Anda di halaman 1dari 41

Laporan Pratikum

Agroklimatologi
PENGENALAN ALAT AGROKLIMATOLOGI

Nama

: Muhammad Yusuf

NIM

: G11114511

Kelompok

: 24

Asisten

: Efridzal Hardin B

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Klimatologi pertanian merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan tentang
hubungan antara keadaan cuaca dan problema-problema khusus kegiatan pertanian,
terutama membahas pengaruh perubahan cuaca dalam jangka pendek. Pengamatan
dan penelaahan ditekankan pada data unsur cuaca mikro yakni keadaan dari lapisan
atmosfer permukaan bumi kira-kira setinggi tanaman atau obyek pertanian tertentu
yang

bersangkutan.

pertanian

mencakup

Selain

itu

pula

lama

dalam
musim

hubungan
pertanian,

yang

luas,

hubungan

klimatologi
antara

laju

pertumbuhan tanaman atau hasil panen dengan faktor atau unsur-unsur cuaca dari
pengamatan jangka panjang (Hasan, 1970).
Untuk menentukan iklim suatu tempat atau daerah diperlukan data cuaca yang
telah terkumpul lama (10-30 tahun) yang didapatkan dari hasil pengukuran cuaca
dengan alat ukur yang khusus atau instrumentasi klimatologi. Alat dibuat sedemikian
rupa agar hasil pengukuran tidak berubah ketelitiannya. Pemeliharaan alat yang baik
membawa keuntungan pemakaian lebih lama (Basoeki, 1986).
Pemasangan alat di tempat terbuka memerlukan persyaratan tertentu agar tidak
salah ukur, harus difikirkan tentang halangan dari bangunan-bangunan ataupun
pohon-pohon didekat alat. Agar data yang diperoleh dapat dibandingkan, kemudian
perbedaan data yang didapat bukanlah akibat kesalahan prosedur, tetapi betul-betul
akibat iklimnya yang berbeda. Berdasakan hal tersebut perlunya adanya pengetahuan

mengenai alat-alat klimatologi tersebut, baik dari kegunaan atau fungsinya dan
cara menggunakannya (Bilong, 2012).
Dibidang meteorologi dan klimatologi pertanian, data tentang lama penyinaran
sinar matahari sangat penting. Pengukuran dilakukan terhadap cahaya surya yang
sampai ke permukaan bumi. Ada beberapa alat yang biasa digunakan dalam
melakukan pengukuran penyinaran matahari ini diantaranya Tipe Campbel Stokes,
Tipe Jordan, Tipe Martin dan Tipe Foster (Hasan, 1970).
Sedangkan pada pengukuran suhu udara hal ini berhubungan langsung dengan
manusia dan kehidupannya dan penting untuk dipelajari dan dipahami. Ada beberapa
jenis termometer (alat pengukur suhu) diantaranya Termometer maksimum,
termometer minimum, termometer bola basah dan kering, hygrometer dan alat
klimatologi lainnya (Hasan, 1970).
Seringnya terjadi kesalahan dalam pendataan hasil klimatologi, menjadikan
pentingnya pengetahuan tentang klimatologi dalam hal ini di bidang pertanian. Oleh
sebab itu di adakannya praktikum agroklimatologi ini.
1.2 Tujuan dan Kegunaan Percobaan
Tujuan dari praktikum pengenalan alat agroklimatologi ini agar para praktikan
dapat mengenal alat-alat klimatologi pertanian. Adapun kegunaan dari praktikum ini
adalah agar para praktikan dapat mengetahui nama serta cara penggunaan alat-alat
klimatologi pertanian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 BMKG (Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (disingkat BMKG), sebelumnya
bernama Badan Meteorologi, dan Geofisika (disingkat BMG) adalah Lembaga
Pemerintah Non Departemen Indonesia yang mempunyai tugas melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika (Basoeki, 1986).
2.2 Agroklimatologi Bagi Pertanian
Iklim merupakan salah satu faktor pembatas dalam proses pertumbuhan dan
produksi tanaman. Jenis dan sifat iklim bisa menentukkan jenis tanaman yg tumbuh
pada suatu daerah serta produksinya. Oleh karena itu kajian klimatologi dalam bidang
pertanian sangat diperlukan (Kartasapoetra, 1987).
Seiring dengan dengan semakin berkembangnya isu pemanasan global dan
akibatnya pada perubahan iklim, membuat sektor pertanian begitu terpukul. Tidak
teraturnya perilaku iklim dan perubahan awal musim dan akhir musim seperti musim
kemarau dan musim hujan membuat para petani begitu susah untuk merencanakan
masa tanam dan masa panen (Tjasyono, 2004).
Untuk daerah tropis Indonesia, hujan merupakan faktor pembatas penting dalam
pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian. Selain hujan, unsur iklim lain
yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah suhu, angin, kelembaban dan
sinar matahari (Setiawan, 2009).

Setiap tanaman pasti memerlukan air dalam siklus hidupnya, sedangkan


hujan merupakan sumber air utama bagi tanaman. Berubahnya pasokan air bagi
tanaman yang disebabkan oleh berubahnya kondisi hujan tentu saja akan
mempengaruhi siklus pertumbuhan tanaman, itu merupakan contoh global pengaruh
iklim terhadap tanaman (Bunganaen, 2013).
Di indonesia sendiri akibat dari perubahan iklim, yaitu timbulnya fenomena El
Nino dan La Nina. Fenomena perubahan iklim ini menyebabkan menurunnya
produksi kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit bila tidak mendapatkan hujan dalam 3
bulan berturut-turut akan menyebabkan terhambatnya proses pembungaan sehingga
produksi kelapa sawit untuk jangka 6 sampai 18 bulan kemudian menurun. Selain itu
produksi padi juga menurun akibat dari kekeringan yang berkepanjangan atau
terendam banjir. Akan tetapi pada saat fenomea La Nina produksi padi malah
meningkat untuk masa tanam musim ke dua (Fitria, 2013).
Selain hujan, ternyata suhu juga bisa menentukan jenis-jenis tanaman yg hidup
di daerah-daerah tertentu. Misalnya perbedaan tanaman yang tumbuh di daerah tropis,
gurun dan kutub. Indonesia merupakan daerah tropis, perbedaan suhu antara musim
hujan dan musim kemarau tidaklah se-ekstrim perbedaan suhu musim panas dan
musim kemarau di daerah-daerah sub-tropis dan kutub. Oleh karena itu untuk daerah
tropis, klasifikasi suhu lebih di arahkan pada perbedaan suhu menurut ketinggian
tempat (Tjasyono, 2004).
Perbedaan suhu akibat dari ketinggian tempat (elevasi) berpengaruh pada
pertumbuhan dan produksi tanaman. Sebagai contoh, tanaman stroberi akan

