Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, Puji dan syukur senantiasa saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad
SAW, dan para sahabat serta pengikutnya hingga akhir zaman. Karena atas rahmat dan ridhaNya, penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Kehamilan Gemeli dengan
Preeklampsia Ringan. Penulisan laporan kasus ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas dalam
menempuh kepanitraan klinik di bagian obstetrik dan ginekologi di RSUD dr. Drajat
Prawiranegara.
Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu, terutama kepada dr. Suriyaman, Sp.OG
yang telah memberikan arahan serta bimbingan ditengah kesibukan dan padatnya aktivitas
beliau.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam penulisan
laporan kasus ini. Untuk itu penulis mengharapkan kritik maupun saran yang bersifat
membangun dari para pembaca. Akhir kata penulis berharap semoga laporan kasus ini dapat
bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Serang, April 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Preeklampsia adalah kelainan malafungsi endotel pembuluh darah atau vaskular
yang menyebar luas sehingga terjadi vasospasme setelah usia kehamilan 20 minggu, yang
mengakibatkan terjadinya penurunan perfusi organ dan pengaktifan endotel yang
menimbulkan terjadinya hipertensi, edema nondependen, dan dijumpai proteinuria
300mg per 24 jam atau 30mg/dl (+1 pada dipstick) dengan nilai sangat fluktuatif saat
pengambilan urin sewaktu.
Adanya Pre-Eklampsia Ringan (PER) yang dimana belum diketahui jelas
penyebabnya. Penyakit ini dianggap sebagai maladaption syndrome akibat vasospasme
general dengan seghala akibatnya. Penanganan dari Pre-Eklampsia Ringan (PER) ialah
lebih banyak istirahat, tidak perlu diberikan obat-obatan dan pantau tekanan darah, urin,
refleks patella dan kondisi janin.
Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi sebelum usia 37 minggu. WHO
menambahkan bahwa saat ini kriteria usia hamil untuk bayi prematur adalah yang lahir
sebelum 37 minggu dengan berat lahir dibawah 2500 gram. Wanita dengan preeklampsia
dan kehamilan preterm perlu diobservasi dengan pengawasan kondisi kesejahteraan ibu
dan janin secara ketat.
Kehamilan kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan
dua janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan ganda atau gemelli
(2 janin), triplet ( 3 janin ), kuadruplet ( 4 janin ), quintiplet (5 janin ) dan seterusnya
dengan frekuensi kejadian yang semakin jarang sesuai dengan hukum Hellin. Morbiditas
dan mortalitas mengalami peningkatan yang nyata pada kehamilan dengan janin ganda,
oleh karena itu mempertimbangkan kehamilan ganda sebagai kehamilan dengan
komplikasi bukanlah hal yang berlebihan.
Karena itu, penulis ingin mengangkat topik kehamilan gemeli dengan pre
eklampsia untuk mengetahui lebih lanjut tentang adakah hubungan diantaranya .

BAB II
REKAM MEDIK
II. I.

IDENTITAS
Nama
Usia
Alamat
Pekerjaan
Pendidikan
Agama
No. RM
Tanggal masuk
II. II. ANAMNESIS

: Ny. M
: 37 tahun
: Capang Calung. Mancak
: Ibu rumah tangga
: Tamat SLTP
: Islam
: 00.14.17.04
: 29-03-2016
Jam : 18.30

(Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 29 Maret 2016 jam 18.45 WIB)


Keluhan Utama

: Hamil 38 minggu dengan mulas-mulas seperti ingin


melahirkan

Keluhan tambahan

: Bengkak pada kedua kaki

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke RSUD dr.Drajat Prawiranegara dengan keluhan mulas-mulas
seperti ingin melahirkan sejak 1 hari SMRS (28/03/2016). Namun mulas-mulas terasa
lebih sering sejak siang hari ini, sebanyak 3 kali. Kemudian pasien ke poli kandungan
RSUD dr.Drajat Prawiranegara untuk memeriksakan kandungannya dan pasien
disarankan untuk di rawat oleh dr. SpOG. Pasien mengatakan belum keluar cairan dan
darah dari jalan lahir. Pasien sedang hamil anak ketiga dan belum pernah keguguran
sebelumnya. Pasien mengatakan gerakan janin dirasakan saat usia kehamilan 5 bulan
sampai sekarang. Pasien tidak pernah diurut dan jatuh selama hamil. Pasien mengatakan
setiap bulan memeriksakan kandungan di klinik dan mendapatkan vitamin dan penambah
darah. Pasien pernah di USG di bidan dan dari hasil pemeriksaan bahwa pasien sedang
hamil kembar.
Pasien mengatakan bulan-bulan pertama kehamilan sering merasakan mual dan
muntah. Pasien merasakan perut mulai membesar saat usia kehamilan 3 bulan.
3

