Anda di halaman 1dari 47

REFERAT

IDENTIFIKASI FORENSIK

Diajukan Oleh:
Imba Wahyu Ginandra (J510155061)
Oryza Sativa (J510155020)
Ricky ferdian (J510155090)
Madame Arum Nurilla (J510155029)
Wahyu cahyani (J510155004)
Karina Aisyah Setiawati (J510145054)

Dokter Pembimbing :
dr. Sugiharto, M. Kes, MMR, SH
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN
MEDIKOLEGAL
RSUD DR.MOEWARDI SURAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016

REFERAT
IDENTIFIKASI FORENSIK
Yang Diajukan Oleh :
Imba Wahyu Ginandra (J510155061)
Oryza Sativa (J510155020)
Ricky ferdian (J510155090)
Madame Arum Nurilla (J510155029)
Wahyu cahyani (J5101550044)
Karina Aisyah Setiawati (J510145054)
Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari

Tanggal

Pembimbing :
dr. Sugiharto, M. Kes, MMR, SH

(..................................)

Dipresentasikan di hadapan :
dr. Sugiharto, M. Kes, MMR, SH

(.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :


dr. Dona Dewi Nirlawati

(.................................)

IDENTIFIKASI FORENSIK

I.

DEFINSI
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal
sering merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata.Menentukan
identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya
kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan.2
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah
tidak dikenal, jenazah yang rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan
masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal,
serta potongan tubuh manusia atau kerangka.Selain itu identifikasi forensik juga
berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau
diragukan orangtuanya.Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua
metode yang digunakan memberikan hasil positif (tidak meragukan).2

II.

DASAR DASAR IDENTIFIKASI FORENSIK

Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur


identifikasi jenasah adalah :
A. Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam
KUHP pasal 133:4
1. Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menangani
seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang di duga karena
peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
bedah mayat.
3. Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang
memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
B. Undang-undang Kesehatan Pasal 795
1. Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepada
pejabat pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi
wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam UU
No 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk melakukan
penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.
2. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan.
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan.
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha.
d. Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain.
e. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti.

f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan.


g. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti
sehubungan dengan tindak pidana di bidang kesehatan.
3. Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
dilaksanakan menurut UU No 8 tahun 1981 tentang HAP.

III.

JENIS JENIS METODE IDENTIFIKASI FORENSIK


Jenis metode identifikasi forensic dapat dibagi menjadi metode identifikasi
primer dan metode identifikasi sekunder. Metode identifikasi tradisional yaitu
metode visual, dimana metode ini tidak bisa dianggap sebagai metode terbaik
dan rentan dalam ketidak

telitian. Metode ini digolongkan sebagai metode

identifikasi sekunder.3
Metode Identifikasi Primer

Gambar1.Metode identifikasi primer. 1

1. Sidik jari.
1.1. Definisi
Sidik jari adalah suatu impresi dari alur-alur lekukan yang
menonjol dari epidermis pada telapak tangan dan jari-jari tangan atau
telapak kaki dan jari-jari kaki, yang juga dikenal sebagai dermal ridges
atau dermal papillae, yang terbentuk dari satu atau lebih alur-alur yang
saling berhubungan. Dari bayi pun, kita semua sudah mempunyai sidik jari
yang sangat identik dan tidak dimiliki orang lain. Alur-alur kulit di ujung
jari dan telapak tangan dan kaki mulai tumbuh di ujung jari sejak janin

berusia empat minggu hingga sempurna saat enam bulan di dalam


kandungan.6
Daktiloskopi adalah suatu sarana dan upaya pengenalan identitas
diri seseorang melalui suatu proses pengamatan dan penelitian sidik jari,
yang dipergunakan untuk berbagai keperluan/kebutuhan, tanda bukti,
tanda pengenal ataupun sebagai pengganti tanda tangan (cap Jempol).6
Metode ini membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik
jari antemortem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan
pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan
identitas seseorang. Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang
sebaik-baiknya terhadap jari tangan jenazah untuk pemeriksaan sidik jari,
misalnya dengan melakukan pembungkusan kedua tangan jenazah dengan
kantong plastik.2
Ada tigaalasan mengapa sidik jari merupakan indikator identitas
yang dapat diandalkan: 1

Sidik jari unik:Tidak ada kecocokan mutlak antara papiler ridges


pada jari dari dua individu yang berbeda atau pada jari yang
berbeda dari orang yang sama.

Sidik jari tidak berubah: papiler ridges terbentuk pada bulan


keempat kehamilan dan tetap tidak berubah bahkan setelah
mati.Sidik jari tumbuh kembali dalam pola yang sama setelah luka
ringan. Luka yang lebih parah mengakibatkan jaringan parut
permanen.

Sidik jari dapat diklasifikasikan: Karena sidik jari dapat


diklasifikasikan, maka dapat di identifikasi dan di data secara
sistematis dan dengan demikian dapat diperiksa dengan mudah
untuk tujuan perbandingan.

Gambar2.Anatomi kulit: kelenjar ekrin melingkar, yang terletak didermis, memiliki saluran
yang naik melalui lapisan epidermis dan berakhir disepanjang papiladermal. Struktur
papiladermal memberikan polasidik jari yang khas.3

Detail anatomi ini memperkasar permukaan telapak tangan dan


kaki hingga memperkuat cengkeraman kala memegang atau berjalan.
Benda yang dipegang tidak mudah lepas. Secara resmi, istilah sidik jari
digunakan pertama kali oleh Dr. Nehemiah Grew yang memperkenalkan
pada Royal Collage of Physicians, London pada tahun 1684 tentang tandatanda penting yang ditemukan di ujung-ujung jari manusia. Setahun
kemudian, Gouard Bidloo membuat buku pertama pola sidik jari lengkap.
Pada tahun 1788, JCA Mayer menyatakan bahwa tak ada 2 orang, kembar
sekalipun yang memiliki sidik jari sama persis walaupun masing-masing
mempunyai kemiripan individu. Tahun 1823, John E Purkinje dari
University of Breslau membuat klasifikasi sidik jari dalam sembilan

golongan utama, walau kemudian Francis Galton berpendapat bahwa


hanya ada 3 golongan utama, selebihnya adalah variasi.6

Gambar 3. Contoh pola yang paling umum untuk dermal ridges.Lima kelas utama-left loop, right
loop, whorl, arch, dan tented arch-umum digunakan. Frekuensi perkiraan untuksetiap tipe dinyatakan
dalam tanda kurung.Untuk tiap tipe, posisi dari inti ditandai dengan kotak merah dan deltaditandai
segitiga hijau.3

1.2. Sifat sifat Sidik Jari


Biometrik merupakan cabang matematika terapan yang bidang
garapnya untuk mengindentifikasi individu berdasarkan ciri atau pola yang
dimiliki oleh individu tersebut, misalnya bentuk wajah, sidik jari, warna
suara, retina mata, dan struktur DNA. Sidik jari merupakan salah satu pola
yang sering digunakan untuk mengindentifikasi indentitas seseorang
karena polanya yang unik, terbukti cukup akurat, aman, mudah, dan
nyaman bila dibandingkan dengan sistem biometrik yang lainnya. Hal ini
dapat dilihat pada sifat yang dimiliki oleh sidik jari yaitu guratan-guratan
pada sidik jari yang melekat pada kulit manusia seumur hidup, pola ridge
tidaklah bisa menerima warisan, pola ridge dibentuk embrio, pola ridge
tidak pernah berubah dalam hidup, dan hanya setelah kematian dapat
berubah sebagai hasil pembusukan. Dalam hidup, pola ridge hanya diubah
secara kebetulan akibat, luka-luka, kebakaran, penyakit atau penyebab lain
yang tidak wajar. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang
mempunyai sidik jari yang sama, walaupun kedua orang tersebut kembar
satu telur.Dalam dunia sains pernah dikemukakan, jika ada 5 juta orang di

bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia yang sama baru
akan terjadi lagi 300 tahun kemudian, atas dasar ini, sidik jari merupakan
sarana yang terpenting khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui jati
diri seseorang.6
Dibawah ini merupakan sifat-sifat khusus yang dimiliki sidik jari: 6
a) Perennial nature, yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat
pada kulit manusia seumur hidup.
b) Immutability, yaitu sidik jari seseorang tidak pernah berubah, kecuali
mendapatkan kecelakaan yang serius.
c) Individuality, pola sidik jari adalah unik dan berbeda untuk setiap
orang.
1.3. Macam Macam Sidik Jari
a) Latent prints (Sidik jari Laten). Walaupun kata laten berarti
tersembunya atau tak tampak, pada penggunaan modern di ilmu
forensik istilah sidik laten berarti kemungkinan adanya atau impressi
secara tak sengaja yang ditinggalkan dari alur-alur tonjolan kulit jari
pada sebuah permukaan, tanpa melihat apakah sidik tersebut terlihat
atau tak terlihat pada waktu tersentuh. Teknik memproses secara
elektronik, kimiawi, dan fisik dapat digunakan untuk melihat residu
sidik laten yang tak terlihat yang ditimbulkan dari sekresi kelenjar
ekrin yang berada di alur-alur tonjolan kulit (yang memproduksi
keringat, sebum, dan berbagai macam lipid) walaupun impressi
tersebut terkontaminasi dengan oli, darah, cat, tinta, dll.3
b) Patent prints (Sidik jari Paten). Sidik ini ialah impressi dari alur-alur
tonjolan kulit dari sumber yang jak jelas yang dapat langsung terlihat
mata manusia dan disababkan dari transfer materi asing pada kulit jari
ke sebuah permukaan. Karena sudah dapat langsung dilihat sidik ini
tidak butuh teknik-teknik enhancement, dan diambil bukan dengan
diangkat, tetapi hanya dengan difoto.3

c) Plastic prints (Sidik jari Plastik). Sidik plastik adalah impressi dari
sentuhan alur-alur tonjolan kulit jari atau telapak yang tersimpan di
material yang mempertahankan bentuk dari alur-alut tersebut secara
detail. Contoh umum: pada lilin cair, deposit lemak pada permukaan
mobil. Sidik-sidik seperti ini dapat langsung dilihat, tapi penyidik juga
tak boleh mengenyampingkan kemungkinan bahwa sidik-sidik laten
yang tak tampak dari sekongkolan pelaku mungkin juga terdapat pada
permukaan tersebut. Usaha untuk melihat impressi-impressi non
plastik pun harus dilaksanakan.3
1.4. Klasifikasi Sidik Jari
Sebelum komputerisasi menggantikan sistem pendataan manual di
operasi-operasi pemrosesan sidikjari yang besar, klasifikasi sidik jari
manual digunakan untuk mengkatagorikan sidik jari berdasarkan formasi
alur-alur tonjolan secara umum (seperti ada atau tak adanya pola-pola
sirkular pada jari-jari), oleh karena itu pendataan dan pengambilan catatan
laporan dalam jumlah besar berdasarkan pola-pola tersebut, yang terlepas
dari pertimbangan nama, tanggal lahir, dan data biografis. Sistem-sistem
klasifikasi sidik jari yang paling populer diantaranya sitem Roscher,
sistem Vucetich, dan sistem Henry. Dari sistem-sistem ini, sistem Roscher
dikembangkan di Jerman dan diaplikasikan di Jerman dan Jepang. Sistem
Vucetich dikemkangkan di Argentina dan diimplementasikan di seluruh
Amerika Utara, dan sistem Henry dikembangkan di India dan
diimplementasikan di kebanyakan negara-negara berbahasa Inggris.6
Sistem Henry berasal dari pola ridge yang terpusat pola jari tangan,
jari kaki, khusunya telunjuk. Metoda yang klasik dari tinta dan
menggulung jari pada suatu kartu cetakan menghasilkan suatu pola ridge
yang unik bagi masing-masing digit individu.Dalam sistem klasifikasi
Henry, terdapat tiga pola dasar sidik jari: Arch (lengkungan), Loop
(uliran), dan Whorl (lingkaran).6

10

a. Tipe Arch, Pada patern ini kerutan sidik jari muncul dari ujung,
kemudian mulai naik di tengah, dan berakhir di ujung yang lain.
b. Tipe Loop, Pada patern ini kerutan muncul dari sisi jari, kemudian
membentuk sebuah kurva, dan menuju keluar dari sisi yang sama
ketika kerutan itu muncul.
c. Tipe Whorl, Pada patern ini kerutan berbentuk sirkuler yang
mengelilingi sebuah titik pusat dari jari.
Dari ketiga klasifikasi diatas terdapat juga klasifikasi yang lebih
kompleks yang mengikutsertakan pola plain arches (lengkungan
sederhana atau tented arches (lekukan yang seperti tenda) . Pola Loop
dapat berarah radial atau ulnar, tergantung arah ekor dari loop tersebut.
Pola Whorl juga dibagi dalam subgrup-subgrup: plain whorl, accidental
whorls, dan central pocket loop.6

Gambar 4. Pola dasar sidik jari. 6

1.5. Cara Pengambilan Dan Pemeriksaan Sidik Jari


Dari sembilan metode identifikasi yang dikenal hanya metode
penetuan jati diri dengan sidik jari (daktiloskopi), yang tidak lazim
dikerjakan oleh dokter, melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian.
Walaupun pemeriksaan sidik jari tidak dilakukan oleh dokter, dokter
masih mempunyai kewajiban yaitu untuk mengambilkan atau mencetak

11

sidik jari, khususnya sidik jari pada korban yang tewas dan keadaan
mayatnya yang telah membusuk. Teknik pengembangan sidik jari pada
jari yang keriput, serta mencopot kulit ujung jari yang telah mengelupas
dan memasangnya pada jari yang sesuai pada jari pemeriksa, baru
kemudian dilakukan pengambilan sidik jari, merupakan prosedur standar
yang harus diketahui dokter.6
Cara pengangkatan sidik jari yang paling sederhana adalah dengan
metode dusting (penaburan bubuk). Biasanya metode ini digunakan pada
sidik jari paten / yang tampak dengan mata telanjang. Sidik jari laten
biasanya menempel pada lempeng aluminium, kertas, atau permukaan
kayu. Agar dapat tampak, para ahli dapat menggunakan zat kimia, seperti
lem (sianoakrilat), iodin, perak klorida, dan ninhidrin. Lem sianoakrilat
digunakan untuk mengidentifikasi sidik jari dengan cara mengoleskannya
pada permukaan benda aluminium yang disimpan di dalam wadah
tertutup, misalnya stoples. Dalam stoples tersebut, ditaruh juga
permukaan benda yang diduga mengandung sidik jari yang telah diolesi
minyak. Tutup rapat stoples. Sianoakrilat bersifat mudah menguap
sehingga uapnya akan menempel pada permukaan benda berminyak yang
diduga mengandung sidik jari. Semakin banyak sianoakrilat yang
menempel pada permukaan berminyak, semakin tampaklah sidik jari
sehingga dapat diidentifikasi secara mudah.6
Cara lainnya dengan menggunakan iodin. Iodin dikenal sebagai zat
pengoksidasi. Jika dipanaskan, iodin akan menyublim, yaitu berubah
wujud dari padat menjadi gas. Kemudian, gas iodin ini akan bereaksi
dengan keringat atau minyak pada sidik jari. Reaksi kimia ini
menghasilkan warna cokelat kekuning-kuningan. Warna yang dihasilkan
tidak bertahan lama sehingga harus segera dipotret agar dapat
didokumentasikan. Zat kimia lain yang biasa digunakan adalah perak
nitrat dan larutan ninhidrin. Jika perak nitrat dicampurkan dengan natrium
klorida, akan dihasilkan natrium nitrat yang larut dan endapan perak
klorida. Keringat dari pelaku mengandung garam dapur (natrium klorida,

