Anda di halaman 1dari 22

Peristiwa Hidup yang Memicu Stress dan Gejala Depresi: Efek

dari Penganiayaan Emosional Masa Kecil pada Reaktivitas Stres


Benjamin G. Shapero,1 Shimrit K. Black,1 Richard T. Liu,2 Joshua Klugman,1 Rachel E. Bender,1
Lyn Y. Abramson,3 dan Lauren B. Alloy1
1

Universitas Temple

Sekolah Kedokteran Alpert Universitas Brown

Universitas Wisconsin-Madison

Tujuan: Peristiwa hidup yang memicu stress diasosiasikan dengan peningkatan


gejala depresi dan merupakan awal timbulnya depresi berat. Lebih penting lagi,
penelitian telah menunjukkan peran stress berubah seiring depresi. Penelitian ini
melebihi literatur yang telah ada dengan menilai efek dari stress pada masa awal
kehidupan pada reaktivitas emosional terhadap stressor saat ini. Metode: Studi
multiwave (N = 281, rerata usia = 18.76; 68% wanita), kami meneliti perubahan
proksimal yang terjadi pada gejala depresi saat seorang individu dihadapkan pada
stress dalam kehidupan dan apakah pengalaman penganiayaan emosional pada
masa kecilnya memengaruhi hubungan ini. Hasil: Hasil penelitian ini
mendukung hipotesis sensitivitas stress terhadap pengalaman penganiayaan
emosional tahap awal. Individu dengan tingkat penindasan emosional masa kecil
yang lebih besar mengalami peningkatan gejala depresi yang lebih hebat saat
dikonfrontasi dengan stressor dependen saat ini, yang terkontrol untuk penindasan
fisik dan seksual. Kesimpulan: Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya
penganiayaan emosional sebagai suatu indikator untuk reaktivitas terhadap
pengalaman stress dalam hidup.
Kata Kunci: sentisisasi stress; penindasan emosional; depresi; stress dalam hidup

eristiwa dalam hidup yang memicu stress telah secara konsisten


diasosiasikan dengan peningkatan gejala depresi (lihat Mazure, 1998
untuk tinjauan) dan timbulnya depresi berat baik pada orang dewasa
(Hammen, 2005; Stroud, Davila, & Moyer, 2008) dan remaja (Abela

& Skitch, 2006). Mengelusidasi sifat hubungan ini telah menjadi fokus penting
dari penelitian ini karena beberapa individu bereaksi lebih negatif daripada yang
lain terhadap peristiwa dalam hidup yang memicu stress tersebut. Penelitian ini

memperluas literatur saat ini dengan menguji efek stress pada kehidupan tahap
awal, khususnya penganiayaan emosional masa kecil, pada reaksi individu
terhadap stresor kehidupan saat ini dalam pengembangan gejala depresi.
Utamanya, penelitian telah menunjukkan bahwa peran stres berubah
selama depresi (sebagai tinjauan, lihat Monroe & Harkness, 2005; Stroud dkk,
2008). Dalam merumuskan sensitisasi stres atau hipotesis "kindling", Post (1992)
menggambarkan proses dimana episode pertama depresi tersentisisasi pada
seorang individu di saat satu kejadian, dan dengan demikian episode berikutnya
membutuhkan tingkat stres yang lebih sedikit untuk memperoleh kekambuhan
depresi. Teori ini telah berperan dalam menjelaskan tingginya tingkat kekambuhan
dan interval yang singkat antara episode depresi berulang (Solomon dkk, 2000).
Penelitian sensitisasi terhadap stres menunjukkan bahwa reaksi individu terhadap
stress berubah-ubah atau bahwa seorang individu "terluka" setelah satu episode
depresi (Lewinsohn, Allen, Seeley, & Marcel Gotlieb, 1999). Dalam beberapa
tahun terakhir, penelitian telah memperjauh hipotesis ini untuk menguji variabel
lain yang mungkin memberikan sensitisasi mirip dengan stres pada kehidupan.
Yang penting, sensitivitas yang tinggi ini mungkin suatu analog dengan model
diatesis-stres, dimana kerentanan yang mendasari dapat menempatkan individu
pada risiko berdasarkan respon maladaptif mereka terhadap stres (Monroe &
Simons, 1991).
Ekstensi dari hipotesis kindling telah meneliti efek dari paparan akan
pengalaman buruk pada anak usia dini terhadap sensitivitas dan reaktivitas stress
di masa mendatang. Awal kehidupan yang negatif dan lingkungan yang tidak baik
telah terbukti sebagai suatu prediksi peningkatan gejala depresi (NolenHoeksema, Girgus, & Seligman, 1992), dan timbulnya depresi berat (misalnya,
Klein et al., 2009). Hammen, Henry, dan Daley (2000), meneliti sejumlah
ketidakbahagiaan masa kecil, menemukan efek sensitisasi stress di mana
perempuan dengan tingkat ketidakbahagiaan yang lebih tinggi menunjukkan
reaksi yang lebih depresi terhadap tingkat stres yang rendah dibandingkan dengan
mereka dengan tingkat ketidakbahagiaan yang lebih rendah. Hasil penelitian
tersebut memberikan langkah penting dalam memperluas hipotesis Post (1992)
mengenai peran peristiwa kehidupan yang memicu stress dalam tahap awal

kehidupan menurunkan ambang batas tingkat stress individu untuk memicu


respon depresi. Pada penelitian ini, penelitian telah meneliti hubungan antara
ketidakbahagiaan dalam awal kehidupan, stressor yang lebih proksimal, dan
timbulnya depresi berat serta menunjukkan bahwa stres yang dialami pada masa
remaja memediasi hubungan antara ketidakbahagiaan dalam awal kehidupan dan
timbulnya depresi mayor (Hazel, Hammen, Brennan , & Najman, 2008). Studistudi yang menggunakan analisis regresi menggunakan suatu gabungan peristiwa
kehidupan yang memicu stres di awal tahap kehidupan dan memberikan petunjuk
yang penting untuk penelitian di masa yang akan datang yang menggunakan
desain yang lebih ketat untuk menguji perubahan proksimal terhadap reaktivitas
stres.
Penelitian yang berfokus khusus pada penganiayaan masa kecil dan
penelantaran juga melaporkan hubungan dengan risiko depresi (Alloy, Abramson,
Smith, Gibb, & Neeren, 2006a). Individu yang mengalami penganiayaan masa
kecil memiliki peningkatan risiko tiga sampai empat kali lebih besar untuk
menjadi depresi dalam hidup mereka (MacMillan et al., 2001). Bernet dan Stein
(1999) menemukan bahwa orang dewasa dengan depresi berat secara signifikan
lebih mungkin memiliki riwayat penganiayaan emosional dan penelantaran serta
kekerasan fisik dibandingkan dengan orang dewasa yang sehat. Selain itu, mereka
yang mengalami penganiayaan masa kecil di awal kehidupannya akan memiliki
onset yang lebih dini, durasi yang lebih lama, gejala yang lebih parah, kecacatan
yang lebih hebat, dan episode depresi yang lebih sering (Klein et al, 2009;. Bernet
& Stein, 1999).
Meskipun banyak studi telah meneliti hubungan antara penganiayaan
masa kanak-kanak dan depresi, mayoritas penelitian lebih berfokus pada
kekerasan fisik dan seksual, dengan studi yang lebih sedikit menguji efek
penganiayaan emosional (Alloy et al., 2006a; Liu, Alloy, Abramson, Iacoviello, &
Whitehouse, 2009). Penganiayaan emosional biasanya meliputi pengalaman
ditolak, terdegradasi, diteror, terisolasi, atau diejek (Hart, Germain, & Brassard,
1987). Kajian awal dari literatur mengenai penganiayaan emosional dan fisik
menyimpulkan bahwa penganiayaan emosional terkait lebih kuat dengan gejala
internalisasi dan bunuh diri daripada kekerasan fisik (Kaplan, Pelcovitz, &

