Anda di halaman 1dari 14

Bappeda Kota Bandar Lampung

BAB 2. GAMBARAN UMUM KOTA


2.1.

GEOGRAFIS, ADMINISTRATIF DAN KONDISI FISIK

Kota Bandar Lampung merupakan Ibukota dari Provinsi Lampung dan merupakan pusat kegiatan pemerintahan,
sosial, politik, pendidikan dan kebudayaan serta kegiatan perekonomian. Secara geografis terletak pada 5020
sampai dengan 5030 Lintang Selatan dan 105028 sampai dengan 105037 Bujur Timur. Ibukota Bandar Lampung
berada di Teluk Betung yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatera, memiliki luas wilayah daratan 19.722 Ha
(197,22 km2) dan luas perairan kurang lebih 39,82 km2. Dan secara administratif dibatasi oleh :
Sebelah Utara
: Kabupaten Lampung Selatan;
Sebelah Selatan : Teluk Lampung;
Sebelah Barat
: Kabupaten Pesawaran;
Sebelah Timur
: Kabupaten Lampung Selatan.
Secara hidrologis Kota Bandar Lampung dilalui oleh sungai-sungai yang masuk dalam Wilayah Sungai (WS) Way
Seputih dan Way Sekampung yaitu Sungai Way Halim, Way Awi, Way Simpur di wilayah Tanjung Karang dan Way
Kuripan, Way Balau, Way Kupang, Way Garuntang, Way Kuala, mengalir di wilayah Teluk Betung. Daerah hulu
sungai berada di bagian Barat, daerah hilir sungai berada di wilayah bagian Selatan yaitu pada dataran pantai. Luas
wilayah yang datar sampai landai meliputi 60 %. Landai sampai miring 35 %, sangat miring sampai curam berjumlah
4 %. Dilihat secara hidrologi maka Kota Bandar Lampung mempunyai 2 sungai besar yaitu Way Kuripan dan Way
Kuala, dan 23 sungai-sungai kecil. Semua sungai tersebut merupakan DAS (Daerah Aliran Sungai) yang berada
dalam wilayah Kota Bandar Lampung dan sebagian besar bermuara di Teluk Lampung.
Sungai-sungai yang melintasi Kota Bandar Lampung adalah sungai kecil dengan debit air yang kecil, diantaranya
adalah Way Simpur, Way Penengahan, Way Kunyit, dan Way Keteguhan Pada musim kemarau,sungai cenderung
mengering,tetapi pada musim hujan debit air akan bertambah semakin cepat, sedangkan daya tampung sungai
semakin terbatas akibat terjadinya penyempitan daerah aliran sungai yang merupakan dampak kegiatan
pembangunan yang tidak memperhatikan garis sempadan sungai serta pencemaran lingkungan sungai.
Tabel 2.1. Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kota Bandar Lampung

Sumber : Review Masterplan Drainase, 2011

Topografi Kota Bandar Lampung sangatlah beragam, mulai dari dataran pantai sampai kawasan perbukitan hingga
bergunung, dengan ketinggian permukaan antara 0 sampai 500 m Daerah dengan topografi perbukitan hinggga
Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-1

Bappeda Kota Bandar Lampung

bergunung membentang dari arah Barat ke Timur dengan puncak tertinggi pada Gunung Betung sebelah Barat dan
Gunung Dibalau serta perbukitan Batu Serampok disebelah Timur. Topografi tiap-tiap wilayah di Kota Bandar
Lampung adalah sebagai berikut :
Dan secara administratif pula, Kota Bandar Lampung terdiri dari 13 Kecamatan, 98 Kelurahan, 246 Lingkungan,
serta 2.672 RT dengan pembagian wilayah Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada Tabel 2.2 dan Gambar 2.1.
berikut ini.

Wilayah pantai terdapat disekitar Teluk Betung dan Panjang dan pulau dibagian Selatan
Wilayah landai/dataran terdapat disekitar Kedaton dan Sukarame dibagian Utara
Wilayah perbukitan terdapat disekitar Telukbetung bagian Utara
Wilayah dataran tinggi dan sedikit bergunung terdapat disekitar Tanjung Karang bagian Barat yaitu wilayah
Gunung Betung, dan Gunung Dibalau serta perbukitan Batu Serampok dibagian Timur.

