Anda di halaman 1dari 138

PenGendaLian LOsSEs BBM

PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA

Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA

PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
PenGendaLian LOsSEs BBM Oleh Ir Hadi Suwignyo BcM MBA
OIL LOSSES
OIL LOSSES
OIL LOSSES DALAM MENGELOLA BAHAN BAKAR MINYAK TIDAK MUNGKIN DAPAT TERHINDAR DARI FAKTOR KERUGIAN KARENA SIFATNYA
OIL LOSSES DALAM MENGELOLA BAHAN BAKAR MINYAK TIDAK MUNGKIN DAPAT TERHINDAR DARI FAKTOR KERUGIAN KARENA SIFATNYA
OIL LOSSES DALAM MENGELOLA BAHAN BAKAR MINYAK TIDAK MUNGKIN DAPAT TERHINDAR DARI FAKTOR KERUGIAN KARENA SIFATNYA
OIL LOSSES DALAM MENGELOLA BAHAN BAKAR MINYAK TIDAK MUNGKIN DAPAT TERHINDAR DARI FAKTOR KERUGIAN KARENA SIFATNYA
DALAM MENGELOLA BAHAN BAKAR MINYAK TIDAK MUNGKIN DAPAT TERHINDAR DARI FAKTOR KERUGIAN KARENA SIFATNYA MUDAH
DALAM MENGELOLA BAHAN BAKAR MINYAK TIDAK MUNGKIN DAPAT
TERHINDAR DARI FAKTOR KERUGIAN KARENA SIFATNYA MUDAH
MENGUAP DAN MUTUNYA DAPAT BERUBAH
KARENA SIFATNYA MUDAH MENGUAP DAN MUTUNYA DAPAT BERUBAH OIL LOSSES DAPAT DIDEFINISIKAN SEB AGAI KERUGIAN YANG

OIL LOSSES DAPAT DIDEFINISIKAN SEBAGAI KERUGIAN YANG HILANG AKIBAT TERJADINYA PERUBAHAN KUALITAS BERKURANGNYA VOLUME DALAM PERHITUNGAN KUANTITAS BAHAN BAKAR MINYAK

YANG HILANG AKIBAT TERJADINYA PERUBAHAN KUALITAS BERKURANGNYA VOLUME DALAM PERHITUNGAN KUANTITAS BAHAN BAKAR MINYAK
YANG HILANG AKIBAT TERJADINYA PERUBAHAN KUALITAS BERKURANGNYA VOLUME DALAM PERHITUNGAN KUANTITAS BAHAN BAKAR MINYAK
YANG HILANG AKIBAT TERJADINYA PERUBAHAN KUALITAS BERKURANGNYA VOLUME DALAM PERHITUNGAN KUANTITAS BAHAN BAKAR MINYAK
YANG HILANG AKIBAT TERJADINYA PERUBAHAN KUALITAS BERKURANGNYA VOLUME DALAM PERHITUNGAN KUANTITAS BAHAN BAKAR MINYAK
YANG HILANG AKIBAT TERJADINYA PERUBAHAN KUALITAS BERKURANGNYA VOLUME DALAM PERHITUNGAN KUANTITAS BAHAN BAKAR MINYAK
PENGELOMPOKAN OIL LOSSES
PENGELOMPOKAN OIL LOSSES
ACCOUNTABLE LOSS (SUSUT PISIK)

ACCOUNTABLE LOSS (SUSUT PISIK)

UNACCOUNTABLE LOSS (SUSUT SEMU)

UNACCOUNTABLE LOSS (SUSUT SEMU)

SUSUT MINYAK YANG SECARA PISIK HILANG
SUSUT MINYAK YANG SECARA
PISIK HILANG
LOSS (SUSUT SEMU) SUSUT MINYAK YANG SECARA PISIK HILANG SUSUT MINYAK YANG PISIKNYA TIDAK HILANG, TETAPI
SUSUT MINYAK YANG PISIKNYA TIDAK HILANG, TETAPI SECARA ADMINISTRATIF DINYATAKAN HILANG

SUSUT MINYAK YANG PISIKNYA TIDAK HILANG, TETAPI SECARA ADMINISTRATIF DINYATAKAN HILANG

FAKTOR PENYEBABNYA DAPAT DIKETAHUI FAKTOR PENYEBABNYA SANGAT SULIT UNTUK DIKETAHUI PENGUAPAN MINYAK KEBOCORAN TANKI
FAKTOR PENYEBABNYA DAPAT
DIKETAHUI
FAKTOR PENYEBABNYA SANGAT
SULIT UNTUK DIKETAHUI
PENGUAPAN MINYAK
KEBOCORAN TANKI
KEBOCORAN JALUR PIPA
PENCURIAN
TUMPAHAN MINYAK
DRAIN TANKI
TANK CLEANING
KESALAHAN MENGUKUR
KESALAHAN MENGHITUNG
KESALAHAN ALAT UKUR
KESALAHAN PROSEDUR
KONDISI SARFAS
HUMAN ERROR
CLEANING KESALAHAN MENGUKUR KESALAHAN MENGHITUNG KESALAHAN ALAT UKUR KESALAHAN PROSEDUR KONDISI SARFAS HUMAN ERROR
CLEANING KESALAHAN MENGUKUR KESALAHAN MENGHITUNG KESALAHAN ALAT UKUR KESALAHAN PROSEDUR KONDISI SARFAS HUMAN ERROR
CLEANING KESALAHAN MENGUKUR KESALAHAN MENGHITUNG KESALAHAN ALAT UKUR KESALAHAN PROSEDUR KONDISI SARFAS HUMAN ERROR

LOSS CONTROL

AKTIVITAS YANG DILAKSANAKAN DALAM UPAYA UNTUK MENGENDALIKAN TERJADINYA KERUGIAN PADA PERGERAKAN ARUS MINYAK

TERJADINYA KERUGIAN PADA PERGERAKAN ARUS MINYAK PENGENDALIAN KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK
TERJADINYA KERUGIAN PADA PERGERAKAN ARUS MINYAK PENGENDALIAN KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK
TERJADINYA KERUGIAN PADA PERGERAKAN ARUS MINYAK PENGENDALIAN KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK
TERJADINYA KERUGIAN PADA PERGERAKAN ARUS MINYAK PENGENDALIAN KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK

PENGENDALIAN KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK BERTUJUAN

KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK BERTUJUAN KUALITASNYA TIDAK BERUBAH (OFF SPEC) KUANTITASNYA TIDAK
KUALITASNYA TIDAK BERUBAH (OFF SPEC)
KUALITASNYA
TIDAK BERUBAH
(OFF SPEC)
KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK BERTUJUAN KUALITASNYA TIDAK BERUBAH (OFF SPEC) KUANTITASNYA TIDAK SUSUT (LOSS)
KUANTITASNYA TIDAK SUSUT (LOSS)
KUANTITASNYA
TIDAK SUSUT
(LOSS)
KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK BERTUJUAN KUALITASNYA TIDAK BERUBAH (OFF SPEC) KUANTITASNYA TIDAK SUSUT (LOSS)
KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK BERTUJUAN KUALITASNYA TIDAK BERUBAH (OFF SPEC) KUANTITASNYA TIDAK SUSUT (LOSS)
KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK BERTUJUAN KUALITASNYA TIDAK BERUBAH (OFF SPEC) KUANTITASNYA TIDAK SUSUT (LOSS)
KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK BERTUJUAN KUALITASNYA TIDAK BERUBAH (OFF SPEC) KUANTITASNYA TIDAK SUSUT (LOSS)
KERUGIAN DALAM PERGERAKAN ARUS MINYAK BERTUJUAN KUALITASNYA TIDAK BERUBAH (OFF SPEC) KUANTITASNYA TIDAK SUSUT (LOSS)
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN
KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS
PENGENDALIAN KUALITAS

PENGENDALIAN KUALITAS

MELAKSANAKAN PENGAWASAN TERHADAP KUALITAS MINYAK AGAR TIDAK TERJADI KONTAMINASI MAUPUN DETERIORASI SELAMA KEGIATAN OPERASI

KONTAMINASI MAUPUN DETERIORASI SELAMA KEGIATAN OPERASI KONTAMINASI TERCEMARNYA SUATU JENIS BBM TERTENTU DENGAN
KONTAMINASI MAUPUN DETERIORASI SELAMA KEGIATAN OPERASI KONTAMINASI TERCEMARNYA SUATU JENIS BBM TERTENTU DENGAN
KONTAMINASI MAUPUN DETERIORASI SELAMA KEGIATAN OPERASI KONTAMINASI TERCEMARNYA SUATU JENIS BBM TERTENTU DENGAN
KONTAMINASI TERCEMARNYA SUATU JENIS BBM TERTENTU DENGAN SATU ATAU LEBIH JENIS BBM ATAU ZAT LAIN
KONTAMINASI
TERCEMARNYA SUATU JENIS
BBM TERTENTU DENGAN
SATU ATAU LEBIH JENIS
BBM ATAU ZAT LAIN YANG
DAPAT MENGAKIBATKAN
RUSAKNYA KUALITAS BBM
(OFF SPEC)
YANG DAPAT MENGAKIBATKAN RUSAKNYA KUALITAS BBM (OFF SPEC) DETERIORASI PERUBAHAN SIFAT SUATU ZAT YANG TIMBUL DARI
DETERIORASI PERUBAHAN SIFAT SUATU ZAT YANG TIMBUL DARI DALAM ZAT ITU SENDIRI AKIBAT ADANYA PENGARUH
DETERIORASI
PERUBAHAN SIFAT SUATU
ZAT YANG TIMBUL DARI
DALAM ZAT ITU SENDIRI
AKIBAT ADANYA PENGARUH
LINGKUNGAN (SIFAT KIMIA
ATAU FISIKA)
SIFAT SUATU ZAT YANG TIMBUL DARI DALAM ZAT ITU SENDIRI AKIBAT ADANYA PENGARUH LINGKUNGAN (SIFAT KIMIA

KEGIATAN PENGENDALIAN KUALITAS

KEGIATANKEGIATAN BERENCANABERENCANA YANGYANG BERTUJUANBERTUJUAN AGARAGAR SUATUSUATU PRODUKPRODUK MINYAKMINYAK

KEGIATANKEGIATAN BERENCANABERENCANA YANGYANG BERTUJUANBERTUJUAN AGARAGAR SUATUSUATU PRODUKPRODUK MINYAKMINYAK TERTENTUTERTENTU MEMILIKIMEMILIKI PENAMPILANPENAMPILAN SESUAISESUAI DENGANDENGAN STANDARSTANDAR SPESIFKASISPESIFKASI YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN

SPESIFKASISPESIFKASI YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN SPESIFIKASI ADALAH BATASAN MINIMUM ATAU MAKSIMUM DARI
SPESIFKASISPESIFKASI YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN SPESIFIKASI ADALAH BATASAN MINIMUM ATAU MAKSIMUM DARI
SPESIFKASISPESIFKASI YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN SPESIFIKASI ADALAH BATASAN MINIMUM ATAU MAKSIMUM DARI
SPESIFKASISPESIFKASI YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN SPESIFIKASI ADALAH BATASAN MINIMUM ATAU MAKSIMUM DARI
SPESIFKASISPESIFKASI YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN SPESIFIKASI ADALAH BATASAN MINIMUM ATAU MAKSIMUM DARI
SPESIFIKASI ADALAH BATASAN MINIMUM ATAU MAKSIMUM DARI KARAKTERISTIK MINYAK TERTENTU YANG TELAH DIUJI DENGAN MENGGUNAKAN

SPESIFIKASI ADALAH BATASAN MINIMUM ATAU MAKSIMUM DARI KARAKTERISTIK MINYAK TERTENTU YANG TELAH DIUJI DENGAN MENGGUNAKAN METODE ATAU PERALATAN STANDAR TERTENTU

PENGENDALIANPENGENDALIAN KUALITASKUALITAS MINYAKMINYAK BERPEDOMANBERPEDOMAN PADAPADA SPESIFIKASISPESIFIKASI YANGYANG

PENGENDALIANPENGENDALIAN KUALITASKUALITAS MINYAKMINYAK BERPEDOMANBERPEDOMAN PADAPADA SPESIFIKASISPESIFIKASI YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN OLEHOLEH DIRDIR JENDJEND MIGASMIGAS

BERPEDOMANBERPEDOMAN PADAPADA SPESIFIKASISPESIFIKASI YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN OLEHOLEH DIRDIR JENDJEND MIGASMIGAS
BERPEDOMANBERPEDOMAN PADAPADA SPESIFIKASISPESIFIKASI YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN OLEHOLEH DIRDIR JENDJEND MIGASMIGAS

SPESIFIKASI MINYAK SOLAR

 
   

BATASAN

METODE TEST

S I F A T

SATUAN

MINIMUM

MAKSIMUM

ASTM

LAIN

Spesifikasi Gravity qt 60/60°F

 

0,82

0,87

D-1298

 

Color ASTM

 

45

3,0

D-1500

 

Cetan Number, or

 

48

 

D-613

 

Alternatively calculated Cetan Index

 

1,6

 

D-976

 

Viscosity Kinmatic at 100°F

cST

35

5,8

D-445

 

or Viscosity SSU at 100°F

secs

 

45

D-88

 

Pour Point

°C

 

65

D-97

 

Sulphur content

%wt

 

0,5

D-1551/D-1552

 

Cooper Strip Corrosion (3 hrs/50°C)

   

No.1

D-130

 

Conradson Carbon Residue

%wt

 

0,1

D-189

 

(on 10% vol bottom)

         

Water content

%vol

 

0,05

D-93

 

Sediment

%wt

 

0,01

D-473

 

Ash content

%wt

 

0,01

D-482

IP 30

Neutralization value

         

Strong Acid Number

mgKOH/gr

 

Nil

   

Total Acid Number

mgKOH/gr

150

0,6

 

Visual

Flash Point P.M. c.c

°F

0,5

 

D-93

 

Distilation :

         

Recovery at 300°C

%vol

40

 

D-86

 

Spesifikasi ini sesuai Surat Keputusan Dirjen Migas No. 113.K/72/DJM/1999,Tanggal 27 Oktober 1999

  D-86   Spesifikasi ini sesuai Surat Keputusan Dirjen Migas No. 113.K/72/DJM/1999,Tanggal 27 Oktober 1999
  D-86   Spesifikasi ini sesuai Surat Keputusan Dirjen Migas No. 113.K/72/DJM/1999,Tanggal 27 Oktober 1999