Labruna, 1999). Meskipun ada penelitian lebih sedikitmengenai peran


penganiayaan emosional pada masa kanak-kanak, bukti hubungan antara
penganiayaan emosional dan gejala dan diagnosa depresi lebih konsisten daripada
kekerasan fisik dan seksual (Alloy et al., 2006a).
Selain itu, beberapa studi mempertimbangkan tingginya tingkat ulangan
berbagai bentuk kekerasan. Memang, paparan berbagai bentuk viktimisasi
merupakan sesuatu yang umum (Finkelhor, Ormrod, & Turner, 2007), sehingga
penting untuk secara sistematis meneliti efek dari berbagai jenis kekerasan karena
dapat memberi hasil yang bervariasi. Penelitian yang telah mempertimbangkan
tumpang tindih antara penganiayaan emosional dan setidaknya satu bentuk
kekerasan lainnya menunjukkan bahwa penganiayaan emosional adalah prediktor
kuat dari gejala atau diagnosa depresi dibandingkan kekerasan fisik atau seksual
masa kanak-kanak (misalnya, Gibb et al., 2001).
Sensitisasi stres dapat berfungsi sebagai landasan teoritis yang penting
untuk berbagai hubungan antara penganiayaan anak dan depresi di kemudian hari.
Sampai saat ini, hanya sedikit studi yang telah meneliti kemungkinan ini. Kendler,
Kuhn, dan Prescott (2004) menemukan bahwa wanita dengan riwayat pelecehan
seksual secara signifikan lebih reaktif terhadap peristiwa kehidupan selanjutnya
yang memicu stres. Selain itu, perempuan yang terkena bentuk lain yang lebih
parah dari pelecehan menunjukkan hubungan dosis-respons pada sensitivitas
mereka yang meningkat untuk berkembang menjadi depresi (Kendler et al., 2004).
Demikian pula, Harkness, Bruce, dan Lumley (2006) menemukan bahwa orang
yang memiliki riwayat penganiayaan masa kanak-kanak dan penelantaran lebih
sensitif terhadap peristiwa kehidupan dan melaporkan tingkat peristiwa hidup
yang memicu stress lebih rendah menjelang sebuah episode depresi (Harkness et
al., 2006).
Meskipun studi ini dilakukan hanya pada perempuan (Kendler et al, 2004)
atau peserta hampir seluruhnya Kaukasia (98%; Harkness et al, 2006), keduanya
memberikan beberapa bukti mengenai perbedaan reaktivitas terhadap stres antara
individu-individu yang tersentisisasi oleh riwayat penganiayaan. Akhirnya, dalam
suatu uji populasi klinis dengan menggunakan desain logitudinal yang mirip
dengan penelitian saat ini, Dougherty, Klein, dan Davila (2004) menemukan

bahwa mereka yang mengalami hubungan orangtua-anak yang buruk, termasuk


penganiayaan emosional, selama masa kanak-kanak menunjukkan gejala depresi
yang lebih berat ketika dihadapkan dengan stres kronis selanjutnya (Dougherty et
al., 2004).
Monroe dan Harkness (2005) menyoroti pentingnya kejelasan dalam
interpretasi bukti yang mendukung konsepsi hipotesis kindling yang asli bahwa
stress dalam hidup memainkan peran yang berbeda untuk onset pertama depresi
dibandingkan dengan kekambuhan. Mereka menjelaskan bahwa model sensitisasi
stres menunjukkan bahwa stres berat adalah penting untuk inisiasi dan episode
awal, tetapi kambuh berturut-turut dari episode depresi memerlukan peristiwa
stress yang sedikit secara progresif sebagai penginisiasi episode. Ini berarti bahwa
peristiwa kehidupan yang awalnya tidak mampu memicu episode depresi pertama
kali di kemudian hari mendapatkan kapasitas untuk memicu kekambuhan.
Konsisten dengan kerangka sensitisasi stres, paparan terhadap kesulitan masa
kanak-kanak dapat mempengaruhi hubungan antara stres dan depresi. Sebagai
seseorang yang menjadi lebih tersentisisasi terhadap stress melalui pengulangan
paparan dari penganiayaan masa kanak-kanak, muncullah probabilitas adanya
reaksi depresif untuk menekan tingkat stress akibat kejadian tertentu. Melalui
paparan berulang terhadap stress, suatu akumulasi dari kejadian-kejadian kecil
menjadi dapat mempercepat timbulnya episode depresi.
Selanjutnya, dalam beberapa tahun terakhir, penelitian menyoroti
pentingnya pertimbangan bahwa peristiwa kehidupan yang memicu stres bersifat
heterogen. Harkness dan koleganya (2006) adalah yang pertama yang menemukan
perbedaan antara efek peristiwa kehidupan yang memicu stres dependen dan
independen

dalam

hubungannya

menekankan

ssentisisasi

untuk

korban

penindasan anak dalam studi potong lintang pada remaja. Peristiwa dependen
adalah peristiwa yang dalam beberapa cara dipengaruhi oleh individu (misalnya,
berkelahi dengan teman, gagal ujian), sedangkan independen, atau terkait nasib,
peristiwa dipandang sebagai kejadian-kejadian yang mungkin tidak karena
tindakan atau karakteristik individu (misalnya , kematian seorang kerabat, banjir).
Penelitian sebelumnya menyoroti hubungan antara peristiwa dependen dalam

kehidupan, tetapi tidak independen, dan depresi (Harkness, Monroe, Simons, &
thase, 1999; Kendler, Gardner, & Prescott 2006).
Penelitian ini bertujuan untuk menambah literatur sensitisasi stres dengan
memeriksa kontribusi independen dari penganiayaan emosional masa kanakkanak terhadap sensitivitas saat ini akan peristiwa kehidupan yang memicu stres.
Konsisten dengan penelitian sebelumnya (Hammen et al., 2000), kami
berspekulasi bahwa hubungan antara penganiayaan emosional awal dan gejala
depresi di kemudian hari dapat dipertanggungjawabkan oleh reaktivitas stres
tinggi yang akan menyebabkan peningkatan reaksi depresif. Monroe dan Harkness
(2005) menunjukkan bahwa studi longitudinal sangat penting dalam pengujian
frekuensi perubahan seseorang dan pengaruh stres dari waktu ke waktu.
Yang