Rata-rata jumlah curah hujan di Kota Bandar Lampung berdasarkan hasil pengamatan Badan Metereologi
Klimatologi dan Geofisika tiap tahunnya terus mengalami fluktuasi. Jumlah curah hujan tinggi biasanya terjadi pada
bulan November sampai bulan April pada tipa tahunnnya. Pada tahun 2008 jumlah curah hujan tertinggi terjadi pada
bulan Desember, yaitu 433,10 mm, sedangkan yang terendah terjadi pada bulan Juli yaitu hanya 0,30
mm.berdasarkan data tersebut, dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir, curah hujan rata-rata tertinggi pada tahun
2009, yaitu mencapai 179,30 mm. Tingginya rata-rata curah hujan pada tahun 2009 berimplikasi pada meningkatnya
volume air sungai sehingga terjadi banjir pada beberapa kawasan di Kota Bandar Lampung. Bulan basah/kering
terjadi jika jumlah curah hujan yang terjadi pada bulan tersebut melebihi/kurang dari rerata curah hujan pada tahun
bersangkutan. Berdasarkan rerata curah hujan mengindikasikan bahwa bulan basah Kota Bandar Lampung pada
Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-2

Bappeda Kota Bandar Lampung

tahun 2009 terjadi pada bulan November Maret dengan rerata curah hujan bulanan berada diatas 179,30 mm,
sedangkan bulan keringnya yaitu bulan April Agustus dengan rerata curah hujan bulanan kurang dari 179 mm.
Kota Bandar Lampung termasuk beriklim tropis basah yang mendapat pengaruh dari angin musim (Monsoon Asia).
Data Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika Provinsi Lampung menunjukan bahwa temperatur Kota Bandar
Lampung dalam kurun waktu lima tahun terakhir berada pada kisaran 25 280C dengan suhu rata-rata pertahun
26,30C. Temperatur udara di Kota Bandar Lampung sepanjang relatif stabil dan tidak pernah menunjukan perubahan
yang ekstrim, hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa kualitas lingkungan di Kota Bandar Lampung masih cukup
baik.
Kondisi kelerengan Kota Bandar Lampung juga sangat beragam, kondisi geografis wilayah yang berbukit serta
berada di kaki Gunung Betung merupakan faktor pembentuk kelerengan di Kota Bandar Lampung. Tingkat
kemiringan lereng rata-rata wilayah di Kota Bandar Lampung berada pada kisaran 0 20 % dan secara umum
kelerengan wilayah Kota Bandar Lampung berada pada 0 40 %, wilayah yang memiliki kemiringan lereng 0 %
diantaranya berada di wilayah Kecamatan Sukarame, Tanjung Karang Pusat, Tanjung Seneng, Panjang, Teluk
Betung Selatan dan Kecamatan Kedaton. Adapun wilayah yang memiliki tingkat kemiringan lereng mencapai 40 %
diantaranya adalah Kecamatan Panjang, Teluk Betung Barat, Kemiling, dan Tanjung Karang Timur.

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-3

Bappeda Kota Bandar Lampung

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-4

Bappeda Kota Bandar Lampung

2.2.

DEMOGRAFI

Penduduk Kota Bandar Lampung berdasarkan Sensus Penduduk Nasional 2010 yang dilaksanakan Biro Pusat
Statistik (BPS) berjumlah 881.801 jiwa yang terdiri dari 445.959 jiwa penduduk laki-laki dan 435.842 jiwa penduduk
perempuan. Sebaran penduduk kota paling banyak berada di Kecamatan Teluk Betung Selatan yang berjumlah
92.156 jiwa, sedangkan paling sedikit berada di Kecamatan Tanjung Senang dengan jumlah 41.225 jiwa.
Jumlah penduduk kota pada tahun 2010 mengalami peningkatan yang cukup banyak dibandingkan tahun
sebelumnya (2006) yang jumlahnya sekitar 844.608 jiwa. Secara keseluruhan jumlah penduduk kota mengalami
pertumbuhan rata-rata sekitar 2.76% pertahunnya. Perkembangan jumlah penduduk kota dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 2.3. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Saat ini dan proyeksinya 5 tahun

Sumber : BPS Kota Bandar Lampung, 2011

2.3.