berproduksi baik pada ketinggian diatas 1000 meter, karena pada ketinggian 1000
meter pebedaan suhu antara siang dan malam sangat kontras dan keadaan seperti
inilah yg dibutuhkan oleh tanaman stroberi (Hasan, 1970).
Jadi keeratan hubungan antara klimatologi dengan ilmu pertanian tercermin
dengan berkembangnya cabang klimatologi yang khusus dikaitkan dengan kegiatan
pertanian, yang disebut sebagai agroklimatologi. Agroklimatologi atau klimatologi
pertanian adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara unsur-unsur iklim
dengan proses kehidupan tanaman (Kartasapoetra. 1987).
2.3 Hubungan Alat Stasiun Klimatologi dengan Pertanian
Pada pengamatan keadaan atmosfer kita di stasiun cuaca atau stasiun meteorologi
digunakan beberapa alat yang mempunyai sifat-sifat yang hampir sama dengan alatalat ilmiah lainnya yang digunakan untuk penelitian di dalam laboratorium, misalnya
bersifat peka dan teliti. Perbedaannya terletak pada penempatannya dan para
pemakainya. Alat-alat laboratorium umumnya dipakai pada ruang tertutup, terlindung
dari hujan dan debu-debu, angin dan lain sebagainya serta digunakan oleh observer.
Dengan

demikian

sifat

alat-alat

meteorologi

disesuaikan

dengan

tempat

pemasangannya dan para petugas yang menggunakan (Runtunuwu et.al., 2008).


Pada proses pengamatan keadaan amosfer kita ini, digunakan beberapa
alat.

Sebelum

ditemukan

satelit

meteorologi,

satu-satunya

cara

untuk

mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai keadaan atmosfer adalah dengan


memasukkan keadaan yang diamati pada stasiun cuaca di seluruh dunia
kedalam peta cuaca (Neiburger, 1982).

Adapun alat-alat meteorologi yang ada di Stasiun Meteorologi Pertanian


diantaranya alat pengukur curah hujan (Ombrometer), alat pengukur kelembaban
relatif

udara (Hygrometer), alat pengukur suhu udara (Termometer Biasa,

Termometer Maksimum, Termometer Minimum, dan Termometer MaximumMinimumalat pengukur suhu air (Termometer Maksimum-Minimum Permukaan Air),
alat pengukur panjang penyinaran matahari (Solarimeter tipe Combell Stokes), alat
pengukur suhu tanah (Termometer Tanah), dan alat pengukur kecepatan angin
(Anemometer) dan masih banyak yang lainnya (Prawirowardoyo,1996).
Stasiun meteorologi mengadakan contoh penginderaan setiap 30 detik dan
mengirimkan kutipan statistik (sebagai contoh, rata-rata dan maksimum). Untuk yang
keras menyimpan modul-modul setiap 15 menit. Hal ini dapat menghasilkan kira-kira
20 nilai dari hasil rekaman untuk penyimpanan akhir disetiap interval keluaran.
Ukuran utama dibuat di stasiun meteorologi danau vida, pemakaian alat untuk
temperatur udara, kelembaban relatif, temperatur tanah (Fontain, 2002).
Prakiraan cuaca baik harian maupun prakiraan musim, mempunyai arti penting
dan banyak dimanfaatkan dalam bidang pertanian. Prakiraan cuaca 24 jam yang
dilakukan oleh BMG, mempunyai arti dalam kegiatan harian misalnya untuk
pelaksanaan pemupukan dan pemberantasan hama. Misalnya pemupukan dan
penyemprotan hama perlu dilakukan pada pagi hari atau ditunda jika menurut
prakiraan sore hari akan hujan lebat. Prakiraan permulaan musim hujan mempunyai
arti penting dalam menentukan saat tanam di suatu wilayah. Jadi, bidang pertanian ini

memanfaatkan informasi tentang cuaca dan iklim mulai dari perencanaan sampai
dengan pelaksanaannya (Setiawan, 2003).
2.4 Syarat Penempatan Stasiun Klimatologi Pertanian
Stasiun meteorologi pertanian adalah suatu tempat untuk mengadakan
pengamatan secara terus menerus keadaan lingkungan (atmosfer). Suatu stasiun
meteorologi paling sedikit mengamati keadaan iklim selama 10 tahun berturut-turut,
sehingga akan didapat gambaran umum tentang rerata keadaan iklim suatu tempat.
Agar diperoleh hasil pemgamatan yang akurat, maka dibutuhkan persyaratan sebagai
berikut :
1. Penempatan lokasi stasiun harus mewakili keadaan lahan yang luas.
2. Masing-masing alat harus dapat memberikan hasil pengukuran parameter cuaca
yang absah (tepat dan akurat), sederhana, kuat atau tidak mudah rusak, mudah
penggunaan dan perawatannya.
3. Pengamatan harus dapat dipercaya, terlatih, dan terampil.
Stasiun meteorologi harus ditempatkan pada daerah terbuka dan representatif
(mewakili). Secara umum. Luas daerah terbuka bagi suatu stasiun meteorologi
pertanian dengan peralatannya lengkap kira-kira 2-2,5 (Bilong, 2012).
Unsur-unsur klimatologi dan cuaca seperti suhu dan kelembaban udara, curah
hujan, intensitas penyinaran matahari, kecepatan dan arah angin serta unsur
lainnya merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha pertanian. Dan
pengukuran besaran-besaran tersebut lazim dilakukan di stasiun-stasiun klimatologi.
Cara dan alat ukur di stasiun meteorologi dan klimatologi di Indonesia umumnya

masih secara manual, yang hasil kelengkapan dan keakuratan datanya sangat
tergantung kepada manusia pencatatnya. Beberapa alat pencatat otomatis buatan
pabrik sudah digunakan, tetapi harganya relatif masih mahal (Suci, 2015).
Menurut Bilong (2012), dalam penempatan stasiun klimatologi pertanian
diutamakan di stasiun percobaan Agronomi, Hortikultura, Peternakan, Kehutanan,
hidrologi, lembaga penelitian tanah, Kebun raya ataupun cagar alam serta daerah
yang perubahan cuacanya sering menyebabkan kerugian terhadap produksi pertanian.
Penempatan stasiun klimatologi/meteorology sedapat mungkin memenuhi syarat
antara lain :
1. Sekeliling luasan terpelihara dengan tanaman penutup (rerumputan atau tanaman
yang rendah) sebatas pada pengaruh gerakan angin.
2. Disekitar atau dekatnya tidak ada jalan raya (jalan besar)
3. Tempatnya pada tanah yang datar.
4. Bebas atau jauh dari bangunan dan pohon-pohon besar.
5. Letak stasiun jangan terlalu jauh dengan pengamat dan keperluan pengamatan.
Hal ini akan lebih baik dalam ketepatan waktu dan kondisi yang dapat dipercaya.
Menurut Bilong (2012), sifat dari alat-alat meteorologi atau klimatologi pada
pokoknya sama dengan alat-alat ilmiah lainnya yang digunakan untuk penelitian
didalam laboratorium, misalnya bersifat peka dan teliti. Perbedaannya terletak pada
penempatannya dan para pemakainya. Dengan demikian sifat alat-alat meteorologi
disesuaikan dengan tempat pemasangannya dan para petugas yang menggunakan.
Sifat-sifat itu antara lain :

