Anda di halaman 1dari 6

A.

Perkembangan Awal Akuntansi


Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian
mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan
pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di
dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Pada awalnya akuntansi
merupakan bagian ilmu pasti, yaitu bagian dari pengetahuan yang berhubungan
dengan masalah hukum alam dan perhitungan yang bersifaf memiliki kebenaran
absolut. Perubahan ilmu akuntansi dari bagian ilmu pasti menjadi ilmu sosial lebih
di sebabkab oleh faktor- faktor perubahan dalam masyarakat yang semula
dianggap sebagai sesuatu yang konstan, misalnya transaksi usaha yang di
pengaruhi oleh budaya dan tradisi serta kebiasaan dalam masyrakat. Oleh karna
sebab itu akuntansi masih berada ditengah-tengah pembagian ilmu pengetahuan
tersebut hingga kini. Bahkan pemikiran mayoritas akutansi masih menitikberatkan
pada pemikiran positif melalui penggunaan data empiris dengan pengolahan yang
bersifat matematis.
Akuntansi yang kita kenal sekarang di klaim berkembang dari peradaban
barat (sejak paciolli), padahal apabila di lihat secara mendalam dari proses lahir
dan perkambangannya, terlihat jelas pengaruh keadaan masyarakat atau peradaban
sebelumnya baik Yunani maupun Arab Islam.
B. Sejarah akuntansi
Akuntansi merupakan salah satu profesi tertua di dunia. Dari sejak jaman
prasejarah, keluarga memiliki perhitungan tersendiri untuk mencatat makanan dan
pakaian yang harus meereka persiapakan dan mereka gunakan pada saat musim
dingin. Walaupun akuntansi sudah ada sejak zaman prasejarah, saat ini kita hanya
mengenal Luca Paciolli sebagai bapak akutansi modern. Paciolli, seorang ilmuan
dan pengajar di bebrapa universitas yang lahir di tuscany- Italia paa tahun 1445,
merupakan orang yang di anggap menemukan persamaan akutansi untuk pertama
kali pada tahun 1494 dengan bukunya : Summa de arithmetica geometria et
proportionalita (A Review of arithmetica, geometry and proportions), dalam buku
tersebut, beliau menerangkan mengenai double entry book keeping sebagai dasar

perhitungan akuntansi modern, bahkan juga hampir seluruh kegiatan rutin


akuntansi yang kita kenal saat ini seperti penggunaan jurnal, buku besar (ledger).
Sebenarnya, Luca Paciolli bukanlah orang yang menemukan double entry
book keeping system, mengingat sistem tersebut telah di lakukan sejak adanya
perdagangan antara fenice dan genoa pada awal abat ke-13 M setelah terbukanya
jalur perdagangan antara timur tengah dan kawasan mediterania. Bahkan, pada
tahun 1340 bendahara kota massri telah melakukan pencatatan dalam bentuk
double entry.
C. Perkembangan Akutansi Syariah
a) Zaman Awal Perkembangan Islam
Pendeklarasian negara islam di Madinah (tahun 622 M atau bertepatan
dengan tahun 1 H) di dasari oleh konsep bahwa seluruh muslim adalah bersaudara
tanpa memandang ras, warna kulit dan golongan, sehingga seluruh kegiatan
kenegaraan di lakukan secara bersama dan gotong royong di kalangan para
muslim. Hal ini di mungkinkan karena yang baru saja berdiri tersebut hampir
tidak memiliki pemasukan atau pengeluaran. Muhammad Rasullulah SAW
bertindak sebagai seorang kepala negara yang juga merangkap sebagai Ketua
Mahkama Agung, Mufyi Besar, dan Panglima Perang tertinggi juga penanggung
jawab administrasi negara.
Telah menjadi tradisi, bahwa bangsa Arab melakukan 2 kali perjalanan
khalifah perdagangan, yaitu musim dingin dengan tujuan perdagangan ke Yaman
dan musim panas dengan tujuan ke As-Syam (sekarang Syria, Lebanon, Jordania,
Palestina dan Israel).
Dalam perkembangan selanjutnya, ketika ada kewajiban zakat dan ushr
(pajak pertanian dari muslim), dan perluasan wilayah sehingga dikenal
adanya jizyah (pajak perlindungan dari nonmuslim) dan kharaj ( pajak hasil
pertanian dari non muslim), maka Rasullulah mensirikan baitul Maal pada awal
abad ke-7.