KEUANGAN DAN PEREKONOMIAN DAERAH

Dari data Laporan Realisasi Keuangan APBD Kota Bandar Lampung, maka terlihat pendapatan asli daerah (PAD)
mengalami peningkatan rata-rata berkisar 14% per tahun. Sedangkan DAU maupun DAK yang masuk dalam
pendapatan transfer meningkat rata-rata 10% pertahun. Namun bila dilihat dari belanja modal untuk pembangunan
masih dibawah 10% dari total belanja, porsi besar masih di kegiatan belanja operasional sekitar 86% per tahun dari
total belanja. Dan dari posisi keuangan surplus atau defisit tahun berjalan mengalami penurunan rata-rata 4% per
tahun. Sedangkan sisa langsung pembiayaan anggaran (SILPA) cendrung mengalami penurunan. Gambaran lebih
rinci terkait realisasi APBD Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada tabel 2.4.
Tabel 2.4. Ringkasan Realisasi APBD Kota Bandar Lampung

Sumber : Audit BPK mengenai Laporan Pertanggungjawaban APBD Kota Bandar Lampung (2007-2011)

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-5

Bappeda Kota Bandar Lampung

Belanja modal sanitasi Kota Bandar Lampung pada tiga tahun terakhir mengalami fluktuasi, hal ini terlihat dari
realisasi perbandingan belanja modal sanitasi dibagi dengan jumlah penduduk setiap tahunnya, seperti pada tabel
berikut
Tabel 2.5 Ringkasan Anggaran Sanitasi dan Belanja Modal Sanitasi Per Penduduk (2006-2010)
NO

1
2

SKPD

TAHUN
2009

2010
11,759,429,
235.00

Belanja Modal Sanitasi

2011
18,745,915,8
90.00

13,634,310,122.00

Jumlah Penduduk

833,517

881,801

922,808

Belanja Modal Sanitasi per


penduduk

14,108.21

21,258.67

14,774.81

SUMBER: LKPJ, Kota Bandar Lampung, 2012

Kapasitas Fiskal adalah gambaran kemampuan keuangan Daerah yang dicerminkan melalui pendapatan daerah
(tidak termasuk dana alokasi khusus, dana darurat, dana Pinjaman lama, dan penerimaan lain yang penggunaannya
dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu) dikurangi dengan belanja pegawai, dan dikaitkan dengan jumlah
penduduk miskin. Peta Kapasitas Fiskal adalah pengelompokan Daerah berdasarkan kapasitas fiskal menjadi empat
kelompok yaitu Daerah berkapasitas fiskal sangat tinggi, tinggi, sedang, dan rendah. Peta Kapasitas Fiskal
digunakan untuk menetapkan besaran hibah bagi masing-masing Daerah. Besaran hibah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah berkoordinasi dengan Menteri pada Kementerian
Negara/Lembaga terkait dan diprioritaskan kepada Daerah dengan kapasitas fiskal rendah. Dalam hal hibah
mensyaratkan adanya dana pendamping, Daerah wajib menyediakan dana pendamping dimaksud dalam APBD. Bila
melihat kemampuan keuangan Kota Bandar Lampung, maka masuk kategori sedang dan tinggi, sebagaimana dapat
dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.6 Data Mengenai Ruang Fiskal (2007-2010)

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-6

Bappeda Kota Bandar Lampung

Secara umum kondisi perekonomian kota Bandar Lampung cukup baik, terlihat dari PDRB tahun 2006 sebesar Rp.
5.079 trilyun meningkat menjadi Rp. 6.540 trilyun, rata-rata kenaikan per tahun sebesar 6.53%. dan hal ini
berdampak pada peningkatan pendapatan per kapita rata-rata 4.62% per tahun, sehingga di tahun 2010 menjadi Rp.
7.417.230,- per kapita. Secara tahunan, laju inflasi Kota Bandar Lampung bulan Desember 2008 tercatat sebesar
12,81%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi pada periode yang sama tahun 2007 (6,8%) dan
dibandingkan dengan inflasi nasional pada periode yang sama di tahun 2008 (11,06 %). Hal ini disinyalir sebagai
akibat dari gejolak harga komoditi. Dan secara triwulanan, terjadi penurunan tekanan inflasi sebagai akibat dari tren
penurunan harga pasca perayaan hari besar keagamaan. Data perekonomian kota dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.7 Data Perekonomian Umum Kota Bandar Lampung (2006-2010)