Riwayat Menstruasi

Menarche
: 11 tahun
Siklus
: Teratur
Lama
: 7 hari
Banyak
: 2x Ganti pembalut (tidak ada gumpalan darah)
Dismenorrhea : Flour Albus
:HPHT
: Lupa
TP
:Riwayat Pernikahan
Menikah 1 kali, menikah selama 21 tahun
Lama pernikahan 16 tahun
Usia pasien saat menikah
: 25 tahun
Usia suami saat menikah
: 27 tahun
Pernikahan Syah
Riwayat Persalinan dan Kehamilan
G3P2A 0
Usia Kehamilan : 38 minggu
Jumlah anak hidup : 2
I : usia 15 tahun, usia kehamilan 9 bulan, lahir di vakum oleh dokter di RS, kelamin
perempuan dengan BBL 3500 gram.
II : usia 1 tahun 9 bulan, usia kehamilam 9 bulan, lahir spontan oleh bidan di klinik,

kelamin laki-laki dengan BBL 3000 gram.


Riwayat ANC
- Rutin periksa kehamilannya tiap bulan di poliklinik RS dr. Drajat Prawiranegara
dan klinik di anyer
- Pasien di beri vitamin dan penambah darah
- Kenaikan Berat Badan : 16 kg
- Tekanan darah tertinggi pasien 140/100
Riwayat Kontrasepsi
KB suntik 3 bulan selama 6 bulan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Asma
: keluhan sesak napas disertai bunyi mengi, disangkal
Hipertensi : keluhan nyeri kepala, riwayat hipertensi disangkal
Hepatitis
: riwayat penyakit kuning, mual, muntah hebat disangkal
DM
: banyak makan, banyak minum, banyak BAK disangkal
HIV
: riwayat penggunaan narkoba (jarum suntik) dan mengganti-ganti
pasangan disangkal
Riwayat Penyakit Dahulu
Asma
: keluhan sesak napas disertai bunyi mengi, disangkal
Hipertensi : keluhan nyeri kepala, riwayat hipertensi disangkal
Hepatitis
: riwayat penyakit kuning, mual, muntah hebat disangkal
4

DM
: banyak makan, banyak minum, banyak BAK disangkal
HIV
: riwayat penggunaan narkoba (jarum suntik) dan mengganti-ganti
pasangan disangkal
II. III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
: Sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda Vital
Tekanan darah : 150/110 mmHg
Respirasi
: 24 x/menit
Nadi
: 96 x/menit
Suhu
: 37 C
Status Generalis
Kepala
: Normochepale, rambut hitam, tidak mudah di cabut
Mata
: Edema Palpebra (+/+), Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Leher
: Pemberasan KGB (-), pembesaran tiroid (-)
JVP 5-2cm H20
Thorax
: Simetris saat statis dan dinamis
Mammae
: Membesar, papilla mame menegang, hiperpigmentasi aerola
Pulmo
: Vesikuler (+/+), rhonki basah basal (-/-), wheezing (-/-)
Cor
: S1 S2 reguler, murmur sistolik (-/-), gallop (-/-)
Abdomen
: Shifting dullness (+), status obstetrikus
Ekstremitas : Akral hangat, udem pada kedua kaki, reflex patella (+/+)
Status Obstetri
Inspeksi
: Abdomen tampak membesar, linea nigra (+), striae gravidarum (+)
Palpasi
: Leopold I
: TFU= 38cm. Teraba bulat, lunak, tidak melenting.
Teraba bulat, keras, melenting

Auskultasi

Leopold II : Kanan
= Teraba panjang keras memanjang
Kiri
= Teraba panjang keras memanjang
Leopold III : Teraba bagian bulat, keras, dan melenting.
Leopold IV : Konvergen.
HIS
: 3x/10x35
: Punctum maksimum: 2
Letak: Setinggi umbilikus perut kanan ibu
Setinggi umbilikus perut kiri ibu
DJJ I: 155x/ menit (teratur)
DJJ II : 143x/menit (teratur)