b) Zaman Empat Khalifah

Pada pemerintahan Abu Bakar, pengelolaan Baitul Maal masih sangat


sederhana di mana peneriamaan dilakukan secara seimbang sehingga hampir tidak
pernah ada sisa. Perubahan sistem administrasi yang sangat signifikan di era
kepemimpinan

Khalifah

Umar

bin

Khattab

dengan

memperkenalkan

istilah Diwan oleh Saad bin Abi Waqqas (636 M).


Khalifah Umar bin Khatab menunjuk beberapa orang pengelola dan
pencatat

dari

persia

yang

mengawasi

pmbukuan Baitul

Maal.

Pendiriandiwan berasal dari usulan Homozan-seorang tahanan Persia dan


menriama islam-dengan menjelaskan sistem administrasi yang dilakukan oleh
Raja Sasania.
Hal ini kembali menunjukan bahwa akuntansi dari satu lokasi ke lokasi
lain sebagai akibat deri hubungan antara masyarakat. Selain itu juga Baitul Maal
juga sudah tidak terpusat lagi di Madinah tetapi juga di daerah-daerah taklukan
islam.
Fungsi akuntansi telah di lakukan oleh berbagai pihak dalam islam
seperti: Al-Amel, Mubashor, Al-Kateb, namun yang paling terkenal adalah AlKateb yang menunjukan orang yang bertanggung jawab untuk meniliskan dan
mencatat informasi baik keuangan maupun non keuangan. Sedangkan khusus
akuntan di kenal juga dengan namaMuhasabah/muhtasib yang menunjukan orang
yang bertanggung jawab melakukan perhitungan.
Muhtasib adalah orang yang bertanggung jawab atas lembaga Al Hisba.
Muhtasib bisa juga menyangkut pengawasan pasar yang bertanggung jawab tidak
hanya masalah ibadah. Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa muhtasib adalah
kewajiban publik. Muhtasib ini beretugas menjalaskan bagaimana tindakan yang
tidak pantas dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan. Al-Hisba tidak
bertanggung jawab kepada eksekutif.
Muhtasib memiliki kekuasaan yang luas, termasuk pengawasan harta,
kepentingan sosial, pelaksanaan ibadah pribadi, dan pemeriksaan transaksi bisnis.
Akram Khan memberikan 3 (tiga) kawajiban muhtasib, yaitu:

Pelaksanaan hak Allah termasuk kegiatan ibadah: semua jenis shalat,

pemiliharan masjid.
Pelaksanaan hak-hak masyarakat: kebenaran timbangan, kejujuran bisnis.

Palaksanaan yang berkaitan dengan kebudayaan: menjaga kebersihan jalan,


lampu jalan, bangunan yang mengganggu masyarakat dan sebagainya.
Pada zaman khalifah sudah di kenal Keuangan Negara. Kedaulatan Islam

telah memiliki departemen-departemen atau di sebut dengan diwan, ada Diwan


Pengeluaran (Diwan An-nafkat) , Militer (Diwan Al jayash), pengawasan,
pemungutan hasil dan sebagainya. Dewan Pengawasan Keuangan disebut Diwan
al Kharaj yang bertugas mengawais semua yang berhubungan dengan
penghasilan. Pada zaman Khalifah Mansur di kenal Khitabat al Rasul was
sir,yang memilihara pencatat rahasia. Untuk menjamin dilaksanakanya hukum
maka di bentuk Shahib Al Shurta.
Dari uraian diatas diketahui bahwa pelaksanaan akuntansi pada negara
islam terjadi terutama adanya dorongan kewajiban zakat, yang harus dikelola
dengan baik melalui baitul maal. Dokumentasi yang pertama kali dilakukan
oleh AL-Mazenderany (1363 M) mengenai praktik akuntansi pemerintahan yang
dilakukan selama Dinasti Khan II pada buku Risalah Falakiyah Kitabus Siyakat.
Namun, dokumentasi yang baik mengenai sistem akuntansi negara islam tersebut
pertama kali dilakukan oleh Al-Khawarizmy pada tahun 976 M.
Ada tujuh hal khusus dalam sistem akuntansi yang dijalankan oleh negara Islam
sebagaimana

dijelaskan

oleh Al-Khawarizmy dan Al-Mazendary (Zaid,1999),

yaitu :
i.