TAHAPANTAHAPAN KEGIATANKEGIATAN PENGAWASANPENGAWASAN KUALITASKUALITAS

KEGIATANKEGIATAN PENGAWASANPENGAWASAN KUALITASKUALITAS 1 PERSIAPANPERSIAPAN UNTUKUNTUK MELAKSANAKANMELAKSANAKAN
KEGIATANKEGIATAN PENGAWASANPENGAWASAN KUALITASKUALITAS 1 PERSIAPANPERSIAPAN UNTUKUNTUK MELAKSANAKANMELAKSANAKAN
KEGIATANKEGIATAN PENGAWASANPENGAWASAN KUALITASKUALITAS 1 PERSIAPANPERSIAPAN UNTUKUNTUK MELAKSANAKANMELAKSANAKAN
1 PERSIAPANPERSIAPAN UNTUKUNTUK MELAKSANAKANMELAKSANAKAN KEGIATANKEGIATAN PENGAWASANPENGAWASAN KUALITASKUALITAS 2
1
PERSIAPANPERSIAPAN UNTUKUNTUK MELAKSANAKANMELAKSANAKAN
KEGIATANKEGIATAN PENGAWASANPENGAWASAN KUALITASKUALITAS
2
MELAKSANAKANMELAKSANAKAN
PENGAMBILANPENGAMBILAN SAMPELSAMPEL
PEMERIKSAANPEMERIKSAAN SAMPELSAMPEL TERHADAPTERHADAP
3 KARAKTERISTIKKARAKTERISTIK YANGYANG DITETAPKANDITETAPKAN DIDI
DALAMDALAM SPESIFIKASISPESIFIKASI
4 MELAKSANAKANMELAKSANAKAN ADMINISTRASIADMINISTRASI
DANDAN EVALUASIEVALUASI
5 MEMBUATMEMBUAT REKOMENDASIREKOMENDASI
4 MELAKSANAKANMELAKSANAKAN ADMINISTRASIADMINISTRASI DANDAN EVALUASIEVALUASI 5 MEMBUATMEMBUAT REKOMENDASIREKOMENDASI

PENGAMBILAN SAMPEL

DALAM MELAKSANAKAN PENGAMBILAN DAN PEMERIKSAAN SAMPEL HARUS MENGIKUTI TATACARA YANG DITETAPKAN

PEMERIKSAAN SAMPEL HARUS MENGIKUTI TATACARA YANG DITETAPKAN DI TANKER ATAU TONGKANG PADA SELURUH KOMPARTEMEN. SELESAI

DI TANKER ATAU TONGKANG

PADA SELURUH KOMPARTEMEN. SELESAI MUAT (LOADING). SEBELUM BONGKAR (DISCHARGING).

SELESAI MUAT (LOADING). SEBELUM BONGKAR (DISCHARGING). MANIFOLD PIPA BONGKAR PRODUK MASUK DI SAMPEL COCK MANIFOLD
SELESAI MUAT (LOADING). SEBELUM BONGKAR (DISCHARGING). MANIFOLD PIPA BONGKAR PRODUK MASUK DI SAMPEL COCK MANIFOLD
SELESAI MUAT (LOADING). SEBELUM BONGKAR (DISCHARGING). MANIFOLD PIPA BONGKAR PRODUK MASUK DI SAMPEL COCK MANIFOLD
SELESAI MUAT (LOADING). SEBELUM BONGKAR (DISCHARGING). MANIFOLD PIPA BONGKAR PRODUK MASUK DI SAMPEL COCK MANIFOLD
SELESAI MUAT (LOADING). SEBELUM BONGKAR (DISCHARGING). MANIFOLD PIPA BONGKAR PRODUK MASUK DI SAMPEL COCK MANIFOLD
SELESAI MUAT (LOADING). SEBELUM BONGKAR (DISCHARGING). MANIFOLD PIPA BONGKAR PRODUK MASUK DI SAMPEL COCK MANIFOLD

MANIFOLD PIPA BONGKAR

PRODUK MASUK DI SAMPEL COCK MANIFOLD PADA 15 MENIT SETELAH PENGAMBILAN SAMPEL- I PADA 30 MENIT SETELAH PENGAMBILAN SAMPEL - II SECARA KONTINYU SETIAP 1 JAM

PENGAMBILAN SAMPEL - II SECARA KONTINYU SETIAP 1 JAM TANKI TIMBUN PADA SELURUH TANKI TIMBUN. SEBELUM
PENGAMBILAN SAMPEL - II SECARA KONTINYU SETIAP 1 JAM TANKI TIMBUN PADA SELURUH TANKI TIMBUN. SEBELUM

TANKI TIMBUN

PADA SELURUH TANKI TIMBUN. SEBELUM DAN SESUDAH PENERIMAAAN. SEBELUM DAN SESUDAH PENDISTRIBUSIAN.

1 JAM TANKI TIMBUN PADA SELURUH TANKI TIMBUN. SEBELUM DAN SESUDAH PENERIMAAAN. SEBELUM DAN SESUDAH PENDISTRIBUSIAN.

PEMERIKSAAN SAMPEL

DI LAPANGAN (SHORT/FIELD TEST)

PEMERIKSAAN SAMPEL DI LAPANGAN (SHORT/FIELD TEST) VARIBEL PEMERIKSAAN TERBATAS : - DENSITY - TEMPERATUR - WARNA

VARIBEL PEMERIKSAAN TERBATAS :

- DENSITY

- TEMPERATUR

- WARNA

- BAU

BILA HASILNYA MENCURIGAKAN UNTUK SEMENTARA KEGIATAN DIHENTIKAN SERTA DILANJUTKAN DENGAN PEMERIKSAAN LENGKAP DI LABORATORIUM

DILANJUTKAN DENGAN PEMERIKSAAN LENGKAP DI LABORATORIUM DI LABORATORIUM (COMPLICATED TEST) PEMERIKSAAN DILAKUKAN
DILANJUTKAN DENGAN PEMERIKSAAN LENGKAP DI LABORATORIUM DI LABORATORIUM (COMPLICATED TEST) PEMERIKSAAN DILAKUKAN
DILANJUTKAN DENGAN PEMERIKSAAN LENGKAP DI LABORATORIUM DI LABORATORIUM (COMPLICATED TEST) PEMERIKSAAN DILAKUKAN
DILANJUTKAN DENGAN PEMERIKSAAN LENGKAP DI LABORATORIUM DI LABORATORIUM (COMPLICATED TEST) PEMERIKSAAN DILAKUKAN

DI LABORATORIUM (COMPLICATED TEST)

PEMERIKSAAN DILAKUKAN SECARA LENGKAP TERHADAP VARIABEL YANG DITETAPKAN DALAM STANDAR SPESIFIKASI

(COMPLICATED TEST) PEMERIKSAAN DILAKUKAN SECARA LENGKAP TERHADAP VARIABEL YANG DITETAPKAN DALAM STANDAR SPESIFIKASI
(COMPLICATED TEST) PEMERIKSAAN DILAKUKAN SECARA LENGKAP TERHADAP VARIABEL YANG DITETAPKAN DALAM STANDAR SPESIFIKASI
(COMPLICATED TEST) PEMERIKSAAN DILAKUKAN SECARA LENGKAP TERHADAP VARIABEL YANG DITETAPKAN DALAM STANDAR SPESIFIKASI

ADMINISTRASI DAN EVALUASI

ADMINISTRASI DAN EVALUASI MENCATAT HASIL PEMERIKSAAN DALAM FORM YANG TERSEDIA MEMBUAT EVALUASI, INTERPRESTASI DAN

MENCATAT HASIL PEMERIKSAAN DALAM FORM YANG TERSEDIA

MEMBUAT EVALUASI, INTERPRESTASI DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN

INTERPRESTASI DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI
ON SPEC
ON SPEC
DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI DIBUAT
OFF SPEC
OFF SPEC
DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI DIBUAT USULAN :
DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI DIBUAT USULAN :
DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI DIBUAT USULAN :
DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI DIBUAT USULAN :
DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI DIBUAT USULAN :
DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI DIBUAT USULAN :
DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI DIBUAT USULAN :
DAN REKOMENDASI ATAS HASIL PEMERIKSAAN ON SPEC OFF SPEC BBM DAPAT DIGUNAKAN REKOMENDASI DIBUAT USULAN :

BBM DAPAT DIGUNAKAN

REKOMENDASI

DIBUAT USULAN :

* REKLAMASI ATAU PENGOLAHAN KEMBALI

* DOWN GRADE

* PENGHAPUSAN ATAU DIMUSNAHKAN

REKOMENDASI DIBUAT USULAN : * REKLAMASI ATAU PENGOLAHAN KEMBALI * DOWN GRADE * PENGHAPUSAN ATAU DIMUSNAHKAN
REKOMENDASI DIBUAT USULAN : * REKLAMASI ATAU PENGOLAHAN KEMBALI * DOWN GRADE * PENGHAPUSAN ATAU DIMUSNAHKAN
REKLAMASI ATAU PENGOLAHAN KEMBALI PROSES PENCAMPURAN ANTARA BBM YANG OFF SPEC DENGAN PRODUK LAIN YANG
REKLAMASI ATAU PENGOLAHAN KEMBALI PROSES PENCAMPURAN ANTARA BBM YANG OFF SPEC DENGAN PRODUK LAIN YANG
REKLAMASI ATAU PENGOLAHAN KEMBALI PROSES PENCAMPURAN ANTARA BBM YANG OFF SPEC DENGAN PRODUK LAIN YANG

REKLAMASI ATAU PENGOLAHAN KEMBALI

PROSES PENCAMPURAN ANTARA BBM YANG OFF SPEC DENGAN PRODUK LAIN YANG ON SPEC ATAU PENAMBAHAN ADDTIVE SEHINGGA KUALITAS ATAU MUTU BBM SESUAI DENGAN MEMENUHI SPESIFIKASI

KUALITAS ATAU MUTU BBM SESUAI DENGAN MEMENUHI SPESIFIKASI PREMIUM OFF SPEC PREMIUM ON SPEC 1 :

PREMIUM OFF SPEC

BBM SESUAI DENGAN MEMENUHI SPESIFIKASI PREMIUM OFF SPEC PREMIUM ON SPEC 1 : 1 1 :

PREMIUM ON SPEC

1 : 1 1 : 2 1 : 3 1 : 4
1 : 1
1 : 2
1 : 3
1 : 4

TRIAL BLEND

TEST LABORATORIUM

SPESIFIKASI PREMIUM OFF SPEC PREMIUM ON SPEC 1 : 1 1 : 2 1 : 3
SPESIFIKASI PREMIUM OFF SPEC PREMIUM ON SPEC 1 : 1 1 : 2 1 : 3
SPESIFIKASI PREMIUM OFF SPEC PREMIUM ON SPEC 1 : 1 1 : 2 1 : 3

PREMIUM ON SPEC

DOWN GRADE PERUBAHAN SATU JENIS BBM MENJADI JENIS BBM LAIN KARENA TERJADI KENAIKAN ATAU PENURUNAN
DOWN GRADE PERUBAHAN SATU JENIS BBM MENJADI JENIS BBM LAIN KARENA TERJADI KENAIKAN ATAU PENURUNAN
DOWN GRADE PERUBAHAN SATU JENIS BBM MENJADI JENIS BBM LAIN KARENA TERJADI KENAIKAN ATAU PENURUNAN
DOWN GRADE PERUBAHAN SATU JENIS BBM MENJADI JENIS BBM LAIN KARENA TERJADI KENAIKAN ATAU PENURUNAN

DOWN GRADE

PERUBAHAN SATU JENIS BBM MENJADI JENIS BBM LAIN KARENA TERJADI KENAIKAN ATAU PENURUNAN KUALITAS

BBM LAIN KARENA TERJADI KENAIKAN ATAU PENURUNAN KUALITAS TERJADINYA BBM TERKONTAMINASI PRODUK INTERFACE PADA

TERJADINYA BBM TERKONTAMINASI

PRODUK INTERFACE PADA PENDISTRIBUSIAN MELALAUI PIPA DENGAN SISTEM PRODUK IN LINE

PENDISTRIBUSIAN MELALAUI PIPA DENGAN SISTEM PRODUK IN LINE INTERFACE PRODUK PREMIUM DAN KEROSINE DISEBUT FEED STOCK

INTERFACE PRODUK PREMIUM DAN KEROSINE DISEBUT FEED STOCK A DAN DI DOWN GRADE MENJADI PREMIUM

INTERFACE PRODUK SOLAR DAN KEROSINE DISEBUT FEED STOCK B DAN DI DOWN GRADE MENJADI KEROSINE

DOWN GRADE MENJADI PREMIUM INTERFACE PRODUK SOLAR DAN KEROSINE DISEBUT FEED STOCK B DAN DI DOWN
DOWN GRADE MENJADI PREMIUM INTERFACE PRODUK SOLAR DAN KEROSINE DISEBUT FEED STOCK B DAN DI DOWN

PENDISTRIBUSIAN MELALAUI PIPA DENGAN SISTEM PRODUK IN LINE

PENDISTRIBUSIAN MELALAUI PIPA DENGAN SISTEM PRODUK IN LINE SOLAR KEROSINE KEROSINE PREMIUM INTERFACE PREMIUM DENGAN
PENDISTRIBUSIAN MELALAUI PIPA DENGAN SISTEM PRODUK IN LINE SOLAR KEROSINE KEROSINE PREMIUM INTERFACE PREMIUM DENGAN
PENDISTRIBUSIAN MELALAUI PIPA DENGAN SISTEM PRODUK IN LINE SOLAR KEROSINE KEROSINE PREMIUM INTERFACE PREMIUM DENGAN
PENDISTRIBUSIAN MELALAUI PIPA DENGAN SISTEM PRODUK IN LINE SOLAR KEROSINE KEROSINE PREMIUM INTERFACE PREMIUM DENGAN
SOLAR KEROSINE KEROSINE PREMIUM INTERFACE PREMIUM DENGAN KEROSINE INTERFACE KEROSINE DENGAN SOLAR FED STOCK FED
SOLAR
KEROSINE
KEROSINE
PREMIUM
INTERFACE
PREMIUM DENGAN KEROSINE
INTERFACE
KEROSINE DENGAN SOLAR
FED STOCK
FED STOCK
A
B
BLENDING KE PREMIUM
MAK 2%
BLENDING KE KEROSINE
MAK 2%
DOWN GRADE
DOWN GRADE
KE PREMIUM
KE KEROSINE
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN
STOCK A B BLENDING KE PREMIUM MAK 2% BLENDING KE KEROSINE MAK 2% DOWN GRADE DOWN

PENGHAPUSAN ATAU DIMUSNAHKAN

MINYAK SUDAH TIDAK DAPAT DIMANFAATKAN SESUAI DENGAN PERUNTUKANNYA SEHINGGA DILAKUKAN PROSES PEMUSNAHAN

DENGAN PER UNTUKANNYA SEHINGGA DILAKUKAN PROSES PEMUSNAHAN MERUPAKAN TINDAKAN TE RAKHIR YANG HARUS DILAKUKAN AGAR TI

MERUPAKAN TINDAKAN TERAKHIR YANG HARUS DILAKUKAN AGAR TIDAK MENGAKIBATKAN TIMBULNYA KERUGIAN YANG BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN

KERUGIAN YANG BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK
KERUGIAN YANG BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK
KERUGIAN YANG BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK
KERUGIAN YANG BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK
KERUGIAN YANG BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK
BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK MELAKSANAKAN PENGELOLAAN LIMBAH
BADAN USAHA YANG DITUNJUK
OLEH PEMERINTAH UNTUK
MELAKSANAKAN
PENGELOLAAN LIMBAH
BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK MELAKSANAKAN PENGELOLAAN LIMBAH
BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK MELAKSANAKAN PENGELOLAAN LIMBAH
BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK MELAKSANAKAN PENGELOLAAN LIMBAH
BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK MELAKSANAKAN PENGELOLAAN LIMBAH
BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK MELAKSANAKAN PENGELOLAAN LIMBAH
BESAR KARENA BERBAHAYA BAGI LINGKUNGAN BADAN USAHA YANG DITUNJUK OLEH PEMERINTAH UNTUK MELAKSANAKAN PENGELOLAAN LIMBAH
PENGENDALIAN KUANTITAS
PENGENDALIAN KUANTITAS
PENGENDALIAN KUANTITAS

PENGENDALIAN

KUANTITAS

PENGENDALIAN KUANTITAS
PERGERAKAN ARUS MINYAK RANGKAIAN KEGIATAN OPERASI YANG DILAKSANAKAN DALAM PROSES PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BBM JALUR
PERGERAKAN ARUS MINYAK RANGKAIAN KEGIATAN OPERASI YANG DILAKSANAKAN DALAM PROSES PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BBM JALUR
PERGERAKAN ARUS MINYAK RANGKAIAN KEGIATAN OPERASI YANG DILAKSANAKAN DALAM PROSES PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BBM JALUR

PERGERAKAN ARUS MINYAK

RANGKAIAN KEGIATAN OPERASI YANG DILAKSANAKAN DALAM PROSES PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BBM

DILAKSANAKAN DALAM PROSES PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BBM JALUR PIPA RAIL TANK WAGON (RTW) MOBIL TANKI PERJALANAN
DILAKSANAKAN DALAM PROSES PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BBM JALUR PIPA RAIL TANK WAGON (RTW) MOBIL TANKI PERJALANAN

JALUR PIPA

DALAM PROSES PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BBM JALUR PIPA RAIL TANK WAGON (RTW) MOBIL TANKI PERJALANAN PEMBONGKARAN

RAIL TANK WAGON (RTW)

DAN PENDISTRIBUSIAN BBM JALUR PIPA RAIL TANK WAGON (RTW) MOBIL TANKI PERJALANAN PEMBONGKARAN PENIMBUNAN
MOBIL TANKI PERJALANAN PEMBONGKARAN PENIMBUNAN PENDISTRIBUSI (TRANSPORT) (DISCHARGE)
MOBIL TANKI
PERJALANAN
PEMBONGKARAN
PENIMBUNAN
PENDISTRIBUSI
(TRANSPORT)
(DISCHARGE)
TANKI PERJALANAN PEMBONGKARAN PENIMBUNAN PENDISTRIBUSI (TRANSPORT) (DISCHARGE) TANKER/TONGKANG PEMUATAN (LOADING)

TANKER/TONGKANG

TANKI PERJALANAN PEMBONGKARAN PENIMBUNAN PENDISTRIBUSI (TRANSPORT) (DISCHARGE) TANKER/TONGKANG PEMUATAN (LOADING)

PEMUATAN

(LOADING)

TANKI PERJALANAN PEMBONGKARAN PENIMBUNAN PENDISTRIBUSI (TRANSPORT) (DISCHARGE) TANKER/TONGKANG PEMUATAN (LOADING)
TANKI PERJALANAN PEMBONGKARAN PENIMBUNAN PENDISTRIBUSI (TRANSPORT) (DISCHARGE) TANKER/TONGKANG PEMUATAN (LOADING)
PERGERAKAN ARUS MINYAK PENGENDALIAN KUANTITAS MERUPAKAN UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MEMINIMISASI KERUGIAN TERHADAP
PERGERAKAN ARUS MINYAK PENGENDALIAN KUANTITAS MERUPAKAN UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MEMINIMISASI KERUGIAN TERHADAP

PERGERAKAN ARUS MINYAK

PERGERAKAN ARUS MINYAK PENGENDALIAN KUANTITAS MERUPAKAN UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MEMINIMISASI KERUGIAN TERHADAP
PERGERAKAN ARUS MINYAK PENGENDALIAN KUANTITAS MERUPAKAN UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MEMINIMISASI KERUGIAN TERHADAP

PENGENDALIAN KUANTITAS MERUPAKAN UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MEMINIMISASI KERUGIAN TERHADAP TERJADINYA SUSUT (LOSSES) PADA PERGERAKAN ARUS MINYAK

TERJADINYA SUSUT (LOSSES) PADA PERGERAKAN ARUS MINYAK 1. AKTIVITAS PEMUATAN DARI TANKI TIMBUN KE DALAM TANKER
1. AKTIVITAS PEMUATAN DARI TANKI TIMBUN KE DALAM TANKER DI PELABUHAN MUAT
1. AKTIVITAS PEMUATAN DARI TANKI TIMBUN KE
DALAM TANKER DI PELABUHAN MUAT
2. SELAMA TANKER DALAM PERJALANAN MENUJU KE PELABUHAN TUJUAN
2. SELAMA TANKER DALAM PERJALANAN MENUJU
KE PELABUHAN TUJUAN
3. KEGIATAN PEMBONGKARAN DIPELABUHAN TUJUAN
3. KEGIATAN PEMBONGKARAN DIPELABUHAN
TUJUAN
TUJUAN 3. KEGIATAN PEMBONGKARAN DIPELABUHAN TUJUAN 4. SAAT PENYIMPANAN DI TANKI TIMBUN DAN DALAM KEGIATAN
TUJUAN 3. KEGIATAN PEMBONGKARAN DIPELABUHAN TUJUAN 4. SAAT PENYIMPANAN DI TANKI TIMBUN DAN DALAM KEGIATAN
4. SAAT PENYIMPANAN DI TANKI TIMBUN DAN DALAM KEGIATAN PENDISTRIBUSIAN
4. SAAT PENYIMPANAN DI TANKI TIMBUN DAN
DALAM KEGIATAN PENDISTRIBUSIAN
3. KEGIATAN PEMBONGKARAN DIPELABUHAN TUJUAN 4. SAAT PENYIMPANAN DI TANKI TIMBUN DAN DALAM KEGIATAN PENDISTRIBUSIAN
3. KEGIATAN PEMBONGKARAN DIPELABUHAN TUJUAN 4. SAAT PENYIMPANAN DI TANKI TIMBUN DAN DALAM KEGIATAN PENDISTRIBUSIAN
3. KEGIATAN PEMBONGKARAN DIPELABUHAN TUJUAN 4. SAAT PENYIMPANAN DI TANKI TIMBUN DAN DALAM KEGIATAN PENDISTRIBUSIAN
3. KEGIATAN PEMBONGKARAN DIPELABUHAN TUJUAN 4. SAAT PENYIMPANAN DI TANKI TIMBUN DAN DALAM KEGIATAN PENDISTRIBUSIAN
JENIS LOSSES 1. LOADING LOSS 2. TRANSPORT LOSS JALUR PIPA 3. DISCHARGE LOSS 4. SUPPLY
JENIS LOSSES 1. LOADING LOSS 2. TRANSPORT LOSS JALUR PIPA 3. DISCHARGE LOSS 4. SUPPLY
JENIS LOSSES 1. LOADING LOSS 2. TRANSPORT LOSS JALUR PIPA 3. DISCHARGE LOSS 4. SUPPLY

JENIS LOSSES

1. LOADING LOSS 2. TRANSPORT LOSS

JENIS LOSSES 1. LOADING LOSS 2. TRANSPORT LOSS JALUR PIPA 3. DISCHARGE LOSS 4. SUPPLY LOSS
JENIS LOSSES 1. LOADING LOSS 2. TRANSPORT LOSS JALUR PIPA 3. DISCHARGE LOSS 4. SUPPLY LOSS

JALUR PIPA

3. DISCHARGE LOSS 4. SUPPLY LOSS 5. WORKING LOSS

PIPA 3. DISCHARGE LOSS 4. SUPPLY LOSS 5. WORKING LOSS RAIL TANK WAGON (RTW) MOBIL TANKI

RAIL TANK WAGON (RTW)

LOSS 4. SUPPLY LOSS 5. WORKING LOSS RAIL TANK WAGON (RTW) MOBIL TANKI TRANSPORT DISCHARGE PENIMBUNAN
MOBIL TANKI TRANSPORT DISCHARGE PENIMBUNAN PENDISTRIBUSI LOSS LOSS SUPPLY WORKING LOSS LOSS
MOBIL TANKI
TRANSPORT
DISCHARGE
PENIMBUNAN
PENDISTRIBUSI
LOSS
LOSS
SUPPLY
WORKING
LOSS
LOSS
TRANSPORT DISCHARGE PENIMBUNAN PENDISTRIBUSI LOSS LOSS SUPPLY WORKING LOSS LOSS TANKER/TONGKANG LOADING LOSS

TANKER/TONGKANG

TRANSPORT DISCHARGE PENIMBUNAN PENDISTRIBUSI LOSS LOSS SUPPLY WORKING LOSS LOSS TANKER/TONGKANG LOADING LOSS

LOADING

LOSS

FAKTOR PENYEBAB OIL LOSSES (SECARA UMUM) KESALAHAN PADA SAAT PENGUKURAN LEVEL MINYAK TEMPERATUR DENSITY DRAFT
FAKTOR PENYEBAB OIL LOSSES (SECARA UMUM) KESALAHAN PADA SAAT PENGUKURAN LEVEL MINYAK TEMPERATUR DENSITY DRAFT
FAKTOR PENYEBAB OIL LOSSES (SECARA UMUM) KESALAHAN PADA SAAT PENGUKURAN LEVEL MINYAK TEMPERATUR DENSITY DRAFT
FAKTOR PENYEBAB OIL LOSSES (SECARA UMUM) KESALAHAN PADA SAAT PENGUKURAN LEVEL MINYAK TEMPERATUR DENSITY DRAFT

FAKTOR PENYEBAB OIL LOSSES

(SECARA UMUM)

KESALAHAN PADA SAAT PENGUKURAN
KESALAHAN PADA
SAAT PENGUKURAN

LEVEL MINYAK TEMPERATUR DENSITY DRAFT KAPAL

KESALAHAN PERHITUNGAN SISTIM DAN PROSEDUR
KESALAHAN
PERHITUNGAN
SISTIM DAN
PROSEDUR

TABEL KALIBRASI TANKI TIMBUN TABEL KALIBRASI KAPAL TANKER TABEL ASTM TRIM AND HEEL CORRECTION FACTOR

TATA CARA PENGUKURAN PERHITUNGAN TIDAK BENAR KALIBRASI TANKI SUDAH KADALUARSA DRAINING AIR TERIKUT MINYAK

SUMBER DAYA MANUSIA (HUMAN ERROR) ALAT UKUR
SUMBER DAYA MANUSIA
(HUMAN ERROR)
ALAT UKUR
SARANA DAN FASILITAS
SARANA DAN FASILITAS

KURANG PENGETAHUAN (KNOWLADGE) KURANG TERAMPIL/TERLATIH (SKILL) KURANG TANGGUNG JAWAB (ATTITUDE)

TIDAK STANDARD ALAT UKUR RUSAK

TANGGUNG JAWAB (ATTITUDE) TIDAK STANDARD ALAT UKUR RUSAK STRUKTUR TANKI BERUBAH (BOTTOM FLUXTUATION) KALIBRASI
TANGGUNG JAWAB (ATTITUDE) TIDAK STANDARD ALAT UKUR RUSAK STRUKTUR TANKI BERUBAH (BOTTOM FLUXTUATION) KALIBRASI

STRUKTUR TANKI BERUBAH (BOTTOM FLUXTUATION) KALIBRASI TANKI TIDAK AKURAT PV VALVE TIDAK BERFUNGSI SAMBUNGANSAMBUNGAN LOADINGLOADING ARM,ARM, SEALSEAL TUMPAHANTUMPAHAN MINYAKMINYAK KARENAKARENA PIPAPIPA BOCORBOCOR

STANDAR ALAT UKUR

STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR
STANDAR ALAT UKUR

SISTEM PENGUKURAN MINYAK

PENGUKURAN DILAKUKAN UNTUK MENDAPATKAN DATA YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGETAHUI KUALITAS DAN MENGHITUNG KUANTITAS

PENGUKURAN DILAKUKAN UNTUK MENDAPATKAN DATA YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGETAHUI KUALITAS DAN MENGHITUNG KUANTITAS MINYAK PADA SETIAP PERGERAKANNYA

DAN MENGHITUNG KUANTITAS MINY AK PADA SETIAP PERGERAKANNYA PENGUKURAN MINYAK ADA 2 SISTIM 1. STATIC MEASUREMENT
DAN MENGHITUNG KUANTITAS MINY AK PADA SETIAP PERGERAKANNYA PENGUKURAN MINYAK ADA 2 SISTIM 1. STATIC MEASUREMENT
PENGUKURAN MINYAK ADA 2 SISTIM
PENGUKURAN MINYAK
ADA 2 SISTIM
1. STATIC MEASUREMENT SYSTEM 2. DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM

1. STATIC MEASUREMENT SYSTEM

2. DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM

STATIC MEASUREMENT SYSTEM

2. DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM STATIC MEASUREMENT SYSTEM PADA SYSTEM INI PENGUKURAN DILAKSANAKAN PADA SAAT MINYAK
2. DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM STATIC MEASUREMENT SYSTEM PADA SYSTEM INI PENGUKURAN DILAKSANAKAN PADA SAAT MINYAK
2. DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM STATIC MEASUREMENT SYSTEM PADA SYSTEM INI PENGUKURAN DILAKSANAKAN PADA SAAT MINYAK

PADA SYSTEM INI PENGUKURAN DILAKSANAKAN PADA SAAT MINYAK DALAM KEADAAN DIAM (STATIC) DAN MEMERLUKAN WAKTU PENGENDAPAN (SETTLING TIME) YANG CUKUP

DILAKSANAKAN PADA SAAT MINYAK DALAM KEADAAN DIAM (STATIC) DAN MEMERLUKAN WAKTU PENGENDAPAN (SETTLING TIME) YANG CUKUP

PERALATAN STANDARD

MERUPAKAN ALAT UKUR STANDARD YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR SIFAT FISIKA DARI PRODUK MINYAK BUMI, DILAPANGAN MAUPUN DIDALAM LABORATORIUM, SESUAI DENGAN METODE STANDARD YANG TELAH DITENTUKAN ATAU DIGUNAKAN

