke dalam orifisium sampai terasa tepi selaput dara menjepit ujung jari, beri tanda pada
sarung tangan dan lingkaran pada titik itu diukur. Ukuran r:ada seorang perawan kira-kira 2,5
cm. Lingkaran yang memungkinkan persetubuhan dapat terjadi menurut Voight adalah minimal 9
cm .
Harus diingat bahwa persetubuhan tidak selalu disertai dengan neflorasi. Pada ruptur lama,
robekan menjalar sampai ke insertio disertai adanya parut pada jaringan di bawahnya. Ruptur
yang tidak sampai ke insertio, bila sudah sembuh tidak dapat dikenal lagi.
Periksa pula apakah frenulum labiorum pudendi dan commisur--a labiorum posterior utuh atau
tidak. Periksa vagina dan serviks de--gan spekulum, bila keadaan alat genital mengijinkan.
Adakah tanda zenyakit kelamin.
Lakukan pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium. Untuk pemeriksaan cairan mani
dan sel mani dalam lendir .agina, lakukan dengan mengambil lendir vagina menggunakan pipet
pasteur atau diambil dengan ose batang gelas, atau swab. 3ahan diambil dari forniks posterior,
bila mungkin dengan spekulum.
Pada anak-anak atau bila selaput dara utuh, pengambilan sahan sebaiknya dibatasi dari
vestibulum saja.
Pemeriksaan terhadap kuman N. gonorrhoea: dari sekret urether (urut dengan jari) dan dipulas
dengan Pewarnaan Gram.
Pemeriksaan dilakukan pada hari ke-I, III, V dan VII. Jika pada pemeriksaan didapatkan N.
gonorrhoea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seseorang penderita, bila pada pria
tertuduh juga ditemukan N. gonorrhoea, ini merupakan petunjuk yang cukup kuat. Jika terdapat
ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaar serologik atau bakteriologik.

Pemeriksaan kehamilan dan pemeriksaan toksikologik terhadap urin dan darah juga dilakukan
bila ada indikasi.
Pemeriksaan pria tersangka dapat dilakukan terhadap pakaian, catat adanya bercak semen, darah
dsb. Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan
Darah mempunyai nilai karena kemungkian berasal dari darah deflorasi. Di sini penentuan
golongan darah penting untuk dilakukan Mungkin dapat ditemukan tanda bekas kekerasan:
akibat perlawanan oleh korban. Untuk mengetahui apakah seorang pria bar^ melakukan
persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel vagina pada glans penis.

Gambar menunjukkan cara pemeriksaan terhadap pria tersangka, dengan Jalan menekankan
gelas objek ke glans penis, lalu preparat 'diwarnai' dengan meletakkannya terbalik di atas
larutan lugol
Pemeriksaan terhadap sel epitel vagina pada glans penis dapa: dilakukan dengan menekankan
kaca obyek pada glans penis daerah korona atau frenulum, kemudian diletakkan terbalik di atas
cawan yang berisi larutan lugol. Uap yodium akan mewarnai lapisa-pada kaca obyek tersebut.
Sitoplasma sel epitel vagina akan berwa'-na coklat tua karena mengandung glikogen. Warna
coklat tadi cepa: hilang namun dengan meletakkan kembali sediaan di atas caira-lugol maka
warna coklat akan kembali lagi. Pada sediaan ini dapa: pula ditemukan adanya spermatozoa
tetapi tidak mempunyai ari apa-apa.
Perlu pula dilakukan pemeriksaan sekret uretra untuk menentukan adanya penyakit kelamin.
Trace Evidence pada pakaian yang dipakai ketika terjadi per-setu buhan harus diperiksa. Bila
fasilitas untuk pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium forensik di Kepolisian atau bagian
Ilmu Kedokteran Forensik, dibungkus, segel serta membuat berita acara pembungkusan dan
penyegelan.
Rambut dan barang bukti lain yang ditemukan diperlakukan serupa. Jika dokter menemukan
rambut kemaluan yang lepas pada padan wanita ia harus mengambil beberapa helai rambut
kemaluan pari wanita dan laki-laki sebagai bahan pembanding (matching).

Beberapa catatan penting:


Ruptur selaput dara
Bedakan celah bawaan dari ruptur dengan memperhatikan sampai di insertio (pangkal) selaput
dara.
Celah bawaan tidak mencapai insertio sedangkan ruptur dapat sampai ke dinding vagina. Pada
vagina akan ditemukan parut bila ruptur sudah sembuh, sedangkan ruptur yang tidak mencapai
basis tidak akan menimbulkkn parut.
Ruptur akibat persetubuhan biasa ditemukan di bagian posterior kanan atau kiri dengan asumsi
bahwa persetubuhan dilakukan dengan posisi saling berhadapan.
Formulir Visum et Repertum Perkosaan
Formulir Visum et Repertum luka tidak sesuai untuk kasus perkosaan. Visum et Repertum luka
digunakan pada pemeriksaan terhadap korban peristiwa penganiayaan, kecelakaan lalu lintas dan
ssbagainya. Pada bagian kesimpulan, dokter diminta pendapatnya tentang jenis luka, jenis
kekerasan penyebab dan kualifikasi luka.
Pada peristiwa persetubuhan yang merupakan tindak kejahatan, dokter diminta untuk
mengemukakan pendapatnya apakah persetubuhan telah terjadi. Misalnya, pada perempuan
bukan perawan, persetubuhan mungkin tidak menimbulkan luka dan tidak ada kualifikasi luka
yang akan dikemukakan.
Anamnesa
Anamnesa dipisah dan dilampirkan pada Visum et Repertum, tetapi masih perlu dipikirkan
apakah hal ini dapat diterima dengan gembira oleh pihak yang bersangkutan, karena mungkin
keterangan yang diberikan kepada dokter berbeda dengan yang diberikan kepada polisi.
Sebagai jalan tengah mungkin catatan anamnesa ini baru akan diberikan bila diminta oleh
penyidik, tidak secara otomatis dilampirkan dalam visum et repertum.
PENGGUGURAN KANDUNGAN
Pengertian pengguguran kandungan menurut hukum ialah tindakan menghentikan kehamilan
atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran, tanpa melihat usia kandungannya. Juga tidak
dipersoalkan, apakah dengan pengguguran kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau mati
(Yurisprudensi Hoge Raad HR 12 April 1898). Yang dianggap penting adalah bahwa sewaktu
pengguguran kehamilan dilakukan, kandungan tersebut masih hidup (HR 1 November 1897, HR
12 April 1898).

Pengertian pengguguran kandungan menurut hukum tentu saja berbeda dengan pengertian
abortus menurut kedokteran, yaitu adanya faktor kesengajaan dan tidak adanya faktor usia
kehamilan.
Kita mengetahui bahwa abortus menurut pengertian kedokteran terbagi ke dalam :
Abortus spontan.
Abortus provokatus, yang terbagi lagi ke dalam : Abortus provokatus terapeutikus Abortus
provokatus kriminalis
Abortus provokatus kriminalis sajalah yang termasuk ke dalam ingkup pengertian pengguguran
kandungan menurut hukum.
Secara rinci KUHP mengancam pelaku-pelaku sbb :
Wanita yang sengaja menggugurkan kandungannya atau menyuruh orang lain melakukannya
(KUHP ps 346, hukuman maksimum 4 th).
Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita tanpa seizinnya (KUHP ps 347, hukuman
maksimum 12 tahun; dan bila wanita tersebut meninggal, hukuman maksimum 15 tahun).
Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita dengan seizin wanita tersebut. (KUHP ps
348, hukuman maksimum 5 tahun 6 bulan; dan bila wanita tersebut meninggal, maksimum 7
tahun).
Dokter, bidan atau juru obat yang melakukan kejahatan di atas (KUHP ps 349, hukuman
ditambah dengan sepertiga-nya dan pencabutan hak pekerjaannya).
Barangsiapa mempertunjukkan alat/cara menggugurkan kandungan kepada anak di bawah usia
17 tahun/di bawah umur (KUHP ps 283, hukuman maksimum 9 bulan).
Barangsiapa menganjurkan/merawat/memberi obat kepada seorang wanita dengan memberi
harapan agar gugur kandungannya (KUHP ps 299, hukuman maksimum 4 tahun).
Barangsiapa mempertunjukkan secara terbuka alat/cara menggugurkan kandungan (KUHP pasi
535) hukuman maksimum 3 bulan.
Negara-negara di Eropa barat umumnya mengancam perbuatan pengguguran kandungan dengan
hukuman, kecuali bila atas indikasi medis (bahaya maut atau bahaya kesehatan yang parah bagi
si ibu, yang bila dilanjutkan akan membahayakan diri si ibu, atau bahaya kelainan kongenital
yang hebat).
Amerika melarang pengguguran kandungan yang /7/ega/, yaitu selain yang dilakukan dokter di
Rumah sakit dengan prosedur tertentu. Sedangkan Jepang membolehkan abortus tanpa

pembatasan tertentu. Bahkan di negara-negara Eropa timur, abortus diperbolehkan bila dilakukan
oleh dokter di Rumah Sakit, tanpa keharusan membayar biayanya.
Di Jerman Barat, pengguguran kandungan usia 14 hari hingga 3 bulan, dengan izin si wanita,
atas anjuran dokter dan dilakukan oleh dokter, tidak diancam hukuman.
Dikenal 2 macam indikasi abortus terapeutikus, yaitu indikasi ibu (kepentingan medik si wanita
hamil) dan indikasi anak (kepentingan medik si janin), namun kedua macam indikasi tersebut
belum menerangkan secara tuntas tentang batasan derajat resiko ibu atau anak yang dapat
digolongkan ke dalam cakupan indikasi.
Bahkan kemudian muncul pula indikasi etis yaitu pada kehamilan akibat suatu tindakan
perkosaan dan tindakan yang sejenis Penggunaan indikasi sosial sama sekali tidak dibenarkan.
Durwald (1971) mengatakan bahwa ternyata semakin libera peraturan tentang abortus sesuatu
daerah/negara, maka semakin sedikit kasus abortus yang terjadi hanya sampai pada satu titik tertentu.
Kasus abortus di Indonesia jarang diajukan ke pengadilan, karena pihak si ibu yang merupakan
korban juga sebagai 'pelaku sehingga sukar diharapkan adanya laporan abortus.
Umumnya kasus abortus diajukan ke pengadilan hanya bila terjadi komplikasi (si ibu sakit
berat/mati) atau bila ada pengaduan dari si ibu atau suaminya (dalam hal izin).
Jatipura dkk memperoleh 31,4% abortus per 100 kehamilan di RSCM selama 1972-1975. Budi
Utomo dkk memperhitungkan angka abortus spontan menurut WHO (15-20 per 100 kehamilan),
menyimpulkan bahwa kira-kira separuh dari abortus tersebut adalah provo-katus.
* Knight menyatakan bahwa abortus provokatus terjadi pada kira-kira 40% dari seluruh abortus,
meskipun angka tersebut sebenarnya berva riasi.
MENGENALI TINDAKAN ABORTUS PROVOKATUS
Abortus provokatus yang dilakukan menggunakan pelbagai cara selalu mengandung resiko
kesehatan baik bagi si ibu atau janin. Seorang dokter perlu mengenali kelainan yang dapat timbul
akibat pelbagai macam cara yang digunakan untuk melakukan pengguguran kriminal ini agar
benar-benar dapat membantu secara maksimal pihak penyidik.
Kekerasan mekanik lokal dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan dari luar
dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain, seperti melakukan gerakan tisik
berlebihan, ,atuh, pemijatan/pengurutan perut bagian bawah, kekerasan langsung pada perut atau
uterus, pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya.

Kekerasan dapat pula 'dari dalam' dengan melakukan manipulasi vagina atau uterus.
Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan penyemprotan air sabun atau air panas
pada porsio; aplikasi asam arsenik, kalium permanganat pekat, atau jodium tnktur; pemasangan
laminaria stift atau kateter ke dalam serviks; atau manipulasi serviks dengan jari tangan.
Manipulasi ute- rus, dengan melakukan pemecahan selaput amnion atau dengan penyun-iKan ke
dalam uterus.
Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja yang cukup
panjang dan kecil melalui serviks. Penyuntikan atau penyemprotan cairan biasanya dilakukan
dengan menggunakan Higginson type syringe, sedangkan cairannya adalah air sabun,
desinfektan atau air biasa/air panas. Penyemprotan ni dapat mengakibatkan emboli udara.
Obat/zat tertentu, racun umum digunakan dengan harapan agar janin mati tetapi si ibu cukup
kuat untuk bisa selamat.
Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang mengandung minyak eter tertentu yang
merangsang saluran cerna - ngga terjadi kolik abdomen, jamu perangsang kontraksi uterus dan
~ormon wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi -ukosa uterus.
Hasil yang dicapai sangat bergantung pada jumlah (takaran), sensitivitas individu dan keadaan
kandungannya (usia gestasi).
Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur, nenas muda, bubuk beras
dicampur lada hitam, dan lain lain. Ada juga yang agak beracun seperti garam logam berat,
laksans dan bin lain; atau bahan yang beracun, seperti strichnin, prostigmin, pilokarpin,
dikumarol, kina dan lain lain.
Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksi-:osin) ternyata sangat efektif.
Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika aminopterin) sebagai abortivum.
KOMPLIKASI
Penggunaan obat-obatan abortifasien sebenarnya tidak ada yang efektif tanpa menimbulkan
gangguan pada si ibu. Cara yang efektif dan adalah dengan melakukan manipulasi mekanik oleh
tangan yang terampil.
Penyulit yang mungkin timbul adalah :
(a) Perdarahan akibat luka pada jalan lahir, atonia uteri, sisa jaringan tertinggal, diatesa
hemoragik dan lain lain. Perdarahan dapat timbul segera pasca tindakan, dapat pula timbul lama
setelah tindakan.

Tidak seperti pada zaman dahulu, komplikasi ini kini jarang mendatangkan kematian. Hal ini
disebabkan pengertian masyarakat tentang kesehatan yang telah meningkat.
(b) Syok (renjatan) akibat refleks vasovagal atau nerogenik Komplikasi ini dapat mengakibatkan
kematian yang mendadak. Diagnosis ini ditegakkan bila setelah seluruh pemeriksaan dilakukan
tanpa membawa hasil.
Harus diingat pula kemungkinan adanya emboli cairan amnion, sehingga pemeriksaan histologik
harus dilakukan dengan teliti.
(c) Emboli udara dapat terjadi pada teknik penyemprotan cairan ke dalam uterus. Hal ini terjadi
karena pada waktu penyemprotan, selain cairan juga gelembung udara masuk ke dalam uterus,
sedang kan di saat yang sama sistem vena di endometrium dalam keadaan terbuka.
Udara dalam jumlah kecil biasanya tidak menyebabkan kematian, sedangkan jumlah 70-100 ml
dilaporkan sudah dapat mematikan dengan segera.
(d) Inhibisi vagus, hampir selalu terjadi pada tindakan abortus yang dilakukan tanpa anestesi
pada ibu dalam keadaar stres, gelisah dan panik. Hal ini dapat terjadi akibat alat yang digunakan
atau suntikan secara mendadak denga" cairan yang terlalu panas atau terlalu dingin.
(e) Keracunan obat/zat abortivum, termasuk karena anestesia Antiseptik lokal seperti KMn04
pekat, AgN03, K-klorat Jodium dan Sublimat dapat mengakibatkan cedera yang hebat atau
kematian. Demikian pula obat-obatan sepert kina atau logam berat.
Pemeriksaan adanya Met-Hb, pemeriksaan histologik dan toksikolgik sangat diperlukan untuk
menegakkan diagnosis
(f) Infeksi dan sepsis. Komplikasi ini tidak segera timbul pasca tindakan tetapi memerlukan
waktu.
(g) Lain-lain seperti tersengat arus listrik saat melakukan abortus dengan menggunakan
pengaliran listrik lokal.
PEMERIKSAAN KORBAN ABORTUS
Pada korban hidup perlu diperhatikan tanda kehamilan misalnya perubahan pada payudara,
pigmentasi, hormonal, mikroskopik dan sebagainya. Perlu pula dibukti adanya usaha
penghentian kehamilan, misalnya tanda kekerasan pada genitalia interna/ ekster-na, daerah perut
bagian bawah.
Pemeriksaan toksikologik dilakukan untuk mengetahui adanya obat/zat yang dapat
mengakibatkan abortus. Perlu pula dilakukan pemeriksaan terhadap hasil usaha penghentian

kehamilan, misalnya ;ang berupa IUFD - kematian janin di dalam rahim dan pemeriksaan
mikroskopik terhadap sisa-sisa jaring-an.
Temuan autopsi pada korban yang meninggal tergantung pada cara melakukan abortus serta
interval waktu antara tindakan abortus zan kematian.
Abortus yang dilakukan oleh ahli yang trampil mungkin tidak -eninggalkan bekas dan bila telah
berlangsung satu hari atau lebih, -aka komplikasi yang timbul atau penyakit yang menyertai
mungkin mengaburkan tanda-tanda abortus kriminal.
Lagi pula selalu terdapat kemungkinan bahwa abortus dilaku-<an sendiri oleh wanita yang
bersangkutan.
Pada pemeriksaan jenazah, Teare (1964) menganjurkan pem-pukaan abdomen sebagai langkah
pertama dalam autopsi bila ada <ecurigaan akan abortus kriminalis sebagai penyebab kematian
koroan.
Pemeriksaan luar dilakukan seperti biasa sedangkan pada pembedahan jenazah, bila didapatkan
cairan dalam rongga perut, a:au kecurigaan lain, lakukan pemeriksaan toksikologik.
Uterus diperiksa apakah ada pembesaran, krepitasi, luka atau renorasi. Lakukan pula Tes emboli
udara pada vena kava inferior pan jantung.
Periksa alat-alat genitalia interna apakah pucat, mengalami kon-geti atau adanya memar). Uterus
diiris memdatar dengan jarak antar rsan 1 cm untuk mendeteksi perdarahan yang berasal dari
bawah.
Ambil darah dari jantung (segera setelah tes emboli) untuk pemeriksaan toksikologik. Ambil urin
untuk tes kehamilan/toksikolo-- K dan pemeriksan organ-organ lain dilakukan seperti biasa.
Pemeriksaan mikroskopik meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda kehamilan,
kerusakan jaringan yang merupakan e,as/tanda usaha penghentian kehamilan. Ditemukannya sel
radang =MN menunjukkan tanda intravitalitas.
Tentukan pula umur janin/usia kehamilan, karena sekalipun undang-undang tidak
mempermasalahkan usia kehamilan, namun penentuan usia kehamilan kadang kala diperlukan
oleh penyidik dalam rangka penyidikan perkara secara keseluruhan.
PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI

Yang dimaksud dengan pembunuhan anak sendiri menurut undang-undang di Indonesia adalah
pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak
berapa ama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak.
Di negara lain, misalnya di Inggris, batasan umur anak yang termasuk dalam kasus infantisida
adalah sampai 12 bulan karena dianggap persalinan dan menyusui anak dapat menyebabkan
gangguan keseimbangan jiwa seorang wanita.
Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap nyawa
orang.
Pasal 341. Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena
membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.
Pasal 342. Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak , pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian
merampas nyawa a-naknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan
rencana, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.
Pasal 343. Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang
turut serta melakukan sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Dari undang-undang di atas kita dapat melihat adanya 3 faktor penting, yaitu :
Ibu. Hanya ibu kandung yang dapat dihukum karena melakukan pembunuhan anak sendiri. Tidak
dipersoalkan apakah ia kawin atau tidak. Sedangkan bagi orang lain yang melakukan atau turut
membunuh anak tersebut dihukum karena pembunuhan atau pembunuhan berencana, dengan
hukuman yang lebih berat, yaitu penjara 15 tahun (ps. 338: tanpa rencana), atau 20 tahun,
seumur hidup/hukuman mati (ps. 339 dan 340, dengan rencana).
Waktu. Dalam undang-undang tidak disebutkan batasan waktu /g tepat, tetapi hanya dinyatakan
"pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian". Sehingga boleh dianggap pada saat belum
timbul rasa kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Bila rasa kasih sayang sudah timbul
maka ibu tersebut akan merawat dan bukan membunuh anaknya.
Psikis. Ibu membunuh anaknya karena terdorong oleh rasa ketakutan akan diketahui orang teiah
melahirkan anak itu, biasanya, anak yang dibunuh tersebut didapat dari hubungan yang tidak sah.
Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, misal nya tempat sampah, got,
sungai dan sebagainya, maka bayi tersebut mungkin adalah korban pembunuhan anak sendiri (ps

341, 342), pembu nuhan (ps 338, 339, 340, 343), lahir mati kemudian dibuang (ps 181), atau
bayi yang diterlantarkan sampai mati (ps 308).
Pasal 181. Barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau menghilangkan mayat
dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya, diancam dengan pidana penjara
selama 9 bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 308. Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya, tidak
lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan atau meninggalkannya
dengan maksud untuk melepaskan diri dari padanya, maka maksimum pidana tersebut dalam
pasal 305 dan 306 dikurangi separuh.
Adapun bunyi pasal 305 dan 306 tersebut adalah sebagai berikut,
Passl 305. Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk ditemukan
atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya, diancam dengan
pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan.
Pasal 306. (1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 itu mengakibatkan lukaluka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun 6 bulan.
(2) Jika mengakibatkan kematian, pidana penjara paling lama 9 tahun.
Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, dengan sendirinya bayi atau anak tersebut
harus dilahirkan hidup setelah seluruh tubuhnya keluar dari tubuh ibu (separate existence). Bila
bayi lahir mati kemudian dilakukan tindakan "membunuh", maka hal ini bukanlah pembunuhan
anak sendiri ataupun pembunuhan. Juga tidak dipersoalkan apakah bayi yang dilahirkan
merupakan bayi yang cukup bulan atau belum cukup bulan, maupun viable atau non-viable.
Dokter memeriksa mayat bayi, bila diminta bantuannya oleh penyidik, diharap dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan di bawah
ini:
1. Apakah bayi tersebut dilahirkan mati atau hidup?
2. Berapakah umur bayi tersebut (intra dan ekstrauterin)?
3. Apakah bayi tersebut sudah dirawat?
4. Apakah sebab kematiannya?
LAHIR MATI ATAU LAHIR HIDUP. Pada pemeriksaan mayat bayi baru lahir, harus dibedakan
apakah ia lahir mati atau lahir hidup.

Bila bayi lahir mati maka kasus tersebut bukan merupakan kasus pembunuhan, atau penelantaran
anak hingga menimbulkan kematian. Pada kasus seperti ini, si ibu hanya dapat dikenakan tuntutan menyembunyikan kelahiran dan kematian orang.
Lahir mati (still birth) adalah kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau dikeluarkan dari
ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun setelah kehamilan berumur
28 minggu dalam kan dungan). Kematian ditandai oleh janin yag tidak bernapas atau tidak
menunjukkan tanda kehidupan lain, seperti denyut jantung, denyut nadi tali pusat atau gerakan
otot rangka.
Tanda-tanda maserasi (aseptic decomposition). Merupakan proses pembusukan intrauterin, yang
berlangsung dari luar ke dalam (berlainan dengan proses pembusukan yang berlangsung dari
dalam ke luar). Tanda maserasi baru terlihat setelah 8-10 hari kematian in-utero. Bila kematian
baru terjadi 3 atau 4 hari, hanya terlihat perubahan pada kulit saja, berupa vesikel atau bula yang
berisi cairan kemerahan. Bila vesikel atau bula memecah akan terlihat kulit berwarna merah
kecoklatan. Tanda-tanda lain adalah epidermis berwarna putih dan berkeriput, bau "tengik"
(bukan bau busuk), tubuh mengalami perlunakan sehingga dada terlihat mendatar, sendi lengan
dan tungkai lunak, sehingga dapat dilakukan hiperekstensi, otot atau tendon terlepas dari tulang.
Pada bayi yang mengalami maserasi, organ-organ tampak basah tetapi tidak berbau busuk. Bila
janin telah lama sekali meninggal dalam kandungan, akan terbentuk litopedion.
Dada belum mengembang. Iga masih datar dan diafragma masih setinggi iga ke 3-4. Sering sukar
dinilai bila mayat telah membusuk.
Pemeriksaan makroskopik paru. Paru-paru mungkin masih tersembunyi di belakang kandung
jantung atau telah mengisi rongga dada. Osbom (1953) menemukan pada 75% kasus, ternyata
paru-paru telah mengisi rongga dada, baik pada bayi yang lahir mati maupun lahir hidup. Paruparu berwarna kelabu ungu merata seperti hati, konsistensi padat, tidak teraba derik udara dan
pleura yang longgar (slackpleura). Berat paru kira-kira 1/70 x berat badan .
Uji apung paru. Uji ini harus dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique), paruparu tidak disentuh untuk menghindari kemungkinan timbulnya artefak pada sediaan
histopatologik jaringan paru akibat manipulasi berlebihan.
Lidah dikeluarkan seperti biasa di bawah rahang bawah, ujung lidah dijepit dengan pinset atau
klem, kemudian ditarik ke arah ventrokaudal sehingga tampak palatum mole. Dengan skalpel
yang tajam, palatum mole disayat sepanjang perbatasannya dengan palatum durum. Faring,

laring, esofagus bersama dengan trakea dilepaskan dari tulang belakang. Esofagus bersama
dengan trakea diikat di bawah kartilago krikoid dengan benang. Pengikatan ini dimaksudkan
agar pada manipulasi berikutnya cairan ketuban, me-konium atau benda asing lain tidak mengalir
ke luar melalui trakea: bukan untuk mencegah masuknya udara ke dalam paru.
Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dilakukan dengan forsep atau pinset bedah dan skalpel,
tidak boleh dipegang dengan tangan. Kemudian esofagus diikat di atas diafragma dan dipotong
di atas ikatan. Pengikatan ini dimaksudkan agar udara tidak masuk ke dalam lambung dan uji
apung lambung-usus (uji Breslau) tidak membe rikan hasil yang meragukan.
Setelah semua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh lalu dimasukkan ke dalam air dan
dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Kemudian paru-paru kiri dan kanan dilepaskan dan
dimasukkan kembali ke dalam air, dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Setelah itu
tiap lobus dipisahkan dan dimasukkan ke dalam air, dan dilihat apakah mengapung atau
tenggelam. 5 potong kecil dari bagian perifer tiap lobus dimasukkan ke dalam air, dan
diperhatikan apakah mengapung atau tenggelam.
Hingga tahap ini, paru bayi yang lahir mati masih dapat mengapung oleh karena kemungkinan
adanya gas pembusukan. Bila potongan kecil itu mengapung, letakkan di antara 2 karton dan
ditekan (dengan arah tekanan yang tegak lurus, jangan bergeser) untuk mengeluarkan gas
pembusukan yang terdapat pada jaringan inter-stisial paru, lalu masukkan kembali ke dalam air
dan diamati apaka-masih mengapung atau tenggelam. Bila masih mengapung beran paru tersebut
berisi udara residu yang tidak akan keluar.
Kadang-kadang dengan penekanan, dinding alveoli pada mayat bayi yang telah membusuk lanjut
akan pecah juga dan udara residu keluar dan memperlihatkan hasil uji apung paru negatip.
Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potonga-kecil paru mengingat kemungkinan
adanya pernapasan sebagian (par-tial respiration) yang dapat bersifat buatan (pernapasan buatan
ataupun alamiah (vagitus uterinus atau vagitus vaginalis, yaitu b a;, sudah bernapas walaupun
kepala masih dalam uterus atau dalam vagina).
Hasil negatip belum berarti pasti lahir mati karena adanya kemungkinan bayi dilahirkan hidup
tapi kemudian berhenti bernapas meskipun jantung masih berdenyut, sehingga udara dalam
alveoli diresorpsi. Pada hasil uji negatip ini, pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan
untuk memastikan bayi lahir mati atau lahir hidup. Hasil uji apung paru positip berarti pasti lahir
hidup.

Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru kurang dapat dipercaya, sehingga
tidak dianjurkan untuk dilakukan. Biasanya paru dengan perangai makroskopik lahir mati akan
memberikan hasil uji apung paru negatip (tenggelam).
Mikroskopik paru-paru. Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan
fiksasi dengan larutan formalin 10%. Sesudah 12 jam, dibuat irisan-irisan melintang untuk
memung-kinkan cairan fiksatif meresap dengan baik ke dalam paru. Setelah difiksasi selama 48
jam, kemudian dibuat sediaan histopatologik. Biasanya digunakan pewarnaan HE dan bila paru
telah membusuk digunakan pewarnaan Gomori atau Ladewig.
Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi yang oelum bernapas, tetapi merupakan
ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda khas untuk paru bayi belum
cernapas adalah adanya tonjolan (projection), yang berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang
kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga tampak seperti gada (club-like).
Pada permukaan ujung bebas projection tampak kapiler yang berisi banyak darah. Pada paru bayi
belum bernapas yang sudah membusuk, dengan pewarnaan Gomori atau Ladewig, tampak
serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding alveoli berkelokkelok seperti rambut yang
keriting, sedangkan pada projection berjalan di Dawah kapiler sejajar dengan permukaan
projection dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops).
Serabut-serabut elastin pada dinding alveoli belum terwarnai dengan jelas, masih merupakan
fragmen-fragmen yang tersusun dan celum mem bentuk satu lapisan yang mengelilingi seluruh
alveoli. Serabut tersebut tegang, tidak bergelombang dan tidak terdapat di daerah basis
projection.
Pada paru bayi lahir mati mungkin pula ditemukan tanda inhalasi cairan amnion yang luas karena
asfiksia intrauterin, misalnya akibat tertekannya tali pusat atau solusio plasenta sehingga terjadi
pernapasan janin prematur (intrauterine submersion). Tampak sel-sel verniks akibat deskuamasi
sel-sel permukaan kulit, berbentuk persegi panjang dengan inti piknotik berbentuk huruf "S", bila
dilihat dari atas samping terlihat seperti bawang (onion buib). Juga tampak sedikit sel-sel
amnion yang bersifat asidofilik dengan batas tidak jelas dan inti terletak eksentrik dengan batas
yang juga tidak jelas.
Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin terlihat dalam
bronkioli dan alveoli. Kadangkadang ditemukan deskuamasi sel-sel epitel bronkus yang
merupakan tanda dari maserasi dini, atau fagositosis mekonium oleh sel-sel dinding alveoli.

Kolon dapat menggelembung berisi mekonium, yang merupakan tanda usaha untuk bernapas
(struggle to breathe).
Lahir mati ditandai pula oleh ditemukannya keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya
kehidupan, seperti trauma persalinan yang hebat, perdarahan otak yang hebat, dengan atau tanpa
robekan ten-toriumserebeli, pneumonia intrauterin, kelainan kongenital yang tatal seperti
anensefalus dan sebagainya.
Lahir hidup (live birth) adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap, yang
setelah pemisahan, bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain, tanpa mempersoalkan usia
ges-tasi, sudah atau belumya tali pusat dipotong dan uri dilahirkan.
Pada pemeriksaan ditemukan Dada sudah mengembang dar diafragma sudah turun sampai sela
iga 4-5, terutama pada bayi yang telah lama hidup.
Pemeriksaan makroskopik paru. Paru sudah mengisi rongga dada dan menutupi sebagian
kandung jantung. Paru berwarna merah muda tidak merata dengan pleura yang tegang (taut
pleura), dan menunjukkan gambaran mozaik karena alveoli sudah terisi udara Apeks paru kanan
paling dulu atau jelas terisi karena halang-an paling minimal. Gambaran marmer terjadi akibat
pembuluh darah in-terstisial berisi darah. Konsistensi seperti spons, teraba derik udara Pada
pengirisan paru dalam air terlihat jelas ke luarnya gelembung udara dan darah. Berat paru
bertambah hingga dua kali atau kira-kira 1/35 x berat badan karena berfungsinya sirkulasi darah
jantung-paru.
Uji apung paru memberikan hasil positip. (Hasil negatip harus dilanjutkan dengan pemeriksaan
mikroskopik paru.)
Pemeriksaan mikroskopik paru menunjukkan alveoli paru yg mengembang sempurna dengan
atau tanpa emfisema obstruktif. serta tidak terlihat adanya projection. Pada pewarnaan Gomori
ata_ Ladewig, serabut retikulin akan tampak tegang.
Pada pernapasan parsial yang singkat, mungkin hasil uji apung paru negatip dan mikroskopik
memperlihatkan gambaran alveoli y g kolaps dengan dinding yang berhimpitan atau hampir
berhimpitan.
Kadang-kadang dapat ditemukan edema yang luas dalam jaringan paru, membrana duktus
alveolaris yang tersebar dalam jaringan paru, yang mungkin berasal dari lemak verniks
(membran hial -yang akan terlihat bila bayi telah hidup lebih dari 1 jam), atau atele*-tasis paru
akibat obstruksi oleh membran duktus alveolaris.

Adanya udara dalam saluran cerna dapat dilihat dengan fct: rontgen.
Udara dalam duodenum atau saluran yang lebih distal menunjukkan lahir hidup, dan telah hidup
6-12 jam. Bila dalam usus besar berarti telah hidup 12-24 jam, tetapi harus diingat kemung-kinan
adanya pernapasan buatan atau gas pembusukan.
Dari uraian di atas, haruslah sangat hati-hati dalam menyimpulkan lahir hidup, lebih-lebih bila
mayat bayi telah membusuk.
UMUR BAYI INTRA DAN EKSTRA-UTERIN. Penentuan umur janin/ embrio dalam
kandungan rumus De Haas, adalah untuk 5 bulan pertama, panjang kepala-tumit (cm)-kuadrat
umur gestasi bulan) dan selanjutnya = umur gestasi (bulan) x 5.
Umur

Panjang badan (kepala-tumit)

1 bulan
1 x 1 = 1 (cm)
2 bulan
2 x 2 = 4 (cm)
3 bulan
3 x 3 = 9 (cm)
4 bulan
4 x 4 = 16 (cm)
5 bulan
5 x 5 = 25 (cm)
6 bulan
6 X 5 = 30 (cm)
7 bulan
7 x 5 = 35 (cm)
8 bulan
8 x 5 = 40 (cm)
9 bulan
9 x 5 = 45 (cm)
Perkiraan umur janin dapat pula dilakukan dengan melihat pusat penulangan (ossification
centers) sebagai berikut:
Pusat penulangan pada:
klavikula
tulang panjang (diafisis)
iskium
pubis
kalkaneus
manubrium sterni
talus
sternum bawah
distal fmur
proksimal tibia
kuboid

