Anda di halaman 1dari 8

Daerah dan Perubahan Iklim

Jejaring Aksi Perubahan Iklim Lokal

No. 04, Mei 2014

AGENDA

GIR Training Program For GHG Inventory & Mitigation Modeling. Date July 3 - 25, 2014;Republic Of Korea.

BEASISWA

KOMPETISI

TOKOH

Paper Competition, Abstracts Due: April 30, 2014 TOKOH Tokoh Edisi ini, IR. KODERI  BERITA SEBARKAN

Tokoh Edisi ini, IR. KODERI

BERITA

30, 2014 TOKOH Tokoh Edisi ini, IR. KODERI  BERITA SEBARKAN PERUBAHAN IKLIM, PAKLIM GANDENG UNIVERSITAS

SEBARKAN PERUBAHAN IKLIM, PAKLIM GANDENG UNIVERSITAS & LSM

10-13 Februari 2014

SURABAYA-Untuk membantu kabupaten dan kota dalam merespon perubahan iklim, PAKLIM menjalin kerjasama dengan universitas dan LSM. Penandatanganan kerjasama dilakukan antara PAKLIM dengan ITS, Universitas Brawijaya, Yayasan Paramitra, Yayasan Gita Pertiwi, Bina Karta Lestari (BINTARI), dan Initiative for Urban Climate Change and Environment (IUCCE), Selasa (10/2) di Hotel Sahid Surabaya. Masing- masing universitas dan LSM selanjutnya memperoleh pelatihan mengenai penilaian risiko perubahan iklim, perhitungan dan analisa emisi Gas Rumah Kaca (GRK), dan penyusunan strategi terpadu perubahan iklim. Setelah penandatanganan kerjasama, universitas dan LSM tersebut selanjutnya mendapat Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainers) selama tiga hari mengenai penilaian risiko iklim dan perhitungan serta analisa emisi GRK. Sebelumnya, pelatihan tentang pengenalan perubahan iklim juga telah diberikan pada September 2013 di Yogyakarta. Pelatihan akan diberikan sebanyak tiga kali untuk menggenapi seluruh metodologi penyusunan strategi perubahan iklim terpadu. Selanjutnya, universitas dan LSM akan ditugaskan untuk membantu kabupaten di Jawa Tengah dan Timur. Yayasan Bina Karta Lestari (BINTARI) bersama IUCCE membantu Kabupaten Semarang, Yayasan Gita Pertiwi membantu Kabupaten Sukoharjo, Yayasan Paramitra dan Universitas Brawijaya membantu Kabupaten Malang dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (LPPM ITS) untuk Kabupaten Probolinggo. Sumber : http://www.paklim.org/tot2-and-ca-signing-paklim-lsps/#sthash.4HIZkPxu.dpuf

RESPON PERUBAHAN IKLIM, KABUPATEN MALANG SUSUN STRATEGI

26 Februari 2014

MALANG-Untuk merespon perubahan iklim, Kabupaten Malang mengadakan sosialisasi kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan GIZ dalam Program Advis untuk Kebijakan Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (PAKLIM). Kabupaten Malang menjadi salah satu pihak yang menjadi penerima kegiatan PAKLIM. Sosialisasi diselenggarakan Rabu (26/2) bertempat di Ruang Kertanegara Kabupaten Malang. Kegiatan ini dibuka Asisten Pemerintahan, Drs. Eko Suwanto, disampingi Team Leader PAKLIM Area Kerja 2, Philipp Munzinger.

1

Daerah dan Perubahan Iklim

Jejaring Aksi Perubahan Iklim Lokal

No. 04, Mei 2014

Dalam sambutannya, Drs. Eko Suwanto menekankan bahwa strategi perubahan iklim yang nantinya tersusun harus dapat diimplementasikan sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Sosialisasi ini dilanjutkan dengan pelatihan tentang pengantar dan kebutuhan informasi perubahan iklim. Pelatihan diikuti oleh Tim Teknis sejumlah 32 peserta yang berasal dari jajaran SKPD Pemerintah Kabupaten Malang. Pelatihan dilakukan oleh tim konsultan lokal yang terdiri dari tenaga ahli Yayasan Paramitra Jawa Timur dan Universitas Brawijaya. (AM)