DENGAN METODE STANDARD YANG TELAH DITENTUKAN ATAU DIGUNAKAN PITA UKUR ASTM D. 1085 ATAU API 2545
DENGAN METODE STANDARD YANG TELAH DITENTUKAN ATAU DIGUNAKAN PITA UKUR ASTM D. 1085 ATAU API 2545
PITA UKUR ASTM D. 1085 ATAU API 2545 MERUPAKAN PITA UKUR DILENGKAPI DENGAN BANDULAN RUNCING
PITA UKUR
ASTM D. 1085 ATAU API 2545
MERUPAKAN
PITA
UKUR
DILENGKAPI
DENGAN
BANDULAN
RUNCING
YANG
ADA SKALANYA
DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR LEVEL
CAIRAN (MINYAK DAN AIR) YANG
TERDAPAT DI DALAM TANGKI TIMBUN.
PITA UKUR INI BISA DIGUNAKAN UNTUK
MENGUKUR AIR BEBAS JIKA TIDAK
TERSEDIA WATER STICK BAR
DI DALAM TANGKI TIMBUN. PITA UKUR INI BISA DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR AIR BEBAS JIKA TIDAK TERSEDIA
DI DALAM TANGKI TIMBUN. PITA UKUR INI BISA DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR AIR BEBAS JIKA TIDAK TERSEDIA
DI DALAM TANGKI TIMBUN. PITA UKUR INI BISA DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR AIR BEBAS JIKA TIDAK TERSEDIA
WATER STICK BAR ASTM D. 1085 ADALAH TONGKAT YANG BERSKALA MEMPUNYAI PANJANG ± 1 METER
WATER STICK BAR
ASTM D. 1085
ADALAH TONGKAT YANG BERSKALA
MEMPUNYAI PANJANG ± 1 METER
DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR KETINGGIAN
AIR BEBAS DITANGKI DARAT ATAU TANKER
CUP/FLUSHING
CASE ASSEMBLY
(ASTM D. 1086 ATAU API 2543)
SUATU ALAT UKUR SUHU MINYAK DALAM
TANGKI BERUPA THERMOMETER YANG
BERSKALA ºC ATAU ºF
PADA BAGIAN BAWAHNYA DILENGKAPI
DENGAN BEJANA KECIL 200 ML, GUNA
MENAMPUNG CAIRAN YANG HENDAK
DIUKUR SUHUNYA
ATAU ºF PADA BAGIAN BAWAHNYA DILENGKAPI DENGAN BEJANA KECIL 200 ML, GUNA MENAMPUNG CAIRAN YANG HENDAK
ATAU ºF PADA BAGIAN BAWAHNYA DILENGKAPI DENGAN BEJANA KECIL 200 ML, GUNA MENAMPUNG CAIRAN YANG HENDAK
HYDROMETER (ASTM D. 1298 ATAU API 2547) HYDROMETER CYLINDER DARI TABUNG GLASS DENGAN INSIDE DIAMETER
HYDROMETER
(ASTM D. 1298 ATAU API 2547)
HYDROMETER CYLINDER DARI TABUNG GLASS
DENGAN INSIDE DIAMETER TABUNG TIDAK KURANG
DARI 25 MM, YANG DIPAKAI UNTUK MENGUKUR
KERAPATAN CAIRAN DENSITY, SPECIFIC GRAVITY
DAN ºAPI GRAVITY CAIRAN
WEIGHTED BREAKER/BOTTLE
ASTM D. 270 ATAU API 2545
ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGAMBIL
CONTOH MINYAK YANG TERDAPAT DIDALAM
TANGKI
CENTRIFUGE
ASTM D.96 ATAU API 2542
ALAT UNTUK MENGANALISA KADAR AIR DAN
SEDIMEN ATAU ALAT PEMUTAR TABUNG
CENTRIFUGE(KERUCUT/PEAR) YANG TERBUAT
DARI GLASS BERSKALA MM ATAU %
KADAR AIR DAN SEDIMEN ATAU ALAT PEMUTAR TABUNG CENTRIFUGE(KERUCUT/PEAR) YANG TERBUAT DARI GLASS BERSKALA MM ATAU
AUTOMATIC TANK GAUGING (ATG) ALAT UKUR AUTOMATIC YANG DIPASANG PADA TANKI DARAT YANG SECARA AUTOMATIC
AUTOMATIC TANK GAUGING (ATG) ALAT UKUR AUTOMATIC YANG DIPASANG PADA TANKI DARAT YANG SECARA AUTOMATIC
AUTOMATIC TANK GAUGING (ATG) ALAT UKUR AUTOMATIC YANG DIPASANG PADA TANKI DARAT YANG SECARA AUTOMATIC
AUTOMATIC TANK GAUGING (ATG)

AUTOMATIC TANK GAUGING (ATG)

AUTOMATIC TANK GAUGING (ATG)
ALAT UKUR AUTOMATIC YANG DIPASANG PADA TANKI DARAT YANG SECARA AUTOMATIC DAPAT MENGUKUR LEVEL, TEMPERATUR

ALAT UKUR AUTOMATIC YANG DIPASANG PADA TANKI DARAT YANG SECARA AUTOMATIC DAPAT MENGUKUR LEVEL, TEMPERATUR DAN DENSITY HASIL PENGUKURANNYA AKAN DI OLAH OLEH KOMPUTER

DARAT YANG SECARA AUTOMATIC DAPAT MENGUKUR LEVEL, TEMPERATUR DAN DENSITY HASIL PENGUKURANNYA AKAN DI OLAH OLEH
DARAT YANG SECARA AUTOMATIC DAPAT MENGUKUR LEVEL, TEMPERATUR DAN DENSITY HASIL PENGUKURANNYA AKAN DI OLAH OLEH
DARAT YANG SECARA AUTOMATIC DAPAT MENGUKUR LEVEL, TEMPERATUR DAN DENSITY HASIL PENGUKURANNYA AKAN DI OLAH OLEH
OIL INDICATING PASTE PASTA PENCARI MINYAK YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS PADA PITA UKUR
OIL INDICATING PASTE PASTA PENCARI MINYAK YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS PADA PITA UKUR
OIL INDICATING PASTE PASTA PENCARI MINYAK YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS PADA PITA UKUR
OIL INDICATING PASTE PASTA PENCARI MINYAK YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS PADA PITA UKUR
OIL INDICATING PASTE PASTA PENCARI MINYAK YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS PADA PITA UKUR
OIL INDICATING PASTE PASTA PENCARI MINYAK YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS PADA PITA UKUR
OIL INDICATING PASTE

OIL INDICATING PASTE

OIL INDICATING PASTE
OIL INDICATING PASTE

PASTA PENCARI MINYAK YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS PADA PITA UKUR

PASTA PENCARI MINYAK YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS PADA PITA UKUR
WATER INDICATING PASTE

WATER INDICATING PASTE

WATER INDICATING PASTE
WATER INDICATING PASTE

PASTA PENCARI AIR YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS BOB PITA UKUR ATAU WATER STICK BAR

PASTA PENCARI AIR YANG MEMBERIKAN TANDA BATAS LEVEL ATAS BOB PITA UKUR ATAU WATER STICK BAR

PERMUKAAN CAIRAN

10 CM 10 CM
10
CM
10
CM

DIOLESKAN PADA PITA UKUR ± 10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN LEVEL CAIRAN DALAM TANKI

PERMUKAAN CAIRAN 10 CM 10 CM DIOLESKAN PADA PITA UKUR ± 10 CM DIATAS DAN DIBAWAH
PERMUKAAN CAIRAN 10 CM 10 CM DIOLESKAN PADA PITA UKUR ± 10 CM DIATAS DAN DIBAWAH
PERMUKAAN CAIRAN 10 CM 10 CM DIOLESKAN PADA PITA UKUR ± 10 CM DIATAS DAN DIBAWAH
PERMUKAAN CAIRAN 10 CM 10 CM DIOLESKAN PADA PITA UKUR ± 10 CM DIATAS DAN DIBAWAH
PERMUKAAN CAIRAN 10 CM 10 CM DIOLESKAN PADA PITA UKUR ± 10 CM DIATAS DAN DIBAWAH

PERSYARATAN ALAT UKUR

1. PITA UKUR DAN BANDUL

 
 
 
 

a.

PENGUKURAN DENGAN METODE INNAGE ATAU OUTAGE

* JENIS PITA UKUR SESUAI STANDAR ASTM D. 1085-API 2545

*

PANJANG PITA UKUR DISESUAIKAN DENGAN TINGGI TANKI

2545 * PANJANG PITA UKUR DISESUAI KAN DENGAN TINGGI TANKI   b. STANDAR BANDUL   *
2545 * PANJANG PITA UKUR DISESUAI KAN DENGAN TINGGI TANKI   b. STANDAR BANDUL   *
 

b. STANDAR BANDUL

 

* BERUJUNG RUNCING

* BERSKALA

* LEVEL CAIRAN LEBIH DARI 12 M, BERAT BANDUL 800 GRAM

* LEVEL CAIRAN KURANG DARI 12 M, BERAT BANDUL 600 GRAM

* LEVEL CAIRAN KURANG DARI 12 M, BERAT BANDUL 600 GRAM 2. RANGE HYDROMETER DENSITY a.
* LEVEL CAIRAN KURANG DARI 12 M, BERAT BANDUL 600 GRAM 2. RANGE HYDROMETER DENSITY a.
* LEVEL CAIRAN KURANG DARI 12 M, BERAT BANDUL 600 GRAM 2. RANGE HYDROMETER DENSITY a.
* LEVEL CAIRAN KURANG DARI 12 M, BERAT BANDUL 600 GRAM 2. RANGE HYDROMETER DENSITY a.

2. RANGE HYDROMETER DENSITY

a. PERTAMAX, PERTAMAX PLUS b. PREMIUM, AVGAS c. KEROSINE, AVTUR d. MINYAK SOLAR e. MINYAK

a. PERTAMAX, PERTAMAX PLUS

b. PREMIUM, AVGAS

c. KEROSINE, AVTUR

d. MINYAK SOLAR

e. MINYAK DIESEL

f. MINYAK BAKAR

ANGKA KETELITIAN HASIL PEMBACAAN ± 0.0001 MINISCUS CORECTION FACTOR TABEL-1 ASTM D.1298

0.700 s/d 0.750 0.700 s/d 0.750 0.750 s/d 0.800 0.800 s/d 0.850 0.850 s/d 0.900 0.900 s/d 0.950

OR TABEL-1 ASTM D.1298 0.700 s/d 0.750 0.700 s/d 0.750 0.750 s/d 0.800 0.800 s/d 0.850
OR TABEL-1 ASTM D.1298 0.700 s/d 0.750 0.700 s/d 0.750 0.750 s/d 0.800 0.800 s/d 0.850
OR TABEL-1 ASTM D.1298 0.700 s/d 0.750 0.700 s/d 0.750 0.750 s/d 0.800 0.800 s/d 0.850
OR TABEL-1 ASTM D.1298 0.700 s/d 0.750 0.700 s/d 0.750 0.750 s/d 0.800 0.800 s/d 0.850
  3. GELAS UKUR (MAT GLASS) a. TEMBUS PANDANG b. BERSKALA c. UKURAN 1000cc  
  3. GELAS UKUR (MAT GLASS) a. TEMBUS PANDANG b. BERSKALA c. UKURAN 1000cc  
 

3. GELAS UKUR (MAT GLASS)

a. TEMBUS PANDANG

b. BERSKALA

c. UKURAN 1000cc

(MAT GLASS) a. TEMBUS PANDANG b. BERSKALA c. UKURAN 1000cc   4. PASTA MINYAK DAN PASTA
(MAT GLASS) a. TEMBUS PANDANG b. BERSKALA c. UKURAN 1000cc   4. PASTA MINYAK DAN PASTA
 

4. PASTA MINYAK DAN PASTA AIR (COLOR KIT) PERUBAHAN WARNA (COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS

(COLOR KIT) PERUBAHAN WARNA (COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE
(COLOR KIT) PERUBAHAN WARNA (COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE
 

5. THERMOMETER

a. STANDAR IP64C

b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN 102ºF

(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
(COLOR) TERLIHAT DENGAN JELAS   5. THERMOMETER a. STANDAR IP64C b. RANGE - 20ºC SAMPAI DENGAN
DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM ALAT UKUR DINAMIK ADALAH METERING SYSTEM YANG DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER
DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM ALAT UKUR DINAMIK ADALAH METERING SYSTEM YANG DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER
DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM ALAT UKUR DINAMIK ADALAH METERING SYSTEM YANG DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER
DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM ALAT UKUR DINAMIK ADALAH METERING SYSTEM YANG DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER

DYNAMIC MEASUREMENT SYSTEM

ALAT UKUR DINAMIK ADALAH METERING SYSTEM YANG DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER (TITIK SERAH)

ALAT UKUR DINAMIK ADALAH METERING SYSTEM YANG DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER (TITIK SERAH)

DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER (TITIK SERAH) POSITIVE DISPLACEMENT FLOW METER TURBINE FLOW METER METER
DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER (TITIK SERAH) POSITIVE DISPLACEMENT FLOW METER TURBINE FLOW METER METER
POSITIVE DISPLACEMENT FLOW METER

POSITIVE DISPLACEMENT FLOW METER

TURBINE FLOW METER

TURBINE FLOW METER

METER PROVER

METER PROVER

DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER (TITIK SERAH) POSITIVE DISPLACEMENT FLOW METER TURBINE FLOW METER METER PROVER
DIGUNAKAN SEBAGAI SEBAGAI COSTUDY TRANFER (TITIK SERAH) POSITIVE DISPLACEMENT FLOW METER TURBINE FLOW METER METER PROVER
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT

TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT

TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT
TATACARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT (ASTM D.1085 – API 2545) METODE PENGUKURAN 1. INNAGE
TATACARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT (ASTM D.1085 – API 2545) METODE PENGUKURAN 1. INNAGE
TATACARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT (ASTM D.1085 – API 2545) METODE PENGUKURAN 1. INNAGE

TATACARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI DARAT (ASTM D.1085 – API 2545)

