Anda di halaman 1dari 59

ASPHALT

McMoon

Pengertian

Aspal merupakan materrial yang termoplastis


yaitu melunak dan mejadi cair jika dipanaskan
dan kental kembali menjadi padat jika
didinginkan
Aspal atau bitumen merupakan material yang
berwarna hitam kecoklatan yg bersifat
viskositas
Pada dasarnya aspal terbuat dari suatu mata
rantai hidrokarbon yang disebut bitumen,
Aspal sering disebut material bituminous.

Komposisi aspal

Aspal merupakan unsur hydrocarbon yang sangat komplek,sangat


sukar memisahkan molekul-molekul yang memberntuk aspal
tersebut
Secara umum komposisi dari aspal terdiri dari asphaltenes dan
maltenes
Asphaltenes merupakan material berwarna hitam atau coklat tua
yang larut dalam heptane.
Maltenes merupakan cairan kental yang terdiri dari resin dan oils,
dan larut dalam heptanes
Resins adalah cairan berwarna kuning atau coklat tua yang
memberikan sifat adhesi dari aspal, merupakan bagian yang mudah
hilang atau berkurang selama masa pelayanan jalan. Oils adalah
media dari asphaltenes dan resin, berwarna lebih muda
Proporsi dari asphaltenes, resin, oils berbeda tergantung dari
banyak faktor seperti kemungkinan beroksidasi, proses pembuatan
dan ketebalan aspal dalam campuran.

Aspal secara kimia terdiri dari


- Aromat
- Parafin
- Alefine

Parafine merupakan rangkaian hidrocarbon yang jenuh bercabang


CH3 CH2 CH CH2 CH2 - .
I
CH3

Olefine merupakan rangkaian hidrocarbon yang tak jenuh


CH3 CH = CH2 = CH2 = ..

Kandungan aspal secara fisik

Asphaltenes
Maltenes
Resin
Minyak Lainnya

Sifat kimia dan sifat fisik aspal saling berhubungan


Kelekatan
Durabulity
Kepekaan terhadap
suhu

Sifat Kimia
Base on Aromat

Sifat Fisik
Base on Resin

Base on Parafin

Base on Ikatan
Maltene

Base on Parafin

Base on Maltene

Ilustrasi Komposisi Aspal Minyak

Pada aspal buatan maltene lebih dominan


(lebih banyak), maka bentuknya semi solid
Pada aspal alam kebanyakan asphaltene
saja, jadi bentuknya cenderung padat

Fungsi Aspal
1) Untuk mengikat batuan agar tidak lepas dari
permukaan jalan akibat lalu lintas (waterproofing,
protect terhadap erosi)
2) Sebagai bahan pelapis dan perekat agregat.
3) Lapis resap pengikat (prime coat) adalah lapisan
tipis aspal cair yang diletakan di atas lapispondasi
sebelum lapis berikutnya.
4) Lapis pengikat (tack coat) adalah lapis aspal cair
yang diletakan di atas jalan yang telahberaspal
sebelum lapis berikutnya dihampar, berfungsi
pengikat di antara keduanya.
5) Sebagai pengisi ruang yang kosong antara agregat
kasar, agregat halus, dan filler

Jenis-jenis Aspal
1. Aspal alam
Aspal alam ditemukan di pulau buton (sulawesi Tenggara
Indonesia), Perancis, Swiss dan Amerika Latin.
a. Menurut sifat kekerasannya aspal tersebut dapat diperingkat
sebagai berikut:

Batuan (rock asphalt)


Plastis (Trinidad Lake Asphalt = TLA)
Cair (Bermuda Lake Asphalt = BLA)
b. Menurut tingkat kemurniannya
MURNI dan HAMPIR murni (BLA)
TERCAMPUR dengan mineral (Rock Asphalt Buton, TLA,
Prances dan Swiss).