TRANSFER PENGALAMAN, JERMAN KIRIM PENASEHAT PEMBANGUNAN KE JAWA TIMUR

24 Februari 2014

PROBOLINGGO Untuk mendorong percepatan pembangunan yang berkelanjutan di Jawa Timur, Pemerintah Federal Jerman melalui PAKLIM mengirimkan tiga penasehat pembangunan. Ketiga penasehat pembangunan ditugaskan di Kota Probolinggo (Ulrich Malisius), Kota Malang (Jeannette Giegerich) dan Kota Batu (Reinhard Walter). Program ini mulai dikenalkan di kota-kota mitra PAKLIM di JawaTimur pada Mei 2013. Program yang dibiayai oleh PAKLIM ini didasarkan pada permintaan kota-kota mitra, sesuai dengan kebutuhan pembangunannya. Penugasan penasehat pembangunan

dilakukan agar kegiatan perubahan iklim dapat memperoleh pendampingan lebih intensif. Penasehat pembangunan menjadi satu tim dengan SKPD/lembaga tertentu setidaknya dalam selama dua tahun dan dapat diperpanjang sampai dengan empat tahun. Kota Probolinggo menjadi kota pertama yang menerima penasehat pembangunan (1/12/2013) disusul Kota Batu, dan Kota Malang. Masing-masing penasehat pembangunan memiliki keahlian yang berbeda sesuai kebutuhan pemerintah. Kota Probolinggo memperoleh ahli perencanaan kota dan lingkungan, Kota Batu ahli perlindungan dan pengelolaan sumber air (24/2/2014) sedangkan Kota Malang memperoleh ahli pendidikan lingkungan. Ketiganya bekerja bersama POKJA Perubahan Iklim masing-masing kota. (AM)

bersama POKJA Perubahan Iklim masing-masing kota. (AM) Reinhard Walter (tengah, belakang) dan isteri (Ibu Larisa),

Reinhard Walter (tengah, belakang) dan isteri (Ibu Larisa), berfoto bersama dengan Kepala BAPPEDA Kota Batu (belakang kanan) dan staff, didampingi Team Leader PAKLIM WA 2 (depan kanan).

DUA KABUPATEN DI JAWA TENGAH MULAI RENCANAKAN STRATEGI PERUBAHAN IKLIM

2-3 April 2014

SEMARANG-Dua kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Sukoharjo dan Semarang mulai mengembangkan strategi perubahan iklim terpadu. Pengembangan strategi diawali dengan penyelenggaraan lokakarya tentang keterkaitan perubahan iklim dengan pemerintah daerah di kedua kabupaten. Kedua lokakarya diselenggarakan 2 April 2014 untuk Kabupaten Semarang dan 3 April 2014 untuk Kabupaten Sukoharjo. Lokakarya ini ditujukan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, perwakilan LSM, dan perusahaan. Ketiga pihak sekaligus dikukuhkan sebagai Tim Kelompok Kerja (Pokja) Perubahan Iklim, yang selanjutnya menjadi motor dalam penyusunan strategi perubahan iklim. Dalam sambutannya Kepala BLH Kabupaten Semarang, Ir. Nurhadi Subroto, MM menegaskan pentingnya peran swasta dalam perubahan iklim di Kabupaten Semarang karena sumber dan dampaknya mempengaruhi operasi perusahaan. Sementara itu, Kepala BLH Kabupaten Sukoharjo, Ir. Suraji, MT berharap pengendalian GRK tidak hanya menjadi urusan BLH. Semua pihak yang mengeluarkan emisi GRK harus berpartisipasi menurunkannya. Lokakarya ini ditindaklanjuti dengan pelatihan tentang pengantar dan kebutuhan informasi perubahan iklim pada April 2014. Digawangi oleh Yayasan Gita Pertiwi untuk Kabupaten Sukoharjo dan konsorsium Yayasan BINTARI dan IUCCE untuk Kabupaten Semarang, kegiatan berjalan interaktif. Dengan dimulainya kegiatan di kedua kabupaten ini, PAKLIM telah membantu 17 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah, Timur dan DI Yogyakarta.(RB) Sumber: http://www.paklim.org/two-central-java-region-initiate-their-climate-change-strategies/

