Anda di halaman 1dari 22

Kepaniteraan Klinik

Pengganti Refarat

Bagian/SMF Psikiatri (Jiwa)

JANUARI 2015

HASIL TES MMPI POLISI RESKRIM SULTRA TAHUN 2014 MENURUT SKALA
KLINIS (Hs, D, Hy, Pd dan Mf) DI RSJ DR. SOEPARTO HARDJOHUSODO

Oleh:
IINDAH PRATIWI AZIS M
K1 A2 10 079

Pembimbing : dr. Junuda RAF, M.Kes., Sp. KJ

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HALU OLEO


RUMAH SAKIT JIWA DR. SOEPARTO HARDJOHUSODO
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
KENDARI
2015

1 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan jiwa adalah suatu sindrom atau pola psikologik atau perilaku yang secara
klinik bermakna yang terjadi pada seseorang individu dan berkaitan dengan adanya penderitaan
(disstres) atau hendaya (disability) atau suatu peningkatan resiko penderitaan, kematian,
ketidakmampuan yang bermakna atau kehilangan kebebasan.7 Menurut data Riskesdas tahun
2013, prevalensi gangguan jiwa berat (termasuk skizofrenia) mencapai 1,7 per mil atau 1-2 orang
dari 1.000 warga Indonesia mengalami gangguan kejiawaan berat. Kejadian gangguan jiwa
prevalensinya lebih tinggi di daerah pedesaan dengan proporsi kejadian 18,2% dibanding daerah
perkotaan dengan proporsi hanya mencapai 10,7%. Salah satu faktor penyebab tingginya angka
kejadian gangguan jiwa di pedesaan karena kesulitan ekonomi.8 Tingginya prevalensi gangguan
jiwa di Indonesia akan menjadi sebuah masalah yang kompleks. Oleh karena itu perlu dilakukan
tes yang berfungsi sebagai alat skrining pada orang normal atau orang yang terdapat gangguan.
Minnesota Multiphasic Personality Inventory-5 (MMPI-2) ialah tes kepribadian yang
paling banyak digunakan secara luas dalam penelitian dan penilaian instrumen dalam psikologi.
Skala klinis merupakan skala dengan penilaian objektif, yaitu bagaimana orang lain menilai
individu tersebut. Struktur MMPI-2 yang terdiri dari 567 pertanyaan yang dijawab benar atau
salah membutuhkan sekitar 60-90 menit untuk diselesaikan. Tes MMPI-2 dirancang untuk usia
18 tahun keatas.6
Tes kepribadian MMPI sebenarnya sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang, baik
bidang pendidikan maupun bidang kerja (karier), tetapi tes MMPI dan MMPI-2 ini tidak banyak
diketahui oleh khalayak umum di Indonesia. Tes MMPI ini mula-mula lahir tahun 1943 di
2 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

Amerika Serikat, dan diperbaharui pada 1989 (MMPI-2). Tes ini sudah diterjemahkan dalam
lebih dari 100 bahasa (termasuk dalam bahasa Indonesia) dan dipergunakan di lebih dari 50
negara. Sekarang juga dibentukkan MMPI-A, untuk mengetes anak remaja secara akurat.
Sepuluh ribu artikel dan buku telah membahas riset tentang tes ini.4
Di Indonesia, secara khusus, sebagai contoh penelitian, pada tahun 2001 University of
Gunardarma di Jakarta telah mempergunakan tes ini untuk meneliti indikasi adanya sifat
Kepribadian Type A (dorongan dan motivasi tinggi untuk mencapai gol-gol) dalam mahasiswa
baru. Pada tahun 2006, Jurnal Medicine Nusentara menerbitkan artikel berjudul, Profil MMPI
dan Indeks Prestasi (I.P.) Mahasiswa Kedokteran yang meneliti relasi antara profil kepribadian
mahasiswa dan hasil akademik mereka di kemudian hari.5

BAB II
3 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory)
Meskipun banyak inventori yang diterbitkan, tetapi MMPI merupakan tes yang paling
disukai. Tes ini pertama-tama dikembangkan oleh Starke Hathaway seorang psikolog dan J.C.
McKinley seorang psikiater pada tahun 1930-an di Universitas Minnesota dan kemudian
dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1940. Tujuan dari tes ini adalah memberikan
gambaran secara akurat tentang dimensi-dimensi kepribadian dan psikopatologi yang penting
dalam klinik psikiatri. Selain itu mereka juga bermaksud untuk mengadakan skrining bagi orangorang yang direkrut angkatan perang dan mengeluarkan prajurit yang mengalami gangguan jiwa
atau psikopatologi karena mereka tidak dianggap cakap untuk menjadi prajurit perang.3
Mereka mulai dengan mengumpulkan 1.000 butir pertanyaan yang diperoleh dari
kepustakaan psikiatri, status mental, materi diagnosis dan pengalaman klinis. Setelah ditelusuri
dan diteliti maka dikemukakan 504 butir pernyataan yang dapat digunakan dalam tes psikologis.
Dalam tes tersebut ditambahkan 46 butir pernyataan yang memberikan informasi tentang minat,
jenis kelamin dan gangguan seksual. Untuk memudahkan pengolahan, pada waktu itu
ditambahkan 16 butir pernyataan yang sama (duplikasi) sehingga seluruh tes berisi 566 butir
pernyataan. Pernyataan-pernyataan dalam tes ini harus dijawab oleh subjek yang dites dengan
jawaban benar, salah atau tidak menjawab.3
Dari seluruh penyataan-pernyataan ini kemudian disusun skala-skala tertentu yang
menggambarkan sindrom-sindrom yang sering ditemukan dalam pengalaman klinis sehari-hari.
Dengan demikian tingkat sampai dimana subjek cocok dengan pernyataan-pernyataan yang
biasanya terdapat dalam tipe-tipe tertentu sejarah psikiatrik menunjukan kecenderungan ke arah
itu. Semua skor dinyatakan dalam istilah-istilah psikiatrik dan menjadi ukuran kecenderungankecenderungan kearah tipe gangguan seperti : hipokondriasis, depresi, histeria, penyimpangan
4 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

