Anda di halaman 1dari 37

Geriatri

Bab.I Pendahuluan
I.1

Latar Belakang
Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan
kondisi fisik, psikologis maupun social yang saling berinteraksi satu sama lain.
Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum
maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lanjut usia.
Masalah kesehatan jiwa lanjut usia termasuk juga dalam masalah kesehatan
yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian
dari Gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lanjut usia,
meliputi aspek fisiologis, psikologis, social, cultural, ekonomi dan lain-lain.
Perkembangan kesehatan seorang lanjut usia antara yang satu dengan lainnya
sangat bervariasi .Untuk itu penulis akan menyajikan suatu tulisan yang
berhubungan dengan perawatan kesehatan bagi usia lanjut .
Untuk masalah perawatan kesehatan bagi usia lanjut perlu mendapat perhatian
khusus karena bagi usia lanjut kesehatan sudah tidak dapat dihindarkan karena
keadaan fisik dan psikologis yang sudah menurun. Menyikapi kondisi seperti
tersebut diatas maka kita perlu mengetahui bagaimana perkembangan kesehatan usia
lanjut dan bagaimana cara perawatan kesehatan bagi usia lanjut.

Bab.II Tinjauan Pustaka


II.1

Pengertian
Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan
pada lanjut usia yang menyangkut aspek Promotof, Preventif, Kuratif dan
Rehabilitatif serta Psikososial yang menyertai kehidupan lanjut usia. Sementara
Psikogeriatri adalah cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah
kesehatan jiwa pada lanjut usia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif
dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lanjut usia.
Geriatric merupakan suatu istilah yang terdiri dari kata geros (usia lanjut) dan
iatreia (merawat/merumat), geriatri sendiri mengacu pada cabang ilmu kedokteran
yang berfokus pada penyediaan layanan kesehatan bagi manula. (Ignas Leo Vascher,
1909). Seseorang dikatakan lanjut usia, jika telah mencapai usia diatas 60 tahun.
(depsos, 2007)
Untuk menangani penyakit geriatric pada lansia dibutuhkan pendekatan holistik
yaitu, perhatian total terhadap pasien secara terpadu dengan mempertimbangkan
keadaan lingkungan, sosial ekonomi, gaya hidup, diagnosis dan terapi penyakit
dalam merawat penderita.
Sedangkan pasien Geriatri adalah pasien berusia lanjut (untuk Indonesia saat ini
adalah

mereka

yang

berusia

60 tahun ke atas) dengan beberapa masalah kesehatan (multipatologi) akibat


gangguan fungsi jasmani dan rohani, dan atau kondisi social yang bermasalah.
Lansia banyak yang mengidap salah satu penyakit yang dapat menyebabkan
komplikasi jika, tidak ditangani dengan baik seperti, fraktur pada tulang yang dapat
menyebabkan osteoporosis atau jika seseorang memiliki angka kolesterol yang
tinggi saat lanjut usia dapat menjadi Penyakit Jantung Koroner (PJK), hipertensi,
gagal jantung dan infark serta gangguan ritme jantung, diabetes mellitus, gangguan
fungsi ginjal dan hati.
Beberapa masalah yang sering muncul pada usia lanjut disebut sebagai a series
of Is, yaitu immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence
2

(inkontinensia), intellectual impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi),


impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation
(depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), dan immune deficiency
(penurunan kekebalan tubuh).
Sifat penyakit pada lansia perlu untuk dikenali supaya tidak salah ataupun
lambat dalam menegakkan diagnosis, sehingga terapi dan tindakan lain yang
mengikutinya dengan segera dapat dilaksanakan. Hal ini akan menyangkut beberapa
aspek, yaitu etiologi, diagnosis dan perjalanan penyakit.
Secara Etiologi, penyakit pada lansia lebih bersifat endogen daripada eksogen.
Hal ini disebabkan oleh menurunnya berbagai fungsi tubuh karena proses menua,
etiologi sering kali tersembunyi (Occult), dan sebab penyakit dapat bersifat ganda
(multiple) dan kumulatif (penimbunan), terlepas satu sama lain ataupun saling
mempengaruhi.
Sedangkan secara Diagnosis, penyakit pada lansia umumnya lebih sulit
dideteksi dari pada remaja atau dewasa, karena gejala dan keluhan sering tidak jelas.
Perjalanan penyakit, Pada umumnya perjalanan penyakit adalah kronik (menahun)
diselingi dengan eksaserbasi akut, penyakit bersifat progresif (bertahap), dan sering
menyebabkan kecacatan (invalide).

II.2

Ciri-ciri Geriatri
Dilihat dari segi kemunduran biologis, ciri-ciri geriatri yaitu :
1.

Kulit mulai mengendur dan wajah mulai keriput serta garis-garis yang menetap

2.

Rambut kepala mulai memutih atau beruban

3.

Gigi mulai lepas (ompong)

4.

Penglihatan dan pendengaran berkurang

5.

Mudah lelah dan mudah jatuh

6.

Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah

Sedangkan dilihat dari segi kemunduran kognitif, ciri-ciri geriatri yaitu :

II.3

1.

Suka lupa (ingatan tidak berfungsi dengan baik)

2.

Ingatan pada hal-hal di masa muda lebih baik dari hal-hal yang baru terjadi

3.

Sering adanya disorientasi terhadap waktu, tempat, dan orang

4.

Sulit menerima ide-ide baru

5.

Keseimbangan antara badan, penglihatan, dan pendengaran berkurang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Pasien Geriatri

Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia.
Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat
menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi
para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai
berikut :
1.

Penurunan Kondisi Fisik


Setelah seseorang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya

kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga
berkurang, enerji menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin
rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia
mengalami penurunan secara berlipat ganda.
Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik,
psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan
ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga
kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik
dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha
untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus
mampu mengatur cara hidupnya yang baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan
bekerja secara seimbang.
2.

Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual


Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan

dengan berbagai gangguan fisik seperti :

Gangguan jantung.

Gangguan metabolisme, missal diabetes mellitus.

Vaginitis.

Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi.

Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat
kurang.

Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan stereoid,


tranquilier.

Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :


Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.
Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta di perkuat
oleh tradisi dan budaya.
Kelelahan atau kebosanan karena kurang Variasi dalam kehidupannya.
Pasangan hidup telah meninggal.
Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa
lainnya cemas, depresi, pikun, dsb.

3.

Perubahan Aspek Psikososial


Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan

fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi,
pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan
perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif)
meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan,
tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami
perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepabrikan lansia.
Beberapa perubahan tersebut dapat di bedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia
sebagai berikut:
Tipe kepribadian konstruktif (Construction personality), biasanya tipe ini tidak
banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.

Tipe kepribadian mandiri (Independent personaliy), pada tipe ini ada


kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia
tidak di isi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.
Tipe kepribadian Tergantung (Dependent personality ), pada tipe ini bisanya
sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu
harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup
meninggal maka pasangan yang di tinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika
tidak segera bangkit dari kedudukannya.
Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah
memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak
keinginan yang kadang-kadang tidak di perhitungkan secara seksama sehingga
menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate Personality), pada lansia tipe ini
umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu oleh orang
lain atau cenderung susah dirinya.

II.4

Masalah-masalah Yang Dialami Pasien Geriatri


Dengan semakin bertambahnya usia, semakin banyak masalah yang dialami.
Usia lanjut adalah usia yang sangat rentan terhadap berbagai masalah , bukan hanya
masalah Kesehatan tapi juga masalah Sosial-Budaya, Ekonomi dan Psikologi.
Adapun masalah-masalah tersebut yaitu :
1.

Kesehatan.
Pada umumnya disepakati bahwa kebugaran dan kesehatan mulai menurun pada

usia setengah baya.Penyakit-penyakit degeneratif mulai menampakkan diri pada usia


ini. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa kebugaran dan kesehatan pada
usia lanjut sangat bervariasi. Statistik menunjukkan bahwa usia lanjut yang sakitsakitan hanyalah sekitar 15-25%, makin tua tentu presentase ini semakin besar.
Demikian pula usia lanjut yang tidak lagi dapat melakukan "aktivitas sehari-hari"
(Activities of Daily Living) hanya 5-15%, tergantung dari umur.
Di samping faktor keturunan dan lingkungan, nampaknya perilaku (hidup sehat)
mempunyai peran yang cukup besar. Perilaku hidup sehat harus dilakukan sebelum
usia lanjut (bahkan jauh-jauh sebelumnya). Perilaku hidup sehat, terutama adalah
perilaku individu, dilandasi oleh kesadaran, keimanan dan pengetahuan. Menjadi tua
secara sehat (normal ageing, healthy ageing) bukanlah satu kemustahilan, tapi
sesuatu yang bisa diusahakan dan diperjuangkan. Seyogyanya dianut paradigma,
mencegah dan mengendalikan faktor-faktor risiko sebaik mungkin, kemudian
menunda kesakitan dan cacat selama mungkin.
2.

Sosial
Secara sosial seseorang yang memasuki usia lanjut juga akan mengalami

perubahan-perubahan. Perubahan ini akan lebih terasa bagi seseorang yang


menduduki jabatan atau pekerjaan formal. la akan merasa kehilangan semua
perlakuan yang selama ini didapatkannya seperti dihormati, diperhatikan dan
diperlukan.
Bagi orang-orang yang tidak mempunyai waktu atau tidak merasa perlu untuk
bergaul di luar lingkungan pekerjaannya, perasaan kehilangan ini akan berdampak
8

pada semangatnya, suasana hatinya dan kesehatannya. Di dalam keluarga,


peranannya-pun mulai bergeser. Anak-anak sudah "jadi orang", mungkin sudah
punya rumah sendiri, tempat tinggalnya mungkin jauh. Rumah jadi sepi, orangtua
seperti tidak punya peran apa-apa lagi.
3.