2

Daerah dan Perubahan Iklim

Jejaring Aksi Perubahan Iklim Lokal

No. 04, Mei 2014

BURSA WORKSHOP PENGATURAN KELEMBAGAAN UNTUK MRV

26-27 Maret 2014

BERLIN-Pada tanggal 24-28 Maret 2014, PAKLIM bekerjasama dengan International Partnership on Mitigation and MRV dan BMUB Information Matters, menyelenggarakan “Exchange on Measurement, Reporting and Verification of Climate Mitigation Policies and Measures” di Berlin, Jerman. Kegiatan ini mencakup kegiatan site visit serta 2 hari lokakarya bertajuk “Institutional Arrangements for MRV” yang diikuti oleh 25 peserta dari pemerintah dan organisasi/lembaga dari Indonesia, Chili, Jerman, Mexico, Filipina, dan Belgia. Delegasi dari Indonesia berjumlah 12 peserta dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Bappenas, Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, BLH Propinsi Jawa Tengah, BLH Propinsi Jawa Timur, serta CCROM IPB. Kunjungan dilakukan ke IKEA Berlin-Lichtenberg terkait kegiatan energi efisiensi pada bangunan (24 Maret 2014); desa mandiri energi Feldheim terkait pembangkitan energi terbarukan (25 Maret 2014); pabrik semen CEMEX terkait carbon accounting dari proses produksi semen (28 Maret 2014); dan Verkerhsinformationszentrale Berlin selaku penyedia layanan sistem informasi lalu lintas Berlin terkait sistem pendataan moda transportasi dan polusi udara (28 Maret 2014). Lokakarya “Institutional Arrangements for MRV” diselenggarakan pada tanggal 26-27 Maret 2014 yang dimaksudkan sebagai forum diskusi mengenai perkembangan terakhir MRV di negara berkembang dan pengaturan kelembagaannya. Diskusi membahas antara lain peran penting inventarisasi GRK nasional dalam mengembangkan kecenderungan emisi GRK, persepsi mengenai best practice dari penghitungan GRK dan MRV,serta pendekatan MRV untuk aksi mitigasi di masing-masing negara. Informasi lebih lengkap mengenai hasil diskusi lokakarya serta bahan presentasi dapat diunduh melalui situs Paklim. Kontributor: Trita Katriana Sumber: http://www.paklim.org/26-27-march-2014-exchange-workshop-on-institutional-arrangements-for-mrv/

LAJU PENINGKATAN EMISI LAMPAUI UPAYA MITIGASI

28 Maret 2014

Penurunan emisi GRK dari upaya mitigasi tidak mampu mengendalikan laju emisi. Laju emisi telah jauh melampaui skenario Business as Usual yang diperkirakan sebelumnya. Demikian disampaikan Manajer Area Kerja 2 PAKLIM, M. Nurhadi dalam paparannya di depan peserta rapat koordinasi Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan, Kamis (28/03) di BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah. Ditambahkannya, pantauan PAKLIM di Kota Pekalongan menunjukkan penurununan emisi dari upaya mitigasi tahun 2012 hanya menurunkan emisi GRK sebanyak 1.029 ton CO2e sementara dari kegiatan yang sama diperoleh penurunan emisi sebesar 3.800 ton CO2e pada tahun 2013. Padahal kenaikan pertumbuhan emisi GRK mencapai lebih dari seratus ribu ton CO2e. Sebelumnya, emisi GRK diperkirakan mencapai sekitar 520.000 ton CO2e namun inventarisasi GRK menjukkan emisi sudah mendekati 700.000 ton CO2e pada tahun 2012. Meskipun penurunan emisi dari upaya mitigasi relatif kecil, hal tersebut tetap perlu dipantau dan dilaporkan bersama RAD GRK provinsi ke Sekretariat RAN GRK. Hal ini untuk mengetahui jumlah kontribusi pemerintah daerah terhadap komitmen nasional. “Selama ini yang kami terima hanya penurunan emisi dari provinsi padahal yang dilakukan kabupaten/kota sudah banyak tetapi belum dilaporkan ke provinsi”, demikian dikatakan Atjeng Kadaryana dari sekretariat RAN GRK. Atjeng menambahkan rapat koordinasi ini diharapkan dapat mengumpulkan aksi-aksi mitigasi kabupaten/kota untuk dipantau, dievaluasi, dan dilaporkan menggunakan panduan PEP nasional agar sinkron dengan kebijakan pusat. Menanggapi permintaan tersebut, peserta yang berasal dari BLH dan BAPPEDA Kota Semarang, Pekalongan, Salatiga, Surakarta, Kabupaten Pekalongan dan Batang akan berupaya mendaftar aksi-aksi mitigasi yang sudah dilakukan. Daftar aksi mitigasi akan diperhitungkan bersama BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah dan PAKLIM. (MN)