psikopatik, paranoia, psikastenia, skizofrenia dan hipomania. Tes ini juga bertujuan untuk
mengukur maskulinitas dan feminitas serta kemampuan bergaul (sosiabilitas). Disamping itu
disusun juga validitas sejauh mana MMPI telah diisi oleh subjek dapat dipercaya kebenarannya.
Penelitian yang ekstensif telah dilakukan dengan tes ini. Diantara semua inventory yang ada,
tidak ada yang menyamainya dalam hal kegunaanya dibidang praktek lain.3
Tes ini berkembang di Indonesia sebenarnya baru dimulai pada tahun 1972 ketika
sejumlah psikiater merasakan perlunya menggunakan MMPI sebagai instrumen dalam klinik
psikiatri. Sebagai percobaan, butir-butir pernyataan MMPI diterjemahkan tanpa melihat butirbutir tersebut dapat digunakan orang Indonesia.3 Dari hasil percobaan tampak bahwa MMPI yang
diterjemahkan begitu saja tidak dapat memberikan gambaran yang dapat dipercaya tentang
dimensi-dimensi gangguan jiwa pada seseorang. Hal ini disebabkan karena :
1. Bahasa yang digunakan terlalu kompleks dan maksudnya kurang dipahami oleh orang yang
mengisi MMPI.
2. Banyak butir pernyataan didalam MMPI yang tidak sesuai dengan keadaan Indonesia dan
gejala-gejala yang terdapat di Amerika merupakan hal-hal yang lazim tetapi gejala tesebut
jarang sekali terdapat dalam diri orang Indonesia. Tes MMPI adalah instrumen yang sangat
ditentukan oleh nilai-nilai kebudayaan dan tingkah laku masyarakat (culture bound).
3. Skoring yang berlaku untuk orang Amerika tidak dapat begitu saja digunakan pada orang
Indonesia.
4. Banyak butir yang pernyataan sama sekali tidak dapat dipahami oleh orang Indonesia karena
kurang relevan.
Berdasarkan kesulitan-kesulitan tersebut maka dibentuk suatu tim dengan tugas mengkaji
setiap butir penyataan yang tidak cocok dengan keadaan di Indonesia. Berdasarkan pengalaman
tim, maka dicari butir pernyataan yang dapat menggambarkan sindrom yang dimaksud dan
disederhanakan sejelas mungkin. Setelah diadakan validasi, maka disusun MMPI versi Indonesia

5 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

dan dicoba pada mahasiswa yang normal. Publikasi mengenai hasilnya telah dilakukan dalam
kalangan terbatas.
MMPI yang asli memiliki 13 skala standar, tiga diantaranya berhubungan dengan
validitas dan sepuluh lainnya berhubungan dengan indeks-indeks klinisi atau kepribadian.
1. Skala Validitas
a. Skala ? cannot say (SC)
Skala ini bukan benar-benar sebuah skala dormal tetapi sekedar mempresentasikan
jumlah item yang dibiarkan tidak terjawab pada lembar profil. Kegunaan mencatat
sejumlah penyataan yang tidak terjawab adalah memberikan salah satu dari beberapa
indeks validitas sebuah protokol. Jika 30 item atau lebih dibiarkan tak terjawab maka
kemungkina besar tidak valid dan tidak ada interpertasi lebih jauh yang perlu diupayakan.
Seseorang yang tidak mengisi butir pernyataan, biasanya tergolong orang yang tidak
kooperatif