1. Kuat, agar alat-alat ini dapat tahan terhadap perubahan cuaca serta tahan lama,
misalnya sangkar meteorologi dibuat dari bahan yang awet seperti kayu jati atau
kayu ulin, dicat, diberi pondasi beton agar tidak dimakan rayap. Pan Evaporimeter
dibuat dari bahan anti karat.
2. Sederhana, baik bentuk maupun cara penggunaannya. Bentuk sederhana agar
mudah dalam hal pemeliharaan dan perbaikan, bisa dilakukan sendiri jika terdapat
kerusakan-kerusakan kecil mengingat letak stasiun pengamatan meteorologi dan
klimatologi pada umumnya terpencil.
2.5 Alat-Alat Klimatologi Pertanian
2.5.1 Sangkar meteorologi
Menurut Tjasyono (2004), sangkar meterologi merupakan bangunan berbentuk
rumah yang terbuat dari kayu yang berfungsi untuk menyimpan alat termohigrograf,
termometer maksimum, termometer minimum, termometer bola kering dan
termometer bola basah, evaporimeter dan psikrometer assman. Sangkar meteorologi
disana ada 2 macam yaitu ada yang ukuran 1 meter dan meter. Didalam sangkar
meterologi ini terdapat termometer anatara lain :
a. Termometer Maksimum dan Minimum
Terdapat dua jenis termometer yakni termometer maksimum merupakan sebagai
alat ukur suhu udara maksimum yang terbuat dari gelas dengan bejana berbentuk bola
dan pada ujungnya berisi air raksa. Dan termometer minimum merupakan sebagai
alat ukur suhu udara minimum yang terbuat dari gelas berbentuk garpu dan pada
ujungya berisi alkohol dan benda penunjuk yang akan terseret oleh alkohol manakala
suhu turun dan akan tertinggal manakala suhu naik (alkohol mengembang), maka

benda penunjuk tadi akan menunjukan suhu terendah dalam kurun waktu
pengamatan.termometer maksimum dibaca pada jam 7 malam dan minimun dibaca
pada jam 7 pagi untuk dikirim di pusat serta jam 2 siang sebagai data untuk
pembanding.
b. Termometer Bola Basah dan Bola Kering
Alat ini disebut psychrometer terdiri dari 2 buah thermometer air raksa yaitu
thermometer bola kering dan thermometer bola basah. Thermometer bola basah
adalah thermometer yang bola air raksanya dibalut dengan kain basah. Penguapan
yang terjadi pada kain basah tersebut mengakibatkan turunya suhu. Perbedaan suhu
yang ditunjukan thermometer bola kering dan basah dengan bantuan tabel diperoleh
harga kelembaban udara dan suhu titik embun.
c. Evaporimeter
Evaporimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan penguapan
air dalam udara pada lingkungan tertentu dan waktu tertentu. Hasil pembacaannya
sangat tergantung terhadap angin, iklim dan debu. Evaporimeter adalah alat pengukur
penguapan yang menggunakan bejana penguapan panci atau tangki berisi air.
d. Psikrometer Assman
Psikrometer Assman adalah alat pengukur kelembaban (RH) yang menggunakan
system pengaliran udara, dimana udara dari luar dialirkan ke dalam tiap sensor
termometer dengan menggunakan baling-baling yang digerakkan oleh pegas.
Psikrometer ini dugunakan untuk mengukur kelembaban nisbi udara di luar sangkar
cuaca.

2.5.2 Termometer bola tanah rumput dan tanah gundul


Pengamatan suhu tanah sebetulnya dilakukan pada kedalaman 0 cm, 5 cm, 10 cm,
20 cm, 30 cm, 50 cm dan 100 cm. Pengukuran dilakukan pada tanah tertutup rumput
dan pada permukaan tanah terbuka. Cara pembacaan termometer tanah tidak berbeda
dengan pembacaan pada termometer bola kering (Tjasyono, 2004).
Pengukuran suhu tanah pada lapisan atas perlu dilakukan lebih intensif (lebih
sering) dari pada interval kedalaman yang lebih dalam, karena fluktuasi suhu tanah
lebih besar dan perubahan suhu yang berlangsung lebih cepat pada lapisan atas tanah
tersebut. Dengan pertimbangan ini world meteorogical organization (wmo)
merekomendasikan pengukuran tanah pada kedalaman 5, 10, 20, 50 dan 100 cm.
Pengamatan suhu tanah pada kedalaman 5, 10 dan 20 cm dilakukan tiga kali sehari,
sedangkan yang 50 dan 100 cm dilakukan satu kali pada sore hari (Tjasyono, 2004).
Hal yang perlu diperhatikan adalah harus diusahakan agar membaca termometer
dengan cepat dan cermat sehingga menghindarkan kesalahan paralaks. Untuk
kedalaman 5 sampai 30 cm biasanya dipakai termometer yang bisa dibaca dari luar,
sedangkan untuk kedalaman 50 cm dan 100 cm biasanya dipakai termometer air raksa
yang dimasukkan dalam tabung yang kuat (Tjasyono, 2004).
2.5.3 Anemometer 2M dan 10M
Mempunyai fungsi untuk mengukur kecepatan angin. Dalam penggunaannya
terbagi 2 yaitu penggunaan 2 meter dan 10 meter. Adapun cara kerja dari alat ini
adalah angin yang bertiup akan membuat anemometer berputar dan kecepatan angin
akan ditunjukkan oleh spidometer yang tertera pada alat (Tjasyono, 2004).

Kecepatan atau kecepatan angin diukur dengan anemometer cup, instrumen


dengan tiga atau empat logam berlubang kecil belahan ditetapkan, sehingga mereka
menangkap angin dan berputar tentang batang vertikal. Sebuah catatan perangkat
listrik revolusi dari cangkir dan menghitung kecepatan angin. The anemometer kata
berasal dari kata yunani untuk angin, anemos (Tjasyono, 2004).
2.5.4 High volume sampler (HVS)
Fungsinya untuk mengambil sampel spm (suspended particle matter). Prinsip
kerjanya yaitu: udara yang mengandung partikel debu dihisap mengalir melalui kertas
filter dengan menggunakan motor putaran kecepatan tinggi. Debu akan menempel
pada kertas filter yang nantinya akan diukur konsentrasinya dengan cara
kertas filter tersebut ditimbang sebelum dan sesudah sampling di samping itu
dicatat flowrate dan waktu lamanya sampling sehingga didapat konsentrasi
debu tersebut (Tjasyono, 2004).
2.5.6 Campbell Stokes
Campbell stokes secara khusus dipergunakan untuk mengukur waktu dan lama
matahari bersinar dalam satu hari dimana alat tersebut dipasang. Bagian-bagian alat
Campbell stokes adalah: bola gelas, lensa cembung mengumpulkan sinar matahari ke
suatu titik api; tempat menyisipkan kertas pias; pengatur kertas pias; penunjuk yang
menyatakan lintang pada waktu alat di setel; tiga buah sekrup menyetel kedudukan
horizontal (Tjasyono, 2004).