METODE PENGUKURAN 1. INNAGE METHOD PADA METODE INI YANG DIUKUR KETINGGIAN CAIRANNYA 2. ULLAGE ATAU
METODE
PENGUKURAN
1.
INNAGE METHOD
PADA METODE INI YANG DIUKUR KETINGGIAN CAIRANNYA
2.
ULLAGE ATAU OUTAGE METHOD
PADA METODE INI YANG DIUKUR RUANG KOSONG DALAM TANKI
ATAU JARAK DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI DENGAN TITIK
BATAS PENGUKURAN DI BIBIR LOBANG UKUR (REFFERENCE POINT)
TANKI ATAU JARAK DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI DENGAN TITIK BATAS PENGUKURAN DI BIBIR LOBANG UKUR (REFFERENCE
TANKI ATAU JARAK DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI DENGAN TITIK BATAS PENGUKURAN DI BIBIR LOBANG UKUR (REFFERENCE
TANKI ATAU JARAK DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI DENGAN TITIK BATAS PENGUKURAN DI BIBIR LOBANG UKUR (REFFERENCE
TANKI ATAU JARAK DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI DENGAN TITIK BATAS PENGUKURAN DI BIBIR LOBANG UKUR (REFFERENCE
TANKI ATAU JARAK DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI DENGAN TITIK BATAS PENGUKURAN DI BIBIR LOBANG UKUR (REFFERENCE
TANKI ATAU JARAK DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI DENGAN TITIK BATAS PENGUKURAN DI BIBIR LOBANG UKUR (REFFERENCE
GAGING TAPE GAGING TAPE DIP REFERENCE REFERENCE POINT READING HATCH DIP POINT HATCH READING REFERENCE
GAGING TAPE
GAGING TAPE
DIP
REFERENCE
REFERENCE POINT READING
HATCH
DIP
POINT
HATCH
READING
REFERENCE POINT
GAGING TAPE
READING
TAPE
CUT
LIQUID
LEVEL
TANK ROOF
OUTAGE
BOB
LIQUID
CUT
LEVEL
INNAGE
BOB CUT
INNAGE
BOB
DATUM
DATUM
PLATE
PLATE

INNAGE METHOD

OUTAGE METHOD

OUTAGE BOB LIQUID CUT LEVEL INNAGE BOB CUT INNAGE BOB DATUM DATUM PLATE PLATE INNAGE METHOD

PERSIAPAN SEBELUM PENGUKURAN

 
 
 
 

YAKINKAN PERALATAN UKUR DALAM KEADAAN BERSIH DAN KERING SERTA LENGKAP

PERALATAN UKUR DALAM KEADAAN BERSIH DAN KERING SERTA LENGKAP   YAKIN NOMOR TANKI DAN JENIS PRODUK
PERALATAN UKUR DALAM KEADAAN BERSIH DAN KERING SERTA LENGKAP   YAKIN NOMOR TANKI DAN JENIS PRODUK
 

YAKIN NOMOR TANKI DAN JENIS PRODUK YANG AKAN DIUKUR

  YAKIN NOMOR TANKI DAN JENIS PRODUK YANG AKAN DIUKUR   PERIKSA SEMUA KERANGAN TANKI HARUS
  YAKIN NOMOR TANKI DAN JENIS PRODUK YANG AKAN DIUKUR   PERIKSA SEMUA KERANGAN TANKI HARUS
 

PERIKSA SEMUA KERANGAN TANKI HARUS DALAM KEADAAN TERTUTUP RAPAT DAN DINDING TANKI TIDAK REMBES/BOCOR (DIKELILINGI)

RAPAT DAN DINDING TANKI TIDAK REMBES/BOCOR (DIKELILINGI)   YAKIN BAHWA SETTLING TIME PRODUK SUDAH CUKUP  
RAPAT DAN DINDING TANKI TIDAK REMBES/BOCOR (DIKELILINGI)   YAKIN BAHWA SETTLING TIME PRODUK SUDAH CUKUP  
 

YAKIN BAHWA SETTLING TIME PRODUK SUDAH CUKUP

  YAKIN BAHWA SETTLING TIME PRODUK SUDAH CUKUP   FORMULIR TANK TICKET HARUS DIBAWA UNTUK MENCATAT
  YAKIN BAHWA SETTLING TIME PRODUK SUDAH CUKUP   FORMULIR TANK TICKET HARUS DIBAWA UNTUK MENCATAT
 

FORMULIR TANK TICKET HARUS DIBAWA UNTUK MENCATAT DATA HASIL PENGUKURAN

TICKET HARUS DIBAWA UNTUK MENCATAT DATA HASIL PENGUKURAN   SEBELUM NAIK KETANKI YAKIN BAHWA TANGGA TANKI
TICKET HARUS DIBAWA UNTUK MENCATAT DATA HASIL PENGUKURAN   SEBELUM NAIK KETANKI YAKIN BAHWA TANGGA TANKI
 

SEBELUM NAIK KETANKI YAKIN BAHWA TANGGA TANKI MASIH DALAM KEADAAN BAIK

KETANKI YAKIN BAHWA TANGGA TANKI MASIH DALAM KEADAAN BAIK   PERIKSA GROUNDING CABLE DIT ANKI YANG
KETANKI YAKIN BAHWA TANGGA TANKI MASIH DALAM KEADAAN BAIK   PERIKSA GROUNDING CABLE DIT ANKI YANG
 

PERIKSA GROUNDING CABLE DITANKI YANG HENDAK DIUKUR MASIH DALAM KEADAAN TERSAMBUNG (TIDAK PUTUS)

KEADAAN BAIK   PERIKSA GROUNDING CABLE DIT ANKI YANG HENDAK DIUKUR MASIH DALAM KEADAAN TERSAMBUNG (TIDAK
KEADAAN BAIK   PERIKSA GROUNDING CABLE DIT ANKI YANG HENDAK DIUKUR MASIH DALAM KEADAAN TERSAMBUNG (TIDAK

TATACARA PENGUKURAN LEVEL CAIRAN

DI TANKI DARAT (ASTM D.1085 – API 2545)

1
1
1

PENGUKURAN MENGGUNAKAN METODE INNAGE

2
2
2

PENGUKURAN DILAKSANAKAN MELALUI LOBANG DIP HATCH ATAU SLOT DIPPING DEVICE

3
3
3

PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN

3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
3 PENGOLESAN PASTA MINYAK PADA PITA UKUR BERKISAR ±10 CM DIATAS DAN DIBAWAH PERKIRAAN KETINGGIAN CAIRAN
4
4
SELAMA PENGUKURAN , PITA UKUR HARUS SELALU MENEMPEL PADA BIBIR LOBANG TITIK UKUR ATAU REFERENCE

SELAMA PENGUKURAN, PITA UKUR HARUS SELALU MENEMPEL PADA BIBIR LOBANG TITIK UKUR ATAU REFERENCE POINT

5
5
PENURUNAN PITA UKUR HARUS DILAKSANAKAN SECARA PELAN-PELAN DAN PADA PERMUKAAN CAIRAN TIDAK BOLEH TERJADI RIAK

PENURUNAN PITA UKUR HARUS DILAKSANAKAN SECARA PELAN-PELAN DAN PADA PERMUKAAN CAIRAN TIDAK BOLEH TERJADI RIAK HINGGA UJUNG BANDUL TERASA MENYENTUH MEJA UKUR ATAU DATUM PLATE

UJUNG BANDUL TERASA MENYENTUH MEJA UKUR ATAU DATUM PLATE 6 WAKTU TERENDAMNYA PITA UKUR a. MINYAK
UJUNG BANDUL TERASA MENYENTUH MEJA UKUR ATAU DATUM PLATE 6 WAKTU TERENDAMNYA PITA UKUR a. MINYAK
UJUNG BANDUL TERASA MENYENTUH MEJA UKUR ATAU DATUM PLATE 6 WAKTU TERENDAMNYA PITA UKUR a. MINYAK
UJUNG BANDUL TERASA MENYENTUH MEJA UKUR ATAU DATUM PLATE 6 WAKTU TERENDAMNYA PITA UKUR a. MINYAK
UJUNG BANDUL TERASA MENYENTUH MEJA UKUR ATAU DATUM PLATE 6 WAKTU TERENDAMNYA PITA UKUR a. MINYAK
UJUNG BANDUL TERASA MENYENTUH MEJA UKUR ATAU DATUM PLATE 6 WAKTU TERENDAMNYA PITA UKUR a. MINYAK
6
6

WAKTU TERENDAMNYA PITA UKUR

a. MINYAK PREMIUM

b. MINYAK KEROSINE

c. MINYAK SOLAR

d. MINYAK DIESEL

e. MINYAK BAKAR

5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK

ANTARA 10 - 30 DETIK ANTARA 30 - 60 DETIK

ANTARA

ANTARA

ANTARA

e. MINYAK BAKAR 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK ANTARA
BAKAR 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK ANTARA 10 -
BAKAR 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK ANTARA 10 -
BAKAR 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK ANTARA 10 -
BAKAR 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK ANTARA 10 -
BAKAR 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK ANTARA 10 -
BAKAR 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK ANTARA 10 -
BAKAR 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK 5 - 10 DETIK ANTARA 10 -
7   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK 8 ULANGI
7   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK 8 ULANGI
7   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK 8 ULANGI
7   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK 8 ULANGI
7   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK 8 ULANGI
7   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK 8 ULANGI
7   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK 8 ULANGI
7
7
7
 

TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK

8
8
8

ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN BILA PERBEDAAN HASLNYA LEBIH KECIL DARI 3 MM MAKA DICATAT SEBAGAI HASIL PENGUKURAN

 
9
9
9
 

APABILA HASILNYA SAMA ATAU LEBIH BESAR DARI 3 MM HARUS DILAKUKAN PENGUKURAN ULANG SAMPAI MENDAPATKAN 2 ANGKA YANG IDENTIK

10
10
10
 

TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK

2 ANGKA YANG IDENTIK 10   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE
2 ANGKA YANG IDENTIK 10   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE
2 ANGKA YANG IDENTIK 10   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE
2 ANGKA YANG IDENTIK 10   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE
2 ANGKA YANG IDENTIK 10   TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE
CONTOH       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM 6833
CONTOH       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM 6833
CONTOH       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM 6833
CONTOH       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM 6833
CONTOH
CONTOH
   
 
   
 
 

a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI

6831 MM

6833 MM

6831 MM

} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)

} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)
} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)   b. PENGKURAN PERTAMA PENGUKURAN
} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)   b. PENGKURAN PERTAMA PENGUKURAN
 

b. PENGKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA

6831 MM

6834 MM

PENGUKURAN HARUS DIULANG

 

} Selisihnya 3 mm dari 6831 mm (sama dengan 3 mm)

} Selisihnya 3 mm dari 6831 mm (sama dengan 3 mm)
 
 
DI ULANG PENGUKURAN KETIGA
DI ULANG PENGUKURAN KETIGA

DI ULANG PENGUKURAN KETIGA

DI ULANG PENGUKURAN KETIGA
 

c. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA PENGUKURAN KETIGA UKURAN YANG DIPAKAI

6831 MM

 

6834 MM

}

}
 

6836 MM

Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm)

6834 MM

 
dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm) 6834 MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN
dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm) 6834 MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN
dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm) 6834 MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN
dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm) 6834 MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN

APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN BEDANYA MASIH SAMA ATAU LEBIH DARI BESAR DARI 3 MM, LAPORKAN KEPADA ATASAN

MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN BE DANYA MASIH SAMA ATAU LEBIH DARI BESAR DARI
MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN BE DANYA MASIH SAMA ATAU LEBIH DARI BESAR DARI
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL

TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL

TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL
TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL

TATACARA PENGUKURAN LEVEL CAIRAN

DI TANKI KAPAL (ASTM D.1085 – API 2545)

1
1
PADA DASARNYA TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL SAMA DENGAN TATA CARA PENGUKURAN DI

PADA DASARNYA TATA CARA PENGUKURAN LEVEL DI TANKI KAPAL SAMA DENGAN TATA CARA PENGUKURAN DI TANKI DARAT

2
2
PENGUKURAN MENGGUNAKAN METODE OUTAGE

PENGUKURAN MENGGUNAKAN METODE OUTAGE

DI TANKI DARAT 2 PENGUKURAN MENGGUNAKAN METODE OUTAGE BEBERAPA YANG PERLU DIPERHATIKAN 3 POSISI KAPAL •
DI TANKI DARAT 2 PENGUKURAN MENGGUNAKAN METODE OUTAGE BEBERAPA YANG PERLU DIPERHATIKAN 3 POSISI KAPAL •
DI TANKI DARAT 2 PENGUKURAN MENGGUNAKAN METODE OUTAGE BEBERAPA YANG PERLU DIPERHATIKAN 3 POSISI KAPAL •
DI TANKI DARAT 2 PENGUKURAN MENGGUNAKAN METODE OUTAGE BEBERAPA YANG PERLU DIPERHATIKAN 3 POSISI KAPAL •
BEBERAPA YANG PERLU DIPERHATIKAN

BEBERAPA YANG PERLU DIPERHATIKAN

3
3
METODE OUTAGE BEBERAPA YANG PERLU DIPERHATIKAN 3 POSISI KAPAL • EVEN KEEL (SAMA RATA) • TRIM
POSISI KAPAL • EVEN KEEL (SAMA RATA) • TRIM ATAU SELISIH DRAFT DEPAN (FORE DRAFT)

POSISI KAPAL

EVEN KEEL (SAMA RATA)

TRIM ATAU SELISIH DRAFT DEPAN (FORE DRAFT) DAN DRAFT BURITAN (AFTER DRAFT)

HEEL ATAU KEMIRINGAN KAPAL, KEKIRI (PORT) ATAU KEKANAN (STARBOARD)

FAKTOR KOREKSI TRIM DAN HEEL PADA TABEL KALIBRASI KAPAL (CORECTION FACTOR)

FAKTOR KOREKSI TRIM DAN HEEL PADA TABEL KALIBRASI KAPAL (CORECTION FACTOR)

KEKIRI (PORT) ATAU KE KANAN (STARBOARD) FAKTOR KOREKSI TRIM DAN HEEL PADA TABEL KALIBRASI KAPAL (CORECTION
KEKIRI (PORT) ATAU KE KANAN (STARBOARD) FAKTOR KOREKSI TRIM DAN HEEL PADA TABEL KALIBRASI KAPAL (CORECTION
KEKIRI (PORT) ATAU KE KANAN (STARBOARD) FAKTOR KOREKSI TRIM DAN HEEL PADA TABEL KALIBRASI KAPAL (CORECTION

TATACARA PENGUKURAN SUHU

TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU
TATACARA PENGUKURAN SUHU

TATACARA PENGUKURAN SUHU DI TANKI DARAT DAN KAPAL

(ASTM D.1085 – API 2543)