Umur(bulan)
1.5
2
3
4
5- 6
6
akhir 7
akhir 8
akhir 9 / setelah lahir
akhir 9 / setelah lahir
akhir 9 / setelah lahir
bayi wanita lebih cepat
Pemeriksaan pusat penulangan dapat dilakukan secara radiologis atau pada saat autopsi dengan
cara sebagai berikut:

kalkaneus dan kuboid. Lakukan dorsofleksi kaki dan buat insisi mulai dari antara jari kaki ke 3
dan ke 4 ke arah tengah tumit. Dengan cara ini dapat dilihat pusat penulangan pada kalkaneus
dan kuboid serta talus.
distal femur dan proksimal tibia. Lakukan fleksi tungkai bawah pada sendi lutut dan buat insisi
melintang pada lutut.
Patela dilepas dengan memotong ligamentum patela. Buat irisan pada femur dari arah distal ke
proksimal sampai terlihat pusat penu langan pada epifisis distal femur (bukan penulangan
diafisis). Hal yang sama dilakukan terhadap ujung proksimal tibia dengan irisan dari proksimal
ke arah distal. Pusat penulangan terletak di bagian tengah berbentuk oval berwarna merah
dengan diameter 4-6 mm.
Walaupun dalam undang-undang tidak dipersoalkan umur ba-yt, tetapi kita harus menentukan
apakah bayi tersebut cukup bulan atau belum cukup bulan (prematur) ataukah non-viable, karena
pada keadaan prematur dan nonviable, kemungkinan bayi tersebut meninggal akibat proses
alamiah besar sekali sedangkan kemungkinan mati akibat pembunuhan anak sendiri adalah kecil.
Viable ialah keadaan bayi/janin yang dapat hidup di luar kandungan lepas dari ibunya. Kriteria
untuk itu adalah umur kehamilan lebih dari 28 minggu dengan panjang badan (kepala-tumit)
lebih dan 35 cm, panjang badan (kepala-tungging) lebih dari 23 cm, berat badan lebih dari
1000g, lingkar kepala lebih dari 32 cm dan tidak ada cacat bawaan yang fatal.
Bayi cukup bulan (matur) bila umur kehamilan > 36 minggu dengan panjang badan kepala-tumit
lebih dari 48 cm, panjang badan kepalatungging 30-33 cm, berat badan 2500-3000 g dan lingkar
kepala 33 cm.
Pada bayi cukup bulan, hampir selalu terdapat pusat penulangan pada distal femur sedangkan
pada proksimal tibia kadang-kadang terdapat atau baru terdapat sesudah lahir, juga pada tulang
kuboid. Pada bayi wanita, pusat penulangan timbul lebih cepat.
Ciri-ciri lain dari bayi cukup bulan adalah: lanugo sedikit, terdapat pada dahi, punggung dan
bahu; pembentukan tulang rawan telinga telah sempurna (bila daun telinga dilipat akan cepat
kemba ke keadaan semula); diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih; kuku-kuku jari telah
melewati ujung-ujung jari; garis-garis telapak kaki telah terdapat melebihi 2/3 bagian depan kaki;
testis sudah turun ke dalam skrotum; labia minora sudah tertutup oleh labia mayora yang telah
berkembang sempurna; kulit berwarna merah muda (pada kulit putih) atau merah kebiru-biruan
(pada kulit berwarna), yang setelah 1-2 minggu berubah menjadi lebih pucat atau coklat kehitam-

hitaman; lemak bawah kulit cukup merata sehingga kulit tidak berkeriput (kulit pada bayi
prematur berkeriput).
Penentuan umur bayi ekstra uterin didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi setelah
bayi dilahirkan, misalnya :
Udara dalam saluran cerna. Bila hanya terdapat dalam lambung atau duodenum berarti hidup
beberapa saat, dalam usus halus berarti telah hidup 1 -2 jam, bila dalam usus besar, telah hidup 56 jam dan bila telah terdapat dalam rektum berarti telah hidup 12 jam.
Mekonium dalam kolon. Mekonium akan keluar semua kira-<tra dalam waktu 24 jam setelah
lahir.
Perubahan tali pusat. Setelah bayi keluar akan terjadi proses pengeringan tali pusat baik
dilahirkan hidup maupun mati. Pada tempat lekat akan terbentuk lingkaran merah setelah bayi
hidup kira-kira 36 jam. Kemudian tali pusat akan mengering menjadi seperti benang oalam
waktu 6-8 hari dan akan terjadi penyembuhan luka yang sempurna bila tidak terjadi infeksi
dalam waktu 15 hari. Pada pemeriksaan mikroskopik daerah yang akan melepas akan tampak
reaksi inflamasi yang mulai timbul setelah 24 jam berupa sebukan sel-sel ekosit berinti banyak,
kemudian akan terlihat selsel limfosit dan ja-nngan granulasi.
Eritrosit berinti akan hilang dalam 24 jam pertama setelah lahir, namun kadangkala masih dapat
ditemukan dalam sinusoid hati.
Ginjal. Pada hari ke 2-4 akan terdapat deposit asam urat yang oerwama Jingga berbentuk kipas
{fan-shaped), lebih banyak dalam piramid daripada medula ginjal. Hal ini akan menghilang
setelah hari ke 4 saat metabolisme telah terjadi.
Perubahan sirkulasi darah. Setelah bayi lahir, akan terjadi cbliterasi arteri dan vena umbilikalis
dalam waktu 3-4 hari. Duktus venosus akan tertutup setelah 3-4 minggu dan foramen ovale akan
tertutup setelah 3 minggu-1 bulan tetapi kadang-kadang tidak menutup walaupun sudah tidak
berfungsi lagi. Duktus arteriosus akan tertutup setelah 3 minggu 1 bulan.
SUDAH ATAU BELUM DIRAWAT. Pada bayi yang telah dirawat dapat ditemukan hal-hal
sebagai berikut:
Tali pusat. Tali pusat telah terikat, diputuskan dengan gunting atau pisau lebih kurang 5 cm dari
pusat bayi dan diberi obat antiseptik. Bila tali pusat dimasukkan ke dalam air, akan terlihat
ujungnya terpotong rata. Kadang-kadang ibu menyangkal melakukan pem-cjnuhan dengan
mengatakan telah terjadi partus presipitatus Keberojolan). Pada keadaan ini tali pusat akan

terputus dekat perekatannya pada uh atau pusat bayi dengan ujung yang tidak rata. Hal lain yang
tidak sesuai dengan partus presipitatus adalah terpaparnya kaput suksedaneum, molase hebat dan
fraktur tulang tengkorak serta ibu yang primipara.
Verniks Kaseosa (lemak bayi) telah dibersihkan, demikian pula pekas-bekas darah. Pada bayi
yang dibuang ke dalam air verniks idak akan hilang seluruhnya dan masih dapat ditemukan di
daerah patan kulit; ketiak, belakang telinga, lipat paha dan lipat leher.
Pakaian. Perawatan terhadap bayi antara lain adalah memberi pakaian atau penutup tubuh pada
bayi.
PENYEBAB KEMATIAN. Penyebab kematian tersering pada pembunuhan anak sendiri adalah
mati lemas (asfiksia).
Kematian dapat pula diakibatkan oleh proses persalinan (trauma lahir); kecelakaan (misalnya
bayi terjatuh, partus precipitatus); pembunuhan atau alamiah (penyakit).
Trauma lahir. Trauma lahir dapat menyebabkan timbulnya tanda-tanda kekerasan seperti:
Kaput suksedaneum. Kaput suksedaneum dapat memberikan gambaran mengenai lamanya
persalinan. Makin lama persalinan berlangsung, timbul kaput suksedaneum yang makin hebat.
Secara makroskopik akan terlihat sebagai edema pada kulit kepala bagian dalam di daerah
presentasi terendah yang berwarna kemerahan. Kaput suksedaneum dapat melewati perbatasan
antar-sutura tulang tengkorak dan tidak terdapat perdarahan di bawah periosteum tulang
tengkorak. Mikroskopik terlihat jaringan yang mengalami edema dengan perdarahanperdarahan
di sekitar pembuluh darah.
Sefalhematom, perdarahan setempat di antara periosteum dan permukaan luar tulang atap
tengkorak dan tidak melampaui sutura tulang tengkorak akibat molase yang hebat.
Umumnya terdapat pada tulang parietal dan skuama tulang oksipital. Makroskopik terlihat
sebagai perdarahan di bawah periosteum yang terbatas pada satu tulang dan tidak melewati
sutura.
Fraktur tulang tengkorak. Patah tulang tengkorak jarang terjadi pada trauma lahir, biasanya
hanya berupa cekungan tulang saja pada tulang ubun-ubun (celluloid ball fracture).
Penggunaan forseps dapat menyebabkan fraktur tengkorak dengan robekan otak.
Perdarahan intrakranial yang sering terjadi adalah perdarahan subdural akibat laserasi tentorium
serebeli dan falks serebri; robekan vena galeni di dekat pertemuannya dengan sinus rektus;
robekan sinus sagitalis superior dan sinus transversus dan robekan bridging veins dekat sinus

sagitalis superior. Perdarahan ini timbul pada molase kepala yang hebat atau kompresi kepala
yang cepat dan mendadak oleh jalan lahir yang belum melemas (pada partus presipitatus).
Perdarahan subaraknoid atau interventrikuler jarang terjadi. Umumnya terjadi pada bayi-bayi
prematur akibat belum sempurna berkembangnya jaringan-jaringan otak .
Perdarahan epidural sangat jarang terjadi karena dura-mater melekat dengan erat pada tulang
tengkorak bayi.
Pada kasus pembunuhan, harus diingat bahwa ibu berada dalam keadaan panik sehingga ia akan
melakukan tindakan kekerasan yang berlebihan walaupun sebenarnya bayi tersebut berada dalam
keadaan tidak berdaya dan lemah sekali.
Cara yang tersering dilakukan adalah yang menimbulkan asfiksia dengan jalan pembekapan,
penyumbatan jalan napas, penjeratan, pencekikan dan penenggelaman. Kadang-kadang bayi dimasukkan ke dalam lemari, kopor dan sebagainya.
Pembunuhan dengan melakukan kekerasan tumpul pada kepala jarang dijumpai. Bila digunakan
cara ini, biasanya dilakukan dengan berulang-ulang, meliputi daerah yang luas hingga menyebabkan patah atau retak tulang tengkorak dan memar jaringan otak.
Sebaliknya pada trauma lahir, biasa hanya dijumpai kelainan yang terbatas, jarang sekali
ditemukan fraktur tengkorak dan memar jaringan otak.
Pembunuhan dengan senjata tajam jarang ditemukan. Pernah ditemukan tusukan di daerah
palatum mole, melalui foramen mag-num dan merusak medula oblongata.
Pembunuhan dengan jalan membakar, menyiramkan cairan panas, memberikan racun dan
memuntir kepala sangat jarang terjadi.
Pemeriksaan mayat bayi. Pada prinsipnya sama seperti pada orang dewasa, hanya saja harus
lebih memperhatikan hal-hal yang berikut
Pada pemeriksan luar, perhatikan beberapa hal tersebut di bawah ini:
Bayi cukup bulan, prematur atau nonviable. Kulit, sudah dibersihkan atau belum, keadaan
verniks kaseosa, warna, berkeriput atau tidak. Mulut, adakah benda asing yang menyumbat. Tali
pusat, sudah terputus atau masih melekat pada uri. Bila terputus periksa apakah terpotong rata
atau tidak (dengan memasukkan ujung potongan ke dalam air), apakah sudah terikat dan diberi
obat antiseptik, adakah tanda-tanda kekerasan pada tali pusat, hematom atau Wharton's Jelly
berpindah tempat. Apakah terputusnya dekat uri atau pusat bayi.
Kepala, apakah terdapat kaput suksedaneum, molase tulangtulang tengkorak.

Tanda kekerasan. Perhatikan tanda pembekapan di sekitar mulut dan hidung, serta memar pada
mukosa bibir dan pipi. tanda pencekikan atau jerat pada leher, memar atau lecet pada tengkuk,
dan lain-lain.
Pada pembedahan jenazah; perhatikan pada leher, adakah tanda-tanda penekanan, resapan darah
pada kulit sebelah dalam. Pada bayi, karena jaringan lebih elastis di bandingkan dengan orang
dewasa maka tanda-tanda kekerasan tersebut lebih jarang terdapat. Perhatikan apakah terdapat
benda asing dalam jalan napas.
Mulut, apakah terdapat benda asing dan perhatikan palatum mole apakah terdapat robekan.
Rongga dada. Pengeluaran organ rongga mulut, leher dan dada dilakukan dengan teknik tanpa
sentuhan. Perhatikan makroskopik paru dan setelah itu sebaiknya satu paru difik-sasi dalam
larutan formalin 10% untuk pemeriksaan his-topatologik dan pada paru yang lain dilakukan uji
apung paru.
Tanda asfiksia berupa Tardieu's spots pada permukaan paru, jantung, timus dan epiglotis.
Tulang belakang, apakah terdapat kelainan kongenital dan tanda kekerasan.
Periksa pusat penulangan pada femur, tibia, kalkaneus. talus dan kuboid.
Pada pemeriksaan kepala bayi baru lahir, kulit kepala disayat dan dilepaskan seperti pada orang
dewasa. Tulang tengkorak dibuka dengan gunting, dengan cara menusuk fontanel mayor 0.5-1
cm dari garis pertengahan dan dilakukan pengguntingan pada tulang dahi dan ubun-ubun ke
depan dan ke belakang pada sisi kiri dan kanan. Ke depan sampai kira-kira 1 cm di atas lengkung
atas rongga mata (margo superior orbita) dan ke belakang sampai perbatasan dengan tulang
belakang kepala. Kemud ian dilakukan pengguntingan ke arah lateral sampai 1 cm di atas basis
mastoid dengan menyisakan tulang pelipis di atas telinga kira-kira sepanjang 2 cm.
Kedua keping tulang atap tengkorak dipatahkan ke arah lateral. Biasanya duramater ikut
tergunting karena melekat erat pada tulang. Perhatikan apakah terdapat perdarahan subdural atau
subaraknoid.
Perhatikan keadaan falks serebri dan tentorium serebeii terutama pada perbatasannya (sinus
rektus dan sinus transversus) apakah terdapat robekan. Selanjutnya dilakukan pengeluaran otak
seperti pada orang dewasa.
Tujuan pembukaan tengkorak seperti ini adalah supaya falks serebri serta tentorium tetap dalam
keadaan utuh sehingga tiap kelainan dapat ditentukan dengan jelas.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM FORENSIK SEDERHANA

Pada kebanyakan kasus kejahatan dengan kekerasan fisik, seperti pembunuhan, penganiayaan,
perkosaan dan lain-lain, mungkin ditemukan darah, cairan mani, air liur, urin, rambut dan
jaringan tubuh lain di tempat kejadian perkara (TKP). Bahan-bahan tersebut mungkin berasal
dari korban atau pelaku kejahatan atau dari keduanya, dan dapat digunakan untuk membantu
mengungkapkan peristiwa kejahatan tersebut secara ilmiah.
PEMERIKSAAN DARAH
Diantara berbagai cairan tubuh, darah merupakan yang paling penting karena merupakan cairan
biologik dengan sifat-sifat potensial lebih spesifik untuk golongan manusia tertentu. Tujuan
utama pemeriksaan darah forensik sebenarnya adalah untuk membantu identifikasi pemilik darah
tersebut, dengan membandingkan bercak darah yang ditemukan di TKP pada obyek-obyek
tertentu (lantai, meja, kursi, karpet, senjata dan sebagainya), manusia dan pakaiannya dengan
darah korban atau darah tersangka pelaku kejahatan. Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut
penting untuk menunjang atau menyingkirkan keterlibatan seseorang dengan TKP dengan
catatan walaupun dengan uji yang modern dan dengan peralatan yang canggih sekalipun, masih
sulit untuk memastikan bahwa darah tersebut berasal dari individu tertentu.
Selain itu pemeriksaan darah juga berguna untuk membantu menyelesaikan kasus-kasus bayi
yang tertukar, penculikan anak, ragu ayah (disputed patemity) dan lain-lain.
Dari bercak yang dicurigai harus dibuktikan bahwa: Bercak tersebut benar darah. Darah dari
manusia atau hewan.
Golongan darahnya, bila darah tersebut berasal dari manusia.
Darah menstruasi atau bukan. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, harus dilakukan
pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium sebagai berikut:
Pemeriksaan mikroskopik. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat morfologik sel-sel darah
merah. Cara ini tidak dapat dilakukan bila telah terjadi kerusakan pada sel-sel darah tersebut.
Darah yang masih basah atau baru mengering ditaruh pada kaca obyek dan ditambahkan 1 tetes
larutan garam faal, kemudian ditutup dengan kaca penutup. Cara lain adalah dengan membuat
sediaan apus dengan pewarnaan Wright atau Giemsa.
Dari kedua sediaan tersebut dapat dilihat bentuk dan inti sel darah merah.
Pemeriksaan mikroskopik terhadap kedua sediaan tersebut hanya dapat menentukan kelas dan
bukan spesies darah tersebut. Kelas mamalia mempunyai sel darah merah berbentuk cakram dan
tidak berinti, sedangkan kelas-kelas lainnya berbentuk oval/elips dan berinti. Dari kelas

mammalia, genus Cannelidae (golongan unta) merupakan perkecualian dengan sel darah merah
berbentuk oval/ elips tetapi tidak berinti.
Keuntungan sediaan apus dibandingkan dengan sediaan tanpa pewarnaan adalah dapat
terlihatnya sel-sel lekosit berinti banyak. Bila terlihat drum stick dalam jumlah lebih dari 0,05%,
dapatlah dipastikan bahwa darah tersebut berasal dari seorang wanita.
Pemeriksaan kimiawi. Cara ini digunakan bila ternyata sel darah merah sudah dalam keadaan
rusak sehingga pemeriksaan mikroskopik tidak bermanfaat lagi.
Pemeriksaan kimiawi terdiri dari pemeriksaan penyaring darah dan pemeriksaan penentuan
darah.
Pemeriksaan penyaring darah.
Prinsip pemeriksaan penyaring adalah: darah
H2O2 -H2O + On
reagen

perubahan warna (teroksidasi*

Pemeriksaan penyaring yang biasa dilakukan adalah reaks benzidin dan reaksi fenoftalin.
Reagen yang digunakan dalam reaksi benzidin adalah larutar jenuh kristal benzidin dalam asam
asetat glasial, sedangkan pada reaksi fenolftalin digunakan reagens yang dibuat dari fenolftalein
2 g + 100 ml. NaOH 20% dan dipanaskan dengan biji-biji Zinc sehingga terbentuk fenoftalin
yang tidak berwarna.
Cara pemeriksaan :
Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai kemudian diteteskan 1 tetes
H2O2 20% dan 1 tetes reagen benzidin.
Hasil positip pada rekasi Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap pada kertas saring.
Sedangkan pada reaksi Phenolphthalin kertas saring yang telah digosokkan pada bercak yang
dicurigai langsung diteteskan dengan reagen fenolftalin yang akan memberikan warna merah
muda bila positip.
Hasil negatip pada kedua reaksi tersebut memastikan bahwa bercak tersebut bukan darah,
sedangkan hasil positip menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Pemeriksaan penentuan darah.

Pemeriksan penentuan darah berdasarkan terdapatnya pigmen/kristal hematin (hemin) dan


hemokhromogen. Pemeriksaan yang biasa digunakan adalah reaksi Teichman dan reaksi
Wagenaar.
Reaksi Teichman.
Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek, tambahkan 1 butir kristal NaCI dan 1
tetes asam asetat gla-sial, tutup dengan kaca penutup dan dipanaskan.
Hasil positip dinyatakan dengan tampaknya kristal hemin-HCI yang berbentuk batang berwarna
coklat yang terlihat dengan mikroskop.
Reaksi Wagenaar.
Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek, letakkan juga sebutir pasir, lalu tutup
dengan kaca penutup sehingga antara kaca obyek dan kaca penutup terdapat celah untuk
penguapan zat. Pada satu sisi diteteskan aceton dan pada sisi berlawanan diteteskan HCI encer,
kemudian dipanaskan.
Hasil positip bila terlihat kristal aceton-hemin berbentuk batang berwarna coklat.
Hasil positif pada pemeriksaan penentuan darah memastikan bahwa bercak adalah darah.
Hasil yang negatip selain menyatakan bahwa bercak tersebut bukan bercak darah, juga dapat
dijumpai pada pemeriksaan terhadap bercak darah yang struktur kimiawinya telah rusak
misalnya bercak darah yang sudah lama sekali, terbakar dan sebagainya.
Pemeriksan Spektroskopik.
Pemeriksaan spektroskopik memastikan bahan yang diperiksa adalah darah bila dijumpai pitapita absorpsi yang khas dari hemoglobin atau turunannya.
Bercak kering dilarutkan dengan akuades dalam tabung reaksi dan kemudian dilihat dengan
spektroskop. Hemoglobin dan derivatnya akan menunjukkan pita-pita absorpsi yang khas pada
spektrum warna.
Suspensi yang mengandung oksihemoglobin berwarna merah terang dengan dua pita absorpsi
berwarna hitam di daerah kuning (pada panjang gelombang 54 dan 59). Bila ditambahkan
reduktor (Na-ditionit), akan terbentuk hemoglobin ter-reduksi yang berwarna merah keunguan
dengan satu pita absorpsi yang lebar di daerah kuning (pada panjang gelombang 54-59). Bila
ditambahkan lagi dengan alkali encer (NaOH atau KOH) akan terbentuk hemokhromogen
berwarna merah Jingga dengan dua pita absorpsi yang menempati daerah kuning (pada panjang
gelombang 56) dan daerah perbatasan dengan hijau (pada panjang gelombang 52).

