Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM BIOKIMIA

I. Nomor Percobaan
II. Tanggal Percobaaan
III. Judul Percobaan
IV.
Tujuan Percobaan

: VI (ENAM)
: Kamis, 29-10-2015
: PENGENDAPAN DENGAN GARAM
:- Untuk menguji kandungan yang terdapat di

dalam protein dengan pengendapan dengan garam.


V. Dasar Teori

Protein adalah instrumen ysang mengekspresikan informasi genetik. Seperti juga


terdapat ribuan gen di dalam inti sel, masing-masing mencirikan satu sifat nyata dari
organisme, di dalam sel terdapat ribuan jenis protein yang berbeda, masing-masing
membawa fungsi spesifik yang ditentukan oleh gen yang sesuai. Protein, karenanya,
bukan hanya merupakan makromolekul yang paling berlimpah, teta[i juga amat
bervariasi fungsinya. Sangat luar biasa pula bahwa semua protein di dalam semua
mahluk, tanpa memandang fungsi dan aktivitas biologinya, dibangun oleh susunan
dasar yang sama, yaitu 20 asam amino baku, yang molekulnya sendiri tidak mempunyai
aktivitas biologi. (Lehninger, 1982)
Proses

pengendapan

protein

dapat

dilakukan

dengan

menggunkan

amoniumsulfat berkonsentrasi tinggi atau larutan jenuh. Beberapa protein berbeda


kelarutannya dalam konsentrasi garam yang berbeda. Cara ini digunakan terutama bila
diinginkan satu macam protein saja, sedangkan protein lain tidak diperlukan. Selain
dengan garam, proses pengendapan protein dapat dilakukan dengan menyesuaikan pH
titik isolistrik protein yang diinginkan. Pada titik isolistrik kelarutan protein berkurang
hingga minimum dan protein ynag diinginkan akan mengendap, sedangkan protein lain
ynag tidak diinginkan tetap dalam larutan. Penggunaan pelarut organik untuk
mengendapkan protein juga dapat dilakukan, namun untuk menghindari terjadinya
denaturasi proses pengendapan dengan cara ini harus dilakukan pada suhu yang rendah.
(Anna Poedjiadi, 2009).
Viskositas adalah tahanan yang timbil oleh adanya gesekan antara molekulmolekul di dalam zat cair yang mengalir. Suatu larutan protein dalam air mempunyai
viskositas atau kekentalan yang relatif besar daripada air sebagai pelarut. Pada

umumnya viskositas suatu larutan tidak ditentukan atau diukur secara absolut, tetapi
ditentukan viskositas relatif, yaitu dibandingkan terhadap viskositas zat cair tertentu.
Viskositas larutan protein tergantung pada jenis protein, bentuk molekul, konsentrasi
serta suhu larutan. Viskositas berbanding
lurus dengan konsentrasi dan berbanding terbalik dengan suhu (Poedjiadi, 2009).
Molekul protein mempunyai gugus amino (-NH2) dan gugus karboksilat (-COOH)
pada ujung-ujung rantainya. Hal ini menyebabkan protein mempunyai banyak muatan
(polielektrolit) dan bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan asam maupun basa.
Dengan larutan asam atau pH rendah, gugus amino pada protein akan bereaksi dengan
ion H+, sehingga protein bermuatan positif. Sebaliknya, dalam larutan basa gugus
karboksilat bereaksi dengan ion OH-, sehingga protein bermuatan negatif. Adapun
muatan pada molekul menyebabkan protein bergerak di bawah pengaruh medan listrik
(Sirajuddin, 2012).
Banyak protein yang telah dapat diperoleh dalam bentuk kristal. Meskipun
demikian proses kristalisasi untuk berbagai jenis protein tidak selalu sama, artinya ada
yang dengan mudah dapat terkristalisasi, tetapi ada pula yang sukar. Beberapa enzim
antara lain pepsin, tripsin, katalase dan urease telah dapat diperoleh dalam bentuk
kristal. Albumin pada serum atau telur sukar dikristalkan. Proses kristalisasi protein
sering dilakukan dengan jalan penambahan garam amoniumsulfat atau NaCl pada
larutan dengan pengaturan pH pada titik isolistriknya. Kadang dilakukan penambahan
aseton atau alkohol dalam jumlah tertentu (Poedjiadi, 2012).
Setiap jenis protein dalam larutan mempunyai pH tertentu yang disebut titik
isoelektrik (TI). Pada pH isoelektrik (pI), molekul protein mempunyai muatan positif
dan negatif yang sama, sehingga saling menetralkan atau bermuatan nol. Akibatnya,
protein tidak bergerak di bawah pengaruh medan listrik. Pada titik isoelektrik, protein
akan mengalami pengendapan (koagulasi) paling cepat dan prinsip dapat digunakan
untuk pemisahan atau pemurnian suatu protein (Sirajuddin, 2012).
Garam anorganik Yang digunakan dalam percobaan ini adalah
ammonium sulfat. Hal ini terjadi karena ammonium sulfat memiliki tingkat lrutan yang
lebih tinggi dai pada protein sehingga pada saat penambahan ammonium sulfat,
ammonium sulfat akan melarut dalam air atau pelarutnya dan mendapatkan protein
keluar, kembali dalam bentuk solidnya, sehingga terbentuklah protein yang