Ekonomi.
Memasuki usia lanjut mungkin sekali akan berdampak kepada penghasilan.

Bagi mereka yang menduduki jabatan formal, pegawai negeri atau ABRI, pensiun
menyebabkan penghasilan berkurang dan hilangnya fasilitas dan kemudahankemudahan. Bagi para profesional, pensiun umumnya tidak terlalu menjadi masalah
karena masih tetap dapat berkarya setelah pensiun.
Namun bagi "non profesional" pensiun dapat menimbulkan goncangan
ekonomi. Oleh karena itu, pensiun seyogyanya dihadapi dengan persiapan-persiapan
untuk alih profesi dengan latihan-latihan keterampilan dan menambah ilmu, baik
dengan pengembangan hobi maupun pendidikan formal.
Bagi mereka yang mencari nafkah melalui sektor nonformal, seperti petani,
pedagang dan sebagainya, memasuki usia lanjut umumnya tidak akan banyak
berdampak pada penghasilannya, sejauh kebugarannya tidak terlalu cepat
mengalami kemunduran dan kesehatannya tidak terganggu.
Terganggunya kesehatan berdampak seperti pisau bermata dua. Pada sisi yang
satu menjadi kendala:Untuk mencari nafkah, pada sisi lain menambah beban
pengeluaran. Oleh karena itu, jaminan hari tua, asuransi kesehatan, tabungan, dan
sebagainya akan sangat membantu pada kondisi ini.
4.

Psikologi.
Masalah-masalah kesehatan, sosial dan ekonomi, sendiri-sendiri atau bersama-

sama secara kumulatif dapat berdampak negatif secara psikologis. Hal-hal tersebut
dapat menjadi stresor, yang kalau tidak dicerna dengan baik akan menimbulkan
masalah atau menimbulkan stres dalam berbagai manifestasinya. Sikap mental
seseorang sendiri dapat menimbulkan masalah.

Usia kronologis memang tidak dapat dicegah, namun penuaan secara biologis
dapat diperlambat. Rambut yang memutih, kulit yang mulai keriput, langkah yang
tidak lincah lagi dan sebagainya, harus diterima dengan ikhlas. Namun janganlah
penuaan secara psikologis terjadi lebih cepat daripada usia kronologis. Untuk itu
diperlukan sikap mental yang positif terhadap proses penuaan.
Menua tidak harus sakit-sakitan, juga tidak harus loyo dan jompo. Kehidupan
spiritual mempunyai peran yang sangat penting. Seseorang yang mensyukuri nikmat
umurnya, tentu akan memelihara umurnya dan mengisinya dengan hal-hal yang
bermanfaat, seperti kata sebuah hadis : "sebaik-baik manusia adalah yang umurnya
panjang dan baik amal perbuatannya". Kalau mensyukuri nikmat sehat, maka akan
memelihara kesehatan kita sebaik-baiknya. Kalau silaturachmi itu memperpanjang
umur, kita sebaiknya memelihara kehidupan sosial selama mungkin.

10

II.5

Lansia (Geriatri) Sehat dan Ciri-cirinya


Usia lanjut sehat adalah usia lanjut yang dapat mempertahankan kondisi fisik
dan mental yang optimal serta tetap melakukan aktivitas sosial dan produktif. Di
Indonesia batasan usia lanjut yang tercantum dalam Undang-undang No.12/1998
tentang Kesejahteraan Usia Lanjut adalah sebagai berikut : Usia lanjut adalah
seorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Depsos,1999); batasan ini sama
dengan yang dikemukakan oleh Burnside dkk.
Adapun Ciri-ciri usia lanjut sehat adalah :

Memiliki tingkat kepuasan hidup yang relatif tinggi karena merasa hidupnya
bermakna, mampu menerima kegagalan yang dialaminya sebagai bagian dari
hidupnya yang tidak perlu disesali dan justru mengandung hikmah yang berguna
bagi hidupnya.

Memiliki integritas pribadi yang baik, berupa konsep diri yang tepat dan
terdorong untuk terus memanfaatkan potensi yang dimilikinya.

Mampu mempertahankan sistem dukungan sosial yang berarti, berada di antara


orang-orang yang memiliki kedekatan emosi dengannya, yang memberi
perhatian dan kasih sayang yang membuat dirinya masih diperlukan dan
dicintai.

Memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, didukung oleh kemampuan
melakukan kebiasaan dan gaya hidup yang sehat.

Memiliki keamanan finansial, yang memungkinkan hidup mandiri, tidak


menjadi beban orang lain, minimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pengendalian pribadi atas kehidupan sendiri, sehingga dapat menentukan


nasibnya sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Hal ini dapat menjaga
kestabilan harga dirinya.

11

II.6

Karakteristik Kasus Penyakit Lansia (Geriatri) di Indonesia


1.

Penyakit persendian dan tulang, seperti rheumatik, dan osteoporosis.

2.

Penyakit Kardiovaskuler, seperti hipertensi, kholesterolemia, angina, cardiac


attack, stroke, trigliserida tinggi, anemia, dan PJK.

3.

Penyakit Pencernaan seperti gastritis, dan ulcus pepticum.

4.

Penyakit Urogenital, seperti Infeksi Saluran Kemih (ISK), Gagal Ginjal


Akut/Kronis, dan Benigna Prostat Hiperplasia.

5.

Penyakit Metabolik/endokrin, seperti diabetes mellitus, dan obesitas.

6.

Penyakit Pernafasan, seperti asma, dan TB paru.

7.

Penyakit Keganasan, seperti carsinoma atau kanker.

8.

Penyakit lain, seperti senilis/pikun/dimensia, alzeimer, dan parkinson.

12

II.7

Upaya Kesehatan Pada Lansia (Geriatri)


Untuk mencapai usia lanjut sehat, tua berguna, bahagia dan sejahtera ialah
dengan mengaktifkan fisik, mental dan sosial ditujukan pada usia 45-59 tahun.
Banyak hal yang harus dilakukan baik dari lansia itu sendiri atau dari petugas
kesehatan maupun dari pihak keluarga lansia. Pelayanan dari petugas kesehatan
sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu :
1.

Promosi

Peran petugas kesehatan sebagai penyuluh bagi individu yang berada pada usia
pertengahan (middle adult) antara lain dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :

Mendapatkan data-data yang berkaitan dengan keadaan saal itu, minimal


diketahui berat dan tinggi badan, denyut nadi, tekanan darah, keluhan fisik dan

penyakit yang diderita.


Mendapatkan data mengenai pola dan cara hidup mereka, Mendapatkan datadata kondisi psikologis, yang mungkin tertampil dalam keluhan fisik yang
diungkapkan.
Berdasarkan data-data tersebut petugas kesehatan memberikan informasi dan

penyuluhan pada keluarga dan masyarakat tentang hal-hal yang perlu diketahui
tentang usia lanjut. Bila ada masalah fisik dan psikologis yang memerlukan
penanganan lebih lanjut, petugas kesehatan perlu memberikan rujukan pada ahli
sesuai dengan kondisi dan keperluan usia lanjut.
Petugas kesehatan dapat melakukan tindakan-tindakan promotif yang bersifat
preventif sebagai berikut :
Mensosialisasikan tentang persiapan sebelum memasuki usia lanjut sebagai
berikut :
Menjadi tua diterima dengan ikhlas dan realistis.
Menjadi tua dihadapi dengan sikap mental yang positif dan optimistik.
Berperilaku hidup sehat, mencegah penyakit dan tetap memelihara
kebugaran.
Membangun, membina, dan memelihaia hubungan sosial.
Meningkatkan terus ilmu dan keterampilan sebagai bekal menjalani hidup
yang bermanfaat sosial ataupun ekonomi.
Apa yang telah terjadi diterima sebagai takdir.
Tetap aktif, jasmani dan rohani, sebab kehidupan yang "pasif' akan
mempercepat proses penuaan.
Berusaha menjadi subyek selama mungkin dalam kehidupan.
13

Meningkatkan kehidupan spiritual dengan mendekatkan diri kepada yang


Maha Kuasa.
Untuk membantu mengatasi, mengurangi perasaan yang negatif, maka
petugas kesehatan sebaiknya berperilaku sebagai berikut :
Bersikap ramah, lembut dan sabar mengahadapi usai lanjut.
Mau mendenganr keluhan.
Mau membantu dan melayani keperluannya.
Mau meberikan informasi yang membuatnya merasa tenang.
Mau memberikan dorongan, bujukan, petunjuk dan

saran

yang

membesarkan hatinya.
Mau memahami dan dapat menghayati perasaannya serta bersikap
menerima apa adanya.

2.

Prevensi

a.

Meningkatkan Pengertian dan Perhatian Petugas Kesehatan


Diharapkan agar petugas kesehatan dalam melaksanakan kegiatan
pelayanannya pada usia lanjut tidak hanya memperhatikan keluhan-keluhan
yang dikemukakan oleh meraka tapi juga mempertimbangkan adanya faktorfaktor- lain yang mendasari keluhan tersebut seperti masalah psikologis, sosial,
budaya atau kemungkinan adanya masalah mental emosional.
Tersedianya loket khusus dan sarana lainnya di fasilitas pelayanan
kesehatan bagi usia lanjut merupakan hal yang perlu diperhatikan terutama bagi
usia lanjut dengan alat bantu seperti kursi roda. Penanganan secara holisitik
dengan sikap yang ramah, sopan dan hormat merupakan pelayanan yang
diidamkan oleh usia lanjut.

b.