Darah yang sudah lama atau pada kasus keracunan nitrit, nitrat, nitrobenzena, anilin dan sulfonal,
terkandung banyak met-hemoglobin berwarna merah kecoklatan dengan empat pita absorpsi
yaitu dua pita yang sama dengan pita absorpsi oksihemoglobin, satu pita di daerah merah (pada
panjang gelombang 64) dan satu lagi di daerah hijau. Bila ditambahkan reduktor akan terbentuk
hemoglobin dalam keadaan terreduksi dan bila ditambahkan lagi dengan alkali encer akan
terbentuk hemokhromogen.
Pemeriksaan darah pada kasus keracunan gas CO dengan cara ini akan memperlihatkan dua pita
absorpsi dari karboksi-hemoglobin (COHb) di daerah kuning yang mirip dengan pita absorpsi
oksi-hemoglobin tetapi lebih bergeser ke arah hijau (pada panjang gelom bang 53 dan 57). Sifat
lain dari COHb adalah tidak dapat direduksi sehingga dengan penambahan reduktor akan tetap
terlihat dua pita absorpsi.
Pemeriksaan serologik. Pemeriksaan serologik berguna untuk menentukan spesies dan
golongan darah. Untuk itu dibutuhkan an-tisera terhadap protein manusia (anti human globulin)
serta terhadap protein hewan dan juga antisera terhadap golongan darah tertentu.
Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan antibodi
(antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi.
Penentuan spesies.
Lakukan ekstraksi bercak atau darah kering dengan larutan garam faal. Dianjurkan untuk
memakai 1 cm2 bercak atau 1 g darah kering, tetapi tidak melebihi separuh bahan yang tersedia.
Cara-cara yang dapat dipergunakan adalah :
Reaksi cincin (reaksi presipitin dalam tabung).
Ke dalam tabung reaksi kecil, dimasukkan serum anti globulin manusia, dan ke atasnya
dituangkan ekstrak darah perlahan lahan melalui tepi tabung. Biarkan pada temperatur ruang
kurang lebih 1.5 jam. Hasil positif tampak sebagai cincin presipitasi yang keruh pada perbatasan
kedua cairan.
Reaksi presipitasi dalam agar.
Gelas obyek dibersihkan dengan spiritus sampai bebas lemak, dilapisi dengan selapis tipis agar
buffer. Setelah agak mengeras, dibuat lubang pada agar dengan diameter kurang lebih 2 mm,
yang dikelilingi oleh lubang-lubang sejenis. Masukkan serum anti globulin manusia ke lubang di
tengah dan ektrak darah dengan berbagai derajat pengenceran di lubang-lubang sekitarnya.
Letakkan gelas obyek ini dalam ruang lembab (moist chamber) pada temperatur ruang selama

satu malam. Hasil positip memberikan presipitum jernih pada perbatasan lubang tengah dan
lubang tepi.
Pembuatan agar buffer:
1 gram agar; 50 ml. larutan buffer Veronal pH 8.6; 50 ml. aqua dest; 100 mg. Sodium Azide,
Kesemuanya dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer, tempatkan dalam penangas air mendidih
sampai terbentuk agar cair. Larutan ini disimpan dalam lemari es, yang bila akan digunakan
dapat dicairkan kembali dengan menempatkan labu di dalam air mendidih. Untuk melapisi gelas
obyek, diperlukan kurang lebih 3 ml agar cair yang dituangkan ke atasnya dengan menggunakan
pipet. Penentuan golongan darah.
Darah yang telah mengering dapat berada dalam pelbagai tahap kesegaran.
Bercak dengan sel darah merah masih utuh;
Bercak dengan sel darah merah sudah rusak tetapi dengan aglutinin dan antigen yang masih
dapat di deteksi;
Sel darah merah sudah rusak dengan jenis antigen yang masih dapat dideteksi namun sudah
terjadi kerusakan aglutinin.
Sel darah merah sudah rusak dengan antigen dan aglutinin yang juga sudah tidak dapat
dideteksi.
oiia didapatkan sel darah merah dalam keadaan utuh, maka penentuan golongan darah dapat
dilakukan secara langsung seperti pada penentuan golongan darah orang hidup, yaitu dengan
meeneteskan 1 tetes antiserum ke atas 1 tetes darah dan dilihat terjadinya aglutinasi.
Bila sel darah merah sudah rusak, maka penentuan darah golongan darah dapat dilakukan dengan
cara menentukan jenis aglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil
dibandingkan dengan aglutinin. Di antara sistem-sistem golongan darah, yang paling lama
bertahan adalah antigen dari sistem golongan darah ABO.
Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi, absorpsi elusi atau
aglutinasi campuran.
Cara yang biasa dilakukan adalah cara absoropsi elusi dengan prosedur sebagai berikut:
2-3 helai benang yang mengandung bercak kering difiksasi dengan metil alkohol selama 15
menit. Benang diangkat dan dibiarkan mengering. Selanjutnya dilakukan penguraian benang tersebut menjadi serat-serat halus dengan menggunakan 2 buah jarum.
Lakukan juga terhadap benang yang tidak mengandung bercak darah sebagai kontrol negatip.

Serat benang dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi. Ke dalam tabung pertama diteteskan serum
anti-A dan ke dalam tabung kedua serum anti-B hingga serabut benang tersebut terendam
seluruhnya Kemudian tabung-tabung tersebut disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 4
derajat Celsius selama satu malam.
Lakukan pencucian dengan menggunakan larutan garam faal dingin (4 derajat Celsius) sebanyak
5-6 kali, lalu tambahkan 2 tetes suspensi 2% sel indikator (sel darah merah golongan A pada
tabung pertama dan golongan B pada tabung kedua), pusing dengan kecepatan 1000 RPM
selama 1 menit. Bila tidak terjadi aglutinasi cuci sekali lagi dan kemudian tambahkan 1 -2 tetes
larutan garam faal dingin. Panaskan pada suhu 56 derajat Celsius selama 10 menit dan pindahkan
eluat ke dalam tabung lain. Tambahkan 1 tetes suspensi sel indikator ke dalam masing-masing
tabung, biarkan selama 5 menit, lalu pusing selama 1 menit pada kece patan 1000 RPM.
Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. Bila terjad aglutinasi berarti darah mengandung
antigen yang sesuai dengan antigen sel indikator.
Dalam kasus yang ada kaitannya dengan faktor keturunan hukum Mendel memainkan peranan
penting. Semua sistem golongan darah diturunkan dari orang tua kepada anaknya sesuai hukum
Mendel.
Walaupun masih ada kemungkinan penyimpangan hukum tersebut, misalnya pada peristiwa
mutasi, namun karena frekuensinya sangat kecil (1:1.000.000) untuk kasus-kasus forensik hal ini
dapat diabaikan.
Hukum Mendel untuk sistem golongan darah adalah sebagai
berikut:
Antigen tidak mungkin muncul pada anak, jika antigen tersebut tidak terdapat pada salah satu
atau kedua orang tuanya.
Orang tua yang homozigotik pasti meneruskan gen untuk antigen tersebut kepada anaknya.
(Anak dengan golongan darah O tidak mungkin mempunyai orang tua yang bergolongan darah
AB).
Pada manusia dikenal bermacam-macam sistem golongan darah yang antigennya terletak di
permukaan sel darah merah, misalnya sistem ABO, Rhesus, MNS, Kell, Duffy, Lutheran, Lewis,
Kidd, P, Sekretor/ nonsekretor, Antigen limfosit manusia (HLA) dan lain-lain. Selain itu dikenal
pula antigen-antigen yang terdapat di luar sel darah merah, misalnya sistem Gm, Gc,
Haptoglobin (Hp), serta sistem enzim misalnya fosfoglukomutase (PGM), adenilate kinase (AK),

pseudokholinesterase (PCE/ PKE), adenosin deaminase (ADA), Fos-fatase asam eritrosit (EAP),
glutamat piruvat transaminase (GPT), 6-fosfo glukonat dehidrogenase (6 PGD), glukose 6
fosfatase dehidrogenase (G6PD), yang terdapat dalam serum.
Pada kasus paternitas, bila hanya sistem ABO, MNS dan Rhesus yang diperiksa, maka
kemungkinannya adalah 50-60%, sedangkan bila semua sistem diperiksa maka kemungkinannya
meningkat menjadi > 90%.
Perlu diingat bahwa hukum Mendel tetap berdasarkan KEMUNGKINAN (probabilitas), sehingga
penentuan ke-ayah-an dari seorang anak tidak dapat dipastikan, namun sebaliknya kita dapat
memastikan seseorang adalah bukan ayah seorang anak ("singkir ayah" P'paternity
exclusion").
CONTOH-CONTOH KASUS.
Bayi tertukar.
Dilakukan pemeriksaan sistim golongan darah dari bayi serta <edua orang tuanya.
Bayi I
Bayi II
A
O
Pria
O
AB
Wanita
O
O
Jelas bayi II adalah anak dari pasangan I, sedangkan bayi I adalah anak pasangan II.
Bayi i
Bayi II
AB
A
Pria
A
AB/j
Wanita
B
G
Jelas bayi I adalah anak pasangan I, tidak mungkin sebagai anak pasangan II, sedangkan bayi II
adalah anak dari pasangan II. walaupun pasangan I mungkin saja mempunyai anak bergolongan
darah A.
Ragu ayah (Disputed paternity).
Dalam kasus ini siapa ayah yang sebenarnya dari seorang anak masih diragukan.
Golongan darah
bayi
B MNS Rhesus +
ibu
A MNS Rhesus +
Pria 1
AB MNS Rhesus +
Pria II
0 MS Rhesus +
Pria III
A MNS Rhesus +
Pria I tidak dapat disingkirkan kemungkiman menjadi ayah si anak. sedangkan Pria II dan III
pasti bukan ayah anak terrsebut.

Ayah yang curiga si anak bukanlah anaknya yang sejati.


Golongan darah
anak
0 MNS Rhesus +
ibu
A MS Rhesus +
"ayah"
B MS Rhesus +
Anak tersebut pasti bukan anak dari "ayah" tersebut.
Demikian pula kasus-kasus lainnya dapat dibantu penyelesaiannya dengan cara yang sama
seperti di atas.
PEMERIKSAAN CAIRAN MANI (SEMEN)
Cairan mani merupakan cairan agak kental, berwarna putih kekuningan, keruh dan berbau khas.
Cairan mani pada saat ejakulasi kental kemudian akibat enzim proteolitik menjadi cair dalam
waktu yang singkat (10-20 menit). Dalam keadaan normal, volume cairan mani 3-5 ml pada 1
kali ejakulasi dengan pH 7.2 -7.6. Cairan mam mengandung spermatozoa, sel-sel epitel dan selsel lain yang ter-suspensi dalam cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung spermin
dan beberapa enzim seperti Fosfatase asam Spermatozoa mempunyai bentuk khas untuk spesies
tertentu dengan jumlah yang bervariasi, biasanya antara 60 sampai 120 juta per ml.
Untuk menentukan adanya cairan mani dalam vagina guna membuktikan adanya suatu
persetubuhan, perlu diambil bahan dari forniks posterior vagina dan dilakukan pemeriksaanpemeriksaan laboratorium sebagai berikut:
Penentuan spermatozoa (mikroskopis)
Tanpa pewarnaan
Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat spermatozoa yang bergerak.
Pemeriksaan motilitas sprmatozoa ini paling bermakna untuk memperkirakan saat terjadinya
persetubuhan. Umumnya disepakati bahwa dalam 2-3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini menjadi
3-4 jam. Setelah itu spermatozoa tidak bergerak lagi dan akhirnya ekornya akan menghilang
(lisis), sehingga harus dilakukan pemeriksaan dengan pewarnaan.
Cara pemeriksaan : satu tetes lendir vagina diletakkan pada kaca obyek, dilihat dengan
pembesaran 500 x serta kondensor diturun kan. Perhatikan pergerakan sperma.
Menurut Voight, sperma masih bergerak kira-kira 4 jam pas-capersetubuhan. Menurut Gonzales,
sperma masih bergerak 30-60 menit pasca-persetubuhan. Menurut Ponzold kurang dari 5 jam

pas-capersetubuhan, tetapi kadang-kadang bila ovulasi atau terdapat sekret serviks, dapat
bertahan sampai 20 jam.
Menurut Nickols, sperma masih dapat ditemukan 5-6 hari pas-capersetubuhan walaupun setelah
3 hari hanya tinggal beberapa saja. Menurut Voight, 66 jam pasca-persetubuhan sedangkan menurut Davies & Wilson, 30 jam. Pada orang yang mati setelah persetubuhan, sperma masih dapat
ditemukan sampai 2 minggu pasca-persetubuhan, bahkan mungkin lebih lama lagi.
Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa spermatozoa masih dapat ditemukan
sampai 3 hari pasca-persetubuhan, kadangkadang sampai 6 hari pasca-persetubuhan.
Bila sperma tidak ditemukan, belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulat mengingat
kemungkinan azoospermia atau pasca vasektomi sehingga perlu dilakukan penentuan cairan
mani dalam cairan vagina.
Dengan pewarnaan
Dibuat sediaan apus dan difiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api.
Pulas dengan HE, Methy lene Blue atau Malachite green.
Cara pewarnaan yang mudah dan baik untuk kepentingan forensik adalah dengan pulasan
malachite green dengan prosedur sebagai berikut:
Warnai dengan larutan Malachite Green 1% selama 10-15 menit, lalu cuci dengan air mengalir
dan setelah itu lakukan counter stain dengan larutan Eosin Yellowish 1% selama 1 menit,
terakhir cuci lagi dengan air. Keuntungan dengan pulasan ini adalah inti sel epitel dan lekosit
tidak terdiferensiasi, sel epitel berwarna merah muda merata dan lekosit tidak terwarnai. Kepala
sperma tampak merah dan lehernya merah muda, ekornya berwarna hijau.
Penentuan cairan mani (kimiawi)
Untuk membuktikan adanya cairan mani dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zat-zat
yang banyak terdapat dalam cairan mani dengan pemeriksaan laboratorium berikut:
Reaksi fosfatase asam
Dasar reaksi: adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh kelenjar
prostat. Aktifitas enzim fosfatase asam rata-rata adalah sebesar 2500 U.KA(Kaye). Dalam sekret
vagina setelah 3 hari abstinensi seksualis ditemukan aktifitas 0-6 Unit (Risfeld).
Dengan menentukan secara kuantitatif aktifitas fosfatase asam per 2 cm2 bercak, dapat
ditentukan apakah bercak tersebut adalah bercak mani atau bukan. Aktifitas 25 U K.A. per 1 cc
ekstrak yang diperoleh dari 1 cm2 bercak dianggap spesifik sebagai bercak mani.

Reagens untuk pemeriksaan ini adalah :


Larutan A : Brentamin Fast Blue B 1 g (1) Natrium acetat trihyrate 20 g (2) Glacial acetat acid 10
ml (3)
Aquadest 100 ml (4)
(2) dan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan penyangga deengan pH 5, kemudian
(1) dilarutkan dalam larutan penyangga tersebut.
Larutan B : Natrium-alfa-naphtyl phosphate 800 mg
Aquadest 10 ml
89 ml Larutan A ditambah 1 ml larutan B, lalu disaring cepa: ke dalam botol yang berwarna
gelap. Jika disimpan di lemari es reagen ini dapat bertahan berminggu-minggu dar adanya
endapan tidak akan mengganggu reaksi.
Prinsip: enzim fosfatase asam menghidrolisis Na-alfa naftii fosfat; alfa-naftol yang telah
dibebaskan akan bereaksi dengan brentamine menghasilkan zat warna azo yang berwarna biru
ungu.
Cara pemeriksaan: Bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang telah terlebih
dahulu dibasahi dengan akuades selama beberapa menit. Kemudian kertas saring diangkat dan
disemprot dengan reagens. Ditentukan waktu reaksi dari saat penyenprotan sampai timbul warna
ungu.
Perlu diperhatikan bahwa intensitas warna maksimal tercapai secara berangsur-angsur dan test
ini tidak spesifik. Hasil positip semu dapat terjadi dengan feses, air teh, kontraseptik, sari buah
dan tumbuh-tumbuhan.
Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberi warna dengan serentak dengan
intensitasnya tetap, sedangkan bercak yang mengandung enzim fosfatase, memberikan intensitas
warna secara berangsur-angsur.
Menurut Davies & Wilson, bila waktu reaksi 30 detik, merupakan indikasi yang baik untuk
adanya cairan mani. Bila 30-65 detik, indikasi sedang, dan masih perlu dikuatkan dengan
pemeriksaan elektroforesis.
Bila > 65 detik, belum dapat mennyatakan sepenuhnya tidak terdapatnya cairan mani, karena
pernah ditemukan waktu reaksi > 65 detik tetapi spermatozoa positif.
Enzim fosfatase asam yang terdapat di dalam vagina memberikan waktu reaksi rata-rata 90-100
detik. Kehamilan, adanya bakteri-bakteri dan fungi dapat mempercepat waktu reaksi.

Untuk mmembedakan fosfatasa asam seminal dari fos-fatasa asam lain dapat dilakukan
pemeriksaan berikut:
Inhibisi dengan l(-)tartrat (Sivaram)
Untuk membedakan bercak mani dari bercak lain dapat digunakan l(-)tartrat yang menghambat
aktifitas enzim fosfatase asam dalam semen.
Dipergunakan 2 macam reagens yang mengandung Na-alfa naftil fosfat dan Brentamine Fast
Blue Salt.
Reagens I: merupakan larutan kedua zat di atas dalam larutan penyangga sitrat dengan pH 4,9.
Reagens II: terdiri dari 9 bagian larutan sitrat (pH 4.9) dan 1 bagian larutan 0,4 M l(+)asam
tartrat dengan pH 4,9.
Cara pemeriksaan: Lakukan ekstraksi sepotong kecil bercak dengan beberapa tetes aquadest.
Ekstrak diteteskan pada 2 helai kertas saring Whatman no.1, masing-masing 1 tetes dan ditandai
dengan pensil, biarkan mengering. Kertas saring pertama disemprot dengan reagens I dan yang
lain dengan reagens II.
Interpretasi: apabila bercak ekstrak yang disemprot dengan reagens I berwarna ungu,
sedangkandengan reagens II tak timbul warna, maka dapat dipastikan bahwa dalam ekstrak
terdapat mani.
Bila warna ungu dengan intensitas yang sama timbul pada kedua kertas tadi, maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat aktifitas fosfatase asam yang bukan berasal dari mani.
Cara elektro-imunodifusi (Baxter)
Serum anti mani manusia (anti human semen serum), selain spesifik untuk antigen manusia,
juga mengandung zat anti terhadap fosfatase asam.
Bila serum ditambahkan dengan air mani akan terbentuk kompleks enzim-antibodi yang masih
memiliki sifat en-zimatik dan dapat diperlihatkan dengan reaksi fosfatase asam.
Medium yang digunakan adalah lempeng agar yang mengandung serum anti mani manusia
dalam konsentrasi kecil (1%).
Setelah dilakukan elektroforesis, lempeng agar dikembangkan dalam reagens fosfatase asam.
Pada fosfatase seminal, tampak puncak presipitin ke arah anoda, sedangkan pada fosfatase
vaginal, puncak presipitin ke arah katoda.