kurang

dapat

mengambil

keputusan

karena

ragu-ragu,

terlalu

berintelektualisasi dan kadang-kadang mempunyai ciri-ciri obsesif.3


b. Skala L lie scale
Terdiri dari 15 item yang mengindikasikan sejauh mana seseorang subjek berusaha
mendeskripsikan dirinya dengan cara positif yang tidak realistis. Jadi mereka yang
mendapat skor tinggi mendeskripsikan dirinya secara terlalu perfeksionis dan idealis.6
Seseorang yang mendapat skor rendah termasuk orang yang tegang, kurang mawas diri
dan berpendirian agak kaku.3
c. Skala F
Skala ini digunakan untuk mengukur sejauh mana subjek menjawab dengan cara yang
atipikal atau menyimpang. Bila terdapat skor yang tinggi pada skala ini, maka kebenaran
tes dapat kurang dipercayai dan disebabkan oleh subjek yang tidak mampu membaca dan
memahami butir-butir pernyataan dan membuat kesalahan dalam mengisi lembar
jawaban, subjek mengalami kebingungan, kekalutan mental atau mempunyai waham6 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

waham, berhubungan dengan alasan tertentu subjek dengan sengaja berusaha


memperlihatkan bahwa dia menderita gangguan jiwa yang berat, serta subjek bersikap
tidak kooperatif dan dengan sengaja menjawab secara acak atau secara tidak relevan.
Selain itu, jika skor rendah maka berarti subjek mengerti benar apa yang ditanyakan dan
mengisi tes sesuai dengan instruksi. Individu dengan skor rendah tergolong orang yang
konvensional, dapat diandalkan dan mempunyai minat-minat yang terbatas. Pada pasien
yang berada dalam terapi, skor F cenderung menurun.3
d. Skala K
Skala ini dirancang untuk mendeteksi subjek yang terlalu positif dalam mendeskripsikan
dirinya.6 Skala ini mempunyai 30 butir pernyataan yang bertujuan untuk mengukur sikap
subjek terhadap tes. Skor yang tinggi berarti subjek bersikap defensif, tidak mau
mengakui kekurangan atau kelemahan psikologinya. Skor K yang sedang berarti subjek
memiliki kekuatan ego, dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan memiliki
kemampuan adaptif yang baik. Skor rendah berarti subjek memiliki keterbukaan, terlalu
kritis terhadap dirinya, kurang puas dengan keadaannya serta bersedia mengakui
gangguan dan gejala-gejalanya. Pada tersebut juga terdapat mekanisme defensif yang
kurang berkembang. Individu dengan skor rendah berarti dia biasanya bersedia untuk
dibantu/diobati.3
2. Skala Klinis
Skala klinis untuk tes MMPI terdiri dari 10 skala diantaranya :
a. Skala 1 Hypocondriasis (Hs)
b. Skala 2 Depression (D)
c. Skala 3 Hysteria (Hy)
d. Skala 4 Psychopatic Deviate (PD)
e. Skala 5 Masculinity-Femininity (MF)
f. Skala 6 Paranoid (Pa)
g. Skala 7 Psychastenia (Pt)
h. Skala 8 Schizophrenia (Sc)
i. Skala 9 Hypomania (Ma)
j. Skala 10 Social Interversion (SI)
7 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

Tabel 1. Skala Klinis MMPI


No
1
2
3
4

Singkatan
Hs
D
Hy
Pd

Deskripsi
Hypochondriasis
Depresi
Histeri
Psikopat Deviasi

Apa yang diukur


Kepedulian dengan gejala fisik
Gejala depresif
Kesadaran masalah dan kerentanan
Konflik,
perjuangan,
kemarahan,

Item
32
57
60
50

MF

Maskulinitas/

menghormati aturan masyarakat


Maskulin
atau
feminism

stereotip

56

6
7

Pa
Pt

Feminitas
Paranoid
Psychasthenia

kepentingan/perilaku
Tingkat kepercayaan, kecurigaan, sensitivitas
Khawatir, kecemasan, ketegangan, keraguan,

40
48

8
9
10

Sc
Ma
Si

Skizofrenia
Hypomania
Introversi social

obsessive
Pemikiran aneh dan keterasingan social
Tingkat rangsangan
Kepribadian tertutup seseorang

78
46
69

Pada makalah ini akan dibahas skala klinis 1,2,3,4 dan 5 yakni Skala 1 Hypocondriasis (Hs),
skala 2 Depression (D), skala 3 Hysteria (Hy), skala 4 Psychopatic deciate (Pd) dan 5
Masculinity-Femininity (Mf).
1) Skala 1 Hypocondriasis (Hs)
Pasien dengan hipokondriasis mempunyai preokupasi bahwa ia menderita
penyakit medis yang serius padahal tidak. Hal ini dapat dianggap sebagai suatu bentuk
anxietas atau obsesi-kompulsi. Pasien berulang kali mencari pemeriksaan atau keterangan
medis, tetapi tidak dapat diyakinkan. Gejala yang ditampilkan sering berupa permintaan
pemeriksaan medis yang berulang-ulang.1
Nevid, et al (2002) bahwa gangguan hipokondriasis merupakan suatu upaya
seseorang untuk mengalihkan perhatian pada keluhan fisik dapat menjadi suatu cara
untuk menghindari berpikir tentang masalah kehidupan yang lain. Onset dari gejala ini
kebanyakan dimulai pada awal masa dewasa. Gejala biasanya muncul selama periode
8 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

