Anda di halaman 1dari 19

SUPERPOSISI GELOMBANG

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Optika
Dosen pengampu: Rena Denya, M.Si.

Oleh:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ade Riana
Asri Silvia
Diana Susanti
Fajar Moeslim
Ida Nursaidah
Tantri Mizhar
Yuli Yuliani

1137030001
1137030012
1137030018
1137030026
1137030032
1137030070
1137030080

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur marilah kita panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan begitu banyak nikmat yang mana makhluk-Nya pun tidak akan menyadari
begitu banyak nikmat yang telah didapatkan dari Allah SWT. Selain itu, penulis juga merasa
sangat bersyukur karena telah mendapatkan hidayah-Nya baik iman maupun islam.
Dengan nikmat dan hidayah-Nya pula kami dapat menyelesaikan penulisan makalah
ini yang merupakan tugas mata kuliah Optika. Penulis sampaikan terimakasih sebesarbesarnya kepada dosen pengampu mata kuliah Optika, Ibu Rena Denya, M.Si.dan semua
pihak yang turut membantu proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari dalam makalah ini masih begitu banyak kekurangan-kekurangan
dan kesalahan-kesalahan baik dari isinya maupun struktur penulisannya, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran positif untuk perbaikan dikemudian hari.
Demikian semoga makalah ini memberikan manfaat umumnya pada para pembaca
dan khususnya bagi penulis sendiri. Amin.

Bandung, April 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB1. PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar belakang........................................................................................1
1.2 Rumusan masalah.................................................................................1
1.3 Tujuan.........................................................................................................2
BAB 2. PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1 Superposisi Gelombang.......................................................................3
2.2 Prinsip Superposisi Gelombang........................................................4
2.3 Superposisi Gelombang Pada Frekuensi yang sama................5
2.3.1 Metode Aljabar..............................................................................5
2.3.2 Metode Kompleks.........................................................................6
2.4 Superposisi Gelombang dengan Frekuensi berbeda...............7
2.5 Interferensi...............................................................................................9
2.6 Deret Fourier..........................................................................................11
BAB 3. PENUTUP..............................................................................................13
3.1 Kesimpulan..............................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................14

ii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam Kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai banyak fenomena
alam, salah satunya gelombang. Contohnya pada suatu permukaan air
yang tenang diberikan suatu gangguan, misalnya dengan melemparkan
batu ke permukaan air tersebut maka akan terjadi suatu gelombang air
seperti ombak yang ada di lautan. Selain itu, apabila kita mempunyai tali
yang salah satunya ujungnya diikatkan pada sebuah pohon dan ujung
satunya di beri getaran maka pada tali tersebut akan terjadi sebuah
gelombang yang bergerak bolak balik sampai tali tersebut berhenti
bergetar.

Gelombang

medium,tanpa

disertai

adalah

getaran

perambatan

yang

partikel

merambat

- partikel

melalui

mediumnya.

Gelombang dapat digolongkan berdasarkan medium perambatannya,


antara

lain gelombang mekanik

dan gelombang elektromagnetik .

Sedangkan berdasarkan arah getarannya, gelombang dibedakan menjadi


gelombang transversal dan gelombang longitudinal. Berdasarkan perubahan
amplitude, gelombang dibedakan menjadi dua yaitu gelombang berjalan dan gelombang
stasioner. (Siswanto. 2009. Hal.2).
Apabila dua gelombang atau lebih merambat pada medium yang
sama. Maka, gelombang-gelombang tersebut akan datang di suatu titik
pada saat yang sama sehingga terjadilah superposisi gelombang. Artinya,
simpangan gelombang-gelombang tersebut di tiap titik dapat dijumlahkan
sehingga akan menghasilkan sebuah gelombang baru. Hasil superposisi
dua gelombang atau lebih akan menghasilkan interferensi konstruktif
(positif) atau interferensi destruktif (negatif). (Tipler, Paul,A 2001.
Hal.482).
1.2 Rumusan Masalah
Beberapa pokok masalah yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini diantaranya
sebagai berikut:
1

1.
2.
3.
4.
5.

Apakah yang dimaksud dengan superposisi gelombang ?