penting,

alat-alat

metodologis

yang

lebih

canggih

telah

dikembangkan untuk secara bersamaan menguji perbedaan subjek sendiri dan


antara subjek dalam analisis longitudinal (Raudenbush & Bryk, 2002). Pemodelan
linear hirarkis (HLM; Raudenbush & Bryk, 2002) memungkinkan peneliti untuk
perubahan model yang lebih baik dalam individu dari waktu ke waktu serta
perbedaan antara individu. Sebuah desain prospektif multiwave dalam interval
yang relatif singkat memungkinkan analisis yang sensitif tentang hubungan antara
stres dalam kehidupan dengan gejala depresi yang dilaporkan sendiri dan
didasarkan pada studi potong lintang atau studi dua titik waktu sebelumnya. Oleh
karena itu, kami menyelidiki perubahan proksimal yang terjadi pada gejala depresi
yang dilaporkan sendiri ketika individu dihadapkan dengan stres dalam
kehidupan, dan apakah riwayat penganiayaan emosional masa kanak-kanak
menyebabkan perkembangan gejala depresi dalam menanggapi stres baru-baru ini.
Lebih penting lagi, penelitian ini didasarkan pada penelitian sebelumnya
mengenai penganiayaan emosional dengan mengendalikan tumpang tindih dengan
jenis kekerasan lainnya, khususnya kekerasan fisik dan seksual, untuk menguji
kontribusi unik dari penganiayaan emosional. Selain itu, berbagai jenis peristiwa
yang memicu stres dapat bervariasi dalam potensi mereka untuk memunculkan
respon depresi (yaitu, peristiwa independen dan dependen). Kami berhipotesis
bahwa penganiayaan emosional masa kanak-kanak akan dikaitkan dengan
hubungan yang lebih kuat antara peristiwa kehidupan yang memicu stres saat ini

dan gejala depresi prospektif serta bahwa efek ini akan lebih kuat untuk peristiwa
kehidupan yang memicu stres dependen dibandingkan dengan peristiwa
independen.
METODE
Studi saat ini mengambil keuntungan dari desain yang berisiko tinggi,
mempelajari individu yang diduga memiliki peningkatan risiko untuk menjadi
depresi (Alloy et al., 2000, 2006b). Salah satu faktor risiko yang paling konsisten
untuk mengembangkan depresi adalah adanya bias kognitif (Alloy et al., 2000,
2006b). Mengendalikan tingkat gejala depresi awal, peserta dengan risiko tinggi
secara kognitif secara lebih bermakna dibandingkan dengan peserta yang berisiko
rendah secara kognitif untuk perkembangan episode depresi berat (Alloy et al.,
2006b). Sampel dalam penelitian ini terdiri individu yang bervariasi dalam
kerentanan untuk depresi berdasarkan status risiko kognitif. Yang penting, saat
pengujian interaksi (McClelland & Judd, 1993), desain risiko tinggi memberikan
variabilitas yang lebih besar dalam konstruksi peminatan (yaitu, peristiwa
kehidupan yang memicu stres dan depresi) dan mengurangi masalah yang terkait
dengan berbagai batasan. Sampling dilakukan melalui berbagai pengamatan dan
termasuk skor yang lebih ekstrim yang dapat membantu deteksi interaksi yang
dapat diandalkan secara statistik dengan mengurangi kesalahan standar tanpa
estimasi parameter bias (McClelland & Judd, 1993), sehingga meningkatkan
kekuatan untuk mendeteksi moderasi.
Peserta Penelitian
Peserta direkrut sebagai bagian dari Cognitive Vulnerability to Depression Project
(CVD;. Alloy, et al, 2000, 2006b), yang berperilaku risiko tinggi, two-site,
multiwave, penelitian longitudinal prospektif yang dirancang untuk mengikuti
individu dengan risiko kognitif tinggi dan rendah terhadap depresi untuk
memprediksi onset dan perjalanan gejala dan gangguan depresi.
Pada perekrutan tahap 1, 5.378 mahasiswa baru telah melangkapi
perhitungan kerentanan kognitif untuk depresi. Peserta yang memiliki skor di
kuartil tertinggi direkrut untuk kelompok risiko tinggi dan skor mereka yang

berada di kuartil terendah direkrut untuk kelompok berisiko rendah. Dari mereka
yang disaring, 313 peserta berisiko tinggi dan 236 peserta berisiko rendah
diundang untuk berpartisipasi dalam penelitian tahap 2.
Pada tahap 2, versi yang diperluas dari wawancara diagnostik Schedule for
Affective Disorders and Schizophrenia-Lifetime (SADS-L; Endicott & Spitzer,
1978) diberikan untuk menilai dan mengeksklusi individu yang saat ini memenuhi
kriteria untuk setiap diagnosis dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders Third Edition Revised or Research Diagnostic Criteria (RDC) yaitu
diagnosis gangguan mood, atau gejala psikosis saat ini. Peserta juga dieksklusi
jika mereka memiliki riwayat gangguan mood dengan pengecualian depresi yang
telah mengalami remisi selama minimal 2 bulan (periode rata-rata remisi sejak
episode depresi di masa lalu adalah 2.31 tahun; standar deviasi [SD] = 2.44
tahun). Untuk perekrutan lebih lanjut dan informasi demografis, silakan lihat
Alloy et al. (2000, 2006b).
Sampel terdiri individu saat ini yang telah menyelesaikan minimal 2 tahun
pemantauan prospektif dalam Proyek CVD. Dari peserta tersebut, 42 orang tida
mengalami riwayat penganiayaaan dan dikeluarkan dari analisis penelitian,
sehingga hanya 281 orang terlibat sebagai sampel penelitian akhir (134 berisiko
tinggi dan risiko rendah 147). Informasi tentang penganiayaan dikumpulkan di
tahun kedua menggunakan Life Experiences Questionnaire (LEQ;. Gibb et al,
2001).
Rentang usia peserta berkisar antara 16-24 tahun (rata-rata [M] = 18,76;
SD = 1.64) pada saat studi dimulai dan 68% peserta adalah perempuan. Individu
dalam sampel adalah 80% Kaukasia, 14% Afrika Amerika, 2% Hispanik, 4%
Asia, dan 2% lainnya. Kelompok berisiko tinggi dan berisiko rendah tidak
berbeda secara signifikan pada jenis kelamin, t (279) = .15, ns, usia, t (279) =
1,64, ns, dan etnis, t (273) = .41, ns, tapi berbeda pada skor Beck Depression
Inventory (BDI, Beck, Rush, Shaw, & Emery, 1979), t (279) = -6.49, p <.001,
keseluruhan peristiwa kehidupan yang memicu stres, t (279) = -2,25, p < .05, dan
peristiwa independen, t (279) = -2,16, p <.05, pada data awal. Lihat Tabel 1 untuk
karakteristik demografis dan gaya kognitif sampel pada penelitian ini. Subsampel
ini tidak berbeda secara signifikan dari total sampel Proyek CVD pada setiap fitur