2.5.7 Penakar Curah Hujan Hellman


Penakar hujan jenis hellman merupakan suatu instrument/alat untuk mengukur
curah hujan. Penakar hujan jenis hellman ini merupakan suatu alat penakar hujan
berjenis recording atau dapat mencatat sendiri. Alat ini dipakai di stasiun-stasiun
pengamatan udara permukaan.pengamatan dengan menggunakan alat ini dilakukan
setiap hari pada jam-jam tertentu mekipun cuaca dalam keadaan baik/hari sedang
cerah. Alat ini mencatat jumlah curah hujan yang terkumpul dalam bentuk
garis vertical yang tercatat pada kertas pias. Alat ini memerlukan perawatan
yang cukup intensif untuk menghindari kerusakan-kerusakan yang sering terjadi
pada alat ini (Tjasyono, 2004).
2.5.8 Alat penakar curah hujan (jenis obs/observatorium)
Menurut Tjasyono (2004), hujan merupakan salah satu parameter cuaca yang
dibutuhkan untuk kepentingan bmkg dalam menentukan kondisi lingkungan dan
masyarakat yang memerlukan data curah hujan. Alat Pengukur Curah Hujan
merupakan alat yang digunakan untuk mencatat intensitas curah hujan dalam kurun
waktu tertentu. Hasil pencatatan curah hujan pada umumnya dihubungkan dengan
hasil pencatatan pergerakan tanah pada extensometer. Hasil pencatatan alat pengukur
curah hujan dapat digunakan sebagai pembanding dengan hasil pencatatan pergerakan
tanah pada extensometer yang dapat dinyatakan bahwa semakin besar intensitas curah
hujan, maka tanah cenderung mudah bergerak.

2.5.9 Actinograph Dwilogan/Bimetal


Actinograph adalah alat untuk mengukur total intensitas dari radiasi matahari
langsung. Maksud dari pengukuran intensitas radiasi matahari ini adalah untuk
mengetahui total intensitas radiasi yang jatuh pada permukaan bumi baik yang
langsung maupun yang dibaurkan oleh atmosfer (Tjasyono, 2004).
2.5.10 Rain Water Sampler (RWS)
Rain Water Sampler adalah peralatan yang digunakan untuk mengambil sampel
air hujan Wet dan Dry. Fungsinya adalah untuk mengambil sampel air hujan yang
akan diukur konsentrasi kimia Air Hujan. Kemudian air hujan tersebut dikirim ke
Laboratorium BMG untuk dianalisa (Khairullah, 2010).
2.5.11 Automatic Water Sampler (AWS)
Digunakan untuk mengoperasikan penakar hujan secara otomatis untuk
menampung atau mengumpulkan sampel air hujan. Peralatan sensor yang akan
dipakai ini adalah sangat peka begitu saat hujan terjadi maka motor penggerak akan
membuka tutup peralatan pengumpul sampel air hujan secara otomatis yang
kemudian sampel selanjutnya dialirkan melalui selang ke botol plastik yang berbahan
dasar polyethylene. Sensor ini akan menutup secara otomatis selama tidak ada
periode hujan (saat hujan berhenti) yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah
terkontaminasinya sampel air hujan oleh polutan yang terbawa saat periode endapan
kering (dry deposition) (Ralistiya, 2010).

BAB III
METODOLOGI
1.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Pengenalan Alat-Alat Agroklimatologi dilaksanakan pada hari
Kamis, 18 Februari 2016, pukul 13.00 WITA sampai selesai di Laboratorium 1,
Jurusan Agronomi,

Fakultas

Pertanian,

Universitas

Hasanuddin,

Makassar.

Sedangkan untuk praktikun lapang Agroklimatologi mengenai pengenalan alat


klimatologi dilakukan pada tanggal 5 Maret 2016 pukul 15.00-selesai di Dinas
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, UPTD. Balai Proteksi Tanaman Pangan
dan Hortikultura, Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Pinrang, Kecamatan Tiroang,
Desa/Kelurahan Marawi.
1.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum Pengenalan Alat-Alat
Agroklimatologi adalah alat tulis-menulis, LCD, dan kamera. Adapun alat yang
digunakan dalam praktikum lapang Agroklimatologi yaitu Automatic Weather System
(AWS), Campbell Stokes, Penakar Hujan tipe OBS (Observatorium), Penakar Hujan
tipe Hellman, Termometer Tanah Vegetasi, Termometer Tanah Non Vegetasi, Cup
Counter Anemometer, Wind Vane Anemometer, Sangkar Meteorologi, Termometer
Bola Basah, Termometer Bola Kering, Termometer Maksimum, Termometer
Minimum, Piche Evaporimeter, Psykrometer Standar, dan Panci Evaporimeter.

1.3 Metode Pelaksanaan


Adapun metode pelaksanaan yang dilakukan, yaitu :
1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan,
2. Mendengarkan dengan baik apa yang dijelaskan oleh pemateri,
3. Mencatat hal yang dianggap penting untuk dicatat dari materi yang di bawakan,
4. Menanyakan hal yang dianggap kurang jelas dari materi kepada pemateri,
5. Melakukan evaluasi dari apa yang dipraktekkan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Gambar 1. Automatic Weather System


4.1.1.1 Automatic Weather Station (AWS)
4.1.1.2 Bagian-bagian Alat
Secara umum AWS dibagi menjadi beberapa bagian utama, yaitu
1. Sensor
Wind speed
Wind direction
Humidity
Temperature
Solar radiation
Air Pressure
Rain gauge
2.
3.
4.
5.
6.

Data Logger
Komputer (sistem perekam dan sistem monitor)
Display (optional)
Tiang untuk dudukan sensor dan data logger
Penangkal petir

4.1.1.3 Prinsip Kerja Alat


AWS (Automatic Weather Stations) merupakan suatu peralatan atau sistem
terpadu yang di disain untuk pengumpulan data cuaca secara otomatis serta di proses
agar pengamatan menjadi lebih mudah. AWS ini umumnya dilengkapi

dengan

sensor, RTU (Remote Terminal Unit), Komputer, unit LED Display dan bagianbagian lainnya.
Sensor-sensor yang digunakan meliputi sensor temperatur, arah dan kecepatan
angin, kelembaban, presipitasi, tekanan udara, pyranometer, net radiometer.
RTU (Remote Terminal Unit) terdiri atas data logger dan backup power, yang
berfungsi sebagai terminal pengumpulan data cuaca dari sensor tersebut dan di
transmisikan ke unit pengumpulan data pada komputer.
4.1.1.4 Pemasangan Alat di Lapangan
1. Memasang tripod atau kaki penyangga AWS dan mengatur ketinggian tripod
2.
3.

serta mengarahkan solar panel ke arah Selatan


Memasang sensor-sensor, serta pengkabelannya
Memasang baterai atau power supply dan menghubungkannya dengan solar

4.

panel
Menghubungkan AWS dengan Komputer untuk melakukan kalibrasi sensor
angin

4.1.1.5 Satuan Pengamatan dan Pengambilan Data


Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk proses pengambilan data adalah sebagai
berikut :
1.

Kabel konektor antara Logger AWS dengan Komputer.

2.

Komputer atau Laptop yang sudah di install program MAWS terminal untuk
proses pengambilan data.
Masing-masing parameter sensor dapat ditampilkan melalui LED Display yang

menunjukkan hasil rekaman secara nyata.