Sistem akuntansi untuk kebutuhan hidup, sistem ini dibawah koordinasi

ii.

seorang manajer.
Sistem akuntansi untuk ktem akuntansi unruk proyek pembangunan yang

iii.

dilakukan oleh pemerintah.


Sistem akuntansi untuk pertanian merupakan sistem yang berbasis non-

iv.

moneter.
Sistem akuntansi gudang merupakan sistem untuk mencatat pembelian

v.

barang negara.
Sistem akuntansi mata uang, sistem ini telah dilakukan oleh negara islam

vi.

sebelum abad ke 14 M.
Sistem akuntansi peternakan merupakan sistem untuk mencatat seluruh
binatang ternak.

vii.

Sistem akuntansi perbendaharaan merupakan sistem untuk mencatat


penerimaan dan pengeluaran harian negara baik dalam nilai atau barang.
Pencatatan dalam negara islam telah memiliki prosedur yang wajib diikuti,

serta pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan atas aktivitas
dan menemukan surplus dan defisit atas pencatatan yang tidak seimbang. Jika
ditemukan kesalahan maka orang yang bertanggung jawab harus menggantinya.
Hal ini merupakan salah satu bentuk pengendalaian internal, penerapan prosedur
audit serta akuntansi berbasis pertanggungjawaban sendiri dimana allah
mengetahui seluruh pikiran dan perbuatan semua makhluk-Nya. Prosedur yang
harus dilakukan adalah sebagai berikut.
a. Transaksi harus dicatat setelah terjadi.
b. Transaksi harus dikelompokkan berdasarkan jenisnya (nature).
c. Penerimaan akan dicatat di sisi sebelah kanan dan pengeluaran akan
dicatat di sebelah iri.
d. Pembayaran harus dicatat dan diberikan penjelasan yang memadai di sisi
kiri halaman.
e. Pencatatan transaksi harus dilakukan dan dijelaskan secara hati-hati.
f. Tidak diberikan jarak penulisan di sisi sebelah kiri, da harus diberi garis
penutup.
g. Koreksi atas transaksi yang telah dicatat tidak boleh dengan cara
menghapus atau menulis ulang.
h. Jika akun telah ditutup, maka kana diberi tanda tentang hal tersebut.
i. Seluruh transaksi yang dicatat di buku jurnal akan dipindahkan pada buku
khusu berdasarkan pengelompokan transaksi.
j. Orang yang melakukan pencatatan untuk pengelompokan berbeda dengan
orang yang melakukan pencatatan harian.
k. Saldo diperoleh dari selisih.
l. Laporan harus disusun setiap bulan dan setiap tahun.
m. Pada setiap akhir tahun, laporan yang disampaikan oleh Al Katebharus
menjelaskan seluruh informasi secara detail barang dan dana yang berada
dibawah wewenangya
n. Laporan tahunan yang disusun AL Kateb akan diperiksa dan dibandingkan
dengan tahun sebelumnya dan akan disimpan di Dewan Pusat.
Perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk sistem pencatatan pada zaman
dinasti Abbasiah (750-1258 M) sudah sedemikian maju, sementara pada kurun

waktu yang hampir bersamaan, Eropa masih berad adalam periode The Dark Age.
Dari sini, kita dapat melihat hubungan antara Luca Paciolli dan akuntansi islam.
Luca Pacioli mengatakan bahwa setiap transaksi harus dicatat dua kali di sisi
sebelah kredit dan di sisi sebelah debit. Dengan kata lain bahwa pencatatan harus
diawali dengan menulis sebelah kredit kemudian si sebelah debit. Hal ini
memunculkan bahwa Pacioli menerjemahkan hal tersebut dari bahsa arab yang
memang menuslis dari sebelah kanan.
Sumber:http://kaukesbokan.blogspot.co.id/2013/06/sejarah-pemikiranakuntansi.html