Cara ini adalah satu-satunya cara untuk menentukan dengan pasti adanya mani manusia pada
keadaan azoosper-mia. Dengan cara ini, Baxter dapat menentukan adanya semen di dalam vagina
sampai 4 hari pasca persetubuhan.
Elektroforetik (Adam & Wraxall)
Cara ini menggunakan lempeng akrilamid dan dikembangkan dengan bufer (pH 3), dilihat di
bawah sinar ultra violet.
Hasil : fosfatase asam seminal bergerak sejauh 4 cm, sedangkan fosfatase asam vaginal bergerak
sejauh 3 cm.
Reaksi Florence
Dasar reaksi adalah untuk menentukan adanya kholin
Reagens : larutan lugol yang dapat dibuat dari:
Kalium yodida 1,5 g
Yodium 2,5 g
Akuades 30 ml. Cara pemeriksaan: bercak diekstraksi dengan sedikit akuades. Ekstrak
diletakkan pada kaca obyek, biarkar mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen dialirkan
dengan pipet di bawah kaca penutup.
Bila terdapat mani, tampak kristal kholin-peryodida berwarna coklat, berbentuk jarum dengan
ujung sering terbelah.
Tes ini tidak khas untuk cairan mani karena ekstrak jaringan berbagai organ, putih telur dan
ekstrak serangga akan memberikan kristal serupa. Sekret vagina kadang-kadang memberikan
hasil positif. Sebaliknya bila cairan mani belum cukup berdegradasi, maka hasilnya mungkin
negatip.
Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermi dan cara lain untuk menentukan semen tidak dapat
dilakukan.
Reaksi Berberio
Dasar reaksi adalah untuk menentukan adanya spermin dalam semen.
Reagens : larutan asam pikrat jenuh.
Cara pemeriksaan: sama seperti pada reaksi Florence.
Hasil positif memperlihatkan adanya kristal spermin pikrat yang kekuning-kuningan berbentuk
jarum dengan ujung tumpul, dan kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak

longitudinal. Kristal mungkin pula berbentuk ovoid. Reaksi tersebut mempunyai arti bila
mikroskopik tidak ditemukan spermatozoa.
Penentuan adanya spermin dapat pula dengan tes Puranen yang khas untuk cairan mani. tetapi
mungkin terjadi hasil negatip semu dan reaksinya lebih lambat dibandingkan dengan tes
Berbeerio. reagen adalah larutan 5 g naphothol S yellow dalam 100 cc aquadest.
Cara pemeriksaan : Seperti tes Florence, tunggu kira-kira 1 jam. hasilnya positip terlihat kristalkristal spermin flavinat berwarna kuning.

Kristal choline peryodida

Kristal spermin pikrat


Penentuan golongan darah ABO pada cairan mani.
Penentuan golongan darah ABO pada semen golongan se-kretor dilakukan dengan cara absorpsi
inhibisi. Hanya untuk golongan sekretor saja dapat ditentukan golongan darah dalam semen.
Pada individu yang termasuk golongan sekretor, dapat ditemukan subtansi golongan darah dalam
cairan tubuhnya seperti air liur, sekret vagina, cairan mani dan lain-lain. Ternyata subtansi
golongan darah dalam cairan mani jauh lebih banyak dari pada dalam air liur (2-100 kali).

Pada golongan bukan sekretor (non-sekretor), tidak ditemukan adanya subtansi tersebut dalam
cairan tubuhnya.
Kira-kira 80% individu termasuk dalam golongan sekretor, dan 20% golongan non-sekretor.
Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai subtansi golongan darah dalam bahan
pemeriksaan yang berasal dari foniks posterior vagina, lihatlah tabel di bawah ini.

Subtansi "sendiri"
dalam sekrit vagina
Subtansi"asing"
berasal dari semen

Golongan darah si wanita


0
A
B
H
A
B
A+H
B+H
A
B
A
B
H*
H*

AB
A+B
H*
A+H

A+B
H* : hanya H.
Jika dari sekrit vagina wanita golongan O, ditemukan subtansi A dan H atau B dan H, berarti
terdapat subtansi "sendiri" bersama dengan subtansi "asing". Jika ditemukan subtansi A atau B
atau A dan B, berarti pada sekrit vagina tersebut terdapat subtansi "asing". Adanya subtansi
"asing" menunjukkan bahwa di dalam vagina wanita tersebut terdapat cairan mani.
Pemeriksaan bercak mani pada pakaian
Visual, Bercak mani berbatas tegas dan lebih gelap dari sekitarnyaa. Bercak yang sudah agak tua
berwarna agak kekuning-kuningan. Pada bahan sutera/nylon batasnya sering tidak jelas, tetapi
selalu lebih gelap dari sekitarnya.
Pada testil yang tidak menyerap, bercak yang segar akan menunjukkan permukaan mengkilat dan
translusen, kemudian, akan me ngering. Dalam waktu kira-kira 1 bulan akan berwarna kuning
sampai coklat.
Pada tekstil yang menyerap, bercak yang segar tidak berwarna atau bertepi kelabu yang
berangsur-berangsur akan berwarna kuning sampai coklat dalam waktu 1 bulan.
Di bawah Sinar ultra violet, bercak semen menunjukkan fluoresensi putih. Hasil pemeriksaan
ini kurang memuaskan untuk bercak pada sutera buatan atau nylon karena mungkin tidak
memberi fluoresensi. Fluoresensi terlihat jelas pada bercak mani yang melekat di bahan tekstil
yang terbuat dari serabut katun. Bahan makanan, urin, sekret vagina dan serbuk detergen yang
tersisa pada pakaian sering menunjukkan fluoresensi juga.

Secara taktil (perabaan) bercak mani teraba memberi kesan kaku seperti kanji. Pada tekstil yang
tidak menyerap, bila tidak teraba kaku, kita masih dapat mengenalinya karena permukaan bercak
akan teraba kasar.
Dapat pula dilakukan uji pewarnaan Baecchi
Reagens Baecchi dibuat dari:
Asam fukhsin 1 % 1 ml
Biru metilena 1% 1 ml
Asam klorida 1% 40 ml. Bercak yang dicurigai, digunting sebesar 5 mm x 5 mm, pada bagian
pusat bercak. Bahan dipulas dengan reagens Baecchi selama 2-5 menit, dicuci dalam HC11%
dan dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alkohol 70%, 80% dan 95-100% (absolut), lalu
dijernihkan dalam xylol (2x). Kemudian keringkan di antara kertas saring.
Dengan jarum diambil 1-2 helai benang, letakkan pada gelas obyek dan diuraikan sampai
serabut-serabut saling terpisah. Tutup dengan gelas tutup dan balsem Kanada, periksa dengan
mikroskop pembesaran 400 x. Serabut pakaian tidak mengambil warna, spermatozoa dengan
kepala berwarna merah dan ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada serabut
benang.
Skrining dapat dilakukan dengan Reagens Fosfatase Asam. Sehelai kertas saring yang telah
dibasahi dengan akuades ditem pelkan pada bercak yang dicurigai selama 5 10 menit. Keringkan
lalu semprot dengan reagens. Bila terlihat bercak berwarna ungu, kertas saring diletakkan
kembali pada pakaian sesuai dengan letaknya semula. Dengan demikian letak bercak pada kain
dapat diketahui.
Reaksi Fosfatase Asam dan Florence dilakukan bila pada pemeriksaan tidak dapat ditemukan sel
spermatozoa.
Pemeriksaan pria tersangka
Untuk membuktikan bahwa seorang pria baru saja melakukan persetubuhan dengan seorang
wanita, dapat dilakukan peme riksaan labora torium sebagai berikut:
Cara Lugol. Kaca obyek ditempelkan dan ditekankan pada glans penis, terutama pada bagian
kolum, korona serta frenulum. Kemudian letakkan dengan spesimen menghadap ke bawah di
atas tempat yang berisi larutan Lugol dengan tujuan agar uap yodium akan mewarnai sediaan
tersebut. Hasil positip akan menunjukkan sel-sel epitel vagina dengan sitoplasma berwarna
coklat karena mengandung banyak glikogen.

Untuk memastikan bahwa sel epitel berasal dari seorang wanita, perlu ditentukan adanya
kromatin seks (Ban boo7es)pada inti. Dengan pembesaran besar, perhatikan inti sel epitel yang
ditemukan dan cari Ban bodies. Ciri-cirinya adalah menempel erat pada permukaan membran
inti dengan diameter kira-kira 1 u yang berbatas jelas dengan tepi tajam dan terletak pada satu
dataran fokus dengan inti.
Dengan sendirinya bila persetubuhan tersebut telah berlangsung lama atau telah dilakukan
pencucian pada alat kelamin pria, maka pemeriksaan tersebut di atas tidak akan berguna lagi.
PEMERIKSAAN RAMBUT.
Diantara jaringan-jaringan tubuh yang mungkin ditemukan dan meru pakan bukti penting dalam
kasus kejahatan, rambut mempunyai peranan yang cukup menonjol.
Di samping jaringan keras seperti tulang, gigi dan kuku, rambut juga bersifat sangat stabil
terhadap temperatur lingkungan dan pembusukan.
Nilai bukti dari rambut akan bertambah pada kasus yang tidak ditemukan bukti-bukti lain atau
bukti-bukti lainnya telah rusak.
Guna pemeriksaan laboratgrium terhadap rambut dalam bidang forensik adalah untuk
membantu.penentuan identitas seseorang, menunjukkan keterkaitan antara seseorang yang
dicurigai dengan suatu peristiwa kejahatan tertentu, antara korban dengan senjata atau antara
korban dengan kendaraan yang dicurigai.
Pemeriksaan laboratorium terhadap rambut meliputi pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik.
Pada pemeriksaan makroskopik dicatat keadaan warna, panjang, bentuk (lurus, ikal, keriting) dan
zat pewarna rambut yang mungkin dijumpai.
Untuk pemeriksaan mikroskopik, perlu dibuat sediaan mikroskopik rambut sebagai berikut:
Rambut dibersihkan dengan air, alkohol dan eter. Kemudian letakkan pada gelas obyek, tetesi
gliserin dan tutup dengan gelas penutup. Dengan cara ini dapat dilihat gambaran medula rambut.
Untuk melihat pola sisik dari rambut secara mikroskopik, dibuat cetakan rambut tersebut pada
sehelai film selulosa dengan metetes-kan asam asetat glasial, lalu letakkan rambut yang telah
dibersihkan di atasnya dan ditekan menggunakan gelas objek. Pola sisik dapat didokumentasikan
dengan membuat foto hasil pemeriksaan mikroskopik.
Di samping itu, pada pemeriksaan mikroskopik ditentukan pula hal berikut:
Rambut manusia atau rambut hewan. Rambut manusia berbeda dengan rambut hewan pada sifatsifat lapisan sisik (kutikula), gambaran korteks dan medula rambut.

Kutikula merupakan lapisan paling luar dari rambut, di bawahnya terletak korteks yang terdiri
dari gabungan serabut-serabut dengan pigmen. Di tempat yang paling dalam/tengah, terdapat
medula yang mengandung pigmen dalam jumlah terbanyak.
Rambut manusia memiliki diameter sekitar 50-150 mikron dengan bentuk kutikula yang pipih,
sedangkan rambut hewan memiliki diameter kurang dari 25 mikron atau lebih dari 300 mikron
dengan kutikula yang kasar dan menonjol.
Pigmen pada ranbut manusia sedikit dan terpisah-pisah sedangkan pada hewan padat dan tidak
terpisah.
Perbandingan diameter medula dengan diameter rambut pada rambut manusia (indeks medula)
adalah 1:3, sedangkan indeks medula rambut hewan adalah 1:2 atau lebih besar. Pemeriksaan indeks medula merupakan pemeriksaan yang terpenting untuk membedakan rambut manusia dari
rambut hewan.
Asal tumbuh rambut manusia. Berdasarkan asal tumbuhnya, rambut manusia dibedakan atas
rambut kepala; alis, bulu mata dan bulu hidung; kumis dan jenggot; rambut badan; rambut ketiak
dan rambut kemaluan. Umumnya tidak terdapat perbedaan yang tegas antara jenis-jenis rambut
tersebut di atas.
Rambut kepala umumnya kasar, lemas, lurus/ikal/keriting dan panjang dengan penampang
melintang yang berbentuk bulat (pada rambut yang lurus), oval atau elips (pada rambut yang
ikal/keriting). Alis, bulu mata dan bulu hidung umumnya relatif kasar, kadang-kadang kaku dan
pendek. Rambut kemaluan dan rambut ketiak lebih kasar sedangkan rambut badan halus dan
pendek.
Rambut utuh atau rusak.Pemeriksaan mikroskopik rambut utuh akan memperlihatkan akar,
bagian tengah dan ujung yang lengkap. Pada rambut yang tercabut, rambut akan terlihat utuh
dengan disertai jaringan kulit. Sebaliknya rambut yang lepas sendiri mempunyai akar yang
mengerut tanpa jaringan kulit. Rambut yang terpotong benda tajam, dengan mikroskop terlihat
terpotong rata, sedangkan akibat benda tumpul akan terlihat terputus tidak rata.
Jenis kelamin.Panjang rambut kepala kadang-kadang dapat memberi petunjuk jenis kelamin.
Tetapi untuk menentukan jenis kelamin yang pasti, harus dilakukan pemeriksaan terhadap sel-sel
sarung akar rambut dengan larutan orcein. Pada rambut wanita dapat ditemukan adanya kromatin
seks pada inti sel-sel tersebut.

Umur. Perkiraan umur berdasarkan pemeriksaan keadaan pigmen pada rambut sukar sekali
dilakukan. Umumnya dapat dikatakan, bahwa bila usia bertambah maka rambut akan rontok.
Rontoknya rambut pada pria umumnya terjadi pada dekade kedua atau ketiga, sedangkan pada
wanita sering terjadi rontoknya rambut ketiak dan pertumbuhan rambut pada wajah pada saat
menopause. Rambut ketiak dan rambut kemaluan akan tumbuh pada usia pubertas.
Penentuan subtansi golongan darah dari rambut dapat dilakukan dengan metode absorpsi-elusi.
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan golongan darah individu yang bersangkutan.
Cara pemeriksaan :
Rambut dipotong-potong sepanjang 0.5-1 cm. Masukkan ke dalam mortir dan gerus hingga
lapisan luar rambut rusak. Jangan digerus hingga menjadi serbuk (bila perlu lihat dengan
mikroskop stereos kopik).
Masukkan ke dalam dua tabung reaksi 60 x 10 mm. Tambahkan anti A ke dalam tabung pertama
dan anti B ke dalam tabung kedua, kemudian simpan dalam lemari es selama satu malam.
Buang antisera dengan pipet Pasteur, cuci 5-6 x dengan larutan salin dingin. Periksa apakah
pencucian telah sempurna dengan menambahkan suspensi sel indikator 2%. Lihat adanya
aglutinasi, bila tidak ada aglutinasi, cuci sekali lagi.
Tambahkan 2 tetes salin ke dalam masing-masing tabung dan tempatkan pada suhu 56 derajat C
selama 10 menit. Pindahkan eluat ke dalam tabung baru.
Tambahkan 1 tetes suspensi sel indikator ke dalam masing-masing tabung. Biarkan selama 5
menit, pusing selama 1 menit dengan kecepatan 1000 RPM. Lihat ada tidaknya aglutinasi.
Tabel di bawah ini memberi gambaran hasil penentuan golongan darah pada rambut:
Tabung 1
Tabung 1
Kesimpulan
Aglutinasi
+
+
AB
+
A
+
B
0
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap rambut tidak dapat menentukan rambut tersebut berasal
dari individu tertentu tetapi hanya dapat memastikan rambut tersebut bukan berasal dari orang
tertentu.
PEMERIKSAAN AIR LIUR
Air liur merupakan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar liur. Air liur (saliva) terdiri dari air,
enzim ptialin (alfa amilase), protein, lipid, ion-ion anorganik seperti tiosianat, klorida dan lain
lain.