12

NaCl) yang dikeluarkan melalui pori-pori kulit. Pada praktiknya, larutan


perak nitrat disemprotkan ke permukaan benda yang diduga tersentuh
pelaku. Setelah 5 menit, permukaan benda akan kering dan perak nitrat
pun terlihat. Lalu, sinar terang atau ultra violet yang disorotkan ke
permukaan benda akan membuat sidik jari yang mengandung perak nitrat
terlihat. Seperti halnya iodin, warna yang dihasilkan tidak bertahan lama
sehingga harus segera dipotret agar dapat didokumentasikan. Ninhidrin
merupakan zat kimia yang dapat bereaksi dengan minyak dan keringat
menghasilkan warna ungu. Jika jari pelaku kejahatan mengandung
minyak atau keringat, lalu tertempel pada permukaan benda, sidik jarinya
akan terlihat dengan cara menyemprotkan larutan ninhidrin. Setelah
dibiarkan selama 10-20 menit, akan tampak warna ungu. Proses ini dapat
dipercepat dengan memanfaatkan panas lampu.Metode paling mutakhir
yang digunakan untuk mengidentifikasi sidik jari adalah teknik micro-Xray fluorescence (MXRF). Teknik ini dikembangkan oleh Christopher
Worley, ilmuwan asal University of California yang bekerja di Los
Alamos National Laboratory. Dibandingkan dengan metode lainnya yang
biasa digunakan, teknik MXRF mempunyai beberapa kelebihan. MXRF
dapat mengidentifikasi sidik jari yang tidak dapat diidentifikasi metode
lain.6
2. Analisis Dental
Forensik Odontologi dapat merupakan suatu penerapan ilmu gigi dalam
system hukum.Ilmu kedokteran gigi forensik memiliki nama lain yaitu
forensic dentistry dan odontology forensic. Forensik odontologi adalah suatu
cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari cara penanganan dan
pemeriksaan benda bukti gigi serta cara evaluasi dan presentasi temuan gigi
tersebut untuk kepentingan peradilan.7
Ruang lingkup forensik odontologi meliputi :
1. Identifikasi terhadap jenasah korban yang tidak diketahui melalui
gigi, rahang dan tulang-tulang kraniofasial

13

2. Analisa jejak bekas gigitan


3. Analisa trauma orofasial yang berhubungan dengan kekerasan
4. Dental jurisprudence, termasuk menjadi saksi ahli
Pelayanan dental forensic meliputi baik penyelidikan kematian maupun
kedokteran forensik klinis untuk mengevaluasi korban kekerasan hidup
seperti kekerasan seksual, kekerasan anak, dll. 7
Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan
sebagai berikut: 7
1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan
dan pengaruh lingkungan yang ekstrim.
2. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan
restorasi gigi menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi.
3. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan
medis gigi (dental record) dan data radiologis.
4. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis, dan
morfologis, yang mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot
bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi trauma akan mengenai otototot tersebut terlebih dahulu.
5. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan
penelitian bahwa gigi manusia kemungkinan sama satu banding dua
miliar.
6. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400C.
7. Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh
yang terbunuh dan direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya
hancur, sedangkan giginya masih utuh.
2.1.

Anatomidan Morfologi Gigi Manusia8

14

a. Anatomi Gigi
Gigi manusia terdiri dari tiga:

Akar gigi, yang berfungsi menopang gigi dan merupakan bagian


gigi yang terletak didalam tulang rahang.

Mahkota gigi yaitu bagian gigi yang berada diatas ginggiva.

Leher gigi, yaitu bagian yang menghubungkan akar gigi dengan


mahkota gigi.

b. Struktur Gigi
Badan dari gigi terdiri dari :
1. Email, merupakan jaringan keras yang mengelilingi mahkota gigi
dan berfungsi membentuk struktur luar mahkota gigi dan
membuat gigi tahan terhadap tekanan dan abrasi. Email tersusun
dari mineral anorganik terutama kalsium dan fosfor, zat organic
dan air.
2. Dentin, merupakan bagian dalam struktur gigi yang terbanyak dan
berwarna kekuningan. Dentin bersifat lebih keras dari pada tulang
tetapi lebih lunak dari email. Dentin terdiri dari 70 % bahan
organic, terutama Kalsium dan fosfor serta 30 % bahan organic
dan air.
3. Sementum, merupakan jaringan gigi yang mengalami kalsifikasi
dan menutup akar gigi. Sementum berfungsi sebagai tempat
melekatnya jaringan ikat yang memperkuat akar gigi pada
alveolus. Sementum lebih lunak dari dentin dan terdiri dari 50%
bahan organic berupa Kalsium dan Fosfor dan 50% bahan
organic.
4. Pulpa, merupakan jaringan ikat longgar yang menempati bagian
ruang tengah pulpa dan akar gigi. Pada pulpa terkandung
pembuluh darah, syaraf, dan sel pembentuk dentin. Pulpa berisi
nutrisi dan berfungsi sebagai sensorik.

15

Gambar 5. Struktur gigi.8

c. Morfologi gigi.7,8
Menurut masa pertumbuhan gigi manusia terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Gigi susu
Gigi susu berjumlah 20 buah dan mulai tumbuh pada umur 6 -9
bulan dan lengkap pada umur 2 2,5 tahun. Gigi susu terdiri dari
5 gigi pada setiap daerah rahang masing masing adalah : 2 gigi
seri (incicivus),1 gigi taring.
2. Gigi permanen
Gigi permanen berjumlah 28 32 terdiri dari 2 gigi seri, 1 gigi
taring, 2 gigi premolar, dan 3 gigi molar pada setiap daerah
rahang. Gigi permanen menggantikan gigi susu. Antara umur 6
14 tahun 20 gigi susu diganti gigi permanen. Gigi molar 1 dan 2
mulai erupsi pada umur 6 12 tahun sedangkan gigi molar 3
mulai erupsi pada umur 17 21 tahun.
d. Nomenklatur Gigi8
Nomenklatur yang biasa dipakai adalah :
1. Cara Zsigmondy

16

Gigi susu
V IV III II I

I II III IV V

V IV III II I

I II III IV V

Contoh : c bawah kanan : III

m2 atas kiri :

Gigi tetap
8764321

12345678

8764321

12345678

Contoh : P2 atas kanan : 5

I1 bawah kiri : 1

2. Cara Palmer : cara yang paling mudah dan universal untuk dental
record
Gigi susu
EDCBA

AB C D E

EDCBA

AB C D E

Contoh : c bawah kanan : C

m2 atas kiri : E

Gigi tetap
8764321

12345678

8764321

12345678

Contoh : P2 atas kanan : 5

I1 bawah kiri : 1

3. Cara Amerika : yaitu dengan menghitung dari atas kiri, ke kanan,


ke bawah kanan, lalu ke bawah kiri.
Gigi Susu (pakai huruf romawi)
X

IX VIII VII

VI

XI XII XIII XIV XV

IV

III

II

XVI XVII XVIII XIX XX

Contoh : c bawah kanan : XIII

m2 atas kiri : I

Gigi Tetap (pakai angka biasa) :


16 15 14 13 12 11 10 9

17 18 19 20 21 22 23 24

25 26 27 28 29 30 31 32

Contoh : P2 atas kanan : 13

3 2

I1 bawah kiri : 25

4. Cara Aplegate
Kebalikan dari cara Amerika yaitu dengan menghhitung dari atas
kanan ke kiri, kebawah kiri lalu ke bawah kanan

17

Gigi Susu :
I

II

III

IV

VI VII VIII

XX XIX XVIII XVII XVI

IX X

XV XIV XIII XII XI

Contoh : c bawah kanan : XVII

m2 atas kiri : X

Gigi Tetap :
1

3 4

5 6 7

9 10 11 12 13 14 15 16

32 31 30 29 28 27 26 25

24 23 22 21 20 19 18 17

Contoh : P2 atas kanan : 4

I1 bawah kiri : 24

5. Cara Haderup
Gigi Susu :

0+

+0

0-

-0

Contoh : c bawah kanan : 03-

m2

Contoh : P2 atas kanan : 5+

I1

atas kiri : +05


Gigi Tetap :
bawah kiri : -1
6. System Scandinavian (tidak begitu banyak digunakan)
+ : untuk gigi geligi atas
- : untuk gigi geligi bawah
Contoh : P2 atas kanan : +5

I2 bawah kiri : 2-

7. Cara G. B. Denton
Gigi Susu :

atas kiri : a.5


Gigi Tetap :

Contoh : c bawah kanan : c.3

Contoh : P2 atas kanan : 2.5

m2
I1

bawah kiri : 4.1


3

8. Cara FID ( Federation Internationale Dentaire )


Gigi Susu :

atas kiri : 65
Gigi Susu :