demografis atau gaya kognitif. Sampel akhir menyertakan 122 orang dengan
riwayat depresi. Sepanjang penelitian, 37 peserta memenuhi kriteria untuk episode
depresi berat.
Prosedur Penelitian
Dalam Proyek CVD tahap 1 dan 2, peserta menyelesaikan SADS-L dan
penghitungan gaya kognitif untuk menentukan kelayakan dan kerentanan kognitif.
Selama penilaian prospektif reguler (regular prospective assessments/RPA), yang
dijadwalkan pada interval 6 minggu selama kira-kira 2 1/2 tahun masa
pemantauan, peserta menyelesaikan penilain yang menilai gejala depresi dan
peristiwa kehidupan yang memicu stres secara pribadi (Safford, Alloy, Abramson,
& Crossfield, 2007). Berdasarkan bukti bahwa peristiwa kehidupan yang memicu
stres dapat memiliki pengaruh yang cukup cepat terhadap gejala depresi (O'Neill,
Cohon, Tolpin, & Gunthert, 2004), pengukuran stres dan gejala depresi
diminimalkan dalam interval terpendek.
Data gejala depresi dikumpulkan pada setiap RPA menggunakan versi 2
minggu dari BDI untuk setiap interval 2 minggu dalam RPA tersebut. Peristiwa
kehidupan yang dikompilasi ke dalam interval 2 minggu sesuai dengan tanggal
perkiraan kejadian dari wawancara stres; dengan demikian, tingkat stres untuk
setiap interval 2 minggu ditentukan dan analisis dapat diselesaikan dalam waktu
yang lebih pendek, interval 2 minggu. Dalam analisis, perubahan gejala depresi
diperkirakan menggunakan peristiwa kehidupan yang memicu stres dari periode 2
minggu sebelumnya, sekaligus mengontrol gejala depresi sebelumnya. Pada akhir
tahun kedua masa pemantauan, peserta menyelesaikan penilaian retrospektif
mengenai pengalaman penganiayaan masa kecil sebelum usia 15 tahun.
Pengukuran
Cognitive Style Questionnaire (CSQ;. Paduan et al, 2000). CSQ adalah versi
revisi dari Attributional Style Questionnaire (ASQ;. Peterson et al, 1982) dan telah
dibuat untuk proyek CVD untuk menilai kerentanan kognitif yang ditampilkan
dalam teori keputusasaan. Mengukur inferensial berdasarkan peringkat peserta
dari 24 peristiwa hipotetis (12 positif dan 12 negatif). Peserta menilai penyebab

peristiwa pada dimensi internalisasi (yang disebabkan oleh peserta), stabilitas


(penyebab stabil dari waktu ke waktu), dan globalitas (penyebab tersebar luas di
seluruh situasi) dan sejauh mana konsekuensi negatif dan implikasi diri negatif
akan mengikuti. Skor komposit negatif diciptakan dengan menjumlahkan respon
peserta pada stabilitas, globalitas, konsekuensi, dan dimensi diri untuk 12 kejadian
negatif. CSQ dalam proyek CVD menunjukkan konsistensi internal yang baik (a =
0,88), tes ulang keandalan (1 tahun, r = 0,78), dan validitas prediktif untuk
episode depresi (Alloy et al., 2000, 2006b).
Dysfunctional Attitudes Scale (DAS; Weissman & Beck, 1978). DAS menilai sikap
maladaptif yang tampil sebagai kerentanan dalam teori Beck. Dalam proyek CVD,
DAS yang diperluas digunakan di mana peserta menanggapi 64 item yang menilai
sikap terhadap evaluasi, kritik kinerja, atribusi kausal, harapan terhadap
pengendalian, dan ide-ide yang kaku tentang dunia. Peserta diberi pernyataan
pada skala Likert 7 poin mulai dari 1 (setuju) sampai 7 (sangat tidak setuju).
Pengukuran dilakukan bersamaan dengan pengukuran CSQ (Alloy et al., 2000)
untuk menentukan status risiko kognitif secara keseluruhan. DAS dalam Proyek
CVD memiliki konsistensi internal yang baik (a = .90), tes ulang keandalan (1
tahun, r = .80), dan validitas prediktif untuk episode depresi (Alloy et al., 2000,
2006b).
Beck Depression Inventory (BDI, Beck et al., 1979). BDI adalah penilaian 21-poin
yang dilaporkan sendiri yang menilai gejala depresi. Peserta menyelesaikan BDI
di setiap penilaian prospektif dan dilaporkan untuk setiap periode 2 minggu di
antara penilaian. Peserta menilai menggunaka skala 0-3 dan skor total berkisar 063, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan gejala depresi yang lebih berat.
BDI memiliki keandalan dan validitas yang baik (Beck, Steer, & Garbin, 1988).
Life Events Scale (LES) dan Life Events Interview (LEI, Safford et al, 2007). LES
dan LEI diberikan pada setiap penilaian prospektif reguler, kira-kira setiap 6
minggu, untuk menilai jumlah, jenis, dan tanggal terjadinya peristiwa kehidupan
negatif yang dialami sejak wawancara terakhir. LES 134 poin diciptakan untuk

