Anda di halaman 1dari 12

1.

TCP/IP (Transmission Control Protocol / Internet Protocol)


TCP/IP adalah gabungan dari protokol TCP (Transmission Control Protocol)
dan IP (Internet Protocol) sebagai sekelompok protokol yang mengatur
komunikasi data dalam proses tukar-menukar data dari satu komputer ke
komputer lain di dalam jaringan internet yang akan memastikan pengiriman
data sampai ke alamat yang dituju. Protokol ini tidaklah dapat berdiri sendiri,
karena memang protokol ini berupa kumpulan protokol (protocol suite).
Protokol ini juga merupakan protokol yang paling banyak digunakan saat ini,
karena protokol ini mampu bekerja dan diimplementasikan pada lintas
perangkat lunak (software) di berbagai sistem operasi Istilah yang diberikan
kepada
perangkat
lunak
ini
adalah
TCP/IP
stack.
TCP/IP
merngimplemenasikan arsitektur berlapis yang terdiri atas empat lapis. Empat
lapis ini, dapat dipetakan (meski tidak secara langsung) terhadap model
referensi OSI. Empat lapis ini, kadang-kadang disebut sebagai DARPA Model,
Internet Model, atau DoD Model, mengingat TCP/IP merupakan protokol yang
awalnya dikembangkan dari proyek ARPANET yang dimulai oleh Departemen
Pertahanan Amerika Serikat.
Setiap lapisan yang dimiliki oleh kumpulan protokol (protocol suite)
TCP/IP diasosiasikan dengan protokolnya masing-masing. Protokol utama
dalam protokol TCP/IP adalah sebagai berikut:

Protokol lapisan aplikasi: bertanggung jawab untuk menyediakan akses


kepada aplikasi terhadap layanan jaringan TCP/IP. Protokol ini mencakup
protokol Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP), Domain Name
System (DNS), Hypertext Transfer Protocol (HTTP), File Transfer
Protocol (FTP), Telnet, Simple Mail Transfer Protocol (SMTP), Simple
Network Management Protocol (SNMP), dan masih banyak protokol
lainnya. Dalam beberapa implementasi stack protokol, seperti halnya
Microsoft TCP/IP, protokol-protokol lapisan aplikasi berinteraksi dengan
menggunakan antarmuka Windows Sockets (Winsock) atau NetBIOS over
TCP/IP (NetBT).

Protokol lapisan antar-host: berguna untuk membuat komunikasi


menggunakan sesi koneksi yang bersifat connection-oriented atau
broadcast yang bersifat connectionless. Protokol dalam lapisan ini adalah
Transmission Control Protocol (TCP) dan User Datagram Protocol
(UDP).

Protokol lapisan internetwork: bertanggung jawab untuk melakukan


pemetaan (routing) dan enkapsulasi paket-paket data jaringan menjadi
paket-paket IP. Protokol yang bekerja dalam lapisan ini adalah Internet
Protocol (IP), Address Resolution Protocol (ARP), Internet Control

Message Protocol (ICMP), dan Internet Group Management Protocol


(IGMP).

Prtokol lapisan antarmuka jaringan: bertanggung jawab untuk meletakkan


frame-frame jaringan di atas media jaringan yang digunakan. TCP/IP dapat
bekerja dengan banyak teknologi transport, mulai dari teknologi transport
dalam LAN (seperti halnya Ethernet dan Token Ring), MAN dan WAN
(seperti halnya dial-up modem yang berjalan di atas Public Switched
Telephone Network (PSTN), Integrated Services Digital Network (ISDN),
serta Asynchronous Transfer Mode (ATM)).

Protokol TCP/IP menggunakan dua buah skema pengalamatan yang dapat


digunakan untuk mengidentifikasikan sebuah komputer dalam sebuah jaringan
atau jaringan dalam sebuah internetwork, yakni sebagai berikut:
Pengalamatan IP yang berupa alamat logis yang terdiri atas 32-bit (empat
oktet berukuran 8-bit) yang umumnya ditulis dalam format www.xxx.yyy.zzz.
Dengan menggunakan subnet mask yang diasosiasikan dengannya, sebuah
alamat IP pun dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni Network Identifier
(NetID) yang dapat mengidentifikasikan jaringan lokal dalam sebuah
internetwork dan Host identifier (HostID) yang dapat mengidentifikasikan
host dalam jaringan tersebut. Sebagai contoh, alamat 205.116.008.044 dapat
dibagi dengan menggunakan subnet mask 255.255.255.000 ke dalam Network
ID 205.116.008.000 dan Host ID 44. Alamat IP merupakan kewajiban yang
harus ditetapkan untuk sebuah host, yang dapat dilakukan secara manual
(statis) atau menggunakan Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP)
(dinamis).