Dalam bidang kedokteran forensik, pemeriksaan air liur penting untuk kasus-kasus dengan jejas
gigitan untuk menentukan golongan darah penggigitnya. Golongan darah penggigit yang
termasuk dalam golongan sekretor dapat ditentukan dengan cara absorpsi inhibisi.
Cara absorpsi inhibisi.
Basahkan bercak air liur dengan 0,5 ml. salin, kemudian peras dan tempatkan air liur atau ekstrak
air liur dalam salin tadi dalam tabung reaksi, lalu dipanaskan dalam air mendidih selama 10
menit. Pusing dan supernatan diambil dan boleh disimpan pada 20 derajat C.
Untuk pemeriksaan perlu dilakukan kontrol dengan air liur yang telah diketahui golongan
sekretor atau non sekretor.
Dalam tabung reaksi 1 vol air liur ditambahkan 1 vol antiserum. Campuran tersebut didiamkan
selama 30 menit pada suhu ruang untuk proses absorpsi.
Selama menunggu, tentukan titer anti A, anti B dan anti H yang digunakan. Setelah 30 menit
berlalu, pada campuran tersebut ditentukan titer anti A, anti B dan anti H dengan cara yang sama.
SDM yang digunakan adalah suspensi 4% yang berumur kurang dari 24 jam. Bandingkan titer
antisera yang digunakan dengan titer campuran antiserum + air liur. Hasil positip bila titer
berkurang lebih dari 2 kali.
Reagens anti A dan Anti B dapat diperoleh dari laboratorium transfusi darah PMI, den\mikian
pula dengan anti H.
Anti H dapat dibuat dari biji-biji Ulex europaeus yang digerus dalam mortir. Tiap 1 g biji-bijian
ditambahkan 10 ml. salin. Kemudian campuran dikocok dengan mesin pengocok selama 1 jam
dan diipusing selama 5 menit dengan kecepatan 3000 RPM. Cairan su-pernatan disaring dan
dapat segera dipergunakan.
IDENTIFIKASI FORENSIK
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk
menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal sering merupakan suatu masalah dalam
kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas personal dengan tepat amat penting dalam
penyidikan karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan.
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah
yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar dan pada kecelakaan masai, bencana alam atau
huru-hara yang mengakibatkan banyak korban mati, serta potongan tubuh manusia atau

kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti
penculikan anak, bayi yang tertukar atau diragukan orang tuanya.
Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil
positip (tidak meragukan).
Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode idetifikasi sidik jari, visual, dokumen,
pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologik dan secara eksklusi. Akhir akhir ini dikembangkan
pula metode identifikasi DNA.
PEMERIKSAAN SIDIK JARI
Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante mortem.
Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi
ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang.
Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan jenazah
untuk pemeriksaan sidik jari, misalnya melakukan pembungkusan kedua tangan jenazah dengan
kantung plastik.
METODE VISUAL
Metode ini dilakukan dengan cara memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa
kehilangan anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya efektif pada jenazah yang belum
membusuk sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu
orang. Hal ini perlu diperhatikan mengingat adanya kemungkinan faktor emosi yang turut
berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas jenazah tersebut.
PEMERIKSAAN DOKUMEN
Dokumen seperti kartu identifikasi (KTP SIM. Paspor dsb.) yang kebetulan dijumpai dalam saku
pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali jenazah tersebut.
Perlu diingat bahwa pada kecelakaan masai, dokumen yang terdapat dalam tas atau dompet yang
berada dekat jenazah belum tentu adalah milik jenazah yang bersangkutan.
PEMERIKSAAN PAKAIAN DAN PERHIASAN
Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah, mungkin dapat diketahui merek atau nama
pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya dapat membantu identifikasi
walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut.
Khusus anggota ABRI, masalah identifikasi dipermudah dengan adanya nama serta NRP yang
tertera pada kalung logam yang dipakainya.

IDENTIFIKASI MEDIK
Metode ini menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata,
cacat/kelainan khusus, tatu (rajah).
Metode ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan
menggunakan berbagai cara/modifikasi (termasuk pemeriksaan dengan sinar-X), sehingga
ketepatannya cukup tinggi. Bahkan pada tengkorak/kerangkapun masih dapat dilakukan metode
identifikasi ini.
Melalui metode ini, diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan tinggi badan,
kelainan pada tulang dan sebagainya.
PEMERIKSAAN GIGI
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang dapat dilakukan
dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi serta rahang.
Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi dan
sebagainya.
Seperti halnya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan gigi yang khas. Dengan
demikian, dapat dilakukan identifikasi dengan cara membandingkan data temuan dengan data
pembanding ante mortem.
PEMERIKSAAN SEROLOGIK
Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah. Penentuan
golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa rambut,
kuku dan tulang.
METODE EKSKLUSI
Metode ini digunakan pada kecelakaan masai yang melibatkan sejumlah orang yang dapat
diketahui identitasnya, misalnya penumpang pesawat udara, kapal laut dan sebagainya.
Bila sebagian besar korban telah dapat dipastikan identitasnya dengan menggunakan metodemetode identifikasi lain, sedangkan identitas sisa korban tidak dapat ditentukan dengan metodemetode tersebut di atas, maka sisa korban diidentifikasi menurut daftar penumpang.
IDENTIFIKASI POTONGAN TUBUH MANUSIA (KASUS MUTILASI)
Pemeriksaan bertujuan untuk menentukan apakah potongan berasal dari manusia atau binatang.
Bila berasal dari manusia, ditentukan apakah potongan-potongan tersebut berasal dari satu tubuh.

Penentuan juga meliputi jenis kelamin, ras, umur, tinggi badan dan keterangan lain seperti cacat
tubuh, penyakit yang pernah diderita, status sosial ekonomi, kebiasaan-kebiasaan tertentu dan
sebagainya serta cara pemotongan tubuh yang mengalami mutilasi.
Untuk memastikan bahwa potongan tubuh berasal dari manusia dapat digunakan beberapa
pemeriksaan seperti pengamatan jaringan secara makroskopik, mikroskopik dan pemeriksaan
serologik berupa reaksi antigen-antibodi (reaksi presipitin).
Penentuan jenis kelamin dilakukan dengan pemeriksaan makroskopik dan diperkuat dengan
pemeriksaan mikroskopik yang bertujuan menemukan kromatin seks wanita seperti drum stick
pada lekosit dan Barr body pada sel epitel.
IDENTIFIKASI KERANGKA
Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah
kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas
dan bila memungkinkan dapat dilakukan rekonstruksi wajah. Dicari pula tanda kekerasan pada
tulang. Perkirakan saat kematian dilakukan dengan memperhatikan keadaan kekeringan tulang.
Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu, maka dilakukan identifikasi dengan
membandingkannya dengan data ante mortem. Bila terdapat foto terakhir wajah orang tersebut
semasa hidup, dapat dilaksanakan metode superimposisi, yaitu dengan jalan menumpukkan foto
rontgen tulang tengkorak di atas foto wajah yang dibuat berukuran sama dan diambil dari sudut
pemotretan yang sama. Dengan demikian dapat dicari adanya titik-titik persamaan.
Pemeriksaan anatomik dapat memastikan bahwa kerangka adalah kerangka manusia. Kesalahan
penafsiran dapat timbul bila hanya terdapat sepotong tulang saja, dalam hal ini perlu dilakukan
pemeriksaan serologik (reaksi presipitin) dan histologik (jumlah dan diameter kanal-kanal
Havers).
Penentuan ras mungkin dilakukan dengan pemeriksaan antro-pologik pada tengkorak, gigi geligi
dan tulang panggul atau tulang lainnya. Arkus zigomatikus dan gigi insisivus atas pertama yang
berbentuk seperti sekop memberi petunjuk kearah ras Mongoloid.
Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul, tulang tengkorak, sternum,
tulang panjang serta skapula dan metakarpal. Pada panggul, indeks isio-pubis (panjang pubis
dikali seratus dibagi panjang isium) merupakan ukuran yang paling sering digunakan. Nilai lakilaki sekitar 83,6, wanita 99,5.

Ukuran anatomik lain seperti indeks asetabulo-isiadikum, indeks cotulo-isiadikum, ukuran pintu
atas, tengah dan bawah panggul serta morfologi deskriptif seperti insisura isiadikum mayor yang
sempit dan dalam pada laki-laki, sulkus preaurikularis yang menonjol pada wanita, arkus subpubis dan krista iliaka, juga jumlah beberapa ukuran pada tulang dada seperti panjang sternum
tanpa xyphoid, lebar sternum pada segmen I dan 11, tebal minimum manubrium dan korpus
sternum segmen I dapat untuk menentukan jenis kelamin.
Tabel berikut menunjukkan ciri seks pada tengkorak:
Tanda
Ukuran, volume endokranial
Arsitektur
Tonjolan Supraorbital
Prosesus mastoideus
Daerah oksipital, linea

Pria
besar
kasar
sedang --> besar
sedang --> besar
tidak jelas

Wanita
kecil
halus
kecil -> sedang
kecil -> sedang
jelas/menonjol

kecil
kecil
persegi, rendah

besar
besar
bundar, tinggi

relatif kecil tepi

relatif besar tepi

Dahi

tummpul
curam kurang

tajam
Membundar,

Tulang pipi

membundar
berat, arkus lebih

penuh, infantil
ringan, lebih

Mandibula

ke lateral
memusat
besar, simfisisnya kecil, dengan

musku-lares dan
Protuberensia
Eminensia frontalis
Eminensia parietalis
Orbita

tinggi,
Palatum

ramus

ukurankorpus dan

asendingnya lebar ramus lebih kecil


Besar dan lebar,
kecil, cederung
cenderung seperti seperti parabola

Kondilus oksipitalis Gigi-

huruf U
besar

kecil

geligi

besar, M1 bawah

kecil, molar biasa-

sering 5 kuspid.

nya 4 kuspid

Sumber: Krogmann (1955)

Tulang panjang laki-laki lebih panjang dan lebih masif dibandingkan dengan tulang wanita
dengan perbandingan 100:90. Pada tulang-tulang femur, humerus dan ulna terdapat be-berapa
ciri khas yang menunjukkan jenis kelamin seperti ukuran kaput dan kondilus, sudut antara kaput
femoris terhadap batangnya yang lebih kecil pada laki-laki, perforasi fosa olekrani menunjukkan
jenis wanita, serta adanya belahan pada sigmoid notch pada laki-laki.
Krogman menyimpulkan, penentuan jenis kelamin pada kerangka dewasa berketepatan 100%
bila lengkap, 90% bila tengkorak saja, 95% bila panggul saja, 98% bila tengkorak dan panggul
dan 80% bila hanya tulang-tulang panjang. Kemungkinan penentuan jenis kelamin pada
kerangka pre-pubertas adalah 50% dengan harapan ketepatan maksimal sebesar 75-80 %.
Pemeriksaan terhadap pusat penulangan (osifikasi) dan penyatuan epifisis tulang sering
digunakan untuk perkiraan umur pada tahun-tahun pertama kehidupan. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan menggunakan foto radiologis atau dengan melakukan pemeriksaan langsung terhadap
pusat penulangan pada tulang.
Pemeriksaan terhadap penutupan sutura pada tulang-tulang atap tengkorak guna perkiraan umur
sudah lama diteliti dan telah berkembang berbagai metode, namun pada akhirnya hampir semua
ahli menyatakan bahwa cara ini tidak dapat dipercaya/tidak akurat dan hanya dipakai dalam
lingkup dekade (umur 20-30-40 tahun) atau mid-dekade (umur 25-35-45 tahun) saja.
Pemeriksaan permukaan simfisis pubis dapat memberikan skala umur dari 18 hingga 50 th, baik
yang dikemukakan oleh Todd maupun oleh Mokern dan Stewart. Mokern dan Stewart membagi
simfisis pubis menjadi 3 komponen yang masing-masing diberi nilai. Jumlah nilai tersebut
menunjukkan umur berdasarkan sebuah tabel.
Schranz mengajukan cara pemeriksaan tulang humerus dan femur guna penentuan umur.
Demikian pula tulang klavikula, ster-num, tulang iga dan tulang belakang mempunyai ciri yang
dapat digunakan untuk memperkirakan umur.
Nemeskeri, Harsanyi dan Ascadi menggabungkan pemeriksaan penutupan sutura endokranial,
relief permukaan simfisis pubis dan struktur spongiosa humerus proksimal/epifise femur, dan
mereka dapat menentukan umur dengan kesalahan sekitar 2,55 tahun.
Perkiraan umur dari gigi dilakukan dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan gigi
(intrauterin, gigi susu 6 bulan-3 tahun, masa statis gigi susu 3-6 tahun, geligi campuran 6-12
tahun).

Selain itu dapat juga digunakan metode Gustafson yang memperhatikan atrisi (keausan),
penurunan tepi gusi, pembentukan dentin sekunder, semen sekunder, transparansi dentin dan
penyempitan/penutupan foramen apikalis.
Tinggi badan seseorang dapat diperkirakan dari panjang tulang tertentu, menggunakan rumus
yang dibuat oleh banyak ahli.
Rumus Antropologi Ragawi UGM untuk pria dewasa (Jawa): Tinggi Badan = 897 + 1,74 y
(femur kanan) Tinggi Badan = 822 + 1,90 y (femur kiri) Tinggi Badan = 879 + 2,12 y (tibia
kanan) Tinggi Badan = 847 + 2,22 y (tibia kiri)
Tinggi Badan = 867 + 2,19 y (fibula kanan) Tinggi Badan = 883 + 2,14 y (fibula kiri) Tinggi
Badan = 847 + 2,60 y (humerus kanan) Tinggi Badan = 805 + 2,74 y (humerus kiri) Tinggi
Badan = 842 + 3,45 y (radius kanan) Tinggi Badan = 862 + 3,40 y (radius kiri) Tinggi Badan =
819 + 3,15 y (ulna kanan) Tinggi Badan = 847 + 3,06 y (ulna kiri)
Catatan : Semua ukuran dalam satuan mm. Rumus Trotter dan Gleser untuk Mongoloid:
1,22 (fem + fib) + 70,24 (+ 3,18 cm) 1,22 (fem + tib) + 70,37 (+ 3,24 cm) 2,40 (fib) + 80,56
(+. 3,24 cm)
2,39 (tib) + 81,45
2,15 (fem) + 72,57

(+ 3,27 cm)
(+ 3,80 cm)

1,68 (hum + ulna) +71,18

(4,14 cm)

1.67 (hum + rad) + 74,83

(+ 4,16 cm)

2.68 (hum) + 83,19 (+_ 4,25 cm) 3,54 (rad) + 82,00 (+ 4,60 cm) 3,48 (ulna)

+ 77,45

(+

4,66 cm)
Melalui suatu penelitian, Djaja Surya Atmadja menemukan rumus untuk populasi dewasa muda
di Indonesia:
Pria : TB = 72,9912 + 1,7227 (tib) + 0,7545 (fib) (+ 4,2961 cm) TB = 75,9800 + 2,3922 (tib) {
4,3572 cm) TB = 80,8078 + 2,2788 (fib) ( 4,6186 cm) Wanita : TB = 71,2817 + 1,3346 (tib) +
1,0459 (fib) ( 4,8684 cm) TB = 77,4717 + 2,1889 (tib) (+ 4,9526 cm) TB = 76,2772 + 2,2522
(fib) (+ 5,0226 cm) Tulang yang diukur dalam keadaaan kering biasanya lebih pendek 2 mm dari
tulang yang segar, sehingga dalam menghitung tinggi badan perlu diperhatikan.
Rata-rata tinggi laki-laki lebih besar dari wanita, maka perlu ada rumus yang terpisah antara lakilaki dan wanita. Apabila tidak dibedakan, maka diperhitungkan ratio laki-laki:wanita adalah
100:90. Selain itu penggunaan lebih dari satu tulang dianjurkan. (Khusus untuk rumus Djaja SA,

panjang tulang yang diguna-kan adalah panjang tulang yang diukur dari luar tubuh, berikut kulit
di luarnya).
Ukuran pada tengkorak, tulang dada dan telapak kaki juga dapat digunakan untuk menilai tinggi
badan.
Bila tidak ada individu yang dicurigai sebagai korban, maka dapat dilakukan upaya rekonstruksi
wajah pada tengkorak dengan jalan 'menambal' tulang tengkorak tersebut menggunakan data
ketebalan jaringan lunak pada pelbagai titik di wajah, yang kemudian diberitakan kepada
masyarakat untuk memperoleh masukan mengenai kemungkinan identitas kerangka tersebut.
TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP) dan EKSHUMASI
Tempat kejadian perkara (TKP) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan/atau tempat
terjadinya peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian. Meskipun
kelak terbukti bahwa di tempat tersebut tidak pernah terjadi suatu tindak pidana, tempat tersebut
tetap disebut sebagai TKP. Disini hanya akan dibicarakan TKP yang berhubungan dengan
manusia sebagai korban, seperti kasus penganiayaan, pembunuhan dan kasus kematian
mendadak (dengan kecurigaan).
Diperlukan atau tidaknya kehadiran dokter di TKP oleh penyidik sa ngat bergantung pada
kasusnya, yang pertimbangannya dapat dilihat dari sudut korbannya, tempat kejadiannya,
kejadiannya atau tersangka pelakunya. Peranan dokter di TKP adalah membantu penyidik dalam
mengungkap kasus dari sudut kedokteran forensik. Pada dasarnya semua dokter dapat bertindak
sebagai pemeriksa di TKP, namun dengan perkem bangan spesialisasi dalam ilmu kedokteran,
adalah lebih baik bila dokter ahli forensik atau dokter kepolisian yang hadir.
Dasar pemeriksaan adalah hexameter, yaitu menjawab 6 pertanyaan: apa yang terjadi, siapa yang
tersangkut, di mana dan kapan terjadi, bagaimana terjadinya dan dengan apa melakukannya,
serta kenapa terjadi peristiwa tersebut ?
Pemeriksaan kedokteran forensik di TKP harus mengikuti ketentuan yang berlaku umum pada
penyidikan di TKP, yaitu menjaga agar tidak mengubah keadaan TKP. Semua benda bukti yang
ditemukan agar dikirim ke laboratorium setelah sebelumnya diamankan sesuai prosedur.
Selanjutnya dokter dapat memberikan pendapatnya dan mendiskusikannya dengan penyidik
untuk memper- kirakan terjadinya peristiwa dan merencanakan langkah penyidikan lebih lanjut.
Bila korban masih hidup maka tindakan yang utama dan pertama bagi dokter adalah
menyelamatkan korban dengan tetap men* jaga keutuhan TKP.

Bila korban telah mati, tugas dokter adalah menegakkan diagnosis kematian, memperkirakan
saat kematian, memperkirakan sebab kematian, memperkirakan cara kematian, menemukan dan
mengamankan benda bukti biologis dan medis.
Bila perlu dokter dapat melakukan anamnesa dengan saksi-saksi untuk mendapatkan gambaran
riwayat medis korban.
Beberapa tindakan dapat mempersulit penyidikan, seperti memegang setiap benda di TKP tanpa
sarung tangan, mengganggu bercak darah, embuat jejak baru, atau memeriksa sambil merokok.
Saat kematian diperkirakan pada saat itu dengan memperhatikan prinsip-prinsip perubahan tubuh
pasca mati yang dibahas lebih rinci di bab tanatologi.
Cara kematian memang tidak selalu mudah diperkirakan, sehingga dalam hal ini penyidik
menganut azas bahwa segala yang diragukan harus dianggap mengarah ke adanya tindak pidana
lebih dahulu sebelum nanti dapat dibuktikan ketidak benarannya.
Pemeriksaan dimulai dengan membuat foto dan sketsa TKP, termasuk penjelasan mengenai letak
dan posisi korban, benda bukti dan interaksi lingkungan.
Mayat yang ditemukan dibungkus dengan plastik atau kantung plastik khusus untuk mayat
setelah sebelumnya kedua tangannya di bungkus plastik sebatas pergelangan tangan.
Pemeriksaan sidik jari oleh penyidik dapat dilakukan sebelumnya.
Bercak darah yang ditemukan di lantai atau di dinding diperiksa dan dinilai apakah berasal dari
nadi atau dari vena, jatuh dengan kecepatan (dari tubuh yang bergerak) atau jatuh bebas, kapan
saat perlukaannya, dan dihubungkan dengan perkiraan bagaimana terjadi nya peristiwa.
Benda bukti yang ditemukan dapat berupa pakaian, bercak mani, bercak darah, rambut, obat,
anak peluru, selongsong peluru, benda yang diduga senjata diamankan dengan
memperlakukannya sesuai prosedur, yaitu di'pegang' dengan hati-hati serta dimasukkan ke dalam
kantong plastik, tanpa meninggalkan jejak sidik jari baru.
Benda bukti yang bersifat cair dimasukkan ke dalam tabung reaksi kering.
Benda bukti yang berupa bercak kering di atas dasar keras harus dikerok dan dimasukkan ke
dalam amplop atau kantong plastik, bercak pada kain diambil seluruhnya atau bila bendanya
besar digunting dan dimasukkan ke dalam amplop atau kantung plastik. Benda-benda keras
diambil seluruhnya dan dimasukkan ke dalam kantung plastik.
Semua benda bukti di atas harus diberi label dengan keterangan tentang jenis benda, lokasi
penemuan, saat penemuan dan keterangan lain yang diperlukan.