proyek CVD untuk mencatat peristiwa kehidupan yang memicu stres dan tidak
termasuk peristiwa yang jelas mencerminkan gejala depresi.
Setelah LES, peserta diberikan LEI, wawancara semi-terstruktur dilakukan
oleh pewawancara acak terlatih untuk status risiko kognitif, gejala, dan diagnosis
peserta. LEI digunakan untuk mengurangi masalah yang berkaitan dengan bias
subjektif pelapor. Untuk setiap peristiwa yang dilaporkan pada LES, pewawancara
mengajukan pertanyaan tindak lanjut untuk menentukan apakah acara tersebut
memenuhi syarat untuk kriteria definisi manual untuk setiap peristiwa, serta
tanggal kejadian. Peristiwa yang tidak memenuhi kriteria definisi dikeluarkan dari
penghitungan akhir (4% dari peristiwa). Peristiwa umum termasuk "penyakit
ringan atau cedera," "perkelahian yang signifikan dengan anggota keluarga," dan
"disakiti oleh teman atau rekan."
Stres dioperasionalkan sebagai hitungan obyektif dari peristiwa negatif
yang dialami selama setiap interval 2 minggu sesuai dengan penilaian 2 minggu
terhadap gejala depresi. Tiga penilai independen mengkode setiap peristiwa di
independen/dependen dari 0 hingga 3 (0 = benar-benar independen, 3 = pasti
dependen) dengan korelasi intra skor 0,87. Skor ini kemudian dibagi ke kelompok
independen atau dependen. LES dan LEI telah terbukti memiliki kehandalan dan
validitas yang sangat baik dalam hal kemampuan mereka untuk secara akurat
menangkap peristiwa kehidupan yang dialami (Safford et al., 2007).
Lifetime Experiences Questionnaire (LEQ;. Gibb et al, 2001). LEQ adalah
kuesioner 92 poin yang dilaporkan sendiri yang dirancang untuk menilai riwayat
penganiayaan emosional, fisik, dan seksual oleh rekan-rekan dan orang dewasa
sebelum usia 15 tahun. Untuk setiap peristiwa, peserta melaporkan apakah mereka
pernah mengalami peristiwa tersebut, usia saat peristiwa itu terjadi, frekuensi
peristiwa tersebut terjadi, dan pelaku. LEQ ini didasarkan pada wawancara
penganiayaan anak oleh Cicchetti (1989) untuk memperoleh informasi yang
komprehensif dan spesifik mengenai terjadinya peristiwa tertentu. Peristiwa
kekerasan fisik termasuk dipukul dengan kepalan atau benda, dicekik, dan
menjadi korban dari rasa sakit fisik yang disengaja. Peristiwa penganiayaan
emosional termasuk ditolak, dihina, direndahkan, diteror, terisolasi, dan
membantah respon emosional. Peristiwa pelecehan seksual termasuk perilaku

seksual atau pornografi atau hubungan yang tidak diinginkan (lihat Gibb et al.,
2001 untuk informasi lebih lanjut).
Subskala terdiri dari pertanyaan mengenai penganiayaan fisik (9 item, a =
0,65), emosional (20 item, a = 0,85), dan seksual (20 item, a = 0,82) dan telah
menunjukkan korelasi yang tinggi dengan wawancara penganiayaan terstruktur
dan adanya validitas prediktif yang baik untuk episode depresi (Gibb et al., 2001).
Studi saat ini menggunakan penilaian kontinyu dari penganiayaan dengan
menjumlahkan jumlah kejadian yang berbeda per kategori penganiayaan dengan
skor yang lebih tinggi menunjukkan peristiwa penganiayaan yang lebih besar.
Fokus dari penelitian ini adalah penganiayaan emosional; oleh karena itu,
dilakukan kontrol analisis untuk tingkat penganiayaan seksual dan fisik.
HASIL
Tinjauan Pendekatan Statistik

HLM (Raudenbush & Bryk, 2002) digunakan untuk menyelidiki perbedaan antara
reaksi depresi individu terhadap peristiwa kehidupan yang memicu stres saat ini
sebagai fungsi dari riwayat penganiayaan emosional masa kanak-kanak mereka.
Setiap model dijalankan untuk berbagai jenis stres terbaru untuk memeriksa
apakah reaksi terhadap peristiwa tertentu dipengaruhi oleh riwayat penganiayaan
emosi. HLM adalah metode statistik yang ketat sebagai pendekatan untuk
pertanyaan-pertanyaan ini karena dapat mewakili perubahan dalam diri seseorang
selama beberapa titik waktu, serta memastikan bagaimana individu dapat berbeda
satu sama lain dari waktu ke waktu (Curran & Willoughby, 2003). Regresi kuadrat
ordiner terkecil mengasumsikan bahwa setiap titik data adalah sampel
independen, yang dapat mengakibatkan kesalahan bias standar dan perkiraan
koefisien insifiensi.
Analisis Awal
Sebanyak 281 orang dan 14.994 pengamatan dimasukkan dalam sampling akhir.
Periode dua minggu dengan data yang hilang dikeluarkan dari analisis. Melalui
pemantauan, 68 dari 14.994 titik data pengamatan yang potensial (interval 2
minggu) mengandung hilang data tingkat-1. Tingkat penyelesaian yang tinggi ini
dimungkinkan karena sifat studi longitudinal dan kemampuan untuk menilai data
pada periode pemantauan prospektif berikutnya. Data yang hilang pada saat
pemantauan ditangani dengan delesi listwise. Dengan demikian, karena sifat
tertinggal dari analisis HLM, ketika data yang hilang di interval T1, analisis untuk
memprediksi variabel dependen dalam interval T dihilangkan. Rata-rata, peserta
menyelesaikan 28 dalam interval 2 minggu (SD = 15.5) selama periode 2 tahun,
yang tidak berbeda berdasarkan status risiko, t (279) = .26, p = .79. Namun, semua
data bahkan yang drop out pun dilibatkan dalam studi analisis. Peserta yang tidak
melengkapi kuisioner tidak berbeda secara signifikan dari peserta yang
melengkapi kuisioner berdasarkan status risiko.
Uji independen t digunakan untuk untuk menilai apakah variabel
demografis terkait dengan variabel hasil utama; tes ini menunjukkan bahwa seks
tidak secara signifikan mempengaruhi skor BDI dasar, t (279) = -.50, ns, namun
mempengaruhi status risiko, t (279) = -6.49, p <.001, dan dengan demikian

dikontrol dalam analisis. Sebuah analisis varians satu arah menunjukkan bahwa
usia di studi awal tidak signifikan berhubungan dengan skor BDI dasar, F (12,
280) = .93, ns. Korelasi bivariat pada variabel penelitian utama menunjukkan
bahwa ada korelasi yang signifikan antara peristiwa kehidupan yang memicu
stress, status risiko, dan penganiayaan emosional.
Selain itu, semua variabel stres berhubungan satu sama lain. Gejala depresi
berkorelasi secara signifikan dengan semua variabel stres dan hanya penganiayaan
emosional. Sebagai uji lebih lanjut dari efek penganiayaan emosional, regresi
linier hirarkis dijalankan untuk memeriksa efek dari penganiayaan emosional pada
gejala depresi pada waktu 1 (T1) dengan mengendalikan status risiko. Individu
dengan tingkat penganiayaan emosional yang lebih tinggi memiliki tingkat gejala
depresi yang lebih tinggi secara signifikan pada T1, = .22, t (280) = 2.70, p = .
007, dengan mengendalikan risiko kognitif. Semua kategori penganiayaan
berkorelasi secara signifikan, utamanya menggarisbawahi kebutuhan untuk
mengendalikan tumpang tindih varians dalam analisis lebih lanjut.
Penganiayaan Sebagai Analisis Kerentanan
Untuk analisis, tingkat subjek (waktu bervariasi) dinilai apakah tingkat peristiwa
yang memicu stres dalam jangka waktu 2 minggu yang diprediksikan dapat
merubah gejala depresi pada interval 2 minggu ke depan. Tingkat silangan menilai
apakah riwayat penganiayaan emosional masa kanak-kanak menyebabkan
hubungan antara stres dan gejala depresi. Variabel hasil untuk semua analisis
adalah skor gejala depresi (BDI) di saat 2 minggu interval (T), dengan
mengendalikan skor BDI interval sebelumnya (BDI tertinggal) (T1) dan waktu
dalam studi (Time; jumlah kunjungan pemantauan). Hal ini memungkinkan model
untuk menguji perubahan gejala depresi pada setiap interval dan kontrol untuk
autokorelasi gejala depresi sepanjang waktu. Tingkat subyek juga termasuk
variabel stress tertinggal, yang merupakan jumlah kejadian negatif dalam
kehidupan di interval 2 minggu sebelumnya (T1). Stres tertinggal adalah berpusat
pada individu, sehingga koefisien untuk variabel ini merupakan efek dari
perubahan dalam diri seseorang dengan stres tertinggal. Tingkat antar subjek
terdiri dari karakteristik statis peserta.