Berikut ini merupakan layanan tradisional yang dapat berjalan di atas


protokol TCP/IP:
Pengiriman berkas (file transfer). File Transfer Protocol (FTP)
memungkinkan pengguna komputer yang satu untuk dapat mengirim ataupun
menerima berkas ke sebuah host di dalam jaringan. Metode otentikasi yang
digunakannya adalah penggunaan nama pengguna (user name) dan
password'', meskipun banyak juga FTP yang dapat diakses secara anonim
(anonymous), alias tidak berpassword.
Remote login. Network terminal Protocol (telnet) memungkinkan pengguna
komputer dapat melakukan log in ke dalam suatu komputer di dalam suatu
jaringan secara jarak jauh. Jadi hal ini berarti bahwa pengguna menggunakan
komputernya sebagai perpanjangan tangan dari komputer jaringan tersebut.
Computer mail. Digunakan untuk menerapkan sistem surat elektronik.

Network File System (NFS). Pelayanan akses berkas-berkas yang dapat


diakses dari jarak jauh yang memungkinkan klien-klien untuk mengakses
berkas pada komputer jaringan, seolah-olah berkas tersebut disimpan secara
lokal.
Remote execution. Memungkinkan pengguna komputer untuk menjalankan
suatu program tertentu di dalam komputer yang berbeda. Biasanya berguna
jika pengguna menggunakan komputer yang terbatas, sedangkan ia
memerlukan sumber yg banyak dalam suatu sistem komputer. Ada beberapa
jenis remote execution, ada yang berupa perintah-perintah dasar saja, yaitu
yang dapat dijalankan dalam system komputer yang sama dan ada pula yg
menggunakan sistem Remote Procedure Call (RPC), yang memungkinkan
program untuk memanggil subrutin yang akan dijalankan di sistem komputer
yg berbeda.
Name server yang berguna sebagai penyimpanan basis data nama host yang
digunakan pada Internet.
IP Address (Internet Protocol Address) adalah suatu identitas numerik yang
dilabelkan kepada suatu alat seperti komputer, router atau printer yang
terdapat dalam suatu jaringan komputer yang menggunakan internet protocol
sebagai sarana komunikasi. IP address memiliki dua fungsi, yakni:
Sebagai alat identifikasi host atau antarmuka pada jaringan. Fungsi ini
diilustrasikan seperti nama orang sebagai suatu metode untuk mengenali
siapa orang tersebut. dalam jaringan komputer berlaku hal yang sama.
Sebagai alamat lokasi jaringan. Fungsi ini diilustrasikan seperti alamat
rumah kita yang menunjukkan lokasi kita berada. Untuk memudahkan
pengiriman paket data, maka IP address memuat informasi keberadaannya.
Ada rute yang harus dilalui agar data dapat sampai ke komputer yang
dituju.
IP address menggunakan bilangan 32 bit. Sistem ini dikenal dengan nama
Internet Protocol version 4 atau IPv4. Saat ini IPv4 masih digunakan
meskipun sudah ada IPv6 yang diperkenalkan pada tahun 1995. Hal ini
dikarenakan tingginya pertumbuhan jumlah komputer yang terkoneksi ke
internet. Maka dibutuhkan alamat yang lebih banyak yang mampu
mengidentifikasi banyak anggota jaringan.
Format IP address
Sebenarnya pengalamatan IP address menggunakan bilangan biner. Namun
supaya lebih mudah ditulis dan dibaca oleh manusia, maka IP address ditulis
dengan bilangan 4 desimal yang masing-masing dipisahkan oleh titik. Format
penulisan ini disebut sebagai dotted-decimal notation. Setiap bilangan