Pemeriksaan Dalam (VT)


Vulva -vagina
: Dalam batas normal
Portio
: Lunak, arah depan
Pembukaan
: 4 cm
Efficement
: 70%
Ketuban
:+
Bagian terendah
: ubun-ubun kecil depan
Penurunan
: Hodge II
Bloody show
: (-)
5

II. IV.
PEMERIKSAAN TAMBAHAN
Pemeriksaan Laboratorium
Haemoglobin : 9,90 g/dl
Leukosit
: 13.530 /ul
Hematokrit : 26,43 %
Trombosit
: 237.000 /ul
Gula darah Sewaktu : 78 mg/dl
Ureum : 10 mg/dl
Creatinin : 0,47 mg/dl
Asam urat : 4.90 mg/dl
Cholesterol : 364 mg/dl
Triglyserida : 362 mg/dl
SGOT : 18 U/L
SGPT : 12 U/L
Albumin : 2,3 g/dL
Klorida : 96 mmol/L
Natrium : 133,60 mmol/L
Kalium : 3,33 mmol/L
HBsAg : Anti HIV (R) : non reaktif
Urine
Makroskopis
Warna
: Kuning tua
Kekeruhan
: Jernih
PH
: 6.0
Berat jenis
: 1.020
Protein
:+
Glukosa
:Keton
:Darah samar : Nitrit
:Urobilinogen : -

II. V.
DIAGNOSIS KERJA
G3P2Ao hamil 38 minggu inpartu kala I fase aktif dengan inertia uteri + pre eklampsia
ringan, janin ganda hidup, presentasi kepala-bokong.
II. VI.

PENATALAKSANAAN
Menjelaskan kepada ibu dan keluarga terhadap hasil pemeriksaan
Mengobservasi keadaan umum dan kesadaran
Mengobservasi tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu
Mengobservasi HIS, DJJ dan kemajuan persalinan
Merawat infus RL 20 tpm
6

Menganjurkan ibu untuk bedrest


Beriksan amoksisillin 1gr intravena

II. VII. PROGNOSIS


Ibu
Ad vitam
: ad bonam
Ad funtionam : ad bonam
Bayi
Ad vitam
: ad bonam
Ad funtionam : ad bonam

FOLLOW UP

Tanggal
29/03/2016

Jam
18.30

Perjalanan Penyakit
S/ pasien mengatakan badan

Terapi/Tindakan Medik
P/

terasa lemas
O/ ku: sedang , ks: compos

Memasang infus RL

mentis
TD: 150/100
Nadi: 97x/m
Respi: 23 x/m
Suhu: 36,6 C
DJJ 143/menit
HIS: 3x/10x35
VT= v/u/v : tak
Pembukaan : 4 cm
Ketuban : +
Eff: 70%
Penurunan : hodge II

20 tpm
Mengambil sampel
darah vena + urine
untuk dilakukan

pemeriksaan lengkap
Observasi KU, KS,

dan Tanda vital


Observasi HIS, DJJ
dan kemajuan

Bagian terendah: ubun-ubun kecil

persalinan
Lapor dr. Suriyaman,

depan

SpOG observasi
7

A/ G3P2Ao

hamil 38 minggu

inpartu kala I fase aktif dengan


inertia uteri + pre eklampsia
ringan,

janin

ganda

hidup,

presentasi kepala-bokong.
30/03/2016

00.00

S/ pasien mengatakan badan


masih terasa lemas
O/ ku: sedang , ks: compos

P/
Observasi KU, KS
Observasi tekanan darah,

nadi, respirasi, suhu


mentis
Observasi kontraksi
TD: 150/90
Nadi: 90x/m
uterus, TFU dan PPV
Respi: 24 x/m
Melepas infus
Suhu: 36,6 C
Kontraksi uterus baik, TFU 2 jari Menyarankan ibu untuk
mobilisasi
di bawah pusat, PPV + sedikit
Menghubungi ruang
inaktif, terpasang infus RL +
wijaya kusuma untuk di
oxytocin 20 tpm 5 unit
rawat
A/ P4A0 post partum gemelly 2 Pindah ruang wijaya
jam yang lalu dengan Pre
kusuma
Eklampsia Ringan. Bayi hidup,
rawat gabung.