Mayat dan benda bukti biologis/medis, termasuk obat atau racun, dikirimkan ke Instalasi
Kedokteran Forensik atau ke Rumah Sakit Umum setempat untuk pemeriksaan lanjutan. Apabila
tidak tersedia sarana pemeriksaan laboratorium forensik, benda bukti dapat dikirim ke
Laboratorium Kepolisian atau ke Bagian Kedokteran Forensik.
Benda bukti bukan biologis dapat langsung dikirim ke Laboratorium Krimi nil/Forensik
Kepolisian Daerah setempat.
Perlengkapan yang sebaiknya dibawa pada saat pemeriksaan di TKP adalah kamera, film
berwarna dan hitam-putih (untuk ruangan gelap), lampu kilat, lampu senter, lampu ultra violet,
alat tulis, tempat menyimpan benda bukti berupa amplop atau kantong plastik, pinset, skalpel,
jarum, tang, kaca pembesar, termometer rektal, termometer ruangan, sarung tangan, kapas, kertas
saring serta alat tulis (spidol) untuk memberi label pada benda bukti.
Penggalian kubur atau ekshumasi kadang kala perlu dilakukan, karena kecurigaan terhadap
kematian seseorang mungkin baru timbul setelah penguburan dilaksanakan, atau memang secara
sengaja dilakukan penguburan untuk menghilangkan jejak keja-hatan.
Bila penyidik dalam rangkaian penyidikannya memerlukan bantuan dokter untuk melakukan
pemeriksaan terhadap jenazah yang telah dikubur, maka dokter wajib melaksanakan pemeriksaan
tersebut. Namun perlu diingat bahwa hasil pemeriksaan terhadap mayat yang telah lama dikubur
tidak akan memberi hasil sebaik bila mayat diperiksa saat masih segar.
Prosedur penggalian mayat diatur dalam KUHAP, juga memerlukan surat permintaan
pemeriksaan dari penyidik. Di samping itu, masih diperlukan persiapan lain, yaitu koordinasi
dengan pihak pemerintah daerah, dalam hal ini dinas pemakaman, untuk memperoleh bantuan
penyediaan tenaga para penggali kubur, juga perlu disiapkan kantong plastik besar untuk jenazah
serta kantong plastik kecil untuk wadah bahan/sampel pemeriksaan laboratorium.
Penggalian perlu dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menambah kerusakan pada mayat
akibat terkena alat penggali. Sedapat mungkin mayat di angkat untuk dibawa ke instalasi
forensik, karena pemeriksaan di tempat seringkali mendapat 'hambatan' berupa banyaknya
penduduk setempat yang 'menonton', di samping perlunya sarana meja autopsi dan air yang
cukup.
Namun bila hal ini tidak dimungkinkan, karena lokasi pe-"nguburan yang sulit dicapai atau jauh
dari instalasi Kedokteran Forensik, maka pemeriksaan jenazah dapat dilakukan di tempat,
dengan mengusahakan agar dokter tidak terhambat melakukan pemeriksaan oleh keingintahuan

masyarakat sekitar lokasi. Kiranya perlu dibuatkan penyekat yang membatasi lokasi pemeriksaan
dengan para 'penonton' tersebut.
Bila terdapat kecurigaan kematian akibat keracunan logam berat, maka sampel tanah sekitar
mayat harus diambil agar terhadap hasil pemeriksaan laboratorium toksikologik dapat ditarik
kesimpulan yang tidak meragukan.
Seperti diketahui, sumber dari logam berat juga adalah tanah, sehingga dokter pemeriksa harus
yakin bahwa kadar logam berat yang ditemukan dalam tubuh korban benar benar berasal dari
tubuh korban karena peristiwa peracunan/keracunan, dan bukan berasal dari tanah sekitar
jenazah dalam kubur.
FORENSIK MOLEKULER
Ilmu Kedokteran Forensik Molekuler adalah suatu bidang ilmu yang baru berkembang dalam
dua dekade terakhir, merupakan bagian dari ilmu kedokteran forensik yang memanfaatkan
pengetahuan kedokteran dan biologi pada tingkatan molekul atau DNA. Sebagai suatu bidang
cabang ilmu kedokteran forensik yang baru, ilmu ini melengkapi dan menyempurnakan berbagai
pemeriksaan identifikasi personal pada kasus mayat tak dikenal, kasus pembunuhan, perkosaan
serta berbagai kasus ragu ayah (paternitas).
KONSEP POLIMORFISME
Polimorfisme adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya suatu bentuk yang
berbeda dari suatu struktur dasar yang sama. Jika terdapat variasi/modifikasi pada suatu lokus
yang spesifik (pada DNA) -dalam suatu populasi, maka lokus tersebut dikatakan bersifat
polimorfik. Sifat polimorfik ini di samping menunjukkan variasi individu, juga memberikan
keuntungan karena dapat digunakan untuk membedakan satu orang dari yang lain.
Dikenal polimorfisme protein dan polimorfisme DNA. Polimorfisme protein antara lain ialah
sistim golongan darah, golongan protein serum, sistim golongan enzim eritrosit dan sistim HLA
(Human Lymphocyte Antigen). Polimorfisme DNA merupakan suatu polimorfisme pada tingkat
yang lebih awal dibandingkan polimorfisme protein, yaitu pada tingkat kode genetik atau DNA.
Pemeriksaan polimorfisme DNA meliputi pemeriksaan Sidik DNA (DNA fingerprint), VNTR
(Variable Number of Tandem Repeats) dan RFLP (Restriction Fragment Length
Polymorphisms), secara Southern blot maupun dengan PCR (Polymerase Chain Reaction).
Dibandingkan dengan pemeriksaan polimorfisme protein, pemeriksaan polimorfisme DNA
menunjukkan beberapa kelebihan. Pertama, polimorfisme DNA menunjukkan tingkat polimorfis

yang jauh lebih tinggi, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan terhadap banyak sistim. Kedua,
DNA jauh lebih stabil dibandingkan protein, membuat pemeriksaan DNA masih dimungkinkan
pada bahan yang sudah membusuk, mengalami mummifikasi atau bahkan pada jenazah yang
tinggal kerangka saja. Ketiga, distribusi DNA sangat luas meliputi seluruh sel tubuh, sehingga
berbagai bahan mungkin untuk digunakan sebagai bahan pemeriksaan. Keempat, dengan
ditemukannya metode PCR, bahan DNA yang kurang segar dan sedikit jumlahnya masih
mungkin untuk dianalisis.
PEMERIKSAAN DNA FINGERPRINT
Pemeriksaan sidik DNA pertama kali diperkenalkan oleh Jef-freys pada tahun 1985.
Pemeriksaan ini didasarkan atas adanya bagian DNA manusia yang termasuk daerah non-coding
atau intron (tak mengkode protein) yang ternyata merupakan urutan basa tertentu yang berulang
sebanyak n kali.
Bagian DNA ini tersebar dalam seluruh genom manusia sehingga dinamakan multilokus. Bagian
DNA ini dimiliki oleh semua orang tetapi masing-masing individu mempunyai jumlah pengulangan yang berbedabeda satu sama lain, sedemikian sehingga kemungkinan dua individu
mempunyai fragmen DNA yang sama adalah sangat kecil sekali. Bagian DNA ini dikenal dengan
nama Vari-able Number of Tandem Repeats (VNTR) dan umumnya tersebar pada bagian ujung
dari kromosom. Seperti juga DNA pada umumnya, VNTR ini diturunkan dari kedua orangtua
menurut hukum Mendel, sehingga keberadaannya dapat dilacak secara tidak langsung dari
orangtua, anak maupun saudara kandungnya.
Jeffreys dkk menemukan bahwa suatu fragmen DNA yang diisolasi dari DNA yang terletak dekat
dengan gen globin manusia ternyata dapat melacak VNTR ini secara simultan. Pelacak DNA
(probe) multilokus temu annya ini dinamakan pelacak Jeffreys yang terdiri dari beberapa probe,
diantaranya 16.6 dan 16.15 yang paling sering digunakan.
Pemeriksaan sidik DNA diawali dengan melakukan ekstraksi DNA dari sel berinti, lalu
memotongnya dengan enzim restriksi Hinfl, sehingga DNA menjadi potongan-potongan.
Potongan DNA ini dipisahkan satu sama lain berdasarkan berat molekulnya (panjang potongan)
dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose. Dengan menempatkan DNA pada sisi
bermuatan negatif, maka DNA yang juga bermuatan negatif akan ditolak ke sisi lainnya dengan
kecepatan yang berbanding terbalik dengan panjang fragmen DNA. Fragmen DNA yang telah

terpisah satu sama lain di dalam agar lalu diserap pada suatu membran nitroselulosa dengan
suatu metode yang dinamakan metode Southern blot.

Prosedur pemeriksaan DNA fingerprint meliputi 1. pengambilan sampel, 2. ekstraksi DNA,


3.pemotongan DNA dengan enzim restriksi, 4.elektroforesis pada gel agarose, 5.Southern
bloting, 6.persiapan pelacak DNA, 7. hibridisasi, 8. pencucian sisa pelacak, 9. membran yang
telah bersih, dilakukan 10. autoradiografi sehingga menghasilkan 11. DNA fingerprint.
Membran yang kini telah mengandung potongan DNA ini lalu diproses untuk membuat DNAnya menjadi DNA untai tunggal (proses denaturasi), baru kemudian dicampurkan dengan pelacak
DNA yang telah dilabel dengan bahan radioaktif dalam proses yang dinamakan hibridisasi. Pada
proses ini pelacak DNA akan bergabung dengan fragmen DNA yang merupakan basa
komplemennya.
Untuk menampilkan DNA yang telah ber-hibridisasi dengan pelacak berlabel ini, dipaparkanlah
suatu film diatas membran sehingga film akan terbakar oleh adanya radioaktif tersebut (proses
autoradiografi). Hasil pembakaran film oleh sinar radioaktif ini akan tampak pada film berupa
pita-pita DNA yang membentuk gambaran serupa Barcode (label barang di supermarket).
Dengan metode Jeffreys dan menggunakan 2 macam pelacak DNA umumnya dapat dihasilkan
sampai 20-40 buah pita DNA per-sampelnya.
Pada kasus identifikasi mayat tak dikenal, dilakukan pembandingan pita korban dengan pita
orangtua atau anak-anak tersangka korban. Jika korban benar adalah tersangka, maka akan
didapatkan bahwa separuh pita anak akan cocok dengan ibunya dan separuh-nya lagi cocok
dengan pita ayahnya. Hal yang sama juga dapat dilakukan pada kasus ragu ayah (disputed
paternity).

Pada kasus perkosaan, dilakukan pembandingan pita DNA dari apus vagina dengan pita DNA
tersangka pelaku. Jika tersangka benar adalah pelaku, maka akan dijumpai pita DNA yang persis
pola susunannya.

Prinsip analisis DNA fingerprint pada kasus ragu ayah (disputed paternity) meliputi
pelacakan pita maternal (pita anak yang sesuai dengan pita ibu), kemudian pita anak sisanya
(pita paternal) dicocokkan dengan pita tersangka ayah. Tersangka dinyatakan sebagai bukan
ayah jika tak ada pita yang cocok, dan sebaliknya.
ANALISIS VNTR LAIN
Setelah penemuan Jeffreys ini, banyak terjadi penemuan VNTR lain. Metode pemeriksaanpun
menjadi beraneka ragam dengan menggunakan enzim restriksi, sistim labeling pelacak dan
pelacak yang berbeda, meskipun semua masih menggunakan metode Southern blot seperti
metode Jeffreys.
Setelah kemudian ditemukan sesuatu pelacak yang dinamakan pelacak lokus tunggal (single
locus), maka mulailah orang mengalihkan perhatiannya pada metode baru ini. Pada sistim
pelacakan dengan pela cak tunggal, yang dilacak pada suatu pemeriksaan hanyalah satu lokus
tertentu saja, sehingga pada analisis selanjutnya hanya akan didapatkan dua pita DNA saja.
Karena pola penurunan DNA ini juga sama, maka satu pita berasal dari ibu dan pita satunya
berasal dari ayah.
Adanya jumlah pita yang sedikit ini menguntungkan karena interpretasinya menjadi lebih mudah
dan sederhana. Keuntungan lain adalah ia dapat mendeteksi jumlah pelaku perkosaan. Jika pada
usap vagina korban ditemukan ada 6 pita DNA misalnya, maka pelaku perkosaan adalah 3 orang
(satu orang 2 pita). Kelemahannya adalah jumlah pita yang sedikit membuat kekuatan

diskriminasi individunya lebih kecil, sehingga untuk identifikasi personal selain kasus perkosaan,
perlu dilakukan pemeriksaan dengan pelacakan beberapa lokus sekaligus.
Secara umum, metode Jeffreys dan pelacak multilokus dianjurkan untuk kasus identifikasi
personal, sedang untuk kasus perkosaan menggunakan metode dengan pelacak lokus tunggal.

Pemeriksaan DNA dengan pelacak DNA lokus tunggal hanya akan menghasilkan 2 pita untuk
setiap sampel (satu jika homozigot). Pada kasus perkosaan ini ditemukan 4 pita pada sampel
usap vagina (mixture), yang menunjukkan pelakunya ada 2 orang. Pembandingan pita tersebut
dengan pita 3 orang tersangka (suspect) menunjukkan tersangka no 1 dan 3 yang merupakan
pelaku perkosaan tersebut.
PEMERIKSAAN RFLP
Polimorfisme yang dinamakan Restriction Fragment Length Poly morphisms (RFLP) adalah
suatu polimorfisme DNA yang terjadi akibat adanya variasi panjang fragmen DNA setelah
dipotong dengan enzim restriksi tertentu. Suatu enzim restriksi mempunyai kemampuan untuk
memotong DNA pada suatu urutan basa tertentu sehingga akan menghasilkan potonganpotongan DNA tertentu. Adanya mutasi tertentu pada lokasi pemotongan dapat membuajt DNA
yang biasanya dapat dipotong menjadi tak dapat dipotong sehingga terbentuk fragmen DNA
yang lebih panjang. Variasi inilah yang menjadi dasar metode analisis RFLP.
VNTR yang telah dibicarakan di atas sesungguhnya adalah salah satu jenis RFLP, karena variasi
fragmennya didapatkan setelah pemotongan dengan enzim restriksi. Metode pemeriksaan RFLP
dapat dilakukan dengan metode Southern blot tetapi dapat juga dengan metode PCR.
METODE PCR
Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah suatu metode untuk memperbanyak fragmen
DNA tertentu secara in vitro dengan meng gunakan enzim polimerase DNA.
Kelompok Cetus pada tahun 1985 menemukan bahwa DNA yang dicampur dengan
deoksiribonukleotida trifosfat atau dNTP (yang terdiri dari ATP, CTP, TTP dan GTP), enzim

polimerase DNA dan sepasang primer jika dipanaskan, didinginkan lalu dipanaskan lagi akan
memperbanyak diri dua kali lipat. Jika siklus ini diulang sebanyak n kali, maka DNA akan
memperbanyak diri 2n kali lipat.
Yang dimaksud dengan primer adalah fragmen DNA untai tunggal yang sengaja dibuat dan
merupakan komplemen dari bagian ujung DNA yang akan diperbanyak, sehingga dapat
diibaratkan sebagai patok pembatas bagian DNA yang akan diperbanyak.

Suatu siklus PCR terdiri dari fase denaturasi, fase penempelan primer dan fase
ekstensi/elongasi. Setiap siklus pemanasan, pendinginan dan pemanasan ini DNA akan
memperbanyak diri menjadi 2 kali lipat.
Siklus proses PCR diawali dengan pemanasan pada suhu tinggi, yang berkisar antara 90 95
derajat C(fase denaturasi). Pada suhu ini DNA untai ganda (double stranded) terlepas menjadi 2
potong DNA untai tunggal (single stranded). Proses ini dilanjutkan dengan pendinginan pada
suhu tertentu (fase penempelan primer atau primer annealing) yang dihitung dengan rumus
Thein dan Wal-lace: Suhu = 4(G + C) + 2(A + T)
G, C, A dan T adalah jumlah basa Guanin, Sitosin, Adenin dan Timin pada primer yang
digunakan. Pada fase ini primer akan menempel pada basa komplemennya pada DNA untai
tunggal tadi. Selanjutnya, siklus diakhiri dengan pemanasan kembali antara 70-75 derajat C (fase
ekstensi atau elongasi), yang akan membuat primer memperpanjang diri membentuk komplemen
dari untai tunggal dengan menggunakan bahan dNTP.
Pemeriksaan dengan metode PCR hanya dimungkinkan jika bagian DNA yang ingin diperbanyak
telah diketahui urutan basanya. Tahapan selanjutnya adalah menentukan dan menyiapkan primer
yang merupakan komplemen dari basa pada ujung-ujung bagian yang akan diperbanyak.
Pemeriksaan PCR sendiri merupakan suatu proses pencampuran antara DNA cetakan (template)
yang akan diperbanyak, dNTP, primer, enzim polimerase DNA dan larutan buffer dalam reaksi

50 ul atau 100 ul. Campuran ini dipaparkan pada 3 suhu secara berulang sebanyak n buah siklus
(biasanya dibawah 35 siklus).
Adanya mesin otomatis untuk proses ini membuat prosedurnya menjadi amat sederhana. DNA
hasil perbanyakan dapat langsung dianalisis dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose
atau gel poliakrilamide.
Lokus DNA yang dapat dianalisis dengan metode PCR, meliputi banyak sekali lokus VNTR
maupun RFLP lainnya, dian-taranya lokus D1S58 (dulu disebut D1S80) dan D2S44. Metode
analisis dengan PCR ini begitu banyak disukai sehingga penemuan-penemuan lokus DNA
polimorfik yang potensial untuk analisis kasus forensik terus terjadi tanpa henti setiap saat.