naiknya stress akan tetapi mungkin lebih karena ketakutan terkena penyakit medis,
anggota keluarga yang didiagnosis suatu penyakit, kematian orang yang dicintai, dan bisa
juga karena tayangan di televisi mengenai penyakit terkait (Arsky and Klerman 1983).9
Cognitive Behavior Therapy (CBT) sangat efektif sebagai pilihan untuk klien
dengan hypochondriasis. Konsep dari treatment ini adalah mengembangkan penilaian
dan pengertian lain mengenai permasalahan yang dihadapinya. Pengertian ini fokus
terhadap bagaimana kesalah mengertian mengenai penyakit medis yang dikira diderita
dengan respon cemas, terganggunya konsentrasi, perilaku mencari aman dan kerusakan
psikologis, dimana respon-respon ini akan mengganggu berbagai aspek kehidupan klien
(Greeven& Visser, 2007).9
Orang dengan skor tinggi deskripsi : keluhan psikogenik-somatic ( proses sakit
jiwa), gambaran kepribadiannarcissistic (kecintaan pada diri sendiri), menolak
penjelasan untuk gejala psikologis seperti (dr shopping), sulit untuk terlibat dalam
psikoterapi14
2) Skala 2 Depression (D)
Depresi merupakan gangguan mood berupa kesedihan yang intens, berlangsung
dalam waktu lama, dan mengganggu kehidupan normal yang insidennya semakin
meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan hidup. Tahun 2020, depresi
diperkirakan menempati urutan kedua penyakit di dunia. Gejala-gejala depresi terdiri
dari gangguan emosi, gangguan kognitif, keluhan somatik, gangguan psikomotor, dan
gangguan vegetatif. Salah satu gejala depresi yang muncul adalah gangguan tidur yang
bisa berupa insomnia, bangun secara tiba-tiba, dan hipersomnia. Hal ini disebabkan oleh
gangguan neurotransmiter dan regulasi hormon. Selain sebagai gejala depresi, gangguan
tidur juga bisa merupakan penyebab depresi. Beberapa penelitian memberikan
hubungan gangguan tidur dapat meningkatkan risiko depresi di kemudian hari.12
9 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

Terdapat tiga kategori penyebab dari gejala depresi menurut Nolen-Hoeksema dan
Girgus (dalam Krenke & Stemmler, 2002). Tiga kategori penyebab dari gejala depresi
tersebut adalah11:
a. Faktor kepribadian, seperti orang yang dependent, memiliki harga diri yang rendah,
tidak asertif, dan menggunakan ruminative coping. Nolen-Hoeksema dan Girgus juga
mengatakan bahwa ketika seseorang merasa tertekan akan cenderung fokus pada
tekanan yang mereka rasa dan secara pasif merenung daripada mengalihkannya atau
melakukan aktivitas untuk merubah situasi.
b. Faktor biologis, seperti perubahan hormonal dan hal-hal yang berkaitan dengan
kensekuensi psikologis, seperti ketidakpuasan pada bentuk tubuh.
c. Faktor sosial, seperti negative life event dan adanya pengharapan dari orangtua dan
teman sebaya.
3) Skala 3 Hysteria (Hy)
Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang
tidak terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap
rangsangrangsang emosional. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat
hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Gejalagejala sering timbul dan hilang secara
tiba-tiba, teruma bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional
yang hebat.10
Menurut Sigmund Freud, histeria terjadi karena pengalaman traumatis
(pengalaman menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak
sadar. Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut.
Namun pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja, melainkan
ada dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi
dalam bentuk gannguan jiwa.10
4) Skala 4 Psychopatic deviate (Pd)

10 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

Singgih Dirgagunarsa (1998 : 145) menyatakan bahwa psikopat merupakan


hambatan kejiwaan yang menyebabkan penderita mengalami kesulitan dalam
menyesuaikan diri terhadap norma-norma sosial yang ada di lingkungannya. Penderita
psikopat memperlihatkan sikap egosentris yang besar, seolah-olah patokan untuk semua
perbuatan dirinya sendiri saja. Seseorang dapat menderita psikopat karena kurang atau
tidak adanya kasih sayang yang diterima dari lingkungannya, terutama keluarga. Selama
lima tahun pertama dalam hidupnya dia tidak pernah merasakan kelebutan, kemesraan,
dan kasih sayang, sehingga individu yang bersangkutan gagal dalam mengembangkan
kemampuan untuk menerima dan memberikan perhatian dan kasih saying pada orang
lain (Kartini Kartono, 1990 : 75).10
Prognosis pada pengobatan yang buruk, dimana pasien cenderung menunjukkan
pengetahuan yang dalam pada perilakunya karena tidak menunjukkan penyesalan atau
kekhawatiran dari perilakunya selama ini. Selain itu pasien akan cenderung
menyalahkan orang lain dan menggunakan intelektualisasi daripada menghadapinya
sebagai tanggung jawab diri. Mereka seringkali menghentikan pengobatan tanpa ada
perubahan.
5) Skala 5 Masculinity-Femininity (Mf)
Skala ini dirancang untuk mengidentifikasi laki-laki yang mempunyai masalah dengan
perasaan homoseksual dan kebingungan identitas gender. Akan tetapi upaya ini kurang
berhasil karena skor yang tinggi tampaknya tidak mempunyai kaitan yang jelas dengan
preferensi seksual