Contoh : c bawah kanan : 83

Contoh : P2 atas kanan : 15

bawah kiri : 31

18

m2
I1

2.2. Identifikasi Dental Perbandingan


Dogma sentral identifikasi dental yaitu bahwa gigi postmortem
tetap dapat dibandingkan dengan dental record antemortem, termasuk
catatan tertulis, study casts, radiografi dll, untuk mengkonfirmasi
identitas korban. Seseorang yang sering melakukan perawatan gigi
biasanya lebih mudah diidentifikasi daripada seseorang yang jarang
melakukan perawatan giginya. Pada gigi geligi tidak hanya dapat
memperlihatkan perawatan yang melekat atau tertinggal pada gigi korban
sebagai sesuatu yang unik dan mudah dikenali, juga dapat bertahan
selama postmortem bahkan dapat menyebabkan perubahan atau
kerusakan pada jaringan tubuh yang lainnya.9
Biasanya, tubuh manusia yang ditemukan dan dilaporkan kepada
polisi yang kemudian akan meminta pemeriksaan identifikasi dental.
Biasanya terdapat benda pengenal pada korban (misalnya dompet atau
izin mengemudi) pada tubuh korban dan pada benda ini mungkin
terdapat catatan antemortem korban. Pada kasus lain, lokasi geografis
dimana tubuh korban ditemukan atau karakter fisik lain maupun buktibukti tak langsung mungkin dapat membantu dalam membuat identitas
diduga, biasanya dengan menggunakan data dari data orang hilang.
Dental record antemortem kemudian dapat diperoleh dari data seorang
dokter gigi.9
Seorang dokter gigi forensic membuat dental record postmortem
dengan menyusun dan menuliskan gambaran struktur maupun gambaran
radiologis dental yang didapatkan. Jika catatan dental record antemortem
tersedia pada saat itu, gambaran radiografis harus dilakukan untuk
membuat replikasi tipe dan sudutnya.9

19

Gambar 6. Contoh catatan dental postmortem. 9

Setelah dental record postmortem telah lengkap, dapat dilakukan


perbandingan antara kedua catatan tersebut, postmortem dan antemortem.
Diperlukan pemeriksaan perbandingan yang sistematis dan metodik,
dengan memeriksa setiap gigi dan struktur di sekitarnya. Walapun
ditemukannya suatu bentuk restorasi gigi merupakan point identifikasi
yang penting, banyak bagian oral lain yang dapat dinilai. Semakin
banyak data ciri-ciri oral yang ditemukan semakin berarti data yang
dikumpulkan khususnya pada kasus dengan restorasi gigi minimal.
Dengan semakin menurunnya kasus karies gigi, maka kasus non-restorasi
akan semakin sering ditemukan.9

20

Gambar 7. Contoh perbandingan radiografi dental postmortem dan antemortem


untuk menentukan identitas. Pola, bentuk dan ukuran perawatan gigi tampak
dalam satu gambar radiografi (record) yang kemudian dibandingkan dengan sifat
dan karakteristik yang serupa pada gambar radiografi lainnya. Pada kasus diatas,
tampak bahwa kedua foto tersebut berasal dari orang yang sama, menandakan
identifikasi positif. 9
Persamaan dan perbedaan yang didapatkan dari kedua dental
record (postmortem dan antemortem) harus dicatat. Ada dua jenis
perbedaan, yaitu perbedaan yang dapat dijelaskan dan perbedaan yang
tidak dapat dijelaskan. Perbedaan yang dapat dijelaskan biasanya
berhubungan dengan waktu diantara dental record antemortem dan
postmortem misalnya terdapat ekstraksi gigi atau restorasi gigi.
Perbedaan yang tidak dapat dijelaskan, misalnya pada antemortem record
tidak terdapat gigi sedangkan pada postmortem record terdapat gigi.9
Beberapa kategori yang disarankan digunakan dalam menentukan
hasil investigasi identifikasi odontology forensik. American Board of
Forensic Odontology merekomendasikannya dalam 4 kesimpulan hasil,
antara lain: 9
1. Positif Identification (identifikasi posistif : jika dental record
antemortem dan postmortem memiliki kesesuaian untuk dapat
diputuskan bahwa kedua data tersebut berasal dari orang yang sama.
Sebagai tambahan tidak terdapat perbedaan yang tidak dapat
dijelaskan.
2. Possible Identification (kemungkinan identifikasi): jika pada dental
record antemortem dan postmortem memiliki bagian-bagian yang
sesuai namun karena kualitas keadaan sisa-sisa tubuh postmortem

21

atau bukti antemortem sehingga tidak memungkinkan mengambil


keputusan identitas adalah positif.
3. Insufficient Evidence (barang bukti kurang) : jika data-data yang
didapatkan tidak mencukupi untuk menjadi dasar dalam mengambil
keputusan.
4. Exclusion (pengecualian): data antemortem dan postmortem jelas
tidak sama.
2.3. Profil Dental Postmortem
Jika dental record antemortem tidak tersedia dan medote
identifikasi lain tidak dapat dilakukan, kedoteran gigi forensic dapat
membantu

mengurangi

jumlah

kemungkinan

populasi

untuk

mengidentifikasi jenasah. Metode ini dikenal sebagai profil dental


postmortem. Informasi yang didapatkan dari metode ini dapat membantu
dalam memfokuskan pencarian dental record antemortem. Dengan profil
dental postmortem dapat membantu dalam menemukan informasi
mengenai umur, latar belakang keturunan, jenis kelamin dan status
ekonomi. Pada beberapa kasus, metode ini dapat memberikan informasi
tambahan mengenai pekerjaan, kebiasaan konsumsi makanan, perilaku
sehari-hari bahkan penyakit gigi maupun penyakit sistemik.9
Dengan profil dental postmortem dapat membantu mengenali jenis
kelamin maupun latar belakang individu. Pada dasarnya, dari bentuk
tengkorak, seorang dokter gigi forensic dapat membedakan ras dalam tiga
kelompok besar yaitu: Kaukasoid, Mongoloid dan Negroid. Ciri tambahan
pada gigi seperti tonjolan Carabelli, shovel-shape incisor, dan multicusped
premolar juga dapat membantu dalam membedakan ras. Penentuan jenis
kelamin biasanya dilakukan dengan melihat tampilan tengkorak, karena
jenis kelamin tidak memberikan bentuk morfologi ggi yang khas.
Pemeriksaan mikroskopi gigi dapat membantu mengenali jenis kelamin
dengan melihat ada atau tidak kromatin Y serta dengan pemeriksaan
DNA.9

22

Struktur gigi dapat memberikan informasi umur seseorang. Umur


pada anak (termasuk fetus dan neonatus) dapat ditentukan dengan analisa
perkembangan gigi dan membandingkannya dengan table perkembangan
gigi geligi. Kesimpulan biasanya akurat hingga sekitar 1,5 tahun. Tabel
perbandingan yang biasa digunakan adalah table Ubelaker, yang
mengilustrasikan perkembangan gigi geligi dari umur 5 bulan antenatal
hingga umur 35 tahun. Oleh karena itu, table ini memperlihatkan
gambaran susunan gigi dari gigi susu, campuran gigi susu dan permanen,
hingga susunan gigi permanen.

Gigi molar ketiga digunakan oleh

beberapa ahli gigi forensik yang menandakan usia dewasa muda.


Terdapatnya tanda penyakit periodontal, pemakaian berlebihan, multiple
restoration, ekastraksi, dapat memberikan informasi usia yang lebih tua.
Beberapa ahli gigi forensic menggunakan pemeriksaan rasemisasi asam
aspartat, metode SEM-EDXA (pemeriksaan dentin untuk menentukan
umur). Beberapa penelitian terbaru di Amerika Serikat menggunakan
panjang akar gigi dalam menentukan usia pada anak.9
Didapatkan erosi pada gigi mengarahkan pada penggunaan alkohol
atau penyalahgunaan zat sedangkan noda pada gigi mengarahkan pada
kebiasaan merokok, pengunaan tetrasiklin atau kebiasaan mengunyah
sirih. Kualitas, kuantitas serta ada tidaknya perawatan dental memberikan
informasi status ekonomi atau kemungkinan negara tempat tinggalnya.
Jika profil dental postmortem tidak dapat menunjukkan kemungkinan
identitas jenazah maka dibutuhkan rekonstruksi tampilan individu saat
hidup dengan bantuan profil dental.9

2.4. Penentuan Umur Berdasarkan Pemeriksaan Gigi


Penentuan Umur pada anak :
a. Pendekatan Atlas (Morfologi)10

23

Teknik ini menggunakan gambaran radiografi gigi dimana dapat


dilihat perbedaan tingkat mienralisasi pada setiap gigi. Dibandingkan
mineralisasi tulang, proses mineralisasi gigi kurang dipengaruhi oleh
keadaan nutrisi dan status endokrin, sehingga memberikan informasi
yang lebih akurat dalam menentukan umur.
1) Tables Schour and Massler. Table Schour dan Massler merupakan
pendekatan

atlas

yang

klasik.