3

Daerah dan Perubahan Iklim

Jejaring Aksi Perubahan Iklim Lokal

No. 04, Mei 2014

INISIASI EFISIENSI ENERGI PJU TANPA APBD

3 April 2014

2014 INISIASI EFISIENSI ENERGI PJU TANPA APBD 3 April 2014 Rbupati Batang Yoyok Riyo Sudibto (ketiga

Rbupati Batang Yoyok Riyo Sudibto (ketiga dari kiri) menunjukkan naskah kerjasama bersama tiga perusahaan swasta untuk efisiensi energi di PJU

BATANG-mulai menginisiasi penghematan energi dari lampu penerangan jalan. Upaya efisiensi energi ini akan dicoba tanpa menggunakan dana APBD. Caranya, Pemerintah Kabupaten Batang menjalin kerjasama dengan perusahaan swasta dalam penyediaan fasilitas iklan. Fasilitas iklan dibuat sekaligus dengan tiang penerangan jalan. Tiang penerangan jalan yang dibangun akan memiliki tiga fungsi yakni sebagai penerangan, tempat pemasangan iklan, dan antena 4G bagi penyedia layanan telepon. Demikian disampaikan direktur PT. Pillar 4 Consult, Permadi Budiatma, S.Sos dalam penandatanganan naskah kerjasama.

Penandatanganan kerjasama dilakukan Kamis, 3 April 2014 di Kantor BAPPEDA Kabupaten Batang. Kerjasama dilakukan dengan tiga pihak yakni dengan PT. Pillar 4 Consult dalam pemetaan dan perancangan PJU Multifungsi, dengan PT. Karabi Batang Sembada dalam konstruksi PJU Multifungsi, dan PT. Sucofindo dalam audit energi. Untuk memperkuat komitmen kerjasama, penandatanganan tersebut juga dihadiri tujuh produsen lampu dari Cina. Dalam laporannya Kepala BAPPEDA, Ir. Ketut Mariadji mengatakan ide efisiensi energi di PJU diperoleh dari PAKLIM untuk menurunkan emisi GRK. Namun pembiayaan dari APBD sangat sulit dilakukan sehingga dicari terobosan melalui kerjasama dengan swasta. Dalam sambutannya Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo menekankan bahwa kerjasama ini harus berhasil karena beban rekening listrik yang tinggi. “penggantian lampu ini menguntungkan dari segi bisnis. Oleh karena itu kalau di swasta bisa, di pemerintah seharusnya juga bisa”, imbuhnya. Saat ini Kabupaten Batang memiliki sekitar 3.000 titik lampu dengan rekening listrik sekitar Rp. 900 juta per bulan. Apakah efisiensi PJU tanpa APBD memungkinkan? Simak laporan Daerah dan Perubahan Iklim volume berikutnya.(MN)

KOTA DAN KABUPATEN PROBOLINGGO PEROLEH SMALL GRANT FACILITY 2014

11 April 2014

PROBOLINGGO- Berkat dukungan BLH Kota dan Kabupaten Probolinggo serta PAKLIM, Kelompok Tani Sinar Pagi dari Kota Probolinggo dan Kelompok Tani Tambak Sido Agung dari Kabupaten Probolinggo berhasil mendapatkan small grant facility (fasilitas hibah kecil) dari Mangrove for the Future (MFF). MFF merupakan program yang dimotori oleh IUCN dan UNDP untuk mempromosikan investasi di ekosistem pesisir terutama mangrove. Konservasi dan rehabilitasi mangrove menjadi program yang mendukung adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Mangrove dapat membantu dalam penyerapan emisi GRK sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap ancaman meningkatnya muka air laut, cuaca ekstrim dan kerusakan lingkungan. Pada Jum’at (11/4) seluruh penerima fasilitas hibah kecil telah melakukan penandatanganan kerjasama di Wisma Bogor Permai, Kota Bogor. Kelompok Tani Sinar Pagi yang diketuai oleh Mukhlis akan memfokuskan kegiatannya pada rehabilitasi mangrove seluas 10 Ha di Ketapang Kota Probolinggo sedangkan Kelompok Tani Tambak Sido Agung yang diketuai oleh Bambang Taufik akan melakukan kegiatan rehabilitasi lahan tambak dengan pendekatakan sistim silvo fishery di Kraksaan Kabupaten Probolinggo. Pelaksanaan kegiatan ini dimulai akhir April 2014 diselesaikan pada April 2015. Untuk mendukung kegiatan ini, BLH Kota dan Kabupaten Probolinggo selaku pembina akan terus melakukan koordinasi dan pendampingan terhadap kedua kelompok tani ini selama proyek berlangsung.(FA)

