Anda di halaman 1dari 16

KELOMPOK 4 :

Putri Wika Wahyuni B10012032


Suci Rahmi Tamara B10012231
Triasi Sarsia
B10012247
Yuli Astuti B10012234
Ria Agustina
B10012215

Teori Cornelius Van Bijnkerhoek


Teori ini merupakan kriteria jangkauan tembakan
meriam, dalam bukunya Bijnkerhoek meletakkan dasardasar dari laut teritorial dengan megatakan bahwa
kedaulatan negara dapat diperluas keluar sampai kepada
kapal-kapal dilaut sejauh jangkauan tembakan meriam.
Pada abad ke 18 jangkauan rata-rata dari tembakan
meriam adalah sejauh 3 mil.

Territoriale Zee En Maritiem Kringen


Ordonantie (TZMKO) Tahun 1939

Usaha Kodifikasi Laut


Teritorial
1.

2.

Konferensi Kodifikasi oleh Volkenbond 1930 di Den Haag


Konferensi ini diikuti oleh 37 negara. Konferensi ini tidak
mencapai kata sepakat karna terdapat 9 Negara yang
mempertahankan 3 mil limit. Hal ini menyebabkan kandasnya
usaha LBB untuk mengadakan kodifikasi hukum mengenai
penguasaan laut.
Konferensi Hukum Laut diJenewa tahun 1958
Dalam konferensi ini laut teritorial baru dapat
dikodifikasikan, karena ada nya pembagian pekerjaan konferensi
jenewa dalam komite-komite yang masing-masing bertugas
membahas suatu bagian dari materi hukum yang luas, yaitu
didalam komite yang bertugas membahas lebar laut teritorial dan
Zona Kontinen (Komite 1).

Istilah-Istilah Laut
Teritorial
a.

Menurut Brownlie :
1. the maritime belt
2. marginal sea
3. territorial water

b.

Menurut Brierly :
1. territorial sea
2. internal water

Pengertian Laut Teritorial


Laut teritorial atau (perairan teritorial) adalah wilayah
kedaulatan suatu negara pantai selain wilayah daratan dan
perairan pedalamannya, pengertian kedaulatan ini meliputi ruang
udara di atas laut teritorial serta dasar laut dan tanah di bawahnya
dan, kedaulatan atas laut teritorial dilaksanakan dengan menurut
ketentuan konvensi perserikatan bangsa_bangsa mengenai hukum
laut (United Nations Convention on the Law of the Sea).

1.
2.
3.
4.
5.

Negara mempunyai kedaulatan yang penuh dalam


perairan teritorialnya dan dapat menyelenggarakan serta
menjalankan tindakan-tindakan seperlunya untuk menjamin
antara lain :
Pertahanan keselamatan negara terhadap gangguan dari
luar
Pengawasan atas keluar masuknyaorang asing atau
imigrasi
Penyelenggaraan peraturan fiskal atau bea dan cukai
Kepentingan perikanan
Pertambangan dan hasil-hasil tambang lainnya

Batas Batas Laut Teritorial


Batas-batas laut teritorial suatu Negara pantai dilakukan
dengan cara penarikan sejauh 12 mil dari garis pangkal terluar yang
merupakan titik pasang surut terendah seperti yang diatur dalam Pasal
5 UNCLOS dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996. Namun
UNCLOS dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996 memberikan
pengecualian terhadap wilayah laut yang memiliki pantai yang saling
berhadapan antar Negara pantai.

A. Pasal 10 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996 menyebutkan bahwa :

(1) Dalam hal pantai Indonesia letaknya berhadapan atau berdampingan dengan negara
lain, kecuali ada persetujuan yang sebaliknya, garis batas laut teritorial antara Indonesia
dengan negara tersebut adalah garis tengah yang titik-titiknya sama jaraknya dari titik- titik
terdekat pada garis pangkal dari mana lebar laut teritorial masing-masing negara diukur.

(2)Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku apabila terdapat alasan
hak historis atau keadaan khusus lain yang menyebabkan perlunya menetapkan batas
laut teritorial antara kedua Negara menurut suatu cara yang berbeda dengan ketentuan
tersebut

Hak Lintas damai dalam laut teritorial


Dengan ketentuan UNCLOS Sub Bagian A. Pasal
17, dengan tunduk pada ketentuan konvensi ini, kapal
semua negara, baik negara berpantai ataupun negara tak
berpantai, manikmati hak lintas damai melalui laut
teritorial
1. Pengertian hak lintas damai
Hak setiap kapal untuk berlayar melintasi laut teritorial
& perairan kepulauan suatu Negara, sepanjang tidak
merugikan kedamaian, ketertiban atau keamanan Negara
tersebut dengan cara lintas terus-menerus, langsung serta
secepat mungkin

2. Kewajiban Pengguna Lintas Damai


1. Pasal 24 UNCLOS 1982 :
a. Tidak boleh menghalangi lintas
b. Tidak boleh membuat syarat sifat menolak
c. Tidak boleh adakan diskriminasi formal/nyata kapal-kapal
dari suatu Negara
d. Harus umumkan secara tepat atas setiap bahaya
terhadap pelayaran
2. Pasal 26 UNCLOS 1982 :
*Tidak boleh mengadakan pungutan, kecuali hanya sebagai
pembayaran bagi pelayanan khusus (pasal 10(1) PP 36/2002)

Jalur Jalur Laut dalam Laut


Teritorial
Negara pantai guna keselamatan
pelayaran dapat mengharuskan kapal-kapal
asing untuk melalui jalur-jalur laut khusus
dalam melaksanakan hak lintas damai
perairan teritorialnya dan memperhatikan
aturan-aturan pemisahan lalulintas laut.

Laut Teritorial Indonesia

Terimakasih

Anda mungkin juga menyukai