desimal merupakan nilai dari satu oktet atau delapan bit alamat IP. Sebagai
contoh adalah sebagai berikut:
192.168.1.1
Jika dikonversi menjadi bilangan biner adalah sebagai berikut:
11000000.10101000.1.1
Struktur IP address terdiri atas dua bagian yaitu bagian networkID dan
hostID. NetworkID menunjukkan ID alamat jaringan tempat host-host berada,
sedangkan hostID adalah bagian yang menunjukkan host itu berada.
Sederhananya, networkID seperti nama jalan sedangkan hostID adalah nomor
rumah dijalan tersebut.
Network ID dan Host ID
Pembagian kelas IP address diatas didasarkan pada dua hal, yakni network ID
dan host ID. Network ID adalah bagian dari IP address yang menunjukkan
lokasi jaringan komputer tersebut berada. Sedangkan host ID menunjukkan
seluruh host TCP/IP yang lain dalam jaringan tersebut.
Pembagian Kelas IP Address
IP Address Kelas A, merupakan IP address dengan jumlah yang sangat
besar, sehingga biasanya digunakan untuk jaringan yang sangat besar
dengan jumlah host yang sangat banyak. Sebagai contoh pada penggunaan
IP address : 113.46.5.6 , 113 berfungsi sebagai network ID sedangkan
46.5.6 berfungsi sebagai host ID nya.
IP Address Kelas B, merupakan IP address dengan jumlah host yang
sedang, jumlah maksimal host berkisar 65.534 host, sehingga IP ini cocok
untuk jaringan dengan jumlah host yang tidak terlalu besar dan tidak
terlalu kecil. Sebagai contoh penggunaan IP address Kelas B adalah :
132.92.121.1 , 132.92 berfungsi sebagai network ID sedangkan 121.1
berfungsi sebagai host ID.
IP Address Kelas C, merupakan IP address dengan jumlah host yang
sangat kecil sehingga IP address ini digunakan untuk jaringan kecil seperti
disekolah-sekolah, dikantor-kantor maupun instansi rumahan, jumlah
maksimal host pada IP address ini hanya 254 host. Seabagai contoh
penggunaan IP Address Kelas C adalah : 192.168.1.2 , 192.168.1
merupakan network ID dan 2 merupakan host ID-nya
Subnet Mask
Nilai subnet mask berfungsi untuk memisahkan network ID dengan host ID.
Subnet mask diperlukan oleh TCP/IP untuk menentukan, apakah jaringan
yang dimaksud adalah jaringan lokal atau nonlokal. Untuk jaringan Nonlokal

berarti TCP/IP harus mengirimkan paket data melalui sebuah Router. Dengan
demikian, diperlukan address mask untuk menyaring IP address dan paket
data yang keluar masuk jaringan tersebut.
Network ID dan host ID didalam IP address dibedakan oleh penggunaan
subnet mask. Masing-masing subnetmask menggunakan pola nomor 32-bit
yang merupakan bit groups dari semua satu (1) yang menunjukkan network
ID dan semua nol (0) menunjukkan host ID dari porsi IP address.
Sebagai contoh, alamat kelas B: 170.203.93.5 bilangan binernya adalah:
10101010 11001011 01011101 00000101
Subnet mask default untuk alamat kelas B adalah:
11111111 11111111 00000000 00000000
Bisa juga ditulis dalam notasi desimal:
255.255.0.0

Alamat Khusus
Selain address yang dipergunakan untuk pengenal host, ada beberapa jenis
address yang digunakan untuk keperluan khusus dan tidak boleh digunakan
untuk pengenal host. Address tersebut adalah :
Network Address. Address ini digunakan untuk mengenali suatu network
pada jaringan Internet. Address ini didapat dengan membuat seluruh bit
host menjadi 0. Misalkan untuk host dengan IP Address kelas B
167.205.9.35. Tanpa memakai subnet, network address dari host ini
adalah 167.205.0.0. Tujuannya adalah untuk menyederhanakan informasi
routing pada Internet. Router cukup melihat network address (167.205)
untuk menentukan kemana paket tersebut harus dikirimkan.
Broadcast Address. Address ini digunakan untuk mengirim/menerima
informasi yang harus diketahui oleh seluruh host yang ada pada suatu
network. Address broadcast diperoleh dengan membuat seluruh bit host
pada IP Address menjadi 1. Jadi, untuk host dengan IP address
167.205.9.35 atau 167.205.240.2, broadcast addressnya adalah
167.205.255.255. Jenis informasi yang dibroadcast biasanya adalah
informasi routing.
Loopback Address. Alamat dengan NetID 127 adalah alamat khusus
yang digunakan sebagai loopback address. Alamat ini digunakan untuk
menguji perangkat lunak pada komputer atau host.
Private Address
Privat Address adaah kelompok IP Addres yang dapat dipakai tanpa harus
melakukan pendaftaran. IP Address ini hanya dapat digunakanuntuk jaringan
local (LAN) dan tidak dikenal dan diabaikan oleh Internet. Alamat ini adalah