(2)

. Skala ini terdiri dari 60 butir pernyataan untuk wanita dan 60 butir

pernyataan untuk pria serta menggambarkan minat dan perhatian terhadap orang yang tidak
sejenis. Skor tinggi pada pria berarti dia termasuk orang yang sensitif, memiliki minat dan
kesenangan yang bersifat feminin. Skor tinggi pada wanita menunjukan dia termasuk orang
yang kompetitif, agresif, maskulin dan aktif. Skor rendah pada pria berarti dia suka
11 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

berpetualang, lebih suka bersikap dan bertindak aktif. Skor rendah pada wanita berarti
minat yang sangat feminin, pasif dan bersedia menerima tugas-tugas yang berat (3).

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Jiwa DR. Soeparto Hardjohusodo Kendari pada
tahun 2014. Sampel dalam penelitian ini adalah semua data yang diperoleh dari rekam medik tes
MMPI Polisi Reskrim Sultra menurut 5 skala klinis MMPI (skala Hypocondriasis, Depression,
12 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

Hysteria, Psychopatic deciate dan Masculinity-Femininity) di Rumah Sakit Jiwa DR. Soeparto
Hardjohusodo Kendari pada bulan Desember 2014.
A. HASIL PENELITIAN
1. Skala 1 Hypocondriasis (Hs)
. Skala dalam referat ini dibagi menjadi 2 bagian skor yaitu :
Rendah : 65
Tinggi : > 65

Hasil yang didapat untuk skala 1 Hypocondriasis (Hs) dari 623 POL SULTRA pada
tahun 2014 menurut pembagian skor pada tabel 1.
Tabel 1. Frekuensi Untuk Skala 1 Hypocondriasis (Hs) Menurut Pembagian Skor
Skala 1 Hypocondriasis (Hs)
Derajat
Jumlah
Persentase
Rendah
571
91,7 %
Tinggi
52
8,3 %
Total
623
100%
Sumber : data primer RS. Jiwa Kendari

Tabel 1 menunjukkan bahwa hasil tes MMPI pada skala 1 Hypocondriasis (Hs) dari 623
orang anggota polisi didapatkan anggota polisi yang memiliki skor rendah yaitu sebanyak 571
orang (91,7%) dan skor tinggi sebanyak 52 orang (8,3%).

2. Skala 2 Depression (D)


Untuk skala 2 Depression (D) dalam referat ini dibagi menjadi 2 bagian skor juga,
yaitu:

Rendah : 65
Tinggi : > 65

Hasil yang didapat untuk skala 2 Depression (D) dari 623 anggota polisi menurut
pembagian skor pada tabel 2.
Tabel 2. Frekuensi Untuk Skala 2 Depression (D) Menurut Pembagian Skor
Skala 2 Depression (D)
Derajat
Jumlah
Persentase
Rendah
613
98,4%
Tinggi
10
1,6%
Total
623
100 %
13 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

Sumber : data primer RS. Jiwa Kendari

Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil tes MMPI pada skala 2 Depression (D) dari 623 orang
anggota polisi didapatkan anggota polisi yang memiliki skor rendah yaitu sebanyak 613 orang
(98,4%) dan skor tinggi sebanyak 10 orang (1,6%).
3. Skala Skala 3 Hysteria (Hy)
Untuk skala 3 Hysteria (Hy) dalam referat ini dibagi menjadi 2 bagian skor juga,
yaitu:

Rendah : 65
Tinggi : > 65

Hasil yang didapat untuk skala 3 Hysteria (Hy) dari 623 anggota polisi menurut pembagian
skor pada tabel 3.
Tabel 3. Frekuensi Untuk Skala 3 Hysteria (Hy) Menurut Pembagian Skor
Skala 3 Hysteria (Hy)
Derajat
Jumlah
Persentase
Rendah
566
90,9%
Tinggi
57
9,1%
Total
623
100%
Sumber : data primer RS. Jiwa Kendari

Tabel 3 menunjukkan bahwa hasil tes MMPI pada skala 3 Hysteria (Hy) dari 623 orang
anggota polisi didapatkan anggota polisi yang memiliki skor rendah yaitu sebanyak 566 orang
(90,9%) dan skor tinggi sebanyak 57 orang (9,1%).

4.

Skala 4 Psychopatic deviate (Pd)


Untuk skala 4 Psychopatic deviate (Pd) dalam referat ini dibagi menjadi 2 bagian
skor juga, yaitu:
Rendah : 65
Tinggi : > 65
Hasil yang didapat untuk skala 4 Psychopatic deviate (Pd) dari 623 anggota polisi menurut
pembagian skor pada tabel 4.