4.1.1.6 Kebaikan dan Kelemahan Alat


AWS memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pencatatan manual
konvensional. Secara umum:
1.

AWS lebih konsisten dalam pengukuran mereka

2.

AWS menyediakan data pada frekuensi secara signifikan lebih besar (beberapa
menyediakan data setiap menit)

3.

AWS menyediakan data dalam segala cuaca, siang dan malam, 365 hari per tahun

4.

AWS dapat dipasang di daerah yang jarang penduduknya


Namun, AWS menderita sejumlah kelemahan. Ini adalah:

1.

Beberapa elemen yang sulit untuk mengotomatisasi (awan misalnya)

2.

AWS membutuhkan investasi modal besar

3.

AWS kurang fleksibel daripada pengamat manusia

4.1.2.1 Termometer Tanah

Gambar 2. Termometer Tanah


Non-Vegetasi (Kiri), Vegetasi (Kanan)
4.1.2.2 Bagian-bagian Alat
Satu set termometer tanah terdiri atas:

1.

Enam buah termometer tanah (termometer yang didisain khusus untuk


menngukur suhu tanah)

2.

Lima buah besi penyangga (untuk termometer pada kedalaman 0 20 cm)

3.

Dua buah pipa pelindung dan parafin wax (untuk thermometer pada kedalaman
50 100 cm)

4.1.2.3 Prinsip Kerja Alat


Prinsip kerja termometer tanah hampir sama dengan termometer biasa, hanya
bentuk dan panjangnya berbeda. Pengukuran suhu tanah lebih teliti daripada suhu
udara. Perubahannya lambat sesuai dengan sifat kerapatan tanah yang lebih besar
daripada udara.
4.1.2.4 Pemasangan Alat di Lapangan
Suhu biasanya diamati pada kedalaman 5, 10, 20, 50, dan 100 cm. Untuk
keperluan ini telah dibuat termometer

sesuai dengan kedalamannya. Pengukuran

suhu tanah dilakukan pada tanah yang tertutup oleh rumput maupun tanah yang
terbuka. Pengukuran biasanya dilakukan dalam areal stasiun pengamatan.
4.1.2.5 Satuan Pengamatan dan Pengambilan Data
Satuan pengamatan dari thermometer tanah yaitu derajat celcius C. pengambilan
data dilakukan setiap hari. Dalam sehari pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali pada
waktu yang berbeda yakni pukul 07.00 pagi, pukul 13.00 dan pukul 18.00.
4.1.3.1 Evaporimeter Panci Terbuka

Gambar 3. Evaporimeter Panci Terbuka


4.1.3.2 Bagian-bagian Alat
Panci evaporasi terdiri dari 4 bagian yaitu:
1.

Panci dari stainlees dengan diameter 122 cm dan tinggi 25.4 cm.

2.

Hook Gauge (Alat pengukur tinggi permukaan air dalam panci)

3.

Still Well (Tempat Hook Gauge dan sekaligus pencegah terjadinya gelombang
saat pengukuran)

4.

Floating Thermometer/termometer apung (thermometer maksimum dan


minimum air).

4.1.3.3 Prinsip Kerja Alat


Mengukur air secara langsung dalam satuan millimeter. Semakin luas
permukaan panic, semakin representative penguapan yang sebenarnya terjadi pada
danau, waduk sungai, dll. Pengukuran dapat menggunakan Hook Gauge yang
berfungsi untuk mengukur hilangnya air pada panci oleh terjadinya penguapan.
4.1.3.4 Pemasangan Alat di Lapangan
Mula-mula ujung kail (hook) diatur dengan skrup pemutar tepat menyentuh
permukaan air, kemudian tinggi air dapat dibaca pada penera (sampai ketelitian 0,02

mm). Pada sore hari berikutnya, ujung kail diatur kembali sampai menyentuh
permukaan air. Penguapan yang terukur adalah pada permukaan air terbuka.
4.1.3.5 Satuan Pengamatan dan Pengambilan Data
Satuan yang digunakan adalah derajat celcius (C), dan pengambilan data
dilakukan pada pagi, siang dan sore hari yakni pukul 07.00 pagi, pukul 13.00, dan
pukul 18.00.
4.1.3.6 Kebaikan dan Kelemahan Alat
Kelebihan alat ini antara lain ketelitian alatnya tinggi, dapat mengukur besarnya
evaporasi setiap hari, dapat mengukur besarnya evaporasi walaupun hujan. Namun
kekurangannya, kesalahan yang besar dari pengukuran evaporasi terletak pada tinggi
air dalam panci, muka air selamanya dikembalikan pada tinggi semula yaitu 5 cm.
4.1.4.1 Sangkar Cuaca

Gambar 4. Sangkar Cuaca


4.1.4.2 Bagian-bagian Alat
Bagian-bagian sangkar cuaca yaitu:

1.

Beton

2.

Permukaan Lantai Sangkar

3.

Pintu Sangkar 2 (dua) daun, bagian muka dan belakang

4.

Papan penutup ruang sangkar (tebal 2 cm) berlubang 5 (lima) @=2,5 cm


Alat pengukur kelembaban udara dimasukkan ke dalam Sangkar Cuaca yang di

dalamnya antara lain berisi :

Temperatur maksimum minimum

Termometer basah kering

Barograf

Termohigrograf

Swing thermometer

Evaporimeter jenis Piche atau jenis Keshner

4.1.4.3 Prinsip Kerja Alat


Sangkar cuaca digunakan dengan maksud agar pengukuran suhu tidak terkena
langsung sinar matahari tetapi sirkulasi udara masih lancar, sehingga sangkar cuaca
dibuat sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan pengukuran
4.1.4.4 Pemasangan Alat di Lapangan
Sangkar meteorologi umumnya dipasang di dalam taman alat-alat meteorology.
Peletakkan tidak boleh mendekat pohon berjarak 5m (45 o). Sangkar Meteorologi
dibuat dari kayu yang baik ( jati/ Ulin) sehingga tahan terhadap perubahan cuaca.
Sangkar dicat putih supaya tidak banyak menyerap radiasi panas matahari. Sangkar
dipasang dengan lantainya berada pada ketinggian 120 cm diatas tanah berumput

pendek, sedangkan letaknya paling dekat dua kali ( sebaiknya empat kali) tinggi
benda yang berada di sekitarnya.
Sangkar harus dipasang kuat, berpondasi beton, sehingga tidak dapat bergerak
atau bergoyang jika angin kencang. selain itu agar angkar tidak mudah di makan
rayap.
Sangkar mempunyai dua buah pintu dan dua jendela yang berlubang-lubang/kisi.
Lubang/kisi ini memungkinkan adanya aliran udara. Temperatur dan kelembaban
udara didalam sangkar mendekati/hampir sama dengan temperatur dan kelembaban
udara diluar.
Sangkar dipasang dengan pintu membuka/menghadap Utara-Selatan, sehingga
alat-alat yang terdapat didalamnya tidak terkena radiasi matahari langsung sepanjang
tahun. jika matahari berada pada belahan bumi selatan pintu sebelah utara yang
dibuka untuk observasi atau sebaliknya.
4.1.4.5 Satuan Pengamatan dan Pengambilan Data
Satuan pengamatan pada sangkar meteorology yaitu derajat celcius dan
pengambilan data dilakukan setiap hari atau Pengamatan sekali dalam 24 jam.
4.1.4.6 Kebaikan dan Kelemahan Alat
Kelebihan alat ini adalah melindungi alat yang ada dalam sangkar dari cahaya
matahari langsung, dan dari hujan dan debu. Kelemahan pada alat ini yaitu
kemampuan terbatas pada kecepatan angin 3-5m / detik.
4.1.5.1 Campbell Stokes