Mensosialisasikan Usia Lanjut Sejahtera


Yang dimaksud dengan sejahtera adalah terpenuhinya kebutuhan lahir dan
batin. Kebutuhan batin disebut juga "basic needs" bersifat immaterial dan
universal, kebutuhan lahir disebut juga "instrumental need" bersifat material dan

14

sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya.


Menurut Abraham H.
Maslow kebutuhan manusia, dari jenjang yang paling rendah hingga
jenjang yang paling tinggi adalah kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial
penghargaan dan aktualisasi diri.
Kesejahteraan usia lanjut, pada dasamya menjadi "concern" para pralanjut
usia atau usia lanjut sendiri, keluarga/masyarakat,organis asiorganisasi
masyarakat dan pemerintah. Oleh karena masalahnya menyangkut banyak
pihak, perlu ada landasan berpijak yang disepakati bersama.
c.

Paradigma Usia Lanjut Sejahtera, terdiri dari lima butir sebagai berikut
1.

Positif, Menanamkan pengertian dan membangkitkan kesadaran bahwa :

Menjadi tua tidak perlu diikuti oleh sakit-sakitan, tapi dapat terjadi

secara normal.
Tua tidak identik dengan "pensiunan" puma segalanya dan tidak
berguna, tetapi tetap dapat menjadi anggota masyarakat yang dapat
memberikan sumbangan kepada kehidupan dan pembangunan.

2.

Proaktif, Menjemput persoalan dan mengambil langkah antisipasi supaya


masalah yang tidak dikehendaki tidak menjadi kenyataan :

Berperilaku sehat, meningkatkan kebugaran, mencegah penyakit dan

kecacatan.
Kebiasaan menabung untuk hari tua.
Sistem pensiunan dan jaminan hari tua.
Meningkatkan ilmu dan keterampilan.
Menjalin dan membina jaripgan sosial.
Meningkatkan kehidupan spiritual dan mendekatkan diri kepada Yang
Maha Pencipta.

3.

Non Diskriminasi, Tidak mengucilkan atau mengotakkan usia lanjut hanya


karena usianya, tetapi tetap menganggap sebagai bagian integral dari satu
masyarakat yang hak dan kewajibannya dinilai atas dasar kemampuan dan
kondisi serta keterbatasannya.
15

4.

Akomodatif/Kondusif, Tetap memberikan peluang dan kesempatan untuk


bekerja mencari nafkah atau melakukan kegiatan-kegiatan secara sukarela,
serta berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sesuai keinginan
dan kemampuannya. Memberikan peluang, dorongan dan kesempatan untuk
menambah ilmu serta keterampilan untuk meningkatkan perannya, baik
secara ekonomi maupun sosial. Memberi suasana dan semangat untuk
menjalani hidup yang bermanfaat.

5.

Supportif, Memberikan dukungan, bantuan maupun pelayanan untuk


meningkatkan kesejahteraannya, serta memberikan santunan maupun
perawatan bagi mereka yang sakit dan tidak berdaya.

d.

Mencapai Usia Lanjut Sehat, Tua Berguna, Bahagia dan Sejahtera


Merupakan kendala yang cukup besar karena usia lanjut mempunyai ciri
khas tersendiri dan akibat proses penuaan usia lanjut sulit untuk menerima
perubahan-perubahan yang cepat. Di lain pihak pelayanan kesehatan, masalah
gizi dan kesehatan lingkungan berjalan lebih baik, yang memungkinkan usia
penduduk cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
Untuk itu perlu diterapkan suatu program terpadu yang dilaksanakan sedini
mungkin

untuk

mengantisipasi

kemungkinan-kemungkinan

yang

dapat

menimbulkan permasalahan pada usia lanjut agar dapat mencapai usia lajut
yang sehat, tua berguna, bahagia dan sejahtera.

Bab.III Pembahasan
Polifarmasi
Penderita usia lanjut umumnya mengalami beberapa penyakit secara bersamaan, dan ada
kemungkinan dokter (beberapa dokter) berusaha memberikan obat untuk setiap penyakit.
Jumlah obat-obat yang banyak ini dapat menimbulkan masalah baru antara lain karena efek
samping dan interaksi obat. Walaupun tidak mudah mengelola penderita lanjut usia dengan

16

multipatologi, beberapa pedoman dapat dipakai sebagai pegangan, antara lain: Langkahlangkah untuk menghindari polifarmasi.
a. catat semua obat yang dipakai, untuk review dan monitoring
b. kenali nama generik dan golongan obat
c. kenali indikasi klinik untuk setiap obat
d. ketahui profil efek samping setiap obat
e. kenali faktor risiko sesuatu efek yang tak terduga
f. hentikan pemberian obat tanpa manfaat penyembuhan
g. hentikan pemberian obat tanpa indikasi klinik
h. gantilah dengan obat yang lebih aman
i. jangan menangani efek tak terduga suatu obat dengan obat lagi
j. gunakan obat tunggal bila cara pemberiannya tidak sering, Obat-obat herbal yang banyak
beredar dimasyarakat dan dikonsumsi juga oleh golongan lanjut usia tidak boleh dianggap
sepenuhnya aman. Fitofarmaka dengan menggunakan obatobat ini dapat menyebabkan efek
samping dan interaksi obat yang berat sama dengan obat-obat sintetik.
Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan pada dewasa
muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul
akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan
struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat berthan terhadap jejas (termasuk infeksi)
dan memperbaiki kerusakan yang diderita. WASPADA Online
Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan pada dewasa
muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul
akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan
struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat berthan terhadap jejas (termasuk infeksi)
dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
Demikian juga, masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia berbeda dari orang
dewasa, yang menurut Kane dan Ouslander sering disebut dengan istilah 14 I, yaitu
immobility (kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh),
incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar), intellectual impairment
(gangguan intelektual/dementia), infection (infeksi), impairment of vision and hearing, taste,
smell, communication, convalescence, skin integrity (gangguan pancaindera, komunikasi,
penyembuhan, dan kulit), impaction (sulit buang air besar), isolation (depresi), inanition
17

(kurang gizi), impecunity (tidak punya uang), iatrogenesis (menderita penyakit akibat obatobatan), insomnia (gangguan tidur), immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun),
impotence (impotensi).
Masalah kesehatan utama tersebut di atas yang sering terjadi pada lansia perlu dikenal
dan dimengerti oleh siapa saja yang banyak berhubungan dengan perawatan lansia agar dapat
memberikan perawatan untuk mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.
Kesehatan
1. Kurang bergerak: gangguan fisik, jiwa, dan faktor lingkungan dapat menyebabkan
lansia kurang bergerak. Penyebab yang paling sering adalah gangguan tulang, sendi dan otot,
gangguan saraf, dan penyakit jantung dan pembuluh darah.
2. Instabilitas: penyebab terjatuh pada lansia dapat berupa faktor intrinsik (hal-hal yang
berkaitan dengan keadaan tubuh penderita) baik karena proses menua, penyakit maupun
faktor ekstrinsik (hal-hal yang berasal dari luar tubuh) seperti obat-obat tertentu dan faktor
lingkungan. Akibat yang paling sering dari terjatuh pada lansia adalah kerusakan bahagian
tertentu dari tubuh yang mengakibatkan rasa sakit, patah tulang, cedera pada kepala, luka
bakar karena air panas akibat terjatuh ke dalam tempat mandi.
Selain daripada itu, terjatuh menyebabkan lansia tersebut sangat membatasi pergerakannya.
3. Beser: beser buang air kecil (bak) merupakan salah satu masalah yang sering didapati
pada lansia, yaitu keluarnya air seni tanpa disadari, dalam jumlah dan kekerapan yang cukup
mengakibatkan masalah kesehatan atau sosial. Beser bak merupakan masalah yang seringkali
dianggap wajar dan normal pada lansia, walaupun sebenarnya hal ini tidak dikehendaki
terjadi baik oleh lansia tersebut maupun keluarganya. Akibatnya timbul berbagai masalah,
baik masalah kesehatan maupun sosial, yang kesemuanya akan memperburuk kualitas hidup
dari lansia tersebut. Lansia dengan beser bak sering mengurangi minum dengan harapan
untuk mengurangi keluhan tersebut, sehingga dapat menyebabkan lansia kekurangan cairan
dan juga berkurangnya kemampuan kandung kemih. Beser bak sering pula disertai dengan
beser buang air besar (bab), yang justru akan memperberat keluhan beser bak tadi.
4. Gangguan intelektual: merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan
fungsi intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga menyebabkan terganggunya
aktivitas kehidupan shari-hari. Kejadian ini meningkat dengan cepat mulai usia 60 sampai 85
tahun atau lebih, yaitu kurang dari 5 % lansia yang berusia 60-74 tahun mengalami dementia
(kepikunan berat) sedangkan pada usia setelah 85 tahun kejadian ini meningkat mendekati 50
%. Salah satu hal yang dapat menyebabkan gangguan interlektual adalah depresi sehingga
perlu dibedakan dengan gangguan intelektual lainnya.

18

5.