terendapkan. Larutan dalam air dapat diendapkan dengan penambahan amoniumsulfat


((NH4)2SO4) hingga jenuh (Poedjiadi, 1994). Setelah larutan dijenuhkan dengan
(NH4)2SO4, uji kelarutan endapan yang terjadi dengan air menunjukkan hasil positif
(endapan larut membentuk butiran). Kemudian butiran direaksikan dengan pereaksi
milon, dan bereaksi positif dengan ditandai endapan berwarna kemerahan. Uji filtrat
denganpereaksi biuret juga menunjukkan hasil poisitif yang ditandai larutan berwarna
ungu violet. (Poedjiadi, 1994).
VI.

VII.

Alat dan Bahan


Alat
1. Tabung reaksi
2. Hot plate
3. Batang Pengaduk
4. Gelas ukur
5. Pipet tetes
6. Beaker glass
7. Rak tabung reaksi
Bahan
1. Larutan protein
2. Larutan (NH4)2SO2
3. Raegen millon
4. Reagen untuk uji biuret
Prosedur Percobaan

Uji Pengendapan dengan garam


Jenuhkan 10 ml larutan protein dengan amonium sulfat. Untuk pekerjaan ini
dilakukan: pertama, yambahkan sedikit garam tersebut, aduk hingga melarut.
Tambahkan lagi sedikit ammonium sulfat dan aduk lagi, kontinu sehingga
sedikita garam tertinggal tidak terlarut. Apabila larutan jenuh, kemudian
disaring. Uji kelarutan dari endapan di dalam air. Uji endapan dengan reagen
Millon dan filtrat dengan uji Biuret.
Pertanyaan :
1. Terangkan hasil-hasilnya ?
VIII. Hasil Pengamatan
Pengendapan Garam

Perlakuan

Hasil pengamatan

5 ml larutan susu 5% + garam

5 ml larutan susu 5% (putih) + garam

(amonium) hingga larutan jenuh

amonium (Kristal putih)

terbentuk

+ filtrate
Endapan + air
Endapan
+

1. Susu

endapan

larutan putih
reagen
millon

larutan putih dan endapan merah

bata
Filtrate + biuret

larutan

berwarna biru
2. Albumin
5 ml larutan albumin 1% + garam

5 ml larutan albumin 1% (putih) +

(amonium)

garam

hingga

jenuh

terbentuk

ammonium

endapan + filtrate
Endapan + air
Endapan
+

(Kristal

putih)

larutan putih
reagen
millon

larutan putih dan endapan merah

bata
Filtra + biuret
berwarna biru

IX.
Persamaan Reaksi
a Pengendapan Dengan Garam

larutan

(Poedjiadi, 1994)
-

Reaksi yang terjadi pada uji Millon

Tes Biuret

X.