CONTOH ASPAL ALAM

Jenis-jenis Aspal
2. Aspal buatan
Jenis aspal ini dibuat dari proses pengolahan
minyak bumi, jadi bahan baku yang dibuat
untuk aspal pada umumnya adalah minyak
bumi yang banyak mengandung aspal. Jenis
dari aspal buatan antara lain adalah sebagai
berikut:
1) Aspal keras
2) Aspal cair
3) Aspal emulsi

Penyulingan
aspal
minyak

Aspal Minyak
Aspal minyak dengan bahan dasar aspal dapat
dibedakan atas :
Aspal keras/panas (asphalt cement, AC), adalah
aspal yang digunakan dalam keadaan cair dan panas.
Aspal ini berbentuk padat pada keadaan
penyimpanan (temperatur ruang).
Aspal emulsi (emulsion asphalt) adalah aspal yang
disediakan dalam bentuk emulsi, dapat digunakan
dalam keadaan dingin ataupun panas. Aspal emulsi
dan cutback aspal umum digunakan pada campuran
dingin atau pada penyemprotan dingin.
Aspal dingin/ cair (cut back asphalt) adalah aspal
yang digunakan dalam keadaan cair dan dingin

Berdasarkan jenis
bahan dasarnya

Aspal
Minyak

Berdasarkan
bentuknya

Asphaltic base crude oil


Bahan dasar dominan aspaltic

Parafin base crude oil


Bahan dasar dominan parafin

Mixed base crude oil


Bahan dasar campuran asphaltic
dan parafin

Aspal keras/panas (Asphalt cemen)


aspal yang digunakan dalam keadaan
panas dan cair, pada suhu ruang
berbentuk padat

Aspal dingin / Cair (Cut Back Asphalt)


aspal yang digunakan dalam keadaan
dingin dan cair, pada suhu ruang
berbentuk cair

Aspal emulsi (emulsion asphalt)


aspal yang disediakan dalam bentuk
emulsi dandigunakan dalam kondisi
dingin dan cair

Light
gases

Refotming

Gasoline

Naptha
Chemical
Crude Oil

Atmospheric
destilation

Aviotion Fuel

Kerosine

Domestic Fuel

Gas Oil

Diesel Fuel
Domestic Fuel

Long Residue

Vacuum
Destilation

destilate

Cracking

Gasoline
Chemical

Lube Oil
manifacture

Short Residue

Bitumen Feedstock
Fuel Oil

Aspal Keras / Aspal Cement

Aspal cement pada temperatur ruang (25oC - 30oC)


berbentuk padat. Aspal semen terdiri dari beberapa
jenis tergantung dari proses pembuatannya dan jenis
minyak bumi asalnya. Pengelompokkan aspal semen
dapat dilakukan berdasarkan nilai penetrasi pada
temperatur 25oC ataupun berdasarkan nilai
viskositanya. Di Indonesia aspal semen biasanya
dibedakan berdasarkan nilai penetrasinya,yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

AC pen 40/50, yaitu AC dengan penetrasi antara 40-50.


AC pen 60/70, yaitu AC dengan penetrasi antara 60-70.
AC pen 85/100, yaitu AC dengan penetrasi antara 85-100.
AC pen 120/150, yaitu AC dengan penetrasi antara 120-150.
AC pen 200-300, yaitu AC dengan penetrasi antara 200300Persyaratan Aspal Keras / Aspal Cement

Aspal keras

(Continue.)

Aspal cement dengan penetrasi rendah


digunakan di daerah bercuaca panas atau lalu
lintas volume tinggi,
Sedangkan aspal semen dengan penetrasi
tinggi digunakan untuk daerah bercuaca dingin
atau lalu lintas dengan volume rendah.
Di Indonesia pada umumnya dipergunakan
aspal semen dengan penetrasi 60-70 dan 80100.

Persyaratan Aspal Keras

Aspal Emulsi
Aspal emulsi adalah suatu campuran aspal
dengan air dalam bahan pengemulsi.
Berdasarkan muatan listrik yang dikandungnya,
aspal emulsi dapat dibedakan atas :
a. Kationik, disebut juga aspal emulsi asam,
merupakan aspal emulsi yang bermuatan arus listrik
positif.
b. Anionik, disebut juga aspal emulsi alkali, merupakan
aspal emulsi yang bermuatan negatif.
c. Nanionik, merupakan aspal emulsi yang tidak
mengalami ionisasi, berarti tidak mengantarkan listrik.