30/03/2016

00.30

Ruang wijaya kusuma


S/ pasien sudah bisa BAK
O/ ku: sedang , ks: compos

P/ Diberikan terapi :
Amoxicillin 500 mg

mentis
TD: 150/80
Nadi: 92x/m
Respi: 24 x/m
Suhu: 36,5C
Kontraksi uterus baik, TFU 2 jari

3x1 tablet
Asam mefenamat 500
mg 3x1 tablet

di bawah pusat, PPV + sedikit


inaktif.
A/ P4A0 post partum gemelly
dengan Pre Eklampsia Ringan.
Bayi I hidup dengan spontan,
Bayi II hidup dengan lovset.

30/03/2016

07.30

S/ pasien mengatakan kaki


bengkak
O/ ku: sedang , ks: compos
mentis
TD: 130/90
Nadi: 84 x/m
Respi: 24 x/m
Suhu: 36,7C
Kontraksi uterus baik, TFU 2 jari

P/ Diberikan terapi :
Lasix 1x1 tablet
Amoxicillin 500 mg

3x1 tablet
Asam mefenamat 500

mg 3x1 tablet
Hemafort 1x1 tablet
Kolaborasi dr.

di bawah pusat, PPV + sedikit

Suriyaman, SpOG

inaktif.

Pasien Boleh Pulang

A/ P4A0 post partum gemelly


dengan Pre Eklampsia Ringan.
Bayi I hidup dengan spontan,
Bayi II hidup dengan lovset.

BAB IV
DISKUSI KASUS
Permasalahan:
1. Apakah diagnosis sudah tepat?
2. Apakah penatalaksanaan sudah tepat?
Pembahansan
1. Apakah diagnosis sudah tepat?
Diagnosis masuk
G3P2Ao hamil 38 minggu inpartu kala I fase aktif dengan inersia uteri + pre eklampsia
ringan, janin ganda hidup, presentasi kepala-bokong.
Post partum
P4 A0 post partum spontan a/i Preeklamsia ringan. Bayi Hidup
Dari anamnesa, ditemukan bahwa pasien

Mempunyai tekanan darah tinggi saat kehamilan


Selama hamil ini tekanan darah pasien berkisar 140/90-150/100
Bengkak pada kedua kaki
Keluhan pusing, nyeri ulu hati dan mua-muntah disangkal
10

Dari Pemeriksaan Fisik ditemukan bahwa pasien


Tekanan Darah 150/100
Edema ekstrimitas
Pemeriksaan Laboratorium
Haemoglobin : 9,90 g/dl
Leukosit
: 13.530 /ul
Urine
Makroskopis
Warna
: Kuning tua
Protein
:+

Preeklamsia sebelumnya didefinisikan sebagai gangguan multisistemik yang


ditandai dengan onset baru hipertensi, yaitu tekanan darah sistolik 140 mmHg dan atau
tekanan darah diastolik 90 mmHg dan proteinuria lebih 300 mg / 24 jam timbul
setelah 20 minggu kehamilan pada wanita yang sebelumnya normotensif.
Dari semua gejala tersebut, timbulnya hipertensi dan proteinuria merupakan
gejala yang paling penting. Namun, sayangnya penderita sering kali tidak merasakan
perubahan ini. Bila penderita sudah mengeluh adanya gangguan nyeri kepala, gangguan
pengelihatan, atau nyeri epigastrium, maka penyakit ini sudah cukup lanjut.
Preeklampsia ringan ditandai dengan sistolik/diastolik > 140/90 mmHg,
sedikitnya enam jam pada dua kali pemeriksaan tanpa kerusakan organ. Proteinuria > 300
mg/24 jam atau > 1 + dipstik. Edema generalisata yaitu pada lengan, muka, dan perut.
Pre eklampsia adalah suatu kondisi yang spesifik pada kehamilan, terjadi setelah
minggu ke 20 gestasi, ditandai dengan hipertensi dan protein uria, edema juga bisa
terjadi. Penyebab pre eklampsia sampai sekarang belum diketahui. Teori yang banyak
dikemukakan sebagai sebab pre eklampsia ialah iskemia plasenta. Namun dengan teori
ini tidak dapat diterangkan semua yang berkaitan dengan penyakit itu. Hal ini disebabkan
karena tidak hanya satu faktor saja yang menyebabkan pre eklampsia, melainkan banyak
faktor penyebab.
Penyebab preeklampsia sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti,
sehingga penyakit ini disebut dengan The Diseases of Theories. Beberapa faktor yang
berkaitan dengan terjadinya preeklampsia adalah:
a