unik bagi jaringan lokalnya tetapi tidak unik bagi jaringan global. Agar IP
Private ini dapat terkoneksi ke internet, diperlukan peralatan Router dengan
fasilitas Network Address Traslation (NAT).
Berikut adalah Alamat yang dicadangkan untuk jaringan private:
Private Address Kelas A :
IP Address dari 10.0.0.0 10.255.255.254, setara dengan sebuah jaringan
dengan 24 bit host. Atau sekitar 16.777.214 host.
Private Address Kelas B:
172.16.0.0 172.31.255.255, setara dengan 16 jaringan yang masing-masing
jaringan memiliki host efektif sebanyak 65.534 host.
Private Address Kelas C:
192.168.0.0 192.168.255.254, setara dengan 256 jaringan yang masingmasing jaringan memiliki host efektif sebanyak 254 host.

2. Perhitungan Subnetting
Subnetting adalah proses untuk memecah atau membagi sebuah network
menjadi beberapa network yang lebih kecil. Atau Subnetting merupakan
sebuah teknik yang mengizinkan para administrator jaringan untuk
memanfaatkan 32 bit IP address yang tersedia dengan lebih efisien. Teknik
subnetting membuat skala jaringan lebih luas dan tidak dibatas oleh kelas-kelas
IP (IP Classes) A, B, dan C yang sudah diatur. Dengan subnetting, maka kita
bisa membuat network dengan batasan host yang lebih realistis sesuai
kebutuhan. Subnetting menyediakan cara yang lebih fleksibel untuk
menentukan bagian mana dari sebuah 32 bit IP adddress yang mewakili
network ID dan bagian mana yang mewakili hostID. Dengan kelas-kelas IP
address standar, hanya 3 kemungkinan network ID yang tersedia; 8 bit untuk
kelas A, 16 bit untuk kelas B, dan 24 bit untuk kelas C.
Fungsi Subnetting
1. Penghematan Alamat IP
Mengalokasikan IP address yang terbatas agar lebih efisien. Jika internet
terbatas oleh alamat-alamat di kelas A, B, dan C, tiap network akan
memliki 254, 65.000, atau 16 juta IP address untuk host devicenya.
Walaupun terdapat banyak network dengan jumlah host lebih dari 254,
namun hanya sedikit network (kalau tidak mau dibilang ada) yang
memiliki host sebanyak 65.000 atau 16 juta. Dan network yang memiliki
lebih dari 254 device akan membutuhkan alokasi kelas B dan mungkin
akan menghamburkan percuma sekitar 10 ribuan IP address.
2. Mengoptimalisasi Unjuk Kerja Jaringan

walaupun sebuah organisasi memiliki ribuan host device, mengoperasikan


semua device tersebut di dalam network ID yang sama akan
memperlambat network. Cara TCP/IP bekerja mengatur agar semua
komputer dengan network ID yang sama harus berada di physical network
yang sama juga. Physical network memiliki domain broadcast yang sama,
yang berarti sebuah medium network harus membawa semua traffic untuk
network. Karena alasan kinerja, network biasanya disegmentasikan ke
dalam domain broadcast yang lebih kecil bahkan lebih kecil dari Class
C address.
Perhitungan Subnetting IP
Subnetting Alamat IP kelas C
Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP
dengan network identifier kelas C.
Subnetting yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS
192.168.1.0/26 Analisa : 192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnetmask /
26 berarti :
11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).
Perhitungan :
1. Jumlah Subnet = 2x , dimana x adalah banyaknya binary 1 pada octet
terkhir subnetmask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir
untuk kelas A). Jadi jumlah subnet adalah 22 = 4 subnet.
2. Jumlah Host per Subnet = 2y -2 , dimana y adalah kebalikan dari x yaitu
banyaknya binary 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet
adalah 26 2 = 62 host.
3. Blok Subnet = 256 192 (nilai oktet terakhir subnetmask) = 64. Subnet
berikutnya adalah 64+64=128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya
adalah 0,64,128,192.
4. Host pertama adalah 1 angka subnet, dan broadcast adalah 1 angka
sebelum subnet berikutnya.
Subnet
192.168.0