4

Daerah dan Perubahan Iklim

Jejaring Aksi Perubahan Iklim Lokal

MEMBANGUN KAMPUNG MANDIRI ENERGI DI KOTA BATU

April 2014

No. 04, Mei 2014

BATU-Penduduk Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kota Batu tidak perlu resah dengan kenaikan harga elpiji yang telah diumumkan Pemerintah. Saat ini 70 % penduduk Dusun Toyomerto telah memanfaatkan biogas dari kotoran ternak sebagai sumber energi. Kehadiran program biogas ini membuat petani girang, karena selain sebagai sumber energi, ternyata bio-slurry atau ampas biogas dapat digunakan sebagai pupuk aneka tanaman. “Pada awalnya bukanlah perkara mudah untuk meyakinkan masyarakat agar mau menerima program biogas ini. Namun setelah melihat salah satu kelompok tani yang berhasil memanfaatkan biogas, akhirnya masyarakat berlomba-lomba meminta bantuan digester biogas” ujar pembina program biogas KLH Batu , Sri Wahyuni. Keberhasilan program biogas di Dusun yang juga didaulat menjadi Kampung Proklim (Program Kampung Lingkungan) ini tak terlepas dari peranan KLH Batu yang terus memberikan dukungan dengan memberikan bantuan digester biogas kepada kelompok tani sejak tahun 2006. Untuk menjamin keberhasilan program biogas, KLH juga kerap melakukan pendampingan dan monitoring ke kelompok petani yang telah memanfaatkan biogas hingga tahun 2013, KLH Kota Batu telah memberikan bantuan sebanyak 13 unit digester dengan memanfaatkan sekitar 355 ekor sapi perah. Digester dengan kapasitas kecil mampu menghasilkan biogas untuk tiga rumah sedangkan yang berkapasitas besar mampu menyediakan biogas untuk 9 rumah. Diperkirakan biogas yang dihasilkan dapat menggantikan penggunaan sekitar 11,9 ton LPG pertahun sehingga dapat menurunkan emisi setara 35 ton CO2e per tahun.(EW)

KEKOMPAKAN DALAM PERAYAAN HARI BUMI

20 April 2014

tahun.(EW) KEKOMPAKAN DALAM PERAYAAN HARI BUMI 20 April 2014 SEMARANG - “Bumikan Hari mu! Bumikan Hari

SEMARANG - “Bumikan Hari mu! Bumikan Hari mu!” menjadi yel yel bersama yang terus diserukan oleh Oxygen 16 Mapala Undip, Badan Lingkungan hidup Provinsi Jawa Tengah, Pramuka, PAKLIM, dan Komunitas Pecinta Capung. Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April tersebut sengaja mereka peringati lebih awal yaitu tanggal 20 April bertepatan dengan Car Free Day yang biasa dilakukan setiap minggu pagi di Jalan Pahlawan dan Simpang Lima. Kegiatan diikuti lebih dari 200 peserta dengan berorasi dan mengelilingi lapangan Pancasila, Simpang Lima. Kondisi bumi yang semakin mengkhawatirkan, pencemaran dimana-mana, bencana alam yang silih berganti dan semakin langkanya spesies-spesies tertentu termasuk capung menjadi alasan kegigihan mereka untuk memperingati hari bumi dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terus menjaga bumi ini. Tak ketinggalan peningkatan emisi GRK dan perluasan genangan rob di Kota Semarang juga menjadi isu yang diteriakkan. Kegiatan ini cukup menyita perhatian masyarakat yang berada dilokasi. Beberapa dari mereka menunjukkan dukungan dengan mendengarkan orasi, bergabung dalam barisan atau hanya sekedar berfoto. Beberapa anak- anak, mahasiswa dan bahkan polisi wanita terlihat mengabadikan diri didepan parade. “Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, tapi kita meminjamnya dari anak – anak kita. Apakah kita akan mengembalikan bumi dalam kondisi rusak dan tercemar?teriak salah satu orator yang dijawab tidak secara serempak oleh peserta. Peringatan hari bumi ini adalah langkah sederhana menyadarkan dan mengingatkan masyarakat bahwa bumi itu satu, bumi itu harus dijaga dan dilestarikan. Jika bukan kita lalu siapa lagi? Jika bukan dari sekarang, lalu kapan lagi? (RB)