Infeksi: merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia, karena

selain sering didapati, juga gejala tidak khas bahkan asimtomatik yang menyebabkan
keterlambatan di dalam diaggnosis dan pengobatan serta risiko menjadi fatal meningkat pula.
Beberapa faktor risiko yang menyebabkan lansia mudah mendapat penyakit infeksi karena
kekurangan gizi, kekebalan tubuh:yang menurun, berkurangnya fungsi berbagai organ tubuh,
terdapatnya beberapa penyakit sekaligus (komorbiditas) yang menyebabkan daya tahan tubuh
yang sangat berkurang. Selain daripada itu, faktor lingkungan, jumlah dan keganasan kuman
akan mempermudah tubuh mengalami infeksi.
6. Gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit: akibat prosesd menua
semua pancaindera berkurang fungsinya, demikian juga gangguan pada otak, saraf dan otototot yang digunakan untuk berbicara dapat menyebabkn terganggunya komunikasi,
sedangkan kulit menjadi lebih kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang minimal.
7. Sulit buang air besar (konstipasi): beberapa faktor yang mempermudah terjadinya
konstipasi, seperti kurangnya gerakan fisik, makanan yang kurang sekali mengandung serat,
kurang minum, akibat pemberian obat-obat tertentu dan lain-lain. Akibatnya, pengosongan isi
usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam
usus menjadi keras dan kering, dan pada keadaan yang berat dapat terjadi akibat yang lebih
berat berupa penyumbatan pada usus disertai rasa sakit pada daerah perut.
8.

Depresi: perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan berkurangnya kemandirian

sosial serta perubahan-perubahan akibat proses menua menjadi salah satu pemicu munculnya
depresi pada lansia. Namun demikian, sering sekali gejala depresi menyertai penderita
dengan penyakit-penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui ataupun terpikirkan
sebelumnya, karena gejala-gejala depresi yang muncul seringkali dianggap sebagai suatu
bagian dari proses menua yang normal ataupun tidak khas. Fejala-gejala depresi dapat berupa
perasaan sedih, tidak bahagia, sering menangis, merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan
gerakan tubuh lamban, cepat lelah dan menurunnya aktivitas, tidak ada selera makan, berat
badan berkurang, daya ingat berkurang, sulit untuk memusatkan pikiran dan perhatian,
kurangnya minat, hilangnya kesenangan yang biasanya dinikmati, menyusahkan orang lain,
merasa rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, merasa bersalah dan tidak
berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan mau bunuh diri, dan gejala-gejala fisik lainnya. Akan
tetapi pada lansia sering timbul depresi terselubung, yaitu yang menonjol hanya gangguan
fisik saja seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan pencernaan
dan lain-lain, sedangkan gangguan jiwa tidak jelas.

19

9.

Kurang gizi: kekurangan gizi pada lansia dapat disebabkan perubahan lingkungan

maupun kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat berupa ketidaktahuan untuk memilih
makanan yang bergizi, isolasi sosial (terasing dari masyarakat) terutama karena gangguan
pancaindera, kemiskinan, hidup seorang diri yang terutama terjadi pada pria yang sangat tua
dan baru kehilangan pasangan hidup, sedangkan faktor kondisi kesehatan berupa penyakit
fisik, mental, gangguan tidur, alkoholisme, obat-obatan dan lain-lain.
10. Tidak punya uang: dengan semakin bertambahnya usia maka kemampuan fisik dan
mental akan berkurang secara perlahan-lahan, yang menyebabkan ketidakmampuan tubuh
dalam mengerjakan atau menyelesaikan pekerjaannya sehingga tidak dapat memberikan
penghasilan. Untuk dapat menikmati masa tua yang bahagia kelak diperlukan paling sedikit
tiga syarat, yaitu :memiliki uang yang diperlukan yang paling sedikit dapat memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari, memiliki tempat tinggal yang layak, mempunyai peranan di
dalam menjalani masa tuanya.
11. Penyakit akibat obat-obatan: salah satu yang sering didapati pada lansia adalah
menderita penyakit lebih dari satu jenis sehingga membutuhkan obat yang lebih banyak,
apalagi sebahagian lansia sering menggunakan obat dalam jangka waktu yang lama tanpa
pengawasan dokter dapat menyebabkan timbulnya penyakit akibat pemakaian obat-obat
yaqng digunakan.
12. Gangguan tidur: dua proses normal yang paling penting di dalam kehidupan manusia
adalah makan dan tidur. Walaupun keduanya sangat penting akan tetapi karena sangat rutin
maka kita sering melupakan akan proses itu dan baru setelah adanya gangguan pada kedua
proses tersebut maka kita ingat akan pentingnya kedua keadaan ini. Jadi dalam keadaan
normal (sehat) maka pada umumnya manusia dapat menikmati makan enak dan tidur
nyenyak. Berbagai keluhan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh para lansia, yakni
sulit untuk masuk dalam proses tidur. tidurnya tidak dalam dan mudah terbangun, tidurnya
banyak mimpi, jika terbangun sukar tidur kembali, terbangun dinihari, lesu setelah bangun
dipagi hari.
13. Daya tahan tubuh yang menurun: daya tahan tubuh yang menurun pada lansia
merupakan salah satu fungsi tubuh yang terganggu dengan bertambahnya umur seseorang
walaupun tidak selamanya hal ini disebabkan oleh proses menua, tetapi dapat pula karena
berbagai keadaan seperti penyakit yang sudah lama diderita (menahun) maupun penyakit
yang baru saja diderita (akut) dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh seseorang.
Demikian juga penggunaan berbagai obat, keadaan gizi yang kurang, penurunan fungsi
organ-organ tubuh dan lain-lain.

20

14. Impotensi: merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan atau mempertahankan


ereksi yang cukup untuk melakukan sanggama yang memuaskan yang terjadi paling sedikit 3
bulan.

Menurut Massachusetts Male Aging Study (MMAS) bahwa penelitian yang

dilakukan pada pria usia 40-70 tahun yang diwawancarai ternyata 52 % menderita disfungsi
ereksi, yang terdiri dari disfungsi ereksi total 10 %, disfungsi ereksi sedang 25 % dan
minimal 17 %. Penyebab disfungsi ereksi pada lansia adalah hambatan aliran darah ke dalam
alat kelamin sebagai adanya kekakuan pada dinding pembuluh darah (arteriosklerosis) baik
karena proses menua maupun penyakit, dan juga berkurangnya sel-sel otot polos yang
terdapat pada alat kelamin serta berkurangnya kepekaan dari alat kelamin pria terhadap
rangsangan. (Siburian, 2009).
M. Penyakit yang sering terjadi pada lansia
Nina Kemala Sari dari Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto
Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam suatu pelatihan di
kalangan kelompok peduli lansia, menyampaikan beberapa masalah yang kerap muncul pada
usia lanjut , yang disebutnya sebagai a series of Is. Mulai dari immobility (imobilisasi),
instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual impairment
(gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan
penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan
tidur), hingga immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh).
Selain gangguan-gangguan tersebut, Nina juga menyebut tujuh penyakit kronik
degeratif yang kerap dialami para lanjut usia, yaitu:
a.

Osteo Artritis (OA)


OA adalah peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa mekanik dan biologik yang

mengakibatkan penipisan rawan sendi, tidak stabilnya sendi, dan perkapuran. OA merupakan
penyebab utama ketidakmandirian pada usia lanjut, yang dipertinggi risikonya karena trauma,
penggunaan sendi berulang dan obesitas.
b.

Osteoporosis
Osteoporosis merupakan salah satu bentuk gangguan tulang dimana masa atau kepadatan

tulang berkurang. Terdapat dua jenis osteoporosis, tipe I merujuk pada percepatan kehilangan
tulang selama dua dekade pertama setelah menopause, sedangkan tipe II adalah hilangnya
masa tulang pada usia lanjut karena terganggunya produksi vitamin D.
c.

Hipertensi
Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi

dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90mmHg, yang terjadi karena
menurunnya elastisitas arteri pada proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat
21

memicu terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah (arteriosclerosis), serangan/gagal


jantung, dan gagal ginjal
e.

Diabetes Mellitus
Sekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa dimana gula darah

masih tetap normal meskipun dalam kondisi puasa. Kondisi ini dapat berkembang menjadi
diabetes melitus, dimana kadar gula darah sewaktu diatas atau sama dengan 200 mg/dl dan
kadar glukosa darah saat puasa di atas 126 mg/dl. Obesitas, pola makan yang buruk, kurang
olah raga dan usia lanjut mempertinggi risiko DM. Sebagai ilustrasi, sekitar 20% dari lansia
berusia 75 tahun menderita DM. Beberapa gejalanya adalah sering haus dan lapar, banyak
berkemih, mudah lelah, berat badan terus berkurang, gatal-gatal, mati rasa, dan luka yang
lambat sembuh.
f.

Dimensia
Merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan fungsi intelektual dan

daya ingat secara perlahan-lahan, sehingga mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari.


Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi pada usia lanjut. Adanya
riwayat keluarga, usia lanjut, penyakit vaskular/pembuluh darah (hipertensi, diabetes,
kolesterol tinggi), trauma kepala merupakan faktor risiko terjadinya demensia. Demensia juga
kerap terjadi pada wanita dan individu dengan pendidikan rendah.
g.

Penyakit jantung koroner


Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menuju jantung

terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri dada, sesak napas, pingsan, hingga
kebingungan.
h.