Proses PCR kini telah lebih disederhanakan dengan dibuatnya mesin PCR yang dapat
diprogram dengan komputer. Dengan alat Ther-mal Cycler ini kita tinggal mencampur
bahan, menaruhnya pada bagian atas alat ini, lalu mengatur program yang diinginkan dan
tinggal menunggu DNA memperbanyak diri hanya dalam beberapa jam saja. Sayangnya alat
semacam ini masih amat mahal harganya.
Pada masa sebelum berkembangnya teknologi bio-molekuler, identifikasi personal dilakukan
hanya dengan memanfaatkan pemeriksaan polimorfisme protein, seperti golongan darah, dengan
segala keterbatasanya. Keterbatasan pertama, ia hanya dimungkinkan dilakukan pada bahan yang
segar karena protein cepat rusak oleh pembusukan. Keterbatasan kedua, ia hanya dapat memberikan kesimpulan eksklusi yaitu "pasti bukan" atau "mungkin".
Pada metode konvensional, untuk mempertinggi ketepatan, kesimpulan pada kelompok yang tak
tereksklusi, pemeriksaan harus dilakukan terhadap banyak sistim sekaligus.
Penemuan DNA fingerprint yang menawarkan metode eksklusi dengan kemampuan eksklusi
yang amat tinggi membuatnya menjadi metode pelengkap atau bahkan pengganti yang jauh lebih
baik karena ia mempunyai ketepatan yang nyaris seperti sidikjari.

Dengan mulai diterapkannya metode PCR, kemampuan metode ini untuk memperbanyak DNA
jutaan sampai milyaran kali memungkinkan dianalisisnya sampel forensik yang jumlahnya amat
minim, seperti analisis kerokan kuku (cakaran korban pada pelaku), bercak mani atau darah yang
minim, puntung rokok dsb. Kelebihan lain dari pemeriksaan dengan PCR adalah kemampuannya
untuk menganalisis bahan yang sudah berdegradasi sebagian. Hal ini penting karena banyak dari
sampel forensik merupakan sampel postmor-tem yang tak segar lagi.
KEMATIAN MENDADAK
Pengertian kematian mendadak sebenarnya berasal dari kata sudden unexpected natural death
yang di dalamnya terkandung kriteria penyebab yaitu natural (alamiah, wajar). Mendadak disini
diartikan sebagai kematian yang datangnya tidak terduga dan tidak diharapkan, dengan batasan
waktu yang nisbi. Camps menyebutkan batasan kurang dari 48 jam sejak timbul gejala
pertama.
Oleh karena penyebabnya yang wajar, maka apabila kematian tersebut didahului oleh keluhan,
gejala dan terdapat saksi (apalagi bila saksinya adalah dokter, misalnya di klinik, puskesmas atau
rumah sakit) biasanya tidak akan menjadi masalah kedokteran forensik. Namun apabila kematian
tersebut terjadi tanpa riwayat penyakit dan tanpa saksi, maka dapat menimbulkan kecurigaan
bagi penyidik; apakah terkait unsur pidana di dalamnya. KUHAP pasal 133, 134 dan 135
memberi wewenang bagi penyidik untuk meminta bantuan dokter guna mencari kejelasan sebab
kematiannya.
Dalam menangani kasus kematian mendadak, autopsi disertai dengan pemeriksaan
histopatologik dan/atau toksikologik hampir selalu merupakan keharusan. Diagnosis atau
kesimpulan mengenai sebab kematian dapat dibagi dalam tiga kelompok :
Ditemukan kelainan organik yang derajat dan lokasinya dapat menjadi penyebab kematian.
Misalnya, infark miokard, apopleksi serebri.
Ditemukan kelainan organik yang dapat menerangkan kematiannya, namun tidak dapat
ditunjukkan secara langsung sebagai penyebab kematian. Misalnya, aterosklerosis berat, sirosis
hepatis, kanker, keadaan hipertoni.
Tidak ditemukan penyebab kematian, meskipun telah dilakukan pemeriksaan histopatologik,
toksikologik, bakterio-logik dan biokimiawi. Keadaan ini dikenal dengan un-determined causes
atau autopsi negatip.

Frekuensi kasus undetermined ini di dunia adalah 1-3%, sedangkan di Indonesia sukar
ditentukan karena banyak kasus yang tidak ditangani secara tuntas (penyidikan tidak dilanjutkan)
STATISTIK
Di Indonesia sukar didapat insidens kematian mendadak yang sebenarnya. Angka yang ada
hanyalah jumlah kematian mendadak yang diperiksa di Bagian Kedokteran Forensik FKUI.
Dalam tahun 1990, dari seluruh 2461 kasus, ditemukan 227 laki-laki (9,2%) dan 50 perempuan
(2%) kasus kematian mendadak sedangkan pada tahun 1991 dari 2557 kasus diperiksa 228 lakilaki (8,9%) dan 54 perempuan (2,1%) (lihat tabel).
Tabel. Jumlah kematian mendadak pada laki-laki & perampuan
(1990-91).
Tahun

Jumlah

Jumlah

Jumlah

Jumlah

seluruh

mati

kasus laki-

kasus

kasus
mendadak laki
perempuan
1990
2461
277(11,2%) 227 (9,2%) 50 (2%)
1991
2557
282(11%)
228 (8,9%) 54(2,1%)
Pada tahun-tahun terakhir ini, penyebab kematian tersering pada kasus kematian
mendadak adalah penyakit kardiovaskular, sedangkan pada beberapa dekade yang lalu
dilaporkan bahwa penyebab kematian tersering adalah penyakit infeksi saluran
pernapasan.
Sebagai perbandingan, dapat dilihat bahwa penyakit kardiovaskular ditemukan pada
61,6% dari 17.653 kasus kematian mendadak yang diperiksa di Hamburg dari tahun 1936
hingga 1964. Sedangkan Helpem dan Rabson melaporkan sebesar 44,9% dari 2030 kasus,
oleh Weyrich sebesar 42% dari 2668 kasus dan Lauren sebesar 51% dari 403 kasus.
PENYAKIT KARDIOVASKULAR
Lebih dari 50% penyakit kardiovaskular adalah penyakit jantung iskemik akibat sklerosis
koroner. Urutan berikutnya adalah miokarditis, kelainan katup, refleks viserovagal,
hipersensitifi tas karotid, sinkope vasovagal, ketidak- seimbangan asam basa dan elektrolit.
PENYAKIT JANTUNG ISKEMIK
Terjadinya sklerosis koroner dipengaruhi oleh faktor-faktor makanan (lemak), kebiasaan
merokok, genetik, usia, jenis kelamin, ras, diabetes melitus, hipertensi, stres psikis dan lain
lain.

Kematian lebih sering terjadi pada laki-laki daripada wanita. Sklerosis ini sering terjadi
pada ramus desendens arteria koronaria sinistra, pada lengkungan arteria koronaria
dekstra dan pada ramus sirkumfleksa arteria koronaria sinistra. Lesi tampak sebagai
bercak kuning-putih (lipoidosis) yang mula-mula terdapat di intima, kemudian menyebuk
ke lapisan yang lebih dalam. Kadang-kadang dijumpai perdarahan subintima atau ke
dalam lumen. Adanya sklerosis dengan lumen menyempit hingga pin point sudah cukup
untuk menegakkan diagnosis iskemik, karena pada kenyataannya tidak semua kematian
koroner disertai kelainan otot jantung!
Infark miokard adalah nekrosis jaringan otot jantung akibat insufiensi aliran darah.
Insufisiensi terjadi karena spasme dan/atau sumbatan akibat sklerosis atau trombosis.
Perlu dibedakan penggunaan istilah infark. Infark miokard adalah pengertian patologik
(gejala klinisnya bervariasi, bahkan kadang tanpa gejala apapun), sedangkan infark
miokard akut (MCI) adalah pengertian klinis (dengan gejala diagnosis tertentu).
Sumbatan pada ramus desendens a. koronaria kiri dapat mengakibatkan infark di daerah
septum bilik bagian depan, apeks dan bagian depan dinding bilik kiri. Sedangkan infark
pada dinding belakang bilik kiri disebabkan oleh sumbatan bagian arteria koronaria
kanan. Gangguan pada ramus sirkumfleksa arteria koronaria kiri hanya mengakibatkan
infark di daerah samping-belakang dinding bilik kiri.
Kematian pada infark miokard dapat terjadi melalui mekanisme fibrilasi ventrikel, asistol,
ruptur jantung dan emboli pulmonal masif.
Infark dini tampak sebagai daerah yang berwarna merah gelap atau hemoragik,
sedangkan infark lama tampak kuning-padat.
Mikroskopik jaringan iskemik memperlihatkan serat otot yang nekrotik, bergelombang
(wavy), eosinofilik, granulasi sitoplasma, membran sel mengabur, pola seran lintang
menghilang, perubahan inti, fragmentasi dan infiltrasi lekosit. Kelainan ini baru tampak
jelas pada usia infark 8-12 jam. Pemeriksaan histokimia terhadap enzim sitokrom oksidase
dan enzim suksinodehidrogenase dapat melihat infark yang berusia 1-2 jam. Serabut otot
ini kemudian akan digantikan oleh jaringan ikat pada fase berikutnya. Jaringan parut
baru tampak pada infark yang berusia 5 minggu hingga 3 bulan.

Infark yang berulang dapat mengakibatkan penggantian otot jantung dengan jaringan
ikat sehingga dinding jantung dapat menipis. Sedangkan ruptur jantung pada umumnya
justru terjadi pada infark yang pertama kali terjadi.
Tabel. Hasil analisa situasi pada saat kematian (Dotzauerdan Naeve)
Istirahat Pekerjaan se- Kerja
Sklerosis
Infark miokard
Trombosis tanpa

651
150
93

hari hari
663
89
76

infark
Ruptur
MIOKARDITIS

99

47

Stres

fisik
155
35
44

psikis
128
20
16

17

Miokarditis biasanya tidak menunjukkan gejala dan sering terjadi pada dewasa muda.
Diagnosis miokarditis pada kematian mendadak hanya dapat ditegakkan dengan
pemeriksaan histopatologik. Otot jantung harus diambil sebanyak minimal 20 potongan
dari 20 lokasi yang berbeda untuk pemeriksaan ini. Pada pemeriksaan histopatologik
tampak peradangan interstisial dan/atau parenkim, edema, perlemakan, nekrosis, degenerasi otot hingga miolisis. Infiltrasi lekosit berinti jamak dan tunggal, plasmosit dan
histiosit tampak jelas.
HIPERTONI
Hipertoni ditegakkan dengan adanya hipertrofi otot jantung disertai dengan tanda-tanda
lain seperti: (a) perbendungan atau tanda-tanda dekompensasi; (b) sklerosis pembuluh
perifer serebral (2/3 kasus); (c) status lakunaris pada ganglia basal; (d) sklerosis arteria
folikularis limpa; dan (e) arteriosklerosis ginjal.
Hipertrofi jantung tersendiri belum dapat menjelaskan kematian, meskipun dikatakan
bahwa berat 500 gram adalah batas berat jantung yang disebut sebagai berat kritis
(critical weighf). Hipertrofi jantung juga tidak selalu merupakan penyakit (misalnya
penyakit hipertensi menahun), tetapi dapat pula bersifat fisiologis, yang dapat dijumpai
pada sebagian atlet.
PENYAKIT PARU-PARU DAN SALURAN NAPAS
Kematian biasanya melalui mekanisme perdarahan, asfiksia dan/atau pneumotoraks.
Perdarahan dapat terjadi pada tuberkulosis paru, kanker paru atau kanker saluran nafas,
bronkiektasis, abses dan sebagainya. Sedangkan asfiksia terjadi pada pnemonia, spasme

saluran nafas, asma dan penyakit paru obstruktif menahun, aspirasi darah atau pada
tersedak. Pneumotoraks dapat terjadi bila bulla subpleural memecah ke dalam rongga
pleura.
PENYAKIT SUSUNAN SARAF PUSAT
Apopleksia serebri, ruptur neoplasma, trombosis, emboli, en-sefalitis, meningitis, malaria
merupakan penyakit susunan saraf pusat yang sering menimbulkan kematian mendadak.
Pernah ditemukan kasus dengan aneurisma pembuluh darah otak yang meninggal melalui
perdarahan intraserebral setelah mengalami trauma kepala yang relatif ringan. Dalam hal
ini kematian bukanlah semata-mata kematian wajar (natural), karena adanya trauma;
meskipun trauma yang sama pada orang lain yang normal (tidak mempunyai aneurisma)
tidak akan mengakibatkan kematian. Jadi, trauma tersebut merupakan pencetus pecahnya
aneurisma yang sudah ada.
PENYAKIT SISTEM PENCERNAAN
Penyakit pada sistem pencernaan yang menyebabkan ke-matian mendadak adalah perdarahan
pada sirosis hepatis, pan-kreatitis akut hemoragik dan enteritis/gastroenteritis disertai dengan
dehi drasi, rupturnya gaster atau duodenum pada ulkus peptikum serta ruptur usus pada penyakit
tyfoid atau appendisitis.
Penyakit-penyakit lainnya adalah penyakit penyulit kehamilan, sepsis, gangren, reaksi alergi
terhadap endotoksin penyakit auto-imun, reaksi anafilaktik terhadap obat-obatan dan sebagainya.
KEMATIAN MENDADAK PADA ANAK-ANAK
Diagnosis penyebab kematian mendadak pada anak-anak tidaklah semudah pada orang dewasa,
sehingga jumlah kasus yang tidak tuntas atau disebut morfologik tidak jelas mempunyai insidens
lebih tinggi dibandingkan pada kasus dewasa. Mahnke melaporkan sebesar 3,8%, Muller: 4,5%,
Schoppe: 20%, Stewens: 82%, Takats dan Somogyi, hampir semua kasus, bahkan Ludwig dan
kawan-kawan: 100%!
Kasus kematian mendadak pada anak-anak di Indonesia sangat jarang ditemukan. Beberapa
penulis memang mengatakan bahwa kematian ini hanya sering terjadi di daerah/negara yang
mempunyai musim dingin, dan dari penyakit-penyakit pada sistem pernafasan, pnemonia
menduduki tempat teratas, disusul oleh bronkitis/bronkioiitis. Kadang-kadang dijumpai juga
adanya aspirasi isi lambung.
TAMBAHAN UNTUK HALAMAN 164.

TINDAKAN MEDIK TERTENTU


Undang-undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 15 mengatur tentang tindakan medik
tertentu yang dapat dilakukan oleh dokter terhadap wanita hamil dengan persyaratan tertentu.
Pasal 15 UU Kesehatan :
(1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau
janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
(2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan :
a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut.
b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan
sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli.
c. Dengan persetujuan ibu hamil ybs atau suami atau keluarganya.
d. Pada sarana kesehatan tertentu.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dan (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Penjelasan Pasal 15 UU Kesehatan :
(1) Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun dilarang
karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan, dan norma
kesopanan. Namun, dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan atau
janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu.
a. Penjelasan per butir:
Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambilnya tindakan medis
tertentu, sebab tanpa tindakan medis tertentu itu, ibu hamil dan atau janinnya terancam bahaya
maut.
b. Tenaga kesehatan yang dimaksud adalah dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan.
Sebelum melakukan tindakan tersebut, ia harus meminta pertimbangan tim ahli yang dapat
terdiri dan berbagai bidang seperti medis, agama, hukum dan psikologi.
c. Hak utama memberikan persetujuan adalah ibu-hamil ybs, kecuali dalam keadaan tidak sadar
atau tidak dapat memberikan persetujuan, dapat dimintakan dari suami atau keluarganya.
d. Sarana kesehatan tertentu adalah sarana yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai
dan telah ditunjuk oleh Pemerintah.
Saat ini Peraturan Pemerintah tentang Tindakan Medis Tertentu ini sedang dalam pembahasan.

E R RATA
HAL
2

BARIS
3

10

TERCETAK
dituntut
undang-undang

SEHARUSNYA
diharapkan
peraturan

dengan pidana penjara

perundangundangan
dan etik kedokteran
dengan sanksi sesuai
dengan
peraturan

14

30
31
11

perundangundangan
yang berlaku.
keterangan ahli maupun surat
surat
keterangan
keterangan tertulis
permintaan
permintaan tertulis
yang memerlukan
untuk sementara waktu

34
37-54

43

14

pengobatan jalan selama...


A. Tanda kematian
tidak pasti
B. Tanda pasti kematian
keterangan gambar:
.... pembukuh
kecoklatan
kekerasan benda tumpul
kekerasan benda tajam
hanya bagian ujung

45
46
59
70

10
8
5
16

benda saja yang menyentuh


kulit
lepas laras
produk
Manual Stangulation
destruksi jaringan dan

71

34-35

golongan halogen

lepas dari ujung laras


produk
Manual Strangulation
destruksi jaringan pemeriksaan getah paru dan
golongan halogen seperti

seperti fenol, lisol...

klor,
yodium; golongan fenol,

dicocoki
9.3 10.2 mm
oleh polisi

lisol...
dicekoki
9.3-10.2 mm
oleh polisi bersama dengan

26

17
38

75
82
86

38
akhir
29

A. Tanda kematian dini


B. Tanda kematian lanjut
.... pembuluh ...
kecoklatan
kekerasan tumpul
kekerasan tajam
ditusukkan sambil
didorong ke
arah mata pisau

138
172
173
180

183

8
3
5
11
14
17
18
23
31
15

18

191

sejak
lebih dari 32 cm
3 minggu 1 bulan
54 dan 59
54-59
56
52
64
53 dan 57
Kidd, P, Sekretor/Nonsekretor, Antigen

dokter pemeriksa
pada
lebih dari 23 cm
3 minggu -1 bulan
541 dan 576 nm
sekitar 556 nm
558 nm
528 nm
640 nm
530 dan 570 nm
Kidd, P dan lain-lain

Limfosit
Manusia (HLA) dan lain-lain
misalnya sistem Gm,
misalnya sistem protein
Gc,
Haptoglobin (Hp)

serum
seperti Gm, Gc,

19

enzim misalnya

Haptoglobin,
enzim sel darah merah

23

(G6PD), yang terdapat

misalnya
(G6PD); serta sistem lain

dalam serum

seperti
Antigen Limfosit Manusia

karena mungkin tidak

(HLA)
dan sekretor/non-sekretor
karena bahan tersebut

berfloure
memberi flouresensi
sensi seperti bercak semen
211
21
90 95 derajat
90 - 95 derajat
Terdapat pula salah cetak yang tidak mengubah arti, dan tidak dicantumkan dalam errata.