5

Daerah dan Perubahan Iklim

Jejaring Aksi Perubahan Iklim Lokal

No. 04, Mei 2014

DIDUKUNG ICCTF, SURAKARTA KEMBANGKAN SISTEM INFORMASI EFISIENSI ENERGI PJU

24 April 2014

SURAKARTA Akademi Teknik Mesin Indutri (ATMI) Surakarta, Kamis (24/4) memperoleh kepastian dukungan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) untuk mengembangkan Sistem Informasi Efisiensi Energi di PJU. Sistem ini akan diterapkan di Kota Surakarta untuk mengendalikan penggunaan dan rekening listrik yang sangat tinggi dan membebani pemerintah kota. Usulan ini telah dibahas antara ATMI, BLH dan DKP Kota Surakarta dan menjadi salah satu prioritas penuruna emisi GRK selain Solo Batik Trans dan pengelolaan TPA Putri Cempo. Sistem informasi ini akan memberikan kemudahan dalam penyediaan data, perencanaan, analisa kelayakan, pengendalian PJU. Dengan menggunakan basis Sistem Informasi Geografis (SIG), data dan analisa dapat ditunjukkan secara rinci di masing-masing lokasi jaringan. Dengan mengklik gambar di komputer maka informasi yang diinginkan dapat ditampilkan dengan cepat dan akurat. Informasi jumlah, jenis, daya, harga, umur pakai, dan lokasi dapat disematkan dalam perangkat komputer. Analisa kelayakan investasi berdasarkan jenis-jenis lampu juga dapat dilakukan sehingga dapat digunakan untuk merencanakandan mengendalikan penggunaan listrik di PJU. Pengembangan sistem ini menarik untuk memberi kepastian investasi dalam efisiensi energi, yang selama ini menjadi kendala pemda dalam efisiensi PJU. Namun demikian, aplikasi sistem ini tidak secara otomatis menurunkan emisi GRK jika tanpa diikuti oleh penggantian perangkat lampu, meterisasi, dan perangkat pendukung lainnya. Oleh karena itu, tugas berat menunggu Pemkot Surakarta untuk menggunakan sistem ini mendukung perencanaan dan pelaksanaan efisiensi energi. Mari kita tunggu hasilnya.

BEBAS ELPIJI DENGAN BIOGAS

April 2014

BLITAR - Menapaki lokasi Biogas di belakang rumah Pak Kasdi, RT 02 RW 05 Kelurahan Ngadirejo Kota Blitar, kesan kotor dan bau pada kandang sapi tidak terasa. Kandang tersebut tampak bersih dengan 10 ekor sapi yang sedang lahap memakan “ramban”. Pak Kasdi dengan bersahaja bercerita bahwa kondisi seperti ini sudah berlangsung sekitar 5 bulan setelah mendapat bantuan pembangunan instalasi biogas dari Pemerintah Kota Blitar melalui Kantor Lingkungan Hidup. “Kotoran yang dihasilkan sapi dimasukkan ke dalam digester biogas sehingga kondisi kandang jauh lebih bersih”, ujarnya. Mengelola biogas sudah menjadi aktivitas sehari-sehari Pak Kasdi sejak November 2013 disamping merawat sapi-sapinya yang sudah memberikan nafkah kepada keluarganya selama ini. Dari hasil kotoran sapi tersebut, dapur rumahnya sudah tidak membutuhkan gas elpiji lagi. “Setiap hari istri saya memasak menggunakan biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi”, ujar Pak Kasdi sambil menunjukkan kompor biogasnya. “Selain itu hasil biogas ini sudah disalurkan juga kepada tujuh tetangga saya. Mereka hanya membayar penggantian biaya penyambungan saluran biogas ke masing-masing rumah”. “Untuk tujuh rumah biogasnya apa cukup Pak?”, tanya Pokja Perublim Kota Blitar ketika mengunjungi

lokasi.