Schour

dan

Massler

menggambarkan 20 urutan perkembangan gigi dimulai sejak usia


4 bulan kelahiran hingga usia 21 tahun. Dilakukan perbandingan
perkembangan gigi seseorang dengan tabel hingga dapat
menentukan estimasi usia.
2) Moorrees et all, membuat tabel berdasarkan maturasi gigi
permanen dalam 14 tingkat dimulai sejak awal pembentukan
penonjolan gigi hingga penutupan apeks sempurna, dan dibuat
tabel berbeda untuk pria dan wanita.
3) Anderson et all, melanjutkan tabel Moorrees et all hingga gigi
molar ketiga.
b. Sistem Skor10
Demirjian et all menyederhanakan estimasi kronologi perkembangan
gigi dalam 8 tingkat (A-H), dan membatasinya untuk 7 gigi pertama
mandibula kiri. Tabel perkembangan gigi Demirjian et all ini dibuat
berbeda untuk anak laki-laki dan perempuan. Untuk menentukan usia
seorang anak kedelapan skor tersebut dijumlahkan untuk mendapatkan
kronologi usia.

24

Gambar 8. Tabel presentasi perkembangan gigi oleh Demirjian et all. 10


Penentuan umur pada orang dewasa :
a. Teknik Morfologi
1) Metode Gustaffson
Penentuan umur berdasarkan table Gustaffson pada umumnya
bermanfaat selama gigi masih dalam masa pertumbuhan. Untuk
memperkirakan umur seseorang setelah masa itu digunakan 6
metode, antara lain :
1. Atrisi
Penggunaan gigi setiap hari membuat gigi mengalami keausan
yang sesuai dengan bertambahnya usia.
2. Sekunder dentin
Sejalan dengan adanya atrisi, maka di dalam ruang pulpa akan
dibentuk sekunder dentin untuk melindungi gigi, sehingga
semakin bertambah usia maka sekunder dentin akan semakin
tebal.
3. Ginggiva attachment

25

Pertambahan usia juga ditandai dengan besarnya jarak antara


perlekatan gusi dan gigi.
4. Pembentukan foramen apikalis
Semakin lanjut usia, semakin kecil juga foramen apikalis.
5. Transparansi akar gigi
Semakin tua usia seseorang maka akar giginya semakin bening,
hal ini dipengaruhi oleh mineralisasi yang terjadi selama
kehidupan.
6. Sekunder sement
Ketebalan semen sangat berhubungan dengan usia. Dengan
bertambahnya usia ketebalan sement pada ujung akar gigi juga
semakin bertambah.
Setiap parameter diatas diberi skala berbeda (dari 1-3) dan dengan
menjumlahkan keenam parameter tersebut didapatkan perkiraan
kronologi usia.
b. Teknik Radiografi
1) Kvaal et all mengembangkan teknologi untuk menentukan
perkiraan umur menilai ukuran pulpa gigi dari gambaran radiografi
periapical dari tipe gigi : insisivus sentral dan lateral maksila,
kaninus, dan premolar pertama. Perkiraan umur berdasarkan jenis
kelamin dan perhitungan beberapa ratio panjang dan lebar pulpa
untuk mengimbangi pembesaran dan angulasi dari gambar gigi
yang asli dengan gambaran radiografi.
2) Kvaal

and Solheim

mengkombinasikan

juga mempresentasikan

teknik

morfologi

dan

metode yang

radiografi

untuk

menentukan perkiraan umur. Berdasarkan gigi yang diukur,


beberapa parameter yang dinilai : translusensi apical dalam mm
(T), retraksi ligamentum periodontal dalam mm (P), panjang pulpa
yang diukur dari gambar radiografi (PL), panjang akar gigi yang
diukur dari permukaan mesial gambar radiologi (RL), lebar pulpa
pada daerah cementoenal junction pada gambar radiografi (PWC),

26

lebar akar pada daerah cementoenal junctionpada gambar


radiografi (RWC), lebar pulpa pada daerah pertengahan akar
(RWM), lebar akar pada daerah pertengahan akar (RWM).
c. Metode Asam Aspartat
Hapusan asam aspartat telah digunakan untuk menentukan usia
berdasarkan pada terdapatnya bahan tersebut pada dentin manusia.
Komponen protein terbanyak pada tubuh manusia berbentuk L-amino
Acid, D-amino acid yang ditemukan pada tulang, gigi, otak dan lensa
mata. D-amino acid dipercaya mempunyai proses metabolisme yang
lambat dan tiap bagiannya mempunyai laju pemecahan yang lebih
lambat dan mempunyai ratio dekomposisi yang lebih lambat juga.
Asam aspartat mempunyai kemampuan penghapusan paling tinggi dari
semua asam amino.
Pada 1976 Helfman dan Bada menggunakan informasi ini untuk
mempelajari perkiraan umur dengan membandingkan rasio DLaspartat acid dengan 20 subyek dengan hasil bagus (r = 0,979) rasio
yang tinggi pada D/L rasio banyak ditemukan pada usia muda dan
menurun akibat pertambahan usia dan perubahan lingkungan.
Pada tahun 1990 Ritz et al. melaporkan adanya asam aspartat pada
dentin untuk menentukan usia pada orang yang telah meninggal,
berdasarkan hal tersebut metode ini dapat menyediakan informasi yang
lebih akurat tentang penentuan usia dibandingkan dengan parameter
yang lain.
Untuk penentuan usia digunakan persamaan linier sebagai berikut :
Ln (1 + D/L) / (1 D/L) = 2k (aspartat)t + konstanta
K : first order kinetik
t : actual age
Gigi yang digunakan dalam kasus ini adalah gigi seri tengah bagian
bawah dan premolar pertama. Mereka menemukan perkiraan umur
yang lebih baik dari fraksi total asam amino dengan membagi menjadi
fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi peptide. Dibandingkan

27

dengan total asam amino, fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi
peptide yang terlarut, mempunyai konsentrasi glutamine dan asam
aspartat yang lebih tinggi.11

2.5. Identifikasi Forensik Odontologi


Ketika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu
untuk membedakan usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. Hal ini dapat
membantu untuk membatasi korban yang sedang dicari atau untuk
membenarkan/memperkuat identitas korban.
1. Penentuan Usia
Perkembangan gigi secara regular terjadi sampai usia 15 tahun.
Identifikasi melalui pertumbuhan gigi ini memberikan hasil yang
yang lebih baik daripada pemeriksaan antropologi lainnya pada masa
pertumbuhan. Pertumbuhan gigi desidua diawali pada minggu ke 6
intra uteri. Mineralisasi gigi dimulai saat 12 16 minggu dan
berlanjut setelah bayi lahir. Trauma pada bayi dapat merangsang
stress metabolik yang mempengaruhi pembentukan sel gigi.
Kelainan sel ini akan mengakibatkan garis tipis yang memisahkan
enamel dan dentin di sebut sebagai neonatal line. Neonatal line ini
akan tetap ada walaupun seluruh enamel dan dentin telah dibentuk.
Ketika ditemukan mayat bayi, dan ditemukan garis ini menunjukkan
bahwa mayat sudah pernah dilahirkan sebelumnya. Pembentukan
enamel dan dentin ini umumnya secara kasar berdasarkan teori dapat
digunakan dengan melihat ketebalan dari struktur di atas neonatal
line. Pertumbuhan gigi permanen diikuti dengan penyerapan
kalsium, dimulai dari gigi molar pertama dan dilanjutkan sampai
akar dan gigi molar kedua yang menjadi lengkap pada usia 14 16
tahun. Ini bukan referensi standar yang dapat digunakan untuk

28

menentukan umur, penentuan secara klinis dan radiografi juga dapat


digunakan untuk penentuan perkembangan gigi.8

Gambar 9. Gambaran X-ray gigi pada seorang anak.8


Gambar diatas memperlihatkan gambaran panoramic X ray pada
anak :
1. Gambaran yang menunjukkan suatu pola pertumbuhan gigi dan
perkembangan pada usia 9 tahun (pada usia 6 tahun terjadi
erupsi dari akar gigi molar atau gigi 6 tapi belum tumbuh
secara utuh).
2. Dibandingkan dengan diagram yang diambil dari Schour dan
Massler pada gambar (b) menunjukkan pertumbuhan gigi pada
anak usia 9 tahun.
Penentuan

usia

antara

15

dan

22

tahun

tergantung

dari

perkembangan gigi molar tiga yang pertumbuhannya bervariasi.