Bagaimana prinsip dari superposisi gelombang ?
Bagaimana superposisi gelombang dengan frekuensi yang sama?
Apakah yang dimaksud dengan interferensi gelombang ?
Bagaimana superposisi gelombang dengan frekuensi berbeda ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu
1. Mengetahui tentang superposisi gelombang.
2. Mengetahui tentang prinsip superposisi gelombang.
3. Mengetahui Superposisi gelombang dengan frekuensi yang sama
4. Mengetahui tentang interferensi gelombang.
5. Mengetahui Superposisi gelombang dengan frekuensi berbeda

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 SUPERPOSISI GELOMBANG
Gelombang yang dihasilkan oleh suatu benda tidak selalu berupa gelombang tunggal,
tetapi bisa saja merupakan superposisi (gabungan) dari dua atau lebih gelombang tunggal.
Superposisi dari sejumlah gelombang tunggal dapat dihitung dengan menjumlahkan tiap-tiap
simpangan.

Gambar 2.1. Superposisi Gelombang


Superposisi gelombang merupakan penjumlahan dua gelombang atau lebih yang dapat
melintasi ruang sama tanpa ada ketergantungan satu gelombang dengan yang lain. Elastisitas
medium akan mempengaruhi bentuk gelombang yang dihasilkan. (Gians, 2015).
Setiap komponen bidang gelombang elektromagnetik (Ex, Ey, Ez, Bx, By, dan Bz)
memenuhi persamaan gelombang tiga dimensi:
1 2
= 2 2
v t
2

2 2 2 1 2
+ 2+ 2 = 2 2
2
x y x
v t

(2.1)

(2.2)

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah persamaan ini sifatnya linier,yaitu
(r,t) dan turunannya hanya muncul dalam orde pertama. Konsekuensinya adalah, jika

(r,t) (i = 1, . . ., n) merupakan solusi dari (2.2), maka kombinasi liniernya juga merupakan

solusi. Sehingga:
n

( r , t )= C i i (
r ,t ) (2.3)
i=1

juga memenuhi (2.2), dengan Ci adalah konstanta sebarang. Persamaan (2.3) juga memberi
tahu bahwa kita bisa menuliskan sebuah gelombang sebagai jumlah dari gelombang yang
sederhana. Ini dinamakan sebagai prinsip superposisi dan mengijinkan kita untuk
menganalisa hampir semua situasi. (Imamal Muttaqien, 2010).
2.2 Prinsip Superposisi Gelombang
Hans C. Ohanian mengartikan prinsip superposisi

sebagai : the resultant

instantaneous deformation is the sum of the individual instantaneous deformations. Jika


pada suatu tempat bertemu dua buah gelombang, maka resultan gelombang di tempat tersebut
sama dengan jumlah dari kedua gelombang tersebut. Peristiwa ini disebut sebagai prinsip
superposisi linear. (Novitayani, 2015).
Prinsip ini dapat diaplikasikan pada semua jenis gelombang, termasuk gelombang
bunyi, gelombang permukaan air, dan gelombang elektromagnetik seperti cahaya. Contoh
prinsip superposisi dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika gelombang-gelombang radio
dari banyak stasiun radio frekuensi masing-masing lewat melalui antena radio. Arus listrik
yang ditimbulkan oleh superposisi dari semua gelombang di dalam antena tersebut adalah
sangat kompleks. Walaupun demikian, kita masih dapat mendengarkan acara kesayangan dari
stasiun radio tertentu. Sinyal yang kita terima dari stasiun radio tersebut pada prinsipnya
adalah sama seperti sinyal yang akan kita terima dari stasiun tersebut.
Contoh kedua adalah kejadian dalam pertunjukan musik. Dalam pertunjukan tersebut,
Kita tetap masih dapat membedakan suara (gelombang bunyi) biola dan suara piano,
meskipun suara seluruh alat-alat musik yang sampai ke telinga begitu riuh.
Pentingnya prinsip superposisi dapat kita lihat dari pengertian prinsip superposisi.
Prinsip superposisi merupakan penjumlahan beberapa gelombang. Jika prinsip superposisi
berlaku, Kita dapat menyelidiki dan menyimpulkan bahwa suatu gerak gelombang
sebenarnya hanya merupakan gabungan dari gelombang-gelombang sederhana. Dengan
demikian, prinsip superposisi sangat membantu kita dapat menyederhanakan suatu gerak
gelombang.