Aspal emulsi
Aspal emulsi adalah suatu campuran aspal dengan air dan
bahan pengemulsi

Emulsifer agent merupakan ion bermuatan listrik


(Elektrolit), (+) Cation ; (-) Annion
Emulsifer agent berfungsi sebagai stabilisator
Partikel aspal melayang-layang dalam air karena partikel
aspal diberi muatan listrik.

Aspal Cair (Curback asphalt)


Aspal cair adalah campuran antara aspal
semen dengan bahan pencair dari hasil
penyulingan minyak bumi. Dengan
demikian cut back asphalt berbentuk cair
dalam temperatur ruang.
Berdasarkan bahan cairnya dan
kemudahan menguap bahan pelarutnya,
aspal cair dibedakan atas:

Aspal cair

(continue)

1. RC (Rapid Curing Cut Back), yakni aspal


semen yang dilarutkan dengan bensin atau
premium, merupakan cut back aspal yang paling
cepat menguap.
2. MC (Medium Curing Cut Back), yakni aspal
semen yang dilarutkan dengan bahan pencair
yang lebih kental seperti minyak tanah
3. SC (Slow Curing Cut Back), yakni aspal semen
yang dilarutkan dengan bahan yang lebih kental
seperti solar. Aspal jenis ini merupakan cutback
aspal yang paling lama menguap.

Berdasarkan nilai viskositas pada temperatur 60oC,


cutback aspalt dapat dibedakan atas :
RC
RC 30 60
RC 70 40
RC 250 500
RC 800 1600
RC 3000 6000

MC
MC 30 60
MC 70 140
MC 250 500
MC 800 1600
MC 3000 6000

SC
SC 30 60
SC 70 140
SC 250 500
SC 800 1600
SC 3000 6000

Aspal Buton
Aspal buton merupakan aspal alam yang berasal
ddari pulau buton, Indonesia.
Aspal ini merupakan campuran antara bitumen
dengan bahan mineral lainnya dalam bentuk
bantuan.
Karena aspal buton merupakan bahan alam
maka kadar bitumennya bervariasi dari rendah
sampai tinggi.
Berdasarkan kadar bitumennya aspal buton
dibedakan atas B10, B13, B20, B25, dan B30
(Aspal Buotn B10 adalah aspal buton dengan
kadar bitumen rata-rata 10%)

Kepekaan terhadap temperatur


Aspal merupakan bahan yang termoplastis, artinya akan menjadi
keras dan kental jika temperatur rendah dan menjadi cair (lunak)
jika temperatur tinggi. Akibat perubahan temperatur ini viscositas
aspal akan berubah seiring dengan perubahan elastisitas aspal
tersebut. oleh sebab itu aspal juga disebut bahan yang bersifat visko
elastis.
Kepekaan terhadap suhu perlu diketahui untuk dapat ditentukan suhu
yang baik campuran aspal di campur dan dipadatkan.
Kekerasan aspal
Kekerasan aspal tergantung dari viscositasnya (kekentalannya).
Aspal pada proses pencampurandipanaskan dan dicampur dengan
agregat sehingga agregat dilapisi aspal . Pada proses pelaksanaan
terjadi oksidasi yang mengakibatkan aspal menjadi getas
(Viskositas
bertambah tinggi). Peristiwa tersebut berlansung setelah
masa
pelaksaan selasai. Pada masa pelayanan aspal mengalami
oksidasi dan
polimerisasi yan besarnya dipengaruhi ketebalan aspal menyelimuti agregat.
Semakin tipis lapisan aspal yang menyelimuti agregat , semakin tinggi
tingkat kerapuhan yang terjadi.