“Masih cukup. Selain untuk kompor, biogas ini juga dimanfaatkan untuk lampu penerangan di kandang, sehingga saya tidak pelu menggunakan listrik PLN untuk menerangi kandang”, ujarnya bangga sambil menyalakan lampu biogasnya. “Bagaimana dengan masakan hasil biogas, apa tidak berbau?” “Masakannya enak, seperti hasil elpiji, tidak berbau kotoran sapi”, ujarnya sambil tertawa lebar. Kemudian kami diajak ke dapur Pak Kasdi. Beliau menerangkan cara menggunakan kompor biogas. Sangat mudah, hanya menggunakan pemantik api atau korek biasa. “Bapak tidak takut biogasnya meledak?”

6

Daerah dan Perubahan Iklim

Jejaring Aksi Perubahan Iklim Lokal

No. 04, Mei 2014

“Ini sudah ada pengontrolnya dengan selang yang berisi air seperti yang terdapat di dinding ini” Pak Kasdi menunjuk selang berisi air yang menempel di dinding persis seperti bejana berhubungan di pelajaran SD. Selain untuk memasak, Pak Kasdi mengembangkan sendiri untuk lampu dan menambah cakupan pemanfaatan biogas dari empat menjadi delapan KK secara swadaya. Tahun 2013, selain di rumah Pak Kasdi, Pemkot Blitar membangun satu unit biogas di rumah Haji Musa RT 02 RW 05 Kelurahan Pakundenyang dapat digunakan untuk enam KK. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut hasil Kunjungan Lapang Pokja Perublim Kota Blitar ke Biogas Kota Batu pada Workshop Integrasi ICCS Tahun 2012 lalu. Biogas di rumah Pak Kasdi sudah dikunjungi oleh Tm Mercy Corps Amerika dan PAKLIM sebagai lokasi kegiatan yang mendukung penggunaan energi alternatif untuk menurunkan emisi GRK. Ke depan, Pemkot Blitar akan menambah Biogas karena manfaatnya dirasakan nyata

oleh masyarakat. Hayo

siapa

mau menyusul

?.

Kontributor: Elly Tartati R.

KISAH

SAMPAH: SUMBER INSPIRASI, SUMBER INOVASI

R.  KISAH SAMPAH: SUMBER INSPIRASI, SUMBER INOVASI Salah Satu Taman di Zona Pasif TPA Talangagung,

Salah Satu Taman di Zona Pasif TPA Talangagung, Kepanjen, Kabupaten Malang

Untuk mewujudkan lingkungan yang sehat dan masyarakat yang pro-environment, berbagai inovasi telah dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Malang terkait pengelolaan sampah. Salah satu inovasi yang menjadi andalan Kabupaten Malang adalah TPA Talangagung di Kepanjen yang diresmikan sebagai TPA wisata edukasi oleh Gubernur Jawa Timur pada tahun 2011. Ketika memasuki gerbang TPA Talangagung , mungkin anda akan terkejut atau takjub karena para pengunjung akan disuguhi pemandangan yang cukup memukau untuk sebuah TPA. TPA Talangagung yang ikut dikelola masyarakat ini juga telah dilengkapi dengan instalasi penangkap gas metana yang langsung disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Keunikan lainnya dari TPA ini adalah alat ukur laju alir gas metana dibuat dengan memodifikasi alat ukur laju air. Selain di TPA Talangagung, inovasi lain yang tidak kalah uniknya dapat ditemukan di TPA Paras, Poncokusumo dimana gas metana ditangkap dengan menggunakan bambu petung yang dianggap lebih awet. Selain bergelut dengan pengelolaan sampah di TPA, kegiatan pengelolaan sampah dengan metode 3R juga menjadi andalah Pemkab Malang untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke

TPA. TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) 3R Mulyoagung merupakan salah satu TPST 3R paling sukses yang dijadikan percontohan nasional. Saat ini TPST Mulyoagung sudah dikelola secara mandiri oleh masyarakat dan telah memiliki 78 karyawan. TPST 3R ini mampu mendaur ulang sampah yang masuk hingga hanya menyisakan

16% residu untuk dikirim ke TPA. Adapun inovasi yang dilakukan di TPST 3R Mulyogung adalah dengan memanfaatkan belatung yang timbul dari pengolahan sampah sebagai santapan ikan nila yang dibudidayakan di sekitar TPST sehingga populasi lalat tidak membludak. Dengan keberhasilan pengolahan sampah berbasis masyarakat di kabupaten Malang, maka tidak heran jika TPA Talangagung dan TPST 3R Mulyoagung telah banyak memberikan inspirasi bagi kalangan pemerintah kota lain maupun akademisi yang melakukan studi banding di kedua tempat ini.