SUHU DI TANKI DARAT DAN KAPAL (ASTM D.1085 – API 2543) PENGUKURAN SUHU HARUS DILAKSANAAN SETELITI
SUHU DI TANKI DARAT DAN KAPAL (ASTM D.1085 – API 2543) PENGUKURAN SUHU HARUS DILAKSANAAN SETELITI
PENGUKURAN SUHU HARUS DILAKSANAAN SETELITI MUNGKIN, TEPAT DAN AKURAT KARENA SANGAT BERPENGARUH LANGSUNG TERHADAP HASIL
PENGUKURAN SUHU HARUS DILAKSANAAN SETELITI MUNGKIN, TEPAT
DAN AKURAT KARENA SANGAT BERPENGARUH LANGSUNG TERHADAP
HASIL PERHITUNGAN MINYAK
THERMOMETER YANG DIGUNAKAN MEMUNYAI TINGKAT
KETELITIAN +25° C
SEBELUM DIGUNAKAN DIPERIKSA TERHADAP KELAIKANNYA
DENGAN MEMBANDINGKAN DENGAN THERMOMETER
STANDARD
THERMOMETER YANG DIGUNAKAN ADALAH THERMOMETER
ASTM YANG BERSKALA °C DAN °F
JENIS ADALAH CUP CASE ATAU FLUSHING CASE ASSEMBLY
 
 
 
 
 
   

WAKTU YANG DIPERLUKAN UNTUK MENCELUPKAN THERMOMETER TERGANTUNG PADA JENIS PRODUK

UNTUK MENCELUPKAN THERMOMETER TERGANTUNG PADA JENIS PRODUK   a. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT
UNTUK MENCELUPKAN THERMOMETER TERGANTUNG PADA JENIS PRODUK   a. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT
 

a. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIBAWAH 100 DETIK PADA SUHU 100 °F SELAMA 5 MENIT

 

b. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL ANTARA 100 SAMPAI DENGAN 170 DETIK PADA SUHU 210 °F SELAMA 15 MENIT

c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F SELAMA 39 MENIT

15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F
15 MENIT c. MINYAK YANG MEMEPUNYAI VISCOSITAS SAYBOLT UNIVERSAL DIATAS 170 DETIK PADA SUHU 210 °F

JUMLAH MINIMUM PENGUKURAN SUHU YANG DIPERLUKAN UNTUK BERBAGAI KEDALAMAN CAIRAN

SUHU YANG DIPERLUKAN UNTUK BERBAGAI KEDALAMAN CAIRAN TINGGI MINYAK DALAM TANKI   POSISI KEDALAMAN
TINGGI MINYAK DALAM TANKI   POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a.
TINGGI MINYAK DALAM TANKI   POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a.
TINGGI MINYAK DALAM TANKI   POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a.
TINGGI MINYAK DALAM TANKI   POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a.
TINGGI MINYAK DALAM TANKI   POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a.
TINGGI MINYAK DALAM TANKI   POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a.

TINGGI MINYAK DALAM TANKI

 

POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN

 

SUHU HASIL PENGUKURAN

POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN  
POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN  
POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN  
POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN  
POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN  
POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN   SUHU HASIL PENGUKURAN     a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN  
   

a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN

 

a + b + c

LEBIH DARI 5 M

b. DI TENGAH

c. 1 M DIATAS DASAR

3

+ c LEBIH DARI 5 M b. DI TENGAH c. 1 M DIATAS DASAR 3  
+ c LEBIH DARI 5 M b. DI TENGAH c. 1 M DIATAS DASAR 3  
+ c LEBIH DARI 5 M b. DI TENGAH c. 1 M DIATAS DASAR 3  
+ c LEBIH DARI 5 M b. DI TENGAH c. 1 M DIATAS DASAR 3  
+ c LEBIH DARI 5 M b. DI TENGAH c. 1 M DIATAS DASAR 3  
+ c LEBIH DARI 5 M b. DI TENGAH c. 1 M DIATAS DASAR 3  
   

a. 1 M DI BAWAH PERMUKAAN

 

b + c

ANTARA 3 – 5 M

b. 1 M DIATAS DASAR

3

PERMUKAAN   b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3
PERMUKAAN   b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3
PERMUKAAN   b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3
PERMUKAAN   b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3
PERMUKAAN   b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3
PERMUKAAN   b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3

KURANG DARI 3 M

 

a. DI TENGAH

 

a

  b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3 KURANG
  b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3 KURANG
  b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3 KURANG
  b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3 KURANG
  b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3 KURANG
  b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3 KURANG
  b + c ANTARA 3 – 5 M b. 1 M DIATAS DASAR 3 KURANG
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY

TATACARA PENGUKURAN DENSITY

TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY
TATACARA PENGUKURAN DENSITY

TATA CARA PENGUKURAN DENSITY/SG/API ASTM D. 1298 - API 2547

TATA CARA PENGUKURAN DENSITY/SG/API ASTM D. 1298 - API 2547 TIGA MACAM HYDROMETER DENSITY SPECIFIC GRAVITY
TIGA MACAM HYDROMETER
TIGA MACAM
HYDROMETER
DENSITY
DENSITY
SPECIFIC GRAVITY (SG)
SPECIFIC
GRAVITY (SG)
API GRAVITY
API
GRAVITY
   
 
   
 
 

UNTUK MENGUKUR

 
 
 

1.

DENSITY

(METRIC SYSTEM)

2.

3.

°API GRAVITY

(AMERICAN SYSTEM)

      UNTUK MENGUKUR   1. DENSITY (METRIC SYSTEM) 2. 3. °API GRAVITY (AMERICAN SYSTEM)
      UNTUK MENGUKUR   1. DENSITY (METRIC SYSTEM) 2. 3. °API GRAVITY (AMERICAN SYSTEM)
      UNTUK MENGUKUR   1. DENSITY (METRIC SYSTEM) 2. 3. °API GRAVITY (AMERICAN SYSTEM)
      UNTUK MENGUKUR   1. DENSITY (METRIC SYSTEM) 2. 3. °API GRAVITY (AMERICAN SYSTEM)
      UNTUK MENGUKUR   1. DENSITY (METRIC SYSTEM) 2. 3. °API GRAVITY (AMERICAN SYSTEM)
      UNTUK MENGUKUR   1. DENSITY (METRIC SYSTEM) 2. 3. °API GRAVITY (AMERICAN SYSTEM)
      UNTUK MENGUKUR   1. DENSITY (METRIC SYSTEM) 2. 3. °API GRAVITY (AMERICAN SYSTEM)
SYSTEM) 2. 3. °API GRAVITY (AMERICAN SYSTEM) API 60 °F/60 °F = { 141,5 SG 60

API 60 °F/60 °F = {

141,5

SG 60 °F/60 °F

} – 131,5

SPECIFIC GRAVITY (BRITISH SYSTEM)60 °F/60 °F = { 141,5 SG 60 °F/60 °F } – 131,5 BERAT SUATU MASA

BERAT SUATU MASA CAIRAN DALAM VACUM PADA VOLUME TERTENTU DALAM SUHU 15 °C (Kg/Ltr) RAN DALAM VACUM PADA VOLUME TERTENTU DALAM SUHU 15 °C (Kg/Ltr)

PERBANDINGAN ANTARA BERAT SUATU MASA DALAM VOLUME TERTENTU PADA SPERBANDINGAN ANTARA BERAT UHU 60 °F DENGAN BERAT MASA AIR MURNI PADA VO LUME YANG SAMA UHU 60 °F DENGAN BERAT MASA AIR MURNI PADA VOLUME YANG SAMA DAN SUHU YANG SAMA PULA (60 °F/60 °F)

FUNGSI DARI SPECIFIC GRAVITY SPECIFIC GRAVITY

ALAT UKUR 1. HYDROMETER (DENSITY/SG API) 2. STANDARD HYDROMETER 3. THERMOMETER 4. HYDROMETER CYLINDER  
ALAT UKUR 1. HYDROMETER (DENSITY/SG API) 2. STANDARD HYDROMETER 3. THERMOMETER 4. HYDROMETER CYLINDER  
ALAT UKUR

ALAT UKUR

ALAT UKUR
ALAT UKUR 1. HYDROMETER (DENSITY/SG API) 2. STANDARD HYDROMETER 3. THERMOMETER 4. HYDROMETER CYLINDER    
1. HYDROMETER (DENSITY/SG API) 2. STANDARD HYDROMETER 3. THERMOMETER 4. HYDROMETER CYLINDER

1. HYDROMETER (DENSITY/SG API)

2. STANDARD HYDROMETER

3. THERMOMETER

4. HYDROMETER CYLINDER

1. HYDROMETER (DENSITY/SG API) 2. STANDARD HYDROMETER 3. THERMOMETER 4. HYDROMETER CYLINDER
 
 
 
 

RANGE DENSITY YANG DIPERGNAKAN TERGANTUNG DARI JENIS MINYAK YANG DIUKUR

YANG DIPERGNAKAN TERGANTUNG DARI JENIS MINYAK YANG DIUKUR   RANGE DENSITY (KG/LITER) a. MINYAK PREMIUM b.
YANG DIPERGNAKAN TERGANTUNG DARI JENIS MINYAK YANG DIUKUR   RANGE DENSITY (KG/LITER) a. MINYAK PREMIUM b.
 

RANGE DENSITY (KG/LITER)

a. MINYAK PREMIUM

b. MINYAK KEROSINE

c. MINYAK SOLAR

d. MINYAK DIESEL

e. MINYAK BAKAR

: 0.700 S/D 0.750 : 0.750 S/D 0.800 : 0.800 S/D 0.850 : 0.850 S/D 0.900 : 0.900 S/D 0.950

DIESEL e. MINYAK BAKAR : 0.700 S/D 0.750 : 0.750 S/D 0.800 : 0.800 S/D 0.850
DIESEL e. MINYAK BAKAR : 0.700 S/D 0.750 : 0.750 S/D 0.800 : 0.800 S/D 0.850
TATACARA PENGUKURAN 1. HYDROMETER DALAM KOND ISI BERSIH DAN KERING 2. HYDROMETER TERLEBIH DAHULU DIUJ
TATACARA PENGUKURAN 1. HYDROMETER DALAM KOND ISI BERSIH DAN KERING 2. HYDROMETER TERLEBIH DAHULU DIUJ

TATACARA PENGUKURAN

1. HYDROMETER DALAM KOND ISI BERSIH DAN KERING 2. HYDROMETER TERLEBIH DAHULU DIUJ I DENGAN

1. HYDROMETER DALAM KONDISI BERSIH DAN KERING

2. HYDROMETER TERLEBIH DAHULU DIUJI DENGAN STANDARD HYDROMETER

3. PERBEDAAN SUHU SAMPEL DENGAN SUHU DALAM TANKI + 3 O C

4. SAMPEL MINYAK DITUANG KEDALAM HYDROMETER CYLINDER TANPA MENIMBULKAN BUIH DAN GELEMBUNG UDARA

5. MASUKAN THERMOMETER KEDALAM HYDROMETER CYCLINDER

6. POSISI HYDROMETER HARUS TEGAK LURUS DAN TERLINDUNG DARI ANGIN

7. CELUPKAN HYDROMETER PERLAHAN LAHAN DAN BIARKAN SAMPAI DALAM KEADAAN TENANG LALU TEKAN KEBAWAH KIRA-KIRA 2 SKALA

8. JIKA HYDROMETER SUDAH DALAM KEADAAN TENANG BACA SKALANYA KEMUDIAN BACA PULA TEMPERATUR SAMPLE

9. CARA PEMBACAAN UNTUK MINYAK TEMBUS PANDANG PADA GARIS DATAR PERMUKAAN MINYAK

10. CARA PEMBACAAN UNTUK MINYAK TIDAK TEMBUS PANDANG PADA ANGKA PUNCAK MINICUS YANG MENEMPEL PADA HYDROMETER, DAN ANGKA INI DIKOREKSI DENGAN MINISCUS CORRECTION FACTOR TABEL 1 ASTM D 1298

MINICUS YANG MENEMPEL P ADA HYDROMETER, DAN ANGKA INI DIKOREKSI DENGAN MINI SCUS CORRECTION FACTOR TABEL
MINICUS YANG MENEMPEL P ADA HYDROMETER, DAN ANGKA INI DIKOREKSI DENGAN MINI SCUS CORRECTION FACTOR TABEL
MINICUS YANG MENEMPEL P ADA HYDROMETER, DAN ANGKA INI DIKOREKSI DENGAN MINI SCUS CORRECTION FACTOR TABEL
MINICUS YANG MENEMPEL P ADA HYDROMETER, DAN ANGKA INI DIKOREKSI DENGAN MINI SCUS CORRECTION FACTOR TABEL

TATACARA PENGAMBILAN CONTOH DI TANKI DARAT DAN TANKI KAPAL

SAMPELYANG DIAMBIL SECARA REPRENTATIF HARUS DAPAT MEWAKILI KESELURUHAN MINYAK YANG DIAMBIL SAMPELNYA

DAPAT MEWAKILI KESELURUHAN MINYAK YANG DIAMBIL SAMPELNYA MACAM-MACAM METODE PENGAMBILAN SAMPEL MINYAK UNTUK
DAPAT MEWAKILI KESELURUHAN MINYAK YANG DIAMBIL SAMPELNYA MACAM-MACAM METODE PENGAMBILAN SAMPEL MINYAK UNTUK

MACAM-MACAM METODE PENGAMBILAN SAMPEL MINYAK UNTUK KEPERLUAN MENGATAHUI KUALITAS DAN MENGHITUNG KUANTITAS MINYAK SESUAI STANDAR ASTM D 4057-95