Tabel 4. Frekuensi Untuk Skala 4 Psychopatic deviate (Pd) Menurut Pembagian Skor
Skala 4 Psychopatic deviate (Pd)
Derajat
Jumlah
Persentase
14 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

Rendah
Tinggi
Total

504
119
623

80,9%
19,1%
100%

Sumber : data primer RS. Jiwa Kendari

Tabel 4 menunjukkan bahwa hasil tes MMPI pada skala 4 Psychopatic deviate (Pd) dari
623 orang anggota polisi didapatkan anggota polisi yang memiliki skor rendah yaitu sebanyak
504 orang (80,9%) dan skor tinggi sebanyak 119 orang (19,1%).
5.

Skala 5 Masculinity-Femininity (Mf)


Untuk skala 5 Masculinity-Femininity (Mf) dalam referat ini dibagi menjadi 2 bagian
skor juga, yaitu:
Rendah : 65
Tinggi : > 65
Hasil yang didapat untuk skala 5 Masculinity-Femininity (Mf) dari 623 anggota polisi
menurut pembagian skor pada tabel 5.

Tabel 5. Frekuensi Untuk Skala 5 Masculinity-Femininity (Mf) Menurut Pembagian Skor


Skala 5 Masculinity-Femininity (Mf)
Derajat
Jumlah
Persentase
Rendah
607
97,4%
Tinggi
16
2,6%
Total
623
100%
Sumber : data primer RS. Jiwa Kendari

Tabel 5 menunjukkan bahwa hasil tes MMPI pada skala 5 Masculinity-Femininity (Mf)
dari 623 orang anggota polisi didapatkan anggota polisi yang memiliki skor rendah yaitu
sebanyak 607 orang (97,4%) dan skor tinggi sebanyak 16 orang (2,6%).
B. Pembahasan
Tes MMPI untuk menilai atau mengukur kapasitas mental sesorang meliputi potensi
kinerja, kemampuan adaptasi, kendala psikologis, perilaku beresiko, dan integritas moral. Dari
tes MMPI ini akan terbaca bagaimana kapasitas setiap anggota polisi, dengan kesimpulan
mencakup 2 kategori : ringan dan berat.
15 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

1. Skala 1 Hypocondriasis (Hs)


Dalam pembahasan ini, akan dibahas mengenai kategori berat, yaitu skala 1
Hypochondriasis (Hs). Berdasarkan hasil pengamatan skala 1 Hypochondriasis (Hs)
didapatkan 571 subjek (91,7%) termasuk dalam derajat ringan, 52 subjek (8,3%)
termasuk dalam derajat berat. Dari hasil pengamatan tes MMPI anggota polisi didapatkan
skala 1 dengan derajat ringan lebih banyak dibandingkan dengan derajat sedang.
Anggota polisi dengan skor hypocondriasis tinggi menunjukkan perhatian
terhadap kondisi tubuh yang berlebih dari gangguan-gangguan yang muncul. Gangguan
tersebut meluas terhadap gejala somatik tidak jelas yang bervariatif seperti gangguan
epigastrik, fatig, gejala kronis dan lemah atau lesu secara umum. Penelitian menunjukkan
mereka dengan kondisi Hs tinggi adalah orang yang pesimis, pertahanan diri kuat, merasa
tidak puas dengan orang lain dan secara umum merasa kurang bahagia. Mereka
menunjukkan sinisme terhadap hidup.
2. Skala 2 Depression (D)
Dalam pembahasan ini, akan dibahas mengenai kategori berat, yaitu skala 2
Depression (D). Berdasarkan hasil pengamatan skala 2 Depression (D) didapatkan 613
subjek (98,4%) termasuk dalam derajat ringan, 10 subjek (1,6%) termasuk dalam derajat
berat. Dari hasil pengamatan tes MMPI anggota polisi didapatkan skala 2 dengan derajat
ringan lebih banyak dibandingkan dengan derajat berat.
Anggota polisi yang mempunyai skor depression tinggi tampak sebagai orang
yang kurang agresif,pemalu,hambatan dalam kepercayaan dirinya dan sering merasa
cemas terhadap hal-hal kecil yang terjadi. Menjauhkan diri secara social mungkin saja
terjadi, karena kecendurangan mereka menjaga jarak dengan kontak yang terjadi secara
psikis khususnya hubungan emosional yang mendalam.
3. Skala 3 Hysteria (Hy)
Dalam pembahasan ini, akan dibahas mengenai kategori berat, yaitu skala 3
Hysteria (Hy). Berdasarkan hasil pengamatan skala 3 Hysteria (Hy) didapatkan 566
16 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