2.4

TATA RUANG WILAYAH

Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Kota Bandar Lampung merupakan perwujudan dan upaya untuk
mencapai tujuan penataan ruang wilayah Kota Bandar Lampung. Masing-masing kebijakan dan strategi akan
dijabarkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kebijakan dan strategi penataan ruang Kota Bandar Lampung
dibagi dalam:
1. Kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang
2. Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang
3. Kebijakan dan strategi pengembangan pemanfaatan dan pengendalian ruang
Kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang wilayah Kota Bandar Lampung merupakan arahan
pengembangan wilayah terkait dengan hierarki pelayanan kota serta sistem prasarana utama kota yang akan
ditetapkan untuk mencapai tujuan penataan ruang wilayah. Adapun kebijakan pengembangan struktur ruang wilayah
Kota Bandar Lampung dalam kurun waktu 20 tahun mendatang adalah sebagai berikut:
a) Pembentukan dan pengembangan kawasan pusat-pusat kegiatan utama kota
b) Peningkatan aksesibilitas pusat kawasan perdagangan dan jasa skala internasional dan regional,
c) Peningkatan penyediaan prasarana dan utilitas secara terpadu dan berwawasan lingkungan,
d) Peningkatan fungsi pelayanan nasional dan regional.
Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang wilayah Kota Bandar Lampung merupakan penjabaran tujuan
penataan ruang sebagaimana telah diuraikan ke dalam langkah-langkah pencapaian tindakan yang lebih nyata
dalam pengembangan kawasan lindung dan budidaya kota. Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang
meliputi:
a) Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung
b) Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budidaya
c) Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis kota
Kebijakan dan Strategi Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang, terdiri dari :
a) Pengembangan program perwujudan tata ruang yang dapat mendorong kemitraan dan kerjasama antara
swasta dan masyarakat.
b) Pengendalian pemanfaatan ruang yang tegas dan konsisten.
Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-7

Bappeda Kota Bandar Lampung

Peta 2.2. Rencana Pusat Layanan Kota Bandar Lampung

Secara umum jumlah lahan terbangun sampai saat ini telah berjumlah 9920 Ha atau sekitar 54,65 % dari seluruh
luas Kota Bandar Lampung, sedangkan lahan yang belum terbangun saat ini memiliki luas sekitar 8230,89 Ha atau
sekitar 45,35 %

Kawasan Lindung
-

Kawasan Resepan Air

Kawasan Sempadan Pantai

Kawasan Sempadan Sungai

Kawasan Sekitar Mata Air

Kawasan Sempadan Rel Kereta Api

Kawasan Ruang Terbuka Hijau dan Hutan Kota

Kawasan Budidaya
Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-8

Bappeda Kota Bandar Lampung

Kawasan Perumahan

Kawasan Perdagangan dan Jasa

Kawasan Perkantoran

KawasanIndustri

Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH)

Kawasan Peruntukan Lainnya

Tabel-2.7a
Penggunaan Lahan Eksisting Kota Bandar Lampung
NO

EKSISTING

LUAS (HA)

Kawasan Industri

186,23

0,94

Kawasan Lindung

2.330,86

11,82

Kawasan Pariwisata

50,97

0,26

Kawasan Pelabuhan

45,45

0,23

Kawasan Pelayanan Umum

318,01

1,61

Kawasan Pertambangan

47,93

0,24

Lahan Kosong

5.709,42

28,95

Perdagangan dan Jasa

230,65

1,17

Perikanan

11,15

0,06

10

Perkantoran & Pemerintahan

58,54

0,30

11

Permukiman

9.162,54

46,46

12

Pertanian

810,79

4,11

13

Peruntukan Industri

556,69

2,82

14

Badan Jalan

202,77

1,03

19.722,00

100,00

8.851,07

44,88

10.870,93

55,12

Jumlah
Lahan Non Terbangun (2+7+12)
Lahan Terbangun

Sumber: Interpretasi visual peta citra satelit quickbird Kota Bandar Lampung Tahun pemotretan 2006
Investigasi lapangan, 2009

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-9

Bappeda Kota Bandar Lampung

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-10

Bappeda Kota Bandar Lampung

Peta 2.3. Rencana Pola Ruang Kota Bandar Lampung

2.5.