29

Setelah melebihi usia 22 tahun, terjadi degenerasi dan perubahan


pada gigi melalui terjadinya proses patologis yang lambat dan hal
seperti ini dapat digunakan untuk aplikasi forensik.8
2. Penentuan Jenis Kelamin
Ukuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis
kelamin. Gigi geligi menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus
mandibulanya. Anderson mencatat bahwa pada 75% kasus, mesio
distal pada wanita berdiameter kurang dari 6,7 mm, sedangkan pada
pria lebih dari 7 mm. Saat ini sering dilakukan pemeriksaan DNA
dari gigi untuk membedakan jenis kelamin.8
3. Penentuan Ras
Gambaran gigi untuk Ras Mongoloid adalah sebagai berikut:8
1. Shovel-shaped insisivus. Insisivus pada maksilasecara nyata
menunjukkan bentuk sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2
sampai 9 % ras kaukasoid dan 12 % ras negroid memperlihatkan
adanya bentuk seperti sekop walaupun tidak terlalu jelas.
2. Dens evaginatus. Tuberkel asecoris pada permukaan oklusal
premolar bawah pada 1-4% ras mongoloid.
3. Akar distal tambahan pada molar pertama mandibula ditemukan
pada 20% mongoloid dan hanya 1% pada kaukasoid..
4. Lengkungan palatum berbentuk elips dengan dasar yang lebih
datar.
5. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus.

30

Gambar 10.Shovel-shaped incisors pada seorang wanita China.8


Gambaran gigi untuk Ras Kaukasoid adalah sebagai berikut:
1. Cusp Carabelli, yakni berupa tonjolan tambahan pada permukaan
mesiolingual yang hamper selalu ditemukan pada gigi molar pertama
permanen maksilaris dan pada gigi susu molar kedua mandibularis.
2. Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari
mandibula.
3. Maloklusi pada gigi anterior.
4. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola.
5. Dagu menonjol.

31

Gambar 10. Mesiolingual cusps of Carabelli pada gigi molar pertama


atas dari seorang ras Caucasoid.8

Gambaran gigi untuk Ras Negroid adalah sebagai berikut:


1. Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga tonjolan
pada permukaan lingual.
2. Sering terdapat open bite.
3. Palatum lebar, hiperbolik, dengan dasar palatum sempit.
4. Sering didapatkan maloklusi klas III
5. Palatum berbentuk lebar.
6. Protrusi bimaksila, tulang alveolar maksila dan mandibula menonjol
dengan gigi seri miring ke arah labium ras mongoloid dan non-Anglo
Caucasoid juga dapat memperlihatkan hal tersebut namun lebih sering
ditemukan pada populasi negroid.
7. Sekitar 20 persen orang ras negroid sudah tidak menunjukkan cirri
tersebut karena telah terjadi perkawinan silang ras.
8. Tuberkulum intermedium, terdapat penonjolan tambahan diantara
distolingual dan mesiolingual pada gigi molar pertama.8

3. Analisis DNA.
Tergantung pada karakteristik khusus dari sebuah insiden, pendekatan
prosedur identifikasi akan berbeda. Dalam banyak kasus penyelidikan gigi
atau sidik jari akan cukup memadai. Dalam kasus lain, dengan keadaan yang
sangat membusuk atau ada banyak potongan tubuh, analisis dan perbandingan
DNA mungkin metode terbaik untuk digunakan. Dalam keadaan seperti itu,
DNA mungkin menjadi sarana utama untuk mendapatkan identifikasi yang
dapat diandalkan. Keputusan apakah analisis DNA akan dilakukan diambil

32

oleh kepala tim identifikasi korban dalam konsultasi dengan laboratorium


forensik yang tepat.
Teknik-teknik

identifikasi

genetika

memberikan

suatu

perangkat

diagnostik yang sangat kuat dalam kedokteran forensik dan dapat secara
sukses diterapkan pada identifikasi korban-korban bencana. Data genetika
dari seseorang selalu sama pada seluruh sel-sel tubuhnya dan akan tetap
konstan bahkan setelah meninggal. Analisis dari sebuah sampel biologis akan
memungkinkannya mengaitkan seseorang dengan nenek/kakek moyang
dengan keturunannya dan data dari analisis-analisis ini dapat dengan mudah
dikomputerisasikan.
Polimorfisme adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya
suatu bentuk yang berbeda dari struktur dasar yang sama. Jika terdapat variasi
/ modifikasi pada suatu lokus yang speifik (pada DNA) dalam suatu populasi,
maka lokus tersebut dikatakan bersifat polimorfik. Sifat polimorfik ini di
samping menunjukkan variasi individu, juga memberikan keuntungan karena
dapat digunakan untuk membedakan satu orang dari orang lain.
Dikenal polimorfisme protein dan polimorfisme DNA. Polimorfisme
protein antara lain ialah sistem golongan darah, golongan protein serum,
system golonngan eritrosit,d dan system HLA (Human Lymphocyte Antigen).
Polimorfisme DNA merupakan suatu polimorfisme pada tingkat yang lebih
awal dibandingkanpolimorfisme protein, yaitu pada tingkat kode genetic atau
DNA.
Dibandingkan dengan pemeriksaan polimorfisme protein, pemeriksaan
polimorfisme DNA menunjukkan beberapa kelebihan. Pertama, polimorfisme
DNA menunjukkan tingkat polimorfis yang jauh lebih tinggi, sehingga tidak
diperlukan pemeriksaan terhadap banyak system. Kedua, DNA jauh lebih
stabil dibandingkan protein, membuat pemeriksaan DNA dimungkinkan pada
bahan yang sudah membusuk, mengalami mumifikasi atau bahkan pada
jenazah yang tinggal kerangka saja. Ketiga, distribusi DNA sangat luas
meliputi seluruh sel tubuh, sehingga berbagai bahan mungkin untuk digunakan
sebagai bahan pemeriksaan. Keempat, dengan ditemukannya metode PCR,

33

bahan DNA yang kurang segar dan sedikit jumlahnya masih mungkin untuk
dianalisis.2
3.1. Definisi
Asam deoksi-ribonukleat (Deoxyribonucleic Acid = DNA), yang
biasanya dimaksud the blueprint of life membawa informasi geneetik
yang dibutuhkan oleh suatu organisme untuk berfungsi. Struktur DNA
adalah untaian ganda (double helix), yaitu dua untai bahan genetik yang
membentuk spiral satu sama lain. Setiap untaian terdiri dari satu deretan
basa (juga disebut nukleotida), yang terdiri dari 3 grup bahan kimia yang
berbeda: basa, gula (deoxyribose), dan fosfat. Basa dimaksud adalah salah
satu dari keempat senyawa kimiawi berikut: Adenin, Guanin, Cytosine
dan Thymine.12
Struktur kimiawi DNA dari setiap orang adalah sama, yang
berbeda hanyalah urutan/susunan dari pasangan basa yang membentuk
DNA tersebut. Ada jutaan pasangan basa yang terkandung dalam DNA
setiap orang, di mana urutan/susunan basa-basa tersebut berbeda untuk
setiap orang. Berdasarkan perbedaan urutan/susunan basa-basa dalam
DNA tersebut, setiap orang dapat diidentifikasi. Namun demikian, karena
ada jutaan pasangan basa, pekerjaan tersebut akan membutuhkan waktu
yang lama. Sebagai penggantinya, para ahli dapat menggunakan metode
yang lebih pendek, yaitu berdasarkan adanya pola pengulangan
urutan/deretan basa dalam DNA setiap orang.2
3.2.

Pengambilan Sampel 1
a) Ante Mortem Sampel
Diperhitungkan risiko untuk informasi palsu pilihan sampel maka
referensi DNA Ante Mortem harus:

Kerabat dekat pertama, jika mungkin lebih dari satu. DNA profil
dari tingkat pertama kerabatakan selalu memberikan informasi
yang memadai untuk pencocokan. Dalam kebanyakan kasus itu
juga akan mungkin untuk menemukan dan mengambil sampel dari

34

lebih dari satu relatif. Donor yang cocok tercantum dalam urutan
preferensi di bawah ini:
Monozigot/kembar identik.
Ibu dan ayah biologis dari korban.
Ibu biologis atau ayah biologis dari korban dan jika
mungkin saudara kandung.
Anak-anak biologis dan pasangankorban.
Saudara kandung dari korban(beberapa)
Sampel yang biasa dipilih adalah apusan mukosa bukal dan tetes
darah yang diambil dari ujung jari

Darah atau biopsy sampel dari korban potensial.