subjek (90,9%) termasuk dalam derajat ringan, 57 subjek (9,1%) termasuk dalam derajat
berat. Dari hasil pengamatan tes MMPI anggota polisi didapatkan skala 3 dengan derajat
ringan lebih banyak dibandingkan dengan derajat berat.
Anggota polisi dengan skala tinggi tidak menunjukkan kemarahan atau
ketidaksukaan secara terbuka namun dilakukan secara tidak langsung dari hubungan
interpersonal yang terjalin. Mereka memanipulasi hubungan yang terjalin dengan orang
lain untuk kebutuhan dirinya sendiri. Secara sosial mereka terlibat namun tidak disertai
dengan ketulusan. Mereka dapat akrab, aktif berkomunikasi dan antusias. Mereka dapat
bertindak namun dengan cara yang tidak wajar dan menunjukkan sedikit perhatian
terhadap kepentingan orang lain.13
4. Skala 4 Psychopatic deviate (Pd)
Dalam pembahasan ini, akan dibahas mengenai kategori berat, yaitu skala 4
Psychopatic deviate (Pd). Berdasarkan hasil pengamatan skala 4 Psychopatic deviate (Pd)
didapatkan 504 subjek (80,9%) termasuk dalam derajat ringan, 119 subjek (19,1%)
termasuk dalam derajat berat. Dari hasil pengamatan tes MMPI anggota polisi didapatkan
skala 4 dengan derajat ringan lebih banyak dibandingkan dengan derajat berat.
Anggota polisi dengan skor tinggi menunjukkan karakteristik perilaku anti-sosial,
termasuk perilaku membangkang terhadap figur otoritas, ketegangan dalam hubungan
keluarga dan tindakan berlebih dengan tanpa pertimbangan konsekuensi atau akibat
yang akan dihasilkan. Mereka akan cenderung menyalahkan orang lain terhadap
masalahnya, yang dapat direfleksikan dari pengalamannya seperti kurang berprestasi
dirinya di sekolah, perilaku buruk dalam bekerja atau hubungan perkawinan yang
kurang harmonis. Bermasalah dengan hukum mungkin saja terjadi.
Mereka bertindak secara impulsif tanpa dilakukan pertimbangan matang, toleransi
terhadap frustasi rendah dan seringkali bereaksi terhadap impulsifitasnya. Tindakan
tidak direncanakan dengan baik, lemah dalam mengambil keputusan dan akan
17 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

mengambil resiko terhadap hal-hal yang secara umum tidak dilakukan oleh orang lain.
Mereka tidak belajar dari pengalaman, dan akan mengulangi perilaku negatif tersebut
meskipun seringkali mendapatkan imbalan buruk berupa teguran atau hukuman. Mereka
akan dipandang sebagai kurang dewasa, kekanak-kanakan, egois dan narsistik. Mereka
terkesan hedonis, suka pamer, hura-hura dan tidak sensitif dengan kebutuhan orang lain.
Hubungan yang dijalin secara sosial tidak

tulus dan menggunakannya untuk

kepentingan diri sendiri. Meskipun dapat membuat kesan pertama yang menyenangkan
dan mudah akrab, namun hubungan yang terjalin tidak bertahan lama karena
berorientasi pada diri sendiri. Mereka juga tidak membangun kehangatan dalam
berinteraksi.
Secara individu akan tampak ekstrovert, mudah bergaul, aktif berbicara, hiperaktif
dan tindakannya spontan dalam kelompok. Mereka tampak pintar dan percaya diri
meskipun aktivitasnya tanpa tujuan jelas. Hubungan yang terjalin biasanya bersifat kasar,
agresif, keras, sinis, membangkang dan terkadang pendendam. Mereka seringkali
bertindak sangat agresif dan sering mengajak berkelahi. Biasanya mereka tidak disertai
gangguan kecemasan, depresi maupun simptom psikotik. Mereka cenderung didiagnosa
sebagai gangguan kepribadian terutama perilaku anti-sosial atau kepribadian pasifagresif.
5. Skala 5 Masculinity-Femininity (Mf)
Dalam pembahasan ini, akan dibahas mengenai kategori berat, yaitu skala 5
Masculinity-Femininity (Mf). Berdasarkan hasil pengamatan skala 5 MasculinityFemininity (Mf) didapatkan 607 subjek (97,4%) termasuk dalam derajat ringan, 16 subjek
(2,6%) termasuk dalam derajat berat. Dari hasil pengamatan tes MMPI anggota polisi
didapatkan skala 5 dengan derajat ringan lebih banyak dibandingkan dengan derajat berat.
18 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

Anggota polisi berjenis kelamin laki-laki dengan skala 5 derajat ringan biasanya
menunjukan dirinya macho dengan orientasi tinggi terhadap maskulinitas. Mereka
ingin menunjukan dirinya secara fisik kuat, gagah dan agresif. Mereka menunjukan
ketertarikan terhadap pencarian sensasi ketegangan adrenalin melalui aktivitas fisik,
petualangan dan cenderung vulgar dalam menjalin hubungan. Mereka sebenarnya tampak
ragu dengan maskulinitasnya dan merasa perlu bukti dengan ketertarikan dan perilaku
maskulinnya. Selain itu MF yang rendah pada laki-laki menunjukan keterbatasan pada
intelektualitasnya dan kurang tertarik terhadap budaya. Mereka kurang fleksibel dalam
bertindak dan memiliki pendekatan permasalahan yang tidak original. Mereka cenderung
bertindak praktis dan non-teoritis. Mereka juga cenderung menghindari aktivitas yang
membutuhkan pemikiran tinggi dan tidak suka mendiskusikan hubungan interpesonal
yang dijalani sehingga akan resisten dengan terapi psikologis. Mereka cenderung kurang
sadar terhadap nilai-nilai sosial dan kurang ter-insight dari motif-motif yang dimiliki (2).
Pria dengan skala 5 derajat berat memperlihatkan konflik terhadap identitas
seksual dan merasa tidak aman dengan peran maskulin. Mereka akan cenderung
menyukai aestetik dan artistik melebihi laki-laki pada umumnya. Menunjukan intelegensi
yang tinggi dan dapat melakukan aktivitas kognitif dengan baik. Mereka juga
digambarkan sebagai orang yang ambisius, kompetitif, sikapnya meyakinkan, pintar,
berpikir jernih, dan dapat mengambil keputusan dengan baik., cenderung kreatif,
imajinatif, rasa ingin tahu yang tinggi, dapat bersosialisasi dengan baik, peka terhadap
orang lain. Mereka cenderung penurut terhadap situasi konflik untuk menghindari konflik
untuk menghindari konfrontasi (2).