2.3 Superposisi gelombang pada frekuensi yang sama


Ada beberapa cara matematis untuk menjumlahkan dua atau lebih gelombang yang
memiliki frekuensi dan panjang gelombang yang sama. mari kita periksa dengan pendekatan
yang berbeda sehingga, dalam situasi tertentu, kita bisa menggunakan salah satu yang paling
sesuai.
2.3.1

Metode Aljabar

Solusi dari persamaan diferensial gelombang dapat ditulis dalam bentuk


t( kx+ )

E ( x , t )=E0 sin

di mana

(2.4)

E0 adalah amplitudo gelombang harmonik yang merambat sepanjang sumbu

x positif. untuk memisahkan fase ruang dan waktu maka:


( x , )=(kx+ )

(2.5)

Sehingga :
E ( x , t )=E0 sin[t + ( x , ) ]

(2.6)

Misalkan dua buah gelombang tersebut:


t + 1
()
E1=E 01 sin

(2.7a)

t + 2
()
E2=E 02 sin

(2.7b)

Dan

Masing-masing dengan frekuensi dan kecepatan yang sama, saling berdampingan


dalam ruang. Resultan dari gangguan ini adalah superposisi linier dari dua buah gelombang:
E=E 1+ E2

1
t +

E=E 01 sin
cos t sin 1
sin t cos 1 +

E=E01
Ketika waktu diabaikan , maka:
E
E

2
01 sin 1 + E02 sin cos

t +
( 01 cos 1+ E 02 cos 2) sin
E=

(2.8)

Karena waktu konstan maka :


E0 cos 1=E01 cos 1 + E 02 cos 2

(2.9)

Dan
E0 sin 2 =E01 sin 1+ E02 sin 2

Mengingat bahwa

(2.10)

cos 2 + sin 2 =1, kuadrat penjumlahan dari persamaan (2.9)

dan (2.10) adalah:


2
( 1)
2
2
E0 =E 01 + E02 2 +2 E 01 E02 cos

(2.11)

itulah pernyataan yang dicari untuk E0 amplitudo resultan gelombang. sekarang untuk
mendapatkan fase, kita membagi Persamaan (2.10) dengan (2.9):
tan =

11

E 01 sin 1 + E02 sin 2


E01 cos 1 + E02 cos 2

(2.12)

Dengan (2.9) dan (2.10), (2.8) bisa dituliskan:


E=E 0 cos sin t + E0 sin cos t
E0 sin(t + )

(2.13)

Hasil ini menunjukkan kepada kita sebuah gelombang yang berasal dari superposisi
dua gelombang. Gelombang ini tetaplah merupakan gelombang harmonik dengan frekuensi
yang sama tetapi amplitudo dan fasenya berbeda. Sebuah konsekuensi yang penting adalah
kita bisa mensuperposisikan sejumlah gelombang dengan frekuensi yang sama dan hasilnya
adalah sebuah gelombang yang harmonik. (Hecht, E. 2002)
2.3.2

Metode Kompleks
Telah kita lihat sebelumnya bahwa gelombang bisa direpresentasikan dengan bilangan

kompleks. Penggunaan bilangan kompleks juga membuatpenjumlahan gelombang menjadi


lebih sederhana. Ingat kembali bahwasebuah gelombang:
kx t+ 1
()
E1=E 01 cos

(2.14)

Atau
E1=E 01 cos ( 1 t)

(2.14a)

Kemudian dapat kita tulis:


E1=E 01 e i( t )
1

(2.15)

yang memberikan kepada kita bahwa hanya suku imajiner saja yang kita perhatikan.
Persamaan (2.14) berlaku untuk gelombang yang merambat ke arah-x positif,
E1=E 01 e i( +t)
1

(2.16 )

jika gelombang tersebut merambat ke arah-x negatif maka:


E1=E 01 e i( t)
1

(2.17)

Dengan pendekatan gelombang kompleks, jika terdapat N buah gelombang dengan frekuensi
yang sama dan fase berbeda maka:
N