Kanker
Kanker merupakan sebuah keadaan dimana struktur dan fungsi sebuah sel mengalami

perubahan bahkan sampai merusak sel-sel lainnya yang masih sehat. Sel yang berubah ini
mengalami mutasi karena suatu sebab sehingga ia tidak bisa lagi menjalankan fungsi
normalnya. Biasanya perubahan sel ini mengalami beberapa tahapan, mulai dari yang ringan
sampai berubah sama sekali dari keadaan awal (kanker). Kanker merupakan penyebab
kematian nomor dua setelah penyakit jantung. Faktor resiko yang paling utama adalah usia.
Dua pertiga kasus kanker terjadi di atas usia 65 tahun. Mulai usia 40 tahun resiko untuk
timbul kanker meningkat.
Konsep Dasar Pemakaian Obat
22

Ada tiga faktor yang menjadi acuan dasar dalam pembuatan atau peresepan obat
Diagnosis dan patofisiologi penyakit
Kondisi organ tubuh
Farmakologi klinik obat (Boedi, 2006)
Setelah dokter mendiagnosis penyakit pasien, maka sebelum penentuan obat yang
diberikan perlu dipertimbangkan kondisi organ tubuh serta farmakologi dari obat yang akan
diresepkan. Pada usia lanjut banyak hal-hal yang lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan obat, karena pada golongan lansia berbagai perubahan fisiologik pada organ dan
sistema tubuh akan mempengaruhi tanggapan tubuh terhadap obat. Adapun prinsip umum
penggunaan obat pada usia lanjut :
1. Berikan obat hanya yang betul-betul diperlukan artinya hanya bila ada indikasi yang
tepat. Bila diperlukan efek plasebo berikan plasebo yang sesungguhnya
2. Pilihlah obat yang memberikan rasio manfaat yang paling menguntungkandan tidak
berinteraksi dengan obat yang lain atau penyakit lainnya
3. Mulai pengobatan dengan dosis separuh lebih sedikit dari dosis yang biasa diberikan
pada orang dewasa yang masih muda.
4. Sesuaikan dosis obat berdasarkan dosis klinik pasien, dan bila perlu dengan memonitor
kadar plasma pasien. Dosis penunjang yang tepat umumnya lebih rendah.
5. Berikan regimen dosis yang sederhana dan sediaan obat yang mudah ditelan untuk
memelihara kepatuhan pasien
6. Periksa secara berkala semua obat yang dimakan pasien, dan hentikan obat yang tidak
diperlukan lagi (Manjoer, 2004)
Farmakokinetik
Pada usia lanjut perubahan terjadi pada saluran cerna yang diduga mengubah absorbsi
obat, misalnya meningkatnya pH lambung, menurunnya aliran darah ke usus akibat
penurunan curah jantung dan perubahan waktu pengosongan lambung dan gerak saluran
cerna.
Oleh karena itu, kecepatan dan tingkat absorbsi obat tidak berubah pada usia lanjut,
kecuali pada beberapa obat seperti fenotain, barbiturat, dan prozasin (Bustami, 2001).
Pada distribusi obat terdapat hubungan antara penyebaran obat dalam cairan tubuh dan
ikatannya dengan protein plasma (biasanya dengan albumin, tetapi pada beberapa obat
dengan protein lain seperti asam alfa 1 protein), dengan sel darah merah dan jaringan tubuh
termasuk organ target.
Pada usia lanjut terdapat penurunan yang berarti pada massa tubuh tanpa lemak dan cairan
tubuh total, penambahan lemak tubuh dan penurunan albumin plasma.
Penurunan albumin sedikit sekali terjadi pada lansia yang sehat dapat lebih menjadi berarti
bila terjadi pada lansia yang sakit, bergizi buruk atau sangat lemah. Selain itu juga dapat
23

menyebabkan meningkatnya fraksi obat bebas dan aktif pada beberapa obat dan kadangkadang membuat efek obat lebih nyata tetapi eliminasi lebih cepat.
Munculnya efek obat sangat ditentukan oleh kecepatan penyerapan dan cara
penyebarannya. Durasi (lama berlangsungnya efek) lebih banyak dipengaruhi oleh kecepatan
ekskresi obat terutama oleh penguraian di hati yang biasanya membuat obat menjadi lebih
larut dalam air dan menjadi metabolit yang kurang aktif atau dengan ekskresi metabolitnya
oleh ginjal.
Sejumlah obat sangat mudah diekskresi oleh hati, antara lain melalui ambilan (uptake)
oleh reseptor di hati dan melalui metabolisme sehingga bersihannya tergantung pada
kecepatan pengiriman ke hati oleh darah. Pada usia lanjut, penurunan aliran darah ke hati dan
juga kemungkinan pengurangan ekskresi obat yang tinggi terjadi pada labetolol, lidokain, dan
propanolol.
Efek usia pada ginjal berpengaruh besar pada ekskresi beberapa obat. Umumnya obat
diekskresi melalui filtrasi glomerolus yang sederhana dan kecepatan ekskresinya berkaitan
dengan kecepatan filtrasi glomerolus (oleh karena itu berhubungan juga dengan bersihan
kreatinin). Misalnya digoksin dan antibiotik golongan aminoglikosida. Pada usia lanjut,
fungsi ginjal berkurang, begitu juga dengan aliran darah ke ginjal sehingga kecepatan filtrasi
glomerolus berkurang sekitar 30 % dibandingkan pada orang yang lebih muda. Akan tetapi,
kisarannya cukup lebar dan banyak lansia yang fungsi glomerolusnya tetap normal. Fungsi
tubulus juga memburuk akibat bertambahnya usia dan obat semacam penicilin dan litium,
yang secara aktif disekresi oleh tubulus ginjal, mengalami penurunan faali glomerolus dan
tubulus (Bustami, 2001).
Interaksi Farmakokinetik
1. Fungsi Ginjal
Perubahan paling berarti saat memasuki usia lanjut ialah berkurangnya fungsi ginjal dan
menurunnya creatinine clearance, walaupun tidak terdapat penyakit ginjal atau kadar
kreatininnya normal. Hal ini menyebabkan ekskresi obat sering berkurang, sehingga
memperpanjang intensitas kerjanya. Obat yang mempunyai half-life panjang perlu diberi
dalam dosis lebih kecil bila efek sampingnya berbahaya.
Dua obat yang sering diberikan kepada lansia ialah glibenklamid dan digoksin.
Glibenklamid, obat diabetes dengan masa kerja panjang (tergantung besarnya dosis)
misalnya, perlu diberikan dengan dosis terbagi yang lebih kecil ketimbang dosis tunggal
besar yang dianjurkan produsen. Digoksin juga mempunyai waktu-paruh panjang dan
24

merupakan obat lansia yang menimbulkan efek samping terbanyak di Jerman karena dokter
Jerman memakainya berlebihan, walaupun sekarang digoksin sudah digantikan dengan
furosemid untuk mengobati payah jantung sebagai first-line drug (Darmansjah, 1994).
Karena kreatinin tidak bisa dipakai sebagai kriteria fungsi ginjal, maka harus digunakan
nilai creatinine-clearance untuk memperkirakan dosis obat yang renal-toxic, misalnya
aminoglikoside seperti gentamisin. Penyakit akut seperti infark miokard dan pielonefritis akut
juga sering menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan ekskresi obat.
Dosis yang lebih kecil diberikan bila terjadi penurunan fungsi ginjal, khususnya bila
memberi obat yang mempunyai batas keamanan yang sempit. Alopurinol dan petidin, dua
obat yang sering digunakan pada lansia dapat memproduksi metabolit aktif, sehingga kedua
obat ini juga perlu diberi dalam dosis lebih kecil pada lansia.
2. Fungsi Hati
Hati memiliki kapasitas yang lebih besar daripada ginjal, sehingga penurunan
fungsinya tidak begitu berpengaruh. Ini tentu terjadi hingga suatu batas. Batas ini lebih sulit
ditentukan karena peninggian nilai ALT tidak seperti penurunan creatinine-clearance. ALT
tidak mencerminkan fungsi tetapi lebih merupakan marker kerusakan sel hati dan karena
kapasitas hati sangat besar, kerusakan sebagian sel dapat diambil alih oleh sel-sel hati yang
sehat.
ALT juga tidak bisa dipakai sebagai parameter kapan perlu membatasi obat tertentu.
Hanya anjuran umum bisa diberlakukan bila ALT melebihi 2-3 kali nilai normal sebaiknya
mengganti obat dengan yang tidak dimetabolisme oleh hati. Misalnya pemakaian
methylprednisolon, prednison dimetabolisme menjadi prednisolon oleh hati. Hal ini tidak
begitu perlu untuk dilakukan bila dosis prednison normal atau bila hati berfungsi normal.
Kejenuhan metabolisme oleh hati bisa terjadi bila diperlukan bantuan hati untuk metabolisme
dengan obat-obat tertentu.
First-pass effect dan pengikatan obat oleh protein (protein-binding) berpengaruh
penting secara farmakokinetik. Obat yang diberikan oral diserap oleh usus dan sebagian
terbesar akan melalui Vena porta dan langsung masuk ke hati sebelum memasuki sirkulasi
umum. Hati akan melakukan metabolisme obat yang disebut first-pass effect dan mekanisme
ini dapat mengurangi kadar plasma hingga 30% atau lebih. Kadar yang kemudian ditemukan
dalam plasma merupakan bioavailability suatu produk yang dinyatakan dalam prosentase dari
dosis yang ditelan. Obat yang diberikan secara intra-vena tidak akan melalui hati dahulu tapi
langsung masuk dalam sirkulasi umum. Karena itu untuk obat-obat tertentu yang mengalami
first-pass effect dosis IV sering jauh lebih kecil daripada dosis oral.
25

Protein-binding juga dapat menimbulkan efek samping serius. Obat yang diikat banyak
oleh protein dapat digeser oleh obat lain yang berkompetisi untuk ikatan dengan protein
seperti aspirin, sehingga kadar aktif obat pertama meninggi sekali dalam darah dan
menimbulkan efek samping. Warfarin, misalnya, diikat oleh protein (albumin) sebanyak 99%
dan hanya 1% merupakan bagian yang bebas dan aktif. Proses redistribusi menyebabkan 1%
ini dipertahankan selama obat bekerja. Bila kemudian diberi aspirin yang 80-90% diikat oleh
protein, aspirin menggeser ikatan warfarin kepada protein sehingga kadar warfarin-bebas
naik mendadak, yang akhirnya menimbulkan efek samping perdarahan spontan. Aspirin
sebagai antiplatelet juga akan menambah intensitas perdarahan. Hal ini juga dapat terjadi
pada aspirin yang mempunyai waktu-paruh plasma hanya 15 menit. Sebagian besar mungkin
tidak berpengaruh secara klinis, tetapi untuk obat yang batas keamanannya sempit dapat
membahayakan penderita (Boestami, 2001)