Faktor Trofoblast
11

Semakin banyak jumlah trofoblast semakin besar kemungkina terjadinya


Preeklampsia. Ini terlihat pada kehamilan Gemeli dan Molahidatidosa. Teori ini didukung
pula dengan adanya kenyataan bahwa keadaan preeklampsia membaik setelah plasenta
lahir.
b

Faktor Imunologik
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan jarang timbul lagi pada
kehamilan berikutnya. Secara Imunologik dan diterangkan bahwa pada kehamilan
pertama pembentukan Blocking Antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna,
sehingga timbul respons imun yang tidak menguntungkan terhadap Histikompatibilitas
Plasenta. Pada kehamilan berikutnya, pembentukan Blocking Antibodies akan lebih
banyak akibat respos imunitas pada kehamilan sebelumnya, seperti respons imunisasi.
Fierlie FM (1992) mendapatkan beberapa data yang mendukung adanya sistem
imun pada penderita Preeklampsia-Eklampsia :

Beberapa wanita dengan Preeklampsia-Eklampsia mempunyai komplek imun dalam


serum.

Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi system komplemen pada


Preeklampsia-Eklampsia diikuti dengan proteinuri.

Faktor Hormonal
Penurunan hormon Progesteron menyebabkan penurunan Aldosteron antagonis,
sehingga menimbulkan kenaikan relative Aldoteron yang menyebabkan retensi air dan
natrium, sehingga terjadi Hipertensi dan Edema.

Faktor Genetik
Menurut Chesley dan Cooper (1986) bahwa Preeklampsia / eklampsia bersifat
diturunkan melalui gen resesif tunggal.2 Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor
genetic pada kejadian Preeklampsia-Eklampsia antara lain :
1) Preeklampsia hanya terjadi pada manusia.
2) Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekwensi Preeklampsia-Eklampsia
pada anak-anak dari ibu yang menderita Preeklampsia-Eklampsia.
3) Kecendrungan meningkatnya frekwensi Preeklampsia-Eklampsia pada anak dan
cucu ibu hamil dengan riwayat Preeklampsia-Eklampsia.

e. Faktor Gizi
12

Menurut Chesley (1978) bahwa faktor nutrisi yang kurang mengandung asam
lemak essensial terutama asam Arachidonat sebagai precursor sintesis Prostaglandin akan
menyebabkan Loss Angiotensin Refraktoriness yang memicu terjadinya preeklampsia.
f

Peran Prostasiklin dan Tromboksan


Pada Preeklampsia-Eklampsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler,
sehingga terjadi penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal
meningkat, aktivasi penggumpalan dan fibrinolisis, yang kemudian akan diganti trombin
dan plasmin. Trombin akan mengkonsumsi antitrombin III, sehingga terjadi deposit
fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TXA2) dan serotonin,
sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel.
Kehamilan Gemeli
Kehamilan kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan
dua janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan ganda/ gemelli
(2 janin), triplet ( 3 janin ), kuadruplet ( 4 janin ), quintiplet ( 5 janin ) dan seterusnya
dengan frekuensi kejadian yang semakin jarang sesuai dengan hukum Hellin.
Hukum Hellin menyatakan bahwa perbandingan antara kehamilan ganda dan
tunggal adalah 1: 89,untuk triplet 1 : 892, untuk kuadruplet 1 : 893, dan seterusnya.
Kehamilan tersebut selalu menarik perhatian wanita itu sendiri, dokter dan masyarakat
pada umumnya. Morbiditas dan mortalitas mengalami peningkatan yang nyata pada
kehamilan dengan janin ganda, oleh karena itu mempertimbangkan kehamilan ganda
sebagai kehamilan dengan komplikasi bukanlah hal yang berlebihan.
Etiologi
Janin kembar dua biasanya terjadi akibat pembuahan dua ovum terpisah- kembar dizigot
atau fraternal. Meskipun lebih jarang, kembar dua dapat berasal dari satu ovum yang
dibuahi yang kemudian terbelah-kembar monozigot atau identik. Kedua proses ini dapat
terjadi pada kehamilan dengan jumlah janin lebih banyak. Kuadruplet, sebagai contoh,
dapat berasal dari satu sampai empat ovum.
1.