E= E0 j
j=1

13

E0 j e i(t + )
j

j=1

[
N

j=1

E0 j ei e it (2.18)
j

dengan
N

E0 e = E 0 j ei 1(2.18 a)
i

j=1

yang didefinisikan sebagai amplitudo superposisi gelombang kompleks. Fluks densitasnya


diberikan oleh:

E02=( E0 ei )( E0 e i ) ,(2.19)
Untuk kasus dua gelombang:
E02=( E01 e i + E02 e i ) ( E01 ei + E02 ei )
1

E02=E 012 + E022 + E01 E 02 [e

i ( 1 2)

i ( 1 2)

+e

atau

E02=E 012 + E022 +2 E 01 E02 cos ( 1 2 )

(2.20)

2.4 Superposisi Gelombang dengan Frekuensi Berbeda


Dalam kenyataan sehari-hari, kita akan sangat sulit menemukan superposisi dua buah
gelombang (atau lebih) dengan frekuensi yang sama, melainkan dengan frekuensi yang
berbeda. Kasus gelombang dengan frekuensi yang sama hanyalah kasus khusus dan kita
pelajari di sini untuk memudahkan pekerjaan. Jika kita memiliki dua buah gelombang dengan
frekuensi berbeda yang melewati suatu daerah pada waktu yang sama, katakanlah:
k1
( x1 t )
E1=E 01 cos
Dan

15

(2.21)

k2
( x2 t )
E2=E 01 cos

(2.22)

Agar lebih sederhana, kita menganggap amplitudo dan fase awal gelombang tersebut
sama. Resultan gelombang tersebut adalah:
k2
( x 2 t )
cos ( k 1 x1 t ) +cos
E=E 01

2 E 01 cos

1
1
k 1+ k 2 ) x( 1+ 2 ) t ] cos [ ( k 1k 2) x( 12 ) t ] ,
(
[
2
2

(2.23)

persamaan di atas diperoleh dengan menggunakan identitas:


1
1
cos +cos =2 cos ( + ) cos ( ) .
2
2
Persamaan (2.23) bisa disederhanakan dengan mendefinisikan:
1
=

( + ) ,
2 1 2

(2.24)

1
k = ( k 1 +k 2 ) ,
2

(2.25)

sebagai rata-rata kecepatan sudut,

sebagai rata-rata bilangan perambatan,


m=

( 12 ) ,
2

(2.25)
Sebagai frekuensi modulasi, dan
km=

(k 1 k 2 )
,
2

(2.26)

sebagai modulasi bilangan perambatan. Dengan menggunakan definisi ini, (2.23)


menjadi:
E ( x , t )= 0 ( x , t ) cos ( k x
t),
Dengan

17

(2.27)

Mari kita lihat kasus


dan

km
( xm t ).
0 ( x , t )=2 E01 cos

(2.28)

1 2 Maka

dan

nilainya cukup besar dan

(x,t) adalah fungsi yang variasinya lambat. Sedangkan

E (x,t) merupakan fungsi

yang bervariasi dengan cepat. Fluks densitasnya adalah kuadrat dari (11.35):
km
( xm t ).
2
0 ( x , t )=4 E012 cos 2
2 km
( x2 m t )
1+cos .
2 E012

(2.29)

Berarti fluks densitas resultan gelombang tersebut berosilasi sekitar


frekuensi sudut 2 m

1 -

2 E 012 dengan

yang dinamakan sebagai frekuensi denyut (beat

frequency).
Kita bisa mengatakan bahwa gelombang resultan memiliki sebuah amplitudo
gelombang pembawa frekuensi tinggi yang dimodulasi oleh fungsi cosinus. Jika kita
menganggap tiap komponen gelombang adalah pembawa, kita melihat tiap gelombang
bergerak dengan kecapatan fase normalnya:

(
t )
v=
(2.30)

(x)
x

Dengan =( kxt ) . Jika kita mengerjakan ini pada (2.27) kita memperoleh
=( k x
t)
sehingga:
v=

(2.31)

yang tidak lain adalah kecepatan fase resultan gelombang.


Jika kita menggunakan pendekatan yang sama pada frekuensi termodulasi (2.28).
Dalam hal ini modulasinya memiliki kecepatan pemisah:
19

v=

m
,
km

(2.32)

yang dinamakan kecepatan grup.