19 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Hasil tes MMPI pada skala hypochondriasis (Hs) dari 623 orang anggota polisi
didapatkan anggota polisi yang memiliki skor rendah sebanyak 571 orang (91,7%) dan
skor tinggi sebanyak 52 orang (8,3%).
2. Hasil tes MMPI pada skala Depression (D) dari 623 orang anggota polisi didapatkan
anggota polisi yang memiliki skor rendah sebanyak 613 orang (98,4%) dan skor tinggi
sebanyak 10 orang (1,6%).
20 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

3. Hasil tes MMPI pada skala Hysteria (Hy) dari 623 orang anggota polisi didapatkan
anggota polisi yang memiliki skor rendah sebanyak 566 orang (90,9%) dan skor tinggi
sebanyak 57 orang (9,1%).
4. Hasil tes MMPI pada skala Psychopatic Deviate (Pd) dari 623 orang anggota polisi
didapatkan anggota polisi yang memiliki skor rendah sebanyak 504 orang (80,9%) dan
skor tinggi sebanyak 119 orang (19,1%).
5. Hasil tes MMPI pada skala Masculinity-Femininity (Mf) dari 623 orang anggota polisi
didapatkan anggota polisi yang memiliki skor rendah sebanyak 607 orang (97,4%) dan
skor tinggi sebanyak 16 orang (2,6%).
B. Saran
Perlunya diadakan tes MMPI untuk setiap calon anggota polisi agar dapat diketahui
bagaimana kepribadian dan kinerja kerja seseorang dalam menjalankan tugasnya

sebagai seorang polisi.


Perlunya terapi (psikofarmaka, psikoterapi dan sosioterapi) untuk anggota polisi yang
mendapat skor tinggi dalam skala klinisnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Maramis W.F., Maramis A.A. 2009. Catatan ILMU KEDOKTERAN JIWA Edisi 2.
Surabaya: Airlangga University Press.
2. James, N Butcher. Preparing for Court Testimony Based on the MMPI-2-Guide, 2nd
Edition. Department of Psychology. University of Minnesota.
3. Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
4. Ben-Porath, Yossef S. 2012. Interpreting the MMPI-2-RF. University of Minnesota
Press : Minneapolis
5. Reed, Cynthia J. Brief History and Overview of the Minnesota Mutiphasic Personality
Inventory (MMPI) and MMPI-2 in Psychological Assessment And The Use Of These Test
In Recent Research Studies In Indonesia.
6. Ibrahim,C.R., Munayang,H., Kairupan,B.H. 2013. Profil Skala Klinis Dan Subklinis

Mmpi-2 Adaptasi Indonesia Pada Mahasiswa Semester 5 Tahun Akademik


21 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO

2012/2013 Fakultas Kedoteran Universitas Sam Ratulangi Manado.

Jurnal

Biomedik (JBM), Volume 5, Nomor 1, Suplemen.

7. Maslim, Rusdi. 2013. PPDGJ- III dan DSM-5. Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unika
Atmajaya : Jakarta
8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar.
Kementrian Kesehatan RI : Jakarta
9. Baskoro DS, 2013. Cognitive Behavior Therapy untuk Mengurangi Simtom Fisik pada
Lansia. Procedia Studi Kasus dan Intervensi Psikologi,Volume I (I)
10. Kuntjojo. 2009. Psikologi Abnormal. Kediri: Universitas Nusantara PGRI
11. Zahra A. 2008. Pengaruh Gambaran Tubuh Terhadap Depresi pada Remaja
Awal:Skripsi. Universitas Sumatera Utara
12. Radityo W.E. Depresi dan Gangguan Tidur. Fakultas Kedokteran. Universitas Udayana
13. Ingram, I.M. 1993. Psikiatri : Catatan Kuliah. EGC : Jakarta
14. Maslim,Rusdi. 2013. Manual Pelatihan MMPI-2 Indonesia. Indonesian center for mental
health training and research

22 Pengganti Refarat
Bagian SMF Psikiatri RSJ DR. Soeparto Hardjohusodo Prov. Sultra, FK UHO