Analisa Data
Rumus pembuatan larutan protein (sampel yang diuji) dari larutan
induknya

V
larutan= zat terlarut x 100
A. Pembuatan larutan kuning telurV dengan
konsentrasi 1% - 5%
larutan
Larutan Induk
- Volume kuning telur murni = 20 ml
- Volume aquadest
= 100 ml
Perbandingan kuning telur murni : aquadest = 1 : 5 (dicampur dan disaring)
Dengan menggunakan rumus diatas, Didapatkan larutan kuning telur yang dibutuhkan
Larutan 1 (1% kuning telur) = 2,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 2 (2% kuning telur) = 5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 3 (3% kuning telur) = 7,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 4 (4% kuning telur) = 10 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 5 (5% kuning telur) = 12,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
B. Pembuatan larutan putih telur dengan konsentrasi 1% - 5%
Larutan Induk :
Volume kuning telur murni = 20 ml
Volume aquadest
= 100 ml
Perbandingan putih telur murni : aquadest = 1 : 5 (dicampur dan disaring)
Dengn menggunakan rumus diatas, Didapatkan, larutan putih telur yang dibutuhkan

Larutan 1 (1% putih telur) = 2,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 2 (2% putih telur) = 5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 3 (3% putih telur) = 7,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 4 (4% putih telur) = 10 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 5 (5% putih telur) = 12,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
C. Pembuatan larutan Susu dengan konsentrasi 1% - 5%
Larutan Induk
Massa Susu Bubuk = 10 gram dalam 50 ml aquades
Terbentuklah larutan susu 50 ml.
Dengan menggunakan rumus diatas, Didapatkan larutan susu yang dibutuhkan
Larutan 1 (1% susu) = 2,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 2 (2% susu) = 5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml + aquadest)
Larutan 3 (3% susu) = 7,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 4 (4% susu) = 10 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 5 (5% susu) = 12,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
D. Pembuatan larutan ikan gabus dengan konsentrasi 1% - 5%
Laruta Induk
Massa Ikan Gabus = 10 gram dalam 50 ml aquades
Terbentuklah larutan ikan gabus 50 ml.
Dengan menggunakan rumus diatas, Didapatkan larutan ikan gabus yang dibutuhkan
Larutan 1 (1% ikan gabus) = 2,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 2 (2% ikan gabus) = 5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)

Larutan 3 (3% ikan gabus) = 7,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 4 (4% ikan gabus) = 10 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
Larutan 5 (5% ikan gabus) = 12,5 ml (dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml +
aquadest)
E. Pembuatan larutan Albumin 1%
Volume larutan yang akan dibuat = 250 ml
x gr
x 100
1 % = 250 ml
1/100 (250) = X (100/100)
250/100 = X
2,5 gram = X
Massa albumin yang dibutuhkan = 2,5 gram (dimasukkan kedalam labu ukur
250 ml + aquadest)

XI.

Pembahasan
Pada percobaan kali ini mengenai uji pengendapan garam. Larutan yang dipakai

pada percobaan kali ini masih sama seperti pada percobaan-percobaan sebelumnya,
yaitu larutan protein yang pada hal ini yaitu larutan susu 5% dan albumin 1%.
Pada percobaan pengendapan protein dengan garam dilakukan dengan
menambahkan sedikit demi sedikit garam amonium sulfat ke dalam larutan protein
secara kontinyu sampai larutan jenuh. Pada percobaan ini, ketika ke dalam larutan
protein ditambahkan garam amonium sulfat sampai jenuh, larutan protein mengendap
membentuk endapan putih. Mengendapnya protein tersebut disebabkan karena adanya
kompetisi antara ion-ion garam amonium dengan molekul protein untuk mengikat air.
Karena ion-ion dari garam amonium lebih mudah dalam mengikat air, menyebabkan
kelarutan protein dalam air berkurang. Dengan penambahan garam secara kontinyu,
molekul air akan keluar dari larutan dan mengendap.