Kerentanan kognitif T1 (status risiko; dikotomis) digunakan sebagai


kontrol untuk memungkinkan pemeriksaan yang ketat dari efek penganiayaan
emosional masa kanak-kanak atas peran potensial gaya kognitif. Jenis kelamin
peserta juga dimasukkan pada analisis tingkat antar subjek untuk mengendalikan
perbedaan jenis kelamin. Pengukuran kontinyu dari riwayat penganiayaan
emosional masa kanak-kanak (penganiayaan emosional) dimasukkan untuk
memeriksa apakah riwayat penganiayaan yang lebih tinggi meningkatkan
reaktivitas depresi terhadap stress yang diukur dengan tingkat gejala depresi.
Selain itu, kami memasukkan penghitungan kontinyu dari penganiayaan fisik dan
seksual

sebagai

kovariat

untuk

mengendalikan

kejadian

ulangan

jenis

penganiayaan lainnya dan meneliti kontribusi unik dari riwayat penganiayaan


emosional. Selanjutnya, karena pemeriksaan sensitisasi stres, riwayat peserta dari
episode masa lalu depresi (MDD Hist) dan episode prospektif depresi berat (MDD
Prosp) dikendalikan dalam analisis untuk mengurangi kontaminasi riwayat
episode.
Akhirnya, interaksi lintas-tingkat dari penganiayaan emosional (berpusat
pada rerata utama) x stres tertinggal memungkinkan kita untuk mengevaluasi
hipotesis penelitian mengenai penganiayaan anak. Dari catatan, model berikut
menampilkan penganiayaan emosional dan stres masa kanak-kanak. Setelah
memeriksa stres secara keseluruhan, analisis diulangi untuk mengetahui
perbedaan antara stres independen dan dependen secara terpisah (lihat Tabel 2).
Tiga analisis dilakukan dan diringkas dalam Tabel 2. Variabel dimasukkan
secara bertahap untuk setiap kategori stres, dengan kolom pertama menunjukkan
model tanpa istilah interaksi dan kolom kedua menunjukkan model dengan
interaksi penganiayaan masa kanak-kanak x stres. Secara keseluruhan, hasil
menunjukkan bahwa penganiayaan emosional menyebabkan efek pada peristiwa
kehidupan yang memicu stres dependen, tapi tidak pada keseluruhan peristiwa
atau peristiwa independen. Efek utama untuk model stres keseluruhan, dependen,
dan independen adalah serupa. Artinya, dalam model stres secara keseluruhan,
individu dengan status risiko tinggi, = .85, t (280) = 6.29, p <.001, memiliki
tingkat gejala depresi saat ini yang lebih tinggi. Selain itu, perempuan lebih
mungkin mengalami depresi daripada pria, = .36, t (280) = 3.06, p <.01. Seperti

yang diharapkan, baik di tingkat T1 stres yang lebih tinggi, = .02, t (280) = 2.57,
p = 01, maupun skor T1 BDI yang lebih tinggi, = .36, t (280) = 11.56, p <.001,
diprediksi meningkat dalam gejala depresi saat ini.
Dari catatan, dalam model interaksi, penganiayaan emosional masa kanakkanak memoderasi hubungan antara T1 stres dependen dan perubahan berikutnya
dalam gejala depresi, = .015, t (280) = 2.06, p < .05. Koefisien untuk interaksi
ini menunjukkan bahwa ketika dihadapkan dengan peristiwa stres tambahan,
individu dengan riwayat tingkat penganiayaan emosional yang lebih tinggi
mengalami peningkatan yang lebih besar dalam gejala depresi dibandingkan
dengan individu dengan riwayat penganiayaan yang rendah. Interaksi ini diperiksa
untuk mereka yang tidak memiliki riwayat penganiayaan emosional dibandingkan
dengan mereka yang memiliki riwayat penganiayaan emosional yang tinggi (satu
standar deviasi di atas rata-rata).
Untuk setiap kenaikan pada peristiwa penganiayaan emosional, efek dari
peristiwa dependen meningkatkan hasil gejala depresi dengan koefisien standar
dari .07 bagi mereka dengan penganiayaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
koefisien .006 untuk mereka yang tidak memiliki riwayat penganiayaan.
Meskipun tampaknya ini suatu efek yang kecil, koefisien ini mungkin
menunjukkan perubahan penting dalam reaktivitas depresi, terutama untuk
individu dengan riwayat penganiayaan emosional kronis. Selain itu, kami
mencatat bahwa ini merupakan varian unik yang tidak diperhitungkan oleh faktor
risiko lain yang diketahui (yaitu, episode depresi sebelumnya, pelecehan seksual
dan fisik, dan gaya kognitif).
Analisis selanjutnya menginvestigasi kekhususan efek interaksi memeriksa
penganiayaan seksual dan fisik masa kanak-kanak secara terpisah. Model dasar
yang sama digunakan untuk menguji hubungan antara stres dan depresi, tetapi
istilah interaksi diganti untuk menunjukkan efek penganiayaan seksual atau fisik
mengendalikan tumpang tindih dari dua jenis penganiayaan anak. Tiga model
yang dijalankan untuk setiap jenis penganiayaan untuk peristiwa kehidupan yang
memicu stres secara keseluruhan, independen, dan dependen. Kekerasan fisik
pada masa kanak-kanak tidak memoderasi hubungan antara T1 stres dan
perubahan berikutnya dalam gejala depresi untuk setiap jenis stres, secara

keseluruhan: = .010, t (280) = 1.04, p = .30; independen: = .009, t (280) = .