1. ALL LEVEL SAMPLE 2. RUNNING SAMPLE 3. SPOT SAMPLE 4. TOP SAMPLE 5. UPPER

1. ALL LEVEL SAMPLE

2. RUNNING SAMPLE

3. SPOT SAMPLE

4. TOP SAMPLE

5. UPPER SAMPLE

6. MIDDLE SAMPLE

7. LOWER SAMPLE

8. CLEARANCE SAMPLE

9. BOTTOM SAMPLE 10. DRAIN SAMPLE 11. COMPOSITE SAMPLE 12. SINGLE TANK COMPOSITE SAMPLE 13.

9. BOTTOM SAMPLE

10. DRAIN SAMPLE

11. COMPOSITE SAMPLE

12. SINGLE TANK COMPOSITE SAMPLE

13. MULTI TANK COMPOSITE SAMPLE

14. SURFACE SAMPLE

15. OUTLET SAMPLE

SAMPLE 12. SINGLE TANK COMPOSITE SAMPLE 13. MULTI TANK COMPOSITE SAMPLE 14. SURFACE SAMPLE 15. OUTLET
ALL LEVEL SAMPLE 1. SAMPEL YANG DIPEROLEH DENGAN MENENGGELAMKAN BOTOL SAMPEL YANG TERTUTUP KESUATU TEMPAT
ALL LEVEL SAMPLE
1. SAMPEL YANG DIPEROLEH DENGAN MENENGGELAMKAN BOTOL SAMPEL
YANG TERTUTUP KESUATU TEMPAT SEDEKAT MUNGKIN PADA KETINGGIAN
YANG SAMA DENGAN PIPA KELUAR (DRAW OFF LEVEL OUTLET).
2. KEMUDIAN MEMBUKA SUMBAT BOTOL SAMPEL TERSEBUT DENGAN CARA
MENYENTAKKAN TALINYA
3. MENARIK KERAS DENGAN KECEPATAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA
BOTOL SAMPEL TERISI SEBANYAK 3/4 BAGIAN (MAX 85%) PADA SAAT
MUNCUL DIPERMUKAAN MINYAK/CAIRAN.
RUNNING SAMPLE.
1. SAMPEL DIPEROLEH DENGAN MENENGGELAMKAN BOTOL SAMPELYANG
TERBUKA MULAI DARI PERMUKAAN CAIRAN SAMPAI PADA KETINGGIAN
YANG SAMA DENGAN BAGIAN BAWAH DARI LUBANG PIPA KELUAR ATAU
LUBANG PIPA SWING
2. KEMUDIAN MENARIKNYA KEMBALI DENGAN KECEPATAN SEDEMIKIAN RUPA
SEHINGGA BOTOL CONTOH TERISI ¾ BAGIAN PADA SAAT MUNCUL DI
PERMUKAAN CAIRAN.
KEMBALI DENGAN KECEPATAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA BOTOL CONTOH TERISI ¾ BAGIAN PADA SAAT MUNCUL DI PERMUKAAN
KEMBALI DENGAN KECEPATAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA BOTOL CONTOH TERISI ¾ BAGIAN PADA SAAT MUNCUL DI PERMUKAAN
KEMBALI DENGAN KECEPATAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA BOTOL CONTOH TERISI ¾ BAGIAN PADA SAAT MUNCUL DI PERMUKAAN
KEMBALI DENGAN KECEPATAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA BOTOL CONTOH TERISI ¾ BAGIAN PADA SAAT MUNCUL DI PERMUKAAN
KEMBALI DENGAN KECEPATAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA BOTOL CONTOH TERISI ¾ BAGIAN PADA SAAT MUNCUL DI PERMUKAAN
SPOT SAMPLE. SAMPEL YANG DIAMBIL DARI BEBERAPA TITIK TERTENTU DALAM TANGKI DENGAN MENGGUNAKAN THIEF ATAU
SPOT SAMPLE.
SAMPEL YANG DIAMBIL DARI BEBERAPA TITIK TERTENTU DALAM TANGKI
DENGAN MENGGUNAKAN THIEF ATAU BOTOL SAMPEL
TOP SAMPLE.
SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL 6 INCHI (150 MM) DIBAWAH PERMUKAAN CAIRAN
UPPER SAMPLE
SPOT SAMPEL YANG DIAMBIL PADA PERTENGAHAN DARI SEPERTIGA ISI
MINYAK BAGIAN ATAS
MIDDLE SAMPLE.
SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI PERTENGAHAN ISI MINYAK
PERTENGAHAN DARI SEPERTIGA ISI MINYAK BAGIAN ATAS MIDDLE SAMPLE. SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI PERTENGAHAN ISI
PERTENGAHAN DARI SEPERTIGA ISI MINYAK BAGIAN ATAS MIDDLE SAMPLE. SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI PERTENGAHAN ISI
PERTENGAHAN DARI SEPERTIGA ISI MINYAK BAGIAN ATAS MIDDLE SAMPLE. SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI PERTENGAHAN ISI
PERTENGAHAN DARI SEPERTIGA ISI MINYAK BAGIAN ATAS MIDDLE SAMPLE. SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI PERTENGAHAN ISI
PERTENGAHAN DARI SEPERTIGA ISI MINYAK BAGIAN ATAS MIDDLE SAMPLE. SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI PERTENGAHAN ISI
PERTENGAHAN DARI SEPERTIGA ISI MINYAK BAGIAN ATAS MIDDLE SAMPLE. SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI PERTENGAHAN ISI
LOWER SAMPLE SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL PADA KETINGGIAN YANG SAMA DENGAN LUBANG PIPA KELUAR ATAU
LOWER SAMPLE
SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL PADA KETINGGIAN YANG SAMA DENGAN
LUBANG PIPA KELUAR ATAU LUBANG PIPA SWING DARI TANGKI BERATAP
TETAP (FIXED ROOF TANK)
LOWER SAMPLE
SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL PADA KETINGGIAN YANG SAMA DENGAN
LUBANG PIPA KELUAR ATAU LUBANG PIPA SWING DARI TANGKI BERATAP
TETAP (FIXED ROOF TANK)
CLEARANCE SAMPLE
SAMPEL YANG DIAMBIL 4 INCHI (100 MM) DIBAWAH KETINGGIAN LUBANG PIPA
KELUAR (OUTLET)
(FIXED ROOF TANK) CLEARANCE SAMPLE SAMPEL YANG DIAMBIL 4 INCHI (100 MM) DIBAWAH KETINGGIAN LUBANG PIPA
(FIXED ROOF TANK) CLEARANCE SAMPLE SAMPEL YANG DIAMBIL 4 INCHI (100 MM) DIBAWAH KETINGGIAN LUBANG PIPA
(FIXED ROOF TANK) CLEARANCE SAMPLE SAMPEL YANG DIAMBIL 4 INCHI (100 MM) DIBAWAH KETINGGIAN LUBANG PIPA
(FIXED ROOF TANK) CLEARANCE SAMPLE SAMPEL YANG DIAMBIL 4 INCHI (100 MM) DIBAWAH KETINGGIAN LUBANG PIPA
(FIXED ROOF TANK) CLEARANCE SAMPLE SAMPEL YANG DIAMBIL 4 INCHI (100 MM) DIBAWAH KETINGGIAN LUBANG PIPA
(FIXED ROOF TANK) CLEARANCE SAMPLE SAMPEL YANG DIAMBIL 4 INCHI (100 MM) DIBAWAH KETINGGIAN LUBANG PIPA
(FIXED ROOF TANK) CLEARANCE SAMPLE SAMPEL YANG DIAMBIL 4 INCHI (100 MM) DIBAWAH KETINGGIAN LUBANG PIPA
BOTTOM SAMPLE SAMPEL YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI, TEMPAT PENYIM-PANAN ATAU PADA TITIK TERENDAH DARI
BOTTOM SAMPLE
SAMPEL YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI, TEMPAT PENYIM-PANAN ATAU
PADA TITIK TERENDAH DARI SALURAN PIPA.
DRAIN SAMPLE
SAMPEL YANG DIAMBIL DARI PIPA KELUAR (DRAW - OFF) ATAU KERANGAN
KELUAR (DISCHARGE VALVE).
KADANG - KADANG DRAIN SAMPLE SAMA DENGAN BOTTOM SAMPLE SEPERTI
PADA MOBIL TANGKI.
COMPOSITE SAMPLE
CONTOH YANG DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DUA ATAU LEBIH
SPOT SAMPLE YANG DIAM
PADA MOBIL TANGKI. COMPOSITE SAMPLE CONTOH YANG DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DUA ATAU LEBIH SPOT SAMPLE
PADA MOBIL TANGKI. COMPOSITE SAMPLE CONTOH YANG DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DUA ATAU LEBIH SPOT SAMPLE
PADA MOBIL TANGKI. COMPOSITE SAMPLE CONTOH YANG DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DUA ATAU LEBIH SPOT SAMPLE
PADA MOBIL TANGKI. COMPOSITE SAMPLE CONTOH YANG DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DUA ATAU LEBIH SPOT SAMPLE
PADA MOBIL TANGKI. COMPOSITE SAMPLE CONTOH YANG DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DUA ATAU LEBIH SPOT SAMPLE
PADA MOBIL TANGKI. COMPOSITE SAMPLE CONTOH YANG DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DUA ATAU LEBIH SPOT SAMPLE
PADA MOBIL TANGKI. COMPOSITE SAMPLE CONTOH YANG DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DUA ATAU LEBIH SPOT SAMPLE
DRAIN SAMPLE BIL DARI SEBUAH TANGKI DALAM PERBANDINGAN YANG PROPOSIONAL. ISTILAH INI JUGA DAPAT DIPERGUNAKAN
DRAIN SAMPLE
BIL DARI SEBUAH TANGKI DALAM PERBANDINGAN YANG PROPOSIONAL.
ISTILAH INI JUGA DAPAT DIPERGUNAKAN UNTUK SEJUMLAH CONTOH-CONTOH
MINYAK YANG DIAMBIL DARI ALIRANNYA DALAM PIPA.
SINGLE TANK COMPOSITE SAMPLE
1. SAMPEL YANG DIPEROLEH DENGAN MENCAMPUR UPPER, MIDDLE ATAU
LOWER SAMPLE.
2. UNTUK SEBUAH TANGKI YANG BERPENAMPUNG SERAGAM SEPERTI
TANGKI SILINDER VERTIKAL CAMPURANNYA TERDIRI ATAS VOLUME YANG
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS.
3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
SAMPEL
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS. 3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS. 3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS. 3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS. 3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS. 3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS. 3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS. 3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS. 3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
SAMA DARI KETIGA BAGIAN SAMPEL TERSEBUT DIATAS. 3. UNTUK TANGKI SILINDER HORIZONTAL. CAMPURAN TERDIRI DARI 3
MULTIPLE TANK COMPOSITE SAMPLE SAMPEL DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DARI SEMUA ALL LEVEL SAMPLE DARI
MULTIPLE TANK COMPOSITE SAMPLE
SAMPEL DIPEROLEH DENGAN CARA MENCAMPUR DARI SEMUA ALL LEVEL
SAMPLE DARI KOMPARTEMEN-KOMPARTEMEN YANG BERISI MINYAK DARI
JENIS YANG SAMA SECARA PROPORSIONAL TERHADAP ISI MINYAK DARI
MASING-MASING KOMPARTEMEN
SURFACE SAMPLE
SPOT SAMPLE YANG DISENDOK DARI PERMUKAAN CAIRAN DALAM TANGKI
OUTLET SAMPLE
SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK
UNTUK TIPE FIXED ATAU FLOATING TANK
TANGKI OUTLET SAMPLE SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK UNTUK TIPE FIXED
TANGKI OUTLET SAMPLE SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK UNTUK TIPE FIXED
TANGKI OUTLET SAMPLE SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK UNTUK TIPE FIXED
TANGKI OUTLET SAMPLE SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK UNTUK TIPE FIXED
TANGKI OUTLET SAMPLE SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK UNTUK TIPE FIXED
TANGKI OUTLET SAMPLE SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK UNTUK TIPE FIXED
TANGKI OUTLET SAMPLE SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK UNTUK TIPE FIXED
TANGKI OUTLET SAMPLE SPOT SAMPLE YANG DIAMBIL DARI DASAR TANGKI PADA OUTLET TANK UNTUK TIPE FIXED
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6"
TOP SAMPLE
UPPER SAMPLE
UPPER THIRD
MIDDLE SAMPE
MIDDLE SAMPLE
LOWER SAMPLE
LOWER THIRD
INNAGE
BOB
DATUM
OUTLET SAMPLE
PLATE

TANK CONTENTS

SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM
SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM
BOTTOM SAMPLE
BOTTOM SAMPLE
SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM
SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM
SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM

PENGAMBILAN SAMPEL DI TANKI TIMBUN

1. ALAT YANG DIGUNAKAN

a. WEIGHTED BREAKER/BOTTLE

b. SAMPLE CONTAINER

2. TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE

b. SAMPLE CONTAINER 2. TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE TINGGI MINYAK DALAM TANKI POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN
b. SAMPLE CONTAINER 2. TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE TINGGI MINYAK DALAM TANKI POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN
b. SAMPLE CONTAINER 2. TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE TINGGI MINYAK DALAM TANKI POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN
b. SAMPLE CONTAINER 2. TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE TINGGI MINYAK DALAM TANKI POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN
TINGGI MINYAK DALAM TANKI POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN SAMPELYANG DIPERIKSA a. UPPER SAMPLE a + b
TINGGI MINYAK
DALAM TANKI
POSISI KEDALAMAN
PENGUKURAN
SAMPELYANG
DIPERIKSA
a. UPPER SAMPLE
a + b + c
LEBIH DARI 5 M
b. MIDDLE SAMPLE
c. LOWER SAMPLE
a. UPPER SAMPLE
ANTARA 3 – 5 M
b + c
b. LOWER SAMPLE
KURANG DARI 3 M
a. MIDDLE SAMPLE
a
SAMPLE c. LOWER SAMPLE a. UPPER SAMPLE ANTARA 3 – 5 M b + c b.
SAMPLE c. LOWER SAMPLE a. UPPER SAMPLE ANTARA 3 – 5 M b + c b.
SAMPLE c. LOWER SAMPLE a. UPPER SAMPLE ANTARA 3 – 5 M b + c b.
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA
LOSSES YANG SERING DI
TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
PENYEBAB TERJADINYA LOSSES YANG SERING DI TEMUI DILAPANGAN
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT

DARAT

DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
DARAT
ALAT UKUR DI SELURUH UNIT SEMUA ALAT UKUR YANG DIPERGUNAKAN BELUM SERAGAM KARENA TIDAK DI
ALAT UKUR DI SELURUH UNIT SEMUA ALAT UKUR YANG DIPERGUNAKAN BELUM SERAGAM KARENA TIDAK DI
ALAT UKUR DI SELURUH UNIT SEMUA ALAT UKUR YANG DIPERGUNAKAN BELUM SERAGAM KARENA TIDAK DI
ALAT UKUR
ALAT UKUR

DI SELURUH UNIT SEMUA ALAT UKUR YANG DIPERGUNAKAN BELUM SERAGAM KARENA TIDAK DI KALIBRASI KE DIMET

PITA UKUR

1. BERAT BANDUL PADA PITA UKUR HANYA 350 GRAM ATAU < 600 GRAM SEHINGGA WAKTU DIGUNAKAN PITA UKURNYA MELAYANG DAN HASIL PENGUKURANNYA TIDAK AKURAT (TERJADI DEVIASI)

2. KAITAN BANDUL PADA UJUNG PITA UKUR PATAH DAN DIGANTI DENGAN TALI RAFIA

3. KONDISI PITA UKUR ANGKANYA BURAM DAN PITANYA KRITING

3. KONDISI PITA UKUR ANGKANYA BURAM DAN PITANYA KRITING THERMOMETER DAN HYDROMETER 1. DISIMPAN DALAM TIMBA
3. KONDISI PITA UKUR ANGKANYA BURAM DAN PITANYA KRITING THERMOMETER DAN HYDROMETER 1. DISIMPAN DALAM TIMBA
3. KONDISI PITA UKUR ANGKANYA BURAM DAN PITANYA KRITING THERMOMETER DAN HYDROMETER 1. DISIMPAN DALAM TIMBA