Kembar Monozigotik
13

Merupakan kehamilan kembar yang berasal dari satu ovum tunggal yang dibuahi yang
kemudian membagi menjadi dua struktur yang sama, masing-masing dengan potensi
untuk berkembang menjadi suatu individu yang terpisah. Sehingga disebut juga hamil
kembar identik atau hamil kembar homolog atau hamil kembar uniovuler.
Kira-kira 1/3 kehamilan ganda monozigot mempunyai 2 amnion, 2 korion, dan 2
plasenta, kadang-kadang 2 plasenta menjadi satu, 2/3 mempunyai 1 plasenta, 1 korion
dan 1 atau 2 amnion. Hasil akhir dari proses pengembaran monozigotik tergantung pada
kapan pembelahan terjadi, dengan uraian sebagai berikut :

Apabila pembelahan terjadi didalam 72 jam pertama setelah pembuahan:


maka dua embrio, dua amnion serta dua chorion akan terjadi dan kehamilan diamnionik
dan dichorionik. Kemungkinan terdapat dua plasenta yang berbeda atau suatu plasenta
tunggal yang menyatu.

Apabila pembelahan terjadi antara hari ke-4 dan ke-8:


maka dua embrio akan terjadi, masing-masing dalam kantong yang terpisah, dengan
chorion bersama, dengan demikian menimbulkan kehamilan kembar diamnionik,
monochorionik.

Apabila terjadi sekitar 8 hari setelah pembuahan dimana amnion telah terbentuk,
maka pembelahan akan menimbulkan dua embrio dengan kantong amnion bersama, atau
kehamilan kembar monoamnionik, monochorionik.

Apabila pembuahan terjadi lebih belakang lagi, yaitu setelah lempeng embrionik
terbentuk, maka pembelahannya tidak lengkap dan terbentuk kembar yang menyatu.
2.
Kembar Dizigot
Dizigotik, atau fraternal, kembar yang ditimbulkan dari dua ovum yang terpisah. Kembar
dizigotik terjadi dua kali lebih sering daripada kembar monozigotik dan insidennya
dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain yaitu ras, riwayat keluarga, usia maternal,
paritas, nutrisi dan terapi infertilitas. Kira-kira 2/3 kehamilan kembar adalah dizigotik
yang berasal dari 2 telur. Jenis kehamilan sama atau berbeda, mereka berbeda seperti
14

anak-anak lain dalam keluarga. Kembar dizigotik mempunyai 2 plasenta, 2 korion, dan 2
amnion, kadang-kadang 2 plasenta menjadi satu.
Patofisiologi
Pada kehamilan kembar sering terjadi distensi uterus berlebihan, sehingga
melewati batas toleransi dan seringkali terjadi partus prematurus. Lama kehamilan
kembar dua rata-rata 260 hari, triplet 246 hari dan kuadruplet 235 hari.
Berat lahir rata-rata kehamilan kembar 2500gram, triplet 1800 gram, kuadriplet
1400gram. Penentuan zigositas janin dapat ditentukan dengan melihat plasenta dan
selaput ketuban pada saat melahirkan.
Bila terdapat satu amnion yang tidak dipisahkan dengan korion, maka bayi tesebut
adalah monozigotik. Bila selaput amnion dipisahkan oleh korion, maka janin tersebut
bisa monozigotik tetapi lebih sering dizigotik. Pada kehamilan kembar dizigotik hampir
selalu berjenis kelamin berbeda. Kembar dempet atau kembar siam terjadi bila hambatan
pembelahan setelah diskus embrionik dan sakus amnion terbentuk, bagian tubuh yang
dimiliki bersama dapat.
Secara umum, derajat dari perubahan fisiologis maternal lebih besar pada
kehamilan kembar dibanding dengan kehamilan tunggal. Pada trimester I sering
mengalami nausea dan muntah melebihi daripada kehamilan-kehamilan tunggal.
Perluasan volume darah maternal normal adalah 500 ml lebih besar pada kehamilan
kembar, dan rata-rata kehilangan darah dengan persalinan pervaginam adalah 935 ml,
atau hampir 500 ml lebih banyak dibanding dengan persalinan dari janin tunggal.
Massa sel darah merah meningkat juga, namun secara proporsional lebih
sedikit pada kehamilan-kehamilan kembar dua dibanding pada kehamilan tunggal, yang
menimbulkan anemia fisiologis yang lebih nyata. Kadar haemoglobin kehamilan
kembar dua rata-rata sebesar 10 g/dl dari 20 minggu ke depan. Sebagaimana
diperbandingkan dengan kehamilan tunggal, cardiac output meningkat sebagai akibat
dari peningkatan denyut jantung serta peningkatan stroke volume. Ukuran uterus yang
lebih besar dengan janin banyak meningkatkan perubahan anatomis yang terjadi selama
kehamilan. Uterus dan isinya dapat mencapai volume 10 L atau lebih dan berat lebih dari
20 pon.