Farmakodinamik
Farmakodinamik adalah pengaruh obat terhadap tubuh. Respon seluler pada lansia
secara keseluruhan akan menurun. Penurunan ini sangat menonjol pada respon homeostatik
yang berlangsung secara fisiologis. Pada umumnya obat-obat yang cara kerjanya merangsang
proses biokimia selular, intensitas pengaruhnya akan menurun misalnya agonis untuk terapi
asma bronkial diperlukan dosis yang lebih besar, padahal jika dosisnya besar maka efek
sampingnya akan besar juga sehingga index terapi obat menurun. Sedangkan obat-obat yang
kerjanya menghambat proses biokimia seluler, pengaruhnya akan terlihat bila mekanisme
regulasi homeostatis melemah (Boedi, 2006)
Interaksi Farmakodinamik
Interkasi farmakodinamik pada usia lanjut dapat menyebabkan respons reseptor obat
dan target organ berubah, sehingga sensitivitas terhadap efek obat menjadi lain. Ini
menyebabkan kadang dosis harus disesuaikan dan sering harus dikurangi. Misalnya opiod
dan benzodiazepin menimbulkan efek yang sangat nyata terhadap susunan saraf pusat.
Benzodiazepin dalam dosis normal dapat menimbulkan rasa ngantuk dan tidur
berkepanjangan. Antihistamin sedatif seperti klorfeniramin (CTM) juga perlu diberi dalam
dosis lebih kecil (tablet 4 mg memang terlalu besar) pada lansia.
Mekanisme terhadap baroreseptor biasanya kurang sempurna pada usia lanjut,
sehingga obat antihipertensi seperti prazosin, suatu 1 adrenergic blocker, dapat
26

menimbulkan hipotensi ortostatik; antihipertensi lain, diuretik furosemide dan antidepresan


trisiklik dapat juga menyebabkannya (Darmansjah, 1994)
. Sayangnya, pengelompokan dosis obat hanya sebatas usia dewasa saja. Ada satu kelompok
yang terlupakan, yaitu lansia.
Usia lanjut merupakan kelompok yang mesti mendapatkan perhatian khusus dalam
berbagai hal, termasuk soal kesehatan. Populasi mereka yang berusia lebih dari 65 tahun
sekitar 75%. Sekitar 25% diantaranya, sudah mengalami penurunan kualitas dalam aktvitas
yang sifatnya instrumental seperti bertransportasi, belanja, memasak, memakai telepon,
meminum obat sendiri dan sebagainya. Selain itu, terdapat juga penurunan kualitas dalam
aktivitas sehari-hari seperti mandi, memakai baju, makan, buang air. Keluhan kesehatan pada
lansia seringkali atipikal sehingga sulit dimengerti. Kelainan pada satu sistem organ bisa jadi
sebenarnya akibat kelainan pada sistem organ yang lain.
Tak heran bila pelayanan kesehatan pada lansia membutuhkan perubahan yang
signifikan dalam pendekatan medis dibandingkan pasien usia muda. Penyakit-penyakit pada
lansia umumnya merupakan stadium awal yang sangat mudah menimbulkan gejala akibat
mekanisme homeostatik tubuh yang sudah terganggu. Berbagai penyakit yang umum terjadi
pada lansia antara lain demensia, kepribadian dependent, imobilitas, depresi, hipertensi,
stroke, kanker, osteoporosis, inkontinensia urin, penurunan berat badan dan malnutrisi,
gangguan pendengaran dan penglihatan dan sebagainya.
Jadi, wajar pasien lansia sangat membutuhkan pendekatan khusus dan perhatian lebih
matang terutama saat merencanakan terapi farmakologis. Memahami tujuan pasien berobat
akan membantu dokter agar fokus pada inti permasalahan dan tujuan terapi pada pasien
lansia.
Perubahan Farmakokinetik dan Farmakodinamik
Pengetahuan yang mesti diketahui dalam memberikan pengobatan ialah pengetahuan
mengenai farmakokinetik dan farmakodinamik obat dalam tubuh. Hal tersebut biasanya
berkaitan dengan usia pasien yang dikelompokkan menjadi bayi, balita, anak-anak dan
remaja/dewasa. Pengelompokkan itu bertujuan untuk mempermudah dokter dalam mengukur
tingkat farmakokinetik dan farmakodinamik obat dalam tubuh seseorang sehingga obat yang
diberikan pada pasien menjadi efektif untuk penyembuhan dan tidak memiliki efek samping/
toksisitas. Biasanya dalam kemasan obat yang beredar di pasaran saat ini, sudah dicantumkan
dosis pemberian normal. Akan tetapi, sayangnya dalam kemasan obat tersebut baik di
Indonesia maupun di negara lain, pengelompokkan dosis hanya sebatas hingga usia dewasa

27

saja, melupakan satu kelompok terakhir yakni lansia. Akibatnya pasien lansia ini walaupun
diberikan obat dalam dosis normal seperti dosis orang dewasa malah dapat berefek toksisitas.
Bertambahnya usia akan menyebabkan perubahan-perubahan farmakokinetik dan
farmakodinamik. Perubahan ini akan menyebabkan gangguan pada metabolisme obat
terutama akibat penurunan fungsi ginjal (filtrasi glomerulus dan sekresi tubuli) dan
penurunan bersihan hepatik. Penurunan filtrasi glomerulus sekitar 30% pada usia 65 tahun.
Perubahan

farmakokinetik

lainnya

adalah

penurunan

aktivitas

enzim

mikrosom,

berkurangnya kadar albumin plasma (sehingga dapat meningkatkan kadar obat bebas),
pengurangan berat badan dan cairan tubuh serta penambahan lemak tubuh (sehingga dapat
mengubah distribusi obat), berkurangnya perfusi hepatik karena penuaan, dan berkurangnya
absorpsi aktif. Hasil dari semua perubahan ini adalah kadar obat yang lebih tinggi dan
bertahan lebih lama dalam darah dan jaringan. Waktu paruh obat dapat meningkat sampai
50%.
Perubahan faktor-faktor farmakodinamik yakni peningkatan sensitivitas reseptor,
terutama reseptor di otak (terhadap obat-obat yang bekerja sentral) dan penurunan
mekanisme homeostatik, misalnya homeostatik kardiovaskular (terhadap obat-obat
antihipertensi). Selain faktor perubahan-perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik,
adanya berbagai penyakit pada usia lanjut juga dapat berpengaruh pada konsumsi obat
tertentu. Pasien lansia dengan kondisi kronis multiple seringkali mendapatkan banyak obat
termasuk obat yang tidak diresepkan (seperti vitamin, dan obat jual bebas lainnya).
Pemakaian banyak obat tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi obat.
Akibatnya seringkali terjadi respon yang berlebihan atau efek toksik serta berbagai efek
samping.
Prinsip umum peresepan obat pada lansia, yaitu: pertama, obat hanya diberikan
apabila ada indikasi yang tepat. Bila diperlukan efek plasebo, berikan plasebo sesungguhnya
(yang tidak mengandung bahan aktif). Kedua, pilih obat yang memberikan rasio manfaatrisiko paling menguntungkan bagi pasien lansia (misalnya bila diperlukan hipnotik, jangan
digunakan barbiturate) dan tidak berinteraksi dengan obat lain atau penyakit lain pada pasien
yang bersangkutan. Ketiga, mulailah dengan dosis separuh lebih sedikit dari dosis yang biasa
diberikan kepada pasien dewasa muda. Selanjutnya dosis obat disesuaikan berdasarkan
respon klinik pasien dan bila perlu dengan memonitor kadar obat dalam plasma pasien. Dosis
penunjang yang tepat pada umumnya lebih rendah daripada dosis untuk pasien dewasa muda.
Keempat, berikan regimen dosis yang sederhana (yang ideal 1x sehari) dan sediaan obat yang
mudah ditelan (sebaiknya sirop atau tablet yang dilarutkan dalam air) untuk memelihara

28

kepatuhan pasien. Kelima, periksa secara berkala semua obat yang dimakan pasien dan
hentikan obat yang tidak diperlukan lagi.
Besarnya dosis dapat diperkirakan dari berat badan pasien, indeks terapi obat dan cara
eliminasi obat. Untuk obat-obat yang eliminasi utamanya melalui ekskresi ginjal (misalnya
digoksin, aminoglikosida dan klorpropamid) besarnya penurunan dosis dapat diperhitungkan
berdasarkan besarnya penurunan bersihan kreatinin pasien. Sedangkan untuk obat-obat lain,
besarnya penurunan dosis hanya dikira-kira saja berdasarkan educated guess.