Dalam kondisi fisis yang sering kita temui, frekuensi

bergantung pada panjang

gelombang, atau ekivalen dengan bilangan gelombang, k. Hubungan ini, yaitu


dinamakan dengan hubungan dispersi. Jangkauan frekuensi

(k),

yang berpusat di sekitar

, biasanya kecil. Dan dengan menggunakan (2.33):


v g=

d
dk
v +k

dv
,
dk

(2.33)

kita menggunakan definisi =kv pada baris terakhir.

2.5 Interferensi
Salah satu sifat gelombang adalah adanya gejala interferensi gelombang. Interferensi
merupakan proses superposisi gelombang. Interferensi gelombang terjadi jika dua buah
gelombang atau lebih yang koheren bertemu pada suatu titik. Interferensi ini akan saling
memperkuat (Interferensi konstruktif) jika fase gelombang pada titik tersebut sama dan akan
saling memeperlemah (Interferensi destruktif) jika fasenya berlawanan. (Siswanto. 2009).
Syarat yang harus dipenuhi agar terjadi interferensi yaitu kedua gelombang harus
koheren yaitu kedua gelombang memiliki beda fase yang selalu tetap. Sehingga kedua
gelombang memiliki frekuensi yang sama. Beda fase dari kedua gelombang ini bisa nol
,tetapi tidak harus nol.
Kedua gelombang harus memiliki amplitudo yang hampir sama, jika tidak interferensi
yang dihasilkan kurang mencolok.
Pola interferensi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Interferensi saling menguatkan (konstruktif)
21

Terjadi bila kedua gelombang yang berpadu memiliki fase yang sama. Amplitudo
gelombang paduan sama dengan dua kali amplitudo tiap gelombang.
2. Interferensi saling melemahkan (destruktif)
Kedua gelombang saling memperlemah atau meniadakan. Terjadi bila kedua
gelombang yang berpadu berlawanan fase. Amplitudo gelombang paduan sama dengan nol.
Beda fase bisa disebabkan oleh beda jarak yang ditempuh olehgelombang dan juga
beda sudut fase awal, yaitu:
=( 2 1 )

2
'
( x x ) +( 2 1)
2 1

(2.34)

dengan x2 dan x1 adalah jarak dari kedua sumber gelombang ke titik pengamatan, dan
kita menggunakan definisi k = 2 / . Jika kedua buah gelombang berasal dari sumber
yang sama tetapi menempuh rute yangberbeda maka 1 = 2, sehingga:
=

2
n ( x 2x1 )
0

Di sini n merupakan indeks bias, n =

(2.35)

/ 0, dan

0 adalah panjang gelombang di

vakum. Kuantitas n (x2 - x1) dikenal sebagai beda lintasanoptik, dan sering disimbolkan
sebagai

Dengan definisi, (2.35) bisa dituliskan sebagai:


=k 0

(2.36)

dengan k0 adalah bilangan gelombang dalam vakum. Sehingga kita bisa melihat satu
rute lebih jauh sebesar
Gelombang dengan

dibandingkan rute yang lain.


1 =

yang konstan, tidak bergantung nilainya,

dinamakan sebagai gelombang koheren. Jika terdapat N buah sumber gelombang yang saling
bebas, dengan sumbernya mengemisikan sebuah gelombang dalam jangkauan 0 < t gel < tmaks,
sehingga gelombang tersebut (Imamal Muttaqien. 2010)
2.6 Deret Fourier

23

Untuk mendeskripsikan gelombang secara umum, yang perlu dilakukan adalah


memperluas analisis yang sudah kita pelajari untuk kasus gelombang anharmonik. Hal ini
bisa dilakukan dengan teorema Fourier, yang mengatakan bahwa sebuah fungsi, f(x), yang
memiliki periode spasial

, bisa dibentuk oleh fungsi-fungsi harmonik yang panjang

gelombangnya adalah perkalian pecahan dari (yaitu ,/2, /3; dll). Secara matematik, bisa
kita tuliskan:
f ( x )=C 0 +C1

2
2
x + 1 +1 cos
x+ 2 +

(2.37)
2

dengan C adalah konstanta. Deret Fourier ini biasanya dituliskan dengan identitas
trigonometrik yaitu
(mkx+ m )= Am cos mkx+ Bm (mkx)
C m cos