Gambar 5. Campbell Stokes


4.1.5.2 Bagian-bagian Alat
Adapun beberapa bagian-bagian yang terdapat pada Campbell-stokes, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Lensa bola kaca pejal, r = 7,3 cm


Busur pemegang bola kaca pejal
Sekrup pengunci kedudukan lensa
Sekrup pengatur kemiringan
Mangkuk tempat kertas pias

4.1.5.3 Prinsip Kerja Alat


Sinar yang datang difokuskan pada bola kristal yang dibawahnya ada kertas pias,
jika sinar terfokus akan membuat/menimbulkan geresan hitam pada kertas hitam.
Goresan ini yang digunakan yang digunakan untuk mengukur intensitas sinar
matahari, ini dilakukan setiap hari.
4.1.5.4 Pemasangan Alat di Lapangan
1.
2.
3.

Mangkuk tempat pemasangna kertas pias harus menunjukkan arah timur barat.
Bagian bawah alat harus datar (diatur dengan leveling).
Lensa bola bersama dengan kertas pias dimiringkan sesuai dengan letak lintang
tempat pengamatan.

4.1.5.5 Satuan Pengamatan dan Pengambilan Data


1.
2.

Kertas pias dipasang dan diganti tiap sore hari pada pukul 18.00.
Kertas pias yang digunakan ada tiga macam, yaitu bentuk lurus, bengkok panjang

3.

dan bengkok pendek.


Jadwal penggunaan masing-masing bentuk kertas pias tergantung letak

4.

pengamatan dan kedudukan matahari terhadap tempat tersebut.


Pengukuran panjang penyinaran aktual dilakukan dengan ketelitian 0,1 jam
dengan ketentuan sebagai berikut :
Noda langsung bundar dihitung panjang garis tengah noda.
Noda berbentuk titik, setiap dua atau tiga kali dihitung 0,1 jam .
Noda berbentuk garis berlubang, dihitung dikurangi 0,1 jam setiap

pemusatan.
Noda berbentuk garis tidak berlangsung, tidak pada dikoreksi.

4.1.5.6 Kebaikan dan Kelemahan Alat


Kelebihannya adalah biasanya alat ini dipasang di atas pilar beton yang ditanam
sehingga posisinya tidak berubah dan alatnya tidak bergetar. Kelemahannya, panjang
garis pembakaran / waktu terjadinya pengukuran tergantung pada kepekaan pias dan
kejernihan bola kaca.
4.1.6.1 Penakar Hujan Tipe Hellman

Gambar 6. Penakar Hujan Tipe Hellman


4.1.6.2 Bagian-bagian Alat
Adapun beberapa bagian-bagian yagn terdapat pada penakar hujan jenis hellman,
yaitu:
1.

Bibir atau mulut corong

2.

Lebar corong

3.

Tempat kunci atau gembok

4.

Tangki pelampung

5.

Silinder jam tempat meletakkan pias

6.

Tangki pena

7.

Tabung tempat pelampung

8.

Pelampung

9.

Pintu penakar hujan

10. Alat penyimpan data


11. Alat pengatur tinggi rendah selang gelas (siphon)

12. selang gelas


13. Tempat kunci atau gembok
14. Panci pengumpul air hujan bervolume
4.1.6.3 Prinsip Kerja Alat
Jika hujan turun, air hujan masuk melalui corong, kemudian terkumpul dalam
tabung tempat pelampung. Air hujan ini menyebabkan pelampung serta tangkainya
terangkat atau naik keatas.Pada tangkai pelampung terdapat tongkat pena yang
gerakkannya selalu mengikuti tangkai pelampung Gerakkan pena dicatat pada pias
yang ditakkan/digulung pada silinder jam yang dapat berputar dengan bantuan tenaga
per.
Jika air dalam tabung hampir penuh (dapat dilihat pada lengkungan selang
gelas),pena
akan mencapai tempat teratas pada pias.Setelah air mencapai atau melewati puncak
lengkungan selang gelas,maka berdasarkan sistem siphon otomatis (sistem selang
air),air dalam tabung akan keluar sampai ketinggian ujung selang dalam
tabung.Bersamaan dengan keluarnya air,tangki pelampung dan pena turun dan
pencatatannya pada pias merupakan garis lurus vertikal.Jika hujan masih terusmenerus turun,maka pelampung akan naik kembali seperti diatas.Dengan demikian
jumlah curah hujan dapat dihitung atau ditentukan dengan menghitung garis-garis
vertical
4.1.6.4 Pemasangan Alat di Lapangan

Instalasi alat penakar hujan jenis hellman ini sama dengan alat penakar hujan
lainnya.Alat ini juga harus memperhatikan beberapa hal secara umumnya,antara lain:
1.

Tempat terbuka,bebas dari hambatan seperti bangunan,pepohonan dan lainlain.


Jarak ideal sebuah alat penakar hujan dari penghambat adalah 2x ketinggian
penghambat.

2.

Efek angin,Sebaiknya disekeliling alat dipasangkan penahan angin agar data


yang didapat lbih akurat.Penahan angin harus diletakkan mengelilingi alat tetapi
tidak boleh telalu dekat dan ketinggiannya tidak boleh terlalu tinggi dari alat.

3.

Ketinggian alat,Biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan/atau Negara


bersangkutan.BMG menetapkan ketinggian alat penakar hujan adalah 120 cm
diatas permukaan tanah berumput tipis.

.Cat,sebaiknya menggunakan warna putih/chrome untuk mengurangi efek


penguapan.

5.

Pelindung alat/pagar,apabila alat dianggap perlu untuk dikelilingi pagar,maka


ketinggian pagar tidak boleh melebihi tinggi alat(biasanya cukup 1 m). Pada
umumnya pemasangan penakar hujan janis hellman disesuaikan dengan pola
lapangan alat-alat. Penakar hujan dipasang atau disekrup diatas sebuah pondasi
yang terdiri dari lapisan papan,lapisan beton dan lapisan batu sungai.

4.1.6.5 Satuan Pengamatan dan Pengambilan Data


Pengamatan curah hujan dengan penakar hujan jenis hellman dilakukan setiap
hari pada jam-jam tertentu dan dalam periode tertentu,meskipun cuaca dalam keadaan
cerah atau pada musim kemarau.