787, p = .43; atau dependen: = .027, t (280) = 1.45, p = .15. Demikian pula,
penganiayaan seksual masa kanak-kanak tidak memoderasi hubungan antara T1
stres dan perubahan berikutnya dalam gejala depresi untuk setiap jenis stres,
secara keseluruhan: = -.005, t (280) = 1.57, p = .12; independen: = -.005, t
(280) = 1.34, p = .18; atau dependen: = -.011, t (280) = 1.71, p = .09. Dengan
demikian, hanya penganiayaan emosional masa kanak-kanak yang memoderasi
hubungan antara stres dependen dan depresi.
DISKUSI
Hasil kami memberikan dukungan pada hipotesis sensitivitas stres untuk riwayat
penganiayaan emosional, bahwa individu dengan riwayat tingkat penganiayaan
emosional yang lebih mengalami peningkatan yang lebih besar dalam gejala
depresi ketika dihadapkan dengan peristiwa kehidupan yang memicu stress
dependen. Temuan ini konsisten dengan penelitian yang menguji efek dari stres di
kehidupan awal terhadap respon stress di kemudian hari (Hammen et al, 2000;
Kendler et al, 2004; Harkness et al, 2006; Hazel et al, 2008). Efek adalah hanya
signifikan untuk peristiwa kehidupan dependen (Harkness et al, 1999; Kendler et
al, 2006; untuk pengecualian lihat Harkness et al, 2006.) dan tidak signifikan pada
peristiwa independen. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menguji
efek unik penganiayaan emosional masa kanak-kanak, jenis pelecehan yang
konsisten terkait dengan depresi (Alloy et al., 2006a), pada reaksi individu
terhadap peristiwa stres saat ini sembari mengontrol efek tumpang tindih dari
jenis penganiayaaan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pelecehan emosional
memberikan efek unik pada respon stres individu disamping mempertimbangkan
juga tingkat stres mereka secara keseluruhan, tingkat sebelum depresi, dan status
risiko kognitif.
Selain itu, efek ini khusus untuk penganiayaan emosional pada masa
kanak-kanak, karena pelecehan seksual dan fisik masa kanak-kanak tidak
mempengaruhi hubungan antara stres dan depresi seraya mengontrol tumpang
tindih dari setiap jenis kekerasan lainnya. Pengalaman penganiayaan emosional
sejak dini mungkin sangat maladaptif karena evaluasi negatif diberikan langsung

oleh figur yang dekat (Rose & Abramson, 1992). Menurut teori attachment
(Bowlby, 1982), figur yang dekat membantu mengembangkan model kerja
representasional atau internal. Alih-alih mengembangkan model diri sendiri yang
ditandai dengan penghargaan terhadap diri sendiri, mereka yang mengalami
komentar emosional yang kasar mengembangkan model diri yang lebih negatif
dan menjadi rentan terhadap gejala internalisasi ketika berhadapan dengan
peristiwa kehidupan dependen. Memang, penganiayaan emosional telah dikaitkan
dengan menanggung perasaan malu, penghinaan, kemarahan, dan perasaan tidak
berharga (Barnet, Miller-Perrin, & Perrin, 2005). Selanjutnya, pengalaman
penganiayaan emosional dapat menyebabkan hubungan otomatis antara peristiwa
kehidupan dan penghargaan diri; dengan demikian, orang-orang yang mengalami
penganiayaan emosional masa kanak-kanak memiliki peningkatan asosiasi diri
negatif di masa dewasa secara otomatis (Harmelen et al., 2010).
Stres pada kehidupan awal dapat mempengaruhi sistem stres langsung
dengan memberikan gangguan dalam perkembangan neurobiologis (Cicchetti,
2004). Kesulitan awal telah dikaitkan dengan perubahan neurobiologis, khususnya
di aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA), sistem respon stres neuroendokrin
utama (Shea, Walsh, MacMillan, & Steiner, 2004). Heim dan koleganya (2000)
menemukan bahwa perempuan dewasa dengan riwayat penganiayaan masa kanakkanak memiliki abnornalitas HPA yang kuat. Selain itu, pengalaman awal
terhadap penganiayaan emosional dapat mengarah pada pengembangan dari
strategi kekalahan involunter (Sloman, 2000), yang ditandai dengan respon
psikobiologikal

terhadap

ancaman

yang

ditujukan

untuk

mengurangi

kemungkinan risiko lebih lanjut (Sloman, Gilbert, & Hasey, 2003). Meskipun
respon ini bisa adaptif di beberapa kesempatan, namun juga dapat mengaktifkan
mekanisme stres yang pada akhirnya menyebabkan efek negatif pada suasana hati
(Sloman et al., 2003).
Akhirnya, penelitian yang lebih baru menyoroti kemungkinan kerentanan
yang berbeda terhadap penganiayaan emosional masa kanak-kanak berdasarkan
penurunan genetik (Antypa & Van der Apakah, 2010). Antypa dan Van der Does
(2010) menemukan bahwa polimorfisme gen transporter serotonin menyebabkan
hubungan antara penganiayaan emosional masa kanak-kanak dan gejala depresi.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji kontribusi dari penganiayaan


emosional terhadap kerentanan akan depresi dan respon neuroendokrin terhadap
peristiwa kehidupan yang memicu stres.
Studi ini menyoroti jalur penting di mana pengalaman dini mungkin
memberikan risiko untuk depresi, di mana riwayat penganiayaan emosional masa
kanak-kanak dapat mensentisisasi individu terhadap stres hidup saat ini, tetapi
jalur lain juga penting untuk dipertimbangkan. Dalam sebuah studi dua titik
waktu, Hankin (2005) menguji beberapa jalur potensial dimana penganiayaan
emosional, fisik, dan seksual masa kanak-kanak dapat menyebabkan depresi pada
usia dewasa muda. Ia menemukan bahwa hanya penganiayaan emosional masa
kanak-kanak yang dapat digunakan sebagai prediksi perubahan prospektif dari
gejala depresi, dan bahwa gaya pendekatan yang tidak aman, peristiwa kehidupan
yang negatif, dan gaya kognitif negatif memediasi hubungan ini.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa stres pada kehidupan awal,
termasuk penganiayaan masa kanak-kanak, dapat menyebabkan perkembangan
kerentanan kognitif, yang memberi risiko yang meningkat untuk terjadinya
depresi (Rose & Abramson, 1992; Gibb et al, 2001; lihat Alloy et al., 2006a untuk
tinjauan). Pengembangan Rose dan Abramson (1992) tentang teori keputusasaan
dapat lebih menjelaskan jalur perkembangan untuk penganiayaan emosional masa
kanak-kanak, sebagai keterbalikan dari penganiayaan fisik atau seksual, karena
interpretasi depresogenik langsung diberikan kepada individu oleh pelaku.
Individu dengan riwayat penganiayaan emosional masa kanak-kanak bisa
menafsirkan peristiwa negatif saat ini dengan cara yang lebih serupa dengan
depresogenik sesuai dengan hipotesis keputusasaan, yang menyebabkan
peningkatan selanjutnya dalam gejala depresi. Misalnya, Gibb et al. (2001)
menemukan

bahwa

penganiayaan

emosional

anak-anak,

tetapi

bukan

penganiayaan fisik atau seksual dikaitkan dengan kerentanan kognitif dan depresi,
dan gaya kognitif negatif secara khusus memediasi hubungan penganiayaan
emosional dan perkembangan depresi. Secara bersama-sama, penelitian ini
didasarkan pada penelitian sebelumnya meneliti model kerentanan untuk depresi
karena penganiayaan emosional masa kanak-kanak dapat mempengaruhi
sensitivitas terhadap stres.