Pemeriksaan Aspal

Penetrasi
Titik Lembek
Daktalitas
Titik Nyala
Berat Jenis
Kehilangan Berat
Viskositas
Kelarutan Dalam CCl4

1. Penetrasi
Pengujian ini dimaksudkan untuk menetapkan
nilai kekerasan aspal. Berdasarkan pengujian ini
aspal keras dikatagorikan dalam beberapa
tingkat kekerasan.
Pengujian ini merupakan pengukuran secara
empiris terhadap konsistensi aspal.
Kekerasan aspal diukur dengan jarumpenetrasi
standar yang masuk kedalam permukaan
bitumen pada temperatur 25oC, beban 100gram
dan waktu 5 detik. Alat pengujian ditunjukkan
pada Gambar

Gambar pengujian penetrasi

Prosedur pegujian Penetrasi


Prosedur pengujian berdasarkan AASHTO T 48 atau SNI 06-24561991, secara garis besar adalahsebagai berikut :
1)Tuang bahan uji ke kap penetrasi, diamkan 1 - 2 jam pada
temperatur ruang
2) Rendam dalam bak air 25oC, selama 1 - 2 jam
3) Bersihkan jarum penetrasi dan pasang
4) Letakkan pemberat 50 gr pada pemegang jarum sehingga berat
total 100 gram
5) Pindahkan contoh ke dalam bak air kecil 25oC.
6) Atur jarum hingga bertemu dengan permukaan benda uji (aspal).
7) Lepaskan jarum selama 5 + 0,1 detik.
8) Tekan penunjuk penetrometer dan baca angka penetrasinya.
9) Angkat jarum perlahan-lahan, lakukan pengujian paling sedikit 3 kali.

2. Titik Lembek
Konsistensi bitumen ditunjukkan oleh
temperatur dimana aspal berubah bentuk
karenaperubahan tegangan. Hasilnya
digunakan untuk menentukan temperatur
kelelehan dari aspal.Alat pengujian
ditunjukkan pada Gambar

Gambar Pengujian Titik Lembek

Prosedur pengujian Titik Lembek

Prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2434-1991, secara garis besar


adalah sebagai berikut :
1) Panaskan aspal + 25 gr hingga cair
2) Letakkan 2 buah cincin di atas pelat kuningan yang telah diolesi talk-gliserol
3) Tuang contoh ke dalam cincin cetakan, diamkan pada temperatur ruang
selama 30 menit.
4) Ratakan permukaan contoh dengan pisau.
5) Pasang kedua benda uji
6) Masukkan pada bejana gelas berisi air suling bertemperatur 5 + 1oC
7) Pasang termometer khusus untuk penentuan titik lembek
8) Letakkan bola baja di atas benda uji
9) Rendam di dalam air pada temperatur 5oC selama 15 menit
10) Panaskan bejana dengan kenaikan temperatur air 5oC/menit,
11) Atur kecepatan pemanasan untuk 3 menit pertama 5oC + 0,5 /menit
12) Catat temperatur yang ditunjukkan saat bola baja jatuh

Pemeriksaan Titik Lembek

3. Daktalitas
Daktilitas ditunjukkan oleh panjangnya
benang aspal yang ditarik hingga putus.
Pengujian dilakukan dengan alat yang
terdiri atas cetakan, bak air dan
alat penarik contoh.
Alat pengujianditunjukkan pada Gambar

Gambar Pengujian Daktalitas

Prosedur pengujian Daktalitas


Prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2432-1991,
secara garis besar adalah sebagai berikut :
1)Lapisi cetakan dengan campuran gliserin pasanglah cetakan
dakilitas di atas plat dasar
2)Tuang bahan uji dalam cetakan dari ujung ke ujung hingga
penuh berlebih.
3)Dinginkan cetakan pada temperatur ruang selama 30 - 40 menit,
ratakan dengan spatula.
4)Rendam di dalam bak perendam bertemperatur 25oC selama 30
menit
5)Lepaskan benda uji dari plat dasar dan sisi -sisi cetakan. Pasang
benda uji pada mesin uji dantarik dengan kecepatan 5 cm per
menit sampai benda uji putus
6) Bacalah jarak antara pemegang benda uji pada saat benda uji
putus

4. Titik Nyala
Penentuan titik nyala dilakukan untuk
memastikan bahwa aspal cukup aman
untuk pelaksanaan.Titik nyala yang
rendah menunjukkan indikasi adanya
minyak ringan dalam aspal