Lain situasi yang ideal, DNA sampel referensi diperoleh dari
sampel yang diambil untuk pemeriksaan medis atau analisis yang
sama sebelum kematian almarhum dan disimpan dalam bio-bank
atau lainnya bio-medis sumber DNA (seperti rumah sakit, unit
patologi,dan ayah dan darah laboratorium transfusi).

Pribadi benda-benda yang telah digunakan oleh almarhum.


Hal ini juga mungkin untuk mendapatkan sampel referensi dari
benda-benda yang telah digunakan oleh almarhum. Penting untuk
membangun sejak awal apakah obyek diproses milik dan
digunakan secara eksklusif oleh individu yang bersangkutan. Jika
suatu benda (misalnya sikat rambut) tidak digunakan hanya oleh
orang yang bersangkutan, identitas orang kedua harus ditentukan,
dan sampel DNA harus diambil dari orang untuk tujuan
perbandingan. Sebagai obyek sebanyak mungkin harus diperoleh
untuk tujuan pengumpulan DNA AM, karena mungkin bahwa
item individu dari bukti tidak akan menghasilkan hasil analisis
yang diinginkan. Contoh barang-barang yang dimungkinkan untuk
mengekstrak DNA: pisau cukur, gelas, sikat gigi, sisir, lipstik,

35

deodorant rol, cangkir dan gelas yang digunakan, punting rokok,


helm dan topi, headphone,kacamata, perhiasan, danjam tangan.

Tabel 1. Bahan pengambilan sampel untuk profil DNA.6


b) Post Mortem Sampel
Tingkat keberhasilan untuk sidik DNA tergantung pada seberapa
cepat sampel diperoleh dan dipelihara. Selama pengumpulan sampel,
ahli genetika forensik atau patologi dengan pengetahuan dasar tentang
genetika forensic harus hadir untuk memberikan bimbingan untuk
koleksi DNA sampel. Tergantung pada kondisi korps, berbagai jenis
jaringan dikumpulkan:

Keadaan Tubuh
Lengkap, mayat belum

Rekomendasi Sampel
Darah (pada kertas FTA atau apusan) dan apusan

membusuk
Termutilasi, mayat belum

mukosa ukal
Jika memungkinkan: darah dan jaringan otot dalam.

memusuk

36

Lengkap, mayat sudah

Sampel daritulang kompak panjang(bagian 4-6cm,

membusuk atau termutilasi

bagian jendela,tanpa pemisahanshaft)


Atau.
Gigi sehat(sebaiknyamolar)
Atau.
Setiaptulanglain yang tersediajika mungkin;

Mayat yang terbakar hebat

sebaiknyatulangkortikal denganjaringan padat)


Semua sampelyang tercantum di atasdan gigi yang
impaksi atau akargigijika ada
atau

Apusan darikandung kemih


Tabel 2. Pemilihan sampel berdasarkan keadaan mayat. 1
3.3. Pemeriksaan Polimorfisme DNA
Ada banyak yang jumlah sampel yang bisa diterima untuk pemeriksaan
profil

DNA.

Prosedur

pastinya

termasuk

pengumpulan

sampel,

penyimpanan sampel, dan ekstraksi DNA dari beragam sampel.6


Pemeriksaan polimorfisme DNA meliputi pemeriksaan Sidik DNA (DNA
Fingerprint),VNTR (Variable Number of Tandem Repeats) dan RFLP
(RestrictionFragment Length Polymorphisms), secara Southern Blot
maupun dengan PCR (Polymerase Chain Reaction).2
a) Variable Number TandemRepeats (VNTR)
Setiap untaian DNA mempunyai bagian yang membawa informasi
genetik yang menginformasikan pertumbuhan suatu organisme,
bagian ini disebut exons , dan bagian yang tidak membawa
informasi genetik, yang disebut introns . Namun demikian, introns
bukanlah sesuatu yang tidak berguna, telah ditemukan bahwa introns
mengandung deretan pasangan basa terulang. Deretan ini disebut
Variable Number TandemRepeats (VNTR) yang dapat tersusun dari
dua-puluh hingga seratus pasangan basa.
Setiap manusia mempunyai beberapa VNTR. Untuk menentukan
apakah seseorang mempunyai VNTR khusus, dibuat suatu southern

37

blot, kemudian southern blot tersebut di-probe-kan, selanjutnya


melalui reaksi hibridisasi dengan suatu versi radioaktif dari VNTR
yang dipertanyakan. Pola yang dihasilkan dari proses ini dianggap
sebagai sidik jari DNA.
VNTRs seseorang berasal dari informasi genetik yang diwariskan
oleh kedua orang tuanya (ibu dan bapak). Dia dapat memiliki VNTR
yang diwariskan dari bapaknya atau dari ibunya, atau kombinasi dari
keduanya, tetapi mustahil tidak ada dari keduanya.
Southern Blot adalah salah satu cara untuk menganalisis polapola genetik yang muncul dalam DNA seseorang. Tahapan-tahapan
pekerjaan Southern Blot, meliputi:2
1. Isolasi DNA, yang dipermasalahkan yang berasal dari sisa-sisa
bahan sel di dalam inti sel. Pekerjaan ini dapat dilakukan secara
kimiawi, yaitu dengan menggunakan detergent khusus untuk
mencuci bahan ekstra dari DNA, atau secara mekanis, dengan
menerapkan tekanan tinggi untuk melepaskan DNA dari bahanbahan sel lainnya.
2. Pemotongan DNA menjadi beberapa potongan dengan ukuran
yang berbeda. Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan satu
atau lebih enzim pemotong (restriction enzymes).
3. Penyortiran potongan DNA berdasarkan ukurannnya. Suatu
proses di mana dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran atau
fraksinasi ukuran dengan menggunakan cara yang disebut
elektroforesis gel (gel electrophoresis). DNA dimasukkan ke
dalam gel (seperti agarose), dan muatan listrik diterapkan pada
gel tersebut, dengan muatan positif pada dasar wadah gel, dan
muatan negatif pada puncak wadah. Karena DNA bermuatan
negatif, maka potongan DNA akan tertarik ke arah dasar gel.
Namun demikian, potongan-potongan kecil dari DNA akan
dapat bergerak lebih cepat, dan karenanya berada lebih jauh dari
dasar dibandingkan dengan potongan-potongan yang lebih besar.

38

Berdasarkan prinsip di atas, potongan DNA dengan ukuran yang


berbeda akan terpisah, potongan yang lebih kecil lebih dekat ke
dasar, dan potongan yang lebih besar lebih dekat ke puncak.
4. Denaturasi DNA, agar semua DNA berubah menjadi untai
tunggal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pemanasan atau
dengan perlakukan kimiawi terhadap DNA yang terdapat di
dalam gel.
5. Blotting DNA. Gel dengan DNA yang sudah terfraksinasi
berdasarkan

ukurannya

diterapkan

pada

lembaran

kertas

nitrosellulosa sehingga DNA tersebut dapat melekat secara tetap


pada lembaran tersebut. Lembaran ini disebut Southern blot).
Sekarang southern blot sudah siap dianalisis. Untuk
menganalisis suatu southern blot digunakan suatu probe
genetik radioaktif

yang akan melakukan reaksi hibridisasi

dengan DNA yang dipertanyakan. Jika suatu sinar-X dikenakan


pada southern blot setelah

probe-radioaktif dibiarkan

berikatan dengan DNA yang telah terdenaturasi pada kertas,


hanya area di mana probe radioaktif berikatan yang terlihat
pada film. Keadaan ini yang memungkinkan peneliti untuk
mengidentifikasi DNA seseorang dari kejadian dan frekwensi
pemunculan pola genetik khusus yang terkandung pada probe.