15

Khusus dengan kembar dua monozygot, dapat terjadi akumulasi yang cepat dari
jumlah cairan amnionik yang nyata sekali berlebihan, yaitu hidramnion akut. Dalam
keadaan ini mudah terjadi kompresi yang cukup besar serta pemindahan banyak viscera
abdominal selain juga paru dengan peninggian diafragma.
Ukuran dan berat dari uterus yang sangat besar dapat menghalangi keberadaan
wanita untuk lebih sekedar duduk. Pada kehamilan kembar yang dengan komplikasi
hidramnion, fungsi ginjal maternal dapat mengalami komplikasi yang serius, besar
kemungkinannya sebagai akibat dari uropati obstruktif. Kadar kreatinin plasma serta
urine output maternal dengan segera kembali ke normal setelah persalinan. Berbagai
macam stress kehamilan serta kemungkinan-kemungkinan dari komplikasi-komplikasi
maternal yang serius hampir tanpa kecuali akan lebih besar pada kehamilan kembar.
Frekuensi preeklamsia dan eklamsia dilaporkan lebih sering pada kehamilan
kembar. Hal ini diterangkan dengan penjelasan bahwa keregangan uterus yang berlebihan
menyebabkan iskemia uteri. Beberapa komplikasi yang sering terjadi pada kehamilan
kembar adalah sebagai berikut :
Ibu

Anak

Anemia

Hidramnion

Hipertensi

Malpresentasi

Partus prematurus

Plsenta previa

Atonia uteri

Solusio plasenta

Perdarahan pasca persalinan

Ketuban pecah dini


Prolapsus funikulus
Pertumbuhan janin terhambat
Kelainan bawaan

Kala I diperlakukan seperti biasa bila janin letak memanjang. Episiotomi


mediolateral dilakukan untuk mengurangi trauma kepala pada janin prematur. Setelah
janin pertama lahir, presentasi janin kedua, dan taksiran berat janin harus segera
ditentukan dengan pemeriksaan bimanual. Biasanya dalam 10 sampai 15 menit his akan
kuat lagi, bila his tidak timbul dalam 10 menit diberikan 10 unit oksitosin yang
diencerkan dalam infus untuk menstimulasi aktifitas miometrium.

16

Apabila janin kedua letak memanjang, tindakan selanjutnya adalah melakukan


pecah ketuban dengan mengalirkan ketuban secara perlahan-lahan. Penderita dianjurkan
mengejan atau dilakukan tekanan terkendali pada fundus agar bagian bawah janin masuk
dalam panggul, dan pimpinan persalinan kedua seperti biasa.
Apabila janin kedua letak lintang dengan denyut jantung janin dalam
keadaan baik, tindakan versi luar intrapartum merupakan pilihan. Setelah bagian
presentasi terfiksasi pada pintu atas panggul, selaput ketuban dipecah selanjutnya
dipimpin seperti biasanya. Bila janin kedua letak lintang atau terjadi prolap tali pusat dan
terjadi solusio plasenta tindakan obsterik harus segera dilakukan, yaitu dengan dilakukan
versi ekstraksi pada letak lintang dan ekstraksi vakum atau forseps pada letak kepala.
Seksiosesarea dilakukan bila janin pertama letak lintang, terjadi prolap tali pusat,
plasenta previa pada kehamilan kembar atau janin pertama presentasi bokong dan janin
kedua

presentasi

kepala,

dikhawatirkan

terjadi

interlocking

dalam

perjalanan persalinannya. Sebaiknya, pada pertolongan persalinan kembar dipasang


infus profilaksis

untuk

mengantisipasi

kemungkinan

terjadinya

perdarahan

post partumnya. Pada kala empat diberikan suntikan 10 unit sintosinon ditambah 0,2 mg
methergin intravena.
Kemungkinan lain pada persalinan kembar dengan usia kehamilan preterm
dengan janin pertama presentasi bokong adalah terjadinya aftercoming head oleh karena
pada janin prematur lingkar kepala jauh lebih besar dibandingkan lingkar dada,
disamping itu ukuran janin kecil sehingga ektremitas dan tubuh janin dapat dilahirkan
pada dilatasi servik yang belum lengkap, prolapsus tali pusat juga sering terjadi pada
persalinan preterm. Apabila kemungkinan-kemungkinan ini dapat diprediksikan, tindakan
seksiosesarea adalah tindakan yang bijaksana.
Gejala klinis
-

Besarnya perut hamil melebihi lamanya terlambat menstruasi.