Gambar Pengujian Titik Nyala

Prosedur pengujiaan Titik Nyala

Prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2433-1991, secara garis besar adalah


sebagai berikut
1)Panaskan contoh aspal + 100 gr pada 140oC sampai cukup cair.
2)Isilah cawan Cleaveland sampai garis batas dan hilangkan gelembung
udaraLetakkan cawan di atas plat pemanas, atur letak sumber panas
3) Letakkan nyala penguji, gantungkan termometer diatas dasar cawan. Atur
posisithermometer
4) Tempatkan penahan angin, nyalakan sumber pemanas, atur hingga kenaikan
temperatur 15+ 1oC/menit sampai mencapai temperatur 56oC di bawah titik nyala
perkiraan.
5)Atur kecepatan pemanasan 5 - 6oC/menit pada temperatur antara 56oC dan 28oC
di bawahtitik nyala perkiraan. Nyalakan nyala penguji dan atur diameter nyala penguji
6) Putar nyala penguji hingga melalui permukaan cawan (dari tepi ke tepi cawan)
dalam waktu1 detik, Ulangi setiap kenaikan 2oC sampai terlihat nyala singkat pada
permukaan aspal, bacatemperatur pada termometer dan catat
7)Lanjutkan pengamatan sampai terlihat nyala di atas permukaan benda uji yang
lebih lamaminimal 5 detik , baca dan catat temperatur pada termometer.

5. Berat Jenis
Dengan berat jenis dimaksud perbandingan
berat aspal dengan isi tertentu terhadap berat air
dengan isi yang sama pada suhu tertentu
BJ aspal sekitar 1,04 dan 1,02 pada suhu 15 oC
Untuk Maksud tersebut dilakukan pemeriksaan
dengan 2 cara
Cara Piknometer
Cara Aerometer

Cara Piknometer
Cara lebih cepat
lebih teliti
Untuk beratg jenis aspal keras

Cara Aarometer
Cepat
Kurang teliti
Untuk aspal cair

Gambar pengujian Berat Jenis

6. Hilang dalam Pemanasan


Yang dimaksud dengan pemeriksaan ini
adalah hilangnya zat-zat dalam aspal
yang dipanaskan pada suhu 163 oC
selama 5 jam menurut cara yang telah
ditentukan
Alat berupat oven listrik dengan suhu
163oC ketelitian 0,1oC, dilengkapi ventilasi
dan meja yang berputar

Gambar Kehilangan berat Aspal

7. Viskositas
Pemeriksaan viskositas pada aspal semen bertujuan
untuk memeriksa kekentalan aspal
Dilakukan pada temperatur 600C dan 1350C
600C temperatur maksimum perkerasan selama masa
pelayanan
1350C adalah temperatur dimana proses
pencampuran/penyemptrotan aspal umumnya dilakukan
Prinsip kerja dari pemeriksaan ini ialah menentukan
waktu yang dibutuhkan untuk suatu larutan dengan isi
tertentu mengalir dalam kapiler didalam viskosimeter
kapiler yang terbuat dari gelas, pada temperatur tertentu

Gambar pengujian Viskositas

8. Kelarutan dalam karbon


tetraklorida
Pemeriksaan dilakukan untuk menentukan
jumlah bitumen yang larut dalam
tetraklorida (CCl4)
Jika semua bitumen larut maka bitumen
tersebut murni
Disyaratkan > 99 %

Gambar pengujian kelarutan

Persyaratan Aspal Keras Pen


60/70
Jenis Pemeriksaan

Penetrasi 60/70

Satuan

Min

Max

Penetrasi (250 C, 100 gr, 5 det)

60

79

Titik Lembek (ring ball)

48

58

Titik Nyala, Cleaveland

200

225

Daktilitas (250 C, 5 cm/menit)

100

100

cm

Solubilitas/ Kelarutan dlm CCl4

14

14

Kehilangan berat, 1630 C, 5 jam

0,8

Penetrasi setelah kehilangan berat

54

% semula

Berat Jenis (25 0 C)

gr/cc

0,1 mm