39

Gambar 11. Analisis Southern Blot.


b) Restriction Fragment Length Polymorphisms (RFLP)
Polimorfisme yang dinamakan Restriction Fragment Length
Polymorphisms (RFLP) adalah suatu polimorfisme DNA yang terjadi
akibat adanya variasi panjang fragmen DNA setelah dipotong dengan
enzim restriksi tertentu. Suatu enzim restriksi memunyai kemampuan
untuk memotong DNA pada suatu urutan basa tertentu sehingga akan
menghasilkan potongan-otongan DNA tertentu. Adanya mutasi
tertentu pada lokasi pemotongan dapat membuat DNA yang biasanya
dapat dipotong menjadi tak dapat dipotong sehigga terbentuk fragmen
DNA yang lebih panjang. Variasi inilah yang menjadi dasar meted
analisis RFLP.2
VNTR yang telah dibicarakan di atas sesungghnya adalah salah
satu jenis RFLP, karena variasi fragmennya didapatkan setelah
pemootongan dengan enzim rstriksi. Metode pemeriksaan RFLP dapa
dilakukan dengan metode Southern blot tetapi dapat juga dengan
metode PCR.2

40

c) Polymerase Chain Reaction (PCR)


Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah suatu metode
untuk memperbanyak fragmen DNA tertentu secara in vitro dengan
menggunakan enzim polymerase DNA. Secara prinsip, PCR
merupakan proses yang diulang-ulang antara 2030 kali siklus. Setiap
siklus terdiri atas tiga tahap. Berikut adalah tiga tahap bekerjanya
PCR dalam satu siklus:2
1. Tahap peleburan (melting) atau denaturasi. Pada tahap ini
(berlangsung pada suhu tinggi, 9496 C) ikatan hidrogen DNA
terputus (denaturasi) dan DNA menjadi berberkas tunggal.
Biasanya pada tahap awal PCR tahap ini dilakukan agak lama
(sampai 5 menit) untuk memastikan semua berkas DNA terpisah.
Pemisahan ini menyebabkan DNA tidak stabil dan siap menjadi
templat ("patokan") bagi primer. Durasi tahap ini 12 menit.
2. Tahap penempelan atau annealing. Primer menempel pada bagian
DNA templat yang komplementer urutan basanya. Ini dilakukan
pada suhu antara 4560 C. Penempelan ini bersifat spesifik. Suhu
yang tidak tepat menyebabkan tidak terjadinya penempelan atau
primer menempel di sembarang tempat. Durasi tahap ini 12
menit.
3. Tahap pemanjangan atau elongasi. Suhu untuk proses ini
tergantung dari jenis DNA polimerase (ditunjukkan oleh P pada
gambar) yang dipakai. Dengan Taq-polimerase, proses ini biasanya
dilakukan pada suhu 76 C. Durasi tahap ini biasanya 1 menit.
Lepas tahap 3, siklus diulang kembali mulai tahap 1. Akibat
denaturasi dan renaturasi, beberapa berkas baru (berwarna hijau)
menjadi templat bagi primer lain. Akhirnya terdapat berkas DNA yang
panjangnya dibatasi oleh primer yang dipakai. Jumlah DNA yang
dihasilkan berlimpah karena penambahan terjadi secara eksponensial.

41

Gambar 12. Siklus PCR. 14


Pada masa sebelum berkembangnya teknologi biomolekular,
identifikasi personal dilakukan hanya dengan memanfaatkan
pemeriksaan polimorfisme, seperti golongan darah, dengan segala
keterbatasannya. Keterbatasan pertama, ia hanya dimungkinkan
dilakukan pada bahan yang segar karena protein cepat rusak oleh
pembusukan. Keterbatasan kedua, ia hanya dapat memberikan
kesimpulan eksklusi yaitu pasti bukan atau mungkin.2
Penemuan sidik DNA yang menawarkan metode eksklusi dengan
kemampuan eksklusi yang amat tinggi membuatnya menjadi metode
pelengkap atau bahkan pengganti yang jauh lebih baik karena ia
mempunyai ketepatan yang nyaris seperti sidik jari.2
Metode Identifikasi Sekunder
Identifikasi meliputi deskripsi pribadi, temuan medis serta bukti dan
pakaian yang ditemukan pada tubuh. Ini berarti identifikasi berfungsi untuk
mendukung identifikasi dengan cara lain dan biasanya tidak cukup sebagai satusatunya alat identifikasi.2
Kategori ini mencakup semua efek yang ditemukan pada tubuh korban
(misalnya perhiasan, barang dari pakaian, dokumen identifikasi pribadi, dll). Item
terukir pada perhiasan dapat memberikan petunjuk penting mengenai identitas
korban. Penting

untuk dipertimbangkan, bagaimanapun, bahwa item tertentu

42

mungkin tidak benar-benar bukti milik tubuh tertentu (misalnya surat-surat


identitas dapat dilakukan oleh orang yang berbeda, barang perhiasan atau pakaian
mungkin telah dipinjamkan sengaja untuk individu lain, selama pengambilan,
item mungkin tidak sengaja telah ditempatkan dalam satu kantong mayat). Produk
perhiasan memiliki nilai identifikasi yang lebih tinggi jika mereka terpasang kuat
ke tubuh korban (misalnya tindikan).2

Gambar 12. Metode identifiksi sekunder.1


1. Deskripsi pribadi/temuan medis 1
Metode ini menggunakan data umum dan data khusus.Data umum
meliputi tinggi badan, berat badan, rambut, mata, hidung, gigi dan
sejenisnya.Data khusus meliputi tatto, tahi lalat, jaringan parut, cacat
kongenital, patah tulang dan sejenisnya.
Metode ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang
ahli dengan menggunakan berbagai cara/modifikasi (termasuk pemeriksaan
dengan sinar-X) sehingga ketepatan nya cukup tinggi. Bahkan pada
tengkorak/kerangka pun masih dapat dilakukan metode identifikasi ini.
Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur
dan tingi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.

Pria

Wanita

43

Panggul

Lebih kecil dari bahu

Lebih lebar dari bahu

Posture

Besar

Kecil

Payudara

Jarang berkembang

Berkembang

Jakun

Menonjol

Tidak menonjol

Striae

Tidak ada

Ada, payudara dan bokong

Rambut pubis

Tebal, tumbuh melebar - Lurus,

hanya

pusar

veneris

Rambut

Ada di wajah, dada

Tidak ada

Kelamin dalam

Testis, prostate, vesikula Ovarium,tuba


seminalis

Tengkorak

di

mons

fallopi,

vagina

Lebih besar, berat dan Lebih kecil, ringan dan


tebal

tipis

Proporsi perut

Lebih kecil

Lebih besar

Paha

Bentuk silinder

Bentuk kerucut

. Tabel 3. Perbedaan umur jenis kelamin pria dan wanita.2


Metode ini hanya dapat dilakukan bila keadaan tubuh, terutama wajah
korban masih dalam keadaan baik dan belum terjadi pembusukan yang lanjut.
Metode ini dilakukan dengan memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang
merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya.Cara ini hanya efektif

44

pada jenazah yang belum membusuk, sehingga masih mungkin dikenali wajah
dan bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu orang.Hal ini perlu diperhatikan
mengingat adanya kemungkinan faktor emosi yang turut berperan untuk
membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas jenazah tersebut.
2. Metode kepemilikan, seperti pakaian, perhiasan, dokumen.2
Dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, Paspor) dan
sejenisnya yang kebetulan ditemukan dalam dalam saku
pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali
jenazah

tersebut.Perlu

diingat

pada

kecelakaan

masal,

dokumen yang terdapat dalam tas atau dompet yang berada


dekat jenazah belum tentu adalah milik jenazah yang
bersangkutan.
Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah, mungkin dapat
diketahui merek atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge
yang semuanya dapat membantu proses identifikasi walaupun telah terjadi
pembusukan pada jenazah tersebut.Khusus anggota ABRI, identifikasi
dipemudah oleh adanya nama serta NRP yang tertera pada kalung logam yang
dipakainya.

45

DAFTAR PUSTAKA
1. Amir, A. 2007. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik ed 2. Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara, Medan.
2. Budiyanto, A., Widiatmaka, W., Atmaja, D. S., 1999. Identifikasi Forensik.
Dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Idries AM. 2002. Identifikasi Dalam Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik
edisi pertama. Jakarta : Bina Rupa Aksara.
4. Idris M, dr., Tjiptomartono A. L, dr. 2008. Asfiksia. Penerapan Ilmu
Kedokteran Forensik Dalam Proses Penyidikan. Jakarta : Sagung Seto.
5. Slamet P, Peter S, Yosephine L, Agus M. 2004. Pedoman Penatalaksanaan
Identifikasi Korban Mati Pada Bencana Masal. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
6. soekry K, Yudiyanto A. 2012. Identifikasi Medikolegal. Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK UNAIR.

46

7. Soepardi. 2002. Sidik Jari dan Peranannya dalam Mengungkap Suatu Tindak
Pidana. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.
8. Amir, A. 2001. Outopsi Edisi I. Universitas Sumatera Utara, Medan.
9. Josef G, Myrtati D, Toetik K. 2008. Metode Pengukuran Manusia. Surabaya :
UNAIR.
10. Putu Sudjana L Hoediyanto. Pengumpulan dan Cara Pengiriman Bahan

Pemeriksaan DNA. Surabaya : FK UNAIR.

47