Besarnya rahim bertambah lebih cepat dari biasanya.
Bertambahnya berat badan ibu hamil lebih besar.
Dapat diraba banyak bagian kecil janin.
Dapat diraba tiga bagian besar janin dan teraba dua balotemen
Sering disertai hamil dengan hidramnion.
Teraba dua kepala.
Teraba dua bokong atau dua punggung.
17

Perbedaan denyut jantung janin dengan jumlah lebih dari 10 denyut.


Dengan alat bantu ultrasonografi dan foto abdominal akan tampak dua janin dalam
rahim.

2. Apakah penatalaksanaan sudah tepat?


Penulis setuju dengan penatalaksanaan pasien pada kasus ini. Kelahiran harus
segera diinduksi secepatnya setelah diagnosa dapat ditegakkan. Pada satu penelitian,
penundaan kelahiran lebih dari 24 jam setelah terdiagnosis dihubungkan dengan
peningkatan terjadinya masa anxietas dibandingkan dengan wanita yang kelahirannya
diinduksi dalam waktu 6 jam.
Dalam kasus ini, rencana penatalaksanaan pada pasien adalah:

Menjelaskan kepada ibu dan keluarga terhadap hasil pemeriksaan


Mengobservasi keadaan umum dan kesadaran
Mengobservasi tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu
Mengobservasi HIS, DJJ dan kemajuan persalinan
Merawat infus RL 20 tpm
Menganjurkan ibu untuk bedrest
Beriksan amoksisillin 1gr intravena
Bed rest atau istirahat di tempat tidur merupakan terapi utama dalam penanganan

preeklampsia ringan. Istirahat dengan berbaring pada sisi tubuh menyebabkan aliran
darah ke plasenta dan aliran darah ke ginjal meningkat, tekanan vena pada
ekstremitas bawah menurun dan reabsorpsi cairan bertambah.Selain itu dengan
istirahat di tempat tidur mengurangi kebutuhan volume darah yang beredar dan juga
dapat menurunkan tekanan darah. Apabila preeklampsia tersebut tidak membaik
dengan penanganan konservatif, dalam hal ini kehamilan harus diterminasi jika
mengancam nyawa ibu dan janin.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

18

Pre Eklampsia Ringan merupakan suatu penyakit yang menyangkut gangguan


multisistem, dimana penyebabnya belum diketahui lebih jelas dan dari penanganannya
hanya diperlukan istirahat yang banyak untuk menurunkan tekanan darah.
Pemeriksaan antenatal care perlu dan rutin dilakukan pada ibu hamil terutama saat
kehamilan diatas 20 minggu. Di samping tekanan darah, pemeriksaan fisik, dan
laboratorium penting pula dilakukan untuk mendiagnosis seorang pasien dengan
hipertensi pada kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo,S. Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan bina pustaka. 2010
19

2. Kosim, S. Buku Ajar Neonatologi, Jakarta: IDAI. 2009


3. Cunningham, F Gary. 2012. Obstetri Williams edisi 23, volume 2 Kehamilan
Multijanin. Jakarta : EGC. 907-932
4. Silingardi E, Santunione AL, Rivasi F, Gasser B, Zago S, Garagnani L. Unexpected
intrauterine fetal death in parvovirus B19 fetal. Am J forensic med pathol
2010;30:394-397.
5. Manuaba, I.G.B. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC. 2011
6. Roberts JM, Bernstein IM, dkk. Hypertension in pregnancy. Washington: American
collage of obstetricians and gynecologist. 2013
7. American Society for Reproductive Medicine. 2012. Multiple Pregnancy and Birth:
Twins,

Triplets,

and

High-order

Multiples.

Diakses

melalui

https://www.asrm.org/uploadedFiles/ASRM_Content/Resources/Patient_Resources/
Fact_Sheets_and_Info_Booklets/multiples.pdf,

20