4.1.6.6 Kebaikan dan Kelemahan Alat


Kelebihan dari penakar ini yaitu pengamatannya lebih efisien karena grafik akan
terbentuk secara otomatis dengan perubahan volume air di dalam tabung penampung.
Selain itu juga kelemahan pada ketelitian alat yang mencapai 2 mm sehingga data
yang dihasilkan kurang valid dibandingkan hellman. Hal ini disebabkan data yang
dihasilkan berdasarkan gerakan pena yang dimungkinkan bisa bergerak juga akibat
factor selain pena seperti halnya akibat tersenggol pengamat.
4.1.7.1 Penakar Hujan Tipe Observatorium

Gambar 7. Penakar Hujan Tipe Observatorium


4.1.7.2 Bagian-bagian Alat
Adapun beberapa bagian pada penakar hujan tipe observatorium, yaitu:
1. Mulut penakar seluas 100 cm
2. Corong sempit
3. Tabung penampung dengan kapasitas setara 300-500 mm CH
4.1.7.3 Prinsip Kerja Alat

Air hujan masuk kemulut penangkar kemudian melalui corong sempit masuk
ketabung penampung. Membuka kran untuk mengambil airnya, dilakukan 3 X
(pukul: 07.00, 13.00, 18.00 WITA).

4.1.7.4 Pemasangan Alat di Lapangan


1.

Alat di tempatkan dilapangan terbuka dengan jarak terhadap pohon atau


bangunan terdekat sekurang-kurangnya sama dengan tinggi pohon atau bangunan
tersebut.

2.

Permukaan mulut corong harus benar-benar horizontal dan di pasang pada


ketinggian 120 cm dari permukaan tanah.

4.1.7.5 Satuan Pengamatan dan Pengambilan Data


Pengamatan dilakukan setiap pukul 07.00 pagi.
1.

Data curah hujan harian didapat dengan jalan dibuka dan airnya ditampung
dalam gelas penakar yang bersatuann mm tinggi air.

2.

Ketelitian pengamatan sampai 0,2 mm.

3.

Hujan kurang dari 0,5 mm dianggap tidak ada meskipun tetap dicatat.

4.

Jika gelas penakar penuh, pengukuran dapat dilakukan dengan mengukur volume
air yang tertampung dengan gelas ukur biasa. Karena luas penampang
pengukuran curah hujan 100 cm sehingga setiap volume 10 cm berarti sama
dengan 1 mm tinggi permukaan air.

4.1.7.6 Kebaikan dan Kelemahan Alat

Kelebihan alat ini yaitu pemakaiannya mudah dan praktis, selain itu, ketelitian
alat cukup kecil sehingga memungkinkan untuk memperoleh data hasil pengukuran
yang lebih valid. Kekurangan peralatan ini yaitu memerlukan pengamatan berulang
untuk mendapatkan data hasil karena diamati harian.

4.1.8.1 Anemometer Tipe Cup Counter

Gambar 8. Anemometer
(dari kiri ke kanan) 1000cm, 200cm, dan 50cm
4.1.8.2 Bagian-bagian Alat
Adapun beberapa bagian-bagian yang terdapat pada anemometer tipe cup
counter, yaitu:
1. Mangkok anemo
2. Pencatat jarak
3. Tiang penyangga
4.1.8.3 Prinsip Kerja Alat

Dengan adanya baling-baling/mangkok yang berputar jika adanya angin,


kecepatan sudut putar mangkok terhadap sumbu vertikal dan kecepatan sudut putar
baling-baling pada sumbu horizontal sebanding dengan laju angin dan dengan desain
sistem mangkok dan baling-baling yang baik. Dengan mengukur banyaknya balingbaling berputar melalui alat mekanik dapat diketahui kecepatan anginnya.
4.1.8.4 Pemasangan Alat di Lapangan
1.

Alat dipasang pada tiang/menara dengan ketinggian 0,5 m, 2 m, atau 10 m sesuai


dengan masing-masing penggunaan.

2.

Pemasangan harus pada tempat yang terbuka, jarak benda terdekat paling sedkit
10 kali tinggi benda tersebut.

4.1.8.5 Satuan Pengamatan dan Pengambilan Data


1.

Tiap pagi hari pukul 07.00 dibaca angka pada alat pencatat.

2.

Rerata kecepatan angin dapat dihitung dari besarnya selisih pembacaan hari II
dengan pembacaan I (jarak tempuh angin) dibagi dengan waktu antara
bedapengamatan tersebut (periode satu hari : 24 jam).

3.

Satuan pengamatan adalah km/jam.

4.1.8.6 Kebaikan dan Kelemahan Alat


Kelebihannya adalah hasil pengukurannya dapat mewakili angin sampai
ketinggian 10m dari tanah jika tidak penghalang. Namun kekurangan dari alat ini
adalah penempatannya yang di atap bangunan akan menghasilkan pengukuran yang
kurang akurat.

4.1.9.1 Gunn Bellani

Gambar 9. Tempat Peletakkan Gunn Bellani


4.1.9.2 Bagian-bagian Alat
Adapun beberapa bagian-bagian yang terdapat pada gunn bellani, yaitu:
1.

Bola timah hitam yang dilapisi oleh zat hidroskopis yang berfungsi untuk
mennyerap sinar matahari

2.

Bola kaca

3.

Air murni

4.

Pipa kaca berskala

4.1.9.3 Prinsip Kerja Alat

Sinar matahari pada pagi hari pertama kali tiba pada permukaan kuba kaca,
kemudian diteruskan lewat ruang

hampa dalam bentuk panas dan

tiba pada

permukaan berwarna hitam. Warna hitam pada tembaga dimaksudkan agar semua
radiasi tiba dipermukaan bola tembaga dan dirubah dalam bentuk energi kalor.
Sehingga keadaan suhu dalam tabung bertambah. Suhu yang tinggi itu digunakan
untuk menguapkan ait dalam bola hitam. Makin tinggi intensitas radiasi matahari
makain banyak pula air yang menguap, uap ini selanjutnya akan masuk kedalam
tabung buret. Sehingga uap air tadi dirubah dalam bentuk cair.
4.1.9.4 Pemasangan Alat di Lapangan
Gunn bellani ini dipasang pada sebuah tabung yang ditanam di dalam tanah.
Juga yang nampak dari luar hanya bola kacanya karena ada pennyangga bola kaca
yang posisisnya sejajar dengan per mukaan tanah sehingga sinar matahari dapat
jatuh dengan tepat pada alat.sehingga pipa kaca dari alat ini tersem bunyi dalam
tabung di dalam tanah.
4.1.9.5 Satuan Pengamatan dan Pengambilan Data
Pengukuran dilakukan sekali dalam 24 jam yaitu pada pagi hari, Pukul: 07.00 WI
/ 00.00 GMT. Cara pengolahan data yaitu jumlah pembacaan hari ini dikurangi
dengan skala awal hari sebelumnya.
4.2 Pembahasan
Taman alat-alat Klimatologi merupakan taman dimana alat-alat pengukur unsurunsur cuaca dan iklim ditempatkan. Taman alat ini dibangun pada luasan yang cukup
sehingga dapat menampung berbagai alat pengukur tanpa menyebabkan gangguan