THERMOMETER DAN HYDROMETER

1. DISIMPAN DALAM TIMBA

2. SETELAH DIPAKAI TIDAK DI BERSIHKAN/DICUCI SEHINGGA PENUNJUKANNYA TIDAK AKURAT

DI BERSIHKAN/DICUCI SEHINGGA PENUNJUKANNYA TIDAK AKURAT 3. KONDISI RUSAK (PENUNJUKAN TIDAK AKURAT ATAU TIDAK
DI BERSIHKAN/DICUCI SEHINGGA PENUNJUKANNYA TIDAK AKURAT 3. KONDISI RUSAK (PENUNJUKAN TIDAK AKURAT ATAU TIDAK
SOP
SOP

MASTER SAMPEL

LOADING PORT TIDAK MEMBERIKAN MASTER SAMPEL SEHINGGA BILA TERJADI KONTAMINASI DI TANKER SULIT DITELUSURI PENYEBABNYA (PLAJU, TELUK SEMANGKA)

DESTINATION PORT AGAR MEMBUAT PROTES DAN DISAMPAIKAN KE LOADING PORT SERINGKALI ALASAN TIDAK ADA ANGGARAN UNTUK PENGADAAN SAMPEL CAN

PENGAMBILAN SAMPEL

ADA ANGGARAN UNTUK PENGADAAN SAMPEL CAN PENGAMBILAN SAMPEL 1. PENGAMBILAN SAMPEL HANYA DILAKUKAN SEKALI 2. PENGUKURAN
ADA ANGGARAN UNTUK PENGADAAN SAMPEL CAN PENGAMBILAN SAMPEL 1. PENGAMBILAN SAMPEL HANYA DILAKUKAN SEKALI 2. PENGUKURAN

1. PENGAMBILAN SAMPEL HANYA DILAKUKAN SEKALI

2. PENGUKURAN LEVEL DI TANKI TIMBUN SEBELUM DISCHARGE/LOADING TIDAK DILAKUKAN BERSAMA-SAMA DENGAN PIHAK TANKER

3. SEBELUM DISCHARGE/LOADING PADA JALUR PIPA TIDAK DILAKUKAN PEMERIKSAAN GUNA MEYAKINKAN BAHWA JALUR PIPA BERISI MINYAK

4. PEMERIKSAAN SAMPEL DI MANIFOLD DERMAGA PADA SAAT AKTIVITAS DISCHARGE/LOADING TIDAK DILAKSANAKAN SESUAI SOP BAHKAN ADA YANG DITINGGAL PERGI SEHINGGA TERJADI KONTAMINASI TIDAK DIKETAHUI

DALAM LAPORAN DI LOGBOOK DERMAGA DIREKAYASA

TIDAK DIKETAHUI DALAM LAPORAN DI LOGBOOK DERMAGA DIREKAYASA TINDAKAN PENELITIAN PERHATIKAN ANGKA DENSITY DAN TEMPERATUR

TINDAKAN PENELITIAN

PERHATIKAN ANGKA DENSITY DAN TEMPERATUR PADA SETIAP PENGUKURAN PERUBAHAN ANGKA TEMPERATUR HARUSLAH PROPORSIONAL DENGAN PERUBAHAN ANGKA DENSITY

DAN TEMPERATUR PADA SETIAP PENGUKURAN PERUBAHAN ANGKA TEMPERATUR HARUSLAH PROPORSIONAL DENGAN PERUBAHAN ANGKA DENSITY
SERING KALI PENGUKURAN LEVEL CAIRAN DILAKUKAN SEKALI SEHINGGA HASILNYA TIDAK AKURAT TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE
SERING KALI PENGUKURAN LEVEL CAIRAN DILAKUKAN SEKALI SEHINGGA HASILNYA TIDAK AKURAT TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE
SERING KALI PENGUKURAN LEVEL CAIRAN DILAKUKAN SEKALI SEHINGGA HASILNYA TIDAK AKURAT TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE

SERING KALI PENGUKURAN LEVEL CAIRAN DILAKUKAN SEKALI SEHINGGA HASILNYA TIDAK AKURAT

TATACARA PENGAMBILANYA SPOT SAMPLE TIDAK DILAKUKAN SESUAI DENGAN PROSEDUR

TINGGI MINYAK DALAM TANKI

TINGGI MINYAK DALAM TANKI

  LEBIH DARI 5 M   ANTARA 3 – 5 M   KURANG DARI 3
  LEBIH DARI 5 M   ANTARA 3 – 5 M   KURANG DARI 3
 

LEBIH DARI 5 M

  LEBIH DARI 5 M   ANTARA 3 – 5 M   KURANG DARI 3 M
  LEBIH DARI 5 M   ANTARA 3 – 5 M   KURANG DARI 3 M
 

ANTARA 3 – 5 M

  LEBIH DARI 5 M   ANTARA 3 – 5 M   KURANG DARI 3 M
  LEBIH DARI 5 M   ANTARA 3 – 5 M   KURANG DARI 3 M
 

KURANG DARI 3 M

POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN

POSISI KEDALAMAN PENGUKURAN

  a. UPPER SAMPLE b. MIDDLE SAMPLE c. LOWER SAMPLE   a. UPPER SAMPLE b.
  a. UPPER SAMPLE b. MIDDLE SAMPLE c. LOWER SAMPLE   a. UPPER SAMPLE b.
 

a.

UPPER SAMPLE

b.

MIDDLE SAMPLE

c.

LOWER SAMPLE

a. UPPER SAMPLE b. MIDDLE SAMPLE c. LOWER SAMPLE   a. UPPER SAMPLE b. LOWER SAMPLE
a. UPPER SAMPLE b. MIDDLE SAMPLE c. LOWER SAMPLE   a. UPPER SAMPLE b. LOWER SAMPLE
 

a.

UPPER SAMPLE

b.

LOWER SAMPLE

SAMPLE b. MIDDLE SAMPLE c. LOWER SAMPLE   a. UPPER SAMPLE b. LOWER SAMPLE   a.
SAMPLE b. MIDDLE SAMPLE c. LOWER SAMPLE   a. UPPER SAMPLE b. LOWER SAMPLE   a.
 

a.

MIDDLE SAMPLE

SAMPELYANG DIPERIKSA

SAMPELYANG

DIPERIKSA

a + b + c

a + b + c

a + b + c
b + c

b + c

b + c
a

a

a
SAMPLE b. LOWER SAMPLE   a. MIDDLE SAMPLE SAMPELYANG DIPERIKSA a + b + c b
SAMPLE b. LOWER SAMPLE   a. MIDDLE SAMPLE SAMPELYANG DIPERIKSA a + b + c b
SAMPLE b. LOWER SAMPLE   a. MIDDLE SAMPLE SAMPELYANG DIPERIKSA a + b + c b
SAMPLE b. LOWER SAMPLE   a. MIDDLE SAMPLE SAMPELYANG DIPERIKSA a + b + c b
SAMPLE b. LOWER SAMPLE   a. MIDDLE SAMPLE SAMPELYANG DIPERIKSA a + b + c b
SAMPLE b. LOWER SAMPLE   a. MIDDLE SAMPLE SAMPELYANG DIPERIKSA a + b + c b
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6" TOP SAMPLE UPPER SAMPLE UPPER THIRD MIDDLE SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD
6"
TOP SAMPLE
UPPER SAMPLE
UPPER THIRD
MIDDLE SAMPE
MIDDLE SAMPLE
LOWER SAMPLE
LOWER THIRD
INNAGE
BOB
DATUM
OUTLET SAMPLE
PLATE

TANK CONTENTS

SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM
SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM
BOTTOM SAMPLE
BOTTOM SAMPLE
SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM
SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM
SAMPE MIDDLE SAMPLE LOWER SAMPLE LOWER THIRD INNAGE BOB DATUM OUTLET SAMPLE PLATE TANK CONTENTS BOTTOM
TATACARA PENGUKURAN LEVEL 1 LAKSANAKAN PENGUKURAN PERTAMA SESUAI DENGAN PROSEDUR 2 ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN
TATACARA PENGUKURAN LEVEL 1 LAKSANAKAN PENGUKURAN PERTAMA SESUAI DENGAN PROSEDUR 2 ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN
TATACARA PENGUKURAN LEVEL 1 LAKSANAKAN PENGUKURAN PERTAMA SESUAI DENGAN PROSEDUR 2 ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN
TATACARA PENGUKURAN LEVEL 1 LAKSANAKAN PENGUKURAN PERTAMA SESUAI DENGAN PROSEDUR 2 ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN
TATACARA PENGUKURAN LEVEL 1 LAKSANAKAN PENGUKURAN PERTAMA SESUAI DENGAN PROSEDUR 2 ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN
TATACARA PENGUKURAN LEVEL 1 LAKSANAKAN PENGUKURAN PERTAMA SESUAI DENGAN PROSEDUR 2 ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN
TATACARA PENGUKURAN LEVEL 1 LAKSANAKAN PENGUKURAN PERTAMA SESUAI DENGAN PROSEDUR 2 ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN

TATACARA PENGUKURAN LEVEL

1
1
LAKSANAKAN PENGUKURAN PERTAMA SESUAI DENGAN PROSEDUR

LAKSANAKAN PENGUKURAN PERTAMA SESUAI DENGAN PROSEDUR

2
2
ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN BILA PERBEDAAN HASLNYA LEBIH KECIL DARI 3 MM MAKA DICATAT SEBAGAI

ULANGI PENGUKURAN LAGI DAN BILA PERBEDAAN HASLNYA LEBIH KECIL DARI 3 MM MAKA DICATAT SEBAGAI HASIL PENGUKURAN

3
3
APABILA HASILNYA SAMA ATAU LEBIH BESAR DARI 3 MM HARUS DILAKUKAN PENGUKURAN ULANG SAMPAI MENDAPATKAN

APABILA HASILNYA SAMA ATAU LEBIH BESAR DARI 3 MM HARUS DILAKUKAN PENGUKURAN ULANG SAMPAI MENDAPATKAN 2 ANGKA YANG IDENTIK

PENGUKURAN ULANG SAMPAI MENDAPATKAN 2 ANGKA YANG IDENTIK 4 TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP
PENGUKURAN ULANG SAMPAI MENDAPATKAN 2 ANGKA YANG IDENTIK 4 TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP
4
4
TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK

TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA REFERENCE MARK

SAMPAI MENDAPATKAN 2 ANGKA YANG IDENTIK 4 TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA
SAMPAI MENDAPATKAN 2 ANGKA YANG IDENTIK 4 TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA
SAMPAI MENDAPATKAN 2 ANGKA YANG IDENTIK 4 TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA
SAMPAI MENDAPATKAN 2 ANGKA YANG IDENTIK 4 TARIK PITA PERLAHAN-LAHAN DAN PITA HARUS TETAP MENEMPEL PADA
PROSEDUR PENGUKURAN       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM
PROSEDUR PENGUKURAN       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM
PROSEDUR PENGUKURAN       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM
PROSEDUR PENGUKURAN       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM

PROSEDUR PENGUKURAN

   
 
   
 
 

a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI

6831 MM

6833 MM

6831 MM

} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)

} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)
} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)   b. PENGKURAN PERTAMA PENGUKURAN
} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)   b. PENGKURAN PERTAMA PENGUKURAN
 

b. PENGKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA

6831 MM

6834 MM

PENGUKURAN HARUS DIULANG

 

} Selisihnya 3 mm dari 6831 mm (sama dengan 3 mm)

} Selisihnya 3 mm dari 6831 mm (sama dengan 3 mm)
 
 
DI ULANG PENGUKURAN KETIGA
DI ULANG PENGUKURAN KETIGA

DI ULANG PENGUKURAN KETIGA

DI ULANG PENGUKURAN KETIGA
 

c. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA PENGUKURAN KETIGA UKURAN YANG DIPAKAI

6831 MM

 

6834 MM

}

}
 

6836 MM

Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm)

6834 MM

 
  6834 MM }   6836 MM Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari
  6834 MM }   6836 MM Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari
  6834 MM }   6836 MM Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari
  6834 MM }   6836 MM Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari
  6834 MM }   6836 MM Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari
  6834 MM }   6836 MM Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari
  6834 MM }   6836 MM Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari
  6834 MM }   6836 MM Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari
  6834 MM }   6836 MM Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari
CONTOH       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM 6833
CONTOH       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM 6833
CONTOH       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM 6833
CONTOH       a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI 6831 MM 6833
CONTOH
CONTOH
   
 
   
 
 

a. PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA UKURAN YANG DIPAKAI

6831 MM

6833 MM

6831 MM

} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)

} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)
} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)   b. PENGKURAN PERTAMA PENGUKURAN
} Selisihnya 2 mm dari 6831mm (lebih kecil dari 3 mm)   b. PENGKURAN PERTAMA PENGUKURAN
 

b. PENGKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA

6831 MM

6834 MM

PENGUKURAN HARUS DIULANG

 

} Selisihnya 3 mm dari 6831 mm (sama dengan 3 mm)

} Selisihnya 3 mm dari 6831 mm (sama dengan 3 mm)
 
 
DI ULANG PENGUKURAN KETIGA
DI ULANG PENGUKURAN KETIGA

DI ULANG PENGUKURAN KETIGA

DI ULANG PENGUKURAN KETIGA
 

PENGUKURAN PERTAMA PENGUKURAN KEDUA PENGUKURAN KETIGA UKURAN YANG DIPAKAI

6831 MM

 

6834 MM

}

}
 

6836 MM

Selisihnya 2 mm dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm)

6834 MM

 
dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm) 6834 MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN
dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm) 6834 MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN
dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm) 6834 MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN
dari 6834 mm (lebih kecil dari 3 mm) 6834 MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN

APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN BEDANYA MASIH SAMA ATAU LEBIH DARI BESAR DARI 3 MM, LAPORKAN KEPADA ATASAN

MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN BE DANYA MASIH SAMA ATAU LEBIH DARI BESAR DARI
MM   APABILA PADA 5 KALI PENGUKURAN BE DANYA MASIH SAMA ATAU LEBIH DARI BESAR DARI

KONTAMINASI KERO DENGAN PREMIUM MT KATOMAS LOADING PORT PLAJU

DATA PEMERIKSAAN DI MANIFOLD DERMAGA

 

PREMIUM

 

MINYAK TANAH

 

TGL.

JAM

DENSITY

TEMP

TEK

TGL.

JAM

DENSITY

TEMP

TEK

09.02.03

18.20

0.727

21

4

09.02.03

18.10

0.797

34

5

18.25

0.730

19

5

18.25

0.800

34

5

18.30

0.730

19

5

19.00

0.800

34

5

19.00

0.730

19

5

20.00

0.800

34

5

20.00

0.730

19

5

21.00

0.800

34

5

21.00

0.730

19

5

22.00

0.800

34

5

22.00

0.730

19

5

23.00

0.800

34

5

23.00

0.730

19

5

23.00

0.800

34

5

24.00

0.722

25

5

23.55

0.803

30

5

10.02.03

01.00