192.168.1.64

192.168.1.128

192.168.1.192

192.168.1.129

192.168.1.193

Host pertama
192.168.1.1 192.168.1.65
Host Terakhir

192.168.1.62 192.168.1.126

192.168.1.190

192.168.1.254

192.168.1.191

192.168.1.255

Broadcast
192.168.1.63 192.168.1.127

Subnetting Alamat IP kelas B


Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP
dengan network identifier kelas B.
Perhitungan Subnet Kelas B
Contoh network address 172.16.0.0/18
Analisa : 172.16.0.0 berarti kelas B , dengan Subnetmask /18 berarti
11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0)
Perhitungan :
1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binary 1 pada 2 oktet.
Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet.
2. Jumlah Host per Subnet = 2y 2, dimana y adalah kebalikan dari x yaitu
banyaknya binary 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet
adalah 214 2 = 16.382 host.
3. Blok Subnet = 256 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64+64=128, dan
128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0,64,128,192.
4. Alamat host dan broadcast yang valid :

Subnetting Alamat IP kelas A


Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP
dengan network identifier kelas A.
Perhitungan Subnet Kelas A
Konsepnya semua sama. Perbedaannya adalah di OKTET mana kita
mainkan blok subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di
Oktet 3 dan 4 (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet

terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting


class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai /30.
Kita coba latihan untuk network address 10.0.0.0/16.
Analisa: 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti
11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).
Penghitungan:
1. Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 216 - 2 = 65534 host
3. Blok Subnet = 256 - 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc.
4. Alamat host dan broadcast yang valid :

3. Routing
Routing IP adalah proses pengiriman data dari satu host dalam satu network ke
host dalam network yang lain melalui suatu router. Agar router dapat
mengetahui bagaimana meneruskan paket paket ke alamat yang dituju dengan
mengunakan jalur terbaik, router menggunakan peta atau tabel routing. Table
routing adalah table yang memuat seluruh informasi IP address dari interfaces
router
yang
lain
sehingga
router
yang
satu
denganrouterlainnyabisaberkomunikasi.
Routing table hanya memberikan informasi sedang routing algoritma yang
menganalisa dan mengatur routing table. Intinya, router hanya tahu cara
menghubungkan nertwork atau subnet yang terubung langsung dengan router
tersebut.
Routerberdasarkancarapemetaan/ routingdibagitiga :
o Static Routing
Static routing adalah pembuatan dan peng-update-an routing table
secara manual. Staric routing tidak akan merubah informasi yang ada pada
table routing secara otomatis, sehingga administrator harus melakukan
merubah secara manual apabila topologi jaringan berubah.
Beberapa keuntungan dari static routing :
o Pemeliharan bandwidth network karena peng-update-an informasi
router membutuhkan broadcasts yang terus menerus.

o keamanan metwork karena static routing hanya mengandung informasi


yang telah dimasukkan secara manual.
Beberapakerugiandari static routing :
o Tidak ada tolerasi kesalahan Jika suatu router down, maka static tidak
akan memperbaharui informasi dan tidak akan menginformasikan ke
router yang lain.
o Pengembangan network Jika suatu network ditambah atau dipindahkan
maka static routig harus diperbaharui oleh administrator.
Pembatasan static router dapat menjadi keuntungan apabila untuk
sampai pada tujuan hanya melalui satu router. Stub network adalah
pencapaian network tujuan hanya denga satu jalur. Konfigurasi static
routing Dalam rangka mengatur suatu rute statis router harus dalam bentuk
yang menyeluruh.
ip routenetwork/prefix {address | interface} [distance]
network : network yang dituju
mask : subnet mask
address : IP address untuk router yang berikut
interface : interface untuk mendapatkan network tujuan
distance : jarak administif distance router (optional)