satu sama lain dan berfungsi sebagai Stasiun Klimatologi yang dapat mewakili daerah
yang berhubungan disekitarnya. Taman alat klimatologi di stasiun klimatologi
indrapuri berada pada elevasi 64.0 m dpl. Persyaratan untuk membangun taman alatalat klimatologi perlu memperhatikan ketentuan, yaitu tanah yang datar atau rata
dengan ditanami rumput pendek tempat terbuka, yang letaknya jauh dari pohonpohon dan bangunan penghalang yang tinggi, ketinggian dari pohon atau bangunan
penghalang disekitarnya tidak boleh melebihi 10 meter, mempunyai pagar keliling
setinggi 1 meter, untuk melindungi alat-alat dari gangguan hewan dan lain-lainnya,
arah taman alat memanjang dari utara ke selatan, dan penempatan alat-alat pengukur
unsur-unsur iklim ditentukan sedemikian rupa sehingga tidak saling menggangu satu
sama lain.
Alat-alat pada stasiun klimatologi juga dapat kerusakkan atau berhenti berfungsi
oleh beberapa faktor, yaitu tidak ada perawatan dan fenomena alam. Kerusakan
secara tanpa perawatan terjadi ketika peralatan tidak atau kurang dirawat seperti yang
diharuskan oleh manufaktur. Adapun faktor lain yang menyebabkan kerusakan alat,
yaitu kejadian fenomena alam seperti gempa bumi, siklon, dan tsunami.
Menurut WMO (1988), dalam penempatan stasiun klimatologi pertanian
diutamakan di stasiun percobaan Agronomi, Hortikultura, Peternakan, Kehutanan,
hidrologi, lembaga penelitian tanah, Kebun raya ataupun cagar alam serta daerah
yang perubahan cuacanya sering menyebabkan kerugian. Penempatan stasiun
klimatologi sedapat mungkin memenuhi syarat antara lain :

a.

Sekeliling luasan terpelihara dengan tanaman penutup (rerumputan atau tanaman


yang rendah) sebatas pada pengaruh gerakan angin,

b.

Disekitar atau dekatnya tidak ada jalan raya (jalan besar),

c.

Tempatnya pada tanah yang datar,

d.

Bebas atau jauh dari bangunan dan pohon-pohon besar,

e.

Letak stasiun jangan terlalu jauh dengan pengamat dan keperluan pengamatan.
Hal ini akan lebih baik dalam ketepatan waktu dan kondisi yang dapat dipercaya.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun beberapa alat-alat klimatologi yang digunakan dalam stasiun klimatologi
yaitu Automatic Weather System (AWS), Campbell Stokes, Penakar Hujan tipe OBS
(Observatorium), Penakar Hujan tipe Hellman, Termometer Tanah Vegetasi,
Termometer Tanah Non Vegetasi, Cup Counter Anemometer, Wind Vane
Anemometer, Sangkar Meteorologi, Termometer Bola Basah, Termometer Bola
Kering, Termometer Maksimum, Termometer Minimum, Piche Evaporimeter,
Psykrometer Standar, dan Panci Evaporimeter.
Alat-alat klimatologi memiliki fungsi, bagian-bagian yang penting dari setiap
alat dan pinsip kerja yang berbeda-beda. Cara kerja tiap alat ukur akan menghasilkan
data pencatatan yang akurat, bila penggunaannya dilakukan dengan baik dan benar
tanpa kesalahan. Cara penggunaan alat-alat klimatologi disesuaikan dengan fungsi

masing-masing dari alat tersebut.Pengamatan umumnya dilakukan pada pagi hari dan
berlangsungnya bisa dalam setiap jam, harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan.
5.1 Saran
Melalui praktek lapang agroklimatologi dibahas mengenai cara penggunaan serta
pengolahan data peralatan pada stasiun klimatologi tersebut agar praktikan dapat
memahami cara kerja lebih detail.

DAFTAR PUSTAKA
Basoeki, M. 1986. Pengantar Meteorologi. Purwokerto: UMP.
Bilong,

A. 2014. Pengenalan Stasiun Meteorologi Dan Peralatannya.


(http://asong091294.blogspot.co.id/2014/03/pengenalan-stasiun-meteorologi
-dan.html). Diakses di Makassar pada tanggal 19 Februari 2016

Bunganaen, W., Krisnayanti DS., dan Klau, YC. 2013. Analisis Hubungan Tebal
Hujan dan Durasi Hujan Pada Stasiun Klimatologi Lasiana Kota Kupang.
Jurnal Teknik Sipil, Vol. II, No. 2.
Fitria W, Pratama MS. 2013. Pengaruh Fenomena El Nino 1997 dan La Nina 1999
Terhadap Curah Hujan di Biak. Jurnal Metereologi dan Geofisika Volume 14,
Nomor 2 - Tahun 2013
Fontain, A. 2002. Meteorology. (http://www.kompas.com/2002/04/meteorology).
Diakses di Makassar pada tanggal 19 Februari 2016
Hasan, Urip Muhammad. 1970. Dasar-Dasar Meteorlogi Pertanian. Jakarta: PT.
Soeroengan.
Kartasapoetra. 1987. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bina Aksara. Jakarta.
Khairullah. 2010. Alat Monitoring Kualitas Udara. (http://ustadzklimat.blogspot.
co.id/2010/10/alat-monitoring-kualitas-udara.html). Diakses di Makassar pada
tanggal 19 Februari 2016.
Neiburger, dkk.1982. Memahami Lingkungan Atmosfer Kita. Bandung: ITB
Nurrohmah, H. 2013. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
(http://habibahnurrohmah.blogspot.co.id/2013/02/badanmeteorologi-klimatol
ogi-dan.html). Diakses di Makassar pada tanggal 19 Februari 2016
Runtunuwu, E., Syahbuddin, H., dan A. Pramudia. 2008. Validasi Model
Pendugaan Evapotranspirasi : Upaya Melengkapi Sistem Database Iklim
Nasional. Jurnal Tanah dan Iklim 27: 8 9.
Setiawan, A. C. 2003. Otomatisasi Stasiun Cuaca Untuk Menunjang Kegiatan
Pertanian. (http://www.bmg.ac.id/2003/02/otomatisasi-stasiun-cuaca-untukmenunjang-kegiatan-pertanian). Diakses di Makassar pada tanggal
19 Februari 2016

Setiawan, E. 2009. Kajian Hubungan Unsur Iklim Terhadap Produktivitas Cabe


Jamu (Piper retrofractum Vahl) di Kabupaten Sumenep. Jurnal Agrovikor
Volume 2 No.1
Suci, H. 2015. Laporan Praktikum Klimatologi Pengenalan Alat-Alat Klimatologi.
(http://harnisuci06.blogspot.co.id/2015/01/laporan-klimatologi-pengenalanalat.html). Diakses di Makassar pada tanggal 19 Februari 2016
Tjasyono, Bayong. 2004. Klimatologi Edisi ke -2. Penerbit ITB. Bandung
Prawiroardoyo, S. 1996. Meteorologi. Institut Teknologi Bandung, Bandung
Ralistiya S. 2010. Tugas Laporan BMG. (https://799m.wordpress.com/2010/07/02/
tugas-laporan-bmg/). Diakses di Makassar pada tanggal 1 Maret 2016.
WMO, 1988. Guide to Wave Forecasting and Analysis. WMO-No.702. GenevaSwitzerland: secretariat of WMO.