(2.38)

Sehingga

A0
f ( x )= + A m cos mkx+ B m sin mkx
2 m=1
m=1

A0 ,

Koefisien

Am

dan

(2.39)

B m bisa diperoleh dengan cara yang dinamakan

analisisFourier. Nilainya bergantung pada f(x), yang bisa kita lihat dari argument berikut.
Untuk memperoleh

A 0 , integralkan (2.39) terhadap satu periode, katakanlah 0 sampai :



A0
f ( x ) dx= 2 dx + A m cos mkx+ Bm sin mkx
m=1 0
m=1 0
0
0

Dengan

cos mkx dx= sin mkx dx=0


0

(2.40) bisa dituliskan sebagai:

f ( x ) dx=
0

oleh karena itu:

25

A0
A
dx = 0
2
2

(2.40)

2
A 0= f ( x ) dx
0
Dengan cara yang sama

(2.41)

A m dan B m bisa ditentukan, ingat bahwa:

cos mkx sin nkx dx =0


0

cos mkx cos nkx dx = mn ,


2

sin mkx sin nkx dx= 2 mn ,


0

dengan m dan n adalah bilangan bulat positif tak nol. Simbol mn dikenal
sebagai delta Kronecker yang memenuhi:

mn= 1 jikam=n
0 jika m n
(2.42)
kita bisa mengintegralkan
memperoleh:

f ( x ) cos nkx dx=


0

(2.39)

setelah

mengalikan

dengan

cos((nkx))

untuk


A0
cos mkx dx+ A m cos mkx cos nkx dx
2
m=1 0

+ Bm sin mkx cos nkx dx


m=1 0

An

Maka

2
A n= f (x ) cos nkx dx
0

(2.43)

Jika kita menggantikan dengan sin((nkx)) pada (2.39), kita memperoleh

B n=

27

2
f (x) sin nkx dx
0

(2.44)

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dapat kami simpulkan bahwa Gelombang yang dihasilkan oleh suatu benda tidak selalu
berupa gelombang tunggal, tetapi bisa saja merupakan superposisi (gabungan) dari dua atau
lebih gelombang tunggal. Superposisi gelombang merupakan penjumlahan dua gelombang
atau lebih yang dapat melintasi ruang sama tanpa ada ketergantungan satu gelombang dengan
yang lain. prinsip superposisi dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika gelombanggelombang radio dari banyak stasiun radio frekuensi masing-masing lewat melalui antena
radio. Selain itu, kejadian dalam pertunjukan musik. Dalam pertunjukan tersebut, Kita tetap
masih dapat membedakan suara (gelombang bunyi) biola dan suara piano. Superposisi
gelombang dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu superposisi gelombang dengan
frekuensi sama dan superposisi gelombang dengan frekuensi berbeda. Pada superposisi
gelombang dengan frekuensi sama, ada beberapa cara matematis untuk menjumlahkan dua
atau lebih gelombang yang memiliki frekuensi dan panjang gelombang yang sama yaitu
dengan menggunakan metode aljabar dan metode kompleks. Salah satu sifat gelombang
adalah adanya gejala interferensi gelombang. Interferensi merupakan proses superposisi
gelombang. Interferensi

gelombang terjadi

koheren bertemu pada suatu titik.


29

jika dua buah gelombang atau lebih yang

DAFTAR PUSTAKA
[1] Hecht, E., Optics, Fourth Edition Addison Wesley, San Fransisco,CA, 2002.
[2] Muttaqien, Imamal.2010. optik.
[3] Gians, 2015. Superposisi gelombang Harmonik. Available at
https://giansg19.wordpress.com/2015/11/25/superposisi-getaran-harmonik/,diakses pada
tanggal 12 April 2016 pukul 14.00 wib.
[4] Novitayani Linda, 2015. Superposisi gelombang. Available at
http://documents.tips/documents/superposisi-gelombang-55ab4ed83cb9b.html,diakses
pada tanggal 12 April 2016 pukul 14.00 wib.
[5] Tipler, Paul, A. 2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik (terjemaah). Jakarta: Erlangga
[6] Siswanto. 2009. Kompetensi Fisika. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan
Nasional

31