7

Daerah dan Perubahan Iklim

Jejaring Aksi Perubahan Iklim Lokal

TOKOH

No. 04, Mei 2014

IR. KODERI, SANG ARSITEK TPA

Pemerintah Kabupaten Malang patut berbangga dengan tokoh kita kali ini, Ir. Koderi. Berkat komitmen dan kepeduliannya terhadap masalah penanganan sampah, Ir. Koderi berhasil membawa pulang penghargaan Kalpataru Nasional Kategori Pengabdi Lingkungan tahun 2013 yang diberikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara. Sejak berkarir sebagai PNS, ayah tiga anak ini memang sudah bergelut dengan masalah persampahan. Ir. Koderi yakin jika sampah tidak dikelola dengan baik sesuai dengan kaidah yang benar maka sampah akan membahayakan masyarakat. Berangkat dari kepedulian dan komitmennya yang tinggi akhirnya pria yang kini menjabat sebagai Kabid Analisa Pencegahan Dampak Lingkungan BLH ini berhasil melakukan inovasi di beberapa TPA yang ada di Kabupaten Malang, termasuk di antaranya TPA Edukasi Talangagung. TPA Edukasi Talangagung merupakan salah satu buah karya Ir. Koderi yang sudah mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi. Sejak 2009, TPA Talangagung yang tadinya kumuh dan bau telah berhasil disulap Ir. Koderi menjadi sebuah tempat yang lebih pantas disebut taman daripada TPA. Kini sekitar 146 rumah di sekitar TPA sudah menikmati berkah dari sampah karena gas metana dari TPA telah dialirkan ke rumah-rumah penduduk yang digunakan untuk memasak. Peran pria lulusan teknik mesin ITN Malang tahun 1988 ini tidak hanya sebatas berkarya di Kabupaten Malang saja. Berkat keberhasilannya tersebut, Ir. Koderi didaulat menjadi “otak” dibalik desain penangkapan gas metana di TPA Supit Urang Kota Malang dan TPA Kota Pasuruan. Selain itu, pria yang kerap disapa “dancuk” alias komandan pucuk ini juga tidak pelit untuk berbagi ilmu. Bersama rekan seperjuangannya Renung, pria yang juga menjadi nominator bidang lingkungan UNESCO tahun 2013 ini juga telah sering melanglang buana ke berbagai kota untuk menjadi narasumber terkait penanganan masalah sampah. Meski telah mendapatkan berbagai penghargaan, bukan berarti perjuangan mantan Kepala Seksi Kebersihan Dinas Cipta Karya Kabupaten Malang ini sudah selesai. “Tantangan selanjutnya adalah bagaimana pemerintah dapat mewujudkan kemandirian masyarakat dalam hal pengolahan sampah di Kabupaten Malang” ujar Ir. Koderi.

pemerintah dapat mewujudkan kemandirian masyarakat dalam hal pengolahan sampah di Kabupaten Malang” ujar Ir. Koderi .

CONTACT, NEWSLETTER & WEBSITE

JAPIL (Jejaring Aksi Perubahan Iklim Lokal) merupakan platform untuk pertukaran informasi, pengetahuan, dan pengalaman dalam perencanaan dan implementasi aksi-aksi perubahan iklim. Keanggotaan JAPIL bersifat terbuka dan tidak mengikat yang berasal dari instansi pemerintahan, tokoh masyarakat dan LSM yang berminat terhadap isu perubahan iklim. Kirimkan tulisan atau artikel anda ke tim redaksi (amira.abdullah@giz.de). Tulisan yang dimuat akan mendapat bingkisan menarik.

KONTRIBUTOR

JAPIL menyampaikan terima kasih kepada seluruh kontributor edisi ini yaitu Elly Tartaty Ratni (Bappeda Kota Blitar), dan Trita Katriana (WA-1)

TIM REDAKSI

Niken, Amira, Adityo, Ratna, Fitria, Amrullah, dan Evi.

8