Pada percobaan pengendapan protein dengan garam ini, endapan yang


dihasilkan dibagi dua kemudian direaksikan masing-masing dengan air dan reagen
millon. Dan untuk filtratnya di reaksikan dengan uji biuret. Ketika endapan dilarutkan
dalam aquades, endapan tersebut kembali terlarut. Hal ini sesuai dengan sifat alamiah
endapan protein yang larut dalam air. Sedangkan ketika endapan diuji dengan reagen
millon, mula-mula tidak terjadi perubahan, tetapi setelah dipanaskan, endapan berubah
menjadi berwarna kemerahan. Hal ini menunjukkan uji positif terhadap uji millon. Ini
berarti endapan tersebut masih mengandung asam amino. Asam amino yang terkandung
adalah asam amino tirosin, karena terbentuknya endapan merah setelah ditambahkan
reagen millon dan dipanaskan.
Setelah dilakukan penyaringan, filtrat yang dihasilkan diuji dengan uji biuret.
Filtrat yang dihasilkan ditambahkan dengan larutan CuSO4. Setelah ditambahkan
dengan larutan CuSO4, filtrat menunjukkan positif terhadap uji biuret yang ditandai
dengan terbentuknya lauran biru muda setelah filtrat ditambahkan reagen biuret.
Berdasarkan teori yang ada, semakin besar berat molekul yang dimiliki oleh
suatu garam, maka endapan dan kecepatan reaktifitasnya akan semakin besar.
Banyaknya endapan yang diperoleh juga dapat disebabkan karena jumlah biloks yang
ada pada garam. Menurut teori yang ada, protein akan mengendap bila terdapat garamgaram anorganik dengan konsentrasi yang tinggi dalam larutan protein. Garam-garam
anorganik mengendapkan protein karena kemampuan ion garam terhidrasi sehingga
berkompetisi dengan protein untuk mengikat air.
XII.

Kesimpulan
1. Pada pengendapan dengan garam, endapan terbentuk disebabkan ion garam
lebih mudah untuk mengikat air (hidrasi) dibandingkan dengan molekul
protein. Sehingga molekul protein kalah bersaing dalam hal mengikat air,
akibatnya kelarutan protein dalam air berkurang dan protein membentuk
endapan.
2. Endapan yang bewarna merah pada uji pengendapan merupakan hasil dari
garam-garam organik dalam persentase tinggi yang dapat mempengaruhi
sifat kelarutan protein.
3. Pada uji pengendapan dengan garam terbentuk larutan berwarna merah bata
dan endapan merah bata pada uji millon

4. Uji filtrate dengan biuret karena biuret merupakan pengujian


umum terhadap kandungan protein, dengan melihat ada dan
tidaknya ikatan peptida pada larutan tersebut.
5. Merkuri dalam pereaksi millon akan bereaksi dengan gugus
hidroksifenil dari tirosin membentuk warna merah bata.

XIII. Daftar Pustaka


Lehninger, A. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy Thenawidjaya.
Erlangga, Jakarta
Poedjiadi, Anna. 2009. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.
Frederica, Debrina . 2012. Protein (online) http://bio-protein.blogspot.com/
diakses pada 14 November 2015-11-16

XIV. Lampiran
Lampiran 1
1. Terangkan hasil-hasilnya ?
Pada percobaan ini hasil yang didapatkan adalah endapan dan filtrat yang
dimana endapannya diuji dengan milon dan dipanaskan menghasilkan warna
merah bata dan filtratnya diuji dengan biuret yang menghasilkan warna ungu.
Lampiran 2
Susu 5%, endapan + reagen millon , kelarutan endapan + air, filtrat + biuret

albumin , endapan + reagen millon , kelarutan


endapan + air, filtrat + biuret