Studi saat ini mengenai efek penganiayaan masa kanak-kanak pada


reaktivitas stres individu memiliki banyak kekuatan. Hal ini didasarkan pada
penelitian sebelumnya dengan memeriksa laki-laki dan perempuan dalam sampel
yang relatif lebih beragam di dua lokasi. Selain itu, penelitian ini menggunakan
metode-metode statistik yang ketat yang mengambil keuntungan dari desain
prospektif multiwave selama interval yang relatif singkat, yang memungkinkan
untuk analisis yang sensitif mengenai hubungan antara stres pada kehidupan dan
gejala depresi serta perbedaan masing-masing individu dalam reaktivitas terhadap
peristiwa yang memicu stres. Studi saat ini didasarkan pada penelitian sebelumnya
dengan mengendalikan kerentanan kognitif untuk depresi serta bentuk kejadian
ulangan dari jenis penganiayaan lainnya. Selanjutnya, mengendalikan depresi
dalam model membantu mengurangi kemungkinan bias yang disebabkan oleh
laporan retrospektif.
Meskipun tingkat kepercayaan temuan saat ini diperkuat dengan kekuatan
tersebut, hasil penelitian ini harus ditafsirkan dengan hati-hati karena keterbatasan
berikut. Pertama, seperti pada penelitian sebelumnya (misalnya, Hammen et al,
2000;Harkness et al, 2006), studi ini mengandalkan laporan diri retrospektif
riwayat penganiayaan masa kanak-kanak, yang memungkinkan bias berdasarkan
pengalaman selanjutnya dari individu tersebut. Selain itu, laporan retrospektif
mengenai penganiayaan emosional mungkin lebih rentan terhadap bias
dibandingkan laporan akan penganiayaan fisik dan seksual. Namun, penelitian
menunjukkan bahwa ingatan (recall) orang dewasa mengenai peristiwa masa
kanak-kanak relatif akurat (Brewin, Andrews, & Marcel Gotlieb, 1993; Bifulco,
Brown, Lillie, & Jarvis, 1997); akibatnya, penelitian secara konsisten
menggunakan metode ini, yang telah dilihat sebagai metode yang akurat dan dapat
diandalkan (Gibb et al., 2001).
Kedua, laporan stres kehidupan saat ini juga mengandalkan laporan diri
dan mungkin terjadi bias karena riwayat penganiayaan. Penggunaan wawancara
semi-terstruktur digunakan untuk mengurangi bias pelappor mengenai stres
kehidupan saat ini. Wawancara stres semi-terstruktur saat ini merupakan standar
emas dalam menilai stres kehidupan (Monroe & Reid, 2009); penelitian ini
menggunakan wawancara berdasarkan wawancara stres Brown dan Harris (1978),

dimana peristiwa yang dilaporkan harus memenuhi tujuan kriteria definisi.


Berbeda dengan checklist laporan diri mengenai peristiwa kehidupan, wawancara
memiliki bias yang lebih kecil dari sisi interpretasi subjektif peserta (misalnya,
bias kongruen suasana) mengenai suatu peristiwa. Selain itu, pewawancara buta
kepada riwayat penganiayaan dan status risiko peserta. Ketiga, kekuatan dan
keterbatasan dari studi ini adalah bahwa peserta terdiri dari sampel yang telah
dipilih untuk usia mahasiswa dan berdasarkan risiko untuk depresi. Desain ini
digunakan untuk meningkatkan variabilitas pada konstruksi yang menarik;
Namun, hasilnya mungkin terbatas dalam generalisasi hasil penelitian.
Penelitian ini meneliti efek diferensial terhadap peristiwa independen dan
dependen pada respon stres berdasarkan pentingnya perbedaan ini dalam
penelitian sebelumnya (Kendler et al., 2006). Kategori lain dari stressor pantas
dipertimbangkan, termasuk namun tidak terbatas pada, stressor interpersonal dan
prestasi, yang telah terbukti berhubungan dengan hasil depresi (Eberhart &
Hammen, 2010; Carter & Garber, 2011). Selain itu, kami mendefinisikan stres
sebagai jumlah dari peristiwa stres diskrit yang terjadi. Penelitian lebih lanjut bisa
membedakan tingkat stres dengan efek obyektif, karena tidak semua peristiwa
stres sebanding.
Terakhir, temuan dari penelitian ini tidak memeriksa episode depresi atau
tingkat gejala berdasarkan klinis di mana data yang diperoleh berasal dari gejala
depresi yang dilaporkan sendiri. Dengan demikian, interpretasi hasil harus dibuat
dengan pertimbangan metodologis tersebut. Meskipun terdapat beberapa
keterbatasan,

penelitian

ini

memberikan

bukti

adanya

sensitisasi

stres

menggunakan desain dua situs, multiwave, berisiko tinggi, dan longitudinal


dengan metode analisis konservatif.
Lebih penting lagi, implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa
riwayat seseorang yang mengalami penganiayaan emosional mengarah ke
peningkatan reaktivitas terhadap peristiwa kehidupan yang memicu stres setelah
mengendalikan

reaktivitas

terkait

dengan

kerentanan

kognitif.

Hal

ini

menunjukkan bahwa penganiayaan emosional pada masa kanak-kanak mungkin


sangat maladaptif, menggarisbawahi kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut yang
menargetkan pada penganiayaan emosional secara spesifik dalam kerangka

longitudinal, sebanyak penelitian sebelumnya yang hanya meneliti penganiayaan


seksual dan fisik (Alloy et al., 2006a) atau menggunakan nilai komposit total dari
penganiayaan (Harkness et al., 2006).
Tujuan terpenting kedua dalam penelitian ini adalah untuk menentukan
mekanisme di mana penganiayaan emosional masa kanak-kanak mempengaruhi
reaktivitas individu terhadap stres kehidupan di masa depan. Hasil penelitian ini
menekankan pentingnya intervensi dini bagi mereka yang mengalami tingkat
penganiayaan emosional yang lebih tinggi. Individu dengan riwayat penganiayaan
akan mungkin menjadi yang terutama untuk mendapat manfaat dari terapi yang
berfokus pada pemahaman hubungan antara stres dan depresi dan secara efektif
mengatasi peristiwa kehidupan yang negatif, yang telah ditemukan untuk bersifat
efektif dalam pengobatan dan pencegahan depresi (Nemeroff et al., 2003; Garber
et al, 2009). Meskipun temuan hubungan khusus antara penganiayaan emosional
pada masa kanak-kanak dan reaktivitas stres masih memerlukan pengulangan
lebih lanjut, studi ini menyoroti sifat patogen tertentu dari penganiayaan
emosional.