SOSIAL DAN BUDAYA

Dalam mendukung keberhasilan pembangunan sosial dan budaya tidak terlepas dari peningkatan peran berbagai
sektor salah satunya sektor pendidikan, diperlukan langkah-langkah strategis, terencana serta terintegrasi.
Diantaranya dengan memperluas akses pendidikan seluas-luasnya yang terakumulasi dalam bentuk tersedianya
sarana dan prasarana pendidikan. Data terkait fasiltas pendidikan di Kota Bandar Lampung seperti terangkum
dalam tabel berikut ini:
Tabel 2.8 Fasilitas Pendidikan yang tersedia di Kota Bandar Lampung

Sumber : BPS Kota Bandar Lampung, Tahun 2011

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-11

Bappeda Kota Bandar Lampung

Dari pengamatan lapangan kami, FGD, survei sosialekonomi, seperti kondisi ekonomi rumah tangga, pendapatan
dan biaya rumah tangga, rumah tangga miskin dan data sekunder yang ada, menunjukkan bahwa jumlah rumah
tangga yang menerima subsidi BBM (bahan bakar minyak), makanan subsidi pokok (beras) untuk Rumah Tangga
Miskin adalah 39%. Untuk menjadi penerima subsidi ini, rumah tangga secara hukum harus membuktikan kondisi
miskin mereka ke kantor kecamatan. Informasi lengkap mengenai rumah tangga yang dikategorikan sebagai rumah
tangga miskin yang menerima subsidi bahan pokok dalam Program Raskin di Kota Bandar Lampung pada tahun
2010 disajikan pada Tabel 2.9. Jika dibandingkan dengan total KK tahun 2010 sebanyak 204.018 KK, maka jumlah
keluarga miskin ada sekitar 30%.
Tabel 2.9 Jumlah Penduduk Miskin per Kecamatan

Sumber : BPS Kota Bandar Lampung, Tahun 2011

Tabel 2.10 Jumlah Rumah per Kecamatan

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-12

Bappeda Kota Bandar Lampung


Sumber : BPS Kota Bandar Lampung, Tahun 2011

2.6.

KELEMBAGAAN PEMERINTAH DAERAH

Organisasi Pemerintah Kota Bandar Lampung sesuai dengan peraturan yang berlaku, dapat dilihat pada gambar di
bawah ini. Jumlah dinas yang ada berjumlah 16 dinas dan 13 lembaga teknis, pemerintahan 13 kecamatan
membawahi 98 kelurahan, dan Satpol PP. sednagkan Sekretariat Kota dibantu Asisten dan staf ahli untuk masingmasing bidang.
Gambar 2.1. Struktur Organisasi Pemerintah Kota Bandar Lampung

Sedangkan Dinas daerah yang terkait dengan kegiatan sanitasi terdiri dari :
Bappeda Kota
Mengintegrasi perencanaan pembangunan kota dengan fungsi utama Bappeda adalah: (a) perumusan
kebijakan, (b) bimbingan, konsultasi dan koordinasi, dan (c) pemantauan dan evaluasi. Hal ini hanya dapat
dilakukan dengan perencanaan terpusat untuk mendorong koordinasi, sinkronisasi dan sinergi dari berbagai
kebijakan, program dan kegiatan untuk semua SKPD dalam mewujudkan visi, misi, tujuan dan target
pembangunan Pemerintah Kota.

Dinas Kesehatan
Bertanggung jawab untuk pengawasan pengendalian penyakit, mendidik masyarakat dalam hal kesehatan,
memberdayakan masyarakat dan memberikan layanan kesehatan masyarakat juga mengkoordinir
organisasi kesehatan dari tingkat kecamatan dalam melaksanakan PHBS.

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-13

Bappeda Kota Bandar Lampung

Dinas Pekerjaan Umum


Bertanggung jawab untuk pengawasan, pelakasanaan dan pengendalian pembangunan sarana dan
prasarana sanitasi.

Dinas Kebersihan dan Pertamanan


Bertanggung jawab terhadap pengendalian, pengawasan dan pelaksanaan pengelolaan limbah padat
(sampah) dan limbah cair;

Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup


Memiliki divisi pencemaran lingkungan yang dapat memantau tingkat pencemaran yang disebabkan
kegiatan pembangunan.

Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Kelurahan


Bertanggung jawab terhadap pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan, agar rasa memiliki
prasarana dan sarana yang terbangun dapat dikembangkan, guna mendorong mereka lebih aktif terlibat
dalam pengelolaan sarana air limbah.

Gambar 2.2. Struktur Organisasi Dinas Terkait dengan Kegiatan Sanitasi

BPMPK = Bid. SDA / TTG

Buku Putih Sanitasi Kota Bandar Lampung

2-14