Beberapa contoh obat yang mesti diperhatikan


Digoksin. Obat ini dapat menyebabkan respon intoksikasi akibat filtrasi glomerulus
yang berkurang, penurunan berat badan (indeks massa tubuh) terhadap distribusi obat, adanya
gangguan elektrolit pada lansia dan penyakit kardiovaskular yang lanjut.
Antihipertensi (terutama penghambat adrenergik). Efek toksisitas obat ini dapat
mengakibatkan sinkope akibat hipotensi postural dan insufisiensi koroner karena penurunan
mekanisme homeostatik kardiovaskular pada lansia.
Diuretik (tiazid, furosemid). Efek toksisitas pada obat ini dapat mengakibatkan
hipotensi, hipokalemia, hipovolemia, hiperglikemia dan hiperurikemia. Efek tersebut
berkaitan dengan berat badan pada pasien lansia yang sudah sangat berkurang, penurunan
fungsi ginjal dan penurunan mekanisme homeostatik kardiovaskular.
Obat-obat glaukoma seperti beta bloker topikal dan asetazolamid dapat
mengakibatkan efek samping sistemik seperti bradikardi, asma dan gagal jantung. Sementara
anti emetik seperti metoklopramid dan proklorperazin dapat mengakibatkan drug-induced
parkinsonism.
Antikoagulan. Efek toksisitas obat ini dapat menyebabkan perdarahan akibat
penurunan respon homeostatik vaskular pada pasien lansia.
Barbiturat dapat menyebabkan kebingungan mental (gelisah sampai psikosis).
Diazepam, nitrazepam dan flurazepam dapat meningkatkan depresi pada Susunan Saraf
Pusat (SSP). Fenotiazin dapat menyebabkan hipotensi postural, hipotermia dan reaksi
koreiform.
Triheksifenidil dapat menyebabkan kebingungan mental, halusinasi, konstipasi dan
retensi urin. Respon berlebihan pada obat ini terjadi akibat peningkatan sensitivitas otak
terhadap obat-obat tersebut, penurunan metabolisme obat-obat tersebut di hepar serta
penurunan eliminasi obat. Isoniazid juga termasuk obat yang dimetabolisme di hati. Oleh
karena itu harus diwaspadai pula sebab dapat mengakibatkan hepatotoksisitas.
Obat lainnya yang harus diperhatikan antara lain antibiotik seperti penisilin dalam
dosis besar, aminoglikosida, streptomisin dan tetrasiklin, klorpropamid serta simetidin.
29

Streptomisin yang berlebihan dalam tubuh akan memberikan respon berupa ototoksisitas,
sementara klorpropamid akan mengakibatkan hipoglikemia. Semua obat ini dikaitkan dengan
penurunan fungsi ginjal pada lansia sehingga sulit diekskresi melalui ginjal.
POLIFARMASI PADA LANSIA
Peresepan obat pada lanjut usia (lansia) merupakan salah satu masalah yang penting,
karena dengan bertambahnya usia akan menyebabkan perubahan-perubahan farmakokinetik
dan farmakodinamik.
Pemakaian obat yang banyak (polifarmasi), lebih sering terjadi efek samping,
interaksi, toksisitas obat, dan penyakit iatrogenik, lebih sering terjadi peresepan obat yang
tidak sesuai dengan diagnosis penyakit dan berlebihan, serta ketidakpatuhan menggunakan
obat sesuai dengan aturan pemakaiannya (inadherence).
Dari data yang diperoleh, peresepan obat pada lansia berkisar sepertiga dari semua
peresepan dan separuh dari obat yang dibeli tanpa resep digunakan oleh lansia.
Secara keseluruhan, 80 % dari lansia setiap hari menggunakan paling sedikit satu
jenis obat. Dengan semakin meningkatnya jumlah lansia maka masalah peresepan obat pada
lansia akan menjadi masalah yang sangat perlu diperhatikan atau perlu mendapat perhatian
khusus.
Peresepan Obat Yang Rasional Menurut World Health Organization (1985) bahwa
yang termasuk dalam peresepkan obat yang rasional adalah jika penderita yang mendapat
obat-obatan sesuai dengan diagnosis penyakitnya, dosis dan lama pemakaian obat yang sesuai
dengan kebutuhan pasien, serta biaya yang serendah mungkin yang dikeluarkan pasien
maupun masyarakat untuk memperoleh obat.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka di dalam meningkatkan mutu
pengobatan terhadap pasien perlulah diperhatikan hal-hal yang dapat menimbulkan peresepan
obat yang tidak rasional pada lansia. Di bawah ini diuraikan beberapa bentuk peresepan obat
yang tidak rasional pada lansia, yaitu:
1. Meresepkan obat dengan boros (extravagantly drug prescribing)
Hal ini terjadi karena meresepkan obat yang mahal, sedangkan masih ada obat pilihan
lain yang lebih murah dengan manfaat dan keamanan yang sama atau hampir sama. Termasuk
juga disini berupa pemberian obat-obat yang hanya mengurangi gejala-gejala dan tanda-tanda
tanpa memperhatikan penyebab penyakit yang lebih penting.
2. Meresepkan obat secara berlebihan (over drug prescribing)
Hal ini terjadi jika dosis, lama pemberian, jumlah atau jenis obat yang diresepkan
melebihi dari yang diperlukan, termasuk juga di sini meresepkan obat-obat yang sebenarnya
tidak diperlukan untuk pengobatan penyakitnya.

30

3. Meresepkan obat yang salah (incorrect drug prescribing)


Hal ini terjadi akibat menggunakan obat untuk hal-hal yang tidak merupakan indikasi,
pemakaian obat tanpa memperhitungkan keadaan lain yang diderita pasien secara bersamaan.
4. Meresepkan obat lebih dari satu jenis (multiple drugs prescribing/polypharmacy)
Hal ini dapat terjadi pada pemberian dua jenis atau lebih kombinasi obat, sedangkan
sebenarnya cukup hanya diperlukan satu jenis obat saja, termasuk pula disini berupa
pemberian obat terhadap segala gejala dan tanda-tanda yang timbul, tanpa memberikan obat
yang dapat mengatasi penyebab utamanya.
5. Meresepkan obat yang kurang (under drug prescribing)
Hal ini dapat terjadi jika obat yang seharusnya diperlukan tidak diberikan, dosis obat
yang diberikan tidak mencukupi maupun lama pemberian terlalu singkat dibandingkan
dengan yang sebenarnya diperlukan.
Masalah Dalam Peresepan Obat
Beberapa masalah yang sering timbul dalam peresepan obat pada lansia adalah

sebagai berikut :
1. Farmakokinetik
Meliputi penyerapan, distribusi, metabolisme dan pengeluaran obat.
Penyerapan obat
Beberapa hal yang menghambat penyerapan obat pada lansia adalah berkurangnya
permukaan lapisan atas usus, berkurangnya gerakan dan aliran darah saluran cerna,
berkurangnya keasaman lambung, dan penyakit-penyakit tertentu. Sebaliknya, akibat
berkurangnya gerakan saluran cerna menyebabkan lebih lama obat didapati saluran cerna
sehingga absorpsinya lebih banyak. Akibat hal-hal tersebut di atas ma ka penyerapan obat

hanya sedikit terganggu.


Distribusi obat
Dipengaruhi oleh jumlah darah yang dipompakan jantung keseluruh tubuh per menit
(curah jantung), kelarutan obat dalam air atau lemak dan keterikatan obat dengan protein.
Akibat bertambahnya usia, curah jantung berkurang yang menyebabkan berkurangnya obat
yang terikat dengan reseptor yang terdapat di dalam sel.
Demikian juga terjadi perubahan komposisi tubuh (berkurangnya cairan dan

bertambahnya lemak tubuh) serta berkurangnya massa otot.


Mengenai kelarutan obat
Ada yang larut dalam air dan ada yang larut dalam lemak. Akibat kurangnya cairan
tubuh maka obat yang larut dalam air mempunyai volume distribusi yang lebih sedikit,
sehingga kadarnya dalam serum meningkat dan takarannya perlu dikurangi.
Sebaliknya, obat yang larut dalam lemak, akibat pertambahan lemak tubuh
menyebabkan volume distribusi meningkat, sehingga memperpanjang lamanya obat dalam
tubuh. Kadar protein (albumin) yang berkurang pada lansia menyebabkan bertambah sedikit
31

obat yang terikat dengan albumin dan bertambah banyak obat dalam bentuk bebas di dalam

serum sehingga efek obat meningkat.


Metabolisme
Berkurangnya kecepatan metabolisme pada lansia karena berkurangnya aliran darah

ke hati dan fungsi hepatosit serta enzim hati cytochrome P 450.


Pengeluaran
Berkurangnya fungsi ginjal untuk mengeluarkan obat dari tubuh pada lansia
disebabkan berkurangnya fungsi glomerulus dan tubulus. Sebagai akibatnya, obat -obat
mempunyai durasi yang lebih lama dan kadarnya lebih tinggi di dalam tubuh, sehingga
mudah terjadi efek samping dan toksisitas obat.

2. Farmakodinamik
Perubahan ini berupa gangguan kepekaan target organ terhadap obat yang dikonsumsi
pada lansia yang menyebabkan meningkatnya atau berkurangnya efek obat tersebut
dibandingkan dengan pada usia yang lebih muda. Hal ini disebabkan gangguan pengikatan
obat dengan reseptor dan berkurangnya jumlah reseptor.
3. Masalah-masalah khusus.
Beberapa masalah khusus perlu diperhatikan di dalam meresepkan obat pada lansia,

yaitu:
Polifarmasi
Lansia cenderung mengalami polifarmasi karena penyakitnya yang lebih dari satu
jenis (multipatologi), dan diagnosis tidak jelas. Polifarmasi adalah peresepan 5 jenis atau
lebih obat, baik obat makan, salep, injeksi, yang digunakan untuk jangka waktu yang lama
(480 hari atau lebih dalam 2 tahun).
Adapun lansia yang berisiko tinggi menderita penyakit atau masalah kesehatan
sebagai akibat penggunaan obat, yaitu : berusia lebih dari 85 tahun, mendapat 9 jenis atau
lebih obat atau lebih 12 dosis obat per hari, menderita 6 jenis atau lebih penyakit kronik yang
sedang aktif, terutama gangguan fungsi ginjal. Oleh karena itu, sedapat mungkin hindarilah

polifarmasi, khususnya pada yang berisiko tinggi.