o Dynamic Routing
Pada jaringan besar yang menggunakan banyak router, dynamic
routing merupakan metode yang paling umum digunakan. Mengapa?
Karena jika kita menggunakan metode static routing maka kita harus
mengkonfigurasi semua router secara manual dan ini tidak mungkin untuk
seorang network administrator. Dengan menggunakan metode static
routing kita membutuhkan banyak konfigurasi, sedangkan pada dynamic
routing kita dapat mengkonfigurasi seminimal mungkin. Jadi sangat
dimungkinkan metode dymanic routing untuk mengembangkan bagaimana
router berkomunikasi dengan protocol yang digunakan. Dynamic IP
routing adalah cara yang digunakan untuk melepaskan kewajiban mengisi
masukan masukan ke routing table secara manual. Protokol routing
mengatur router-router sehingga dapat berkomunikasi satu dengan yang
lain dan saling memberikan informasi routing yang dapat mengubah isi
Routing table, tergantung keadaan jaringannya. Dengan cara ini, routerrouter mengetahui keadaan jaringan yang terakhir dan mampu meneruskan
datagram kearah yang benar.
Remote network dapat dikategorikan di tabel routing dengan
menggunakan protokol dynamic routing. Dynamic routing protocol
contohnya sebagai berikut:

Network Discovery
Memelihara dan meng-update tabel routing- automatic network discovery.
Network discovery adalah kemampuan routing protokol untuk membagi
informasi tentang jaringan dengan router lainnnya dengan menggunakan
routing protokol yang sama. daripada mengkonfigurasi router secara static,
routing dinamik dapat secara otomatis membaca jaringannya dari routerrouter lainnya. pemilihan jalur terbaik pada setiap jaringan terdapat pada
tabel routing dengan menggunakan routing dinamik.

Maintainingroutingtables
Setelah mengenal jaringannya, routing dinamik akan selalu meng-update
dan menentukan jalur-jalurnya pada tabel routing. Routing dinamik tidak
hanya membuat jalur terbaik ke jaringan yang berbeda, routing dinamik
juga akan menentukan jalur baru yang baik jika tujuannya tidak tersedia
(jika topologinya berubah), untuk ini, routing dinamik mempunyai
keuntungan lebih dari routing static. router yang menggunakan dinamic
routing akan secara otomatis membagi informasi routingnya kepada router
yang lain dan menyesuaikan dengan topologi yang berubah tanpa
pengaturan dari seorang adminjaringan.

IP routingprotocol
Ada beberapa routing dinamic untuk IP. dibawah ini adalah dinamik
routing yang sering digunakan :
o Routing Information Protocol(RIP)
Kelebihan RIP menggunakan metode Triggered Update. RIP memiliki
timer untuk mengetahui kapan router harus kembali memberikan
informasi routing. Jika terjadi perubahan pada jaringan, sementara
timer belum habis, router tetap harus mengirimkan informasi routing
karena dipicu oleh perubahan tersebut (triggered update) Mengatur
routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang
cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadikegagalanlinkjaringan
o Kekurangan Jumlah host Terbatas. RIP tidak memiliki informasi
tentang subnet setiap route. RIP tidak mendukung Variable Length
Subnet Masking (VLSM). Ketika pertama kali dijalankan hanya
mengetahui cara routing ke dirinya sendiri (informasi lokal) dan tidak
mengetahui topologi jaringan tempatnya berada.
o InteriorGatewayRoutingProtocol(IGRP)
o Kelebihan
support = 255 hop count

o Kekurangan
Jumlah Host terbatas
o .OpenShortestPathFirst(OSPF)
o Kelebihan
tidak menghasilkan routing loop mendukung penggunaan beberapa
metrik sekaligus dapat menghasilkan banyak jalur ke sebuah tujuan
membagi jaringan yang besar mejadi beberapa area. Waktu yang
diperlukan untuk konvergen lebih cepat
o Kekurangan
Membutuhkan basis data yang besar. Lebih rumit
o Enchanced Interior GatwayRoutingProtocil(EIGRP)
o Kelebihan melakukan konvergensi secara tepat ketika menghindari
loop. Memerlukan lebih sedikit memori dan proses. Memerlukan
fitur loop avoidance
o Kekurangan
HanyauntukRouterCisco
o ExiteriorGatewayProtocol(EGP)
o Kelebihan
Sangat sederhana dalam instalasi
o Kekurangan
Sangat terbatas dalam mempergunakan topologi