Takaran obat
Akibat perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik pada lansia maka takaran obat
perlu diberikan serendah mungkin yang masih mempunyai efek untuk menyembuhkan (S!-
takaran dewasa yang dianjurkan) dan titrasi secara perlahanlahan setiap 7-14 hari sampai
tercapai efek penyembuhan yang optimal (start low, go slow, but use enough ). Jika ingin
mengganti atau mengkombinasi dengan obat lain hendaknya dosis maksimal tercapai dulu
dan kurangi jenis obat.

32

Efek samping, interaksi, toksisitas obat dan penyakit iatrogenik (penyakit yang disebabkan
obat yang digunakan) didapati hubungan positif antara jumlah obat yang digunakan dan usia

dengan risiko terjadinya efek samping, interaksi, toksisitas obat dan penyakit iatrogenik.
Ketidakpatuhan menggunakan obat menurut aturan pemakaian, memegang peranan untuk
timbulnya efek samping obat. Dalam hal ini, sebaiknya digunakan obat dengan satu kali
pemberian per hari. Jika terjadi efek samping obat, sebaiknya obat yang menimbulkan efek
samping tadi dihentikan dan jangan ditambahkan obat lain untuk mengatasi efek samping

tersebut.
Ketidakpatuhan menggunakan obat menurut aturan pemakaian menjadi meningkat dengan
bertambah banyaknya jenis obat dan kepikunan.
Peresepan Obat Yang Dianjurkan
Sehubungan dengan berbagai masalah yang telah diuraikan di atas, untuk mengurangi
kejadian terhadap masalah-masalah tersebut maka peresepan obat yang dianjurkan adalah
sebagai berikut:
Gunakan obat seminimal mungkin dan regimen dosis sesederhana mungkin.
Start low, go slow, but use enough.
Gunakan obat yang mempunyai efek samping minimal.
Pengobatan sesuai diagnosis dan hindari pengobatan berdasarkan gejala dan tanda,

serta evaluasi kembali obat-obat yang telah diberikan secara berkala.


Jangan tambahkan obat untuk mengatasi efek samping obat lain yang digunakan.
Jika ingin mengganti atau mengkombinasi obat untuk suatu diagnosis, hendaknya

dosis maksimal tercapai dulu dan kurangi jumlah obat.


Bentuk sediaan obat yang digunakan yang tepat.
Etiket/label yang digunakan pada obat yang tepat.
Keluarga dan pengasuh perlu dilibatkan dalam pemberian obat.
Biaya obat yang terjangkau, dengan mutu dan keamanan yang terjamin.

33

Polifarmasi
Istilah polifarmasi termasuk istilah di bidang kedokteran yang cukup sering
didengungkan beberapa tahun belakangan ini, khususnya di Indonesia. Polifarmasi berarti
pemakaian banyak obat sekaligus pada seorang pasien, lebih dari yang dibutuhkan secara
logis-rasional dihubungkan dengan diagnosis yang diperkirakan. Istilah ini kerap dinilai
memiliki makna berlebihan, tidak diperlukan dan sebenarnya sebagian besar dapat
dihilangkan tanpa mempengaruhi kondisi pasien dalam hasil pengobatannya.
Polifarmasi juga dinilai sebagai salah satu hal yang mubazir karena dinilai berdampak
pada membengkaknya biaya pengobatan sang pasien. Namun, dari semua penilaian negatif
tentang polifarmasi, alasan kesehatan dan keamanan mengkonsumsi beberapa obat tersebut
tetap menjadi hal krusial bagi konsumen, khususnya pasien. Dengan mengkonsumsi beberapa
obat, interaksi antarobat akan terjadi dan tidak dapat dipastikan apakah hal tersebut
berdampak baik bagi penyembuhan pasien atau justru memperburuk kondisi pasien.
Polifarmasi di Indonesia umumnya terjadi pada pasien berusia lanjut dan pasien anakanak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang yang sudah berusia lanjut sangat rentan
terhadap komplikasi penyakit seperti jantung, hipertensi, diabetes mellitus, gangguan ginjal
dan hati, gangguan pengindraan (penglihatan maupun pendengaran), gangguan fungsi
kognitif, dan beberapa penyakit lainnya.
Dengan beberapa penyakit yang sering menyerang para lansia, sudah tentu pasien
lansia ini mendapatkan pengobatan yang lebih kompleks dan banyak jenisnya. Dalam kondisi
itulah polifarmasi mungkin terjadi. Namun, jika semua obat yang dikonsumsi pasien lansia
tersebut berdampak positif terhadap penyembuhan penyakitnya, maka istilah polifarmasi
tidak berlaku.
Beberapa interaksi obat yang penting ialah:
cerivastatin dengan gemfibrozil (rhabdomyolisis, kreatin-kinase meningkat)
azathioprin dengan alopurinol (sifat sitotoksik azathioprin meningkat 3-4 kali)
34

grapefruit juice (menghambat absorbsi karbamazepin, felodipin, dan simvastatin)


St Johns wort merangsang metabolisme warfarin, indinavir, dan cyclosporine
cisapride dengan makrolid, ketokonazol, kinidin, atau grapefruit juice (torsade de

pointes dan kematian mendadak)


coumarin dengan antiplatelet (perdarahan)
Dengan kondisi demikian, seringkali para konsumen atau pasien dibuat bingung

dalam hal mengklasifikasikan apakah keadaan tersebut tergolong polifarmasi atau tidak. Bila
ditanyakan jumlah berapa yang dapat dianggap sebagai polifarmasi, sulit dinyatakan dengan
angka.
Oleh karena itu, pengertian umum sedikit ambigu karena tidak membedakan
penggunaan lebih dari satu obat yang memang ditopang dengan bukti penelitian (hipertensi,
diabetes, payah jantung) dan tidak dianggap redundant, walaupun interaksi dan efek
samping masih merupakan issue. Sehingga dalam arti asalnya terdapat unsur mubazir (tidak
perlu dan merugikan) yang memang merupakan masalah yang ada, karena dalam keadaan
multipatologis perlu dipakai lebih banyak obat (diperlukan dan ditopang dengan bukti-bukti).
Kendati polifarmasi masih sering terjadi dan kita tidak dapat mengetahui secara pasti
apakah polifarmasi tersebut terjadi atau tidak, yang penting untuk kita perhatikan adalah
bagaimana mengelola pengobatan yang kita lakukan. Menurut Pillans, ada beberapa langkah
yang dapat diterapkan untuk memanajemen polifarmasi, antara lain:
Pencegahan
Hanya mengkonsumsi obat jika ada bukti yang kuat bahwa pasien benar-benar dalam
keadaan membutuhkan pengobatan. Hindari mengkonsumsi obat untuk keadaan yang bisa
disembuhkan tanpa obat
Review pengobatan secara rutin
Me-review catatan penggunaan obat sangat penting bagi pasien untuk menjalani
beberapa pengobatan. Review tersebut meliputi terapi yang sedang dijalani maupun yang
akan dijalani, efek samping, interaksi, dosis, formulasi obat, dan berapa lama akan dilakukan.
Pendekatan non-farmasi
Gunakan gaya hidup sehat untuk mengukur kapan perlunya tindakan pengobatan
Komunikasi
Komunikasi dengan tenaga kesehatan penting bagi pasien, terutama mengenai
ekspektasi, kesulitan dalam pengobatan dan kemampuan pasien untuk memenuhi aturan
pengobatan.
Sederhanakan
Pertimbangkan kemungkinan sekecil apapun untuk dosis yang paling kecil, interval
dan pengurangan dosis sepanjang itu tepat.Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut,
diharapkan dampak dari polifarmasi yang merugikan pasien dapat diminimalisasi.

35

Bab.IV Penutup
IV.1 Kesimpulan
Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan
kondisi fisik, psikologis maupun social yang saling berinteraksi satu sama lain.
Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum
maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lanjut usia.
Di Indonesia batasan usia lanjut yang tercantum dalam Undang-undang
No.12/1998 tentang Kesejahteraan Usia Lanjut adalah sebagai berikut : Usia lanjut
adalah seorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Depsos,1999); batasan ini
sama dengan yang dikemukakan oleh Burnside dkk. Proses penuaan pada seseorang
sebenarnya sudah mulai terjadi sejak pembuahan/konsepsi dan berlangsung sampaipada saat kematian.
Menurut pasal 1 UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Usia Lajut
bahwa yang dimaksud dengan kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan
penghidupan sosial baik material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa
keselamatan, kesusilaan dan ketenteraman lahir dan batin yang memungkinkan bagi
setiap warga negara untuk mengadakan pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani dan
sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung
tinggi hak dan kewajiban asasi manusia sesuai dengan Pancasila.
Kesejahteraan ini hanya dapat tercapai jika ada jaminan sosial terutama dalam
bentuk pensiun, asuransi pensiun dan asuransi kesehatan dari pemerintah ataupun
swasta, jaminan dari anak-anaknya atau keluarganya atau yang bersangkutan sendiri.
Usia Lanjut Potensial adalah usia lanjut yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan atau jasa.

36

IV.2 Saran
Manusia yang telah memasuki usia lanjut tidak bisa berdiri sendir,
membutuhkan bantuan dari berbagai pihak tertutama pihak keluarga tapi tidak
menutup kemungkinan membutuhkan bantuan dari pemerintah terutama dalam
pelayanan kesehatan.
Bagi keluarga lebih memperhatikan kesehatan orang tua yang telah memasuki
usia lanjut karena semakin berkurangnya umur mereka semakin banyak
membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang terdekat.
Bagi pemerintah lebih memperhatikan masyarakat yang telah memasuki usia
lanjut dengan memberikan jaminan kesehatan bagi Lansia terutama bagi veteranveteran perang yang tidak diperhatikan.

37